Total Pageviews

Showing posts with label tujuan hidup. Show all posts
Showing posts with label tujuan hidup. Show all posts

Friday, November 16, 2018

Facing Crossroad


“Setiap titik hidupmu ini adalah anugrah, termasuk ketika kamu memilih jalan yang harus kamu ambil. Hati-hatilah dalam memilih, tetapi jangan ragu. Karena dalam setiap pilihan yang kamu ambil, anugrahNya tidak akan pernah berubah!”

Kalimat di atas mudah terucap, tetapi susah untuk dimaknai dan dilaksanakan. Mudah ditulis ulang, tetapi sulit untuk diresapi dan dilakukan. Mudah dihayati ketika kita merasa dalam suatu sukacita atas pilihan yang kita ambil, tetapi sulit dinikmati manakala ada dalam suatu duka akibat timbulnya berbagai masalah hidup.

WHEN GOD WRITES YOUR LIFE STORY
Aku yakin dan percaya bahwa Tuhan telah menuliskan suatu kisah dalam hidupku. Seyakin ketika aku dipanggil buat melayani Tuhan dan seyakin aku menjalani hidup ini dengan penuh sukacita dan damai sejahtera dari Dia. Ada satu momen dimana aku merasa kekosongan hidup namun akhirnya terisi dengan kehadiranNya dalam kehidupanku. Semuanya dimulai ketika aku menerima Yesus sebagai juruselamat pribadiku.

Tidak berhenti di situ, mendekati usiaku yang ke 29 tahun ini (ehm, udah tua juga nih…) ternyata ada satu pergumulan lagi yang Tuhan sediakan. Bukan masalah pasangan hidup dan pernikahan (meskipun ini salah satunya) tetapi diperhadapkan pada suatu pilihan tentang pekerjaan dan pelayanan. Selain itu tentu saja sebagai manusia normal, ada begitu banyak ketakutan dalam menghadapi dan menjalani masa depan.

Satu keyakinan yang kumiliki adalah ketika Tuhan sudah menuliskan kisah hidup ini, hal yang paling utama (dan tentunya paling sulit) adalah bagaimana aku dapat menyerahkan keyboard ini kepadaNya. (kalau dulu pakai bolpen, jaman now pakai keyboard). Dan menarik banget ketika di dalam pergumulan ini aku sadar bahwa menjalani hal ini bukan perkara yang mudah. Ternyata bahkan di tengah penyertaanNya pun ada begitu banyak hal yang membuat aku jatuh, aku galau, bahkan terkadang secara tidak sengaja menghujat Dia melalui setiap keraguanku dalam menjalani kehidupanku.

BE GRATEFUL IN ALL OPPORTUNITIES
Rasa syukur dan sukacita adalah kuncinya. Ditengah berbagai pilihan hidup, hal yang paling dapat diandalkan untuk dapat menghadapinya adalah dengan ucapan syukur. Itulah yang dinasihatkan pula oleh Paulus kepada jemaat di Tesalonika dalam 1 Tesalonika 5:8. Hal ini pernah aku bahas di artikel sebelumnya, dan kalau memaknai hal ini, sudah nggak layak buat kita merasa stress dan kecewa atas pilihan hidup ini. Kita akan dapat selalu melihat bahwa ada hal yang dapat kita syukuri senantiasa dalam menjalani hidup ini.

Titik dimana kamu berhenti bersyukur adalah titik dimana kamu mengabaikan Tuhan dalam hidupmu. Inilah yang aku temukan di dalam kisah hidup 28 tahun (yang hampir 29 tahun saat tulisan ini dibuat) dan penyertaan Tuhan sama sekali tidak berubah. Meskipun kasih setiaNya tidak pernah berubah, tetapi ada titik demi titik kejadian hidup dimana aku berhenti buat bersyukur dan memandang kea rah salibNya. Saat itulah aku sadar bahwa ternyata rasa syukur atas setiap kejadian yang Tuhan berikan adalah titik awal untuk kita memaknai penyertaan Tuhan dalam kehidupan ini.

DECISION
Memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan masa depan juga bukanlah hal yang mudah. Ada titik dimana ketakutan dan kekuatiran melanda. Ketika kedua hal tersebut mulai menggoyahkan hidup, satu hal yang aku belajar buat maknai adalah rasa syukur atas penyertaanNya. Begitu banyak anugrah yang sudah Tuhan sediakan, dan hal itu merupakan bukti bahwa tidak ada hal apapun yang lepas dari anugrah Tuhan.

Saat ada di persimpangan jalan, tidak ada jalan lain selain belajar buat merasakan betapa kasih Allah luar biasa dalam kehidupan kita. Satu-satunya alasan yang menyebabkan kita kehilangan makna hidup adalah karena kita menjauhkan diri dari Kristus. Ketika melalui persimpangan jalan yang mana kita harus memilih, jauhnya hubungan kita dengan Bapa akan membuat kita menjadi semakin bimbang. Memang benar tentu Allah dalam kedaulatan dan kasihNya akan senantiasa mendampingi, pertanyaannya adalah seberapa jauh kita memaknaiNya?

THE GREATEST GIFT
Persimpangan jalan adalah suatu hal yang lumrah, dan yakinlah bahwa di dalam persimpangan itu pun, Tuhan telah memberikan teladan. Hal yang dapat kita pelajari adalah bagaimana Yesus bergumul ketika Ia akan disalib. Diperhadapkan ditengah dua pilihan, Ia menyadari bahwa hal terpenting dalam hidupNya adalah mematuhi kehendak Bapa.

Kalau kita memaknai hal ini, berarti sebenarnya kita pun tak lepas dari pilihan hidup – dan pilihannya sudah jelas, mana hal yang membuat Tuhan dipermuliakan dalam kehidupan kita. Hidup ini bukan tentang kita. Hidup ini adalah tentang bagaimana kita dapat memaknaiNya dalam terang kasih karunia Allah – yang akan memampukan kita untuk senantiasa hidup seturut dengan kehendakNya. Melangkah dalam anugrahNya hari lepas hari, dan semuanya dimungkinkan karena Tuhan Yesus yang begitu mengasihi kita.

Sudah siapkah kita menjalani kisah hidup yang sedang Dia tuliskan?
Sudah siapkah kita menghadapi berbagai pilihan hidup dengan senantiasa berserah kepadaNya?

Soli Deo Gloria!

Sunday, June 4, 2017

Memaksimalkan Hidup dalam Roh Kudus




Pendahuluan
“bagaimana hidupmu hari ini?” adalah sebuah pertanyaan yang tidak sering kita dengarkan di dalam kehidupan keseharian kita. Setidaknya hal yang paling sering ditanyakan adalah sebatas “bagaimana kabarmu”, tetapi hidupmu jauh lebih dari sekadar kabar bukan?

Atau secara lebih simple, pertanyaannya mungkin diubah menjadi: “apakah kamu sudah memaksimalkan hidupmu sedemikian rupa sehingga kamu puas dengan apa yang kamu jalani?” Sebuah pertanyaan yang cenderung jawabannya lebih pasti: “belum maksimal”. Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah “mengapa?”

Memainkan Peran Kita
Sebagai manusia kita menyadari bahwa setiap kita memiliki suatu tujuan di dalam hidup ini. Ataukah mungkin kita merasa bahwa setiap hal yang kita lakukan adalah sia-sia? Contohnya, ketika kita bekerja di suatu tempat yang nggak sesuai dengan passion kita, kemudian kita merasa bahwa tidak ada hal positif yang kita dapatkan di dalam pekerjaan kita. Setiap langkah hidup yang kita ambil serasa tidak ada ujungnya, dan kita tiba pada suatu kondisi FRUSTASI untuk meneruskan kehidupan ini.

Kalau kita tidak menyadari akan peran kita maka kita akan berhenti kepada kekecewaan di dalam kekalahan berbagai persaingan di dunia ini. Akhirnya standar kita untuk berhasil adalah menurut ukuran dunia. Tentu kita perlu mengerjakan segala hal yang Tuhan percayakan secara ekselen, tetapi ekselen menurut ukuran Tuhan berbeda dengan ekselen ukuran dunia.

Berpegang pada Standar Tunggal
Ketika Tuhan meminta kita untuk melakukan sesuatu dalam hidup kita, yang dituntut bukanlah sebuah hasil yang bombastis. Kalau yang dituntut Allah adalah sesuatu yang bombastis, maka sebenarnya Yesus adalah seorang yang gagal, Daud adalah seorang pecundang, dan semua murid merupakan orang-orang yang hidupnya sia-sia.

Nah inilah yang perlu kita sadari betul sebagai pribadi yang mau belajar untuk melakukan rencana Allah di dalam kehidupan kita. Momen Pentakosta ini sekaligus mengingatkan kita bahwa di dalam Roh Kudus, kita diberikan sebuah kesempatan untuk dapat bertumbuh di dalam setiap proses yang sudah Tuhan sediakan. Kita diberikan kemampuan, karunia dan setiap proses hidup merupakan proses pendewasaan dari Allah.

Pengakuan kepada Kuasa Yesus
Pemahaman kita akan setiap karunia yang kita miliki dimulai dengan pemahaman kita tentang pribadi yang menciptakan kita. Ya, untuk kita mengenal diri kita tentu dimulai dengan bertanya kepada pribadi yang menciptakan kita, dan niscaya Ia akan menunjukkan kepada kita jalan hidup yang indah yang akan Ia kerjakan di dalam kehidupan kita.

Menariknya adalah selain Ia mengetahui segalanya yang ada dalam hidup kita, Ia memperlengkapi kita dengan setiap karunia yang perlu di explore, dan semua dimulai dari bagaimana kita memandang pribadi Allah. Apakah kita sudah memandang Dia sebagai Allah? Menempatkan Dia sebagai satu-satunya sumber hidup (baca: berserah penuh) akan membuat kita menjadi pribadi yang makin dewasa di dalam Dia, makin mengenal setiap hal yang Tuhan percayakan, sehingga kita dapat menjadi pribadi yang lebih efektif lagi di dalam melayani dan berkarya

Menemukan Karunia Kita
Bayangkan kita punya sebuah alat baru yang belum pernah ada di pasaran sebelumnya, dan kita belum pernah memakainya sebelumnya. Tentu saja untuk kita dapat memahami cara kerja dari alat tersebut adalah kita bisa mencoba langsung, atau kita bisa Tanya kepada yang menciptakan alat tersebut, atau biasanya pabrik pembuatnya telah menyediakan buku petunjuk penggunaan alat tersebut.

Pernahkah kita terjebak pada sebuah kondisi dimana kita bingung di dalam melangkah untuk kita meneruskan kehidupan kita? Kita demikian panik akan hal-hal yang mau kita kerjakan, sampai pada satu titik kita jenuh akan langkah kehidupan kita. Kita kemudian mulai “menghilang” dari peredaran, memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa, atau melakukan apa-apa penuh keterpaksaan. Ketika orang lain bertanya pada kita, kita mengeraskan hati kita, kita ngeyel dan tidak menerima masukan dari orang tersebut, bahkan sekalipun itu adalah orang yang merupakan inner circle kita, atau pacar kita sekalipun.

Menemukan karunia dalam hidup itu layaknya seni. Kita tidak bisa tahu 100% apa yang menjadi karunia kita, tetapi yang dapat kita pahami adalah ketika Tuhan sudah mengutus kita untuk melakukan sesuatu, maka Ia akan memperlengkapi diri kita dengan berbagai kemampuan untuk menunjang pelayanan ataupun proses kehidupan yang akan kita jalani. Dia mau supaya kita melakukannya dengan setia, bukan sebuah hasil yang Ia tuntut, tetapi proses kesetiaan kita dalam menjalani hal tersebut.

Start with God
Memulai pencarian akan karunia kita pastinya akan begitu berat. Proses ini bukanlah proses sehari kemudian jadi, tetapi proses ini bisa berlangsung seumur hidup kita. Ada orang-orang yang baru menemukan hidupnya di usia 30, 40 dan seterusnya. Yakinlah bahwa mau cepat atau lambat, tuntunan Tuhan itu selalu tersedia bagi kehidupan kita – orang yang mau belajar buat percaya kepadaNya apapun konsekuensinya.

So, ketika kita ingin memaksimalkan hidup kita dengan segala karunia yang sudah Tuhan sediakan, kuncinya ada di dalam keintiman relasi dengan Dia. Ketika kita punya relasi yang intim dengan Tuhan, ijinkan Dia untuk masuk ke dalam kehidupan kita – melalui proses hidup kita. Caranya? Dengan bersyukur senantiasa atas pelayanan yang Ia percayakan untuk kita kerjakan dalam kehidupan kita. Setiap peran yang Tuhan percayakan akan semakin memperlengkapi kehidupan kita untuk kita menjadi semakin hari semakin memaknai hubungan dengan Tuhan.

Soli Deo Gloria

Monday, January 30, 2017

Berbahagia Karena Allah



Berbahagialah!

Merenungkan kehidupan kita sebagai manusia, kita seringkali larut dalam lamunan, sebenarnya untuk apa kita hidup di dunia ini. Kita melihat begitu banyak orang terjebak di dalam putaran pekerjaan. Kesibukan yang semakin merajalela dalam kehidupan seseorang serasa memaksanya untuk tidak menikmati kehidupan ini. Bahkan tidak sedikit orang yang ingin sekali hidup berbahagia namun tidak pernah benar-benar menikmati kebahagiaan itu.

Kebahagiaan Adalah Tujuan Hidup

Ada seseorang mengatakan bahwa tujuan hidup kita adalah untuk berbahagia. Tidak sepenuhnya pendapat itu salah. Tetapi ada pula seseorang yang mengatakan bahwa “manakala kita mengejar kebahagiaan semata dalam hidup ini, maka kita akan semakin merasa tidak bahagia”. Jadi tujuan hidup seseorang dalam menempuh kebahagiaan itu sebenarnya merupakan sebuah paradox antara keinginan dengan realitas.

Menghalalkan Segala Cara
Ketika tujuan hidup seseorang hanya berhenti pada bagaimana dia dapat berbahagia, maka apapun langkah baik itu kotor maupun bersih akan ia lakukan untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Dia akan dihadapkan pada suatu realitas bahwa ternyata ketika kita memiliki segala sesuatu, justru dia akan tidak menjadi bahagia di dalam prosesnya.

Tidak sulit untuk kita melihat contoh orang-orang seperti ini. Kita melihat bagitu banyak konglomerat yang hanya berfokus pada kekayaan semata namun di dalam kehidupannya sama sekali tidak pernah menikmatinya.

Sumber Kebahagiaan
Sebagian orang menjawab bahwa manakala mereka memiliki begitu banyak uang, maka ia akan berbahagia. Sebagian orang lain menjawab bahwa kebahagiaan mereka adalah ketika mereka memiliki keluarga yang harmonis. Banyak juga yang menjawab bahwa menjadi seseorang yang tampan yang banyak ditaksir oleh lawan jenis juga merupakan kebahagiaan.

Begitu banyak sumber kebahagiaan di dunia ini. Tetapi mari kita telaah lebih lanjut bagaimana kebahagiaan ini diraih menurut konsep yang Tuhan Yesus ajarkan di dalam kehidupan setiap kita.

"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. (Matius 5:3)

Miskin Sebagai Sumber Kebahagiaan
Ayat di atas mengajarkan bahwa yang berbahagia adalah kita yang miskin. Banyak orang kemudian ngeles manakala ditunjukkan ayat ini. Apa arti kata miskin? Dari padanan kata di dalam bahasa Yunani, miskin disini artinya benar-benar miskin, mengarah pada TIDAK PUNYA APA-APA. Lho, jadi kalau kita menjadi kaya, atau bahkan sialnya lagi bahwa kita dilahirkan sudah dalam kondisi kaya, apakah kita tidak mendapatkan bagian dalam Kerajaan Sorga?

Sekali lagi kita perlu belajar menelaah lebih jauh di dalam kehidupan kita sebagai orang percaya. Kita yakin bahwa Firman Allah adalah YA dan AMIN, jadi ayat ini pun juga bukan merupakan kesalahan cetak.

Melepaskan Hak Milik Kita
Lukas 14:33 merupakan sebuah peringatan yang keras dari Yesus. Sebelum ayat ini, ada ayat 26 yang seringkali menjadi kontroversi dimana kita (orang Kristen) sering dituduh bahwa kita sama sekali tidak punya hormat – bahkan diajarkan untuk membenci ayah dan ibu kita.

Ini harus diartikan di dalam konteks pada ayat 33. Artinya bahwa manakala kita merasa bahwa kita memiliki ayah dan ibu kita, ataupun saudara-saudara, kekayaan, ide, pikiran kita, dan sebagainya, maka kita begitu merendahkan apa yang disediakan Allah dalam kehidupan kita.

Menyadari Segala Sesuatu adalah Milik Allah
Kesadaran bahwa segala sesuatu yang ada di sekitar kita adalah milik Allah membuat kita menjadi pribadi yang tangguh. Membuat kita menjadi pribadi yang dewasa dan mampu belajar untuk melihat kasih karunia Allah yang jauh lebih besar. Benar, kita sama sekali tidak memiliki sesuatu pun dalam dunia ini. Bahkan segala hal yang kita rasa milik kita semuanya adalah milik Allah. Kita sama sekali tidak memiliki hak apapun terhadap apa yang Tuhan percayakan di dalam kehidupan kita.

Manakala kita menganggap bahwa segala sesuatu yang kita miliki semata-mata adalah hasil usaha kita, maka dengan seenaknya pula kita akan memperlakukannya dengan semau kita. Waktu kita masih dalam masa pdkt kepada seseorang, maka kita akan merasa begitu spesial. Tapi tidak jarang bahwa setelah menikah kita menganggap bahwa istri / suami kita adalah milik kita, kecenderungan kita ternyata kita bisa saja menjadi tidak respek terhadap dia. Beda banget sebelum kita menganggapnya sebagai milik Allah.

Berbahagialah Orang Yang Miskin
Okey hal ini menjelaskan bahwa ternyata apa yang dikatakan di dalam injil Matius tadi merupakan sesuatu yang benar. Ternyata kita ini memang miskin kok. Segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Allah dan itu berarti bahwa segala hal itu dipercayakan kepada setiap kita untuk dapat dikelola dengan baik.

Perasaan Menginginkan dan Diinginkan
Nah kalau kita menyadari bahwa segala sesuatu bukan milik kita, tetapi milik Allah, maka pandangan yang sama dapat kita lihat di dalam Allah.

Satu-satunya hal yang kita miliki ialah Pribadi-Nya

Bayangkan bahwa cinta kasih-Nya merupakan satu-satunya alasan mengapa kita begitu dikasihi. Kita diinginkan oleh Allah. Ia menantikan kita untuk mau datang dengan kemiskinan kita, dengan perasaan bahwa satu-satunya hal yang kita inginkan adalah kerinduan Daud

Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.
(Mazmur 62:2-3)

Atau seperti apa yang dilakukan oleh Maria

Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya (Luk 10:39)

Semata-mata karena kita diinginkan oleh Allah. Apa bukti bahwa Ia menginginkan kita? Salib

Membagikan Kebahagiaan
Setelah kita menyadari bahwa kita adalah pribadi yang berbahagia karena Allah, maka sudah sepantasnya kita mengabarkan kebahagiaan itu kepada orang-orang yang ada di sekitar kita. Semata-mata karena kita menyadari bahwa ternyata hal yang membuat kita berbahagia itu merupakan hal yang layak kita renungkan bersama dan kita bagikan bagi orang lain.

Pemahaman bahwa tidak ada satu hal pun yang ada di dunia ini yang merupakan hak milik kita membuat kita menjadi pribadi yang bebas dari rasa kuatir. Rasa yang seringkali mengikat seseorang karena takut kehilangan sesuatu. Pemahaman ini seharusnya membuat kita tidak takut lagi manakala kita kehilangan, kita merasa down, dan sebagainya. Karena semuanya itu tidak akan lepas dari kuasa Allah atas kehidupan kita. Yakinlah bahwa ketika Allah membuat kita merasa takut, kuatir, merasa kehilangan, itu semua bermuara pada satu tujuan, bahwa Ia rindu untuk bersekutu dengan kita, dan kita pun seharusnya memiliki kerinduan yang sama dengan Dia.

Bukan hanya kita yang diinginkan Allah. Ia juga menginginkan orang-orang di sekitar kita untuk dapat menginginkan Dia. Adakah kita punya kerinduan itu?

Soli Deo Gloria!

Wednesday, November 30, 2016

Mensyukuri Hidup Dalam AnugrahNya



“Banyak orang takut untuk mati, tetapi mereka tidak takut dalam menjalani hidup”

Aku lupa banget siapa yang nulis ungkapan ini, tapi sampai sekarang maknanya masih menancap banget di dalam hatiku. Melihat orang-orang disekitarku dengan berbagai problematika mereka dan mereka terus menerus hidup di dalam keluhan dan kekosongan hidup, aku jadi makin memaknai kalimat ini. Akupun sama dulu menganggap bahwa kalimat ini agak nonsense, tetapi setelah aku merenungkannya, bener juga sih.

Dunia yang Penuh Masalah
Tidak mudah bagi kita untuk hidup di dalam dunia sekarang ini. Tengok aja sekitar kita, berbagai problematika terjadi baik itu menyangkut internal diri kita maupun eksternal. Internal adalah contohnya kita tidak bebas melakukan sesuatu yang kita suka. Kita pengen kerja jadi guru, tapi kita takut gajinya kecil. Kita pengen mencapai cita-cita, tapi kita males buat melakukan effort. Kita sedang LDR-an, dan ketika ada masalah kita malah milih untuk diem karena kita males untuk ngobrol ama cowok/cewek yang nun jauh disana, menganggap bahwa apa yang kita critain gak bakal dipahamin.

Bagaimana dengan faktor eksternal? Nggak sedikit juga loh. Setiap hari kita berhadapan dengan bos kita. Kita berhadapan dengan pekerjaan yang gak selesai-selesai. Kita berhadapan dengan orang lain yang unik. Kita ketemu customer yang mungkin mengajak kita untuk makan-makan manakala kita harus pakai uang kita dulu buat bayarin mereka.

Ada begitu banyak masalah yang kita hadapi, dan tanpa adanya suatu cara pandang yang bener terhadap masalah ini, maka semuanya akan menumpuk jadi satu – yang akhirnya berujung pada stress. Tingkat stress yang meningkat mengakibatkan kita lost direction. Kita akhirnya larut di dalam problematika itu dan menganggap bahwa kita adalah makhluk (ups, manusia maksudnya) yang paling sengsara. Kita menjadi pribadi yang memandang bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan berujung pada kesia-siaan.

Check Our Relationship with God
“Gimana hubunganmu sama si ‘anu’?” pertanyaan itu sering kita dengarkan manakala kita jarang melihat seseorang berjalan sendiri padahal status nya udah in a relationship. Kita jadi kepo dengan kehidupan orang tersebut. Apalagi ketika dia jalan sendirian (eh teman-teman yang LDR harus mulai terbiasa nyiapin jawaban lho hehehehe). Belum lagi kalau dia jalan ama seseorang yang ‘lain’ yang mana biasanya bakal jadi gossip.

Nggak jauh beda dengan hal tersebut, aku melihat kecenderungan seseorang yang ada di ciri-ciri bahwa dia tidak bisa memandang sesuatu dari sudut pandang Allah, kemungkinan besar dia pun juga tidak punya sebuah relasi yang intim dengan Tuhan. Hubungan pribadi yang baik dengan Tuhan juga harus di checkup dari waktu ke waktu. Ya anggep aja seperti hubungan kita dengan pasangan hidup kita pun, bukankah kita juga selalu punya momen-momen untuk kita checkup kehidupan kita masing-masing, dan juga kondisi relasi kita?

Nonsense Meaninglessness
Ketidakberartian hidup – atau ketidakberartian tindakan kita menurutku adalah suatu kesimpulan yang kita tidak akan dapat tarik manakala kita punya sebuah hubungan yang intim dengan Allah. Tuhan menciptakan setiap kita dengan berbagai tujuan yang unik dan spesifik. Ini yang ditangkap oleh pemazmur manakala ia melihat kehidupannya, dan ia menuliskan di dalam Mzm 139, khususnya di ayat ke 13. Kemudian ia melanjutkan mazmur tersebut bahwa dia tercengang atas keberadaannya yang dahsyat

Tuhan membentuk setiap kita dengan setiap keunikan dan kemampuan yang berbeda. Tetapi terlebih dari itu, kita diciptakan untuk membuat suatu perubahan bagi dunia kita – bagi masyarakat kita. Sadar atau tidak, bukankah kita lebih menyukai arus dunia ini? Kita lebih suka play safe, kita lebih menikmati zona nyaman kita. Zona nyaman itu sebenarnya justru akan menarik kita secara perlahan namun pasti menuju ketidakberartian hidup.

Manusia diciptakan untuk menghadapi sebuah challenge, sebuah tantangan hidup. Tanpa tantangan hidup maka manusia akan hidup seperti robot. Maksudnya? Ya dia hanya akan bekerja kalau switch nya ada pada posisi ON. Dia gak akan peduli hasil kerjaannya. Dia akan sulit untuk melakukan sesuatu yang terbaik, karena dia nyaman dengan pola kerjanya yang sekarang. Ia terbiasa hidup terpola dan ketika pola itu dilanggar sedikit saja, dia akan stress sampai berhari-hari terhanyut dalam lautan perenungan yang justru sebenarnya merupakan suatu kesia-siaan.

Tidak Mengetahui dan Menyadari Masalah Hidup
Manusia yang tidak memiliki arah tujuan tentu saja dia merasa tidak ada masalah di dalam dirinya. Dia malah kebingungan terhadap hidupnya sendiri. Bahkan ketika ada orang lain bertanya mengenai apa masalah yang ia hadapi, ia akan kebingungan dan pada akhirnya ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja – karena ia tidak mengenali masalah yang ada di dalam kehidupannya.

Hal ini sering terjadi kepada orang-orang yang berada di dalam fasa pencarian jati diri. Menariknya bahkan di tengah pencariannya pun, dia punya pilihan: (1) dia terlarut dalam masalah itu, atau (2) dia berusaha mencari jati dirinya dengan cara bertanya kepada orang-orang disekitarnya, dan (3) dia berusaha mencari jawaban atas pertanyaan hidupnya kepada sang Empunya hidup.

Key to Meaningful Life
Kalau kita belajar melihat segala sesuatu dari sudut pandang anugrah, maka sehancur apapun hal yang kamu kerjakan, selalu ada manfaatnya baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain yang berada di sekitar kita. Bagaimana ciri orang-orang yang belajar melihat hidup dalam anugrah? Satu ciri yang khas adalah dia gak akan pernah mengeluh mengenai hidupnya. Dia sesekali akan menggerutu tetapi hal itu akhirnya tidak ia anggap sebagai gerutuan, tetapi justru menjadi suatu batu lompatan untuk meloncat lebih tinggi lagi.

Ciri khas lain adalah dia tidak akan nyaman dengan comfort zone nya. Dia akan punya inisiatif untuk mengembangkan dirinya.

Ciri terakhir, namun yang paling penting adalah dia punya sebuah relasi yang deket banget sama Bapa di Sorga. Dia punya kerinduan buat kenal Tuhan – melalui pembacaan alkitab, melalui pendengaran akan Firman, dan melalui komunitas-komunitas yang membangun. Memang kita harus akui bahwa ada satu lobang di dalam hati manusia. Lobang tersebut tidak akan pernah bisa tertambal manakala tiada Tuhan di dalam kehidupan orang itu.

Are You Ready to Make Your Commitment with God
Pernikahan adalah suatu ikatan di hadapan Allah. Sebuah ikatan yang begitu suci, ikatan yang merupakan cerminan dari bagaimana kasih Allah terhadap gereja-Nya. Kalau pernikahan itu begitu suci dan untuk menceraikannya bukan sesuatu yang gampang… (hum, iya lho. Tapi ga tau juga sih karena penulis belom nikah :p) maka seharusnya ketika dua pribadi telah menjadi satu, jika salah satu memutuskan untuk berpisah – akan ada lobang yang besar yang tidak dapat pulih secara cepat.

Maka dari itulah sebenarnya kita perlu belajar untuk melihat Allah sebagai kekasih jiwa kita. Bagaimana sih cirinya? Coba deh, kalau misal kita bangun pagi, apakah kita inget Allah, atau kita inget tukang bubur di depan kantor karena kita lapar? Apakah ketika bangun pagi kita menyadari bahwa ada suatu hal yang harus kita kerjakan di hari itu, dan semuanya itu terjadi cuman karena kasih Allah di dalam hidup kita.

Komitmen Allah terhadap manusia itu sudah jelas banget lho. Salib itu sudah menunjukkan bahwa cinta-Nya pada kita bukanlah sesuatu yang main-main. Cinta yang murni, cinta yang tanpa menuntut balas, cinta yang seharusnya menjadi dasar kita untuk bergerak dan bekerja seturut dengan kehendak-Nya.

Siapkah kita belajar mencintai Allah sama seperti Dia sudah mencintai kita?


Soli Deo Gloria