Total Pageviews

Showing posts with label pengharapan. Show all posts
Showing posts with label pengharapan. Show all posts

Tuesday, September 27, 2016

Jujur Kepada Allah

Kekecewaan Terhadap Allah

“Aku udah males lah mau ngapa-ngapain. Sepertinya apapun yang aku kerjain gak ada nilainya. Sama aja kok selama ini aku kerja keras tapi juga gak dihargai, sedang mereka yang kerjanya biasa-biasa aja tapi malah dapat kenaikan gaji.” Sejatinya, kalimat seperti itu juga dulu pernah aku katakan. Ketika melihat bagaimana hidupku di masa aku belum sepenuhnya mengenal Tuhan, kalimat seperti itu sering sekali keluar.

Ah mungkin teman-teman sudah pernah membaca kisahku ya? OK aku ulangin. Aku dilahirkan di keluarga Kristen. Orang tuaku merupakan orang-orang yang taat banget beribadah ataupun pelayanan. Yap, papa adalah salah satu dari pendiri Persekutuan Mahasiswa Antar Universitas (Perkantas) yang ada di Malang.

Tetapi satu hal yang di awal masa-masa hidupku tidak dapat aku terima adalah sebuah ketidaksempurnaan yang ada di dalam diriku.
Ketidaksempurnaan macam apa? Oiya aku punya sebuah cacat di tanganku. Bahkan pada saat SMP aku sempat begitu minder karena tanganku yang begitu tidak sempurna. Aku sempat menangis di hadapan 1 kelas manakala aku tidak bisa memainkan alat musik (recorder) dan sejak saat itu aku menyadari bahwa aku tidak akan pernah bisa memainkannya.

Aku menyangka bahwa cacat ini karena Tuhan sama sekali gak sayang ama aku. Gimana ya, kok bisa sih katanya papa pelayan Tuhan. Mama juga merupakan seorang pribadi yang baik. Tapi kenapa sih aku dilahirkan seperti ini?

Unanswered Question

Berkali-kali aku memikirkan, kok bisa sih aku menjadi pribadi model begini? Kecacatan yang ada di tanganku ini membuat aku menjadi pribadi yang “nakal”. Maksudnya? Aku menjadi pribadi yang sama sekali tidak peduli dengan orang-orang sekitarku. Aku menjadi pribadi yang menikmati kesendirianku. Aku menjadi minder dan di saat itulah aku mulai mempertanyakan “apakah Tuhan sungguh baik?”

Waktu itu aku ingat betul ada sebuah lagu yang terkenal yang berjudul “Seperti Yang Kau Ingini”. Lagu ini menjadi suka aku dengarkan manakala aku mengikuti retret di sekolah. Tetapi ketika aku mencoba untuk menikmati lagu itu, aku sama sekali tidak dapat memaknainya. Sepertinya kok Tuhan menjadi pribadi yang begitu semena-mena kepadaku? In other words, why me, Lord?

Pertanyaan itu tidak pernah terjawab semasa aku sekolah hingga lulus ke perkuliahan. Aku kuliah di Surabaya, jauh dari orang tua – setidaknya menikmati hidup di kos-kosan. Tetapi aku sama sekali tidak mencari jawaban atas pertanyaanku sebelumnya.

Kelegaan di dalam Anugrah

Francis Thompson dalam puisi yang ia tulis berjudul “The Hound of Heaven” menggambarkan Allah seperti seekor anjing pemburu yang tiada lelah untuk menangkap buruannya sampai menemukannya. Itulah yang Tuhan lakukan di dalam hidupku. Tanpa kenal lelah Ia memberikanku kesempatan untuk bertemu dengan seorang kakak pembina yang mengajarkan aku mengenai Kekristenan.

Aku bukannya seorang yang atheis. Aku percaya bahwa Allah ada, tetapi aku tidak dapat merasakan kehadiranNya. Aku ke gereja setiap minggu untuk mengikuti sekolah minggu, tetapi aku sama sekali tidak merasakan kehadiranNya, atau mungkin… aku tidak mau tahu bahwa Ia hadir di dalam hidupku. Seiring berjalannya waktu aku ada di Surabaya, aku bertemu dengan seorang kakak yang mengajarkan aku betapa berharganya hidup bersama dengan Allah.

“Roma 3:23-24” katanya

Kak Ivana memberikan ayat itu manakala aku menghadapi wawancara untuk mengikuti sebuah kepanitiaan. Kemudian langsung menyerang aku dengan berbagai pertanyaan yang mengarahkan aku betapa besarnya ternyata karya Allah atas kehidupanku. Ini membuat aku berpikir sekaligus tidak dapat berkata apa-apa lagi. Serasa aku ditangkap oleh anugrah Allah.
Tidak berhenti di sana. Ia membukakan lagi surat Paulus kepada jemaat di Efesus.

“Efesus 2:8-10” lanjutnya

Ayat-ayat itu begitu menyerang kesombonganku. Aku yang merasa bahwa selama ini aku baik-baik saja sekalipun tidak dikasihi Allah, bahkan menganggap bahwa Ia begitu tidak adil, segala asumsi itu runtuh. Aku hanyut di dalam tangisku. Malamnya aku bener-bener berdoa, dan aku ambil sebuah alkitab. Aku begitu menikmati momen itu. Momen pertemuan pertamaku dengan Dia.

Cinta Pertama… Benarkah?

Pernah kan temen-temen ngerasain rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama? Itulah yang aku rasain ketika aku pertama kali membaca alkitab. Aku mencoba untuk mencatat setiap hal yang aku dapatkan. Ketika aku berbicara kepada-Nya, aku merasakan kehangatan yang begitu luar biasa. Tetapi.. sampai kapan sih hal itu bertahan?

Ketika menyadari bahwa ketika aku mencintai Tuhan, maka akan begitu banyak hal yang aku dapatkan, aku sama sekali tidak merasakan itu. Mengapa? Karena aku ternyata tidak mencintai-Nya dengan segenap hatiku. Aku berharap bahwa kecintaanku dan kerajinanku membaca alkitab, mencatat hal yang kudapatkan, akan membawa aku kepada kemakmuran secara jasmani.

Opening My Diary

Aku menuliskan catatan hasil saat teduhku pada sebuah buku. Setiap hari aku mengisinya, dan mencatat berbagai hal yang aku dapatkan. Satu hal yang aku sadari dalam pencatatan itu adalah: ternyata aku sama sekali tidak memaknai apa yang aku catat.
Salah satu catatanku dalam penafsiran alkitabku secara pribadi adalah sebagai berikut:

“Tuhan sama sekali tidak tertarik dengan kekayaan ataupun kemampuan kita. Tetapi Ia begitu tertarik akan kesetiaan kita di dalam menikmati karya keselamatan yang Ia berikan. Melalui apa? Melalui setiap tindakan kita untuk memuji dan memuliakan Tuhan”

Sontak aku terkejut manakala aku membaca kalimat itu. Bener nggak sih aku menulis seperti itu?
Aku merasa bahwa itulah kebenaran yang ingin Tuhan ungkapkan. Bahwa setiap kekecewaan yang aku alami selama ini akan diubahkan menjadi sukacita yang tiada tara manakala aku belajar menyerahkan hidup ini kepadaNya.

Allah yang Menjadi Sama Seperti Manusia

Semakin aku belajar dan mendalami arti kekristenan yang sesungguhnya, semakin aku sadar bahwa kekristenan begitu unik. Tidak ada agama lain di dunia yang menunjukkan betapa besar kasih Allah selain daripada kekristenan. Allah yang merelakan Anak-Nya yang tunggal untuk mati menebus dosa dunia, menghancurkan kuasa dosa.

Tetapi sekaligus juga kita melihat pribadi Allah yang begitu jujur melalui Yesus Kristus. Yesus merupakan pribadi yang begitu jujur terhadap perasaan-Nya tentang suatu hal. Ia sedih ketika melihat Martha dan Maria mengalami musibah kematian Lazarus. Ia begitu bergumul manakala Ia akan menghadapi salib. Ia dengan marah menghancurkan meja-meja penukar uang di Bait Allah.
Yesus merasakan apa yang dirasakan manusia. Ini menunjukkan bahwa setiap perasaan yang kita alami merupakan anugrah Allah. Tetapi di balik semua hal yang dialami oleh Yesus, ada sebuah tujuan yang jelas mengenai pemaknaan-Nya tentang hidup. Apa itu? tidak lain dan tidak bukan adalah “SOLI DEO GLORIA”

‘Ku Ada Sebagaimana ‘ku Ada

Inti dari perenungan ini… aku merasakan dari awal bagaimana kekecewaanku kepada Allah justru membuatku mengenal Dia dan semakin hari semakin bertumbuh di dalam Dia. Kekecewaan itu membawaku untuk ingin lebih dekat mengenal Dia. Ini lho yang aneh. Ada sebuah momen di mana aku mempertanyakan apa sih sebenarnya rencana Allah dalam hidupku manakala aku diciptakan dengan berbagai kekurangan di dalam diriku.

Tetapi dengan tangan-Nya yang lembut, Ia meraihku. Ia menangkap aku dan Ia tidak pernah melepaskan aku!

Setiap kita yang pernah merasa kecewa kepada Tuhan, mari kita belajar jujur di hadapan Dia. Dia menantikan kejujuran perasaan kita kepada-Nya. Apakah kita cuman nggombal di hadapan Allah, ataukah kita kepengen banget untuk bener-bener mencurahkan isi hati kita kepada Raja di atas segala raja?

Sebagai penutup, mari kita coba melihat bagaimana Yeremia dan Paulus dengan jujur menyatakan perasaan mereka kepada Allah:

Yeremia 15:18 
Mengapakah penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan? Sungguh, Engkau seperti sungai yang curang bagiku, air yang tidak dapat dipercayai.

Dan apakah jawab Allah?

Yeremia 15:21 
Aku akan melepaskan engkau dari tangan orang-orang jahat dan membebaskan engkau dari genggaman orang-orang lalim."


Paulus
2Korintus 12:8-9
Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Yeremia dan Paulus telah merasakan bagaimana penderitaan mereka, dan mereka mendapatkan jawaban atas setiap hal yang mereka hadapi. Mungkin kita tidak langsung mendapatkan jawaban yang kita inginkan dan kita harapkan. Kita malah takut mendengar jawaban Tuhan atas kejujuran perkataan kita. Tetapi percayalah, setiap hal yang Ia kerjakan dalam kehidupan setiap kita itu unik. Tidak ada satu orang pun yang memiliki nasib yang sama, dan itu menunjukkan betapa setiap proses yang kita lalui hendaknya dapat kita lalui dengan setia sampai akhir.

Soli Deo Gloria!

Saturday, August 8, 2015

Allah yang Tidak Pernah Meninggalkan Kita

Pernahkah saudara berpikir mengenai jalannya hidup ini? Sebagian besar dari kita berpikir mengenai hidup yang benar-benar ruwet. Di satu sisi ada begitu banyak hal baik terjadi atas kehidupan kita, tetapi tidak melulu hal baik bukan? Bahwasanya dalam menjalani hidup ini ternyata ada banyak hal yang buruk yang menimpa hidup kita sampai kita mungkin bertanya “mengapa hal ini terjadi di dalam kehidupanku?”

Cerita 1
Ada sebuah keluarga kecil, mereka adalah orang-orang yang begitu rajin di dalam melakukan suatu pelayanan bagi Tuhan. Keluarga ini dikaruniai oleh 3 orang anak, dan pada saat anak keempat akan lahir, sang ibu menderita penyakit di rahimnya. Diantara 2 pilihan, apakah anak keempat atau sang ibu yang selamat, ibu ini akhirnya pasrah terhadap nasibnya. Sedangkan sang ayah pun akhirnya give up. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyelamatkan si anak. Konsekuensinya adalah sang ibu akan meninggal. Tetapi cerita ini berakhir tidak seperti yang anda bayangkan.

Si ibu akhirnya menyelamatkan sang anak. Tetapi karena ada abnormalitas di dalam tubuh si anak, si anak diberikan lifetime oleh dokter selama 10 tahun. 10 tahun kemudian, kejadian itu benar-benar terjadi. Sang anak akhirnya meninggal.

Sang bapak dengan segala daya upayanya berusaha untuk menyelamatkan anak ini. Segala cara pengobatan dicoba, tetapi tidak berhasil. Sang ayah yang mulai kehabisan tabungannya mendapatkan pertanyaan dari ketiga anaknya yang masih hidup

“Ayah, selama ini ayah rajin pelayanan di gereja, tapi kenapa ya kok Tuhan mengijinkan mama dan si Jemmy meninggal?”

Cerita 2
Cerita kedua datang dari seorang wanita berusia 20 tahun yang berkuliah di Jakarta. Selama 20 tahun ia hidup, ia adalah orang yang begitu rajin. Ia memiliki 3 orang saudara pria yang berbeda agama dengan dia. Begitu pula ibunya juga berbeda agama dengan dia. Memasuki tahun akhirnya di perkuliahan, wanita ini (sebut saja namanya Mawar) mengalami penyakit yang menyerang tulang belakangnya. Ketakutan menaungi si Mawar dan akhirnya dokter memvonis kalau ia harus dioperasi.

Mawar di dalam kesehariannya berdoa dan berdoa, dan akhirnya doanya itu terkabul. Dia akhirnya sembuh dari penyakit itu. Ia menjadi seseorang Kristen yang begitu tangguh, orang Kristen yang begitu berapi-api di dalam pelayanannya. Ketika saudaranya melihat dia, 2 orang dari mereka memutuskan untuk bergabung. Akhirnya 1 orang mengikuti katekisasi, 1 orang lagi dibaptis dewasa.

Waktu berlalu sampai akhirnya seseorang dari 2 orang saudaranya ini memilih jalan lain. Sang adik pertama, yang mengikuti katekisasi, akhirnya memutuskan untuk memilih agama lain. Ia tidak tahan melihat sang ibu yang selalu berharap kepadanya untuk mengikuti ibunya. Berbeda lagi dengan kakaknya. Kakaknya yang sudah menjadi Kristen sejak lama, memutuskan untuk menikah dengan seorang yang berbeda agama dari dia.

Mawar pun terguncang. Ia merasa perlu belajar untuk menceritakan hal ini kepada Tuhan. Ia berharap bahwa ada hal-hal luar biasa yang terjadi tetapi ternyata semuanya berbeda daripada ia bayangkan. Ditengah pergumulan seperti inilah kemudian Mawar berpikir, sembari dengan jujur menghadap Tuhan sambil bertanya:

“Dimanakah Tuhan saat semua hal ini terjadi? Mengapa hal ini harus terjadi, Tuhan?”

Tiga Jenis Penderitaan
Mari kita coba simpulkan, dari dua kisah di atas ada beberapa jenis penderitaan yang dialami oleh manusia. Jenis pertama adalah penderitaan fisik, kedua adalah penderitaan emosi, dan yang ketiga adalah penderitaan spiritual.

Saya tidak memberikan contoh penderitaan fisik dari kisah di atas, tetapi saya akan coba berikan saat ini. Penderitaan fisik adalah penderitaan seperti sakit penyakit, mungkin dari kisah di atas adalah penderitaan sang ibu yang sakit saat melahirkan anak. Ia mengalami kesakitan yang begitu luar biasa.

Kedua adalah penderitaan emosi, adalah penderitaan yang terkait dengan emosi kita. Contohnya adalah ketika kita dipermalukan di depan publik mungkin karena kita salah bicara, atau kita dihina-hina.

Penderitaan jenis ketiga adalah penderitaan yang saya bisa sebut sebagai puncak dari keduanya. Penderitaan spiritual adalah sebuah momen dimana seseorang merasakan kesakitan yang begitu luar biasa sampai pada satu pertanyaan: “dimanakah Tuhan” dan “kalau ada Tuhan, mengapa semua ini bisa terjadi?”.

Charles Templeton mengalami penderitaan jenis ketiga ini ketika ia melihat di televisi mengenai kehidupan orang-orang Afrika yang hidup di dalam kemiskinan. Hal ini membuat Templeton menanyakan sebuah pertanyaan yang akhirnya membuat imannya rontok. Seorang partner dari Billy Graham di dalam penginjilan yang akhirnya meninggalkan imannya karena bergumul dalam memahami apa rencana Allah di balik penderitaan dan kemiskinan.

Allah Yang Solider Melalui Yesus Kristus
Mari kita melihat bagaimana ketiga penderitaan itu ternyata bukanlah suatu hal yang baru. 2000 tahun yang lalu di bukit Golgota, Allah merasakan ketiga penderitaan itu secara langsung di atas salib. Anda bisa menebak bukan?

Penderitaan fisik yang dialami oleh Yesus terjadi saat Ia harus dipaku di atas kayu salib. Lee Strobel di dalam bukunya Case for Christ menggambarkan bagaimana penderitaan yang dialami Yesus ini begitu mengerikan, dan bahwasanya tidak akan ada seorang pun yang akan tahan di dalam menghadapi siksaan salib. Bahkan untuk bernafas, karena sebelumnya punggungNya sudah sobek akibat dari penyesahan yang dialamiNya, maka ketika bernafas akan timbul rasa sakit yang begitu mendalam.

Penderitaan emosi dialami Yesus saat dengan telanjang, di depan banyak orang, Ia disalib dalam kondisi telanjang. Saya tidak bisa membayangkan apakah anda mau ditelanjangi di depan umum, dan kemudian orang-orang yang melihat anda menghina anda, mencerca anda, dan menusukkan luka hati yang begitu dalam di dalam hati anda. Apalagi seorang murid anda mengkhianati anda, secara riil, maupun secara perkataan menyangkal anda.

Penderitaan spiritual pun dialami Yesus, sampai ultimatnya dia berteriak “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Yesus mengutip dari Mazmur 22, dan menunjukkan bahwa inilah puncak pergumulanNya.

Ketiga penderitaan itu sudah dialami Yesus juga di kayu salib. Ia terlebih dahulu memberikan sebuah teladan bagi kita, sebuah kisah yang menunjukkan bahwa memang hidup kita sebagai orang Kristen (Christian – murid Kristus) bukanlah sebuah kehidupan yang mudah. Seluruh pergumulan yang kita alami dalam hidup adalah sesuatu yang natural, sesuatu yang terjadi karena memang dampak dari dosa awal yang begitu mengerikan itu.

Jadi kalau kita melihat, Allah kita bisa disebut sebagai Allah yang solider. Ketika kita saat ini mengalami ketiga jenis penderitaan itu maka kita dapat memakluminya. Mengapa? Ya karena Allah pun sudah merasakannya, dan di saat akhir itulah saat / momen puncak dimana Dia menjadi sempurna.

Masa Depan Yang Tak Pernah Kita Mengerti
Nah kalau kita melihat masa lalu kita, atau hal yang saat ini kita alami, kita perlu belajar memaknai sebenarnya apa yang dipersiapkan Allah di dalam kehidupan kita. Kita bisa saja terjebak di dalam pola pikir masa kini, bahwa hidupku susah dan tidak ada gunanya lagi aku percaya kepada Allah. Itu pilihan pertama. Nah tapi ada satu penawaran yang Tuhan berikan mengenai masa depan.

Ams 23:18
Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.

Yesaya 41:10
janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.

Ayat-ayat ini terasa begitu menyenangkan. Tetapi mengapa realitas hidup kita sama sekali tidak mencerminkan itu? Mungkin kita perlu mengevaluasi secara lebih jauh dan lebih mendalam lagi, sebenarnya bagaimana kita harus memandang hidup kita menurut kacamataNya. Nah inilah yang sebenarnya jauh lebih penting, jauh lebih esensial.

Masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang, demikian pesan yang dituliskan oleh penulis Amsal. Artinya apa? Kalau kita baca ayat-ayat sebelumnya, penulis ingin mengajak pembacanya bahwa segala kejadian yang terjadi dalam kehidupan kita ada di dalam grand design yang sedang Allah persiapkan. Boleh saja kita menjadi “sok bijak” dan mengatakan bahwa kita tahu yang terbaik dalam hidup kita, tetapi kita tidak akan pernah dapat menyelami apa yang mau Allah kerjakan di dalam kehidupan kita.

Demikian juga dengan tulisan nabi Yesaya. Yesaya di dalam keadaannya sebagai nabi yang melihat bagaimana kota-kota di Kerajaan Utara (Israel) masih bisa menuliskan janji Tuhan kepada bangsa itu. Ada satu pengharapan yang pasti di dalam Dia. Ada satu pengharapan mengenai bagaimana Allah akan menuntun kita.

Kita tidak pernah akan dapat mengerti masa depan kita seperti apa. Tetapi kalau kita belajar untuk memahami lebih jauh, maka kita menyadari bahwa kehidupan di dunia ini jauh lebih temporer dibandingkan dengan kehidupan kita nanti di surga. Kemuliaan surga perlu kita maknai sebagai sebuah janji, bahwa itulah yang seharusnya menjadi fokus hidup kita.

Memandang ke Arah Kekekalan
Kehidupan di dunia artinya hanya akan berlangsung dengan begitu singkat, dan justru kehidupan yang sebenarnya baru dimulai di dalam terang kekekalan Allah di surga mulia. Ketika kita menyadari bahwa fokus hidup kita ada di dalam kerangka kekekalan dan rencana Allah, kita akan dapat menjadi pribadi-pribadi yang berani berkata “Suka-SukaMu Tuhan”. Artinya apa? Kita berserah penuh kepada Allah yang sudah mengatur hidup kita.
Okey sekarang akan saya tampilkan jawaban dari si bapak dari cerita pertama:

“Dik, pasti kamu pernah dijelaskan bukan di sekolah minggu mengenai kemuliaan surga? Mamamu pergi kesana, begitu juga adikmu. Allah itu baik, mungkin itu yang bisa papa katakan buat kamu. Mungkin kamu nggak bisa sepenuhnya paham, dik. Tetapi kalau di sekolah minggu, kamu pernah diajarkan tentang bagaimana Yesus sudah memberikan jaminan itu, mengapa papa harus kecewa? Mengapa papa nggak mau belajar untuk terus menjalani hidup ini di dalam terang kasihNya?”

Dan hasil perenungan dari Mawar, wanita yang tangguh itu dari cerita kedua:

“Aku percaya bahwa Allah telah mempersiapkan segala sesuatunya. Mungkin inilah hal yang mau Tuhan ajarkan: bahwa aku belum mampu menjadi terang bagi orang di sekitarku. Itu berarti aku harus terus belajar untuk memahami segala hal yang Ia kerjakan. Tetapi semakin aku ingin tahu, aku semakin sadar bahwa aku harus menjadi semakin bodoh di hadapanNya, sehingga melalui kekuatan yang Ia berikan itulah aku dapat memaknai kemahakuasaanNya dan kasih setiaNya.”

Bagaimana kedua orang ini bisa memiliki pemahaman seperti itu? Tidak yakin tidak bukan karena mereka punya fokus yang berbeda. Mereka berdua punya keyakinan:

Roma 8:28
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Kesimpulan
Dunia menawarkan begitu banyak hal mengenai penderitaan, kematian, kepedihan, dan sebagainya. Namun sebagai seorang percaya yang memiliki paradigma kekekalan, kita diajak untuk belajar di dalam iman percaya kita. Kesulitan yang kita hadapi, problematika yang begitu luar biasa, semuanya disediakan Tuhan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Ia tidak pernah meninggalkan kita. Setiap langkah kita sudah dipersiapkan oleh Tuhan. Sebagai penutup, yuk bersama kita menyanyikan sebuah lagu, lagu yang menyatakan langkah iman kita bahwa setiap langkah hidup kita ada di dalam pimpinan dan penyertaan Tuhan.

Tiap Langkahku
By: W. Elmo Mercer

1.  Tiap langkahku diatur oleh Tuhan
dan tangan kasihNya memimpinku.
Di tengah badai dunia menakutkan,
hatiku tetap tenang teduh.

Reff:
Tiap langkahku ‘ku tahu yang Tuhan pimpin
ke tempat tinggi ‘ku dihantarnNya,
hingga sekali nanti aku tiba
di rumah Bapa sorga yang baka.

2.  Di waktu imanku mulai goyah
dan bila jalanku hampir sesat,
‘ku pandang Tuhanku, Penebus dosa,
‘ku teguh sebab Dia dekat.

Reff:
Tiap langkahku ‘ku tahu yang Tuhan pimpin
ke tempat tinggi ‘ku dihantarnNya,
hingga sekali nanti aku tiba
di rumah Bapa sorga yang baka.

3.  Di dalam Tuhan saja harapanku,
sebab di tanganNya sejahtera;
DibukaNya Yerusalem yang baru,
kota Allah suci mulia.

Reff:
Tiap langkahku ‘ku tahu yang Tuhan pimpin
ke tempat tinggi ‘ku dihantarnNya,
hingga sekali nanti aku tiba

di rumah Bapa sorga yang baka.