Total Pageviews

Showing posts with label biblika. Show all posts
Showing posts with label biblika. Show all posts

Friday, October 27, 2017

Mempertahankan Identitas Hidup

“What are you? The god of hammer?” demikianlah pertanyaan Odin kepada Thor manakala ia merasa kesulitan untuk menang melawan Hela di dalam film Thor: Ragnarok. Pertanyaan ini membuat Thor sadar bahwa sumber kekuatannya bukanlah dari sebuah palu, yang hancur, tetapi dari semulanya ia adalah seorang dewa petir (god of thunder). Menarik sekali hal ini untuk kita renungkan karena kita sebagai orang Kristen pun lupa akan identitas kita sebagai warga sorga. Kita seakan-akan kehilangan identitas kita di dalam berbagai rutinitas hidup yang menarik kita dari kasih Bapa dalam hidup kita.

Memegang Teguh Keselamatan
2 Korintus 5:15
Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. 

Berbicara mengenai keselamatan tidak dapat dilepaskan dari bagaimana karya Kristus di dalam kehidupan orang percaya. Kesadaran bahwa keselamatan merupakan anugrah akan mengingatkan diri kita, siapakah sebenarnya kita. Ketika Tuhan telah menyelamatkan kita, kita yang adalah hamba dosa, statusnya diubah menjadi hamba kebenaran (Roma 6:20-23). Hamba kebenaran identik dengan kita menjadi hamba dari kasih karunia.

Hamba kasih karunia berarti kita belajar untuk senantiasa berpegang teguh pada kasih karunia. Kita taat terhadap kasih karunia yang Tuhan berikan – sama seperti ketika seorang hamba takluk terhadap tuannya. Seorang hamba sama sekali tidak punya hak atas hidupnya sendiri. Seorang hamba seumur hidupnya hanyalah menjadi suruhan, yang tidak punya hak apapun kecuali tuannya memberikan hak tersebut.

Itulah mengapa Paulus menuliskan dalam suratnya untuk kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. Kristus yang memberikan kehidupan bagi kita, maka selayaknyalah hidup kita pun dipersembahkan kepada Dia yang empunya kehidupan kita.

Respons Terhadap Kasih Karunia
2 Korintus 5:17
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. 

Menjadi ciptaan baru berarti benar-benar menjadi pribadi yang baru. Kita yang percaya kepada karya keselamatan sudah diberikan sebuah tujuan hidup yang baru. Senantiasa karena kita pun menjadi manusia baru. Paulus mengatakan : “yang lama sudah berlalu”, artinya segala sesuatu yang ada di dalam kehidupan lama kita adalah sesuatu yang harus kita tinggalkan dan tanggalkan di dalam kita menjalani hidup kita sebagai manusia baru.

Menjalani hidup sebagai milikNya berarti kita menjalankan hal-hal yang Tuhan mau kita kerjakan. Ketika hidup kita bukan milik kita sendiri, itu berarti bahwa kita perlu senantiasa belajar untuk memahami kehendak Allah dalam hidup – sembari kita belajar melakukannya. Semata-mata sebagai sebuah ungkapan syukur bahwa Tuhan sudah memberikan segalanya bagi hidup kita. Segalanya? Yes. Segalanya! Tuhan sudah memberikan bahkan hidup-Nya melalui karya Kristus. Selayaknyalah kita belajar juga memberikan segenap hidup kita kepada Dia.

Yang baru sudah datang! Demikianlah kita perlu belajar mengingat identitas baru kita di dalam kita hidup di dunia ini. Identitas yang melekat ini tidak akan dipengaruhi oleh hal lain selain iman percaya kita.

Aplikasi
Ketika Tuhan sudah menjadikan kita manusia baru di dalam Kristus, identitas kita tidak ditentukan dari atribut yang kita gunakan. Seperti di awal, Thor mendefinisikan status dewanya (kalau kita lihat di film-film sebelumnya, hidupnya ditentukan benar-benar oleh Mjolnir, palu yang diberikan Odin kepadanya), dan itu tidak jauh berbeda dengan hidup kita. Kita seringkali diikat oleh atribut-atribut yang ada di dalam kehidupan kita bukan? Entah itu kecerdasan kita, harga diri kita, dan sebagainya.

Ketika sadar bahwa kita ciptaan baru, maka sudah selayaknya kita belajar buat bersyukur atas identitas yang Tuhan karuniakan dalam hidup kita. Melalui identitas itulah kita tidak perlu takut dan ragu dalam menjalani hidup ini. Senantiasa kita belajar untuk bersukacita di dalam Tuhan. Senantiasa kita belajar untuk bersyukur dan tidak kuatir dalam menjalani kehidupan ini.

Hidup kita tidak ditentukan dari setiap atribut yang kita punya. Kita belajar buat percaya bahwa segala hal yang kita punya adalah milik Tuhan, yang sewaktu-waktu dapat diambil. Tetapi status kita sebagai anak-anak Allah merupakan hal yang paling penting. Keselamatan yang Tuhan berikan – itu cukup bagi setiap kita – seperti Paulus yang senantiasa dapat bersyukur atas setiap kelemahan yang ia miliki, sehingga ia dapat memahami perkataan Allah “cukuplah kasih karuniaku”.

Ketika sumber kekuatan kita – entah itu kekayaan kita, keberhasilan kita, jabatan kita, dan setiap hal di dunia ini lenyap, marilah kita senantiasa belajar bahwa satu-satunya sumber kekuatan kita adalah Kristus – yang dinyatakan melalui kehidupan keseharian kita. Kasih karunia Allah itu lebih dari cukup dalam kita dapat menjalani kehidupan ini. Seperti Thor yang kehilangan palunya tetapi dia tetap mengingat identitasnya, marilah kita sebagai anak-anak Allah juga belajar untuk memegang teguh kasih karunia yang sudah Tuhan anugrahkan dalam hidup kita untuk menjalani kehidupan yang penuh tantangan ini

Soli Deo Gloria!

Tuesday, September 9, 2014

Kitab Daniel : Makna Teologis Tentang Penyertaan Allah di Dalam Kehidupan Manusia


Ketika kita membaca kitab Daniel, kisah apa yang paling sering kita dengar? Tidak diragukan lagi bahwa semenjak kita mengikuti sekolah minggu, ada dua kisah yang membuat kita terbengong-bengong sampai mungkin kita hanya dapat menangkap dua kisah ini tanpa membaca kembali kitab Daniel. Dua kisah yang dimaksud adalah: (1) Ketika Sadrakh, Mesakh, dan Abednego akan dilempar ke dalam perapian, tetapi ternyata mereka keluar dengan keadaan tidak terluka. (2) pada saat Daniel dilempar ke lubang singa, tetapi ia berhasil selamat tanpa kekurangan sesuatu apapun.

Kedua kisah ini sering kita dengar dan paling tidak sebagai orang Kristen kita menghafalkannya. Tetapi lebih jauh lagi, kalau kita baca secara teliti, ada hal yang juga menarik di dalam kitab Daniel. Kitab Daniel ini juga menunjukkan satu berita yang begitu menarik. Disini kita melihat mengenai karakter dan penyertaan Allah terhadap bangsa Israel sekalipun mereka berada di tanah pembuangan Babel. Bangsa Yehuda adalah bangsa yang besar, tetapi identitas mereka sebagai sebuah bangsa yang diberkati oleh Allah akhirnya dirasa hilang oleh orang Yehuda karena akhirnya mereka dibuang ke Babel.

Kita melihat di dalam kitab Daniel ada sebuah pola yang menarik, yakni Allah yang selalu akhirnya ditinggikan. Kita melihat kisah mengenai bagaimana raja Nebukadnezar mulai bermimpi dan di seluruh negeri, tidak ada seorang pun yang dapat menjelaskan arti mimpi itu kepada raja. Sampai akhirnya raja mengeluarkan suatu perintah untuk menghabisi orang-orang pintar di negeri itu sebelum akhirnya Daniel keluar sebagai seorang pahlawan. Daniel menjawab dengan tepat sampai akhirnya ia dikaruniai sebuah kedudukan di dalam istana. Kita melihat disini, seorang Nebukadnezar yang terlihat begitu besar dan akhirnya umat Tuhan mulai bergerak, akhirnya ada satu perubahan sikap yang dibalik 180 derajat.

Kisah ini berlanjut di dalam pasal berikutnya mengenai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, yang mana kalau kita baca detailnya, bahkan algojo yang akan memasukkan mereka bertiga ke dalam api pun juga terbakar. Tetapi disinilah ada hal yang dapat kita pelajari: justru di dalam situasi genting seperti inilah Tuhan mau memakai umatNya menjadi satu kemuliaan bagi namaNya. Manakala dunia melihat bahwa yang paling penting adalah kenyamanan di dalam ketidakjelasan akan makna hidup, justru kekristenan menawarkan sebuah kehidupan yang memuliakan Allah.

Berlanjut kepada cerita dimana Daniel dimasukkan ke dalam goa singa. Namun kita lagi-lagi melihat bahwa singa itulah yang menjadi media untuk sebuah doksologi yang dinyatakan oleh Raja Darius, seorang Kafir! Darius yang paling besar, kemudian akhirnya menjadi lemas, dan ada satu doksologi dari orang yang paling besar itu. Artinya bahwa ada perubahan fokus hidup.

Sampai disini biasanya kita sudah hafal kitab Daniel. Tetapi kalau kita melanjutkan di pasal 7, kita membaca ada frasa “Anak Manusia”. Saat ini Daniel-lah yang menjadi lemas, dan ia akhirnya mendapat kelegaan. Apa signifikansi “Anak Manusia”? Sebenarnya ini adalah sebuah gelar mesianik, karena kita dengan jelas dapat membaca seperti apa sih Anak Manusia ini? Kita membaca bahwa “Anak Manusia” ini diberi kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja (Daniel 7:14). Apa maknanya? Yesus juga berkata bahwa Ia adalah “Anak Manusia”, yang berarti bahwa Yesus sendiri menyatakan diriNya sendiri sebagai Allah.

Ya ternyata kita membaca sebuah kitab yang jauh lebih indah bukan? Daniel ini bukan hanya sekedar kita membaca mengenai kisah anak muda yang diberkati. Jauh lebih dalam lagi ada pemaknaan teologis yang cukup mendalam yang seharusnya membuat kita menyadari akan peran kita dan pembelajaran kita sebagai orang Kristen yang perlu terus menerus teguh di dalam kehidupan memperjuangkan kekristenan kita.

Soli Deo Gloria!

Tuesday, April 29, 2014

PA 1 Petrus 1:17-23

Petrus menulis dengan sangat keras disini. Ia mencoba meyakinkan umat untuk memaknai keselamatan yang sudah dikerjakan Allah di dalam kehidupan keseharian kita. Poin penting disini adalah kalimat “Allah tanpa memandang muka”, yang berarti bahwa ini menjadi satu kesadaran bagi kita untuk tidak menyombongkan diri atas apapun yang kita miliki. Allah empunya segalanya, dan karena itulah kita dituntut untuk hidup dalam ketakutan.

Petrus juga menuliskan kata “menumpang”, yang menunjukkan bahwa sebenarnya kita ini bukanlah ‘penduduk asli’ dari dunia ini. Artinya merujuk kepada ayat selanjutnya. Tetapi kata “menumpang” disini menjadi sesuatu yang sangat penting. Bayangkan ketika kita menumpang di rumah orang lain. Apakah kita akan dengan nyaman dan bebas untuk tinggal di dalamnya? Tentu saja tidak! Sama dengan kita, seharusnya kita memiliki sebuah kerinduan untuk kita dapat segera kembali, merindukan suasana rumah. Saat kita menumpang, selalu ada rasa kuatir dan takut akan hal-hal yang akan terjadi.

Implikasi dari hal ini adalah kita selayaknya menjaga kehidupan kita di hadapan Allah. Kita tahu bahwa di dalam kehidupan kita di dunia, segala hal di dalamnya bersifat fana. Suatu saat nanti… Ya! Suatu saat nanti kala kita diijinkan untuk pulang, kembali ke rumah kita yang sesungguhnya, yang sudah Dia sediakan, itulah momen yang paling indah di dalam kehidupan kita.

Petrus melanjutkan dengan kembali menegaskan penebusan sebagai karya Kristus. Segala hal yang ada di dunia ini tidak sebanding dengan darah Yesus. Darah yang tercurah di atas salib, yang membebaskan kita dari dosa. Kita membaca disini bahwa keselamatan itu sama sekali tidak ada campur tangan manusia. Inilah kunci sebenarnya dari kekristenan. Perbedaan antara kekristenan dengan agama / kepercayaan lain di dunia ini adalah penebusan Kristus. Allah yang turun ke dunia melalui Yesus Kristus, merendahkan diriNya sebagai hamba, dan membebaskan dosa manusia. Keselamatan sepenuhnya adalah campur tangan Allah, tidak ada usaha manusia sedikit pun di dalam kita mendapatkan keselamatan.

Petrus menegaskan bahwa tidak ada hal yang lebih indah sebenarnya daripada salib Kristus. Penebusan melalui salib adalah kesempurnaan dari karya keselamatan. Ayat selanjutnya menyatakan bahwa Allah sudah dipilih sejak dunia dijadikan, dan alasan mengapa Dia menyatakan diriNya adalah karena kamu (karena manusia). Ini adalah panggilan bagi setiap kita untuk menghidupi kehidupan yang kudus di dunia.

Ayat selanjutnya memberitakan tentang keselamatan yang satu-satunya berasal dari Allah. Dampak dari kita telah diselamatkan adalah kita dapat memiliki iman dan pengharapan yang tertuju kepada Allah. Artinya bahwa satu-satunya pengharapan di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen adalah karena Kristus sendiri. Ada pengharapan di dalam kehidupan baru yang diberikan oleh Kristus. Ada suatu janji yang harus kita maknai sebagai anugrah.

Dampak dari hidup di dalam anugrah adalah kita dapat melakukan hal-hal di dalam ketaatan kepada Allah. Ketaatan disini terkait dengan kebenaran yang akan Kristus nyatakan, dan ini berlangsung secara terus-menerus di dalam kehidupan kita. Kehidupan yang berpusat kepada Kristus akan membuat kita menjadi pribadi yang memiliki suatu kesungguhan untuk dapat mengasihi sesame kita manusia. Tentu saja hal yang mendasarinya adalah keselamatan, dan itu timbul dari kerinduan hati kita untuk terus menerus takluk kepada firman dan memaknai anugrah hari demi hari.


Kelahiran kembali hanya timbul berdasarkan Firman. Penegasan Petrus disini sangat jelas, bahwa ternyata perbuatan baik kita berasal dari benih, yang adalah Firman. Bagaimana kita bisa mengerti Firman? Allah yang bangkit, Allah yang berkuasa, Allah yang telah memilih kita sejak sebelum dunia dijadikan, Ia lah yang membukakan kepada kita rahasia itu. Iman yang berfokus kepada Allah. Memaknai hal ini seharusnya sebagai orang Kristen kita benar-benar penuh rasa syukur, atas setiap hal kecil apapun yang sudah Yesus kerjakan di dalam kehidupan kita. Ia mengaruniakan Roh Kudus untuk kita dapat hidup seturut dengan kehendak Allah, sekalipun di dunia kita masih tetap dapat memiliki suatu relasi yang intim dengan Allah, dan tidak dapat dipungkiri, semuanya adalah anugrahNya, dan apapun yang kita kerjakan, semuanya adalah untuk kemuliaanNya.

Sunday, February 9, 2014

Eksposisi Kolose 1:15-23 - Keutamaan Kristus

Pembukaan surat ini melanjutkan dari sebelumnya, yakni mengenai keutamaan Kristus di dalam hidup orang percaya. Secara gamblang dan lugas Paulus mencoba menjelaskan di ayat 16 tentang siapakah Allah itu. Ia menuliskan bahwa Allah ialah Allah tidak kelihatan. Ini menjadi suatu pemikiran yang cukup abstrak bagi orang-orang yang mencoba untuk mengerti tentang Allah. Karena Allah ialah entitas yang tidak kelihatan bukan berarti bahwa Dia tidak ada. Paulus melanjutkan bahwa Allah lebih utama dari segala yang diciptakan. Ini menjadi suatu doktrin gereja yang sangat jelas. Melalui Yesus Kristus, Allah yang tidak kelihatan itu menjadikan diriNya terlihat oleh manusia. Tetapi sekalipun begitu, Allah tetap ialah yang lebih utama daripada segala sesuatu yang diciptakan, yang berarti bahwa Dia berdaulat penuh atas ciptaan.

Paulus menuliskan hal yang menarik di ayat 16, yakni segala sesuatu yang ada di dunia ini disebabkan oleh Allah (prime cause). Kalau kita lihat kembali ayat ini, bahkan dapat dilihat bahwa Allah mengatur segala hal baik yang besar maupun yang kecil. Tetapi menarik sekali di akhir ayat ini dituliskan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ini berarti bahwa tindakan apapun yang kita kerjakan sebenarnya sudah didaulat oleh Allah. Di dalam kedaulatanNya, Allah mengatur dunia ini sampai kepada level yang paling detail sekalipun.

Ayat-ayat selanjutnya mencoba untuk menjelaskan mengapa Kristus ialah yang terutama. Ayat 17 menjelaskan bahwa Kristus ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Paulus ingin menunjukkan bahwa Kristus ialah pencipta segala sesuatu, yang mana dipertegas dari ayat ini. Ketika sesuatu itu ‘ada’, maka harus ada sesuatu yang membuatnya ‘ada’ (hukum sebab akibat), dan Allah melampaui segala hukum itu. Ia tidak terikat atas hukum sebab akibat, karena Ia adalah yang paling utama (Yohanes 1:1 – Pada mulany adalah FIRMAN). Ia tidak membutuhkan penyebab.

Paulus melanjutkan suratnya dengan mencoba menjelaskan tentang hubungan Kristus dengan jemaat. Kristus ialah kepala tubuh, yang berarti bahwa Ia mengendalikan segala hal. Di kepala ada banyak organ tetapi yang paling signifikan disini ialah bahwa kepala memiliki otak. Kepala juga merupakan sumber kehidupan kita, dan kita disebut disini sebagai “tubuh”.

Jemaat Tuhan disebut Tubuh, yang berarti kita memiliki suatu peran yang harus dikerjakan di dunia ini. Allah yang mempimpin kita, seperti kepala dengan otak yang selalu membuat kita berpikir dan memampukan kita untuk melakukan sesuatu. Otak itu seharusnya menjadi hal yang utama karena melalui otak itulah kita dapat melakukan sesuatu.

Ia adalah yang sulung, yang pertama bangkit… ini menjadi salah satu status kita sebagai orang yang percaya. Ketika Paulus mencoba menuliskan hal ini melalui hikmat Roh Kudus, dengan penuh keyakinan ia berkata bahwa kita pun juga akan mengalami hal yang sama dengan Kristus, saat ia mati di kayu salib. Ada suatu janji kekekalan yang dituliskan disini.

Karena Kristus lebih dahulu mengalami semua hal yang dialami juga oleh manusia, kita boleh yakin dan percaya sebagai anak-anak Allah, kita juga akan mengalami kebangkitan tubuh (seperti yang disebutkan dalam Pengakuan Iman Rasuli). Ini juga membuatnya menjadi suatu entitas yang paling utama dalam segala sesuatu, dan kalau dikaitkan dengan kehidupan anak-anak Allah, yakni orang Kristen, ini berarti suatu pesan yang luar biasa bagi kita. Kita harus yakin bahwa ketika Allah bangkit dan naik ke sorga, kita pun juga akan mengalami hal yang sama.

Seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Kristus, yang mana ini ditunjukkan di dalam injil, dan juga di surat Paulus kepada jemaat di Filipi. Pembahasan tentang kenosis ada di sini, yakni saat Allah mengambil rupa seorang hamba, sampai taat dan mati. Kalau kita melihat juga di ayat 20, lanjutannya ialah bahwa Ia mendamaikan segala sesuatu dengan diriNya. Ini berbicara tentang pendamaian seluruh umat manusia yang percaya kepadaNya di dalam pengorbanan Kristus.

Semuanya sudah diselesaikan oleh pelayanan Kristus, yang mana berakhir di dalam kemegahan salib. Kemegahan sekaligus kehinaan (itulah pandangan manusia). Kemegahan salib itu membuat kehidupan kita dapat diperdamaikan dengan Allah. Ialah sang mediator itu. Ialah yang membuat kita dapat kembali berkomunikasi dengan Allah. Melalui pengorbanan Kristus itulah hidup kita diperbarui, ada suatu relasi yang dipulihkan oleh Kristus.

Kalau kita lihat dari ayat ini, melihat tema utama dari ayat-ayat sebelumnya, kita dapat memahami bahwa melalui surat ini Paulus ingin menunjukkan mengenai begitu besarnya dan utamanya Kristus di dalam setiap karyaNya. Ada beberapa alasan, yakni karena Ia memang Allah. Kedua adalah karena melalui salibNya itulah kita dapat beroleh keselamatan – melalui iman. Pendamaian itu hanya dimungkinkan melalui adanya mediasi, karena tanpa Kristus, kita tidak dapat mengenal siapa Allah.

Ayat 21 dengan sangat jelas memperlihatkan adanya perubahan pola pikir di dalam kita mengenal Allah. Ketika kita mengenal Allah, ada suatu perubahan mendasar, yakni adanya suatu perubahan dari apa yang dianggap oleh diri kita sendiri sebagai suatu kebobrokan, kini menjadi sesuatu yang mulia. Apa maksudnya? Ketika kita mulai mengenal Allah, seharusnya segala hal lain yang menjadi utama di dalam hidup kita sudah meaningless. Hidup yang bermakna ketika kita mengenal Kristus ialah hidup yang berpusat kepada kasih Allah – yang berarti bahwa seluruh hidup kita ialah milikNya.

Perubahan pola pikir tadi akan mempengaruhi tindakan kita terhadap apa yang akan kita perbuat terhadap Allah. Ketika ada perubahan pola pikir, hal yang terjadi ialah kita dimungkinkan untuk berbuat seturut dengan kehendak Allah. Tentunya sesuatu yang benar di hadapan Allah, sesuai dengan standarnya. Motivasi kita di dalam melakukan sesuatu akan mengalami perubahan – dari yang tadinya berpusat kepada kebanggaan diri, menjadi suatu persembahan yang kudus dan berkenan di hadapanNya.

Dampak dari pengorbanan Kristus di kayu salib dapat dilihat pada ayat selanjutnya. Paulus menuliskan bahwa ada suatu pendamaian melalui kematian Kristus. Mengapa Kristus mati? Karena ini konsisten dengan apa yang disebutkan bahwa upah dosa ialah maut. Melalui mediator kita – yakni Kristus, kita mendapatkan sebuah privilege. Melalui pengorbananNya kita dikuduskan di hadapan Allah. Pengudusan hidup melalui kasih Kristus ini menjadi suatu langkah awal dari kelahiran baru.

Paulus menuliskan ada suatu proses pengudusan yang sedang dikerjakan Tuhan atas kehidupan kita. Melalui salib, Paulus menyebutkan, bahwa kita tak bercela dan kudus, dan tak bercacat di hadapan Allah. Ini menjadi satu kabar baik bagi kita. Ya, itulah kekuatan dari salib. Itulah anugrah yang dipersiapkan Allah bagi kita bukan? Dosa yang membuat kita seharusnya menerima upah yakni maut, sekarang telah dihapuskan oleh darahNya yang kudus. Ialah korban sempurna, korban penebusan dosa yang Allah sudah sediakan. Pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah seberapa besar kita memaknai keselamatan yang dikerjakan Allah ini?

Sebagai konklusi dari tema utama Paulus tentang keutamaan Kristus, ia menuliskan bahwa setiap kita harus bertekun di dalam iman. Ada suatu pengharapan yang sedang dan akan digenapi oleh Allah. Pengharapan itu tidaklah sia-sia. Pengharapan ini berasal dari injil yang daripada Allah. Ada suatu janji di dalam kita mengenal dan mengerti tentang keutamaan Kristus. Ketika Kristus mengubahkan hidup kita, kita perlu sadar bahwa pengharapan itulah yang nantinya akan menjadi nyata.

Iman itu akan membawa kita menjadi orang yang tahu dan sadar bahwa anugrah itu bukan hanya untuk kita menjadi orang-orang yang take it for granted. Melalui pemahaman akan kasih Kristus, seharusnya kita bisa berkata seperti Paulus bahwa hidup kita bukan milik kita sendiri, namun hidup kita ialah milik Kristus. Ketika Allah memilih kita, tidak akan pernah Ia meninggalkan kita. Tidak akan pernah Ia menjadi Bapa yang akhirnya menghancurkan hidup kita. Keteguhan kita akan iman kita pun sebenarnya juga berasal dari Dia sendiri.


Apa yang saat ini menjadi hal yang terutama di dalam kehidupan kita? Apakah kita menyadari bahwa kita ialah milikNya dan Ia adalah Allah kita? Kristus ialah yang terutama, dan hanya melalui Dialah, ada suatu hidup baru. Ada suatu pengharapan yang terus membentuk kehidupan kita menjadi semakin serupa denganNya.

Thursday, May 9, 2013

Hectic Christianity - Sebuah Refleksi tentang Gaya Hidup Kekristenan


Kehidupan orang Kristen seringkali di dalam suatu kondisi yang sangat hectic. Maksudnya adalah di dalam kehidupan yang begitu cepat bergulir, tanpa adanya suatu kesempatan untuk kita bisa duduk tenang dan terus bekerja bahkan di dalam pelayanan kita sekalipun, baik di gereja maupun di tempat kerja, dan dimanapun, kita bisa kehilangan ketenangan hati kita. Inilah bahayanya ketika kita mulai menjadi orang Kristen yang sudah mulai terlibat pelayanan ataupun kegiatan yang membuat kita tidak bisa lagi menikmati Tuhan di dalam kesendirian kita. Mengapa? Karena hampir tidak mungkin kita punya suatu relasi, suatu waktu yang benar-benar personal dengan Allah.

Inti kehidupan Kristen, yang menjiwainya sebenarnya adalah personal relationship with God. Itu berarti memang kehidupan Kristen adalah kehidupan yang luar biasa, yang mana Tuhan yang imanen, Tuhan yang dekat dengan kita, adalah Tuhan yang ingin bergaul dekat dengan kita. Inilah yang terkadang setiap kita lupa, bahwa di dalam kehidupan kita, suatu saat kita perlu duduk diam sambil merenungkan betapa besarnya karya Tuhan di dalam nafas kita, di dalam kehidupan kita, di dalam hati kita, di dalam setiap hal yang kita lakukan. Suatu waktu yang menjadi sangat indah pada saat kita belajar untuk duduk diam, sambil merefleksikan betapa agung karyaNya di dalam kehidupan kita.

Masa penantian merupakan suatu masa yang membosankan, yang mana kita bisa saja berputar-putar di dalam kita menantikan sesuatu, dan kalau kita tidak sabar, maka kehidupan ini bisa “memakan” kita. Maksudnya? Ya kehidupan akan terus menggerogoti kita dengan berbagai hal yang menarik, yang membuat kita melupakan tujuan utama kita diciptakan sebenarnya untuk apa dan untuk siapa? Apabila kita tidak punya suatu pegangan di dalam menjalani kehidupan ini kita bisa terperangkap.

Ini menjadi suatu peringatan bagi kita. Penantian adalah suatu proses seumur hidup yang mana kita tentu saja melewati berbagai fasa kehidupan di dalam penantian itu. Maka dari itu, apabila kita tidak berhati-hati di dalam proses itu, kita menjadi orang yang tidak sabaran, yang mana pada akhirnya kita menjadi terburu-buru, kita akan missing berbagai poin yang harus kita jalani, akhirnya kita memilih untuk segera menyelesaikannya dengan cara yang tidak benar. Akhirnya kehidupan ini menjadi kehidupan yang sangat melelahkan. Kehidupan menjadi suatu waktu dimana penuh dengan tuntutan dan kita tidak mampu untuk menerima tuntutan itu karena berbagai sebab.

Nah di sinilah kita perlu merenungkan perkataan Tuhan Yesus di dalam injil Matius, di Matius 11:28-30, berbunyi demikian:

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan
(Matius 11:28-30)

Lalu mengapa sebagai orang Kristen kita bisa lelah? Mengapa rasanya menjadi orang Kristen menjadi suatu kehidupan yang penuh tuntutan dan kita tidak bisa merasakan damai sejahtera dari Allah? Mengapa kita melakukan sesuatu namun kita tidak dapat hidup dengan tenang dan dipenuhi aturan-aturan yang mengikat kita? Sebagai orang Kristen, secara komplit alkitab memberikan berbagai aturan dan ketetapan yang sangat mengikat kita, namun juga membebaskan kita. Rasul Paulus menuliskannya di dalam suratnya kepada jemaat di Korintus:

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
(2Korintus 5:17)

Ciptaan baru, kehidupan baru yang diberikan oleh Kristus melalui pengorbananNya di kayu salib membuat kita sadar bahwa kehidupan kekristenan adalah kehidupan yang mengikat, dalam artian kehidupan sebelumnya pun kita juga diikat oleh dosa. Setelah kita percaya akan karya Kristus di kayu salib, itulah momen di mana kita dilepaskan dari kehidupan lama kita dan mengenakan status baru yaitu orang yang sudah ditebus oleh Allah. Dari hamba dosa, menjadi hamba kebenaran. Bukankah ini suatu janji di dalam kehidupan yang tentunya menguatkan kita? Sama-sama menjadi hamba, tapi yang satu adalah menjadi hamba atas feeling guilty kita, atas dosa-dosa kita, dan sebagainya. Setelah menjadi seorang Kristen, kita menjadi hamba kebenaran, yang mana kita mendapatkan suatu anugrah yang luar biasa di dalam kehidupan keseharian kita.

Menjadi seorang hamba tentu saja akan melelahkan, namun menjadi hamba kebenaran jauh lebih menyenangkan! Di dalam kesadaran bahwa Allah yang memegang kendali atas APAPUN yang kita kerjakan, maka sebenarnya kehidupan kita menjadi sesuatu yang menyenangkan. Kita selalu bisa bersyukur atas apapun yang kita alami, termasuk di dalam hal-hal di dalam kehidupan kita yang mana kita punya suatu kerinduan tertentu. Pasangan hidup misalnya, ataupun pekerjaan, berbagai hal lain yang kita nantikan. Kita bisa saja lelah di dalam penantian itu, sungguh! Karena kita berpikir bahwa “Tuhan, ini sudah waktunya! Saya sudah tidak sabar!” dan kita merasa bahwa kita siap mendapatkan sesuatu namun belum mendapatkan jawaban dari Tuhan, akhirnya kita lelah.

Itulah momen di mana kita perlu duduk diam dan tenang dan mulai merenungkan apa yang sudah dikerjakan Tuhan di dalam hidup kita. Tidak perlu jauh-jauh, kalau tidak ada satu hal pun yang terasa baik di dalam kehidupan kita, bukankah kita dapat bersyukur kalau hari ini kita masih bisa hidup? Bukankah kalau hari ini kita masih bisa bernafas dengan gratis, tidak seperti orang-orang yang harus mengenakan tabung oksigen untuk bernafas? Selalu ada ruang untuk kita bersyukur, yang perlu kita lakukan adalah duduk diam dan mulai merenungkan apa yang sudah Allah lakukan dalam kehidupan kita, sampai akhirnya kita bukan hanya bisa mengatakan bahwa Tuhan itu baik, tapi benar-benar menghidupi kalimat itu.

Saya menutup artikel ini dengan sebuah kalimat dari Dr. Ravi Zacharias, sebagai berikut:

"As we move along in our busy life as a businessperson, moving on a hectic pace, pausing to learn the true value of nothing, but moving on and on and on, will you take time enough today to pause and ask yourself, how much God loves you? That He cares for you. Of for those of you who live in insecurities and does not have much more to offer, isn’t it wonderful to know, that He’s given Himself for you. If God could say through Isaiah “what more have I done to you that I’m not already done”, how much more could He said after the cross, where He sends His son to lay down His life for you and for me. God’s love: undeserving, grows on relationship, desperately needed."

(Selama kita menjalani kehidupan kita sebagai seorang bisnisman, yang mana kita hidup di dalam kelelahan dan berhenti sejenak untuk mempelajari hal-hal yang sebenarnya tidak bernilai, dan kita terus bergerak, apakah hari ini kita sudah duduk diam sejenak dan bertanya kepada diri kita sendiri, seberapa besar Allah mengasihi kita dan bahwa Ia memperhatikan kita. Bagi setiap kita yang hidup di dalam ketidakmampuan dan tidak memiliki hal apapun yang kita dapat berikan, bukankah ada satu kabar baik bagi kita, bahwa Dia telah memberikan diriNya bagi kita. Apabila Tuhan dapat berkata melalui nabi Yesaya “Apatah lagi yang harus diperbuat  yang belum Kuperbuat kepadanya?” (kutipan dari Yesaya 5:4), maka seberapa besar yang dapat Ia berikan setelah Ia disalib, yang mana Dia mengirimkan PutraNya yang tunggal untuk menyerahkan nyawaNya bagi anda dan bagi saya. Kasih Allah: tidak layak untuk kita terima, bertumbuh di dalam relasi, dan sangat amat dibutuhkan.)

Semoga tulisan ini bisa mengingatkan kita bahwa di tengah kesesakan kita hidup di dunia ini sebagai orang Kristen, ada banyak hal yang dapat kita lakukan, namun jangan lupakan untuk kita tetap sediakan waktu untuk duduk sejenak saja dan merenungkan karya Tuhan dan apa mau Tuhan di dalam kehidupan kita.

Soli DEO Gloria!

Sunday, March 31, 2013

Refleksi Paska - Kematian dan Kebangkitan Kristus dan Bagaimana Memaknainya


Paska identik dengan suatu perayaan mencari telur. Tradisi ini sangat umum apabila dilihat di negara-negara di Eropa. Satu film yaitu Rise of The Guardians menunjukkan betapa Paska merupakan suatu hari yang dinanti-nantikan oleh anak-anak. Lebih jauh lagi, Paska mengingatkan juga pada Easter Bunny, seekor kelinci yang melompat-lompat dan menyembunyikan telur yang diwarna-warni.

Nah bagi orang Kristen sendiri, Paska menjadi suatu peringatan yang luar biasa. Sang Juruselamat yaitu Yesus sendiri menyerahkan nyawaNya untuk menebus dosa umat manusia. Sola Gratia! Ya, semuanya itu adalah anugrah yang luar biasa. Karya keselamatan itu dimulai dari pelayanan Tuhan Yesus yang ‘mengganggu’ sistem agama saat itu, kemudian diwarnai dengan pemberontakan muridNya yaitu Yudas akibat kekecewaannya. Selain itu juga diwarnai dengan berbagai berita alkitab yang mana sudah dinubuatkan di Perjanjian Lama oleh Nabi Yesaya. Yesaya 53 memberitakan tentang Sang Juruselamat jauh sebelum Tuhan Yesus hadir di dunia sebagai 100% manusia dan 100% Allah.

Berita Paska menjadi suatu berita yang menarik, bagaimana tidak, karena karya keselamatan dilakukan Allah, dengan kematian Tuhan Yesus, murka Allah dipuaskan, dan dosa manusia dibasuh bersih oleh anugrah. Oleh Adam, seluruh manusia membawa natur dosa, dan oleh Kristus semua manusia dibersihkan. Sebagai orang Kristen kita boleh percaya bahwa sudah ada suatu tempat yang disediakan bagi kita.

Di dalam keselamatan karena karya Allah tersebut, pertanyaannya adalah, sudah sejauh apa kita memaknai arti Paska yang sebenarnya? Apabila kita mencoba mendalami karya keselamatan Allah, tidak bisa dilepaskan darinya adalah tanggung jawab manusia SETELAH kita diselamatkan oleh Allah sendiri. Maksudnya adalah, setelah kita menerima ANUGRAH dari Tuhan sendiri, apa yang harus kita lakukan?

Kekristenan tidak melulu bicara tentang surga dan neraka. Seorang percaya dapat menjadi percaya kepada Tuhan, bukan karena dia takut akan neraka, namun lebih jauh dari itu, dia telah dipilih oleh Allah, entah bagaimana caranya baik melalui orang lain ataupun segala karya Allah di dalam hidupnya. Jadi kekristenan yang sejati berawal dari inisiatif Allah sendiri. Seluruhnya adalah inisiatif dari Allah, dan manusia hanya dapat memaknai inisiatif tersebut dengan belajar mengenal dan memuliakan Allah sepanjang waktu. Kalau kekristenan kita hanya didasari dengan ketakutan kita akan masuk neraka, apakah benar kita mengasihi Tuhan seperti yang Yesus katakan: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37-39)

Kembali kepada Paska, yang mana merayakan kematian Tuhan Yesus dan kebangkitanNya mengatasi maut. Bukankah ini merupakan berita sentral di dalam Kekristenan? Ya, inilah berita sentral dari karya keselamatan yang dilakukan oleh Allah dengan merelakan AnakNya yang tunggal untuk menjadi buah sulung. (1 Korintus 15:23) Bagaimana sikap kita sebagai orang Kristen menanggapi panggilan ini? Berita sentral ini tentunya perlu kita tanggapi dengan penyerahan diri penuh kepada Tuhan. Ya, Paska menjadi suatu momen yang mengingatkan kita tentang pengorbanan Tuhan Yesus, namun lebih dari itu kita sebagai umatNya diajak untuk meneladani sikapNya.

Tentu bukan hal yang mudah di dalam meneladani sikap Kristus. Tetapi justru momen Paska juga mengingatkan kita untuk START OVER. Maksudnya? Paska merupakan suatu perayaan yang mana diambil dari pada saat umat Israel keluar dari Mesir, dipimpin oleh Musa. Bangsa itu mulai merayakan Passover. Nah pembebasan dari Mesir ini merupakan suatu gambaran yang luar biasa, bagaimana Allah melalui AnakNya sendiri melepaskan kita dari belenggu dosa. Mengutip lagu dari Les Miserables: “Come with me, where chains will never bind you, All your grief, at last at last behind you”. Inilah gambaran janji Allah di dalam Paska.

Setiap kejadian dalam hidup kita, itu merupakan campur tangan dan rencana Allah di dalam kehidupan kita. Allah yang bangkit, Allah yang melalui Yesus Kristus, menebus dosa manusia dan Allah itulah yang terus berkarya di dalam kehidupan umat manusia sampai saat ini. Dialah yang berkuasa atas kehidupan kita, Dialah yang berdaulat atas kehidupan kita. Tinggal saat ini bagaimana kita sebagai saudara Kristus menjadi rekan sekerjaNya. Memberitakan kabar baik ini, yang mana fokusnya adalah Kristus sendiri yang sudah menyelamatkan umat manusia dari jeratan maut. Ialah Allah yang menguasai seluruh kehidupan kita dan Ia yang akan menuntun kita sepanjang kehidupan kita (Mazmur 23). Ia adalah Allah yang setia, yang di dalam kedaulatanNya sudah merencanakan sesuatu yang baik (Roma 8:28) dan sekalipun kita kadang tidak memahamiNya karena rancanganNya yang begitu berbeda dengan kita (Yesaya 55:8).

Itulah peran yang secara aktif diberikan Allah bagi setiap kita yang percaya kepadaNya. Maukah kita ambil bagian di dalam blueprint Allah? Apakah kita mau menjawab panggilan itu, sebagai seorang hamba yang patuh kepada Tuannya. Sebagai seorang hamba yang kalau Tuannya memanggil, hamba itu tidak boleh tidak taat dan bersyukur kalau Tuannya masih mau memakai dia?

Selamat Paska. Selamat menikmati Karya Tuhan dan terus memuliakanNya

Soli Deo Gloria

Sunday, March 17, 2013

Berharap Kepada Allah


Indonesia, dengan segala permasalahannya dan segala kegalauannya dewasa ini tentunya membuat kita sebagai orang Kristen melihat dan berpikir: “Apa yang sebenarnya dilakukan oleh orang-orang ini?” Tidak hanya orang Kristen sih, tetapi sebagian besar rakyat Indonesia!

Ada sekitar 560 anggota DPR, ketika mereka berangkat studi banding ke luar negeri, kemudian tiba-tiba pesawat yang mereka naiki menabrak gunung dan pesawat itu jatuh dan hancur, sebuah pertanyaan: “Berapa orang yang selamat?” Suatu jawaban yang penuh dengan sinisme adalah “250 juta jiwa”. Lho kok bisa? Ya, 250 juta rakyat Indonesia akan selamat!

Jawaban ini sangat luar biasa! Dari jawaban tersebut dapat dilihat betapa Indonesia saat ini terlihat sebagai suatu bangsa yang terpuruk. “Bangsa ini sedang sakit!” demikianlah ungkap seorang tokoh di Indonesia. Selain itu, seorang dalang yang merupakan budayawan dari Indonesia berkata: “Negeri ini sudah gila, korupsi dari sapi hingga kitab suci” Ungkapan ini tentunya datang dari seseorang yang prihatin dengan keberadaan bangsa ini sebagai bangsa yang (dulunya dianggap) besar.

Apa yang dapat kita pelajari dari berbagai sinisme yang muncul di masyarakat saat ini? Orang-orang saat ini sedang berharap tentang adanya suatu perubahan yang radikal! Suatu perubahan yang mampu memberikan pengharapan bagi mereka yang bukan hanya tebar pesona. Bangsa ini sudah mulai lelah dengan berbagai kondisi yang ada, rakyat mulai tidak percaya lagi dengan pemimpin mereka saat ini di tengah badai polemik yang melanda bangsa ini.

Masih adakah pengharapan di tengah bangsa ini? Pertanyaan ini sejatinya juga mungkin ditanyakan orang-orang Israel pada masa mereka dibuang ke Babel. Allah yang berdaulat atas bangsa Israel, merupakan Allah yang memberikan pengharapan kepada orang-orang Israel. Nabi Yesaya menuliskannya, di dalam Yesaya 43-46 memperlihatkan janji Allah yang menyertai bangsa Israel. Itu pula sebenarnya yang sedang dilakukan Tuhan saat ini di tengah bangsa ini. Allah yang berdaulat adalah Allah yang tidak hanya memberikan janji tapi juga memang menguasai dunia ini!

Kepada apa sebenarnya kita menaruh pengharapan kita saat ini? Apabila kita membaca di injil menurut Yohanes 12:1-8 menunjukkan sebuah sikap menyerahkan hidup sepenuhnya di dalam Tuhan. Siapakah itu? Tentu saja Maria! Ya, di dalam perikop ini Maria menunjukkan sikap hidup menyerah sepenuhnya kepada Tuhan. Minyak Narwastu itu merupakan minyak yang sangat mahal! Yudas mencoba memberikan nilai minyak narwastu itu sebesar 300 dinar, yang mana 1 dinar setara dengan upah sehari orang-orang pada jaman itu. Jadi kalau dikonversi, sebenarnya itu adalah gaji kita satu tahun! Coba bayangkan apa sebenarnya yang sedang dilakukan oleh Maria pada saat itu.

Selain mencucurkan minyak narwastu itu di kaki Yesus, yang dilakukan oleh Maria berikutnya adalah menyekanya dengan rambutnya. Apa yang dapat dilihat dari sini? Kalau kita melihat bahwa rambut merupakan mahkota dari seorang perempuan, yang dilakukan oleh Maria ini berarti merupakan sikap yang benar-benar merendahkan diri di hadapan Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan Yesus adalah tempat dimana satu-satunya dimana ia dapat berharap. Ini tentu merupakan hal yang menarik, mengingat yang melakukan itu semua bukan 12 murid yang dipilih Yesus, melainkan seorang perempuan yang mana di jaman itu perempuan mendapatkan perlakuan yang sangat berbeda dengan laki-laki.

Sikap seperti ini mengingatkan kita, kepada siapa sebenarnya kita berharap. Paulus juga mencoba memberikan sebuah insight kepada kita mengenai pengharapan. Mari kita coba lihat di dalam Filipi 3. Paulus, yang dikenal sebagai seorang Yahudi yang taat, merupakan ahli taurat yang cukup “mengerikan” pada jaman itu. Sosok Saulus yang dikenal sebagai penganiaya jemaat, dan melaksanakan hukum taurat dengan sangat taat, mungkin bagi Saulus adalah suatu kebanggaan tersendiri. Ia tidak membutuhkan juru selamat karena ia adalah orang yang suci, itulah anggapannya. Tetapi di dalam suratnya kepada jemaat di Filipi ia menuliskan betapa sebenarnya hidupnya itu tidak ada artinya. Kehidupan lama yang ia bangga-banggakan tidak berharga dibandingkan dengan pengenalannya akan Kristus.

Apabila kita cermati juga di dalam kehidupan Paulus, di dalam surat-surat yang Ia tuliskan kepada jemaat, ada sesuatu yang menarik. Awalnya ia menganggap bahwa ia tidak lebih tinggi dari para rasul (1Korintus 15:9). Berikutnya ia menganggap bahwa ia adalah orang yang paling rendah diantara orang percaya , dan akhirnya ia mengakui bahwa dirinya adalah orang yang paling berdosa diantara semua orang (1Timotius 1:16). Itulah pengharapan Paulus, yaitu pada saat ia menggantungkan seluruh hidupnya kepada pengenalan akan Tuhan Yesus.

Kepada siapakah saat ini kita berharap? Pemazmur menuliskan di dalam Mazmur 121 dengan sangat indah. Inilah janji Tuhan yang luar biasa. Mazmur 126 juga menyatakan hal tentang pengharapan kita, bahwa Allah sedang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang luar biasa! Roma 8:28 menunjukkan bahwa segala hal di dunia ini dirancangkan untuk kebaikan kita yang mengasihi Allah, dan janji Tuhan di dalam Wahyu 21:4, Ia akan menghapuskan segala air mata!

Kiranya tulisan singkat ini dapat mengingatkan kita betapa besar Allah dan betapa kemuliaan Allah adalah satu-satunya tempat kita dapat berharap. Tuhan Yesus yang merelakan nyawanya menjadi tebusan bagi orang banyak, kiranya kehidupan kita pun mencerminkan apa yang Tuhan Yesus lakukan. Marilah kita memiliki kehidupan yang bergaul dengan Allah, melalui kebenaran Firman Tuhan dan juga tidak hanya memberikan warna di alkitab kita, hendaknya kehidupan kita pun juga diwarnai oleh kebenaran firman itu sendiri sehingga kita bisa memancarkan kemuliaan Allah di dalam kehidupan kita.

Soli Deo Gloria