Total Pageviews

Showing posts with label God. Show all posts
Showing posts with label God. Show all posts

Monday, October 23, 2017

Bersukacitalah Senantiasa

Seseorang berkata kepadaku: “Pura-pura bahagia juga butuh tenaga”. Well said! Dan memang itulah yang terjadi di dalam hidup yang penuh dengan kepalsuan atau pura-pura. Kita sadar, yakin dan percaya bahwa menjadi seseorang yang otentik adalah suatu hal yang membuat kita lega. Kepura-puraan hanya akan membuat kita menjadi pribadi yang lelah dalam menghadapi kehidupan ini, termasuk pura-pura bahagia.

Inilah yang menjadi permasalahan di sekitar kita saat ini. Begitu banyak orang yang menikmati pura-pura bahagia ini. Lupa bahwa butuh energi, butuh memiliki dua kepribadian, dan hidup di dalam kebohongan.

Satu-Satunya Alasan
Apa yang membuat kita dapat bersukacita di dalam hidup ini? Orang dunia menyebut bahwa hal yang membuat kita bersukacita ini bisa disimpulkan sebagai 5P yakni Power, Position, Prestige, Pleasure, dan Prosperity. Ada 1 tambahan mungkin buat temen-temen yang masih jomblo à partner (in life). Jadi pada prinsipnya ada begitu banyak hal di dunia ini yang kita kejar.

Pertanyaannya kalau hidup kita bersukacita hanya karena hal-hal tersebut, kita akan begitu banyak kehilangan sukacita kita. 5P (atau bahkan 6P) seperti yang disebutkan di atas begitu terbatas dan memang sesuatu yang begitu fana. Bahkan yang keenam, suatu saat akan hilang (tentu bukan dicuri, tapi pasangan hidup kita pada akhirnya juga akan tiada bukan?)

Ada hal lain berarti diluar 6P ini yang seharusnya memiliki nilai yang kekal, yang tidak hanya sementara. Apakah itu?

Harta yang Terpendam dan Mutiara yang Berharga
Sangat jelas dalam benak kita kalau hal yang paling berharga di dunia ini adalah sesuatu yang nilainya kekal. Hal ini pula yang disampaikan oleh Yesus mengenai perumpamaan tentang harta yang terpendam dan mutiara yang berharga (Mat 13:44-46).

Sebentar, itu kan buat nanti? Bukankah sorga itu sesuatu yang belum kita alami? Bagaimana mungkin kita bisa bersukacita?

Kerajaan sorga bukanlah sesuatu yang terjadi in the future. Kerajaan sorga adalah sesuatu yang riil manakala seseorang mengaku bahwa Yesus adalah satu-satunya juruselamatnya. Melalui anugrah inilah kita dapat memahami bahwa hal kerajaan sorga itu sesuatu yang riil terjadi dalam hidup kita. Ada perubahan pola pikir – yang mana Paulus tuliskan dalam 2 Korintus 5:17

Jadi perubahan pola pikir inilah yang dapat membuat kita bersukacita. Paulus pun menuliskan di dalam suratnya kepada jemaat Filipi dalam Flp 3:1-11 mengenai bagaimana ia memahami iman kepada Kristus sebagai satu-satunya yang paling berharga di dalam hidupnya. Bahwasanya segala hal lain yang dianggapnya merupakan suatu kebanggaan di masa lampaunya bahkan menjadi penghalang bagi dia untuk mengenal Kristus – karena di dalam berbagai kebanggaannya itu matanya akan menjadi sulit tertuju kepadaNya.

Siapa Tuan Kita?
Sikap hidup kita akan mencerminkan kepada siapa kita menyembah. Ketika sedikit-sedikit kita masih menginginkan harta, sadar atau tidak kita sedang menyembah harta. Ketika kita masih sering berpikir tentang tahta kita, kemungkinan besar fokus hidup kita adalah tahta dan kekuasaan.

Ada begitu banyak hal yang akan menghalangi pandangan kita satu-satunya kepada Kristus. Bukan berarti bahwa kita tidak boleh memiliki berbagai hal itu, tetapi yang harus dipahami adalah bukan itu hal-hal terutama yang menentukan sukacita kita. Pemahaman ini akan membuat kita memiliki cara pandang hidup yang baru.

Konsep kekristenan dalam memandang 6P tadi adalah bahwa segalanya adalah titipan yang bisa diambil kapanpun oleh Tuhan. Umur panjang, uang yang banyak, istri yang cantik, harta berlimpah, itu semua semata-mata adalah anugrah yang Tuhan percayakan dalam hidup kita. Kesadaran akan hal tersebut akan membuat kita menjadi pribadi yang dapat senantiasa bersukacita dalam Tuhan, apapun kondisinya.

Percaya Penuh pada RencanaNya
Rencana Tuhan adalah rencana penuh sukacita dan damai sejahtera. Tapi kok kita sering nggak merasakannya yah? Bukankah realitas hidup ini ternyata membuat kita tidak damai? Begitu banyak kekacauan dan kehilangan yang kita alami yang membuat kita kehilangan sukacita kita.

Ketika kita belajar memandang kepada Kristus, bukan berarti sukacita itu akan senantiasa ada. Tetap kita akan merasakan kehilangan ketika kita kehilangan. Bedanya terletak pada bagaimana kita menyikapi setiap kehilangan itu. Percayalah bahwa kehilangan adalah salah satu cara Tuhan untuk kita dapat mengenal Dia lebih dalam lagi.

Ada begitu banyak hal yang akan menghalangi pandangan kita kepada Kristus. Apakah itu ambisi kita, uang kita, bahkan pasangan hidup kita. Kalau kita tidak belajar untuk fokus dan belajar melepas, maka halangan itu akan terus ada. Mari kita belajar memfokuskan pandangan kita kepada Kristus – dengan cara menyadari bahwa segala sesuatu yang Tuhan berikan dalam hidup ini senantiasa bukanlah sumber sukacita utama kita. Biarlah keselamatan yang Tuhan berikan merupakan satu-satunya hal yang memuaskan hidup kita dan memampukan kita untuk benar-benar bahagia, untuk menikmati sukacita yang Ia sediakan.

Jadi janganlah kita hanya pura-pura bahagia dalam hidup ini, tetapi jadilah pribadi yang benar-benar bahagia – semata-mata karena sudah menerima anugrah keselamatan yang Tuhan sediakan.

Soli Deo Gloria.

Monday, October 24, 2016

Menjadi Agen Kasih Karunia



1Yoh 1:9
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. 

Kehidupan manusia tidak ada yang luput dari apa yang disebut sebagai dosa. Kita melihat realitas bahwa dosa merupakan sesuatu yang riil, dan tidak dapat dihindari oleh siapapun. Hal ini terjadi begitu alami.

Belajar Mengaku
Ada sebuah kisah di dalam alkitab mengenai bagaimana seseorang harus bersikap di dalam dosanya. Daud pernah merasakan bagaimana ia menyadari apa yang dilakukannya terhadap Uria adalah sesuatu yang begitu jahat (2 Samuel 11) sampai ia menuliskan Mzm 51 untuk melihat betapa busuknya dia di hadapan Allah. Sikap penuh kesadaran ini merupakan sikap yang seharusnya kita miliki sebagai orang percaya.

Sikap lain adalah kita memandang dosa sebagai sesuatu yang biasa kita lakukan. Malah bisa jadi ada orang-orang yang begitu bangga atas dosa-dosa yang mereka lakukan. Saking bangganya mereka menjadi seseorang yang kebal.

Apa yang harus kita akui manakala kita berdosa? Kesadaran bahwa kita berdosa adalah sebuah sinyal yang sudah diberikan Roh Kudus di dalam hidup kita. Karena itu bersyukurlah manakala kita masih merasa bahwa kita ini masih hidup dalam dosa, berarti kita menyadari bahwa kita masih membutuhkan pertolongan Allah di dalam kehidupan kita.

Setia dan Adil
Apa yang dimaksud setia di dalam ayat ini? Mengapa disebutkan setia dan adil? Kesetiaan Allah ialah kesetiaan yang tidak bersyarat. Maksudnya bahwa mau sebejat apapun hidup kita, Ia tetap membukakan kesempatan kita untuk mau datang di hadapan-Nya. Hal ini ditunjukkan di dalam kisah alkitab baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Mari kita melihat di dalam kisah Kain dan Habel, dimana Kain akhirnya membunuh adiknya Habel. Apa yang Allah sampaikan kepada Kain? Bahwa ada penyertaan Tuhan sepanjang hidupnya, bahkan masih dikasih tanah oleh Allah. Kemudian kalau kita membaca kisah dari Yakub, seorang penipu, yang mana Allah akhirnya mengubahkan namanya menjadi Israel. Bagaimana dengan kisah hidup Daud si pezinah, Elia yang hidupnya begitu lonely, Musa dengan berbagai aksi protesnya, Yeremia dengan kisah kenabian yang penuh air mata, ternyata semuanya tetap berada di dalam lindungan kasih setia Allah.

Keadilan juga adalah sifat Allah, dan di dalam konteks ayat ini, kita perlu memahami bahwa tidak ada yang disebut sebagai hukuman Allah. Penghukuman atas setiap dosa kita telah ditebus melalui darah Yesus, tetapi selalu ada konsekuensi yang berjalan di dalam setiap dosa yang kita kerjakan. Jadi jangan pernah menyalahkan Allah atau meyakini bahwa setiap hal yang terjadi yang buruk dalam kehidupan kita merupakan hukuman atau ganjaran Allah.

Kesetiaan dan keadilan merupakan sifat Allah yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.

Mengampuni Dosa
Kedatangan Yesus ke dunia merupakan suatu tanda begitu besarnya kasih Allah terhadap dunia ini. Salib menjadi bukti bahwa ada pengampunan dan penerimaan Allah atas kehidupan kita yang penuh dengan dosa. Pengampunan ini merupakan rencana besar Allah, dan tidak ada hal yang lebih kita butuhkan di dunia ini dibandingkan dengan pengampunan dosa itu.

Apa yang harus kita kerjakan? Cukup datang kepada Dia dengan ungkapan bahwa kita membutuhkan kasih karunia. Bagaimana kita bisa datang kepada-Nya? Dengan menyadari dan mengakui bahwa kita adalah pribadi yang penuh dengan dosa. Kita datang bukan dengan kesucian kita. Kita datang bukan dengan kebisaan kita. Kita datang dengan hati yang hancur yang mau hidup kita dibarui oleh kasih karunia.

Move On dari Dosa
Apa arti move on? Move on berarti kita berhasil untuk melepaskan diri sepenuhnya dari sebuah kenangan. Bukan hanya mantan yang harus kita move on, bahkan dari dosa tertentu pun kita juga harus belajar untuk move on.

Bagaimana kita bisa move on dari dosa? Kita perlu belajar untuk menghentikan koneksi kita terhadap dosa. Bahkan terkadang ada hal-hal ekstrim yang perlu kita lakukan manakala kita mau berhenti dari kebiasaan buruk.

Contoh kalau kita ingin move on dari mantan kita, kita akan menghancurkan segala hal yang indah dari kenangan-kenangan kita. Kita berusaha berdamai dengan masa lalu kita. Kita mengakui bahwa kita memiliki masa lalu dengannya, tetapi kita perlu memaknai bahwa masa lalu itu bukanlah sesuatu yang harus disesali. Masa lalu itu cukup dipandang sebagai sebuah proses hidup dan pendewasaan iman kita.

Move on dari dosa, tetapi jangan pernah move on dari kasih karunia Allah. Seberapa hancur hidup kita, Allah ingin kita belajar untuk mengakui dosa kita, dan kita belajar untuk berdamai dengan masa lalu kita. Tidak ada dosa yang terlalu besar yang tidak dapat dihancurkan oleh kasih karunia Allah. Allah pun tidak pernah mengingat lagi setiap dosa kita. Allah tidak menghantui hidup kita dengan masa lalu yang penuh kekuatiran. Ia menyediakan masa depan yang penuh dengan damai sejahtera.

Menyucikan dari Segala Kejahatan
Roh Kudus yang bekerja melalui hidup kita senantiasa akan memberikan sebuah perasaan cemas di dalam kita melakukan dosa kita. Pencobaan merupakan suatu hal yang biasa, demikian yang dikatakan Paulus di dalam 1 Korintus 10:13. Hal itu menyiratkan bahwa tidak ada pencobaan dimana kita tidak dapat atasi di dalam kasih karunia Allah di dalam hidup kita.

Apa artinya suci? Perumpamaan penyucian yang dilakukan Yesus adalah seperti ini, bayangkan ada sebuah kertas putih yang baru. Kertas itu menandakan kehidupan kita. Kemudian ada noda hitam dari pensil yang cukup tebal. Coretan tersebut kemudian kita hapus dengan penghapus, tetapi masih saja ada bekasnya. Kita coba lagi tetapi tetap saja noda tersebut tidak dapat hilang sepenuhnya.

Demikian pula kehidupan kita. Seberapa kita berusaha menghapus noda dosa kita, tidak akan ada gunanya. Tetapi manakala Kristus mulai bekerja di dalam kehidupan kita, kita kembali disucikan. Kita menjadi selembar kertas baru yang siap digunakan Allah untuk menuliskan karya-Nya melalui kehidupan kita hari lepas hari.

Agen Kasih Karunia
Penebusan hanyalah dapat terjadi melalui karya Yesus, dan di dalam kasih karunia itulah nyata kehidupan kita yang baru. Ya, kita menjadi agen kasih karunia, dan tugas kita adalah membawakan kasih karunia itu di dalam dunia di sekitar kita.

Semakin kita pernah merasakan hancur hati akibat dosa-dosa kita, maka semakin besar harusnya kita dapat memaknai kasih karunia yang Allah sediakan di dalam kehidupan kita. Mengapa? Karena kasih karunia membuat kita sadar bahwa segala hal yang kita kerjakan tidak dapat menghapuskan setiap dosa dan pelanggaran hidup kita. Hidup tanpa kasih Allah ialah hidup yang kosong.

Kita hidup sehari-hari dengan berbagai kesibukan kita tetapi kita tidak pernah terpuaskan oleh segala hal yang ada di dunia ini. Semakin kita mencari kenikmatan dunia, semakin kita merasa kekosongan hidup sedang melanda kita.

Kesadaran akan kasih karunia akan membuat kita menjadi pribadi yang mensyukuri hidup yang Allah berikan. Hidup yang penuh dengan damai sejahtera karena kita mengetahui bahwa hidup kita bermakna. Hidup yang menyadari bahwa sebagaimana kita ada saat ini, semuanya adalah karena kasih karunia Allah. Siapkah kita untuk dapat menikmati hidup penuh kasih karunia itu? Allah menantikan jawaban kita.

Soli Deo Gloria

Saturday, March 5, 2016

Menggombali Allah

“Tuhan, aku mau menyerahkan hidupku sepenuhnya untuk-Mu”

Seringkah kita mendengarkan kalimat ini? Biasanya ini adalah kalimat saat kita ikut KKR ataupun kita ingin mengerjakan sesuatu yang jauh lebih susah dari apa yang kita lakukan sebelumnya. Kita menjadi pribadi yang sangat sentimental. Kita menjadi seseorang yang begitu suka untuk “merayu” Allah. Kita menjadi pribadi yang begitu senang untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang “gombal” kepada Allah.

Mengapa dikatakan gombal? Sebelumnya kita perlu melihat kembali kepada tingkah laku kehidupan kita. Ketika kita mengatakan bahwa kita ingin menyerahkan hidup kita sepenuhnya bagi Tuhan, apakah itu sesuatu basa-basi agar kita terlihat rohani, ataukah kita benar-benar mengatakan itu dari lubuk hati yang terdalam?

Segalanya adalah Bagi KemuliaanNya
Kekristenan tidak dapat dihidupi hanya dengan gombalan-gombalan kita kepada Allah. Apa makna dari “menyerahkan hidup” kita sepenuhnya kepada Allah? Paulus menuliskan kepada jemaat di Roma, makna dari menyerahkan hidup adalah sebagai berikut:

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12:1)

Kalimat ini begitu mantap. Tulisan Paulus ini menunjukkan bagaimana sikap hidup kita di dalam kita menyerahkan diri kita kepada Allah. Disini dituliskan untuk kita dapat mempersembahkan tubuhmu. Makna persembahan adalah dimana kita sama sekali tidak punya hak atas sesuatu barang ataupun hal yang kita persembahkan. Artinya ketika kita mempersembahkan sesuatu (misalkan uang) kepada gereja maka kita tidak punya hak lagi atas uang tersebut. Nah sama seperti analogi tersebut, mempersembahkan tubuh kepada Tuhan berarti kita sama sekali tidak memiliki kendali atau hak atas kehidupan kita.

Kemudian Paulus menuliskan selanjutnya adalah persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Persembahan yang hidup menunjukkan bahwa di dalam kita menyerahkan diri kita kepada Tuhan untuk Tuhan pakai, kita dituntut untuk menjadi sesuatu yang hidup. Ciri-ciri kehidupan adalah adanya pertumbuhan, dan kemudian setelah bertumbuh besar akan menghasilkan buah. Ciri khas dari seseorang yang menyerahkan dirinya kepada Tuhan adalah adanya pertumbuhan di dalam iman kepada Dia sehingga dapat menghasilkan buah pelayanan yang dapat dinikmati oleh banyak orang.

Yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, merujuk kepada sebuah sikap hidup yang harus menjadi ciri khas kita sebagai seorang Kristen. Kekudusan merupakan salah satu ciri utama orang Kristen. Kekudusan bukanlah suatu hal yang harus dikejar, namun merupakan sesuatu yang telah nyata manakala seseorang benar-benar menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Mengapa Paulus sampai menuliskan hal ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena di ayat sebelumnya yakni 11:36 mengatakan demikian

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36)
Bebas dari Rasa Kuatir

Menyerahkan segala sesuatu itu juga termasuk kekuatiran hidup kita. Seringkali kita mendengarkan kotbah mengenai kekuatiran dan bagaimana kita seharusnya tidak kuatir akan apapun juga. Memang benar bahwa seharusnya seorang Kristen jauh dari rasa kuatir. Hal itu dialami oleh karena Tuhan Yesus memberikan sebuah janji berikut:

Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? (Matius 6:26)

Artinya dari ayat ini adalah bahwasanya kita tidak perlu kuatir akan apapun juga yang akan kita hadapi. Kehidupan kita seharusnya bebas dari kekuatiran karena kuasa kebangkitan Allah menghancurkan segala hal yang membuat kita kuatir.

“Benar sih kak, aku sebenarnya nggak kuatir, toh aku sudah menyerahkan semuanya kepada Tuhan”

Benarkah ketika kita mengatakan kalimat di atas maka kita akan menyerahkan semuanya kepada Tuhan? Yakinkah bahwa segala problematika yang kita hadapi mau kita serahkan kepada Tuhan? Seringkali dengan cepat kita menjawab “MAU” tetapi pada realitasnya begitu berbeda. Apa yang kita lakukan sama sekali berbeda dengan apa yang kita ucapkan. Kita terus menerus menjalani hidup ini seakan tidak ada Allah.

Kita masih saja pusing terhadap hal remeh temeh yang seharusnya tidak perlu kita pikirkan. Kita justru memfokuskan pemikiran kita, energy kita kepada sesuatu yang sama sekali meaningless. Kita lupa bahwa fokus hidup kita adalah untuk kemuliaan Allah, namun justru hal-hal yang remeh itulah yang menjadi fokus hidup kita seolah Allah tidak ada!

Kebebasan kita dari kekuatiran adalah salah satu ciri dari seseorang yang mau menyerahkan segalanya. Penyerahan diri akan menghasilkan hidup yang menjadi berkat sekaligus tanpa sebuah beban. Kita bisa dengan bebas dan menikmati anugrah Tuhan, dan itulah yang Tuhan mau kita kerjakan.

Kesimpulan: Allah Yang Memegang Kendali
Kehidupan yang memuliakan Allah adalah kehidupan yang diserahkan kepada Allah. Hal itu meliputi segala aspek hidup: pekerjaan, pelayanan, pasangan hidup, dan sebagainya. Semua aspek hidup kita mau kita persembahkan kepada Raja di atas segala raja. Ketika kita menyerahkan hidup kita kepadaNya, damai sejahtera Kristus akan menaungi hidup kita sehingga kita dapat hidup dengan tenang dan tanpa rasa kuatir akan hari esok. Kesemuanya itu karena kita menyadari bahwa Allah yang memegang kendali.

Kalau kita kemudian kehilangan iman, cukup ingat bahwa manakala kita hidup sampai kita membaca tulisan ini, Allah telah menyertai perjalanan hidup kita. Kalau sedari lahir hingga saat ini Allah menyertai kita, bukankah penyertaan itu akan selalu ada sampai selama-lamanya, sampai saatnya kita bertemu muka dengan muka dengan Dia?


Soli Deo Gloria

Sunday, March 15, 2015

Menikmati Anugrah Allah

Pernahkah membayangkan bahwa ternyata seluruh hidup kita adalah tentang Allah? Ketika kita makan, ketika kita tidur, ketika kita mengerjakan aktivitas kita, ternyata Allah turut bekerja.

Manusia di tengah berbagai kecanggihan teknologi terkini mulai kehilangan kemanusiaannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebanggaan seseorang saat ini adalah ketika dia punya gadget terbaru. Akhirnya fokus hidupnya hanyalah untuk mengejar hal tersebut.

Berbagai hal dan penemuan baru membuat kita semakin excited dan mungkin akhirnya kita melupakan berkat-berkat kecil ataupun besar yang Tuhan sediakan atas kehidupan kita. Kita menjadi pribadi-pribadi yang cepat sekali mengeluh manakala tidak mendapatkan hal yang kita inginkan. Kita akhirnya menjadi pribadi-pribadi yang begitu apatis, kita jadi pribadi yang egois, kita selalu ingin lebih dan lebih.

Menikmati anugrah Allah di dalam kehidupan bukan berarti bahwa Allah harus selalu memberikan segala hal yang kita minta. Itu sih namanya rakus. Oke kita melihat kembali bahwa ternyata sifat rakus yang dimiliki manusia ternyata sudah ada dari dulu. Kita melihat dihancurkannya menara Babel. Tetapi yang paling dapat kita pelajari dari Perjanjian Lama sendiri adalah bagaimana kisah perjalanan bangsa Israel sekeluar mereka dari tanah Mesir.

Pernah membayangkan berjalan selama 40 tahun? 40 tahun yang dirasakan bangsa Israel dengan begitu lama dan akhirnya dari generasi selama 40 tahun itu, hanya 2 orang dari generasi eksodus itu yang masuk ke tanah perjanjian. Siapa mereka? Kaleb bin Yefune, dari suku Yehuda, dan Yosua bin Nun, yang dipercaya sebagai suksesor dari Musa.

Selama 40 tahun perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir, kita melihat bagaimana pergumulan bangsa itu dengan luar biasa. Tetapi di tengah pergumulan itu ada berkat dan kasih Allah Yehova yang begitu besar di dalam kehidupan mereka. Sekeluar mereka dari Mesir, mereka diberikan tiang awan dan tiang api. Kemudian ketika kelaparan, mereka mendapatkan manna. Ketika mereka haus, Allah menyediakan air. Mereka bosan makan manna, mereka diberikan akanan makanan lain yakni burung.

Kurang apa sih Allah di dalam kehidupan Israel? Kelihatannya Allah ialah Allah yang begitu kejam, sampai memutar-mutar bangsa itu hingga 40 tahun. Tetapi selama 40 tahun itulah ternyata semakin kelihatan seperti apa sikap bangsa Israel terhadap penyertaan Tuhan. Mereka tetap menjadi bangsa yang tegar tengkuk. Mereka tetap ingin kembali ke Mesir. Mereka terngiang oleh memori lama mereka. Mereka gagal melihat bagaimana karya Allah di dalam kehidupan mereka.

Hal ini tidak jauh berbeda dengan masa kini. Memaknai hidup yang berasal dari Allah ternyata merupakan hal yang begitu sulit kita lakukan sebagai seorang Kristen. Bersyukur menjadi suatu hal yang hampir tidak mungkin karena ternyata rasa syukur kita dinilai dari materi. Ketika gadget kita kalah canggih dengan orang lain, kita menggerutu. Ketika kita makan di restoran mahal yang harganya mahal, kita protes. Ketika kita mendapatkan gaji bulanan yang sudah cukup besar, kita masih saja mengeluh karena gaji itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kita.

Mulai terlihat kan persamaan antara kita dengan bangsa Israel? Alih-alih kita bersyukur atas segala hal yang sudah Dia sediakan di dalam kehidupan kita, ternyata kita jauh lebih banyak mengeluh atas kondisi yang kita hadapi. Kita selalu tidak puas dan akhirnya hal itu membuat kita tidak bisa “merayakan” anugrah yang Tuhan berikan atas kehidupan kita. Padahal anugrah yang paling sederhana pun yang dapat kita rasakan: ketika kita masih bisa bernafas; itupun jarang kita syukuri.

Ketika kita mengetahui dan memaknai anugrah Allah, kita dapat menikmatinya dengan suatu sukacita surgawi. Berkat Tuhan itu selalu “more than meets the eye”, yang berarti kita tidak pernah bisa melihat kalau kita tidak belajar untuk hening sejenak, diam dan memaknai betapa besar kasih Allah di dalam kehidupan kita. Kebermaknaan hidup didapatkan ketika kita belajar untuk melihat karya Allah yang bahkan tidak dapat kita lihat secara fisik. Ketika kita tidak dapat melihat berbagai karyaNya, kita perlu belajar untuk meminta dan memaknai anugrah – bahkan sekecil apapun anugrah itu.

Sama seperti kita memaknai lagu, kita bisa belajar dari memaknai anugrah Allah di dalam kehidupan kita. Maksudnya seperti apa? Teman-teman, kalau kita lihat dari lagu-lagu hymn yang ada di buku lagu NKB, PKJ, dan KJ, kesan apa yang teman-teman dapatkan? Jadul? Ya itu jawaban yang paling sering dinyatakan. Tetapi kalau teman-teman melihat ada banyak lagu yang ternyata justru maknanya begitu dalam, begitu indah, begitu menyentuh hati kalau kita memaknainya. Bayangkan contohnya lagu “Bila Kulihat Bintang Gemerlapan”, yang mengungkapkan keagungan karya Allah dan ketakjuban penulis. Pernyataan iman atas keindahan ciptaan yang menggambarkan karya Allah, itulah yang dimaknai penulis lagu ini.

Ungkapan syukur itu akan selalu menghasilkan sesuatu yang positif dalam kehidupan kita. Anugrah itu tersedia atas kehidupan kita. Berbagai proses baik itu menyenangkan ataupun menyakitkan, semuanya sudah dirancang oleh Allah untuk menjadikan kita pribadi-pribadi yang mampu melihat “lebih dari yang dilihat mata”. Artinya kita belajar bukan hanya melihat, tetapi mengapresiasi karya Allah. Mengapresiasi kehidupan yang sudah Ia anugrahkan dan akhirnya kita menyatakan rasa syukur itu melalui kehidupan kita.

Akhirnya ungkapan syukur itu akan menjadi sesuatu yang dapat memberkati banyak orang. Seseorang yang menyadari akan anugrah Allah akan begitu menikmati kehidupan dekat denganNya. Ia akan menikmati momen-momen dimana Kristus ada di dalam kehidupannya, menuntun dia dan terus membuat dia menjadi seseorang yang selalu mengucap syukur.

Saya menutup perenungan ini dengan sebuah kisah dari Joni Earackson Tada. Dia adalah seorang wanita yang begitu cantik. Dia pintar, punya begitu banyak bakat, dan masa depannya terasa begitu cemerlang. Suatu hari, Joni pergi untuk berolahraga di laut. Musibah terjadi di dalam kehidupannya. Joni yang punya begitu banyak cita-cita ternyata tidak sengaja menabrak sebuah karang. Hal ini membuat seluruh badannya dari leher ke bawah mengalami lumpuh.

Dokter pun sudah mengkonfirmasi mengenai kehidupannya. Ia akan mengalami kelumpuhan seumur hidup. Respons Joni? Ia marah pada awalnya, tetapi ia belajar untuk menenangkan diri. Ia akhirnya belajar untuk melihat lebih dari yang dilihat manusia. Ia melihat Allah memanggil Dia untuk berkarya bagi kerajaanNya. Apa itu? Ia akhirnya menjadi seorang penulis buku, di tengah berbagai keterbatasannya. Ia menjadi seorang pengkotbah dan ia mulai belajar menggunakan mulutnya, matanya, seluruh hal yang masih dapat ia gunakan untuk berkarya di dalam kehidupan yang Tuhan percayakan dalam kehidupannya.


Kalau kehidupan kita ternyata masih belum ada di titik yang terendah, atau mungkin teman-teman sedang mengalami hal-hal yang membuat teman-teman gagal untuk melihat karya Tuhan, sekarang saatnya kita belajar untuk melihat lebih dari yang dilihat mata. Ketika Tuhan memberikan berbagai proses hidup, semuanya adalah untuk kebaikan kita. Semuanya adalah untuk membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yang kuat untuk menghadapi berbagai proses kedepan untuk kita dapat hidup. Pertanyaannya, maukah teman-teman belajar memaknainya?

Monday, March 10, 2014

Menikmati Persekutuan Dengan Allah

Seorang teman pernah tanya kepada saya: “bagaimana relasimu dengan Allah?” Saat itu saya belum seorang percaya dan saya menjawab “Hmmm aku kira aku baik-baik aja kok. No problem.” Saat kemudian aku bertobat dan merenungkan jawaban itu, benarkah aku baik-baik saja? Apakah dengan aku berdoa setiap hari (yang mana dulu saya sekolah di sekolah Katolik yang mulai dan selesai pelajaran selalu berdoa) itu berarti relasiku dengan Tuhan sudah menjadi relasi yang baik?

Semakin aku beranjak dewasa, semakin aku belajar untuk merenungkan hal-hal yang sepertinya dulu aku agak acuhkan. Memang pertanyaan itu bukanlah suatu pertanyaan yang hanya sekali ditanyakan kemudian it’s done. Pertanyaan mengenai bagaimana intimasi kita dengan Allah adalah sesuatu yang harus kita gumuli hari demi hari. Kita perlu belajar untuk memiliki keintiman yang begitu erat dengan Bapa, dan setiap harinya kita perlu mengevaluasi hal tersebut. Bukan hanya tiap hari, tetapi setiap saat hal tersebut menjadi sesuatu yang perlu kita gumulkan.

Keintiman dengan Allah dibangun dengan suatu disiplin rohani yang tidak mudah. Starting point dari keintiman dengan Allah adalah bagaimana kita menerima Kristus dengan iman. Ini adalah langkah awal yang tidak mungkin kita lewatkan. Step ini ialah step dimana kita mengijinkan Kristus mengubah kehidupan kita – memunculkan kerinduan kita melalui Roh Kudus untuk mulai mengenal pribadiNya. Pertanyaan yang pas bagi kita adalah “apakah engkau mengasihiKu?” seperti pertanyaan Yesus kepada Petrus. Ini adalah pertanyaan yang memulai segalanya tentang keintiman dengan Allah.

Poin kedua adalah membuka diri untuk menerima Firman Allah. Bagian ini meliputi suatu step dimana Allah membukakan diriNya yang kemudian kita bisa mulai memiliki kegemaran untuk membaca dan merenungkan Firman. Seperti yang sudah dijelaskan, bahwa kerinduan ini tidak akan bisa muncul tanpa adanya suatu pemahaman akan diri sendiri bahwa kita sudah ditebus melalui pengorbanan Kristus. Dampak dari pengorbanan Kristus seharusnya adalah hidup kita semakin diubahkan perlahan melalui Firman.

Perlahan tapi pasti, pemahaman akan Firman akan mulai mengubahkan kehidupan keseharian kita. Menikmati firman bukan hanya masalah kita membaca dan kemudian kita cepat-cepat membaca alkitab sampai kita punya target 1 tahun harus habis. Target tersebut memang baik, tetapi kita perlu ingat bahwa semua pemahaman tentang Kristus dalam kehidupan kita adalah sejauh mana Allah akan membukanya. Maka dari itu sebenarnya hal yang penting bukan masalah kuantitas, tetapi bagaimana kita dapat menikmati makanan rohani yakni Firman Tuhan yang berkualitas tinggi, sekaligus belajar mencernanya sehingga menjadi gizi yang baik bagi kehidupan keseharian kita.

Keintiman kita dengan Kristus akan membuat kita dapat berkata seperti Daud:

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal! (Mazmur 139:13-14)

Ataukah kerinduan Asaf seperti ada di mazmur berikut ini:

Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.  (Mazmur 73:24-25)

Setelah kita menikmati persekutuan dengan Allah melalui Firman, jangan lupa bahwa kita perlu mengakhiri waktu intim kita dengan Tuhan dengan suatu ucapan syukur. Pengucapan syukur bahwa Allah telah berkenan untuk berkata-kata melalui FirmanNya. Kemudian juga kita memohon kepada Tuhan untuk kita dapat melaksanakan dan meneladaniNya. Ini adalah bagian yang seringkali terlewatkan.

Hal yang paling menyenangkan bagi kita adalah ketika kita bisa belajar karakter Kristus. Banyak orang mengenal Tuhan hanya sebatas kognitif namun kehidupannya tidak mencerminkan pengenalannya kepada Allah. Kekristenan bukanlah hanya masalah pemahaman mengenai doktrin (bukan berarti bahwa doktrin bukan sesuatu yang penting!). Kekristenan berbicara mengenai gaya hidup. Hidup kekristenan seperti suatu koin yang punya dua sisi, sisi yang pertama adalah relasi dengan Tuhan dan sisi kedua adalah relasi dengan manusia. Ini juga merupakan gambaran salib. Vertikal – menunjukkan ada suatu relasi dengan Allah, dan horizontal – menunjukkan relasi kita dengan sesama kita. Keduanya diperdamaikan melalui Kristus.


Melalui pemahaman yang benar tentang Allah, kita akan semakin hari makin rindu untuk mengenal Tuhan dan menikmati relasi kita denganNya. Jika kita mulai ‘kering’, mintalah kepada Roh Kudus untuk menimbulkan suatu kerinduan kepada hati kita, sehingga seperti Daud, seperti Asaf, ataupun seperti Paulus yang semakin hari semakin rindu dan menyadari bahwa tanpa Allah kita tidak bisa apa-aoa. Memaknai bahwa tanpa Allah kita tidak dapat melakukan apapun akan membantu kita untuk terus menerus diperbarui dan kita semakin merendahkan di hadapanNya. Semakin kita merasa tidak mampu menghadapi hidup ini sendirian, semakin kita belajar berserah kepadaNya, semakin Allah akan bekerja dengan luar biasa.

Sunday, February 9, 2014

Eksposisi Kolose 1:15-23 - Keutamaan Kristus

Pembukaan surat ini melanjutkan dari sebelumnya, yakni mengenai keutamaan Kristus di dalam hidup orang percaya. Secara gamblang dan lugas Paulus mencoba menjelaskan di ayat 16 tentang siapakah Allah itu. Ia menuliskan bahwa Allah ialah Allah tidak kelihatan. Ini menjadi suatu pemikiran yang cukup abstrak bagi orang-orang yang mencoba untuk mengerti tentang Allah. Karena Allah ialah entitas yang tidak kelihatan bukan berarti bahwa Dia tidak ada. Paulus melanjutkan bahwa Allah lebih utama dari segala yang diciptakan. Ini menjadi suatu doktrin gereja yang sangat jelas. Melalui Yesus Kristus, Allah yang tidak kelihatan itu menjadikan diriNya terlihat oleh manusia. Tetapi sekalipun begitu, Allah tetap ialah yang lebih utama daripada segala sesuatu yang diciptakan, yang berarti bahwa Dia berdaulat penuh atas ciptaan.

Paulus menuliskan hal yang menarik di ayat 16, yakni segala sesuatu yang ada di dunia ini disebabkan oleh Allah (prime cause). Kalau kita lihat kembali ayat ini, bahkan dapat dilihat bahwa Allah mengatur segala hal baik yang besar maupun yang kecil. Tetapi menarik sekali di akhir ayat ini dituliskan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ini berarti bahwa tindakan apapun yang kita kerjakan sebenarnya sudah didaulat oleh Allah. Di dalam kedaulatanNya, Allah mengatur dunia ini sampai kepada level yang paling detail sekalipun.

Ayat-ayat selanjutnya mencoba untuk menjelaskan mengapa Kristus ialah yang terutama. Ayat 17 menjelaskan bahwa Kristus ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Paulus ingin menunjukkan bahwa Kristus ialah pencipta segala sesuatu, yang mana dipertegas dari ayat ini. Ketika sesuatu itu ‘ada’, maka harus ada sesuatu yang membuatnya ‘ada’ (hukum sebab akibat), dan Allah melampaui segala hukum itu. Ia tidak terikat atas hukum sebab akibat, karena Ia adalah yang paling utama (Yohanes 1:1 – Pada mulany adalah FIRMAN). Ia tidak membutuhkan penyebab.

Paulus melanjutkan suratnya dengan mencoba menjelaskan tentang hubungan Kristus dengan jemaat. Kristus ialah kepala tubuh, yang berarti bahwa Ia mengendalikan segala hal. Di kepala ada banyak organ tetapi yang paling signifikan disini ialah bahwa kepala memiliki otak. Kepala juga merupakan sumber kehidupan kita, dan kita disebut disini sebagai “tubuh”.

Jemaat Tuhan disebut Tubuh, yang berarti kita memiliki suatu peran yang harus dikerjakan di dunia ini. Allah yang mempimpin kita, seperti kepala dengan otak yang selalu membuat kita berpikir dan memampukan kita untuk melakukan sesuatu. Otak itu seharusnya menjadi hal yang utama karena melalui otak itulah kita dapat melakukan sesuatu.

Ia adalah yang sulung, yang pertama bangkit… ini menjadi salah satu status kita sebagai orang yang percaya. Ketika Paulus mencoba menuliskan hal ini melalui hikmat Roh Kudus, dengan penuh keyakinan ia berkata bahwa kita pun juga akan mengalami hal yang sama dengan Kristus, saat ia mati di kayu salib. Ada suatu janji kekekalan yang dituliskan disini.

Karena Kristus lebih dahulu mengalami semua hal yang dialami juga oleh manusia, kita boleh yakin dan percaya sebagai anak-anak Allah, kita juga akan mengalami kebangkitan tubuh (seperti yang disebutkan dalam Pengakuan Iman Rasuli). Ini juga membuatnya menjadi suatu entitas yang paling utama dalam segala sesuatu, dan kalau dikaitkan dengan kehidupan anak-anak Allah, yakni orang Kristen, ini berarti suatu pesan yang luar biasa bagi kita. Kita harus yakin bahwa ketika Allah bangkit dan naik ke sorga, kita pun juga akan mengalami hal yang sama.

Seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Kristus, yang mana ini ditunjukkan di dalam injil, dan juga di surat Paulus kepada jemaat di Filipi. Pembahasan tentang kenosis ada di sini, yakni saat Allah mengambil rupa seorang hamba, sampai taat dan mati. Kalau kita melihat juga di ayat 20, lanjutannya ialah bahwa Ia mendamaikan segala sesuatu dengan diriNya. Ini berbicara tentang pendamaian seluruh umat manusia yang percaya kepadaNya di dalam pengorbanan Kristus.

Semuanya sudah diselesaikan oleh pelayanan Kristus, yang mana berakhir di dalam kemegahan salib. Kemegahan sekaligus kehinaan (itulah pandangan manusia). Kemegahan salib itu membuat kehidupan kita dapat diperdamaikan dengan Allah. Ialah sang mediator itu. Ialah yang membuat kita dapat kembali berkomunikasi dengan Allah. Melalui pengorbanan Kristus itulah hidup kita diperbarui, ada suatu relasi yang dipulihkan oleh Kristus.

Kalau kita lihat dari ayat ini, melihat tema utama dari ayat-ayat sebelumnya, kita dapat memahami bahwa melalui surat ini Paulus ingin menunjukkan mengenai begitu besarnya dan utamanya Kristus di dalam setiap karyaNya. Ada beberapa alasan, yakni karena Ia memang Allah. Kedua adalah karena melalui salibNya itulah kita dapat beroleh keselamatan – melalui iman. Pendamaian itu hanya dimungkinkan melalui adanya mediasi, karena tanpa Kristus, kita tidak dapat mengenal siapa Allah.

Ayat 21 dengan sangat jelas memperlihatkan adanya perubahan pola pikir di dalam kita mengenal Allah. Ketika kita mengenal Allah, ada suatu perubahan mendasar, yakni adanya suatu perubahan dari apa yang dianggap oleh diri kita sendiri sebagai suatu kebobrokan, kini menjadi sesuatu yang mulia. Apa maksudnya? Ketika kita mulai mengenal Allah, seharusnya segala hal lain yang menjadi utama di dalam hidup kita sudah meaningless. Hidup yang bermakna ketika kita mengenal Kristus ialah hidup yang berpusat kepada kasih Allah – yang berarti bahwa seluruh hidup kita ialah milikNya.

Perubahan pola pikir tadi akan mempengaruhi tindakan kita terhadap apa yang akan kita perbuat terhadap Allah. Ketika ada perubahan pola pikir, hal yang terjadi ialah kita dimungkinkan untuk berbuat seturut dengan kehendak Allah. Tentunya sesuatu yang benar di hadapan Allah, sesuai dengan standarnya. Motivasi kita di dalam melakukan sesuatu akan mengalami perubahan – dari yang tadinya berpusat kepada kebanggaan diri, menjadi suatu persembahan yang kudus dan berkenan di hadapanNya.

Dampak dari pengorbanan Kristus di kayu salib dapat dilihat pada ayat selanjutnya. Paulus menuliskan bahwa ada suatu pendamaian melalui kematian Kristus. Mengapa Kristus mati? Karena ini konsisten dengan apa yang disebutkan bahwa upah dosa ialah maut. Melalui mediator kita – yakni Kristus, kita mendapatkan sebuah privilege. Melalui pengorbananNya kita dikuduskan di hadapan Allah. Pengudusan hidup melalui kasih Kristus ini menjadi suatu langkah awal dari kelahiran baru.

Paulus menuliskan ada suatu proses pengudusan yang sedang dikerjakan Tuhan atas kehidupan kita. Melalui salib, Paulus menyebutkan, bahwa kita tak bercela dan kudus, dan tak bercacat di hadapan Allah. Ini menjadi satu kabar baik bagi kita. Ya, itulah kekuatan dari salib. Itulah anugrah yang dipersiapkan Allah bagi kita bukan? Dosa yang membuat kita seharusnya menerima upah yakni maut, sekarang telah dihapuskan oleh darahNya yang kudus. Ialah korban sempurna, korban penebusan dosa yang Allah sudah sediakan. Pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah seberapa besar kita memaknai keselamatan yang dikerjakan Allah ini?

Sebagai konklusi dari tema utama Paulus tentang keutamaan Kristus, ia menuliskan bahwa setiap kita harus bertekun di dalam iman. Ada suatu pengharapan yang sedang dan akan digenapi oleh Allah. Pengharapan itu tidaklah sia-sia. Pengharapan ini berasal dari injil yang daripada Allah. Ada suatu janji di dalam kita mengenal dan mengerti tentang keutamaan Kristus. Ketika Kristus mengubahkan hidup kita, kita perlu sadar bahwa pengharapan itulah yang nantinya akan menjadi nyata.

Iman itu akan membawa kita menjadi orang yang tahu dan sadar bahwa anugrah itu bukan hanya untuk kita menjadi orang-orang yang take it for granted. Melalui pemahaman akan kasih Kristus, seharusnya kita bisa berkata seperti Paulus bahwa hidup kita bukan milik kita sendiri, namun hidup kita ialah milik Kristus. Ketika Allah memilih kita, tidak akan pernah Ia meninggalkan kita. Tidak akan pernah Ia menjadi Bapa yang akhirnya menghancurkan hidup kita. Keteguhan kita akan iman kita pun sebenarnya juga berasal dari Dia sendiri.


Apa yang saat ini menjadi hal yang terutama di dalam kehidupan kita? Apakah kita menyadari bahwa kita ialah milikNya dan Ia adalah Allah kita? Kristus ialah yang terutama, dan hanya melalui Dialah, ada suatu hidup baru. Ada suatu pengharapan yang terus membentuk kehidupan kita menjadi semakin serupa denganNya.