Total Pageviews

Showing posts with label kekristenan. Show all posts
Showing posts with label kekristenan. Show all posts

Monday, October 23, 2017

Bersukacitalah Senantiasa

Seseorang berkata kepadaku: “Pura-pura bahagia juga butuh tenaga”. Well said! Dan memang itulah yang terjadi di dalam hidup yang penuh dengan kepalsuan atau pura-pura. Kita sadar, yakin dan percaya bahwa menjadi seseorang yang otentik adalah suatu hal yang membuat kita lega. Kepura-puraan hanya akan membuat kita menjadi pribadi yang lelah dalam menghadapi kehidupan ini, termasuk pura-pura bahagia.

Inilah yang menjadi permasalahan di sekitar kita saat ini. Begitu banyak orang yang menikmati pura-pura bahagia ini. Lupa bahwa butuh energi, butuh memiliki dua kepribadian, dan hidup di dalam kebohongan.

Satu-Satunya Alasan
Apa yang membuat kita dapat bersukacita di dalam hidup ini? Orang dunia menyebut bahwa hal yang membuat kita bersukacita ini bisa disimpulkan sebagai 5P yakni Power, Position, Prestige, Pleasure, dan Prosperity. Ada 1 tambahan mungkin buat temen-temen yang masih jomblo à partner (in life). Jadi pada prinsipnya ada begitu banyak hal di dunia ini yang kita kejar.

Pertanyaannya kalau hidup kita bersukacita hanya karena hal-hal tersebut, kita akan begitu banyak kehilangan sukacita kita. 5P (atau bahkan 6P) seperti yang disebutkan di atas begitu terbatas dan memang sesuatu yang begitu fana. Bahkan yang keenam, suatu saat akan hilang (tentu bukan dicuri, tapi pasangan hidup kita pada akhirnya juga akan tiada bukan?)

Ada hal lain berarti diluar 6P ini yang seharusnya memiliki nilai yang kekal, yang tidak hanya sementara. Apakah itu?

Harta yang Terpendam dan Mutiara yang Berharga
Sangat jelas dalam benak kita kalau hal yang paling berharga di dunia ini adalah sesuatu yang nilainya kekal. Hal ini pula yang disampaikan oleh Yesus mengenai perumpamaan tentang harta yang terpendam dan mutiara yang berharga (Mat 13:44-46).

Sebentar, itu kan buat nanti? Bukankah sorga itu sesuatu yang belum kita alami? Bagaimana mungkin kita bisa bersukacita?

Kerajaan sorga bukanlah sesuatu yang terjadi in the future. Kerajaan sorga adalah sesuatu yang riil manakala seseorang mengaku bahwa Yesus adalah satu-satunya juruselamatnya. Melalui anugrah inilah kita dapat memahami bahwa hal kerajaan sorga itu sesuatu yang riil terjadi dalam hidup kita. Ada perubahan pola pikir – yang mana Paulus tuliskan dalam 2 Korintus 5:17

Jadi perubahan pola pikir inilah yang dapat membuat kita bersukacita. Paulus pun menuliskan di dalam suratnya kepada jemaat Filipi dalam Flp 3:1-11 mengenai bagaimana ia memahami iman kepada Kristus sebagai satu-satunya yang paling berharga di dalam hidupnya. Bahwasanya segala hal lain yang dianggapnya merupakan suatu kebanggaan di masa lampaunya bahkan menjadi penghalang bagi dia untuk mengenal Kristus – karena di dalam berbagai kebanggaannya itu matanya akan menjadi sulit tertuju kepadaNya.

Siapa Tuan Kita?
Sikap hidup kita akan mencerminkan kepada siapa kita menyembah. Ketika sedikit-sedikit kita masih menginginkan harta, sadar atau tidak kita sedang menyembah harta. Ketika kita masih sering berpikir tentang tahta kita, kemungkinan besar fokus hidup kita adalah tahta dan kekuasaan.

Ada begitu banyak hal yang akan menghalangi pandangan kita satu-satunya kepada Kristus. Bukan berarti bahwa kita tidak boleh memiliki berbagai hal itu, tetapi yang harus dipahami adalah bukan itu hal-hal terutama yang menentukan sukacita kita. Pemahaman ini akan membuat kita memiliki cara pandang hidup yang baru.

Konsep kekristenan dalam memandang 6P tadi adalah bahwa segalanya adalah titipan yang bisa diambil kapanpun oleh Tuhan. Umur panjang, uang yang banyak, istri yang cantik, harta berlimpah, itu semua semata-mata adalah anugrah yang Tuhan percayakan dalam hidup kita. Kesadaran akan hal tersebut akan membuat kita menjadi pribadi yang dapat senantiasa bersukacita dalam Tuhan, apapun kondisinya.

Percaya Penuh pada RencanaNya
Rencana Tuhan adalah rencana penuh sukacita dan damai sejahtera. Tapi kok kita sering nggak merasakannya yah? Bukankah realitas hidup ini ternyata membuat kita tidak damai? Begitu banyak kekacauan dan kehilangan yang kita alami yang membuat kita kehilangan sukacita kita.

Ketika kita belajar memandang kepada Kristus, bukan berarti sukacita itu akan senantiasa ada. Tetap kita akan merasakan kehilangan ketika kita kehilangan. Bedanya terletak pada bagaimana kita menyikapi setiap kehilangan itu. Percayalah bahwa kehilangan adalah salah satu cara Tuhan untuk kita dapat mengenal Dia lebih dalam lagi.

Ada begitu banyak hal yang akan menghalangi pandangan kita kepada Kristus. Apakah itu ambisi kita, uang kita, bahkan pasangan hidup kita. Kalau kita tidak belajar untuk fokus dan belajar melepas, maka halangan itu akan terus ada. Mari kita belajar memfokuskan pandangan kita kepada Kristus – dengan cara menyadari bahwa segala sesuatu yang Tuhan berikan dalam hidup ini senantiasa bukanlah sumber sukacita utama kita. Biarlah keselamatan yang Tuhan berikan merupakan satu-satunya hal yang memuaskan hidup kita dan memampukan kita untuk benar-benar bahagia, untuk menikmati sukacita yang Ia sediakan.

Jadi janganlah kita hanya pura-pura bahagia dalam hidup ini, tetapi jadilah pribadi yang benar-benar bahagia – semata-mata karena sudah menerima anugrah keselamatan yang Tuhan sediakan.

Soli Deo Gloria.

Thursday, May 25, 2017

Kebangkitan Kristus, Pengharapan Hidup, Kenaikan Yesus dan Kesetiaan Allah



Hari ini, 25 Mei 2017 seluruh umat Kristiani merayakan hari raya Kenaikan Isa-Almasih. Tentu bukan sebuah kebetulan dimana perayaan hari raya ini pada tahun ini dirayakan seminggu setelah hari Kebangkitan Nasional. Selain itu, hal yang tidak kalah penting adalah kita melihat berbagai problematika yang sedang mencuat akhir-akhir ini. Harus diakui bahwa Hari Kebangkitan Nasional tahun ini penuh dengan pemaknaan, dimana Indonesia sedang dilanda oleh berbagai hal yang menarik dan mencengangkan. Mulai dari dipenjarakannya seorang Basuki Tjahaya Purnama, kasus-kasus yang sedang mencuat, mulai bangkitnya gerakan-gerakan radikalisme, serta pemboman yang terjadi di Jakarta.

Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga
Perayaan Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga mungkin tidak sepopuler Natal dan Paskah. Kalau pada saat Natal dan Paskah, gereja penuh baik dari segi kehadiran maupun berbagai acara yang meriah, hari kenaikan tidak mendapatkan porsi yang semeriah itu. Setidaknya hanya ada ibadah seperti ibadah regular, diselipi oleh beberapa pengisi pujian, dan jalannya tetaplah sesuatu yang biasa saja.

Tetapi harus diingat bahwa hari ini merupakan sebuah momen penting juga selain Natal dan Paskah. Momen ini mengingatkan kita mengenai bagaimana Tuhan Yesus yang bertemu secara “fisik” untuk terakhir kalinya dengan para murid-Nya. Yesus yang mereka kenal, yang membuat mereka larut dalam kekaguman akan berbagai karyaNya, yang kemudian meninggalkan mereka saat Jumat Agung, kemudian bangkit dan menampakkan diri kepada mereka. Yesus itu juga akan meninggalkan mereka kembali untuk kedua kalinya secara fisik.

Perubahan Sikap

Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah.
(Luk 24:52-53)

Para murid menyembah kepada-Nya setelah kepada mereka disampaikan salam perpisahan. Kontras sekali dengan apa yang mereka alami pada saat Yesus mengucapkan salam perpisahan saat Ia akan disalibkan. Menarik untuk kita lihat bahwa disini ada perubahan respons akan perkataan Tuhan kepada para murid-Nya.

Para murid pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita dan hal ini pun juga tidak terjadi pada saat Yesus telah mati disalibkan sebelum Ia bangkit. Murid-murid bersembunyi di sebuah ruang tertutup, larut dalam kesedihan mereka. Sedangkan pada saat kedua kalinya Yesus akan berpisah dengan mereka, murid-murid berada di dalam Bait Allah, tempat peribadatan orang-orang Yahudi, yang mana bisa dikatakan bahwa pada jaman itu murid-murid adalah kaum minoritas, sekte sesat yang mengajarkan tentang Yesus adalah Mesias.

Apa yang mereka lakukan di Bait Allah? Oh mereka tidak hanya diam. Mereka memuliakan Allah dan ini adalah hal yang dipandang orang lain mungkin bodoh, nekat, dan resikonya sangatlah tinggi. Tetapi murid-murid melakukannya, dan mereka tetap setia.

Faktor X
Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan sikap itu pasti ada penyebabnya. Tidak ujug-ujug para murid tiba-tiba menjadi orang-orang yang seberani itu. Tentu kita masih ingat bagaimana Petrus yang dengan gegabah menyangkal Yesus. Alkitab juga menyajikan kita berbagai informasi yang begitu jujur tentang ketakutan yang dialami para murid.

Apakah janji Tuhan ketika Ia masih hadir dalam bentuk fisik dan ketika Ia akan naik ke sorga berbeda? Ternyata tidak juga. Mari kita baca ayat ini:

Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur."
(Luk 24:44)

Apa yang didapatkan dari ayat ini adalah ternyata janji yang sudah Ia ungkapkan sebelumnya maupun pada saat momen ini adalah sesuatu yang sama. Murid-murid pun memahami bahwa kedua janji tersebut sama, tetapi ada yang menjadi faktor X, atau factor pembedanya. Apakah itu? Bahwa saat ini Tuhan telah membukakan pikiran mereka (ay. 45)

Nah setelah kita mengetahui hal ini, yuk mari kita evaluasi diri kita sendiri. Apakah di dalam setiap proses kehidupan kita, hati dan pikiran kita sudah terbuka kepada Firman itu? Apakah kita siap mendengarkan Firman itu sekalipun mungkin tidak mudah untuk kita menerimanya? Siapkah kita ditegur dan menerima Firman itu sehingga kehidupan kita pun dapat diubahkan sama seperti para murid sudah diubahkan?

Implikasi Praktis
Damai sejahtera yang Tuhan berikan ini bukanlah sebuah hal yang sia-sia. Ketika para murid sudah merasakan bagaimana kehidupan mereka diubahkan melalui kejadian ini, mereka telah merasakan bagaimana indahnya berkarya dalam hidup mereka bagi Tuhan.

Kita melihat hal ini dari teladan iman para murid. Stefanus – yang harus mati karena mempertahankan imannya dengan dilempari batu. Petrus – yang akhirnya disalib terbalik. Yakobus – yang akhir hidupnya dipenggal. Andreas – yang mati disalib silang. Yohanes – yang dibuang ke Pulau Patmos. Kemudian di jaman yang lebih modern kita mengenal David Livingstone – yang menyebarkan injil hingga ke Afrika, meninggalkan segala kenyamanannya. Setiap orang Kristen di berbagai bidang kehidupan telah mencoba untuk menjadi berkat melalui damai sejahtera Allah yang sudah mereka rasakan, dan mereka ingin memperkenalkan damai sejahtera itu kepada orang lain.

Ketika kita belajar hal ini, siapkah kita menjadi berkat di tengah masyarakat yang mungkin menolak kita dengan berbagai fitnah, opini, dan berbagai gagasan yang bertentangan dengan iman kita? Siapkah kita bersikap menjadi orang-orang yang “berbeda” dibandingkan dengan orang-orang di sekitar kita yang mungkin belum pernah merasakan kasih Kristus di dalam kehidupan mereka?

Hari kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga ini hendaklah dimaknai dengan sebuah sikap untuk bangkit, untuk menjadi pribadi-pribadi yang percaya penuh akan janji dan penyertaan Allah di dalam kehidupan kita.

Soli Deo Gloria

Friday, September 30, 2016

Dosa dan Kesetiaan Allah



1Yohanes 1:9 
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. 

“Aku takut… Aku bimbang… Setelah sekian lama aku jadi Kristen, aku sudah percaya Tuhan Yesus, tetapi tetep aja aku melakukan hal itu.. kenapa yah…”

Beberapa hari yang lalu aku mendengar kalimat ini dari seorang teman yang sudah melayani. Bahkan dia adalah seorang ketua pemuda di sebuah gereja. Dia mengaku bahwa setelah sekian lama dia melayani, dia punya relasi dengan Tuhan melalui saat teduhnya, tetapi hal itu tidak lantas membuat dia bebas dari dosa. Dia masih punya sebuah kebiasaan berdosa dan kebiasaan itu ia lakukan berhari-hari.

Dosa
Dosa… Apa sebenarnya yang dimaksud dengan dosa? Dalam bahasa aslinya, dosa berarti “meleset dari sasaran”. Bayangkan kita bermain dart, ada sebuah titik di tengah (biasanya nilainya 10) dan kemudian kita diminta melemparkan dart itu. Kemudian kita mengenai angka 9. Good job bukan? Tetapi jikalau kita melihat definisi dosa dari alkitab, maka it’s not good enough.

Definisi dosa menurut alkitab adalah kalau ada range nilai 1-10 dan kita mendapatkan hasil 10, itulah baru yang namanya tidak berdosa. Tetapi kalau kita melakukan sesuatu dan nilainya 9,99 pun, tetap saja itu merupakan dosa. Itulah yang disebut dosa. Kalau begitu apakah ada orang yang begitu perfect yang bisa mendapatkan “nilai maksimal” tersebut?

Tidak hanya itu saja. Dosa selain berarti tidak melakukan sesuatu yang buruk, ada 1 lagi yang merupakan dosa. Apa itu? Yakni manakala kita tahu bahwa kita harus melakukan sesuatu yang benar tapi kita tidak melakukannya. Contoh ketika kita melihat teman kita sedang membutuhkan tumpangan, tetapi kita tidak memberikan tumpangan kepadanya, maka itupun dosa. Loh, kan dia gak butuh tumpangan, toh dia bisa naik angkutan umum? Tidak seperti itu cara kerjanya!

Keterikatan Terhadap Dosa
Selama kita hidup di dunia ini, kita akan selalu bergumul dengan dosa. Kita selalu akan menghadapi tantangan-tantangan untuk kita apakah kita dapat hidup seturut dengan kehendak Allah atau tidak. Tentu hal ini menjadi menarik manakala kita melihat lagi bahwa kita hidup di dalam periode penyertaan Roh Kudus.

Tidal peduli bagaimana sucinya kehidupan kita. Tidak peduli bagaimana track record dari pelayanan kita. Entah kita jemaat biasa, ketua majelis, pejabat gerejawi, bahkan pendeta sekalipun selalu punya hal yang membuat mereka di cap sebagai manusia berdosa.

Tetapi kita kembali kepada apa yang alkitab katakan – bahwa memang benar semua orang itu berdosa. Tetapi untungnya kita tidak hanya berhenti pada Roma 3:23, karena selanjutnya ada Roma 3:24

Roma 3:23  Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, 
Roma 3:24  dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.

Mengaku di Hadapan Allah
Pengampunan memang sudah Ia berikan atas dosa-dosa yang kita perbuat. Kita kembali menjadi pribadi yang dibenarkan oleh anugrah mengenai karya Yesus Kristus. Selanjutnya apa? Apakah kemudian kita boleh berbuat dosa? Sekali-kali tidak. Tetapi menariknya dari Allah yang kita sembah di dalam Yesus Kristus adalah ini: bahwa sekali-kali ketika kita berdosa, kita dapat mengakui segalanya. Pengakuan itulah yang sebenarnya dinantikan oleh Allah untuk kita dapat datang kepadanya.

 Allah yang rindu untuk kita boleh datang kepadaNya di dalam pengakuan dosa kita. Sadarkah kita akan hal itu? Pertanyaan itu akan disambung lagi dengan sebuah pertanyaan : benarkah kita rindu buat menghadap Dia sehari-hari untuk mengakui kelemahan kita, bahwa tanpa anugrah Allah, semua yang kita kerjakan ujungnya ialah maut?

Ketenangan batin itu Ia sediakan manakala kita mau datang kepadaNya dalam doa. Ia dengan setia menantikan kita. Itulah yang disebutkan oleh Yohanes.

Ia Setia dan Adil
Ada sebuah kisah menarik, antara Mary dan George. Mary dan George adalah sepasang kekasih yang mana seharusnya setahun setelah hari ini, mereka akan mencapai pelaminan. Tetapi ada sebuah kondisi perang, dimana George harus berangkat ke luar negeri untuk membela negaranya. Sebulan, dua bulan, selalu ada kabar dari George. Di dalam satu surat balasannya kepada George, Mary menuliskan “ketika kamu kembali kemari, aku akan siap untuk menerimamu dalam hidupku”. Kemudian setelah setahun lebih, perang belum usai, namun surat itu berhenti sampai ke tempat Mary.

Mary yang kuatir kemudian menanyakan kepada komandan George dan komandannya pun kesulitan menjawabnya. Ternyata status George saat itu adalah “Missing in Action”. Kemudian setahun kemudian, ada ketukan di pintu rumah Mary. Ibunda Mary segera membukakan pintu itu, dan tebak siapa yang datang ke rumah itu? Ternyata itu adalah George yang sudah pergi selama 2 tahun.

Mary pada saat itu mengalami depresi yang luar biasa. Dan sejak seminggu sebelum kepulangan George, ia sudah mengenakan gaun yang akan dipakainya di hari H pernikahan mereka. Ketika George masuk ke kamar Mary, segera ia berlari dan memeluk George yang masih dalam kondisi dekil setelah ia kembali dari medan perang itu.

Bayangkan kisah ini, dimana Mary menantikan kepulangan tunangannya untuk akhirnya mereka bisa bersatu lagi. Itulah rasa rindu Allah atas kehidupan kita. Ia menantikan kita untuk datang kepada-Nya, membawa hancur hati kita manakala kita mau belajar mengakui setiap dosa kita. Dikatakan di dalam ayat ini bahwa Ia adalah setia dan adil.

Dosa akan menimbulkan sebuah konsekuensi – kita tidak dapat menghindari hal tersebut. Tetapi di satu pihak, kesetiaan Allah yang menantikan kita untuk datang kepada-Nya juga bukanlah suatu hal yang main-main. Ia menantikan kita untuk kita datang dengan hancur hati, yang mana Ia mau membebaskan kita dari dosa tersebut. Ia ingin agar kita dapat menikmati hidup di dalam kekudusan sehingga ada suatu rasa rindu di dalam diri kita untuk memuji dan memuliakan Dia.

Jadi tunggu apa lagi? Mari datang kepada-Nya ketika kita mau mengakui setiap dosa kita. Mari bawa hati kita yang hancur akibat dari dosa itu kepada-Nya. Biarkan Dia menyusun satu per satu serpihan hancurnya hati itu menjadi hati yang baru. Hati yang suci, hati yang rindu untuk selalu dekat kepada-Nya. Hati yang rindu untuk menjadi kemuliaan bagi Dia. Semuanya itu karena kita berharga di mata-Nya, dan kita menjadi “biji mata Allah”

Soli Deo Gloria!

Tuesday, September 27, 2016

Jujur Kepada Allah

Kekecewaan Terhadap Allah

“Aku udah males lah mau ngapa-ngapain. Sepertinya apapun yang aku kerjain gak ada nilainya. Sama aja kok selama ini aku kerja keras tapi juga gak dihargai, sedang mereka yang kerjanya biasa-biasa aja tapi malah dapat kenaikan gaji.” Sejatinya, kalimat seperti itu juga dulu pernah aku katakan. Ketika melihat bagaimana hidupku di masa aku belum sepenuhnya mengenal Tuhan, kalimat seperti itu sering sekali keluar.

Ah mungkin teman-teman sudah pernah membaca kisahku ya? OK aku ulangin. Aku dilahirkan di keluarga Kristen. Orang tuaku merupakan orang-orang yang taat banget beribadah ataupun pelayanan. Yap, papa adalah salah satu dari pendiri Persekutuan Mahasiswa Antar Universitas (Perkantas) yang ada di Malang.

Tetapi satu hal yang di awal masa-masa hidupku tidak dapat aku terima adalah sebuah ketidaksempurnaan yang ada di dalam diriku.
Ketidaksempurnaan macam apa? Oiya aku punya sebuah cacat di tanganku. Bahkan pada saat SMP aku sempat begitu minder karena tanganku yang begitu tidak sempurna. Aku sempat menangis di hadapan 1 kelas manakala aku tidak bisa memainkan alat musik (recorder) dan sejak saat itu aku menyadari bahwa aku tidak akan pernah bisa memainkannya.

Aku menyangka bahwa cacat ini karena Tuhan sama sekali gak sayang ama aku. Gimana ya, kok bisa sih katanya papa pelayan Tuhan. Mama juga merupakan seorang pribadi yang baik. Tapi kenapa sih aku dilahirkan seperti ini?

Unanswered Question

Berkali-kali aku memikirkan, kok bisa sih aku menjadi pribadi model begini? Kecacatan yang ada di tanganku ini membuat aku menjadi pribadi yang “nakal”. Maksudnya? Aku menjadi pribadi yang sama sekali tidak peduli dengan orang-orang sekitarku. Aku menjadi pribadi yang menikmati kesendirianku. Aku menjadi minder dan di saat itulah aku mulai mempertanyakan “apakah Tuhan sungguh baik?”

Waktu itu aku ingat betul ada sebuah lagu yang terkenal yang berjudul “Seperti Yang Kau Ingini”. Lagu ini menjadi suka aku dengarkan manakala aku mengikuti retret di sekolah. Tetapi ketika aku mencoba untuk menikmati lagu itu, aku sama sekali tidak dapat memaknainya. Sepertinya kok Tuhan menjadi pribadi yang begitu semena-mena kepadaku? In other words, why me, Lord?

Pertanyaan itu tidak pernah terjawab semasa aku sekolah hingga lulus ke perkuliahan. Aku kuliah di Surabaya, jauh dari orang tua – setidaknya menikmati hidup di kos-kosan. Tetapi aku sama sekali tidak mencari jawaban atas pertanyaanku sebelumnya.

Kelegaan di dalam Anugrah

Francis Thompson dalam puisi yang ia tulis berjudul “The Hound of Heaven” menggambarkan Allah seperti seekor anjing pemburu yang tiada lelah untuk menangkap buruannya sampai menemukannya. Itulah yang Tuhan lakukan di dalam hidupku. Tanpa kenal lelah Ia memberikanku kesempatan untuk bertemu dengan seorang kakak pembina yang mengajarkan aku mengenai Kekristenan.

Aku bukannya seorang yang atheis. Aku percaya bahwa Allah ada, tetapi aku tidak dapat merasakan kehadiranNya. Aku ke gereja setiap minggu untuk mengikuti sekolah minggu, tetapi aku sama sekali tidak merasakan kehadiranNya, atau mungkin… aku tidak mau tahu bahwa Ia hadir di dalam hidupku. Seiring berjalannya waktu aku ada di Surabaya, aku bertemu dengan seorang kakak yang mengajarkan aku betapa berharganya hidup bersama dengan Allah.

“Roma 3:23-24” katanya

Kak Ivana memberikan ayat itu manakala aku menghadapi wawancara untuk mengikuti sebuah kepanitiaan. Kemudian langsung menyerang aku dengan berbagai pertanyaan yang mengarahkan aku betapa besarnya ternyata karya Allah atas kehidupanku. Ini membuat aku berpikir sekaligus tidak dapat berkata apa-apa lagi. Serasa aku ditangkap oleh anugrah Allah.
Tidak berhenti di sana. Ia membukakan lagi surat Paulus kepada jemaat di Efesus.

“Efesus 2:8-10” lanjutnya

Ayat-ayat itu begitu menyerang kesombonganku. Aku yang merasa bahwa selama ini aku baik-baik saja sekalipun tidak dikasihi Allah, bahkan menganggap bahwa Ia begitu tidak adil, segala asumsi itu runtuh. Aku hanyut di dalam tangisku. Malamnya aku bener-bener berdoa, dan aku ambil sebuah alkitab. Aku begitu menikmati momen itu. Momen pertemuan pertamaku dengan Dia.

Cinta Pertama… Benarkah?

Pernah kan temen-temen ngerasain rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama? Itulah yang aku rasain ketika aku pertama kali membaca alkitab. Aku mencoba untuk mencatat setiap hal yang aku dapatkan. Ketika aku berbicara kepada-Nya, aku merasakan kehangatan yang begitu luar biasa. Tetapi.. sampai kapan sih hal itu bertahan?

Ketika menyadari bahwa ketika aku mencintai Tuhan, maka akan begitu banyak hal yang aku dapatkan, aku sama sekali tidak merasakan itu. Mengapa? Karena aku ternyata tidak mencintai-Nya dengan segenap hatiku. Aku berharap bahwa kecintaanku dan kerajinanku membaca alkitab, mencatat hal yang kudapatkan, akan membawa aku kepada kemakmuran secara jasmani.

Opening My Diary

Aku menuliskan catatan hasil saat teduhku pada sebuah buku. Setiap hari aku mengisinya, dan mencatat berbagai hal yang aku dapatkan. Satu hal yang aku sadari dalam pencatatan itu adalah: ternyata aku sama sekali tidak memaknai apa yang aku catat.
Salah satu catatanku dalam penafsiran alkitabku secara pribadi adalah sebagai berikut:

“Tuhan sama sekali tidak tertarik dengan kekayaan ataupun kemampuan kita. Tetapi Ia begitu tertarik akan kesetiaan kita di dalam menikmati karya keselamatan yang Ia berikan. Melalui apa? Melalui setiap tindakan kita untuk memuji dan memuliakan Tuhan”

Sontak aku terkejut manakala aku membaca kalimat itu. Bener nggak sih aku menulis seperti itu?
Aku merasa bahwa itulah kebenaran yang ingin Tuhan ungkapkan. Bahwa setiap kekecewaan yang aku alami selama ini akan diubahkan menjadi sukacita yang tiada tara manakala aku belajar menyerahkan hidup ini kepadaNya.

Allah yang Menjadi Sama Seperti Manusia

Semakin aku belajar dan mendalami arti kekristenan yang sesungguhnya, semakin aku sadar bahwa kekristenan begitu unik. Tidak ada agama lain di dunia yang menunjukkan betapa besar kasih Allah selain daripada kekristenan. Allah yang merelakan Anak-Nya yang tunggal untuk mati menebus dosa dunia, menghancurkan kuasa dosa.

Tetapi sekaligus juga kita melihat pribadi Allah yang begitu jujur melalui Yesus Kristus. Yesus merupakan pribadi yang begitu jujur terhadap perasaan-Nya tentang suatu hal. Ia sedih ketika melihat Martha dan Maria mengalami musibah kematian Lazarus. Ia begitu bergumul manakala Ia akan menghadapi salib. Ia dengan marah menghancurkan meja-meja penukar uang di Bait Allah.
Yesus merasakan apa yang dirasakan manusia. Ini menunjukkan bahwa setiap perasaan yang kita alami merupakan anugrah Allah. Tetapi di balik semua hal yang dialami oleh Yesus, ada sebuah tujuan yang jelas mengenai pemaknaan-Nya tentang hidup. Apa itu? tidak lain dan tidak bukan adalah “SOLI DEO GLORIA”

‘Ku Ada Sebagaimana ‘ku Ada

Inti dari perenungan ini… aku merasakan dari awal bagaimana kekecewaanku kepada Allah justru membuatku mengenal Dia dan semakin hari semakin bertumbuh di dalam Dia. Kekecewaan itu membawaku untuk ingin lebih dekat mengenal Dia. Ini lho yang aneh. Ada sebuah momen di mana aku mempertanyakan apa sih sebenarnya rencana Allah dalam hidupku manakala aku diciptakan dengan berbagai kekurangan di dalam diriku.

Tetapi dengan tangan-Nya yang lembut, Ia meraihku. Ia menangkap aku dan Ia tidak pernah melepaskan aku!

Setiap kita yang pernah merasa kecewa kepada Tuhan, mari kita belajar jujur di hadapan Dia. Dia menantikan kejujuran perasaan kita kepada-Nya. Apakah kita cuman nggombal di hadapan Allah, ataukah kita kepengen banget untuk bener-bener mencurahkan isi hati kita kepada Raja di atas segala raja?

Sebagai penutup, mari kita coba melihat bagaimana Yeremia dan Paulus dengan jujur menyatakan perasaan mereka kepada Allah:

Yeremia 15:18 
Mengapakah penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan? Sungguh, Engkau seperti sungai yang curang bagiku, air yang tidak dapat dipercayai.

Dan apakah jawab Allah?

Yeremia 15:21 
Aku akan melepaskan engkau dari tangan orang-orang jahat dan membebaskan engkau dari genggaman orang-orang lalim."


Paulus
2Korintus 12:8-9
Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Yeremia dan Paulus telah merasakan bagaimana penderitaan mereka, dan mereka mendapatkan jawaban atas setiap hal yang mereka hadapi. Mungkin kita tidak langsung mendapatkan jawaban yang kita inginkan dan kita harapkan. Kita malah takut mendengar jawaban Tuhan atas kejujuran perkataan kita. Tetapi percayalah, setiap hal yang Ia kerjakan dalam kehidupan setiap kita itu unik. Tidak ada satu orang pun yang memiliki nasib yang sama, dan itu menunjukkan betapa setiap proses yang kita lalui hendaknya dapat kita lalui dengan setia sampai akhir.

Soli Deo Gloria!