Total Pageviews

Showing posts with label kristen. Show all posts
Showing posts with label kristen. Show all posts

Tuesday, April 19, 2016

Manusia Baru – Keadilan & Kasih Allah

Roma 3:25

Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya.  Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.

Background
Iman, perbuatan, kebajikan, pengorbanan, perbuatan baik, semua itu terasa menjadi sebuah syarat yang mutlak di dalam syarat kita untuk mencapai surga. Seberapa baikkah diriku, seberapa indahkah kehidupanku jika dinilai oleh Dia? Sempat terbesit pertanyaan yang menjadi sebuah pergumulan, bahkan ketika sudah percaya kepada Tuhan Yesus. Sempat muncul keraguan, ketakutan, tanpa adanya suatu kepastian akan keselamatan yang Tuhan beri.

Muncul pula pertanyaan, ketika kita sudah Lahir Baru, mengapa hidup kita sama sekali tidak ada perubahan? Bahwa ternyata setelah kita hidup baru, tidak ada sesuatu yang radikal yang terjadi atas kehidupan kita. Bukankah hal ini menjadi begitu unik? Tetap saja setelah kita dibaptis atau lahir baru, kita sama sekali bukan menjadi manusia baru. Beberapa sharing dari teman-teman saya malah menyebutkan bahwa setelah lahir baru, kehidupan mereka semakin hancur.

Pengamatan tersebut membawa saya (waktu itu) pada suatu kesimpulan, bahwa keselamatan menjadi sesuatu yang take it for granted. Benar sekali, keselamatan itu gratis. Artinya ketika kita sudah menerima Yesus, ya sudah itu sudah cukup.

Sebuah Kenangan Masa Lalu
Memandang ke arah jendela kamar, menikmati dinginnya hujan waktu itu membuat aku hanyut di dalam sebuah kenangan saat aku pertama kali mulai kenal Tuhan Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang memegahkan diri. Begitulah kalimat dari Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, menurut Efesus 2:8-9

Tetapi tidak berhenti sampai disana. Ayat berikutnya jauh lebih mengerikan kalau kita resapi. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan baik yang telah ditentukan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:10) dan ini merupakan sebuah pernyataan Paulus yang seharusnya menjadi tolok ukur setiap tindakan, perkataan, dan perbuatan kita.

Tentu saja ayat-ayat ini membuat kita bersukacita sebagai orang Kristen, tetapi di sisi lain kita juga perlu memahami bahwa ayat-ayat ini mengandung sebuah tanggung jawab besar atas kehidupan kita. Ketika Paulus menyatakan bahwa kita diciptakan dalam Kristus Yesus, itu berarti bahwa di dalam kehidupan kita ada hal-hal yang dipercayakan, dan kita dipanggil untuk melakukan perbuatan baik dan celakanya, itu sudah dipersiapkan Allah.

Sejenak kenangan itu mencuat, dan kembali aku mencoba melihat kembali, benarkah selama hidupku aku menjalani kehidupan yang telah dipercayakan Tuhan melalui setiap tindakanku? Bagaimana kehidupanku ketika aku sendirian di kamar? Bagaimana kehidupanku ketika aku di gereja? Bagaimana, bagaimana, dan bagaimana?

Allah yang Memegang Kendali
Saya yakin dan percaya bahwa kendali atas hidup kita telah dipegang oleh Allah. Itu berarti di dalam hidup kita, kita tidak perlu menjadi kuatir atas apapun. Termasuk juga dosa... tunggu! Apa maksudnya? Apakah benar kita tidak perlu takut akan dosa?

Siapa yang tidak takut atas dosa? Wow, tentu kita takut akan dosa. Ketika kita sedikit saja kompromi terhadap cobaan yang kita hadapi, ternyata dosa itu bisa langsung menguasai kehidupan kita. Kita diminta untuk selalu waspada atas kehidupan kita. Tetapi ini pun menjadi pergumulan yang utama bukan? Bahwa ternyata dalam kehidupan baru yang Tuhan berikan pun kita masih juga terus bergumul atas dosa-dosa kita. Kita ingin mengatasi kuasa dosa itu, tetapi ternyata dalam realitasnya kita dikuasai.

Ketika Paulus berkata bahwa kita ini adalah manusia yang merdeka atas kuasa dosa, saya jadi bertanya apa sebenarnya yang dimaksud Paulus? Buktinya dosa itu masih terus menerus mengintai dan siap menerkam kehidupan kita. Lalu bagaimana?

Akhirnya sampai pada satu kesimpulan, apakah benar Allah memegang kendali atas kehidupan kita? Benarkah bahwa kuasa dosa telah dihancurkan dan Allah telah membebaskan kita dari dosa itu? Atau jangan-jangan betapa kita tidak punya hati nurani maka manakala kita berbuat dosa, kita sama sekali tidak peka, tidak ada penyesalan, justru malah ada sukacita?

Konsep Keadilan – Kasih Melalui Karya Penebusan
Salib menjadi sebuah bukti kasih sekaligus keadilan Allah atas kehidupan manusia. Melalui salib sebenarnya kehidupan kita menjadi kehidupan baru, kehidupan yang berkemenangan. Kehidupan yang dibangkitkan melalui kematian Kristus dan kebangkitanNya. Keadilan Allah ditunjukkan melalui tercurahnya darah Kristus, darah Tuhan yang menyucikan segala dosa kita. Kasih Allah ditunjukkan melalui anugrah melalui kematian Kristus. Ada pihak yang harus menjadi korban, sehingga dosa kita bisa dibebaskan. Ada kehidupan baru yang ditawarkan Kristus.

Balik lagi ke pembahasan kita tentang dosa. Salib menjadi suatu titik tolak perubahan kehidupan kita. Manusia lama menjadi manusia baru hanya bisa dicapai melalui karya salib. Itulah seharusnya yang mengingatkan kita betapa besarnya kuasa dan kasih Allah atas kehidupan kita. Perubahan hidup menjadi nyata manakala kita memandang kepada salib Kristus. Salib yang mana merupakan karya Allah, keadilan dan kasih yang dipertemukan di dalam Kristus Yesus.

Berubah dan Berbuah
Perubahan hidup melalui karya penyelamatan Kristus bukanlah sesuatu yang instan. Kita perlu menyadari bahwa perubahan hidup merupakan proses seumur hidup yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita. Ada kalanya di dalam proses itu kita jatuh, lelah, dan mungkin sampai hampir menyerah atas segala pergumulan yang terjadi di dalam kehidupan kita.

Jadi tidak perlu heran kalau setelah menerima Kristus, maka kita tiba-tiba bertobat secara drastis. Memang ada kasus sedemikian, tetapi selalu ada proses yang kita akan jalani di dalam penyucian kita, yang mana mempersiapkan kita untuk memuliakan Dia seumur hidup kita. Kita perlu menyadari bahwa di dalam Kristus, seperti yang dikatakan Paulus, kita adalah ciptaan baru.

Kuasa dosa sama sekali tidak berkuasa atas kehidupan kita. Kuasa dosa yang menghantarkan kita kepada kematian abadi, telah dihancurkan. Hal itu akan membuat kita menjadi orang-orang yang menyadari bahwa kita manusia berdosa yang membutuhkan kasih karunia Allah. Hal itulah sebenarnya yang membuat kita semakin hari semakin ingin bertumbuh di dalam kasih karunia. Kita punya kepekaan terhadap dosa yang menimpa hidup kita. Kita menjadi pribadi yang sadar betul bahwa kita butuh kasih karunia Allah
Kesadaran itu pula yang akan membuat kita terus bertumbuh dan berbuah di dalam Dia. Pertumbuhan rohani yang kemudian akan menjadikan kita semakin hari semakin indah, sehingga buah pelayanan kita pun dapat dinikmati oleh banyak orang, juga menjadi kemuliaan bagi Tuhan.

Bagaimana dengan kecenderungan dosa kita? Roh Kudus akan membimbing kita, membuat kita menjadi pribadi yang peka dan kuatir atas dosa yang akan kita kerjakan. Kita perlu menyadari akan hal ini sehingga kita memiliki komitmen untuk lari dari pencobaan yang menghadang kita. Saat kita berdosa, jangan pernah untuk sungkan, takut, cemas, untuk datang kepada Bapa. Ia adalah setia dan adil, demikianlah yang dituliskan oleh Yohanes.

Karya Keselamatan dan Perubahan Hidup
Menjadi poin penting bahwa ketika Tuhan sudah menyelamatkan kita, bukan berarti bahwa kita bebas bertindak semau kita. Mungkin kita berpikir: “ah kalau sudah selamat dan pasti masuk surga ya sudah, kita enjoy aja hidup ini”. Apakah begitu?

Kita perlu memikirkan kembali mengenai perubahan hidup. Ketika kita menjadi seorang Kristen, kita menjadi orang yang merdeka. Kemerdekaan atas dosa, tetapi juga kehidupan yang mana Kristus berperan sebagai raja atas kehidupan kita. Bagaimana impelementasinya? Tentu saja kalau kita menyadari bahwa Yesus adalah raja, itu berarti kita menuruti apapun yang Tuhan kerjakan.

Itulah kemerdekaan Kristen yang sejati, kemerdekaan yang berfokus kepada Allah Tritunggal sebagai penguasa hidup kita. Kiranya melalui perenungan singkat ini kita dapat memaknai kembali arti dari hidup baru yang diberikan Kristus, menjadi pribadi yang semakin hari semakin rindu untuk memuji dan memuliakan Dia.


Soli Deo Gloria!

Monday, May 18, 2015

Menikmati Quality Time BersamaNya

Seketika aku merenungkan pada hari minggu, 17 April 2015 bagaimana cara kita bisa merasa puas terhadap perlakuan atas pasangan kita.

Sebentar, mungkin aku ceritakan kisah sebelumnya. Tanggal 14-16 Mei 2015 aku mengikuti Temu Raya Pemuda GKI 2015 di Surabaya. Event yang mempertemukan seluruh GKI se Indonesia. Banyak teman baru yang aku dapatkan disana.

Tentu saja di dalam event ini aku bertemu dengan sang kekasih hati. Ya, pacarku, Jessica, juga mengikuti event ini. Dengan berbagai kesibukannya di tugas akhir dan tanggung jawabnya sebagai ketua komisi pemuda GKI Kutisari Indah, tentu saja ada banyak sekali tanggung jawab di dalam TRP ini pun dia juga mengkoordinasikan banyak hal.

Kekecewaan sempat terlintas ketika di dalam jiwa ada satu perasaan kurang diperhatikan. Saat aku berusaha untuk mulai berkata-kata padanya, mulai membuka pembicaraan, tetapi akhirnya dia selalu memainkan smartphone-nya. Jadi banyak hal yang mungkin nggak sempat kami bicarakan. Aku merasa cemburu dan kurang diperhatikan saat itu. Sempat aku intip ternyata dia sedang berkoordinasi dengan teman-temannya di GKI Kutisari. Jadi sempat juga aku merasa agak kecewa. Sambutan apa yang telah ia siapkan ketika sang kekasihnya ini datang dari Bogor?

Seluruh rangkaian acara TRP berakhir, dan sampailah aku pada hari Sabtu malam. Aku hanya berharap kalau-kalau dia mulai belajar meletakkan smartphone nya dan menyediakan telinga serta hatinya untuk kami dapat bercerita satu dengan yang lain. Aku sempat berdoa kepada Tuhan di hari Sabtu sorenya, di tengah aku pusing juga karena harus mengatur transportasi untuk teman-teman dari GKI Pengadilan. Berdoa untuk apa? Yah setidaknya ia mencurahkan sedikit perhatiannya buat aku.

Titik balik mungkin aku merasakan ketika pada hari minggu kami bersama. Kami beribadah di GKI Kutisari, dan menyadari kalau waktu pertemuan kami nggak bakal lama. Selain ada berbagai kesibukan, kami pun sempat menyempatkan diri untuk makan. Diluar dugaan di tengah kesibukannya dia menyempatkan diri untuk menemaniku makan siang.

Kami pun berpamitan saat itu dan ketika aku di pesawat, aku mencoba mengevaluasi apa yang sebenarnya terjadi di dalam kehidupan kami selama 4 hari itu. Ternyata aku menemukan ada sesuatu yang begitu luar biasa dengan apa yang Tuhan kerjakan atas kehidupan kami.

Aku melihat bagaimana Allah bekerja melalui kehidupan Jessica. Alih-alih aku berharap untuk dia dapat menemani aku sepanjang hari (dan dia melakukan hal tersebut dengan caranya!) mengapa tidak bersyukur dengan caranya menemani aku? Mengapa aku begitu egois di dalam hubungan kami, tidak melihat bahwa di dalam berbagai kesibukan itu, dia masih sempat menemani aku. Ia selalu berada di sisiku dan aku tidak pernah membayangkannya, betapa sibuknya dia dan betapa dia belajar untuk mengasihi aku di tengah kesibukannya.

Sepanjang perjalanan di pesawat aku cukup terharu mengenai bagaimana Allah mengerjakan begitu banyak hal atas kehidupan kami. Sorenya aku mencoba untuk mengucapkan betapa bersyukurnya aku kepada Allah, karena dia sudah mempersiapkan segalanya dengan baik. Aku bersyukur buat pertemuan kita – dan terlebih bagaimana caranya memberikan waktunya, tenaganya, segala kesibukan untuk dapat bertemu dengan aku dan berbagi denganku di sela-sela waktu kosong saat TRP.

Ketika dia berkata bahwa dia takut kalau justru aku yang kecewa, aku benar-benar ngerasa bahwa aku adalah pribadi yang begitu egois. Ya donk, aku egois karena aku tidak tahu bagaimana dia bergumul dengan segala kesibukannya, dan aku sadar benar bahwa aku belum benar-benar bisa mencapai suatu tingkatan dimana aku bisa memberi yang terbaik. Aku masih harus belajar bahwa cinta itu bukan sekedar kamu bisa menerima segala hal yang baik, tetapi apakah kita bisa kasih yang terbaik buat pasangan kita.

Entah itu waktu kita, tenaga kita, perhatian kita, apa sih yang mau kita berikan buat pasangan kita? Ketika Yesus mencintai kita, Ia telah memberikan segalanya. Ia telah memberikan kita hidupnya. Tetapi menariknya ketika berbicara bagaimana hubungan pernikahan, ia menggambarkannya seperti hubungan Kristus dengan jemaat. Kristus yang memberikan segalanya, sama seperti seorang suami / istri yang memberikan segalanya.


Memang sih kami belum mencapai pada tahapan pernikahan, tetapi sebagai orang Kristen, yang sama-sama bertumbuh di dalam Tuhan, bukankah itu menjadi sebuah hal yang harus kita kerjakan bukan? Maukah kita mulai saat ini belajar mengasihi terlebih dahulu sebelum kita dikasihi? Maukah kita belajar untuk memberikan yang terbaik buat pasangan kita atau rekan kita, menyadari bahwa segalanya adalah dari Allah?

Tuesday, February 24, 2015

Sweet Reminder

Malam itu menunjukkan pukul 20:00, saat aku akan tidur di rumah kakakku. Kebetulan keponakanku yang berumur 2 tahun saat itu masih sedang bermain di kamarnya. Akupun menemaninya bermain di kamar itu. 

Setelah lama bermain, aku hanya berpikir mengenai kondisi rumah ini. Mengingat kakakku bukanlah seorang percaya yang sampai sebegitunya. Yah tahu lah maksudnya. Jarang ke gereja, berdoa, apalagi saat teduh. Anaknya pun juga karena aku jarang ke rumahnya, aku jadi agak sinis juga. Tapi yah namanya keluarga, aku selalu mengingatkan dia untuk berdoa dan lebih menghargai Tuhan di hidupnya.

Jam menunjukkan 21:00, saat itu kakakku berkata kepada anaknya.

"hei, yuk tidur. Udah jam 9 malem" ujar kakakku
"iya pa, lio tidur..." jawab Lio

Okey sejenak aku pun akhirnya membantu dia membereskan permainan lego nya. Saat itu Lio membuat sebuah robot dengan lego itu (si Lio ini anak yang begitu cerdas dalam hal imajinasi). Kemudian waktu menunjukkan 21:15 dan sambil mengantuk dia membereskan mainannya.

Waktu hampir tidur, aku pun berdoa sembari dia membereskan mainannya. Kemudian setelah dia membereskan mainannya, aku pun berkata padanya.

"Lio, kamu mbuat robot-robotan buat njagain Lio waktu tidur ya?" tanyaku
"Ndak, suk (dia manggil aku suksuk, yang artinya adik dari papanya), kan ada Tuhan Yesus yang selalu njagain Lio." jawabnya.

Deg... hatiku langsung kaget dan nggak karuan. Anak sekecil Lio sudah ngerti, bahkan jauh lebih menyadari hadirat Tuhan dibandingkan denganku. Aku nggak pernah membayangkan si Lio ternyata punya sense bahwa dia punya Tuhan Yesus yang selalu menjaganya.

Malam itu pun aku berdoa dan berdoa. Aku bersyukur bahwa keponakanku mengerti siapa Tuhannya, yang akan selalu menjaganya. Aku berharap bahwa melalui Lio, keluarga kakakku dapat lebih kenal dan lebih menikmati keberadaan Tuhan di dalam kehidupan mereka.

Oke, refleksi dari kisah itu... Sadar nggak temen-temen, mungkin itulah yang Tuhan katakan ketika kita harus berpikir seperti anak kecil. Lio di dalam segala keterbatasan pengetahuannya tentang Tuhan, dia simple saja berpikir bahwa Tuhan Yesus selalu menjaganya. Well, semakin kita dewasa kita semakin menuntut lebih dari apa yang Tuhan sediakan. Kita berpikir begitu rumit bahwa ketika kita sudah dewasa kita harus melakukan sesuatu agar Tuhan semakin dapat kita kendalikan. Well, faktanya nggak seperti itu teman-teman. Ia adalah Tuhan yang setia. Ia adalah Tuhan yang selalu membuat kita terpesona manakala kita berpikir secara sederhana. 

Yuk kita belajar untuk berpikir simple bahwa kehidupan kita pun selalu Ia jagai dengan kasih setiaNya yang tidak pernah berkesudahan atas kehidupan kita.

God Bless :) 

Monday, March 31, 2014

Eksposisi Yohanes 15:1-8

Yoh 15:1  "Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya.
Yoh 15:2  Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.
Yoh 15:3  Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.
Yoh 15:4  Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.
Yoh 15:5  Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
Yoh 15:6  Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.
Yoh 15:7  Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.
Yoh 15:8  Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."


Mari kita lihat bagaimana latar belakang kehidupan bangsa Israel. Di dalam kehidupan bangsa Israel, kebun anggur selalu memiliki seorang pengusaha. Nah di dalam ayat ini Yesus mencoba menjelaskan mengenai peran manusia di dunia ini. Yesus pertama kali menjelaskan mengenai pokok anggur, yakni Dia sendiri sebagai pokok anggur. Sebuah pokok anggur menandakan adanya suatu tanda kehidupan di dalam kehidupan Yesus. Hal ini sangat menarik manakala kita melihat perkataan Yesus selanjutnya adalah Dia adalah “pokok anggur yang benar”, artinya berarti ada pokok anggur yang salah / tidak benar. Ia juga mengatakan bahwa Bapa adalah pengusaha, yang mana Ia yang merawat pokok tersebut beserta ranting-rantingnya.

Kalau kita melihat ayat ini, satu hal yang dapat kita tangkap adalah bahwa satu-satunya kebenaran adalah di dalam Yesus, dan kebun anggur yang diurus Bapa pun berpusat pada Yesus. Artinya bahwa tidak ada kehidupan tanpa adanya Kristus di dalam kehidupan kita. Dialah pokok anggur itu, pokok anggur yang benar yang memberikan ranting-rantingnya supply makanan.

Ayat ke 2 ini mencoba menjelaskan bagaimana peran Bapa, yakni sang pengusaha dari kebun tersebut di dalam merawat kebun anggur. Kebun anggur biasanya di dalam konteks bangsa Israel diurus oleh seorang pengusaha, dan ada pula pekerja-pekerja kebun anggur tersebut yang diutus oleh pengusaha. Pekerja kebun anggur ini taat di dalam perintah pengusaha.

Perintah pengusaha kebun anggur ini jelas sekali, bahwa untuk menghasilkan buah anggur yang berkualitas maka harus dilakukan suatu pembersihan. Kalau melihat ayat ke 2 di bagian akhir, setiap ranting yang tidak berbuah akan ‘dipotong’. Sangat menarik bahwa ranting-ranting yang tidak berbuah ini mengganggu pertumbuhan ranting-ranting yang berbuah. Setiap ranting yang berbuah mendapatkan sebuah perlakuan yang spesial, yakni selalu dibersihkan.

Sama juga di dalam kehidupan kita bersama Allah. Ketika kita sudah diasupi ‘makanan’ rohani, seharusnya kita memiliki kehidupan baru bersama Allah. Kehidupan baru itu ditandai dengan tindakan yang bisa menghasilkan buah. Kalau di dalam kehidupan kita, kita menjadi seseorang yang anti dengan kritikan yang diarahkan kepada kita, itu berarti kita benar-benar menjadi pribadi yang tidak mau ‘dibersihkan’. Firman Tuhan itu seperti pedang bermata dua, saat kita belajar Firman, seharusnya hal yang kita pelajari memberikan sebuah perubahan di dalam kehidupan kita.

Menarik pula disini ada sebuah janji dari Tuhan. Ketika kita sudah mendapatkan asupan makanan yang benar, maka kita juga akan mendapatkan sebuah pertumbuhan yang lebih optimal. Artinya bahwa ketika kita belajar merendahkan diri di hadapan Tuhan dan menerima FirmanNya itu menunjukkan bahwa kita ingin mengenal pribadi Tuhan, dan Ia akan membuat kita menjadi pribadi-pribadi yang siap untuk ‘tercurah’. Ya, menjadi anggur yang tercurah bagi orang lain sehingga orang-orang bisa menikmati kasih Kristus.

Ayat ke-3 mengimplikasikan mengenai bagaimana kita sebagai ranting sudah dibersihkan, dan pembersihan itu adalah akibat dari Firman Tuhan sendiri. Wah ini sungguh menjadi sesuatu yang harus kita tanamkan di dalam kehidupan kita. Pernyataan dari Yesus ini seharusnya menjadi motivasi bagi kita untuk terus menerus ingin dibersihkan, dan itu berarti kita perlu terus belajar mengenai kebenaran yang ada di dalam firman itu. Apa sikap kita manakala kita sedang dibersihkan oleh Tuhan melalui Firman itu? Apakah kita bersikap defensif, ataukah kita menerima hal itu?

Ayat ke-4, Yesus mencoba menegaskan kembali bagaimana kehidupan kita sebagai ‘ranting’ tidak dapat terpisah dari pokok anggur. Ranting tidak dapat berbuah sendiri saat ia lepas dari pokok anggur, sama seperti kehidupan kita. Pembelajaran dari ayat ini adalah bagaimanapun, kita tetap diminta untuk ‘menempel’ dengan pokok anggur tersebut. Ketika kita tidak menempel di dalam Firman, kita tidak akan bisa berbuah di dalam kehidupan kita. Makna hidup kita ditemukan saat kita tetap menempel dengan kebenaran Firman Tuhan sendiri.

Ayat ke-5 mencoba menjelaskan kepada kita mengenai bagaimana kehidupan kita di dalam Kristus dan diluar Kristus, sang pokok anggur yang benar. Ketika kita berada di dalam Yesus, kita berbuah banyak, dan diluar DIa, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Yah, ini realitas yang seringkali kita tidak menyadarinya. Ketika kita hidup di tengah dunia ini dengan berbagai problematikanya, kita bisa benar-benar lupa kalau ada Tuhan di dalam kehidupan kita. Kita menjadi pribadi yang benar-benar kelihatannya hebat. Bagaimana tidak? Kita seringkali tidak melibatkan dan mengandalkan Tuhan di dalam setiap hal yang kita kerjakan.

Satu nasihat yang penting juga bagi orang-orang sibuk, dan itu juga berlaku di dalam pelayanan kita. Ketika kita mulai dipercaya untuk melayani Tuhan di gereja ataupun di kampus, bahkan di tempat kerja, kita mulai dipercayakan bidang-bidang pelayanan, itulah saat yang berbahaya. Bisa saja bahkan di dalam pelayanan kita, kita mengandalkan hikmat dunia dan kita sama sekali tidak mempedulikan bahkan meminta pertolongan hikmat dari Tuhan. Ini menjadi satu peringatan bagi kita untuk kita menyadari betul akan peran Allah sebagai penguasa kehidupan kita.

Contoh dimana kita cenderung untuk jatuh dalam dosa dan tidak mempedulikan Tuhan di dalam perasaan kita dapat hidup sendiri ada di dalam diri Salomo. Kita melihat di awal kehidupannya, Salomo tidak meminta kekayaan, dia meminta hikmat Tuhan. Awal yang sangat baik di dalam kehidupan Salomo. Namun seiring bertambahnya kekuasaan dan kekayaannya, serta bagaimana kehidupan poligami yang ia praktekkan, kita melihat akhirnya ia menuliskan kitab Pengkotbah. Bahwa ternyata kehidupan yang kita kejar, kekayaan, harta, ataupun tahta dan segala hal, ternyata sia-sia.

Kesia-siaan hidup tanpa Tuhan merupakan hal yang paling mengenaskan di dalam dunia ini. Mungkin kita juga saat ini perlu mengevaluasi kehidupan kita, seberapa jauh kita memandang relasi dengan Allah sebagai sesuatu yang penting – yang lebih penting daripada apapun? Kalau kita punya relasi dengan Allah yang intim, kita punya sebuah kepekaan di dalam kita hidup. Tetapi akhirnya semuanya kembali kepada satu tujuan yakni memuliakan Tuhan dan menikmati Dia sepanjang waktu. “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya”, itulah kata Yesus, dan lanjutannya adalah “dan semuanya akan ditambahkan kepadamu”. Oh, ini merupakan janji Tuhan yang sangat sangat indah! Semuanya yang ditambahkan mungkin bukan hal-hal yang kita mau, tetapi hal-hal yang membuat kita semakin sadar bahwa kita tidak dapat hidup tanpa Dia.

Ayat ke-6 menegaskan kembali kehidupan tanpa Allah. Kalau kita baca disini, justru Yesus sangat keras di dalam firman ini. Dia menjelaskan bahwa orang yang tidak ‘menempel’ kepada kebenaran Firman dan kepada Dia, maka akan dibuang dan dimasukkan ke api. Betapa sebagai orang Kristen seharusnya kita bersyukur. Disini kita juga bisa membayangkan bahwa kehidupan kita sebagai orang Kristen adalah menjadi berkat. Tuhan akan terus menerus membersihkan kehidupan kita dengan Firman, dan ia memotong hal-hal yang mana ingin kita tumbuhkan sendiri. Sebuah ranting yang ingin bercabang-cabang akan segera dimusnahkan saat tidak menghasilkan buah. Demikian juga di dalam kehidupan kita mungkin ada banyak cabang-cabang ranting itu yang membuat kita sama sekali tidak dapat berbuah. Ada banyak hal yang membuat kita tidak dapat berbuah, dan Allah akan memotong semuanya itu sampai kita benar-benar dapat menghasilkan buah anggur yang berkualitas tinggi, dan dapat tercurah bagi orang lain.

Ayat ke-7 merupakan sebuah jaminan yang disediakan Tuhan saat kita memiliki intimasi dengan Dia. Sebenarnya kita tidak meminta pun, Allah menyediakan. Ingat, ayat ini tidak boleh dibaca sepotong tanpa kita membaca ayat-ayat diatasnya. Kalau dibaca hanya ayat ini saja, kelihatannya kita bisa jadi penguasa kehidupan kita sendiri, menganggap Tuhan sebagai penyedia yang selalu mensuplai sesuatu yang kita inginkan. Kalau kita salah di dalam memahami ayat ini, kita bisa terperangkap dalam kehidupan yang berpusat pada diri sendiri.

Keseluruhan ayat 1-6 menjelaskan mengenai bagaimana kita tidak dapat hidup tanpa Tuhan. Kemudian juga sebelumnya dijelaskan bahwa Bapa adalah pengusaha dari pokok anggur dan ranting-rantingnya. Ranting selalu mendapatkan suplai makanan yang cukup, bahkan berlimpah hingga ranting tersebut dapat menghasilkan buah yang berkualitas. Kemudian juga ranting tidak dapat hidup dan berbuah tanpa adanya pokok anggur yang benar. Kalau begitu berarti sebenarnya tidak ada hal yang dapat kita minta diluar kehendak Allah. Bahwasanya segala hal yang dikerjakan Allah dan disediakanNya merupakan hal yang paling esensial di dalam kehidupan kita, dan permintaan kita adalah seturut dengan kehendak Allah. Ini berarti ada suatu relasi yang saling mengerti.

Sama seperti ketika kita berpacaran, kalau relasi kita dekat, satu dengan yang lain seharusnya bisa tahu apa yang diinginkan pasangannya. Kalau kita berpacaran kita berusaha mencari tahu apa yang pasangan kita mau, kenapa di dalam pengenalan kita pada Tuhan, kita tidak mau tahu akan apa yang Tuhan mau? Wow, tidak adil sekali bukan?

Implikasi dari hal ini berarti sebenarnya tidak ada hal yang perlu kita minta. Kita meminta hal yang seharusnya kita minta, yakni agar namaNya dipermuliakan melalui buah yang kita hasilkan di dalam kehidupan kita. Coba bayangkan saja ada banyak orang yang datang kepada Kristus melalui kehidupan kita, melalui contoh hidup kita, itulah buah yang paling manis yang bisa kita persembahkan kepada Allah. Inilah yang diinginkan Yesus, dan itulah yang Yohanes simpulkan di ayat ke-8.

Mari belajar bahwa kita perlu satu relasi yang terus menempel kepada pokok anggur itu. Dia yang sudah memberikan supply kepada kita, Dia yang sudah memenuhi kebutuhan kita, bahkan nafas kita pun, Dia yang menyediakan. Segala hal sudah diberikan kepada kita, dan sebagai ungkapan syukur, apa yang mau kita persembahkan kepada Tuhan di dalam peran kita sebagai ranting? Apakah kita menjadi ranting yang menghasilkan buah yang berkualitas tinggi? Anggur seperti apa yang kita hasilkan? Apakah kita mau belajar menerima pembersihan yang dilakukan para pekerja yang disediakan Bapa untuk semakin hari membuat anggur kita semakin berkualitas? Bagaimana relasi kita dengan sang pokok? Apakah kita sudah menempel terus kepadaNya sehingga suplai makanan yang diberikan sang pokok anggur itu dapat berbuah dan kita menghasilkan anggur yang dapat tercurah bagi semua orang? Mari kita merenungkannya!


Soli Deo Gloria!

Thursday, November 28, 2013

Menjadi MilikNya!

… Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.
(Yohanes 17:6B)

Pernahkah kita membayangkan saat kita membeli sebuah barang yang sangat berharga? Misalnya kita membeli jam tangan atau gadget baru yang sangat kita impikan. Apa yang akan kita lakukan terhadap jam tangan atau gadget baru itu? Kalau itu memang barang yang sangat ingin kita miliki maka kita akan menjaganya dengan sepenuh hati kita. Kita akan sangat berhati-hati dan bahkan kalau boleh bilang – kita akan menjaganya dengan segenap hati kita. Ah kelihatannya sangat berlebihan bukan? Tetapi itu realitas hidup!

Saat kita membeli suatu hal yang menurut kita baru dan itu menjadi impian kita, maka kita akan menjaganya dengan segenap hati kita. Bahkan kita tidak rela kalau sesuatu itu kadang dipinjamkan. Kita akan merawatnya, akan membersihkannya setiap hari, bahkan kita tidak akan berhenti untuk mengutik-utik barang tersebut. Kita ingin agar “barang tersebut merasa nyaman”. Atau biasanya kalau kita memiliki hewan peliharaan, kita akan merawat dia sebaik mungkin.

Nah, sekilas ketika kita merasa ada barang yang berharga, kita akan menjaganya seperti itu. Coba bayangkan apa yang Tuhan kerjakan di dalam hidup kita saat kita menjadi milikNya! Tunggu dulu! Apakah benar kita adalah milik Tuhan? Eitz, bukankah tubuh kita yang memiliki adalah diri kita sendiri? Itu berarti dengan semena-mena kita bia mengerjakan apapun yang kita suka donk? Boleh lah!

Namun apakah benar bahwa kita adalah milik Tuhan? Itu adalah sesuatu yang perlu kita pergumulkan setiap hari. Ketika kita menjadi milik Kristus, bukan dengan harga yang murah Tuhan sudah menebus kita. Penebusan semata-mata hanyalah anugrah yang sebenarnya tidak layak untuk kita terima. Sama juga dengan ketika kita melihat seorang yang sudah mengkhianati kita, kemudian menjadi seorang budak belian, dan akhirnya kita membeli budak itu dan akhirnya kita diberikan suatu hidup baru. Seperti itulah apa yang terjadi di dalam hidup kita!

Nah, kalau kita adalah milik Tuhan, pasti ada konsekuensinya. Yap, mau tidak mau, seperti kita memiliki suatu barang, Tuhan pun juga dengan sangat bebas memperlakukan kita. Nah, ini tentu menarik bukan? Waktu kita bilang bahwa “aku menentukan tujuan hidupku sendiri” atau “aku pasti bisa tanpa orang lain”, sadarkah kita bahwa ternyata pandangan-pandangan tersebut terasa aneh? Mengapa aneh? Coba bayangkan kalau kita punya ponsel yang tiba-tiba bisa bergerak sendiri. Ataupun ternyata anjing atau hewan peliharaan kita tiba-tiba menggigit kita, menyakiti kita. Apa artinya? Bahwa ternyata kita SAMA SEKALI TIDAK PUNYA HAK ATAS HIDUP KITA SENDIRI!

Menjadi milik Kristus bukanlah suatu hal yang menyenangkan – paling tidak itulah anggapan sebagian besar orang. Mengapa? Karena kita menjadi seorang manusia yang sangat terbatas! Apa-apa harus diatur, dan inilah natur dosa. Kita ingin bebas dari suatu otoritas yang mengekang kita untuk melakukan sesuatu. Pandangan sebagian orang adalah: “Kristus yang membatasi aku”. Padahal kalau kita mulai membuka alkitab kita, apa yang dilakukan oleh Kristus adalah Ia membeli kita dan harganya sudah lunas. (1 Korintus 6:19). Pemahaman tentang hal ini tentunya membantu kita untuk sadar, siapa kita di hadapan Allah.

Konsekuensi dari penebusan Allah atas hidup kita – atas jiwa kita menjadi suatu dasar bahwa kita tidak boleh main-main di dalam hidup ini. Harus diingat bahwa apabila Kristus menguasai hidup kita, itu berarti bahwa kita memberikan SEGALANYA buat Tuhan. Apa makna dari kata SEGALANYA disini? Tentu saja: SEGALANYA YANG KITA MILIKI. Aplikasinya? Bahwa ternyata tiada waktu sedetik pun bagi kita untuk berpikir tentang hidup kita – bahwa ternyata seluruh tingkah langkah kita adalah untuk Tuhan.

Kita ini berharga! Sadarkah setiap kita akan hal itu. Kita ini adalah harta yang terpendam dan mutiara yang berharga bagi Allah. Kita ini adalah kepunyaanNya. Betapa indah realitas tersebut bukan? Tetapi apa yang mengerikan adalah di tengah keberhargaan kita ternyata seringkali kita menjadi ciptaan yang brengsek. Kita menjadi manusia yang ‘menolak’ untuk menjadi milikNya. Kita lupa akan anugrah yang sudah Tuhan berikan.

Anugrah seperti apa yang sudah diberikan Tuhan saat kita diambil menjadi milikNya? Yang pasti adalah kita bebas dari ikatan dosa. Kita sudah diselamatkan oleh anugrah. Menyadari hal ini seharusnya kita sadar bahwa kita adalah orang yang brengsek, yang tidak memiliki apapun apabila Tuhan tidak memberikannya. Hidup kita semuanya adalah di tanganNya.

Kedua pastinya kita sadar akan rencana Allah di dalam hidup kita. Hal ini dimulai dari pengenalan diri sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa pengenalan kita akan Tuhan Sang Empunya hidup kita yang semakin bertumbuh, akan membuat kita semakin mengenal pribadi kita sendiri. Pengenalan kita akan Tuhan akan berbanding lurus dengan pengenalan akan kita – akan visi hidup yang ditetapkan Tuhan di dalam hidup kita. Contohnya dapat kita lihat di dalam pengenalan Paulus akan dirinya. Sampai suatu momen dimana ia menyadari bahwa Tuhan tidak mencabut “duri dalam daging” dari dalam dirinya, dia tidak tahu sampai Allah memberitahukan alasannya: “cukuplah kasih karunia-Ku” (2 Korintus 12:9)

Nah, hidup kita sebenarnya adalah milik Tuhan, dan di dalam rangka kita mengenal Sang Pemilik Hidup kita, Tuhan akan menyayangi kita, yang mana seringkali kita tidak menyadarinya. Hal itu terjadi karena kita tidak mengetahui apa sebenarnya rencana Tuhan di dalam hidup kita. Kita jadi seringkali protes atas hal-hal buruk yang menimpa hidup kita. Harus diakui bahwa ternyata hidup kita adalah hidup yang bermakna, dan kebermaknaan itu hanyalah karena ANUGRAH ALLAH! Itulah yang Allah sendiri minta pada kita: “TAAT dan SETIA”. Hanya 2 kata, tapi bayangkan betapa susahnya hal tersebut untuk dapat kita lakukan.

Fanny Crosby mencoba menuliskan sebuah lagu yang sangat indah:

I am Thine, O Lord, I have heard Thy voice,
And it told Thy love to me;
But I long to rise in the arms of faith
And be closer drawn to Thee.

Reff:
Draw me nearer, nearer blessèd Lord,
To the cross where Thou hast died.
Draw me nearer, nearer, nearer blessèd Lord,
To Thy precious, bleeding side.

Consecrate me now to Thy service, Lord,
By the power of grace divine;
Let my soul look up with a steadfast hope,
And my will be lost in Thine.

O the pure delight of a single hour
That before Thy throne I spend,
When I kneel in prayer, and with Thee, my God
I commune as friend with friend!

There are depths of love that I cannot know
Till I cross the narrow sea;
There are heights of joy that I may not reach
Till I rest in peace with Thee.

Indah sekali lagu ini. Kerinduan dari Fanny Crosby adalah dia ingin menjadi milik Tuhan Yesus sendiri.

Allah yang mengasihi kita melalui PutraNya. Allah yang memberikan hidup kekal melalui salib – yang mana Ia telah membeli kita melewati lembah kekelaman dosa. Allah yang memiliki kita, yang menuntun tiap langkah kehidupan kita. Allah yang membenci dosa kita, namun tetap ingin sekali memeluk kita dengan kasihNya… Itulah pribadi Allah Tritunggal – sang pemilik hidup kita. Dialah yang layak untuk menerima hormat dan kemuliaan. Ia yang sering kita sakiti namun dengan salib itu dan dengan kata “SUDAH SELESAI”, seluruh orang yang percaya diselamatkan. Itulah Allah yang sejati – Raja di atas segala raja, yang menguasai hidup kita.

Apa yang mau kita perbuat setelah kita mengetahui bahwa realitas hidup kita semuanya adalah milik Tuhan? Tidak mudah untuk menyadari hal ini. Pengenalan akan Allah yang benar akan terus berlangsung selama proses hidup kita. Kita hanya perlu belajar untuk TAAT dan SETIA, menikmati setiap proses yang Tuhan berikan sambil memaknai bahwa tidak ada satu hal pun di dalam hidup kita yang lepas dari kontrolNya. Menanggapi hal tersebut berarti kita tidak perlu kuatir akan apapun yang terjadi dalam hidup kita. Allah yang memiliki, dan Allah yang mengatur, tinggal kita mau turut kehendakNya atau tidak.


Soli Deo Gloria!

Monday, October 28, 2013

Esensi dari “Memuliakan Tuhan dan Menikmati Dia Sepanjang Waktu”

Sangat sering kita mendengar tentang kalimat di atas, yakni tujuan hidup manusia adalah Memuliakan Tuhan dan menikmati Dia sepanjang waktu. Tepat sekali, kalimat itu adalah pertanyaan pertama serta jawabannya dari Katekismus Singkat Westminster. Sebelum saya mengetahui kalimat ini, saya mengetahui bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah. Artinya bahwa Allah sangat gembira melihat kita menjadi pribadi yang sengsara.

Mungkin itulah yang dirasakan oleh sahabat-sahabat kita dari keyakinan seberang. Menyiksa diri demi memuaskan Allah dan tidak pernah yakin akan nasib mereka di hari depan. Manakala ditanya, kemana tujuan mereka setelah mereka mati, jawabannya adalah “SEMOGA”. Bukankah kita sebagai orang Kristen perlu menangis ketika melihat realitas ini? Apakah kita sebagai orang Kristen – yang sudah mendapatkan jaminan keselamatan – tidak memiliki kerinduan tertentu terhadap sahabat-sahabat kita ini?

Bahwasanya ketika memuliakan Tuhan, kita juga menikmati Dia. Poin “menikmati Dia” mungkin merupakan salah satu hal yang sering kita sangsikan. Hal ini tak lain disebabkan karena terkadang kita berpikiran bahwa ketika ada hal buruk menimpa kita, dan Allah berdaulat, bagaimana mungkin kita bisa menikmati Dia? Seperti apa sih sebenarnya menikmati Dia? Justru di dalam banyak hal, kita seringkali gagal menikmati Allah – apalagi kalau kondisinya adalah kita mengalami hal-hal buruk. Kita gagal layaknya Ayub ketika ia menyatakan bahwa ketika hal buruk terjadi dalam hidupnya, ia justru menunjukkan imannya – dengan mengatakan bahwa setiap kita harus mau menerima hal yang buruk dalam relasi kita dengan Allah.

Memuliakan Tuhan – apa yang kita bayangkan pertama kali saat mendengar frase ini? Memuliakan Tuhan bisa saja kita artikan bahwa kita melayani Tuhan melalui talenta yang kita miliki. Contoh: ketika kita bisa menyanyi, kita menyanyi di gereja. Ketika kita bisa memainkan alat musik, kita menunjukkan kebolehan kita. Apakah sesempit itu? Tentu tidak. Bahkan kalau kita membaca di Roma 12:1 maka sebenarnya seluruh aspek kehidupan kita seharusnya akan mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan. Jadi waktu kita tidur pun, kita memuliakan Tuhan. Waktu kita makan, kita memuliakan Tuhan.

Menikmati Dia – bahkan dalam rangka kita memuliakan Tuhan kita bisa menikmati Dia sepanjang waktu. Artinya? Kita benar-benar menikmati anugrah Allah. Melalui apa? Melalui segalanya yang sudah Tuhan sediakan bagi kita. Apabila kita berbicara “SEGALANYA” berarti bahkan sesuatu hal buruk pun, kita harus belajar untuk menikmati itu dalam kehidupan kita. Susah ya? Iya kelihatannya. Di dalam pemaknaan kita sebagai seorang manusia, maka sangat susah. Tetapi ketika kita kembali lagi bahwa kehidupan kita sebenarnya adalah di tanganNya, maka sebenarnya tidak ada hal detail sekecil apapun yang terlewat dari Allah. Ia mengatur segala hal termasuk rencana hidup kita, apa yang kita makan, Tuhan sudah mengetahuinya sejak kekekalan.

Kedua sisi ini harus kita maksimalkan. Ada kalanya kita hanya ingin memuliakan Tuhan – membiarkan diri kita disiksa. Artinya bahwa kita sama sekali tidak menikmati pelayanan ataupun hidup yang sudah Tuhan berikan. Kita cenderung memiliki kerohanian yang terus menerus tertekan. Kita menganggap bahwa apa yang kita lakukan, Tuhan tidak menyukainya. Kesenangan kita berbeda dengan kesenangan Tuhan. Apa yang membuat kita bersukacita, Tuhan pasti tidak bersukacita. Seringkali kita terjebak di dalam anggapan seperti itu. Hal itu terjadi saat kita belum mengerti bahwa kita adalah orang-orang yang sudah diberikan sebuah privilege untuk membenci dosa. Ia sudah membeli kita menjadi hambaNya, bukan lagi hamba dosa. Oleh karena itu kita perlu terus menerus bersyukur dan kita perlu sadar bahwa dosa sama sekali tidak memiliki kuasa atas kehidupan kita. (1 Korintus 7:22-23)

Di satu sisi lain, kita terjebak di dalam ekstrim yang satunya, yakni menikmati anugrah Tuhan saja tanpa mau memuliakan Dia. Kita menjadi sebuah pribadi yang egois dan meninggikan diri kita. Bahasanya adalah “aji mumpung”. Mumpung saya memiliki kemampuan yang luar biasa, maka saya pastilah Tuhan berkenan atas apapun yang saya lakukan. Itulah bahasanya. Nah ekstrim ini juga berbahaya, karena akan menjadikan kita seorang pribadi yang meninggikan diri sendiri. Motivasi utama kita saat kita pelayanan akhirnya bukanlah demi kemuliaan Tuhan, tetapi bagaimana kita bisa memamerkan kehebatan kita yang sebenarnya itu semua berasal dari Allah.

Kedua sisi ini perlu untuk kita jagai sepenuhnya. Sebagai gambar dan rupa Allah, kita memiliki tanggung jawab untuk menampilkan kemuliaanNya dan sebagai orang-orang yang sudah menerima anugrah keselamatan, kita perlu sadar bahwa kita perlu menikmati suatu relasi yang intim dengan Dia. Melalui apa? Tentu saja melalui saat teduh dan doa-doa kita kepadaNya. Bukan hanya itu, bahkan di dalam keseharian kita pun – dalam setiap detail yang kita lakukan, kita perlu melihat bahwa ada anugrah yang sudah Tuhan berikan di dalam kehidupan kita. Tujuan hidup kita, cita-cita kita, segala detailnya, semuanya sebenarnya adalah anugrah, dan kita sebagai orang percaya perlu untuk terus bergumul. Pergumulan dimana kita perlu untuk merenungkan apa yang Tuhan mau untuk kita lakukan – yang mana namaNya semakin dimuliakan – sembari kita menikmati proses yang daripada Tuhan.

Soli Deo Gloria

Friday, August 23, 2013

Pergumulan yang Christ-Centered

Tidak pernah terbayangkan bahwa suatu pergumulan itu adalah sesuatu yang berat. Apalagi ditambah dengan suatu kondisi dimana kita terpisah jauh dengan partner pergumulan kita. Sungguh suatu hal yang makin buat “nyesek ati” kalau orang bilang. Selain itu ditambah dengan kesibukan masing-masing, membuat hati semakin tak tenang. Tetapi benarkah bahwa ketika kita dipisahkan jarak oleh orang yang kita pergumulkan, maka hidup akan menjadi sesuatu yang berat? Seberat itukah hidup jauh dari rekan kita, sahabat kita, seorang yang nantinya akan mengikat janji pernikahan dengan kita sampai “sehidup semati”?

Jawabannya YA, dan AMIN. Memang berat ketika kita harus meninggalkan seseorang yang kita cintai, seseorang yang mungkin kita perlu untuk sharing hidup dengan dia. Selain itu juga kita bisa saling mengenal satu dengan yang lain saat kita dekat. Pasti tak mudah pada awalnya. Tetapi ketika kembali kepada esensi tentang relasi dan pernikahan, tentu kita kenal bahwa relasi tersebut dibangun bukan hanya dengan kita memiliki suatu pengalaman romantis. Pergumulan bukanlah suatu masalah kita harus “kopi darat” (Sekalipun ketika kita langsung kopi darat, kita pasti dapat dengan lebih efektif dalam menjalani relasi kita)

Makna pergumulan itu sebenarnya apa sih? Pergumulan untuk menikah atau tidak, tentang tujuan hidup, apapun itu, selalu membuat kita berpikir keras sambil terus berdoa dan berdoa. Kita jadi lebih giat untuk berdoa, saat teduh, mengucap syukur atas hal yang Tuhan berikan, dan sebagainya. Pergumulan tentang Pasangan Hidup pun apabila dilakukan dalam Long Distance, perlu suatu pergumulan juga untuk memulainya.

Pada saat saya mulai mengatakan bahwa “aku ingin mempergumulkan kamu sebagai seorang pasangan hidupku nanti” itu bukan hal yang mudah apalagi kita tahu bahwa pergumulan itu akan dilakukan secara long distance. Jarak yang terpisah jauh tentu jadi hambatan utama, kemudian komunikasi yang tak lancar, ditambah dengan kesibukan masing-masing. Tetapi apakah memang seperti itu? Apakah lantas ketika kita ambil keputusan seperti itu kita mengeluh dan kita akhirnya mohon-mohon agar Tuhan cepat menjawab pergumulan kita berdua? Actually, itu aneh!

Ketika Tuhan memberikan suatu waktu untuk kita bergumul apalagi secara long distance, saya percaya bahwa itu adalah suatu cara Tuhan untuk kita dapat semakin dapat menajamkan diri satu dengan yang lain. Saya rasa juga ini yang saya alami selama ini. Maybe kita bisa benar-benar merindukannya, tapi waktu Allah balik bertanya: “seberapa kamu merindukan Aku?” kepada kita, apa jawab kita? Apakah posisi kita bergumul itu akhirnya membuat kita melupakan Allah, menganggap Dia tidak ada, dan akhirnya kita menjadi acuh tak acuh terhadap Allah?

Fasa pergumulan long distance memang menuntut suatu komitmen yang lebih dan keseriusan di dalam diri masing-masing pasangan. Coba bayangkan saja kalau suatu saat memang saat menikah kita masing-masing punya tugas jauh (siapa tahu salah satu dari kita dipanggil Tuhan untuk misi ke daerah terpencil) Allah sedang mencoba untuk menguji kita, apakah hati kita masih setia kepada Allah dan kepada pasangan kita, atau justru kita beralih kepada hal-hal yang tidak seharusnya?

Kita berdua (saya dan seorang yang saya pergumulkan) pun merasa bahwa justru di dalam pergumulan kita yang long distance ini kita makin dekat dengan Tuhan. Kita berdua semakin hari semakin bertumbuh dan dibukakan banyak hal, tentang visi, pelayanan, kehidupan Kristen, tentang banyak sekali hal baru yang selama ini belum pernah kami pikirkan. Pertemuan kita setelah sekitar 5 bulan tak jumpa pun, ditebus dengan 2 jam ngobrol, dan itu pun saya pribadi merupakan suatu kesempatan dimana kami bisa share tentang kehidupan kami masing-masing, dengan cerita seru kami masing-masing, dan merupakan suatu quality time yang harus diakui merupakan momen yang paling kami rindukan. Itulah kesempatan di mana kami bisa melepas kangen sambil terus mengingat komitmen kami.

Indahnya suatu relasi di dalam Kristus adalah bahwa kita dapat menjadi orang-orang yang semakin hari semakin dewasa di dalam Dia, memiliki suatu keserupaan dengan Kristus dan kita berdua, sekalipun jauh, belajar untuk menjadi “serupa dengan Dia”. Saya cukup senang dengan suatu proses di mana kami berdua juga semakin hari semakin dewasa satu sama lain. Sekalipun jarang bertemu, namun ketika ada suatu waktu yang berkualitas, kami belajar untuk memanfaatkan itu sebaik-baiknya. Sharing visi, sharing tentang kehidupan, sharing tentang banyak hal di dalam kehidupan, bukankah itu yang sebenarnya penting bagi satu sama lain untuk saling mengenal satu dengan yang lain?

Ada banyak pasangan yang sekalipun mereka dekat, mereka hanya tidak jelas pacaran di dalam konteks romantis belaka, tanpa adanya suatu kerinduan untuk saling bertumbuh satu dengan yang lain. Paling tidak kami tidak mau menjadi pasangan seperti itu. Kami ingin belajar untuk mengembangkan diri satu sama lain di dalam Kristus, mendasari relasi kami berdua dengan suatu komitmen bahwa kami ingin belajar untuk menghormati komitmen satu dengan yang lain.

Percayalah, kami ini bukan orang-orang yang sempurna. Bahkan di dalam pergumulan kami pun terkadang muncul suatu konflik, rasa kangen, dan sebagainya. Emosi-emosi seperti itu kadang membuat kami sadar bahwa kami ini manusia yang lemah. Bahkan ketika sebuah kalimat “aku bersedia” itu masih aku nantikan, tapi ketika bahkan belum ada suatu jawaban yang pasti, aku tetap belajar untuk menghargai janjiku di awal, bahwa aku akan menghormati dia dan waktunya, aku akan menghormati setiap keputusan yang kami ambil.

Ada banyak hal yang perlu dipikirkan ketika kita mengambil keputusan untuk mulai berpacaran. Ditambah lagi jarak kami berdua jauh, dan itu kadang membuat kami sadar bahwa relasi kami ini mungkin tidak dapat dilanjutkan. Ya satu satunya jalan yaitu maintain komunikasi kami berdua. Semakin banyak komunikasi, semakin banyak potensi konflik, dan saya sendiri sadar kadang-kadang dari suatu pembicaraan, kami berdua sudah banyak berubah. Pembicaraan yang saling mengasah dan saling menajamkan satu dengan yang lain, serta kami belajar untuk jujur di hadapan satu dengan yang lain, dan saling berbagi beban dan mendukung di dalam doa.

Relasi yang berdasarkan atas kasih Kristus adalah suatu relasi yang mana kita belajar menikmati anugrah yang Allah berikan di dalam hidup kita. Pergumulan merupakan suatu proses, suatu anugrah yang Allah juga berikan di dalam hidup kita, tinggal bagaimana sekarang kita mencoba untuk menanggapi apa maunya Tuhan. Siap sedia terhadap setiap jawaban, dan terus belajar di dalam relasi kita mengutamakan Tuhan. Itu adalah suatu momen di mana kita belajar untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Dia sepanjang waktu.

Sebuah lagu yang menarik yaitu soundtrack dari film Fireproof: “While I’m Waiting”. Dengar saja lagunya dan perhatikan setiap kata dalam lagu itu, itulah cinta yang sejati, yaitu cinta kita kepada Kristus dan cinta Kristus kepada kita, menunjukkan suatu komitmen penuh kepada Kristus dan semuanya adalah untuk kemuliaanNya.

Pergumulan memang butuh suatu penantian, tetapi justru di tengah penantian itulah kita perlu belajar untuk fokus penuh kepada Kristus dan belajar untuk melihat bahwa apapun keputusan yang kita ambil, semuanya melibatkan Tangan Tuhan yang menuntun untuk mengabdi dan memuliakanNya.


Selamat bergumul J SOLI DEO GLORIA! 

Thursday, May 9, 2013

Hectic Christianity - Sebuah Refleksi tentang Gaya Hidup Kekristenan


Kehidupan orang Kristen seringkali di dalam suatu kondisi yang sangat hectic. Maksudnya adalah di dalam kehidupan yang begitu cepat bergulir, tanpa adanya suatu kesempatan untuk kita bisa duduk tenang dan terus bekerja bahkan di dalam pelayanan kita sekalipun, baik di gereja maupun di tempat kerja, dan dimanapun, kita bisa kehilangan ketenangan hati kita. Inilah bahayanya ketika kita mulai menjadi orang Kristen yang sudah mulai terlibat pelayanan ataupun kegiatan yang membuat kita tidak bisa lagi menikmati Tuhan di dalam kesendirian kita. Mengapa? Karena hampir tidak mungkin kita punya suatu relasi, suatu waktu yang benar-benar personal dengan Allah.

Inti kehidupan Kristen, yang menjiwainya sebenarnya adalah personal relationship with God. Itu berarti memang kehidupan Kristen adalah kehidupan yang luar biasa, yang mana Tuhan yang imanen, Tuhan yang dekat dengan kita, adalah Tuhan yang ingin bergaul dekat dengan kita. Inilah yang terkadang setiap kita lupa, bahwa di dalam kehidupan kita, suatu saat kita perlu duduk diam sambil merenungkan betapa besarnya karya Tuhan di dalam nafas kita, di dalam kehidupan kita, di dalam hati kita, di dalam setiap hal yang kita lakukan. Suatu waktu yang menjadi sangat indah pada saat kita belajar untuk duduk diam, sambil merefleksikan betapa agung karyaNya di dalam kehidupan kita.

Masa penantian merupakan suatu masa yang membosankan, yang mana kita bisa saja berputar-putar di dalam kita menantikan sesuatu, dan kalau kita tidak sabar, maka kehidupan ini bisa “memakan” kita. Maksudnya? Ya kehidupan akan terus menggerogoti kita dengan berbagai hal yang menarik, yang membuat kita melupakan tujuan utama kita diciptakan sebenarnya untuk apa dan untuk siapa? Apabila kita tidak punya suatu pegangan di dalam menjalani kehidupan ini kita bisa terperangkap.

Ini menjadi suatu peringatan bagi kita. Penantian adalah suatu proses seumur hidup yang mana kita tentu saja melewati berbagai fasa kehidupan di dalam penantian itu. Maka dari itu, apabila kita tidak berhati-hati di dalam proses itu, kita menjadi orang yang tidak sabaran, yang mana pada akhirnya kita menjadi terburu-buru, kita akan missing berbagai poin yang harus kita jalani, akhirnya kita memilih untuk segera menyelesaikannya dengan cara yang tidak benar. Akhirnya kehidupan ini menjadi kehidupan yang sangat melelahkan. Kehidupan menjadi suatu waktu dimana penuh dengan tuntutan dan kita tidak mampu untuk menerima tuntutan itu karena berbagai sebab.

Nah di sinilah kita perlu merenungkan perkataan Tuhan Yesus di dalam injil Matius, di Matius 11:28-30, berbunyi demikian:

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan
(Matius 11:28-30)

Lalu mengapa sebagai orang Kristen kita bisa lelah? Mengapa rasanya menjadi orang Kristen menjadi suatu kehidupan yang penuh tuntutan dan kita tidak bisa merasakan damai sejahtera dari Allah? Mengapa kita melakukan sesuatu namun kita tidak dapat hidup dengan tenang dan dipenuhi aturan-aturan yang mengikat kita? Sebagai orang Kristen, secara komplit alkitab memberikan berbagai aturan dan ketetapan yang sangat mengikat kita, namun juga membebaskan kita. Rasul Paulus menuliskannya di dalam suratnya kepada jemaat di Korintus:

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
(2Korintus 5:17)

Ciptaan baru, kehidupan baru yang diberikan oleh Kristus melalui pengorbananNya di kayu salib membuat kita sadar bahwa kehidupan kekristenan adalah kehidupan yang mengikat, dalam artian kehidupan sebelumnya pun kita juga diikat oleh dosa. Setelah kita percaya akan karya Kristus di kayu salib, itulah momen di mana kita dilepaskan dari kehidupan lama kita dan mengenakan status baru yaitu orang yang sudah ditebus oleh Allah. Dari hamba dosa, menjadi hamba kebenaran. Bukankah ini suatu janji di dalam kehidupan yang tentunya menguatkan kita? Sama-sama menjadi hamba, tapi yang satu adalah menjadi hamba atas feeling guilty kita, atas dosa-dosa kita, dan sebagainya. Setelah menjadi seorang Kristen, kita menjadi hamba kebenaran, yang mana kita mendapatkan suatu anugrah yang luar biasa di dalam kehidupan keseharian kita.

Menjadi seorang hamba tentu saja akan melelahkan, namun menjadi hamba kebenaran jauh lebih menyenangkan! Di dalam kesadaran bahwa Allah yang memegang kendali atas APAPUN yang kita kerjakan, maka sebenarnya kehidupan kita menjadi sesuatu yang menyenangkan. Kita selalu bisa bersyukur atas apapun yang kita alami, termasuk di dalam hal-hal di dalam kehidupan kita yang mana kita punya suatu kerinduan tertentu. Pasangan hidup misalnya, ataupun pekerjaan, berbagai hal lain yang kita nantikan. Kita bisa saja lelah di dalam penantian itu, sungguh! Karena kita berpikir bahwa “Tuhan, ini sudah waktunya! Saya sudah tidak sabar!” dan kita merasa bahwa kita siap mendapatkan sesuatu namun belum mendapatkan jawaban dari Tuhan, akhirnya kita lelah.

Itulah momen di mana kita perlu duduk diam dan tenang dan mulai merenungkan apa yang sudah dikerjakan Tuhan di dalam hidup kita. Tidak perlu jauh-jauh, kalau tidak ada satu hal pun yang terasa baik di dalam kehidupan kita, bukankah kita dapat bersyukur kalau hari ini kita masih bisa hidup? Bukankah kalau hari ini kita masih bisa bernafas dengan gratis, tidak seperti orang-orang yang harus mengenakan tabung oksigen untuk bernafas? Selalu ada ruang untuk kita bersyukur, yang perlu kita lakukan adalah duduk diam dan mulai merenungkan apa yang sudah Allah lakukan dalam kehidupan kita, sampai akhirnya kita bukan hanya bisa mengatakan bahwa Tuhan itu baik, tapi benar-benar menghidupi kalimat itu.

Saya menutup artikel ini dengan sebuah kalimat dari Dr. Ravi Zacharias, sebagai berikut:

"As we move along in our busy life as a businessperson, moving on a hectic pace, pausing to learn the true value of nothing, but moving on and on and on, will you take time enough today to pause and ask yourself, how much God loves you? That He cares for you. Of for those of you who live in insecurities and does not have much more to offer, isn’t it wonderful to know, that He’s given Himself for you. If God could say through Isaiah “what more have I done to you that I’m not already done”, how much more could He said after the cross, where He sends His son to lay down His life for you and for me. God’s love: undeserving, grows on relationship, desperately needed."

(Selama kita menjalani kehidupan kita sebagai seorang bisnisman, yang mana kita hidup di dalam kelelahan dan berhenti sejenak untuk mempelajari hal-hal yang sebenarnya tidak bernilai, dan kita terus bergerak, apakah hari ini kita sudah duduk diam sejenak dan bertanya kepada diri kita sendiri, seberapa besar Allah mengasihi kita dan bahwa Ia memperhatikan kita. Bagi setiap kita yang hidup di dalam ketidakmampuan dan tidak memiliki hal apapun yang kita dapat berikan, bukankah ada satu kabar baik bagi kita, bahwa Dia telah memberikan diriNya bagi kita. Apabila Tuhan dapat berkata melalui nabi Yesaya “Apatah lagi yang harus diperbuat  yang belum Kuperbuat kepadanya?” (kutipan dari Yesaya 5:4), maka seberapa besar yang dapat Ia berikan setelah Ia disalib, yang mana Dia mengirimkan PutraNya yang tunggal untuk menyerahkan nyawaNya bagi anda dan bagi saya. Kasih Allah: tidak layak untuk kita terima, bertumbuh di dalam relasi, dan sangat amat dibutuhkan.)

Semoga tulisan ini bisa mengingatkan kita bahwa di tengah kesesakan kita hidup di dunia ini sebagai orang Kristen, ada banyak hal yang dapat kita lakukan, namun jangan lupakan untuk kita tetap sediakan waktu untuk duduk sejenak saja dan merenungkan karya Tuhan dan apa mau Tuhan di dalam kehidupan kita.

Soli DEO Gloria!

Sunday, March 31, 2013

Refleksi Paska - Kematian dan Kebangkitan Kristus dan Bagaimana Memaknainya


Paska identik dengan suatu perayaan mencari telur. Tradisi ini sangat umum apabila dilihat di negara-negara di Eropa. Satu film yaitu Rise of The Guardians menunjukkan betapa Paska merupakan suatu hari yang dinanti-nantikan oleh anak-anak. Lebih jauh lagi, Paska mengingatkan juga pada Easter Bunny, seekor kelinci yang melompat-lompat dan menyembunyikan telur yang diwarna-warni.

Nah bagi orang Kristen sendiri, Paska menjadi suatu peringatan yang luar biasa. Sang Juruselamat yaitu Yesus sendiri menyerahkan nyawaNya untuk menebus dosa umat manusia. Sola Gratia! Ya, semuanya itu adalah anugrah yang luar biasa. Karya keselamatan itu dimulai dari pelayanan Tuhan Yesus yang ‘mengganggu’ sistem agama saat itu, kemudian diwarnai dengan pemberontakan muridNya yaitu Yudas akibat kekecewaannya. Selain itu juga diwarnai dengan berbagai berita alkitab yang mana sudah dinubuatkan di Perjanjian Lama oleh Nabi Yesaya. Yesaya 53 memberitakan tentang Sang Juruselamat jauh sebelum Tuhan Yesus hadir di dunia sebagai 100% manusia dan 100% Allah.

Berita Paska menjadi suatu berita yang menarik, bagaimana tidak, karena karya keselamatan dilakukan Allah, dengan kematian Tuhan Yesus, murka Allah dipuaskan, dan dosa manusia dibasuh bersih oleh anugrah. Oleh Adam, seluruh manusia membawa natur dosa, dan oleh Kristus semua manusia dibersihkan. Sebagai orang Kristen kita boleh percaya bahwa sudah ada suatu tempat yang disediakan bagi kita.

Di dalam keselamatan karena karya Allah tersebut, pertanyaannya adalah, sudah sejauh apa kita memaknai arti Paska yang sebenarnya? Apabila kita mencoba mendalami karya keselamatan Allah, tidak bisa dilepaskan darinya adalah tanggung jawab manusia SETELAH kita diselamatkan oleh Allah sendiri. Maksudnya adalah, setelah kita menerima ANUGRAH dari Tuhan sendiri, apa yang harus kita lakukan?

Kekristenan tidak melulu bicara tentang surga dan neraka. Seorang percaya dapat menjadi percaya kepada Tuhan, bukan karena dia takut akan neraka, namun lebih jauh dari itu, dia telah dipilih oleh Allah, entah bagaimana caranya baik melalui orang lain ataupun segala karya Allah di dalam hidupnya. Jadi kekristenan yang sejati berawal dari inisiatif Allah sendiri. Seluruhnya adalah inisiatif dari Allah, dan manusia hanya dapat memaknai inisiatif tersebut dengan belajar mengenal dan memuliakan Allah sepanjang waktu. Kalau kekristenan kita hanya didasari dengan ketakutan kita akan masuk neraka, apakah benar kita mengasihi Tuhan seperti yang Yesus katakan: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37-39)

Kembali kepada Paska, yang mana merayakan kematian Tuhan Yesus dan kebangkitanNya mengatasi maut. Bukankah ini merupakan berita sentral di dalam Kekristenan? Ya, inilah berita sentral dari karya keselamatan yang dilakukan oleh Allah dengan merelakan AnakNya yang tunggal untuk menjadi buah sulung. (1 Korintus 15:23) Bagaimana sikap kita sebagai orang Kristen menanggapi panggilan ini? Berita sentral ini tentunya perlu kita tanggapi dengan penyerahan diri penuh kepada Tuhan. Ya, Paska menjadi suatu momen yang mengingatkan kita tentang pengorbanan Tuhan Yesus, namun lebih dari itu kita sebagai umatNya diajak untuk meneladani sikapNya.

Tentu bukan hal yang mudah di dalam meneladani sikap Kristus. Tetapi justru momen Paska juga mengingatkan kita untuk START OVER. Maksudnya? Paska merupakan suatu perayaan yang mana diambil dari pada saat umat Israel keluar dari Mesir, dipimpin oleh Musa. Bangsa itu mulai merayakan Passover. Nah pembebasan dari Mesir ini merupakan suatu gambaran yang luar biasa, bagaimana Allah melalui AnakNya sendiri melepaskan kita dari belenggu dosa. Mengutip lagu dari Les Miserables: “Come with me, where chains will never bind you, All your grief, at last at last behind you”. Inilah gambaran janji Allah di dalam Paska.

Setiap kejadian dalam hidup kita, itu merupakan campur tangan dan rencana Allah di dalam kehidupan kita. Allah yang bangkit, Allah yang melalui Yesus Kristus, menebus dosa manusia dan Allah itulah yang terus berkarya di dalam kehidupan umat manusia sampai saat ini. Dialah yang berkuasa atas kehidupan kita, Dialah yang berdaulat atas kehidupan kita. Tinggal saat ini bagaimana kita sebagai saudara Kristus menjadi rekan sekerjaNya. Memberitakan kabar baik ini, yang mana fokusnya adalah Kristus sendiri yang sudah menyelamatkan umat manusia dari jeratan maut. Ialah Allah yang menguasai seluruh kehidupan kita dan Ia yang akan menuntun kita sepanjang kehidupan kita (Mazmur 23). Ia adalah Allah yang setia, yang di dalam kedaulatanNya sudah merencanakan sesuatu yang baik (Roma 8:28) dan sekalipun kita kadang tidak memahamiNya karena rancanganNya yang begitu berbeda dengan kita (Yesaya 55:8).

Itulah peran yang secara aktif diberikan Allah bagi setiap kita yang percaya kepadaNya. Maukah kita ambil bagian di dalam blueprint Allah? Apakah kita mau menjawab panggilan itu, sebagai seorang hamba yang patuh kepada Tuannya. Sebagai seorang hamba yang kalau Tuannya memanggil, hamba itu tidak boleh tidak taat dan bersyukur kalau Tuannya masih mau memakai dia?

Selamat Paska. Selamat menikmati Karya Tuhan dan terus memuliakanNya

Soli Deo Gloria