Total Pageviews

Showing posts with label Kristus. Show all posts
Showing posts with label Kristus. Show all posts

Sunday, April 1, 2018

Refleksi Paskah - Berkarya Bagi Kristus yang Bangkit


Tepat hari ini, 1 April 2018 umat Kristen di seluruh dunia merayakan Paskah. Sebuah peristiwa paling penting didalam perjalanan kehidupan Yesus. Kebangkitan Yesus pada hari ketiga merupakan sebuah cerita sekolah minggu yang sering sekali kita dengar. Setiap tahun dalam kehidupan kita mungkin kita akan merayakan paskah, dengan berbagai acara yang diadakan. Tetapi yang menarik adalah ketika kita melihat seperti apa hal yang terjadi ketika Paskah itu berlangsung.

Titik Nol
Betapa murid-murid kehilangan seorang guru yang menjadi panutan mereka. Mereka yang punya pengharapan bahwa akan ada suatu pembebasan – seperti yang disampaikan oleh para nabi PL, ternyata Sang Mesias yang mereka harapkan ada di dalam diri Yesus Kristus tidaklah seperti yang diharapkan. Hal ini membuat murid-murid mengalami suatu keadaan yang begitu menyedihkan. Mereka kehilangan tujuan hidup mereka. Mereka kehilangan junjungan satu-satunya yang telah memilih mereka.

Inilah yang terjadi setelah Yesus mati di kayu salib, dan titik nol itu terjadi ketika Yesus bangkit dan menampakkan diri. Kebangkitan Yesus menjadi suatu peristiwa yang begitu berarti bagi para murid. Mereka yang semula kembali melakukan kegiatan-kegiatan mereka, mendapatkan suatu semangat baru di dalam kehidupan mereka.

Providentia Dei
Penyertaan Tuhan adalah sesuatu yang utuh di dalam kehidupan manusia hari lepas hari. Penyertaan itulah yang menunjukkan bahwa Ia adalah Allah yang setia, dan itupun yang dirasakan oleh para murid-murid di momen Paskah. Petrus yang diubahkan setelah menyangkal dia, Saulus yang memutuskan untuk mengubah haluan hidupnya dan mengubah namanya menjadi Paulus, dan murid-murid lain yang akhirnya melanjutkan karyaNya di dunia ini.

Ini juga yang harus kita maknai bersama. Penyertaan Tuhan yang sebenarnya senantiasa ada di dalam kehidupan orang percaya. Pertanyaannya adalah: apakah kita peka terhadap penyertaan Tuhan? Kerasa nggak kalau ternyata waktu kita masih bisa melihat, menghirup nafas, membaca artikel ini, bukankah itu adalah bukti dimana penyertaan Tuhan itu senantiasa ada di dalam kehidupan kita?

Jadi jelaslah sekarang, apa yang membedakan kita dengan Paulus, Petrus, ataupun murid-murid yang lain. Bukan penyertaan Tuhan yang membeda-bedakan, tetapi sikap atau respons kita terhadap penyertaan Tuhan. Memang bener setiap orang punya pengalaman sendiri bersama Tuhan, dan selama ini saya kok yakin dan percaya banget bahwa di tengah setiap pergumulan dan pengalaman hidup yang Tuhan sediakan, selalu ada hal yang dimana Tuhan hadir dan mau ikut campur dalam kehidupan manusia.

Dia Mengikuti Kita
Ada sebuah puisi berjudul “Anjing Pemburu dari Sorga” yang dituliskan oleh Francis Thompson, yang mana puisi ini aku ketahui dari kotbah Dr. Ravi Zacharias. Isinya sangatlah menarik, menunjukkan bagaimana Tuhan senantiasa mengejar kita sampai mendapatkan kita. Kalau kita lihat perumpamaan tentang anak yang hilang di injil Lukas pun, bukankah dijelaskan hal yang sama, tentang Bapa yang senantiasa menyambut anaknya yang terhilang dengan tangan yang terbuka?

Tuhan ingin tahu tentang hidupmu. Tuhan ingin tahu tentang setiap hal yang kamu lakukan. Eh, tunggu! Dia tahu sih, tapi seperti seorang pacar, Dia mungkin akan kepo terhadap semua tindakan yang kamu lakukan. Siapa sih pacar yang gak mau denger cerita dari pasangannya? Nah kalau kita bisa begitu mesra dan cerita panjang lebar kepada pasangan kita, kenapa kalau sama Tuhan kok kita susah banget ya cerita? Padahal Dia pengen denger sendiri lho cerita kita kepadaNya.

Stalker vs Follower … atau … BLOCK?
Kalau kita pengen kepo terhadap seseorang, kita bisa stalking ke akun sosmed nya, tetapi gak jadi friend atau follower-nya. Alhasil ya kita kepo aja sih, kita cuman pengen tahu sekilas tentang hidupnya orang tersebut. Tapi kalau kita jadi follower seseorang, kita bisa senantiasa update tentang hal-hal yang di-posting, pendapat dia, pola pikirnya, dan sebagainya.

Oke, sampai disini kita perlu menyadari bahwa Tuhan Yesus sudah follow setiap kita. Eh tunggu bentar! Kok seenaknya aja Dia follow? Memangnya kita gak pakai confirmation dulu? Hehe, maaf ya, tapi Dia akan senantiasa follow kita, gak butuh approval dari Dia.

Sebaliknya, apakah kita mau follow Tuhan Yesus? Atau selama ini kita cuman jadi fans gelap atau secret admirer-Nya aja? Apakah kita senang dengan ajaran Yesus tetapi gak senang untuk melakukannya? Apakah kita sekedar stalking, kepo-nya cuman sesaat-sesaat aja ataukah kita mau benar-benar mengikut Dia? Atau lebih parah lagi, apakah kita memutuskan untuk BLOCK Dia?

Involvement
Berapa sering kita berkata bahwa kita nggak mau Tuhan campur tangan dalam hidup kita? Hal ini terutama terjadi manakala berbagai hal buruk terjadi dalam kehidupan kita. Menolak campur tangan Tuhan manakala ada begitu banyak kehilangan yang kita alami. Menolak Dia ketika ada berbagai hal yang nggak sesuai ama kehendak kita.

Tetapi pernah kebayang ketika kita menolak Dia, itu berarti juga kita harus konsisten lho. Artinya kalau kita protes terhadap begitu banyak hal buruk yang terjadi dalam hidup kita, tapi kita gak pernah menolak hal baik. Kita berharap Tuhan ignorant sekaligus involve. Di satu sisi kita pengen Block, tapi satu sisi juga kita ingin follow.

Melihat dan Meneruskan Karya Allah
Yuk lihat lagi dalam hidup kita, sekali lagi mengevaluasi apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita. Ketika Tuhan sudah memberikan segalanya buat mengasihi kita, memberikan hidup yang baru, dan melayani hidup kita, kita mau nggak follow Dia? Menjadi seorang follower sejati, yang tidak hanya kagum, tapi juga mau mengikut Dia.

Paulus memilih buat mengikut Dia, meninggalkan hidupnya yang lama. Bukan suatu hal yang mudah bagi Paulus yang bisa dibilang Dia punya segalanya selama masa hidupnya sebagai Saulus. Tetapi di dalam hati setiap orang ada kekosongan, dan lubang itu hanya bisa diisi oleh sosok yang paling mengerti dan memahami kehidupan kita – Allah sendiri. Hal itulah yang mendasari kehidupan Paulus menjadi seorang yang mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan. Menjadi saksi kebangkitan-Nya, menyaksikan-Nya bagi orang lain sehingga orang lain dapat pula menyadari bahwa kekosongan hatinya hanya dapat diisi oleh pribadi Kristus sendiri.

Makna Paskah
Kehidupan baru yang Tuhan tawarkan bukanlah hidup yang gampang. Kebangkitan Kristus kiranya senantiasa mengingatkan kita bahwa senantiasa ada pengharapan – dan ketika Tuhan sudah memberikan pengharapan itu, maukah kita membagikan-Nya bagi orang lain? Ketika Tuhan merindukan kita sedemikian rupa, apakah kita rindu kepadaNya?

Beda dengan sosmed yang terbatas oleh kuota, jalur komunikasi yang Tuhan sediakan itu bebas. Kapanpun kita mau datang kepadaNya, selalu ada akses. Yuk kita mau open communication itu semata-mata karena Tuhan sudah mengasihi kita – dan Ia sudah bangkit – dan kita pun mau memberitakan kasihNya itu bagi orang lain melalui perkataan maupun tindakan kita.

Tuesday, April 19, 2016

Manusia Baru – Keadilan & Kasih Allah

Roma 3:25

Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya.  Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.

Background
Iman, perbuatan, kebajikan, pengorbanan, perbuatan baik, semua itu terasa menjadi sebuah syarat yang mutlak di dalam syarat kita untuk mencapai surga. Seberapa baikkah diriku, seberapa indahkah kehidupanku jika dinilai oleh Dia? Sempat terbesit pertanyaan yang menjadi sebuah pergumulan, bahkan ketika sudah percaya kepada Tuhan Yesus. Sempat muncul keraguan, ketakutan, tanpa adanya suatu kepastian akan keselamatan yang Tuhan beri.

Muncul pula pertanyaan, ketika kita sudah Lahir Baru, mengapa hidup kita sama sekali tidak ada perubahan? Bahwa ternyata setelah kita hidup baru, tidak ada sesuatu yang radikal yang terjadi atas kehidupan kita. Bukankah hal ini menjadi begitu unik? Tetap saja setelah kita dibaptis atau lahir baru, kita sama sekali bukan menjadi manusia baru. Beberapa sharing dari teman-teman saya malah menyebutkan bahwa setelah lahir baru, kehidupan mereka semakin hancur.

Pengamatan tersebut membawa saya (waktu itu) pada suatu kesimpulan, bahwa keselamatan menjadi sesuatu yang take it for granted. Benar sekali, keselamatan itu gratis. Artinya ketika kita sudah menerima Yesus, ya sudah itu sudah cukup.

Sebuah Kenangan Masa Lalu
Memandang ke arah jendela kamar, menikmati dinginnya hujan waktu itu membuat aku hanyut di dalam sebuah kenangan saat aku pertama kali mulai kenal Tuhan Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang memegahkan diri. Begitulah kalimat dari Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, menurut Efesus 2:8-9

Tetapi tidak berhenti sampai disana. Ayat berikutnya jauh lebih mengerikan kalau kita resapi. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan baik yang telah ditentukan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:10) dan ini merupakan sebuah pernyataan Paulus yang seharusnya menjadi tolok ukur setiap tindakan, perkataan, dan perbuatan kita.

Tentu saja ayat-ayat ini membuat kita bersukacita sebagai orang Kristen, tetapi di sisi lain kita juga perlu memahami bahwa ayat-ayat ini mengandung sebuah tanggung jawab besar atas kehidupan kita. Ketika Paulus menyatakan bahwa kita diciptakan dalam Kristus Yesus, itu berarti bahwa di dalam kehidupan kita ada hal-hal yang dipercayakan, dan kita dipanggil untuk melakukan perbuatan baik dan celakanya, itu sudah dipersiapkan Allah.

Sejenak kenangan itu mencuat, dan kembali aku mencoba melihat kembali, benarkah selama hidupku aku menjalani kehidupan yang telah dipercayakan Tuhan melalui setiap tindakanku? Bagaimana kehidupanku ketika aku sendirian di kamar? Bagaimana kehidupanku ketika aku di gereja? Bagaimana, bagaimana, dan bagaimana?

Allah yang Memegang Kendali
Saya yakin dan percaya bahwa kendali atas hidup kita telah dipegang oleh Allah. Itu berarti di dalam hidup kita, kita tidak perlu menjadi kuatir atas apapun. Termasuk juga dosa... tunggu! Apa maksudnya? Apakah benar kita tidak perlu takut akan dosa?

Siapa yang tidak takut atas dosa? Wow, tentu kita takut akan dosa. Ketika kita sedikit saja kompromi terhadap cobaan yang kita hadapi, ternyata dosa itu bisa langsung menguasai kehidupan kita. Kita diminta untuk selalu waspada atas kehidupan kita. Tetapi ini pun menjadi pergumulan yang utama bukan? Bahwa ternyata dalam kehidupan baru yang Tuhan berikan pun kita masih juga terus bergumul atas dosa-dosa kita. Kita ingin mengatasi kuasa dosa itu, tetapi ternyata dalam realitasnya kita dikuasai.

Ketika Paulus berkata bahwa kita ini adalah manusia yang merdeka atas kuasa dosa, saya jadi bertanya apa sebenarnya yang dimaksud Paulus? Buktinya dosa itu masih terus menerus mengintai dan siap menerkam kehidupan kita. Lalu bagaimana?

Akhirnya sampai pada satu kesimpulan, apakah benar Allah memegang kendali atas kehidupan kita? Benarkah bahwa kuasa dosa telah dihancurkan dan Allah telah membebaskan kita dari dosa itu? Atau jangan-jangan betapa kita tidak punya hati nurani maka manakala kita berbuat dosa, kita sama sekali tidak peka, tidak ada penyesalan, justru malah ada sukacita?

Konsep Keadilan – Kasih Melalui Karya Penebusan
Salib menjadi sebuah bukti kasih sekaligus keadilan Allah atas kehidupan manusia. Melalui salib sebenarnya kehidupan kita menjadi kehidupan baru, kehidupan yang berkemenangan. Kehidupan yang dibangkitkan melalui kematian Kristus dan kebangkitanNya. Keadilan Allah ditunjukkan melalui tercurahnya darah Kristus, darah Tuhan yang menyucikan segala dosa kita. Kasih Allah ditunjukkan melalui anugrah melalui kematian Kristus. Ada pihak yang harus menjadi korban, sehingga dosa kita bisa dibebaskan. Ada kehidupan baru yang ditawarkan Kristus.

Balik lagi ke pembahasan kita tentang dosa. Salib menjadi suatu titik tolak perubahan kehidupan kita. Manusia lama menjadi manusia baru hanya bisa dicapai melalui karya salib. Itulah seharusnya yang mengingatkan kita betapa besarnya kuasa dan kasih Allah atas kehidupan kita. Perubahan hidup menjadi nyata manakala kita memandang kepada salib Kristus. Salib yang mana merupakan karya Allah, keadilan dan kasih yang dipertemukan di dalam Kristus Yesus.

Berubah dan Berbuah
Perubahan hidup melalui karya penyelamatan Kristus bukanlah sesuatu yang instan. Kita perlu menyadari bahwa perubahan hidup merupakan proses seumur hidup yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita. Ada kalanya di dalam proses itu kita jatuh, lelah, dan mungkin sampai hampir menyerah atas segala pergumulan yang terjadi di dalam kehidupan kita.

Jadi tidak perlu heran kalau setelah menerima Kristus, maka kita tiba-tiba bertobat secara drastis. Memang ada kasus sedemikian, tetapi selalu ada proses yang kita akan jalani di dalam penyucian kita, yang mana mempersiapkan kita untuk memuliakan Dia seumur hidup kita. Kita perlu menyadari bahwa di dalam Kristus, seperti yang dikatakan Paulus, kita adalah ciptaan baru.

Kuasa dosa sama sekali tidak berkuasa atas kehidupan kita. Kuasa dosa yang menghantarkan kita kepada kematian abadi, telah dihancurkan. Hal itu akan membuat kita menjadi orang-orang yang menyadari bahwa kita manusia berdosa yang membutuhkan kasih karunia Allah. Hal itulah sebenarnya yang membuat kita semakin hari semakin ingin bertumbuh di dalam kasih karunia. Kita punya kepekaan terhadap dosa yang menimpa hidup kita. Kita menjadi pribadi yang sadar betul bahwa kita butuh kasih karunia Allah
Kesadaran itu pula yang akan membuat kita terus bertumbuh dan berbuah di dalam Dia. Pertumbuhan rohani yang kemudian akan menjadikan kita semakin hari semakin indah, sehingga buah pelayanan kita pun dapat dinikmati oleh banyak orang, juga menjadi kemuliaan bagi Tuhan.

Bagaimana dengan kecenderungan dosa kita? Roh Kudus akan membimbing kita, membuat kita menjadi pribadi yang peka dan kuatir atas dosa yang akan kita kerjakan. Kita perlu menyadari akan hal ini sehingga kita memiliki komitmen untuk lari dari pencobaan yang menghadang kita. Saat kita berdosa, jangan pernah untuk sungkan, takut, cemas, untuk datang kepada Bapa. Ia adalah setia dan adil, demikianlah yang dituliskan oleh Yohanes.

Karya Keselamatan dan Perubahan Hidup
Menjadi poin penting bahwa ketika Tuhan sudah menyelamatkan kita, bukan berarti bahwa kita bebas bertindak semau kita. Mungkin kita berpikir: “ah kalau sudah selamat dan pasti masuk surga ya sudah, kita enjoy aja hidup ini”. Apakah begitu?

Kita perlu memikirkan kembali mengenai perubahan hidup. Ketika kita menjadi seorang Kristen, kita menjadi orang yang merdeka. Kemerdekaan atas dosa, tetapi juga kehidupan yang mana Kristus berperan sebagai raja atas kehidupan kita. Bagaimana impelementasinya? Tentu saja kalau kita menyadari bahwa Yesus adalah raja, itu berarti kita menuruti apapun yang Tuhan kerjakan.

Itulah kemerdekaan Kristen yang sejati, kemerdekaan yang berfokus kepada Allah Tritunggal sebagai penguasa hidup kita. Kiranya melalui perenungan singkat ini kita dapat memaknai kembali arti dari hidup baru yang diberikan Kristus, menjadi pribadi yang semakin hari semakin rindu untuk memuji dan memuliakan Dia.


Soli Deo Gloria!

Tuesday, March 29, 2016

Kebangkitan Kristus yang Mengubahkan Hidup

Setiap kali kita merayakan Paskah, apa yang kita rasakan? Betapa begitu banyak orang menjadi tersadar akan pengorbanan Kristus di kayu salib dan itu membuat mereka bersyukur. Menarik bahwa berita Paskah menjadi sesuatu yang begitu bermakna di dalam kehidupan umat Kristen. Bagaimana tidak kalau kita merenungkan bahwa keagungan kasih Allah kepada umatNya di dalam karya salib merupakan sebuah karya agung. Karya yang sama sekali tidak pernah terbayangkan, yang memberikan suatu jaminan bagi setiap orang untuk menikmati dan mengerjakan keselamatan itu.

Apa signifikansi Paskah di dalam kehidupan kita? Coba kita lihat 7 poin berikut:

1.      Mengingat kembali Kasih Kristus atas kehidupan kita
Sadarlah bahwa setiap kita adalah pribadi yang berharga di mata Tuhan. Keberhargaan itu Ia tunjukkan melalui karya penyelamatan Yesus Kristus di kayu salib. Salib merupakan lambang kehinaan, tetapi justru melalui salib itulah karya terbesar dikerjakan oleh Allah.

2.      Mengambil Rupa Seorang Hamba
Tidak dapat dilepaskan dari Paskah tentunya adalah bagaimana kita meneladani Kristus. Seorang hamba yang taat kepada tuannya, dan itulah yang Yesus tunjukkan melalui kehidupan Kristus. Yesus yang taat kepada perintah Bapa, begitu pula hidup kita pun perlu dimaknai sebagai ketaatan penuh sebagai seorang hamba, apapun pekerjaan dan profesi kita.

3.      Menjadi Buah
Bijih gandum harus jatuh ke tanah, mengorbankan dirinya supaya muncul kehidupan. Sama dengan kematian Kristus menjadi sebuah pengharapan akan hidup baru, hidup yang menghasilkan buah. Apa buah itu? Tentu saja itu adalah pemberitaan Firman kepada orang-orang yang belum mengenalNya.

4.      Mementingkan Kepentingan Orang Lain
Pemberitaan yang dikabarkan oleh Alkitab menunjukkan sikap dari Yesus, yang dalam hal ini sebagai seorang Tuan. Artinya begitu mengesankan bahwa justru di dalam posisi yang paling tertinggi, Ia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dianggap hina oleh dunia di sekitar kita.

5.      Perubahan Hidup
Sesuatu yang paling nyata di dalam kehidupan yang menerima Tuhan Yesus adalah perubahan hidup. Rasul Paulus mengalami hal ini manakala Ia “tertangkap” oleh kuasa kasihNya. Perubahan hidup yang signifikan dialami oleh Paulus, dan itupun seharusnya menjadi nyata atas kehidupan kita.

6.      Kehidupan Yang Bermakna
Kehidupan murid-murid setelah Yesus mati adalah kehidupan yang dirasakan fana. Serasa kehilangan tujuan hidup yang semula, mereka menjadi pribadi-pribadi yang ragu untuk meneruskan hidup. Tetapi kebangkitan Kristus menjadikan mereka dapat berkarya, memaknai hidup mereka yang dulunya hidup mereka flat menjadi hidup yang penuh proses.

7.      Janji Keselamatan
Kebangkitan Kristus merupakan sebuah janji akan adanya pengharapan di masa depan. Hal ini membuat kita menyadari bahwa kehidupan di dunia ini adalah kehidupan yang fana. Janji itu ialah janji yang nyata, dan kebangkitan Kristus menjadi bukti bahwa pada saatnya nanti kita akan merasakan kebangkitan itu

Demikianlah tujuh poin yang mana dapat kita pelajari dari peristiwa Paskah. Paskah menunjukkan kuasa dan kasih Kristus, dan itupun yang akan kita alami manakala kita belajar untuk menjadikan Dia sebagai juruselamat kita.


Soli Deo Gloria!

Sunday, August 23, 2015

Kita Harus Membawa Berita

Apakah Allah Mengasihi?

Pertanyaan bodoh bukan? Kita tidak perlu mempertanyakan hal itu bukan?

Sangat mudah menjawab YA ketika kehidupan kita “baik-baik” saja di dalam perjalanannya, tetapi akan sangat sukar dan perlu perenungan yang begitu mendalam manakala ternyata begitu banyak hal yang kita kerjakan menemui berbagai hambatan. Ketika hidup di dalam segala kebaikan Tuhan, kita bisa saja berkata Tuhan itu baik. Tetapi ketika kita mendapati bahwa kehidupan itu sangat bertentangan dengan sifat Allah, apakah kita masih bisa memuji Dia?

Temuilah sahabat saya, seorang pria yang akan segera menikah di dalam usianya 26 tahun. Pasangan hidupnya juga merupakan seorang Kristen yang begitu taat. Mereka berdua melayani, 1 orang sebagai pemandu pujian, dan satu lagi sebagai seorang pianis gereja yang begitu menawan. Karier mereka pun begitu luar biasa, dimana sang pria ini adalah seorang manager di salah satu perusahaan swasta (bayangkan, di usia 26 tahun sudah menjadi manager!). Pasangannya? Dia adalah seorang wanita karier dengan karir yang begitu mengesankan. Bekerja di sebuah consulting company, dia meraih berbagai penghargaan di usianya yang ke-24 tahun.

Sepertinya kehidupan begitu tenang, dan menyenangkan bagi kedua pasangan ini. Persiapan pernikahan mereka pun dimulai di dalam waktu 1 tahun lebih. Mereka mempersiapkan segalanya. Mereka sudah memesan tempat, mereka sudah memesan catering. Bahkan cincin yang mereka gunakan nantinya sudah mereka pesan dari Jerman. Mereka berdua sungguh merupakan calon keluarga Kristen yang begitu indah.

Semuanya tampak begitu indah bagi kedua pasangan ini, sampai satu kali si pria mendapatkan suatu kabar yang membuat dia shock. Seminggu sebelum mereka menikah, sang wanita mengalami kecelakaan. Kecelakaan yang begitu hebat, yang membuat wanita ini koma. Kejadian ini membuat sang pria ini terpukul. Uang memang bisa dicari, tetapi momen berharga bersama kekasihnya? Wow itu sungguh merupakan malapetaka yang begitu mengguncang hatinya.

Setelah seminggu, bukannya membaik, ternyata kondisi sang wanita semakin parah. Ada pembekuan darah di otaknya, dan dokter memvonis bahwa waktu hidup sang wanita ini tidak lebih dari 10 hari…

Hancur hati, itulah perasaan sang pria. Dia pun mencoba untuk berusaha tabah. Tiap hari dia berdoa bagi calon istrinya ini, berharap bahwa Allah turut bekerja di dalam tubuh istrinya. Bahkan ia pun sampai memohon kalau boleh nyawanya saja yang dicabut, dan sang istri diselamatkan dari penyakitnya. Ironisnya hal tersebut tidak terjadi.

Dua hari menjelang waktu yang sudah ditetapkan oleh dokter, sang wanita terbangun dari komanya. Sang pria langsung bergegas ke rumah sakit saat itu, dan dokter mengijinkan sang wanita ini untuk pulang. Bukan karena dia mendapatkan kesembuhan, tetapi mengijinkan dua hari yang tersisa ini setidaknya menjadi hari terindah yang dimiliki oleh sepasang kekasih ini.

Tidak menyia-nyiakan waktu, mereka berdua pergi ke rumah mereka, dan kedua pasang kekasih ini kemudian berbagi kisah, dan mulai berbagi kisah hidup. Mereka berdua kemudian berdoa bersama, dengan sebuah pengharapan bahwa Tuhan akan menyembuhkan sang wanita. Tetapi hasilnya masih nihil. Sampai di hari terakhirnya pun doa itu tidak terjawab. Akhirnya sang wanita pun meninggal di pelukan sang pria, dengan sebuah surat yang ia tuliskan kepadanya “Tuhan itu baik…”

Sahabat, mari kita coba melihat kisah tersebut. Coba bayangkan anda berada di posisi sang pria. Apa yang akan anda lakukan setelah anda mendapatkan realitas seperti itu? Apakah anda masih bisa berkata bahwa Tuhan itu baik ketika segala hal yang Ia rencanakan ternyata sama sekali berbeda dengan apa yang kita bayangkan?

Sang pria pun menjalani kehidupannya selanjutnya dengan suatu kesedihan yang begitu mendalam. Terlarut dalam kesedihan itu, ia memutuskan untuk mencari ketenangan. Ia mengambil cuti yang cukup panjang untuk mencoba merenungkan kehidupannya selama ini. Ia ingin menenangkan dirinya, tetapi manakala ia mencoba melihat smartphone nya, ia kemudian membuka album foto dan ia melihat senyuman calon istri, tangisan langsung keluar dari matanya. Air mata itu menetes tanpa henti, dan ia hanya membayangkan bagaimana kalau ternyata pada saat itu, sang wanita tidak mengalami kecelakaan.

Pergumulan yang begitu dahsyat ditemui oleh pria ini. Kecewa, marah, dan merasa bahwa dirinya paling mengetahui segalanya pun akhirnya mencuat. Ia kemudian mencoba mengambil sebuah catatannya, sebuah buku harian, yang mana di sana ada tulisan

Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku.
Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.
Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah.

(Mazmur 62:6-8)

Benarkah? Keraguan mulai menyelimuti hatinya. Berhari-hari ia belum bisa melupakan sang wanita. Berhari-hari ia menutup diri. Ia hanyut di dalam kesedihannya. Ia tetap melayani di gereja dan kualitas suaranya pun tidak berubah. Ia tetaplah melayani Tuhan dan terus belajar untuk berkarya di tengah keraguannya. Ayat-ayat di dalam Mzm 62 itu terus membayangi dirinya. Di dalam hati kecilnya mulai mempertanyakan kebenaran dari ayat-ayat itu.

Kemudian di dalam sebuah persekutuan, setahun setelah kematian calon istrinya, ia diminta untuk menceritakan bagaimana perasaannya. Teman-teman sekitarnya menghibur dia. Mereka bersama pergi ke tempat pemakaman istrinya. Setidaknya ada 40 orang bersamanya, dan pemakaman itu menjadi begitu ramai. Sekali lagi ia membuka buku hariannya, dan mencoba membacakan ayat-ayat di Mazmur 62:6-8.

Saat itulah dia mulai menyadari betapa kemuliaan Allah ada di dalam kehidupannya. Ia kemudian mendapatkan suatu insight yang berbeda. Ia pun pulang ke rumah, mengambil alkitabnya dan mencoba membaca kitab Wahyu, tentang gambaran pernikahan Anak Domba. Saat itulah ia menyadari bahwa calon istrinya sudah sampai di tempat baru. Sebuah tempat yang begitu indah, tempat yang penuh dengan sukacita bersama Kristus.

Hal itu tidak akan terjadi padaku. Mungkin itulah yang rekan-rekan pikirkan manakala membaca kisah ini. Apakah begitu tragisnya kehidupan seseorang? Mungkinkah hal itu terjadi? Kisah yang lebih menyedihkan mungkin berada di sekitar kita, yang mana kita tidak pernah mengetahui bagaimana akhirnya. Tengok saja prostitusi anak-anak di Kamboja. Tengoklah orang-orang kelaparan di Ethiopia. Tengoklah sahabat-sahabat di NTT yang kekurangan air. Begitu banyak orang yang di dalam hidupnya mungkin bertanya-tanya, benarkah Tuhan itu ada? Kalau Dia ada, mengapa begitu banyak hal yang menyedihkan terjadi dalam kehidupan kita?

Seakan Tuhan tidak mahakuasa, ataukah ada alasan lain?

Mungkin itulah yang perlu kita renungkan bersama. Manakala gereja Tuhan, atau bisa dikatakan tubuh Kristus ada di dalam dunia ini, ada tanggung jawab yang kita emban sebagai bagian tubuh Kristus. Ketika Allah sudah mempercayakan begitu banyak hal di dalam kehidupan kita, maka kita dituntut untuk menghadirkan kuasa dan kasihNya di dunia ini.

Menarik untuk kita renungkan sebagai orang-orang yang aktif ataupun orang-orang Kristen, kita perlu menyadari bahwa kita punya peran di dalam hidup kita sebagai orang percaya. Kita perlu terus-menerus belajar memancarkan kasih Kristus di dunia ini. Bukannya nyaman di menara gading, tetapi kita perlu “kenosis”. Kita perlu belajar untuk “keluar”, belajar untuk melakukan karya nyata di dalam kehidupan keseharian kita. Bukan hanya nyaman berada di dalam tembok gereja, sementara gereja terus-menerus memperlebar gedung tetapi tidak memperlebar karya nyata di masyarakat.

Apakah itu berarti pelebaran gedung gereja, renovasi, dan sebagainya tidak penting? Bukan begitu juga. Tetapi sebagai jemaat Tuhan, sebagai gereja Tuhan mari kita lihat seberapa banyak di alkitab dimana Tuhan Yesus berada di sinagoga? Bandingkan dengan pelayanan yang Ia kerjakan. Alkitab mencatat bahwa Yesus mengerjakan pelayanan jauh lebih banyak daripada Ia berada di dalam gedung ibadah. Ia memperlihatkan sosok manusia yang lebih tertarik untuk mengerjakan segala sesuatu yang Allah kerjakan di dunia ini.

Kita mengaku bahwa kita adalah orang Kristen bukan? Kalau begitu kita kembali lagi, apa sih arti “Kristen”? Kekristenan berasal dari kata “Christ” dan “Ian”, dimana tanpa Kristus, kita bukanlah apa-apa.

Kalau dari kisah tadi kita melihat karya Allah, salah satunya adalah bagaimana cara Dia mengejar sang pria. Di tengah putusnya pengharapannya untuk meneruskan hidupnya tanpa sang kekasih, bukan kebetulan bahwa ia menemukan ayat di Mazmur 62. Bukan sebuah kebetulan bahwa dia punya keinginan untuk membuka alkitabnya, membuka kitab Wahyu. Bukan sebuah kebetulan bahkan, bahwa sang calon istri akhirnya meninggal sambil meninggalkan sebuah pesan “Tuhan itu baik”

Allah yang tidak pernah lelah mengejar “yang terhilang” menjadi sebuah gambaran Allah yang begitu menginginkan kita untuk menjadi umatNya. Ketika kita mengaku sebagai orang Kristen bahwa kita adalah murid Kristus, itu berarti kita perlu belajar untuk meneladani karyaNya. Apa itu? sama! Mengejar yang terhilang. Memberitakan kebaikan Tuhan, memberitakan kasihNya. Ketika kita berdoa “datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga” adalah suatu pernyataan iman dan pengharapan, sekaligus juga sebuah janji – sebuah komitmen bagi kita untuk kita dapat mengerjakan tanggung jawab penatalayanan kita bagi dunia ini.

Dunia ini membutuhkan orang-orang yang mau belajar merendahkan diri di hadapan salib, menyerahkan hidupnya di hadapan kebesaran namaNya. Dunia ini membutuhkan orang-orang yang mau mengerjakan yang terbaik bagi Allah untuk kemuliaanNya. Sebagaimana sang pria di dalam kisah itu menemukan sebuah catatan dari Mazmur 62, adakah pribadi kita menjadi orang-orang yang dapat menjadi sumber penghiburan bagi dunia ini? Tidak perlu muluk-muluk harus keluar negeri, harus menjadi misionaris, dan sebagainya. Mulai dari orang-orang sekitar kita, apakah mereka merasakan kehadiran Kristus melalui kehidupan kita? Apakah mereka merasakan kasih Kristus di dalam pribadi setiap kita?


Selamat berkarya, Soli Deo Gloria!

Saturday, August 8, 2015

Allah yang Tidak Pernah Meninggalkan Kita

Pernahkah saudara berpikir mengenai jalannya hidup ini? Sebagian besar dari kita berpikir mengenai hidup yang benar-benar ruwet. Di satu sisi ada begitu banyak hal baik terjadi atas kehidupan kita, tetapi tidak melulu hal baik bukan? Bahwasanya dalam menjalani hidup ini ternyata ada banyak hal yang buruk yang menimpa hidup kita sampai kita mungkin bertanya “mengapa hal ini terjadi di dalam kehidupanku?”

Cerita 1
Ada sebuah keluarga kecil, mereka adalah orang-orang yang begitu rajin di dalam melakukan suatu pelayanan bagi Tuhan. Keluarga ini dikaruniai oleh 3 orang anak, dan pada saat anak keempat akan lahir, sang ibu menderita penyakit di rahimnya. Diantara 2 pilihan, apakah anak keempat atau sang ibu yang selamat, ibu ini akhirnya pasrah terhadap nasibnya. Sedangkan sang ayah pun akhirnya give up. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyelamatkan si anak. Konsekuensinya adalah sang ibu akan meninggal. Tetapi cerita ini berakhir tidak seperti yang anda bayangkan.

Si ibu akhirnya menyelamatkan sang anak. Tetapi karena ada abnormalitas di dalam tubuh si anak, si anak diberikan lifetime oleh dokter selama 10 tahun. 10 tahun kemudian, kejadian itu benar-benar terjadi. Sang anak akhirnya meninggal.

Sang bapak dengan segala daya upayanya berusaha untuk menyelamatkan anak ini. Segala cara pengobatan dicoba, tetapi tidak berhasil. Sang ayah yang mulai kehabisan tabungannya mendapatkan pertanyaan dari ketiga anaknya yang masih hidup

“Ayah, selama ini ayah rajin pelayanan di gereja, tapi kenapa ya kok Tuhan mengijinkan mama dan si Jemmy meninggal?”

Cerita 2
Cerita kedua datang dari seorang wanita berusia 20 tahun yang berkuliah di Jakarta. Selama 20 tahun ia hidup, ia adalah orang yang begitu rajin. Ia memiliki 3 orang saudara pria yang berbeda agama dengan dia. Begitu pula ibunya juga berbeda agama dengan dia. Memasuki tahun akhirnya di perkuliahan, wanita ini (sebut saja namanya Mawar) mengalami penyakit yang menyerang tulang belakangnya. Ketakutan menaungi si Mawar dan akhirnya dokter memvonis kalau ia harus dioperasi.

Mawar di dalam kesehariannya berdoa dan berdoa, dan akhirnya doanya itu terkabul. Dia akhirnya sembuh dari penyakit itu. Ia menjadi seseorang Kristen yang begitu tangguh, orang Kristen yang begitu berapi-api di dalam pelayanannya. Ketika saudaranya melihat dia, 2 orang dari mereka memutuskan untuk bergabung. Akhirnya 1 orang mengikuti katekisasi, 1 orang lagi dibaptis dewasa.

Waktu berlalu sampai akhirnya seseorang dari 2 orang saudaranya ini memilih jalan lain. Sang adik pertama, yang mengikuti katekisasi, akhirnya memutuskan untuk memilih agama lain. Ia tidak tahan melihat sang ibu yang selalu berharap kepadanya untuk mengikuti ibunya. Berbeda lagi dengan kakaknya. Kakaknya yang sudah menjadi Kristen sejak lama, memutuskan untuk menikah dengan seorang yang berbeda agama dari dia.

Mawar pun terguncang. Ia merasa perlu belajar untuk menceritakan hal ini kepada Tuhan. Ia berharap bahwa ada hal-hal luar biasa yang terjadi tetapi ternyata semuanya berbeda daripada ia bayangkan. Ditengah pergumulan seperti inilah kemudian Mawar berpikir, sembari dengan jujur menghadap Tuhan sambil bertanya:

“Dimanakah Tuhan saat semua hal ini terjadi? Mengapa hal ini harus terjadi, Tuhan?”

Tiga Jenis Penderitaan
Mari kita coba simpulkan, dari dua kisah di atas ada beberapa jenis penderitaan yang dialami oleh manusia. Jenis pertama adalah penderitaan fisik, kedua adalah penderitaan emosi, dan yang ketiga adalah penderitaan spiritual.

Saya tidak memberikan contoh penderitaan fisik dari kisah di atas, tetapi saya akan coba berikan saat ini. Penderitaan fisik adalah penderitaan seperti sakit penyakit, mungkin dari kisah di atas adalah penderitaan sang ibu yang sakit saat melahirkan anak. Ia mengalami kesakitan yang begitu luar biasa.

Kedua adalah penderitaan emosi, adalah penderitaan yang terkait dengan emosi kita. Contohnya adalah ketika kita dipermalukan di depan publik mungkin karena kita salah bicara, atau kita dihina-hina.

Penderitaan jenis ketiga adalah penderitaan yang saya bisa sebut sebagai puncak dari keduanya. Penderitaan spiritual adalah sebuah momen dimana seseorang merasakan kesakitan yang begitu luar biasa sampai pada satu pertanyaan: “dimanakah Tuhan” dan “kalau ada Tuhan, mengapa semua ini bisa terjadi?”.

Charles Templeton mengalami penderitaan jenis ketiga ini ketika ia melihat di televisi mengenai kehidupan orang-orang Afrika yang hidup di dalam kemiskinan. Hal ini membuat Templeton menanyakan sebuah pertanyaan yang akhirnya membuat imannya rontok. Seorang partner dari Billy Graham di dalam penginjilan yang akhirnya meninggalkan imannya karena bergumul dalam memahami apa rencana Allah di balik penderitaan dan kemiskinan.

Allah Yang Solider Melalui Yesus Kristus
Mari kita melihat bagaimana ketiga penderitaan itu ternyata bukanlah suatu hal yang baru. 2000 tahun yang lalu di bukit Golgota, Allah merasakan ketiga penderitaan itu secara langsung di atas salib. Anda bisa menebak bukan?

Penderitaan fisik yang dialami oleh Yesus terjadi saat Ia harus dipaku di atas kayu salib. Lee Strobel di dalam bukunya Case for Christ menggambarkan bagaimana penderitaan yang dialami Yesus ini begitu mengerikan, dan bahwasanya tidak akan ada seorang pun yang akan tahan di dalam menghadapi siksaan salib. Bahkan untuk bernafas, karena sebelumnya punggungNya sudah sobek akibat dari penyesahan yang dialamiNya, maka ketika bernafas akan timbul rasa sakit yang begitu mendalam.

Penderitaan emosi dialami Yesus saat dengan telanjang, di depan banyak orang, Ia disalib dalam kondisi telanjang. Saya tidak bisa membayangkan apakah anda mau ditelanjangi di depan umum, dan kemudian orang-orang yang melihat anda menghina anda, mencerca anda, dan menusukkan luka hati yang begitu dalam di dalam hati anda. Apalagi seorang murid anda mengkhianati anda, secara riil, maupun secara perkataan menyangkal anda.

Penderitaan spiritual pun dialami Yesus, sampai ultimatnya dia berteriak “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Yesus mengutip dari Mazmur 22, dan menunjukkan bahwa inilah puncak pergumulanNya.

Ketiga penderitaan itu sudah dialami Yesus juga di kayu salib. Ia terlebih dahulu memberikan sebuah teladan bagi kita, sebuah kisah yang menunjukkan bahwa memang hidup kita sebagai orang Kristen (Christian – murid Kristus) bukanlah sebuah kehidupan yang mudah. Seluruh pergumulan yang kita alami dalam hidup adalah sesuatu yang natural, sesuatu yang terjadi karena memang dampak dari dosa awal yang begitu mengerikan itu.

Jadi kalau kita melihat, Allah kita bisa disebut sebagai Allah yang solider. Ketika kita saat ini mengalami ketiga jenis penderitaan itu maka kita dapat memakluminya. Mengapa? Ya karena Allah pun sudah merasakannya, dan di saat akhir itulah saat / momen puncak dimana Dia menjadi sempurna.

Masa Depan Yang Tak Pernah Kita Mengerti
Nah kalau kita melihat masa lalu kita, atau hal yang saat ini kita alami, kita perlu belajar memaknai sebenarnya apa yang dipersiapkan Allah di dalam kehidupan kita. Kita bisa saja terjebak di dalam pola pikir masa kini, bahwa hidupku susah dan tidak ada gunanya lagi aku percaya kepada Allah. Itu pilihan pertama. Nah tapi ada satu penawaran yang Tuhan berikan mengenai masa depan.

Ams 23:18
Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.

Yesaya 41:10
janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.

Ayat-ayat ini terasa begitu menyenangkan. Tetapi mengapa realitas hidup kita sama sekali tidak mencerminkan itu? Mungkin kita perlu mengevaluasi secara lebih jauh dan lebih mendalam lagi, sebenarnya bagaimana kita harus memandang hidup kita menurut kacamataNya. Nah inilah yang sebenarnya jauh lebih penting, jauh lebih esensial.

Masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang, demikian pesan yang dituliskan oleh penulis Amsal. Artinya apa? Kalau kita baca ayat-ayat sebelumnya, penulis ingin mengajak pembacanya bahwa segala kejadian yang terjadi dalam kehidupan kita ada di dalam grand design yang sedang Allah persiapkan. Boleh saja kita menjadi “sok bijak” dan mengatakan bahwa kita tahu yang terbaik dalam hidup kita, tetapi kita tidak akan pernah dapat menyelami apa yang mau Allah kerjakan di dalam kehidupan kita.

Demikian juga dengan tulisan nabi Yesaya. Yesaya di dalam keadaannya sebagai nabi yang melihat bagaimana kota-kota di Kerajaan Utara (Israel) masih bisa menuliskan janji Tuhan kepada bangsa itu. Ada satu pengharapan yang pasti di dalam Dia. Ada satu pengharapan mengenai bagaimana Allah akan menuntun kita.

Kita tidak pernah akan dapat mengerti masa depan kita seperti apa. Tetapi kalau kita belajar untuk memahami lebih jauh, maka kita menyadari bahwa kehidupan di dunia ini jauh lebih temporer dibandingkan dengan kehidupan kita nanti di surga. Kemuliaan surga perlu kita maknai sebagai sebuah janji, bahwa itulah yang seharusnya menjadi fokus hidup kita.

Memandang ke Arah Kekekalan
Kehidupan di dunia artinya hanya akan berlangsung dengan begitu singkat, dan justru kehidupan yang sebenarnya baru dimulai di dalam terang kekekalan Allah di surga mulia. Ketika kita menyadari bahwa fokus hidup kita ada di dalam kerangka kekekalan dan rencana Allah, kita akan dapat menjadi pribadi-pribadi yang berani berkata “Suka-SukaMu Tuhan”. Artinya apa? Kita berserah penuh kepada Allah yang sudah mengatur hidup kita.
Okey sekarang akan saya tampilkan jawaban dari si bapak dari cerita pertama:

“Dik, pasti kamu pernah dijelaskan bukan di sekolah minggu mengenai kemuliaan surga? Mamamu pergi kesana, begitu juga adikmu. Allah itu baik, mungkin itu yang bisa papa katakan buat kamu. Mungkin kamu nggak bisa sepenuhnya paham, dik. Tetapi kalau di sekolah minggu, kamu pernah diajarkan tentang bagaimana Yesus sudah memberikan jaminan itu, mengapa papa harus kecewa? Mengapa papa nggak mau belajar untuk terus menjalani hidup ini di dalam terang kasihNya?”

Dan hasil perenungan dari Mawar, wanita yang tangguh itu dari cerita kedua:

“Aku percaya bahwa Allah telah mempersiapkan segala sesuatunya. Mungkin inilah hal yang mau Tuhan ajarkan: bahwa aku belum mampu menjadi terang bagi orang di sekitarku. Itu berarti aku harus terus belajar untuk memahami segala hal yang Ia kerjakan. Tetapi semakin aku ingin tahu, aku semakin sadar bahwa aku harus menjadi semakin bodoh di hadapanNya, sehingga melalui kekuatan yang Ia berikan itulah aku dapat memaknai kemahakuasaanNya dan kasih setiaNya.”

Bagaimana kedua orang ini bisa memiliki pemahaman seperti itu? Tidak yakin tidak bukan karena mereka punya fokus yang berbeda. Mereka berdua punya keyakinan:

Roma 8:28
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Kesimpulan
Dunia menawarkan begitu banyak hal mengenai penderitaan, kematian, kepedihan, dan sebagainya. Namun sebagai seorang percaya yang memiliki paradigma kekekalan, kita diajak untuk belajar di dalam iman percaya kita. Kesulitan yang kita hadapi, problematika yang begitu luar biasa, semuanya disediakan Tuhan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Ia tidak pernah meninggalkan kita. Setiap langkah kita sudah dipersiapkan oleh Tuhan. Sebagai penutup, yuk bersama kita menyanyikan sebuah lagu, lagu yang menyatakan langkah iman kita bahwa setiap langkah hidup kita ada di dalam pimpinan dan penyertaan Tuhan.

Tiap Langkahku
By: W. Elmo Mercer

1.  Tiap langkahku diatur oleh Tuhan
dan tangan kasihNya memimpinku.
Di tengah badai dunia menakutkan,
hatiku tetap tenang teduh.

Reff:
Tiap langkahku ‘ku tahu yang Tuhan pimpin
ke tempat tinggi ‘ku dihantarnNya,
hingga sekali nanti aku tiba
di rumah Bapa sorga yang baka.

2.  Di waktu imanku mulai goyah
dan bila jalanku hampir sesat,
‘ku pandang Tuhanku, Penebus dosa,
‘ku teguh sebab Dia dekat.

Reff:
Tiap langkahku ‘ku tahu yang Tuhan pimpin
ke tempat tinggi ‘ku dihantarnNya,
hingga sekali nanti aku tiba
di rumah Bapa sorga yang baka.

3.  Di dalam Tuhan saja harapanku,
sebab di tanganNya sejahtera;
DibukaNya Yerusalem yang baru,
kota Allah suci mulia.

Reff:
Tiap langkahku ‘ku tahu yang Tuhan pimpin
ke tempat tinggi ‘ku dihantarnNya,
hingga sekali nanti aku tiba

di rumah Bapa sorga yang baka.