Total Pageviews

Showing posts with label alkitab. Show all posts
Showing posts with label alkitab. Show all posts

Sunday, March 29, 2020

WFH : Work From Heaven


Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
(Mat 6:32)

Isolasi Mandiri
Terasa lama banget lho dua minggu setelah merebaknya wabah COVID-19, apalagi ketika dua minggu harus diam di kamar kost. Biasanya bisa jalan-jalan, setidaknya menikmati kuliner sambil berkeliling, kali ini kalau mau makan harus masak sendiri. Misalkan pakai layanan online pun, pasti ada treatment khusus dulu, misalkan di microwave.

Kebosanan dan kegundahan makin terasa ketika melihat media sosial, dimana di sana banyak sekali berita tentang betapa berbahayanya virus ini. Belum lagi berbagai berita tentang penimbunan alat pelindung diri, masker, begitu pula orang-orang yang mulai melakukan panic buying. Ditambah lagi banyaknya berita hoax yang kalau kita gak bisa verifikasi, membuat kita juga panik.

Ditengah berbagai kepanikan itulah aku merenungkan, kira-kira seperti apa ya kondisi bangsa Israel ketika mereka akan keluar dari Mesir? Kemudian ketika Tuhan memberikan penghukuman bagi bangsa itu, ataukah ketika ada wabah penyakit menyerang, apa sih yang mereka rasakan?

Penyertaan Sepanjang Jaman
Sepanjang kita membaca kitab Kejadian sampai dengan Wahyu, umat Tuhan diperhadapkan dengan berbagai tantangan hidup. Mereka dipimpin keluar dari Mesir melewati berbagai bahaya, belum lagi ketika akan masuk ke tanah Kanaan mereka harus menghadapi perlawanan dari berbagai bangsa. Ketika bangsa itu mulai settle, mereka merasakan peperangan di jaman Hakim-Hakim, maupun jaman Raja-Raja.

Bagaimana dengan jaman Perjanjian Baru? Tidak jauh berbeda, mereka harus menghadapi kekejaman orang Romawi. Kemudian berbagai tantangan juga datang silih berganti. Tetapi di dalamnya kita dapat melihat juga bahwa Tuhan bekerja. Ia bekerja di tengah berbagai tantangan hidup, dan perkataan Tuhan Yesus begitu relevan pada injil Matius 6:25-34.

Yesus mengingatkan kita bahwa penyertaanNya itu tetap nyata di dalam setiap musim kehidupan kita. Pada setiap kejadian luar biasa, maupun biasa, Ia tetap bekerja dan tetap memberikan yang terbaik. Bukan berarti bahwa ketika kita ikut Tuhan kemudian kita kebal. Kita akhirnya menjadi pribadi yang tidak bisa kena sakit penyakit, tetapi kita pun dituntut untuk ambil peran, menampilkan pribadi kita sebagai orang yang sudah mengenal Tuhan.

Ambil Sikap Untuk Jadi Berkat
Ketika kita diminta untuk WFH, percayalah bahwa Bapa kita di sorga juga sedang mengerjakan sesuatu. Ia work from heaven tapi melalui WFH kita, dan itu berarti kita punya tanggung jawab untuk tetap menjadi berkat di tengah berbagai keterbatasan kita. Isolasi diri berarti kita diberikan kesempatan setidaknya untuk melihat lebih teliti, lebih lambat lagi, betapa karyaNya senantiasa nyata di dalam kehidupan kita.

Mari jadikan WFH kita berarti, dan tetap tenang. Kita tetap waspada, tetapi tidak larut dalam berbagai isu dan hoax. Kita tetap mengerjakan bagian kita, dan terus menjadi berkat melalui WFH kita. Bahwasanya melalui setiap tindakan kita, setiap hal yang kita bagikan di media sosial, kiranya itu memberikan suatu pengharapan dalam kehidupan orang lain, sehingga orang lain pun dapat merasakan damai sejahtera yang Tuhan berikan. Mereka dapat merasakan bahwa di dalam WFH kita, Allah Bapa senantiasa juga WFH melalui kita.

Tuhan yang senantiasa memampukan!

Friday, October 27, 2017

Mempertahankan Identitas Hidup

What are you? The god of hammer?” demikianlah pertanyaan Odin kepada Thor manakala ia merasa kesulitan untuk menang melawan Hela di dalam film Thor: Ragnarok. Pertanyaan ini membuat Thor sadar bahwa sumber kekuatannya bukanlah dari sebuah palu, yang hancur, tetapi dari semulanya ia adalah seorang dewa petir (god of thunder). Menarik sekali hal ini untuk kita renungkan karena kita sebagai orang Kristen pun lupa akan identitas kita sebagai warga sorga. Kita seakan-akan kehilangan identitas kita di dalam berbagai rutinitas hidup yang menarik kita dari kasih Bapa dalam hidup kita.

Memegang Teguh Keselamatan
2 Korintus 5:15
Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. 

Berbicara mengenai keselamatan tidak dapat dilepaskan dari bagaimana karya Kristus di dalam kehidupan orang percaya. Kesadaran bahwa keselamatan merupakan anugrah akan mengingatkan diri kita, siapakah sebenarnya kita. Ketika Tuhan telah menyelamatkan kita, kita yang adalah hamba dosa, statusnya diubah menjadi hamba kebenaran (Roma 6:20-23). Hamba kebenaran identik dengan kita menjadi hamba dari kasih karunia.

Hamba kasih karunia berarti kita belajar untuk senantiasa berpegang teguh pada kasih karunia. Kita taat terhadap kasih karunia yang Tuhan berikan – sama seperti ketika seorang hamba takluk terhadap tuannya. Seorang hamba sama sekali tidak punya hak atas hidupnya sendiri. Seorang hamba seumur hidupnya hanyalah menjadi suruhan, yang tidak punya hak apapun kecuali tuannya memberikan hak tersebut.

Itulah mengapa Paulus menuliskan dalam suratnya untuk kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. Kristus yang memberikan kehidupan bagi kita, maka selayaknyalah hidup kita pun dipersembahkan kepada Dia yang empunya kehidupan kita.

Respons Terhadap Kasih Karunia
2 Korintus 5:17
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. 

Menjadi ciptaan baru berarti benar-benar menjadi pribadi yang baru. Kita yang percaya kepada karya keselamatan sudah diberikan sebuah tujuan hidup yang baru. Senantiasa karena kita pun menjadi manusia baru. Paulus mengatakan : “yang lama sudah berlalu”, artinya segala sesuatu yang ada di dalam kehidupan lama kita adalah sesuatu yang harus kita tinggalkan dan tanggalkan di dalam kita menjalani hidup kita sebagai manusia baru.

Menjalani hidup sebagai milikNya berarti kita menjalankan hal-hal yang Tuhan mau kita kerjakan. Ketika hidup kita bukan milik kita sendiri, itu berarti bahwa kita perlu senantiasa belajar untuk memahami kehendak Allah dalam hidup – sembari kita belajar melakukannya. Semata-mata sebagai sebuah ungkapan syukur bahwa Tuhan sudah memberikan segalanya bagi hidup kita. Segalanya? Yes. Segalanya! Tuhan sudah memberikan bahkan hidup-Nya melalui karya Kristus. Selayaknyalah kita belajar juga memberikan segenap hidup kita kepada Dia.

Yang baru sudah datang! Demikianlah kita perlu belajar mengingat identitas baru kita di dalam kita hidup di dunia ini. Identitas yang melekat ini tidak akan dipengaruhi oleh hal lain selain iman percaya kita.

Aplikasi
Ketika Tuhan sudah menjadikan kita manusia baru di dalam Kristus, identitas kita tidak ditentukan dari atribut yang kita gunakan. Seperti di awal, Thor mendefinisikan status dewanya (kalau kita lihat di film-film sebelumnya, hidupnya ditentukan benar-benar oleh Mjolnir, palu yang diberikan Odin kepadanya), dan itu tidak jauh berbeda dengan hidup kita. Kita seringkali diikat oleh atribut-atribut yang ada di dalam kehidupan kita bukan? Entah itu kecerdasan kita, harga diri kita, dan sebagainya.

Ketika sadar bahwa kita ciptaan baru, maka sudah selayaknya kita belajar buat bersyukur atas identitas yang Tuhan karuniakan dalam hidup kita. Melalui identitas itulah kita tidak perlu takut dan ragu dalam menjalani hidup ini. Senantiasa kita belajar untuk bersukacita di dalam Tuhan. Senantiasa kita belajar untuk bersyukur dan tidak kuatir dalam menjalani kehidupan ini.

Hidup kita tidak ditentukan dari setiap atribut yang kita punya. Kita belajar buat percaya bahwa segala hal yang kita punya adalah milik Tuhan, yang sewaktu-waktu dapat diambil. Tetapi status kita sebagai anak-anak Allah merupakan hal yang paling penting. Keselamatan yang Tuhan berikan – itu cukup bagi setiap kita – seperti Paulus yang senantiasa dapat bersyukur atas setiap kelemahan yang ia miliki, sehingga ia dapat memahami perkataan Allah “cukuplah kasih karuniaku”.

Ketika sumber kekuatan kita – entah itu kekayaan kita, keberhasilan kita, jabatan kita, dan setiap hal di dunia ini lenyap, marilah kita senantiasa belajar bahwa satu-satunya sumber kekuatan kita adalah Kristus – yang dinyatakan melalui kehidupan keseharian kita. Kasih karunia Allah itu lebih dari cukup dalam kita dapat menjalani kehidupan ini. Seperti Thor yang kehilangan palunya tetapi dia tetap mengingat identitasnya, marilah kita sebagai anak-anak Allah juga belajar untuk memegang teguh kasih karunia yang sudah Tuhan anugrahkan dalam hidup kita untuk menjalani kehidupan yang penuh tantangan ini

Soli Deo Gloria!

Tuesday, April 19, 2016

Manusia Baru – Keadilan & Kasih Allah

Roma 3:25

Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya.  Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.

Background
Iman, perbuatan, kebajikan, pengorbanan, perbuatan baik, semua itu terasa menjadi sebuah syarat yang mutlak di dalam syarat kita untuk mencapai surga. Seberapa baikkah diriku, seberapa indahkah kehidupanku jika dinilai oleh Dia? Sempat terbesit pertanyaan yang menjadi sebuah pergumulan, bahkan ketika sudah percaya kepada Tuhan Yesus. Sempat muncul keraguan, ketakutan, tanpa adanya suatu kepastian akan keselamatan yang Tuhan beri.

Muncul pula pertanyaan, ketika kita sudah Lahir Baru, mengapa hidup kita sama sekali tidak ada perubahan? Bahwa ternyata setelah kita hidup baru, tidak ada sesuatu yang radikal yang terjadi atas kehidupan kita. Bukankah hal ini menjadi begitu unik? Tetap saja setelah kita dibaptis atau lahir baru, kita sama sekali bukan menjadi manusia baru. Beberapa sharing dari teman-teman saya malah menyebutkan bahwa setelah lahir baru, kehidupan mereka semakin hancur.

Pengamatan tersebut membawa saya (waktu itu) pada suatu kesimpulan, bahwa keselamatan menjadi sesuatu yang take it for granted. Benar sekali, keselamatan itu gratis. Artinya ketika kita sudah menerima Yesus, ya sudah itu sudah cukup.

Sebuah Kenangan Masa Lalu
Memandang ke arah jendela kamar, menikmati dinginnya hujan waktu itu membuat aku hanyut di dalam sebuah kenangan saat aku pertama kali mulai kenal Tuhan Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang memegahkan diri. Begitulah kalimat dari Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, menurut Efesus 2:8-9

Tetapi tidak berhenti sampai disana. Ayat berikutnya jauh lebih mengerikan kalau kita resapi. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan baik yang telah ditentukan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:10) dan ini merupakan sebuah pernyataan Paulus yang seharusnya menjadi tolok ukur setiap tindakan, perkataan, dan perbuatan kita.

Tentu saja ayat-ayat ini membuat kita bersukacita sebagai orang Kristen, tetapi di sisi lain kita juga perlu memahami bahwa ayat-ayat ini mengandung sebuah tanggung jawab besar atas kehidupan kita. Ketika Paulus menyatakan bahwa kita diciptakan dalam Kristus Yesus, itu berarti bahwa di dalam kehidupan kita ada hal-hal yang dipercayakan, dan kita dipanggil untuk melakukan perbuatan baik dan celakanya, itu sudah dipersiapkan Allah.

Sejenak kenangan itu mencuat, dan kembali aku mencoba melihat kembali, benarkah selama hidupku aku menjalani kehidupan yang telah dipercayakan Tuhan melalui setiap tindakanku? Bagaimana kehidupanku ketika aku sendirian di kamar? Bagaimana kehidupanku ketika aku di gereja? Bagaimana, bagaimana, dan bagaimana?

Allah yang Memegang Kendali
Saya yakin dan percaya bahwa kendali atas hidup kita telah dipegang oleh Allah. Itu berarti di dalam hidup kita, kita tidak perlu menjadi kuatir atas apapun. Termasuk juga dosa... tunggu! Apa maksudnya? Apakah benar kita tidak perlu takut akan dosa?

Siapa yang tidak takut atas dosa? Wow, tentu kita takut akan dosa. Ketika kita sedikit saja kompromi terhadap cobaan yang kita hadapi, ternyata dosa itu bisa langsung menguasai kehidupan kita. Kita diminta untuk selalu waspada atas kehidupan kita. Tetapi ini pun menjadi pergumulan yang utama bukan? Bahwa ternyata dalam kehidupan baru yang Tuhan berikan pun kita masih juga terus bergumul atas dosa-dosa kita. Kita ingin mengatasi kuasa dosa itu, tetapi ternyata dalam realitasnya kita dikuasai.

Ketika Paulus berkata bahwa kita ini adalah manusia yang merdeka atas kuasa dosa, saya jadi bertanya apa sebenarnya yang dimaksud Paulus? Buktinya dosa itu masih terus menerus mengintai dan siap menerkam kehidupan kita. Lalu bagaimana?

Akhirnya sampai pada satu kesimpulan, apakah benar Allah memegang kendali atas kehidupan kita? Benarkah bahwa kuasa dosa telah dihancurkan dan Allah telah membebaskan kita dari dosa itu? Atau jangan-jangan betapa kita tidak punya hati nurani maka manakala kita berbuat dosa, kita sama sekali tidak peka, tidak ada penyesalan, justru malah ada sukacita?

Konsep Keadilan – Kasih Melalui Karya Penebusan
Salib menjadi sebuah bukti kasih sekaligus keadilan Allah atas kehidupan manusia. Melalui salib sebenarnya kehidupan kita menjadi kehidupan baru, kehidupan yang berkemenangan. Kehidupan yang dibangkitkan melalui kematian Kristus dan kebangkitanNya. Keadilan Allah ditunjukkan melalui tercurahnya darah Kristus, darah Tuhan yang menyucikan segala dosa kita. Kasih Allah ditunjukkan melalui anugrah melalui kematian Kristus. Ada pihak yang harus menjadi korban, sehingga dosa kita bisa dibebaskan. Ada kehidupan baru yang ditawarkan Kristus.

Balik lagi ke pembahasan kita tentang dosa. Salib menjadi suatu titik tolak perubahan kehidupan kita. Manusia lama menjadi manusia baru hanya bisa dicapai melalui karya salib. Itulah seharusnya yang mengingatkan kita betapa besarnya kuasa dan kasih Allah atas kehidupan kita. Perubahan hidup menjadi nyata manakala kita memandang kepada salib Kristus. Salib yang mana merupakan karya Allah, keadilan dan kasih yang dipertemukan di dalam Kristus Yesus.

Berubah dan Berbuah
Perubahan hidup melalui karya penyelamatan Kristus bukanlah sesuatu yang instan. Kita perlu menyadari bahwa perubahan hidup merupakan proses seumur hidup yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita. Ada kalanya di dalam proses itu kita jatuh, lelah, dan mungkin sampai hampir menyerah atas segala pergumulan yang terjadi di dalam kehidupan kita.

Jadi tidak perlu heran kalau setelah menerima Kristus, maka kita tiba-tiba bertobat secara drastis. Memang ada kasus sedemikian, tetapi selalu ada proses yang kita akan jalani di dalam penyucian kita, yang mana mempersiapkan kita untuk memuliakan Dia seumur hidup kita. Kita perlu menyadari bahwa di dalam Kristus, seperti yang dikatakan Paulus, kita adalah ciptaan baru.

Kuasa dosa sama sekali tidak berkuasa atas kehidupan kita. Kuasa dosa yang menghantarkan kita kepada kematian abadi, telah dihancurkan. Hal itu akan membuat kita menjadi orang-orang yang menyadari bahwa kita manusia berdosa yang membutuhkan kasih karunia Allah. Hal itulah sebenarnya yang membuat kita semakin hari semakin ingin bertumbuh di dalam kasih karunia. Kita punya kepekaan terhadap dosa yang menimpa hidup kita. Kita menjadi pribadi yang sadar betul bahwa kita butuh kasih karunia Allah
Kesadaran itu pula yang akan membuat kita terus bertumbuh dan berbuah di dalam Dia. Pertumbuhan rohani yang kemudian akan menjadikan kita semakin hari semakin indah, sehingga buah pelayanan kita pun dapat dinikmati oleh banyak orang, juga menjadi kemuliaan bagi Tuhan.

Bagaimana dengan kecenderungan dosa kita? Roh Kudus akan membimbing kita, membuat kita menjadi pribadi yang peka dan kuatir atas dosa yang akan kita kerjakan. Kita perlu menyadari akan hal ini sehingga kita memiliki komitmen untuk lari dari pencobaan yang menghadang kita. Saat kita berdosa, jangan pernah untuk sungkan, takut, cemas, untuk datang kepada Bapa. Ia adalah setia dan adil, demikianlah yang dituliskan oleh Yohanes.

Karya Keselamatan dan Perubahan Hidup
Menjadi poin penting bahwa ketika Tuhan sudah menyelamatkan kita, bukan berarti bahwa kita bebas bertindak semau kita. Mungkin kita berpikir: “ah kalau sudah selamat dan pasti masuk surga ya sudah, kita enjoy aja hidup ini”. Apakah begitu?

Kita perlu memikirkan kembali mengenai perubahan hidup. Ketika kita menjadi seorang Kristen, kita menjadi orang yang merdeka. Kemerdekaan atas dosa, tetapi juga kehidupan yang mana Kristus berperan sebagai raja atas kehidupan kita. Bagaimana impelementasinya? Tentu saja kalau kita menyadari bahwa Yesus adalah raja, itu berarti kita menuruti apapun yang Tuhan kerjakan.

Itulah kemerdekaan Kristen yang sejati, kemerdekaan yang berfokus kepada Allah Tritunggal sebagai penguasa hidup kita. Kiranya melalui perenungan singkat ini kita dapat memaknai kembali arti dari hidup baru yang diberikan Kristus, menjadi pribadi yang semakin hari semakin rindu untuk memuji dan memuliakan Dia.


Soli Deo Gloria!

Sunday, September 13, 2015

Kaya Dalam Kasih Karunia

Apa bayangan saudara ketika mendengar mengenai kekayaan? Seperti apa sih sebenarnya kaya itu? Apakah ketika kita bisa memiliki segalanya di dalam hidup ini? Kita punya banyak simpanan deposito, simpanan rumah, simpanan istri (uuppss), dan berbagai simpanan, begitukah yang disebut kaya? Ataukah mungkin bukan berlimpah harta, tapi berlimpah kedudukan. Misalkan kita menjadi presiden dari sebuah negara yang adikuasa, maka kita adalah orang yang kaya?

Redefinisi Kekayaan
Perenungan ini coba kita mulai dengan membaca surat dari Paulus kepada jemaat Korintus, di dalam 2 Korintus 8:1-9. Selagi kita membukanya, mari kita tahu dulu latar belakang jemaat Korintus. Korintus adalah sebuah kota metropolitan di jaman itu, dan kita bisa membayangkan betapa jemaat di dalamnya bukanlah jemaat yang bermasalah tentang keuangan.

Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.
(2Korintus 8:1-2)

Secara jelas Paulus mencoba memberitahu jemaat Korintus mengenai keadaan jemaat Makedonia pada saat itu. Jemaat Makedonia “dicobai dalam pelbagai penderitaan”. Artinya bahwa mereka bukanlah sebuah jemaat yang kaya secara dunia. Kalau menurut definisi di awal artikel ini, jelaslah bahwa jemaat Makedonia bukanlah jemaat yang seperti itu.

Tetapi menarik apa yang dikatakan Paulus kalau kita renungkan. Kita melihat Paulus berkata: “mereka kaya dalam kemurahan”. Apa maksudnya? Bahwasanya kekayaan yang disebutkan Paulus adalah kekayaan dimana justru di dalam kekurangan kita, kita bisa memberikan yang terbaik. Mereka memberi di dalam kemurahan mereka, dan itulah yang Tuhan kehendaki untuk kita kerjakan. Itulah mengapa ketika di dalam perumpamaan tentang janda miskin yang memberikan sepeser uang persembahan, itulah yang berkenan di hadapan Allah.

Bagaimana kita menanggapi hal ini? Kita kembali merenungkan seperti apa sikap kita ketika kita menghadapi berbagai pergumulan di dalam hidup kita. Bukan melulu masalah uang, tetapi ketika kita sedang galau, pertanda yang sering menjadi perhatian adalah kita menjadi orang yang berfokus pada diri sendiri. Sedangkan kita melihat jemaat Makedonia, kita bisa melihat apa yang menjadi fokus hidup mereka bukanlah diri mereka, tetapi kepada orang lain.

Beroleh Kasih Karunia dalam Pelayanan

Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.
(2Korintus 8:3-5)

Paulus melanjutkan suratnya dengan sebuah kesaksian yang begitu menarik. Dikatakan disini bahwa jemaat Makedonia meminta dan mendesak kami (Paulus dan rekan-rekannya) untuk jemaat tersebut dapat melibatkan diri di dalam pelayanan. Bayangkan ketika anda berniat meminta proposal kepada seseorang yang kaya, tetapi ditolak, dan kemudian anda melihat seorang yang biasa-biasa saja tiba-tiba menghampiri anda dan memberikan anda sejumlah uang untuk membantu anda. Demikianlah kehidupan jemaat Makedonia yang diberikan berkat. Mereka memaknai bahwa setiap hal yang sudah Allah sediakan bukanlah untuk mereka nikmati sendiri tetapi dapat menjadi suatu berkat bagi kemuliaanNya.

Manakala merenungkan hal ini, kita diajak untuk memaknai kembali berbagai berkat yang sudah Tuhan berikan di dalm kehidupan kita. Begini lho, rumusNya itu bukan hanya berhenti bahwa ketika kita diberikan sesuatu maka sesuatu itu akan menjadi milik kita. Eits tunggu dulu! Ketika Allah memberikan sesuatu berkat, Allah meminta kita untuk dapat melakukan yang terbaik dari pemberianNya itu.

Bukankah itu yang sering kita lupakan? Kita memohon dan berdoa agar kita diberikan banyak uang tetapi ternyata uang itu kita nikmati sendiri. Kita berdoa agar mendapatkan seorang pacar yang cantik tetapi jadi malas untuk melayani. Kita diberikan berbagai fasilitas oleh Allah di dalam gereja kita tetapi kita tidak mau belajar untuk memaksimalkan setiap pemberian itu. Bukankah hal itu sesuatu yang manusiawi? Benar sih manusiawi, tetapi bukankah itu menjadikan kita sama seperti dunia?

Jemaat Makedonia tahu betul bahwa mereka punya sebuah misi untuk mereka jalani. Disebutkan bahwa mereka “memberikan diri pertama kepada Allah, kemudian kepada kami (Paulus dan rombongannya)”. Dasar dari pelayanan mereka adalah “memberikan diri pertama kepada Allah”, artinya bahwa mereka menyadari bahwa inti dari pelayanan yang mereka kerjakan adalah agar nama Tuhan yang dimuliakan. Tidak berhenti sampai disitu, ada tindakan konkrit yang mereka kerjakan untuk memuliakan Tuhan.

Pelayanan Penuh

Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya. Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, --dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami--demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.
(2Korintus 8:6-7)

Kalau kita baca ayat ini, sebenarnya ini adalah penegasan kembali bagaimana peran jemaat di Makedonia. Kemudian juga disini Paulus menyebutkan bahwa kekayaan kasih itu berasal dari pelayanan yang dikerjakan oleh mereka. Apakah berhenti sampai janji semata? Ternyata tidak. Kita sering sekali membayangkan kalau kita punya banyak uang baru kita mau menyumbang. Kita menunggu punya pekerjaan yang mapan dulu baru kita akan mentraktir. Kita menunggu dapat rejeki dalam jumlah besar baru kita mau memberikan sesuatu.

Apakah itu yang dilakukan jemaat Makedonia? Kita perlu mengingat kembali bahwa kekayaan  itu bukanlah masalah berapa banyak yang kita dapatkan, melainkan kekayaan itu kita rasakan manakala kita merasa cukup atas segala hal yang kita miliki dan kita kerjakan. Tidak berhenti sampai disana. Ketika kita bisa memberikan segala sesuatu, dan kita mengusahakan segala sesuatu untuk memenuhi kebutuhan orang lain, disitulah kita menjadi seseorang yang benar-benar kaya.

Dasar Kekayaan Adalah Teladan Kristus

Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu. Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.
(2Korintus 8:8-9)

Salah satu hal yang paling menarik di dalam pemahaman iman Kristen adalah kita memiliki Allah yang memberikan segalanya sekaligus juga memberikan teladan atas kehidupan kita. Ia tidak sekedar memerintahkan kita melakukan segala sesuatu, tetapi Ia adalah Allah yang solider, yang merasakan juga bagaimana kehidupan sebagai seorang manusia melalui Yesus Kristus.

Menarik disebutkan Paulus disini bahwa jemaat bukan diminta untuk “tahu” mengenai Tuhan Yesus, tetapi kata yang digunakan disini adalah “MENGENAL”. Ilustrasinya seperti ini. Ketika anda memiliki seorang kekasih, anda bukan hanya tahu bahwa dia adalah seseorang yang cantik. Tentu saja anda harus mengenalnya bukan? Hal-hal apa yang ia suka, hal yang tidak ia suka, karakternya seperti apa, dan seterusnya.

Sama juga dengan iman Kristen. Kita tidak sekadar di indoktrinasi di dalam iman kita. Kita bukan hanya membaca alkitab dan tahu isi alkitab tetapi tidak melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Iman Kristen adalah iman yang hidup, yang seharusnya melalui teladan Yesus Kristus kita bisa melakukan tindakan kita sehari-hari seperti yang Ia kerjakan selama ada di dunia.

Ayat ini menyebutkan, bahwa Yesus yang kaya telah menjadi miskin. Paulus mengacu kepada pemahaman bahwa Allah yang mahabesar justru rela turun ke dunia untuk menjadi sama seperti manusia. Allah yang maha tinggi justru menjadi pribadi yang begitu hina sampai kematianNya pun merupakan salah satu penghinaan terbesar. Tetapi justru melalui kematian Kristus itulah keunikan iman Kristen dinyatakan. KebangkitanNya membawa suatu pengharapan, dan dari kehidupanNya selama 3 tahun pelayananNya kita boleh belajar banyak hal bahwa melayani Tuhan itu tidak berhenti di dalam pemahaman saja, tetapi pengenalan pribadi, keintiman pribadi denganNya.

Oleh karena kemiskinanNya, di dalam anugrah terbesar yang sudah Ia kerjakan di dalam kehidupan kita, kita menjadi pribadi yang mampu mengerjakan yang terbaik bagi orang di sekitar kita. Kasih Karunia Tuhan adalah sesuatu yang jauh lebih cukup yang menjadi dasar kita untuk melayani orang lain di sekitar kita. Ketika tindakan kita sehari-hari memaknai karya Kristus, maka orang lain akan merasakan sebuah dampak, sebuah perbedaan bahwa kita telah menjadi anggur yang tercurah bagi kemuliaanNya. Siapkah kita memancarkan manisnya kasih Kristus, anugrah yang tidak terbatas itu?


Soli Deo Gloria!

Sunday, June 21, 2015

Menapaki Hari Bersama Kasih KaruniaNya

Pengantar

Syalom sobat. Lama juga nih nggak nulis lagi. Kali ini temanya adalah tentang sesuatu yang begitu klasik. Tentang kasih karunia. Memang sebuah tema yang sering banget ya kita denger, kita baca dan memang jadi hot issue di dalam perjalanan hidup kita.

Mudah banget untuk kita percaya secara ucapan. Gampang sekali bagi kita untuk kita dapat menangkap kata-kata “Kasih Karunia” secara harafiah. Tetapi ternyata kalau di dalam hidup kita kemudian kita mencoba untuk memaknainya, ternyata kasusnya tidak semudah itu. Ternyata memaknai kasih karunia itu bukan sekedar ketika kita menerima hal baik ataupun hal yang indah dari Tuhan. Hmm, apa maksudnya? Bukankah ketika kita mendapatkan kasih karunia berarti kita menjadi pribadi yang dapat menjalani hidup kita dengan santai? Segala perkara kita akan dimudahkan. Benarkah demikian?

Inti Kehidupan Manusia
Mari kita lihat kerangka kasih karunia dari sebuah sudut pandang seseorang di dalam keresahan hidupnya. Kita coba belajar dari Paulus, khususnya juga dari surat yang ia kirimkan kepada jemaatnya di Korintus. Mari kita baca nas ini dari kitab 2 Korintus 6:1-13.

Oh ya sebelumnya, jemaat Korintus sendiri itu seperti apa sih? Jemaat Korintus adalah jemaat yang berada di dalam sebuah tantangan yang begitu luar biasa. Seperti kita tahu dari buku-buku sejarah, Korintus di jaman itu adalah sebuah kota metropolitan. Kota dengan berbagai fasilitas yang begitu menyenangkan. Dimana-mana ada pelacuran bakti, ada berbagai kegiatan keagamaan yang unik disana.

Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.
(2Korintus 6:1)

Paulus mencoba membuka pasal ini dengan sebuah pemahaman bahwa jemaat Korintus perlu memaknai betul mengenai kasih karunia Allah yang sudah mereka terima.

Bandingkan coba dengan kehidupan keseharian kita. Ditengah kesibukan kita dengan berbagai hal yang menjadi problematika dalam hidup kita. Pernahkah kita merasa lelah ataupun galau atas segala hal yang terjadi atas kehidupan kita. Kita merasa bahwa ada begitu banyak hal yang harus kita kerjakan. Ada berbagai masalah manakala kita kemudian menjadi orang Kristen.

Kita melihat disini Paulus menyatakan bahwa inti/pusat kehidupan kita tidak lain tidak bukan adalah “Kasih Karunia”. Bahwa setiap hal yang terjadi di dalam kehidupan kita dalah kasih karunia. Tidak ada yang lain.

Kesesakan di dalam Kasih Karunia Allah

(2Kor 6:4)  Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa;

Ini adalah cerminan dari realitas hidup manusia manakala dia menerima kasih karunia di dalam kehidupannya. Realitanya bahwa ternyata ketika kita hidup, tidak semua hal kita dapati lancar-lancar saja. Menarik disini bahwa Paulus menyatakan identitas kita sebagai orang Kristen. Apa itu?

“Kami adalah Pelayan Allah” (2Kor 6:4a) dilanjutkan dengan berbagai hal yang mungkin membuat kita kaget manakala selama ini kita meyakini bahwa kasih karunia akan membuat hidup kita lebih mudah. Kita melihat bahwa ternyata kasih karunia itu pada akhirnya akan membuat kita: “menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan, dan kesukaran, dan seterusnya (ada banyak sekali)

Pernah membayangkan bahwa jadi orang Kristen maka hidup kita akan enak, hidup kita akan nyaman, dan sebagainya? Kita melihat bahwa ternyata Kekristenan begitu berbeda dengan apa yang dunia katakan. Makakala dunia berkata bahwa “hidup adalah bagi diri sendiri”, kekristenan meneriakkan bahwa “hidup adalah bagi Kristus”. Fokus hidupnya saja sudah berbeda, apalagi tindakannya. Wah pasti beda sekali.

Menanggapi Tantangan dengan Kasih Karunia

Oke, kita sudah tahu nih betapa dunia ini menawarkan begitu banyak hal menarik yang ternyata kalau kita lihat begitu berbeda dengan hal yang kita percayai. Nah apa yang harus kita kerjakan ketika ternyata hidup menawarkan hal yang begitu berbeda. Jawabannya sebenarnya hanya ada satu sih. Selamat menjalani hidup ini dengan percaya bahwa segala hal yang terjadi di dalam kehidupan kita adalah karena kasih karunia.

Suatu hari ada seseorang bertanya kepadaku: “kak, setelah jadi orang Kristen, aku bukannya tambah enak. Hidupku tambah riweuh. Aku merasa begitu banyak hal yang membuatku bergumul”. Aku menanyakan balik kepadanya: “Kalau dibandingkan dengan begitu banyak hal yang Tuhan berikan dalam hidupmu, kamu melihatnya seperti apa?”

Setiap kita akan dibayangi dengan pertanyaan itu. Tetapi kuncinya ini. Kita sering banget bertanya manakala kita mengalami sesuatu yang kita anggap buruk. Kita seringkali mengeluh terhadap begitu banyak hal yang membuat kita merasa tidak nyaman. Tetapi pernahkah di dalam keluhan kita, kita belajar untuk melihat jauh lebih dalam, mengenai apa yang Ia kerjakan di Kalvari? Pernahkah kita membayangkan bahwa setiap udara yang kita hirup secara gratis, dan kita hembuskan berkali-kali itu adalah ciptaanNya?

Sering tidak kita berkata kepada Allah bahwa kita bosan atas pemberian kasih karunia? Bosankah kita ikut Allah? Bahwasanya ketika Allah menjanjikan bahwa segala rancanganNya adalah rancangan damai sejahtera, ternyata sama sekali tidak ada hal yang membuat damai sejahtera atas hidup kita. Tetapi benarkah demikian? Benarkah bahwa tidak ada damai sejahtera dalam kehidupan kita ketika kita kembali melihat berbagai karya besar yang Allah kerjakan di dalam kehidupan kita?

Kesulitan Hidup Juga Adalah Kasih Karunia

Kita sampai pada bagian akhir dari perenungan ini. Kita sudah melihat bahwa:
1.       Inti hidup orang Kristen adalah kasih karunia
2.       Dalam ranah kasih karunia, ternyata ada begitu banyak hal yang membuat kita tertekan
3.       Bahwa ternyata di dalam hidup kita yang penuh masalah juga ada banyak hal yang dapat kita nikmati, simple tapi meaningful
Ijinkan saya menarik poin keempat, yakni: “segala hal yang terjadi atas hidup kita adalah hal yang dikerjakan Allah untuk kebaikan kita”.

Ada hal baik, ada hal buruk. Tetapi kalau kita belajar seperti Paulus untuk melihat segalanya melalui kacamata kasih karunia, kita akan berbalik dari mencela hidup kita menjadi orang yang begitu bersyukur atas setiap proses hidup yang Tuhan kerjakan atas kehidupan kita.

Seorang bayi tentu jatuh sebelum ia dapat berjalan dengan sempurna
Seorang pelari harus berlatih terlebih dahulu sebelum dia bisa berlari dengan begitu cepat
Seorang pebasket mengalami berbagai kegagalan dalam tembakannya untuk dia dapat memasukkan bola dengan sempurna

Yang mau aku katakana disini adalah seberat apapun ujian hidup yang kita alami, kasih karunia Tuhan itu tetap ada di dalam hidup kita. Terlepas dari begitu banyak hal buruk, yakinlah itu sebagai proses pendewasaan, proses pelatihan kita untuk menghadapi tantangan yang jauh lebih luar biasa.

Tidak pernah ada proses yang sia-sia ketika kita belajar melihat segalanya dari kacamata kasih karunia Allah. Kalau inti hidup kita adalah kasih karunia, mengapa kita berhenti di tengah tantangan kita? Mari melangkah dengan berani untuk menjalani hari-hari dalam hidup kita, untuk kita dapat mengalami kasih karunia itu. Kita belajar untuk terus maju, sekalipun sulit, sekalipun begitu banyak tantangan, tetapi yakinlah bahwa tantangan ada untuk kita dapat semakin hari semakin bergantung kepada Dia.


Soli Deo Gloria!

Friday, May 1, 2015

Hal Kekuatiran

Nas Bacaan: Matius 6:25-34

Kehidupan manusia pada umumnya tidak pernah lepas dari yang namanya kekuatiran. Kekuatiran adalah bagian yang integral di dalam kehidupan. Artinya bahwa setiap manusia di dunia ini pasti punya rasa kuatir di dalam kehidupannya. Terlepas dari berbagai hal yang membuat dirinya aman, selalu ada hal yang membuat dia kuatir.

Kenapa sih sebenarnya kita kuatir? Karena memang ada hal-hal yang nggak sesuai dengan ekspektasi kita. Kita sudah merencanakan misalnya akan menikah di usia 28 tahun, tetapi ternyata di usia ke-27 tahun kita belum mendapatkan seorang calon pendamping hidup. Misalkan lagi ketika kita memutuskan untuk keluar dari pekerjaan kita yang sekarang, kita kuatir akan susah mendapatkan pekerjaan lagi. Ketika kita tidur pun terkadang kita juga kuatir.

Bahkan kalau kita lihat kehidupan orang-orang yang ada di alkitabpun, ternyata tidak sedikit orang yang kuatir atas kehidupannya. Abraham, yang disebut sebagai “bapa orang beriman” pun sempat mengalami kekuatiran di dalam kehidupannya. Kuatir bahwa ia tidak akan memiliki keturunan, kemudian pada saat tanah tempat tinggalnya kering dan ia harus pergi ke Mesir, ia pun kuatir bahwa istrinya akan direbut orang. Beralih ke Perjanjian Baru, ternyata kisahnya pun tidak jauh berbeda dengan Abraham, yakni para rasul. Suatu kali Petrus bertanya kepada Yesus:

"Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" (Matius 19:27)

Bukankah ini adalah suatu pertanyaan yang begitu umum kita ajukan? Sangat mudah bagi kita untuk terjebak bahwa ternyata di dalam kita mengikut Tuhan pun, kita berharap akan imbalan yang akan kita terima.

Mengapa kita merasa seperti ini? Tuhan Yesus pun mengingatkan kepada kita sebelum nas ini.

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Mat 6:24)

Kita tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Maksudnya? Kita selalu punya pilihan untuk kehidupan kita. Kekuatiran pada dasarnya adalah karena kita sama sekali tidak berpegang kepada Allah. Kita berpegang pada sesuatu yang begitu liquid (uang adalah sesuatu yang liquid bukan?). Mamon sendiri berarti uang. Artinya apa? Kita hanya bisa memilih – apakah Allah yang akan kita sembah ataukah kita menjadi hamba dari sesuatu yang liquid?

Okey, kembali pada hal kekuatiran. Kalau kita menyadari bahwa hidup kita ternyata tidak dapat didasarkan pada uang dan harta itu berarti bahwa kehidupan kita harus didasarkan pada pilihan yang satunya.

Mari kita coba lihat Matius 6:26
Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? (Mat 6:26)

Pernahkah kita kemudian menjadi seseorang yang membayangkan: “Enak banget ya jadi seekor burung. Sehari-hari sudah dikasih makan terus sama Tuhan.” Itu sama halnya mungkin kita bayangkan: “Enak banget yak kalau kita nggak usah kuliah, nggak usah kerja, tapi kebutuhan sehari-hari kita terpenuhi semua.”

Pandangan seperti ini bisa menyesatkan kita. Memang benar bahwa burung sama sekali tidak menabur dan menuai tetapi bukan berarti mereka sama sekali tidak berusaha. Artinya bahwa di dunia ini Allah sudah memberikan potensi dimana kita dapat bekerja dan dapat memanfaatkan segala sumber daya. Allah meminta kita untuk berusaha melakukan eksplorasi terhadap dunia yang Ia ciptakan.

Pertanyaan Yesus selanjutnya adalah “Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” Jawabannya sekali lagi: “absolutely YES”. Artinya bahwa memang di dalam kehidupan kita, kita sudah diberikan anugrah yang terindah. Bukan masalah materi, bahkan terkadang kita perlu lihat lagi kehidupan kita, bagaimana kalau sampai saat ini kita masih hidup, kita masih bernafas, kita masih dapat pekerjaan, kita masih bisa kuliah – bukankah semuanya adalah anugrah Allah?

Burung-burung yang ada di udara itu ketika liat kita stress mungkin mereka kaget yah. Mengapa? Tuhan sudah janjikan bahwa kita adalah manusia yang begitu berharga. “Enak bener lho jadi manusia, bahwa mereka punya privilege untuk memanggil Allah itu dengan panggilan Bapa.”

Kita lanjutkan ke ayat-ayat selanjutnya. Matius 6:27 dengan keras Tuhan bertanya:

Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? (Mat 6:27)

Siapa? Tidak seorang pun. Sebentar. Bukankah itu berarti kita tidak boleh kuatir? Bukan. Bukan itu maksud Yesus. Yesus berkata bahwa boleh kita kuatir, tetapi jangan sampai kekuatiran itu akhirnya menguasai hidup kita. Bukankah ada suatu kekuatiran yang positif? Apakah tanpa kekuatiran kita berarti tidak boleh berjaga-jaga? Bukankah Yesus juga berkata bahwa kita harus berjaga-jaga? Betul sekali kalau kita harus berjaga-jaga, tetapi bukan berarti bahwa akhirnya kita menjadi begitu kuatir dan menjadi seseorang yang paranoid. Sepertinya bukan malah menambahkan jalan hidup, kekuatiran yang berlebihan justru akan menjadi sesuatu yang memperpendek usia kita. 

92% orang di Amerika berkata bahwa sebenarnya kekuatiran yang mereka rasakan adalah kekuatiran yang fiktif. Selain itu kalau memang kekuatiran yang kita alami itu terjadi, kita tidak akan bisa melakukan apa-apa bukan? Saya ingat betul pengalaman saya pertama kali menginjakkan kaki saya di pesawat untuk pergi ke Bandung, saya kuatir sekali. Kemudian saat saya akan pergi ke Bogor dari Bandung, saya naik taksi bandara tanpa kenal siapa-siapa dan di mobil itu saya sama sekali tidak bisa tidur. Sebenarnya saya saat itu sudah menjadi Kristen tetapi tanpa sadar ternyata kekuatiran begitu menguasai saya.

Saya membayangkan kalau misalnya pesawat tersebut jatuh, apa yang bisa saya perbuat? Tidak ada. Semua akan terjadi. Bagaimana jika seandainya ternyata sopir taksi itu menculik saya kemudian merampok saya? Apakah kekuatiran saya menyelamatkan saya? Tidak juga bukan?

Karena itulah kemudian ketika saya membaca kembali ayat-ayat ini saya sadar betul bahwa ternyata hidup kita ini dijaga oleh Tuhan. Bukan berarti bahwa ketika kita percaya kepada Tuhan, hidup kita akan menjadi berkelimpahan. Rumusnya tidak begitu. Apakah berarti dengan kita ikut Tuhan maka segala urusan lancar, semua masalah hilang? Tidak juga bukan? Tetapi apakah hidup kita selalu dijaga? Iya betul.

Mungkin ketika kekuatiran itu mulai muncul, kita perlu belajar untuk menyerahkan kekuatiran itu kepada Bapa. Setelah kejadian saya naik pesawat untuk pertama kalinya itu, kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya, di setiap saya naik pesawat, saya selalu tertidur selama perjalanan. Intinya apa? Berdoa dulu deh sebelum naik pesawat, “Tuhan hantarkan saya selamat sampai ke tujuan. Aku tahu bahwa Tuhan adalah Allah yang Mahakuasa dan Engkau yang berkuasa atas pesawat ini, atas pilot, atas cuaca, atas penerbangan ini. Tetapi BIARLAH KEHENDAK-MU YANG JADI DAN BUKAN KEHENDAKKU. Kalau memang Allah berencana bahwasanya ketika pesawat ini jatuh, maka aku tahu bahwa waktuku sudah habis, dan sudah saatnya aku kembali ke pangkuanMu.”

Doa tersebut membuat saya bisa tidur nyenyak ataupun dengan tenang membaca buku di pesawat. Itu semua karena ada satu perasaan tenang dan dijaga oleh Bapa. Bukankah itu keistimewaan kita sebagai orang Kristen, bahwa kita tidak perlu terlalu kuatir atas hidup kita? Bahwa segalanya sudah diatur oleh Bapa, bahwa segalanya sudah diberikan kepada orang yang mengasihiNya, yang terpanggil sesuai dengan rencanaNya? Bukankah itu artinya berserah?

Kalau kita sudah menyadari bahwa segenap kehidupan kita sudah ada yang memegang, kini apa tugas kita?
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33)

Sangat jelas bukan? Carilah dahulu Kerajaan Allah artinya bahwa kalau kita menyibukkan diri kita untuk berpikir tentang uang dan uang, maka kehidupan kita akan dipenuhi oleh kekuatiran. Mau berdiri di fondasi yang liquid atau kita mau bersandar kepada sesuatu dasar yang teguh? Yesus adalah dasar yang teguh itu. Allah menuntut kehidupan total yang dipersembahkan kepadaNya. Ia meminta kita untuk percaya dan terus menerus menyadari akan kebenaranNya. Ia ingin kita untuk percaya sepenuhnya kepadaNya.

Sekali lagi, semuanya itu bukan berarti bahwa hidup kita akan berkelimpahan harta. Allah tidak pernah meminta kita untuk terus menerus memikirkan harta. Perintah di ayat ini jelas bukan? Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka SEMUANYA itu akan ditambahkan kepadamu. Semuanya disini mencakup apa sih? Bahwa penyertaan Tuhan akan selalu menyertai kehidupan kita hari lepas hari. Bahwa segala hal yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita akan membuat kita cukup dan mampu untuk hidup untuk memuliakanNya.

Apakah itu berarti kehidupan kita tanpa pergumulan? Justru pergumulan akan semakin besar, tetapi di dalamnya ada rencana Tuhan, dan pergumulan itulah yang akhirnya membuat kita dewasa di dalam Dia hari lepas hari. Jadi pertanyaannya adalah, kepada siapa kita menyerahkan kehidupan kita? Apakah ada suatu hal yang membuat kita kuatir setelah begitu banyak hal yang sudah Allah kerjakan atas kehidupan kita? Ia telah menyerahkan hal yang paling berharga – AnakNya yang tunggal – untuk kita dapat menerima keselamatan. Ia telah menyediakan begitu banyak berkat atas kehidupan kita. Kasih, sukacita, damai sejahtera… kurang apalagi? Lepaskan pengaruh mamon itu dari dalam kehidupan kita – dan rasakan kasihNya yang diberikan atas hidup kita sampai selama-lamanya.


Soli Deo Gloria