Total Pageviews

Showing posts with label pendalaman. Show all posts
Showing posts with label pendalaman. Show all posts

Friday, May 1, 2015

Hal Kekuatiran

Nas Bacaan: Matius 6:25-34

Kehidupan manusia pada umumnya tidak pernah lepas dari yang namanya kekuatiran. Kekuatiran adalah bagian yang integral di dalam kehidupan. Artinya bahwa setiap manusia di dunia ini pasti punya rasa kuatir di dalam kehidupannya. Terlepas dari berbagai hal yang membuat dirinya aman, selalu ada hal yang membuat dia kuatir.

Kenapa sih sebenarnya kita kuatir? Karena memang ada hal-hal yang nggak sesuai dengan ekspektasi kita. Kita sudah merencanakan misalnya akan menikah di usia 28 tahun, tetapi ternyata di usia ke-27 tahun kita belum mendapatkan seorang calon pendamping hidup. Misalkan lagi ketika kita memutuskan untuk keluar dari pekerjaan kita yang sekarang, kita kuatir akan susah mendapatkan pekerjaan lagi. Ketika kita tidur pun terkadang kita juga kuatir.

Bahkan kalau kita lihat kehidupan orang-orang yang ada di alkitabpun, ternyata tidak sedikit orang yang kuatir atas kehidupannya. Abraham, yang disebut sebagai “bapa orang beriman” pun sempat mengalami kekuatiran di dalam kehidupannya. Kuatir bahwa ia tidak akan memiliki keturunan, kemudian pada saat tanah tempat tinggalnya kering dan ia harus pergi ke Mesir, ia pun kuatir bahwa istrinya akan direbut orang. Beralih ke Perjanjian Baru, ternyata kisahnya pun tidak jauh berbeda dengan Abraham, yakni para rasul. Suatu kali Petrus bertanya kepada Yesus:

"Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" (Matius 19:27)

Bukankah ini adalah suatu pertanyaan yang begitu umum kita ajukan? Sangat mudah bagi kita untuk terjebak bahwa ternyata di dalam kita mengikut Tuhan pun, kita berharap akan imbalan yang akan kita terima.

Mengapa kita merasa seperti ini? Tuhan Yesus pun mengingatkan kepada kita sebelum nas ini.

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Mat 6:24)

Kita tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Maksudnya? Kita selalu punya pilihan untuk kehidupan kita. Kekuatiran pada dasarnya adalah karena kita sama sekali tidak berpegang kepada Allah. Kita berpegang pada sesuatu yang begitu liquid (uang adalah sesuatu yang liquid bukan?). Mamon sendiri berarti uang. Artinya apa? Kita hanya bisa memilih – apakah Allah yang akan kita sembah ataukah kita menjadi hamba dari sesuatu yang liquid?

Okey, kembali pada hal kekuatiran. Kalau kita menyadari bahwa hidup kita ternyata tidak dapat didasarkan pada uang dan harta itu berarti bahwa kehidupan kita harus didasarkan pada pilihan yang satunya.

Mari kita coba lihat Matius 6:26
Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? (Mat 6:26)

Pernahkah kita kemudian menjadi seseorang yang membayangkan: “Enak banget ya jadi seekor burung. Sehari-hari sudah dikasih makan terus sama Tuhan.” Itu sama halnya mungkin kita bayangkan: “Enak banget yak kalau kita nggak usah kuliah, nggak usah kerja, tapi kebutuhan sehari-hari kita terpenuhi semua.”

Pandangan seperti ini bisa menyesatkan kita. Memang benar bahwa burung sama sekali tidak menabur dan menuai tetapi bukan berarti mereka sama sekali tidak berusaha. Artinya bahwa di dunia ini Allah sudah memberikan potensi dimana kita dapat bekerja dan dapat memanfaatkan segala sumber daya. Allah meminta kita untuk berusaha melakukan eksplorasi terhadap dunia yang Ia ciptakan.

Pertanyaan Yesus selanjutnya adalah “Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” Jawabannya sekali lagi: “absolutely YES”. Artinya bahwa memang di dalam kehidupan kita, kita sudah diberikan anugrah yang terindah. Bukan masalah materi, bahkan terkadang kita perlu lihat lagi kehidupan kita, bagaimana kalau sampai saat ini kita masih hidup, kita masih bernafas, kita masih dapat pekerjaan, kita masih bisa kuliah – bukankah semuanya adalah anugrah Allah?

Burung-burung yang ada di udara itu ketika liat kita stress mungkin mereka kaget yah. Mengapa? Tuhan sudah janjikan bahwa kita adalah manusia yang begitu berharga. “Enak bener lho jadi manusia, bahwa mereka punya privilege untuk memanggil Allah itu dengan panggilan Bapa.”

Kita lanjutkan ke ayat-ayat selanjutnya. Matius 6:27 dengan keras Tuhan bertanya:

Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? (Mat 6:27)

Siapa? Tidak seorang pun. Sebentar. Bukankah itu berarti kita tidak boleh kuatir? Bukan. Bukan itu maksud Yesus. Yesus berkata bahwa boleh kita kuatir, tetapi jangan sampai kekuatiran itu akhirnya menguasai hidup kita. Bukankah ada suatu kekuatiran yang positif? Apakah tanpa kekuatiran kita berarti tidak boleh berjaga-jaga? Bukankah Yesus juga berkata bahwa kita harus berjaga-jaga? Betul sekali kalau kita harus berjaga-jaga, tetapi bukan berarti bahwa akhirnya kita menjadi begitu kuatir dan menjadi seseorang yang paranoid. Sepertinya bukan malah menambahkan jalan hidup, kekuatiran yang berlebihan justru akan menjadi sesuatu yang memperpendek usia kita. 

92% orang di Amerika berkata bahwa sebenarnya kekuatiran yang mereka rasakan adalah kekuatiran yang fiktif. Selain itu kalau memang kekuatiran yang kita alami itu terjadi, kita tidak akan bisa melakukan apa-apa bukan? Saya ingat betul pengalaman saya pertama kali menginjakkan kaki saya di pesawat untuk pergi ke Bandung, saya kuatir sekali. Kemudian saat saya akan pergi ke Bogor dari Bandung, saya naik taksi bandara tanpa kenal siapa-siapa dan di mobil itu saya sama sekali tidak bisa tidur. Sebenarnya saya saat itu sudah menjadi Kristen tetapi tanpa sadar ternyata kekuatiran begitu menguasai saya.

Saya membayangkan kalau misalnya pesawat tersebut jatuh, apa yang bisa saya perbuat? Tidak ada. Semua akan terjadi. Bagaimana jika seandainya ternyata sopir taksi itu menculik saya kemudian merampok saya? Apakah kekuatiran saya menyelamatkan saya? Tidak juga bukan?

Karena itulah kemudian ketika saya membaca kembali ayat-ayat ini saya sadar betul bahwa ternyata hidup kita ini dijaga oleh Tuhan. Bukan berarti bahwa ketika kita percaya kepada Tuhan, hidup kita akan menjadi berkelimpahan. Rumusnya tidak begitu. Apakah berarti dengan kita ikut Tuhan maka segala urusan lancar, semua masalah hilang? Tidak juga bukan? Tetapi apakah hidup kita selalu dijaga? Iya betul.

Mungkin ketika kekuatiran itu mulai muncul, kita perlu belajar untuk menyerahkan kekuatiran itu kepada Bapa. Setelah kejadian saya naik pesawat untuk pertama kalinya itu, kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya, di setiap saya naik pesawat, saya selalu tertidur selama perjalanan. Intinya apa? Berdoa dulu deh sebelum naik pesawat, “Tuhan hantarkan saya selamat sampai ke tujuan. Aku tahu bahwa Tuhan adalah Allah yang Mahakuasa dan Engkau yang berkuasa atas pesawat ini, atas pilot, atas cuaca, atas penerbangan ini. Tetapi BIARLAH KEHENDAK-MU YANG JADI DAN BUKAN KEHENDAKKU. Kalau memang Allah berencana bahwasanya ketika pesawat ini jatuh, maka aku tahu bahwa waktuku sudah habis, dan sudah saatnya aku kembali ke pangkuanMu.”

Doa tersebut membuat saya bisa tidur nyenyak ataupun dengan tenang membaca buku di pesawat. Itu semua karena ada satu perasaan tenang dan dijaga oleh Bapa. Bukankah itu keistimewaan kita sebagai orang Kristen, bahwa kita tidak perlu terlalu kuatir atas hidup kita? Bahwa segalanya sudah diatur oleh Bapa, bahwa segalanya sudah diberikan kepada orang yang mengasihiNya, yang terpanggil sesuai dengan rencanaNya? Bukankah itu artinya berserah?

Kalau kita sudah menyadari bahwa segenap kehidupan kita sudah ada yang memegang, kini apa tugas kita?
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33)

Sangat jelas bukan? Carilah dahulu Kerajaan Allah artinya bahwa kalau kita menyibukkan diri kita untuk berpikir tentang uang dan uang, maka kehidupan kita akan dipenuhi oleh kekuatiran. Mau berdiri di fondasi yang liquid atau kita mau bersandar kepada sesuatu dasar yang teguh? Yesus adalah dasar yang teguh itu. Allah menuntut kehidupan total yang dipersembahkan kepadaNya. Ia meminta kita untuk percaya dan terus menerus menyadari akan kebenaranNya. Ia ingin kita untuk percaya sepenuhnya kepadaNya.

Sekali lagi, semuanya itu bukan berarti bahwa hidup kita akan berkelimpahan harta. Allah tidak pernah meminta kita untuk terus menerus memikirkan harta. Perintah di ayat ini jelas bukan? Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka SEMUANYA itu akan ditambahkan kepadamu. Semuanya disini mencakup apa sih? Bahwa penyertaan Tuhan akan selalu menyertai kehidupan kita hari lepas hari. Bahwa segala hal yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita akan membuat kita cukup dan mampu untuk hidup untuk memuliakanNya.

Apakah itu berarti kehidupan kita tanpa pergumulan? Justru pergumulan akan semakin besar, tetapi di dalamnya ada rencana Tuhan, dan pergumulan itulah yang akhirnya membuat kita dewasa di dalam Dia hari lepas hari. Jadi pertanyaannya adalah, kepada siapa kita menyerahkan kehidupan kita? Apakah ada suatu hal yang membuat kita kuatir setelah begitu banyak hal yang sudah Allah kerjakan atas kehidupan kita? Ia telah menyerahkan hal yang paling berharga – AnakNya yang tunggal – untuk kita dapat menerima keselamatan. Ia telah menyediakan begitu banyak berkat atas kehidupan kita. Kasih, sukacita, damai sejahtera… kurang apalagi? Lepaskan pengaruh mamon itu dari dalam kehidupan kita – dan rasakan kasihNya yang diberikan atas hidup kita sampai selama-lamanya.


Soli Deo Gloria

Sunday, December 8, 2013

"You Are The Apple of My Eye" ~ God

Kata-kata yang begitu indah bukan waktu kita mendengar seseorang yang mengucapkan hal itu kepada kita? Ya tentu saja! Bayangkan seseorang yang menjadi sahabat kita kemudian datang dan memeluk kita kemudian berkata seperti itu! Bukankah hati kita akan langsung ‘melambung tinggi’? Ah sungguh indahnya manakala kita boleh mendengar kata-kata itu dari orang yang kita sayangi.

Persoalannya ternyata kita jarang mendapatkan kata-kata itu bukan? Boro-boro kita mendengar kata-kata itu, dalam hidup kita tidak jarang malah kita mendapatkan makian bahkan dari orang-orang terdekat kita. Bahkan kita juga mendapatkan omelan-omelan dari orang tua kita, kita mengeluh dan sampai akhirnya tidak jarang kita mengumpat kepada orang tua ataupun teman kita. Di sinilah natur kita sebagai manusia berdosa ternyata benar-benar diuji bukan?

Lebih jauh lagi kalau kita melihat hidup kita, sama juga ternyata di dalam hidup kita ada banyak sekali pergumulan dan tantangan di dalam hidup kita. Banyak kekecewaan yang terjadi dalam hidup kita yang membuat kita stress, yang pada akhirnya berakhir pada hal-hal yang jauh lebih mengerikan – minuman keras, game online, rokok, kopi, narkoba, dan sampai kepada bunuh diri. Ya, itulah kekosongan hidup.

Realitas ini membuat kita seharusnya menyadari bahwa kita butuh ‘sesuatu’ yang melebihi semuanya itu. Adakah? Ya tentu saja ada. Ada pribadi yang begitu mengasihi kita – sadar atau tidak sadar. Pribadi itu adalah pribadi yang dengan kedua tangan yang terbuka menyambut kita yang mau datang kepadaNya. Seperti dalam perumpamaan tentang anak yang hilang di Lukas 15, Sang Bapa menanti sang anak bungsu untuk kembali. Ia menunggu tanpa lelah dan ketika anak itu datang kembali kepadanya, sang bapa menyambut dia. Siapakah pribadi itu? Pribadi itu ialah Allah sendiri.

Mari membuka alkitab kita dan mulai membaca sebuah kitab yang menyatakan betapa besar kasih Allah kepada bangsa Israel, yakni kitab Hosea. Kitab Hosea menunjukkan dengan kita betapa luar biasanya kasih Allah di dalam kehidupan orang Israel. Orang Israel digambarkan sebagai Gomer, seorang pelacur, dan Allah memberikan ilustrasi kasihNya melalui Hosea. Seperti apa kasihNya? Hosea akhirnya mengawini Israel, dan kalau kita membaca selanjutnya, di Hosea 1:10-11 dan Hosea 2:17-22 itu janji Tuhan yang mana Israel akan dipulihkan.

Ini gambaran kasih Allah yang begitu besar bagi bangsa Israel. Tetapi bukan hanya itu. Selanjutnya kita bisa melihat Hosea menunjukkan benar-benar bagaimana kasih Allah. Gambaran kasih itu dapat dilihat di Hosea 3. Gomer yang sudah diambil menjadi seorang istri bagi Hosea, kemudian kembali kepada persundalan. Ini menggambarkan sebenarnya bagaimana hidup manusia yang masih dikuasai dosa. Tetapi apa yang dilakukan Hosea?

Hosea 3:2  Lalu aku membeli dia bagiku dengan bayaran lima belas syikal perak dan satu setengah homer jelai.

Tidak pernah kita bayangkan bukan? Ini suatu gambaran bahwa Allah selalu mengejar dan terus mengejar kita. Ia berlari kepada kita saat kita bahkan menjauh dari Dia. Pertanyaannya adalah maukah kita datang kepadaNya? Itu pertanyaan yang harus kita renungkan di dalam kehidupan kita. Kasih itulah yang dinyatakan Allah di dalam hidup kita, dan hanya ada satu kata yang menggambarkan kasih itu: “PENGAMPUNAN”. TIada pernah sedetikpun Allah membiarkan hidup kita. Kita hanya perlu belajar untuk memaknai kata-kata “You are the apple of My eye” dan itu dikatakan oleh Sang Pencipta kita.
Pernah membayangkan hal itu? Kita manusia yang sangat tidak sebanding dengan Allah namun disebut sebagai “biji mata Allah”? Pernahkah kita membayangkan bahwa saat kita menyakiti hati Allah, Dia tetap membuka kedua lenganNya? Kita sering bertanya seberapa besar kasih Allah bagi kita? Jawabannya ada di Salib. Ya, itulah kasih Allah. Kasih yang begitu besar. Allah yang selalu mengejar kita dan terus mengejar kita, hingga kita tertangkap oleh kasih itu.

Heran dengan kasih Allah itu? Saya heran, bahwa di tengah banyak orang yang seharusnya lebih baik dari pribadi saya, tapi Ia memilih saya untuk menjadi anakNya. Hati Allah yang tidak pernah berhenti untuk mencari jiwa yang terhilang. Hati yang tidak pernah tahan saat melihat kita terhilang, bukan karena Dia kehilangan sesuatu, tetapi karena kita kehilangan segalanya di dalam hidup kita – yakni pribadi Allah itu sendiri.

Refleksi ini mengingatkan kita untuk terus bersandar kepadaNya. Mengakui Dia sebagai juruselamat dan hidup. Menikmati anugrah yang sudah Ia berikan sambil terus mensyukuri hidup kita. Siapa kita sehingga kita dikasihi? Kita ini cuman ciptaan kok. Ciptaan yang super terbatas, ciptaan yang harusnya nggak layak untuk Ia kasihi, tetapi Ia mengambil kita! Ia memberikan hidup baru – melalui lahir baru kita. Ciptaan baru, itulah yang disebut oleh Paulus.

Mari belajar menikmati kasihNya, melalui ucapan syukur sambil terus mengingat “You are the apple of My eye”… itulah yang Tuhan katakan di dalam kasihNya… Itulah janji Tuhan bagi setiap kita.


Soli Deo Gloria

Monday, August 5, 2013

Yerusalem! Let’s Go There! Sebuah Perenungan Tentang Visi dan Tujuan Hidup

Seringkali orang bertanya: apa sih tujuan hidupmu? Ini suatu pertanyaan yang mungkin sangat susah dijawab. Bagi orang Kristen, jawabannya sangat sederhana: “Memuliakan Tuhan dan menikmati Dia sepanjang waktu” seperti yang tertulis di Katekismus Singkat Westminster pertanyaan pertama. Sesederhana itu? Ternyata tidak juga. Sangat global bahkan. Memuliakan Tuhan? Seperti apa sih memuliakan Tuhan itu? Menikmati Tuhan?

Satu hal yang perlu kita pegang adalah: Mau atau tidak mau, suka atau nggak suka, Allah sudah merencanakan sesuatu di dalam hidup kita. Setiap detailnya sudah Tuhan atur sedemikian rupa. Ingat, Ia adalah Allah dengan kedaulatan yang penuh.

Sebuah refleksi dari Lukas 18:31 dan 34

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu berkata kepada mereka: "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi.
(Luk 18:31)

Akan tetapi mereka sama sekali tidak mengerti semuanya itu; arti perkataan itu tersembunyi bagi mereka dan mereka tidak tahu apa yang dimaksudkan.
(Luk 18:34)

Di dalam konteks visi dan tujuan hidup, ada beberapa prinsip yang kita bisa dapatkan dari ayat ini. Saya mencoba merefleksikannya:
1.       “Yesus memanggil kedua belas murid-Nya” lihat siapa yang Yesus ambil sebagai murid. Apakah mereka adalah orang-orang yang hebat? Secara manusiawi, mereka bukanlah orang-orang yang terpelajar. Mereka bukan orang-orang yang punya skill tinggi. Barangkali kalau diumpamakan sekarang, mereka bukanlah orang-orang seperti Bill Gates yang jenius, ataupun seperti Steve Jobs. Mereka bukan orang-orang yang bisa diandalkan. Bahkan mereka adalah orang-orang yang sebenarnya tidak memiliki apa-apa (dalam pengertian tertentu).
Namun orang-orang seperti inilah yang dipilih Tuhan menjadi orang-orang yang paling dekat dengan Dia. Orang-orang seperti Petrus yang sangat ceplas-ceplos, Thomas sang peragu, Matius yang merupakan pemungut cukai – apa hebatnya?
Tetapi nyatanya orang-orang seperti ini yang dipakai Tuhan bukan? Petrus yang berkotbah hingga menghasilkan 3000 orang bertobat. Thomas yang pada akhirnya mati martir di India. Ada banyak kisah, namun prinsip di sini adalah:

“Allah tidak memilih orang yang mampu melayani Dia dengan kekuatannya sendiri, tetapi Ia memilih orang-orang yang sadar betul bahwa tanpa Dia, ia tak bisa hidup dan ia bukanlah apa-apa”

2.       “Sekarang kita pergi ke Yerusalem…” Panggilan Allah itu terjadi secara real time di dalam hidup kita. Itu berarti bahwa di dalam kita menjalani hidup kita, panggilan Allah itu selalu nyata. Pertanyaannya adalah: kita peka atau tidak terhadap panggilan itu? Yerusalem adalah tempat di mana Tuhan Yesus akan menjalani rencana Allah yang ada di dalam diriNya. Itu adalah visi yang ditetapkan Allah dan Ia pergi ke sana untuk menjalaninya. Seutuhnya Dia patuh atas kehendak Bapa, sekalipun Ia tahu bahwa pada saat itu pula Ia akan dihujat, dicela, dan pada akhirnya disalib.
Bagaimana dengan hidup kita? Apakah kita sudah belajar untuk mengarah ke Yerusalem kita? Suatu tempat yang mana Allah memerintahkan kita untuk taat kepada panggilanNya. Tidak enak memang, apalagi kita tahu bahwa mungkin Yerusalem itu adalah tempat yang sangat jauh dari zona nyaman kita, tetapi Allah mengutus kita kesana. Bukankah itu suatu privilege yang luar biasa yang sudah disediakan Allah? Inilah prinsip berikutnya:

“Mau tidak mau, suka tidak suka, Allah sedang menuntun kita ke Yerusalem. Perlahan namun pasti Ia akan membawa kita menuju ke sana, dan Ia tidak main-main atas panggilan itu”

3.       “..dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi”. Tuhan Yesus tahu dengan segala resiko yang akan Ia alami saat Ia taat kepada Bapa, dan Ia taat! Di sinilah terlihat bagaimana kehendak Bapa ada di atas kehendak kita. Suka atau tidak, kita pasti akan mengalaminya juga. Tinggal tunggu waktu kapan Allah menggerakkan hati kita untuk melakukan sesuatu dalam hidup kita. Ia sedang melakukan sesuatu dan itu berarti kita tidak bisa menolaknya. Mungkin ada kalanya kita melihat bahwa rencana Allah itu merupakan suatu kegagalan di dalam hidup kita. Salib pada zaman itu identik dengan suatu kegagalan yang luar biasa. Salib adalah lambang kehinaan pada waktu itu. Namun demi menjalankan rencana Bapa, Tuhan Yesus melihat itu sebagai suatu keberhasilan.

“Apa yang dipandang orang sebagai suatu kegagalan, itu merupakan suatu keberhasilan di hadapan Tuhan. Kesuksesan kita sebagai orang beriman diukur dari rencana Tuhan apa yang sudah kita lakukan untuk kemuliaanNya.”

4.       “.. mereka sama sekali tidak mengerti..” Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Tuhan Yesus, bukan? Ya. Mereka yang dimaksud di sini adalah para rasul, orang-orang yang mendampingi Tuhan Yesus kemanapun Ia pergi. Bahkan orang-orang terdekatnya pun tidak mengerti apa yang Yesus maksud saat itu.
Sama juga mungkin dengan hidup kita. Kita merasa kehidupan kerohanian kita sudah dekat dengan Tuhan, tetapi sebenarnya kita tidak tahu apa yang Tuhan mau di dalam hidup kita. Bukankah ini sesuatu yang mengerikan? Ya betul! Kita terlalu sibuk untuk pelayanan mungkin, tetapi di dalam pelayanan itu, kita lupa menjaga relasi kita dengan Tuhan. Akhirnya pelayanan itu bukan merupakan sarana untuk memuliakan Tuhan, namun sebagai suatu sarana lain.
Prinsip yang berikutnya yang penting adalah:

“Hal yang paling indah dalam hidup kita adalah mengetahui apa yang Tuhan mau di dalam hidup kita, sehingga apapun yang kita kerjakan adalah untuk kemuliaan Tuhan. Semuanya itu dimulai dari relasi yang semakin dekat dengan Dia”

Jadi, siapkah kita melangkah menuju Yerusalem? Apakah kita mau mulai merenungkan kembali apa yang jadi tujuan hidup kita sebenarnya? Mungkin panggilan kita adalah peran yang kita lakukan saat ini di tempat kerja kita. Mungkin kita dipanggil ke daerah terpencil dan mengabarkan injil di sana. Mungkin pula kita diutus ke ranah politik. Apapun itu, mari kita belajar untuk terus menikmati proses yang dari Tuhan.


Soli Deo Gloria

Monday, December 17, 2012

Life is Grace - Menghidupi Sola Gratia dan Sola Fide


Istilah Sola Gratia, dikenal oleh banyak sekali orang Kristen. Sola gratia – hanya oleh anugrah – merupakan doktrin yang sangat mendasar di dalam iman Kristen. Sola gratia tidak dapat dilepaskan dari sola fide dan sola scriptura. Beberapa orang mengatakan bahwa istilah sola fide sudah tidak ada lagi, artinya bahwa iman kita kepada Tuhan tidak cukup untuk menyelamatkan kita dan membawa kita masuk ke dalam keselamatan yang dijanjikan oleh Allah.

Sola gratia merupakan salah satu doktrin mendasar – yang mana doktrin ini mendasari kehidupan orang Kristen. Orang Kristen yang menanggapi doktrin ini seumur hidupnya akan merasa bahwa hidupnya saat ini hanyalah ditopang oleh kasih Allah semata-mata. Dalam pemahaman tersebut, apapun yang dilakukan oleh orang tersebut seharusnya didasarkan pada kasih Allah di dalam kehidupannya.

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri (Efesus 2:8-9).

Ayat ini mendasari bahwa kehidupan orang percaya didasarkan kepada kasih karunia semata. Akibatnya ada pada ayatnya yang ke-10 yaitu : Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:10) di dalam pemahaman inilah sebenarnya kehidupan manusia harus didasarkan di dalam pemahaman bahwa seluruh hidupnya sudah diatur oleh Allah. Allah sudah merencanakan sebelum dunia dijadikan pun bahwa seluruh umat pilihanNya melakukan pekerjaan baik.

Problematika yang dihadapi saat ini adalah bagaimana orang-orang mulai menganggap bahwa doktrin sola fide adalah sesuatu yang kuno. Keselamatan hanya oleh anugrah di dalam Kristus Yesus dirasa terlalu “mudah” karena semua orang hanya tinggal percaya dan kemudian semuanya akan baik-baik saja. Seseorang dengan mudah mengatakan bahwa pada saat ia sudah percaya, maka ia akan beroleh hidup kekal sementara orang tersebut lupa bahwa ketika sudah mengakui Yesus sebagai satu-satunya juruselamat maka tindak tanduknya pun seharusnya mencerminkan imannya kepada Yesus. Saat ini orang-orang lebih suka bahwa mereka dapat berbangga atas kebaikan dan kesucian pribadi mereka dan dengan itu mereka merasa bahwa mereka layak untuk masuk surga.

Bagaimana kita dapat memaknai hidup oleh anugrah Allah seperti ini? Paulus dengan sangat indah menuliskan doktrin ini di kitab Roma. Kitab Roma merupakan salah satu surat Paulus yang paling sistematis, karena mencakup seluruh realitas hidup manusia secara Christian Worldview. Surat Paulus kepada Jemaat di Roma mencakup seluruh doktrin mulai dari penciptaan, kejatuhan manusia di dalam dosa, ketidakmampuan manusia untuk menyelamatkan dirinya sendiri, karya penebusan oleh Yesus Kristus dan sampai akhirnya menghidupi keselamatan di dalam Kristus.

Nah, kalau sola fide tidak berlaku, maka sebenarnya sola gratia tidak pernah akan ada. Kita  dibenarkan karena iman kita kepada Tuhan, dan anugrah itu diberikan secara cuma-cuma (namanya saja anugrah). Sola fide dipahami di dalam konteks bahwa semua yang kita lakukan berdasarkan atas apa yang Allah kerjakan di dalam kehidupan kita yang memampukan kita untuk berbuat sesuatu yang benar. Tanpa ada penebusan Kristus di kayu salib, nonsense kalau kita dapat berbuat baik, karena standar untuk berbuat baik pun kita tidak pernah tahu. Sola fide bukan berarti kita hanya beriman dan ngomong tok, tetapi justru iman kita diwujudkan dengan perbuatan baik kita, bukan sebagai syarat untuk masuk surga, tetapi sebagai ucapan syukur karena kita sudah ditebus.

Seperti lagu:
Here is love, vast as the ocean,
Lovingkindness as the flood,
When the Prince of Life, our Ransom,
Shed for us His precious blood.
Who His love will not remember?
Who can cease to sing His praise?
He can never be forgotten,
Throughout Heav’n’s eternal days.

On the mount of crucifixion,
Fountains opened deep and wide;
Through the floodgates of God’s mercy
Flowed a vast and gracious tide.
Grace and love, like mighty rivers,
Poured incessant from above,
And Heav’n’s peace and perfect justice
Kissed a guilty world in love.

Let me all Thy love accepting,
Love Thee, ever all my days;
Let me seek Thy kingdom only
And my life be to Thy praise;
Thou alone shalt be my glory,
Nothing in the world I see.
Thou hast cleansed and sanctified me,
Thou Thyself hast set me free.

In Thy truth Thou dost direct me
By Thy Spirit through Thy Word;
And Thy grace my need is meeting,
As I trust in Thee, my Lord.
Of Thy fullness Thou art pouring
Thy great love and power on me,
Without measure, full and boundless,
Drawing out my heart to Thee.



Akhir kata, selamat memaknai sola fide dengan benar. Tanpa iman, kita tidak akan pernah selamat. Iman itupun sebenarnya telah ditetapkan oleh Allah di dalam diri seseorang. Itulah besar dan lebarnya kasih Allah di dalam kehidupan kita. Di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru, itulah makna keselamatan yang sesungguhnya. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2Korintus 5:17). Artinya kehidupan oleh iman adalah kehidupan yang memberikan buah pertobatan yang nyata di dalam kehidupan kita. Kita tidak pernah tahu bahwa kita ini sudah ditebus atau belum, tolok ukurnya adalah biasanya orang yang sudah ditebus akan menjadi resah apabila di sekitarnya masih ada orang-orang yang perlu kasih yang sesungguhnya.