Total Pageviews

Showing posts with label doktrin. Show all posts
Showing posts with label doktrin. Show all posts

Sunday, June 15, 2014

Beauty of Christianity - The Trinity

Pembukaan
“Mana mungkin Allah bisa tiga tapi satu, atau satu tapi tiga?” Pertanyaan itu sering sekali dilontarkan kepada kita, orang-orang Kristen yang mempercayai doktrin Allah Tritunggal. Istilah “Tritunggal” sendiri tidak pernah dituliskan di dalam alkitab. Hal ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bahwa ternyata alkitab secara tersurat tidak pernah menyebutkan kata tersebut, tetapi di sepanjang alkitab, ada banyak kalimat yang tersirat yang menunjukkan bahwa Allah kita ialah Allah Tritunggal.

Sebelum masuk kedalam pembahasan lebih lanjut, kita mencoba untuk terlebih dahulu mengerti tentang siapa kita dan siapa Allah. Kitab Kejadian menuliskan mengenai siapa kita, yakni ciptaan. Allah ialah pencipta. Jadi ada satu gap  yang luar biasa antara kita dengan Allah. Allah sebagai pencipta ialah pribadi yang tidak terbatas, dan manusia sebagai ciptaan ialah pribadi yang sangat terbatas. Mengapa saya menuliskan hal ini di awal? Implikasi dari hal ini ialah bahwa kita tidak mungkin memahami 100% mengenai Allah. Ada bagian yang Allah ijinkan untuk kita dapat mengerti, dan ada pula hal yang unrevealed, yakni hal yang merupakan misteri.

Dasar pemikiran tersebut membuat kita sebagai ciptaan seharusnya tidak akan mampu menjelaskan secara komplit dan benar secara 100% mengenai Allah, namun bukan berarti bahwa kita tidak belajar untuk mengerti. Ada hal-hal yang ditunjukkan kepada kita sebagai manusia yang terbatas untuk kita pahami.

Analogi Yang Tidak Sempurna
Ada berbagai analogi mengenai Allah Tritunggal, dan kita perlu berangkat dari suatu pemikiran bahwa analogi tidak pernah menggambarkan secara 100% kondisi riil. Contoh analogi yang mungkin seringkali kita dengar tentang Allah Tritunggal adalah mengenai matahari, ada kalanya matahari memiliki sinar, panas, dan cahaya. Sama juga Allah kita memancarkan ketiga hal tersebut, tetapi hakikatnya, Ia adalah matahari. Ada pula sebuah contoh seperti misalkan saya dengan berbagai peran saya. Di rumah, saya menjadi seorang anak, di perusahaan sebagai seorang staff, dan di gereja saya berperan sebagai seorang jemaat.

Analogi-analogi tersebut berusaha untuk menjelaskan seperti apa Allah Tritunggal itu, tetapi tidak ada yang sanggup untuk menjelaskan mengenai terperinci mengenai Allah Tritunggal. Mengapa?
1.       Karena status kita sebagai ciptaan, sehingga kita tidak mungkin dapat mengenal 100% pencipta kita
2.       Penggunaan pendekatan Filsafat di dalam kita berusaha untuk mengerti pribadi Allah.

Sekalipun ada berbagai analogi, ternyata kalau kita melihat lagi bahwa ternyata analogi-analogi tersebut masih memiliki berbagai kelemahan. Tentu saja, karena analogi tidak pernah dapat 100% menjelaskan mengenai sebuah hal yang dianalogikannya. Apabila filsafat ternyata gagal untuk memahami siapa Allah yang sebenarnya, maka pendekatan apa yang dapat kita gunakan? Karena Allah Tritunggal ini ditunjukkan oleh alkitab, maka untuk mencoba memahaminya, kita perlu melakukan pendekatan dari alkitab juga.

Melihat Kitab Kejadian
Sejak kitab Kejadian, kita bisa melihat dengan begitu unik bagaimana ketritunggalan Allah. Kejadian 1:1 di dalam alkitab Bahasa Indonesia berbunyi demikian:

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

Dalam bahasa Ibrani, kata yang digunakan untuk padanan kata Allah digunakan untuk menunjukkan plural. Artinya bahwa Allah di sini lebih dari satu. Namun pada kata “menciptakan”, digunakan verb untuk subyek dalam bentuk singular. Kemudian masih di kitab Kejadian 1, pada ayatnya yang kedua.

Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

Kata “Roh Allah” disini juga menunjukkan bahwa Roh Kudus sudah ada saat peristiwa penciptaan. Ini merupakan sebuah penegasan mengenai Allah.

Kemudian juga kita melihat di Kejadian 1:26

Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."

Baiklah “KITA”, bukan saya, ataupun yang lain. Tetapi sama kasusnya seperti pada Kejadian 1:1, kata kerja yang mengikutinya adalah bentuk tunggal, bukan bentuk jamak.

Melalui beberapa contoh tersebut dapat kita lihat bahwa Alkitab dengan begitu jelas menunjukkan bahwa Allah bukanlah tauhid, tetapi ada sebuah keunikan. Kata kerja yang digunakan adalah bentuk tunggal, sedangkan kata Allah sendiri dalam bentuk jamak.

Yesus sebagai “Anak Allah”
Menjadi sebuah perdebatan yang begitu sengit pula ketika kita melihat di dalam Perjanjian Baru mengenai Yesus. Orang Kristen percaya bahwa Yesus ialah Anak Allah, namun juga Ia sendiri adalah Allah. Muncul sebuah pertanyaan yang begitu sering ditanyakan oleh orang, “Kapan Yesus menyebut dirinya sebagai Allah?” dan juga ada pertanyaan lain seperti ini: “Apakah Yesus sebagai Anak Allah, berarti Dia adalah anak biologis dari Allah?”

Mari kita coba melihat sebuah contoh yang begitu riil. Misalkan kita saat ini kuliah di universitas X. Saat kita bertemu dengan seorang teman kita yang berasal dari universitas lain, kita diberikan sebuah pertanyaan: “apakah kamu anak X?” jawaban kita tentu saja adalah  “Ya”. Contoh tersebut membuktikan bahwa istilah “ANAK” disini bukan sebagai anak dalam arti biologis, namun dalam arti yang lebih dalam yakni mengenai atribut. Ketika kita sudah lulus dari universitas X, tentu saat melamar pekerjaan kita akan mencantumkan universitas X tersebut di CV kita.

Sama juga dengan istilah “Anak Allah” disini, yang berarti bahwa ketika Yesus disebut sebagai Anak Allah, berarti Dia juga memiliki atribut Allah. Mari kita coba melihat di kitab Yohanes.

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

“Pada mulanya” pada ayat ini mengarah kepada satu kondisi di awal mula kehidupan, atau asal mula segala sesuatu. Segalanya dimulai dari Firman, dan ada kata “bersama-sama” dengan Allah, dan Firman itu ADALAH ALLAH. Bukankah ini adalah sebuah penegasan bahwa Yesus sendiri ialah Allah? Hal ini menjadi penting untuk kita perhatikan karena ayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa Yesus ada sejak semula bersama dengan Allah sendiri.

Tingkatan dalam Tritunggal, Adakah?
Mitologi Yunani sangat kaya akan dewa-dewa. Kita bisa melihat disana bahwa ada dewa yang tertinggi. Ada raja dewa, dan ada tingkatan dewa yang lebih rendah. Apakah tritunggal berarti bahwa ada tingkatan yang tertinggi di dalamnya? Dalam alkitab, selalu disebutkan sebagai urutan adalah Allah Bapa, Allah Anak, dan terakhir adalah Allah Roh Kudus. Apakah hal ini menunjukkan sesuatu?

Sekali lagi kita lihat bahwa tritunggal tetap berdiri teguh di tengah tantangan seperti ini. Kalau kita baca di dalam kitab Matius 28:19-20

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, (Mat 28:19 ITB)

Kata “nama” disini berbentuk tunggal, bukan jamak. Artinya pernyataan tersebut mengarah kepada satu pribadi, bukan tiga. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa tidak pernah ada suatu tingkatan di dalam tritunggal tersebut.

Implikasi Pemahaman Allah Tritunggal dalam Kehidupan Kita
Sebagai orang Kristen, salah satu doktrin / pengajaran yang seringkali menjadi sebuah perdebatan adalah mengenai Allah. Tetapi penekanan yang begitu indah di dalam pengajaran ini adalah pernyataan Tuhan Yesus di dalam Yohanes 14:17b

Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia

1.       Belajar untuk tunduk dan mengakui bahwa segala sesuatunya, pemahaman kita, hidup kita, dan segala detail di dalam kehidupan kita adalah karya Allah yang luar biasa yang telah Tuhan kerjakan
2.       Belajar mengenai Tritunggal / Trinitas tidak akan pernah dapat kita selesaikan secara tuntas. Ingat posisi kita sebagai ciptaan, yang tidak dapat memahami pencipta kita 100%
3.       Masalah iman bukanlah hal yang dapat dipaksakan. Ingat bahwa ketika kita percaya kepada Yesus sendiri, kita tidak pernah bisa dipaksakan. Hanya anugrah saja yang memampukan seseorang untuk dapat mengenal Kristus secara pribadi
4.       Tritunggal juga menampakkan sebuah kebenaran yang begitu luar biasa di dalam kehidupan orang percaya. Kalau kita melihat sumber dari konsep “unity in diversity” pun, Allah Tritunggal menampakkan konsep itu dengan begitu harmonis. Ada perbedaan di dalam kehidupan kita, satu sama lain. Ada perbedaan spesies-spesies, bahkan di dalam spesies itu sendiri juga ada berbagai perbedaan tetapi tetap saja ada sebuah kesatuan yang harmonis di dalamnya.

Mari belajar untuk terus mau belajar dan diperbarui selalu di dalam kuasa kasihNya. Saya menutup dengan sebuah tulisan dari Paulus:


Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian. (2Korintus 13:14)

Thursday, November 28, 2013

Menjadi MilikNya!

… Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.
(Yohanes 17:6B)

Pernahkah kita membayangkan saat kita membeli sebuah barang yang sangat berharga? Misalnya kita membeli jam tangan atau gadget baru yang sangat kita impikan. Apa yang akan kita lakukan terhadap jam tangan atau gadget baru itu? Kalau itu memang barang yang sangat ingin kita miliki maka kita akan menjaganya dengan sepenuh hati kita. Kita akan sangat berhati-hati dan bahkan kalau boleh bilang – kita akan menjaganya dengan segenap hati kita. Ah kelihatannya sangat berlebihan bukan? Tetapi itu realitas hidup!

Saat kita membeli suatu hal yang menurut kita baru dan itu menjadi impian kita, maka kita akan menjaganya dengan segenap hati kita. Bahkan kita tidak rela kalau sesuatu itu kadang dipinjamkan. Kita akan merawatnya, akan membersihkannya setiap hari, bahkan kita tidak akan berhenti untuk mengutik-utik barang tersebut. Kita ingin agar “barang tersebut merasa nyaman”. Atau biasanya kalau kita memiliki hewan peliharaan, kita akan merawat dia sebaik mungkin.

Nah, sekilas ketika kita merasa ada barang yang berharga, kita akan menjaganya seperti itu. Coba bayangkan apa yang Tuhan kerjakan di dalam hidup kita saat kita menjadi milikNya! Tunggu dulu! Apakah benar kita adalah milik Tuhan? Eitz, bukankah tubuh kita yang memiliki adalah diri kita sendiri? Itu berarti dengan semena-mena kita bia mengerjakan apapun yang kita suka donk? Boleh lah!

Namun apakah benar bahwa kita adalah milik Tuhan? Itu adalah sesuatu yang perlu kita pergumulkan setiap hari. Ketika kita menjadi milik Kristus, bukan dengan harga yang murah Tuhan sudah menebus kita. Penebusan semata-mata hanyalah anugrah yang sebenarnya tidak layak untuk kita terima. Sama juga dengan ketika kita melihat seorang yang sudah mengkhianati kita, kemudian menjadi seorang budak belian, dan akhirnya kita membeli budak itu dan akhirnya kita diberikan suatu hidup baru. Seperti itulah apa yang terjadi di dalam hidup kita!

Nah, kalau kita adalah milik Tuhan, pasti ada konsekuensinya. Yap, mau tidak mau, seperti kita memiliki suatu barang, Tuhan pun juga dengan sangat bebas memperlakukan kita. Nah, ini tentu menarik bukan? Waktu kita bilang bahwa “aku menentukan tujuan hidupku sendiri” atau “aku pasti bisa tanpa orang lain”, sadarkah kita bahwa ternyata pandangan-pandangan tersebut terasa aneh? Mengapa aneh? Coba bayangkan kalau kita punya ponsel yang tiba-tiba bisa bergerak sendiri. Ataupun ternyata anjing atau hewan peliharaan kita tiba-tiba menggigit kita, menyakiti kita. Apa artinya? Bahwa ternyata kita SAMA SEKALI TIDAK PUNYA HAK ATAS HIDUP KITA SENDIRI!

Menjadi milik Kristus bukanlah suatu hal yang menyenangkan – paling tidak itulah anggapan sebagian besar orang. Mengapa? Karena kita menjadi seorang manusia yang sangat terbatas! Apa-apa harus diatur, dan inilah natur dosa. Kita ingin bebas dari suatu otoritas yang mengekang kita untuk melakukan sesuatu. Pandangan sebagian orang adalah: “Kristus yang membatasi aku”. Padahal kalau kita mulai membuka alkitab kita, apa yang dilakukan oleh Kristus adalah Ia membeli kita dan harganya sudah lunas. (1 Korintus 6:19). Pemahaman tentang hal ini tentunya membantu kita untuk sadar, siapa kita di hadapan Allah.

Konsekuensi dari penebusan Allah atas hidup kita – atas jiwa kita menjadi suatu dasar bahwa kita tidak boleh main-main di dalam hidup ini. Harus diingat bahwa apabila Kristus menguasai hidup kita, itu berarti bahwa kita memberikan SEGALANYA buat Tuhan. Apa makna dari kata SEGALANYA disini? Tentu saja: SEGALANYA YANG KITA MILIKI. Aplikasinya? Bahwa ternyata tiada waktu sedetik pun bagi kita untuk berpikir tentang hidup kita – bahwa ternyata seluruh tingkah langkah kita adalah untuk Tuhan.

Kita ini berharga! Sadarkah setiap kita akan hal itu. Kita ini adalah harta yang terpendam dan mutiara yang berharga bagi Allah. Kita ini adalah kepunyaanNya. Betapa indah realitas tersebut bukan? Tetapi apa yang mengerikan adalah di tengah keberhargaan kita ternyata seringkali kita menjadi ciptaan yang brengsek. Kita menjadi manusia yang ‘menolak’ untuk menjadi milikNya. Kita lupa akan anugrah yang sudah Tuhan berikan.

Anugrah seperti apa yang sudah diberikan Tuhan saat kita diambil menjadi milikNya? Yang pasti adalah kita bebas dari ikatan dosa. Kita sudah diselamatkan oleh anugrah. Menyadari hal ini seharusnya kita sadar bahwa kita adalah orang yang brengsek, yang tidak memiliki apapun apabila Tuhan tidak memberikannya. Hidup kita semuanya adalah di tanganNya.

Kedua pastinya kita sadar akan rencana Allah di dalam hidup kita. Hal ini dimulai dari pengenalan diri sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa pengenalan kita akan Tuhan Sang Empunya hidup kita yang semakin bertumbuh, akan membuat kita semakin mengenal pribadi kita sendiri. Pengenalan kita akan Tuhan akan berbanding lurus dengan pengenalan akan kita – akan visi hidup yang ditetapkan Tuhan di dalam hidup kita. Contohnya dapat kita lihat di dalam pengenalan Paulus akan dirinya. Sampai suatu momen dimana ia menyadari bahwa Tuhan tidak mencabut “duri dalam daging” dari dalam dirinya, dia tidak tahu sampai Allah memberitahukan alasannya: “cukuplah kasih karunia-Ku” (2 Korintus 12:9)

Nah, hidup kita sebenarnya adalah milik Tuhan, dan di dalam rangka kita mengenal Sang Pemilik Hidup kita, Tuhan akan menyayangi kita, yang mana seringkali kita tidak menyadarinya. Hal itu terjadi karena kita tidak mengetahui apa sebenarnya rencana Tuhan di dalam hidup kita. Kita jadi seringkali protes atas hal-hal buruk yang menimpa hidup kita. Harus diakui bahwa ternyata hidup kita adalah hidup yang bermakna, dan kebermaknaan itu hanyalah karena ANUGRAH ALLAH! Itulah yang Allah sendiri minta pada kita: “TAAT dan SETIA”. Hanya 2 kata, tapi bayangkan betapa susahnya hal tersebut untuk dapat kita lakukan.

Fanny Crosby mencoba menuliskan sebuah lagu yang sangat indah:

I am Thine, O Lord, I have heard Thy voice,
And it told Thy love to me;
But I long to rise in the arms of faith
And be closer drawn to Thee.

Reff:
Draw me nearer, nearer blessèd Lord,
To the cross where Thou hast died.
Draw me nearer, nearer, nearer blessèd Lord,
To Thy precious, bleeding side.

Consecrate me now to Thy service, Lord,
By the power of grace divine;
Let my soul look up with a steadfast hope,
And my will be lost in Thine.

O the pure delight of a single hour
That before Thy throne I spend,
When I kneel in prayer, and with Thee, my God
I commune as friend with friend!

There are depths of love that I cannot know
Till I cross the narrow sea;
There are heights of joy that I may not reach
Till I rest in peace with Thee.

Indah sekali lagu ini. Kerinduan dari Fanny Crosby adalah dia ingin menjadi milik Tuhan Yesus sendiri.

Allah yang mengasihi kita melalui PutraNya. Allah yang memberikan hidup kekal melalui salib – yang mana Ia telah membeli kita melewati lembah kekelaman dosa. Allah yang memiliki kita, yang menuntun tiap langkah kehidupan kita. Allah yang membenci dosa kita, namun tetap ingin sekali memeluk kita dengan kasihNya… Itulah pribadi Allah Tritunggal – sang pemilik hidup kita. Dialah yang layak untuk menerima hormat dan kemuliaan. Ia yang sering kita sakiti namun dengan salib itu dan dengan kata “SUDAH SELESAI”, seluruh orang yang percaya diselamatkan. Itulah Allah yang sejati – Raja di atas segala raja, yang menguasai hidup kita.

Apa yang mau kita perbuat setelah kita mengetahui bahwa realitas hidup kita semuanya adalah milik Tuhan? Tidak mudah untuk menyadari hal ini. Pengenalan akan Allah yang benar akan terus berlangsung selama proses hidup kita. Kita hanya perlu belajar untuk TAAT dan SETIA, menikmati setiap proses yang Tuhan berikan sambil memaknai bahwa tidak ada satu hal pun di dalam hidup kita yang lepas dari kontrolNya. Menanggapi hal tersebut berarti kita tidak perlu kuatir akan apapun yang terjadi dalam hidup kita. Allah yang memiliki, dan Allah yang mengatur, tinggal kita mau turut kehendakNya atau tidak.


Soli Deo Gloria!

Sunday, April 21, 2013

Who Are You God - Siapakah Engkau Allah?


The very basic question about faith. Ya, itulah pertanyaan yang seringkali dilontarkan pada saat pertama kali kita mengenakan label agama di dalam kehidupan kita. Pertanyaan itu pula yang sampai saat ini pun sering menjadi perdebatan dan memicu ketidaksetujuan dan perpecahan antar iman. Maraknya berbagai diskusi tentang hal ini pun juga menjadi salah satu bukti bahwa sebagai seorang Kristen, mau tidak mau, suka tidak suka, topik ini pun juga akan menjadi suatu pertanyaan bagi setiap kita orang-orang yang percaya.

Kita dapat memahami Allah sejauh di me-reveal hal itu. Revelation / wahyu itu Dia nyatakan di dalam alkitab, yaitu yang disebut sebagai special revelation serta providensia Allah di dalam dunia ini, serta dunia ini sendiri yang disebut sebagai general revelation atau wahyu umum. Berbicara tentang orang Kristen tidak lepas dari kedua hal tersebut. Pertanyaannya adalah, seberapa jauh kita sebagai orang Kristen memahami wahyu tersebut? Setelah kita memahaminya, lalu apa yang selanjutnya harus kita kerjakan?

Mudah sekali bagi kita untuk belajar ilmu tentang Allah, ataupun kita belajar filsafat-filsafat yang mana kita secara kognitif diisi dengan pemahaman-pemahaman yang benar tentang kebenaran firman. Di dalam gereja pun kita bisa belajar banyak hal: doktrin Allah, doktrin Tritunggal, doktrin Kristus, doktrin Roh Kudus, dan sebagainya. Permasalahannya adalah setelah kita belajar tentang doktrin-doktrin tersebut, lalu apa yang mau kita lakukan?

Kita tahu bahwa kita diselamatkan semata-mata karena anugrah, dan itu tertuang di special revelation yang mana sudah dinyatakan dalam alkitab itu sendiri. Namun seringkali hal ini membuat kita jadi lupa tentang wahyu itu sendiri serta lupa tentang Allah kita. Kita tahu bahwa kita memiliki Allah, tetapi kita lupa siapa Allah itu. Akhirnya hubungan yang dibangun antara kita dengan Allah adalah hubungan yang tidak jelas. Artinya kalau ada butuhnya ya kita menghubungi Allah. Kalau tidak ada butuhnya ya sudah, “emang gue pikirin?”

Inilah menariknya pada saat kita belajar mengenal Allah. Bisakah kita, bahkan kalau boleh ekstrim, melalui pembacaan firman DAN pengalaman hidup kita bisa mengenal Allah yang sejati? Banyak orang tahu bahwa Allah itu baik. Ada pula yang sampai menghapalkan beberapa ayat alkitab seperti Matius 6:33, Roma 8:28, Efesus 2:8-9, Yohanes 3:16, Yohanes 14:6, namun di dalam praktek kehidupannya sehari-hari, ia masih saja tidak dikuasai oleh firman yang dihafalkannya. Kenapa saya tuliskan “DAN”? karena biasanya orang Kristen pada umumnya menyukai salah satunya saja. Mereka hafal ayat alkitab namun mereka tidak tahu apa yang mereka baca dan tidak pernah mengaplikasikannya di dalam kehidupan mereka. Sedangkan ada ekstrim yang lain yakni mereka mengalami “seperti” perjumpaan pribadi dengan Allah, tetapi terjebak di dalam pengalamannya itu sehingga suatu saat kalau Allah merencanakan sesuatu yang tidak sesuai dengan rencananya, imannya bisa hancur lebur.

Tentu sebagai pemuda-pemuda Kristen kita tidak mau terjebak di dalam 2 ekstrim. Yang pertama, terlalu mengandalkan pengalaman kita untuk mengenal Allah, yang kedua, semuanya berdasarkan atas alkitab namun kita tidak pernah mengerti karena terlalu sibuk menghafalkannya. Di atas sudah saya paparkan akibatnya. Pertanyaan “WHO ARE YOU GOD” adalah pertanyaan yang benar-benar esensial, karena hal itu akan mempengaruhi seluruh sikap hidup kita. Kalau Allah kita adalah Allah yang benar, tentu sebagai ciptaanNya pun kita akan berlaku sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah kita.

Bagaimana kita bisa mengenal Allah kita? Seperti yang sudah disebutkan di atas, kita bisa terperangkap di dalam 2 ekstrim. Karena itu kita harus mengkombinasikan keduanya menjadi suatu metode belajar mengenal akan Allah, yaitu melalui suatu saat teduh dan pembacaan firman secara rutin serta didukung dengan suatu tindakan yang mencerminkan firman itu. Logika simple: ketika kita ingin mengenal seseorang tentu saja kita harus mulai berkomunikasi serta membuka suatu relasi dengan dia. Bayangkan saja kita pedekate dengan seseorang, tentu kita belajar untuk membagi hidup kita kepadanya.

YA! Salah satu cara kita belajar untuk mengenal Tuhan adalah dengan share tentang hidup kita kepada Tuhan, dan juga kita belajar mendengarkan apa yang Tuhan mau di dalam kehidupan kita. Caranya? Tentu saja dengan menjalani hidup sesuai dengan apa yang Tuhan mau di dalam firmanNya. Tidak ada cara lain untuk kita dapat mengenalNya.

Kedua: selain kita belajar firman, kita belajar melihat rancangan Tuhan di dalam kehidupan kita. Caranya? Cara paling mudah adalah dengan membuat sebuah timeline atau kisah hidup. Flashback tentang kehidupan kita di masa lalu, masa yang menyenangkan ataupun menyedihkan. Mencatat setiap momen yang sudah Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita untuk kita semakin mengerti apa yang sebenarnya sudah dirancangkan Tuhan dan apa yang kira-kira akan dikerjakan Tuhan melalui kehidupan kita.

Memang bukan hal yang mudah untuk mengerti hal tersebut. Proses itu perlu pergumulan seumur hidup. Sampai suatu saat nanti kita bisa berkata seperti Daud bahwa tidak ada seorangpun yang ia ingini selain daripada Allah sendiri. (Mazmur 73:25). Saking dekatnya relasi Tuhan dengan Daud membuatnya dapat mengatakan bahwa segala hal tidak dapat menggantikan Allah.

Jadi? Siapakah Allah itu? Siapakah Engkau Tuhan? Pertanyaan itu tentu perlu kita renungkan dan pergumulkan setiap saat. Mari belajar untuk terus menggumulkan hal itu sampai suatu hari kita dapat mengatakan siapa Allah itu, bukan kata doktrin, bukan hanya kata alkitab, tetapi di dalam kehidupan kita sekalipun kita memperkatakan bahwa “Allah Bapa, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus, itulah Allah. Ialah Allah yang hidup dan berkuasa atas kehidupanku, dan kepadaNya lah aku berkomitmen untuk setia sampai akhir hidupku”

Soli Deo Gloria

Sunday, March 31, 2013

Refleksi Paska - Kematian dan Kebangkitan Kristus dan Bagaimana Memaknainya


Paska identik dengan suatu perayaan mencari telur. Tradisi ini sangat umum apabila dilihat di negara-negara di Eropa. Satu film yaitu Rise of The Guardians menunjukkan betapa Paska merupakan suatu hari yang dinanti-nantikan oleh anak-anak. Lebih jauh lagi, Paska mengingatkan juga pada Easter Bunny, seekor kelinci yang melompat-lompat dan menyembunyikan telur yang diwarna-warni.

Nah bagi orang Kristen sendiri, Paska menjadi suatu peringatan yang luar biasa. Sang Juruselamat yaitu Yesus sendiri menyerahkan nyawaNya untuk menebus dosa umat manusia. Sola Gratia! Ya, semuanya itu adalah anugrah yang luar biasa. Karya keselamatan itu dimulai dari pelayanan Tuhan Yesus yang ‘mengganggu’ sistem agama saat itu, kemudian diwarnai dengan pemberontakan muridNya yaitu Yudas akibat kekecewaannya. Selain itu juga diwarnai dengan berbagai berita alkitab yang mana sudah dinubuatkan di Perjanjian Lama oleh Nabi Yesaya. Yesaya 53 memberitakan tentang Sang Juruselamat jauh sebelum Tuhan Yesus hadir di dunia sebagai 100% manusia dan 100% Allah.

Berita Paska menjadi suatu berita yang menarik, bagaimana tidak, karena karya keselamatan dilakukan Allah, dengan kematian Tuhan Yesus, murka Allah dipuaskan, dan dosa manusia dibasuh bersih oleh anugrah. Oleh Adam, seluruh manusia membawa natur dosa, dan oleh Kristus semua manusia dibersihkan. Sebagai orang Kristen kita boleh percaya bahwa sudah ada suatu tempat yang disediakan bagi kita.

Di dalam keselamatan karena karya Allah tersebut, pertanyaannya adalah, sudah sejauh apa kita memaknai arti Paska yang sebenarnya? Apabila kita mencoba mendalami karya keselamatan Allah, tidak bisa dilepaskan darinya adalah tanggung jawab manusia SETELAH kita diselamatkan oleh Allah sendiri. Maksudnya adalah, setelah kita menerima ANUGRAH dari Tuhan sendiri, apa yang harus kita lakukan?

Kekristenan tidak melulu bicara tentang surga dan neraka. Seorang percaya dapat menjadi percaya kepada Tuhan, bukan karena dia takut akan neraka, namun lebih jauh dari itu, dia telah dipilih oleh Allah, entah bagaimana caranya baik melalui orang lain ataupun segala karya Allah di dalam hidupnya. Jadi kekristenan yang sejati berawal dari inisiatif Allah sendiri. Seluruhnya adalah inisiatif dari Allah, dan manusia hanya dapat memaknai inisiatif tersebut dengan belajar mengenal dan memuliakan Allah sepanjang waktu. Kalau kekristenan kita hanya didasari dengan ketakutan kita akan masuk neraka, apakah benar kita mengasihi Tuhan seperti yang Yesus katakan: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37-39)

Kembali kepada Paska, yang mana merayakan kematian Tuhan Yesus dan kebangkitanNya mengatasi maut. Bukankah ini merupakan berita sentral di dalam Kekristenan? Ya, inilah berita sentral dari karya keselamatan yang dilakukan oleh Allah dengan merelakan AnakNya yang tunggal untuk menjadi buah sulung. (1 Korintus 15:23) Bagaimana sikap kita sebagai orang Kristen menanggapi panggilan ini? Berita sentral ini tentunya perlu kita tanggapi dengan penyerahan diri penuh kepada Tuhan. Ya, Paska menjadi suatu momen yang mengingatkan kita tentang pengorbanan Tuhan Yesus, namun lebih dari itu kita sebagai umatNya diajak untuk meneladani sikapNya.

Tentu bukan hal yang mudah di dalam meneladani sikap Kristus. Tetapi justru momen Paska juga mengingatkan kita untuk START OVER. Maksudnya? Paska merupakan suatu perayaan yang mana diambil dari pada saat umat Israel keluar dari Mesir, dipimpin oleh Musa. Bangsa itu mulai merayakan Passover. Nah pembebasan dari Mesir ini merupakan suatu gambaran yang luar biasa, bagaimana Allah melalui AnakNya sendiri melepaskan kita dari belenggu dosa. Mengutip lagu dari Les Miserables: “Come with me, where chains will never bind you, All your grief, at last at last behind you”. Inilah gambaran janji Allah di dalam Paska.

Setiap kejadian dalam hidup kita, itu merupakan campur tangan dan rencana Allah di dalam kehidupan kita. Allah yang bangkit, Allah yang melalui Yesus Kristus, menebus dosa manusia dan Allah itulah yang terus berkarya di dalam kehidupan umat manusia sampai saat ini. Dialah yang berkuasa atas kehidupan kita, Dialah yang berdaulat atas kehidupan kita. Tinggal saat ini bagaimana kita sebagai saudara Kristus menjadi rekan sekerjaNya. Memberitakan kabar baik ini, yang mana fokusnya adalah Kristus sendiri yang sudah menyelamatkan umat manusia dari jeratan maut. Ialah Allah yang menguasai seluruh kehidupan kita dan Ia yang akan menuntun kita sepanjang kehidupan kita (Mazmur 23). Ia adalah Allah yang setia, yang di dalam kedaulatanNya sudah merencanakan sesuatu yang baik (Roma 8:28) dan sekalipun kita kadang tidak memahamiNya karena rancanganNya yang begitu berbeda dengan kita (Yesaya 55:8).

Itulah peran yang secara aktif diberikan Allah bagi setiap kita yang percaya kepadaNya. Maukah kita ambil bagian di dalam blueprint Allah? Apakah kita mau menjawab panggilan itu, sebagai seorang hamba yang patuh kepada Tuannya. Sebagai seorang hamba yang kalau Tuannya memanggil, hamba itu tidak boleh tidak taat dan bersyukur kalau Tuannya masih mau memakai dia?

Selamat Paska. Selamat menikmati Karya Tuhan dan terus memuliakanNya

Soli Deo Gloria

Thursday, January 3, 2013

Yesus Diantara Ilah-Ilah Lain


Ada suatu anggapan bahwa semua agama adalah benar. Sebelum melangkah lebih jauh bagaimana kekristenan menjelaskan eksklusifitas Yesus, perlu dimengerti dulu mengenai hukum non-kontradiksi. Hukum non-kontradiksi menyatakan bahwa pernyataan A tidak akan sama dengan negative A pada saat yang sama. Contohnya seperti ini: Andi berkata: Surabaya ada di Jawa Timur. Bima berkata : Surabaya tidak ada di Jawa Timur. Mereka berdua tidak mungkin sama-sama benar.

Apa implikasinya terhadap klaim kekristenan? Tidak akan mungkin kedua statement yang saling berlawanan itu sama. Banyak sekali agama dan kepercayaan yang saling bertentangan. Jadi ini dapat menjadi dasar bahwa semua agama tidak mungkin sama karena klaim yang mereka berikan saling bertentangan satu dengan yang lain.

Islam percaya bahwa Yesus tidak mati di kayu salib, sedangkan Kristen percaya bahwa Yesus mati di kayu salib dan Ia bangkit pada hari ketiga. Buddhism muncul ketika Buddha melihat penderitaan, kematian, orang yang lebih tua, ia menolak Hinduism. Semua agama ini tidak dapat semua benar, karena seluruh agama secara fundamental berbeda, meskipun tampaknya semua mengajarkan kebaikan. Prinsip dalam hidup kita secara tidak sadar juga akan mempengaruhi hal ini. Secara tidak sadar kita juga menolak untuk pindah agama, kalau semua agama sama, berarti tidak masalah seharusnya kita pindah agama hanya karena masalah selera. Tetapi realitanya adalah: Selera itu relative, tetapi kebenaran itu mutlak!

Kenapa Yesus Kristus unik dan berbeda dari yang lain?
1.        Kekristenan menjawab mengenai dosa asal yang ada dalam manusia. Alkitab menyatakan bahwa kita benar-benar helpless. Ketika Tuhan memberikan hukum moral, ada 4 tindakan yang dapat kita lakukan: ada yang membencinya, ada yang merasakan kebutuhan akan hal itu, ada yang secara salah mengklaim prinsip tersebut, dan ada yang menyukai hukum moral tersebut.
Paulus menyatakan bahwa ia menyukai hukum-hukum moral. Dia berkata bahwa ia adalah orang yang sangat menjunjung tinggi hukum taurat. Tetapi dia mengakui bahwa semua yang dia lakukan itu bukan kehendaknya karena dia tidak bisa berbuat hal yang benar. Coba baca Roma 7: 13-26
Buddha memberikan aturan-aturan untuk dapat mencapai nibbana, tetapi apa yang dapat kita lakukan untuk melakukannya? Karena ternyata apapun yang kita lakukan tanpa darah Kristus, semuanya tidak ada yang benar!
Hidup dalam kerangka moral seperti ini berarti hidup dalam dunia yang penuh pencobaan. Ketika kita melayani pun, kita dicobai ketika kita merasa tidak mau untuk melakukan pelayanan. Ketika kita merasa kita mampu, kita akan dicobai dengan dosa kesombongan. Paulus menuliskan semua adalah untuk kemuliaan Allah. Menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan yang sudah menyelamatkan kita. Point utama dalam kekristenan adalah ketika kita menyadari bahwa Yesus telah datang dan mati untuk kita, dan Ia telah memberikan Roh Kudus untuk kita dapat mengerti mengenai firmanNya.

2.        Kekristenan dapat menjawab mengenai keselamatan oleh Yesus Kristus sendiri.
 Seluruh agama selain Kristen memaksa para penganutnya untuk meminta keselamatan selama berabad-abad. Tidak ada satu orang pun yang tidak membutuhkan pengampunan. Apa yang dilakukan Yesus adalah sesuatu hal yang benar-benar mengenaskan. Semua hal yang Dia lakukan adalah untuk menyediakan jalan untuk setiap kita yang mau percaya.
Tidak ada sistem religius yang mana memiliki keselamatan dan salib seperti yang dilakukan Yesus. Buddha mengambil jalan penderitaan dan menyangkal Hinduism, namun ia sendiri juga menyangkal dirinya, karena dia tidak mengenal realita.

3.        Kekristenan menjawab asal-usul realita yang ada.
 Konsep Islam mengenai Allah adalah monotheis murni. Pertanyaannya adalah: Jika Allah adalah maha pengasih dan ternyata konsep Islam itu benar, Jika Allah adalah tidak terbatas, tentunya kasihNya juga tidak terbatas. Jika Allah adalah monad[i] seperti yang dikatakan oleh orang-orang Islam, siapa yang dikasihi Allah sebelum manusia diciptakan? Anda akan memiliki Tuhan yang membutuhkan manusia untuk dapat dikasihi. Itu menunjukkan keterbatasan Allah.
Melihat worldview yang lain seperti evolusi, naturalism, Islam theism, ada suatu hal yang harus dijawab. Kita melihat unity in diversity  dalam realita. Suatu hari Socrates dan Plato mendapat sebuah pertanyaan bahwa ada 4 kesatuan unsur yaitu bumi, air, udara, dan api. Orang-orang beranggapan bahwa kesemuanya itu berbeda. Jadi pasti ada unsur kelima yaitu unsur yang menyatukan keempatnya. Dari mana kesemuanya itu ada?
Dalam kekristenan : unity in diversity and community in the Trinity. Tuhan tidak membutuhkan manusia untuk memiliki kesatuan, dan ada perbedaan, dan juga dalam Tritunggal ada kesatuan dan komunitas.
Ketika kita lihat diri kita, ada perbedaan dalam desain setiap kita. Ada perbedaan rasa, ada perbedaan bentuk tubuh, ekspresi kita juga berbeda-beda, dan ada banyak sekali perbedaan. Didalam setiap diri manusia, ada keinginan, ada rasa syukur dalam diri kita. Ketika kita mendapat makanan, kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan karena kita mendapatkannya dan bersyukur atas rasanya yang enak. Ketika pencipta kita dalam kapasitasnya yang tidak terbatas, Tuhan memberikan kebenaran yang luar biasa mengenai pikiran, rasa, perasaan, dan dalam keseluruhan ciptaanNya. Dalam perjamuanNya, kita bersama dengan Tuhan memuji dan benar-benar memaknai karyaNya dalam hidup kita.

Yesus adalah pribadi yang sangat menarik. Yesaya menyatakan bahwa Dia adalah Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Petrus menyebut Dia Anak Allah. Thomas menyatakan Ya Tuhanku dan Allahku. Ketika ditanya Pilatus “Engkaukah Raja orang Yahudi?” dan Ia menjawab “Engkau sendiri mengatakannya.” Pada Yohanes 14, sangat jelas dan pada Yohanes 14:6  Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Pada saat membangkitkan Lazarus, Yesus hanya berkata “Lazarus, bangkitlah!”

Harapan kita, tujuan kita adalah sampai akhirnya kita didapati tetap setia, our goal is not the union[ii], our goal is communion[iii] with HIM.

Sebuah kata-kata dari Malcolm Muggeridge
“Behind the debris of these self-styled, sullen supermen and imperial diplomatists, there stands the gigantic figure of one person, because of whom, by whom, in whom, and through whom alone mankind might still have hope. The person of Jesus Christ.”
Dibelakang setiap penguasa dunia, seperti Hitler, Mussolini, Julius Caesar, Salomo, Daud, Abraham, Joseph Stalin, dan lain-lain, berdiri pribadi yang dalam kisah-Nya mencoba menjelaskan semuanya itu. Di belakang setiap kisah itu, ada suatu kisah mengenai kehidupan. Dibelakang semua itu ada seorang pribadi yang mana karena Dia, oleh Dia, didalam Dia, dan melalui Dia umat manusia masih memiliki harapan. Pribadi Yesus Kristus.

Saatnya berlutut dihadapan Tuhan Yesus, dan ketika kita melakukannya, kita menemukan segalanya di dalam Dia.



[i] Monad adalah suatu satuan yang tidak dapat dibagi dan dihancurkan yang merupakan unsure dasar dari realitas.
[ii] Union adalah aksi untuk menggabungkan dua pribadi atau dua benda menjadi satu pribadi.
[iii] Communion adalah suatu kedekatan emosional dan spiritual

Monday, December 17, 2012

Life is Grace - Menghidupi Sola Gratia dan Sola Fide


Istilah Sola Gratia, dikenal oleh banyak sekali orang Kristen. Sola gratia – hanya oleh anugrah – merupakan doktrin yang sangat mendasar di dalam iman Kristen. Sola gratia tidak dapat dilepaskan dari sola fide dan sola scriptura. Beberapa orang mengatakan bahwa istilah sola fide sudah tidak ada lagi, artinya bahwa iman kita kepada Tuhan tidak cukup untuk menyelamatkan kita dan membawa kita masuk ke dalam keselamatan yang dijanjikan oleh Allah.

Sola gratia merupakan salah satu doktrin mendasar – yang mana doktrin ini mendasari kehidupan orang Kristen. Orang Kristen yang menanggapi doktrin ini seumur hidupnya akan merasa bahwa hidupnya saat ini hanyalah ditopang oleh kasih Allah semata-mata. Dalam pemahaman tersebut, apapun yang dilakukan oleh orang tersebut seharusnya didasarkan pada kasih Allah di dalam kehidupannya.

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri (Efesus 2:8-9).

Ayat ini mendasari bahwa kehidupan orang percaya didasarkan kepada kasih karunia semata. Akibatnya ada pada ayatnya yang ke-10 yaitu : Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:10) di dalam pemahaman inilah sebenarnya kehidupan manusia harus didasarkan di dalam pemahaman bahwa seluruh hidupnya sudah diatur oleh Allah. Allah sudah merencanakan sebelum dunia dijadikan pun bahwa seluruh umat pilihanNya melakukan pekerjaan baik.

Problematika yang dihadapi saat ini adalah bagaimana orang-orang mulai menganggap bahwa doktrin sola fide adalah sesuatu yang kuno. Keselamatan hanya oleh anugrah di dalam Kristus Yesus dirasa terlalu “mudah” karena semua orang hanya tinggal percaya dan kemudian semuanya akan baik-baik saja. Seseorang dengan mudah mengatakan bahwa pada saat ia sudah percaya, maka ia akan beroleh hidup kekal sementara orang tersebut lupa bahwa ketika sudah mengakui Yesus sebagai satu-satunya juruselamat maka tindak tanduknya pun seharusnya mencerminkan imannya kepada Yesus. Saat ini orang-orang lebih suka bahwa mereka dapat berbangga atas kebaikan dan kesucian pribadi mereka dan dengan itu mereka merasa bahwa mereka layak untuk masuk surga.

Bagaimana kita dapat memaknai hidup oleh anugrah Allah seperti ini? Paulus dengan sangat indah menuliskan doktrin ini di kitab Roma. Kitab Roma merupakan salah satu surat Paulus yang paling sistematis, karena mencakup seluruh realitas hidup manusia secara Christian Worldview. Surat Paulus kepada Jemaat di Roma mencakup seluruh doktrin mulai dari penciptaan, kejatuhan manusia di dalam dosa, ketidakmampuan manusia untuk menyelamatkan dirinya sendiri, karya penebusan oleh Yesus Kristus dan sampai akhirnya menghidupi keselamatan di dalam Kristus.

Nah, kalau sola fide tidak berlaku, maka sebenarnya sola gratia tidak pernah akan ada. Kita  dibenarkan karena iman kita kepada Tuhan, dan anugrah itu diberikan secara cuma-cuma (namanya saja anugrah). Sola fide dipahami di dalam konteks bahwa semua yang kita lakukan berdasarkan atas apa yang Allah kerjakan di dalam kehidupan kita yang memampukan kita untuk berbuat sesuatu yang benar. Tanpa ada penebusan Kristus di kayu salib, nonsense kalau kita dapat berbuat baik, karena standar untuk berbuat baik pun kita tidak pernah tahu. Sola fide bukan berarti kita hanya beriman dan ngomong tok, tetapi justru iman kita diwujudkan dengan perbuatan baik kita, bukan sebagai syarat untuk masuk surga, tetapi sebagai ucapan syukur karena kita sudah ditebus.

Seperti lagu:
Here is love, vast as the ocean,
Lovingkindness as the flood,
When the Prince of Life, our Ransom,
Shed for us His precious blood.
Who His love will not remember?
Who can cease to sing His praise?
He can never be forgotten,
Throughout Heav’n’s eternal days.

On the mount of crucifixion,
Fountains opened deep and wide;
Through the floodgates of God’s mercy
Flowed a vast and gracious tide.
Grace and love, like mighty rivers,
Poured incessant from above,
And Heav’n’s peace and perfect justice
Kissed a guilty world in love.

Let me all Thy love accepting,
Love Thee, ever all my days;
Let me seek Thy kingdom only
And my life be to Thy praise;
Thou alone shalt be my glory,
Nothing in the world I see.
Thou hast cleansed and sanctified me,
Thou Thyself hast set me free.

In Thy truth Thou dost direct me
By Thy Spirit through Thy Word;
And Thy grace my need is meeting,
As I trust in Thee, my Lord.
Of Thy fullness Thou art pouring
Thy great love and power on me,
Without measure, full and boundless,
Drawing out my heart to Thee.



Akhir kata, selamat memaknai sola fide dengan benar. Tanpa iman, kita tidak akan pernah selamat. Iman itupun sebenarnya telah ditetapkan oleh Allah di dalam diri seseorang. Itulah besar dan lebarnya kasih Allah di dalam kehidupan kita. Di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru, itulah makna keselamatan yang sesungguhnya. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2Korintus 5:17). Artinya kehidupan oleh iman adalah kehidupan yang memberikan buah pertobatan yang nyata di dalam kehidupan kita. Kita tidak pernah tahu bahwa kita ini sudah ditebus atau belum, tolok ukurnya adalah biasanya orang yang sudah ditebus akan menjadi resah apabila di sekitarnya masih ada orang-orang yang perlu kasih yang sesungguhnya.