Total Pageviews

Showing posts with label kehidupan kristen. Show all posts
Showing posts with label kehidupan kristen. Show all posts

Wednesday, March 25, 2020

Kangennya Beda


Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya. Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi.
(Mzm 130:5-6)


Feels Different
“Iya nih say, kangennya emang beda”. Ujar istriku manakala kami berdua berkomunikasi lewat video call lewat gawai kami masing-masing.

Sudah hampir 2 minggu aku dan istri menjalani work from home atau mengisolasi diri dari kediaman kami masing-masing. Kami terpisah jarak sekitar 20 km, dan memang belum punya tempat tinggal bersama. Kalau sebelum kami menikah dan sebelum virus corona menyerang, kami senantiasa meluangkan waktu setidaknya seminggu sekali atau dua kali, tetapi karena ada pandemi ini, maka kami menahan diri dan memutuskan melakukan social distancing.

Berat? Of course! Ternyata feel-nya berbeda, dan pada saat video call itu kami saling melepas kangen kami, menatap satu sama lain dan berujar “semoga sampai seterusnya kalau ngeliat satu sama lain, rindunya kayak gini ya.”

Sampai Seterusnya
Percakapan itu menjadi suatu perenungan tiba-tiba, ketika pertama kali kita kenal Tuhan Yesus dan bagaimana sih kondisi kita saat ini? Kalau pertanyaan “masih rindu sama Aku nggak?” diajukan oleh Tuhan Yesus, apa ya jawaban kita? Apakah kerinduan itu masih sama atau justru makin rindu sama seperti ketika kita pertama kali mengalami perjumpaan dengan Tuhan? Ataukah rasa rindu itu terkikis oleh waktu, digantikan rasa bosan karena alkitab kita nggak ada “sekuel”-nya? (boro-boro sekuel, lah baca Kejadian sampai Wahyu aja ngos-ngos-an, paham juga enggak)

Aku rasa kerinduan kita terhadap Tuhan kita seharusnya seperti yang disampaikan oleh pemazmur dalam Mazmur 130:5-6. Pemazmur menantikan Tuhan lebih dari seorang pengawal yang mengharapkan pagi. Pengharapan atas firman-Nya seharusnya menyadarkan kita bahwa Tuhan pun senantiasa rindu, dan pertanyaannya adalah apakah kita punya kerinduan yang sama terhadap firman-Nya?

Kembali Pada Kasih Mula-Mula
Ingatlah kembali momen ketika awal kita percaya dan mengikut Tuhan, dan coba lihat kembali bagaimana begitu hancurnya hidup kita sebelum kita kenal Tuhan. Betapa momen itu seharusnya mengingatkan kita bahwa ketika Bapa rindu agar kita kembali. Kalau saat ini ditengah berbagai masalah, entah itu virus corona, atau issue lockdown, kerja dari rumah, dan sebagainya yang membuat kita kalut dan bosan, aku rasa ini waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali bagaimana rentannya hidup kita. Tentu dengan satu pengharapan dan keyakinan bahwa semua ini pun akan berakhir.

Mari di tengah berbagai pembatasan yang saat ini sedang terjadi, jadikan ini sebagai kesempatan untuk melepas rindu kepada Bapa di sorga yang senantiasa menjaga, memelihara dan merawat hidup kita.
 


Friday, November 16, 2018

Facing Crossroad


“Setiap titik hidupmu ini adalah anugrah, termasuk ketika kamu memilih jalan yang harus kamu ambil. Hati-hatilah dalam memilih, tetapi jangan ragu. Karena dalam setiap pilihan yang kamu ambil, anugrahNya tidak akan pernah berubah!”

Kalimat di atas mudah terucap, tetapi susah untuk dimaknai dan dilaksanakan. Mudah ditulis ulang, tetapi sulit untuk diresapi dan dilakukan. Mudah dihayati ketika kita merasa dalam suatu sukacita atas pilihan yang kita ambil, tetapi sulit dinikmati manakala ada dalam suatu duka akibat timbulnya berbagai masalah hidup.

WHEN GOD WRITES YOUR LIFE STORY
Aku yakin dan percaya bahwa Tuhan telah menuliskan suatu kisah dalam hidupku. Seyakin ketika aku dipanggil buat melayani Tuhan dan seyakin aku menjalani hidup ini dengan penuh sukacita dan damai sejahtera dari Dia. Ada satu momen dimana aku merasa kekosongan hidup namun akhirnya terisi dengan kehadiranNya dalam kehidupanku. Semuanya dimulai ketika aku menerima Yesus sebagai juruselamat pribadiku.

Tidak berhenti di situ, mendekati usiaku yang ke 29 tahun ini (ehm, udah tua juga nih…) ternyata ada satu pergumulan lagi yang Tuhan sediakan. Bukan masalah pasangan hidup dan pernikahan (meskipun ini salah satunya) tetapi diperhadapkan pada suatu pilihan tentang pekerjaan dan pelayanan. Selain itu tentu saja sebagai manusia normal, ada begitu banyak ketakutan dalam menghadapi dan menjalani masa depan.

Satu keyakinan yang kumiliki adalah ketika Tuhan sudah menuliskan kisah hidup ini, hal yang paling utama (dan tentunya paling sulit) adalah bagaimana aku dapat menyerahkan keyboard ini kepadaNya. (kalau dulu pakai bolpen, jaman now pakai keyboard). Dan menarik banget ketika di dalam pergumulan ini aku sadar bahwa menjalani hal ini bukan perkara yang mudah. Ternyata bahkan di tengah penyertaanNya pun ada begitu banyak hal yang membuat aku jatuh, aku galau, bahkan terkadang secara tidak sengaja menghujat Dia melalui setiap keraguanku dalam menjalani kehidupanku.

BE GRATEFUL IN ALL OPPORTUNITIES
Rasa syukur dan sukacita adalah kuncinya. Ditengah berbagai pilihan hidup, hal yang paling dapat diandalkan untuk dapat menghadapinya adalah dengan ucapan syukur. Itulah yang dinasihatkan pula oleh Paulus kepada jemaat di Tesalonika dalam 1 Tesalonika 5:8. Hal ini pernah aku bahas di artikel sebelumnya, dan kalau memaknai hal ini, sudah nggak layak buat kita merasa stress dan kecewa atas pilihan hidup ini. Kita akan dapat selalu melihat bahwa ada hal yang dapat kita syukuri senantiasa dalam menjalani hidup ini.

Titik dimana kamu berhenti bersyukur adalah titik dimana kamu mengabaikan Tuhan dalam hidupmu. Inilah yang aku temukan di dalam kisah hidup 28 tahun (yang hampir 29 tahun saat tulisan ini dibuat) dan penyertaan Tuhan sama sekali tidak berubah. Meskipun kasih setiaNya tidak pernah berubah, tetapi ada titik demi titik kejadian hidup dimana aku berhenti buat bersyukur dan memandang kea rah salibNya. Saat itulah aku sadar bahwa ternyata rasa syukur atas setiap kejadian yang Tuhan berikan adalah titik awal untuk kita memaknai penyertaan Tuhan dalam kehidupan ini.

DECISION
Memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan masa depan juga bukanlah hal yang mudah. Ada titik dimana ketakutan dan kekuatiran melanda. Ketika kedua hal tersebut mulai menggoyahkan hidup, satu hal yang aku belajar buat maknai adalah rasa syukur atas penyertaanNya. Begitu banyak anugrah yang sudah Tuhan sediakan, dan hal itu merupakan bukti bahwa tidak ada hal apapun yang lepas dari anugrah Tuhan.

Saat ada di persimpangan jalan, tidak ada jalan lain selain belajar buat merasakan betapa kasih Allah luar biasa dalam kehidupan kita. Satu-satunya alasan yang menyebabkan kita kehilangan makna hidup adalah karena kita menjauhkan diri dari Kristus. Ketika melalui persimpangan jalan yang mana kita harus memilih, jauhnya hubungan kita dengan Bapa akan membuat kita menjadi semakin bimbang. Memang benar tentu Allah dalam kedaulatan dan kasihNya akan senantiasa mendampingi, pertanyaannya adalah seberapa jauh kita memaknaiNya?

THE GREATEST GIFT
Persimpangan jalan adalah suatu hal yang lumrah, dan yakinlah bahwa di dalam persimpangan itu pun, Tuhan telah memberikan teladan. Hal yang dapat kita pelajari adalah bagaimana Yesus bergumul ketika Ia akan disalib. Diperhadapkan ditengah dua pilihan, Ia menyadari bahwa hal terpenting dalam hidupNya adalah mematuhi kehendak Bapa.

Kalau kita memaknai hal ini, berarti sebenarnya kita pun tak lepas dari pilihan hidup – dan pilihannya sudah jelas, mana hal yang membuat Tuhan dipermuliakan dalam kehidupan kita. Hidup ini bukan tentang kita. Hidup ini adalah tentang bagaimana kita dapat memaknaiNya dalam terang kasih karunia Allah – yang akan memampukan kita untuk senantiasa hidup seturut dengan kehendakNya. Melangkah dalam anugrahNya hari lepas hari, dan semuanya dimungkinkan karena Tuhan Yesus yang begitu mengasihi kita.

Sudah siapkah kita menjalani kisah hidup yang sedang Dia tuliskan?
Sudah siapkah kita menghadapi berbagai pilihan hidup dengan senantiasa berserah kepadaNya?

Soli Deo Gloria!

Monday, September 24, 2018

Mengucap Syukur Atas Kasih Karunia


“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18)

Detik demi detik berlalu dengan begitu cepat hari ini. Setelah bangun, aku melakukan hal yang tidak biasa, merapikan kamar tidurku dengan berbagai ke-messy-an nya, dan kutemukan beberapa slip gaji yang lama, ijazah S1 dan S2, dan sebagainya. Diantara tumpukan buku di lemari itu pun aku melihat berbagai buku yang sudah kubeli, memenuhi koleksi buku rohani yang jumlahnya sudah hampir dua lemari (ngga nyangka bisa sebanyak itu!)

Tenggelam dalam rasa haru sekaligus syukur, demikianlah perasaanku hari ini. Ketika saat teduh kembali membuka ayat Firman Tuhan dan kemudian mencoba melakukan sedikit Pendalaman Alkitab, dan ternyata mendapatkan sebuah topik yang begitu menarik – mengenai rasa syukur dalam kehidupan orang percaya.

Mengucap Syukur DALAM segala hal

Aku tahu ini bukan suatu perintah yang mudah. Paulus menuliskan hal ini kepada jemaat Tesalonika, yang merupakan jemaat dengan berbagai problematika dan tantangan hidup. Mereka adalah jemaat yang ditekan semasa hidupnya, tetapi dalam tekanan itu Paulus memberikan nasihat dan perintah untuk senantiasa bersyukur dalam segala hal.

Mungkin jemaat Tesalonika akan protes ke Paulus, “hey Paulus, kau sudah gila ya menyuruh kami untuk bersyukur. Lihat ini hidup kami yang begitu menderita”. Nyatanya jemaat ini tidak merespons demikian. Mereka memahami kalimat Paulus ini dan akhirnya mencoba untuk melakukannya. Ehm, dan perintah ini bukan hanya relevan pada jaman Tesalonika, tetapi juga pada setiap kita. Nah, menariknya juga bentuk kalimat ini present imperative. Artinya: ini sesuatu yang harus dilakukan.

Kita pun mungkin akan merespons dengan protes keras terhadap ayat ini, karena nyatanya toh banyak banget masalah hidup yang kita alami.

“Masakan aku harus mengucap syukur ketika melihat dia selingkuh?”
“Memangnya aku harus mengucap syukur kala aku kehilangan pekerjaanku?”
“Aku dirampok, masa aku harus mengucap syukur?”
“Aku baru aja gagal investasi, habislah semua hartaku!”

Itulah yang realitanya kita alami dalam kehidupan ini, bukan? Ucapan syukur yang cepat sekali lenyap karena berbagai rintangan hidup. Tetapi yang di tandai miring pada sub-bagian ini adalah kata “DALAM”, dan inilah bedanya.

Bukan “UNTUK” (for) tetapi “DALAM” (in), dan di dalam alkitab versi King James dituliskan demikian:

In every thing give thanks: for this is the will of God in Christ Jesus concerning you.

Cukup jelas bukan, jadi kita mengucap syukur bukan untuk selingkuhnya pasangan kita, atau kehilangan pekerjaan kita, atau ketika dirampok. Tetapi dalam segala kondisi kita diminta untuk mengucap syukur, bukan untuk kehilangannya, tetapi untuk pemeliharaan Tuhan dalam kehidupan kita.

ALASAN UNTUK MENGUCAP SYUKUR

Kunci dari mengucap syukur adalah karena kita “DI DALAM KRISTUS”. Artinya: seorang yang di dalam Kristus berarti ia yang sudah menerima Kristus yang sudah menerima anugrah keselamatan. Disinilah jemaat Tesalonika menyadari bahwa mereka adalah pribadi yang begitu hina menjadi anak-anak terang. Jaminan itu sudah mereka terima sampai akhir hidup mereka nanti. Jadi apa sebenarnya alasan bagi kita untuk dapat mengucap syukur? Mari kita lihat sebuah kisah di bawah ini.

Ketika seorang bapak akan keluar dari gereja, tiba-tiba ada orang asing yang memberikan kamu voucher belanja senilai 20 juta rupiah. “Pak, saya ingin memberi anda uang sebesar 20 juta rupiah dalam bentuk voucher”. Sontak ketika mendengar hal tersebut, si bapak tersebut kaget dan mulai berpikir, kenapa ya kok orang ini memberi kepadaku? “Beneran pak, eh tapi tunggu dulu, sepertinya kurang deh pak. Ini saya kasih yang baru,” dan orang tersebut akhirnya memberikan cek sejumlah 5 milyar. Tentu si bapak makin kaget dan akhirnya orang tersebut pergi. Esoknya ketika si bapak mau mengecek saldo di bank, ia tiba-tiba teringat akan cek yang ia terima dan dengan iseng ia menyerahkan cek tersebut kepada teller. Teller pun mengkonfirmasi dan uang tersebut ternyata benar masuk ke rekening bapak ini.

Saya yakin ketika si bapak itu sudah tua pun, ia akan tetap menceritakan kepada anaknya dan cucunya bahwa ia pernah menerima uang tersebut. OK, mari coba kita refleksikan bersama. Ketika aku dan kamu sudah menerima anugrah keselamatan itu, kita mau nggak mengucap syukur? Nilainya lebih besar dan lebih kekal daripada 5 milyar yang diterima oleh bapak itu bukan?

Disinilah peran kasih karunia yang mengubahkan fokus kehidupan kita. Tidak berhenti pada kasih karunia dan keselamatan yang Tuhan berikan, namun pola pikir kita pun dapat diubahkan untuk dapat memberitakan kasih karunia dan injil itu kepada orang lain. Ini pula yang dialami oleh Paulus dan juga yang dimintakan kepada jemaat di Tesalonika.

SUATU PENGALAMAN RIIL

Saat itu aku terdiam seribu bahasa menghadapi berbagai pertanyaan yang terlontar dari teman-temanku mengenai iman yang kupercaya. Aku membaca banyak banget buku-buku teologi kontemporer dan juga buku-buku tentang apologetika, tetapi sebenarnya di dalam diriku sendiri aku kosong. Ada satu kekosongan dalam hati yang ternyata kalau dicek ada hal yang belum Tuhan kuasai. Salah satunya adalah bagaimana aku dapat mengucap syukur di dalam keselamatan yang Tuhan berikan.

Kekecewaan akan hidup ini juga aku rasakan saat kutemui aku tidak seperti orang lain. Ada sesuatu dalam diriku yang mana aku tidak dapat bersyukur pada waktu itu. Masa SD-SMP aku dijauhi oleh teman-temanku. Hal ini pun berlanjut pada waktu kuliah aku tidak pernah merasakan cinta dari orang yang kucintai. Nilai yang standar, teman-teman yang biasa aja, dan sebagainya.

Tetapi justru dalam sesuatu yang serba biasa itulah aku mencoba melihat kembali seperti apa hidup yang Tuhan berikan. Ketika aku harus mengalami berbagai kekecewaan dalam hidup, justru di situlah aku merasakan pimpinan dan penyertaanNya. Saat itu yang kurasakan adalah: mungkin ini yang dikatakan Paulus dan ia sebut sebagai menyerah kepada Kristus. Bahwa setiap hal yang baik adalah suatu kesia-siaan tanpa adanya Kristus dalam kehidupannya.

Sejak aku menerima Kristus sebagai juruselamat, pola pikir itu berubah. Setiap hal dapat dilihat dari sisi kasih karunia. Senantiasa ada hal yang dapat disyukuri, dan di dalam Kristus ada kekuatan baru untuk menjalani kehidupan ini.

Ketika Kristus menguasai hidupku, dan ketika rasa syukur itu dapat dihasilkan melalui suatu hubungan yang intim dengan Dia, aku pun mengajak rekan-rekan pembaca buat mau menerima Dia. Undanglah Dia dalam hidupmu. Rasakan kuasa kasihNya yang akan mengubahkan caramu memandang dunia. Percayalah bahwa tidak ada hidup yang terlalu hancur untuk Tuhan bisa ubahkan. Tidak ada kekecewaan yang dapat menghancurkan kasih karunia, dan tidak ada hal di dunia ini yang dapat menghentikan Dia untuk mengasihi kita. Ia menginginkan diriku dan dirimu. Maukah kamu menerima-Nya? Maukah kamu dipenuhi rasa syukur atas setiap hal yang sudah dan akan Ia kerjakan?

Tuhan Yesus Memberkati

Sunday, April 1, 2018

Refleksi Paskah - Berkarya Bagi Kristus yang Bangkit


Tepat hari ini, 1 April 2018 umat Kristen di seluruh dunia merayakan Paskah. Sebuah peristiwa paling penting didalam perjalanan kehidupan Yesus. Kebangkitan Yesus pada hari ketiga merupakan sebuah cerita sekolah minggu yang sering sekali kita dengar. Setiap tahun dalam kehidupan kita mungkin kita akan merayakan paskah, dengan berbagai acara yang diadakan. Tetapi yang menarik adalah ketika kita melihat seperti apa hal yang terjadi ketika Paskah itu berlangsung.

Titik Nol
Betapa murid-murid kehilangan seorang guru yang menjadi panutan mereka. Mereka yang punya pengharapan bahwa akan ada suatu pembebasan – seperti yang disampaikan oleh para nabi PL, ternyata Sang Mesias yang mereka harapkan ada di dalam diri Yesus Kristus tidaklah seperti yang diharapkan. Hal ini membuat murid-murid mengalami suatu keadaan yang begitu menyedihkan. Mereka kehilangan tujuan hidup mereka. Mereka kehilangan junjungan satu-satunya yang telah memilih mereka.

Inilah yang terjadi setelah Yesus mati di kayu salib, dan titik nol itu terjadi ketika Yesus bangkit dan menampakkan diri. Kebangkitan Yesus menjadi suatu peristiwa yang begitu berarti bagi para murid. Mereka yang semula kembali melakukan kegiatan-kegiatan mereka, mendapatkan suatu semangat baru di dalam kehidupan mereka.

Providentia Dei
Penyertaan Tuhan adalah sesuatu yang utuh di dalam kehidupan manusia hari lepas hari. Penyertaan itulah yang menunjukkan bahwa Ia adalah Allah yang setia, dan itupun yang dirasakan oleh para murid-murid di momen Paskah. Petrus yang diubahkan setelah menyangkal dia, Saulus yang memutuskan untuk mengubah haluan hidupnya dan mengubah namanya menjadi Paulus, dan murid-murid lain yang akhirnya melanjutkan karyaNya di dunia ini.

Ini juga yang harus kita maknai bersama. Penyertaan Tuhan yang sebenarnya senantiasa ada di dalam kehidupan orang percaya. Pertanyaannya adalah: apakah kita peka terhadap penyertaan Tuhan? Kerasa nggak kalau ternyata waktu kita masih bisa melihat, menghirup nafas, membaca artikel ini, bukankah itu adalah bukti dimana penyertaan Tuhan itu senantiasa ada di dalam kehidupan kita?

Jadi jelaslah sekarang, apa yang membedakan kita dengan Paulus, Petrus, ataupun murid-murid yang lain. Bukan penyertaan Tuhan yang membeda-bedakan, tetapi sikap atau respons kita terhadap penyertaan Tuhan. Memang bener setiap orang punya pengalaman sendiri bersama Tuhan, dan selama ini saya kok yakin dan percaya banget bahwa di tengah setiap pergumulan dan pengalaman hidup yang Tuhan sediakan, selalu ada hal yang dimana Tuhan hadir dan mau ikut campur dalam kehidupan manusia.

Dia Mengikuti Kita
Ada sebuah puisi berjudul “Anjing Pemburu dari Sorga” yang dituliskan oleh Francis Thompson, yang mana puisi ini aku ketahui dari kotbah Dr. Ravi Zacharias. Isinya sangatlah menarik, menunjukkan bagaimana Tuhan senantiasa mengejar kita sampai mendapatkan kita. Kalau kita lihat perumpamaan tentang anak yang hilang di injil Lukas pun, bukankah dijelaskan hal yang sama, tentang Bapa yang senantiasa menyambut anaknya yang terhilang dengan tangan yang terbuka?

Tuhan ingin tahu tentang hidupmu. Tuhan ingin tahu tentang setiap hal yang kamu lakukan. Eh, tunggu! Dia tahu sih, tapi seperti seorang pacar, Dia mungkin akan kepo terhadap semua tindakan yang kamu lakukan. Siapa sih pacar yang gak mau denger cerita dari pasangannya? Nah kalau kita bisa begitu mesra dan cerita panjang lebar kepada pasangan kita, kenapa kalau sama Tuhan kok kita susah banget ya cerita? Padahal Dia pengen denger sendiri lho cerita kita kepadaNya.

Stalker vs Follower … atau … BLOCK?
Kalau kita pengen kepo terhadap seseorang, kita bisa stalking ke akun sosmed nya, tetapi gak jadi friend atau follower-nya. Alhasil ya kita kepo aja sih, kita cuman pengen tahu sekilas tentang hidupnya orang tersebut. Tapi kalau kita jadi follower seseorang, kita bisa senantiasa update tentang hal-hal yang di-posting, pendapat dia, pola pikirnya, dan sebagainya.

Oke, sampai disini kita perlu menyadari bahwa Tuhan Yesus sudah follow setiap kita. Eh tunggu bentar! Kok seenaknya aja Dia follow? Memangnya kita gak pakai confirmation dulu? Hehe, maaf ya, tapi Dia akan senantiasa follow kita, gak butuh approval dari Dia.

Sebaliknya, apakah kita mau follow Tuhan Yesus? Atau selama ini kita cuman jadi fans gelap atau secret admirer-Nya aja? Apakah kita senang dengan ajaran Yesus tetapi gak senang untuk melakukannya? Apakah kita sekedar stalking, kepo-nya cuman sesaat-sesaat aja ataukah kita mau benar-benar mengikut Dia? Atau lebih parah lagi, apakah kita memutuskan untuk BLOCK Dia?

Involvement
Berapa sering kita berkata bahwa kita nggak mau Tuhan campur tangan dalam hidup kita? Hal ini terutama terjadi manakala berbagai hal buruk terjadi dalam kehidupan kita. Menolak campur tangan Tuhan manakala ada begitu banyak kehilangan yang kita alami. Menolak Dia ketika ada berbagai hal yang nggak sesuai ama kehendak kita.

Tetapi pernah kebayang ketika kita menolak Dia, itu berarti juga kita harus konsisten lho. Artinya kalau kita protes terhadap begitu banyak hal buruk yang terjadi dalam hidup kita, tapi kita gak pernah menolak hal baik. Kita berharap Tuhan ignorant sekaligus involve. Di satu sisi kita pengen Block, tapi satu sisi juga kita ingin follow.

Melihat dan Meneruskan Karya Allah
Yuk lihat lagi dalam hidup kita, sekali lagi mengevaluasi apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita. Ketika Tuhan sudah memberikan segalanya buat mengasihi kita, memberikan hidup yang baru, dan melayani hidup kita, kita mau nggak follow Dia? Menjadi seorang follower sejati, yang tidak hanya kagum, tapi juga mau mengikut Dia.

Paulus memilih buat mengikut Dia, meninggalkan hidupnya yang lama. Bukan suatu hal yang mudah bagi Paulus yang bisa dibilang Dia punya segalanya selama masa hidupnya sebagai Saulus. Tetapi di dalam hati setiap orang ada kekosongan, dan lubang itu hanya bisa diisi oleh sosok yang paling mengerti dan memahami kehidupan kita – Allah sendiri. Hal itulah yang mendasari kehidupan Paulus menjadi seorang yang mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan. Menjadi saksi kebangkitan-Nya, menyaksikan-Nya bagi orang lain sehingga orang lain dapat pula menyadari bahwa kekosongan hatinya hanya dapat diisi oleh pribadi Kristus sendiri.

Makna Paskah
Kehidupan baru yang Tuhan tawarkan bukanlah hidup yang gampang. Kebangkitan Kristus kiranya senantiasa mengingatkan kita bahwa senantiasa ada pengharapan – dan ketika Tuhan sudah memberikan pengharapan itu, maukah kita membagikan-Nya bagi orang lain? Ketika Tuhan merindukan kita sedemikian rupa, apakah kita rindu kepadaNya?

Beda dengan sosmed yang terbatas oleh kuota, jalur komunikasi yang Tuhan sediakan itu bebas. Kapanpun kita mau datang kepadaNya, selalu ada akses. Yuk kita mau open communication itu semata-mata karena Tuhan sudah mengasihi kita – dan Ia sudah bangkit – dan kita pun mau memberitakan kasihNya itu bagi orang lain melalui perkataan maupun tindakan kita.