Total Pageviews

Showing posts with label bible. Show all posts
Showing posts with label bible. Show all posts

Friday, October 27, 2017

Mempertahankan Identitas Hidup

“What are you? The god of hammer?” demikianlah pertanyaan Odin kepada Thor manakala ia merasa kesulitan untuk menang melawan Hela di dalam film Thor: Ragnarok. Pertanyaan ini membuat Thor sadar bahwa sumber kekuatannya bukanlah dari sebuah palu, yang hancur, tetapi dari semulanya ia adalah seorang dewa petir (god of thunder). Menarik sekali hal ini untuk kita renungkan karena kita sebagai orang Kristen pun lupa akan identitas kita sebagai warga sorga. Kita seakan-akan kehilangan identitas kita di dalam berbagai rutinitas hidup yang menarik kita dari kasih Bapa dalam hidup kita.

Memegang Teguh Keselamatan
2 Korintus 5:15
Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. 

Berbicara mengenai keselamatan tidak dapat dilepaskan dari bagaimana karya Kristus di dalam kehidupan orang percaya. Kesadaran bahwa keselamatan merupakan anugrah akan mengingatkan diri kita, siapakah sebenarnya kita. Ketika Tuhan telah menyelamatkan kita, kita yang adalah hamba dosa, statusnya diubah menjadi hamba kebenaran (Roma 6:20-23). Hamba kebenaran identik dengan kita menjadi hamba dari kasih karunia.

Hamba kasih karunia berarti kita belajar untuk senantiasa berpegang teguh pada kasih karunia. Kita taat terhadap kasih karunia yang Tuhan berikan – sama seperti ketika seorang hamba takluk terhadap tuannya. Seorang hamba sama sekali tidak punya hak atas hidupnya sendiri. Seorang hamba seumur hidupnya hanyalah menjadi suruhan, yang tidak punya hak apapun kecuali tuannya memberikan hak tersebut.

Itulah mengapa Paulus menuliskan dalam suratnya untuk kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. Kristus yang memberikan kehidupan bagi kita, maka selayaknyalah hidup kita pun dipersembahkan kepada Dia yang empunya kehidupan kita.

Respons Terhadap Kasih Karunia
2 Korintus 5:17
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. 

Menjadi ciptaan baru berarti benar-benar menjadi pribadi yang baru. Kita yang percaya kepada karya keselamatan sudah diberikan sebuah tujuan hidup yang baru. Senantiasa karena kita pun menjadi manusia baru. Paulus mengatakan : “yang lama sudah berlalu”, artinya segala sesuatu yang ada di dalam kehidupan lama kita adalah sesuatu yang harus kita tinggalkan dan tanggalkan di dalam kita menjalani hidup kita sebagai manusia baru.

Menjalani hidup sebagai milikNya berarti kita menjalankan hal-hal yang Tuhan mau kita kerjakan. Ketika hidup kita bukan milik kita sendiri, itu berarti bahwa kita perlu senantiasa belajar untuk memahami kehendak Allah dalam hidup – sembari kita belajar melakukannya. Semata-mata sebagai sebuah ungkapan syukur bahwa Tuhan sudah memberikan segalanya bagi hidup kita. Segalanya? Yes. Segalanya! Tuhan sudah memberikan bahkan hidup-Nya melalui karya Kristus. Selayaknyalah kita belajar juga memberikan segenap hidup kita kepada Dia.

Yang baru sudah datang! Demikianlah kita perlu belajar mengingat identitas baru kita di dalam kita hidup di dunia ini. Identitas yang melekat ini tidak akan dipengaruhi oleh hal lain selain iman percaya kita.

Aplikasi
Ketika Tuhan sudah menjadikan kita manusia baru di dalam Kristus, identitas kita tidak ditentukan dari atribut yang kita gunakan. Seperti di awal, Thor mendefinisikan status dewanya (kalau kita lihat di film-film sebelumnya, hidupnya ditentukan benar-benar oleh Mjolnir, palu yang diberikan Odin kepadanya), dan itu tidak jauh berbeda dengan hidup kita. Kita seringkali diikat oleh atribut-atribut yang ada di dalam kehidupan kita bukan? Entah itu kecerdasan kita, harga diri kita, dan sebagainya.

Ketika sadar bahwa kita ciptaan baru, maka sudah selayaknya kita belajar buat bersyukur atas identitas yang Tuhan karuniakan dalam hidup kita. Melalui identitas itulah kita tidak perlu takut dan ragu dalam menjalani hidup ini. Senantiasa kita belajar untuk bersukacita di dalam Tuhan. Senantiasa kita belajar untuk bersyukur dan tidak kuatir dalam menjalani kehidupan ini.

Hidup kita tidak ditentukan dari setiap atribut yang kita punya. Kita belajar buat percaya bahwa segala hal yang kita punya adalah milik Tuhan, yang sewaktu-waktu dapat diambil. Tetapi status kita sebagai anak-anak Allah merupakan hal yang paling penting. Keselamatan yang Tuhan berikan – itu cukup bagi setiap kita – seperti Paulus yang senantiasa dapat bersyukur atas setiap kelemahan yang ia miliki, sehingga ia dapat memahami perkataan Allah “cukuplah kasih karuniaku”.

Ketika sumber kekuatan kita – entah itu kekayaan kita, keberhasilan kita, jabatan kita, dan setiap hal di dunia ini lenyap, marilah kita senantiasa belajar bahwa satu-satunya sumber kekuatan kita adalah Kristus – yang dinyatakan melalui kehidupan keseharian kita. Kasih karunia Allah itu lebih dari cukup dalam kita dapat menjalani kehidupan ini. Seperti Thor yang kehilangan palunya tetapi dia tetap mengingat identitasnya, marilah kita sebagai anak-anak Allah juga belajar untuk memegang teguh kasih karunia yang sudah Tuhan anugrahkan dalam hidup kita untuk menjalani kehidupan yang penuh tantangan ini

Soli Deo Gloria!

Sunday, September 13, 2015

Kaya Dalam Kasih Karunia

Apa bayangan saudara ketika mendengar mengenai kekayaan? Seperti apa sih sebenarnya kaya itu? Apakah ketika kita bisa memiliki segalanya di dalam hidup ini? Kita punya banyak simpanan deposito, simpanan rumah, simpanan istri (uuppss), dan berbagai simpanan, begitukah yang disebut kaya? Ataukah mungkin bukan berlimpah harta, tapi berlimpah kedudukan. Misalkan kita menjadi presiden dari sebuah negara yang adikuasa, maka kita adalah orang yang kaya?

Redefinisi Kekayaan
Perenungan ini coba kita mulai dengan membaca surat dari Paulus kepada jemaat Korintus, di dalam 2 Korintus 8:1-9. Selagi kita membukanya, mari kita tahu dulu latar belakang jemaat Korintus. Korintus adalah sebuah kota metropolitan di jaman itu, dan kita bisa membayangkan betapa jemaat di dalamnya bukanlah jemaat yang bermasalah tentang keuangan.

Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.
(2Korintus 8:1-2)

Secara jelas Paulus mencoba memberitahu jemaat Korintus mengenai keadaan jemaat Makedonia pada saat itu. Jemaat Makedonia “dicobai dalam pelbagai penderitaan”. Artinya bahwa mereka bukanlah sebuah jemaat yang kaya secara dunia. Kalau menurut definisi di awal artikel ini, jelaslah bahwa jemaat Makedonia bukanlah jemaat yang seperti itu.

Tetapi menarik apa yang dikatakan Paulus kalau kita renungkan. Kita melihat Paulus berkata: “mereka kaya dalam kemurahan”. Apa maksudnya? Bahwasanya kekayaan yang disebutkan Paulus adalah kekayaan dimana justru di dalam kekurangan kita, kita bisa memberikan yang terbaik. Mereka memberi di dalam kemurahan mereka, dan itulah yang Tuhan kehendaki untuk kita kerjakan. Itulah mengapa ketika di dalam perumpamaan tentang janda miskin yang memberikan sepeser uang persembahan, itulah yang berkenan di hadapan Allah.

Bagaimana kita menanggapi hal ini? Kita kembali merenungkan seperti apa sikap kita ketika kita menghadapi berbagai pergumulan di dalam hidup kita. Bukan melulu masalah uang, tetapi ketika kita sedang galau, pertanda yang sering menjadi perhatian adalah kita menjadi orang yang berfokus pada diri sendiri. Sedangkan kita melihat jemaat Makedonia, kita bisa melihat apa yang menjadi fokus hidup mereka bukanlah diri mereka, tetapi kepada orang lain.

Beroleh Kasih Karunia dalam Pelayanan

Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.
(2Korintus 8:3-5)

Paulus melanjutkan suratnya dengan sebuah kesaksian yang begitu menarik. Dikatakan disini bahwa jemaat Makedonia meminta dan mendesak kami (Paulus dan rekan-rekannya) untuk jemaat tersebut dapat melibatkan diri di dalam pelayanan. Bayangkan ketika anda berniat meminta proposal kepada seseorang yang kaya, tetapi ditolak, dan kemudian anda melihat seorang yang biasa-biasa saja tiba-tiba menghampiri anda dan memberikan anda sejumlah uang untuk membantu anda. Demikianlah kehidupan jemaat Makedonia yang diberikan berkat. Mereka memaknai bahwa setiap hal yang sudah Allah sediakan bukanlah untuk mereka nikmati sendiri tetapi dapat menjadi suatu berkat bagi kemuliaanNya.

Manakala merenungkan hal ini, kita diajak untuk memaknai kembali berbagai berkat yang sudah Tuhan berikan di dalm kehidupan kita. Begini lho, rumusNya itu bukan hanya berhenti bahwa ketika kita diberikan sesuatu maka sesuatu itu akan menjadi milik kita. Eits tunggu dulu! Ketika Allah memberikan sesuatu berkat, Allah meminta kita untuk dapat melakukan yang terbaik dari pemberianNya itu.

Bukankah itu yang sering kita lupakan? Kita memohon dan berdoa agar kita diberikan banyak uang tetapi ternyata uang itu kita nikmati sendiri. Kita berdoa agar mendapatkan seorang pacar yang cantik tetapi jadi malas untuk melayani. Kita diberikan berbagai fasilitas oleh Allah di dalam gereja kita tetapi kita tidak mau belajar untuk memaksimalkan setiap pemberian itu. Bukankah hal itu sesuatu yang manusiawi? Benar sih manusiawi, tetapi bukankah itu menjadikan kita sama seperti dunia?

Jemaat Makedonia tahu betul bahwa mereka punya sebuah misi untuk mereka jalani. Disebutkan bahwa mereka “memberikan diri pertama kepada Allah, kemudian kepada kami (Paulus dan rombongannya)”. Dasar dari pelayanan mereka adalah “memberikan diri pertama kepada Allah”, artinya bahwa mereka menyadari bahwa inti dari pelayanan yang mereka kerjakan adalah agar nama Tuhan yang dimuliakan. Tidak berhenti sampai disitu, ada tindakan konkrit yang mereka kerjakan untuk memuliakan Tuhan.

Pelayanan Penuh

Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya. Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, --dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami--demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.
(2Korintus 8:6-7)

Kalau kita baca ayat ini, sebenarnya ini adalah penegasan kembali bagaimana peran jemaat di Makedonia. Kemudian juga disini Paulus menyebutkan bahwa kekayaan kasih itu berasal dari pelayanan yang dikerjakan oleh mereka. Apakah berhenti sampai janji semata? Ternyata tidak. Kita sering sekali membayangkan kalau kita punya banyak uang baru kita mau menyumbang. Kita menunggu punya pekerjaan yang mapan dulu baru kita akan mentraktir. Kita menunggu dapat rejeki dalam jumlah besar baru kita mau memberikan sesuatu.

Apakah itu yang dilakukan jemaat Makedonia? Kita perlu mengingat kembali bahwa kekayaan  itu bukanlah masalah berapa banyak yang kita dapatkan, melainkan kekayaan itu kita rasakan manakala kita merasa cukup atas segala hal yang kita miliki dan kita kerjakan. Tidak berhenti sampai disana. Ketika kita bisa memberikan segala sesuatu, dan kita mengusahakan segala sesuatu untuk memenuhi kebutuhan orang lain, disitulah kita menjadi seseorang yang benar-benar kaya.

Dasar Kekayaan Adalah Teladan Kristus

Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu. Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.
(2Korintus 8:8-9)

Salah satu hal yang paling menarik di dalam pemahaman iman Kristen adalah kita memiliki Allah yang memberikan segalanya sekaligus juga memberikan teladan atas kehidupan kita. Ia tidak sekedar memerintahkan kita melakukan segala sesuatu, tetapi Ia adalah Allah yang solider, yang merasakan juga bagaimana kehidupan sebagai seorang manusia melalui Yesus Kristus.

Menarik disebutkan Paulus disini bahwa jemaat bukan diminta untuk “tahu” mengenai Tuhan Yesus, tetapi kata yang digunakan disini adalah “MENGENAL”. Ilustrasinya seperti ini. Ketika anda memiliki seorang kekasih, anda bukan hanya tahu bahwa dia adalah seseorang yang cantik. Tentu saja anda harus mengenalnya bukan? Hal-hal apa yang ia suka, hal yang tidak ia suka, karakternya seperti apa, dan seterusnya.

Sama juga dengan iman Kristen. Kita tidak sekadar di indoktrinasi di dalam iman kita. Kita bukan hanya membaca alkitab dan tahu isi alkitab tetapi tidak melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Iman Kristen adalah iman yang hidup, yang seharusnya melalui teladan Yesus Kristus kita bisa melakukan tindakan kita sehari-hari seperti yang Ia kerjakan selama ada di dunia.

Ayat ini menyebutkan, bahwa Yesus yang kaya telah menjadi miskin. Paulus mengacu kepada pemahaman bahwa Allah yang mahabesar justru rela turun ke dunia untuk menjadi sama seperti manusia. Allah yang maha tinggi justru menjadi pribadi yang begitu hina sampai kematianNya pun merupakan salah satu penghinaan terbesar. Tetapi justru melalui kematian Kristus itulah keunikan iman Kristen dinyatakan. KebangkitanNya membawa suatu pengharapan, dan dari kehidupanNya selama 3 tahun pelayananNya kita boleh belajar banyak hal bahwa melayani Tuhan itu tidak berhenti di dalam pemahaman saja, tetapi pengenalan pribadi, keintiman pribadi denganNya.

Oleh karena kemiskinanNya, di dalam anugrah terbesar yang sudah Ia kerjakan di dalam kehidupan kita, kita menjadi pribadi yang mampu mengerjakan yang terbaik bagi orang di sekitar kita. Kasih Karunia Tuhan adalah sesuatu yang jauh lebih cukup yang menjadi dasar kita untuk melayani orang lain di sekitar kita. Ketika tindakan kita sehari-hari memaknai karya Kristus, maka orang lain akan merasakan sebuah dampak, sebuah perbedaan bahwa kita telah menjadi anggur yang tercurah bagi kemuliaanNya. Siapkah kita memancarkan manisnya kasih Kristus, anugrah yang tidak terbatas itu?


Soli Deo Gloria!

Sunday, March 15, 2015

Menikmati Anugrah Allah

Pernahkah membayangkan bahwa ternyata seluruh hidup kita adalah tentang Allah? Ketika kita makan, ketika kita tidur, ketika kita mengerjakan aktivitas kita, ternyata Allah turut bekerja.

Manusia di tengah berbagai kecanggihan teknologi terkini mulai kehilangan kemanusiaannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebanggaan seseorang saat ini adalah ketika dia punya gadget terbaru. Akhirnya fokus hidupnya hanyalah untuk mengejar hal tersebut.

Berbagai hal dan penemuan baru membuat kita semakin excited dan mungkin akhirnya kita melupakan berkat-berkat kecil ataupun besar yang Tuhan sediakan atas kehidupan kita. Kita menjadi pribadi-pribadi yang cepat sekali mengeluh manakala tidak mendapatkan hal yang kita inginkan. Kita akhirnya menjadi pribadi-pribadi yang begitu apatis, kita jadi pribadi yang egois, kita selalu ingin lebih dan lebih.

Menikmati anugrah Allah di dalam kehidupan bukan berarti bahwa Allah harus selalu memberikan segala hal yang kita minta. Itu sih namanya rakus. Oke kita melihat kembali bahwa ternyata sifat rakus yang dimiliki manusia ternyata sudah ada dari dulu. Kita melihat dihancurkannya menara Babel. Tetapi yang paling dapat kita pelajari dari Perjanjian Lama sendiri adalah bagaimana kisah perjalanan bangsa Israel sekeluar mereka dari tanah Mesir.

Pernah membayangkan berjalan selama 40 tahun? 40 tahun yang dirasakan bangsa Israel dengan begitu lama dan akhirnya dari generasi selama 40 tahun itu, hanya 2 orang dari generasi eksodus itu yang masuk ke tanah perjanjian. Siapa mereka? Kaleb bin Yefune, dari suku Yehuda, dan Yosua bin Nun, yang dipercaya sebagai suksesor dari Musa.

Selama 40 tahun perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir, kita melihat bagaimana pergumulan bangsa itu dengan luar biasa. Tetapi di tengah pergumulan itu ada berkat dan kasih Allah Yehova yang begitu besar di dalam kehidupan mereka. Sekeluar mereka dari Mesir, mereka diberikan tiang awan dan tiang api. Kemudian ketika kelaparan, mereka mendapatkan manna. Ketika mereka haus, Allah menyediakan air. Mereka bosan makan manna, mereka diberikan akanan makanan lain yakni burung.

Kurang apa sih Allah di dalam kehidupan Israel? Kelihatannya Allah ialah Allah yang begitu kejam, sampai memutar-mutar bangsa itu hingga 40 tahun. Tetapi selama 40 tahun itulah ternyata semakin kelihatan seperti apa sikap bangsa Israel terhadap penyertaan Tuhan. Mereka tetap menjadi bangsa yang tegar tengkuk. Mereka tetap ingin kembali ke Mesir. Mereka terngiang oleh memori lama mereka. Mereka gagal melihat bagaimana karya Allah di dalam kehidupan mereka.

Hal ini tidak jauh berbeda dengan masa kini. Memaknai hidup yang berasal dari Allah ternyata merupakan hal yang begitu sulit kita lakukan sebagai seorang Kristen. Bersyukur menjadi suatu hal yang hampir tidak mungkin karena ternyata rasa syukur kita dinilai dari materi. Ketika gadget kita kalah canggih dengan orang lain, kita menggerutu. Ketika kita makan di restoran mahal yang harganya mahal, kita protes. Ketika kita mendapatkan gaji bulanan yang sudah cukup besar, kita masih saja mengeluh karena gaji itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kita.

Mulai terlihat kan persamaan antara kita dengan bangsa Israel? Alih-alih kita bersyukur atas segala hal yang sudah Dia sediakan di dalam kehidupan kita, ternyata kita jauh lebih banyak mengeluh atas kondisi yang kita hadapi. Kita selalu tidak puas dan akhirnya hal itu membuat kita tidak bisa “merayakan” anugrah yang Tuhan berikan atas kehidupan kita. Padahal anugrah yang paling sederhana pun yang dapat kita rasakan: ketika kita masih bisa bernafas; itupun jarang kita syukuri.

Ketika kita mengetahui dan memaknai anugrah Allah, kita dapat menikmatinya dengan suatu sukacita surgawi. Berkat Tuhan itu selalu “more than meets the eye”, yang berarti kita tidak pernah bisa melihat kalau kita tidak belajar untuk hening sejenak, diam dan memaknai betapa besar kasih Allah di dalam kehidupan kita. Kebermaknaan hidup didapatkan ketika kita belajar untuk melihat karya Allah yang bahkan tidak dapat kita lihat secara fisik. Ketika kita tidak dapat melihat berbagai karyaNya, kita perlu belajar untuk meminta dan memaknai anugrah – bahkan sekecil apapun anugrah itu.

Sama seperti kita memaknai lagu, kita bisa belajar dari memaknai anugrah Allah di dalam kehidupan kita. Maksudnya seperti apa? Teman-teman, kalau kita lihat dari lagu-lagu hymn yang ada di buku lagu NKB, PKJ, dan KJ, kesan apa yang teman-teman dapatkan? Jadul? Ya itu jawaban yang paling sering dinyatakan. Tetapi kalau teman-teman melihat ada banyak lagu yang ternyata justru maknanya begitu dalam, begitu indah, begitu menyentuh hati kalau kita memaknainya. Bayangkan contohnya lagu “Bila Kulihat Bintang Gemerlapan”, yang mengungkapkan keagungan karya Allah dan ketakjuban penulis. Pernyataan iman atas keindahan ciptaan yang menggambarkan karya Allah, itulah yang dimaknai penulis lagu ini.

Ungkapan syukur itu akan selalu menghasilkan sesuatu yang positif dalam kehidupan kita. Anugrah itu tersedia atas kehidupan kita. Berbagai proses baik itu menyenangkan ataupun menyakitkan, semuanya sudah dirancang oleh Allah untuk menjadikan kita pribadi-pribadi yang mampu melihat “lebih dari yang dilihat mata”. Artinya kita belajar bukan hanya melihat, tetapi mengapresiasi karya Allah. Mengapresiasi kehidupan yang sudah Ia anugrahkan dan akhirnya kita menyatakan rasa syukur itu melalui kehidupan kita.

Akhirnya ungkapan syukur itu akan menjadi sesuatu yang dapat memberkati banyak orang. Seseorang yang menyadari akan anugrah Allah akan begitu menikmati kehidupan dekat denganNya. Ia akan menikmati momen-momen dimana Kristus ada di dalam kehidupannya, menuntun dia dan terus membuat dia menjadi seseorang yang selalu mengucap syukur.

Saya menutup perenungan ini dengan sebuah kisah dari Joni Earackson Tada. Dia adalah seorang wanita yang begitu cantik. Dia pintar, punya begitu banyak bakat, dan masa depannya terasa begitu cemerlang. Suatu hari, Joni pergi untuk berolahraga di laut. Musibah terjadi di dalam kehidupannya. Joni yang punya begitu banyak cita-cita ternyata tidak sengaja menabrak sebuah karang. Hal ini membuat seluruh badannya dari leher ke bawah mengalami lumpuh.

Dokter pun sudah mengkonfirmasi mengenai kehidupannya. Ia akan mengalami kelumpuhan seumur hidup. Respons Joni? Ia marah pada awalnya, tetapi ia belajar untuk menenangkan diri. Ia akhirnya belajar untuk melihat lebih dari yang dilihat manusia. Ia melihat Allah memanggil Dia untuk berkarya bagi kerajaanNya. Apa itu? Ia akhirnya menjadi seorang penulis buku, di tengah berbagai keterbatasannya. Ia menjadi seorang pengkotbah dan ia mulai belajar menggunakan mulutnya, matanya, seluruh hal yang masih dapat ia gunakan untuk berkarya di dalam kehidupan yang Tuhan percayakan dalam kehidupannya.


Kalau kehidupan kita ternyata masih belum ada di titik yang terendah, atau mungkin teman-teman sedang mengalami hal-hal yang membuat teman-teman gagal untuk melihat karya Tuhan, sekarang saatnya kita belajar untuk melihat lebih dari yang dilihat mata. Ketika Tuhan memberikan berbagai proses hidup, semuanya adalah untuk kebaikan kita. Semuanya adalah untuk membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yang kuat untuk menghadapi berbagai proses kedepan untuk kita dapat hidup. Pertanyaannya, maukah teman-teman belajar memaknainya?

Tuesday, September 9, 2014

Kitab Daniel : Makna Teologis Tentang Penyertaan Allah di Dalam Kehidupan Manusia


Ketika kita membaca kitab Daniel, kisah apa yang paling sering kita dengar? Tidak diragukan lagi bahwa semenjak kita mengikuti sekolah minggu, ada dua kisah yang membuat kita terbengong-bengong sampai mungkin kita hanya dapat menangkap dua kisah ini tanpa membaca kembali kitab Daniel. Dua kisah yang dimaksud adalah: (1) Ketika Sadrakh, Mesakh, dan Abednego akan dilempar ke dalam perapian, tetapi ternyata mereka keluar dengan keadaan tidak terluka. (2) pada saat Daniel dilempar ke lubang singa, tetapi ia berhasil selamat tanpa kekurangan sesuatu apapun.

Kedua kisah ini sering kita dengar dan paling tidak sebagai orang Kristen kita menghafalkannya. Tetapi lebih jauh lagi, kalau kita baca secara teliti, ada hal yang juga menarik di dalam kitab Daniel. Kitab Daniel ini juga menunjukkan satu berita yang begitu menarik. Disini kita melihat mengenai karakter dan penyertaan Allah terhadap bangsa Israel sekalipun mereka berada di tanah pembuangan Babel. Bangsa Yehuda adalah bangsa yang besar, tetapi identitas mereka sebagai sebuah bangsa yang diberkati oleh Allah akhirnya dirasa hilang oleh orang Yehuda karena akhirnya mereka dibuang ke Babel.

Kita melihat di dalam kitab Daniel ada sebuah pola yang menarik, yakni Allah yang selalu akhirnya ditinggikan. Kita melihat kisah mengenai bagaimana raja Nebukadnezar mulai bermimpi dan di seluruh negeri, tidak ada seorang pun yang dapat menjelaskan arti mimpi itu kepada raja. Sampai akhirnya raja mengeluarkan suatu perintah untuk menghabisi orang-orang pintar di negeri itu sebelum akhirnya Daniel keluar sebagai seorang pahlawan. Daniel menjawab dengan tepat sampai akhirnya ia dikaruniai sebuah kedudukan di dalam istana. Kita melihat disini, seorang Nebukadnezar yang terlihat begitu besar dan akhirnya umat Tuhan mulai bergerak, akhirnya ada satu perubahan sikap yang dibalik 180 derajat.

Kisah ini berlanjut di dalam pasal berikutnya mengenai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, yang mana kalau kita baca detailnya, bahkan algojo yang akan memasukkan mereka bertiga ke dalam api pun juga terbakar. Tetapi disinilah ada hal yang dapat kita pelajari: justru di dalam situasi genting seperti inilah Tuhan mau memakai umatNya menjadi satu kemuliaan bagi namaNya. Manakala dunia melihat bahwa yang paling penting adalah kenyamanan di dalam ketidakjelasan akan makna hidup, justru kekristenan menawarkan sebuah kehidupan yang memuliakan Allah.

Berlanjut kepada cerita dimana Daniel dimasukkan ke dalam goa singa. Namun kita lagi-lagi melihat bahwa singa itulah yang menjadi media untuk sebuah doksologi yang dinyatakan oleh Raja Darius, seorang Kafir! Darius yang paling besar, kemudian akhirnya menjadi lemas, dan ada satu doksologi dari orang yang paling besar itu. Artinya bahwa ada perubahan fokus hidup.

Sampai disini biasanya kita sudah hafal kitab Daniel. Tetapi kalau kita melanjutkan di pasal 7, kita membaca ada frasa “Anak Manusia”. Saat ini Daniel-lah yang menjadi lemas, dan ia akhirnya mendapat kelegaan. Apa signifikansi “Anak Manusia”? Sebenarnya ini adalah sebuah gelar mesianik, karena kita dengan jelas dapat membaca seperti apa sih Anak Manusia ini? Kita membaca bahwa “Anak Manusia” ini diberi kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja (Daniel 7:14). Apa maknanya? Yesus juga berkata bahwa Ia adalah “Anak Manusia”, yang berarti bahwa Yesus sendiri menyatakan diriNya sendiri sebagai Allah.

Ya ternyata kita membaca sebuah kitab yang jauh lebih indah bukan? Daniel ini bukan hanya sekedar kita membaca mengenai kisah anak muda yang diberkati. Jauh lebih dalam lagi ada pemaknaan teologis yang cukup mendalam yang seharusnya membuat kita menyadari akan peran kita dan pembelajaran kita sebagai orang Kristen yang perlu terus menerus teguh di dalam kehidupan memperjuangkan kekristenan kita.

Soli Deo Gloria!

Tuesday, April 29, 2014

PA 1 Petrus 1:17-23

Petrus menulis dengan sangat keras disini. Ia mencoba meyakinkan umat untuk memaknai keselamatan yang sudah dikerjakan Allah di dalam kehidupan keseharian kita. Poin penting disini adalah kalimat “Allah tanpa memandang muka”, yang berarti bahwa ini menjadi satu kesadaran bagi kita untuk tidak menyombongkan diri atas apapun yang kita miliki. Allah empunya segalanya, dan karena itulah kita dituntut untuk hidup dalam ketakutan.

Petrus juga menuliskan kata “menumpang”, yang menunjukkan bahwa sebenarnya kita ini bukanlah ‘penduduk asli’ dari dunia ini. Artinya merujuk kepada ayat selanjutnya. Tetapi kata “menumpang” disini menjadi sesuatu yang sangat penting. Bayangkan ketika kita menumpang di rumah orang lain. Apakah kita akan dengan nyaman dan bebas untuk tinggal di dalamnya? Tentu saja tidak! Sama dengan kita, seharusnya kita memiliki sebuah kerinduan untuk kita dapat segera kembali, merindukan suasana rumah. Saat kita menumpang, selalu ada rasa kuatir dan takut akan hal-hal yang akan terjadi.

Implikasi dari hal ini adalah kita selayaknya menjaga kehidupan kita di hadapan Allah. Kita tahu bahwa di dalam kehidupan kita di dunia, segala hal di dalamnya bersifat fana. Suatu saat nanti… Ya! Suatu saat nanti kala kita diijinkan untuk pulang, kembali ke rumah kita yang sesungguhnya, yang sudah Dia sediakan, itulah momen yang paling indah di dalam kehidupan kita.

Petrus melanjutkan dengan kembali menegaskan penebusan sebagai karya Kristus. Segala hal yang ada di dunia ini tidak sebanding dengan darah Yesus. Darah yang tercurah di atas salib, yang membebaskan kita dari dosa. Kita membaca disini bahwa keselamatan itu sama sekali tidak ada campur tangan manusia. Inilah kunci sebenarnya dari kekristenan. Perbedaan antara kekristenan dengan agama / kepercayaan lain di dunia ini adalah penebusan Kristus. Allah yang turun ke dunia melalui Yesus Kristus, merendahkan diriNya sebagai hamba, dan membebaskan dosa manusia. Keselamatan sepenuhnya adalah campur tangan Allah, tidak ada usaha manusia sedikit pun di dalam kita mendapatkan keselamatan.

Petrus menegaskan bahwa tidak ada hal yang lebih indah sebenarnya daripada salib Kristus. Penebusan melalui salib adalah kesempurnaan dari karya keselamatan. Ayat selanjutnya menyatakan bahwa Allah sudah dipilih sejak dunia dijadikan, dan alasan mengapa Dia menyatakan diriNya adalah karena kamu (karena manusia). Ini adalah panggilan bagi setiap kita untuk menghidupi kehidupan yang kudus di dunia.

Ayat selanjutnya memberitakan tentang keselamatan yang satu-satunya berasal dari Allah. Dampak dari kita telah diselamatkan adalah kita dapat memiliki iman dan pengharapan yang tertuju kepada Allah. Artinya bahwa satu-satunya pengharapan di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen adalah karena Kristus sendiri. Ada pengharapan di dalam kehidupan baru yang diberikan oleh Kristus. Ada suatu janji yang harus kita maknai sebagai anugrah.

Dampak dari hidup di dalam anugrah adalah kita dapat melakukan hal-hal di dalam ketaatan kepada Allah. Ketaatan disini terkait dengan kebenaran yang akan Kristus nyatakan, dan ini berlangsung secara terus-menerus di dalam kehidupan kita. Kehidupan yang berpusat kepada Kristus akan membuat kita menjadi pribadi yang memiliki suatu kesungguhan untuk dapat mengasihi sesame kita manusia. Tentu saja hal yang mendasarinya adalah keselamatan, dan itu timbul dari kerinduan hati kita untuk terus menerus takluk kepada firman dan memaknai anugrah hari demi hari.


Kelahiran kembali hanya timbul berdasarkan Firman. Penegasan Petrus disini sangat jelas, bahwa ternyata perbuatan baik kita berasal dari benih, yang adalah Firman. Bagaimana kita bisa mengerti Firman? Allah yang bangkit, Allah yang berkuasa, Allah yang telah memilih kita sejak sebelum dunia dijadikan, Ia lah yang membukakan kepada kita rahasia itu. Iman yang berfokus kepada Allah. Memaknai hal ini seharusnya sebagai orang Kristen kita benar-benar penuh rasa syukur, atas setiap hal kecil apapun yang sudah Yesus kerjakan di dalam kehidupan kita. Ia mengaruniakan Roh Kudus untuk kita dapat hidup seturut dengan kehendak Allah, sekalipun di dunia kita masih tetap dapat memiliki suatu relasi yang intim dengan Allah, dan tidak dapat dipungkiri, semuanya adalah anugrahNya, dan apapun yang kita kerjakan, semuanya adalah untuk kemuliaanNya.

Monday, March 10, 2014

Menikmati Persekutuan Dengan Allah

Seorang teman pernah tanya kepada saya: “bagaimana relasimu dengan Allah?” Saat itu saya belum seorang percaya dan saya menjawab “Hmmm aku kira aku baik-baik aja kok. No problem.” Saat kemudian aku bertobat dan merenungkan jawaban itu, benarkah aku baik-baik saja? Apakah dengan aku berdoa setiap hari (yang mana dulu saya sekolah di sekolah Katolik yang mulai dan selesai pelajaran selalu berdoa) itu berarti relasiku dengan Tuhan sudah menjadi relasi yang baik?

Semakin aku beranjak dewasa, semakin aku belajar untuk merenungkan hal-hal yang sepertinya dulu aku agak acuhkan. Memang pertanyaan itu bukanlah suatu pertanyaan yang hanya sekali ditanyakan kemudian it’s done. Pertanyaan mengenai bagaimana intimasi kita dengan Allah adalah sesuatu yang harus kita gumuli hari demi hari. Kita perlu belajar untuk memiliki keintiman yang begitu erat dengan Bapa, dan setiap harinya kita perlu mengevaluasi hal tersebut. Bukan hanya tiap hari, tetapi setiap saat hal tersebut menjadi sesuatu yang perlu kita gumulkan.

Keintiman dengan Allah dibangun dengan suatu disiplin rohani yang tidak mudah. Starting point dari keintiman dengan Allah adalah bagaimana kita menerima Kristus dengan iman. Ini adalah langkah awal yang tidak mungkin kita lewatkan. Step ini ialah step dimana kita mengijinkan Kristus mengubah kehidupan kita – memunculkan kerinduan kita melalui Roh Kudus untuk mulai mengenal pribadiNya. Pertanyaan yang pas bagi kita adalah “apakah engkau mengasihiKu?” seperti pertanyaan Yesus kepada Petrus. Ini adalah pertanyaan yang memulai segalanya tentang keintiman dengan Allah.

Poin kedua adalah membuka diri untuk menerima Firman Allah. Bagian ini meliputi suatu step dimana Allah membukakan diriNya yang kemudian kita bisa mulai memiliki kegemaran untuk membaca dan merenungkan Firman. Seperti yang sudah dijelaskan, bahwa kerinduan ini tidak akan bisa muncul tanpa adanya suatu pemahaman akan diri sendiri bahwa kita sudah ditebus melalui pengorbanan Kristus. Dampak dari pengorbanan Kristus seharusnya adalah hidup kita semakin diubahkan perlahan melalui Firman.

Perlahan tapi pasti, pemahaman akan Firman akan mulai mengubahkan kehidupan keseharian kita. Menikmati firman bukan hanya masalah kita membaca dan kemudian kita cepat-cepat membaca alkitab sampai kita punya target 1 tahun harus habis. Target tersebut memang baik, tetapi kita perlu ingat bahwa semua pemahaman tentang Kristus dalam kehidupan kita adalah sejauh mana Allah akan membukanya. Maka dari itu sebenarnya hal yang penting bukan masalah kuantitas, tetapi bagaimana kita dapat menikmati makanan rohani yakni Firman Tuhan yang berkualitas tinggi, sekaligus belajar mencernanya sehingga menjadi gizi yang baik bagi kehidupan keseharian kita.

Keintiman kita dengan Kristus akan membuat kita dapat berkata seperti Daud:

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal! (Mazmur 139:13-14)

Ataukah kerinduan Asaf seperti ada di mazmur berikut ini:

Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.  (Mazmur 73:24-25)

Setelah kita menikmati persekutuan dengan Allah melalui Firman, jangan lupa bahwa kita perlu mengakhiri waktu intim kita dengan Tuhan dengan suatu ucapan syukur. Pengucapan syukur bahwa Allah telah berkenan untuk berkata-kata melalui FirmanNya. Kemudian juga kita memohon kepada Tuhan untuk kita dapat melaksanakan dan meneladaniNya. Ini adalah bagian yang seringkali terlewatkan.

Hal yang paling menyenangkan bagi kita adalah ketika kita bisa belajar karakter Kristus. Banyak orang mengenal Tuhan hanya sebatas kognitif namun kehidupannya tidak mencerminkan pengenalannya kepada Allah. Kekristenan bukanlah hanya masalah pemahaman mengenai doktrin (bukan berarti bahwa doktrin bukan sesuatu yang penting!). Kekristenan berbicara mengenai gaya hidup. Hidup kekristenan seperti suatu koin yang punya dua sisi, sisi yang pertama adalah relasi dengan Tuhan dan sisi kedua adalah relasi dengan manusia. Ini juga merupakan gambaran salib. Vertikal – menunjukkan ada suatu relasi dengan Allah, dan horizontal – menunjukkan relasi kita dengan sesama kita. Keduanya diperdamaikan melalui Kristus.


Melalui pemahaman yang benar tentang Allah, kita akan semakin hari makin rindu untuk mengenal Tuhan dan menikmati relasi kita denganNya. Jika kita mulai ‘kering’, mintalah kepada Roh Kudus untuk menimbulkan suatu kerinduan kepada hati kita, sehingga seperti Daud, seperti Asaf, ataupun seperti Paulus yang semakin hari semakin rindu dan menyadari bahwa tanpa Allah kita tidak bisa apa-aoa. Memaknai bahwa tanpa Allah kita tidak dapat melakukan apapun akan membantu kita untuk terus menerus diperbarui dan kita semakin merendahkan di hadapanNya. Semakin kita merasa tidak mampu menghadapi hidup ini sendirian, semakin kita belajar berserah kepadaNya, semakin Allah akan bekerja dengan luar biasa.

Sunday, February 9, 2014

Eksposisi Kolose 1:15-23 - Keutamaan Kristus

Pembukaan surat ini melanjutkan dari sebelumnya, yakni mengenai keutamaan Kristus di dalam hidup orang percaya. Secara gamblang dan lugas Paulus mencoba menjelaskan di ayat 16 tentang siapakah Allah itu. Ia menuliskan bahwa Allah ialah Allah tidak kelihatan. Ini menjadi suatu pemikiran yang cukup abstrak bagi orang-orang yang mencoba untuk mengerti tentang Allah. Karena Allah ialah entitas yang tidak kelihatan bukan berarti bahwa Dia tidak ada. Paulus melanjutkan bahwa Allah lebih utama dari segala yang diciptakan. Ini menjadi suatu doktrin gereja yang sangat jelas. Melalui Yesus Kristus, Allah yang tidak kelihatan itu menjadikan diriNya terlihat oleh manusia. Tetapi sekalipun begitu, Allah tetap ialah yang lebih utama daripada segala sesuatu yang diciptakan, yang berarti bahwa Dia berdaulat penuh atas ciptaan.

Paulus menuliskan hal yang menarik di ayat 16, yakni segala sesuatu yang ada di dunia ini disebabkan oleh Allah (prime cause). Kalau kita lihat kembali ayat ini, bahkan dapat dilihat bahwa Allah mengatur segala hal baik yang besar maupun yang kecil. Tetapi menarik sekali di akhir ayat ini dituliskan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ini berarti bahwa tindakan apapun yang kita kerjakan sebenarnya sudah didaulat oleh Allah. Di dalam kedaulatanNya, Allah mengatur dunia ini sampai kepada level yang paling detail sekalipun.

Ayat-ayat selanjutnya mencoba untuk menjelaskan mengapa Kristus ialah yang terutama. Ayat 17 menjelaskan bahwa Kristus ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Paulus ingin menunjukkan bahwa Kristus ialah pencipta segala sesuatu, yang mana dipertegas dari ayat ini. Ketika sesuatu itu ‘ada’, maka harus ada sesuatu yang membuatnya ‘ada’ (hukum sebab akibat), dan Allah melampaui segala hukum itu. Ia tidak terikat atas hukum sebab akibat, karena Ia adalah yang paling utama (Yohanes 1:1 – Pada mulany adalah FIRMAN). Ia tidak membutuhkan penyebab.

Paulus melanjutkan suratnya dengan mencoba menjelaskan tentang hubungan Kristus dengan jemaat. Kristus ialah kepala tubuh, yang berarti bahwa Ia mengendalikan segala hal. Di kepala ada banyak organ tetapi yang paling signifikan disini ialah bahwa kepala memiliki otak. Kepala juga merupakan sumber kehidupan kita, dan kita disebut disini sebagai “tubuh”.

Jemaat Tuhan disebut Tubuh, yang berarti kita memiliki suatu peran yang harus dikerjakan di dunia ini. Allah yang mempimpin kita, seperti kepala dengan otak yang selalu membuat kita berpikir dan memampukan kita untuk melakukan sesuatu. Otak itu seharusnya menjadi hal yang utama karena melalui otak itulah kita dapat melakukan sesuatu.

Ia adalah yang sulung, yang pertama bangkit… ini menjadi salah satu status kita sebagai orang yang percaya. Ketika Paulus mencoba menuliskan hal ini melalui hikmat Roh Kudus, dengan penuh keyakinan ia berkata bahwa kita pun juga akan mengalami hal yang sama dengan Kristus, saat ia mati di kayu salib. Ada suatu janji kekekalan yang dituliskan disini.

Karena Kristus lebih dahulu mengalami semua hal yang dialami juga oleh manusia, kita boleh yakin dan percaya sebagai anak-anak Allah, kita juga akan mengalami kebangkitan tubuh (seperti yang disebutkan dalam Pengakuan Iman Rasuli). Ini juga membuatnya menjadi suatu entitas yang paling utama dalam segala sesuatu, dan kalau dikaitkan dengan kehidupan anak-anak Allah, yakni orang Kristen, ini berarti suatu pesan yang luar biasa bagi kita. Kita harus yakin bahwa ketika Allah bangkit dan naik ke sorga, kita pun juga akan mengalami hal yang sama.

Seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Kristus, yang mana ini ditunjukkan di dalam injil, dan juga di surat Paulus kepada jemaat di Filipi. Pembahasan tentang kenosis ada di sini, yakni saat Allah mengambil rupa seorang hamba, sampai taat dan mati. Kalau kita melihat juga di ayat 20, lanjutannya ialah bahwa Ia mendamaikan segala sesuatu dengan diriNya. Ini berbicara tentang pendamaian seluruh umat manusia yang percaya kepadaNya di dalam pengorbanan Kristus.

Semuanya sudah diselesaikan oleh pelayanan Kristus, yang mana berakhir di dalam kemegahan salib. Kemegahan sekaligus kehinaan (itulah pandangan manusia). Kemegahan salib itu membuat kehidupan kita dapat diperdamaikan dengan Allah. Ialah sang mediator itu. Ialah yang membuat kita dapat kembali berkomunikasi dengan Allah. Melalui pengorbanan Kristus itulah hidup kita diperbarui, ada suatu relasi yang dipulihkan oleh Kristus.

Kalau kita lihat dari ayat ini, melihat tema utama dari ayat-ayat sebelumnya, kita dapat memahami bahwa melalui surat ini Paulus ingin menunjukkan mengenai begitu besarnya dan utamanya Kristus di dalam setiap karyaNya. Ada beberapa alasan, yakni karena Ia memang Allah. Kedua adalah karena melalui salibNya itulah kita dapat beroleh keselamatan – melalui iman. Pendamaian itu hanya dimungkinkan melalui adanya mediasi, karena tanpa Kristus, kita tidak dapat mengenal siapa Allah.

Ayat 21 dengan sangat jelas memperlihatkan adanya perubahan pola pikir di dalam kita mengenal Allah. Ketika kita mengenal Allah, ada suatu perubahan mendasar, yakni adanya suatu perubahan dari apa yang dianggap oleh diri kita sendiri sebagai suatu kebobrokan, kini menjadi sesuatu yang mulia. Apa maksudnya? Ketika kita mulai mengenal Allah, seharusnya segala hal lain yang menjadi utama di dalam hidup kita sudah meaningless. Hidup yang bermakna ketika kita mengenal Kristus ialah hidup yang berpusat kepada kasih Allah – yang berarti bahwa seluruh hidup kita ialah milikNya.

Perubahan pola pikir tadi akan mempengaruhi tindakan kita terhadap apa yang akan kita perbuat terhadap Allah. Ketika ada perubahan pola pikir, hal yang terjadi ialah kita dimungkinkan untuk berbuat seturut dengan kehendak Allah. Tentunya sesuatu yang benar di hadapan Allah, sesuai dengan standarnya. Motivasi kita di dalam melakukan sesuatu akan mengalami perubahan – dari yang tadinya berpusat kepada kebanggaan diri, menjadi suatu persembahan yang kudus dan berkenan di hadapanNya.

Dampak dari pengorbanan Kristus di kayu salib dapat dilihat pada ayat selanjutnya. Paulus menuliskan bahwa ada suatu pendamaian melalui kematian Kristus. Mengapa Kristus mati? Karena ini konsisten dengan apa yang disebutkan bahwa upah dosa ialah maut. Melalui mediator kita – yakni Kristus, kita mendapatkan sebuah privilege. Melalui pengorbananNya kita dikuduskan di hadapan Allah. Pengudusan hidup melalui kasih Kristus ini menjadi suatu langkah awal dari kelahiran baru.

Paulus menuliskan ada suatu proses pengudusan yang sedang dikerjakan Tuhan atas kehidupan kita. Melalui salib, Paulus menyebutkan, bahwa kita tak bercela dan kudus, dan tak bercacat di hadapan Allah. Ini menjadi satu kabar baik bagi kita. Ya, itulah kekuatan dari salib. Itulah anugrah yang dipersiapkan Allah bagi kita bukan? Dosa yang membuat kita seharusnya menerima upah yakni maut, sekarang telah dihapuskan oleh darahNya yang kudus. Ialah korban sempurna, korban penebusan dosa yang Allah sudah sediakan. Pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah seberapa besar kita memaknai keselamatan yang dikerjakan Allah ini?

Sebagai konklusi dari tema utama Paulus tentang keutamaan Kristus, ia menuliskan bahwa setiap kita harus bertekun di dalam iman. Ada suatu pengharapan yang sedang dan akan digenapi oleh Allah. Pengharapan itu tidaklah sia-sia. Pengharapan ini berasal dari injil yang daripada Allah. Ada suatu janji di dalam kita mengenal dan mengerti tentang keutamaan Kristus. Ketika Kristus mengubahkan hidup kita, kita perlu sadar bahwa pengharapan itulah yang nantinya akan menjadi nyata.

Iman itu akan membawa kita menjadi orang yang tahu dan sadar bahwa anugrah itu bukan hanya untuk kita menjadi orang-orang yang take it for granted. Melalui pemahaman akan kasih Kristus, seharusnya kita bisa berkata seperti Paulus bahwa hidup kita bukan milik kita sendiri, namun hidup kita ialah milik Kristus. Ketika Allah memilih kita, tidak akan pernah Ia meninggalkan kita. Tidak akan pernah Ia menjadi Bapa yang akhirnya menghancurkan hidup kita. Keteguhan kita akan iman kita pun sebenarnya juga berasal dari Dia sendiri.


Apa yang saat ini menjadi hal yang terutama di dalam kehidupan kita? Apakah kita menyadari bahwa kita ialah milikNya dan Ia adalah Allah kita? Kristus ialah yang terutama, dan hanya melalui Dialah, ada suatu hidup baru. Ada suatu pengharapan yang terus membentuk kehidupan kita menjadi semakin serupa denganNya.