Total Pageviews

Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

Sunday, September 30, 2018

Melayani Sebagai Gaya Hidup

SPIRITUAL CHECKUP
Mzm 139

Sebuah mazmur dari Daud ini akan mengantarkan kita pada sebuah renungan tentang pelayanan. Rasa-rasanya sih sudah nggak asing lagi ya ketika menjadi seorang Kristen maka salah satu hal yang dapat kita lakukan (atau harus kita lakukan) adalah melayani. Tetapi pertanyaannya adalah ketika kita melayani Tuhan, benarkah kita melayani? Ataukah sebenarnya kita sedang memuaskan diri kita dengan kedok pelayanan?

PERIKSA MOTIVASI DALAM MELAYANI
Kalau kita mau melayani, pertama yang harus kita lakukan dan kita camkan baik-baik adalah tentang motivasi kita dalam melayani Tuhan. Begitu banyak orang ingin melayani bukan karena kesadaran karena menerima anugrah Allah, tetapi semata-mata karena ingin tampil di depan dan pada akhirnya mendapat sanjungan dan pujian dari orang-orang yang ia layani.

Waspadalah akan jebakan ketenaran dalam melayani Tuhan. Begitu mudah bagi kita terjebak dalam keinginan untuk ingin terkenal, setidaknya di gereja J

BAHAN BAKAR PELAYANAN
Kasih karunia adalah dasar dari pelayanan – dan inilah yang sering dilupakan oleh para pelayan Tuhan. Pelayanan sepenuhnya bukanlah ajang show off kita, tetapi disanalah kita bisa melihat karunia Tuhan di dalam diri kita. Berapa kali kita menghina seorang pelayan dan menyatakan bahwa ia tidak layak untuk melayani Tuhan? Ketika seseorang ternyata terlihat begitu brengsek tapi kok bisa dia berdiri di atas mimbar dan memberitakan Firman?

Ketika muncul pertanyaan tersebut, bukankah lebih baik bertanya: “kok bisa ya saya sendiri dipakai Tuhan padahal hidup saya masih aja menghakimi orang lain”. Standar yang kita kenakan kepada orang lain juga menjadi standar yang harusnya menjadi bahan bercermin kita bukan? Kasih karunia itu merupakan bahan bakar pelayanan yang takkan pernah habis. Kasih karunia yang tidak terbatas.

KEINDAHAN KASIH KARUNIA
Paulus menuliskan dalam 1Kor 2:1-5 bahwa ketika ia menyampaikan firman, yang ia andalkan hanyalah bagaimana Allah dinyatakan dalam pemberitaan yang ia sampaikan. Bukan masalah kemampuan berkotbah Paulus. Kalau kita tahu Paulus punya kemampuan yang luar biasa dalam berkotbah. Ia mempelajari agama Yudaisme, filsafat Yunani, dan berbagai ilmu yang dapat dia gunakan untuk berkotbah dengan baik dan menarik minat dari pendengarnya.

Tetapi apa yang ia beritakan bukanlah kehebatannya. Justru yang ia beritakan adalah hal-hal yang fokusnya hanya kepada Tuhan. Implikasinya pun masih relevan bukan hanya buat penginjil atau hamba Tuhan yang melayani di gereja. Ketika kita di marketplace pun prinsip yang sama juga berlaku. Apa atau siapa yang menjadi fokus pembicaraan atau pekerjaan kita? Apakah kehebatan kita ataukah melaluinya nama Tuhan yang dikenal dan ditinggikan?

Tentu bukan berarti ketika kita ada di kantor kemudian kita menyanyi lagu rohani ataupun tiba-tiba kita melakukan penginjilan dan menanyakan tentang jaminan keselamatan. Melalui tindakan kita, maka orang lain dapat melihat dan tertarik dengan hidup kita. Ketertarikan itu akan muncul menjadi hasrat untuk mengenal dasar hidup kita, dan disaat itulah kita dapat memberitakan Tuhan yang berkuasa dalam kehidupan kita.

MELAYANI SEBAGAI SUATU LIFESTYLE
Kita sudah tahu nih bahwa yang memampukan kita untuk dapat melayani dengan maksimal semata-mata adalah karena kasih karunia yang Tuhan berikan. Kalau kita sudah memahaminya, tentu kita saat ini punya pemahaman baru tentang kasih karunia. Bukan apa yang nampak, tetapi justru hal yang tidak nampaklah sebenarnya yang mendasari pelayanan kita. Tuhan melihat hati kita, Tuhan memeriksa hati kita. Jadi bukan karena kita dapat berkata-kata manis dan indah maka kita dapat melayani Tuhan, tetapi semata-mata karena Tuhan melayakkan.

Apa dasar kasih karunia? Pelayanan Tuhan Yesus sendiri. Menjadi orang Kristen berarti kita meneladani Yesus Kristus yang sudah melayani kita dan memberikan kasih karunia pada kita. Ketika gaya hidup Tuhan Yesus adalah gaya hidup melayani, kita pun sebagai muridNya diajak untuk menjadikan pelayanan sebagai gaya hidup kita.

Soli Deo Gloria!

Thursday, January 18, 2018

The Greatest Showman : 7 Hal Yang Dapat Kamu Pelajari dari Film Ini



Akhir tahun ini aku dapat kesempatan untuk menonton film “The Greatest Showman”, dan karena aku memang suka drama musikal, aku putuskan untuk menonton film tersebut. Ternyata film ini menarik banget lho. Jauh lebih bagus dari ekspektasi awal. Memang kalau aku nilai ceritanya tidak sedalam dan sebermakna Les Miserables yang juga diperankan oleh Hugh Jackman, tetapi film ini punya makna yang begitu dalam tentang bagaimana lika-liku kehidupan manusia.

1        Masa Lalumu Tidak Menentukan Masa Depanmu

Tokoh utama film ini diceritakan lahir dari keluarga miskin. Tetapi kita melihat bahwa di dalam menghadapi hidup yang begitu keras, ia berjuang dan akhirnya ia dapat meraih impiannya. Lagu yang indah untuk menggambarkan hal ini adalah “A Million Dreams”, yang juga menjadi salah satu soundtrack film ini. Jutaan impian dapat membuat kita tetap terjaga dan dapat diraih dengan imajinasi, serta usaha keras dan berani ambil resiko

2        Kita Tidak Dapat Membuat Semua Orang Bahagia

Kita bisa terjebak di dalam sebuah kondisi dimana kita ingin membuat semua orang senang. Padahal hal itu merupakan sesuatu yang tidak mungkin kita lakukan. Diceritakan di film ini ada seorang kritikus yang begitu tajam bagi Barnum. Namun ditengah kritikan itulah Barnum terus bertahan, tapi akhirnya goyah pada saat ia menghadirkan pertunjukan lain yang sama sekali berbeda dengan sirkus yang ia bentuk.

3        Dia yang Benar Mencintaimu takkan Meninggalkan Kamu

Hubungan Barnum dan Charity dipisahkan jarak selama bertahun-tahun. Tetapi janji untuk tetap bersama selalu ada dalam hati mereka. Hal inilah yang membuat pada akhirnya ia tetap setia dalam penantian. Begitu pula ketika Barnum berangkat menjalani konsernya bersama Jenny Lind, ia tetap dengan setia menanti kedatangannya. Kemudian lagu “Tightrope” menunjukkan betapa cinta itu berarti berani mengambil langkah iman untuk berani berjalan bersama dengan si dia. Jalanilah suka maupun duka dengan rasa syukur, pegang komitmen karena itulah dasar untuk menjalani dan merajut kisah bersama

4        Ketika Cinta Menghancurkan Tembok Pemisah

Kisah cinta antara Philip Carlyle dan Anne Wheeler adalah sesuatu yang menarik. Perbedaan ras, tingkat ekonomi, dan hobi mereka dipersatukan di sebuah pertemuan sederhana. Tatapan mata dan hasrat untuk mencinta itu cukup menjadi alasan untuk menyatu. Sampai pada akhirnya mereka berdua menjadi pasangan yang mungkin menjadi inspirasi bagi yang menonton film ini. Meskipun lagu “Rewrite The Stars” dinyanyikan dengan nada optimis dan realistis, pada akhirnya menjadi sesuatu yang positif di akhirnya.

5        Keberhargaan Hidup Tidak Ditentukan oleh Orang Lain

Salah satu lagu yang menjadi anthem dalam film ini adalah lagu “This Is Me”, dimana dikisahkan lagu ini dinyanyikan oleh sekumpulan orang aneh yang dikumpulkan oleh Barnum. Ya, setiap hal yang dianggap sebagai keanehan yang membuat kita dijauhi, jangan sampai menjadi penghalang bagi kita untuk menjadi diri kita sendiri apa adanya. Ketika kita mengerjakan segala sesuatunya dengan maksimal, maka kita akan menjadi pribadi yang berharga.

6        Sesuatu yang Mengisi Hati Kita

Jenny Lind, di film ini digambarkan sebagai seorang yang kesepian, dan dalam mengejar impiannya ia begitu struggle. Sampai akhirnya pertemuannya dengan Barnum membuka kesempatan untuk ia dapat mengejar impiannya. Namun ia menyadari ada kekosongan dalam hatinya yang ternyata gak bisa diisi harta maupun hal lain, kecuali cinta. Hal ini membuat Jenny melakukan berbagai hal yang nekat dan di luar dugaan. Ada sebuah kekosongan dalam hidup kita, dan biarlah ada Pribadi yang akan mengisinya dengan damai sejahtera untuk kita dapat menjalani hidup keseharian kita.

7        Tiada Tempat Untuk Kata “Menyerah”

Ada kalanya kita dibutakan oleh harta dan tahta, ketenaran dan uang mengaburkan impian kita. Hal-hal itu mungkin juga yang menjadi awal kehancuran hidup kita. Barnum menyadari hal itu dan menyanyikan lagu “From Now On”, menunjukkan bahwa selalu ada harapan bagi mereka yang mau fokus terhadap visi dan tujuan hidupnya. Ada kesempatan untuk kembali kepada visi hidup kita ketika kita mau melepaskan ikatan kita yang lama, memandang kepada masa depan yang cerah.

Yup! Itulah 7 hal yang bisa disampaikan. Sebenernya sih banyak banget nilai yang bisa diambil dari film ini. Tapi 7 hal itulah yang paling menancap di hati.

Friday, May 1, 2015

Keberhargaan Hidup Manusia

“Aku mah apa atuh?” kata-kata ini seringkali menjadi sebuah ungkapan manakala seseorang merasa nggak pede atas hal yang ia perbuat. Ataupun kata-kata ini seringkali terlontar oleh seorang bawahan yang merasa bahwa dia tidak punya kuasa sebesar bosnya. Hummm…

Tunggu sebentar, kalimat itupun ternyata juga menjadi sebuah kalimat dimana seseorang tidak yakin bahwa dia berharga. Contohnya saja seorang pengemis (bukan pengemis cinta yah…) yang merasa pasrah atas kehidupannya. Ia bertanya kepada dirinya sendiri sebenarnya siapa dia di hadapan orang-orang sekitarnya yang mungkin lebih kaya atau lebih mampu dari dia.

Jauh sebelum kalimat ini terlontar, lebih dari 2000 tahun lalu kalimat ini juga diucapkan oleh beberapa orang. Bahkan yang mengucapkan kalimat ini adalah seorang pemimpin yang membawa bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan Mesir. Ya, dia adalah Musa. Allah memanggil Musa untuk membebaskan Israel, dan di hadapan Allah, Musa bertanya kalimat berikut:

Keluaran 3:10
Tetapi Musa berkata kepada Allah: "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?"

Siapakah aku ini, adalah sebuah pertanyaan Musa kepada Allah manakala ia tidak siap untuk menerima sebuah tugas yang begitu besar. Ketidakyakinan Musa kemudian diubahkan Allah sampai akhirnya ia mau diutus dan kemudian akhirnya ia berhasil membebaskan bangsa Israel dari Mesir. Sekalipun pada akhirnya ia tidak sampai pada tanah perjanjian, tetapi ia membawa bangsa yang tegar tengkuk itu ke dalam tanah perjanjian Allah.

Ada satu lagi orang yang menanyakan hal yang sama di hadapan Allah. Kali ini menanyakan hal tersebut karena suatu janji yang begitu indah yang sudah dijanjikan oleh Allah. Dia adalah raja Israel, yaitu Daud.

2Samuel 7:18
Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN sambil berkata: "Siapakah aku ini, ya Tuhan ALLAH, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?

Nada yang diutarakan Daud jauh lebih positif, di dalam konteks bahwa melalui Daud maka kerajaan Israel akan berdiri kokoh. Sekalipun kita akan mengingat terus peristiwa perselingkuhannya dengan Betsyeba, tetapi kita melihat tangan penyertaan Allah menaungi keluarga Daud dan kerajaan Israel, sampai kepada karya Yesus di kayu salib yang kalau kita lihat, Yesus pun berasal dari garis keturunan Daud.

Pernyataan “Siapakah aku ini” sebenarnya mengandung makna yang begitu mendalam. Pernyataan ini merupakan suatu pernyataan bahwa ketika kita berbicara dengan orang / pihak di hadapan kita, kita tidak mampu ataupun sebenarnya kita tidak layak untuk berbicara atau menerima sesuatu dari pihak / orang tersebut. Realitasnya? Ya memang sebenarnya kalau kita berdiri di hadapan Tuhan yang maha besar kita tidak akan punya kekuatan tersebut. Di hadapan Allah semesta langit itu adalah sebuah pernyataan yang begitu jujur.

Tetapi segalanya berubah saat ini. Kita menjadi pribadi yang minder manakala kita tidak memiliki sesuatu yang menurut ukuran dunia merupakan suatu hal yang wajib dimiliki. Ketika orang lain punya gadget terbaru, maka kitapun ingin memilikinya. Kalau tidak maka kita merasa lebih tidak berharga dibandingkan dia. Kalau orang lain sudah punya pacar yang cantik dan kita belum punya, maka kita bisa merasa lebih jelek dibandingkan dia. Sampai mungkin kita sampai pada suatu kesimpulan: betapa tidak adilnya Tuhan ketika menciptakan kita menjadi pribadi yang kurang ganteng.

Namun ketidakberhargaan manusia ternyata bukanlah sebuah alasan untuk Allah berhenti berkarya melalui kehidupan kita. Buktinya adalah salib, dimana seluruh ketidakbermaknaan kehidupan kita dihancurkan. Dignity kita mulai dibangun melalui karyaNya. Status kita sebagai manusia akhirnya dikembalikan menjadi ciptaan baru melalui salib itu. Saat kita menyadari karya Yesus di kayu salib seharusnya kalimat “Siapakah aku ini?” menjadi sebuah kalimat yang wajib kita tanyakan.

Ketika Allah memandang kita dengan begitu berharga, mengapa akhirnya kita menyia-nyiakan hidup kita dengan memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang kita? Mengapa akhirnya kita mencari nama baik namun mengabaikan karya Yesus di dalam kehidupan kita? Kita lebih senang bermain aman agar status kita tidak terancam, namun lupa bahwa sebagai orang Kristen tidak ada yang namanya main aman. Semuanya didasarkan pada anugrahNya dan anugrah itulah seharusnya yang memampukan kita melihat diri kita sebagaimana kita ada.

Kalau begitu, keberhargaan hidup kita sebenarnya bukan ditentukan melalui hal-hal yang fana. Tiada yang baka di dalam dunia, semua yang indah pun akan lenyap – demikian bunyi sebuah lagu hymn. Artinya bahwa keberhargaan hidup kita ditentukan bukan oleh hal-hal yang kita miliki di dunia ini. Keberhargaan hidup adalah mengenai relasi dan kesadaran akan anugrah Tuhan atas kehidupan kita. Menyadari hal ini membuat kita menjadi pribadi yang percaya diri, dan membawa kita kepada satu kesadaran akan iman kita kepada Dia.

Adakah kita merasa bahwa hidup kita dipenuhi oleh kesia-siaan? Adakah kita merasa bahwa kita tidak berharga karena kita nggak punya banyak hal yang dapat kita banggakan? Adakah kita bertanya “siapakah aku ini?” padahal status kita sudah diubahkan olehNya?

Karena Kristuslah kita berharga. Karena anugrahNya yang begitu besar atas kehidupan kitalah maka kita dapat memberikan yang terbaik untuk kemuliaanNya. Karena anugrah itulah kita sadar bahwa kita manusia lemah, namun Ia menjadikan kita berharga untuk kemuliaanNya


Soli Deo Gloria 

Sunday, March 15, 2015

Menikmati Anugrah Allah

Pernahkah membayangkan bahwa ternyata seluruh hidup kita adalah tentang Allah? Ketika kita makan, ketika kita tidur, ketika kita mengerjakan aktivitas kita, ternyata Allah turut bekerja.

Manusia di tengah berbagai kecanggihan teknologi terkini mulai kehilangan kemanusiaannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebanggaan seseorang saat ini adalah ketika dia punya gadget terbaru. Akhirnya fokus hidupnya hanyalah untuk mengejar hal tersebut.

Berbagai hal dan penemuan baru membuat kita semakin excited dan mungkin akhirnya kita melupakan berkat-berkat kecil ataupun besar yang Tuhan sediakan atas kehidupan kita. Kita menjadi pribadi-pribadi yang cepat sekali mengeluh manakala tidak mendapatkan hal yang kita inginkan. Kita akhirnya menjadi pribadi-pribadi yang begitu apatis, kita jadi pribadi yang egois, kita selalu ingin lebih dan lebih.

Menikmati anugrah Allah di dalam kehidupan bukan berarti bahwa Allah harus selalu memberikan segala hal yang kita minta. Itu sih namanya rakus. Oke kita melihat kembali bahwa ternyata sifat rakus yang dimiliki manusia ternyata sudah ada dari dulu. Kita melihat dihancurkannya menara Babel. Tetapi yang paling dapat kita pelajari dari Perjanjian Lama sendiri adalah bagaimana kisah perjalanan bangsa Israel sekeluar mereka dari tanah Mesir.

Pernah membayangkan berjalan selama 40 tahun? 40 tahun yang dirasakan bangsa Israel dengan begitu lama dan akhirnya dari generasi selama 40 tahun itu, hanya 2 orang dari generasi eksodus itu yang masuk ke tanah perjanjian. Siapa mereka? Kaleb bin Yefune, dari suku Yehuda, dan Yosua bin Nun, yang dipercaya sebagai suksesor dari Musa.

Selama 40 tahun perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir, kita melihat bagaimana pergumulan bangsa itu dengan luar biasa. Tetapi di tengah pergumulan itu ada berkat dan kasih Allah Yehova yang begitu besar di dalam kehidupan mereka. Sekeluar mereka dari Mesir, mereka diberikan tiang awan dan tiang api. Kemudian ketika kelaparan, mereka mendapatkan manna. Ketika mereka haus, Allah menyediakan air. Mereka bosan makan manna, mereka diberikan akanan makanan lain yakni burung.

Kurang apa sih Allah di dalam kehidupan Israel? Kelihatannya Allah ialah Allah yang begitu kejam, sampai memutar-mutar bangsa itu hingga 40 tahun. Tetapi selama 40 tahun itulah ternyata semakin kelihatan seperti apa sikap bangsa Israel terhadap penyertaan Tuhan. Mereka tetap menjadi bangsa yang tegar tengkuk. Mereka tetap ingin kembali ke Mesir. Mereka terngiang oleh memori lama mereka. Mereka gagal melihat bagaimana karya Allah di dalam kehidupan mereka.

Hal ini tidak jauh berbeda dengan masa kini. Memaknai hidup yang berasal dari Allah ternyata merupakan hal yang begitu sulit kita lakukan sebagai seorang Kristen. Bersyukur menjadi suatu hal yang hampir tidak mungkin karena ternyata rasa syukur kita dinilai dari materi. Ketika gadget kita kalah canggih dengan orang lain, kita menggerutu. Ketika kita makan di restoran mahal yang harganya mahal, kita protes. Ketika kita mendapatkan gaji bulanan yang sudah cukup besar, kita masih saja mengeluh karena gaji itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kita.

Mulai terlihat kan persamaan antara kita dengan bangsa Israel? Alih-alih kita bersyukur atas segala hal yang sudah Dia sediakan di dalam kehidupan kita, ternyata kita jauh lebih banyak mengeluh atas kondisi yang kita hadapi. Kita selalu tidak puas dan akhirnya hal itu membuat kita tidak bisa “merayakan” anugrah yang Tuhan berikan atas kehidupan kita. Padahal anugrah yang paling sederhana pun yang dapat kita rasakan: ketika kita masih bisa bernafas; itupun jarang kita syukuri.

Ketika kita mengetahui dan memaknai anugrah Allah, kita dapat menikmatinya dengan suatu sukacita surgawi. Berkat Tuhan itu selalu “more than meets the eye”, yang berarti kita tidak pernah bisa melihat kalau kita tidak belajar untuk hening sejenak, diam dan memaknai betapa besar kasih Allah di dalam kehidupan kita. Kebermaknaan hidup didapatkan ketika kita belajar untuk melihat karya Allah yang bahkan tidak dapat kita lihat secara fisik. Ketika kita tidak dapat melihat berbagai karyaNya, kita perlu belajar untuk meminta dan memaknai anugrah – bahkan sekecil apapun anugrah itu.

Sama seperti kita memaknai lagu, kita bisa belajar dari memaknai anugrah Allah di dalam kehidupan kita. Maksudnya seperti apa? Teman-teman, kalau kita lihat dari lagu-lagu hymn yang ada di buku lagu NKB, PKJ, dan KJ, kesan apa yang teman-teman dapatkan? Jadul? Ya itu jawaban yang paling sering dinyatakan. Tetapi kalau teman-teman melihat ada banyak lagu yang ternyata justru maknanya begitu dalam, begitu indah, begitu menyentuh hati kalau kita memaknainya. Bayangkan contohnya lagu “Bila Kulihat Bintang Gemerlapan”, yang mengungkapkan keagungan karya Allah dan ketakjuban penulis. Pernyataan iman atas keindahan ciptaan yang menggambarkan karya Allah, itulah yang dimaknai penulis lagu ini.

Ungkapan syukur itu akan selalu menghasilkan sesuatu yang positif dalam kehidupan kita. Anugrah itu tersedia atas kehidupan kita. Berbagai proses baik itu menyenangkan ataupun menyakitkan, semuanya sudah dirancang oleh Allah untuk menjadikan kita pribadi-pribadi yang mampu melihat “lebih dari yang dilihat mata”. Artinya kita belajar bukan hanya melihat, tetapi mengapresiasi karya Allah. Mengapresiasi kehidupan yang sudah Ia anugrahkan dan akhirnya kita menyatakan rasa syukur itu melalui kehidupan kita.

Akhirnya ungkapan syukur itu akan menjadi sesuatu yang dapat memberkati banyak orang. Seseorang yang menyadari akan anugrah Allah akan begitu menikmati kehidupan dekat denganNya. Ia akan menikmati momen-momen dimana Kristus ada di dalam kehidupannya, menuntun dia dan terus membuat dia menjadi seseorang yang selalu mengucap syukur.

Saya menutup perenungan ini dengan sebuah kisah dari Joni Earackson Tada. Dia adalah seorang wanita yang begitu cantik. Dia pintar, punya begitu banyak bakat, dan masa depannya terasa begitu cemerlang. Suatu hari, Joni pergi untuk berolahraga di laut. Musibah terjadi di dalam kehidupannya. Joni yang punya begitu banyak cita-cita ternyata tidak sengaja menabrak sebuah karang. Hal ini membuat seluruh badannya dari leher ke bawah mengalami lumpuh.

Dokter pun sudah mengkonfirmasi mengenai kehidupannya. Ia akan mengalami kelumpuhan seumur hidup. Respons Joni? Ia marah pada awalnya, tetapi ia belajar untuk menenangkan diri. Ia akhirnya belajar untuk melihat lebih dari yang dilihat manusia. Ia melihat Allah memanggil Dia untuk berkarya bagi kerajaanNya. Apa itu? Ia akhirnya menjadi seorang penulis buku, di tengah berbagai keterbatasannya. Ia menjadi seorang pengkotbah dan ia mulai belajar menggunakan mulutnya, matanya, seluruh hal yang masih dapat ia gunakan untuk berkarya di dalam kehidupan yang Tuhan percayakan dalam kehidupannya.


Kalau kehidupan kita ternyata masih belum ada di titik yang terendah, atau mungkin teman-teman sedang mengalami hal-hal yang membuat teman-teman gagal untuk melihat karya Tuhan, sekarang saatnya kita belajar untuk melihat lebih dari yang dilihat mata. Ketika Tuhan memberikan berbagai proses hidup, semuanya adalah untuk kebaikan kita. Semuanya adalah untuk membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yang kuat untuk menghadapi berbagai proses kedepan untuk kita dapat hidup. Pertanyaannya, maukah teman-teman belajar memaknainya?

Monday, October 28, 2013

Esensi dari “Memuliakan Tuhan dan Menikmati Dia Sepanjang Waktu”

Sangat sering kita mendengar tentang kalimat di atas, yakni tujuan hidup manusia adalah Memuliakan Tuhan dan menikmati Dia sepanjang waktu. Tepat sekali, kalimat itu adalah pertanyaan pertama serta jawabannya dari Katekismus Singkat Westminster. Sebelum saya mengetahui kalimat ini, saya mengetahui bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah. Artinya bahwa Allah sangat gembira melihat kita menjadi pribadi yang sengsara.

Mungkin itulah yang dirasakan oleh sahabat-sahabat kita dari keyakinan seberang. Menyiksa diri demi memuaskan Allah dan tidak pernah yakin akan nasib mereka di hari depan. Manakala ditanya, kemana tujuan mereka setelah mereka mati, jawabannya adalah “SEMOGA”. Bukankah kita sebagai orang Kristen perlu menangis ketika melihat realitas ini? Apakah kita sebagai orang Kristen – yang sudah mendapatkan jaminan keselamatan – tidak memiliki kerinduan tertentu terhadap sahabat-sahabat kita ini?

Bahwasanya ketika memuliakan Tuhan, kita juga menikmati Dia. Poin “menikmati Dia” mungkin merupakan salah satu hal yang sering kita sangsikan. Hal ini tak lain disebabkan karena terkadang kita berpikiran bahwa ketika ada hal buruk menimpa kita, dan Allah berdaulat, bagaimana mungkin kita bisa menikmati Dia? Seperti apa sih sebenarnya menikmati Dia? Justru di dalam banyak hal, kita seringkali gagal menikmati Allah – apalagi kalau kondisinya adalah kita mengalami hal-hal buruk. Kita gagal layaknya Ayub ketika ia menyatakan bahwa ketika hal buruk terjadi dalam hidupnya, ia justru menunjukkan imannya – dengan mengatakan bahwa setiap kita harus mau menerima hal yang buruk dalam relasi kita dengan Allah.

Memuliakan Tuhan – apa yang kita bayangkan pertama kali saat mendengar frase ini? Memuliakan Tuhan bisa saja kita artikan bahwa kita melayani Tuhan melalui talenta yang kita miliki. Contoh: ketika kita bisa menyanyi, kita menyanyi di gereja. Ketika kita bisa memainkan alat musik, kita menunjukkan kebolehan kita. Apakah sesempit itu? Tentu tidak. Bahkan kalau kita membaca di Roma 12:1 maka sebenarnya seluruh aspek kehidupan kita seharusnya akan mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan. Jadi waktu kita tidur pun, kita memuliakan Tuhan. Waktu kita makan, kita memuliakan Tuhan.

Menikmati Dia – bahkan dalam rangka kita memuliakan Tuhan kita bisa menikmati Dia sepanjang waktu. Artinya? Kita benar-benar menikmati anugrah Allah. Melalui apa? Melalui segalanya yang sudah Tuhan sediakan bagi kita. Apabila kita berbicara “SEGALANYA” berarti bahkan sesuatu hal buruk pun, kita harus belajar untuk menikmati itu dalam kehidupan kita. Susah ya? Iya kelihatannya. Di dalam pemaknaan kita sebagai seorang manusia, maka sangat susah. Tetapi ketika kita kembali lagi bahwa kehidupan kita sebenarnya adalah di tanganNya, maka sebenarnya tidak ada hal detail sekecil apapun yang terlewat dari Allah. Ia mengatur segala hal termasuk rencana hidup kita, apa yang kita makan, Tuhan sudah mengetahuinya sejak kekekalan.

Kedua sisi ini harus kita maksimalkan. Ada kalanya kita hanya ingin memuliakan Tuhan – membiarkan diri kita disiksa. Artinya bahwa kita sama sekali tidak menikmati pelayanan ataupun hidup yang sudah Tuhan berikan. Kita cenderung memiliki kerohanian yang terus menerus tertekan. Kita menganggap bahwa apa yang kita lakukan, Tuhan tidak menyukainya. Kesenangan kita berbeda dengan kesenangan Tuhan. Apa yang membuat kita bersukacita, Tuhan pasti tidak bersukacita. Seringkali kita terjebak di dalam anggapan seperti itu. Hal itu terjadi saat kita belum mengerti bahwa kita adalah orang-orang yang sudah diberikan sebuah privilege untuk membenci dosa. Ia sudah membeli kita menjadi hambaNya, bukan lagi hamba dosa. Oleh karena itu kita perlu terus menerus bersyukur dan kita perlu sadar bahwa dosa sama sekali tidak memiliki kuasa atas kehidupan kita. (1 Korintus 7:22-23)

Di satu sisi lain, kita terjebak di dalam ekstrim yang satunya, yakni menikmati anugrah Tuhan saja tanpa mau memuliakan Dia. Kita menjadi sebuah pribadi yang egois dan meninggikan diri kita. Bahasanya adalah “aji mumpung”. Mumpung saya memiliki kemampuan yang luar biasa, maka saya pastilah Tuhan berkenan atas apapun yang saya lakukan. Itulah bahasanya. Nah ekstrim ini juga berbahaya, karena akan menjadikan kita seorang pribadi yang meninggikan diri sendiri. Motivasi utama kita saat kita pelayanan akhirnya bukanlah demi kemuliaan Tuhan, tetapi bagaimana kita bisa memamerkan kehebatan kita yang sebenarnya itu semua berasal dari Allah.

Kedua sisi ini perlu untuk kita jagai sepenuhnya. Sebagai gambar dan rupa Allah, kita memiliki tanggung jawab untuk menampilkan kemuliaanNya dan sebagai orang-orang yang sudah menerima anugrah keselamatan, kita perlu sadar bahwa kita perlu menikmati suatu relasi yang intim dengan Dia. Melalui apa? Tentu saja melalui saat teduh dan doa-doa kita kepadaNya. Bukan hanya itu, bahkan di dalam keseharian kita pun – dalam setiap detail yang kita lakukan, kita perlu melihat bahwa ada anugrah yang sudah Tuhan berikan di dalam kehidupan kita. Tujuan hidup kita, cita-cita kita, segala detailnya, semuanya sebenarnya adalah anugrah, dan kita sebagai orang percaya perlu untuk terus bergumul. Pergumulan dimana kita perlu untuk merenungkan apa yang Tuhan mau untuk kita lakukan – yang mana namaNya semakin dimuliakan – sembari kita menikmati proses yang daripada Tuhan.

Soli Deo Gloria

Sunday, March 31, 2013

Refleksi Paska - Kematian dan Kebangkitan Kristus dan Bagaimana Memaknainya


Paska identik dengan suatu perayaan mencari telur. Tradisi ini sangat umum apabila dilihat di negara-negara di Eropa. Satu film yaitu Rise of The Guardians menunjukkan betapa Paska merupakan suatu hari yang dinanti-nantikan oleh anak-anak. Lebih jauh lagi, Paska mengingatkan juga pada Easter Bunny, seekor kelinci yang melompat-lompat dan menyembunyikan telur yang diwarna-warni.

Nah bagi orang Kristen sendiri, Paska menjadi suatu peringatan yang luar biasa. Sang Juruselamat yaitu Yesus sendiri menyerahkan nyawaNya untuk menebus dosa umat manusia. Sola Gratia! Ya, semuanya itu adalah anugrah yang luar biasa. Karya keselamatan itu dimulai dari pelayanan Tuhan Yesus yang ‘mengganggu’ sistem agama saat itu, kemudian diwarnai dengan pemberontakan muridNya yaitu Yudas akibat kekecewaannya. Selain itu juga diwarnai dengan berbagai berita alkitab yang mana sudah dinubuatkan di Perjanjian Lama oleh Nabi Yesaya. Yesaya 53 memberitakan tentang Sang Juruselamat jauh sebelum Tuhan Yesus hadir di dunia sebagai 100% manusia dan 100% Allah.

Berita Paska menjadi suatu berita yang menarik, bagaimana tidak, karena karya keselamatan dilakukan Allah, dengan kematian Tuhan Yesus, murka Allah dipuaskan, dan dosa manusia dibasuh bersih oleh anugrah. Oleh Adam, seluruh manusia membawa natur dosa, dan oleh Kristus semua manusia dibersihkan. Sebagai orang Kristen kita boleh percaya bahwa sudah ada suatu tempat yang disediakan bagi kita.

Di dalam keselamatan karena karya Allah tersebut, pertanyaannya adalah, sudah sejauh apa kita memaknai arti Paska yang sebenarnya? Apabila kita mencoba mendalami karya keselamatan Allah, tidak bisa dilepaskan darinya adalah tanggung jawab manusia SETELAH kita diselamatkan oleh Allah sendiri. Maksudnya adalah, setelah kita menerima ANUGRAH dari Tuhan sendiri, apa yang harus kita lakukan?

Kekristenan tidak melulu bicara tentang surga dan neraka. Seorang percaya dapat menjadi percaya kepada Tuhan, bukan karena dia takut akan neraka, namun lebih jauh dari itu, dia telah dipilih oleh Allah, entah bagaimana caranya baik melalui orang lain ataupun segala karya Allah di dalam hidupnya. Jadi kekristenan yang sejati berawal dari inisiatif Allah sendiri. Seluruhnya adalah inisiatif dari Allah, dan manusia hanya dapat memaknai inisiatif tersebut dengan belajar mengenal dan memuliakan Allah sepanjang waktu. Kalau kekristenan kita hanya didasari dengan ketakutan kita akan masuk neraka, apakah benar kita mengasihi Tuhan seperti yang Yesus katakan: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37-39)

Kembali kepada Paska, yang mana merayakan kematian Tuhan Yesus dan kebangkitanNya mengatasi maut. Bukankah ini merupakan berita sentral di dalam Kekristenan? Ya, inilah berita sentral dari karya keselamatan yang dilakukan oleh Allah dengan merelakan AnakNya yang tunggal untuk menjadi buah sulung. (1 Korintus 15:23) Bagaimana sikap kita sebagai orang Kristen menanggapi panggilan ini? Berita sentral ini tentunya perlu kita tanggapi dengan penyerahan diri penuh kepada Tuhan. Ya, Paska menjadi suatu momen yang mengingatkan kita tentang pengorbanan Tuhan Yesus, namun lebih dari itu kita sebagai umatNya diajak untuk meneladani sikapNya.

Tentu bukan hal yang mudah di dalam meneladani sikap Kristus. Tetapi justru momen Paska juga mengingatkan kita untuk START OVER. Maksudnya? Paska merupakan suatu perayaan yang mana diambil dari pada saat umat Israel keluar dari Mesir, dipimpin oleh Musa. Bangsa itu mulai merayakan Passover. Nah pembebasan dari Mesir ini merupakan suatu gambaran yang luar biasa, bagaimana Allah melalui AnakNya sendiri melepaskan kita dari belenggu dosa. Mengutip lagu dari Les Miserables: “Come with me, where chains will never bind you, All your grief, at last at last behind you”. Inilah gambaran janji Allah di dalam Paska.

Setiap kejadian dalam hidup kita, itu merupakan campur tangan dan rencana Allah di dalam kehidupan kita. Allah yang bangkit, Allah yang melalui Yesus Kristus, menebus dosa manusia dan Allah itulah yang terus berkarya di dalam kehidupan umat manusia sampai saat ini. Dialah yang berkuasa atas kehidupan kita, Dialah yang berdaulat atas kehidupan kita. Tinggal saat ini bagaimana kita sebagai saudara Kristus menjadi rekan sekerjaNya. Memberitakan kabar baik ini, yang mana fokusnya adalah Kristus sendiri yang sudah menyelamatkan umat manusia dari jeratan maut. Ialah Allah yang menguasai seluruh kehidupan kita dan Ia yang akan menuntun kita sepanjang kehidupan kita (Mazmur 23). Ia adalah Allah yang setia, yang di dalam kedaulatanNya sudah merencanakan sesuatu yang baik (Roma 8:28) dan sekalipun kita kadang tidak memahamiNya karena rancanganNya yang begitu berbeda dengan kita (Yesaya 55:8).

Itulah peran yang secara aktif diberikan Allah bagi setiap kita yang percaya kepadaNya. Maukah kita ambil bagian di dalam blueprint Allah? Apakah kita mau menjawab panggilan itu, sebagai seorang hamba yang patuh kepada Tuannya. Sebagai seorang hamba yang kalau Tuannya memanggil, hamba itu tidak boleh tidak taat dan bersyukur kalau Tuannya masih mau memakai dia?

Selamat Paska. Selamat menikmati Karya Tuhan dan terus memuliakanNya

Soli Deo Gloria

Thursday, February 21, 2013

What Is Your Purpose of Life? - Apa Tujuan Hidup Kita?


Waktu kita mau bertamasya, salah satu pertanyaan yang harus dijawab terlebih dahulu adalah: “mau kemana tujuan tamasya kita?” Setelah kita menentukan tujuan itu baru kita benar-benar  dapat mempersiapkan berbagai hal terkait dengan tamasya kita. Begitu juga yang terjadi saat seseorang akan mulai masuk ke sekolah, ia tentu akan mempersiapkan mentalnya, buku-buku yang ia butuhkan, serta perlengkapan lain yang membuat dia dapat menikmati proses tersebut.

Sama juga dengan kehidupan kita sebagai seorang manusia. Apakah kita sebenarnya mengetahui tujuan dari kehidupan kita yang nantinya dapat membuat kita dapat merencanakan segala sesuatunya untuk mencapai tujuan tersebut. Itulah yang pada hari ini akan coba kita pergumulkan bersama-sama, tentang panggilan hidup orang percaya, yaitu orang-orang yang mengakui bahwa ada Allah yang berdaulat di atas segala hal yang Ia kerjakan.

Membahas tentang tujuan hidup tidak dapat dilepaskan dari apa yang alkitab tuliskan tentang berbagai tugas yang Allah berikan di dalam kehidupan kita. Dasarnya ada di kitab Kejadian 1:26-28, kemudian pada Mazmur 139 juga pemazmur memberikan penjelasan kepada kita betapa manusia diciptakan dengan suatu kerumitan yang luar biasa. Mengenai kehidupan kita, Allah memiliki rancangan damai sejahtera, yang dituliskan pada kitab Yeremia 29:11, dalam konteks Israel yang dibuang kemudian mendapatkan janji Allah yaitu penyertaan Tuhan yang membuat manusia menjadi sejahtera. Di perjanjian baru pun juga diberikan penjelasan, lihat saja bagaimana Paulus menuliskan kitab Roma, khususnya Roma 8 yang menuliskan bagaimana kehidupan orang percaya. Katekismus Singkat Westminster menuliskan tujuan hidup manusia adalah “Memuliakan Allah dan Menikmati Dia sepanjang waktu”

Allah merencanakan suatu masa depan yang begitu baik, begitu indah dan mulia. Karya Allah melalui Tuhan Yesus merupakan bukti betapa berharganya hidup kita. Problemnya adalah seringkali manusia lupa betapa penebusan itu memiliki arti yang luar biasa serta teladan dari Tuhan Yesus yang begitu mulia, yang mana menunjukkan kesetiaan terhadap tujuan hidup yang telah ditempatkan Allah di dalam kehidupanNya. Itu adalah proyek terbesar dan membuka jalan bagi setiap kita serta menuntut kita untuk tahu apa yang harus kita lakukan.

Tidak mudah bagi kita untuk dapat mengetahui apa yang merupakan tujuan hidup kita. Itu adalah pergumulan seumur hidup yang harus kita terus pergumulkan, kita pikirkan, dan kita rencanakan di dalam seumur hidup kita. Kalau perusahaan punya apa yang disebut visi, kira-kira itulah yang sebenarnya kita susun di dalam proyek ini. Pengenalan kita akan Tuhan akan semakin hari semakin membukakan pikiran kita dan semakin hari akan mempengaruhi kerinduan kita untuk di dalam kehidupan kita semakin memuliakan Allah.

Karya keselamatan itu sebenarnya merupakan sebuah gong-sebuah titik awal dimana seharusnya kita sebagai orang percaya sadar bahwa kita dilibatkan di dalam proyek Allah. Panggilan orang percaya sebenarnya adalah bagaimana orang itu dapat redeeming, sama seperti apa yang dilakukan Tuhan Yesus di kayu salib yaitu redeeming us. Intinya itu, tapi bagaimana aplikasinya? Tentu saja Allah memanggil kita di bidang yang berbeda-beda. Tidak semua dari kita dipanggil untuk jadi hamba Tuhan yang berkotbah di atas mimbar. Ada sebagian dari kita yang dipanggil menjadi seorang politisi, ada pula yang dipanggil menjadi seorang manajer di sebuah perusahaan, tetapi sebenarnya ada satu tujuan besar yaitu “menebus” hal-hal yang apa yang dipercayakan Allah di dalam kehidupan kita.

Melihat penjelasan di atas sebenarnya menjadi jelas bagi kita bahwa inti tujuan hidup kita adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia sepanjang waktu. Caranya adalah seperti apa yang sudah dikerjakan Allah – membereskan masalah utama di dunia yaitu dosa. Kita pun dipanggil untuk menebus tempat dimana Allah menempatkan kita. Pertanyaannya adalah apa yang menjadi kepercayaan Allah dan bagaimana kita dapat mengetahui tempat tersebut adalah tempat yang tepat?

Ada banyak cara yang sebenarnya disusun untuk mengetahui panggilan kita. Namun di dalam berbagai metode itu sebenarnya hal yang paling penting dalam diri setiap kita untuk kita dapat mengetahui tujuan hidup kita adalah bagaimana kita menjaga relasi kita dengan Tuhan? Salah satu caranya ya tentu saja kita belajar untuk punya relasi yang intim dengan Tuhan. Caranya? Saat teduh dan baca alkitab. Melalui relasi yang dekat dengan Tuhan kita akan semakin menyadari apa yang sebenarnya sudah Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita saat ini baik dari masa lalu hingga saat ini. Entah kejadian yang enak ataupun yang tidak enak, Allah sudah menyusun semuanya di dalam kedaulatanNya untuk kita dapat semakin menyadari bahwa ada karya Allah di dalam kehidupan kita. Hal itu seharusnya membuat kita sadar bahwa pengertian kita tentang tujuan hidup tidak dapat lepas dari relasi yang intim dengan Tuhan.

Kalau anda seorang arsitek, tampakkan desain-desain bangunan yang memuliakan nama Tuhan, seperti desain yang teratur dan rapi, yang menunjukkan keteraturan Tuhan. Kalau anda seorang musisi, tunjukkan suatu music yang indah, yang teratur dan tidak ngawur melalui nada-nada anda. Apapun profesi anda, mari belajar memuliakan Tuhan, dan di dalam memuliakan Tuhan itu kita belajar untuk menikmatiNya. Menikmati waktu yang intim bersama Tuhan lebih dari apapun, seperti pemazmur yang ada di dalam Mazmur 84, seperti Daud yang bermazmur di Mazmur 23, seperti Asaf di dalam kerinduannya ia menuliskan Mazmur 83.

Sangat menarik ketika kita belajar menemukan passion kita, dan kita mulai belajar melangkah hari-hari bersama Allah untuk kita dapat memuliakan Tuhan dan menikmati Dia sepanjang waktu. Itulah panggilan kita. Biarlah segala kemuliaan hanya bagi Allah

Soli Deo Gloria

Thursday, January 10, 2013

Hidup Yang Bermakna


Sesuatu yang paling esensial di dalam kehidupan adalah bagaimana kita memiliki kehidupan yang bermakna. Perlu diingat bahwa kalau berbicara tentang makna hidup, kita tidak dapat lepas dari pemberi makna. Mau tidak mau, kehidupan kita dibatasi oleh apa yang disebut sebagai “WAKTU”. Ya, waktu inilah yang membatasi seluruh realitas kehidupan, dan waktu ini tidak pernah berhenti.

Hidup yang bermakna adalah cara hidup yang belajar untuk melihat hidup dari perspektif masa depan. Kalau dulu sewaktu menjadi mahasiswa, biasanya dijelaskan tentang apa itu visi dan bagaimana cara mencapai visi tersebut melalui misi dan sebagainya. Visi adalah gambaran masa depan yang ingin kita capai.

Kehidupan yang bermakna bisa kita jalani, salah satunya adalah dengan membuat obituari. Coba kita baca Kejadian 5:21-24. Ayat-ayat ini ada di dalam konteks penjelasan tentang silsilah keluarga Adam. Apa yang menarik disini adalah bagaimana kehidupan yang dijalani oleh Henokh yang benar-benar berbeda dengan kehidupan yang dimiliki oleh nenek-nenek moyangnya.

Mari coba kita bayangkan tentang kehidupan kita. Penulis kitab Kejadian menuliskan obituari yang dimiliki oleh Henokh dengan sangat sederhana:

Setelah Henokh hidup enam puluh lima tahun, ia memperanakkan Metusalah. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, setelah ia memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Henokh mencapai umur tiga ratus enam puluh lima tahun. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.
(Kejadian 5:21-24)

Bagaimana kita akan menuliskan obituari kita masing-masing? Apakah kita mau menjadi orang-orang yang berbeda dengan generasi kita kebanyakan? Kalau kita lihat apa yang membuat Henokh berbeda adalah dia hidup BERGAUL DENGAN ALLAH. Usia Henokh, kalau kita lihat, juga tidak terlalu panjang, hanya sekitar 1/3 dari orang-orang yang ada di jamannya (365 tahun).

Apakah yang dimaksud bergaul dengan Tuhan? Perlu kita pahami dan sadari bahwa seluruh kehidupan kita ditentukan oleh relasi kita dengan Tuhan. Kehidupan yang meaningful adalah kehidupan yang dekat dengan sang pemberi meaning itu sendiri. Kehidupan yang meaningful adalah kehidupan yang tahu tentang tujuan hidup dan belajar untuk mencapai tujuan tersebut.

Bayangkan kita berdiri di depan obituary kita, kira-kira seperti apa kita ingin dikenal? Obituari tidak pernah menuliskan tentang berapa banyak harta kita, berapa tinggi sekolah kita, berapa uang yang kita miliki, berapa perusahaan yang kita miliki. Obituary itu suatu kalimat yang sangat singkat, dan penulis kitab Kejadian pun hanya menuliskan obituari Henokh hanya di dalam 4 ayat. Kalau kehidupan kita dirangkum di dalam 4 ayat seperti Henokh, apa yang mau kita tuliskan? Seberapa serius kita akan menjalani kehidupan kalau kita tahu bahwa kehidupan ini tidak sepanjang yang kita bayangkan?

Kiranya kita bisa mulai kembali menata hidup kita. Kalau kita ingin kedepan kita akan dianggap sebagai orang yang seperti apa, mari mulai dari sekarang. Kehidupan yang bermakna adalah kehidupan yang belajar untuk mengerti apa yang Tuhan inginkan di dalam kehidupan kita dan apa yang harus kita kerjakan seturut dengan kehendakNya.

Soli DEO Gloria