Total Pageviews

Showing posts with label Allah. Show all posts
Showing posts with label Allah. Show all posts

Friday, October 27, 2017

Mempertahankan Identitas Hidup

“What are you? The god of hammer?” demikianlah pertanyaan Odin kepada Thor manakala ia merasa kesulitan untuk menang melawan Hela di dalam film Thor: Ragnarok. Pertanyaan ini membuat Thor sadar bahwa sumber kekuatannya bukanlah dari sebuah palu, yang hancur, tetapi dari semulanya ia adalah seorang dewa petir (god of thunder). Menarik sekali hal ini untuk kita renungkan karena kita sebagai orang Kristen pun lupa akan identitas kita sebagai warga sorga. Kita seakan-akan kehilangan identitas kita di dalam berbagai rutinitas hidup yang menarik kita dari kasih Bapa dalam hidup kita.

Memegang Teguh Keselamatan
2 Korintus 5:15
Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. 

Berbicara mengenai keselamatan tidak dapat dilepaskan dari bagaimana karya Kristus di dalam kehidupan orang percaya. Kesadaran bahwa keselamatan merupakan anugrah akan mengingatkan diri kita, siapakah sebenarnya kita. Ketika Tuhan telah menyelamatkan kita, kita yang adalah hamba dosa, statusnya diubah menjadi hamba kebenaran (Roma 6:20-23). Hamba kebenaran identik dengan kita menjadi hamba dari kasih karunia.

Hamba kasih karunia berarti kita belajar untuk senantiasa berpegang teguh pada kasih karunia. Kita taat terhadap kasih karunia yang Tuhan berikan – sama seperti ketika seorang hamba takluk terhadap tuannya. Seorang hamba sama sekali tidak punya hak atas hidupnya sendiri. Seorang hamba seumur hidupnya hanyalah menjadi suruhan, yang tidak punya hak apapun kecuali tuannya memberikan hak tersebut.

Itulah mengapa Paulus menuliskan dalam suratnya untuk kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. Kristus yang memberikan kehidupan bagi kita, maka selayaknyalah hidup kita pun dipersembahkan kepada Dia yang empunya kehidupan kita.

Respons Terhadap Kasih Karunia
2 Korintus 5:17
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. 

Menjadi ciptaan baru berarti benar-benar menjadi pribadi yang baru. Kita yang percaya kepada karya keselamatan sudah diberikan sebuah tujuan hidup yang baru. Senantiasa karena kita pun menjadi manusia baru. Paulus mengatakan : “yang lama sudah berlalu”, artinya segala sesuatu yang ada di dalam kehidupan lama kita adalah sesuatu yang harus kita tinggalkan dan tanggalkan di dalam kita menjalani hidup kita sebagai manusia baru.

Menjalani hidup sebagai milikNya berarti kita menjalankan hal-hal yang Tuhan mau kita kerjakan. Ketika hidup kita bukan milik kita sendiri, itu berarti bahwa kita perlu senantiasa belajar untuk memahami kehendak Allah dalam hidup – sembari kita belajar melakukannya. Semata-mata sebagai sebuah ungkapan syukur bahwa Tuhan sudah memberikan segalanya bagi hidup kita. Segalanya? Yes. Segalanya! Tuhan sudah memberikan bahkan hidup-Nya melalui karya Kristus. Selayaknyalah kita belajar juga memberikan segenap hidup kita kepada Dia.

Yang baru sudah datang! Demikianlah kita perlu belajar mengingat identitas baru kita di dalam kita hidup di dunia ini. Identitas yang melekat ini tidak akan dipengaruhi oleh hal lain selain iman percaya kita.

Aplikasi
Ketika Tuhan sudah menjadikan kita manusia baru di dalam Kristus, identitas kita tidak ditentukan dari atribut yang kita gunakan. Seperti di awal, Thor mendefinisikan status dewanya (kalau kita lihat di film-film sebelumnya, hidupnya ditentukan benar-benar oleh Mjolnir, palu yang diberikan Odin kepadanya), dan itu tidak jauh berbeda dengan hidup kita. Kita seringkali diikat oleh atribut-atribut yang ada di dalam kehidupan kita bukan? Entah itu kecerdasan kita, harga diri kita, dan sebagainya.

Ketika sadar bahwa kita ciptaan baru, maka sudah selayaknya kita belajar buat bersyukur atas identitas yang Tuhan karuniakan dalam hidup kita. Melalui identitas itulah kita tidak perlu takut dan ragu dalam menjalani hidup ini. Senantiasa kita belajar untuk bersukacita di dalam Tuhan. Senantiasa kita belajar untuk bersyukur dan tidak kuatir dalam menjalani kehidupan ini.

Hidup kita tidak ditentukan dari setiap atribut yang kita punya. Kita belajar buat percaya bahwa segala hal yang kita punya adalah milik Tuhan, yang sewaktu-waktu dapat diambil. Tetapi status kita sebagai anak-anak Allah merupakan hal yang paling penting. Keselamatan yang Tuhan berikan – itu cukup bagi setiap kita – seperti Paulus yang senantiasa dapat bersyukur atas setiap kelemahan yang ia miliki, sehingga ia dapat memahami perkataan Allah “cukuplah kasih karuniaku”.

Ketika sumber kekuatan kita – entah itu kekayaan kita, keberhasilan kita, jabatan kita, dan setiap hal di dunia ini lenyap, marilah kita senantiasa belajar bahwa satu-satunya sumber kekuatan kita adalah Kristus – yang dinyatakan melalui kehidupan keseharian kita. Kasih karunia Allah itu lebih dari cukup dalam kita dapat menjalani kehidupan ini. Seperti Thor yang kehilangan palunya tetapi dia tetap mengingat identitasnya, marilah kita sebagai anak-anak Allah juga belajar untuk memegang teguh kasih karunia yang sudah Tuhan anugrahkan dalam hidup kita untuk menjalani kehidupan yang penuh tantangan ini

Soli Deo Gloria!

Friday, September 30, 2016

Dosa dan Kesetiaan Allah



1Yohanes 1:9 
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. 

“Aku takut… Aku bimbang… Setelah sekian lama aku jadi Kristen, aku sudah percaya Tuhan Yesus, tetapi tetep aja aku melakukan hal itu.. kenapa yah…”

Beberapa hari yang lalu aku mendengar kalimat ini dari seorang teman yang sudah melayani. Bahkan dia adalah seorang ketua pemuda di sebuah gereja. Dia mengaku bahwa setelah sekian lama dia melayani, dia punya relasi dengan Tuhan melalui saat teduhnya, tetapi hal itu tidak lantas membuat dia bebas dari dosa. Dia masih punya sebuah kebiasaan berdosa dan kebiasaan itu ia lakukan berhari-hari.

Dosa
Dosa… Apa sebenarnya yang dimaksud dengan dosa? Dalam bahasa aslinya, dosa berarti “meleset dari sasaran”. Bayangkan kita bermain dart, ada sebuah titik di tengah (biasanya nilainya 10) dan kemudian kita diminta melemparkan dart itu. Kemudian kita mengenai angka 9. Good job bukan? Tetapi jikalau kita melihat definisi dosa dari alkitab, maka it’s not good enough.

Definisi dosa menurut alkitab adalah kalau ada range nilai 1-10 dan kita mendapatkan hasil 10, itulah baru yang namanya tidak berdosa. Tetapi kalau kita melakukan sesuatu dan nilainya 9,99 pun, tetap saja itu merupakan dosa. Itulah yang disebut dosa. Kalau begitu apakah ada orang yang begitu perfect yang bisa mendapatkan “nilai maksimal” tersebut?

Tidak hanya itu saja. Dosa selain berarti tidak melakukan sesuatu yang buruk, ada 1 lagi yang merupakan dosa. Apa itu? Yakni manakala kita tahu bahwa kita harus melakukan sesuatu yang benar tapi kita tidak melakukannya. Contoh ketika kita melihat teman kita sedang membutuhkan tumpangan, tetapi kita tidak memberikan tumpangan kepadanya, maka itupun dosa. Loh, kan dia gak butuh tumpangan, toh dia bisa naik angkutan umum? Tidak seperti itu cara kerjanya!

Keterikatan Terhadap Dosa
Selama kita hidup di dunia ini, kita akan selalu bergumul dengan dosa. Kita selalu akan menghadapi tantangan-tantangan untuk kita apakah kita dapat hidup seturut dengan kehendak Allah atau tidak. Tentu hal ini menjadi menarik manakala kita melihat lagi bahwa kita hidup di dalam periode penyertaan Roh Kudus.

Tidal peduli bagaimana sucinya kehidupan kita. Tidak peduli bagaimana track record dari pelayanan kita. Entah kita jemaat biasa, ketua majelis, pejabat gerejawi, bahkan pendeta sekalipun selalu punya hal yang membuat mereka di cap sebagai manusia berdosa.

Tetapi kita kembali kepada apa yang alkitab katakan – bahwa memang benar semua orang itu berdosa. Tetapi untungnya kita tidak hanya berhenti pada Roma 3:23, karena selanjutnya ada Roma 3:24

Roma 3:23  Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, 
Roma 3:24  dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.

Mengaku di Hadapan Allah
Pengampunan memang sudah Ia berikan atas dosa-dosa yang kita perbuat. Kita kembali menjadi pribadi yang dibenarkan oleh anugrah mengenai karya Yesus Kristus. Selanjutnya apa? Apakah kemudian kita boleh berbuat dosa? Sekali-kali tidak. Tetapi menariknya dari Allah yang kita sembah di dalam Yesus Kristus adalah ini: bahwa sekali-kali ketika kita berdosa, kita dapat mengakui segalanya. Pengakuan itulah yang sebenarnya dinantikan oleh Allah untuk kita dapat datang kepadanya.

 Allah yang rindu untuk kita boleh datang kepadaNya di dalam pengakuan dosa kita. Sadarkah kita akan hal itu? Pertanyaan itu akan disambung lagi dengan sebuah pertanyaan : benarkah kita rindu buat menghadap Dia sehari-hari untuk mengakui kelemahan kita, bahwa tanpa anugrah Allah, semua yang kita kerjakan ujungnya ialah maut?

Ketenangan batin itu Ia sediakan manakala kita mau datang kepadaNya dalam doa. Ia dengan setia menantikan kita. Itulah yang disebutkan oleh Yohanes.

Ia Setia dan Adil
Ada sebuah kisah menarik, antara Mary dan George. Mary dan George adalah sepasang kekasih yang mana seharusnya setahun setelah hari ini, mereka akan mencapai pelaminan. Tetapi ada sebuah kondisi perang, dimana George harus berangkat ke luar negeri untuk membela negaranya. Sebulan, dua bulan, selalu ada kabar dari George. Di dalam satu surat balasannya kepada George, Mary menuliskan “ketika kamu kembali kemari, aku akan siap untuk menerimamu dalam hidupku”. Kemudian setelah setahun lebih, perang belum usai, namun surat itu berhenti sampai ke tempat Mary.

Mary yang kuatir kemudian menanyakan kepada komandan George dan komandannya pun kesulitan menjawabnya. Ternyata status George saat itu adalah “Missing in Action”. Kemudian setahun kemudian, ada ketukan di pintu rumah Mary. Ibunda Mary segera membukakan pintu itu, dan tebak siapa yang datang ke rumah itu? Ternyata itu adalah George yang sudah pergi selama 2 tahun.

Mary pada saat itu mengalami depresi yang luar biasa. Dan sejak seminggu sebelum kepulangan George, ia sudah mengenakan gaun yang akan dipakainya di hari H pernikahan mereka. Ketika George masuk ke kamar Mary, segera ia berlari dan memeluk George yang masih dalam kondisi dekil setelah ia kembali dari medan perang itu.

Bayangkan kisah ini, dimana Mary menantikan kepulangan tunangannya untuk akhirnya mereka bisa bersatu lagi. Itulah rasa rindu Allah atas kehidupan kita. Ia menantikan kita untuk datang kepada-Nya, membawa hancur hati kita manakala kita mau belajar mengakui setiap dosa kita. Dikatakan di dalam ayat ini bahwa Ia adalah setia dan adil.

Dosa akan menimbulkan sebuah konsekuensi – kita tidak dapat menghindari hal tersebut. Tetapi di satu pihak, kesetiaan Allah yang menantikan kita untuk datang kepada-Nya juga bukanlah suatu hal yang main-main. Ia menantikan kita untuk kita datang dengan hancur hati, yang mana Ia mau membebaskan kita dari dosa tersebut. Ia ingin agar kita dapat menikmati hidup di dalam kekudusan sehingga ada suatu rasa rindu di dalam diri kita untuk memuji dan memuliakan Dia.

Jadi tunggu apa lagi? Mari datang kepada-Nya ketika kita mau mengakui setiap dosa kita. Mari bawa hati kita yang hancur akibat dari dosa itu kepada-Nya. Biarkan Dia menyusun satu per satu serpihan hancurnya hati itu menjadi hati yang baru. Hati yang suci, hati yang rindu untuk selalu dekat kepada-Nya. Hati yang rindu untuk menjadi kemuliaan bagi Dia. Semuanya itu karena kita berharga di mata-Nya, dan kita menjadi “biji mata Allah”

Soli Deo Gloria!

Tuesday, April 19, 2016

Manusia Baru – Keadilan & Kasih Allah

Roma 3:25

Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya.  Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.

Background
Iman, perbuatan, kebajikan, pengorbanan, perbuatan baik, semua itu terasa menjadi sebuah syarat yang mutlak di dalam syarat kita untuk mencapai surga. Seberapa baikkah diriku, seberapa indahkah kehidupanku jika dinilai oleh Dia? Sempat terbesit pertanyaan yang menjadi sebuah pergumulan, bahkan ketika sudah percaya kepada Tuhan Yesus. Sempat muncul keraguan, ketakutan, tanpa adanya suatu kepastian akan keselamatan yang Tuhan beri.

Muncul pula pertanyaan, ketika kita sudah Lahir Baru, mengapa hidup kita sama sekali tidak ada perubahan? Bahwa ternyata setelah kita hidup baru, tidak ada sesuatu yang radikal yang terjadi atas kehidupan kita. Bukankah hal ini menjadi begitu unik? Tetap saja setelah kita dibaptis atau lahir baru, kita sama sekali bukan menjadi manusia baru. Beberapa sharing dari teman-teman saya malah menyebutkan bahwa setelah lahir baru, kehidupan mereka semakin hancur.

Pengamatan tersebut membawa saya (waktu itu) pada suatu kesimpulan, bahwa keselamatan menjadi sesuatu yang take it for granted. Benar sekali, keselamatan itu gratis. Artinya ketika kita sudah menerima Yesus, ya sudah itu sudah cukup.

Sebuah Kenangan Masa Lalu
Memandang ke arah jendela kamar, menikmati dinginnya hujan waktu itu membuat aku hanyut di dalam sebuah kenangan saat aku pertama kali mulai kenal Tuhan Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang memegahkan diri. Begitulah kalimat dari Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, menurut Efesus 2:8-9

Tetapi tidak berhenti sampai disana. Ayat berikutnya jauh lebih mengerikan kalau kita resapi. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan baik yang telah ditentukan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:10) dan ini merupakan sebuah pernyataan Paulus yang seharusnya menjadi tolok ukur setiap tindakan, perkataan, dan perbuatan kita.

Tentu saja ayat-ayat ini membuat kita bersukacita sebagai orang Kristen, tetapi di sisi lain kita juga perlu memahami bahwa ayat-ayat ini mengandung sebuah tanggung jawab besar atas kehidupan kita. Ketika Paulus menyatakan bahwa kita diciptakan dalam Kristus Yesus, itu berarti bahwa di dalam kehidupan kita ada hal-hal yang dipercayakan, dan kita dipanggil untuk melakukan perbuatan baik dan celakanya, itu sudah dipersiapkan Allah.

Sejenak kenangan itu mencuat, dan kembali aku mencoba melihat kembali, benarkah selama hidupku aku menjalani kehidupan yang telah dipercayakan Tuhan melalui setiap tindakanku? Bagaimana kehidupanku ketika aku sendirian di kamar? Bagaimana kehidupanku ketika aku di gereja? Bagaimana, bagaimana, dan bagaimana?

Allah yang Memegang Kendali
Saya yakin dan percaya bahwa kendali atas hidup kita telah dipegang oleh Allah. Itu berarti di dalam hidup kita, kita tidak perlu menjadi kuatir atas apapun. Termasuk juga dosa... tunggu! Apa maksudnya? Apakah benar kita tidak perlu takut akan dosa?

Siapa yang tidak takut atas dosa? Wow, tentu kita takut akan dosa. Ketika kita sedikit saja kompromi terhadap cobaan yang kita hadapi, ternyata dosa itu bisa langsung menguasai kehidupan kita. Kita diminta untuk selalu waspada atas kehidupan kita. Tetapi ini pun menjadi pergumulan yang utama bukan? Bahwa ternyata dalam kehidupan baru yang Tuhan berikan pun kita masih juga terus bergumul atas dosa-dosa kita. Kita ingin mengatasi kuasa dosa itu, tetapi ternyata dalam realitasnya kita dikuasai.

Ketika Paulus berkata bahwa kita ini adalah manusia yang merdeka atas kuasa dosa, saya jadi bertanya apa sebenarnya yang dimaksud Paulus? Buktinya dosa itu masih terus menerus mengintai dan siap menerkam kehidupan kita. Lalu bagaimana?

Akhirnya sampai pada satu kesimpulan, apakah benar Allah memegang kendali atas kehidupan kita? Benarkah bahwa kuasa dosa telah dihancurkan dan Allah telah membebaskan kita dari dosa itu? Atau jangan-jangan betapa kita tidak punya hati nurani maka manakala kita berbuat dosa, kita sama sekali tidak peka, tidak ada penyesalan, justru malah ada sukacita?

Konsep Keadilan – Kasih Melalui Karya Penebusan
Salib menjadi sebuah bukti kasih sekaligus keadilan Allah atas kehidupan manusia. Melalui salib sebenarnya kehidupan kita menjadi kehidupan baru, kehidupan yang berkemenangan. Kehidupan yang dibangkitkan melalui kematian Kristus dan kebangkitanNya. Keadilan Allah ditunjukkan melalui tercurahnya darah Kristus, darah Tuhan yang menyucikan segala dosa kita. Kasih Allah ditunjukkan melalui anugrah melalui kematian Kristus. Ada pihak yang harus menjadi korban, sehingga dosa kita bisa dibebaskan. Ada kehidupan baru yang ditawarkan Kristus.

Balik lagi ke pembahasan kita tentang dosa. Salib menjadi suatu titik tolak perubahan kehidupan kita. Manusia lama menjadi manusia baru hanya bisa dicapai melalui karya salib. Itulah seharusnya yang mengingatkan kita betapa besarnya kuasa dan kasih Allah atas kehidupan kita. Perubahan hidup menjadi nyata manakala kita memandang kepada salib Kristus. Salib yang mana merupakan karya Allah, keadilan dan kasih yang dipertemukan di dalam Kristus Yesus.

Berubah dan Berbuah
Perubahan hidup melalui karya penyelamatan Kristus bukanlah sesuatu yang instan. Kita perlu menyadari bahwa perubahan hidup merupakan proses seumur hidup yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita. Ada kalanya di dalam proses itu kita jatuh, lelah, dan mungkin sampai hampir menyerah atas segala pergumulan yang terjadi di dalam kehidupan kita.

Jadi tidak perlu heran kalau setelah menerima Kristus, maka kita tiba-tiba bertobat secara drastis. Memang ada kasus sedemikian, tetapi selalu ada proses yang kita akan jalani di dalam penyucian kita, yang mana mempersiapkan kita untuk memuliakan Dia seumur hidup kita. Kita perlu menyadari bahwa di dalam Kristus, seperti yang dikatakan Paulus, kita adalah ciptaan baru.

Kuasa dosa sama sekali tidak berkuasa atas kehidupan kita. Kuasa dosa yang menghantarkan kita kepada kematian abadi, telah dihancurkan. Hal itu akan membuat kita menjadi orang-orang yang menyadari bahwa kita manusia berdosa yang membutuhkan kasih karunia Allah. Hal itulah sebenarnya yang membuat kita semakin hari semakin ingin bertumbuh di dalam kasih karunia. Kita punya kepekaan terhadap dosa yang menimpa hidup kita. Kita menjadi pribadi yang sadar betul bahwa kita butuh kasih karunia Allah
Kesadaran itu pula yang akan membuat kita terus bertumbuh dan berbuah di dalam Dia. Pertumbuhan rohani yang kemudian akan menjadikan kita semakin hari semakin indah, sehingga buah pelayanan kita pun dapat dinikmati oleh banyak orang, juga menjadi kemuliaan bagi Tuhan.

Bagaimana dengan kecenderungan dosa kita? Roh Kudus akan membimbing kita, membuat kita menjadi pribadi yang peka dan kuatir atas dosa yang akan kita kerjakan. Kita perlu menyadari akan hal ini sehingga kita memiliki komitmen untuk lari dari pencobaan yang menghadang kita. Saat kita berdosa, jangan pernah untuk sungkan, takut, cemas, untuk datang kepada Bapa. Ia adalah setia dan adil, demikianlah yang dituliskan oleh Yohanes.

Karya Keselamatan dan Perubahan Hidup
Menjadi poin penting bahwa ketika Tuhan sudah menyelamatkan kita, bukan berarti bahwa kita bebas bertindak semau kita. Mungkin kita berpikir: “ah kalau sudah selamat dan pasti masuk surga ya sudah, kita enjoy aja hidup ini”. Apakah begitu?

Kita perlu memikirkan kembali mengenai perubahan hidup. Ketika kita menjadi seorang Kristen, kita menjadi orang yang merdeka. Kemerdekaan atas dosa, tetapi juga kehidupan yang mana Kristus berperan sebagai raja atas kehidupan kita. Bagaimana impelementasinya? Tentu saja kalau kita menyadari bahwa Yesus adalah raja, itu berarti kita menuruti apapun yang Tuhan kerjakan.

Itulah kemerdekaan Kristen yang sejati, kemerdekaan yang berfokus kepada Allah Tritunggal sebagai penguasa hidup kita. Kiranya melalui perenungan singkat ini kita dapat memaknai kembali arti dari hidup baru yang diberikan Kristus, menjadi pribadi yang semakin hari semakin rindu untuk memuji dan memuliakan Dia.


Soli Deo Gloria!

Tuesday, March 29, 2016

Kebangkitan Kristus yang Mengubahkan Hidup

Setiap kali kita merayakan Paskah, apa yang kita rasakan? Betapa begitu banyak orang menjadi tersadar akan pengorbanan Kristus di kayu salib dan itu membuat mereka bersyukur. Menarik bahwa berita Paskah menjadi sesuatu yang begitu bermakna di dalam kehidupan umat Kristen. Bagaimana tidak kalau kita merenungkan bahwa keagungan kasih Allah kepada umatNya di dalam karya salib merupakan sebuah karya agung. Karya yang sama sekali tidak pernah terbayangkan, yang memberikan suatu jaminan bagi setiap orang untuk menikmati dan mengerjakan keselamatan itu.

Apa signifikansi Paskah di dalam kehidupan kita? Coba kita lihat 7 poin berikut:

1.      Mengingat kembali Kasih Kristus atas kehidupan kita
Sadarlah bahwa setiap kita adalah pribadi yang berharga di mata Tuhan. Keberhargaan itu Ia tunjukkan melalui karya penyelamatan Yesus Kristus di kayu salib. Salib merupakan lambang kehinaan, tetapi justru melalui salib itulah karya terbesar dikerjakan oleh Allah.

2.      Mengambil Rupa Seorang Hamba
Tidak dapat dilepaskan dari Paskah tentunya adalah bagaimana kita meneladani Kristus. Seorang hamba yang taat kepada tuannya, dan itulah yang Yesus tunjukkan melalui kehidupan Kristus. Yesus yang taat kepada perintah Bapa, begitu pula hidup kita pun perlu dimaknai sebagai ketaatan penuh sebagai seorang hamba, apapun pekerjaan dan profesi kita.

3.      Menjadi Buah
Bijih gandum harus jatuh ke tanah, mengorbankan dirinya supaya muncul kehidupan. Sama dengan kematian Kristus menjadi sebuah pengharapan akan hidup baru, hidup yang menghasilkan buah. Apa buah itu? Tentu saja itu adalah pemberitaan Firman kepada orang-orang yang belum mengenalNya.

4.      Mementingkan Kepentingan Orang Lain
Pemberitaan yang dikabarkan oleh Alkitab menunjukkan sikap dari Yesus, yang dalam hal ini sebagai seorang Tuan. Artinya begitu mengesankan bahwa justru di dalam posisi yang paling tertinggi, Ia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dianggap hina oleh dunia di sekitar kita.

5.      Perubahan Hidup
Sesuatu yang paling nyata di dalam kehidupan yang menerima Tuhan Yesus adalah perubahan hidup. Rasul Paulus mengalami hal ini manakala Ia “tertangkap” oleh kuasa kasihNya. Perubahan hidup yang signifikan dialami oleh Paulus, dan itupun seharusnya menjadi nyata atas kehidupan kita.

6.      Kehidupan Yang Bermakna
Kehidupan murid-murid setelah Yesus mati adalah kehidupan yang dirasakan fana. Serasa kehilangan tujuan hidup yang semula, mereka menjadi pribadi-pribadi yang ragu untuk meneruskan hidup. Tetapi kebangkitan Kristus menjadikan mereka dapat berkarya, memaknai hidup mereka yang dulunya hidup mereka flat menjadi hidup yang penuh proses.

7.      Janji Keselamatan
Kebangkitan Kristus merupakan sebuah janji akan adanya pengharapan di masa depan. Hal ini membuat kita menyadari bahwa kehidupan di dunia ini adalah kehidupan yang fana. Janji itu ialah janji yang nyata, dan kebangkitan Kristus menjadi bukti bahwa pada saatnya nanti kita akan merasakan kebangkitan itu

Demikianlah tujuh poin yang mana dapat kita pelajari dari peristiwa Paskah. Paskah menunjukkan kuasa dan kasih Kristus, dan itupun yang akan kita alami manakala kita belajar untuk menjadikan Dia sebagai juruselamat kita.


Soli Deo Gloria!

Sunday, November 1, 2015

Menapaki Hari Bersama Kristus

Pendahuluan

Sebagai orang Kristen ada satu pertanyaan yang harus kita jawab manakala kita mengakui bahwa Kristus sudah menyelamatkan kita. Apakah itu? Pertanyaan itu adalah “so what?”. Maksudnya adalah ketika kita sudah mengakui bahwa Kristus adalah satu-satunya juruselamat, lalu apa? Hal ini menjadi terus relevan manakala kita melihat bahwa di tengah realitas dunia ini, kita tidak jarang untuk lost contact dengan Allah. Relasi kita dengan Allah menjadi sebuah relasi yang jauh, sama sekali tidak terkoneksi

Keagungan Karya Salib

Perenungan ini juga relevan ketika kita mencoba mencari jawaban atas pertanyaan “mengapa aku diselamatkan oleh darah Kristus”. Ada begitu banyak hal yang bisa menjadi jawaban atas pertanyaan ini. Misalkan: kita diselamatkan agar kita dapat melayani Allah. Benarkah? Kalau kita renungkan, siapa sih diri kita ketika kita berani mengatakan bahwa kita adalah pelayanNya? Bandingkan hidup kita dengan Paulus, Daud, Musa, Yeremia dan lain-lain. Refleksikan saja bagaimana hidup kita dibandingkan dengan hidup mereka. Masihkah kita berani menyatakan bahwa kita diselamatkan untuk melayani Dia?

Ada juga yang mengatakan agar kita bisa menjadi orang-orang yang terlibat penginjilan yang efektif. Kita punya tugas penginjilan. Tetapi kalau kita lihat realitasnya, kurang efektif apa sih Allah ketika Dia mengerjakan penginjilan? Bukankah lebih mudah bagi Allah untuk kemudian menampakkan diriNya di depan orang-orang yang tidak percaya dan kemudian mereka bertobat?

Kekristenan Adalah Relasi

Pemulihan relasi kita dengan Allah adalah satu-satunya alasan utama manakala kita menyadari bahwa hidup kita adalah hidup yang kotor. Kita perlu sadar bahwa tidak ada hal yang mungkin kita kerjakan tanpa keagungan karya salib atas kehidupan kita. Kita perlu sadar bahwa tanpa adanya pendamaian dengan Allah melalui Kristus, kita akan terjebak pada hidup keagamaan yang penuh dengan ritual-ritual.

Kalau kita lihat sepanjang kitab Imamat, kita bisa melihat betapa rumitnya saat seseorang ingin bertemu dengan Allah. Ada berbagai macam korban yang intinya satu: untuk menebus sesuatu. Ketika seseorang penuh dengan dosa, Ia tidak boleh / tidak memiliki akses untuk dapat datang berdoa dan memohon kepada Allah. Bukankah ini adalah satu hal yang begitu mengerikan? Ada banyak hal yang harus dilakukan untuk kita dapat punya akses kepadaNya.

Ironisnya hal ini membuat kita menjadi pribadi yang sama sekali berbeda dengan kemauan orang-orang jaman dahulu. Kalau kita bandingkan bagaimana niatan orang-orang jaman Perjanjian Lama, untuk mereka dapat datang ke Yerusalem pun adalah sesuatu yang begitu berat. Saat itu belum ada Go-Jek, belum ada taksi. Kalau seseorang cukup kaya, dia akan naik unta. Kalau tidak? Ya tentu saja dia harus berjalan kaki. Apalagi mereka harus membawa korban persembahan. Korban persembahan itupun juga tidak boleh cacat, artinya ini adalah suatu aturan yang sangat berat.

Menarik bahwa kalau kita melihat realitas jaman ini. Kalau acara di gereja tidak menarik ya tidak akan datang. “Eh, yang kotbah Pdt. X, pasti bikin ngantuk, kita ke gereja lain deh.” “kalau ke gereja itu ada makanannya lho!”,”nanti aja kalau mau nikah, aku akan rajin ke gereja”. Kalimat-kalimat inilah yang mewarnai kehidupan jaman ini. Jaman dimana anak-anak muda punya kehidupan yang jauh lebih mudah dibandingkan dengan masa lalu. Jaman dimana semua hal tersedia untuk kita dapat datang beribadah kepadaNya, tetapi ironisnya justru ada satu hal yang tidak dipunyai. Apa itu? Relasi yang intim dengan Allah.

Pemulihan relasi itulah yang dikerjakan oleh Kristus di atas kayu salib. Relasi dimana sebelum korban Kristus, manusia memiliki jarak yang begitu jauh dengan Allah, berbeda dengan ketika karya penebusan itu sudah dilakukan oleh Kristus. Kita tidak perlu lagi mempersiapkan korban pengganti bagi dosa-dosa kita. Kristus telah membayar segalanya.

Sikap Hidup Orang Percaya

Kesadaran kita akan keintiman relasi dengan Allah membuat kita menjadi pribadi yang berbeda. Analoginya adalah ketika kita memiliki seorang kekasih. Bisa dibayangkan ketika kita berjalan dengan kekasih kita, mungkin sikap kita akan begitu berbeda dibandingkan kita berjalan bersama anggota geng kita. Sikap kita akan menjadi pribadi yang lebih “manis”. Kalau kita menyadari bahwa Allah itu selalu ada bersama kita, dan kita adalah kekasih hatiNya, bukankah kita juga akan selalu memiliki perbedaan sikap dan pandangan?

Kesadaran inilah yang perlu dimiliki oleh orang percaya. Kesadaran bahwa kita tidak ditebus dengan darah yang murahan. Kesadaran bahwa kita sudah ditebus. Ini seharusnya menjadi suatu titik balik dimana kita akan punya sebuah kerinduan untuk dapat memiliki suatu relasi vertikal dan horizontal yang baik. Itulah yang dinyatakan Yesus manakala diberikan pertanyaan mengenai hukum terutama: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

Arti dari hukum ini begitu clear, bahwa perubahan yang paling nyata adalah masalah bagaimana kita bisa memaknai kehidupan yang sudah Allah berikan. Ayat ini mengajak kita untuk punya sebuah persekutuan yang erat dengan Allah sekaligus juga persekutuan dengan sesama kita.

Implikasinya adalah ketika kita akan ke gereja, motivasi utama kita apa sih? Apakah karena di gereja ada cowok yang cakep, atau cewek yang cantik? Ataukah kita punya sebuah kerinduan untuk datang kepada Kristus, mengakui dan mensyukuri setiap anugrahNya atas kehidupan kita? Perubahan hidup inilah yang seharusnya membuat kita menjadi seseorang yang tidak perlu dipaksa untuk kita bisa pergi ke gereja. Kita tidak perlu dipaksa untuk melayani, karena kita tahu bahwa segala yang kita punya adalah milik Allah.

Kesimpulan

Ketika Allah sudah memberikan segalanya atas kehidupan kita, pertanyaannya adalah bagaimana kita menyikapi pemberian Allah itu? Apakah kita punya satu kerinduan kepada Allah sama seperti kerinduanNya untuk kita dapat datang kepadaNya? Apakah kita sudah mencintai Allah sama seperti Allah sudah mencintai kita?

Biarlah kita belajar dari hari ke hari punya relasi yang semakin intim kepadaNya, sehingga kita tahu bahwa ada satu tujuan yang Tuhan ingin kita kerjakan untuk kemuliaanNya.


Soli Deo Gloria

Sunday, September 6, 2015

Allah Yang Setia

Duduk diam dan merenungkan betapa indahnya kasih Allah merupakan satu hal yang begitu sulit aku lakukan saat aku berada di bangku SMA. Betapa tidak, ada begitu banyak alasan untuk aku mengeluh atas hidupku. Begitu banyak hal yang aku rasakan merupakan “penghukuman Allah” di tengah-tengah kehidupan ini. Sekalipun aku lahir di dalam keluarga Kristen, tetapi tetap saja ada perasaan dimana aku adalah pribadi yang “terbuang”.

Ketika aku mengingat masa-masa itu, aku menjadi sedih, sekaligus bersyukur atas setiap proses yang aku alami. Proses hidup itulah yang saat ini aku renungkan merupakan suatu proses yang penuh dengan pertanyaan sekaligus tuntunan Tuhan yang begitu luar biasa. Betapa tidak, kalau saat ini aku boleh ikut melayani Tuhan, aku boleh tergabung di dalam vocal group, aku boleh punya pekerjaan, aku bisa makan setiap hari, aku bisa mentraktir teman-temanku, bukankah itu merupakan anugrah yang harus syukuri di dalam hidup ini? Aku merenungkan itu merupakan hal yang begitu indah yang Tuhan berikan. Tetapi satu hal yang terutama! Apa itu? Melalui perjalanan hidupku aku memiliki satu kesimpulan yang jelas mengenai Allah.

“Allah itu adalah Allah yang setia”

Betapa ketika menyimpulkan kalimat itu untuk pertama kalinya, aku tercengang dan takjub betapa keindahan kasih karunia Allah dalam hidupku adalah hal terindah yang Tuhan berikan. Apakah itu? Pengenalanku akan pribadiNya. Bagaimana Ia menunjukkan kepadaku betapa besarnya kasihNya, betapa dalamnya anugrahNya, betapa indah jalan hidup yang Ia berikan, semuanya terangkai indah di dalam kehidupanku.

Kesetiaan Yang Teruji Kondisi
Kalau anda sudah punya seorang pacar atau kekasih, apalagi yang sedang LDR-an (seperti saya.. hehehe) pasti pernah merasakan betapa kita ingin bertemu sang kekasih, sekedar untuk menyapa, melihat wajahnya, bertatapan mata ke mata, merasakan dan menikmati kisah cinta setelah sekian lama tak jumpa. Bukannya curcol nih, tapi memang begitulah keadaan ketika kita sedang menjalani hubungan LDR.

Orang bilang ketika menjalani LDR, hubungan akan menjadi rawan sekali. Ada satu komitmen yang tegas dan jelas yang harus dipegang antara kedua belah pihak. Menariknya lagi ketika LDR, mau berapapun duit yang kita keluarkan untuk ketemu, kita selalu mengusahakannya. Kita selalu berusaha untuk bertemu dan saling bercengkerama, saling bercerita, saling berbagi, dan saling berkomunikasi.

Nah begitu pula ketika kita berhubungan dengan Allah kita. Hubungan dengan Allah nggak perlu duit, cuman punya lutut pun kita bisa bertemu. Uniknya lagi kalau pacar kita terkadang lagi nggak mood saat diajak bicara, dia bisa malah ngambek. Berbeda dengan Allah kita. Ketika kita banyak curcol, banyak protes, dan kita belajar untuk jujur terhadap perasaan kita kepada Allah, maka Ia akan dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan kita. Ia selalu siap sedia di dalam kondisi apapun.

Bener juga sih. Pertanyaan yang harus kita renungkan adalah: ketika Allah sudah setia di dalam Dia menyediakan begitu banyak tuntunan dan berkat di dalam kehidupan kita, bisa nggak kita belajar untuk menyediakan diri kita di hadapanNya? Maukah kita datang saat ini dengan sebuah ungkapan syukur bahwa Ia adalah pribadi yang begitu setia dan adil, pribadi yang menyambut kita dengan sabar, pribadi yang mendengarkan setiap keluhan kita, Dia tidak pernah bosan untuk itu.

Kesetiaan Yang Tak Pernah Lupa
“Janji yang manis, kau tak kulupakan, tak terombang ambing lagi jiwaku…” sebuah lagu hymn yang sering banget dinyanyikan, berjudul Janji Yang Manis. Saya merenungkan kalimat-kalimat di dalam lagu itu.

Pernahkah kita berhutang sesuatu kepada seseorang? Ketika kita berhutang, kita punya dua sikap, apakah kita akan bersikeras melunasinya, atau berharap bahwa orang tersebut akan melupakan bahwa kita pernah berhutang kepadanya. Itu kalau hutang, kalau kita yang ternyata memberikan pinjaman sesuatu kepada orang lain? Kita selalu berharap bahwa orang tersebut tanpa ditagihpun akhirnya akan mengembalikannya (apalagi kalau ada bunganya! J)

Contoh lain: buat teman-teman nih, kira-kira pasti ingat donk ulang tahun dari pacarnya. Bagaimana kalau kita sampai melupakan tanggal tersebut? Wah bahaya! Begitu juga kalau misalnya pacar kita melupakan tanggal ulang tahun kita. Kira-kira gimana perasaan temen-temen?

Kalau kekasih kita saja begitu punya hasrat dan ingatan untuk terus mengingat kita, bahkan sesuatu yang kadang kurang bermakna, bagaimana dengan Allah yang menciptakan kita, yang janjiNya sudah begitu teruji? Ia tidak pernah melupakan setiap detil yang kita kerjakan di dalam hidup kita. KesetiaanNya adalah kesetiaan yang kekal, yang tak pernah sekalipun Ia melupakan setiap hal yang kita kerjakan.

Menarik untuk kita renungkan, kapan terakhir kali kita mengingat Allah? Apakah itu saat kita mendapatkan begitu banyak berkat? Ataukah justru saat kita merasa begitu banyak hal yang tidak dapat kita tangani sendiri sebagai manusia barulah kita menghadap kepadaNya? Yuk kita jujur mengintrospeksi pribadi kita masing-masing, apakah dalam hidup kita justru kita lupa untuk bersyukur tetapi selalu ingat kalau kita protes kepadaNya? Seberapa tingkat syukur kita manakala kita masih diijinkan untuk datang kepadaNya secara langsung di dalam doa-doa kita?

KisahNya Atas Hidup Kita
Saat ini saya mengajak setiap kita untuk dapat merenungkan betapa Allah kita adalah Allah yang menyusun kisah hidup kita. Renungkan bahwasanya ketika sampai saat ini kita bisa hidup, bukankah semuanya itu hanyalah karena kemurahan kasih Allah?

Aku merenungkan di dalam kisah hidupku. Lahir di keluarga yang sederhana, dengan tingkat kedisiplinan orang tua yang begitu tinggi. Aku lahir dengan kondisi tidak sempurna di dalam kehidupanku. Aku punya kecacatan di tanganku yang membuat aku minder sampai aku SMA, bahkan sampai kuliahpun aku takut ketika aku harus bertemu dengan seorang wanita. Aku tidak punya prestasi yang begitu “wah”, dan aku bukanlah pribadi yang berani untuk ngomong di depan umum.

Sampai suatu kali aku diperkenalkan kepada Pribadi yang agung itu. Pribadi yang menebus dosaku, Pribadi yang tidak pernah meninggalkan aku, yang selalu menuntun aku dalam menjalani kehidupan ini. Pribadi itulah yang membuat aku sadar betapa kehidupan ini kalau aku jalani sendiri maka aku bisa kelelahan di dalam menjalaninya.

Kisah itu berlanjut dengan aku berhasil menyelesaikan studi S1ku dengan begitu banyak hal di dalamnya. Sahabat-sahabat yang baru, pelayanan di gereja, dan begitu banyak tanggung jawab yang Tuhan mulai berikan. Bagaimana dengan pasangan hidup? Oh Tuhan memberikan sepaket, dan itu yang Tuhan berikan ketika aku studi S2. Namanya adalah Jessica, seseorang yang Tuhan ijinkan untuk hadir di dalam kehidupanku, yang mana aku bergumul bersamanya tentang hubungan kami selama 14 bulan hingga akhirnya kami menjalani relasi LDR.
Apakah hanya sampai disitu?

Kalau selama aku hidup, ketika aku belum mengenal Dia, Ia sudah memberikan begitu banyak tuntunan, Ia begitu setia menantikan kehadiranku, bukankah Ia adalah Allah yang setia. Ia adalah Allah dari teman-teman juga. Allah yang juga menantikan teman-teman untuk mau belajar menyerahkan segalanya kepadaNya. Kekecewaan, beban hidup, pengalaman tersakiti, kekurangan, ataupun sebaliknya. Sukacita, damai sejahtera, itulah yang mau Tuhan sediakan di dalam kehidupan kita.

Kalau selama 25 tahun ini Tuhan sudah memberikan tuntunanNya, maka sampai kapanpun Ia akan menyusun dan menuliskan kisah itu. Andreas yang saat ini sedang bekerja di Bogor, yang sedang menjalani relasinya dengan Jessica, dan seterusnya. Ia terus menerus menuliskan kisah kesetiaanNya di dalam hidup kita. Kita mau tidak untuk melangkah bersamaNya? Ketenangan hidup yang Ia janjikan bukan hanya untuk 25 tahun. Sampai seterusnya mari kita belajar untuk tenang, menikmati kesetiaan kuasa kasihNya, dan terus belajar untuk berjalan di dalam trackNya.

Satu lagu untuk menutup perenungan ini. Sebuah lagu yang menyatakan betapa agungnya kasih Kristus, betapa Ia adalah pribadi yang setia, dan kita pun ingin belajar memaknainya atas hidup kita.

TENANGLAH KINI HATIKU

TENANGLAH KINI HATIKU
TUHAN MEMIMPIN LANGKAHKU
DI TIAP SAAT DAN KERJA
TETAP ‘KU RASA TANGAN-NYA

REFF:
TUHANLAH YANG MEMBIMBINGKU
TANGANKU DIPEGANG TEGUH
HATIKU BERSERAH PENUH
TANGANKU DIPEGANG TEGUH

TAK KUSESALKAN HIDUPKU
BETAPA JUGA NASIBKU
SEBAB ENGKAU TETAP DEKAT
TANGAN-MU ‘KU PEGANG ERAT

‘PABILA TAMAT TUGASKU
KAU B’RIKAN KEMENANGAN-MU
TAK KUTAKUTI MAUT SERAM
SEBAB TANGANKU KAU GENGGAM