Total Pageviews

Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

Sunday, March 29, 2020

WFH : Work From Heaven


Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
(Mat 6:32)

Isolasi Mandiri
Terasa lama banget lho dua minggu setelah merebaknya wabah COVID-19, apalagi ketika dua minggu harus diam di kamar kost. Biasanya bisa jalan-jalan, setidaknya menikmati kuliner sambil berkeliling, kali ini kalau mau makan harus masak sendiri. Misalkan pakai layanan online pun, pasti ada treatment khusus dulu, misalkan di microwave.

Kebosanan dan kegundahan makin terasa ketika melihat media sosial, dimana di sana banyak sekali berita tentang betapa berbahayanya virus ini. Belum lagi berbagai berita tentang penimbunan alat pelindung diri, masker, begitu pula orang-orang yang mulai melakukan panic buying. Ditambah lagi banyaknya berita hoax yang kalau kita gak bisa verifikasi, membuat kita juga panik.

Ditengah berbagai kepanikan itulah aku merenungkan, kira-kira seperti apa ya kondisi bangsa Israel ketika mereka akan keluar dari Mesir? Kemudian ketika Tuhan memberikan penghukuman bagi bangsa itu, ataukah ketika ada wabah penyakit menyerang, apa sih yang mereka rasakan?

Penyertaan Sepanjang Jaman
Sepanjang kita membaca kitab Kejadian sampai dengan Wahyu, umat Tuhan diperhadapkan dengan berbagai tantangan hidup. Mereka dipimpin keluar dari Mesir melewati berbagai bahaya, belum lagi ketika akan masuk ke tanah Kanaan mereka harus menghadapi perlawanan dari berbagai bangsa. Ketika bangsa itu mulai settle, mereka merasakan peperangan di jaman Hakim-Hakim, maupun jaman Raja-Raja.

Bagaimana dengan jaman Perjanjian Baru? Tidak jauh berbeda, mereka harus menghadapi kekejaman orang Romawi. Kemudian berbagai tantangan juga datang silih berganti. Tetapi di dalamnya kita dapat melihat juga bahwa Tuhan bekerja. Ia bekerja di tengah berbagai tantangan hidup, dan perkataan Tuhan Yesus begitu relevan pada injil Matius 6:25-34.

Yesus mengingatkan kita bahwa penyertaanNya itu tetap nyata di dalam setiap musim kehidupan kita. Pada setiap kejadian luar biasa, maupun biasa, Ia tetap bekerja dan tetap memberikan yang terbaik. Bukan berarti bahwa ketika kita ikut Tuhan kemudian kita kebal. Kita akhirnya menjadi pribadi yang tidak bisa kena sakit penyakit, tetapi kita pun dituntut untuk ambil peran, menampilkan pribadi kita sebagai orang yang sudah mengenal Tuhan.

Ambil Sikap Untuk Jadi Berkat
Ketika kita diminta untuk WFH, percayalah bahwa Bapa kita di sorga juga sedang mengerjakan sesuatu. Ia work from heaven tapi melalui WFH kita, dan itu berarti kita punya tanggung jawab untuk tetap menjadi berkat di tengah berbagai keterbatasan kita. Isolasi diri berarti kita diberikan kesempatan setidaknya untuk melihat lebih teliti, lebih lambat lagi, betapa karyaNya senantiasa nyata di dalam kehidupan kita.

Mari jadikan WFH kita berarti, dan tetap tenang. Kita tetap waspada, tetapi tidak larut dalam berbagai isu dan hoax. Kita tetap mengerjakan bagian kita, dan terus menjadi berkat melalui WFH kita. Bahwasanya melalui setiap tindakan kita, setiap hal yang kita bagikan di media sosial, kiranya itu memberikan suatu pengharapan dalam kehidupan orang lain, sehingga orang lain pun dapat merasakan damai sejahtera yang Tuhan berikan. Mereka dapat merasakan bahwa di dalam WFH kita, Allah Bapa senantiasa juga WFH melalui kita.

Tuhan yang senantiasa memampukan!

Monday, December 7, 2015

Pudarnya Kebenaran -- Sebuah Refleksi

Pendahuluan
Menarik untuk membaca headline akhir-akhir ini, dimana ada satu nama yang mencuat di permukaan publik. Seorang pribadi yang penuh kontroversi, dengan berbagai keunikan yang ada di dalam dirinya. Tak ayal media mulai mengejar dia, menjadikan dia sebagai pusat perhatian. Tak sedikit pula orang-orang disekitarnya mulai “panas”. Siapakah dia? Dia adalah Setya Novanto, ketua DPR Republik Indonesia.

Menarik kalau diperhatikan bahwa ditengah polemik dan kontroversi, muncul pula orang-orang yang mau berjuang mempertahankan kebenaran di negeri ini. Setidaknya saat ini kita bisa melihat perjuangan orang-orang yang anti korupsi, orang-orang yang mau belajar untuk hidup di dalam suatu integritas. Apakah berarti orang-orang tersebut sempurna? Ternyata tidak juga. Tetapi mereka menyadari bahwa kebenaran selalu menemukan jalannya, dan tak lupa pula: ada risiko yang harus diambil manakala sedang memperjuangkan kebenaran.

Siapakah orang-orang dari paragraf kedua ini? Sebut saja (sampai saat ini) Sudirman Said, menteri ESDM RI, kemudian kita bisa melihat orang-orang yang berani untuk menyuarakan kebenaran di tengah ancaman dan berbagai problematika yang membuat mereka bisa saja kehilangan nyawanya untuk membela kepentingan orang banyak. Ada pula orang-orang yang disebut “orang gila” seperti Basuki T.P yang lebih terkenal dengan nama Ahok, yang mau mengubah wajah Indonesia, khususnya Jakarta, menjadi sebuah kota yang jauh lebih baik. Tidak lupa pula ada walikota-walikota yang kita tahu seperti Tri Rismaharini, dan juga Ridwan Kamil yang menjadi orang-orang yang sedang naik daun karena mereka belajar untuk mempertahankan integritas mereka

Money Talks!
Tak bisa dipungkiri bahwa kondisi negeri yang sedang hancur ini (setidaknya menurut sebagian besar orang) membuat kita menjadi pribadi-pribadi yang berpikir praktis. Boro-boro kita berbuat sesuatu yang benar, yang penting aman lah. Pokoknya sudah dapat bagian ya sudah, diam saja. Daripada keamanan keluarga jadi taruhan, nyawa sendiri terancam, lebih baik tetap diam dan menutup mulut.

Kondisi ini pula yang dialami oleh banyak tokoh yang ada di dalam alkitab. Sebut saja nabi-nabi seperti Yeremia, Yesaya, Yohanes Pembaptis, mereka hidup di dalam kondisi seperti ini. Hidup diantara bangsa yang tegar tengkuk. Hidup di antara penguasa yang kuat, yang memiliki kuasa yang jauh lebih besar dibandingkan dengan mereka. Menariknya kabar yang mereka bawa adalah suatu kebenaran yang justru tidak nyaman untuk didengar.

Jaman ini dikuasai oleh segelintir penguasa. Siapa yang punya uang, ialah yang berkuasa. Uang menjadi suatu hal yang bahkan dapat membeli kebenaran itu sendiri. Pokoknya kalau ada duit, semua urusan beres! Akhirnya orang-orang berlomba-lomba untuk mencari kuasa itu.

Expensive Truth
Kebenaran menjadi sesuatu yang begitu mahal pada jaman ini. Kebenaran itu bisa diputarbalikkan dengan berbagai cara. Hari ini menjadi seorang tersangka, karena punya duit bisa saja besok sudah bebas. Begitu pula sebaliknya, yang tidak punya duit akan menjadi orang-orang yang menjadi bulan-bulanan penguasa.

Yohanes Pembaptis mengalami hal ini. Bermaksud baik untuk menasihati Herodes karena merebut istri saudaranya, eh dia harus membayarnya dengan kehilangan kepalanya di tangan Herodes. Kebenaran menjadi sesuatu yang begitu bernilai.

Inilah realitas yang kita hadapi. Hidup di jaman dimana segala sesuatunya bisa dibeli. Orangpun bisa dibeli untuk bersaksi dusta. Kita pun bisa terjebak di dalam satu kondisi dimana kita menjadi orang-orang yang pada akhirnya melakukan hal tersebut. Hal yang paling sederhana adalah kita ‘nembak SIM’, ataupun ketika di tengah jalan kita ditangkap dan menyuap polisi. Ada banyak sekali cara untuk kita dapat ‘menutupi’ kesalahan kita.

A Hope?
Kalau ditengah realitas seperti ini, apa yang harus kita perbuat? Masih relevankah tugas kenabian kita? Peran kita sebagai orang-orang yang takut akan Tuhan seperti apa? Akankah kita larut di dalam kondisi jaman seperti ini, ataukah kita belajar punya suatu pegangan lain?

Bukan suatu hal yang mudah ketika kita ada di dalam posisi Sudirman Said misalkan. Kita akan diperhadapkan pada berbagai tantangan dan ancaman yang akan mengancam keberlangsungan hidup kita. Mungkin bukan hanya kita, tetapi juga orang-orang di sekitar kita. Orang-orang yang kita sayangi, yang mengenal kita. Sangat sulit bagi kita untuk mengambil suatu pilihan yang nantinya akan sangat merugikan kita.

Tetapi menarik disini bahwa kita perlu yakin dan percaya atas kedaulatan dan kebenaran Allah. Ketika Allah memberikan anugrah atas kehidupan kita, tugas kita tidak lain tidak bukan adalah bersaksi.  Bersaksi dan bersaksi, bukan hal yang mudah di tengah realitas dunia seperti ini. Ketika dunia berteriak untuk menenggelamkan kebenaran, kita sebagai orang percaya diberikan tanggung jawab untuk mengungkapkan kebenaran itu.

Ada pengharapan, setidaknya kita bisa memulai dari hal yang terkecil, tanpa melupakan hal-hal besar yang Allah percayakan di dalam kehidupan kita. Tidak perlu menjadi Yohanes Pembaptis, ataupun menjadi seperti Sudirman Said. Cukup menjadi pribadi anda yang mau belajar untuk memuliakan Allah. Maka Allah akan memberikan kekuatan dan berbagai tantangan untuk kita hadapi, tetapi di dalam tantangan itu ada damai sejahtera kepada orang-orang yang mau bersandar teguh pada kasih setiaNya.

Mari belajar menjadi agen perubahan bagi dunia sekitar kita!

Soli Deo Gloria

Sunday, July 21, 2013

Bulan Penuh Kemenangan

Memasuki bulan Juli, saudara-saudara sebangsa dan setanah air memasuki bulan suci menyambut bulan ramadhan. Ya, bulan Juli hingga awal Agustus nanti, rekan-rekan dari agama Islam akan menikmati indahnya ibadah puasa. Indonesia, sebagai salah satu negara Islam terbesar di dunia, tentu juga menikmati ibadah puasa pula. Kaum muslim di Indonesia tentu perlu bersyukur bahwa di Indonesia, rasa toleransi masih sangat terjaga.

Ada beberapa realita yang unik, dan menarik di Indonesia menyambut bulan ramadhan dan masa puasa. Tulisan ini bertujuan untuk setidaknya “rethinking” tentang sebenarnya apa makna puasa itu?

1.       Setiap pagi sekitar pukul 2.30, ada beberapa orang, mulai berteriak-teriak di kompleks rumah saya. Teriakan itu sungguh merdu dan penuh berkah. Ya, apalagi kalau bukan “bangun! Bangun, waktunya sahur!” Entahlah apakah sebenarnya teriakan-teriakan itu perlu? Mari berpikir ulang, bahwa kalau kita perlu dan kita ingin benar-benar “submit to God”, yang menjadi arti dari Islam sendiri, apakah untuk mendekat kepada Allah kita perlu dibangunkan? Apakah arti ibadah itu manakala kita bangun pagi dengan terpaksa? Kalau kita memang belajar untuk mengasihi Allah, bukankah kita akan mempersiapkan segala cara untuk kita dapat bangun pagi? Diantaranya adalah kita pasang alarm, memberitahu keluarga kita, dan sebagainya. Artinya ritual membangunkan ini justru bisa jadi bagi rekan-rekan yang non-muslim menjadi sesuatu yang “ganjil”. Mengapa? Akhirnya Islam dipandang sebagai agama yang penuh dengan keterpaksaan untuk bangun pagi dan hanya mbelani untuk makan.

2.       Di sekitar kompleks rumah saya, ada banyak sekali warung tegal yang biasanya buka dari jam 07:00 hingga 21:00. Bisa dibayangkan betapa ramainya warung tersebut dan begitu berkembang. Namun di tengah bulan puasa, semuanya menutup diri. Semuanya akhirnya buka mulai jam 17:00, menghidangkan menu-menu lezat bagi rekan-rekan beragama Muslim untuk mulai berbuka puasa. Wah nikmatnya! Namun kalau kita amati lagi lebih jauh, sebenarnya pentingkah bagi warung-warung itu untuk menutup diri? Apakah perlu warung-warung itu akhirnya menutup seluruh warungnya dengan kain-kain agar makanan itu menjadi tidak nampak dari luar? Saya hanya membayangkan, “Wah enak sekali kita sangat didukung di dalam puasa!”. Apakah benar? Bukankah inti dari puasa adalah menahan godaan dari luar untuk kita menahan nafsu makan kita, agar kita tidak marah-marah, dan seterusnya. Apakah dengan seluruh makanan tertutup seperti itu, lalu nafsu apa yang harus kita tahan?

3.       Tempat-tempat hiburan tutup pada bulan puasa. Karaoke, pijat plus-plus, diskotik, dan sebagainya ternyata tidak boleh buka. Ada satu berita pula kalau setiap hari selama bulan puasa, aparat rajin melakukan razia terkait dengan tempat-tempat seperti itu. Wow! Apabila saya sebagai orang non-muslim hanya bertanya: “Kalau begitu, apakah selama bukan hari puasa, apabila saya seorang muslim, saya boleh melakukan hal-hal tersebut?” ah sungguh menarik bukan? Pertanyaan yang sama sebenarnya dengan nomor dua tadi, jadi sebenarnya apakah hanya saat bulan puasa saja tempat seperti itu harus ditutup? Ada inkonsistensi disini apabila orang-orang muslim mengatakan bahwa mereka adalah agama yang cinta damai dan toleransi. Apabila seorang muslim mengatakan bahwa mereka adalah agama yang toleran, maka sebenarnya tempat-tempat maksiat seperti itu tidak perlu ditutup. Ingat, ada banyak orang yang memang menjadi penikmat tempat itu, namun sebagai orang Islam yang taat, bukankah kita akan menjadi punya dorongan yang kuat untuk menahan godaan itu? Konsisten melakukan sholat dan dzikir, maka sebenarnya bisa kok hal-hal tersebut dilalui. Jadi bukan hanya pada saat puasa, lalu setelah puasa kita jadi salah satu dari penikmat-penikmat tempat-tempat seperti itu, bukankah itu tidak konsisten? Ayo belajar pelihara konsistensi kita. Bukankah internal hati kita itu jauh lebih penting daripada kondisi di sekitar kita?
Saya percaya bahwa puasa memang tidak dapat menghalangi kita untuk melakukan hal-hal yang buruk, tetapi bayangkan saja, kita bisa jadi orang-orang yang justru membohongi diri kita sendiri dengan inkonsistensi dalam tindakan kita. Kita bilang bahwa kita puasa, tapi realitanya mungkin kita sedih juga kalau tidak bisa karaoke, dan sebagainya.

Saat ini cukup saya memaparkan 3 realita tersebut, dan saya mencoba mengkaji kembali, apa sebenarnya arti toleransi? Toleransi itu seperti semboyan negara kita yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”, yaitu justru di dalam suatu perbedaan suku, agama, dan ras, kita boleh semakin hari makin bertumbuh di dalam kecintaan kita terhadap tanah air. Artinya apa? Sebagai bangsa Indonesia, kita sering dengar istilah “Hormatilah orang yang berpuasa”, dan saya mau menawarkan kepada rekan-rekan sebangsa dan setanah air, bagaimana jika semboyan itu menjadi “Hormatilah orang yang tidak berpuasa”? bagaimana menurut rekan-rekan? Menurut saya itu jauh lebih menunjukkan indahnya Islam, sebagai sebuah agama yang memiliki toleransi.


Saya hidup di Bogor, dan saya tak tahu apa yang dialami di daerah-daerah sekitar Indonesia. Saya sedih melihat realita bangsa yang “bhinneka tunggal ika” ini saat ini ingin dihancurkan oleh beberapa oknum yang menamakan dirinya “Islam”, namun sama sekali tidak mencerminkan sifat-sifat atau atribut yang dimiliki seorang Islam. Saya percaya bahwa realita ini tentu perlu dikaji ulang, serta kita sebagai bangsa perlu berpikir tentang hal-hal seperti ini, bahwa ternyata realita bangsa Indonesia adalah bangsa yang penuh dengan diversity. Jangan sampai diversity menjadi sesuatu yang menghancurkan, namun justru jadi satu kesempatan untuk belajar saling menopang sebagai orang-orang Indonesia. Warga negara Indonesia! Salam!

Friday, February 8, 2013

L.O.V.E – Renungan Tentang Relasi dan Pacaran



Suatu relasi yang dibentuk Allah dari awalnya merupakan relasi yang sangat intim. Berita penciptaan di kitab Kejadian, dimulai dari penciptaan seluruh dunia dan penciptaan manusia, laki-laki dan perempuan, menunjukkan bahwa ada suatu relasi yang ingin dibentuk Allah antara Dia, manusia laki-laki, dan perempuan. Ketiganya saling terikat di dalam suatu relasi, yang mana Allah sendiri yang memimpin relasi tersebut. Tetap saja sekalipun seorang laki-laki diberikan role untuk memimpin (take the lead), tetap ia punya kewajiban untuk membawa keluarga itu di dalam Allah.

Namun tetap sebelum pernikahan terjadi, ada suatu proses yang biasanya membuat galau. Proses itu adalah proses pacaran. Sekalipun saya sendiri belum pernah (setidaknya sampai saat ini) pacaran, tetapi tidak ada salahnya share beberapa prinsip saya sendiri. Tentunya prinsip ini tidak bisa disamakan dan berbeda antara setiap orang. Tiap orang punya preferensi sendiri di dalam relasi seperti ini. Prinsip ini tidak mutlak, dan setiap orang bisa punya variasi sendiri untuk mengembangkannya. Ada beberapa prinsip yang saya ambil pula dari buku-buku tentang relasi seperti Boy Meets Girl, I Kissed Dating Goodbye, Love is A Decision, When God Writes Your Love Story, When Dreams Come True, dan sebagainya.

Prinsip pertama: “tidak ada tembak-menembak langsung, namun dimulai dengan pergumulan dan doa”. Sungguh aneh bukan? Namun ini prinsip yang menurutku penting. Mengapa? Karena ini memberi kita kesempatan untuk saling mendoakan. Definisi tembak-menembak disini adalah direct asking dan direct answer tanpa adanya proses pergumulan. Jadi tidak mungkin baru kenal 1 bulan setelah itu pacaran, tetapi dimulai dari sesuatu yang paling sederhana. Quality time dengan bercakap-cakap dan saling kenal satu sama lain.

Prinsip kedua: “Saling melayani di dalam relasi sekaligus belajar memuliakan Tuhan melalui relasi”. Tentu saja untuk prinsip ini sudah jelas, pasangan hidup kita adalah orang yang belajar untuk mau bergumul di hadapan Tuhan, bahkan mengutamakan Tuhan daripada calon pasangannya. Ini mungkin bagi saya sendiri pun cukup berat, tetapi justru inilah saya belajar untuk melihat bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan sendiri, dan Ia yang akan memberikannya di waktu yang tepat dan momen yang tepat.

Prinsip ketiga: “No compromise”. Singkat, dan saya definisikan di dalam konteks cara pacaran. Ada banyak orang di dalam relasi pacaran mulai berkompromi di dalam menggunakan nafsu mereka. Saya belajar untuk tidak melakukan hal-hal yang dirasa tidak benar. Prinsipnya mudah: apa yang berani saya lakukan di depan orang lain, itu pula yang akan saya lakukan pada saat kita berdua saja. Hal ini akan dibahas nanti tentunya kalau sudah berpacaran. Tentunya standar tiap orang bisa berbeda satu sama lain.

Prinsip keempat: “Belajar saling terbuka”. Keterbukaan sangat penting di dalam relasi untuk bisa membangun percaya satu sama lain. Keterbukaan ini bukan hanya share tentang kegembiraan. Keterbukaan ini adalah belajar jujur atas masalah kita, tentang pergumulan kita, dan tentang apa yang kita alami.

Prinsip kelima: “PH saya adalah sahabat terbaik saya”. Mungkin agak heran di tengah jaman ini, yaitu banyak pernyataan “SAHABAT KITA TIDAK MUNGKIN JADI PASANGAN HIDUP KITA” atau kalau bisa jangan. Mengapa? Karena kita takut bahwa setiap kelemahan kita akan jadi senjata bagi dia untuk menyerang kita. Bisa-bisa dia mengkhianati relasi karena tahu kita ini orang seperti apa. Itulah ketakutan dunia tentang sahabat. Menurut saya seorang sahabat itu sebenarnya adalah orang yang paling potensial untuk kita pergumulkan menjadi seorang pasangan hidup. Hal ini karena hubungan pacaran kita akan berlanjut ke pernikahan. Bayangkan kita punya suami / istri yang mana kita tidak bisa sharing tentang permasalahan kita, kemudian sharing ke temannya yang lain! Tidakkah kita seharusnya sadar bahwa rumah kita nanti adalah tempat yang paling aman untuk kita bisa cerita. Tentu saja konteks sahabat disini yang lawan jenis, bukan sesama jenis!

Prinsip keenam: “Mengakui bahwa Allah berdaulat atas relasi kita”. Di dalam masa pergumulan jawabannya bisa saja “TIDAK” atau “BELUM” namun justru di situlah kita harus belajar untuk mengakui kedaulatan Allah di dalam relasi kita. Siapa tahu memang Allah belum memberikan kita pasangan hidup karena kita belum memiliki relasi yang dekat dengan Dia, atau berbagai hal lain. Tentunya kita harus belajar menghormati Allah.

Prinsip ketujuh: “Libatkan beberapa orang yang kredibel dalam hubungan”. Sahabat-sahabat dan teman dekat akan sangat membantu kita untuk dapat memandang dengan lebih obyektif. “CINTA ITU BUTA”, well, itulah yang disampaikan oleh orang-orang saat ini. Mengutip Rev. Bagoes Seta: “Love is Blind, but Marriage is the Eye Opener”. Saya sangat setuju dengan pernyataan tersebut. Karena itu peran teman-teman kita bukan untuk melihat kelemahan untuk menjatuhkan, namun untuk mempersiapkan setiap kita untuk dapat membangun relasi yang baik dengan calon PH kita sehingga kita tidak dibutakan oleh cinta. Bukan hanya sahabat tentunya. Orang tua pun juga harus kita libatkan di dalam relasi. Bahkan orang tua saya menanyakan : “kapan nih bisa liat calon mantu?” bukan berarti kita terburu-buru, namun kita menghargai dan membagikan kisah kita juga kepada orang tua, apalagi orang tua kita adalah orang yang takut akan Tuhan.

Prinsip kedelapan: “Menjadi seorang single yang berkualitas”. Latih diri sebaik mungkin untuk kemuliaan Tuhan, adalah salah satu langkah konkrit dalam hidup kita. Menjadi seorang laki-laki dan perempuan yang belajar menghormati Tuhan melalui pembacaan firman, berdoa, pergumulan pribadi, dan tindakan serta pelayanan. Motivasi utamanya bukan agar diberikan pasangan hidup, tetapi untuk terus belajar yakin bahwa cinta kita kepada Tuhan itu jauh lebih penting dan indah, dan itulah yang mau kita bagikan kepada pasangan kita.

Delapan prinsip ini yang saya pegang sampai saat ini. Memang ada minor principle, namun intinya satu: relasi itu kita bangun karena kita punya visi yang sama: yaitu memuliakan Tuhan di dalam setiap kondisi. Itulah yang indah dari janji pernikahan yang diucapkan pada saat pernikahan.

Selamat belajar memiliki cinta sejati di dalam Tuhan

Soli Deo Gloria

Thursday, January 10, 2013

Hidup Yang Bermakna


Sesuatu yang paling esensial di dalam kehidupan adalah bagaimana kita memiliki kehidupan yang bermakna. Perlu diingat bahwa kalau berbicara tentang makna hidup, kita tidak dapat lepas dari pemberi makna. Mau tidak mau, kehidupan kita dibatasi oleh apa yang disebut sebagai “WAKTU”. Ya, waktu inilah yang membatasi seluruh realitas kehidupan, dan waktu ini tidak pernah berhenti.

Hidup yang bermakna adalah cara hidup yang belajar untuk melihat hidup dari perspektif masa depan. Kalau dulu sewaktu menjadi mahasiswa, biasanya dijelaskan tentang apa itu visi dan bagaimana cara mencapai visi tersebut melalui misi dan sebagainya. Visi adalah gambaran masa depan yang ingin kita capai.

Kehidupan yang bermakna bisa kita jalani, salah satunya adalah dengan membuat obituari. Coba kita baca Kejadian 5:21-24. Ayat-ayat ini ada di dalam konteks penjelasan tentang silsilah keluarga Adam. Apa yang menarik disini adalah bagaimana kehidupan yang dijalani oleh Henokh yang benar-benar berbeda dengan kehidupan yang dimiliki oleh nenek-nenek moyangnya.

Mari coba kita bayangkan tentang kehidupan kita. Penulis kitab Kejadian menuliskan obituari yang dimiliki oleh Henokh dengan sangat sederhana:

Setelah Henokh hidup enam puluh lima tahun, ia memperanakkan Metusalah. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, setelah ia memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Henokh mencapai umur tiga ratus enam puluh lima tahun. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.
(Kejadian 5:21-24)

Bagaimana kita akan menuliskan obituari kita masing-masing? Apakah kita mau menjadi orang-orang yang berbeda dengan generasi kita kebanyakan? Kalau kita lihat apa yang membuat Henokh berbeda adalah dia hidup BERGAUL DENGAN ALLAH. Usia Henokh, kalau kita lihat, juga tidak terlalu panjang, hanya sekitar 1/3 dari orang-orang yang ada di jamannya (365 tahun).

Apakah yang dimaksud bergaul dengan Tuhan? Perlu kita pahami dan sadari bahwa seluruh kehidupan kita ditentukan oleh relasi kita dengan Tuhan. Kehidupan yang meaningful adalah kehidupan yang dekat dengan sang pemberi meaning itu sendiri. Kehidupan yang meaningful adalah kehidupan yang tahu tentang tujuan hidup dan belajar untuk mencapai tujuan tersebut.

Bayangkan kita berdiri di depan obituary kita, kira-kira seperti apa kita ingin dikenal? Obituari tidak pernah menuliskan tentang berapa banyak harta kita, berapa tinggi sekolah kita, berapa uang yang kita miliki, berapa perusahaan yang kita miliki. Obituary itu suatu kalimat yang sangat singkat, dan penulis kitab Kejadian pun hanya menuliskan obituari Henokh hanya di dalam 4 ayat. Kalau kehidupan kita dirangkum di dalam 4 ayat seperti Henokh, apa yang mau kita tuliskan? Seberapa serius kita akan menjalani kehidupan kalau kita tahu bahwa kehidupan ini tidak sepanjang yang kita bayangkan?

Kiranya kita bisa mulai kembali menata hidup kita. Kalau kita ingin kedepan kita akan dianggap sebagai orang yang seperti apa, mari mulai dari sekarang. Kehidupan yang bermakna adalah kehidupan yang belajar untuk mengerti apa yang Tuhan inginkan di dalam kehidupan kita dan apa yang harus kita kerjakan seturut dengan kehendakNya.

Soli DEO Gloria

Sunday, December 23, 2012

Survey for internet user

Dear all,
I need help for a survey for the internet user in Indonesia and around the world

Please follow this link:
http://www.idsurvei.com/survei/pqmz1092

Thank you
Best regards

Monday, December 17, 2012

Life is Grace - Menghidupi Sola Gratia dan Sola Fide


Istilah Sola Gratia, dikenal oleh banyak sekali orang Kristen. Sola gratia – hanya oleh anugrah – merupakan doktrin yang sangat mendasar di dalam iman Kristen. Sola gratia tidak dapat dilepaskan dari sola fide dan sola scriptura. Beberapa orang mengatakan bahwa istilah sola fide sudah tidak ada lagi, artinya bahwa iman kita kepada Tuhan tidak cukup untuk menyelamatkan kita dan membawa kita masuk ke dalam keselamatan yang dijanjikan oleh Allah.

Sola gratia merupakan salah satu doktrin mendasar – yang mana doktrin ini mendasari kehidupan orang Kristen. Orang Kristen yang menanggapi doktrin ini seumur hidupnya akan merasa bahwa hidupnya saat ini hanyalah ditopang oleh kasih Allah semata-mata. Dalam pemahaman tersebut, apapun yang dilakukan oleh orang tersebut seharusnya didasarkan pada kasih Allah di dalam kehidupannya.

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri (Efesus 2:8-9).

Ayat ini mendasari bahwa kehidupan orang percaya didasarkan kepada kasih karunia semata. Akibatnya ada pada ayatnya yang ke-10 yaitu : Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:10) di dalam pemahaman inilah sebenarnya kehidupan manusia harus didasarkan di dalam pemahaman bahwa seluruh hidupnya sudah diatur oleh Allah. Allah sudah merencanakan sebelum dunia dijadikan pun bahwa seluruh umat pilihanNya melakukan pekerjaan baik.

Problematika yang dihadapi saat ini adalah bagaimana orang-orang mulai menganggap bahwa doktrin sola fide adalah sesuatu yang kuno. Keselamatan hanya oleh anugrah di dalam Kristus Yesus dirasa terlalu “mudah” karena semua orang hanya tinggal percaya dan kemudian semuanya akan baik-baik saja. Seseorang dengan mudah mengatakan bahwa pada saat ia sudah percaya, maka ia akan beroleh hidup kekal sementara orang tersebut lupa bahwa ketika sudah mengakui Yesus sebagai satu-satunya juruselamat maka tindak tanduknya pun seharusnya mencerminkan imannya kepada Yesus. Saat ini orang-orang lebih suka bahwa mereka dapat berbangga atas kebaikan dan kesucian pribadi mereka dan dengan itu mereka merasa bahwa mereka layak untuk masuk surga.

Bagaimana kita dapat memaknai hidup oleh anugrah Allah seperti ini? Paulus dengan sangat indah menuliskan doktrin ini di kitab Roma. Kitab Roma merupakan salah satu surat Paulus yang paling sistematis, karena mencakup seluruh realitas hidup manusia secara Christian Worldview. Surat Paulus kepada Jemaat di Roma mencakup seluruh doktrin mulai dari penciptaan, kejatuhan manusia di dalam dosa, ketidakmampuan manusia untuk menyelamatkan dirinya sendiri, karya penebusan oleh Yesus Kristus dan sampai akhirnya menghidupi keselamatan di dalam Kristus.

Nah, kalau sola fide tidak berlaku, maka sebenarnya sola gratia tidak pernah akan ada. Kita  dibenarkan karena iman kita kepada Tuhan, dan anugrah itu diberikan secara cuma-cuma (namanya saja anugrah). Sola fide dipahami di dalam konteks bahwa semua yang kita lakukan berdasarkan atas apa yang Allah kerjakan di dalam kehidupan kita yang memampukan kita untuk berbuat sesuatu yang benar. Tanpa ada penebusan Kristus di kayu salib, nonsense kalau kita dapat berbuat baik, karena standar untuk berbuat baik pun kita tidak pernah tahu. Sola fide bukan berarti kita hanya beriman dan ngomong tok, tetapi justru iman kita diwujudkan dengan perbuatan baik kita, bukan sebagai syarat untuk masuk surga, tetapi sebagai ucapan syukur karena kita sudah ditebus.

Seperti lagu:
Here is love, vast as the ocean,
Lovingkindness as the flood,
When the Prince of Life, our Ransom,
Shed for us His precious blood.
Who His love will not remember?
Who can cease to sing His praise?
He can never be forgotten,
Throughout Heav’n’s eternal days.

On the mount of crucifixion,
Fountains opened deep and wide;
Through the floodgates of God’s mercy
Flowed a vast and gracious tide.
Grace and love, like mighty rivers,
Poured incessant from above,
And Heav’n’s peace and perfect justice
Kissed a guilty world in love.

Let me all Thy love accepting,
Love Thee, ever all my days;
Let me seek Thy kingdom only
And my life be to Thy praise;
Thou alone shalt be my glory,
Nothing in the world I see.
Thou hast cleansed and sanctified me,
Thou Thyself hast set me free.

In Thy truth Thou dost direct me
By Thy Spirit through Thy Word;
And Thy grace my need is meeting,
As I trust in Thee, my Lord.
Of Thy fullness Thou art pouring
Thy great love and power on me,
Without measure, full and boundless,
Drawing out my heart to Thee.



Akhir kata, selamat memaknai sola fide dengan benar. Tanpa iman, kita tidak akan pernah selamat. Iman itupun sebenarnya telah ditetapkan oleh Allah di dalam diri seseorang. Itulah besar dan lebarnya kasih Allah di dalam kehidupan kita. Di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru, itulah makna keselamatan yang sesungguhnya. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2Korintus 5:17). Artinya kehidupan oleh iman adalah kehidupan yang memberikan buah pertobatan yang nyata di dalam kehidupan kita. Kita tidak pernah tahu bahwa kita ini sudah ditebus atau belum, tolok ukurnya adalah biasanya orang yang sudah ditebus akan menjadi resah apabila di sekitarnya masih ada orang-orang yang perlu kasih yang sesungguhnya.