Total Pageviews

Showing posts with label eksposisi. Show all posts
Showing posts with label eksposisi. Show all posts

Monday, October 23, 2017

Bersukacitalah Senantiasa

Seseorang berkata kepadaku: “Pura-pura bahagia juga butuh tenaga”. Well said! Dan memang itulah yang terjadi di dalam hidup yang penuh dengan kepalsuan atau pura-pura. Kita sadar, yakin dan percaya bahwa menjadi seseorang yang otentik adalah suatu hal yang membuat kita lega. Kepura-puraan hanya akan membuat kita menjadi pribadi yang lelah dalam menghadapi kehidupan ini, termasuk pura-pura bahagia.

Inilah yang menjadi permasalahan di sekitar kita saat ini. Begitu banyak orang yang menikmati pura-pura bahagia ini. Lupa bahwa butuh energi, butuh memiliki dua kepribadian, dan hidup di dalam kebohongan.

Satu-Satunya Alasan
Apa yang membuat kita dapat bersukacita di dalam hidup ini? Orang dunia menyebut bahwa hal yang membuat kita bersukacita ini bisa disimpulkan sebagai 5P yakni Power, Position, Prestige, Pleasure, dan Prosperity. Ada 1 tambahan mungkin buat temen-temen yang masih jomblo à partner (in life). Jadi pada prinsipnya ada begitu banyak hal di dunia ini yang kita kejar.

Pertanyaannya kalau hidup kita bersukacita hanya karena hal-hal tersebut, kita akan begitu banyak kehilangan sukacita kita. 5P (atau bahkan 6P) seperti yang disebutkan di atas begitu terbatas dan memang sesuatu yang begitu fana. Bahkan yang keenam, suatu saat akan hilang (tentu bukan dicuri, tapi pasangan hidup kita pada akhirnya juga akan tiada bukan?)

Ada hal lain berarti diluar 6P ini yang seharusnya memiliki nilai yang kekal, yang tidak hanya sementara. Apakah itu?

Harta yang Terpendam dan Mutiara yang Berharga
Sangat jelas dalam benak kita kalau hal yang paling berharga di dunia ini adalah sesuatu yang nilainya kekal. Hal ini pula yang disampaikan oleh Yesus mengenai perumpamaan tentang harta yang terpendam dan mutiara yang berharga (Mat 13:44-46).

Sebentar, itu kan buat nanti? Bukankah sorga itu sesuatu yang belum kita alami? Bagaimana mungkin kita bisa bersukacita?

Kerajaan sorga bukanlah sesuatu yang terjadi in the future. Kerajaan sorga adalah sesuatu yang riil manakala seseorang mengaku bahwa Yesus adalah satu-satunya juruselamatnya. Melalui anugrah inilah kita dapat memahami bahwa hal kerajaan sorga itu sesuatu yang riil terjadi dalam hidup kita. Ada perubahan pola pikir – yang mana Paulus tuliskan dalam 2 Korintus 5:17

Jadi perubahan pola pikir inilah yang dapat membuat kita bersukacita. Paulus pun menuliskan di dalam suratnya kepada jemaat Filipi dalam Flp 3:1-11 mengenai bagaimana ia memahami iman kepada Kristus sebagai satu-satunya yang paling berharga di dalam hidupnya. Bahwasanya segala hal lain yang dianggapnya merupakan suatu kebanggaan di masa lampaunya bahkan menjadi penghalang bagi dia untuk mengenal Kristus – karena di dalam berbagai kebanggaannya itu matanya akan menjadi sulit tertuju kepadaNya.

Siapa Tuan Kita?
Sikap hidup kita akan mencerminkan kepada siapa kita menyembah. Ketika sedikit-sedikit kita masih menginginkan harta, sadar atau tidak kita sedang menyembah harta. Ketika kita masih sering berpikir tentang tahta kita, kemungkinan besar fokus hidup kita adalah tahta dan kekuasaan.

Ada begitu banyak hal yang akan menghalangi pandangan kita satu-satunya kepada Kristus. Bukan berarti bahwa kita tidak boleh memiliki berbagai hal itu, tetapi yang harus dipahami adalah bukan itu hal-hal terutama yang menentukan sukacita kita. Pemahaman ini akan membuat kita memiliki cara pandang hidup yang baru.

Konsep kekristenan dalam memandang 6P tadi adalah bahwa segalanya adalah titipan yang bisa diambil kapanpun oleh Tuhan. Umur panjang, uang yang banyak, istri yang cantik, harta berlimpah, itu semua semata-mata adalah anugrah yang Tuhan percayakan dalam hidup kita. Kesadaran akan hal tersebut akan membuat kita menjadi pribadi yang dapat senantiasa bersukacita dalam Tuhan, apapun kondisinya.

Percaya Penuh pada RencanaNya
Rencana Tuhan adalah rencana penuh sukacita dan damai sejahtera. Tapi kok kita sering nggak merasakannya yah? Bukankah realitas hidup ini ternyata membuat kita tidak damai? Begitu banyak kekacauan dan kehilangan yang kita alami yang membuat kita kehilangan sukacita kita.

Ketika kita belajar memandang kepada Kristus, bukan berarti sukacita itu akan senantiasa ada. Tetap kita akan merasakan kehilangan ketika kita kehilangan. Bedanya terletak pada bagaimana kita menyikapi setiap kehilangan itu. Percayalah bahwa kehilangan adalah salah satu cara Tuhan untuk kita dapat mengenal Dia lebih dalam lagi.

Ada begitu banyak hal yang akan menghalangi pandangan kita kepada Kristus. Apakah itu ambisi kita, uang kita, bahkan pasangan hidup kita. Kalau kita tidak belajar untuk fokus dan belajar melepas, maka halangan itu akan terus ada. Mari kita belajar memfokuskan pandangan kita kepada Kristus – dengan cara menyadari bahwa segala sesuatu yang Tuhan berikan dalam hidup ini senantiasa bukanlah sumber sukacita utama kita. Biarlah keselamatan yang Tuhan berikan merupakan satu-satunya hal yang memuaskan hidup kita dan memampukan kita untuk benar-benar bahagia, untuk menikmati sukacita yang Ia sediakan.

Jadi janganlah kita hanya pura-pura bahagia dalam hidup ini, tetapi jadilah pribadi yang benar-benar bahagia – semata-mata karena sudah menerima anugrah keselamatan yang Tuhan sediakan.

Soli Deo Gloria.

Sunday, December 4, 2016

Merayakan Anugrah



Merayakan Anugrah

Perayaan… Apa yang terbayang di dalam benak rekan-rekan manakala ada sebuah kata “perayaan”? Biasanya yang terbayang di dalam pemikiran kita di dalam kata tersebut adalah: “PESTA”. Sebuah pesta yang penuh dengan sukacita.

Memandang Hidup
Hidup itu seperti apa sih? Atau.. Hidup itu apa sih?
Begitu banyak orang memiliki view tentang hidup yang berbeda satu dengan yang lainnya. Ada yang berpandangan bahwa hidup adalah permainan, dimana hidup ini cuman masalah menang dan kalah. Ada waktunya kita menang, ada waktunya kita kalah, dan semuanya itu sesuatu yang biasa dan selalu bisa dinikmati.

Ada yang bilang hidup ini adalah peperangan, dimana mau tidak mau kita harus bisa survive di dalam hidup ini. Jadi harus menang, kalau kalah berarti kita “mati”. Begitu banyak orang memiliki paradigm hidup seperti ini karena ada begitu banyak yang ingin dicapai.

Sebagai orang Kristen, kehidupan kita selayaknya kita definisikan bahwa hidup ini adalah anugrah. Adalah anugrah semata manakala setiap kita satu demi satu ada dan hidup hingga saat ini. Adalah anugrah semata manakala kita masih bisa melakukan segala sesuatu.

Kelelahan Hidup
Terus kalau kita sudah paham bahwa hidup adalah anugrah, tidak semata-mata kita merasa baik-baik saja dalam menghadapi hidup. Realitanya menjalani hidup yang penuh dengan anugrah ini bukan berarti bahwa hidup ini tanpa tantangan. Tetap saja kok kita sebagai orang Kristen akan mengalami kegagalan. Kita akan tetap mengalami kesulitan. Mungkin sesekali kita akan merasakan difitnah, dimusuhi, dipandang rendah oleh orang lain.

Inikah hidup yang penuh anugrah? Anugrah macam apa yang Tuhan sediakan? Benarkah itu hidup di dalam anugrah? Tidak jarang kita menghadapi ujian-ujian berat selama kita hidup. Bahkan tidak jarang dari kita mengalami depresi berkepanjangan. Katanya hidup itu anugrah, tetapi begitu banyak hal yang justru membuat kita mengalami kepaitan di dalam kehidupan ini.

Perubahan Hidup dalam Anugrah
Yesaya menuliskan kepada umat pada waktu itu mengenai bagaimana hidup di dalam anugrah Allah. Yesaya 35:1-10 melukiskan bagaimana ada suatu perayaan yang ditandai dengan perubahan hidup umat. Janji itupun juga masih nyata bagi setiap kita yang mau belajar untuk menikmati anugrah Allah.

Yesaya 35:1-2
Padang gurun itu bisa dipandang seperti kehidupan kita yang begitu kering, yang kosong, dimana tidak ada suatu kehidupan. Tetapi di bagian B dari ayat 1 ini menunjukkan bagaimana kondisi ketika Allah menjamah kehidupan kita. Kondisi pesta itu dapat dilihat dan dirasakan manakala kita membaca ayat 2. Ayat 2 ini menunjukkan bagaimana kondisi umat yang mensyukuri anugrah yang sudah diterima oleh mereka.

Yesaya 35:3-4
Senada dengan ayat 1-2, ayat 3 ini berbicara mengenai kondisi bagaimana kehidupan kita manakala kita merayakan kehadiran Allah di dalam kehidupan kita. Ada tangan yang lemah lesu, dan ini kita temui di dalam kehidupan yang penuh dengan perjuangan. Ada lutut yang goyah, dimana itu dapat kita alami manakala ada berbagai rintangan di dalam perjalanan kehidupan kita. Yesaya tidak menuliskan bahwa hal tersebut akan lenyap, tetapi ia berkata “KUATKANLAH”.

Ayat 4 berbicara mengenai tawar hati, dimana kondisi ini sering sekali terjadi di dalam kehidupan kita. Rakyat Israel di dalam perjalanan hidup mereka tentu merasakan jatuh bangunnya kehidupan mereka. Ada waktu dimana mereka bersukacita di dalam euforia mereka digiring keluar dari Mesir, tetapi setiap kita tahu bukan bahwa bangsa ini lebih sering menjadi bangsa yang tidak taat kepada Allah.

Namun di tengah tawar hati yang dialami bangsa Israel, Allah menunjukkan kasih-Nya melalui nabi Yesaya, yakni melalui ayat 4 ini. Sama juga di dalam kehidupan kita. Ada kalanya kita tawar hati menghadapi hidup ini, tetapi percayalah bahwa kasih setia Tuhan tidak pernah lepas di dalam kehidupan kita.

Yesaya 35:5-10
Akan ada berbagai sesuatu yang terjadi atas hidup kita sebagai orang percaya. Setidaknya kalau tidak dalam waktu dekat, akan datang momen dimana setiap kita akan mengalami damai sejahtera dari Allah. Kita melihat di dalam ayat 5-10 ini adalah hal-hal yang hampir mustahil untuk dapat kita lihat. Ini adalah janji Tuhan manakala Ia akan datang.

Kalau Allah sudah berjanji demikian, bagaimana kita menanggapinya? Sama seperti bangsa Israel yang tegar tengkuk itu, yang sekalipun mereka melakukan hal-hal yang begitu jahat di mata Allah, mereka tetap dikasihi oleh Allah. Apakah kita akan menanggapi janji Tuhan itu dengan menjadi pribadi yang terus menerus mengeluh di dalam kehidupan ini, sembari tidak belajar memaknai hidup ini sebagai anugrah Allah?

Ataukah…

Kita belajar untuk melihat semua kesulitan kita sebagai suatu anugrah yang membuat kita semakin belajar untuk merasakan bahwa kita membutuhkan Yesus di dalam kehidupan ini. Yes, sikap ini akan ditunjukkan melalui kehidupan kita yang berubah. Kehidupan yang senantiasa mengucap syukur, karena kita tahu bahwa segala hal yang Tuhan persiapkan di dalam kehidupan kita tujuannya adalah rancangan damai sejahtera.

Closing
Hidup di dalam anugrah bukanlah hidup yang tanpa hambatan ataupun tantangan. Justru hidup dalam anugrah memampukan kita untuk melalui setiap pergumulan, hambatan dan tantangan itu dengan mata menatap kepada pengharapan yang tidak pernah mengecewakan. Pengharapan yang memampukan kita untuk melihat pribadi Allah, yang mana memampukan kita untuk menyatakan:

GOD IS GOOD ALL THE TIME, ALL THE TIME GOD IS GOOD

Apakah kita mau belajar merayakan anugrah itu? Mari belajar membagikan hidup penuh anugrah ini kepada orang lain.

Soli Deo Gloria!

Monday, October 24, 2016

Menjadi Agen Kasih Karunia



1Yoh 1:9
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. 

Kehidupan manusia tidak ada yang luput dari apa yang disebut sebagai dosa. Kita melihat realitas bahwa dosa merupakan sesuatu yang riil, dan tidak dapat dihindari oleh siapapun. Hal ini terjadi begitu alami.

Belajar Mengaku
Ada sebuah kisah di dalam alkitab mengenai bagaimana seseorang harus bersikap di dalam dosanya. Daud pernah merasakan bagaimana ia menyadari apa yang dilakukannya terhadap Uria adalah sesuatu yang begitu jahat (2 Samuel 11) sampai ia menuliskan Mzm 51 untuk melihat betapa busuknya dia di hadapan Allah. Sikap penuh kesadaran ini merupakan sikap yang seharusnya kita miliki sebagai orang percaya.

Sikap lain adalah kita memandang dosa sebagai sesuatu yang biasa kita lakukan. Malah bisa jadi ada orang-orang yang begitu bangga atas dosa-dosa yang mereka lakukan. Saking bangganya mereka menjadi seseorang yang kebal.

Apa yang harus kita akui manakala kita berdosa? Kesadaran bahwa kita berdosa adalah sebuah sinyal yang sudah diberikan Roh Kudus di dalam hidup kita. Karena itu bersyukurlah manakala kita masih merasa bahwa kita ini masih hidup dalam dosa, berarti kita menyadari bahwa kita masih membutuhkan pertolongan Allah di dalam kehidupan kita.

Setia dan Adil
Apa yang dimaksud setia di dalam ayat ini? Mengapa disebutkan setia dan adil? Kesetiaan Allah ialah kesetiaan yang tidak bersyarat. Maksudnya bahwa mau sebejat apapun hidup kita, Ia tetap membukakan kesempatan kita untuk mau datang di hadapan-Nya. Hal ini ditunjukkan di dalam kisah alkitab baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Mari kita melihat di dalam kisah Kain dan Habel, dimana Kain akhirnya membunuh adiknya Habel. Apa yang Allah sampaikan kepada Kain? Bahwa ada penyertaan Tuhan sepanjang hidupnya, bahkan masih dikasih tanah oleh Allah. Kemudian kalau kita membaca kisah dari Yakub, seorang penipu, yang mana Allah akhirnya mengubahkan namanya menjadi Israel. Bagaimana dengan kisah hidup Daud si pezinah, Elia yang hidupnya begitu lonely, Musa dengan berbagai aksi protesnya, Yeremia dengan kisah kenabian yang penuh air mata, ternyata semuanya tetap berada di dalam lindungan kasih setia Allah.

Keadilan juga adalah sifat Allah, dan di dalam konteks ayat ini, kita perlu memahami bahwa tidak ada yang disebut sebagai hukuman Allah. Penghukuman atas setiap dosa kita telah ditebus melalui darah Yesus, tetapi selalu ada konsekuensi yang berjalan di dalam setiap dosa yang kita kerjakan. Jadi jangan pernah menyalahkan Allah atau meyakini bahwa setiap hal yang terjadi yang buruk dalam kehidupan kita merupakan hukuman atau ganjaran Allah.

Kesetiaan dan keadilan merupakan sifat Allah yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.

Mengampuni Dosa
Kedatangan Yesus ke dunia merupakan suatu tanda begitu besarnya kasih Allah terhadap dunia ini. Salib menjadi bukti bahwa ada pengampunan dan penerimaan Allah atas kehidupan kita yang penuh dengan dosa. Pengampunan ini merupakan rencana besar Allah, dan tidak ada hal yang lebih kita butuhkan di dunia ini dibandingkan dengan pengampunan dosa itu.

Apa yang harus kita kerjakan? Cukup datang kepada Dia dengan ungkapan bahwa kita membutuhkan kasih karunia. Bagaimana kita bisa datang kepada-Nya? Dengan menyadari dan mengakui bahwa kita adalah pribadi yang penuh dengan dosa. Kita datang bukan dengan kesucian kita. Kita datang bukan dengan kebisaan kita. Kita datang dengan hati yang hancur yang mau hidup kita dibarui oleh kasih karunia.

Move On dari Dosa
Apa arti move on? Move on berarti kita berhasil untuk melepaskan diri sepenuhnya dari sebuah kenangan. Bukan hanya mantan yang harus kita move on, bahkan dari dosa tertentu pun kita juga harus belajar untuk move on.

Bagaimana kita bisa move on dari dosa? Kita perlu belajar untuk menghentikan koneksi kita terhadap dosa. Bahkan terkadang ada hal-hal ekstrim yang perlu kita lakukan manakala kita mau berhenti dari kebiasaan buruk.

Contoh kalau kita ingin move on dari mantan kita, kita akan menghancurkan segala hal yang indah dari kenangan-kenangan kita. Kita berusaha berdamai dengan masa lalu kita. Kita mengakui bahwa kita memiliki masa lalu dengannya, tetapi kita perlu memaknai bahwa masa lalu itu bukanlah sesuatu yang harus disesali. Masa lalu itu cukup dipandang sebagai sebuah proses hidup dan pendewasaan iman kita.

Move on dari dosa, tetapi jangan pernah move on dari kasih karunia Allah. Seberapa hancur hidup kita, Allah ingin kita belajar untuk mengakui dosa kita, dan kita belajar untuk berdamai dengan masa lalu kita. Tidak ada dosa yang terlalu besar yang tidak dapat dihancurkan oleh kasih karunia Allah. Allah pun tidak pernah mengingat lagi setiap dosa kita. Allah tidak menghantui hidup kita dengan masa lalu yang penuh kekuatiran. Ia menyediakan masa depan yang penuh dengan damai sejahtera.

Menyucikan dari Segala Kejahatan
Roh Kudus yang bekerja melalui hidup kita senantiasa akan memberikan sebuah perasaan cemas di dalam kita melakukan dosa kita. Pencobaan merupakan suatu hal yang biasa, demikian yang dikatakan Paulus di dalam 1 Korintus 10:13. Hal itu menyiratkan bahwa tidak ada pencobaan dimana kita tidak dapat atasi di dalam kasih karunia Allah di dalam hidup kita.

Apa artinya suci? Perumpamaan penyucian yang dilakukan Yesus adalah seperti ini, bayangkan ada sebuah kertas putih yang baru. Kertas itu menandakan kehidupan kita. Kemudian ada noda hitam dari pensil yang cukup tebal. Coretan tersebut kemudian kita hapus dengan penghapus, tetapi masih saja ada bekasnya. Kita coba lagi tetapi tetap saja noda tersebut tidak dapat hilang sepenuhnya.

Demikian pula kehidupan kita. Seberapa kita berusaha menghapus noda dosa kita, tidak akan ada gunanya. Tetapi manakala Kristus mulai bekerja di dalam kehidupan kita, kita kembali disucikan. Kita menjadi selembar kertas baru yang siap digunakan Allah untuk menuliskan karya-Nya melalui kehidupan kita hari lepas hari.

Agen Kasih Karunia
Penebusan hanyalah dapat terjadi melalui karya Yesus, dan di dalam kasih karunia itulah nyata kehidupan kita yang baru. Ya, kita menjadi agen kasih karunia, dan tugas kita adalah membawakan kasih karunia itu di dalam dunia di sekitar kita.

Semakin kita pernah merasakan hancur hati akibat dosa-dosa kita, maka semakin besar harusnya kita dapat memaknai kasih karunia yang Allah sediakan di dalam kehidupan kita. Mengapa? Karena kasih karunia membuat kita sadar bahwa segala hal yang kita kerjakan tidak dapat menghapuskan setiap dosa dan pelanggaran hidup kita. Hidup tanpa kasih Allah ialah hidup yang kosong.

Kita hidup sehari-hari dengan berbagai kesibukan kita tetapi kita tidak pernah terpuaskan oleh segala hal yang ada di dunia ini. Semakin kita mencari kenikmatan dunia, semakin kita merasa kekosongan hidup sedang melanda kita.

Kesadaran akan kasih karunia akan membuat kita menjadi pribadi yang mensyukuri hidup yang Allah berikan. Hidup yang penuh dengan damai sejahtera karena kita mengetahui bahwa hidup kita bermakna. Hidup yang menyadari bahwa sebagaimana kita ada saat ini, semuanya adalah karena kasih karunia Allah. Siapkah kita untuk dapat menikmati hidup penuh kasih karunia itu? Allah menantikan jawaban kita.

Soli Deo Gloria

Monday, January 5, 2015

Lebih Dari Yang Dilihat Mata - Refleksi Dari Mazmur 90

Tahun 2014 sudah berakhir dan 2015 akan dimulai. Bagaimana kabar teman-teman? Apakah masih di dalam satu keyakinan bahwa ada penyertaan Tuhan yang luar biasa di dalam kehidupan? Ataukah masih bergelut dengan hal-hal yang membuat kita menjadi seseorang yang malas-malasan karena sepertinya ada banyak hal buruk yang kita alami di dalam kehidupan kita? Belum move on juga dari hal buruk yang kita alami? Nah artikel kali ini mencoba untuk mengajak teman-teman merenungkan kehidupan yang bermakna di dalam kerangka kita belajar memuliakan Tuhan, sekaligus menikmati Dia.

Mazmur 90 adalah suatu bagian di alkitab yang menuliskan mengenai doa dari Musa. Siapa sih yang tidak mengenal Musa? Dengan segala prestasinya yang begitu mentereng. Bayangkan saja, seorang pangeran Mesir hingga usia 40, dia merupakan seseorang dengan pendidikan yang tinggi. Kemudian di usia 40-80 tahun ia menjadi seorang gembala, dan pada usia 80 ia kembali ke Mesir untuk memimpin eksodus terbesar sepanjang sejarah manusia. Begitu besar peran yang ia jalani, tetapi di dalam doanya dia dengan rendah hati sekali menyatakan bahwa dia perlu belajar untuk ‘menghitung hari hingga beroleh hati yang bijaksana’ (ay. 12) setelah sebelumnya dia mengakui kedaulatan Tuhan atas kehidupannya.

Doa Musa ini mengajak kita untuk merenungkan bagaimana kehidupan orang Kristen ditengah dunia yang penuh dengan pergumulan dan kekacauan. Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari doa Musa ini. Mari kita bahas satu per satu:

1.     Ayat 1-2, merupakan sebuah votum, sebuah pengakuan bahwa kehidupan kita digantungkan hanya di dalam Dia. Musa menyatakan bahwa Allah adalah tempat perteduhan, yang berarti tempat untuk kita berteduh. Dia menyebut juga turun-temurun, dimana kalau kita melihat pemeliharaan Tuhan kepada Bangsa Israel, kita bisa melihat bagaimana karya Tuhan – mulai dari jaman Abraham hingga jaman Musa, sampai seterusnya. Ayat 2 juga ada sesuatu yang menarik: “dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah”. Tidak perlu banyak penjelasan bukan? Pengakuan Musa ini menunjukkan imannya yang begitu luar biasa. Sekalipun terkadang ada keraguan dalam diri Musa (dari awal dia diutus) hingga akhirnya dia menjadi seorang pembebas Mesir, tetapi pada akhirnya dia tetap percaya – sekalipun dia tidak melihat tanah perjanjian itu.

2.     Ayat 3-6, menunjukkan betapa singkatnya sebenarnya kehidupan itu dimata Tuhan. Hal ini menunjukkan pengakuan Musa yang menyadari betul bahwa sebenarnya hidupnya itu tidak ada apa-apanya di mata Tuhan. Orang mungkin memandang bahwa Musa adalah seorang pemimpin besar, tetapi ternyata dia tidak menganggap dirinya seperti itu. Dengan rendah hati ia berkata bahwa ternyata Tuhanlah satu-satunya yang empunya hidupnya. Dia tidak terbatas oleh waktu. Dia adalah Allah yang maha hadir di dalam kehidupan manusia. Di hadapan Allah, sehebat apapun prestasi kita, kemampuan kita, apapun yang kita kerjakan sebenarnya nothing. Kalau kita dipercaya melakukan sesuatu, semata-mata itu semua karena ANUGRAH.

3.     Ayat 7-12, Musa kembali mengakui kemahakuasaan Allah di dalam kehidupannya. Ia tahu benar seperti apa Allah itu, Allah yang kudus, Allah yang adil, Allah yang begitu mengasihi manusia. Mengasihi? Ya, Allah yang mengasihi belum tentu Allah yang tidak mendidik umatNya. Namun mengasihi di dalam hal ini adalah bagaimana Allah memberikan proses di dalam kehidupan manusia. Ayat 9 menunjukkan adanya suatu kondisi ‘berdukacita’. Kalau kita baca doa Musa ini, sepertinya dia memperlihatkan dirinya sebagai seseorang yang memiliki kehidupan yang begitu sengsara.. Tetapi pernyataan itu dibaliknya di ayat 10-12. Ayat 10-12 Musa mengakui bahwa seringkali manusia tidak memandang kehidupan dari sudut pandang Allah. Oleh karena itulah Ia meminta hikmat di ayat 12, Musa meminta pelajaran hikmat itu dari Tuhan, sehingga ia dapat menjadi seseorang yang bijaksana di dalam kehidupannya.

4.     Ayat 13-17, Musa menuliskan permohonannya kepada Allah. Setelah sebelumnya ia mengakui tentang kasih dan penyertaan Tuhan, ia memohon kali ini untuk dapat dikenyangkan dengan kasih setiaNya, artinya bahwa melalui hikmat yang diberikan Allah, kita dimungkinkan untuk dapat bersukacita atas segala hal yang terjadi di dalam kehidupan kita. Ia memohonkan bahwa setiap proses yang Allah sediakan seharusnya membuat bangsa Israel, setidaknya dia sendiri, untuk dapat memandang setiap proses yang sudah dialami dengan hati yang semakin mengenal Tuhan. Bukan dengan hikmat manusia, tetapi dengan hikmat yang dari Dia sendiri. Ia berdoa agar orang-orang dapat menikmati proses dari Tuhan itu dengan kacamata Tuhan, bukan dengan kacamata mereka sendiri.

Bisa nggak kita bayangkan kekecewaan Musa pada saat itu? Dia bisa saja lho ngambek atas hal yang Tuhan minta Ia kerjakan. Betapa tidak, kalau sepanjang hidupnya ia gunakan hanya untuk membawa bangsa Israel yang tegar tengkuk, bangsa Israel yang tukang mengeluh, tapi mereka adalah UMAT PERJANJIAN. Di akhir hidupnya mungkin kita membayangkan bahwa Musa akan sampai ke tanah perjanjian, tetapi rencana Tuhan ternyata bukan itu. Ternyata tanah perjanjian itu hanya dilihat oleh Musa, dia nggak sempat untuk menikmati tanah perjanjian itu.

Pembelajaran apa sih yang kita dapat? Poin 1 menunjukkan bahwa Ia adalah Allah yang layak dipercaya. Ia adalah Allah yang harus kita percaya sebagai Allah yang berdaulat atas kehidupan kita. Allah yang selalu memelihara kehidupan kita. Poin 2 mengajak kita untuk belajar merendahkan diri kita di hadapan Tuhan yang Maha tinggi. Poin 3 dan 4 intinya adalah kita belajar menerima didikan dari Tuhan. Kita belajar melihat bagaimana Tuhan bekerja, bukan melalui kacamata kita semata, bukan melalui hikmat kita semata, namun kembali bahwa semuanya adalah rancangan Tuhan. Apakah itu baik? YES and AMEN!! Rancangan Tuhan adalah rancangan yang terbaik di dalam kehidupan kita. Pertanyaannya, mau nggak kita belajar menyerahkan pemikiran dan logika kita di hadapan Tuhan, mengakui bahwa rancangan-Nya bukanlah rancangan kita, dan jalan-Nya bukanlah jalan kita?

Kehidupan kita sebagai hamba juga nggak jauh beda dengan kehidupan Musa. Musa sadar betul bahwa ketika dia sudah menjadi hamba, dia hanya bisa bilang “suka-sukaMu Tuhan”, dan itu berarti bahwa dia membutuhkan hikmat lebih yang dari Tuhan saja. Tetapi Tuhan menyediakan hikmat itu bukan? Tuhan menyediakan hikmat itu kepada Musa sehingga dia bisa menerima rencana Tuhan di dalam kehidupannya. Kaitannya apa sih dengan kehidupan kita? Nggak peduli mau sehancur apapun 2014 yang sudah dialami temen-temen, mau nggak belajar bahwa semuanya adalah bagian dari rencana Tuhan di dalam kehidupan ini untuk kita dapat menyongsong tahun 2015 yang penuh dengan pengharapan yang baru? Mungkin kehidupan kita seperti Musa, mengalami hal-hal yang tidak seharusnya kita alami di dalam masa hidup yang seharusnya kita nggak cocok untuk melakukan itu. Tetapi apakah teman-teman menyadari bahwa Allah sudah mempersiapkan hal yang jauh lebih baik dari hal itu?


Soli Deo Gloria