Total Pageviews

Showing posts with label reflection. Show all posts
Showing posts with label reflection. Show all posts

Tuesday, June 19, 2018

(Un)Divided Attention



“Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat” begitulah tagline yang selama ini diyakini oleh begitu banyak orang tentang Social Media di dalam kehidupan kita. Mulai dari remaja-remaja SMP, sampai SMA bahkan hingga orang tua sekalipun menemui bahwa Social Media bukanlah hal yang baru. Mulai dari fungsinya sebagai suatu media untuk chatting, berbagai kehidupan pribadi, bahkan sekedar untuk membagikan informasi-informasi bagi teman-temannya.

Tentu ada begitu banyak dampak positif yang dapat ditimbulkan oleh social media. Saat ini begitu banyak informasi yang dapat diakses secara begitu cepat. Bahkan ada kisah-kisah inspiratif yang dibagikan melalui berbagai social media.

Menggantikan Keintiman Suatu Relasi
Tetapi ditengah banyaknya manfaat social media yang kita rasakan, tetap saja ada hal-hal yang ternyata tak tergantikan. Begitu banyak saat ini keluarga yang kehilangan komunikasi yang riil antar anggota keluarganya, menggantikan waktu ngobrol saat makan malam dengan bermain game atau sibuk menikmati percakapan whatsapp ataupun berbagi foto makanan mereka lewat Instagram. Melupakan doa sebelum makan, menggantikannya dengan sesi menangkap gambar dan membuat caption yang menarik agar orang-orang bisa mengetahui apa yang dimakan.

Serasa kita kehilangan empati bagi orang-orang yang ada di sekitar kita, dan ini bukan hanya terjadi pada keluarga. Ini juga terjadi baik ketika kita sendirian, ketika pacaran, dan sebagainya. Bahkan budaya ini begitu menguasai kehidupan kita, dan menggantikan komunikasi yang penuh keintiman dengan komunikasi yang penuh keterbukaan bagi orang lain, tetapi tertutup bagi orang-orang yang merupakan inner circle kita.

Generasi Pecinta Like
Apa tujuan kita dalam posting sesuatu di media sosial kita? Kalau diamati, sebagian adalah kisah tentang kehidupan kita sendiri yang kita rasa menarik buat orang lain tahu (atau kita lagi pengen dikepoin oleh orang yang kita cintai?... hmmmm), kemudian berbagai curhatan-curhatan seolah kita adalah pribadi yang paling menderita di dunia ini, kemudian sharing tentang masa liburan sehingga instastory kita bukan berbentuk garis, tetapi titik-titik yang sangat panjang, dan sebagainya.

Salahkah itu? Tidak kalau tujuan kita adalah untuk membagikan hal tersebut sehingga orang terinspirasi melalui kehidupan kita. Namun kalau tujuannya adalah sekedar ingin pamer dan membuktikan kalau kita bisa lebih baik daripada orang lain, mari cek kembali seberapa jauh rasa empati kita kepada orang lain? Ataukah kita sedang membangun kerajaan account kita sehingga kita punya berjuta-juta followers, namun gagal untuk membagikan kisah hidup yang bermakna bagi orang lain, dan orang lain malah belajar hal-hal yang negatif dari kehidupan kita?

Obsesi
Karena kita ingin dicintai, maka hal yang kita kejar adalah “like” dan “love”, dan kita terobsesi dengan gadget kita. Kita lupa bahwa ada orang-orang disekitar kita yang juga mencintai kita, bahkan lebih daripada follower-follower kita di media sosial yang terpasang di smartphone kita. Kita begitu terobsesi buat membagikan hidup, melihat layar smartphone kita dengan berbagai hiburan di dalamnya dan kita terperosok jatuh ke dalam suatu kebiasaan “mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”.

Bukan hanya media sosial, tetapi juga banyak hal yang membuat kita terobsesi dengan gadget kita. Berbagai permainan, tayangan drama korea, dan sebagainya. Intinya adalah hal-hal yang membuat kita mengurung diri di kamar dan di dalam keasyikan kita tanpa mempedulikan orang disekitar kita. Kita lebih merasa intim untuk melihat smartphone kita dibandingkan dengan berkomunikasi dengan orang yang kita cintai atau mencintai kita.

Bertanggung Jawab Terhadap Anugrah Tuhan
Mari kita belajar untuk mengembalikan anugrah Tuhan yang ada di dalam kehidupan kita kepada fungsinya secara bertanggungjawab. Smartphone adalah salah satu anugrah yang Tuhan sediakan dalam hidup kita, dan perannya bukanlah untuk menggantikan kehadiranNya di dalam kehidupan kita. Smartphone juga bukan suatu alat untuk mengalihkan perhatian kita dan menjadikan kita menjadi pribadi yang menikmati swafoto dibandingkan dengan menikmati kehadiran orang-orang yang Tuhan hadirkan di sekitar kita.

Mari belajar membatasi diri kita untuk tidak dikuasai oleh gadget kita, dan sediakan waktu buat orang lain, buat Tuhan, dan buat orang-orang yang mengasihi kita.

Mari belajar senantiasa punya empati bagi orang lain, punya cinta bagi orang lain, bukan hanya melalui media sosial kita, tetapi melalui aksi nyata dalam setiap kehidupan kita.

Soli Deo Gloria

Thursday, January 18, 2018

The Greatest Showman : 7 Hal Yang Dapat Kamu Pelajari dari Film Ini



Akhir tahun ini aku dapat kesempatan untuk menonton film “The Greatest Showman”, dan karena aku memang suka drama musikal, aku putuskan untuk menonton film tersebut. Ternyata film ini menarik banget lho. Jauh lebih bagus dari ekspektasi awal. Memang kalau aku nilai ceritanya tidak sedalam dan sebermakna Les Miserables yang juga diperankan oleh Hugh Jackman, tetapi film ini punya makna yang begitu dalam tentang bagaimana lika-liku kehidupan manusia.

1        Masa Lalumu Tidak Menentukan Masa Depanmu

Tokoh utama film ini diceritakan lahir dari keluarga miskin. Tetapi kita melihat bahwa di dalam menghadapi hidup yang begitu keras, ia berjuang dan akhirnya ia dapat meraih impiannya. Lagu yang indah untuk menggambarkan hal ini adalah “A Million Dreams”, yang juga menjadi salah satu soundtrack film ini. Jutaan impian dapat membuat kita tetap terjaga dan dapat diraih dengan imajinasi, serta usaha keras dan berani ambil resiko

2        Kita Tidak Dapat Membuat Semua Orang Bahagia

Kita bisa terjebak di dalam sebuah kondisi dimana kita ingin membuat semua orang senang. Padahal hal itu merupakan sesuatu yang tidak mungkin kita lakukan. Diceritakan di film ini ada seorang kritikus yang begitu tajam bagi Barnum. Namun ditengah kritikan itulah Barnum terus bertahan, tapi akhirnya goyah pada saat ia menghadirkan pertunjukan lain yang sama sekali berbeda dengan sirkus yang ia bentuk.

3        Dia yang Benar Mencintaimu takkan Meninggalkan Kamu

Hubungan Barnum dan Charity dipisahkan jarak selama bertahun-tahun. Tetapi janji untuk tetap bersama selalu ada dalam hati mereka. Hal inilah yang membuat pada akhirnya ia tetap setia dalam penantian. Begitu pula ketika Barnum berangkat menjalani konsernya bersama Jenny Lind, ia tetap dengan setia menanti kedatangannya. Kemudian lagu “Tightrope” menunjukkan betapa cinta itu berarti berani mengambil langkah iman untuk berani berjalan bersama dengan si dia. Jalanilah suka maupun duka dengan rasa syukur, pegang komitmen karena itulah dasar untuk menjalani dan merajut kisah bersama

4        Ketika Cinta Menghancurkan Tembok Pemisah

Kisah cinta antara Philip Carlyle dan Anne Wheeler adalah sesuatu yang menarik. Perbedaan ras, tingkat ekonomi, dan hobi mereka dipersatukan di sebuah pertemuan sederhana. Tatapan mata dan hasrat untuk mencinta itu cukup menjadi alasan untuk menyatu. Sampai pada akhirnya mereka berdua menjadi pasangan yang mungkin menjadi inspirasi bagi yang menonton film ini. Meskipun lagu “Rewrite The Stars” dinyanyikan dengan nada optimis dan realistis, pada akhirnya menjadi sesuatu yang positif di akhirnya.

5        Keberhargaan Hidup Tidak Ditentukan oleh Orang Lain

Salah satu lagu yang menjadi anthem dalam film ini adalah lagu “This Is Me”, dimana dikisahkan lagu ini dinyanyikan oleh sekumpulan orang aneh yang dikumpulkan oleh Barnum. Ya, setiap hal yang dianggap sebagai keanehan yang membuat kita dijauhi, jangan sampai menjadi penghalang bagi kita untuk menjadi diri kita sendiri apa adanya. Ketika kita mengerjakan segala sesuatunya dengan maksimal, maka kita akan menjadi pribadi yang berharga.

6        Sesuatu yang Mengisi Hati Kita

Jenny Lind, di film ini digambarkan sebagai seorang yang kesepian, dan dalam mengejar impiannya ia begitu struggle. Sampai akhirnya pertemuannya dengan Barnum membuka kesempatan untuk ia dapat mengejar impiannya. Namun ia menyadari ada kekosongan dalam hatinya yang ternyata gak bisa diisi harta maupun hal lain, kecuali cinta. Hal ini membuat Jenny melakukan berbagai hal yang nekat dan di luar dugaan. Ada sebuah kekosongan dalam hidup kita, dan biarlah ada Pribadi yang akan mengisinya dengan damai sejahtera untuk kita dapat menjalani hidup keseharian kita.

7        Tiada Tempat Untuk Kata “Menyerah”

Ada kalanya kita dibutakan oleh harta dan tahta, ketenaran dan uang mengaburkan impian kita. Hal-hal itu mungkin juga yang menjadi awal kehancuran hidup kita. Barnum menyadari hal itu dan menyanyikan lagu “From Now On”, menunjukkan bahwa selalu ada harapan bagi mereka yang mau fokus terhadap visi dan tujuan hidupnya. Ada kesempatan untuk kembali kepada visi hidup kita ketika kita mau melepaskan ikatan kita yang lama, memandang kepada masa depan yang cerah.

Yup! Itulah 7 hal yang bisa disampaikan. Sebenernya sih banyak banget nilai yang bisa diambil dari film ini. Tapi 7 hal itulah yang paling menancap di hati.

Friday, January 6, 2017

Happy & Sad New Year 2017



Setiap tahun baru merupakan sebuah momen untuk melakukan 2 hal. Apakah itu? Kita merencanakan apa yang akan menjadi tujuan kita di tahun 2017 sembari melakukan evaluasi di tahun 2016. Masa evaluasi itu menjadi sesuatu yang terkadang lupa kita lakukan. Kita terlarut dalam euforia tahun baru, dengan kembang api, tiupan terompet yang saling menyambar satu sama lain, dan letusan petasan yang makin menambah kemeriahan tahun baru.

Duduk diam sejenak, kita perlu membuka kembali kisah hidup kita di tahun 2016. Aku sendiri menyadari bahwa bukan hal mudah untuk mengingat 2016 dengan segala hal buruk yang terjadi tetapi tidak lupa juga ada begitu banyak hal baik yang dapat kita renungkan. Hal buruk itu macam apa? Bahwa ternyata ada begitu banyak tangis di tahun 2016. Kehilangan seorang sahabat, harus melihat dengan sedih bahwa ada barang-barang yang rusak, berantem dengan pacar dan sebagainya. Hal baik? Wah jauh lebih banyak lagi. Promosi jabatan, mendapatkan apresiasi di tempat kerja, dapat melayani bersama di gereja, dan seterusnya.

Kalau hal-hal positif, tentu kita kepengen untuk hal-hal tersebut bisa berulang di tahun yang baru. Iya donk, masa sih gak mau naik jabatan lagi? Masa sih kita gak mau dapat prestasi yang bagus lagi? Masa sih kita gak mau punya pacar baru lagi? #eh #inigakbener #abaikanaja

Mari kita telaah bagaimana hidup kita selama beberapa tahun ke belakang. Lho, bukannya evaluasi itu cuman dilakukan setahun ke belakang aja? Eits, belum tentu loh. Kita seringkali melihat kedepan dengan begitu serakah. Maksudnya kita sampe buat perencanaan hidup kita sampai 5 atau 10 tahun ke depan, tetapi begitu kita diminta untuk melihat ke belakang selama 5-10 tahun kebelakang, kenapa kita rasanya keberatan?

Kita bisa memilih untuk menentukan sikap kita manakala kita flashback pengalaman hidup kita. Begitu pula kita bisa menentukan sikap juga saat kita membuat perencanaan hidup kita.

Kalau kita belajar memandang seperti bagaimana Tuhan memandang hidup kita, maka kita akan dipenuhi dengan ungkapan syukur, sekalipun ada begitu banyak hal yang menyakitkan yang terjadi di dalam kehidupan kita. Bukan hanya ungkapan syukur manakala kita melihat teman kita mengalami hal yang lebih buruk, tetapi ungkapan syukur bahwa ada kesempatan yang Tuhan berikan untuk kita dapat mengalami hal buruk tersebut.

Setiap hal yang sudah terjadi dalam hidup kita – kita sadar dan percaya bahwa di dalam hal itu ada campur tangan Allah. Kita belajar untuk menyadari bahwa ternyata – di tengah tangis kita – itupun terjadi atas campur tangan Allah. Kalau begitu sah banget manakala kita tidak hanya mengatakan “happy new year” tetapi “happy and sad new year”.

Semata-mata ucapan itu sebagai tanda iman kita bahwa terlepas kondisi kita seperti apapun, ada penyertaan Tuhan yang selalu memberikan damai sejahtera di dalam kehidupan kita. Kesedihan kita menjadi sebuah batu pijakan untuk semakin menyadari bahwa kita masih membutuhkan Allah di dalam kehidupan ini. Semata-mata kita merindukan kehadiran-Nya yang memerdekakan. Kita rindu akan kuasa-Nya sembari menyadari bahwa pengharapan kita satu-satunya ada di dalam Dia.

Sedangkan hal yang positif – yang menyenangkan – yang terjadi dalam kehidupan kita seharusnya semakin mengingatkan kita bahwa ada campur tangan Allah juga di dalamnya. Bahwa kalau kita bisa melakukan dan mendapatkan berbagai hal yang Tuhan sediakan, itupun adalah anugrah Allah. Jadi jangan sombong, tetap rendah hati dan memaknai hidup sebagai anugrah. Menyadari akan hal ini akan membuat kita menjadi pribadi yang mudah bersyukur dan berbagai akan setiap hal yang kita miliki kepada orang lain yang kita temui. Kita menjadi pribadi yang sadar betul bahwa segala sesuatu yang kita punya semata-mata adalah alat yang Tuhan berikan untuk kita terus menjadi berkat  bagi sesama kita.

So, di tahun yang baru ini, entah apapun resolusi yang kita mau jalankan, entah evaluasi apa yang sudah kita refleksikan, marilah memulai tahun ini dengan pengakuan bahwa pertolongan kita datangnya dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi, yang memelihara ciptaan-Nya dengan kasih setia-Nya sampai selama-lamanya, yang setia dan tidak akan pernah meninggalkan kita.

Soli Deo Gloria!

Sunday, July 24, 2016

Memaknai Kekekalan



Apa sih maksudnya “hidup kekal”? Suasana di surga itu seperti apa sih? Terus kalau kita masuk surga, kita itu ngapain? Kalau begitu kenapa aku harus jadi orang percaya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang begitu umum didapati kalau kita berhadapan dengan orang-orang diluar sana, ataupun orang yang sedang dalam usaha untuk mencari jati dirinya di dalam kehidupan. Bahkan tidak jarang begitu banyak orang Kristen mempertanyakan hal ini, baik orang tersebut sudah lahir baru ataupun belum. Atau bahkan orang tersebut juga mempertanyakan apa itu lahir baru?

Dimensi Kekekalan
1 Yohanes 5:11
Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya.

Mari kita perhatikan kalimat di dalam ayat ini. “Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal…” Telah berarti hal tersebut sudah terjadi. Ketika kita membaca ayat ini, ada satu hal yang dapat kita simpulkan secara langsung, bahwa ternyata hidup kekal itu ada di dalam dimensi kekinian. Maksudnya adalah kehidupan kekal itu sudah kita dapatkan di dalam keselamatan. Keselamatan itu sudah merupakan kepastian manakala kita percaya kepadaNya.

Kalau begitu mungkin ada pertanyaan lanjutannya. Kalau bener bahwa ternyata hidup kekal sudah kita dapatkan, dan kita yakin bahwa kita sudah diselamatkan tapi kok ternyata hidup kita nggak berubah sama sekali? Tetep aja kita bisa jatuh dalam dosa. Tetep aja kita bisa ngerasa nggak layak untuk melayani Tuhan. Tetep aja bahwa di dalam kehidupan kita ternyata kita punya relasi yang tidak baik dengan sesama. Kita tetep aja nggak punya keinginan buat saat teduh. Boro-boro saat teduh, doa makan aja mungkin kita gak lakukan sama sekali.

Kemudian kita sama sekali melihat bahwa orang-orang diluar kekristenan ternyata memiliki pola hidup yang lebih baik dari kita. Attitude mereka bahkan jauh lebih baik daripada kita. Saat ada bencana alam, mereka justru menjadi orang-orang di garis terdepan dalam memberikan sumbangan. Mereka bahkan punya kehidupan yang jauh lebih beres. Ingat, mereka sama sekali tidak mengenal kekristenan. Mungkin mereka bahkan tidak beragama sekalipun.

Padahal di satu sisi kita sudah percaya Tuhan loh. Tetapi kenapa sih hidup kita sama sekali tidak ada perubahan?

-----
Perubahan Hidup?
2 Korintus 5:17
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Perubahan itu sebenarnya berangkat dari sebuah pola pikir yang benar. Ketika Paulus menyebutkan bahwa kita adalah “ciptaan baru”, apa yang ia maksudkan? Ternyata perubahan sikap itu sama sekali tidak ada di dalam kehidupan kita. Ciptaan baru dari mana?

Mari kita telaah lebih dalam. Ketika kita menyebut diri sebagai orang Kristen, maka definisi Kristen ini berasal dari 2 kata, “Christ” dan “ian”. Hilangkan Kristus sebagai pusat kehidupan kita, maka kita hanya disebut sebagai “ian”, yang tidak ada maknanya. Nah bedanya hanya disana. Ketika kita memiliki fokus hidup adalah Allah sendiri, Allah Tritunggal yang kita kenal di dalam pribadi Allah Bapa, Yesus, dan Roh Kudus, maka kita barulah layak menyandang istilah Kristen.

Kalau dibalik, ketika kita nyatakan bahwa kita adalah anak Tuhan, maka sebenarnya kita pun meneladani sikap Tuhan. Kalau kita adalah pengikut Kristus, berarti konsekuensinya kita mengikut Dia secara full time. Bukan berarti kemudian kita semua harus jadi hamba Tuhan full time, tetapi apapun yang kita kerjakan semua fokusnya adalah Kristus.

Dampak dari menjadikan Kristus sebagai fokus hidup, mau tidak mau adalah MELAYANI. Mengapa? Karena kalau kita membaca di dalam seluruh injil, inti kehidupan Yesus adalah MELAYANI. Tetapi jauh lebih dalam dari itu, pelayanan itu dilakukan oleh penguasa alam semesta. Pencipta dari langit dan bumi, Allah dari segala allah. Raja di atas segala raja. Bayangkan saja misalkan hari ini Presiden Jokowi tiba-tiba datang ke rumah kita dan kemudian ia memberikan segala yang ia miliki kepada kita. Bagaimana sikap hidup kita?

-----
Konsekuensi Menjadi Kristen
Matius 5:20 
Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Hidup keagamaan seperti apa yang dimiliki orang Farisi dan Ahli Taurat? Apakah kekurangan mereka. Coba bayangkan, mereka beribadah dengan begitu rupa. Mereka hapal hokum Taurat. Mereka menjaga hidup mereka. Mereka hapal kitab hukum Musa.

Satu hal yang menjadi kelemahan mereka adalah mereka tidak melakukannya dari hati mereka. Mereka tidak menghidupi hukum-hukum itu. Mereka menyalahartikan mengenai apa yang diinginkan Allah. Mereka melakukan semua aturan itu karena ingin menjadi orang terpandang di dalam masyarakat Yahudi waktu itu.

Tetapi apa yang dikatakan Yesus kepada murid-muridNya? Ia dengan begitu tegas bahwa kehidupan keagamaan mereka harus lebih baik lagi. Bukan hanya berhenti pada hukum-hukum, tetapi bagaimana kita bisa mengasihi sesama kita sembari mengasihi Tuhan. Contoh praktisnya? Doakan musuhmu. Salah satu contoh praktis itulah yang Tuhan berikan.

Konsekuensi menjadi pengikut Kristus adalah bahwa kita tidak boleh terperangkap di dalam ke-AKU-an kita. Hidup kita bukan milik kita lagi, tetapi Kristus di dalam kita. Itulah yang dikatakan Paulus. Artinya apa? Artinya bahwa segala hal yang kita kerjakan, semuanya bukanlah untuk kepentingan kita sendiri, tetapi kepentingan Allah.

-----
Panggilan Tuhan yang Lembut
Hai mari datanglah, Kau yang lelah mari datanglah! Sungguh lembut Tuhan Yesus memanggil, Kau yang sesat marilah! –Softly and Tenderly—
Yeremia 29:11 
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Okey kita sudah mengetahui sekarang seperti apa sebenarnya dimensi kekekalan, lalu perubahan hidup, kemudian kita juga sudah tahu konsekuensi menjadi orang Kristen. Kalau sampai bagian ini kita kemudian menjadi merasa semakin tidak layak, mari kita coba buka dari kitab Yeremia di atas. Rancangan TUHAN adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan.

Rancangan damai sejahtera di dalam perikop ini dapat kita maknai sebagai sebuah realitas hidup di dalam dimensi kekekalan. Ada sebuah pertanyaan: “kak, bagaimana kalau ternyata aku sudah terlanjur jatuh dan aku merasa gak ada lagi panggilan Tuhan dalam hidupku? Bagaimana kalau ternyata aku memang dirancang untuk masuk ke dalam neraka?”

Ingat dan percayalah bahwa alkitab ini ya dan amin. Rancangan damai sejahtera… itulah yang Tuhan sedang kerjakan di dalam hidup kita. Sebuah grand design yang sama sekali tidak akan pernah kita bayangkan. Rancangan kehidupan yang damai sejahtera! Apa yang dimaksud damai sejahtera?

Mari kita buka alkitab kita
Matius 25:30 
Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."

Gambaran apakah ini? Ini adalah gambaran mengenai neraka. Keselamatan kalau kita maknai di dalam dimensi kekekalan adalah perjumpaan muka dengan muka dengan Tuhan. Itulah yang dirindukan oleh Fanny Crosby, seorang penulis hymn yang di dalam kebutaannya menuliskan lagu “My Savior First of All”. Tentu kalau kita baca ini bukanlah kondisi damai sejahtera.

Damai sejahtera yang dijanjikan Tuhan adalah sebuah kondisi dimana ada persekutuan yang intim dengan Allah. Kalau di dalam dimensi kekekalan nanti, adalah perjumpaan face to face, di dalam dimensi keterbatasan waktu saat ini adalah keintiman relasi kita dengan Allah.

Tetapi ada dari kita yang mungkin berkata: “Well, abis sudah! Aku sama sekali nggak memaknai hidupku seperti yang Tuhan mau. Aku udah menyia-nyiakan hidupku.” Rekan-rekan, melalui tulisan ini aku mau coba untuk meyakinkan setiap kita bahwa tidak pernah ada kata terlambat manakala kita mau berubah. Tidak ada kata terlambat untuk kita dapat berbalik kepada Dia.

Di dalam setiap detail peristiwa hidup kita, Ia memberikan begitu banyak kesempatan untuk kita dapat kembali kepadaNya. Ketika kita bangun pagi, ketika kita masih dapat menghirup udara segar, ketika terjadi berbagai peristiwa yang ada di dalam hidup kita, percayalah bahwa itu adalah setiap rancangan damai sejahtera yang Tuhan kerjakan.


Tidak pernah ada kata terlambat sebelum kita mengakhiri hidup kita.

Salah seorang penjahat yang disalib bersama Yesus, seumur hidupnya mungkin dihabiskan dengan merampok, membunuh, mencuri, dan sebagainya. Begitu banyak pelanggaran dan kejahatan yang ia kerjakan. Tetapi apa kata Yesus manakala ia merendahkan hati dan menjawab panggilan Yesus?

Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."

Ia sedang memanggil kita. Tanpa lelah Dia mengingatkan kita untuk kembali. Kembali kepada pelukan kasih karunia Allah. Ia merindukan kita datang kepadaNya, menyapa Dia, dan menghidupi kasih karunia yang udah Dia berikan. Salib merupakan bukti kasih terbesar yang sudah Ia kerjakan. Ada pengharapan, ada damai sejahtera, dan ada penyertaan yang tidak pernah dapat kita bayangkan, tetapi selalu kita rasakan.

Pertanyaannya adalah, maukah kita menerima panggilan itu? Maukah dengan rendah hati kita datang kepadaNya? Maukah kita berbalik dari cara hidup kita yang lama, dan menjadi manusia baru seperti yang dikatakan Paulus? Maukah kita memaknai salib dan menerima Dia, mengijinkan Dia untuk menjamah kehidupan kita? Maukah kita merendahkan hidup kita di bawah kaki salibNya?

Tuhan memberkati
Soli Deo Gloria.