Total Pageviews

Showing posts with label prinsip. Show all posts
Showing posts with label prinsip. Show all posts

Sunday, November 24, 2013

Kenosis - Panggilan Hidup Orang Percaya

Background
Sebuah refleksi kehidupan orang percaya adalah bagaimana kita menjadi seperti Allah, seperti seorang percaya yang selalu mau berbuah dan berubah. Sebelumnya, kita harus memahami karakter Allah. Di dalam diri Yesus Kristus, dapat dilihat bahwa Dia sendiri adalah 100% Allah, dan 100% manusia. Tuhan Yesus masih mampu mengalami kesakitan pada saat Dia disalib.

Fakta bahwa Tuhan Yesus merasakan kesakitan, ia merasa haus, dan ia pernah merasa lapar, itu menunjukkan bahwa Yesus adalah 100% manusia. Tetapi di tengah kesakitan itu, Ia memperlihatkan keilahian yang luar biasa. Yohanes 1:1 menunjukkan keilahian-Nya, Yohanes 14:6 menunjukkan kuasa memberikan hidup, Matius 28:18 menunjukkan Ke-Mahakuasaan-Nya, Markus 2:5 menunjukkan Ia memiliki kuasa pengampunan, Matius 25:31-46 menunjukkan bahwa Ia juga diperbolehkan untuk menghakimi manusia. Hal itulah yang menunjukkan bahwa Ia juga 100% Allah.

Tuhan Yesus Sebagai Raja, Nabi, dan Imam
Ada perbedaan antara Tuhan Yesus dengan manusia biasa. Tuhan Yesus sebagai raja, Ia adalah raja yang paling unik. Ia tidak dipilih oleh manusia, Ia dipilih oleh Allah, dan Ia diperkenankan oleh Allah.

Sebagai nabi, manusia tidak luput dari dosa. Sebagai nabi, seseorang dapat menyatakan Firman yang BENAR, tapi tindakan yang ia lakukan dalam kehidupan kesehariannya bisa saja tidak sesuai dengan apa yang Ia firmankan. Sebagai Nabi, Tuhan Yesus adalah firman itu sendiri. Firman yang hidup dan seluruh tindakan yang Ia lakukan adalah kehendak Allah.

Sebagai Imam, manusia bertugas untuk menjadi penghubung antara Tuhan dan manusia. Dalam artian bahwa ketika seseorang berdosa, seorang imam akan mendaftar apa saja yang harus orang berdosa tersebut lakukan. Ia akan melihat di kitab taurat apa saja yang harus orang tersebut persembahkan. Berbeda dengan Tuhan Yesus, Ia menjadikan diriNya sendiri sebagai korban persembahan tersebut.

Kenosis (Filipi 2:6-7)
Kata kenosis disebutkan 24 kali. Beberapa arti dari kenosis:
1.     Menjadikan dirinya menjadi sia-sia
2.     Menjadi tidak mempunyai pegangan apapun, atau tidak ada apapun yang bisa diandalkannya
3.     Menjadi tidak berguna atau tidak ada gunanya sama sekali.
4.     Menjadikan diri di dalam mengusahakan sesuatu menjadi tidak mencapai suatu hasil
5.     Menjadi bebal, atau sebaiknya dibuang saja.

Filipi 2:6-7  yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Ayat ini menunjukkan apa yang dilakukan Yesus. Ia tidak memilih untuk meninggikan kita menjadi Allah, melainkan Ia mengosongkan diri, menjadi mirip seperti kita. Merasakan berbagai kesakitan dan kehancuran yang ada di dunia ini. Allah bisa saja membuat kita menjadi orang-orang yang tidak berdosa, tetapi itu tidak Ia lakukan. Sebaliknya Ia menggunakan cara yang sungguh menyakitkan Dia sendiri, memberikan Yesus Kristus sebagai penebus dosa-dosa yang telah kita perbuat.

Dosa dan Penebusan Yesus Kristus
Hal yang harus kita ingat adalah karya keselamatan di dalam diri Tuhan Yesus. Dapat dilihat pada Filipi 2:8 “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Apa yang menyebabkan salib itu? Itu adalah konsekuensi dari dosa manusia. Seluruh dosa manusia ditanggung dan keselamatan digenapi dalam diri Yesus Kristus.

Poin penting dari penebusan Yesus Kristus adalah KETAATAN-Nya pada kehendak Bapa. Kenosis disini lebih mengarah kepada ketaatan-Nya sampai Ia mati di kayu salib. Salib bukanlah tanda dari kenosis, keseluruhan kehidupan Tuhan Yesus menunjukkan Allah yang sudah merendahkan diriNya.

Kasih tidak dapat dipisahkan dengan keadilan. Dosa begitu merusak kehidupan manusia, sehingga bahkan Allah sendiri yang turun. Mana ada agama di dunia yang memperlihatkan Allahnya sebagai sampah, sebagai seorang yang harus menebus, Ia menjemput umat manusia. Ia mengejar umat manusia, seperti yang dinyatakan oleh Francis Thompson dalam puisinya: The Hound of Heaven, yang mana Tuhan digambarkan sebagai pribadi yang tanpa lelah mengejar mangsaNya.

Kenosis dalam Konteks Misi
Kalau kita sudah memahami dalam diri Tuhan Yesus, Ia merendahkan diriNya sebegitu rendah seperti manusia berdosa, begitu pula yang seharusnya kita sebagai orang Kristen lakukan. Aplikasinya adalah kita belajar untuk taat pada kehendak Bapa di dalam misi kita untuk menyebarkan injil, menjadi firman yang hidup. Apa artinya? Di tengah dunia yang jatuh dalam dosa, kita harus belajar untuk merendahkan diri kita, menjadi serupa dengan orang-orang luar sana.

Ketika kita bertemu dengan orang-orang yang kelihatannya lebih berdosa daripada kita (seringkali kita berpikir lebih bejat), kita cenderung memisahkan diri dengan mereka. Kita cenderung menghindari konfrontasi dengan orang-orang yang “hina”, dalam artian kita hanya mau melihat orang-orang sepelayanan kita. Kita melupakan apa yang telah dilakukan Tuhan Yesus.

Siapa kumpulan Tuhan Yesus? Selama hidupnya, Tuhan Yesus tidak merasa nyaman dengan orang-orang yang dianggap suci di tengah masyarakat (orang farisi dan ahli taurat), melainkan ia berkumpul dengan pemungut cukai, orang-orang yang dipandang rendah di dalam masyarakat Yahudi saat itu.

Tidak mudah untuk kita memiliki pemikiran seperti Yesus. Sangat sering kita menghindar dari komunitas orang yang sudah “hancur” tetapi kita terlalu nyaman dengan komunitas kita. Kita lupa bahwa Tuhan Yesus, di dalam pelayananNya tidak melihat itu semua. Tuhan melihat iman seseorang, bukan apa yang ia lakukan selama kehidupannya. Akhirnya peran kita sebagai garam, kita malah mengasini lautan yang sudah sangat asin, ataupun kita bersinar di tempat yang sudah penuh dengan penerangan.

Orang Kristen yang menolak sistem kasta, malah sebenarnya kita sendiri sudah membentuk kasta-kasta dalam kehidupan kita. Kita melupakan apa yang sudah dilakukan Tuhan Yesus di dalam kehidupan kita. Terlalu nyaman dalam komunitas kita sampai kita lupa peran kita sebagai orang Kristen. Akhirnya kita membentuk sebuah komunitas yang “super eksklusif”. Apa maksudnya? Kita melihat orang-orang yang masuk ke sana adalah orang-orang yang suci. Kita mendefinisikan kesucian, membentuk taurat-taurat yang baru, menjadi orang farisi modern, lupa apa yang sudah Tuhan Yesus lakukan buat kehidupan kita.

Kenosis : Panggilan Orang Percaya
Memaknai panggilan kita sebagai orang-orang yang sudah terlebih dahulu dilayani oleh Allah, jelas bahwa kita pun dipanggil untuk melakukan pelayanan seperti Yesus. Tuhan Yesus menunjukkan dengan jelas bahwa di tengah radikalnya ajarannya, ia tetap dapat membaur. Ia dapat membedakan toleransi dan kompromi. Ia dapat masuk ke masyarakat pada konteks jaman Yahudi pada waktu itu. Ia dapat merendahkan diriNya sebagai manusia, dihina, disakiti, bahkan mati di kayu salib.

Kita sebagai orang percaya tentunya memiliki kewajiban yang sama dengan apa yang sudah dilakukan Yesus. Melebur ke masyarakat, tetapi tidak larut dalam kehidupan mereka. Cara yang terbaik untuk dapat masuk ke masyarakat adalah dengan memasuki kehidupan mereka, bukan menghilangkan identitas kita sebagai orang percaya, tetapi menampilkan gaya hidup yang sama sekali berbeda meski kita menjadi seperti mereka. Merendahkan diri, menjadikan diri “kita” sama dengan “mereka”, dan tentunya menyamakan “bahasa” yang mereka pakai.

Sebuah ilustrasi yang menarik:
Seorang penginjil memiliki tugas untuk membuat anak-anak kecil yang tertangkap karena mencuri untuk sekolah. Bagaimana caranya memberikan tawaran tersebut kepada mereka?
Penginjil: saya bisa memberikan kamu kekayaan, pendapatanmu bisa sampai 30x – 50x daripada sekarang. Bagaimana? Tertarik?
Anak-anak itupun tercengang, dan mereka bertanya kepada penginjil itu: bagaimana bisa pak? Kami penasaran caranya!
Penginjil itupun mengatakan: pencurian yang kalian lakukan adalah tindakan bodoh, ada cara yang lebih smart! Kalian lihat pencuri-pencuri yang berdasi, yang ada di pemerintahan sekarang?
Anak-anak itu terbengong-bengong. Penginjil itu melanjutkan: mereka itu bisa punya penghasilan 30-50 kali lipat daripada yang kalian lakukan. Sudah begitu mereka bisa jadi tokoh masyarakat loh! Gimana? Perbedaannya sama kalian adalah: mereka SEKOLAH, mereka PINTAR, berbeda dengan kalian.

Menarik sekali ilustrasi ini. Ketika kita berbicara dengan kumpulan pencuri, maka kita juga harus berbicara dengan “bahasa” mereka. Pointnya bukan berarti kita setuju koruptor, tapi bagaimana cara kita untuk dapat mendekati orang-orang yang akan kita ajak untuk lebih mengenal Tuhan Yesus. Butuh latihan untuk hal ini, tidak semua orang pintar dapat melakukannya. Tuhan tidak mencari orang dengan kemampuan teologi yang tinggi, tapi hatinya tidak mau merendahkan diri, yang dapat berkumpul dengan pendosa-pendosa. Kita pun adalah pendosa, yang mana Kristus sudah hadir untuk kita, menjalankan misinya, Ia taat menjalankan rencana Bapa dalam kehidupan-Nya. Bagaimana dengan kita?


Soli Deo Gloria

Monday, August 5, 2013

Yerusalem! Let’s Go There! Sebuah Perenungan Tentang Visi dan Tujuan Hidup

Seringkali orang bertanya: apa sih tujuan hidupmu? Ini suatu pertanyaan yang mungkin sangat susah dijawab. Bagi orang Kristen, jawabannya sangat sederhana: “Memuliakan Tuhan dan menikmati Dia sepanjang waktu” seperti yang tertulis di Katekismus Singkat Westminster pertanyaan pertama. Sesederhana itu? Ternyata tidak juga. Sangat global bahkan. Memuliakan Tuhan? Seperti apa sih memuliakan Tuhan itu? Menikmati Tuhan?

Satu hal yang perlu kita pegang adalah: Mau atau tidak mau, suka atau nggak suka, Allah sudah merencanakan sesuatu di dalam hidup kita. Setiap detailnya sudah Tuhan atur sedemikian rupa. Ingat, Ia adalah Allah dengan kedaulatan yang penuh.

Sebuah refleksi dari Lukas 18:31 dan 34

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu berkata kepada mereka: "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi.
(Luk 18:31)

Akan tetapi mereka sama sekali tidak mengerti semuanya itu; arti perkataan itu tersembunyi bagi mereka dan mereka tidak tahu apa yang dimaksudkan.
(Luk 18:34)

Di dalam konteks visi dan tujuan hidup, ada beberapa prinsip yang kita bisa dapatkan dari ayat ini. Saya mencoba merefleksikannya:
1.       “Yesus memanggil kedua belas murid-Nya” lihat siapa yang Yesus ambil sebagai murid. Apakah mereka adalah orang-orang yang hebat? Secara manusiawi, mereka bukanlah orang-orang yang terpelajar. Mereka bukan orang-orang yang punya skill tinggi. Barangkali kalau diumpamakan sekarang, mereka bukanlah orang-orang seperti Bill Gates yang jenius, ataupun seperti Steve Jobs. Mereka bukan orang-orang yang bisa diandalkan. Bahkan mereka adalah orang-orang yang sebenarnya tidak memiliki apa-apa (dalam pengertian tertentu).
Namun orang-orang seperti inilah yang dipilih Tuhan menjadi orang-orang yang paling dekat dengan Dia. Orang-orang seperti Petrus yang sangat ceplas-ceplos, Thomas sang peragu, Matius yang merupakan pemungut cukai – apa hebatnya?
Tetapi nyatanya orang-orang seperti ini yang dipakai Tuhan bukan? Petrus yang berkotbah hingga menghasilkan 3000 orang bertobat. Thomas yang pada akhirnya mati martir di India. Ada banyak kisah, namun prinsip di sini adalah:

“Allah tidak memilih orang yang mampu melayani Dia dengan kekuatannya sendiri, tetapi Ia memilih orang-orang yang sadar betul bahwa tanpa Dia, ia tak bisa hidup dan ia bukanlah apa-apa”

2.       “Sekarang kita pergi ke Yerusalem…” Panggilan Allah itu terjadi secara real time di dalam hidup kita. Itu berarti bahwa di dalam kita menjalani hidup kita, panggilan Allah itu selalu nyata. Pertanyaannya adalah: kita peka atau tidak terhadap panggilan itu? Yerusalem adalah tempat di mana Tuhan Yesus akan menjalani rencana Allah yang ada di dalam diriNya. Itu adalah visi yang ditetapkan Allah dan Ia pergi ke sana untuk menjalaninya. Seutuhnya Dia patuh atas kehendak Bapa, sekalipun Ia tahu bahwa pada saat itu pula Ia akan dihujat, dicela, dan pada akhirnya disalib.
Bagaimana dengan hidup kita? Apakah kita sudah belajar untuk mengarah ke Yerusalem kita? Suatu tempat yang mana Allah memerintahkan kita untuk taat kepada panggilanNya. Tidak enak memang, apalagi kita tahu bahwa mungkin Yerusalem itu adalah tempat yang sangat jauh dari zona nyaman kita, tetapi Allah mengutus kita kesana. Bukankah itu suatu privilege yang luar biasa yang sudah disediakan Allah? Inilah prinsip berikutnya:

“Mau tidak mau, suka tidak suka, Allah sedang menuntun kita ke Yerusalem. Perlahan namun pasti Ia akan membawa kita menuju ke sana, dan Ia tidak main-main atas panggilan itu”

3.       “..dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi”. Tuhan Yesus tahu dengan segala resiko yang akan Ia alami saat Ia taat kepada Bapa, dan Ia taat! Di sinilah terlihat bagaimana kehendak Bapa ada di atas kehendak kita. Suka atau tidak, kita pasti akan mengalaminya juga. Tinggal tunggu waktu kapan Allah menggerakkan hati kita untuk melakukan sesuatu dalam hidup kita. Ia sedang melakukan sesuatu dan itu berarti kita tidak bisa menolaknya. Mungkin ada kalanya kita melihat bahwa rencana Allah itu merupakan suatu kegagalan di dalam hidup kita. Salib pada zaman itu identik dengan suatu kegagalan yang luar biasa. Salib adalah lambang kehinaan pada waktu itu. Namun demi menjalankan rencana Bapa, Tuhan Yesus melihat itu sebagai suatu keberhasilan.

“Apa yang dipandang orang sebagai suatu kegagalan, itu merupakan suatu keberhasilan di hadapan Tuhan. Kesuksesan kita sebagai orang beriman diukur dari rencana Tuhan apa yang sudah kita lakukan untuk kemuliaanNya.”

4.       “.. mereka sama sekali tidak mengerti..” Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Tuhan Yesus, bukan? Ya. Mereka yang dimaksud di sini adalah para rasul, orang-orang yang mendampingi Tuhan Yesus kemanapun Ia pergi. Bahkan orang-orang terdekatnya pun tidak mengerti apa yang Yesus maksud saat itu.
Sama juga mungkin dengan hidup kita. Kita merasa kehidupan kerohanian kita sudah dekat dengan Tuhan, tetapi sebenarnya kita tidak tahu apa yang Tuhan mau di dalam hidup kita. Bukankah ini sesuatu yang mengerikan? Ya betul! Kita terlalu sibuk untuk pelayanan mungkin, tetapi di dalam pelayanan itu, kita lupa menjaga relasi kita dengan Tuhan. Akhirnya pelayanan itu bukan merupakan sarana untuk memuliakan Tuhan, namun sebagai suatu sarana lain.
Prinsip yang berikutnya yang penting adalah:

“Hal yang paling indah dalam hidup kita adalah mengetahui apa yang Tuhan mau di dalam hidup kita, sehingga apapun yang kita kerjakan adalah untuk kemuliaan Tuhan. Semuanya itu dimulai dari relasi yang semakin dekat dengan Dia”

Jadi, siapkah kita melangkah menuju Yerusalem? Apakah kita mau mulai merenungkan kembali apa yang jadi tujuan hidup kita sebenarnya? Mungkin panggilan kita adalah peran yang kita lakukan saat ini di tempat kerja kita. Mungkin kita dipanggil ke daerah terpencil dan mengabarkan injil di sana. Mungkin pula kita diutus ke ranah politik. Apapun itu, mari kita belajar untuk terus menikmati proses yang dari Tuhan.


Soli Deo Gloria

Sunday, May 26, 2013

Sukses Adalah Mengerjakan Rencana Allah Dalam Kehidupan Kita


Pernahkah kita dengar slogan: “SUCCESS IS MY RIGHT”? Tentu saja setiap kita yang pernah bekerja ataupun mengikuti seminar-seminar motivasi sangat asyik sekali manakala pembicara mengajak kita untuk berteriak bersama-sama slogan tersebut. Bukan hanya di seminar motivasi, bahkan di gereja pun terkadang mengajarkan seminar semacam ini, tapi tetap saja sebenarnya pembicara yang diundang merupakan seorang motivator.

Sepintas anggapan tersebut memang sangat benar. Kesuksesan itu semulanya berawal dari diri sendiri juga. Menjadi seorang yang sukses adalah hak kita! Ya benar! Manakala kehidupan kita dipenuhi oleh harta dan tahta, tentu seseorang merasa bahwa dirinya sudah sukses. Orang menjadi puas dan kemudian dari pertanyaan “hari ini makan apa?” menjadi pertanyaan “hari ini makan SIAPA”.

Inilah realita hidup di dalam dunia yang jatuh di dalam dosa. Apabila kita belajar untuk mengamati bahwa kecenderungan perkembangan teknologi dan masyarakat saat ini mengarah kepada teknologi yang ‘personalized’, dan mengakibatkan perasaan bahwa manusia adalah center of attention. Lihat saja berbagai social media yang saat ini lebih digunakan untuk memamerkan sesuatu, seolah-olah seluruh dunia harus tahu apa yang sedang kita rasakan dan kita lakukan. Aktivitas sehari-hari menjadi suatu aktivitas yang harus dipublikasikan.

Realita ini menunjukkan bahwa ternyata hidup itu adalah tentang “aku” dan “diriku”. Kalau bisa ya juaranya AKU, dan akhirnya menimbulkan suatu budaya narsisistik. Budaya yang mana mengutamakan diri sendiri dan menganggap bahwa yang paling membanggakan bagi seseorang adalah manakala ia dipuji dan eksistensi dirinya diakui oleh orang lain, tanpa peduli apapun cara yang ia lakukan untuk mencapainya.

Namun apakah kehidupan ini hanya untuk diri sendiri saja? Saya rasa tidak. Mau tidak mau, kita selalu berinteraksi dengan orang lain di sekitar kita. Dulu saya ingat jaman saya sekolah ketika ditanya: “kalau besar, kamu mau jadi apa?” jawaban yang sangat umum kita dengar adalah “dokter”. Namun sekarang saya membayangkan, apabila semua orang berprofesi menjadi seorang dokter, dan dokter dianggap sebagai pekerjaan yang paling top, maka tidak akan ada produk-produk teknologi tinggi yang mulai marak saat ini.

Saya teringat suatu kisah dari rekan saya, yang mana ia adalah seorang yang sangat kaya dan punya posisi penting di dalam pekerjaannya. Selain itu dia adalah seorang yang sangat pandai dan cerdik, sehingga disukai semua orang disekitarnya. Suatu hari, dia sharing kepada saya tentang bagaimana ternyata hidupnya sangat berat dan dia hampir saja memutuskan untuk bunuh diri. Ironis bukan? Seorang kaya dan pintar, dia punya segalanya, namun hampir memutuskan untuk bunuh diri? Ternyata dia masih saja tidak puas dan tidak puas akan apapun yang ia miliki. Kesuksesannya adalah mengumpulkan sebanyak mungkin uang dan harta, namun satu poin yang ia tidak punya adalah bagaimana ia struggle untuk menghadapi masalah. Hal yang ia lakukan kemudian adalah ia mulai mencoba untuk ke gereja dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Saat itu pula ia sadar bahwa kita punya kepintaran dan kekayaan sebanyak apapun, ternyata di hadapan Tuhan, kita ini nggak lebih dari butiran debu.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa kalau tujuan kita di dunia ini hanya berjuang dan berjuang sambil terus mengagung-agungkan diri kita sebagai center of the world, sebagai pusat dunia, maka bisa-bisa kita “hilang”. Mengutip perkataan Max Lucado “Ketika Tuhan memandang kepada pusat alam semesta, Dia tidak memandang kamu”[1]. Bukankah ini menarik? Kita ini sebenarnya bukan siapa-siapa, namun kita sibuk mendapatkan pengakuan dari orang-orang di sekitar kita. Kita jadi iri hati kalau kita tidak diakui sedangkan orang lain diakui. Kita selalu ingin jadi orang yang nomor satu dalam segala hal, namun kita lupa betapa menjadi nomor satu itu sebenarnya bukan tujuan hidup kita!

Pola pikir itulah yang menjadi masalah: kita ingin selalu menjadi nomor satu, dan tidak heran tingginya angka stress dan kematian di Jepang menjadi akibatnya. Sebenarnya ketika kita sudah menjadi nomor satu, mau apa sih? Sistem ranking kemudian dibuat, dan pada akhirnya sistem tersebut malah menghancurkan mentalitas manusia. Sistem ini akhirnya membentuk suatu budaya “SEGALANYA BOLEH”.

Memang tidak salah untuk kita punya pola pikir bahwa kita ingin menjadi yang terbaik, tetapi di hadapan siapa kita ingin menjadi yang terbaik? Apakah di hadapan Tuhan? Ataukah di hadapan manusia? Kalau kehidupan kita sekadar menjadi yang terbaik di hadapan manusia, kita akan terjebak pada satu posisi dimana kita akan terus menerus tidak puas. Tetapi ketika kita belajar untuk berfokus dengan apa yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita, kita dapat melihat bahwa ternyata penyertaan kedaulatan Tuhan itu bukan hal yang omong kosong. Ketika Tuhan menyatakan diriNya dan kemudian melihat kita sebagai mutiara, maka sebenarnya yang terjadi adalah kita ini berharga. Mau sebrengsek apapun kehidupan kita, ketika kita mulai datang dan berlutut di hadapannya, mengakui bahwa Ia adalah Tuhan kita dan Juruselamat kita, maka Ia akan membebaskan kita. Bukankah alkitab juga menyatakan demikian?

Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
(1Yohanes 1:9)

Berfokus kepada Allah adalah suatu langkah iman, itu berarti bahwa dalam kesuksesan kita pun, kita percaya bahwa yang memberikan semuanya itu adalah Tuhan. Apabila kita sampai memiliki pemahaman bahwa segalanya adalah karena Tuhan, kita pada akhirnya akan dapat berkata seperti Ayub:

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"
(Ayub 1:21)

Apakah kita bisa mengatakan seperti itu manakala hidup kita mengalami hal-hal yang tidak nyaman? Kalau kita sukses, apakah kita masih bisa menyatakan bahwa Tuhan adalah Raja atas kehidupan kita? Bukankah ini suatu tantangan?

Kesuksesan bukanlah apa yang dapat kita capai sendiri. Kesuksesan itu bukan masalah hak kita. Allah yang mengaturnya dan kalau kita belajar melihat itu dari sudut pandang Allah, maka sukses adalah ketika kita bisa berjalan sesuai dengan track yang telah disediakan Allah di dalam kehidupan kita, menyadari providensi nya setiap waktu dan terus bergumul untuk memuliakan Dia sepanjang waktu kehidupan kita. Setiap orang punya jalan kehidupan yang sudah ditentukan oleh Tuhan, tetapi pertanyaannya adalah berapa banyak orang yang menyadari hal tersebut? Setiap kita punya peran, apapun itu, tetapi intinya sama, bahwa kita diciptakan untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia sepanjang waktu.

Soli Deo Gloria!




[1] Max Lucado di dalam bukunya It’s Not About Me (2012)

Thursday, May 9, 2013

Hectic Christianity - Sebuah Refleksi tentang Gaya Hidup Kekristenan


Kehidupan orang Kristen seringkali di dalam suatu kondisi yang sangat hectic. Maksudnya adalah di dalam kehidupan yang begitu cepat bergulir, tanpa adanya suatu kesempatan untuk kita bisa duduk tenang dan terus bekerja bahkan di dalam pelayanan kita sekalipun, baik di gereja maupun di tempat kerja, dan dimanapun, kita bisa kehilangan ketenangan hati kita. Inilah bahayanya ketika kita mulai menjadi orang Kristen yang sudah mulai terlibat pelayanan ataupun kegiatan yang membuat kita tidak bisa lagi menikmati Tuhan di dalam kesendirian kita. Mengapa? Karena hampir tidak mungkin kita punya suatu relasi, suatu waktu yang benar-benar personal dengan Allah.

Inti kehidupan Kristen, yang menjiwainya sebenarnya adalah personal relationship with God. Itu berarti memang kehidupan Kristen adalah kehidupan yang luar biasa, yang mana Tuhan yang imanen, Tuhan yang dekat dengan kita, adalah Tuhan yang ingin bergaul dekat dengan kita. Inilah yang terkadang setiap kita lupa, bahwa di dalam kehidupan kita, suatu saat kita perlu duduk diam sambil merenungkan betapa besarnya karya Tuhan di dalam nafas kita, di dalam kehidupan kita, di dalam hati kita, di dalam setiap hal yang kita lakukan. Suatu waktu yang menjadi sangat indah pada saat kita belajar untuk duduk diam, sambil merefleksikan betapa agung karyaNya di dalam kehidupan kita.

Masa penantian merupakan suatu masa yang membosankan, yang mana kita bisa saja berputar-putar di dalam kita menantikan sesuatu, dan kalau kita tidak sabar, maka kehidupan ini bisa “memakan” kita. Maksudnya? Ya kehidupan akan terus menggerogoti kita dengan berbagai hal yang menarik, yang membuat kita melupakan tujuan utama kita diciptakan sebenarnya untuk apa dan untuk siapa? Apabila kita tidak punya suatu pegangan di dalam menjalani kehidupan ini kita bisa terperangkap.

Ini menjadi suatu peringatan bagi kita. Penantian adalah suatu proses seumur hidup yang mana kita tentu saja melewati berbagai fasa kehidupan di dalam penantian itu. Maka dari itu, apabila kita tidak berhati-hati di dalam proses itu, kita menjadi orang yang tidak sabaran, yang mana pada akhirnya kita menjadi terburu-buru, kita akan missing berbagai poin yang harus kita jalani, akhirnya kita memilih untuk segera menyelesaikannya dengan cara yang tidak benar. Akhirnya kehidupan ini menjadi kehidupan yang sangat melelahkan. Kehidupan menjadi suatu waktu dimana penuh dengan tuntutan dan kita tidak mampu untuk menerima tuntutan itu karena berbagai sebab.

Nah di sinilah kita perlu merenungkan perkataan Tuhan Yesus di dalam injil Matius, di Matius 11:28-30, berbunyi demikian:

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan
(Matius 11:28-30)

Lalu mengapa sebagai orang Kristen kita bisa lelah? Mengapa rasanya menjadi orang Kristen menjadi suatu kehidupan yang penuh tuntutan dan kita tidak bisa merasakan damai sejahtera dari Allah? Mengapa kita melakukan sesuatu namun kita tidak dapat hidup dengan tenang dan dipenuhi aturan-aturan yang mengikat kita? Sebagai orang Kristen, secara komplit alkitab memberikan berbagai aturan dan ketetapan yang sangat mengikat kita, namun juga membebaskan kita. Rasul Paulus menuliskannya di dalam suratnya kepada jemaat di Korintus:

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
(2Korintus 5:17)

Ciptaan baru, kehidupan baru yang diberikan oleh Kristus melalui pengorbananNya di kayu salib membuat kita sadar bahwa kehidupan kekristenan adalah kehidupan yang mengikat, dalam artian kehidupan sebelumnya pun kita juga diikat oleh dosa. Setelah kita percaya akan karya Kristus di kayu salib, itulah momen di mana kita dilepaskan dari kehidupan lama kita dan mengenakan status baru yaitu orang yang sudah ditebus oleh Allah. Dari hamba dosa, menjadi hamba kebenaran. Bukankah ini suatu janji di dalam kehidupan yang tentunya menguatkan kita? Sama-sama menjadi hamba, tapi yang satu adalah menjadi hamba atas feeling guilty kita, atas dosa-dosa kita, dan sebagainya. Setelah menjadi seorang Kristen, kita menjadi hamba kebenaran, yang mana kita mendapatkan suatu anugrah yang luar biasa di dalam kehidupan keseharian kita.

Menjadi seorang hamba tentu saja akan melelahkan, namun menjadi hamba kebenaran jauh lebih menyenangkan! Di dalam kesadaran bahwa Allah yang memegang kendali atas APAPUN yang kita kerjakan, maka sebenarnya kehidupan kita menjadi sesuatu yang menyenangkan. Kita selalu bisa bersyukur atas apapun yang kita alami, termasuk di dalam hal-hal di dalam kehidupan kita yang mana kita punya suatu kerinduan tertentu. Pasangan hidup misalnya, ataupun pekerjaan, berbagai hal lain yang kita nantikan. Kita bisa saja lelah di dalam penantian itu, sungguh! Karena kita berpikir bahwa “Tuhan, ini sudah waktunya! Saya sudah tidak sabar!” dan kita merasa bahwa kita siap mendapatkan sesuatu namun belum mendapatkan jawaban dari Tuhan, akhirnya kita lelah.

Itulah momen di mana kita perlu duduk diam dan tenang dan mulai merenungkan apa yang sudah dikerjakan Tuhan di dalam hidup kita. Tidak perlu jauh-jauh, kalau tidak ada satu hal pun yang terasa baik di dalam kehidupan kita, bukankah kita dapat bersyukur kalau hari ini kita masih bisa hidup? Bukankah kalau hari ini kita masih bisa bernafas dengan gratis, tidak seperti orang-orang yang harus mengenakan tabung oksigen untuk bernafas? Selalu ada ruang untuk kita bersyukur, yang perlu kita lakukan adalah duduk diam dan mulai merenungkan apa yang sudah Allah lakukan dalam kehidupan kita, sampai akhirnya kita bukan hanya bisa mengatakan bahwa Tuhan itu baik, tapi benar-benar menghidupi kalimat itu.

Saya menutup artikel ini dengan sebuah kalimat dari Dr. Ravi Zacharias, sebagai berikut:

"As we move along in our busy life as a businessperson, moving on a hectic pace, pausing to learn the true value of nothing, but moving on and on and on, will you take time enough today to pause and ask yourself, how much God loves you? That He cares for you. Of for those of you who live in insecurities and does not have much more to offer, isn’t it wonderful to know, that He’s given Himself for you. If God could say through Isaiah “what more have I done to you that I’m not already done”, how much more could He said after the cross, where He sends His son to lay down His life for you and for me. God’s love: undeserving, grows on relationship, desperately needed."

(Selama kita menjalani kehidupan kita sebagai seorang bisnisman, yang mana kita hidup di dalam kelelahan dan berhenti sejenak untuk mempelajari hal-hal yang sebenarnya tidak bernilai, dan kita terus bergerak, apakah hari ini kita sudah duduk diam sejenak dan bertanya kepada diri kita sendiri, seberapa besar Allah mengasihi kita dan bahwa Ia memperhatikan kita. Bagi setiap kita yang hidup di dalam ketidakmampuan dan tidak memiliki hal apapun yang kita dapat berikan, bukankah ada satu kabar baik bagi kita, bahwa Dia telah memberikan diriNya bagi kita. Apabila Tuhan dapat berkata melalui nabi Yesaya “Apatah lagi yang harus diperbuat  yang belum Kuperbuat kepadanya?” (kutipan dari Yesaya 5:4), maka seberapa besar yang dapat Ia berikan setelah Ia disalib, yang mana Dia mengirimkan PutraNya yang tunggal untuk menyerahkan nyawaNya bagi anda dan bagi saya. Kasih Allah: tidak layak untuk kita terima, bertumbuh di dalam relasi, dan sangat amat dibutuhkan.)

Semoga tulisan ini bisa mengingatkan kita bahwa di tengah kesesakan kita hidup di dunia ini sebagai orang Kristen, ada banyak hal yang dapat kita lakukan, namun jangan lupakan untuk kita tetap sediakan waktu untuk duduk sejenak saja dan merenungkan karya Tuhan dan apa mau Tuhan di dalam kehidupan kita.

Soli DEO Gloria!

Monday, April 29, 2013

Beauty of the Word of God (Indahnya Firman Allah)


Baru saja saya mendengar share dari seorang rekan di Surabaya dari salah satu kampus swasta yang berkata  di sana orang-orang Kristen sudah mulai bosan di dalam membaca alkitab. Ada pula yang merasa bahwa kebaktian di gerejanya tidak menarik karena miskin dengan puji-pujian. Ada juga yang berkata bahwa mereka merasa tidak puas dengan lagu-lagu yang mereka nyanyikan, kemudian kotbah yang membosankan, dan berbagai kebosanan yang mereka rasakan selama mereka menjadi orang Kristen.

Bukankah ini suatu fenomena yang patut dicermati? Di tengah budaya pragmatisme saat ini, ada banyak juga gereja yang menyajikan sesuatu yang sangat instan. Larut dengan dunia, dan kemudian mengadopsi cara-cara yang begitu instan dalam beribadah. Alkitab dibaca dan kemudian ditafsirkan melalui kotbah tanpa adanya pengajaran yang jelas, hanya menjelaskan sesuatu yang sangat praktis kemudian juga asal comot ayat, yang penting audiens atau jemaat (bahkan seorang teman saya mengatakan “NASABAH”) merasa senang, dan pulang dari gereja mereka merasa “penuh dengan Roh Kudus”. Inilah fenomena yang terjadi saat ini.

Lalu dimana sebenarnya salahnya? Apa salahnya kalau ke gereja kita mendapatkan ketenangan, kedamaian, dan sebagainya. Memangnya salah kalau kita sebagai orang Kristen menikmati model ibadah ataupun menikmati musik-musik di gereja? Bukankah itu sesuatu yang baik, yang mana kita “merasakan hadirat Tuhan” dan kemudian di gereja kita berdoa sampai menangis, sampai tersedu-sedu sampai akhirnya kita mendapatkan kelegaan yang luar biasa! Bukankah itu suatu anugrah yang diberikan Tuhan juga bagi kita?

Di tengah berbagai variasi ibadah ataupun berbagai denominasi yang ada di dunia saat ini, kita melihat bahwa kalau kita kritis setidaknya mengamati hal tersebut, semakin lama pola hidup orang Kristen semakin menyerupai dunia. Gereja akhirnya menjadi suatu tempat untuk “menghibur” diri sendiri. Hal ini membentuk suatu pola pikir yang mengerikan – yaitu kehidupan yang berpusat kepada diri sendiri. Yang penting saya puas, tidak peduli hal tersebut benar atau tidak, “pokoknya saya heppy, that’s all!”

Kondisi seperti ini seharusnya membuat kita menjadi prihatin atas kondisi kekristenan saat ini. Sekalipun secara jumlah tidak dapat dipungkiri bahwa orang Kristen merupakan agama yang cukup luas dan memiliki cukup banyak pengikut, namun apakah mereka adalah orang-orang yang menjadi sekedar fans, atau menjadi seorang yang benar-benar merupakan pengikut Tuhan Yesus? Itulah pertanyaan yang seharusnya setiap kita orang percaya perlu merenungkannya.

Bagaimana sikap kita menanggapi hal seperti ini? Tentu saja ada bermacam-macam cara. Tapi yang sebenarnya saya soroti adalah membaca alkitab sampai bosan, padahal itu adalah Firman Allah. Kalau disuruh pujian penyembahan kita sangat semangat, tapi waktu baca alkitab untuk membangun relasi yang lebih dekat dengan Tuhan, kita langsung mundur. Ini merupakan suatu hal yang mengerikan, karena sebenarnya relasi dengan Tuhan itulah yang menjadi dasar kehidupan kita. Sampai kita jenuh membaca alkitab, itu menunjukkan bahwa kita sedang dalam kondisi kerohanian yang tidak fit. Ketika kita rindu untuk bertemu secara pribadi dengan Tuhan, mau tidak mau kita belajar untuk mengerti dan memahami firmanNya.

Sama dengan relasi kita dengan calon pacar / pacar kita / istri kita / suami kita. Selama tidak adanya suatu komunikasi dan komitmen yang baik, maka tidak akan pernah kita mengerti tentang dia. Sama juga dengan pribadi Allah, selama kita tidak punya suatu kerinduan untuk menikmati Allah, maka kita tidak akan dapat mengerti tentang apa yang sebenarnya mau Allah kerjakan di dalam kehidupan kita. Itulah uniknya orang Kristen, yang mana kita diberikan suatu privilege untuk menikmati apa yang Allah berikan di dalam kehidupan kita. Allah kita adalah Allah yang jauh, tapi juga Allah yang imanen (dekat), dan melalui karyaNya di kayu salib kita dapat mengatasi kebosanan itu. Saya hanya membayangkan apa yang terjadi kalau Tuhan sudah bosan membuat kita hidup, tentunya kita juga tidak bisa apa-apa tanpa Dia.

Memaknai hal inilah kita dituntut sebagai umat Tuhan memiliki relasi yang unik dengan Tuhan. Ketika kita punya suatu relasi yang dekat dengan Tuhan, yang terjadi adalah kita memiliki pemahaman tentang bagaimana kita dapat menjadi garam dan terang bagi dunia ini. Bukan malah terlarut oleh dunia yang semakin lama semakin menawarkan suatu kehidupan yang self-centered. Apabila kita mulai bosan untuk mulai mengerti dan memahami Firman, sebaiknya kita belajar untuk membakar kembali semangat kita agar pada waktunya nanti kita dapat melakukan suatu hal yang besar bagi kehidupan kita juga kehidupan orang lain. Tak peduli seberapa baiknya dan talenta yang kita miliki, tanpa relasi dengan Tuhan, WE ARE NOTHING!

Kehidupan ini bukanlah suatu kehidupan yang membosankan. Kehidupan ini adalah suatu anugrah yang luar biasa yang sudah ditempatkan Allah di dalam keseharian kita. Tinggal bagaimana kita memaknainya. Sampai suatu kali kita bisa merasa seperti Agustinus bahwa dia dapat menikmati relasi dengan Tuhan lebih daripada berhubungan sex. Bukankah itu suatu relasi yang sangat intim dengan Tuhan? Bagaimana relasi kita dengan Tuhan? Apakah sudah mulai kering? Ataukah kita masih tetap dapat bersemangat menghadapi hari-hari bersamaNya? Siapkah kita untuk menjadi orang-orang yang tidak mudah bosan, dengan menikmati Firman itu di dalam kehidupan keseharian kita?

Soli Deo Gloria!

Sunday, April 21, 2013

Who Are You God - Siapakah Engkau Allah?


The very basic question about faith. Ya, itulah pertanyaan yang seringkali dilontarkan pada saat pertama kali kita mengenakan label agama di dalam kehidupan kita. Pertanyaan itu pula yang sampai saat ini pun sering menjadi perdebatan dan memicu ketidaksetujuan dan perpecahan antar iman. Maraknya berbagai diskusi tentang hal ini pun juga menjadi salah satu bukti bahwa sebagai seorang Kristen, mau tidak mau, suka tidak suka, topik ini pun juga akan menjadi suatu pertanyaan bagi setiap kita orang-orang yang percaya.

Kita dapat memahami Allah sejauh di me-reveal hal itu. Revelation / wahyu itu Dia nyatakan di dalam alkitab, yaitu yang disebut sebagai special revelation serta providensia Allah di dalam dunia ini, serta dunia ini sendiri yang disebut sebagai general revelation atau wahyu umum. Berbicara tentang orang Kristen tidak lepas dari kedua hal tersebut. Pertanyaannya adalah, seberapa jauh kita sebagai orang Kristen memahami wahyu tersebut? Setelah kita memahaminya, lalu apa yang selanjutnya harus kita kerjakan?

Mudah sekali bagi kita untuk belajar ilmu tentang Allah, ataupun kita belajar filsafat-filsafat yang mana kita secara kognitif diisi dengan pemahaman-pemahaman yang benar tentang kebenaran firman. Di dalam gereja pun kita bisa belajar banyak hal: doktrin Allah, doktrin Tritunggal, doktrin Kristus, doktrin Roh Kudus, dan sebagainya. Permasalahannya adalah setelah kita belajar tentang doktrin-doktrin tersebut, lalu apa yang mau kita lakukan?

Kita tahu bahwa kita diselamatkan semata-mata karena anugrah, dan itu tertuang di special revelation yang mana sudah dinyatakan dalam alkitab itu sendiri. Namun seringkali hal ini membuat kita jadi lupa tentang wahyu itu sendiri serta lupa tentang Allah kita. Kita tahu bahwa kita memiliki Allah, tetapi kita lupa siapa Allah itu. Akhirnya hubungan yang dibangun antara kita dengan Allah adalah hubungan yang tidak jelas. Artinya kalau ada butuhnya ya kita menghubungi Allah. Kalau tidak ada butuhnya ya sudah, “emang gue pikirin?”

Inilah menariknya pada saat kita belajar mengenal Allah. Bisakah kita, bahkan kalau boleh ekstrim, melalui pembacaan firman DAN pengalaman hidup kita bisa mengenal Allah yang sejati? Banyak orang tahu bahwa Allah itu baik. Ada pula yang sampai menghapalkan beberapa ayat alkitab seperti Matius 6:33, Roma 8:28, Efesus 2:8-9, Yohanes 3:16, Yohanes 14:6, namun di dalam praktek kehidupannya sehari-hari, ia masih saja tidak dikuasai oleh firman yang dihafalkannya. Kenapa saya tuliskan “DAN”? karena biasanya orang Kristen pada umumnya menyukai salah satunya saja. Mereka hafal ayat alkitab namun mereka tidak tahu apa yang mereka baca dan tidak pernah mengaplikasikannya di dalam kehidupan mereka. Sedangkan ada ekstrim yang lain yakni mereka mengalami “seperti” perjumpaan pribadi dengan Allah, tetapi terjebak di dalam pengalamannya itu sehingga suatu saat kalau Allah merencanakan sesuatu yang tidak sesuai dengan rencananya, imannya bisa hancur lebur.

Tentu sebagai pemuda-pemuda Kristen kita tidak mau terjebak di dalam 2 ekstrim. Yang pertama, terlalu mengandalkan pengalaman kita untuk mengenal Allah, yang kedua, semuanya berdasarkan atas alkitab namun kita tidak pernah mengerti karena terlalu sibuk menghafalkannya. Di atas sudah saya paparkan akibatnya. Pertanyaan “WHO ARE YOU GOD” adalah pertanyaan yang benar-benar esensial, karena hal itu akan mempengaruhi seluruh sikap hidup kita. Kalau Allah kita adalah Allah yang benar, tentu sebagai ciptaanNya pun kita akan berlaku sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah kita.

Bagaimana kita bisa mengenal Allah kita? Seperti yang sudah disebutkan di atas, kita bisa terperangkap di dalam 2 ekstrim. Karena itu kita harus mengkombinasikan keduanya menjadi suatu metode belajar mengenal akan Allah, yaitu melalui suatu saat teduh dan pembacaan firman secara rutin serta didukung dengan suatu tindakan yang mencerminkan firman itu. Logika simple: ketika kita ingin mengenal seseorang tentu saja kita harus mulai berkomunikasi serta membuka suatu relasi dengan dia. Bayangkan saja kita pedekate dengan seseorang, tentu kita belajar untuk membagi hidup kita kepadanya.

YA! Salah satu cara kita belajar untuk mengenal Tuhan adalah dengan share tentang hidup kita kepada Tuhan, dan juga kita belajar mendengarkan apa yang Tuhan mau di dalam kehidupan kita. Caranya? Tentu saja dengan menjalani hidup sesuai dengan apa yang Tuhan mau di dalam firmanNya. Tidak ada cara lain untuk kita dapat mengenalNya.

Kedua: selain kita belajar firman, kita belajar melihat rancangan Tuhan di dalam kehidupan kita. Caranya? Cara paling mudah adalah dengan membuat sebuah timeline atau kisah hidup. Flashback tentang kehidupan kita di masa lalu, masa yang menyenangkan ataupun menyedihkan. Mencatat setiap momen yang sudah Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita untuk kita semakin mengerti apa yang sebenarnya sudah dirancangkan Tuhan dan apa yang kira-kira akan dikerjakan Tuhan melalui kehidupan kita.

Memang bukan hal yang mudah untuk mengerti hal tersebut. Proses itu perlu pergumulan seumur hidup. Sampai suatu saat nanti kita bisa berkata seperti Daud bahwa tidak ada seorangpun yang ia ingini selain daripada Allah sendiri. (Mazmur 73:25). Saking dekatnya relasi Tuhan dengan Daud membuatnya dapat mengatakan bahwa segala hal tidak dapat menggantikan Allah.

Jadi? Siapakah Allah itu? Siapakah Engkau Tuhan? Pertanyaan itu tentu perlu kita renungkan dan pergumulkan setiap saat. Mari belajar untuk terus menggumulkan hal itu sampai suatu hari kita dapat mengatakan siapa Allah itu, bukan kata doktrin, bukan hanya kata alkitab, tetapi di dalam kehidupan kita sekalipun kita memperkatakan bahwa “Allah Bapa, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus, itulah Allah. Ialah Allah yang hidup dan berkuasa atas kehidupanku, dan kepadaNya lah aku berkomitmen untuk setia sampai akhir hidupku”

Soli Deo Gloria

Friday, February 8, 2013

L.O.V.E – Renungan Tentang Relasi dan Pacaran



Suatu relasi yang dibentuk Allah dari awalnya merupakan relasi yang sangat intim. Berita penciptaan di kitab Kejadian, dimulai dari penciptaan seluruh dunia dan penciptaan manusia, laki-laki dan perempuan, menunjukkan bahwa ada suatu relasi yang ingin dibentuk Allah antara Dia, manusia laki-laki, dan perempuan. Ketiganya saling terikat di dalam suatu relasi, yang mana Allah sendiri yang memimpin relasi tersebut. Tetap saja sekalipun seorang laki-laki diberikan role untuk memimpin (take the lead), tetap ia punya kewajiban untuk membawa keluarga itu di dalam Allah.

Namun tetap sebelum pernikahan terjadi, ada suatu proses yang biasanya membuat galau. Proses itu adalah proses pacaran. Sekalipun saya sendiri belum pernah (setidaknya sampai saat ini) pacaran, tetapi tidak ada salahnya share beberapa prinsip saya sendiri. Tentunya prinsip ini tidak bisa disamakan dan berbeda antara setiap orang. Tiap orang punya preferensi sendiri di dalam relasi seperti ini. Prinsip ini tidak mutlak, dan setiap orang bisa punya variasi sendiri untuk mengembangkannya. Ada beberapa prinsip yang saya ambil pula dari buku-buku tentang relasi seperti Boy Meets Girl, I Kissed Dating Goodbye, Love is A Decision, When God Writes Your Love Story, When Dreams Come True, dan sebagainya.

Prinsip pertama: “tidak ada tembak-menembak langsung, namun dimulai dengan pergumulan dan doa”. Sungguh aneh bukan? Namun ini prinsip yang menurutku penting. Mengapa? Karena ini memberi kita kesempatan untuk saling mendoakan. Definisi tembak-menembak disini adalah direct asking dan direct answer tanpa adanya proses pergumulan. Jadi tidak mungkin baru kenal 1 bulan setelah itu pacaran, tetapi dimulai dari sesuatu yang paling sederhana. Quality time dengan bercakap-cakap dan saling kenal satu sama lain.

Prinsip kedua: “Saling melayani di dalam relasi sekaligus belajar memuliakan Tuhan melalui relasi”. Tentu saja untuk prinsip ini sudah jelas, pasangan hidup kita adalah orang yang belajar untuk mau bergumul di hadapan Tuhan, bahkan mengutamakan Tuhan daripada calon pasangannya. Ini mungkin bagi saya sendiri pun cukup berat, tetapi justru inilah saya belajar untuk melihat bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan sendiri, dan Ia yang akan memberikannya di waktu yang tepat dan momen yang tepat.

Prinsip ketiga: “No compromise”. Singkat, dan saya definisikan di dalam konteks cara pacaran. Ada banyak orang di dalam relasi pacaran mulai berkompromi di dalam menggunakan nafsu mereka. Saya belajar untuk tidak melakukan hal-hal yang dirasa tidak benar. Prinsipnya mudah: apa yang berani saya lakukan di depan orang lain, itu pula yang akan saya lakukan pada saat kita berdua saja. Hal ini akan dibahas nanti tentunya kalau sudah berpacaran. Tentunya standar tiap orang bisa berbeda satu sama lain.

Prinsip keempat: “Belajar saling terbuka”. Keterbukaan sangat penting di dalam relasi untuk bisa membangun percaya satu sama lain. Keterbukaan ini bukan hanya share tentang kegembiraan. Keterbukaan ini adalah belajar jujur atas masalah kita, tentang pergumulan kita, dan tentang apa yang kita alami.

Prinsip kelima: “PH saya adalah sahabat terbaik saya”. Mungkin agak heran di tengah jaman ini, yaitu banyak pernyataan “SAHABAT KITA TIDAK MUNGKIN JADI PASANGAN HIDUP KITA” atau kalau bisa jangan. Mengapa? Karena kita takut bahwa setiap kelemahan kita akan jadi senjata bagi dia untuk menyerang kita. Bisa-bisa dia mengkhianati relasi karena tahu kita ini orang seperti apa. Itulah ketakutan dunia tentang sahabat. Menurut saya seorang sahabat itu sebenarnya adalah orang yang paling potensial untuk kita pergumulkan menjadi seorang pasangan hidup. Hal ini karena hubungan pacaran kita akan berlanjut ke pernikahan. Bayangkan kita punya suami / istri yang mana kita tidak bisa sharing tentang permasalahan kita, kemudian sharing ke temannya yang lain! Tidakkah kita seharusnya sadar bahwa rumah kita nanti adalah tempat yang paling aman untuk kita bisa cerita. Tentu saja konteks sahabat disini yang lawan jenis, bukan sesama jenis!

Prinsip keenam: “Mengakui bahwa Allah berdaulat atas relasi kita”. Di dalam masa pergumulan jawabannya bisa saja “TIDAK” atau “BELUM” namun justru di situlah kita harus belajar untuk mengakui kedaulatan Allah di dalam relasi kita. Siapa tahu memang Allah belum memberikan kita pasangan hidup karena kita belum memiliki relasi yang dekat dengan Dia, atau berbagai hal lain. Tentunya kita harus belajar menghormati Allah.

Prinsip ketujuh: “Libatkan beberapa orang yang kredibel dalam hubungan”. Sahabat-sahabat dan teman dekat akan sangat membantu kita untuk dapat memandang dengan lebih obyektif. “CINTA ITU BUTA”, well, itulah yang disampaikan oleh orang-orang saat ini. Mengutip Rev. Bagoes Seta: “Love is Blind, but Marriage is the Eye Opener”. Saya sangat setuju dengan pernyataan tersebut. Karena itu peran teman-teman kita bukan untuk melihat kelemahan untuk menjatuhkan, namun untuk mempersiapkan setiap kita untuk dapat membangun relasi yang baik dengan calon PH kita sehingga kita tidak dibutakan oleh cinta. Bukan hanya sahabat tentunya. Orang tua pun juga harus kita libatkan di dalam relasi. Bahkan orang tua saya menanyakan : “kapan nih bisa liat calon mantu?” bukan berarti kita terburu-buru, namun kita menghargai dan membagikan kisah kita juga kepada orang tua, apalagi orang tua kita adalah orang yang takut akan Tuhan.

Prinsip kedelapan: “Menjadi seorang single yang berkualitas”. Latih diri sebaik mungkin untuk kemuliaan Tuhan, adalah salah satu langkah konkrit dalam hidup kita. Menjadi seorang laki-laki dan perempuan yang belajar menghormati Tuhan melalui pembacaan firman, berdoa, pergumulan pribadi, dan tindakan serta pelayanan. Motivasi utamanya bukan agar diberikan pasangan hidup, tetapi untuk terus belajar yakin bahwa cinta kita kepada Tuhan itu jauh lebih penting dan indah, dan itulah yang mau kita bagikan kepada pasangan kita.

Delapan prinsip ini yang saya pegang sampai saat ini. Memang ada minor principle, namun intinya satu: relasi itu kita bangun karena kita punya visi yang sama: yaitu memuliakan Tuhan di dalam setiap kondisi. Itulah yang indah dari janji pernikahan yang diucapkan pada saat pernikahan.

Selamat belajar memiliki cinta sejati di dalam Tuhan

Soli Deo Gloria