Total Pageviews

Showing posts with label kasih karunia. Show all posts
Showing posts with label kasih karunia. Show all posts

Monday, September 24, 2018

Mengucap Syukur Atas Kasih Karunia


“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18)

Detik demi detik berlalu dengan begitu cepat hari ini. Setelah bangun, aku melakukan hal yang tidak biasa, merapikan kamar tidurku dengan berbagai ke-messy-an nya, dan kutemukan beberapa slip gaji yang lama, ijazah S1 dan S2, dan sebagainya. Diantara tumpukan buku di lemari itu pun aku melihat berbagai buku yang sudah kubeli, memenuhi koleksi buku rohani yang jumlahnya sudah hampir dua lemari (ngga nyangka bisa sebanyak itu!)

Tenggelam dalam rasa haru sekaligus syukur, demikianlah perasaanku hari ini. Ketika saat teduh kembali membuka ayat Firman Tuhan dan kemudian mencoba melakukan sedikit Pendalaman Alkitab, dan ternyata mendapatkan sebuah topik yang begitu menarik – mengenai rasa syukur dalam kehidupan orang percaya.

Mengucap Syukur DALAM segala hal

Aku tahu ini bukan suatu perintah yang mudah. Paulus menuliskan hal ini kepada jemaat Tesalonika, yang merupakan jemaat dengan berbagai problematika dan tantangan hidup. Mereka adalah jemaat yang ditekan semasa hidupnya, tetapi dalam tekanan itu Paulus memberikan nasihat dan perintah untuk senantiasa bersyukur dalam segala hal.

Mungkin jemaat Tesalonika akan protes ke Paulus, “hey Paulus, kau sudah gila ya menyuruh kami untuk bersyukur. Lihat ini hidup kami yang begitu menderita”. Nyatanya jemaat ini tidak merespons demikian. Mereka memahami kalimat Paulus ini dan akhirnya mencoba untuk melakukannya. Ehm, dan perintah ini bukan hanya relevan pada jaman Tesalonika, tetapi juga pada setiap kita. Nah, menariknya juga bentuk kalimat ini present imperative. Artinya: ini sesuatu yang harus dilakukan.

Kita pun mungkin akan merespons dengan protes keras terhadap ayat ini, karena nyatanya toh banyak banget masalah hidup yang kita alami.

“Masakan aku harus mengucap syukur ketika melihat dia selingkuh?”
“Memangnya aku harus mengucap syukur kala aku kehilangan pekerjaanku?”
“Aku dirampok, masa aku harus mengucap syukur?”
“Aku baru aja gagal investasi, habislah semua hartaku!”

Itulah yang realitanya kita alami dalam kehidupan ini, bukan? Ucapan syukur yang cepat sekali lenyap karena berbagai rintangan hidup. Tetapi yang di tandai miring pada sub-bagian ini adalah kata “DALAM”, dan inilah bedanya.

Bukan “UNTUK” (for) tetapi “DALAM” (in), dan di dalam alkitab versi King James dituliskan demikian:

In every thing give thanks: for this is the will of God in Christ Jesus concerning you.

Cukup jelas bukan, jadi kita mengucap syukur bukan untuk selingkuhnya pasangan kita, atau kehilangan pekerjaan kita, atau ketika dirampok. Tetapi dalam segala kondisi kita diminta untuk mengucap syukur, bukan untuk kehilangannya, tetapi untuk pemeliharaan Tuhan dalam kehidupan kita.

ALASAN UNTUK MENGUCAP SYUKUR

Kunci dari mengucap syukur adalah karena kita “DI DALAM KRISTUS”. Artinya: seorang yang di dalam Kristus berarti ia yang sudah menerima Kristus yang sudah menerima anugrah keselamatan. Disinilah jemaat Tesalonika menyadari bahwa mereka adalah pribadi yang begitu hina menjadi anak-anak terang. Jaminan itu sudah mereka terima sampai akhir hidup mereka nanti. Jadi apa sebenarnya alasan bagi kita untuk dapat mengucap syukur? Mari kita lihat sebuah kisah di bawah ini.

Ketika seorang bapak akan keluar dari gereja, tiba-tiba ada orang asing yang memberikan kamu voucher belanja senilai 20 juta rupiah. “Pak, saya ingin memberi anda uang sebesar 20 juta rupiah dalam bentuk voucher”. Sontak ketika mendengar hal tersebut, si bapak tersebut kaget dan mulai berpikir, kenapa ya kok orang ini memberi kepadaku? “Beneran pak, eh tapi tunggu dulu, sepertinya kurang deh pak. Ini saya kasih yang baru,” dan orang tersebut akhirnya memberikan cek sejumlah 5 milyar. Tentu si bapak makin kaget dan akhirnya orang tersebut pergi. Esoknya ketika si bapak mau mengecek saldo di bank, ia tiba-tiba teringat akan cek yang ia terima dan dengan iseng ia menyerahkan cek tersebut kepada teller. Teller pun mengkonfirmasi dan uang tersebut ternyata benar masuk ke rekening bapak ini.

Saya yakin ketika si bapak itu sudah tua pun, ia akan tetap menceritakan kepada anaknya dan cucunya bahwa ia pernah menerima uang tersebut. OK, mari coba kita refleksikan bersama. Ketika aku dan kamu sudah menerima anugrah keselamatan itu, kita mau nggak mengucap syukur? Nilainya lebih besar dan lebih kekal daripada 5 milyar yang diterima oleh bapak itu bukan?

Disinilah peran kasih karunia yang mengubahkan fokus kehidupan kita. Tidak berhenti pada kasih karunia dan keselamatan yang Tuhan berikan, namun pola pikir kita pun dapat diubahkan untuk dapat memberitakan kasih karunia dan injil itu kepada orang lain. Ini pula yang dialami oleh Paulus dan juga yang dimintakan kepada jemaat di Tesalonika.

SUATU PENGALAMAN RIIL

Saat itu aku terdiam seribu bahasa menghadapi berbagai pertanyaan yang terlontar dari teman-temanku mengenai iman yang kupercaya. Aku membaca banyak banget buku-buku teologi kontemporer dan juga buku-buku tentang apologetika, tetapi sebenarnya di dalam diriku sendiri aku kosong. Ada satu kekosongan dalam hati yang ternyata kalau dicek ada hal yang belum Tuhan kuasai. Salah satunya adalah bagaimana aku dapat mengucap syukur di dalam keselamatan yang Tuhan berikan.

Kekecewaan akan hidup ini juga aku rasakan saat kutemui aku tidak seperti orang lain. Ada sesuatu dalam diriku yang mana aku tidak dapat bersyukur pada waktu itu. Masa SD-SMP aku dijauhi oleh teman-temanku. Hal ini pun berlanjut pada waktu kuliah aku tidak pernah merasakan cinta dari orang yang kucintai. Nilai yang standar, teman-teman yang biasa aja, dan sebagainya.

Tetapi justru dalam sesuatu yang serba biasa itulah aku mencoba melihat kembali seperti apa hidup yang Tuhan berikan. Ketika aku harus mengalami berbagai kekecewaan dalam hidup, justru di situlah aku merasakan pimpinan dan penyertaanNya. Saat itu yang kurasakan adalah: mungkin ini yang dikatakan Paulus dan ia sebut sebagai menyerah kepada Kristus. Bahwa setiap hal yang baik adalah suatu kesia-siaan tanpa adanya Kristus dalam kehidupannya.

Sejak aku menerima Kristus sebagai juruselamat, pola pikir itu berubah. Setiap hal dapat dilihat dari sisi kasih karunia. Senantiasa ada hal yang dapat disyukuri, dan di dalam Kristus ada kekuatan baru untuk menjalani kehidupan ini.

Ketika Kristus menguasai hidupku, dan ketika rasa syukur itu dapat dihasilkan melalui suatu hubungan yang intim dengan Dia, aku pun mengajak rekan-rekan pembaca buat mau menerima Dia. Undanglah Dia dalam hidupmu. Rasakan kuasa kasihNya yang akan mengubahkan caramu memandang dunia. Percayalah bahwa tidak ada hidup yang terlalu hancur untuk Tuhan bisa ubahkan. Tidak ada kekecewaan yang dapat menghancurkan kasih karunia, dan tidak ada hal di dunia ini yang dapat menghentikan Dia untuk mengasihi kita. Ia menginginkan diriku dan dirimu. Maukah kamu menerima-Nya? Maukah kamu dipenuhi rasa syukur atas setiap hal yang sudah dan akan Ia kerjakan?

Tuhan Yesus Memberkati

Friday, September 22, 2017

Menghargai Rencana Tuhan Dalam Hidup




 Kejadian 50:15-21


Kisah Yusuf pada bagian ini berbicara mengenai bagaimana kita belajar untuk memaafkan setiap hal buruk yang sudah direncanakan orang lain. Tetapi kalau kita pelajari lebih dalam, kisah ini juga mengajarkan begitu banyak hal lain, yakni tentang bagaimana kita bersyukur dan bagaimana kita menjawab serta memaknai panggilan dan rencana Tuhan di dalam kehidupan kita.

Garis Besar Kehidupan Yusuf

Kita tahu bahwa semuanya dimulai dari sebuah mimpi. Mimpi Yusuf yang mengakibatkan dia dijual oleh saudara-saudaranya dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan harga budak normal. Perjalanan ini adalah perjalanan yang jauh, dari Dotan menuju ke Mesir, dan bisa dibayangkan – tanpa onta (karena dia adalah orang yang dibeli), kemudian tentu saja tidak ada jalan raya di jaman itu. Jadi ini adalah perjalanan yang begitu jauh dan berbahaya.

Normalkah ketika seseorang ngambek di dalam perjalanan seperti sampai menumpuk dendam kepada orang-orang yang menyebabkan dia menjadi seperti ini? Yusuf di dalam menempuh perjalanan yang jauh itu tentu ada kondisi dimana dia lelah, dia kehausan, dan dia bisa saja emosi terhadap saudara-saudaranya.

Sesampainya di Mesir, kondisipun tidak jauh lebih baik. Ia telah bekerja dengan sebaik-baiknya ketika berada di rumah Potifar. Suatu hari pun istri Potifar menyebabkan dia masuk ke penjara. Ia difitnah di dalam usahanya untuk bekerja secara baik-baik. Dia sudah melakukan yang terbaik lho, tetapi ia berhak bertanya: mengapa Tuhan menempatkan dia di posisi seperti ini.

Bagaimana dengan kehidupan di penjara? Yusuf pun melakukan sesuatu yang terbaik. Ia menegaskan mimpi dari juru minuman raja dan juru roti. Mimpi keduanya ia sampaikan dan tafsirkan dengan begitu tepat. Tetapi balasan apa yang ia dapat? Juru minuman raja pun juga sama sekali lupa mengenai karya Yusuf. Akhirnya tetap saja, Yusuf harus terus menjalani hukuman penjaranya.

Sampai pada satu kali ketika Firaun bermimpi, dan saat itulah juru minuman raja baru mengingat bagaimana pada akhirnya ia dapat kembali ke istana. Ia akhirnya ingat tentang Yusuf, dan benar saja, Yusuf bisa menafsirkan mimpi itu dengan tepat. Melalui jasanya itulah ia menjadi orang nomor 2 di kerajaan Mesir pada waktu itu. Hal itu membuat Yusuf memiliki kuasa yang begitu besar pada jaman itu.

Rekonsiliasi bukan Balas Dendam

Mengapa Yusuf bisa bersabar di dalam menghadapi berbagai tantangan hidup? Dia bisa aja menjadi marah kepada Tuhan dan juga kepada saudaranya. Kalau dia hanya berhenti melihat hidupnya sampai kepada momen dimana dia dijual oleh saudara-saudaranya, maka dia akan mengalami kepahitan yang begitu dalam. Kalau dia berhenti pada momen dimana dia dipenjara, maka dia akan mengalami kepahitan kepada istri Potifar dan Potifar, yang mungkin ending dari berita alkitab ini bukanlah sebuah rekonsiliasi keluarga, tetapi pembantaian.

Menarik kalau kita melihat berita alkitab ini, Yusuf mengampuni saudara-saudaranya secara tersurat, dan secara tersirat kalau dia mau, dia punya kuasa buat menghukum Potifar dan istrinya. Dia punya kuasa untuk menghancurkan hidup dari juru minuman raja yang melupakannya. Bahkan dia punya kesempatan buat mencari pedagang-pedagang budak yang membeli dia untuk membalas dendam.

Tetapi Yusuf tidak melakukan semuanya itu, bahkan di dalam kebohongan yang diutarakan oleh saudara-saudaranya ketika bertemu muka dengan muka dengan Yusuf.

Melihat Gambaran Besar Allah

Ketika diberikan janji oleh Tuhan melalui mimpi bahwa Yusuf akan menjadi seseorang yang jauh lebih besar daripada saudara-saudaranya – bahkan ayahnya – maka dia berpegang teguh pada janji Allah. Tentu saja hal ini tidak mudah ketika kita belum mengetahui apa rencana Tuhan di dalam kehidupan kita. Apalagi akan sangat jarang terjadi dalam hidup kita bahwa kita akan diberikan sebuah mimpi tertentu oleh Tuhan.

Maka dari itu penting bagi kita buat memahami rencana besar atau gambaran besar Allah. Kita mengetahui dengan jelas sekali bahwa:

1.      Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.
(Yes 55:8-9)
2.      Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.
(Mzm 139:14)
3.      Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
(Rom 8:28)

Ketika Allah berfirman demikian, bukankah itu menjadi jaminan bagi setiap kita bahwa ada gambaran besar yang Tuhan sediakan dalam kehidupan kita. Oke maybe untuk saat ini kita belum memahami rencana tersebut dalam kehidupan kita, tetapi satu hal yang kita tahu bahwa masa lalu kita, masa kini, dan masa depan kita semuanya sudah dirancangkan dengan sungguh amat baik.

Hal inilah yang membuat Yusuf ‘kebal’ dan fokus terhadap tujuan itu. Ia telah mengetahui tujuan akhir dari gambaran besar yang Allah sediakan. Jadi apapun yang ia alami, ia senantiasa belajar buat mengingat tujuan akhir itu. Hal tersebut akan membuat kita menjadi sadar akan bahwa tidak ada satu hal pun di dalam dunia ini yang lepas dari kontrol Tuhan.

Move On!

Pembelajaran yang perlu kita pahami adalah kalau Tuhan telah merancangkan bahwa setiap hal yang terjadi dalam hidup kita merupakan kebaikan, nyatanya hidup kita dipenuhi dengan berbagai hal yang justru membuat kita tidak dapat memandang kebaikan Tuhan. Contohnya kita mengalami berbagai macam kegagalan dalam hidup. Kita sudah mencoba dengan berbagai effort kita tetapi ternyata gagal. Padahal itupun juga ternyata untuk mengerjakan sesuatu yang baik, yang “sesuai dengan kehendak Tuhan”.

Balik lagi bahwa kita akan menjadi gagal paham kalau kita tidak memaknai setiap kegagalan dalam hidup kita merupakan sebuah kesempatan bagi kita untuk bertumbuh dan berbuah. Sadarkah Yusuf bahwa ternyata di dalam proses kehidupannya, Allah mengajarkan dia untuk menjadi seseorang yang lebih bijak, lebih tahan uji, bahkan di tengah berbagai kejadian tidak enak yang ia alami.

Apa yang membuat kita gagal paham seperti ini? Karena kita gagal buat move on dari setiap perkara yang ada di dalam hidup kita. Kita tidak peka dan akhirnya menggunakan kekuatan kita sendiri dalam menghadapi hidup. Padahal, Tuhan sendiri yang menyatakan:

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."
(Mat 11:28-30)

Jadi, ketika ada berbagai persoalan hidup yang kita anggap bahwa itu diluar kemampuan kita, itu tidak sepenuhnya salah. Yap, ketika kita hanya seorang diri dalam memahami kejadian itu, kembali lagi: kita gagal paham. Kita gagal melihat karya Allah. Pendek kata, kita gagal untuk bertanya dan menjawab: “Apa yang mau Tuhan kerjakan dalam hidupku?”

Ketika kita belajar bertanya kepada diri sendiri dan kepada Tuhan, maka kita akan mendapati bahwa ada rancangan-rancangan indah yang Tuhan sediakan. Itulah yang membuat senantiasa kita bisa bersyukur atas kasih karunia yang Tuhan rancangkan dalam kehidupan kita.

Menyadari Kasih Allah

Allah mengasihi Yusuf, dan tidak berhenti disana. Allah mengasihi Yusuf dan terutama Dia juga mengasihi Israel. Ia merawat sebuah bangsa dengan cara yang luar biasa. Satu orang yang dijadikan ‘korban’ (ya, Yusuf bisa saja melihat bahwa dirinya adalah korban) demi menyelamatkan seluruh bangsa. Saat ini pun ada tawaran di dalam diri setiap kita pribadi lepas pribadi.

Ketika Allah sudah menyerahkan segalanya melalui karya salib Kristus dalam kehidupan kita, bagaimana respons kita? Ketika Allah sudah sedemikian mengasihi kita, bagaimana sikap kita kepadaNya? Atau malah bagaimana sikap kita terhadap diri kita sendiri – yang merupakan karya terbesar Allah? Apakah kita mau belajar mengasihi diri kita, dan mengasihi orang lain sebagaimana Allah telah mengasihi setiap kita?

Mari kita merenungkannya. Tidak mudah untuk memahami gambaran besar Allah. Apalagi ketika kita ada di dalam berbagai kegagalan yang melanda kita. Kita gagal dalam satu dan lain hal. Kita gagal mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan. Kita gagal dalam relasi kita. Kita gagal dalam pekerjaan kita. Ada berbagai kegagalan di dalam hidup kita.

Kita bandingkan dengan bagaimana nabi-nabi yang melayani bangsa Israel dan Yehuda di jaman dahulu. Yeremia, di tengah tangisannya, ia sempat jatuh pada kegagalan untuk melihat gambaran besar Allah itu dengan sebuah pernyataan: sungguh, Engkau seperti sungai yang curang bagiku!

Ketika ada kekecewaan dalam diri kita, mau nggak kita kembali menyadari akan kasih Allah selama ini? Saat kita menyadari bahwa Tuhan ternyata sudah sedemikian jauh menghantarkan hidup kita sampai dengan saat ini, apakah kita melupakan seluruh masa hidup yang lampau itu dimana kita masih bisa hidup itupun karena karya Allah? Ataukah kita mau belajar untuk berpikir bahwa ketika Tuhan sudah membawa hidup kita sampai pada titik ini, dengan keyakinan penuh bahwa rancanganNya adalah damai sejahtera, maka kita dapat menikmati hidup ini dalam kasih karunia.

Bukan berarti bahwa kita tidak peduli atas kehidupan kita. Bukan berarti bahwa kita berkata “ya wes lah Tuhan aku pasrah”, kemudian akhirnya kita tidak memikirkan sesuatu rencana masa depan kita. Tetapi ketika kita merancangkan masa depan kita kedepan, marilah kita melibatkan Dia di dalam setiap hal yang kita pikirkan, kita kerjakan. Ketika kita melibatkan Tuhan, maka hidup kita akan berubah, sampai pada satu titik bahwa ketika kita gagal, kita bisa bersyukur pada Tuhan. Ketika kita mendapatkan sesuatu, kita pun bertanya: “apa yang mau Tuhan kerjakan melalui hal yang aku dapatkan ini?”

Mari belajar peka dan punya respons yang benar. Seperti Yusuf yang senantiasa siap diproses dan dipersiapkan menjadi pribadi yang jauh lebih indah, dan mau menerima segala hal di dalam hidupnya, marilah kitapun belajar untuk peka dan menikmati anugrah Allah yang sudah Ia sediakan melalui setiap kejadian dalam hidup kita.

Soli Deo Gloria!

Monday, October 24, 2016

Menjadi Agen Kasih Karunia



1Yoh 1:9
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. 

Kehidupan manusia tidak ada yang luput dari apa yang disebut sebagai dosa. Kita melihat realitas bahwa dosa merupakan sesuatu yang riil, dan tidak dapat dihindari oleh siapapun. Hal ini terjadi begitu alami.

Belajar Mengaku
Ada sebuah kisah di dalam alkitab mengenai bagaimana seseorang harus bersikap di dalam dosanya. Daud pernah merasakan bagaimana ia menyadari apa yang dilakukannya terhadap Uria adalah sesuatu yang begitu jahat (2 Samuel 11) sampai ia menuliskan Mzm 51 untuk melihat betapa busuknya dia di hadapan Allah. Sikap penuh kesadaran ini merupakan sikap yang seharusnya kita miliki sebagai orang percaya.

Sikap lain adalah kita memandang dosa sebagai sesuatu yang biasa kita lakukan. Malah bisa jadi ada orang-orang yang begitu bangga atas dosa-dosa yang mereka lakukan. Saking bangganya mereka menjadi seseorang yang kebal.

Apa yang harus kita akui manakala kita berdosa? Kesadaran bahwa kita berdosa adalah sebuah sinyal yang sudah diberikan Roh Kudus di dalam hidup kita. Karena itu bersyukurlah manakala kita masih merasa bahwa kita ini masih hidup dalam dosa, berarti kita menyadari bahwa kita masih membutuhkan pertolongan Allah di dalam kehidupan kita.

Setia dan Adil
Apa yang dimaksud setia di dalam ayat ini? Mengapa disebutkan setia dan adil? Kesetiaan Allah ialah kesetiaan yang tidak bersyarat. Maksudnya bahwa mau sebejat apapun hidup kita, Ia tetap membukakan kesempatan kita untuk mau datang di hadapan-Nya. Hal ini ditunjukkan di dalam kisah alkitab baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Mari kita melihat di dalam kisah Kain dan Habel, dimana Kain akhirnya membunuh adiknya Habel. Apa yang Allah sampaikan kepada Kain? Bahwa ada penyertaan Tuhan sepanjang hidupnya, bahkan masih dikasih tanah oleh Allah. Kemudian kalau kita membaca kisah dari Yakub, seorang penipu, yang mana Allah akhirnya mengubahkan namanya menjadi Israel. Bagaimana dengan kisah hidup Daud si pezinah, Elia yang hidupnya begitu lonely, Musa dengan berbagai aksi protesnya, Yeremia dengan kisah kenabian yang penuh air mata, ternyata semuanya tetap berada di dalam lindungan kasih setia Allah.

Keadilan juga adalah sifat Allah, dan di dalam konteks ayat ini, kita perlu memahami bahwa tidak ada yang disebut sebagai hukuman Allah. Penghukuman atas setiap dosa kita telah ditebus melalui darah Yesus, tetapi selalu ada konsekuensi yang berjalan di dalam setiap dosa yang kita kerjakan. Jadi jangan pernah menyalahkan Allah atau meyakini bahwa setiap hal yang terjadi yang buruk dalam kehidupan kita merupakan hukuman atau ganjaran Allah.

Kesetiaan dan keadilan merupakan sifat Allah yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.

Mengampuni Dosa
Kedatangan Yesus ke dunia merupakan suatu tanda begitu besarnya kasih Allah terhadap dunia ini. Salib menjadi bukti bahwa ada pengampunan dan penerimaan Allah atas kehidupan kita yang penuh dengan dosa. Pengampunan ini merupakan rencana besar Allah, dan tidak ada hal yang lebih kita butuhkan di dunia ini dibandingkan dengan pengampunan dosa itu.

Apa yang harus kita kerjakan? Cukup datang kepada Dia dengan ungkapan bahwa kita membutuhkan kasih karunia. Bagaimana kita bisa datang kepada-Nya? Dengan menyadari dan mengakui bahwa kita adalah pribadi yang penuh dengan dosa. Kita datang bukan dengan kesucian kita. Kita datang bukan dengan kebisaan kita. Kita datang dengan hati yang hancur yang mau hidup kita dibarui oleh kasih karunia.

Move On dari Dosa
Apa arti move on? Move on berarti kita berhasil untuk melepaskan diri sepenuhnya dari sebuah kenangan. Bukan hanya mantan yang harus kita move on, bahkan dari dosa tertentu pun kita juga harus belajar untuk move on.

Bagaimana kita bisa move on dari dosa? Kita perlu belajar untuk menghentikan koneksi kita terhadap dosa. Bahkan terkadang ada hal-hal ekstrim yang perlu kita lakukan manakala kita mau berhenti dari kebiasaan buruk.

Contoh kalau kita ingin move on dari mantan kita, kita akan menghancurkan segala hal yang indah dari kenangan-kenangan kita. Kita berusaha berdamai dengan masa lalu kita. Kita mengakui bahwa kita memiliki masa lalu dengannya, tetapi kita perlu memaknai bahwa masa lalu itu bukanlah sesuatu yang harus disesali. Masa lalu itu cukup dipandang sebagai sebuah proses hidup dan pendewasaan iman kita.

Move on dari dosa, tetapi jangan pernah move on dari kasih karunia Allah. Seberapa hancur hidup kita, Allah ingin kita belajar untuk mengakui dosa kita, dan kita belajar untuk berdamai dengan masa lalu kita. Tidak ada dosa yang terlalu besar yang tidak dapat dihancurkan oleh kasih karunia Allah. Allah pun tidak pernah mengingat lagi setiap dosa kita. Allah tidak menghantui hidup kita dengan masa lalu yang penuh kekuatiran. Ia menyediakan masa depan yang penuh dengan damai sejahtera.

Menyucikan dari Segala Kejahatan
Roh Kudus yang bekerja melalui hidup kita senantiasa akan memberikan sebuah perasaan cemas di dalam kita melakukan dosa kita. Pencobaan merupakan suatu hal yang biasa, demikian yang dikatakan Paulus di dalam 1 Korintus 10:13. Hal itu menyiratkan bahwa tidak ada pencobaan dimana kita tidak dapat atasi di dalam kasih karunia Allah di dalam hidup kita.

Apa artinya suci? Perumpamaan penyucian yang dilakukan Yesus adalah seperti ini, bayangkan ada sebuah kertas putih yang baru. Kertas itu menandakan kehidupan kita. Kemudian ada noda hitam dari pensil yang cukup tebal. Coretan tersebut kemudian kita hapus dengan penghapus, tetapi masih saja ada bekasnya. Kita coba lagi tetapi tetap saja noda tersebut tidak dapat hilang sepenuhnya.

Demikian pula kehidupan kita. Seberapa kita berusaha menghapus noda dosa kita, tidak akan ada gunanya. Tetapi manakala Kristus mulai bekerja di dalam kehidupan kita, kita kembali disucikan. Kita menjadi selembar kertas baru yang siap digunakan Allah untuk menuliskan karya-Nya melalui kehidupan kita hari lepas hari.

Agen Kasih Karunia
Penebusan hanyalah dapat terjadi melalui karya Yesus, dan di dalam kasih karunia itulah nyata kehidupan kita yang baru. Ya, kita menjadi agen kasih karunia, dan tugas kita adalah membawakan kasih karunia itu di dalam dunia di sekitar kita.

Semakin kita pernah merasakan hancur hati akibat dosa-dosa kita, maka semakin besar harusnya kita dapat memaknai kasih karunia yang Allah sediakan di dalam kehidupan kita. Mengapa? Karena kasih karunia membuat kita sadar bahwa segala hal yang kita kerjakan tidak dapat menghapuskan setiap dosa dan pelanggaran hidup kita. Hidup tanpa kasih Allah ialah hidup yang kosong.

Kita hidup sehari-hari dengan berbagai kesibukan kita tetapi kita tidak pernah terpuaskan oleh segala hal yang ada di dunia ini. Semakin kita mencari kenikmatan dunia, semakin kita merasa kekosongan hidup sedang melanda kita.

Kesadaran akan kasih karunia akan membuat kita menjadi pribadi yang mensyukuri hidup yang Allah berikan. Hidup yang penuh dengan damai sejahtera karena kita mengetahui bahwa hidup kita bermakna. Hidup yang menyadari bahwa sebagaimana kita ada saat ini, semuanya adalah karena kasih karunia Allah. Siapkah kita untuk dapat menikmati hidup penuh kasih karunia itu? Allah menantikan jawaban kita.

Soli Deo Gloria