Total Pageviews

Showing posts with label tujuan. Show all posts
Showing posts with label tujuan. Show all posts

Sunday, December 4, 2016

Merayakan Anugrah



Merayakan Anugrah

Perayaan… Apa yang terbayang di dalam benak rekan-rekan manakala ada sebuah kata “perayaan”? Biasanya yang terbayang di dalam pemikiran kita di dalam kata tersebut adalah: “PESTA”. Sebuah pesta yang penuh dengan sukacita.

Memandang Hidup
Hidup itu seperti apa sih? Atau.. Hidup itu apa sih?
Begitu banyak orang memiliki view tentang hidup yang berbeda satu dengan yang lainnya. Ada yang berpandangan bahwa hidup adalah permainan, dimana hidup ini cuman masalah menang dan kalah. Ada waktunya kita menang, ada waktunya kita kalah, dan semuanya itu sesuatu yang biasa dan selalu bisa dinikmati.

Ada yang bilang hidup ini adalah peperangan, dimana mau tidak mau kita harus bisa survive di dalam hidup ini. Jadi harus menang, kalau kalah berarti kita “mati”. Begitu banyak orang memiliki paradigm hidup seperti ini karena ada begitu banyak yang ingin dicapai.

Sebagai orang Kristen, kehidupan kita selayaknya kita definisikan bahwa hidup ini adalah anugrah. Adalah anugrah semata manakala setiap kita satu demi satu ada dan hidup hingga saat ini. Adalah anugrah semata manakala kita masih bisa melakukan segala sesuatu.

Kelelahan Hidup
Terus kalau kita sudah paham bahwa hidup adalah anugrah, tidak semata-mata kita merasa baik-baik saja dalam menghadapi hidup. Realitanya menjalani hidup yang penuh dengan anugrah ini bukan berarti bahwa hidup ini tanpa tantangan. Tetap saja kok kita sebagai orang Kristen akan mengalami kegagalan. Kita akan tetap mengalami kesulitan. Mungkin sesekali kita akan merasakan difitnah, dimusuhi, dipandang rendah oleh orang lain.

Inikah hidup yang penuh anugrah? Anugrah macam apa yang Tuhan sediakan? Benarkah itu hidup di dalam anugrah? Tidak jarang kita menghadapi ujian-ujian berat selama kita hidup. Bahkan tidak jarang dari kita mengalami depresi berkepanjangan. Katanya hidup itu anugrah, tetapi begitu banyak hal yang justru membuat kita mengalami kepaitan di dalam kehidupan ini.

Perubahan Hidup dalam Anugrah
Yesaya menuliskan kepada umat pada waktu itu mengenai bagaimana hidup di dalam anugrah Allah. Yesaya 35:1-10 melukiskan bagaimana ada suatu perayaan yang ditandai dengan perubahan hidup umat. Janji itupun juga masih nyata bagi setiap kita yang mau belajar untuk menikmati anugrah Allah.

Yesaya 35:1-2
Padang gurun itu bisa dipandang seperti kehidupan kita yang begitu kering, yang kosong, dimana tidak ada suatu kehidupan. Tetapi di bagian B dari ayat 1 ini menunjukkan bagaimana kondisi ketika Allah menjamah kehidupan kita. Kondisi pesta itu dapat dilihat dan dirasakan manakala kita membaca ayat 2. Ayat 2 ini menunjukkan bagaimana kondisi umat yang mensyukuri anugrah yang sudah diterima oleh mereka.

Yesaya 35:3-4
Senada dengan ayat 1-2, ayat 3 ini berbicara mengenai kondisi bagaimana kehidupan kita manakala kita merayakan kehadiran Allah di dalam kehidupan kita. Ada tangan yang lemah lesu, dan ini kita temui di dalam kehidupan yang penuh dengan perjuangan. Ada lutut yang goyah, dimana itu dapat kita alami manakala ada berbagai rintangan di dalam perjalanan kehidupan kita. Yesaya tidak menuliskan bahwa hal tersebut akan lenyap, tetapi ia berkata “KUATKANLAH”.

Ayat 4 berbicara mengenai tawar hati, dimana kondisi ini sering sekali terjadi di dalam kehidupan kita. Rakyat Israel di dalam perjalanan hidup mereka tentu merasakan jatuh bangunnya kehidupan mereka. Ada waktu dimana mereka bersukacita di dalam euforia mereka digiring keluar dari Mesir, tetapi setiap kita tahu bukan bahwa bangsa ini lebih sering menjadi bangsa yang tidak taat kepada Allah.

Namun di tengah tawar hati yang dialami bangsa Israel, Allah menunjukkan kasih-Nya melalui nabi Yesaya, yakni melalui ayat 4 ini. Sama juga di dalam kehidupan kita. Ada kalanya kita tawar hati menghadapi hidup ini, tetapi percayalah bahwa kasih setia Tuhan tidak pernah lepas di dalam kehidupan kita.

Yesaya 35:5-10
Akan ada berbagai sesuatu yang terjadi atas hidup kita sebagai orang percaya. Setidaknya kalau tidak dalam waktu dekat, akan datang momen dimana setiap kita akan mengalami damai sejahtera dari Allah. Kita melihat di dalam ayat 5-10 ini adalah hal-hal yang hampir mustahil untuk dapat kita lihat. Ini adalah janji Tuhan manakala Ia akan datang.

Kalau Allah sudah berjanji demikian, bagaimana kita menanggapinya? Sama seperti bangsa Israel yang tegar tengkuk itu, yang sekalipun mereka melakukan hal-hal yang begitu jahat di mata Allah, mereka tetap dikasihi oleh Allah. Apakah kita akan menanggapi janji Tuhan itu dengan menjadi pribadi yang terus menerus mengeluh di dalam kehidupan ini, sembari tidak belajar memaknai hidup ini sebagai anugrah Allah?

Ataukah…

Kita belajar untuk melihat semua kesulitan kita sebagai suatu anugrah yang membuat kita semakin belajar untuk merasakan bahwa kita membutuhkan Yesus di dalam kehidupan ini. Yes, sikap ini akan ditunjukkan melalui kehidupan kita yang berubah. Kehidupan yang senantiasa mengucap syukur, karena kita tahu bahwa segala hal yang Tuhan persiapkan di dalam kehidupan kita tujuannya adalah rancangan damai sejahtera.

Closing
Hidup di dalam anugrah bukanlah hidup yang tanpa hambatan ataupun tantangan. Justru hidup dalam anugrah memampukan kita untuk melalui setiap pergumulan, hambatan dan tantangan itu dengan mata menatap kepada pengharapan yang tidak pernah mengecewakan. Pengharapan yang memampukan kita untuk melihat pribadi Allah, yang mana memampukan kita untuk menyatakan:

GOD IS GOOD ALL THE TIME, ALL THE TIME GOD IS GOOD

Apakah kita mau belajar merayakan anugrah itu? Mari belajar membagikan hidup penuh anugrah ini kepada orang lain.

Soli Deo Gloria!

Wednesday, November 30, 2016

Mensyukuri Hidup Dalam AnugrahNya



“Banyak orang takut untuk mati, tetapi mereka tidak takut dalam menjalani hidup”

Aku lupa banget siapa yang nulis ungkapan ini, tapi sampai sekarang maknanya masih menancap banget di dalam hatiku. Melihat orang-orang disekitarku dengan berbagai problematika mereka dan mereka terus menerus hidup di dalam keluhan dan kekosongan hidup, aku jadi makin memaknai kalimat ini. Akupun sama dulu menganggap bahwa kalimat ini agak nonsense, tetapi setelah aku merenungkannya, bener juga sih.

Dunia yang Penuh Masalah
Tidak mudah bagi kita untuk hidup di dalam dunia sekarang ini. Tengok aja sekitar kita, berbagai problematika terjadi baik itu menyangkut internal diri kita maupun eksternal. Internal adalah contohnya kita tidak bebas melakukan sesuatu yang kita suka. Kita pengen kerja jadi guru, tapi kita takut gajinya kecil. Kita pengen mencapai cita-cita, tapi kita males buat melakukan effort. Kita sedang LDR-an, dan ketika ada masalah kita malah milih untuk diem karena kita males untuk ngobrol ama cowok/cewek yang nun jauh disana, menganggap bahwa apa yang kita critain gak bakal dipahamin.

Bagaimana dengan faktor eksternal? Nggak sedikit juga loh. Setiap hari kita berhadapan dengan bos kita. Kita berhadapan dengan pekerjaan yang gak selesai-selesai. Kita berhadapan dengan orang lain yang unik. Kita ketemu customer yang mungkin mengajak kita untuk makan-makan manakala kita harus pakai uang kita dulu buat bayarin mereka.

Ada begitu banyak masalah yang kita hadapi, dan tanpa adanya suatu cara pandang yang bener terhadap masalah ini, maka semuanya akan menumpuk jadi satu – yang akhirnya berujung pada stress. Tingkat stress yang meningkat mengakibatkan kita lost direction. Kita akhirnya larut di dalam problematika itu dan menganggap bahwa kita adalah makhluk (ups, manusia maksudnya) yang paling sengsara. Kita menjadi pribadi yang memandang bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan berujung pada kesia-siaan.

Check Our Relationship with God
“Gimana hubunganmu sama si ‘anu’?” pertanyaan itu sering kita dengarkan manakala kita jarang melihat seseorang berjalan sendiri padahal status nya udah in a relationship. Kita jadi kepo dengan kehidupan orang tersebut. Apalagi ketika dia jalan sendirian (eh teman-teman yang LDR harus mulai terbiasa nyiapin jawaban lho hehehehe). Belum lagi kalau dia jalan ama seseorang yang ‘lain’ yang mana biasanya bakal jadi gossip.

Nggak jauh beda dengan hal tersebut, aku melihat kecenderungan seseorang yang ada di ciri-ciri bahwa dia tidak bisa memandang sesuatu dari sudut pandang Allah, kemungkinan besar dia pun juga tidak punya sebuah relasi yang intim dengan Tuhan. Hubungan pribadi yang baik dengan Tuhan juga harus di checkup dari waktu ke waktu. Ya anggep aja seperti hubungan kita dengan pasangan hidup kita pun, bukankah kita juga selalu punya momen-momen untuk kita checkup kehidupan kita masing-masing, dan juga kondisi relasi kita?

Nonsense Meaninglessness
Ketidakberartian hidup – atau ketidakberartian tindakan kita menurutku adalah suatu kesimpulan yang kita tidak akan dapat tarik manakala kita punya sebuah hubungan yang intim dengan Allah. Tuhan menciptakan setiap kita dengan berbagai tujuan yang unik dan spesifik. Ini yang ditangkap oleh pemazmur manakala ia melihat kehidupannya, dan ia menuliskan di dalam Mzm 139, khususnya di ayat ke 13. Kemudian ia melanjutkan mazmur tersebut bahwa dia tercengang atas keberadaannya yang dahsyat

Tuhan membentuk setiap kita dengan setiap keunikan dan kemampuan yang berbeda. Tetapi terlebih dari itu, kita diciptakan untuk membuat suatu perubahan bagi dunia kita – bagi masyarakat kita. Sadar atau tidak, bukankah kita lebih menyukai arus dunia ini? Kita lebih suka play safe, kita lebih menikmati zona nyaman kita. Zona nyaman itu sebenarnya justru akan menarik kita secara perlahan namun pasti menuju ketidakberartian hidup.

Manusia diciptakan untuk menghadapi sebuah challenge, sebuah tantangan hidup. Tanpa tantangan hidup maka manusia akan hidup seperti robot. Maksudnya? Ya dia hanya akan bekerja kalau switch nya ada pada posisi ON. Dia gak akan peduli hasil kerjaannya. Dia akan sulit untuk melakukan sesuatu yang terbaik, karena dia nyaman dengan pola kerjanya yang sekarang. Ia terbiasa hidup terpola dan ketika pola itu dilanggar sedikit saja, dia akan stress sampai berhari-hari terhanyut dalam lautan perenungan yang justru sebenarnya merupakan suatu kesia-siaan.

Tidak Mengetahui dan Menyadari Masalah Hidup
Manusia yang tidak memiliki arah tujuan tentu saja dia merasa tidak ada masalah di dalam dirinya. Dia malah kebingungan terhadap hidupnya sendiri. Bahkan ketika ada orang lain bertanya mengenai apa masalah yang ia hadapi, ia akan kebingungan dan pada akhirnya ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja – karena ia tidak mengenali masalah yang ada di dalam kehidupannya.

Hal ini sering terjadi kepada orang-orang yang berada di dalam fasa pencarian jati diri. Menariknya bahkan di tengah pencariannya pun, dia punya pilihan: (1) dia terlarut dalam masalah itu, atau (2) dia berusaha mencari jati dirinya dengan cara bertanya kepada orang-orang disekitarnya, dan (3) dia berusaha mencari jawaban atas pertanyaan hidupnya kepada sang Empunya hidup.

Key to Meaningful Life
Kalau kita belajar melihat segala sesuatu dari sudut pandang anugrah, maka sehancur apapun hal yang kamu kerjakan, selalu ada manfaatnya baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain yang berada di sekitar kita. Bagaimana ciri orang-orang yang belajar melihat hidup dalam anugrah? Satu ciri yang khas adalah dia gak akan pernah mengeluh mengenai hidupnya. Dia sesekali akan menggerutu tetapi hal itu akhirnya tidak ia anggap sebagai gerutuan, tetapi justru menjadi suatu batu lompatan untuk meloncat lebih tinggi lagi.

Ciri khas lain adalah dia tidak akan nyaman dengan comfort zone nya. Dia akan punya inisiatif untuk mengembangkan dirinya.

Ciri terakhir, namun yang paling penting adalah dia punya sebuah relasi yang deket banget sama Bapa di Sorga. Dia punya kerinduan buat kenal Tuhan – melalui pembacaan alkitab, melalui pendengaran akan Firman, dan melalui komunitas-komunitas yang membangun. Memang kita harus akui bahwa ada satu lobang di dalam hati manusia. Lobang tersebut tidak akan pernah bisa tertambal manakala tiada Tuhan di dalam kehidupan orang itu.

Are You Ready to Make Your Commitment with God
Pernikahan adalah suatu ikatan di hadapan Allah. Sebuah ikatan yang begitu suci, ikatan yang merupakan cerminan dari bagaimana kasih Allah terhadap gereja-Nya. Kalau pernikahan itu begitu suci dan untuk menceraikannya bukan sesuatu yang gampang… (hum, iya lho. Tapi ga tau juga sih karena penulis belom nikah :p) maka seharusnya ketika dua pribadi telah menjadi satu, jika salah satu memutuskan untuk berpisah – akan ada lobang yang besar yang tidak dapat pulih secara cepat.

Maka dari itulah sebenarnya kita perlu belajar untuk melihat Allah sebagai kekasih jiwa kita. Bagaimana sih cirinya? Coba deh, kalau misal kita bangun pagi, apakah kita inget Allah, atau kita inget tukang bubur di depan kantor karena kita lapar? Apakah ketika bangun pagi kita menyadari bahwa ada suatu hal yang harus kita kerjakan di hari itu, dan semuanya itu terjadi cuman karena kasih Allah di dalam hidup kita.

Komitmen Allah terhadap manusia itu sudah jelas banget lho. Salib itu sudah menunjukkan bahwa cinta-Nya pada kita bukanlah sesuatu yang main-main. Cinta yang murni, cinta yang tanpa menuntut balas, cinta yang seharusnya menjadi dasar kita untuk bergerak dan bekerja seturut dengan kehendak-Nya.

Siapkah kita belajar mencintai Allah sama seperti Dia sudah mencintai kita?


Soli Deo Gloria

Thursday, January 1, 2015

Menyambut Tahun Baru Penuh Pengharapan

“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

-Markus 10:45-

Tahun baru merupakan satu momen yang indah untuk kita dapat memikirkan, kira-kira sepertii apa hidup kita di tahun yang akan datang. Sebenarnya setiap kesempatan yang Tuhan sediakan memiliki suatu maksud dan tujuan tertentu. Tetapi momen tahun baru menjadi satu momen yang tepat sekali untuk menanyakan di dalam kehidupan kita sendiri: apa yang mau kita kerjakan bagi Tuhan? Resolusi apa yang belum kita komplitkan tahun lalu dan apa yang mau kita kejar tahun ini?

Setiap tahun kita memiliki berbagai resolusi. Target-target apa yang akan kita kejar di tahun depan, dan kalau dalam konteks para jomblo: “siapa yang kita kejar”. Ah menarik sekali manakala di momen pergantian tahun ini, saya percaya bahwa Allah menyediakan momen ini untuk setidaknya kita merenungkan kembali, bagaimana kasih karunia Allah itu begitu luar biasa di dalam kehidupan kita. Tahun baru ini selalu menjadi masa yang begitu unik dan menarik.

Satu hal yang dapat menjadi satu perenungan yang mendalam di dalam kehidupan kita adalah mau menjadi seperti apa relasi kita dengan Tuhan di tahun kedepan? Hal ini mungkin seringkali terlewat dan dirasa menjadi suatu hal yang tidak penting. Tetapi timbul lagi satu pertanyaan mungkin di dalam kehidupan kita: “sebenarnya pentingkah kita menyertakan hal ini sebagai suatu resolusi?”.

Seorang karyawan mungkin akan memikirkan mengenai bagaimana impiannya kedepan untuk dapat bekerja lebih baik lagi sehingga ia dapat setidaknya naik sub-golongan. Buat para pedagang mungkin akan mengejar omzet sampai meningkat berapa. Banyak contoh lagi, tetapi hal itu terkadang membuat kita menjadi orang yang berfokus pada kehidupan pribadi kita tanpa sedikitpun mau memikirkan – apa yang menjadi rencana Tuhan di dalam kehidupan kita.

Sangat miris melihat realitas bahwa kita begitu mudah memikirkan visi dan misi hidup kita apabila hal itu dikaitkan dengan income kita, ataupun mengenai jabatan kita.  Hidup di dalam suatu dunia yang penuh dengan tantangan membuat kita menjadi seseorang yang melupakan Sang Pemberi Hidup, yang mana akhirnya kita tidak memiliki suatu tujuan yang jelas di dalam kehidupan kita. Kita melupakan esensi kehidupan manusia dan kita akhirnya melupakan bahwa kita ini diciptakan sebagai makhluk sosial. Alih-alih kita dapat mengasihi sesama kita, kita malah menjadi homo homini lupus.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa menyambut momen pergantian tahun baru, kita diajak mengingat kembali sebenarnya untuk apa kita hidup. Momen tahun baru menjadi satu momen yang baik untuk kita terus menerus mengingat Sang Pencipta kita. Konteks bacaan di Markus adalah Andreas dan Yakobus menanyakan, siapa yang terbesar di antara para murid. Sangat lazim lah sebenarnya ketika kita bertanya seperti itu bukan? Sama seperti kita yang menjadi seorang karyawan, sangat lazim kita bertanya kepada bos kita, siapa yang terbaik?

Konteks kerajaan Allah bukan dipandang dari prestasi. Artinya bahwa di dalam kita mengerjakan keselamatan yang telah Tuhan sediakan, hal yang penting bukan seberapa banyak kita sudah berkarya bagi Tuhan. Hal yang terpenting bukanlah berapa banyak jiwa yang sudah kita bawa untuk mengenal Tuhan. Ingat bahwa ketika kita bisa melayani Dia, ketika kita dipakai oleh Tuhan, itu pun sebenarnya juga sebuah bonus kok.

Maka dari itulah Yesus dengan begitu lembut menyebutkan bahwa yang akan menjadi yang terbesar ialah seseorang yang menjadi hamba atas saudara-saudaranya. Hal ini memperjelas kembali panggilan kita, bahwa ketika kita hidup di dunia ini ternyata memang bukan mengenai bagaimana kita dapat meninggikan diri kita. Hidup di dunia ini bukan berarti kita berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih tinggi dan lebih hebat daripada orang-orang yang lain. Hidup ini adalah tentang bagaimana melaksanakan rencana Allah – dan itu berarti bahwa kita melayani orang lain di dalam kehidupan kita.

Apakah berarti kita tidak boleh punya target pribadi di dalam kehidupan ini? Tentu saja boleh, akan tetapi kembali lagi pertanyaannya: apakah target itu hanya fokusnya pada kebesaran diri kita? Apakah target itu sesuai dengan panggilan yang sudah Allah tempatkan di dalam kehidupan kita? Ini adalah satu pertanyaan besar di dalam dunia ini yang perlu kita jawab. Ini adalah satu pertanyaan besar dimana kita perlu memikirkan kembali rencana yang Allah sudah tetapkan di dalam kehidupan kita. Punyakah kita kesadaran bahwa ketika Allah sudah memberikan banyak sekali hal dalam kehidupan kita, itu bukan hanya untuk kita keep sendiri. PrinsipNya begitu jelas kok, bahwa ketika kita diberikan sesuatu oleh Allah, maka kita akan dituntut lebih dan lebih lagi. Saat itu pula Dia akan menambahkan, dan kita terus memberi dan memberi.


Ketika sudah membaca hal ini, kira-kira apakah yang menjadi resolusi kita di tahun 2015? Siapkah kita menyongsong masa-masa penuh pengharapan di dalam Dia? Apakah kita masih saja tetap pada tujuan hidup kita sebelum kita mengenal Kristus, ataukah kita belajar untuk semakin hari semakin mengenal Dia di dalam Roh dan kebenaran? Allah kita adalah Allah yang memelihara kehidupan kita hari lepas hari. Apakah kita siap di dalam pelayanan kita untuk memuliakan Allah di dalam hidup kita – menjalani hari-hari penuh pengharapan di dalam Dia yang memberikan kita kekuatan untuk hidup memuliakanNya?

Saturday, May 31, 2014

Pelayanan Yeremia

 Yeremia – sesosok nabi yang menarik. Mellow, merasa rendah, penuh dengan pergumulan dan ratapan, tetapi di balik itu dia adalah pribadi yang begitu jujur dan punya sebuah kerinduan bagi bangsanya, untuk mengembalikan bangsa kepunyaan Tuhan itu ke jalan yang benar.

Yeremia adalah pribadi yang menarik. Ia menerima langsung panggilan Allah, sekalipun di masa mudanya. Yeremia yang pada awalnya ketakutan luar biasa tetapi akhirnya berangkat juga. Di tengah pelayanan nabi ini, ada berbagai macam pergumulan yang secara jujur sekali ia ungkapkan. Kalau kita baca kitab Yeremia secara lengkap, bahkan ada satu poin dimana ia jujur di hadapan Allah sampai mengatakan bahwa Allah adalah “sungai yang curang[i]”. Sekali waktu di tengah pergumulannya, ia menyatakan iman yang luar biasa.

Tetapi apabila aku berpikir: "Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya", maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.
(Yeremia 20:9)

Yeremia mengajarkan beberapa prinsip pelayanan yang perlu kita pahami. Memang kalau kita membahas seluruh kitab Yeremia, kita akan melihat berbagai kisah, tetapi saat ini kita akan fokus pada bagaimana pelayanan Yeremia itu didasari hanya oleh kuasa Tuhan dan semuanya adalah bagi kemuliaan Tuhan.

1.   Yeremia taat dan setia
Ketaatan Yeremia nampak sejak awal Allah memanggil dia sebagai seorang nabi. Sekalipun pada awalnya ia rendah diri karena masih muda, tetapi setelah diberikan janji penyertaan Allah, ia pun berangkat.
Baca seluruh kitab nabi Yeremia dan kalau kita perhatikan di dalam beberapa kesempatan ia bergumul tetapi tetap ia taat atas panggilan yang Tuhan berikan di dalam kehidupannya. Yeremia 20:9 itu merupakan salah satu deklarasi bahwa di tengah pergumulan yang begitu berat, ia tetap belajar untuk setia melayani Tuhan.

2.   Kuasa Firman itu cukup untuk kita dapat melayani Dia
Saat aku masih bergereja di Surabaya, aku pernah diberikan suatu kepercayaan untuk melayani sebagai pemimpin kelompok cell group. Mulanya aku begitu takut, dan memang benar ketika awal aku memimpin aku sempat menangis di hadapan anak-anak yang aku bimbing, terkait dengan ulah mereka. Saat itu aku begitu malu dan segera mengakhiri pertemuan itu. Setelah itu aku menghadap mentorku dan satu hal yang aku sadari: aku mengandalkan kekuatanku sendiri di dalam pelayanan ini.
Yeremia tahu benar bahwa panggilan itu berasal dari Allah. Oleh karena keyakinan itulah ia melayani. Allah “menaruh perkataan-perkataan di dalam mulutnya[ii]”. Hal ini menjadi satu pembelajaran bagi kita, bahwa pelayanan itu sebenarnya bukan kita yang bekerja. Pelayanan adalah gawe-nya Tuhan, oleh karena itu semuanya adalah dari Dia, bagi Dia, dan oleh Dia[iii].

3.   Belajar jujur di hadapan Tuhan
Pergumulan yang dihadapi Yeremia adalah bagaimana ia ingin sekali bangsa itu kembali ke jalan yang benar. Karena itulah di dalam doa-doa yang dipanjatkan Yeremia, ia selalu berdoa bagi bangsa itu, terlepas juga ia sangat jujur di hadapan Allah mengenai kondisinya.
Ketika kita mengerti akan panggilan Allah di dalam kehidupan kita, seharusnya kita menyadari bahwa kita perlu jujur di hadapan Tuhan. Memang benar tidak ada yang tersembunyi di mata Tuhan, namun di dalam pelayanan, kita perlu belajar untuk curhat ke Tuhan, belajar jujur atas kekecewaan kita, kemarahan kita, pergumulan kita. Mencari jawaban dari Tuhan dan benar-benar mengandalkan Dia sebagai satu-satunya sumber jawaban.

4.   Process oriented
Apa sih yang salah di dalam pelayanan Yeremia? Dia sudah memberitakan injil dengan baik. Kita dibandingkan Yeremia tidak ada apa-apanya kan? Dia memberitakan Firman dan kalau kita lihat effort yang dilakukan Yeremia, bukankah Yeremia sudah begitu maksimal di dalam pelayanan?
Apa yang dia dapatkan? Tidak lain hanyalah pelayanan tanpa hasil. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada hal yang indah menurut pandangan manusia, tidak ada hal yang patut dibanggakan.
Tetapi sadarkah bahwa pelayanan Yesus pun juga berakhir seperti itu bukan? Selalu ada tantangan dan Yesus pun berakhir di kayu salib, yang merupakan lambang kehinaan terbesar jaman itu. Dampak pelayanan Yeremia apa? Kalau kita baca kitab Daniel, dialah yang menemukan gulungan kitab yang ditulis oleh Yeremia! Ia menemukan bahwa pembuangan ke Babel sudah dinubuatkan oleh Yeremia dan hal itu membuat Daniel menyadari dan semakin mengenal Allah.
Jangan pernah menilai sebuah pelayanan dari jumlah orang yang bertobat, atau bagaimana melalui perkataan kita seseorang bisa menerima Yesus. Pelayanan itu adalah perubahan diri sendiri menjadi orang yang semakin kenal Kristus, dan melalui kehidupan kita, tindakan kita, pemikiran kita, dan pemberitaan kitalah maka orang lain dapat tertarik dan Roh Kudus akan menggerakkan orang tersebut untuk dapat mengenal Kristus.

“Aku hidup di hadapan Sang Penonton Tunggal, di hadapan orang lain aku tidak perlu membuktikan apapun, tidak perlu meraih apapun, tidak perlu kehilangan apapun[iv]”

Yeremia sudah memperlihatkan bahwa prinsip terutama pada pelayanan bukan pada prestasi, bukan pada skill, tetapi mengenai satu kesadaran akan panggilan Tuhan di dalam kehidupannya. Itulah yang membuat Yeremia mampu bertahan, dan dapat jujur di hadapan Tuhan, sambil terus berpegang penuh padaNya. Inilah kebenaran alkitab, yang mana kita perlu terus belajar untuk memurnikan motivasi kita, menajamkan visi kehidupan kita sambil terus menyerah kepada Tuhan.

Apa yang membuat anda takut melayani? Apa yang menjadi halangan bagi kita untuk melayani? Kalau kita sadar bahwa semuanya adalah karena Allah, dan bagi Allah, maka kita tidak perlu sungkan sebagai orang yang sudah menerima anugrah. AnugrahNya itulah yang akan mendorong kita untuk dapat melakukan hal yang terbaik. AnugrahNya itulah yang menjadi sumber pengharapan. AnugrahNya itulah yang membentuk suatu keinginan dan kerinduan bagi kita untuk terus hidup bagi kemuliaanNya.

Selamat merenungkan dan memuliakanNya
Soli Deo Gloria





[i] Yeremia 15:8
[ii] Yeremia 1:9
[iii] Roma 11:36
[iv] Charles Gordon, seperti dikutip dalam buku The Call karya Os Guinness

Sunday, December 8, 2013

"You Are The Apple of My Eye" ~ God

Kata-kata yang begitu indah bukan waktu kita mendengar seseorang yang mengucapkan hal itu kepada kita? Ya tentu saja! Bayangkan seseorang yang menjadi sahabat kita kemudian datang dan memeluk kita kemudian berkata seperti itu! Bukankah hati kita akan langsung ‘melambung tinggi’? Ah sungguh indahnya manakala kita boleh mendengar kata-kata itu dari orang yang kita sayangi.

Persoalannya ternyata kita jarang mendapatkan kata-kata itu bukan? Boro-boro kita mendengar kata-kata itu, dalam hidup kita tidak jarang malah kita mendapatkan makian bahkan dari orang-orang terdekat kita. Bahkan kita juga mendapatkan omelan-omelan dari orang tua kita, kita mengeluh dan sampai akhirnya tidak jarang kita mengumpat kepada orang tua ataupun teman kita. Di sinilah natur kita sebagai manusia berdosa ternyata benar-benar diuji bukan?

Lebih jauh lagi kalau kita melihat hidup kita, sama juga ternyata di dalam hidup kita ada banyak sekali pergumulan dan tantangan di dalam hidup kita. Banyak kekecewaan yang terjadi dalam hidup kita yang membuat kita stress, yang pada akhirnya berakhir pada hal-hal yang jauh lebih mengerikan – minuman keras, game online, rokok, kopi, narkoba, dan sampai kepada bunuh diri. Ya, itulah kekosongan hidup.

Realitas ini membuat kita seharusnya menyadari bahwa kita butuh ‘sesuatu’ yang melebihi semuanya itu. Adakah? Ya tentu saja ada. Ada pribadi yang begitu mengasihi kita – sadar atau tidak sadar. Pribadi itu adalah pribadi yang dengan kedua tangan yang terbuka menyambut kita yang mau datang kepadaNya. Seperti dalam perumpamaan tentang anak yang hilang di Lukas 15, Sang Bapa menanti sang anak bungsu untuk kembali. Ia menunggu tanpa lelah dan ketika anak itu datang kembali kepadanya, sang bapa menyambut dia. Siapakah pribadi itu? Pribadi itu ialah Allah sendiri.

Mari membuka alkitab kita dan mulai membaca sebuah kitab yang menyatakan betapa besar kasih Allah kepada bangsa Israel, yakni kitab Hosea. Kitab Hosea menunjukkan dengan kita betapa luar biasanya kasih Allah di dalam kehidupan orang Israel. Orang Israel digambarkan sebagai Gomer, seorang pelacur, dan Allah memberikan ilustrasi kasihNya melalui Hosea. Seperti apa kasihNya? Hosea akhirnya mengawini Israel, dan kalau kita membaca selanjutnya, di Hosea 1:10-11 dan Hosea 2:17-22 itu janji Tuhan yang mana Israel akan dipulihkan.

Ini gambaran kasih Allah yang begitu besar bagi bangsa Israel. Tetapi bukan hanya itu. Selanjutnya kita bisa melihat Hosea menunjukkan benar-benar bagaimana kasih Allah. Gambaran kasih itu dapat dilihat di Hosea 3. Gomer yang sudah diambil menjadi seorang istri bagi Hosea, kemudian kembali kepada persundalan. Ini menggambarkan sebenarnya bagaimana hidup manusia yang masih dikuasai dosa. Tetapi apa yang dilakukan Hosea?

Hosea 3:2  Lalu aku membeli dia bagiku dengan bayaran lima belas syikal perak dan satu setengah homer jelai.

Tidak pernah kita bayangkan bukan? Ini suatu gambaran bahwa Allah selalu mengejar dan terus mengejar kita. Ia berlari kepada kita saat kita bahkan menjauh dari Dia. Pertanyaannya adalah maukah kita datang kepadaNya? Itu pertanyaan yang harus kita renungkan di dalam kehidupan kita. Kasih itulah yang dinyatakan Allah di dalam hidup kita, dan hanya ada satu kata yang menggambarkan kasih itu: “PENGAMPUNAN”. TIada pernah sedetikpun Allah membiarkan hidup kita. Kita hanya perlu belajar untuk memaknai kata-kata “You are the apple of My eye” dan itu dikatakan oleh Sang Pencipta kita.
Pernah membayangkan hal itu? Kita manusia yang sangat tidak sebanding dengan Allah namun disebut sebagai “biji mata Allah”? Pernahkah kita membayangkan bahwa saat kita menyakiti hati Allah, Dia tetap membuka kedua lenganNya? Kita sering bertanya seberapa besar kasih Allah bagi kita? Jawabannya ada di Salib. Ya, itulah kasih Allah. Kasih yang begitu besar. Allah yang selalu mengejar kita dan terus mengejar kita, hingga kita tertangkap oleh kasih itu.

Heran dengan kasih Allah itu? Saya heran, bahwa di tengah banyak orang yang seharusnya lebih baik dari pribadi saya, tapi Ia memilih saya untuk menjadi anakNya. Hati Allah yang tidak pernah berhenti untuk mencari jiwa yang terhilang. Hati yang tidak pernah tahan saat melihat kita terhilang, bukan karena Dia kehilangan sesuatu, tetapi karena kita kehilangan segalanya di dalam hidup kita – yakni pribadi Allah itu sendiri.

Refleksi ini mengingatkan kita untuk terus bersandar kepadaNya. Mengakui Dia sebagai juruselamat dan hidup. Menikmati anugrah yang sudah Ia berikan sambil terus mensyukuri hidup kita. Siapa kita sehingga kita dikasihi? Kita ini cuman ciptaan kok. Ciptaan yang super terbatas, ciptaan yang harusnya nggak layak untuk Ia kasihi, tetapi Ia mengambil kita! Ia memberikan hidup baru – melalui lahir baru kita. Ciptaan baru, itulah yang disebut oleh Paulus.

Mari belajar menikmati kasihNya, melalui ucapan syukur sambil terus mengingat “You are the apple of My eye”… itulah yang Tuhan katakan di dalam kasihNya… Itulah janji Tuhan bagi setiap kita.


Soli Deo Gloria