Total Pageviews

Showing posts with label hidup. Show all posts
Showing posts with label hidup. Show all posts

Sunday, December 4, 2016

Merayakan Anugrah



Merayakan Anugrah

Perayaan… Apa yang terbayang di dalam benak rekan-rekan manakala ada sebuah kata “perayaan”? Biasanya yang terbayang di dalam pemikiran kita di dalam kata tersebut adalah: “PESTA”. Sebuah pesta yang penuh dengan sukacita.

Memandang Hidup
Hidup itu seperti apa sih? Atau.. Hidup itu apa sih?
Begitu banyak orang memiliki view tentang hidup yang berbeda satu dengan yang lainnya. Ada yang berpandangan bahwa hidup adalah permainan, dimana hidup ini cuman masalah menang dan kalah. Ada waktunya kita menang, ada waktunya kita kalah, dan semuanya itu sesuatu yang biasa dan selalu bisa dinikmati.

Ada yang bilang hidup ini adalah peperangan, dimana mau tidak mau kita harus bisa survive di dalam hidup ini. Jadi harus menang, kalau kalah berarti kita “mati”. Begitu banyak orang memiliki paradigm hidup seperti ini karena ada begitu banyak yang ingin dicapai.

Sebagai orang Kristen, kehidupan kita selayaknya kita definisikan bahwa hidup ini adalah anugrah. Adalah anugrah semata manakala setiap kita satu demi satu ada dan hidup hingga saat ini. Adalah anugrah semata manakala kita masih bisa melakukan segala sesuatu.

Kelelahan Hidup
Terus kalau kita sudah paham bahwa hidup adalah anugrah, tidak semata-mata kita merasa baik-baik saja dalam menghadapi hidup. Realitanya menjalani hidup yang penuh dengan anugrah ini bukan berarti bahwa hidup ini tanpa tantangan. Tetap saja kok kita sebagai orang Kristen akan mengalami kegagalan. Kita akan tetap mengalami kesulitan. Mungkin sesekali kita akan merasakan difitnah, dimusuhi, dipandang rendah oleh orang lain.

Inikah hidup yang penuh anugrah? Anugrah macam apa yang Tuhan sediakan? Benarkah itu hidup di dalam anugrah? Tidak jarang kita menghadapi ujian-ujian berat selama kita hidup. Bahkan tidak jarang dari kita mengalami depresi berkepanjangan. Katanya hidup itu anugrah, tetapi begitu banyak hal yang justru membuat kita mengalami kepaitan di dalam kehidupan ini.

Perubahan Hidup dalam Anugrah
Yesaya menuliskan kepada umat pada waktu itu mengenai bagaimana hidup di dalam anugrah Allah. Yesaya 35:1-10 melukiskan bagaimana ada suatu perayaan yang ditandai dengan perubahan hidup umat. Janji itupun juga masih nyata bagi setiap kita yang mau belajar untuk menikmati anugrah Allah.

Yesaya 35:1-2
Padang gurun itu bisa dipandang seperti kehidupan kita yang begitu kering, yang kosong, dimana tidak ada suatu kehidupan. Tetapi di bagian B dari ayat 1 ini menunjukkan bagaimana kondisi ketika Allah menjamah kehidupan kita. Kondisi pesta itu dapat dilihat dan dirasakan manakala kita membaca ayat 2. Ayat 2 ini menunjukkan bagaimana kondisi umat yang mensyukuri anugrah yang sudah diterima oleh mereka.

Yesaya 35:3-4
Senada dengan ayat 1-2, ayat 3 ini berbicara mengenai kondisi bagaimana kehidupan kita manakala kita merayakan kehadiran Allah di dalam kehidupan kita. Ada tangan yang lemah lesu, dan ini kita temui di dalam kehidupan yang penuh dengan perjuangan. Ada lutut yang goyah, dimana itu dapat kita alami manakala ada berbagai rintangan di dalam perjalanan kehidupan kita. Yesaya tidak menuliskan bahwa hal tersebut akan lenyap, tetapi ia berkata “KUATKANLAH”.

Ayat 4 berbicara mengenai tawar hati, dimana kondisi ini sering sekali terjadi di dalam kehidupan kita. Rakyat Israel di dalam perjalanan hidup mereka tentu merasakan jatuh bangunnya kehidupan mereka. Ada waktu dimana mereka bersukacita di dalam euforia mereka digiring keluar dari Mesir, tetapi setiap kita tahu bukan bahwa bangsa ini lebih sering menjadi bangsa yang tidak taat kepada Allah.

Namun di tengah tawar hati yang dialami bangsa Israel, Allah menunjukkan kasih-Nya melalui nabi Yesaya, yakni melalui ayat 4 ini. Sama juga di dalam kehidupan kita. Ada kalanya kita tawar hati menghadapi hidup ini, tetapi percayalah bahwa kasih setia Tuhan tidak pernah lepas di dalam kehidupan kita.

Yesaya 35:5-10
Akan ada berbagai sesuatu yang terjadi atas hidup kita sebagai orang percaya. Setidaknya kalau tidak dalam waktu dekat, akan datang momen dimana setiap kita akan mengalami damai sejahtera dari Allah. Kita melihat di dalam ayat 5-10 ini adalah hal-hal yang hampir mustahil untuk dapat kita lihat. Ini adalah janji Tuhan manakala Ia akan datang.

Kalau Allah sudah berjanji demikian, bagaimana kita menanggapinya? Sama seperti bangsa Israel yang tegar tengkuk itu, yang sekalipun mereka melakukan hal-hal yang begitu jahat di mata Allah, mereka tetap dikasihi oleh Allah. Apakah kita akan menanggapi janji Tuhan itu dengan menjadi pribadi yang terus menerus mengeluh di dalam kehidupan ini, sembari tidak belajar memaknai hidup ini sebagai anugrah Allah?

Ataukah…

Kita belajar untuk melihat semua kesulitan kita sebagai suatu anugrah yang membuat kita semakin belajar untuk merasakan bahwa kita membutuhkan Yesus di dalam kehidupan ini. Yes, sikap ini akan ditunjukkan melalui kehidupan kita yang berubah. Kehidupan yang senantiasa mengucap syukur, karena kita tahu bahwa segala hal yang Tuhan persiapkan di dalam kehidupan kita tujuannya adalah rancangan damai sejahtera.

Closing
Hidup di dalam anugrah bukanlah hidup yang tanpa hambatan ataupun tantangan. Justru hidup dalam anugrah memampukan kita untuk melalui setiap pergumulan, hambatan dan tantangan itu dengan mata menatap kepada pengharapan yang tidak pernah mengecewakan. Pengharapan yang memampukan kita untuk melihat pribadi Allah, yang mana memampukan kita untuk menyatakan:

GOD IS GOOD ALL THE TIME, ALL THE TIME GOD IS GOOD

Apakah kita mau belajar merayakan anugrah itu? Mari belajar membagikan hidup penuh anugrah ini kepada orang lain.

Soli Deo Gloria!

Friday, July 1, 2016

Saya Adalah Thomas si Peragu! - Terjemahan dari Artikel Michael Licona, Ph.D



Salah satu ciri khas yang aku miliki adalah bahwasanya aku merupakan seseorang yang terus menerus memiliki pertanyaan dalam hidup. Rasanya aku memiliki pertanyaan-pertanyaan mengenai apapun. Aku tidak mau membuat sebuah keputusan yang salah, bahkan di dalam hal-hal yang remeh temeh sekalipun. Jadi sangatlah wajar jika aku memiliki berbagai pertanyaan dan keraguan yang mendalam di dalam hal-hal yang penting. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang aku sengaja, bahkan terkadang membuat aku frustasi. Tetapi begitulah aku apa adanya.

Hal ini menyebabkan aku acap kali meragukan iman Kristianiku; terkadang bahkan aku hampir meninggalkan iman Kristen. Aku bertanya kepada diriku sendiri, “Apakah aku sedang dicuci otak? Apakah aku tidak dapat berpikir secara objektif karena aku diajarkan untuk percaya? Bagaimana kalau ternyata aku salah?” Aku memiliki damai sejahtera yang dijelaskan oleh Paulus sebagai sebuah penjelasan mengenai Roh Allah yang berarti aku adalah milik Kristus (Roma 8:16); setidaknya untuk sementara waktu. Tetapi orang-orang Mormon juga memiliki klaim bahwa mereka memiliki kedamaian dari Allah, begitupula pengikut agama-agama lain. Tentu saja keseluruhan klaim itu tidak mungkin benar seluruhnya jika Kekristenan benar, karena banyak agama lain berkontradiksi terhadap kepercayaan mereka sendiri. Jadi bagaimana aku dapat mengenali bahwa kedamaian yang aku miliki adalah berasal dari Allah? Itu adalah sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Dan sejujurnya, aku masih belum mengetahui jawabannya

Tetapi ketika aku mengalami keraguan di tahun 1980-an, seorang profesor filsafat mengerti seperti apa kondisiku karena dia juga memiliki kecenderungan untuk bergumul dengan keraguan-keraguan. Aku tidak diajar oleh Gary Habermas, karena dia mengajar di departemen filsafat, dan aku ditempatkan di Pelajaran Perjanjian Baru. Tetapi Habermas membantu aku untuk mengerti keraguanku dan bagaimana aku dapat meyakininya. Dalam tulisan berikut ini, aku mencoba untuk menggabungkan pemikiran Habermas dengan pemikiranku. Aku memiliki kabar baik bagi anda yang bergumul dengan berbagai keraguan dalam hidup anda: Anda dapat menghadapinya dengan melakukan empat hal berikut:

Tindakan #1: Pahamilah bahwa keraguan adalah sesuatu yang wajar. Abraham bertemu dengan Allah yang memberitahukan dia bahwa dia akan memiliki keturunan yang mana darinya akan lahir bangsa yang besar. Namun ketika nyawa Abraham berada di dalam bahaya, dia berbohong untuk menyelamatkan dirinya sendiri, sekalipun dia menyadari bahwa janji Tuhan kepadanya mengenai anak tersebut belum dipenuhi (Kejadian 12). Seseorang bisa berpikir bahwa dia seharusnya percaya kepada Allah untuk menyelamatkan dia. Namun kenyataannya dia berbohong, dan Tuhan campur tangan untuk menyelamatkan istrinya Sarah kepadanya, yang dibawa karena kebohongannya. Kemudian kita meloncat ke 8 pasal berikutnya. Abraham dihadapkan pada situasi yang serupa. Namun kali ini dia tahu dia dapat mempercayai Allah untuk dapat melindunginya tanpa dia harus berbohong. Emm, tetapi ternyata tidak begitu. Abraham sekali lagi meragukan janji Allah dan mengulang kesalahannya. Dia berbohong kepada Firaun yang menjadikan Sarah sebagai gundiknya, dan sekali lagi Allah harus campur tangan.

Sekalipun kita melihat kisah hidupnya, Abraham tercatat dalam daftar orang-orang yang memiliki teladan iman dan dicatat dalam hall of fame mengenai iman (Ibrani 11). Faktanya apabila kita mencari Most Valuable Player (MVP) dalam daftar tersebut, itulah Abraham.
Yohanes Pembaptis adalah sepupu Yesus. Keduanya lahir dalam karya mujizat Allah. Yohanes kemudian akan membaptis Yesus, melihat Roh Kudus turun atas Dia, dan mendengarkan suara dari sorga yang mendeklarasikan ke-Allah-an-Nya. Yohanes kemudian dipenjara, dan terkadang saat dia dipenjara, dia mengirimkan murid-muridnya untuk mencari tahu apakah Yesus benar-benar Mesias atau mereka harus menunggu orang lain. Bagaimana mungkin Yohanes menanyakan hal tersebut, setelah dia mendengar sendiri keajaiban dari kelahirannya dan kelahiran Yesus; dan mengalami sendiri mujizat pembaptisan Yesus? Perasaan Yohanes manakala dia dipenjara membawa dia kepada keraguan emosional. Dia telah mengetahui buktinya. Tetapi kehidupan tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Faktanya, hidupnya begitu tidak nyaman saat itu. Yesus mengetahui hal tersebut. Dia meminta murid-murid Yohanes untuk kembali kepada Yohanes dan memberitakan mujizat yang Yesus lakukan, mujizat yang merupakan tanda dari kehadiran Mesias (lihat Dead Sea Scroll 4Q521, Yesaya 51:1-2; Lukas 4:16-21). Setelah murid-murid meninggalkan dia, Yesus mengalihkan perhatiannya pada orang banyak di sekitarnya. Semua mata tertuju pada-Nya. Apa yang Yesus katakan kepada mereka yang mana baru saja menyadari bahwa “orang dalam-Nya” mengalami keraguan dalam hidupnya?

Setelah murid-murid Yohanes pergi, mulailah Yesus berbicara kepada orang banyak itu tentang Yohanes: "Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian halus itu tempatnya di istana raja. Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi. Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.
(Mat 11:7-11)

Perhatikan bahwa Yesus tidak menyalahkan Yohanes karena dia ragu-ragu. Sebaliknya, Ia menyediakan bukti, menguatkan dia, dan memuji dia, berkata bahwa tidak ada yang lebih besar daripada Yohanes. Menariknya bahwa Ia mengatakan ini manakala Ia sadar betul Yohanes sedang bergumul dalam keraguannya.

Melihat contoh Abraham dan Yohanes  yang mana mereka dapat jatuh dalam keraguan mereka saat menikmati berkat Tuhan, Allah mengenal bagaimana kehidupan kita dan Ia adalah pribadi yang Maha Pengasih. Banyak orang Kristen tidak pernah mengalami keraguan. Namun bagi mereka yang pernah, ada sukacita bahwa ternyata kita memiliki rekan-rekan yang senasib dengan kita layaknya Abraham dan Yohanes Pembaptis. Orang-orang yang ragu atas iman mereka bukanlah warga kelas dua dalam kerajaan Allah.

“Tunggu sebentar, hal itu mungkin dapat berhasil bagi orang-orang yang mendengar dari Allah secara langsung dan melihat mujizat yang dilakukan Yesus. Tetapi sepertinya hal tersebut tidak akan banyak mengubahkan aku, karena aku tidak pernah melihat mujizat yang Ia kerjakan.” Aku memahami hal tersebut. Semua yang aku tuliskan hingga poin ini barulah langkah awal untuk menghadapi keraguan hidup: bahwa keraguan itu merupakan suatu hal yang wajar.

Tindakan #2: Ingatlah bahwa ada pembuktian yang komprehensif di yang mendasari kebenaran Kekristenan. Sekalipun kita tidak dapat masuk ke dalam mesin waktu, kembali ke masa lalu dan menyaksikan mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus, kita memiliki bukti historis yang begitu kuat mengenai mujizat terbesar yang pernah terjadi: KebangkitanNya. Gary Habermas memiliki pengetahuan yang begitu komprehensif dibandingkan orang lain. Seseorang dapat berkata, “diantara wanita-wanita yang pernah lahir, tidak pernah ada orang lain yang memiliki pengetahuan yang lebih lengkap mengenai kebangkitan Yesus dibandingkan dengan Gary Habermas”

Apabila Yesus bangkit dari kematian, Kekristenan pasti benar. “Namun,” anda dapat berpikir, “kebangkitanNya dicatat di dalam alkitab. Bagaimana saya dapat mengetahui bahwa alkitab itu sesuatu yang benar? Apakah aku harus menerima kenyataan itu hanya berdasarkan iman?” Selama pertemuan pertama dengan Profesor Habermas untuk berdiskusi mengenai keraguan saya, ia memberikan penjelasan singkat mengenai kebangkitan Yesus secara historis. Aku begitu tenang saat mengetahui bahwa ada bukti yang begitu nyata. Tetapi sejujurnya, penjelasan itu bukan berarti akhirnya aku tidak mempertanyakan bukti itu kembali. Bukti-bukti itu tidak 100% membuat saya yakin. Hal ini sama sekali tidak mengganggu Habermas. Ilmu pengetahuan pun juga tidak dapat menyediakan bukti yang begitu meyakinkan mengenai hal-hal yang mereka selidiki. Investigasi ilmiah dan historis tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap iman kita. Kita perlu melihat penjelasan terbaik dari data yang sudah ada dan mengambil satu titik yang cukup untuk kita dapat mempercayai suatu hal, sama seperti ketika kita akan mengambil keputusan-keputusan dalam kehidupan kita. Sisanya adalah iman dan hal ini berlaku bagi wawasan dunia apapun, apakah anda orang Kristen, Yahudi, Muslim, Hindu, Buddha, atau ateis. Namun keangkitan Yesus dapat dikatakan begitu unik jika melihat bukti yang begitu kuat untuk meyakinkan kita.

Tindakan #3: Ingatlah bahwa kepastian yang absolut adalah suatu ekspektasi yang tidak masuk akal. Beberapa orang hidup di dalam iman tanpa pernah merasakan keraguan. Ya, itu hal yang bagus. Tetapi beberapa dari kita suka menghubungkan segala sesuatunya dan kita tidak dapat merasakan damai sejahtera seperti itu. Beberapa tahun yang lalu, aku mendapatkan sebuah momen yang merupakan momen perubahan hidup. Aku menyadari bahwa imanku hanyalah salah satu hal yang aku pertanyakan dalam hidupku. Aku menyadari bahwa aku telah menyesali berbagai keputusan yang aku ambil jauuuuuhhhh setelah aku membuat keputusan tersebut. Ini adalah sebuah keunikan yang aku miliki sejak dalam masa kecilku dan aku membenci keunikan itu. Kita tidak hanya berbicara mengenai keputusan-keputusan yang pentingm seperti pemilihan pasangan hidup. Terkadang aku melihat diriku dan terus menimbang, menimbang, dan menimbang hal-hal yang sekiranya tidak esensial, seperti barang-barang yang aku akan beli: jam tangan, mobil, parfum… Kesadaran inilah yang membantu aku mengerti mengapa aku mengalami keraguan: yakni sikap menghubung-hubungkan dan kekuatiranku terhadap sesuatu. Bagiku, kepastian yang absolut adalah suatu ekspektasi yang tidak masuk akal. Jadi aku belajar untuk hidup dalam damai sejahtera dengan kepastian yang masuk akal.

Tindakan #4: Sadarilah bahwa iman lebih dari sebuah perasaan atau keadaan tanpa keraguan. Iman adalah sebuah komitmen. Seseorang datang kepada Yesus dan meminta Dia untuk menyembuhkan anaknya yang kerasukan. Dia memiliki iman di dalam Yesus (intinya, ia datang kepada Yesus untuk meminta tolong) tetapi ia meminta Yesus untuk membantu dia mengatasi ketidakpercayaannya. (Markus 9:24). Dia bergantung pada Yesus untuk menyembuhkan putranya, sekalipun imannya sama sekali tidak sempurna. Petrus berjalan di atas air dan mulai tenggelam ketika ia menjadi takut karena badai dan akhirnya ia mengalami keraguan (Matius 14:28-31). Namun Petruslah yang berada di luar, yang berani untuk keluar manakala murid-murid yang lain melihat dari dalam perahu. Bagi pengikut Kristus, iman adalah mempercayakan dirinya hanya kepada Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat. Tidak ada gunanya ketika kita mendua hati dengan menjadi seorang Kristen sembari menjadi seorang Muslim atau Hindu. Menjadi pengikut Kristus berarti bahwa ketika aku berhhadapan dengan keputusan-keputusan moral di dalam kehidupan kita, aku memilih jalan yang sudah diajarkan oleh Yesus. Aku tahu bahwa aku dapat mengambil jalur lain kalau Kristus tidak bangkit. Tetapi aku memilih untuk taat kepada Yesus karena aku percaya kepadaNya. Aku mungkin masih memiliki beberapa keraguan yang mengganggu hidupku. Tetapi iman membuatku menang dan menentukan tindakan-tindakan yang aku ambil. Seperti yang dikatakan oleh saudara Yesus, "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." (Yakobus 2:18b)

Sebagai kesimpulan, ada empat tindakan yang dapat kita lakukan ketika berhadapan dengan keraguan:
Tindakan #1: Pahamilah bahwa keraguan adalah sesuatu yang wajar.
Tindakan #2: Ingatlah bahwa ada pembuktian yang komprehensif di yang mendasari kebenaran Kekristenan
Tindakan #3: Ingatlah bahwa kepastian yang absolut adalah suatu ekspektasi yang tidak masuk akal.
Tindakan #4: Sadarilah bahwa iman lebih dari sebuah perasaan atau keadaan tanpa keraguan. Iman adalah sebuah komitmen

Tuesday, May 10, 2016

Menjalani Hidup Offroad BersamaNya


Kehidupan itu terus bergulir, dan selalu ada titik dimana seharusnya setiap kita menyadari bagaimana penyertaan Allah di dalam kehidupan kita. Kali ini aku mencoba melihat dari sebuah sisi yang agak berbeda karena memang tanggal 6 Mei kemarin, aku berkesempatan untuk mengikuti sebuah sesi OFF ROAD yang diselenggarakan di Cikole.

Menarik kalau kita maknai off road ini di dalam korelasinya mengenai kehidupan kita. Kita harus sepakat dulu bahwa di dalam pembelajaran sekecil apapun, apapun peristiwanya, ada penyertaan Tuhan dan ada pembelajaran yang dapat kita ambil. Bahkan dari percakapan sesederhana apapun, kalau kita maknai dengan benar akan menjadi sebuah pembelajaran yang begitu indah.

Di dalam Off Road ini, kami serombongan berangkat ber 23 orang dengan menggunakan 4 buah mobil Land Rover. Mobil yang dikenal sebagai mobil yang begitu kuat, yang memang memiliki identitas sebagai mobil off roader.

Apa saja sih pembelajaran yang didapatkan dari Off Road ini?
1.      Ketahuilah Identitas dan Panggilanmu
Percakapan dengan seorang anak kecil peserta off road ini, ada yang menanyakan: “Apakah semua mobil bisa melewati jalur off road ini?” dengan polos anak ini menjawab “Ngga bisa om, harus mobil 4 x 4 (double gardan)”. Hanya mobil 4 x 4, dan kita perlu menyadari bahwa hidup kita yang diciptakan Tuhan jauh lebih canggih, jauh lebih spesial dan jauh lebih indah dibandingkan dengan mobil 4 x 4. Syaratnya adalah kita perlu tahu panggilan kita, kehendak Roh Kudus atas kehidupan kita. Kita perlu merenungkan bagaimana tujuan hidup kita di hadapan Sang Khalik sehingga kita dapat memanfaatkan setiap talenta, setiap kemampuan yang Allah anugrahkan dalam kehidupan kita.

Saya membayangkan ketika melewati jalur off road itu dengan menggunakan city car, tentu saja mobil tersebut akan rusak. Ataupun ketika mobil Land Rover itu sama sekali tidak digunakan di dalam medan yang ekstrim, maka kita melihat bahwa suatu benda tidak mencapai potensi maksimalnya. Ketika kita belajar mengenal Allah, kita akan semakin bertumbuh, mengetahui tujuan hidup kita sehingga keseluruhan kehidupan kita adalah untuk kemuliaanNya

2.      Hidup itu Naik Turun
Perjalanan off road ini dimulai dengan sebuah medan yang cukup bersahabat, melewati jalan dengan batu-batu kecil tetapi cenderung datar. Kemudian dilanjutkan dengan sebuah medan yang naik, dan penuh tantangan. Sesampainya di puncak, kami menikmati pemandangan dari atas gunung Putri, dan kemudian dilanjutkan dengan perjalanan Downhill yang jauh lebih extrim

Hidup tidak pernah datar, dan di dalam kehidupan ini selalu ada sebuah fase dimana kita mempersiapkan segala hal yang harus kita persiapkan. Sekalipun persiapan itu sudah begitu matang, tetapi ada kalanya bahwa tetap saja hal yang kita harapkan tidak sesuai dengan rencana yang kita kerjakan. Ada satu momen dimana kita mengalami rintangan dan mara bahaya. Ada satu momen dimana kita kembali merenungkan betapa indahnya kasih Tuhan atas kehidupan kita. Ada satu momen pula ada begitu banyak hal yang membuat kita lelah dan kita bersyukur bahwa di dalam setiap momen itu, semuanya telah diatur sedemikian rupa oleh Allah.

3.       Never Leave Your Partner
Ada satu momen di dalam off road dimana mobil yang kami naiki ternyata terjebak dalam lumpur yang cukup dalam, sehingga membuat kami tidak dapat melanjutkan perjalanan kami sementara. Saat itulah mobil lain membantu, dan karena saling membantu inilah akhirnya setiap kami sampai di tujuan dengan selamat

Ada orang-orang yang Tuhan sediakan di dalam kehidupan kita untuk dapat saling menolong satu dengan yang lain. Ada kalanya juga kita menjadi seseorang yang harus peduli kepada orang lain untuk kita dapat mencapai sebuah tujuan yang jelas dan sama. Itulah yang dikatakan oleh Paulus bahwa setiap kita punya peran, dengan segenap talenta yang kita miliki yang berasal dari Allah. Setiap kita punya peran yang berbeda-beda, tetapi uniknya bahwa semuanya ada untuk kemuliaanNya.

4.      Beautiful Summit
Pemandangan di puncak Gunung Putri itu begitu indah, membuat kita menyadari bahwa kita ini begitu kecil dibandingkan dengan kebesaran ciptaan Allah. Sekalipun kami menyadari hal ini, seringkali hal yang kami kerjakan begitu berbeda dengan hal yang kita yakini.

Seluruh langit dan bumi diciptakan untuk kemuliaan Allah. Begitu pula manusia di dalam keberadaannya yang unik, yang memiliki tanggung jawab. Puncak merupakan suatu kondisi yang begitu nyaman, dimana kita benar-benar dapat menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan. Hal sama yang dirasakan oleh Petrus, Yakobus dan Yohanes ketika peristiwa transfigurasi. Tetapi pengalaman di puncak itu seharusnya mengingatkan kita bahwa kita punya tugas untuk kembali turun, melaksanakan tugas dan tanggung jawab kita sebagai umat pilihan Allah yang memiliki tanggung jawab khusus untuk memuliakan Tuhan.

Setidaknya itulah 4 hal yang dapat dipelajari melalui catatan perjalanan selama 3 hari 2 malam berada di Cikole. Aku merasa begitu diberkati melalui perenungan pribadi ini, yang membuatku mengingat kembali tugas dan tanggung jawabku untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Dia sepanjang waktu.

Soli Deo Gloria

Saturday, March 5, 2016

Menggombali Allah

“Tuhan, aku mau menyerahkan hidupku sepenuhnya untuk-Mu”

Seringkah kita mendengarkan kalimat ini? Biasanya ini adalah kalimat saat kita ikut KKR ataupun kita ingin mengerjakan sesuatu yang jauh lebih susah dari apa yang kita lakukan sebelumnya. Kita menjadi pribadi yang sangat sentimental. Kita menjadi seseorang yang begitu suka untuk “merayu” Allah. Kita menjadi pribadi yang begitu senang untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang “gombal” kepada Allah.

Mengapa dikatakan gombal? Sebelumnya kita perlu melihat kembali kepada tingkah laku kehidupan kita. Ketika kita mengatakan bahwa kita ingin menyerahkan hidup kita sepenuhnya bagi Tuhan, apakah itu sesuatu basa-basi agar kita terlihat rohani, ataukah kita benar-benar mengatakan itu dari lubuk hati yang terdalam?

Segalanya adalah Bagi KemuliaanNya
Kekristenan tidak dapat dihidupi hanya dengan gombalan-gombalan kita kepada Allah. Apa makna dari “menyerahkan hidup” kita sepenuhnya kepada Allah? Paulus menuliskan kepada jemaat di Roma, makna dari menyerahkan hidup adalah sebagai berikut:

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12:1)

Kalimat ini begitu mantap. Tulisan Paulus ini menunjukkan bagaimana sikap hidup kita di dalam kita menyerahkan diri kita kepada Allah. Disini dituliskan untuk kita dapat mempersembahkan tubuhmu. Makna persembahan adalah dimana kita sama sekali tidak punya hak atas sesuatu barang ataupun hal yang kita persembahkan. Artinya ketika kita mempersembahkan sesuatu (misalkan uang) kepada gereja maka kita tidak punya hak lagi atas uang tersebut. Nah sama seperti analogi tersebut, mempersembahkan tubuh kepada Tuhan berarti kita sama sekali tidak memiliki kendali atau hak atas kehidupan kita.

Kemudian Paulus menuliskan selanjutnya adalah persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Persembahan yang hidup menunjukkan bahwa di dalam kita menyerahkan diri kita kepada Tuhan untuk Tuhan pakai, kita dituntut untuk menjadi sesuatu yang hidup. Ciri-ciri kehidupan adalah adanya pertumbuhan, dan kemudian setelah bertumbuh besar akan menghasilkan buah. Ciri khas dari seseorang yang menyerahkan dirinya kepada Tuhan adalah adanya pertumbuhan di dalam iman kepada Dia sehingga dapat menghasilkan buah pelayanan yang dapat dinikmati oleh banyak orang.

Yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, merujuk kepada sebuah sikap hidup yang harus menjadi ciri khas kita sebagai seorang Kristen. Kekudusan merupakan salah satu ciri utama orang Kristen. Kekudusan bukanlah suatu hal yang harus dikejar, namun merupakan sesuatu yang telah nyata manakala seseorang benar-benar menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Mengapa Paulus sampai menuliskan hal ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena di ayat sebelumnya yakni 11:36 mengatakan demikian

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36)
Bebas dari Rasa Kuatir

Menyerahkan segala sesuatu itu juga termasuk kekuatiran hidup kita. Seringkali kita mendengarkan kotbah mengenai kekuatiran dan bagaimana kita seharusnya tidak kuatir akan apapun juga. Memang benar bahwa seharusnya seorang Kristen jauh dari rasa kuatir. Hal itu dialami oleh karena Tuhan Yesus memberikan sebuah janji berikut:

Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? (Matius 6:26)

Artinya dari ayat ini adalah bahwasanya kita tidak perlu kuatir akan apapun juga yang akan kita hadapi. Kehidupan kita seharusnya bebas dari kekuatiran karena kuasa kebangkitan Allah menghancurkan segala hal yang membuat kita kuatir.

“Benar sih kak, aku sebenarnya nggak kuatir, toh aku sudah menyerahkan semuanya kepada Tuhan”

Benarkah ketika kita mengatakan kalimat di atas maka kita akan menyerahkan semuanya kepada Tuhan? Yakinkah bahwa segala problematika yang kita hadapi mau kita serahkan kepada Tuhan? Seringkali dengan cepat kita menjawab “MAU” tetapi pada realitasnya begitu berbeda. Apa yang kita lakukan sama sekali berbeda dengan apa yang kita ucapkan. Kita terus menerus menjalani hidup ini seakan tidak ada Allah.

Kita masih saja pusing terhadap hal remeh temeh yang seharusnya tidak perlu kita pikirkan. Kita justru memfokuskan pemikiran kita, energy kita kepada sesuatu yang sama sekali meaningless. Kita lupa bahwa fokus hidup kita adalah untuk kemuliaan Allah, namun justru hal-hal yang remeh itulah yang menjadi fokus hidup kita seolah Allah tidak ada!

Kebebasan kita dari kekuatiran adalah salah satu ciri dari seseorang yang mau menyerahkan segalanya. Penyerahan diri akan menghasilkan hidup yang menjadi berkat sekaligus tanpa sebuah beban. Kita bisa dengan bebas dan menikmati anugrah Tuhan, dan itulah yang Tuhan mau kita kerjakan.

Kesimpulan: Allah Yang Memegang Kendali
Kehidupan yang memuliakan Allah adalah kehidupan yang diserahkan kepada Allah. Hal itu meliputi segala aspek hidup: pekerjaan, pelayanan, pasangan hidup, dan sebagainya. Semua aspek hidup kita mau kita persembahkan kepada Raja di atas segala raja. Ketika kita menyerahkan hidup kita kepadaNya, damai sejahtera Kristus akan menaungi hidup kita sehingga kita dapat hidup dengan tenang dan tanpa rasa kuatir akan hari esok. Kesemuanya itu karena kita menyadari bahwa Allah yang memegang kendali.

Kalau kita kemudian kehilangan iman, cukup ingat bahwa manakala kita hidup sampai kita membaca tulisan ini, Allah telah menyertai perjalanan hidup kita. Kalau sedari lahir hingga saat ini Allah menyertai kita, bukankah penyertaan itu akan selalu ada sampai selama-lamanya, sampai saatnya kita bertemu muka dengan muka dengan Dia?


Soli Deo Gloria