Total Pageviews

Showing posts with label religion. Show all posts
Showing posts with label religion. Show all posts

Thursday, November 28, 2013

Menjadi MilikNya!

… Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.
(Yohanes 17:6B)

Pernahkah kita membayangkan saat kita membeli sebuah barang yang sangat berharga? Misalnya kita membeli jam tangan atau gadget baru yang sangat kita impikan. Apa yang akan kita lakukan terhadap jam tangan atau gadget baru itu? Kalau itu memang barang yang sangat ingin kita miliki maka kita akan menjaganya dengan sepenuh hati kita. Kita akan sangat berhati-hati dan bahkan kalau boleh bilang – kita akan menjaganya dengan segenap hati kita. Ah kelihatannya sangat berlebihan bukan? Tetapi itu realitas hidup!

Saat kita membeli suatu hal yang menurut kita baru dan itu menjadi impian kita, maka kita akan menjaganya dengan segenap hati kita. Bahkan kita tidak rela kalau sesuatu itu kadang dipinjamkan. Kita akan merawatnya, akan membersihkannya setiap hari, bahkan kita tidak akan berhenti untuk mengutik-utik barang tersebut. Kita ingin agar “barang tersebut merasa nyaman”. Atau biasanya kalau kita memiliki hewan peliharaan, kita akan merawat dia sebaik mungkin.

Nah, sekilas ketika kita merasa ada barang yang berharga, kita akan menjaganya seperti itu. Coba bayangkan apa yang Tuhan kerjakan di dalam hidup kita saat kita menjadi milikNya! Tunggu dulu! Apakah benar kita adalah milik Tuhan? Eitz, bukankah tubuh kita yang memiliki adalah diri kita sendiri? Itu berarti dengan semena-mena kita bia mengerjakan apapun yang kita suka donk? Boleh lah!

Namun apakah benar bahwa kita adalah milik Tuhan? Itu adalah sesuatu yang perlu kita pergumulkan setiap hari. Ketika kita menjadi milik Kristus, bukan dengan harga yang murah Tuhan sudah menebus kita. Penebusan semata-mata hanyalah anugrah yang sebenarnya tidak layak untuk kita terima. Sama juga dengan ketika kita melihat seorang yang sudah mengkhianati kita, kemudian menjadi seorang budak belian, dan akhirnya kita membeli budak itu dan akhirnya kita diberikan suatu hidup baru. Seperti itulah apa yang terjadi di dalam hidup kita!

Nah, kalau kita adalah milik Tuhan, pasti ada konsekuensinya. Yap, mau tidak mau, seperti kita memiliki suatu barang, Tuhan pun juga dengan sangat bebas memperlakukan kita. Nah, ini tentu menarik bukan? Waktu kita bilang bahwa “aku menentukan tujuan hidupku sendiri” atau “aku pasti bisa tanpa orang lain”, sadarkah kita bahwa ternyata pandangan-pandangan tersebut terasa aneh? Mengapa aneh? Coba bayangkan kalau kita punya ponsel yang tiba-tiba bisa bergerak sendiri. Ataupun ternyata anjing atau hewan peliharaan kita tiba-tiba menggigit kita, menyakiti kita. Apa artinya? Bahwa ternyata kita SAMA SEKALI TIDAK PUNYA HAK ATAS HIDUP KITA SENDIRI!

Menjadi milik Kristus bukanlah suatu hal yang menyenangkan – paling tidak itulah anggapan sebagian besar orang. Mengapa? Karena kita menjadi seorang manusia yang sangat terbatas! Apa-apa harus diatur, dan inilah natur dosa. Kita ingin bebas dari suatu otoritas yang mengekang kita untuk melakukan sesuatu. Pandangan sebagian orang adalah: “Kristus yang membatasi aku”. Padahal kalau kita mulai membuka alkitab kita, apa yang dilakukan oleh Kristus adalah Ia membeli kita dan harganya sudah lunas. (1 Korintus 6:19). Pemahaman tentang hal ini tentunya membantu kita untuk sadar, siapa kita di hadapan Allah.

Konsekuensi dari penebusan Allah atas hidup kita – atas jiwa kita menjadi suatu dasar bahwa kita tidak boleh main-main di dalam hidup ini. Harus diingat bahwa apabila Kristus menguasai hidup kita, itu berarti bahwa kita memberikan SEGALANYA buat Tuhan. Apa makna dari kata SEGALANYA disini? Tentu saja: SEGALANYA YANG KITA MILIKI. Aplikasinya? Bahwa ternyata tiada waktu sedetik pun bagi kita untuk berpikir tentang hidup kita – bahwa ternyata seluruh tingkah langkah kita adalah untuk Tuhan.

Kita ini berharga! Sadarkah setiap kita akan hal itu. Kita ini adalah harta yang terpendam dan mutiara yang berharga bagi Allah. Kita ini adalah kepunyaanNya. Betapa indah realitas tersebut bukan? Tetapi apa yang mengerikan adalah di tengah keberhargaan kita ternyata seringkali kita menjadi ciptaan yang brengsek. Kita menjadi manusia yang ‘menolak’ untuk menjadi milikNya. Kita lupa akan anugrah yang sudah Tuhan berikan.

Anugrah seperti apa yang sudah diberikan Tuhan saat kita diambil menjadi milikNya? Yang pasti adalah kita bebas dari ikatan dosa. Kita sudah diselamatkan oleh anugrah. Menyadari hal ini seharusnya kita sadar bahwa kita adalah orang yang brengsek, yang tidak memiliki apapun apabila Tuhan tidak memberikannya. Hidup kita semuanya adalah di tanganNya.

Kedua pastinya kita sadar akan rencana Allah di dalam hidup kita. Hal ini dimulai dari pengenalan diri sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa pengenalan kita akan Tuhan Sang Empunya hidup kita yang semakin bertumbuh, akan membuat kita semakin mengenal pribadi kita sendiri. Pengenalan kita akan Tuhan akan berbanding lurus dengan pengenalan akan kita – akan visi hidup yang ditetapkan Tuhan di dalam hidup kita. Contohnya dapat kita lihat di dalam pengenalan Paulus akan dirinya. Sampai suatu momen dimana ia menyadari bahwa Tuhan tidak mencabut “duri dalam daging” dari dalam dirinya, dia tidak tahu sampai Allah memberitahukan alasannya: “cukuplah kasih karunia-Ku” (2 Korintus 12:9)

Nah, hidup kita sebenarnya adalah milik Tuhan, dan di dalam rangka kita mengenal Sang Pemilik Hidup kita, Tuhan akan menyayangi kita, yang mana seringkali kita tidak menyadarinya. Hal itu terjadi karena kita tidak mengetahui apa sebenarnya rencana Tuhan di dalam hidup kita. Kita jadi seringkali protes atas hal-hal buruk yang menimpa hidup kita. Harus diakui bahwa ternyata hidup kita adalah hidup yang bermakna, dan kebermaknaan itu hanyalah karena ANUGRAH ALLAH! Itulah yang Allah sendiri minta pada kita: “TAAT dan SETIA”. Hanya 2 kata, tapi bayangkan betapa susahnya hal tersebut untuk dapat kita lakukan.

Fanny Crosby mencoba menuliskan sebuah lagu yang sangat indah:

I am Thine, O Lord, I have heard Thy voice,
And it told Thy love to me;
But I long to rise in the arms of faith
And be closer drawn to Thee.

Reff:
Draw me nearer, nearer blessèd Lord,
To the cross where Thou hast died.
Draw me nearer, nearer, nearer blessèd Lord,
To Thy precious, bleeding side.

Consecrate me now to Thy service, Lord,
By the power of grace divine;
Let my soul look up with a steadfast hope,
And my will be lost in Thine.

O the pure delight of a single hour
That before Thy throne I spend,
When I kneel in prayer, and with Thee, my God
I commune as friend with friend!

There are depths of love that I cannot know
Till I cross the narrow sea;
There are heights of joy that I may not reach
Till I rest in peace with Thee.

Indah sekali lagu ini. Kerinduan dari Fanny Crosby adalah dia ingin menjadi milik Tuhan Yesus sendiri.

Allah yang mengasihi kita melalui PutraNya. Allah yang memberikan hidup kekal melalui salib – yang mana Ia telah membeli kita melewati lembah kekelaman dosa. Allah yang memiliki kita, yang menuntun tiap langkah kehidupan kita. Allah yang membenci dosa kita, namun tetap ingin sekali memeluk kita dengan kasihNya… Itulah pribadi Allah Tritunggal – sang pemilik hidup kita. Dialah yang layak untuk menerima hormat dan kemuliaan. Ia yang sering kita sakiti namun dengan salib itu dan dengan kata “SUDAH SELESAI”, seluruh orang yang percaya diselamatkan. Itulah Allah yang sejati – Raja di atas segala raja, yang menguasai hidup kita.

Apa yang mau kita perbuat setelah kita mengetahui bahwa realitas hidup kita semuanya adalah milik Tuhan? Tidak mudah untuk menyadari hal ini. Pengenalan akan Allah yang benar akan terus berlangsung selama proses hidup kita. Kita hanya perlu belajar untuk TAAT dan SETIA, menikmati setiap proses yang Tuhan berikan sambil memaknai bahwa tidak ada satu hal pun di dalam hidup kita yang lepas dari kontrolNya. Menanggapi hal tersebut berarti kita tidak perlu kuatir akan apapun yang terjadi dalam hidup kita. Allah yang memiliki, dan Allah yang mengatur, tinggal kita mau turut kehendakNya atau tidak.


Soli Deo Gloria!

Sunday, September 15, 2013

Belajar Dari Yeremia: Panggilan Nabi Yeremia

Di dalam alkitab, ada banyak pribadi yang menarik dan perlu untuk kita pelajari, dan salah satunya adalah seorang nabi yang dikenal sebagai nabi yang melankolis yakni Yeremia. kalau kita baca dari kitab Yeremia, Ia adalah seorang yang sangat melankolis dan ekspresif. Selain itu ada banyak hal yang menarik kalau kita membaca kitab ini dari awal hingga akhir. Kali ini saya mencoba untuk melihat sedikit momen saat Ia dipanggil untuk pelayanan. Kita jugaakan melihat seperti apa implikasinya.

Yeremia dipanggil langsung oleh Allah di dalam masa mudanya. Di masa mudanya Ia mendapatkan panggilan Tuhan secara langsung dan ini bisa kita lihat di Yeremia 1:4-5

Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa." 

Mungkin tak seorang pun dari kita mendapatkan privilege seperti yg didapatkan Yeremia dari panggilan itu. Tapi poin yang menarik adalah apa yang Allah katakan kepada Yeremia bahwa semenjak di kandungan pun Allah telah memilih Yeremia. Saya sendiri yakin bahwa bukan hanya Yeremia sebenarnya yang Ia pilih, tetapi juga setiap kita. Allah memanggil kita untuk memiliki suatu relasi di dalam Dia. Ia telah menguduskan kita. Menguduskan dalam hal ini merujuk kepada "dipisahkan" dari yang lain.

Kita perlu belajar menerima hal ini sebagai suatu realitas hidup. Allah memanggil kita dan kita mendapatkan suatu privilege luar biasa. Kalau kita melihat sekitar kita dan juga diri kita sendiri, kita pun sebenarnya juga perlu untuk evaluasi diri kita. Apakah selama ini kita sudah memaknai panggilan tersebut di dalam hidup kita? Kita dipanggil bukan hanya untuk menikmati berkat dari Tuhan. Kita dipanggil juga untuk melayani Dia dengan tidak gentar.

Yeremia 1:6 Maka aku menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda."

Inilah yang juga menjadi suatu alasan bagi kebanyakan orang. Hal ini juga saya pribadi alami di gereja tempat saya beribadah. Ada banyak orang muda enggan untuk memulai suatu pelayanan. Ada yang merasa tidak mampu untuk melayani, ada yang merasa minder, ada pula yang memang telah mengalami kepaitan. Yeremia juga pernah mengalami kepaitan, tetapi hal itu akan kita bahas nanti di tulisan berikutnya.

Kita mengakui bahwa hidup kita adalah milik Tuhan, bukankah begitu? Anehnya ketika kita diminta untuk pelayanan buat Tuhan, kenapa sih kita merasa tidak mampu? Sama sih, semua juga sebenarnya tidak ada yang mampu, karena memang semuanya dari Tuhan. Kalau hari ini pun saya bisa mempublish tulisan ini, bukankah itu juga dialaskan pada ketidakmampuan saya, tetapi bagaimana Tuhan bekerja melalui talenta saya, melalui bakat saya, dan kemampuan saya.

Jadi mengapa kita merasa minder atas setiap hal yang Ia percayakan atas kehidupan kita? Layakkah kita minder dan kita merasa tidak mampu? Ketika kita minder dan kita merasa bahwa kita tidak bisa melakukan suatu hal yang Allah percayakan, maka kita sebenarnya juga secara tidak langsung tidak memiliki pemahaman yang benar tentang Allah. Sikap kebalikannya pun juga tidak benar. Waspadalah terhadap overconfidence - suatu sikap dimana kita merasa diri kita mampu melakukan apapun tanopa melibatkan Allah di dalam setiap hidup kita. Saya pernah merasakan ini dan percayalah rekan2, hal ini sangat tidak nyaman. Ketika kita mampu melakukan apapun dan melupakan Allah, kita perlu segera berbalik kepadaNya, mohon ampun atas kelancangan kita.

Yeremia 1:7-8 Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN." 

Jaminan penyertaan Tuhan itu nyata! Ayat ini menunjukkan pada kita bahwa kita hanya perlu percaya kepadaNya. Panggilan Allah atas hidup kita itu mutlak. Mau tidak mau kita harus melakukannya. Ayat ke 8 menyatakan hal tersebut. Jadi sebenarnya ketika kita akan memulai suatu pelayanan apapun, apa yang kita takutkan? Terkait dengan skill, Tuhan yang akan menyediakannya.

Kita hanya perlu terus belajar sambil memaksimalkan kehidupan kita di dalam Dia. Apa yang menjadi ketakutan kita di dalam kita akan memulai suatu pelayanan? Masuk akalkah ketakutan kita? Mari belajar dalam hidup ini untuk kita melihat bahwa Ia yang memimpin setiap aspek hidup kita. Ia yang menyertai setiap langkah kehidupan kita. Ia yang akan menuntun kita untuk setia sampai akhir. Yang perlu kita lakukan adalah menjaga intimasi denganNya.

Soli Deo Gloria

Sunday, July 21, 2013

Bulan Penuh Kemenangan

Memasuki bulan Juli, saudara-saudara sebangsa dan setanah air memasuki bulan suci menyambut bulan ramadhan. Ya, bulan Juli hingga awal Agustus nanti, rekan-rekan dari agama Islam akan menikmati indahnya ibadah puasa. Indonesia, sebagai salah satu negara Islam terbesar di dunia, tentu juga menikmati ibadah puasa pula. Kaum muslim di Indonesia tentu perlu bersyukur bahwa di Indonesia, rasa toleransi masih sangat terjaga.

Ada beberapa realita yang unik, dan menarik di Indonesia menyambut bulan ramadhan dan masa puasa. Tulisan ini bertujuan untuk setidaknya “rethinking” tentang sebenarnya apa makna puasa itu?

1.       Setiap pagi sekitar pukul 2.30, ada beberapa orang, mulai berteriak-teriak di kompleks rumah saya. Teriakan itu sungguh merdu dan penuh berkah. Ya, apalagi kalau bukan “bangun! Bangun, waktunya sahur!” Entahlah apakah sebenarnya teriakan-teriakan itu perlu? Mari berpikir ulang, bahwa kalau kita perlu dan kita ingin benar-benar “submit to God”, yang menjadi arti dari Islam sendiri, apakah untuk mendekat kepada Allah kita perlu dibangunkan? Apakah arti ibadah itu manakala kita bangun pagi dengan terpaksa? Kalau kita memang belajar untuk mengasihi Allah, bukankah kita akan mempersiapkan segala cara untuk kita dapat bangun pagi? Diantaranya adalah kita pasang alarm, memberitahu keluarga kita, dan sebagainya. Artinya ritual membangunkan ini justru bisa jadi bagi rekan-rekan yang non-muslim menjadi sesuatu yang “ganjil”. Mengapa? Akhirnya Islam dipandang sebagai agama yang penuh dengan keterpaksaan untuk bangun pagi dan hanya mbelani untuk makan.

2.       Di sekitar kompleks rumah saya, ada banyak sekali warung tegal yang biasanya buka dari jam 07:00 hingga 21:00. Bisa dibayangkan betapa ramainya warung tersebut dan begitu berkembang. Namun di tengah bulan puasa, semuanya menutup diri. Semuanya akhirnya buka mulai jam 17:00, menghidangkan menu-menu lezat bagi rekan-rekan beragama Muslim untuk mulai berbuka puasa. Wah nikmatnya! Namun kalau kita amati lagi lebih jauh, sebenarnya pentingkah bagi warung-warung itu untuk menutup diri? Apakah perlu warung-warung itu akhirnya menutup seluruh warungnya dengan kain-kain agar makanan itu menjadi tidak nampak dari luar? Saya hanya membayangkan, “Wah enak sekali kita sangat didukung di dalam puasa!”. Apakah benar? Bukankah inti dari puasa adalah menahan godaan dari luar untuk kita menahan nafsu makan kita, agar kita tidak marah-marah, dan seterusnya. Apakah dengan seluruh makanan tertutup seperti itu, lalu nafsu apa yang harus kita tahan?

3.       Tempat-tempat hiburan tutup pada bulan puasa. Karaoke, pijat plus-plus, diskotik, dan sebagainya ternyata tidak boleh buka. Ada satu berita pula kalau setiap hari selama bulan puasa, aparat rajin melakukan razia terkait dengan tempat-tempat seperti itu. Wow! Apabila saya sebagai orang non-muslim hanya bertanya: “Kalau begitu, apakah selama bukan hari puasa, apabila saya seorang muslim, saya boleh melakukan hal-hal tersebut?” ah sungguh menarik bukan? Pertanyaan yang sama sebenarnya dengan nomor dua tadi, jadi sebenarnya apakah hanya saat bulan puasa saja tempat seperti itu harus ditutup? Ada inkonsistensi disini apabila orang-orang muslim mengatakan bahwa mereka adalah agama yang cinta damai dan toleransi. Apabila seorang muslim mengatakan bahwa mereka adalah agama yang toleran, maka sebenarnya tempat-tempat maksiat seperti itu tidak perlu ditutup. Ingat, ada banyak orang yang memang menjadi penikmat tempat itu, namun sebagai orang Islam yang taat, bukankah kita akan menjadi punya dorongan yang kuat untuk menahan godaan itu? Konsisten melakukan sholat dan dzikir, maka sebenarnya bisa kok hal-hal tersebut dilalui. Jadi bukan hanya pada saat puasa, lalu setelah puasa kita jadi salah satu dari penikmat-penikmat tempat-tempat seperti itu, bukankah itu tidak konsisten? Ayo belajar pelihara konsistensi kita. Bukankah internal hati kita itu jauh lebih penting daripada kondisi di sekitar kita?
Saya percaya bahwa puasa memang tidak dapat menghalangi kita untuk melakukan hal-hal yang buruk, tetapi bayangkan saja, kita bisa jadi orang-orang yang justru membohongi diri kita sendiri dengan inkonsistensi dalam tindakan kita. Kita bilang bahwa kita puasa, tapi realitanya mungkin kita sedih juga kalau tidak bisa karaoke, dan sebagainya.

Saat ini cukup saya memaparkan 3 realita tersebut, dan saya mencoba mengkaji kembali, apa sebenarnya arti toleransi? Toleransi itu seperti semboyan negara kita yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”, yaitu justru di dalam suatu perbedaan suku, agama, dan ras, kita boleh semakin hari makin bertumbuh di dalam kecintaan kita terhadap tanah air. Artinya apa? Sebagai bangsa Indonesia, kita sering dengar istilah “Hormatilah orang yang berpuasa”, dan saya mau menawarkan kepada rekan-rekan sebangsa dan setanah air, bagaimana jika semboyan itu menjadi “Hormatilah orang yang tidak berpuasa”? bagaimana menurut rekan-rekan? Menurut saya itu jauh lebih menunjukkan indahnya Islam, sebagai sebuah agama yang memiliki toleransi.


Saya hidup di Bogor, dan saya tak tahu apa yang dialami di daerah-daerah sekitar Indonesia. Saya sedih melihat realita bangsa yang “bhinneka tunggal ika” ini saat ini ingin dihancurkan oleh beberapa oknum yang menamakan dirinya “Islam”, namun sama sekali tidak mencerminkan sifat-sifat atau atribut yang dimiliki seorang Islam. Saya percaya bahwa realita ini tentu perlu dikaji ulang, serta kita sebagai bangsa perlu berpikir tentang hal-hal seperti ini, bahwa ternyata realita bangsa Indonesia adalah bangsa yang penuh dengan diversity. Jangan sampai diversity menjadi sesuatu yang menghancurkan, namun justru jadi satu kesempatan untuk belajar saling menopang sebagai orang-orang Indonesia. Warga negara Indonesia! Salam!

Thursday, May 9, 2013

Hectic Christianity - Sebuah Refleksi tentang Gaya Hidup Kekristenan


Kehidupan orang Kristen seringkali di dalam suatu kondisi yang sangat hectic. Maksudnya adalah di dalam kehidupan yang begitu cepat bergulir, tanpa adanya suatu kesempatan untuk kita bisa duduk tenang dan terus bekerja bahkan di dalam pelayanan kita sekalipun, baik di gereja maupun di tempat kerja, dan dimanapun, kita bisa kehilangan ketenangan hati kita. Inilah bahayanya ketika kita mulai menjadi orang Kristen yang sudah mulai terlibat pelayanan ataupun kegiatan yang membuat kita tidak bisa lagi menikmati Tuhan di dalam kesendirian kita. Mengapa? Karena hampir tidak mungkin kita punya suatu relasi, suatu waktu yang benar-benar personal dengan Allah.

Inti kehidupan Kristen, yang menjiwainya sebenarnya adalah personal relationship with God. Itu berarti memang kehidupan Kristen adalah kehidupan yang luar biasa, yang mana Tuhan yang imanen, Tuhan yang dekat dengan kita, adalah Tuhan yang ingin bergaul dekat dengan kita. Inilah yang terkadang setiap kita lupa, bahwa di dalam kehidupan kita, suatu saat kita perlu duduk diam sambil merenungkan betapa besarnya karya Tuhan di dalam nafas kita, di dalam kehidupan kita, di dalam hati kita, di dalam setiap hal yang kita lakukan. Suatu waktu yang menjadi sangat indah pada saat kita belajar untuk duduk diam, sambil merefleksikan betapa agung karyaNya di dalam kehidupan kita.

Masa penantian merupakan suatu masa yang membosankan, yang mana kita bisa saja berputar-putar di dalam kita menantikan sesuatu, dan kalau kita tidak sabar, maka kehidupan ini bisa “memakan” kita. Maksudnya? Ya kehidupan akan terus menggerogoti kita dengan berbagai hal yang menarik, yang membuat kita melupakan tujuan utama kita diciptakan sebenarnya untuk apa dan untuk siapa? Apabila kita tidak punya suatu pegangan di dalam menjalani kehidupan ini kita bisa terperangkap.

Ini menjadi suatu peringatan bagi kita. Penantian adalah suatu proses seumur hidup yang mana kita tentu saja melewati berbagai fasa kehidupan di dalam penantian itu. Maka dari itu, apabila kita tidak berhati-hati di dalam proses itu, kita menjadi orang yang tidak sabaran, yang mana pada akhirnya kita menjadi terburu-buru, kita akan missing berbagai poin yang harus kita jalani, akhirnya kita memilih untuk segera menyelesaikannya dengan cara yang tidak benar. Akhirnya kehidupan ini menjadi kehidupan yang sangat melelahkan. Kehidupan menjadi suatu waktu dimana penuh dengan tuntutan dan kita tidak mampu untuk menerima tuntutan itu karena berbagai sebab.

Nah di sinilah kita perlu merenungkan perkataan Tuhan Yesus di dalam injil Matius, di Matius 11:28-30, berbunyi demikian:

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan
(Matius 11:28-30)

Lalu mengapa sebagai orang Kristen kita bisa lelah? Mengapa rasanya menjadi orang Kristen menjadi suatu kehidupan yang penuh tuntutan dan kita tidak bisa merasakan damai sejahtera dari Allah? Mengapa kita melakukan sesuatu namun kita tidak dapat hidup dengan tenang dan dipenuhi aturan-aturan yang mengikat kita? Sebagai orang Kristen, secara komplit alkitab memberikan berbagai aturan dan ketetapan yang sangat mengikat kita, namun juga membebaskan kita. Rasul Paulus menuliskannya di dalam suratnya kepada jemaat di Korintus:

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
(2Korintus 5:17)

Ciptaan baru, kehidupan baru yang diberikan oleh Kristus melalui pengorbananNya di kayu salib membuat kita sadar bahwa kehidupan kekristenan adalah kehidupan yang mengikat, dalam artian kehidupan sebelumnya pun kita juga diikat oleh dosa. Setelah kita percaya akan karya Kristus di kayu salib, itulah momen di mana kita dilepaskan dari kehidupan lama kita dan mengenakan status baru yaitu orang yang sudah ditebus oleh Allah. Dari hamba dosa, menjadi hamba kebenaran. Bukankah ini suatu janji di dalam kehidupan yang tentunya menguatkan kita? Sama-sama menjadi hamba, tapi yang satu adalah menjadi hamba atas feeling guilty kita, atas dosa-dosa kita, dan sebagainya. Setelah menjadi seorang Kristen, kita menjadi hamba kebenaran, yang mana kita mendapatkan suatu anugrah yang luar biasa di dalam kehidupan keseharian kita.

Menjadi seorang hamba tentu saja akan melelahkan, namun menjadi hamba kebenaran jauh lebih menyenangkan! Di dalam kesadaran bahwa Allah yang memegang kendali atas APAPUN yang kita kerjakan, maka sebenarnya kehidupan kita menjadi sesuatu yang menyenangkan. Kita selalu bisa bersyukur atas apapun yang kita alami, termasuk di dalam hal-hal di dalam kehidupan kita yang mana kita punya suatu kerinduan tertentu. Pasangan hidup misalnya, ataupun pekerjaan, berbagai hal lain yang kita nantikan. Kita bisa saja lelah di dalam penantian itu, sungguh! Karena kita berpikir bahwa “Tuhan, ini sudah waktunya! Saya sudah tidak sabar!” dan kita merasa bahwa kita siap mendapatkan sesuatu namun belum mendapatkan jawaban dari Tuhan, akhirnya kita lelah.

Itulah momen di mana kita perlu duduk diam dan tenang dan mulai merenungkan apa yang sudah dikerjakan Tuhan di dalam hidup kita. Tidak perlu jauh-jauh, kalau tidak ada satu hal pun yang terasa baik di dalam kehidupan kita, bukankah kita dapat bersyukur kalau hari ini kita masih bisa hidup? Bukankah kalau hari ini kita masih bisa bernafas dengan gratis, tidak seperti orang-orang yang harus mengenakan tabung oksigen untuk bernafas? Selalu ada ruang untuk kita bersyukur, yang perlu kita lakukan adalah duduk diam dan mulai merenungkan apa yang sudah Allah lakukan dalam kehidupan kita, sampai akhirnya kita bukan hanya bisa mengatakan bahwa Tuhan itu baik, tapi benar-benar menghidupi kalimat itu.

Saya menutup artikel ini dengan sebuah kalimat dari Dr. Ravi Zacharias, sebagai berikut:

"As we move along in our busy life as a businessperson, moving on a hectic pace, pausing to learn the true value of nothing, but moving on and on and on, will you take time enough today to pause and ask yourself, how much God loves you? That He cares for you. Of for those of you who live in insecurities and does not have much more to offer, isn’t it wonderful to know, that He’s given Himself for you. If God could say through Isaiah “what more have I done to you that I’m not already done”, how much more could He said after the cross, where He sends His son to lay down His life for you and for me. God’s love: undeserving, grows on relationship, desperately needed."

(Selama kita menjalani kehidupan kita sebagai seorang bisnisman, yang mana kita hidup di dalam kelelahan dan berhenti sejenak untuk mempelajari hal-hal yang sebenarnya tidak bernilai, dan kita terus bergerak, apakah hari ini kita sudah duduk diam sejenak dan bertanya kepada diri kita sendiri, seberapa besar Allah mengasihi kita dan bahwa Ia memperhatikan kita. Bagi setiap kita yang hidup di dalam ketidakmampuan dan tidak memiliki hal apapun yang kita dapat berikan, bukankah ada satu kabar baik bagi kita, bahwa Dia telah memberikan diriNya bagi kita. Apabila Tuhan dapat berkata melalui nabi Yesaya “Apatah lagi yang harus diperbuat  yang belum Kuperbuat kepadanya?” (kutipan dari Yesaya 5:4), maka seberapa besar yang dapat Ia berikan setelah Ia disalib, yang mana Dia mengirimkan PutraNya yang tunggal untuk menyerahkan nyawaNya bagi anda dan bagi saya. Kasih Allah: tidak layak untuk kita terima, bertumbuh di dalam relasi, dan sangat amat dibutuhkan.)

Semoga tulisan ini bisa mengingatkan kita bahwa di tengah kesesakan kita hidup di dunia ini sebagai orang Kristen, ada banyak hal yang dapat kita lakukan, namun jangan lupakan untuk kita tetap sediakan waktu untuk duduk sejenak saja dan merenungkan karya Tuhan dan apa mau Tuhan di dalam kehidupan kita.

Soli DEO Gloria!

Sunday, March 17, 2013

Berharap Kepada Allah


Indonesia, dengan segala permasalahannya dan segala kegalauannya dewasa ini tentunya membuat kita sebagai orang Kristen melihat dan berpikir: “Apa yang sebenarnya dilakukan oleh orang-orang ini?” Tidak hanya orang Kristen sih, tetapi sebagian besar rakyat Indonesia!

Ada sekitar 560 anggota DPR, ketika mereka berangkat studi banding ke luar negeri, kemudian tiba-tiba pesawat yang mereka naiki menabrak gunung dan pesawat itu jatuh dan hancur, sebuah pertanyaan: “Berapa orang yang selamat?” Suatu jawaban yang penuh dengan sinisme adalah “250 juta jiwa”. Lho kok bisa? Ya, 250 juta rakyat Indonesia akan selamat!

Jawaban ini sangat luar biasa! Dari jawaban tersebut dapat dilihat betapa Indonesia saat ini terlihat sebagai suatu bangsa yang terpuruk. “Bangsa ini sedang sakit!” demikianlah ungkap seorang tokoh di Indonesia. Selain itu, seorang dalang yang merupakan budayawan dari Indonesia berkata: “Negeri ini sudah gila, korupsi dari sapi hingga kitab suci” Ungkapan ini tentunya datang dari seseorang yang prihatin dengan keberadaan bangsa ini sebagai bangsa yang (dulunya dianggap) besar.

Apa yang dapat kita pelajari dari berbagai sinisme yang muncul di masyarakat saat ini? Orang-orang saat ini sedang berharap tentang adanya suatu perubahan yang radikal! Suatu perubahan yang mampu memberikan pengharapan bagi mereka yang bukan hanya tebar pesona. Bangsa ini sudah mulai lelah dengan berbagai kondisi yang ada, rakyat mulai tidak percaya lagi dengan pemimpin mereka saat ini di tengah badai polemik yang melanda bangsa ini.

Masih adakah pengharapan di tengah bangsa ini? Pertanyaan ini sejatinya juga mungkin ditanyakan orang-orang Israel pada masa mereka dibuang ke Babel. Allah yang berdaulat atas bangsa Israel, merupakan Allah yang memberikan pengharapan kepada orang-orang Israel. Nabi Yesaya menuliskannya, di dalam Yesaya 43-46 memperlihatkan janji Allah yang menyertai bangsa Israel. Itu pula sebenarnya yang sedang dilakukan Tuhan saat ini di tengah bangsa ini. Allah yang berdaulat adalah Allah yang tidak hanya memberikan janji tapi juga memang menguasai dunia ini!

Kepada apa sebenarnya kita menaruh pengharapan kita saat ini? Apabila kita membaca di injil menurut Yohanes 12:1-8 menunjukkan sebuah sikap menyerahkan hidup sepenuhnya di dalam Tuhan. Siapakah itu? Tentu saja Maria! Ya, di dalam perikop ini Maria menunjukkan sikap hidup menyerah sepenuhnya kepada Tuhan. Minyak Narwastu itu merupakan minyak yang sangat mahal! Yudas mencoba memberikan nilai minyak narwastu itu sebesar 300 dinar, yang mana 1 dinar setara dengan upah sehari orang-orang pada jaman itu. Jadi kalau dikonversi, sebenarnya itu adalah gaji kita satu tahun! Coba bayangkan apa sebenarnya yang sedang dilakukan oleh Maria pada saat itu.

Selain mencucurkan minyak narwastu itu di kaki Yesus, yang dilakukan oleh Maria berikutnya adalah menyekanya dengan rambutnya. Apa yang dapat dilihat dari sini? Kalau kita melihat bahwa rambut merupakan mahkota dari seorang perempuan, yang dilakukan oleh Maria ini berarti merupakan sikap yang benar-benar merendahkan diri di hadapan Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan Yesus adalah tempat dimana satu-satunya dimana ia dapat berharap. Ini tentu merupakan hal yang menarik, mengingat yang melakukan itu semua bukan 12 murid yang dipilih Yesus, melainkan seorang perempuan yang mana di jaman itu perempuan mendapatkan perlakuan yang sangat berbeda dengan laki-laki.

Sikap seperti ini mengingatkan kita, kepada siapa sebenarnya kita berharap. Paulus juga mencoba memberikan sebuah insight kepada kita mengenai pengharapan. Mari kita coba lihat di dalam Filipi 3. Paulus, yang dikenal sebagai seorang Yahudi yang taat, merupakan ahli taurat yang cukup “mengerikan” pada jaman itu. Sosok Saulus yang dikenal sebagai penganiaya jemaat, dan melaksanakan hukum taurat dengan sangat taat, mungkin bagi Saulus adalah suatu kebanggaan tersendiri. Ia tidak membutuhkan juru selamat karena ia adalah orang yang suci, itulah anggapannya. Tetapi di dalam suratnya kepada jemaat di Filipi ia menuliskan betapa sebenarnya hidupnya itu tidak ada artinya. Kehidupan lama yang ia bangga-banggakan tidak berharga dibandingkan dengan pengenalannya akan Kristus.

Apabila kita cermati juga di dalam kehidupan Paulus, di dalam surat-surat yang Ia tuliskan kepada jemaat, ada sesuatu yang menarik. Awalnya ia menganggap bahwa ia tidak lebih tinggi dari para rasul (1Korintus 15:9). Berikutnya ia menganggap bahwa ia adalah orang yang paling rendah diantara orang percaya , dan akhirnya ia mengakui bahwa dirinya adalah orang yang paling berdosa diantara semua orang (1Timotius 1:16). Itulah pengharapan Paulus, yaitu pada saat ia menggantungkan seluruh hidupnya kepada pengenalan akan Tuhan Yesus.

Kepada siapakah saat ini kita berharap? Pemazmur menuliskan di dalam Mazmur 121 dengan sangat indah. Inilah janji Tuhan yang luar biasa. Mazmur 126 juga menyatakan hal tentang pengharapan kita, bahwa Allah sedang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang luar biasa! Roma 8:28 menunjukkan bahwa segala hal di dunia ini dirancangkan untuk kebaikan kita yang mengasihi Allah, dan janji Tuhan di dalam Wahyu 21:4, Ia akan menghapuskan segala air mata!

Kiranya tulisan singkat ini dapat mengingatkan kita betapa besar Allah dan betapa kemuliaan Allah adalah satu-satunya tempat kita dapat berharap. Tuhan Yesus yang merelakan nyawanya menjadi tebusan bagi orang banyak, kiranya kehidupan kita pun mencerminkan apa yang Tuhan Yesus lakukan. Marilah kita memiliki kehidupan yang bergaul dengan Allah, melalui kebenaran Firman Tuhan dan juga tidak hanya memberikan warna di alkitab kita, hendaknya kehidupan kita pun juga diwarnai oleh kebenaran firman itu sendiri sehingga kita bisa memancarkan kemuliaan Allah di dalam kehidupan kita.

Soli Deo Gloria

Friday, January 25, 2013

Kenapa Kristen?


Pertanyaan yang sangat mendasar dalam kehidupan kita, salah satunya adalah pertanyaan mengapa kita memilih suatu agama / kepercayaan tertentu. Mengapa hal itu penting? Karena sebenarnya itulah yang merupakan dasar kita melakukan sesuatu. Nah, menarik sekali kalau kita bahas tentang keunikan kekristenan. Mengapa saya memilih Kristen sebagai agama saya? Apa yang menarik dari Kekristenan?

Saya adalah seorang pendosa, sama juga semua orang. Bahkan itu belum pernah saya sadari di dalam kehidupan saya sebelum saya mengenal Allah. Proses yang begitu panjang sampai bisa mengenal Allah, dan pengenalan akan Allah itu dimulai dengan ayat yang sangat simple dan singkat, diambil dari Efesus 2:8-10. Sekalipun tidak mudah dan tidak sesederhana itu.

Kedaulatan Allah melampaui segala akal kita, itulah ide awal dari kekristenan. Ketika Allah menciptakan kita, bahkan sebelum dunia dijadikan sekalipun, kita adalah orang-orang yang sudah mendapatkan anugrah. Ini dituliskan di dalam kitab Roma oleh Paulus. Tentu saja kalau kita ingat Paulus adalah orang yang awalnya adalah penganiaya jemaat, tetapi itulah karya Allah! Allah benar-benar serius di dalam karya keselamatan yang Ia kerjakan dalam kehidupan setiap orang pilihanNya.

Kenapa kita bisa sampai memilih Kristen? Jawabannya adalah sebenarnya bukan kita yang memilih, tetapi dari semula Allah sudah menentukan kita untuk menjadi seorang Kristen. Allah semesta langit, Dialah yang berdaulat untuk menentukan semuanya dalam dunia ini (Roma 8:28-29). Jadi kalau ada seorang Kristen sampai mengaku bahwa menjadi orang Kristen adalah hasil dari pilihannya sendiri, itu sangat mengerikan.

Kalau kita menyadari bahwa kita sudah dipilih Allah, lalu bagaimana sikap kita sebagai orang Kristen? Apakah kita akan tetap hidup di dalam kehidupan lama kita? Ataukah kita belajar untuk menikmati anugrah Allah dengan memiliki kerohanian yang benar dan tindakan yang benar? Sekalipun keselamatan itu gratis, tapi bukan berarti kita sia-siakan. Memang itulah sifat dasar manusia, kalau diberikan sesuatu yang gratis biasanya langsung membuang-buang. Namun apabila sesuatu itu didapatkan dengan sangat susah, maka akan sangat dijaga dengan baik.

Sama juga dengan sikap kita. Apakah kita menganggap darah Yesus itu hanya sekedar gratis? Tidak! Ia menebus kita dengan darah yang mahal, bahkan sampai rela menyerahkan apapun. Masih ingatkah kita tentang perumpamaan mutiara yang berharga (Matius 13:45-46)? Ketika Allah melihat kita sebagai mutiara, Ia rela melakukan apapun untuk kita. Bagaimana sikap kita setelah kita ditebus? Apakah kita berani untuk belajar melakukan apapun untuk Allah?

Pilihan Yesus atas hidup kita tidak pernah salah. Ketika kita menjadi seorang Kristen, apabila kita memaknainya benar-benar, maka hidup kita akan memancarkan kemuliaan Allah di dalam hidup kita. Bukan berarti kita jadi orang yang sombong. Tidak! Tetapi justru kita memancarkan kemuliaan Allah, berarti melalui kehidupan kita Allah yang dipermuliakan, bukan kita!

Soli Deo Gloria

Wednesday, December 26, 2012

Christmas Reflection - Allah yang Mengambil Rupa Seorang Hamba


Meriahnya Natal di seluruh dunia, di Indonesia pun juga sangat meriah. Gereja-gereja juga mempersiapkan berbagai macam acara natal dan mengundang artis-artis untuk dapat mengisi acara mereka. Mall-mall penuh dengan lagu-lagu natal dan diskon, gereja menambah kapasitas mereka untuk menampung lebih banyak lagi jemaat, dan berbagai kemeriahan lain yang menunjukkan keseriusan di dalam merayakan kelahiran sang Juruselamat.

Sementara di sudut lain di Indonesia, orang-orang berusaha merayakan natal mereka masih bergelut dengan ijin gereja, bagaimana di dalam perayaan natal di daerah juga masih saja diteror oleh ketakutan. Bukan hanya terror, namun benar-benar dilakukan eksekusi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Sementara banyak orang yang merayakan natal secara luar biasa megah, ada juga orang-orang yang bahkan di dalam kesederhanaan mereka, mereka tetap belajar untuk merayakan sukacita kelahiran Tuhan Yesus.

Refleksi kali ini adalah mengajak setiap kita merenungkan berita kelahiran Tuhan Yesus, namun dari suatu sisi yang lain. Apabila diperhatikan mengenai kelahiran Tuhan Yesus, tidak dapat lepas dari realita bahwa Ia adalah Allah, yang mengambil rupa manusia, yang mana sebagai HAMBA (Filipi 2:1-11). The whole story – keseluruhan berita alkitab berfokus kepada Allah dan bagaimana peran Allah di dalam kehidupan manusia.

Berita lain di dalam alkitab kalau kita membaca di Yohanes 3:16, sangat jelas apa yang menjadi kerinduan hati Allah di dalam dunia ini. Bukan hanya ayat 16, bahkan sampai ayat 18 mempertegas kembali peran Tuhan Yesus. Pendamaian yang diberitakan di dalam alkitab – pemulihan relasi antara Allah dan manusia hanya dimungkinkan di dalam pengorbanan Sang Anak Domba Allah. Sang Raja itu mengambil rupa seorang HAMBA, dan inilah sesuatu yang menarik di dalam alkitab dan kekristenan. Allah yang almighty menjadi Allah yang menjadi slave.

Teladan itulah yang sebenarnya perlu untuk kita pelajari di dalam kehidupan kekristenan kita. Kemegahan natal bukan pada hadiah kepada kita – tetapi bagaimana perubahan hidup kita – evaluasi hidup kita akan apa yang Kristus kerjakan di dalam kehidupan kita. Apabila Allah yang mengambil rupa seorang hamba – sampai rela turun ke dalam dunia manusia yang berdosa dan bejat, kita pun sebenarnya dituntut untuk tidak berada di dalam posisi kita sebagai raja. Mengakui secara penuh bahwa kita ini juga adalah hamba-hamba Allah – yang sudah mendapatkan anugrah keselamatan itu. Hal ini akan terus mengingatkan kita bahwa kelahiran Tuhan Yesus itu merupakan sejarah terbesar umat manusia.

Sejarah kehidupan manusia – lahir tua sakit mati – dirombak oleh Kristus, tidak berakhir di dalam kematian, namun di dalam kebangkitan. Kristus yang menjadi anak sulung (Roma 8:29) dan kita akan menjadi saudara-saudaraNya. Bukankah natal adalah momen kelahiran Tuhan Yesus, sang pengubah sejarah kehidupan manusia? Ia membongkar siklus kehidupan manusia, mengubah siklus itu sampai kepada kehidupan kekal, dan bukankah ini yang harus diingat oleh umat manusia? Bahwa tanpa adanya kelahiran Tuhan Yesus di dunia ini, sejarah manusia berakhir kepada kematian saja, artinya bahwa kehidupan sama sekali tidak berarti apapun?

Yuk mengingat esensi natal yang sesungguhnya. Ia yang MAHA TINGGI menjadi HAMBA, menjadi yang PALING RENDAH! Bagaimana tanggapan kita? Apakah kita masih mengharapkan sebuah kado natal? Kado natal yang paling indah itu sudah DIA berikan melalui kelahiran Yesus Kristus. Tanpa Yesus Kristus, semuanya adalah kesia-siaan belaka. Seperti apakah natal yang kita rayakan? Apakah dengan sebuah acara yang megah demi kepuasan kita sendiri? Apakah dengan pohon natal mewah yang penuh dengan kado?

Natal adalah momentum yang Tuhan sediakan bagi kita untuk terus mengingat kembali apa yang Yesus kerjakan. Natal itu mengingatkan kita tentang banyak hal; KESETIAAN Maria dan Yusuf, PENYERAHAN DIRI Maria, IMAN dari Elisabeth, PENYEMBAHAN oleh orang-orang Majus dan para gembala, dan tidak boleh dilupakan juga adalah HAUS KUASA oleh Herodes. Kado apa yang sedang kita persiapkan untuk ulang tahun Tuhan kita? Natal adalah kesempatan bagi kita mengingat kembali – Allah yang MAHAKUDUS turun ke dunia untuk menyelamatkan manusia yang BERDOSA. Ia mengambil rupa seorang HAMBA, hidup di dalam suatu kondisi masyarakat yang menolak Dia, bahkan kematianNya disalib, yang merupakan penghinaan di jaman itu, namun tidak berhenti sampai disana. Kebangkitan Kristus di hari ketiga dan kenaikanNya ke sorga serta berbagai janji Tuhan tidak akan pernah berubah, dan itulah yang mengubah sejarah kehidupan manusia. Mari memaknai kehidupanNya.

Selamat Natal. Tuhan memberkati.

Tuesday, December 18, 2012

Keunikan Kekristenan di Tengah Kehidupan Post-Modernisme


“All religions are fundamentally the same!” Pernyataan itu adalah pernyataan yang saat ini cukup populer di dalam kehidupan masyarakat post-modernism. Kebenaran telah digantikan oleh sesuatu yang relatif. Kebenaranpun dianggap sebagai sesuatu yang relatif, tanpa ada standar yang jelas. Implikasinya adalah semua paham, semua agama, semua hal itu adalah sesuatu yang relatif, dibungkus dengan sangat apik oleh kata-kata “TOLERANSI” namun pada prakteknya itu bukan toleransi secara definisi.

Lalu apa sebenarnya yang menarik dari Kekristenan? Bukankah Yesus, Muhammad, Buddha, dan lain-lain menawarkan hal yang sama? Bukankah nantinya tujuan akhir manusia adalah surga? Bukankah orang harus berbuat baik untuk dia dapat selamat? Bukankah semuanya sama-sama mengakui penciptaan dunia ini dari nol? Bukankah semuanya sebenarnya adalah satu, namun hanya cara pandangnya saja yang berbeda-beda? Bukankah tidak ada perbedaan yang fundamental antara semuanya?

Apakah implikasi dari kehidupan Kristen setelah kita ditebus? Apa sebenarnya yang unik antara kekristenan dengan seluruh agama di dunia ini? Banyak orang berkata bahwa kekristenan adalah agama yang sangat eksklusif. Bagaimana tidak, bahkan pada saat Tuhan Yesus berkata di dalam Yohanes 14:6, “I am THE way, THE truth, and THE life…” itu adalah pernyataan yang eksklusif. Satu-satunya jalan keselamatan adalah Yesus sendiri dan tanpa Yesus, mustahil seseorang bisa selamat dan beroleh hidup yang kekal. THE mengarah kepada SATU-SATUNYA!

Mari kita coba lihat bagaimana orang-orang pada umumnya memandang kekristenan dan bagaimana kita bisa bertahan di dalam tekanan tersebut:
1.      “Kekristenan adalah agama yang sangat eksklusif, dan sangat sombong, bukankah dengan mengatakan ‘YESUS adalah satu-satunya juru selamat’ berarti itu tidak menghargai pendapat lain?”
Ini adalah pendapat yang sangat klasik dan sering diutarakan oleh orang-orang relativis. Sebenarnya orang yang bertanya seperti itu perlu meninjau ulang pernyataannya. Bukan hanya kekristenan yang mengajarkan eksklusifitas. Apabila kita membaca seluruh kitab suci agama lain sebenarnya juga sama, bahwa mereka selalu menolak hal-hal yang bertentangan dengan ajaran dasar agama mereka.

2.      Seringkali orang-orang berkata bahwa tidak ada yang unik pada iman Kristen. Sama saja untuk mencapai surga kita harus melakukan ini, melakukan itu, dan sebagainya (seringkali orang mengutip Yakobus 2 untuk melontarkan pernyataan ini). Iman Kristen yang sejati percaya bahwa Allah mengatur semua hal di dunia ini. Allah kita bukan Allah yang bisa disogok dengan perbuatan baik kita.
Paulus menuliskan dengan sangat tegas di kitab Roma 3:23 bahwa semua manusia itu berdosa dan akibatnya upah satu-satunya yang patut kita terima adalah penghukuman maut. Inilah letak perbedaan mendasar iman Kristen dan agama-agama lain di dunia ini. Alkitab menyatakan bahwa seluruh dosa kita telah ditebus oleh Kristus dan tidak akan ada lagi penghukuman, serta sama sekali tidak ada peran manusia di dalam ia mendapatkan keselamatan. Mengapa begitu? Karena iman dari seseorang yang percaya pun sebenarnya timbul dari Kristus sendiri.
Lalu bagaimana dengan pernyataan dari kitab Yakobus 2 tersebut?
Ayat-ayat ini harus dibaca sesuai dengan konteks jaman tersebut, yang mana Yakobus melihat begitu bejatnya orang-orang yang mengaku percaya kepada Tuhan namun tindakannya sama sekali tidak mencerminkan imannya. Itulah yang mendasari pemikiran ini. Alkitab berkata bahwa seluruh tindakan baik kita itu karena Allah merencanakan sebelumnya, dan tidak ada usaha manusia sedikitpun untuk dapat diselamatkan, semuanya semata-mata karena anugrah. Perbuatan baik yang kita lakukan adalah (1) bukti dari iman percaya kita yang menyelamatkan yang sudah dianugrahkan Yesus bagi kita, (2) ucapan syukur atas anugrah terbesar yang diberikan Tuhan Yesus di dalam kehidupan kita.

3.      Tidak ada satu Allahpun di agama lain yang rela untuk turun ke dunia untuk menebus dosa manusia. Doktrin anugrah disertai dengan suatu pengakuan bahwa pertolongan atas kita hanyalah di dalam nama Allah Tritunggal. Selain iman Kristen, tidak ada Allah yang rela menjadi manusia, mengambil rupa seorang HAMBA (dalam istilah bahasa Yunani: kenosis). Berita ini terdapat di dalam surat rasul Paulus kepada jemaat di Filipi pasal 2. Apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus merupakan suatu tindakan yang tidak ada bandingannya di dunia ini. Semua orang sudah berdosa dan tidak akan bisa menyelamatkan diri sendiri dan orang lain. Maka dari itu, oknum yang tidak berdosa harus turun untuk menyelamatkan oknum yang berdosa.

4.      Surga itu sama saja, bukankah semua orang akan masuk surga setelah ia meninggal? Anggapan seperti ini merupakan pandangan dari orang yang belum belajar banyak dan menganggap bahwa tujuan akhir manusia diakhiri dengan surga. Seluruh agama memiliki konsep surga yang berbeda. Agama-agama seperti Buddha dan Hindu bahkan tidak mengakui adanya surga, namun tujuan hidup akhir Buddha adalah nirvana dan Hindu yaitu suatu kondisi yaitu mokhsa (artinya lepas dari lingkaran reinkarnasi). Bukankah ini menunjukkan bahwa konsep surga ini berbeda? Bahkan kalau diperhatikan lebih jauh, agama Islam dan Kristen pun juga memiliki konsep surga yang berbeda.

5.      Keunikan iman Kristen adalah apa yang ditawarkan Yesus. Kekayaan? Ketenangan hati? Kenyamanan? Itu adalah sebagian kecil yang Tuhan Yesus tawarkan kepada orang-orang yang mengikut Dia. Kekayaan yang dimaksud disini bukan kekayaan dunia, namun kekayaan dimana kita belajar untuk merasa cukup akan apapun yang kita miliki. Ketenangan hati adalah ketenangan hati karena kita tahu siapa yang kita percaya dan ada jaminan mulia atas kehidupan kita. Kenyamanan? Ya karena pada saat kita belajar mengikuti kehendakNya, kita akan nyaman dalam mengikut Dia.
Jauh melebihi semua hal itu, proses kekristenan adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Tuhan Yesus menawarkan kelegaan, namun tidak melepaskan tanggung jawab manusia di dalam apa yang seseorang kerjakan. Tuhan Yesus mengatakan bahwa mengikut Dia berarti pikul salib dan sangkal diri. Namun hal inilah yang menarik bagi Paulus, yang mana ia menuliskan bahwa justru di dalam kelemahannya, di dalam apa yang ia alami, ia tetap dapat bersukacita di dalam Tuhan. Apa yang membuat ia bersukacita? Karena dia tahu bahwa Tuhan menyertai dia senantiasa. Itu hal yang cukup bagi dirinya.

Kesimpulannya adalah bahwa tidak ada satu agamapun di dunia ini yang sama. Semuanya memiliki perbedaan mendasar. Mungkin di dalam ranah praktek bisa sama, tetapi ada perbedaan secara fundamental (doktrin, dogma, dan sebagainya). Konsep kebenaran yang dianut oleh setiap agamapun berbeda. Mari kembali kepada definisi TOLERANSI bukan KOMPROMI. Justru perbedaan itu membuat kita saling menghargai satu sama lain.

Sumber:
-          Buku “Jesus Among Other Gods” oleh Ravi Zacharias
-          Siaran Radio dari Ravi Zacharias International Ministry “Let My People Think”
-          Buku “Faith Alone” oleh R.C. Sproul