Total Pageviews

Showing posts with label kebenaran. Show all posts
Showing posts with label kebenaran. Show all posts

Saturday, October 1, 2016

Menghadapi Pencobaan - Menikmati Relasi Dengan-Nya



1Kor 10:13 
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. 

Pencobaan
Apa sih makna dari kata pencobaan? Sekilas saja kalau kita baca ayat ini, kita menemukan bahwa setiap orang akan mengalami pencobaan-pencobaan di dalam hidupnya. Menariknya, ayat ini menuliskan bahwa pencobaan yang kita alami adalah pencobaan yang BIASA. Artinya apa? Artinya bahwa pencobaan-pencobaan itu merupakan suatu bagian yang integral di dalam kehidupan kita. Setiap kita akan menghadapinya, dan jalan keluarnya menurut Paulus hanya ada di dalam satu pribadi. Siapakah itu? Tentu saja jalan keluar dari pencobaan itu adalah pribadi Yesus sendiri.

Hidup itu Pilihan
Chuck Swindoll berkata bahwa 90% kebahagiaan hidup kita ditentukan oleh kita sendiri, sedangkan 10% nya ditentukan oleh orang lain. Apa maksudnya? Bahwa respons kita terhadap sebuah permasalahan atau pilihan itu ditentukan bukan oleh orang lain, tetapi oleh diri kita sendiri. Hal ini menjadi menarik bahwa pada masa kini, ternyata hal tersebut bisa menjadi terbalik lho.

Maksudnya terbalik? Berapa banyak orang yang tidak memiliki pendirian untuk dia bertindak sesuatu yang benar? Mereka seperti orang yang sama sekali diombang-ambingkan oleh orang lain di sekitar mereka. Kalau si A bilang begitu, ya aku nurut deh. Kan dia temanku. Dia pasti tahu yang terbaik buat aku.

Menariknya hal ini tidak terjadi hanya di dunia, bahkan di gereja pun hal ini juga sering terjadi. Manakala seseorang diminta untuk melayani di berbagai bidang, karena ia tidak tahu prioritas hidupnya, maka ia menjadi pribadi yang mudah sekali untuk diminta melakukan apapun. Tetapi celakanya karena ia tidak punya prioritas, ia tidak tahu sebenarnya apa rencana Tuhan di dalam kehidupan.

Jadi hidup itu sebenarnya pilihan yang kita buat kok. Ada berbagai macam “suara-suara” dari luar yang akan berusaha mengganggu dan membelokkan kita. Ya, itulah pola dunia, dimana kita akan terus-menerus diganggu untuk serupa dengan dunia. Tetapi untuk kita tetap dapat memiliki prinsip sesuai kebenaran Firman? Well, itu pilihan!


Menjadi Orang Kristen yang Berprinsip
Jika setiap hidup kita adalah pilihan, maka jatuh ke dalam dosa akibat pencobaan pun juga pilihan. Misalkan kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang korupsi, kemudian kita korupsi, dan kita berkata: “loh kalo begitu ‘kan sebenarnya aku gak punya pilihan. Mau ngga mau harus ikut cara mereka donk!”

Hal yang paling mendasari hidup kita sebagai orang Kristen bukanlah orang lain. Rasul Paulus dengan begitu tegas menuliskan:
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini” (Roma 12:2a)

Artinya jelas banget lho ya. Paulus menuliskan hal itu bukan berarti ia berada di dalam situasi yang enak. Ingat bahwa pada masa itu para rasul menjadi “buronan” karena dianggap menyebarkan agama baru atas iman percaya mereka kepada Kristus. Kematian Yesus dan kebangkitan-Nya, serta kenaikan-Nya ke surga serasa memberikan prinsip hidup yang baru kepada kehidupan para rasul.

Sama seperti kita, mereka juga mendapatkan tantangan manakala hidup di tengah dunia yang begitu jahat. Dulu mereka berhadapan dengan otoritas agama Yahudi, sekarang kita berhadapan dengan berbagai ketidakadilan dan kejahatan. Permainan suap sana, suap sini, sampai kepada kejahatan terencana, bukankah keadaan dunia sebenarnya sama saja?

Itulah pentingnya kita punya prinsip untuk kita dapat memegang kebenaran Firman Tuhan. Manakala kita mengetahui bahwa Firman Tuhan mengatakan “tidak boleh berzinah” tetapi kita memilih untuk berzinah, terlihat sekali bahwa kita tidak punya prinsip. Ketika Firman Tuhan berkata “kasihilah musuhmu”, sudah jelas lho perintah ini.

Ego Kita
Seringkali yang menjadi pencobaan di dalam diri kita tidak lain dan tidak bukan adalah berseberangnya kehendak kita dan kehendak Allah. Simple sih, karena seringkali kita menginginkan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang sudah Allah sediakan.

Ego kita memuncak. Kita prihatin dan mengasihani (mengasihani ya, bukan mengasihi) diri kita manakala sampai usia 35 tahun belum punya pacar, kemudian kita mengumbar kehidupan kita. Kita akhirnya sembarangan memilih dengan alasan “pokoknya aku mau kawin tahun ini. TITIK!” Menariknya manakala kita punya prinsip seperti itu, bukan berarti Tuhan akan hentikan. Eh belum tentu lho. Semuanya juga balik lagi kepada kepekaan kita akan kebenaran Firman Tuhan.

Kita jadi memikirkan diri kita sendiri. Kita menganggap setiap pilihan yang kita ambil itu merupakan suatu hal yang terbaik yang akan kita jalani. Pokoknya hidupku ya hidupku, bahkan Tuhan juga gak boleh mengaturnya. Jadinya ya itulah, kita begitu terpikat pada hal-hal yang bersifat sementara, sedangkan kalau kita belajar mengambil waktu sejenak… hum… kita lihat kembali bahwa ternyata tidak ada hal yang dapat memenuhi kebutuhan kita. Semakin kita mendapatkan begitu banyak, semakin pula kita akan menginginkan banyak hal.

Jaman dulu orang udah punya sepeda motor aja senengnya bukan main. Jaman sekarang, yah, minimal mobil lah. Biar nggak kehujanan. Jaman dulu orang naik pesawat itu sesuatu yang begitu prestis. Sekarang sih udah standar banget. Jaman dulu orang mikir untuk punya telepon genggam. Sekarang? Kalau gak bawa handphone untuk update status rasanya ada yang kurang.

Ini membuktikan bahwa ternyata segala sesuatu di dunia ini tidak dapat memuaskan kehidupan kita. Kalau begitu berarti ada sesuatu yang dapat memenuhi kekosongan jiwa kita, dan itu bukan berasal dari dunia ini.

Tuntunan Allah Yang Setia
Wawasan dunia Kristen percaya bahwa setiap orang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Allah menciptakan kita beserta setiap kerinduan hati kita, dan kerinduan itu satu-satunya hanya dapat dipuaskan melalui kasih Allah.

Bagaimana kita dapat mengenal Allah? Tidak usah ditanya deh, jawabannya ya cuma 1. Belajar Firman dan merenungkan Firman itu siang dan malam.

Firman itulah yang mengubahkan pribadi kita hari lepas hari. Mulai dari hati kita, sampai dengan tingkah laku kita, pola pikir kita, dan tindakan kita. Manakala kita belajar menempatkan Kristus di tahta hati kita, maka itu berarti kita akan nurut apapun yang Tuhan katakan. Inilah yang Paulus sebutkan “dari hamba dosa menjadi hamba kebenaran”. Hamba dalam konteks zaman alkitab ditulis adalah milik dari tuannya. Dia sama sekali tidak punya hak atas hidupnya. Kalau hamba disuruh tuannya untuk pergi dari rumahnya, ia harus pergi. Kalau hamba itu diminta tuannya untuk tidur dengannya pun, ia tidak boleh menolaknya!

Apa artinya ketika kita menjadi hamba Kristus? Kembali lagi berarti bahwa kita sama sekali tidak punya hak atas kehidupan kita. Bahwa ternyata seluruh hidup kita adalah milik Kristus. Itu berarti bahwa setiap hal yang kita pikirkan, yang kita rencanakan, yang kita kerjakan, semuanya adalah karena Kristus. Itulah makna dari Soli Deo Gloria – segala kemuliaan adalah bagi Allah.

Melawan Pencobaan dengan Kuasa Allah

1Kor 15:55-57
Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. 

Ayat ini semakin menunjukkan bahwa pencobaan bukan berasal dari Allah. Pencobaan merupakan sebuah hasrat pribadi kita untuk kita melawan Allah. Melawan? Iya. Ingat, status kita sebagai hamba berarti kita akan melakukan segalanya untuk tuan kita. Menariknya bahwa di dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab panggilan itu, di tengah menghadapi berbagai pencobaan, Allah memberikan kita kekuatan untuk tetap teguh berpegang pada firmanNya.

Jadi ketika menghadapi pencobaan, ingatlah bahwa Allah kita pun melalui Yesus Kristus juga pernah mengalami hal yang sama. Dia bukannya enak-enakan nonton dari surga mengenai kehidupan kita. Ia pernah merasakan pula pencobaan-pencobaan itu. Ia merasakan pergumulan yang jauh lebih dahsyat daripada yang akan kita alami (Ibrani 4:5)

Sadarilah kawan bahwa ternyata pencobaan-pencobaan itu sesuatu yang biasa. Satu-satunya cara untuk kita mendapatkan kemenangan adalah berpegang teguh kepada Firman-Nya.

Allah Yang Menanti
Yesus menantikan kita untuk mau datang kepada-Nya, dan Ia rindu untuk kita berani berkata bahwa “aku butuh Tuhan di dalam hidupku. Pimpinlah aku Tuhan, dan jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga". Inilah panggilan setiap orang Kristen, yakni kita belajar untuk mempersembahkan hidup kita. Ia siap sedia menyambut kita. Pelukan kasih dan kuasa-Nya menantikan kita untuk datang kepada Kristus. Tidak ada hati yang terlalu hancur yang tidak dapat ia pulihkan.

Mari belajar meminta pimpinan Tuhan dan senantiasa hidup di dalam pengenalan akan Firman-Nya dan yakinlah bahwa pencobaan-pencobaan yang kita alami adalah pencobaan yang biasa. Pencobaan yang berasal dari diri kita yang kurang bersyukur atas keadaan, dan ketika kita belajar menerima setiap kondisi kita, akan ada pemulihan dari Dia. Pemulihan bukan secara jasmani, tetapi kita belajar bahwa segala yang terjadi dalam hidup kita adalah dari Dia, bagi Dia, dan oleh Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.

Soli Deo Gloria!

Tuesday, September 27, 2016

Jujur Kepada Allah

Kekecewaan Terhadap Allah

“Aku udah males lah mau ngapa-ngapain. Sepertinya apapun yang aku kerjain gak ada nilainya. Sama aja kok selama ini aku kerja keras tapi juga gak dihargai, sedang mereka yang kerjanya biasa-biasa aja tapi malah dapat kenaikan gaji.” Sejatinya, kalimat seperti itu juga dulu pernah aku katakan. Ketika melihat bagaimana hidupku di masa aku belum sepenuhnya mengenal Tuhan, kalimat seperti itu sering sekali keluar.

Ah mungkin teman-teman sudah pernah membaca kisahku ya? OK aku ulangin. Aku dilahirkan di keluarga Kristen. Orang tuaku merupakan orang-orang yang taat banget beribadah ataupun pelayanan. Yap, papa adalah salah satu dari pendiri Persekutuan Mahasiswa Antar Universitas (Perkantas) yang ada di Malang.

Tetapi satu hal yang di awal masa-masa hidupku tidak dapat aku terima adalah sebuah ketidaksempurnaan yang ada di dalam diriku.
Ketidaksempurnaan macam apa? Oiya aku punya sebuah cacat di tanganku. Bahkan pada saat SMP aku sempat begitu minder karena tanganku yang begitu tidak sempurna. Aku sempat menangis di hadapan 1 kelas manakala aku tidak bisa memainkan alat musik (recorder) dan sejak saat itu aku menyadari bahwa aku tidak akan pernah bisa memainkannya.

Aku menyangka bahwa cacat ini karena Tuhan sama sekali gak sayang ama aku. Gimana ya, kok bisa sih katanya papa pelayan Tuhan. Mama juga merupakan seorang pribadi yang baik. Tapi kenapa sih aku dilahirkan seperti ini?

Unanswered Question

Berkali-kali aku memikirkan, kok bisa sih aku menjadi pribadi model begini? Kecacatan yang ada di tanganku ini membuat aku menjadi pribadi yang “nakal”. Maksudnya? Aku menjadi pribadi yang sama sekali tidak peduli dengan orang-orang sekitarku. Aku menjadi pribadi yang menikmati kesendirianku. Aku menjadi minder dan di saat itulah aku mulai mempertanyakan “apakah Tuhan sungguh baik?”

Waktu itu aku ingat betul ada sebuah lagu yang terkenal yang berjudul “Seperti Yang Kau Ingini”. Lagu ini menjadi suka aku dengarkan manakala aku mengikuti retret di sekolah. Tetapi ketika aku mencoba untuk menikmati lagu itu, aku sama sekali tidak dapat memaknainya. Sepertinya kok Tuhan menjadi pribadi yang begitu semena-mena kepadaku? In other words, why me, Lord?

Pertanyaan itu tidak pernah terjawab semasa aku sekolah hingga lulus ke perkuliahan. Aku kuliah di Surabaya, jauh dari orang tua – setidaknya menikmati hidup di kos-kosan. Tetapi aku sama sekali tidak mencari jawaban atas pertanyaanku sebelumnya.

Kelegaan di dalam Anugrah

Francis Thompson dalam puisi yang ia tulis berjudul “The Hound of Heaven” menggambarkan Allah seperti seekor anjing pemburu yang tiada lelah untuk menangkap buruannya sampai menemukannya. Itulah yang Tuhan lakukan di dalam hidupku. Tanpa kenal lelah Ia memberikanku kesempatan untuk bertemu dengan seorang kakak pembina yang mengajarkan aku mengenai Kekristenan.

Aku bukannya seorang yang atheis. Aku percaya bahwa Allah ada, tetapi aku tidak dapat merasakan kehadiranNya. Aku ke gereja setiap minggu untuk mengikuti sekolah minggu, tetapi aku sama sekali tidak merasakan kehadiranNya, atau mungkin… aku tidak mau tahu bahwa Ia hadir di dalam hidupku. Seiring berjalannya waktu aku ada di Surabaya, aku bertemu dengan seorang kakak yang mengajarkan aku betapa berharganya hidup bersama dengan Allah.

“Roma 3:23-24” katanya

Kak Ivana memberikan ayat itu manakala aku menghadapi wawancara untuk mengikuti sebuah kepanitiaan. Kemudian langsung menyerang aku dengan berbagai pertanyaan yang mengarahkan aku betapa besarnya ternyata karya Allah atas kehidupanku. Ini membuat aku berpikir sekaligus tidak dapat berkata apa-apa lagi. Serasa aku ditangkap oleh anugrah Allah.
Tidak berhenti di sana. Ia membukakan lagi surat Paulus kepada jemaat di Efesus.

“Efesus 2:8-10” lanjutnya

Ayat-ayat itu begitu menyerang kesombonganku. Aku yang merasa bahwa selama ini aku baik-baik saja sekalipun tidak dikasihi Allah, bahkan menganggap bahwa Ia begitu tidak adil, segala asumsi itu runtuh. Aku hanyut di dalam tangisku. Malamnya aku bener-bener berdoa, dan aku ambil sebuah alkitab. Aku begitu menikmati momen itu. Momen pertemuan pertamaku dengan Dia.

Cinta Pertama… Benarkah?

Pernah kan temen-temen ngerasain rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama? Itulah yang aku rasain ketika aku pertama kali membaca alkitab. Aku mencoba untuk mencatat setiap hal yang aku dapatkan. Ketika aku berbicara kepada-Nya, aku merasakan kehangatan yang begitu luar biasa. Tetapi.. sampai kapan sih hal itu bertahan?

Ketika menyadari bahwa ketika aku mencintai Tuhan, maka akan begitu banyak hal yang aku dapatkan, aku sama sekali tidak merasakan itu. Mengapa? Karena aku ternyata tidak mencintai-Nya dengan segenap hatiku. Aku berharap bahwa kecintaanku dan kerajinanku membaca alkitab, mencatat hal yang kudapatkan, akan membawa aku kepada kemakmuran secara jasmani.

Opening My Diary

Aku menuliskan catatan hasil saat teduhku pada sebuah buku. Setiap hari aku mengisinya, dan mencatat berbagai hal yang aku dapatkan. Satu hal yang aku sadari dalam pencatatan itu adalah: ternyata aku sama sekali tidak memaknai apa yang aku catat.
Salah satu catatanku dalam penafsiran alkitabku secara pribadi adalah sebagai berikut:

“Tuhan sama sekali tidak tertarik dengan kekayaan ataupun kemampuan kita. Tetapi Ia begitu tertarik akan kesetiaan kita di dalam menikmati karya keselamatan yang Ia berikan. Melalui apa? Melalui setiap tindakan kita untuk memuji dan memuliakan Tuhan”

Sontak aku terkejut manakala aku membaca kalimat itu. Bener nggak sih aku menulis seperti itu?
Aku merasa bahwa itulah kebenaran yang ingin Tuhan ungkapkan. Bahwa setiap kekecewaan yang aku alami selama ini akan diubahkan menjadi sukacita yang tiada tara manakala aku belajar menyerahkan hidup ini kepadaNya.

Allah yang Menjadi Sama Seperti Manusia

Semakin aku belajar dan mendalami arti kekristenan yang sesungguhnya, semakin aku sadar bahwa kekristenan begitu unik. Tidak ada agama lain di dunia yang menunjukkan betapa besar kasih Allah selain daripada kekristenan. Allah yang merelakan Anak-Nya yang tunggal untuk mati menebus dosa dunia, menghancurkan kuasa dosa.

Tetapi sekaligus juga kita melihat pribadi Allah yang begitu jujur melalui Yesus Kristus. Yesus merupakan pribadi yang begitu jujur terhadap perasaan-Nya tentang suatu hal. Ia sedih ketika melihat Martha dan Maria mengalami musibah kematian Lazarus. Ia begitu bergumul manakala Ia akan menghadapi salib. Ia dengan marah menghancurkan meja-meja penukar uang di Bait Allah.
Yesus merasakan apa yang dirasakan manusia. Ini menunjukkan bahwa setiap perasaan yang kita alami merupakan anugrah Allah. Tetapi di balik semua hal yang dialami oleh Yesus, ada sebuah tujuan yang jelas mengenai pemaknaan-Nya tentang hidup. Apa itu? tidak lain dan tidak bukan adalah “SOLI DEO GLORIA”

‘Ku Ada Sebagaimana ‘ku Ada

Inti dari perenungan ini… aku merasakan dari awal bagaimana kekecewaanku kepada Allah justru membuatku mengenal Dia dan semakin hari semakin bertumbuh di dalam Dia. Kekecewaan itu membawaku untuk ingin lebih dekat mengenal Dia. Ini lho yang aneh. Ada sebuah momen di mana aku mempertanyakan apa sih sebenarnya rencana Allah dalam hidupku manakala aku diciptakan dengan berbagai kekurangan di dalam diriku.

Tetapi dengan tangan-Nya yang lembut, Ia meraihku. Ia menangkap aku dan Ia tidak pernah melepaskan aku!

Setiap kita yang pernah merasa kecewa kepada Tuhan, mari kita belajar jujur di hadapan Dia. Dia menantikan kejujuran perasaan kita kepada-Nya. Apakah kita cuman nggombal di hadapan Allah, ataukah kita kepengen banget untuk bener-bener mencurahkan isi hati kita kepada Raja di atas segala raja?

Sebagai penutup, mari kita coba melihat bagaimana Yeremia dan Paulus dengan jujur menyatakan perasaan mereka kepada Allah:

Yeremia 15:18 
Mengapakah penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan? Sungguh, Engkau seperti sungai yang curang bagiku, air yang tidak dapat dipercayai.

Dan apakah jawab Allah?

Yeremia 15:21 
Aku akan melepaskan engkau dari tangan orang-orang jahat dan membebaskan engkau dari genggaman orang-orang lalim."


Paulus
2Korintus 12:8-9
Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Yeremia dan Paulus telah merasakan bagaimana penderitaan mereka, dan mereka mendapatkan jawaban atas setiap hal yang mereka hadapi. Mungkin kita tidak langsung mendapatkan jawaban yang kita inginkan dan kita harapkan. Kita malah takut mendengar jawaban Tuhan atas kejujuran perkataan kita. Tetapi percayalah, setiap hal yang Ia kerjakan dalam kehidupan setiap kita itu unik. Tidak ada satu orang pun yang memiliki nasib yang sama, dan itu menunjukkan betapa setiap proses yang kita lalui hendaknya dapat kita lalui dengan setia sampai akhir.

Soli Deo Gloria!

Monday, December 7, 2015

Pudarnya Kebenaran -- Sebuah Refleksi

Pendahuluan
Menarik untuk membaca headline akhir-akhir ini, dimana ada satu nama yang mencuat di permukaan publik. Seorang pribadi yang penuh kontroversi, dengan berbagai keunikan yang ada di dalam dirinya. Tak ayal media mulai mengejar dia, menjadikan dia sebagai pusat perhatian. Tak sedikit pula orang-orang disekitarnya mulai “panas”. Siapakah dia? Dia adalah Setya Novanto, ketua DPR Republik Indonesia.

Menarik kalau diperhatikan bahwa ditengah polemik dan kontroversi, muncul pula orang-orang yang mau berjuang mempertahankan kebenaran di negeri ini. Setidaknya saat ini kita bisa melihat perjuangan orang-orang yang anti korupsi, orang-orang yang mau belajar untuk hidup di dalam suatu integritas. Apakah berarti orang-orang tersebut sempurna? Ternyata tidak juga. Tetapi mereka menyadari bahwa kebenaran selalu menemukan jalannya, dan tak lupa pula: ada risiko yang harus diambil manakala sedang memperjuangkan kebenaran.

Siapakah orang-orang dari paragraf kedua ini? Sebut saja (sampai saat ini) Sudirman Said, menteri ESDM RI, kemudian kita bisa melihat orang-orang yang berani untuk menyuarakan kebenaran di tengah ancaman dan berbagai problematika yang membuat mereka bisa saja kehilangan nyawanya untuk membela kepentingan orang banyak. Ada pula orang-orang yang disebut “orang gila” seperti Basuki T.P yang lebih terkenal dengan nama Ahok, yang mau mengubah wajah Indonesia, khususnya Jakarta, menjadi sebuah kota yang jauh lebih baik. Tidak lupa pula ada walikota-walikota yang kita tahu seperti Tri Rismaharini, dan juga Ridwan Kamil yang menjadi orang-orang yang sedang naik daun karena mereka belajar untuk mempertahankan integritas mereka

Money Talks!
Tak bisa dipungkiri bahwa kondisi negeri yang sedang hancur ini (setidaknya menurut sebagian besar orang) membuat kita menjadi pribadi-pribadi yang berpikir praktis. Boro-boro kita berbuat sesuatu yang benar, yang penting aman lah. Pokoknya sudah dapat bagian ya sudah, diam saja. Daripada keamanan keluarga jadi taruhan, nyawa sendiri terancam, lebih baik tetap diam dan menutup mulut.

Kondisi ini pula yang dialami oleh banyak tokoh yang ada di dalam alkitab. Sebut saja nabi-nabi seperti Yeremia, Yesaya, Yohanes Pembaptis, mereka hidup di dalam kondisi seperti ini. Hidup diantara bangsa yang tegar tengkuk. Hidup di antara penguasa yang kuat, yang memiliki kuasa yang jauh lebih besar dibandingkan dengan mereka. Menariknya kabar yang mereka bawa adalah suatu kebenaran yang justru tidak nyaman untuk didengar.

Jaman ini dikuasai oleh segelintir penguasa. Siapa yang punya uang, ialah yang berkuasa. Uang menjadi suatu hal yang bahkan dapat membeli kebenaran itu sendiri. Pokoknya kalau ada duit, semua urusan beres! Akhirnya orang-orang berlomba-lomba untuk mencari kuasa itu.

Expensive Truth
Kebenaran menjadi sesuatu yang begitu mahal pada jaman ini. Kebenaran itu bisa diputarbalikkan dengan berbagai cara. Hari ini menjadi seorang tersangka, karena punya duit bisa saja besok sudah bebas. Begitu pula sebaliknya, yang tidak punya duit akan menjadi orang-orang yang menjadi bulan-bulanan penguasa.

Yohanes Pembaptis mengalami hal ini. Bermaksud baik untuk menasihati Herodes karena merebut istri saudaranya, eh dia harus membayarnya dengan kehilangan kepalanya di tangan Herodes. Kebenaran menjadi sesuatu yang begitu bernilai.

Inilah realitas yang kita hadapi. Hidup di jaman dimana segala sesuatunya bisa dibeli. Orangpun bisa dibeli untuk bersaksi dusta. Kita pun bisa terjebak di dalam satu kondisi dimana kita menjadi orang-orang yang pada akhirnya melakukan hal tersebut. Hal yang paling sederhana adalah kita ‘nembak SIM’, ataupun ketika di tengah jalan kita ditangkap dan menyuap polisi. Ada banyak sekali cara untuk kita dapat ‘menutupi’ kesalahan kita.

A Hope?
Kalau ditengah realitas seperti ini, apa yang harus kita perbuat? Masih relevankah tugas kenabian kita? Peran kita sebagai orang-orang yang takut akan Tuhan seperti apa? Akankah kita larut di dalam kondisi jaman seperti ini, ataukah kita belajar punya suatu pegangan lain?

Bukan suatu hal yang mudah ketika kita ada di dalam posisi Sudirman Said misalkan. Kita akan diperhadapkan pada berbagai tantangan dan ancaman yang akan mengancam keberlangsungan hidup kita. Mungkin bukan hanya kita, tetapi juga orang-orang di sekitar kita. Orang-orang yang kita sayangi, yang mengenal kita. Sangat sulit bagi kita untuk mengambil suatu pilihan yang nantinya akan sangat merugikan kita.

Tetapi menarik disini bahwa kita perlu yakin dan percaya atas kedaulatan dan kebenaran Allah. Ketika Allah memberikan anugrah atas kehidupan kita, tugas kita tidak lain tidak bukan adalah bersaksi.  Bersaksi dan bersaksi, bukan hal yang mudah di tengah realitas dunia seperti ini. Ketika dunia berteriak untuk menenggelamkan kebenaran, kita sebagai orang percaya diberikan tanggung jawab untuk mengungkapkan kebenaran itu.

Ada pengharapan, setidaknya kita bisa memulai dari hal yang terkecil, tanpa melupakan hal-hal besar yang Allah percayakan di dalam kehidupan kita. Tidak perlu menjadi Yohanes Pembaptis, ataupun menjadi seperti Sudirman Said. Cukup menjadi pribadi anda yang mau belajar untuk memuliakan Allah. Maka Allah akan memberikan kekuatan dan berbagai tantangan untuk kita hadapi, tetapi di dalam tantangan itu ada damai sejahtera kepada orang-orang yang mau bersandar teguh pada kasih setiaNya.

Mari belajar menjadi agen perubahan bagi dunia sekitar kita!

Soli Deo Gloria