Total Pageviews

Showing posts with label kasih. Show all posts
Showing posts with label kasih. Show all posts

Monday, October 24, 2016

Menjadi Agen Kasih Karunia



1Yoh 1:9
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. 

Kehidupan manusia tidak ada yang luput dari apa yang disebut sebagai dosa. Kita melihat realitas bahwa dosa merupakan sesuatu yang riil, dan tidak dapat dihindari oleh siapapun. Hal ini terjadi begitu alami.

Belajar Mengaku
Ada sebuah kisah di dalam alkitab mengenai bagaimana seseorang harus bersikap di dalam dosanya. Daud pernah merasakan bagaimana ia menyadari apa yang dilakukannya terhadap Uria adalah sesuatu yang begitu jahat (2 Samuel 11) sampai ia menuliskan Mzm 51 untuk melihat betapa busuknya dia di hadapan Allah. Sikap penuh kesadaran ini merupakan sikap yang seharusnya kita miliki sebagai orang percaya.

Sikap lain adalah kita memandang dosa sebagai sesuatu yang biasa kita lakukan. Malah bisa jadi ada orang-orang yang begitu bangga atas dosa-dosa yang mereka lakukan. Saking bangganya mereka menjadi seseorang yang kebal.

Apa yang harus kita akui manakala kita berdosa? Kesadaran bahwa kita berdosa adalah sebuah sinyal yang sudah diberikan Roh Kudus di dalam hidup kita. Karena itu bersyukurlah manakala kita masih merasa bahwa kita ini masih hidup dalam dosa, berarti kita menyadari bahwa kita masih membutuhkan pertolongan Allah di dalam kehidupan kita.

Setia dan Adil
Apa yang dimaksud setia di dalam ayat ini? Mengapa disebutkan setia dan adil? Kesetiaan Allah ialah kesetiaan yang tidak bersyarat. Maksudnya bahwa mau sebejat apapun hidup kita, Ia tetap membukakan kesempatan kita untuk mau datang di hadapan-Nya. Hal ini ditunjukkan di dalam kisah alkitab baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Mari kita melihat di dalam kisah Kain dan Habel, dimana Kain akhirnya membunuh adiknya Habel. Apa yang Allah sampaikan kepada Kain? Bahwa ada penyertaan Tuhan sepanjang hidupnya, bahkan masih dikasih tanah oleh Allah. Kemudian kalau kita membaca kisah dari Yakub, seorang penipu, yang mana Allah akhirnya mengubahkan namanya menjadi Israel. Bagaimana dengan kisah hidup Daud si pezinah, Elia yang hidupnya begitu lonely, Musa dengan berbagai aksi protesnya, Yeremia dengan kisah kenabian yang penuh air mata, ternyata semuanya tetap berada di dalam lindungan kasih setia Allah.

Keadilan juga adalah sifat Allah, dan di dalam konteks ayat ini, kita perlu memahami bahwa tidak ada yang disebut sebagai hukuman Allah. Penghukuman atas setiap dosa kita telah ditebus melalui darah Yesus, tetapi selalu ada konsekuensi yang berjalan di dalam setiap dosa yang kita kerjakan. Jadi jangan pernah menyalahkan Allah atau meyakini bahwa setiap hal yang terjadi yang buruk dalam kehidupan kita merupakan hukuman atau ganjaran Allah.

Kesetiaan dan keadilan merupakan sifat Allah yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.

Mengampuni Dosa
Kedatangan Yesus ke dunia merupakan suatu tanda begitu besarnya kasih Allah terhadap dunia ini. Salib menjadi bukti bahwa ada pengampunan dan penerimaan Allah atas kehidupan kita yang penuh dengan dosa. Pengampunan ini merupakan rencana besar Allah, dan tidak ada hal yang lebih kita butuhkan di dunia ini dibandingkan dengan pengampunan dosa itu.

Apa yang harus kita kerjakan? Cukup datang kepada Dia dengan ungkapan bahwa kita membutuhkan kasih karunia. Bagaimana kita bisa datang kepada-Nya? Dengan menyadari dan mengakui bahwa kita adalah pribadi yang penuh dengan dosa. Kita datang bukan dengan kesucian kita. Kita datang bukan dengan kebisaan kita. Kita datang dengan hati yang hancur yang mau hidup kita dibarui oleh kasih karunia.

Move On dari Dosa
Apa arti move on? Move on berarti kita berhasil untuk melepaskan diri sepenuhnya dari sebuah kenangan. Bukan hanya mantan yang harus kita move on, bahkan dari dosa tertentu pun kita juga harus belajar untuk move on.

Bagaimana kita bisa move on dari dosa? Kita perlu belajar untuk menghentikan koneksi kita terhadap dosa. Bahkan terkadang ada hal-hal ekstrim yang perlu kita lakukan manakala kita mau berhenti dari kebiasaan buruk.

Contoh kalau kita ingin move on dari mantan kita, kita akan menghancurkan segala hal yang indah dari kenangan-kenangan kita. Kita berusaha berdamai dengan masa lalu kita. Kita mengakui bahwa kita memiliki masa lalu dengannya, tetapi kita perlu memaknai bahwa masa lalu itu bukanlah sesuatu yang harus disesali. Masa lalu itu cukup dipandang sebagai sebuah proses hidup dan pendewasaan iman kita.

Move on dari dosa, tetapi jangan pernah move on dari kasih karunia Allah. Seberapa hancur hidup kita, Allah ingin kita belajar untuk mengakui dosa kita, dan kita belajar untuk berdamai dengan masa lalu kita. Tidak ada dosa yang terlalu besar yang tidak dapat dihancurkan oleh kasih karunia Allah. Allah pun tidak pernah mengingat lagi setiap dosa kita. Allah tidak menghantui hidup kita dengan masa lalu yang penuh kekuatiran. Ia menyediakan masa depan yang penuh dengan damai sejahtera.

Menyucikan dari Segala Kejahatan
Roh Kudus yang bekerja melalui hidup kita senantiasa akan memberikan sebuah perasaan cemas di dalam kita melakukan dosa kita. Pencobaan merupakan suatu hal yang biasa, demikian yang dikatakan Paulus di dalam 1 Korintus 10:13. Hal itu menyiratkan bahwa tidak ada pencobaan dimana kita tidak dapat atasi di dalam kasih karunia Allah di dalam hidup kita.

Apa artinya suci? Perumpamaan penyucian yang dilakukan Yesus adalah seperti ini, bayangkan ada sebuah kertas putih yang baru. Kertas itu menandakan kehidupan kita. Kemudian ada noda hitam dari pensil yang cukup tebal. Coretan tersebut kemudian kita hapus dengan penghapus, tetapi masih saja ada bekasnya. Kita coba lagi tetapi tetap saja noda tersebut tidak dapat hilang sepenuhnya.

Demikian pula kehidupan kita. Seberapa kita berusaha menghapus noda dosa kita, tidak akan ada gunanya. Tetapi manakala Kristus mulai bekerja di dalam kehidupan kita, kita kembali disucikan. Kita menjadi selembar kertas baru yang siap digunakan Allah untuk menuliskan karya-Nya melalui kehidupan kita hari lepas hari.

Agen Kasih Karunia
Penebusan hanyalah dapat terjadi melalui karya Yesus, dan di dalam kasih karunia itulah nyata kehidupan kita yang baru. Ya, kita menjadi agen kasih karunia, dan tugas kita adalah membawakan kasih karunia itu di dalam dunia di sekitar kita.

Semakin kita pernah merasakan hancur hati akibat dosa-dosa kita, maka semakin besar harusnya kita dapat memaknai kasih karunia yang Allah sediakan di dalam kehidupan kita. Mengapa? Karena kasih karunia membuat kita sadar bahwa segala hal yang kita kerjakan tidak dapat menghapuskan setiap dosa dan pelanggaran hidup kita. Hidup tanpa kasih Allah ialah hidup yang kosong.

Kita hidup sehari-hari dengan berbagai kesibukan kita tetapi kita tidak pernah terpuaskan oleh segala hal yang ada di dunia ini. Semakin kita mencari kenikmatan dunia, semakin kita merasa kekosongan hidup sedang melanda kita.

Kesadaran akan kasih karunia akan membuat kita menjadi pribadi yang mensyukuri hidup yang Allah berikan. Hidup yang penuh dengan damai sejahtera karena kita mengetahui bahwa hidup kita bermakna. Hidup yang menyadari bahwa sebagaimana kita ada saat ini, semuanya adalah karena kasih karunia Allah. Siapkah kita untuk dapat menikmati hidup penuh kasih karunia itu? Allah menantikan jawaban kita.

Soli Deo Gloria

Saturday, October 1, 2016

Menghadapi Pencobaan - Menikmati Relasi Dengan-Nya



1Kor 10:13 
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. 

Pencobaan
Apa sih makna dari kata pencobaan? Sekilas saja kalau kita baca ayat ini, kita menemukan bahwa setiap orang akan mengalami pencobaan-pencobaan di dalam hidupnya. Menariknya, ayat ini menuliskan bahwa pencobaan yang kita alami adalah pencobaan yang BIASA. Artinya apa? Artinya bahwa pencobaan-pencobaan itu merupakan suatu bagian yang integral di dalam kehidupan kita. Setiap kita akan menghadapinya, dan jalan keluarnya menurut Paulus hanya ada di dalam satu pribadi. Siapakah itu? Tentu saja jalan keluar dari pencobaan itu adalah pribadi Yesus sendiri.

Hidup itu Pilihan
Chuck Swindoll berkata bahwa 90% kebahagiaan hidup kita ditentukan oleh kita sendiri, sedangkan 10% nya ditentukan oleh orang lain. Apa maksudnya? Bahwa respons kita terhadap sebuah permasalahan atau pilihan itu ditentukan bukan oleh orang lain, tetapi oleh diri kita sendiri. Hal ini menjadi menarik bahwa pada masa kini, ternyata hal tersebut bisa menjadi terbalik lho.

Maksudnya terbalik? Berapa banyak orang yang tidak memiliki pendirian untuk dia bertindak sesuatu yang benar? Mereka seperti orang yang sama sekali diombang-ambingkan oleh orang lain di sekitar mereka. Kalau si A bilang begitu, ya aku nurut deh. Kan dia temanku. Dia pasti tahu yang terbaik buat aku.

Menariknya hal ini tidak terjadi hanya di dunia, bahkan di gereja pun hal ini juga sering terjadi. Manakala seseorang diminta untuk melayani di berbagai bidang, karena ia tidak tahu prioritas hidupnya, maka ia menjadi pribadi yang mudah sekali untuk diminta melakukan apapun. Tetapi celakanya karena ia tidak punya prioritas, ia tidak tahu sebenarnya apa rencana Tuhan di dalam kehidupan.

Jadi hidup itu sebenarnya pilihan yang kita buat kok. Ada berbagai macam “suara-suara” dari luar yang akan berusaha mengganggu dan membelokkan kita. Ya, itulah pola dunia, dimana kita akan terus-menerus diganggu untuk serupa dengan dunia. Tetapi untuk kita tetap dapat memiliki prinsip sesuai kebenaran Firman? Well, itu pilihan!


Menjadi Orang Kristen yang Berprinsip
Jika setiap hidup kita adalah pilihan, maka jatuh ke dalam dosa akibat pencobaan pun juga pilihan. Misalkan kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang korupsi, kemudian kita korupsi, dan kita berkata: “loh kalo begitu ‘kan sebenarnya aku gak punya pilihan. Mau ngga mau harus ikut cara mereka donk!”

Hal yang paling mendasari hidup kita sebagai orang Kristen bukanlah orang lain. Rasul Paulus dengan begitu tegas menuliskan:
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini” (Roma 12:2a)

Artinya jelas banget lho ya. Paulus menuliskan hal itu bukan berarti ia berada di dalam situasi yang enak. Ingat bahwa pada masa itu para rasul menjadi “buronan” karena dianggap menyebarkan agama baru atas iman percaya mereka kepada Kristus. Kematian Yesus dan kebangkitan-Nya, serta kenaikan-Nya ke surga serasa memberikan prinsip hidup yang baru kepada kehidupan para rasul.

Sama seperti kita, mereka juga mendapatkan tantangan manakala hidup di tengah dunia yang begitu jahat. Dulu mereka berhadapan dengan otoritas agama Yahudi, sekarang kita berhadapan dengan berbagai ketidakadilan dan kejahatan. Permainan suap sana, suap sini, sampai kepada kejahatan terencana, bukankah keadaan dunia sebenarnya sama saja?

Itulah pentingnya kita punya prinsip untuk kita dapat memegang kebenaran Firman Tuhan. Manakala kita mengetahui bahwa Firman Tuhan mengatakan “tidak boleh berzinah” tetapi kita memilih untuk berzinah, terlihat sekali bahwa kita tidak punya prinsip. Ketika Firman Tuhan berkata “kasihilah musuhmu”, sudah jelas lho perintah ini.

Ego Kita
Seringkali yang menjadi pencobaan di dalam diri kita tidak lain dan tidak bukan adalah berseberangnya kehendak kita dan kehendak Allah. Simple sih, karena seringkali kita menginginkan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang sudah Allah sediakan.

Ego kita memuncak. Kita prihatin dan mengasihani (mengasihani ya, bukan mengasihi) diri kita manakala sampai usia 35 tahun belum punya pacar, kemudian kita mengumbar kehidupan kita. Kita akhirnya sembarangan memilih dengan alasan “pokoknya aku mau kawin tahun ini. TITIK!” Menariknya manakala kita punya prinsip seperti itu, bukan berarti Tuhan akan hentikan. Eh belum tentu lho. Semuanya juga balik lagi kepada kepekaan kita akan kebenaran Firman Tuhan.

Kita jadi memikirkan diri kita sendiri. Kita menganggap setiap pilihan yang kita ambil itu merupakan suatu hal yang terbaik yang akan kita jalani. Pokoknya hidupku ya hidupku, bahkan Tuhan juga gak boleh mengaturnya. Jadinya ya itulah, kita begitu terpikat pada hal-hal yang bersifat sementara, sedangkan kalau kita belajar mengambil waktu sejenak… hum… kita lihat kembali bahwa ternyata tidak ada hal yang dapat memenuhi kebutuhan kita. Semakin kita mendapatkan begitu banyak, semakin pula kita akan menginginkan banyak hal.

Jaman dulu orang udah punya sepeda motor aja senengnya bukan main. Jaman sekarang, yah, minimal mobil lah. Biar nggak kehujanan. Jaman dulu orang naik pesawat itu sesuatu yang begitu prestis. Sekarang sih udah standar banget. Jaman dulu orang mikir untuk punya telepon genggam. Sekarang? Kalau gak bawa handphone untuk update status rasanya ada yang kurang.

Ini membuktikan bahwa ternyata segala sesuatu di dunia ini tidak dapat memuaskan kehidupan kita. Kalau begitu berarti ada sesuatu yang dapat memenuhi kekosongan jiwa kita, dan itu bukan berasal dari dunia ini.

Tuntunan Allah Yang Setia
Wawasan dunia Kristen percaya bahwa setiap orang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Allah menciptakan kita beserta setiap kerinduan hati kita, dan kerinduan itu satu-satunya hanya dapat dipuaskan melalui kasih Allah.

Bagaimana kita dapat mengenal Allah? Tidak usah ditanya deh, jawabannya ya cuma 1. Belajar Firman dan merenungkan Firman itu siang dan malam.

Firman itulah yang mengubahkan pribadi kita hari lepas hari. Mulai dari hati kita, sampai dengan tingkah laku kita, pola pikir kita, dan tindakan kita. Manakala kita belajar menempatkan Kristus di tahta hati kita, maka itu berarti kita akan nurut apapun yang Tuhan katakan. Inilah yang Paulus sebutkan “dari hamba dosa menjadi hamba kebenaran”. Hamba dalam konteks zaman alkitab ditulis adalah milik dari tuannya. Dia sama sekali tidak punya hak atas hidupnya. Kalau hamba disuruh tuannya untuk pergi dari rumahnya, ia harus pergi. Kalau hamba itu diminta tuannya untuk tidur dengannya pun, ia tidak boleh menolaknya!

Apa artinya ketika kita menjadi hamba Kristus? Kembali lagi berarti bahwa kita sama sekali tidak punya hak atas kehidupan kita. Bahwa ternyata seluruh hidup kita adalah milik Kristus. Itu berarti bahwa setiap hal yang kita pikirkan, yang kita rencanakan, yang kita kerjakan, semuanya adalah karena Kristus. Itulah makna dari Soli Deo Gloria – segala kemuliaan adalah bagi Allah.

Melawan Pencobaan dengan Kuasa Allah

1Kor 15:55-57
Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. 

Ayat ini semakin menunjukkan bahwa pencobaan bukan berasal dari Allah. Pencobaan merupakan sebuah hasrat pribadi kita untuk kita melawan Allah. Melawan? Iya. Ingat, status kita sebagai hamba berarti kita akan melakukan segalanya untuk tuan kita. Menariknya bahwa di dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab panggilan itu, di tengah menghadapi berbagai pencobaan, Allah memberikan kita kekuatan untuk tetap teguh berpegang pada firmanNya.

Jadi ketika menghadapi pencobaan, ingatlah bahwa Allah kita pun melalui Yesus Kristus juga pernah mengalami hal yang sama. Dia bukannya enak-enakan nonton dari surga mengenai kehidupan kita. Ia pernah merasakan pula pencobaan-pencobaan itu. Ia merasakan pergumulan yang jauh lebih dahsyat daripada yang akan kita alami (Ibrani 4:5)

Sadarilah kawan bahwa ternyata pencobaan-pencobaan itu sesuatu yang biasa. Satu-satunya cara untuk kita mendapatkan kemenangan adalah berpegang teguh kepada Firman-Nya.

Allah Yang Menanti
Yesus menantikan kita untuk mau datang kepada-Nya, dan Ia rindu untuk kita berani berkata bahwa “aku butuh Tuhan di dalam hidupku. Pimpinlah aku Tuhan, dan jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga". Inilah panggilan setiap orang Kristen, yakni kita belajar untuk mempersembahkan hidup kita. Ia siap sedia menyambut kita. Pelukan kasih dan kuasa-Nya menantikan kita untuk datang kepada Kristus. Tidak ada hati yang terlalu hancur yang tidak dapat ia pulihkan.

Mari belajar meminta pimpinan Tuhan dan senantiasa hidup di dalam pengenalan akan Firman-Nya dan yakinlah bahwa pencobaan-pencobaan yang kita alami adalah pencobaan yang biasa. Pencobaan yang berasal dari diri kita yang kurang bersyukur atas keadaan, dan ketika kita belajar menerima setiap kondisi kita, akan ada pemulihan dari Dia. Pemulihan bukan secara jasmani, tetapi kita belajar bahwa segala yang terjadi dalam hidup kita adalah dari Dia, bagi Dia, dan oleh Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.

Soli Deo Gloria!

Tuesday, April 19, 2016

Manusia Baru – Keadilan & Kasih Allah

Roma 3:25

Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya.  Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.

Background
Iman, perbuatan, kebajikan, pengorbanan, perbuatan baik, semua itu terasa menjadi sebuah syarat yang mutlak di dalam syarat kita untuk mencapai surga. Seberapa baikkah diriku, seberapa indahkah kehidupanku jika dinilai oleh Dia? Sempat terbesit pertanyaan yang menjadi sebuah pergumulan, bahkan ketika sudah percaya kepada Tuhan Yesus. Sempat muncul keraguan, ketakutan, tanpa adanya suatu kepastian akan keselamatan yang Tuhan beri.

Muncul pula pertanyaan, ketika kita sudah Lahir Baru, mengapa hidup kita sama sekali tidak ada perubahan? Bahwa ternyata setelah kita hidup baru, tidak ada sesuatu yang radikal yang terjadi atas kehidupan kita. Bukankah hal ini menjadi begitu unik? Tetap saja setelah kita dibaptis atau lahir baru, kita sama sekali bukan menjadi manusia baru. Beberapa sharing dari teman-teman saya malah menyebutkan bahwa setelah lahir baru, kehidupan mereka semakin hancur.

Pengamatan tersebut membawa saya (waktu itu) pada suatu kesimpulan, bahwa keselamatan menjadi sesuatu yang take it for granted. Benar sekali, keselamatan itu gratis. Artinya ketika kita sudah menerima Yesus, ya sudah itu sudah cukup.

Sebuah Kenangan Masa Lalu
Memandang ke arah jendela kamar, menikmati dinginnya hujan waktu itu membuat aku hanyut di dalam sebuah kenangan saat aku pertama kali mulai kenal Tuhan Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang memegahkan diri. Begitulah kalimat dari Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, menurut Efesus 2:8-9

Tetapi tidak berhenti sampai disana. Ayat berikutnya jauh lebih mengerikan kalau kita resapi. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan baik yang telah ditentukan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:10) dan ini merupakan sebuah pernyataan Paulus yang seharusnya menjadi tolok ukur setiap tindakan, perkataan, dan perbuatan kita.

Tentu saja ayat-ayat ini membuat kita bersukacita sebagai orang Kristen, tetapi di sisi lain kita juga perlu memahami bahwa ayat-ayat ini mengandung sebuah tanggung jawab besar atas kehidupan kita. Ketika Paulus menyatakan bahwa kita diciptakan dalam Kristus Yesus, itu berarti bahwa di dalam kehidupan kita ada hal-hal yang dipercayakan, dan kita dipanggil untuk melakukan perbuatan baik dan celakanya, itu sudah dipersiapkan Allah.

Sejenak kenangan itu mencuat, dan kembali aku mencoba melihat kembali, benarkah selama hidupku aku menjalani kehidupan yang telah dipercayakan Tuhan melalui setiap tindakanku? Bagaimana kehidupanku ketika aku sendirian di kamar? Bagaimana kehidupanku ketika aku di gereja? Bagaimana, bagaimana, dan bagaimana?

Allah yang Memegang Kendali
Saya yakin dan percaya bahwa kendali atas hidup kita telah dipegang oleh Allah. Itu berarti di dalam hidup kita, kita tidak perlu menjadi kuatir atas apapun. Termasuk juga dosa... tunggu! Apa maksudnya? Apakah benar kita tidak perlu takut akan dosa?

Siapa yang tidak takut atas dosa? Wow, tentu kita takut akan dosa. Ketika kita sedikit saja kompromi terhadap cobaan yang kita hadapi, ternyata dosa itu bisa langsung menguasai kehidupan kita. Kita diminta untuk selalu waspada atas kehidupan kita. Tetapi ini pun menjadi pergumulan yang utama bukan? Bahwa ternyata dalam kehidupan baru yang Tuhan berikan pun kita masih juga terus bergumul atas dosa-dosa kita. Kita ingin mengatasi kuasa dosa itu, tetapi ternyata dalam realitasnya kita dikuasai.

Ketika Paulus berkata bahwa kita ini adalah manusia yang merdeka atas kuasa dosa, saya jadi bertanya apa sebenarnya yang dimaksud Paulus? Buktinya dosa itu masih terus menerus mengintai dan siap menerkam kehidupan kita. Lalu bagaimana?

Akhirnya sampai pada satu kesimpulan, apakah benar Allah memegang kendali atas kehidupan kita? Benarkah bahwa kuasa dosa telah dihancurkan dan Allah telah membebaskan kita dari dosa itu? Atau jangan-jangan betapa kita tidak punya hati nurani maka manakala kita berbuat dosa, kita sama sekali tidak peka, tidak ada penyesalan, justru malah ada sukacita?

Konsep Keadilan – Kasih Melalui Karya Penebusan
Salib menjadi sebuah bukti kasih sekaligus keadilan Allah atas kehidupan manusia. Melalui salib sebenarnya kehidupan kita menjadi kehidupan baru, kehidupan yang berkemenangan. Kehidupan yang dibangkitkan melalui kematian Kristus dan kebangkitanNya. Keadilan Allah ditunjukkan melalui tercurahnya darah Kristus, darah Tuhan yang menyucikan segala dosa kita. Kasih Allah ditunjukkan melalui anugrah melalui kematian Kristus. Ada pihak yang harus menjadi korban, sehingga dosa kita bisa dibebaskan. Ada kehidupan baru yang ditawarkan Kristus.

Balik lagi ke pembahasan kita tentang dosa. Salib menjadi suatu titik tolak perubahan kehidupan kita. Manusia lama menjadi manusia baru hanya bisa dicapai melalui karya salib. Itulah seharusnya yang mengingatkan kita betapa besarnya kuasa dan kasih Allah atas kehidupan kita. Perubahan hidup menjadi nyata manakala kita memandang kepada salib Kristus. Salib yang mana merupakan karya Allah, keadilan dan kasih yang dipertemukan di dalam Kristus Yesus.

Berubah dan Berbuah
Perubahan hidup melalui karya penyelamatan Kristus bukanlah sesuatu yang instan. Kita perlu menyadari bahwa perubahan hidup merupakan proses seumur hidup yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita. Ada kalanya di dalam proses itu kita jatuh, lelah, dan mungkin sampai hampir menyerah atas segala pergumulan yang terjadi di dalam kehidupan kita.

Jadi tidak perlu heran kalau setelah menerima Kristus, maka kita tiba-tiba bertobat secara drastis. Memang ada kasus sedemikian, tetapi selalu ada proses yang kita akan jalani di dalam penyucian kita, yang mana mempersiapkan kita untuk memuliakan Dia seumur hidup kita. Kita perlu menyadari bahwa di dalam Kristus, seperti yang dikatakan Paulus, kita adalah ciptaan baru.

Kuasa dosa sama sekali tidak berkuasa atas kehidupan kita. Kuasa dosa yang menghantarkan kita kepada kematian abadi, telah dihancurkan. Hal itu akan membuat kita menjadi orang-orang yang menyadari bahwa kita manusia berdosa yang membutuhkan kasih karunia Allah. Hal itulah sebenarnya yang membuat kita semakin hari semakin ingin bertumbuh di dalam kasih karunia. Kita punya kepekaan terhadap dosa yang menimpa hidup kita. Kita menjadi pribadi yang sadar betul bahwa kita butuh kasih karunia Allah
Kesadaran itu pula yang akan membuat kita terus bertumbuh dan berbuah di dalam Dia. Pertumbuhan rohani yang kemudian akan menjadikan kita semakin hari semakin indah, sehingga buah pelayanan kita pun dapat dinikmati oleh banyak orang, juga menjadi kemuliaan bagi Tuhan.

Bagaimana dengan kecenderungan dosa kita? Roh Kudus akan membimbing kita, membuat kita menjadi pribadi yang peka dan kuatir atas dosa yang akan kita kerjakan. Kita perlu menyadari akan hal ini sehingga kita memiliki komitmen untuk lari dari pencobaan yang menghadang kita. Saat kita berdosa, jangan pernah untuk sungkan, takut, cemas, untuk datang kepada Bapa. Ia adalah setia dan adil, demikianlah yang dituliskan oleh Yohanes.

Karya Keselamatan dan Perubahan Hidup
Menjadi poin penting bahwa ketika Tuhan sudah menyelamatkan kita, bukan berarti bahwa kita bebas bertindak semau kita. Mungkin kita berpikir: “ah kalau sudah selamat dan pasti masuk surga ya sudah, kita enjoy aja hidup ini”. Apakah begitu?

Kita perlu memikirkan kembali mengenai perubahan hidup. Ketika kita menjadi seorang Kristen, kita menjadi orang yang merdeka. Kemerdekaan atas dosa, tetapi juga kehidupan yang mana Kristus berperan sebagai raja atas kehidupan kita. Bagaimana impelementasinya? Tentu saja kalau kita menyadari bahwa Yesus adalah raja, itu berarti kita menuruti apapun yang Tuhan kerjakan.

Itulah kemerdekaan Kristen yang sejati, kemerdekaan yang berfokus kepada Allah Tritunggal sebagai penguasa hidup kita. Kiranya melalui perenungan singkat ini kita dapat memaknai kembali arti dari hidup baru yang diberikan Kristus, menjadi pribadi yang semakin hari semakin rindu untuk memuji dan memuliakan Dia.


Soli Deo Gloria!

Sunday, March 1, 2015

Are You Ready for A Date?


Ini adalah sebuah percakapan pada saat aku berada di dunia kampus.

“Sabtu ini kamu kemana, yas?”
“Oh, aku ke gereja. Ada persekutuan di gereja. Kalau kamu kemana?”
“Ehm aku mau ke Galaxy Mall, yas, ama cowokku.”

Well, asyik juga ya sepertinya kalau udah punya pacar, dan kemudian bisa keluar bareng, makan bareng, nonton bareng, segalanya bareng. Serasa dunia milik berdua. Yap, pacaran menjadi sebuah proses yang begitu menyenangkan. Itu mungkin yang mendasari ada lagu “Jatuh Cinta Berjuta Rasanya” dan menjadi sebuah lagu yang nge-hits. Percakapan di atas terjadi saat aku belum punya pacar. J

Hmmm lalu apa yang dilakukan sebenarnya saat pacaran? Apakah pacaran itu identik ama seneng-senengnya aja? Tunggu teman-teman. Hidup itu nggak seindah di FTV, tetapi aku bisa katakan JAUH LEBIH INDAH dari FTV. Manakala FTV memperlihatkan begitu mudahnya perjuangan seorang cowok mendapatkan cinta seorang cewek, kita sudah tahu kok endingnya. Tetapi ketika hal itu dibawa ke dunia nyata, it’s totally different.

Tetapi kalau kita merenungkan kembali nih, kenapa kok aku bisa bilang bahwa hidup ini jauh lebih indah dari FTV? Karena ternyata memang ending dari cerita cinta kita tidak jelas dari sudut pandang manusia. Ketika kita mulai pedekate dengan seseorang yang kita suka, ada kalanya kita mendapatkan respon yang positif, tetapi nggak jarang juga kita nggak direspons (Sakitnya tu disini, prens… percaya deh). Tetapi dibalik duka yang bertubi-tubi itu, ada sukacita yang begitu besar yang sudah Tuhan persiapkan. Percayalah bahwa Ia sedang menyusun sebuah lagu yang begitu indah, dalam sebuah simfoni kisah cinta antara dua insan yang mau belajar untuk hidup di dalam Dia.

Okey aku akan coba berikan beberapa prinsip berpacaran. Artikel ini merupakan sharing aja. Artinya ini bukan sebuah hal yang ‘saklek’ harus kita jalankan. Tetapi harapannya ada sisi positif yang teman-teman bisa ambil.

1.     Fokus Pada Allah
Aku rasa ini adalah prinsip pertama dari segala hal yang kita lakukan. Yep, first of all, kalau mau memulai sebuah hubungan kita perlu mulai dengan mencintai Allah di dalam hidup kita. Okey, mungkin sebagian gak setuju dengan prinsip ini, karena kayaknya terlalu rohani banget. Tetapi begini, teman, dengan kita belajar untuk menikmati hubungan kita dengan Allah, kita menjadi pribadi yang gak banyak menuntut pasangan kita untuk melakukan sesuatu. Dasar dari prinsip lain ini adalah kita belajar meletakkan Allah sebagai pengendali hubungan pacaran kita.

2.     Prinsip Kenosis
Kenosis berarti ‘merendahkan diri serendah-rendahnya’. Nah ini terkadang muncul manakala ada satu pihak yang lebih superior disbanding pihak lain di dalam suatu hubungan. Ada pihak yang merasa harus mengalah karena memang dia minder kepada pasangannya. Kalau berdasarkan pengalamanku juga, hal ini kadang perlu kita latih terus menerus. Kita perlu belajar untuk merendahkan diri kita. Contohnya adalah kita belajar untuk masuk ke dunianya. Artinya bahwa setiap pihak perlu belajar untuk salingf mengalah dan nggak ngotot. Nggak merasa superior atas hal-hal yang ia lakukan. Kenosis ini paling jelas ditunjukkan oleh Tuhan Yesus. Prinsip ini menjadi salah satu prinsip di dalam melayani pasangan kita.

3.     Jujur di Hadapan Pasangan
Napa kok aku bilang kita perlu prinsip nomor 1? Sebenarnya adalah ini. Waktu kita pacaran, ada kalanya kita belajar untuk menampilkan sesuatu yang baik di hadapan pacaran kita. Dulu aku berpikir bahwa aku akan memperbaiki kelakuanku setelah aku jadian. Tetapi ternyata hal itu merupakan gombalan dan kebohongan terbesar dari kaum pria. Nah prinsip nomor 1 membawa kita untuk belajar jujur terlebih dahulu di hadapan Tuhan. Mengakui bahwa pribadi kita ini lemah, sehingga kalau di hadapan kita Tuhan sudah menyediakan seseorang, itu semuanya anugrah! Itu adalah momen dimana kita belajar untuk saling belajar jujur dan terbuka di hadapan pasangan kita, sehingga nggak ada shock theraphy yang terlalu berlebihan saat nanti kita sudah menikah. Banyak orang yang menikah tanpa mengenal pasangannya terlebih dulu. Banyak yang langgeng juga karena mereka belajar menerima satu dengan yang lain. Alangkah baiknya kalau proses ini dapat kita lakukan saat kita pacaran.

4.     Bertumbuh di Dalam Tuhan
Kalau di dalam hubungan pacaran kita ternyata kita menjadi orang yang makin menyebalkan, segera deh evaluasi relasi kita. Hal ini tentu berawal dari PDKT. Ketika kita sedang dalam proses PDKT ternyata kita menjadi pribadi yang makin egois dan posesif, kita perlu mengevaluasi sebenarnya kita mencintai atau menafsui. Ketika kita memasuki relasi pacaran seharusnya masing-masing semakin bertumbuh di dalam Tuhan. Cara bertumbuhnya gimana? Hmm ada banyak sih. Salah satu contohnya adalah melakukan aktivitas bareng, kemudian melayani bersama. Ada banyak aktivitas positif yang bisa kita lakukan sebagai pasangan.

5.     Open Your Eyes!
Orang bilang ‘cinta itu buta’. Ya, saya melihat ada banyak orang yang akhirnya terperangkap di dalam suatu hubungan yang sebenarnya tidak mereka inginkan namun akhirnya mereka memaksakan diri untuk masuk ke hubungan itu. Ketika kita mulai proses PDKT kita perlu membuka mata kita dan juga telinga kita lebar-lebar. Jangan pernah mengkompromikan hal-hal yang kita nggak sukai dari calon pasangan kita. Belajar untuk melihat kekurangan dan belajar terbuka dengan calon pasangan ketika dia melakukan hal yang nggak bener. Hal ini sebenarnya akan sangat berkaitan dengan prinsip nomor 3 dan 4.

6.     Love is something worth waiting & fighting for
Cinta itu menuntut suatu penantian dan pengorbanan. Okey dalam artian penantian, kita perlu belajar untuk menunggu. Menunggu apa? Menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan, menunggu jawaban yang berasal dari Tuhan yang merupakan hasil pergumula. Lalu mengapa harus belajar untuk fighting for? Yup kita perlu belajar untuk memperjuangkan cinta. Artinya kita belajar untuk berkorban, belajar untuk mengutamakan pasangan kita, belajar untuk menyesuaikan diri dengan dia, dan terus belajar untuk mengerjakan bagian kita di dalam membangun suatu relasi.


Cinta itu seperti maut, demikianlah penulis Kidung Agung menuliskannya. Mengapa seperti maut? Karena cinta pasti akan datang. Manakala cinta itu datang, cinta itu tidak mungkin dapat ditolak. Tidak ada hal yang dapat menahan cinta. Sadarlah bahwa maut bagi orang Kristen adalah sesuatu yang menyenangkan. Lho? Itulah yang Paulus katakan bahwa ‘mati adalah keuntungan’, karena ia bertemu dengan Kristus. Nah pacaran di dalam Tuhan adalah sebuah cinta yang didasari di dalam cinta akan Kristus. Ketika cinta itu sudah didasari pada kasih Allah di dalam hidup kita, maka kita akan mendapatkan sebuah kebahagiaan sejati di dalam Dia. Pacaran di dalam kekudusanNya. Pacaran di dalam suatu kesadaran bahwa cinta itu berasal dari Dia dan akhirnya hubungan kita adalah untuk memuliakanNya.

Friday, August 23, 2013

Pergumulan yang Christ-Centered

Tidak pernah terbayangkan bahwa suatu pergumulan itu adalah sesuatu yang berat. Apalagi ditambah dengan suatu kondisi dimana kita terpisah jauh dengan partner pergumulan kita. Sungguh suatu hal yang makin buat “nyesek ati” kalau orang bilang. Selain itu ditambah dengan kesibukan masing-masing, membuat hati semakin tak tenang. Tetapi benarkah bahwa ketika kita dipisahkan jarak oleh orang yang kita pergumulkan, maka hidup akan menjadi sesuatu yang berat? Seberat itukah hidup jauh dari rekan kita, sahabat kita, seorang yang nantinya akan mengikat janji pernikahan dengan kita sampai “sehidup semati”?

Jawabannya YA, dan AMIN. Memang berat ketika kita harus meninggalkan seseorang yang kita cintai, seseorang yang mungkin kita perlu untuk sharing hidup dengan dia. Selain itu juga kita bisa saling mengenal satu dengan yang lain saat kita dekat. Pasti tak mudah pada awalnya. Tetapi ketika kembali kepada esensi tentang relasi dan pernikahan, tentu kita kenal bahwa relasi tersebut dibangun bukan hanya dengan kita memiliki suatu pengalaman romantis. Pergumulan bukanlah suatu masalah kita harus “kopi darat” (Sekalipun ketika kita langsung kopi darat, kita pasti dapat dengan lebih efektif dalam menjalani relasi kita)

Makna pergumulan itu sebenarnya apa sih? Pergumulan untuk menikah atau tidak, tentang tujuan hidup, apapun itu, selalu membuat kita berpikir keras sambil terus berdoa dan berdoa. Kita jadi lebih giat untuk berdoa, saat teduh, mengucap syukur atas hal yang Tuhan berikan, dan sebagainya. Pergumulan tentang Pasangan Hidup pun apabila dilakukan dalam Long Distance, perlu suatu pergumulan juga untuk memulainya.

Pada saat saya mulai mengatakan bahwa “aku ingin mempergumulkan kamu sebagai seorang pasangan hidupku nanti” itu bukan hal yang mudah apalagi kita tahu bahwa pergumulan itu akan dilakukan secara long distance. Jarak yang terpisah jauh tentu jadi hambatan utama, kemudian komunikasi yang tak lancar, ditambah dengan kesibukan masing-masing. Tetapi apakah memang seperti itu? Apakah lantas ketika kita ambil keputusan seperti itu kita mengeluh dan kita akhirnya mohon-mohon agar Tuhan cepat menjawab pergumulan kita berdua? Actually, itu aneh!

Ketika Tuhan memberikan suatu waktu untuk kita bergumul apalagi secara long distance, saya percaya bahwa itu adalah suatu cara Tuhan untuk kita dapat semakin dapat menajamkan diri satu dengan yang lain. Saya rasa juga ini yang saya alami selama ini. Maybe kita bisa benar-benar merindukannya, tapi waktu Allah balik bertanya: “seberapa kamu merindukan Aku?” kepada kita, apa jawab kita? Apakah posisi kita bergumul itu akhirnya membuat kita melupakan Allah, menganggap Dia tidak ada, dan akhirnya kita menjadi acuh tak acuh terhadap Allah?

Fasa pergumulan long distance memang menuntut suatu komitmen yang lebih dan keseriusan di dalam diri masing-masing pasangan. Coba bayangkan saja kalau suatu saat memang saat menikah kita masing-masing punya tugas jauh (siapa tahu salah satu dari kita dipanggil Tuhan untuk misi ke daerah terpencil) Allah sedang mencoba untuk menguji kita, apakah hati kita masih setia kepada Allah dan kepada pasangan kita, atau justru kita beralih kepada hal-hal yang tidak seharusnya?

Kita berdua (saya dan seorang yang saya pergumulkan) pun merasa bahwa justru di dalam pergumulan kita yang long distance ini kita makin dekat dengan Tuhan. Kita berdua semakin hari semakin bertumbuh dan dibukakan banyak hal, tentang visi, pelayanan, kehidupan Kristen, tentang banyak sekali hal baru yang selama ini belum pernah kami pikirkan. Pertemuan kita setelah sekitar 5 bulan tak jumpa pun, ditebus dengan 2 jam ngobrol, dan itu pun saya pribadi merupakan suatu kesempatan dimana kami bisa share tentang kehidupan kami masing-masing, dengan cerita seru kami masing-masing, dan merupakan suatu quality time yang harus diakui merupakan momen yang paling kami rindukan. Itulah kesempatan di mana kami bisa melepas kangen sambil terus mengingat komitmen kami.

Indahnya suatu relasi di dalam Kristus adalah bahwa kita dapat menjadi orang-orang yang semakin hari semakin dewasa di dalam Dia, memiliki suatu keserupaan dengan Kristus dan kita berdua, sekalipun jauh, belajar untuk menjadi “serupa dengan Dia”. Saya cukup senang dengan suatu proses di mana kami berdua juga semakin hari semakin dewasa satu sama lain. Sekalipun jarang bertemu, namun ketika ada suatu waktu yang berkualitas, kami belajar untuk memanfaatkan itu sebaik-baiknya. Sharing visi, sharing tentang kehidupan, sharing tentang banyak hal di dalam kehidupan, bukankah itu yang sebenarnya penting bagi satu sama lain untuk saling mengenal satu dengan yang lain?

Ada banyak pasangan yang sekalipun mereka dekat, mereka hanya tidak jelas pacaran di dalam konteks romantis belaka, tanpa adanya suatu kerinduan untuk saling bertumbuh satu dengan yang lain. Paling tidak kami tidak mau menjadi pasangan seperti itu. Kami ingin belajar untuk mengembangkan diri satu sama lain di dalam Kristus, mendasari relasi kami berdua dengan suatu komitmen bahwa kami ingin belajar untuk menghormati komitmen satu dengan yang lain.

Percayalah, kami ini bukan orang-orang yang sempurna. Bahkan di dalam pergumulan kami pun terkadang muncul suatu konflik, rasa kangen, dan sebagainya. Emosi-emosi seperti itu kadang membuat kami sadar bahwa kami ini manusia yang lemah. Bahkan ketika sebuah kalimat “aku bersedia” itu masih aku nantikan, tapi ketika bahkan belum ada suatu jawaban yang pasti, aku tetap belajar untuk menghargai janjiku di awal, bahwa aku akan menghormati dia dan waktunya, aku akan menghormati setiap keputusan yang kami ambil.

Ada banyak hal yang perlu dipikirkan ketika kita mengambil keputusan untuk mulai berpacaran. Ditambah lagi jarak kami berdua jauh, dan itu kadang membuat kami sadar bahwa relasi kami ini mungkin tidak dapat dilanjutkan. Ya satu satunya jalan yaitu maintain komunikasi kami berdua. Semakin banyak komunikasi, semakin banyak potensi konflik, dan saya sendiri sadar kadang-kadang dari suatu pembicaraan, kami berdua sudah banyak berubah. Pembicaraan yang saling mengasah dan saling menajamkan satu dengan yang lain, serta kami belajar untuk jujur di hadapan satu dengan yang lain, dan saling berbagi beban dan mendukung di dalam doa.

Relasi yang berdasarkan atas kasih Kristus adalah suatu relasi yang mana kita belajar menikmati anugrah yang Allah berikan di dalam hidup kita. Pergumulan merupakan suatu proses, suatu anugrah yang Allah juga berikan di dalam hidup kita, tinggal bagaimana sekarang kita mencoba untuk menanggapi apa maunya Tuhan. Siap sedia terhadap setiap jawaban, dan terus belajar di dalam relasi kita mengutamakan Tuhan. Itu adalah suatu momen di mana kita belajar untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Dia sepanjang waktu.

Sebuah lagu yang menarik yaitu soundtrack dari film Fireproof: “While I’m Waiting”. Dengar saja lagunya dan perhatikan setiap kata dalam lagu itu, itulah cinta yang sejati, yaitu cinta kita kepada Kristus dan cinta Kristus kepada kita, menunjukkan suatu komitmen penuh kepada Kristus dan semuanya adalah untuk kemuliaanNya.

Pergumulan memang butuh suatu penantian, tetapi justru di tengah penantian itulah kita perlu belajar untuk fokus penuh kepada Kristus dan belajar untuk melihat bahwa apapun keputusan yang kita ambil, semuanya melibatkan Tangan Tuhan yang menuntun untuk mengabdi dan memuliakanNya.


Selamat bergumul J SOLI DEO GLORIA!