Total Pageviews

Showing posts with label kesetiaan Allah. Show all posts
Showing posts with label kesetiaan Allah. Show all posts

Thursday, May 25, 2017

Kebangkitan Kristus, Pengharapan Hidup, Kenaikan Yesus dan Kesetiaan Allah



Hari ini, 25 Mei 2017 seluruh umat Kristiani merayakan hari raya Kenaikan Isa-Almasih. Tentu bukan sebuah kebetulan dimana perayaan hari raya ini pada tahun ini dirayakan seminggu setelah hari Kebangkitan Nasional. Selain itu, hal yang tidak kalah penting adalah kita melihat berbagai problematika yang sedang mencuat akhir-akhir ini. Harus diakui bahwa Hari Kebangkitan Nasional tahun ini penuh dengan pemaknaan, dimana Indonesia sedang dilanda oleh berbagai hal yang menarik dan mencengangkan. Mulai dari dipenjarakannya seorang Basuki Tjahaya Purnama, kasus-kasus yang sedang mencuat, mulai bangkitnya gerakan-gerakan radikalisme, serta pemboman yang terjadi di Jakarta.

Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga
Perayaan Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga mungkin tidak sepopuler Natal dan Paskah. Kalau pada saat Natal dan Paskah, gereja penuh baik dari segi kehadiran maupun berbagai acara yang meriah, hari kenaikan tidak mendapatkan porsi yang semeriah itu. Setidaknya hanya ada ibadah seperti ibadah regular, diselipi oleh beberapa pengisi pujian, dan jalannya tetaplah sesuatu yang biasa saja.

Tetapi harus diingat bahwa hari ini merupakan sebuah momen penting juga selain Natal dan Paskah. Momen ini mengingatkan kita mengenai bagaimana Tuhan Yesus yang bertemu secara “fisik” untuk terakhir kalinya dengan para murid-Nya. Yesus yang mereka kenal, yang membuat mereka larut dalam kekaguman akan berbagai karyaNya, yang kemudian meninggalkan mereka saat Jumat Agung, kemudian bangkit dan menampakkan diri kepada mereka. Yesus itu juga akan meninggalkan mereka kembali untuk kedua kalinya secara fisik.

Perubahan Sikap

Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah.
(Luk 24:52-53)

Para murid menyembah kepada-Nya setelah kepada mereka disampaikan salam perpisahan. Kontras sekali dengan apa yang mereka alami pada saat Yesus mengucapkan salam perpisahan saat Ia akan disalibkan. Menarik untuk kita lihat bahwa disini ada perubahan respons akan perkataan Tuhan kepada para murid-Nya.

Para murid pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita dan hal ini pun juga tidak terjadi pada saat Yesus telah mati disalibkan sebelum Ia bangkit. Murid-murid bersembunyi di sebuah ruang tertutup, larut dalam kesedihan mereka. Sedangkan pada saat kedua kalinya Yesus akan berpisah dengan mereka, murid-murid berada di dalam Bait Allah, tempat peribadatan orang-orang Yahudi, yang mana bisa dikatakan bahwa pada jaman itu murid-murid adalah kaum minoritas, sekte sesat yang mengajarkan tentang Yesus adalah Mesias.

Apa yang mereka lakukan di Bait Allah? Oh mereka tidak hanya diam. Mereka memuliakan Allah dan ini adalah hal yang dipandang orang lain mungkin bodoh, nekat, dan resikonya sangatlah tinggi. Tetapi murid-murid melakukannya, dan mereka tetap setia.

Faktor X
Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan sikap itu pasti ada penyebabnya. Tidak ujug-ujug para murid tiba-tiba menjadi orang-orang yang seberani itu. Tentu kita masih ingat bagaimana Petrus yang dengan gegabah menyangkal Yesus. Alkitab juga menyajikan kita berbagai informasi yang begitu jujur tentang ketakutan yang dialami para murid.

Apakah janji Tuhan ketika Ia masih hadir dalam bentuk fisik dan ketika Ia akan naik ke sorga berbeda? Ternyata tidak juga. Mari kita baca ayat ini:

Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur."
(Luk 24:44)

Apa yang didapatkan dari ayat ini adalah ternyata janji yang sudah Ia ungkapkan sebelumnya maupun pada saat momen ini adalah sesuatu yang sama. Murid-murid pun memahami bahwa kedua janji tersebut sama, tetapi ada yang menjadi faktor X, atau factor pembedanya. Apakah itu? Bahwa saat ini Tuhan telah membukakan pikiran mereka (ay. 45)

Nah setelah kita mengetahui hal ini, yuk mari kita evaluasi diri kita sendiri. Apakah di dalam setiap proses kehidupan kita, hati dan pikiran kita sudah terbuka kepada Firman itu? Apakah kita siap mendengarkan Firman itu sekalipun mungkin tidak mudah untuk kita menerimanya? Siapkah kita ditegur dan menerima Firman itu sehingga kehidupan kita pun dapat diubahkan sama seperti para murid sudah diubahkan?

Implikasi Praktis
Damai sejahtera yang Tuhan berikan ini bukanlah sebuah hal yang sia-sia. Ketika para murid sudah merasakan bagaimana kehidupan mereka diubahkan melalui kejadian ini, mereka telah merasakan bagaimana indahnya berkarya dalam hidup mereka bagi Tuhan.

Kita melihat hal ini dari teladan iman para murid. Stefanus – yang harus mati karena mempertahankan imannya dengan dilempari batu. Petrus – yang akhirnya disalib terbalik. Yakobus – yang akhir hidupnya dipenggal. Andreas – yang mati disalib silang. Yohanes – yang dibuang ke Pulau Patmos. Kemudian di jaman yang lebih modern kita mengenal David Livingstone – yang menyebarkan injil hingga ke Afrika, meninggalkan segala kenyamanannya. Setiap orang Kristen di berbagai bidang kehidupan telah mencoba untuk menjadi berkat melalui damai sejahtera Allah yang sudah mereka rasakan, dan mereka ingin memperkenalkan damai sejahtera itu kepada orang lain.

Ketika kita belajar hal ini, siapkah kita menjadi berkat di tengah masyarakat yang mungkin menolak kita dengan berbagai fitnah, opini, dan berbagai gagasan yang bertentangan dengan iman kita? Siapkah kita bersikap menjadi orang-orang yang “berbeda” dibandingkan dengan orang-orang di sekitar kita yang mungkin belum pernah merasakan kasih Kristus di dalam kehidupan mereka?

Hari kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga ini hendaklah dimaknai dengan sebuah sikap untuk bangkit, untuk menjadi pribadi-pribadi yang percaya penuh akan janji dan penyertaan Allah di dalam kehidupan kita.

Soli Deo Gloria

Saturday, October 1, 2016

Menghadapi Pencobaan - Menikmati Relasi Dengan-Nya



1Kor 10:13 
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. 

Pencobaan
Apa sih makna dari kata pencobaan? Sekilas saja kalau kita baca ayat ini, kita menemukan bahwa setiap orang akan mengalami pencobaan-pencobaan di dalam hidupnya. Menariknya, ayat ini menuliskan bahwa pencobaan yang kita alami adalah pencobaan yang BIASA. Artinya apa? Artinya bahwa pencobaan-pencobaan itu merupakan suatu bagian yang integral di dalam kehidupan kita. Setiap kita akan menghadapinya, dan jalan keluarnya menurut Paulus hanya ada di dalam satu pribadi. Siapakah itu? Tentu saja jalan keluar dari pencobaan itu adalah pribadi Yesus sendiri.

Hidup itu Pilihan
Chuck Swindoll berkata bahwa 90% kebahagiaan hidup kita ditentukan oleh kita sendiri, sedangkan 10% nya ditentukan oleh orang lain. Apa maksudnya? Bahwa respons kita terhadap sebuah permasalahan atau pilihan itu ditentukan bukan oleh orang lain, tetapi oleh diri kita sendiri. Hal ini menjadi menarik bahwa pada masa kini, ternyata hal tersebut bisa menjadi terbalik lho.

Maksudnya terbalik? Berapa banyak orang yang tidak memiliki pendirian untuk dia bertindak sesuatu yang benar? Mereka seperti orang yang sama sekali diombang-ambingkan oleh orang lain di sekitar mereka. Kalau si A bilang begitu, ya aku nurut deh. Kan dia temanku. Dia pasti tahu yang terbaik buat aku.

Menariknya hal ini tidak terjadi hanya di dunia, bahkan di gereja pun hal ini juga sering terjadi. Manakala seseorang diminta untuk melayani di berbagai bidang, karena ia tidak tahu prioritas hidupnya, maka ia menjadi pribadi yang mudah sekali untuk diminta melakukan apapun. Tetapi celakanya karena ia tidak punya prioritas, ia tidak tahu sebenarnya apa rencana Tuhan di dalam kehidupan.

Jadi hidup itu sebenarnya pilihan yang kita buat kok. Ada berbagai macam “suara-suara” dari luar yang akan berusaha mengganggu dan membelokkan kita. Ya, itulah pola dunia, dimana kita akan terus-menerus diganggu untuk serupa dengan dunia. Tetapi untuk kita tetap dapat memiliki prinsip sesuai kebenaran Firman? Well, itu pilihan!


Menjadi Orang Kristen yang Berprinsip
Jika setiap hidup kita adalah pilihan, maka jatuh ke dalam dosa akibat pencobaan pun juga pilihan. Misalkan kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang korupsi, kemudian kita korupsi, dan kita berkata: “loh kalo begitu ‘kan sebenarnya aku gak punya pilihan. Mau ngga mau harus ikut cara mereka donk!”

Hal yang paling mendasari hidup kita sebagai orang Kristen bukanlah orang lain. Rasul Paulus dengan begitu tegas menuliskan:
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini” (Roma 12:2a)

Artinya jelas banget lho ya. Paulus menuliskan hal itu bukan berarti ia berada di dalam situasi yang enak. Ingat bahwa pada masa itu para rasul menjadi “buronan” karena dianggap menyebarkan agama baru atas iman percaya mereka kepada Kristus. Kematian Yesus dan kebangkitan-Nya, serta kenaikan-Nya ke surga serasa memberikan prinsip hidup yang baru kepada kehidupan para rasul.

Sama seperti kita, mereka juga mendapatkan tantangan manakala hidup di tengah dunia yang begitu jahat. Dulu mereka berhadapan dengan otoritas agama Yahudi, sekarang kita berhadapan dengan berbagai ketidakadilan dan kejahatan. Permainan suap sana, suap sini, sampai kepada kejahatan terencana, bukankah keadaan dunia sebenarnya sama saja?

Itulah pentingnya kita punya prinsip untuk kita dapat memegang kebenaran Firman Tuhan. Manakala kita mengetahui bahwa Firman Tuhan mengatakan “tidak boleh berzinah” tetapi kita memilih untuk berzinah, terlihat sekali bahwa kita tidak punya prinsip. Ketika Firman Tuhan berkata “kasihilah musuhmu”, sudah jelas lho perintah ini.

Ego Kita
Seringkali yang menjadi pencobaan di dalam diri kita tidak lain dan tidak bukan adalah berseberangnya kehendak kita dan kehendak Allah. Simple sih, karena seringkali kita menginginkan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang sudah Allah sediakan.

Ego kita memuncak. Kita prihatin dan mengasihani (mengasihani ya, bukan mengasihi) diri kita manakala sampai usia 35 tahun belum punya pacar, kemudian kita mengumbar kehidupan kita. Kita akhirnya sembarangan memilih dengan alasan “pokoknya aku mau kawin tahun ini. TITIK!” Menariknya manakala kita punya prinsip seperti itu, bukan berarti Tuhan akan hentikan. Eh belum tentu lho. Semuanya juga balik lagi kepada kepekaan kita akan kebenaran Firman Tuhan.

Kita jadi memikirkan diri kita sendiri. Kita menganggap setiap pilihan yang kita ambil itu merupakan suatu hal yang terbaik yang akan kita jalani. Pokoknya hidupku ya hidupku, bahkan Tuhan juga gak boleh mengaturnya. Jadinya ya itulah, kita begitu terpikat pada hal-hal yang bersifat sementara, sedangkan kalau kita belajar mengambil waktu sejenak… hum… kita lihat kembali bahwa ternyata tidak ada hal yang dapat memenuhi kebutuhan kita. Semakin kita mendapatkan begitu banyak, semakin pula kita akan menginginkan banyak hal.

Jaman dulu orang udah punya sepeda motor aja senengnya bukan main. Jaman sekarang, yah, minimal mobil lah. Biar nggak kehujanan. Jaman dulu orang naik pesawat itu sesuatu yang begitu prestis. Sekarang sih udah standar banget. Jaman dulu orang mikir untuk punya telepon genggam. Sekarang? Kalau gak bawa handphone untuk update status rasanya ada yang kurang.

Ini membuktikan bahwa ternyata segala sesuatu di dunia ini tidak dapat memuaskan kehidupan kita. Kalau begitu berarti ada sesuatu yang dapat memenuhi kekosongan jiwa kita, dan itu bukan berasal dari dunia ini.

Tuntunan Allah Yang Setia
Wawasan dunia Kristen percaya bahwa setiap orang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Allah menciptakan kita beserta setiap kerinduan hati kita, dan kerinduan itu satu-satunya hanya dapat dipuaskan melalui kasih Allah.

Bagaimana kita dapat mengenal Allah? Tidak usah ditanya deh, jawabannya ya cuma 1. Belajar Firman dan merenungkan Firman itu siang dan malam.

Firman itulah yang mengubahkan pribadi kita hari lepas hari. Mulai dari hati kita, sampai dengan tingkah laku kita, pola pikir kita, dan tindakan kita. Manakala kita belajar menempatkan Kristus di tahta hati kita, maka itu berarti kita akan nurut apapun yang Tuhan katakan. Inilah yang Paulus sebutkan “dari hamba dosa menjadi hamba kebenaran”. Hamba dalam konteks zaman alkitab ditulis adalah milik dari tuannya. Dia sama sekali tidak punya hak atas hidupnya. Kalau hamba disuruh tuannya untuk pergi dari rumahnya, ia harus pergi. Kalau hamba itu diminta tuannya untuk tidur dengannya pun, ia tidak boleh menolaknya!

Apa artinya ketika kita menjadi hamba Kristus? Kembali lagi berarti bahwa kita sama sekali tidak punya hak atas kehidupan kita. Bahwa ternyata seluruh hidup kita adalah milik Kristus. Itu berarti bahwa setiap hal yang kita pikirkan, yang kita rencanakan, yang kita kerjakan, semuanya adalah karena Kristus. Itulah makna dari Soli Deo Gloria – segala kemuliaan adalah bagi Allah.

Melawan Pencobaan dengan Kuasa Allah

1Kor 15:55-57
Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. 

Ayat ini semakin menunjukkan bahwa pencobaan bukan berasal dari Allah. Pencobaan merupakan sebuah hasrat pribadi kita untuk kita melawan Allah. Melawan? Iya. Ingat, status kita sebagai hamba berarti kita akan melakukan segalanya untuk tuan kita. Menariknya bahwa di dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab panggilan itu, di tengah menghadapi berbagai pencobaan, Allah memberikan kita kekuatan untuk tetap teguh berpegang pada firmanNya.

Jadi ketika menghadapi pencobaan, ingatlah bahwa Allah kita pun melalui Yesus Kristus juga pernah mengalami hal yang sama. Dia bukannya enak-enakan nonton dari surga mengenai kehidupan kita. Ia pernah merasakan pula pencobaan-pencobaan itu. Ia merasakan pergumulan yang jauh lebih dahsyat daripada yang akan kita alami (Ibrani 4:5)

Sadarilah kawan bahwa ternyata pencobaan-pencobaan itu sesuatu yang biasa. Satu-satunya cara untuk kita mendapatkan kemenangan adalah berpegang teguh kepada Firman-Nya.

Allah Yang Menanti
Yesus menantikan kita untuk mau datang kepada-Nya, dan Ia rindu untuk kita berani berkata bahwa “aku butuh Tuhan di dalam hidupku. Pimpinlah aku Tuhan, dan jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga". Inilah panggilan setiap orang Kristen, yakni kita belajar untuk mempersembahkan hidup kita. Ia siap sedia menyambut kita. Pelukan kasih dan kuasa-Nya menantikan kita untuk datang kepada Kristus. Tidak ada hati yang terlalu hancur yang tidak dapat ia pulihkan.

Mari belajar meminta pimpinan Tuhan dan senantiasa hidup di dalam pengenalan akan Firman-Nya dan yakinlah bahwa pencobaan-pencobaan yang kita alami adalah pencobaan yang biasa. Pencobaan yang berasal dari diri kita yang kurang bersyukur atas keadaan, dan ketika kita belajar menerima setiap kondisi kita, akan ada pemulihan dari Dia. Pemulihan bukan secara jasmani, tetapi kita belajar bahwa segala yang terjadi dalam hidup kita adalah dari Dia, bagi Dia, dan oleh Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.

Soli Deo Gloria!

Friday, September 30, 2016

Dosa dan Kesetiaan Allah



1Yohanes 1:9 
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. 

“Aku takut… Aku bimbang… Setelah sekian lama aku jadi Kristen, aku sudah percaya Tuhan Yesus, tetapi tetep aja aku melakukan hal itu.. kenapa yah…”

Beberapa hari yang lalu aku mendengar kalimat ini dari seorang teman yang sudah melayani. Bahkan dia adalah seorang ketua pemuda di sebuah gereja. Dia mengaku bahwa setelah sekian lama dia melayani, dia punya relasi dengan Tuhan melalui saat teduhnya, tetapi hal itu tidak lantas membuat dia bebas dari dosa. Dia masih punya sebuah kebiasaan berdosa dan kebiasaan itu ia lakukan berhari-hari.

Dosa
Dosa… Apa sebenarnya yang dimaksud dengan dosa? Dalam bahasa aslinya, dosa berarti “meleset dari sasaran”. Bayangkan kita bermain dart, ada sebuah titik di tengah (biasanya nilainya 10) dan kemudian kita diminta melemparkan dart itu. Kemudian kita mengenai angka 9. Good job bukan? Tetapi jikalau kita melihat definisi dosa dari alkitab, maka it’s not good enough.

Definisi dosa menurut alkitab adalah kalau ada range nilai 1-10 dan kita mendapatkan hasil 10, itulah baru yang namanya tidak berdosa. Tetapi kalau kita melakukan sesuatu dan nilainya 9,99 pun, tetap saja itu merupakan dosa. Itulah yang disebut dosa. Kalau begitu apakah ada orang yang begitu perfect yang bisa mendapatkan “nilai maksimal” tersebut?

Tidak hanya itu saja. Dosa selain berarti tidak melakukan sesuatu yang buruk, ada 1 lagi yang merupakan dosa. Apa itu? Yakni manakala kita tahu bahwa kita harus melakukan sesuatu yang benar tapi kita tidak melakukannya. Contoh ketika kita melihat teman kita sedang membutuhkan tumpangan, tetapi kita tidak memberikan tumpangan kepadanya, maka itupun dosa. Loh, kan dia gak butuh tumpangan, toh dia bisa naik angkutan umum? Tidak seperti itu cara kerjanya!

Keterikatan Terhadap Dosa
Selama kita hidup di dunia ini, kita akan selalu bergumul dengan dosa. Kita selalu akan menghadapi tantangan-tantangan untuk kita apakah kita dapat hidup seturut dengan kehendak Allah atau tidak. Tentu hal ini menjadi menarik manakala kita melihat lagi bahwa kita hidup di dalam periode penyertaan Roh Kudus.

Tidal peduli bagaimana sucinya kehidupan kita. Tidak peduli bagaimana track record dari pelayanan kita. Entah kita jemaat biasa, ketua majelis, pejabat gerejawi, bahkan pendeta sekalipun selalu punya hal yang membuat mereka di cap sebagai manusia berdosa.

Tetapi kita kembali kepada apa yang alkitab katakan – bahwa memang benar semua orang itu berdosa. Tetapi untungnya kita tidak hanya berhenti pada Roma 3:23, karena selanjutnya ada Roma 3:24

Roma 3:23  Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, 
Roma 3:24  dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.

Mengaku di Hadapan Allah
Pengampunan memang sudah Ia berikan atas dosa-dosa yang kita perbuat. Kita kembali menjadi pribadi yang dibenarkan oleh anugrah mengenai karya Yesus Kristus. Selanjutnya apa? Apakah kemudian kita boleh berbuat dosa? Sekali-kali tidak. Tetapi menariknya dari Allah yang kita sembah di dalam Yesus Kristus adalah ini: bahwa sekali-kali ketika kita berdosa, kita dapat mengakui segalanya. Pengakuan itulah yang sebenarnya dinantikan oleh Allah untuk kita dapat datang kepadanya.

 Allah yang rindu untuk kita boleh datang kepadaNya di dalam pengakuan dosa kita. Sadarkah kita akan hal itu? Pertanyaan itu akan disambung lagi dengan sebuah pertanyaan : benarkah kita rindu buat menghadap Dia sehari-hari untuk mengakui kelemahan kita, bahwa tanpa anugrah Allah, semua yang kita kerjakan ujungnya ialah maut?

Ketenangan batin itu Ia sediakan manakala kita mau datang kepadaNya dalam doa. Ia dengan setia menantikan kita. Itulah yang disebutkan oleh Yohanes.

Ia Setia dan Adil
Ada sebuah kisah menarik, antara Mary dan George. Mary dan George adalah sepasang kekasih yang mana seharusnya setahun setelah hari ini, mereka akan mencapai pelaminan. Tetapi ada sebuah kondisi perang, dimana George harus berangkat ke luar negeri untuk membela negaranya. Sebulan, dua bulan, selalu ada kabar dari George. Di dalam satu surat balasannya kepada George, Mary menuliskan “ketika kamu kembali kemari, aku akan siap untuk menerimamu dalam hidupku”. Kemudian setelah setahun lebih, perang belum usai, namun surat itu berhenti sampai ke tempat Mary.

Mary yang kuatir kemudian menanyakan kepada komandan George dan komandannya pun kesulitan menjawabnya. Ternyata status George saat itu adalah “Missing in Action”. Kemudian setahun kemudian, ada ketukan di pintu rumah Mary. Ibunda Mary segera membukakan pintu itu, dan tebak siapa yang datang ke rumah itu? Ternyata itu adalah George yang sudah pergi selama 2 tahun.

Mary pada saat itu mengalami depresi yang luar biasa. Dan sejak seminggu sebelum kepulangan George, ia sudah mengenakan gaun yang akan dipakainya di hari H pernikahan mereka. Ketika George masuk ke kamar Mary, segera ia berlari dan memeluk George yang masih dalam kondisi dekil setelah ia kembali dari medan perang itu.

Bayangkan kisah ini, dimana Mary menantikan kepulangan tunangannya untuk akhirnya mereka bisa bersatu lagi. Itulah rasa rindu Allah atas kehidupan kita. Ia menantikan kita untuk datang kepada-Nya, membawa hancur hati kita manakala kita mau belajar mengakui setiap dosa kita. Dikatakan di dalam ayat ini bahwa Ia adalah setia dan adil.

Dosa akan menimbulkan sebuah konsekuensi – kita tidak dapat menghindari hal tersebut. Tetapi di satu pihak, kesetiaan Allah yang menantikan kita untuk datang kepada-Nya juga bukanlah suatu hal yang main-main. Ia menantikan kita untuk kita datang dengan hancur hati, yang mana Ia mau membebaskan kita dari dosa tersebut. Ia ingin agar kita dapat menikmati hidup di dalam kekudusan sehingga ada suatu rasa rindu di dalam diri kita untuk memuji dan memuliakan Dia.

Jadi tunggu apa lagi? Mari datang kepada-Nya ketika kita mau mengakui setiap dosa kita. Mari bawa hati kita yang hancur akibat dari dosa itu kepada-Nya. Biarkan Dia menyusun satu per satu serpihan hancurnya hati itu menjadi hati yang baru. Hati yang suci, hati yang rindu untuk selalu dekat kepada-Nya. Hati yang rindu untuk menjadi kemuliaan bagi Dia. Semuanya itu karena kita berharga di mata-Nya, dan kita menjadi “biji mata Allah”

Soli Deo Gloria!