Total Pageviews

Showing posts with label grateful. Show all posts
Showing posts with label grateful. Show all posts

Thursday, January 4, 2018

Menyongsong Tahun Baru Penuh Pengharapan



Pendahuluan
Berkat… eh itulah yang selalu kita cari di dalam kehidupan kita. Ketika kita berkuliah, kemudian bekerja, semuanya adalah semata-mata untuk menikmati berkat yang Tuhan sediakan bukan? Ada banyak banget berkat Tuhan dalam hidup kita. Item berkat itu buanyak banget, yang mungkin bisa kita sebut satu per satu. Apalagi kalau kita belajar lihat selama setahun yang lalu. Entah itu kenaikan jabatan, kenaikan kelas, uang dalam jumlah tertentu, kenaikan gaji, bonus akhir tahun, dan sebagainya.

Memaknai Berkat
Berkat itu apa sih sebenernya? Kalau berdasarkan pendahuluan di atas berkat itu kok sepertinya berkaitan banget sama kemakmuran kita yah? Pokoknya sesuatu yang membuat kita happy. Mari kita lihat lebih jauh bahwa ternyata berkat itu jauh lebih besar dan lebih tidak terlihat daripada hal-hal itu. Di setiap momen pengutusan di akhir ibadah, biasanya akan dibacakan ucapan berkat seperti demikian:

Bilangan 6:24-26
(24) TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;
(25) TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
(26) TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.

Kalau kita lihat dari ayat di atas, tidak ada kalimat Tuhan memberkati engkau dengan banyak uang, atau Tuhan memberkati engkau dengan pasangan hidup. Bukan itu! Tuhan menjanjikan bahwa Ia akan menghadapkan wajah-Nya dan memberi damai sejahtera.

Lebih Dari Yang Dilihat Mata
Yes, berkat yang dirasakan oleh bangsa Israel pada masa itu adalah penyertaan Tuhan yang luar biasa. Sekalipun kalau kita baca kitab Keluaran sampai dengan Ulangan, kita akan melihat betapa tidak bersyukurnya bangsa Israel atas keluarnya mereka dari tanah Mesir. Mereka gagal paham akan rencana Tuhan dalam hidup mereka, mereka terus mengeluh dan sangat mudah untuk tidak bersyukur. Padahal Tuhan hadir dalam kehidupan mereka lho. Tuhan yang menuntun di dalam kehidupan mereka mulai dari awal sampai dengan akhir. Seakan mereka lupa akan begitu besarnya karya Allah mulai dari peristiwa Laut Merah, penyertaan TUHAN melalui tiang awan dan tiang api, roti manna yang turun dari sorga, dan sebagainya.

Kalau kita melihat dari peristiwa eksodus bangsa Israel dari Mesir, kita akan melihat bahwa bangsa Israel diperlengkapi dengan begitu banyak berkat yang Tuhan berikan. Tetapi di dalam kecukupan berkat Tuhan itu ternyata mereka gagal untuk memaknainya. Mereka malah ingin kembali ke tanah Mesir, mereka terus menerus meminta lebih dan lebih lagi.

Refleksi inilah yang perlu kita jalani di awal tahun 2018 ini. Layaknya perjalanan hidup bangsa Israel, kita pun hidup di tengah padang gurun. Sebuah tempat yang tidak menentu, sama seperti kehidupan di bumi yang sifatnya hanya sementara ini.

Melihat ke Belakang
Sebelum kita maju kedepan menjalani hari di tahun 2018, mari kita melihat kehidupan kita di tahun 2017 yang lalu. Tentu di tahun 2017 ada banyak peristiwa yang kita alami, dan kita melihat setidaknya bisa diklasifikasikan menjadi 2 peristiwa: peristiwa yang baik dan peristiwa yang buruk. Hal ini senantiasa menjadi sebuah kesempatan buat kita merenungkan berbagai hal yang sudah terjadi. Kita melihat bahwa bahkan kehidupan kita sebagai orang percaya pun tidak lepas dari hal-hal buruk yang senantiasa menimpa kita. Mungkin kematian, kehilangan pekerjaan, berpisah dengan orang tua, harus meninggalkan hal-hal yang membuat kita nyaman, dan sebagainya.

Hal ini membuat kita menyadari bahwa ternyata sebagai orang percaya pun kita mengalami hal-hal yang buruk. Hal ini mungkin akan membawa pertanyaan berikutnya: mana berkat yang Tuhan janjikan untuk senantiasa kita alami itu? Benarkah Tuhan memberikan berkat di dalam setiap pergumulan yang kita hadapi?

Penyertaan-Nya Sempurna
Ketika Tuhan menyertai setiap kita, ada kalanya kita gagal paham terhadap penyertaan-Nya itu. Ketika Tuhan justru memberikan berbagai pergumulan dalam hidup, dan kita merasa bahwa jawaban-Nya berbeda dengan apa yang kita bayangkan.

Kita melihat kisah hidup Nabi Elia, setelah melakukan pembantaian terhadap nabi-nabi Baal, dia dikejar oleh Izebel, dia kabur dan pada akhirnya ia diberikan roti bakar oleh Tuhan. Bukan suatu hal yang mungkin ia bayangkan sebelumnya.

Kita tentu memahami berita alkitab tentang Daud. Ia adalah raja terpilih Israel, yang diurapi. Tetapi kenyataan apa yang ia dapatkan? Ia dikejar-kejar sebelum menjadi raja. Dimanakah penyertaan Tuhan dalam kehidupan Daud?

Itulah sebagian contoh kisah hidup orang-orang yang diberitakan oleh alkitab. Kita melihat bahwa ternyata berjalan bersama Tuhan itu bukan berarti bahwa hidup kita akan berjalan mulus. Tetapi ketika Tuhan telah memilih kita, satu hal yang Ia janjikan adalah damai sejahtera. Itu saja cukup!

Damai sejahtera itu apa sih? Damai sejahtera harus kita maknai sebagai kondisi hati dan pikiran kita. Damai sejahtera itu adalah ketika kita belajar buat melihat karya Allah di dalam seluruh langkah kehidupan kita. Entah itu suka maupun duka, penyertaan Tuhan merupakan sesuatu yang cukup.

Sebuah lagu memiliki lirik sebagai berikut:

Kristus adalah hadiah terbesar bagiku
Dia adalah segalanya yang kupuja
Sekarang tiada hal yang ada di dunia ini
yang dapat memuaskan aku

Melalui setiap pergumulan dalam hidup
Jiwaku akan memujikan
Tak akan aku berbalik karena
Aku sudah bebas dari ikatan dosa

Kristus cukup bagiku
Kristus cukup bagiku
Segalanya yang aku butuhkan
ada di dalam-Mu

Kristus adalah segalanya bagiku
Sukacita di dalam keselamatan yang aku terima
Dan pengharapan ini tidak akan pernah hilang:
Surga adalah rumahku

Di dalam setiap badai hidupku
Jiwaku akan memujikan
Yesus ada di sini
Kemuliaan adalah bagi Allah

Segala yang kita butuhkan ada di dalam Allah! Ya. Segalanya! Pertanyaannya adalah, sudahkah kita menyadari bahwa satu-satunya berkat adalah ketika kita mengenal Kristus dan menyadari akan kehadiran-Nya dalam hidup kita? Itu bukan hal yang mudah, tetapi adalah hal yang membuat kita sadar bahwa Kristus adalah raja atas kehidupan kita.

Menghadapi Tahun 2018
Tantangan baru menunggu di 2018. Berkat Tuhan pun sudah siap pula untuk senantiasa menaungi. Sebuah lagu dari Fanny Crosby mengingatkan kita untuk senantiasa melangkah di dalam kebaikan dan kesetiaan Tuhan

“SUKA DUKA DIPAKAI-NYA UNTUK KEBAIKANKU”

Yes, potongan lirik dari lagu “Di Jalanku Ku Diiring” ini semoga dapat menjadi hal yang mengingatkan kita untuk menghadapi tahun baru 2018 ini dengan senantiasa berserah penuh kepadaNya. Semata-mata karena semua hal yang terjadi dalam kehidupan kita dipakai oleh Tuhan untuk menjadi kemuliaan bagi namaNya.

Soli Deo Gloria!

Sunday, June 21, 2015

Menapaki Hari Bersama Kasih KaruniaNya

Pengantar

Syalom sobat. Lama juga nih nggak nulis lagi. Kali ini temanya adalah tentang sesuatu yang begitu klasik. Tentang kasih karunia. Memang sebuah tema yang sering banget ya kita denger, kita baca dan memang jadi hot issue di dalam perjalanan hidup kita.

Mudah banget untuk kita percaya secara ucapan. Gampang sekali bagi kita untuk kita dapat menangkap kata-kata “Kasih Karunia” secara harafiah. Tetapi ternyata kalau di dalam hidup kita kemudian kita mencoba untuk memaknainya, ternyata kasusnya tidak semudah itu. Ternyata memaknai kasih karunia itu bukan sekedar ketika kita menerima hal baik ataupun hal yang indah dari Tuhan. Hmm, apa maksudnya? Bukankah ketika kita mendapatkan kasih karunia berarti kita menjadi pribadi yang dapat menjalani hidup kita dengan santai? Segala perkara kita akan dimudahkan. Benarkah demikian?

Inti Kehidupan Manusia
Mari kita lihat kerangka kasih karunia dari sebuah sudut pandang seseorang di dalam keresahan hidupnya. Kita coba belajar dari Paulus, khususnya juga dari surat yang ia kirimkan kepada jemaatnya di Korintus. Mari kita baca nas ini dari kitab 2 Korintus 6:1-13.

Oh ya sebelumnya, jemaat Korintus sendiri itu seperti apa sih? Jemaat Korintus adalah jemaat yang berada di dalam sebuah tantangan yang begitu luar biasa. Seperti kita tahu dari buku-buku sejarah, Korintus di jaman itu adalah sebuah kota metropolitan. Kota dengan berbagai fasilitas yang begitu menyenangkan. Dimana-mana ada pelacuran bakti, ada berbagai kegiatan keagamaan yang unik disana.

Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.
(2Korintus 6:1)

Paulus mencoba membuka pasal ini dengan sebuah pemahaman bahwa jemaat Korintus perlu memaknai betul mengenai kasih karunia Allah yang sudah mereka terima.

Bandingkan coba dengan kehidupan keseharian kita. Ditengah kesibukan kita dengan berbagai hal yang menjadi problematika dalam hidup kita. Pernahkah kita merasa lelah ataupun galau atas segala hal yang terjadi atas kehidupan kita. Kita merasa bahwa ada begitu banyak hal yang harus kita kerjakan. Ada berbagai masalah manakala kita kemudian menjadi orang Kristen.

Kita melihat disini Paulus menyatakan bahwa inti/pusat kehidupan kita tidak lain tidak bukan adalah “Kasih Karunia”. Bahwa setiap hal yang terjadi di dalam kehidupan kita dalah kasih karunia. Tidak ada yang lain.

Kesesakan di dalam Kasih Karunia Allah

(2Kor 6:4)  Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa;

Ini adalah cerminan dari realitas hidup manusia manakala dia menerima kasih karunia di dalam kehidupannya. Realitanya bahwa ternyata ketika kita hidup, tidak semua hal kita dapati lancar-lancar saja. Menarik disini bahwa Paulus menyatakan identitas kita sebagai orang Kristen. Apa itu?

“Kami adalah Pelayan Allah” (2Kor 6:4a) dilanjutkan dengan berbagai hal yang mungkin membuat kita kaget manakala selama ini kita meyakini bahwa kasih karunia akan membuat hidup kita lebih mudah. Kita melihat bahwa ternyata kasih karunia itu pada akhirnya akan membuat kita: “menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan, dan kesukaran, dan seterusnya (ada banyak sekali)

Pernah membayangkan bahwa jadi orang Kristen maka hidup kita akan enak, hidup kita akan nyaman, dan sebagainya? Kita melihat bahwa ternyata Kekristenan begitu berbeda dengan apa yang dunia katakan. Makakala dunia berkata bahwa “hidup adalah bagi diri sendiri”, kekristenan meneriakkan bahwa “hidup adalah bagi Kristus”. Fokus hidupnya saja sudah berbeda, apalagi tindakannya. Wah pasti beda sekali.

Menanggapi Tantangan dengan Kasih Karunia

Oke, kita sudah tahu nih betapa dunia ini menawarkan begitu banyak hal menarik yang ternyata kalau kita lihat begitu berbeda dengan hal yang kita percayai. Nah apa yang harus kita kerjakan ketika ternyata hidup menawarkan hal yang begitu berbeda. Jawabannya sebenarnya hanya ada satu sih. Selamat menjalani hidup ini dengan percaya bahwa segala hal yang terjadi di dalam kehidupan kita adalah karena kasih karunia.

Suatu hari ada seseorang bertanya kepadaku: “kak, setelah jadi orang Kristen, aku bukannya tambah enak. Hidupku tambah riweuh. Aku merasa begitu banyak hal yang membuatku bergumul”. Aku menanyakan balik kepadanya: “Kalau dibandingkan dengan begitu banyak hal yang Tuhan berikan dalam hidupmu, kamu melihatnya seperti apa?”

Setiap kita akan dibayangi dengan pertanyaan itu. Tetapi kuncinya ini. Kita sering banget bertanya manakala kita mengalami sesuatu yang kita anggap buruk. Kita seringkali mengeluh terhadap begitu banyak hal yang membuat kita merasa tidak nyaman. Tetapi pernahkah di dalam keluhan kita, kita belajar untuk melihat jauh lebih dalam, mengenai apa yang Ia kerjakan di Kalvari? Pernahkah kita membayangkan bahwa setiap udara yang kita hirup secara gratis, dan kita hembuskan berkali-kali itu adalah ciptaanNya?

Sering tidak kita berkata kepada Allah bahwa kita bosan atas pemberian kasih karunia? Bosankah kita ikut Allah? Bahwasanya ketika Allah menjanjikan bahwa segala rancanganNya adalah rancangan damai sejahtera, ternyata sama sekali tidak ada hal yang membuat damai sejahtera atas hidup kita. Tetapi benarkah demikian? Benarkah bahwa tidak ada damai sejahtera dalam kehidupan kita ketika kita kembali melihat berbagai karya besar yang Allah kerjakan di dalam kehidupan kita?

Kesulitan Hidup Juga Adalah Kasih Karunia

Kita sampai pada bagian akhir dari perenungan ini. Kita sudah melihat bahwa:
1.       Inti hidup orang Kristen adalah kasih karunia
2.       Dalam ranah kasih karunia, ternyata ada begitu banyak hal yang membuat kita tertekan
3.       Bahwa ternyata di dalam hidup kita yang penuh masalah juga ada banyak hal yang dapat kita nikmati, simple tapi meaningful
Ijinkan saya menarik poin keempat, yakni: “segala hal yang terjadi atas hidup kita adalah hal yang dikerjakan Allah untuk kebaikan kita”.

Ada hal baik, ada hal buruk. Tetapi kalau kita belajar seperti Paulus untuk melihat segalanya melalui kacamata kasih karunia, kita akan berbalik dari mencela hidup kita menjadi orang yang begitu bersyukur atas setiap proses hidup yang Tuhan kerjakan atas kehidupan kita.

Seorang bayi tentu jatuh sebelum ia dapat berjalan dengan sempurna
Seorang pelari harus berlatih terlebih dahulu sebelum dia bisa berlari dengan begitu cepat
Seorang pebasket mengalami berbagai kegagalan dalam tembakannya untuk dia dapat memasukkan bola dengan sempurna

Yang mau aku katakana disini adalah seberat apapun ujian hidup yang kita alami, kasih karunia Tuhan itu tetap ada di dalam hidup kita. Terlepas dari begitu banyak hal buruk, yakinlah itu sebagai proses pendewasaan, proses pelatihan kita untuk menghadapi tantangan yang jauh lebih luar biasa.

Tidak pernah ada proses yang sia-sia ketika kita belajar melihat segalanya dari kacamata kasih karunia Allah. Kalau inti hidup kita adalah kasih karunia, mengapa kita berhenti di tengah tantangan kita? Mari melangkah dengan berani untuk menjalani hari-hari dalam hidup kita, untuk kita dapat mengalami kasih karunia itu. Kita belajar untuk terus maju, sekalipun sulit, sekalipun begitu banyak tantangan, tetapi yakinlah bahwa tantangan ada untuk kita dapat semakin hari semakin bergantung kepada Dia.


Soli Deo Gloria!

Monday, May 18, 2015

Menikmati Quality Time BersamaNya

Seketika aku merenungkan pada hari minggu, 17 April 2015 bagaimana cara kita bisa merasa puas terhadap perlakuan atas pasangan kita.

Sebentar, mungkin aku ceritakan kisah sebelumnya. Tanggal 14-16 Mei 2015 aku mengikuti Temu Raya Pemuda GKI 2015 di Surabaya. Event yang mempertemukan seluruh GKI se Indonesia. Banyak teman baru yang aku dapatkan disana.

Tentu saja di dalam event ini aku bertemu dengan sang kekasih hati. Ya, pacarku, Jessica, juga mengikuti event ini. Dengan berbagai kesibukannya di tugas akhir dan tanggung jawabnya sebagai ketua komisi pemuda GKI Kutisari Indah, tentu saja ada banyak sekali tanggung jawab di dalam TRP ini pun dia juga mengkoordinasikan banyak hal.

Kekecewaan sempat terlintas ketika di dalam jiwa ada satu perasaan kurang diperhatikan. Saat aku berusaha untuk mulai berkata-kata padanya, mulai membuka pembicaraan, tetapi akhirnya dia selalu memainkan smartphone-nya. Jadi banyak hal yang mungkin nggak sempat kami bicarakan. Aku merasa cemburu dan kurang diperhatikan saat itu. Sempat aku intip ternyata dia sedang berkoordinasi dengan teman-temannya di GKI Kutisari. Jadi sempat juga aku merasa agak kecewa. Sambutan apa yang telah ia siapkan ketika sang kekasihnya ini datang dari Bogor?

Seluruh rangkaian acara TRP berakhir, dan sampailah aku pada hari Sabtu malam. Aku hanya berharap kalau-kalau dia mulai belajar meletakkan smartphone nya dan menyediakan telinga serta hatinya untuk kami dapat bercerita satu dengan yang lain. Aku sempat berdoa kepada Tuhan di hari Sabtu sorenya, di tengah aku pusing juga karena harus mengatur transportasi untuk teman-teman dari GKI Pengadilan. Berdoa untuk apa? Yah setidaknya ia mencurahkan sedikit perhatiannya buat aku.

Titik balik mungkin aku merasakan ketika pada hari minggu kami bersama. Kami beribadah di GKI Kutisari, dan menyadari kalau waktu pertemuan kami nggak bakal lama. Selain ada berbagai kesibukan, kami pun sempat menyempatkan diri untuk makan. Diluar dugaan di tengah kesibukannya dia menyempatkan diri untuk menemaniku makan siang.

Kami pun berpamitan saat itu dan ketika aku di pesawat, aku mencoba mengevaluasi apa yang sebenarnya terjadi di dalam kehidupan kami selama 4 hari itu. Ternyata aku menemukan ada sesuatu yang begitu luar biasa dengan apa yang Tuhan kerjakan atas kehidupan kami.

Aku melihat bagaimana Allah bekerja melalui kehidupan Jessica. Alih-alih aku berharap untuk dia dapat menemani aku sepanjang hari (dan dia melakukan hal tersebut dengan caranya!) mengapa tidak bersyukur dengan caranya menemani aku? Mengapa aku begitu egois di dalam hubungan kami, tidak melihat bahwa di dalam berbagai kesibukan itu, dia masih sempat menemani aku. Ia selalu berada di sisiku dan aku tidak pernah membayangkannya, betapa sibuknya dia dan betapa dia belajar untuk mengasihi aku di tengah kesibukannya.

Sepanjang perjalanan di pesawat aku cukup terharu mengenai bagaimana Allah mengerjakan begitu banyak hal atas kehidupan kami. Sorenya aku mencoba untuk mengucapkan betapa bersyukurnya aku kepada Allah, karena dia sudah mempersiapkan segalanya dengan baik. Aku bersyukur buat pertemuan kita – dan terlebih bagaimana caranya memberikan waktunya, tenaganya, segala kesibukan untuk dapat bertemu dengan aku dan berbagi denganku di sela-sela waktu kosong saat TRP.

Ketika dia berkata bahwa dia takut kalau justru aku yang kecewa, aku benar-benar ngerasa bahwa aku adalah pribadi yang begitu egois. Ya donk, aku egois karena aku tidak tahu bagaimana dia bergumul dengan segala kesibukannya, dan aku sadar benar bahwa aku belum benar-benar bisa mencapai suatu tingkatan dimana aku bisa memberi yang terbaik. Aku masih harus belajar bahwa cinta itu bukan sekedar kamu bisa menerima segala hal yang baik, tetapi apakah kita bisa kasih yang terbaik buat pasangan kita.

Entah itu waktu kita, tenaga kita, perhatian kita, apa sih yang mau kita berikan buat pasangan kita? Ketika Yesus mencintai kita, Ia telah memberikan segalanya. Ia telah memberikan kita hidupnya. Tetapi menariknya ketika berbicara bagaimana hubungan pernikahan, ia menggambarkannya seperti hubungan Kristus dengan jemaat. Kristus yang memberikan segalanya, sama seperti seorang suami / istri yang memberikan segalanya.


Memang sih kami belum mencapai pada tahapan pernikahan, tetapi sebagai orang Kristen, yang sama-sama bertumbuh di dalam Tuhan, bukankah itu menjadi sebuah hal yang harus kita kerjakan bukan? Maukah kita mulai saat ini belajar mengasihi terlebih dahulu sebelum kita dikasihi? Maukah kita belajar untuk memberikan yang terbaik buat pasangan kita atau rekan kita, menyadari bahwa segalanya adalah dari Allah?

Sunday, March 15, 2015

Menikmati Anugrah Allah

Pernahkah membayangkan bahwa ternyata seluruh hidup kita adalah tentang Allah? Ketika kita makan, ketika kita tidur, ketika kita mengerjakan aktivitas kita, ternyata Allah turut bekerja.

Manusia di tengah berbagai kecanggihan teknologi terkini mulai kehilangan kemanusiaannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebanggaan seseorang saat ini adalah ketika dia punya gadget terbaru. Akhirnya fokus hidupnya hanyalah untuk mengejar hal tersebut.

Berbagai hal dan penemuan baru membuat kita semakin excited dan mungkin akhirnya kita melupakan berkat-berkat kecil ataupun besar yang Tuhan sediakan atas kehidupan kita. Kita menjadi pribadi-pribadi yang cepat sekali mengeluh manakala tidak mendapatkan hal yang kita inginkan. Kita akhirnya menjadi pribadi-pribadi yang begitu apatis, kita jadi pribadi yang egois, kita selalu ingin lebih dan lebih.

Menikmati anugrah Allah di dalam kehidupan bukan berarti bahwa Allah harus selalu memberikan segala hal yang kita minta. Itu sih namanya rakus. Oke kita melihat kembali bahwa ternyata sifat rakus yang dimiliki manusia ternyata sudah ada dari dulu. Kita melihat dihancurkannya menara Babel. Tetapi yang paling dapat kita pelajari dari Perjanjian Lama sendiri adalah bagaimana kisah perjalanan bangsa Israel sekeluar mereka dari tanah Mesir.

Pernah membayangkan berjalan selama 40 tahun? 40 tahun yang dirasakan bangsa Israel dengan begitu lama dan akhirnya dari generasi selama 40 tahun itu, hanya 2 orang dari generasi eksodus itu yang masuk ke tanah perjanjian. Siapa mereka? Kaleb bin Yefune, dari suku Yehuda, dan Yosua bin Nun, yang dipercaya sebagai suksesor dari Musa.

Selama 40 tahun perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir, kita melihat bagaimana pergumulan bangsa itu dengan luar biasa. Tetapi di tengah pergumulan itu ada berkat dan kasih Allah Yehova yang begitu besar di dalam kehidupan mereka. Sekeluar mereka dari Mesir, mereka diberikan tiang awan dan tiang api. Kemudian ketika kelaparan, mereka mendapatkan manna. Ketika mereka haus, Allah menyediakan air. Mereka bosan makan manna, mereka diberikan akanan makanan lain yakni burung.

Kurang apa sih Allah di dalam kehidupan Israel? Kelihatannya Allah ialah Allah yang begitu kejam, sampai memutar-mutar bangsa itu hingga 40 tahun. Tetapi selama 40 tahun itulah ternyata semakin kelihatan seperti apa sikap bangsa Israel terhadap penyertaan Tuhan. Mereka tetap menjadi bangsa yang tegar tengkuk. Mereka tetap ingin kembali ke Mesir. Mereka terngiang oleh memori lama mereka. Mereka gagal melihat bagaimana karya Allah di dalam kehidupan mereka.

Hal ini tidak jauh berbeda dengan masa kini. Memaknai hidup yang berasal dari Allah ternyata merupakan hal yang begitu sulit kita lakukan sebagai seorang Kristen. Bersyukur menjadi suatu hal yang hampir tidak mungkin karena ternyata rasa syukur kita dinilai dari materi. Ketika gadget kita kalah canggih dengan orang lain, kita menggerutu. Ketika kita makan di restoran mahal yang harganya mahal, kita protes. Ketika kita mendapatkan gaji bulanan yang sudah cukup besar, kita masih saja mengeluh karena gaji itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kita.

Mulai terlihat kan persamaan antara kita dengan bangsa Israel? Alih-alih kita bersyukur atas segala hal yang sudah Dia sediakan di dalam kehidupan kita, ternyata kita jauh lebih banyak mengeluh atas kondisi yang kita hadapi. Kita selalu tidak puas dan akhirnya hal itu membuat kita tidak bisa “merayakan” anugrah yang Tuhan berikan atas kehidupan kita. Padahal anugrah yang paling sederhana pun yang dapat kita rasakan: ketika kita masih bisa bernafas; itupun jarang kita syukuri.

Ketika kita mengetahui dan memaknai anugrah Allah, kita dapat menikmatinya dengan suatu sukacita surgawi. Berkat Tuhan itu selalu “more than meets the eye”, yang berarti kita tidak pernah bisa melihat kalau kita tidak belajar untuk hening sejenak, diam dan memaknai betapa besar kasih Allah di dalam kehidupan kita. Kebermaknaan hidup didapatkan ketika kita belajar untuk melihat karya Allah yang bahkan tidak dapat kita lihat secara fisik. Ketika kita tidak dapat melihat berbagai karyaNya, kita perlu belajar untuk meminta dan memaknai anugrah – bahkan sekecil apapun anugrah itu.

Sama seperti kita memaknai lagu, kita bisa belajar dari memaknai anugrah Allah di dalam kehidupan kita. Maksudnya seperti apa? Teman-teman, kalau kita lihat dari lagu-lagu hymn yang ada di buku lagu NKB, PKJ, dan KJ, kesan apa yang teman-teman dapatkan? Jadul? Ya itu jawaban yang paling sering dinyatakan. Tetapi kalau teman-teman melihat ada banyak lagu yang ternyata justru maknanya begitu dalam, begitu indah, begitu menyentuh hati kalau kita memaknainya. Bayangkan contohnya lagu “Bila Kulihat Bintang Gemerlapan”, yang mengungkapkan keagungan karya Allah dan ketakjuban penulis. Pernyataan iman atas keindahan ciptaan yang menggambarkan karya Allah, itulah yang dimaknai penulis lagu ini.

Ungkapan syukur itu akan selalu menghasilkan sesuatu yang positif dalam kehidupan kita. Anugrah itu tersedia atas kehidupan kita. Berbagai proses baik itu menyenangkan ataupun menyakitkan, semuanya sudah dirancang oleh Allah untuk menjadikan kita pribadi-pribadi yang mampu melihat “lebih dari yang dilihat mata”. Artinya kita belajar bukan hanya melihat, tetapi mengapresiasi karya Allah. Mengapresiasi kehidupan yang sudah Ia anugrahkan dan akhirnya kita menyatakan rasa syukur itu melalui kehidupan kita.

Akhirnya ungkapan syukur itu akan menjadi sesuatu yang dapat memberkati banyak orang. Seseorang yang menyadari akan anugrah Allah akan begitu menikmati kehidupan dekat denganNya. Ia akan menikmati momen-momen dimana Kristus ada di dalam kehidupannya, menuntun dia dan terus membuat dia menjadi seseorang yang selalu mengucap syukur.

Saya menutup perenungan ini dengan sebuah kisah dari Joni Earackson Tada. Dia adalah seorang wanita yang begitu cantik. Dia pintar, punya begitu banyak bakat, dan masa depannya terasa begitu cemerlang. Suatu hari, Joni pergi untuk berolahraga di laut. Musibah terjadi di dalam kehidupannya. Joni yang punya begitu banyak cita-cita ternyata tidak sengaja menabrak sebuah karang. Hal ini membuat seluruh badannya dari leher ke bawah mengalami lumpuh.

Dokter pun sudah mengkonfirmasi mengenai kehidupannya. Ia akan mengalami kelumpuhan seumur hidup. Respons Joni? Ia marah pada awalnya, tetapi ia belajar untuk menenangkan diri. Ia akhirnya belajar untuk melihat lebih dari yang dilihat manusia. Ia melihat Allah memanggil Dia untuk berkarya bagi kerajaanNya. Apa itu? Ia akhirnya menjadi seorang penulis buku, di tengah berbagai keterbatasannya. Ia menjadi seorang pengkotbah dan ia mulai belajar menggunakan mulutnya, matanya, seluruh hal yang masih dapat ia gunakan untuk berkarya di dalam kehidupan yang Tuhan percayakan dalam kehidupannya.


Kalau kehidupan kita ternyata masih belum ada di titik yang terendah, atau mungkin teman-teman sedang mengalami hal-hal yang membuat teman-teman gagal untuk melihat karya Tuhan, sekarang saatnya kita belajar untuk melihat lebih dari yang dilihat mata. Ketika Tuhan memberikan berbagai proses hidup, semuanya adalah untuk kebaikan kita. Semuanya adalah untuk membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yang kuat untuk menghadapi berbagai proses kedepan untuk kita dapat hidup. Pertanyaannya, maukah teman-teman belajar memaknainya?