Total Pageviews

Showing posts with label love. Show all posts
Showing posts with label love. Show all posts

Sunday, July 24, 2016

Memaknai Kekekalan



Apa sih maksudnya “hidup kekal”? Suasana di surga itu seperti apa sih? Terus kalau kita masuk surga, kita itu ngapain? Kalau begitu kenapa aku harus jadi orang percaya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang begitu umum didapati kalau kita berhadapan dengan orang-orang diluar sana, ataupun orang yang sedang dalam usaha untuk mencari jati dirinya di dalam kehidupan. Bahkan tidak jarang begitu banyak orang Kristen mempertanyakan hal ini, baik orang tersebut sudah lahir baru ataupun belum. Atau bahkan orang tersebut juga mempertanyakan apa itu lahir baru?

Dimensi Kekekalan
1 Yohanes 5:11
Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya.

Mari kita perhatikan kalimat di dalam ayat ini. “Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal…” Telah berarti hal tersebut sudah terjadi. Ketika kita membaca ayat ini, ada satu hal yang dapat kita simpulkan secara langsung, bahwa ternyata hidup kekal itu ada di dalam dimensi kekinian. Maksudnya adalah kehidupan kekal itu sudah kita dapatkan di dalam keselamatan. Keselamatan itu sudah merupakan kepastian manakala kita percaya kepadaNya.

Kalau begitu mungkin ada pertanyaan lanjutannya. Kalau bener bahwa ternyata hidup kekal sudah kita dapatkan, dan kita yakin bahwa kita sudah diselamatkan tapi kok ternyata hidup kita nggak berubah sama sekali? Tetep aja kita bisa jatuh dalam dosa. Tetep aja kita bisa ngerasa nggak layak untuk melayani Tuhan. Tetep aja bahwa di dalam kehidupan kita ternyata kita punya relasi yang tidak baik dengan sesama. Kita tetep aja nggak punya keinginan buat saat teduh. Boro-boro saat teduh, doa makan aja mungkin kita gak lakukan sama sekali.

Kemudian kita sama sekali melihat bahwa orang-orang diluar kekristenan ternyata memiliki pola hidup yang lebih baik dari kita. Attitude mereka bahkan jauh lebih baik daripada kita. Saat ada bencana alam, mereka justru menjadi orang-orang di garis terdepan dalam memberikan sumbangan. Mereka bahkan punya kehidupan yang jauh lebih beres. Ingat, mereka sama sekali tidak mengenal kekristenan. Mungkin mereka bahkan tidak beragama sekalipun.

Padahal di satu sisi kita sudah percaya Tuhan loh. Tetapi kenapa sih hidup kita sama sekali tidak ada perubahan?

-----
Perubahan Hidup?
2 Korintus 5:17
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Perubahan itu sebenarnya berangkat dari sebuah pola pikir yang benar. Ketika Paulus menyebutkan bahwa kita adalah “ciptaan baru”, apa yang ia maksudkan? Ternyata perubahan sikap itu sama sekali tidak ada di dalam kehidupan kita. Ciptaan baru dari mana?

Mari kita telaah lebih dalam. Ketika kita menyebut diri sebagai orang Kristen, maka definisi Kristen ini berasal dari 2 kata, “Christ” dan “ian”. Hilangkan Kristus sebagai pusat kehidupan kita, maka kita hanya disebut sebagai “ian”, yang tidak ada maknanya. Nah bedanya hanya disana. Ketika kita memiliki fokus hidup adalah Allah sendiri, Allah Tritunggal yang kita kenal di dalam pribadi Allah Bapa, Yesus, dan Roh Kudus, maka kita barulah layak menyandang istilah Kristen.

Kalau dibalik, ketika kita nyatakan bahwa kita adalah anak Tuhan, maka sebenarnya kita pun meneladani sikap Tuhan. Kalau kita adalah pengikut Kristus, berarti konsekuensinya kita mengikut Dia secara full time. Bukan berarti kemudian kita semua harus jadi hamba Tuhan full time, tetapi apapun yang kita kerjakan semua fokusnya adalah Kristus.

Dampak dari menjadikan Kristus sebagai fokus hidup, mau tidak mau adalah MELAYANI. Mengapa? Karena kalau kita membaca di dalam seluruh injil, inti kehidupan Yesus adalah MELAYANI. Tetapi jauh lebih dalam dari itu, pelayanan itu dilakukan oleh penguasa alam semesta. Pencipta dari langit dan bumi, Allah dari segala allah. Raja di atas segala raja. Bayangkan saja misalkan hari ini Presiden Jokowi tiba-tiba datang ke rumah kita dan kemudian ia memberikan segala yang ia miliki kepada kita. Bagaimana sikap hidup kita?

-----
Konsekuensi Menjadi Kristen
Matius 5:20 
Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Hidup keagamaan seperti apa yang dimiliki orang Farisi dan Ahli Taurat? Apakah kekurangan mereka. Coba bayangkan, mereka beribadah dengan begitu rupa. Mereka hapal hokum Taurat. Mereka menjaga hidup mereka. Mereka hapal kitab hukum Musa.

Satu hal yang menjadi kelemahan mereka adalah mereka tidak melakukannya dari hati mereka. Mereka tidak menghidupi hukum-hukum itu. Mereka menyalahartikan mengenai apa yang diinginkan Allah. Mereka melakukan semua aturan itu karena ingin menjadi orang terpandang di dalam masyarakat Yahudi waktu itu.

Tetapi apa yang dikatakan Yesus kepada murid-muridNya? Ia dengan begitu tegas bahwa kehidupan keagamaan mereka harus lebih baik lagi. Bukan hanya berhenti pada hukum-hukum, tetapi bagaimana kita bisa mengasihi sesama kita sembari mengasihi Tuhan. Contoh praktisnya? Doakan musuhmu. Salah satu contoh praktis itulah yang Tuhan berikan.

Konsekuensi menjadi pengikut Kristus adalah bahwa kita tidak boleh terperangkap di dalam ke-AKU-an kita. Hidup kita bukan milik kita lagi, tetapi Kristus di dalam kita. Itulah yang dikatakan Paulus. Artinya apa? Artinya bahwa segala hal yang kita kerjakan, semuanya bukanlah untuk kepentingan kita sendiri, tetapi kepentingan Allah.

-----
Panggilan Tuhan yang Lembut
Hai mari datanglah, Kau yang lelah mari datanglah! Sungguh lembut Tuhan Yesus memanggil, Kau yang sesat marilah! –Softly and Tenderly—
Yeremia 29:11 
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Okey kita sudah mengetahui sekarang seperti apa sebenarnya dimensi kekekalan, lalu perubahan hidup, kemudian kita juga sudah tahu konsekuensi menjadi orang Kristen. Kalau sampai bagian ini kita kemudian menjadi merasa semakin tidak layak, mari kita coba buka dari kitab Yeremia di atas. Rancangan TUHAN adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan.

Rancangan damai sejahtera di dalam perikop ini dapat kita maknai sebagai sebuah realitas hidup di dalam dimensi kekekalan. Ada sebuah pertanyaan: “kak, bagaimana kalau ternyata aku sudah terlanjur jatuh dan aku merasa gak ada lagi panggilan Tuhan dalam hidupku? Bagaimana kalau ternyata aku memang dirancang untuk masuk ke dalam neraka?”

Ingat dan percayalah bahwa alkitab ini ya dan amin. Rancangan damai sejahtera… itulah yang Tuhan sedang kerjakan di dalam hidup kita. Sebuah grand design yang sama sekali tidak akan pernah kita bayangkan. Rancangan kehidupan yang damai sejahtera! Apa yang dimaksud damai sejahtera?

Mari kita buka alkitab kita
Matius 25:30 
Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."

Gambaran apakah ini? Ini adalah gambaran mengenai neraka. Keselamatan kalau kita maknai di dalam dimensi kekekalan adalah perjumpaan muka dengan muka dengan Tuhan. Itulah yang dirindukan oleh Fanny Crosby, seorang penulis hymn yang di dalam kebutaannya menuliskan lagu “My Savior First of All”. Tentu kalau kita baca ini bukanlah kondisi damai sejahtera.

Damai sejahtera yang dijanjikan Tuhan adalah sebuah kondisi dimana ada persekutuan yang intim dengan Allah. Kalau di dalam dimensi kekekalan nanti, adalah perjumpaan face to face, di dalam dimensi keterbatasan waktu saat ini adalah keintiman relasi kita dengan Allah.

Tetapi ada dari kita yang mungkin berkata: “Well, abis sudah! Aku sama sekali nggak memaknai hidupku seperti yang Tuhan mau. Aku udah menyia-nyiakan hidupku.” Rekan-rekan, melalui tulisan ini aku mau coba untuk meyakinkan setiap kita bahwa tidak pernah ada kata terlambat manakala kita mau berubah. Tidak ada kata terlambat untuk kita dapat berbalik kepada Dia.

Di dalam setiap detail peristiwa hidup kita, Ia memberikan begitu banyak kesempatan untuk kita dapat kembali kepadaNya. Ketika kita bangun pagi, ketika kita masih dapat menghirup udara segar, ketika terjadi berbagai peristiwa yang ada di dalam hidup kita, percayalah bahwa itu adalah setiap rancangan damai sejahtera yang Tuhan kerjakan.


Tidak pernah ada kata terlambat sebelum kita mengakhiri hidup kita.

Salah seorang penjahat yang disalib bersama Yesus, seumur hidupnya mungkin dihabiskan dengan merampok, membunuh, mencuri, dan sebagainya. Begitu banyak pelanggaran dan kejahatan yang ia kerjakan. Tetapi apa kata Yesus manakala ia merendahkan hati dan menjawab panggilan Yesus?

Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."

Ia sedang memanggil kita. Tanpa lelah Dia mengingatkan kita untuk kembali. Kembali kepada pelukan kasih karunia Allah. Ia merindukan kita datang kepadaNya, menyapa Dia, dan menghidupi kasih karunia yang udah Dia berikan. Salib merupakan bukti kasih terbesar yang sudah Ia kerjakan. Ada pengharapan, ada damai sejahtera, dan ada penyertaan yang tidak pernah dapat kita bayangkan, tetapi selalu kita rasakan.

Pertanyaannya adalah, maukah kita menerima panggilan itu? Maukah dengan rendah hati kita datang kepadaNya? Maukah kita berbalik dari cara hidup kita yang lama, dan menjadi manusia baru seperti yang dikatakan Paulus? Maukah kita memaknai salib dan menerima Dia, mengijinkan Dia untuk menjamah kehidupan kita? Maukah kita merendahkan hidup kita di bawah kaki salibNya?

Tuhan memberkati
Soli Deo Gloria.

Sunday, March 1, 2015

Are You Ready for A Date?


Ini adalah sebuah percakapan pada saat aku berada di dunia kampus.

“Sabtu ini kamu kemana, yas?”
“Oh, aku ke gereja. Ada persekutuan di gereja. Kalau kamu kemana?”
“Ehm aku mau ke Galaxy Mall, yas, ama cowokku.”

Well, asyik juga ya sepertinya kalau udah punya pacar, dan kemudian bisa keluar bareng, makan bareng, nonton bareng, segalanya bareng. Serasa dunia milik berdua. Yap, pacaran menjadi sebuah proses yang begitu menyenangkan. Itu mungkin yang mendasari ada lagu “Jatuh Cinta Berjuta Rasanya” dan menjadi sebuah lagu yang nge-hits. Percakapan di atas terjadi saat aku belum punya pacar. J

Hmmm lalu apa yang dilakukan sebenarnya saat pacaran? Apakah pacaran itu identik ama seneng-senengnya aja? Tunggu teman-teman. Hidup itu nggak seindah di FTV, tetapi aku bisa katakan JAUH LEBIH INDAH dari FTV. Manakala FTV memperlihatkan begitu mudahnya perjuangan seorang cowok mendapatkan cinta seorang cewek, kita sudah tahu kok endingnya. Tetapi ketika hal itu dibawa ke dunia nyata, it’s totally different.

Tetapi kalau kita merenungkan kembali nih, kenapa kok aku bisa bilang bahwa hidup ini jauh lebih indah dari FTV? Karena ternyata memang ending dari cerita cinta kita tidak jelas dari sudut pandang manusia. Ketika kita mulai pedekate dengan seseorang yang kita suka, ada kalanya kita mendapatkan respon yang positif, tetapi nggak jarang juga kita nggak direspons (Sakitnya tu disini, prens… percaya deh). Tetapi dibalik duka yang bertubi-tubi itu, ada sukacita yang begitu besar yang sudah Tuhan persiapkan. Percayalah bahwa Ia sedang menyusun sebuah lagu yang begitu indah, dalam sebuah simfoni kisah cinta antara dua insan yang mau belajar untuk hidup di dalam Dia.

Okey aku akan coba berikan beberapa prinsip berpacaran. Artikel ini merupakan sharing aja. Artinya ini bukan sebuah hal yang ‘saklek’ harus kita jalankan. Tetapi harapannya ada sisi positif yang teman-teman bisa ambil.

1.     Fokus Pada Allah
Aku rasa ini adalah prinsip pertama dari segala hal yang kita lakukan. Yep, first of all, kalau mau memulai sebuah hubungan kita perlu mulai dengan mencintai Allah di dalam hidup kita. Okey, mungkin sebagian gak setuju dengan prinsip ini, karena kayaknya terlalu rohani banget. Tetapi begini, teman, dengan kita belajar untuk menikmati hubungan kita dengan Allah, kita menjadi pribadi yang gak banyak menuntut pasangan kita untuk melakukan sesuatu. Dasar dari prinsip lain ini adalah kita belajar meletakkan Allah sebagai pengendali hubungan pacaran kita.

2.     Prinsip Kenosis
Kenosis berarti ‘merendahkan diri serendah-rendahnya’. Nah ini terkadang muncul manakala ada satu pihak yang lebih superior disbanding pihak lain di dalam suatu hubungan. Ada pihak yang merasa harus mengalah karena memang dia minder kepada pasangannya. Kalau berdasarkan pengalamanku juga, hal ini kadang perlu kita latih terus menerus. Kita perlu belajar untuk merendahkan diri kita. Contohnya adalah kita belajar untuk masuk ke dunianya. Artinya bahwa setiap pihak perlu belajar untuk salingf mengalah dan nggak ngotot. Nggak merasa superior atas hal-hal yang ia lakukan. Kenosis ini paling jelas ditunjukkan oleh Tuhan Yesus. Prinsip ini menjadi salah satu prinsip di dalam melayani pasangan kita.

3.     Jujur di Hadapan Pasangan
Napa kok aku bilang kita perlu prinsip nomor 1? Sebenarnya adalah ini. Waktu kita pacaran, ada kalanya kita belajar untuk menampilkan sesuatu yang baik di hadapan pacaran kita. Dulu aku berpikir bahwa aku akan memperbaiki kelakuanku setelah aku jadian. Tetapi ternyata hal itu merupakan gombalan dan kebohongan terbesar dari kaum pria. Nah prinsip nomor 1 membawa kita untuk belajar jujur terlebih dahulu di hadapan Tuhan. Mengakui bahwa pribadi kita ini lemah, sehingga kalau di hadapan kita Tuhan sudah menyediakan seseorang, itu semuanya anugrah! Itu adalah momen dimana kita belajar untuk saling belajar jujur dan terbuka di hadapan pasangan kita, sehingga nggak ada shock theraphy yang terlalu berlebihan saat nanti kita sudah menikah. Banyak orang yang menikah tanpa mengenal pasangannya terlebih dulu. Banyak yang langgeng juga karena mereka belajar menerima satu dengan yang lain. Alangkah baiknya kalau proses ini dapat kita lakukan saat kita pacaran.

4.     Bertumbuh di Dalam Tuhan
Kalau di dalam hubungan pacaran kita ternyata kita menjadi orang yang makin menyebalkan, segera deh evaluasi relasi kita. Hal ini tentu berawal dari PDKT. Ketika kita sedang dalam proses PDKT ternyata kita menjadi pribadi yang makin egois dan posesif, kita perlu mengevaluasi sebenarnya kita mencintai atau menafsui. Ketika kita memasuki relasi pacaran seharusnya masing-masing semakin bertumbuh di dalam Tuhan. Cara bertumbuhnya gimana? Hmm ada banyak sih. Salah satu contohnya adalah melakukan aktivitas bareng, kemudian melayani bersama. Ada banyak aktivitas positif yang bisa kita lakukan sebagai pasangan.

5.     Open Your Eyes!
Orang bilang ‘cinta itu buta’. Ya, saya melihat ada banyak orang yang akhirnya terperangkap di dalam suatu hubungan yang sebenarnya tidak mereka inginkan namun akhirnya mereka memaksakan diri untuk masuk ke hubungan itu. Ketika kita mulai proses PDKT kita perlu membuka mata kita dan juga telinga kita lebar-lebar. Jangan pernah mengkompromikan hal-hal yang kita nggak sukai dari calon pasangan kita. Belajar untuk melihat kekurangan dan belajar terbuka dengan calon pasangan ketika dia melakukan hal yang nggak bener. Hal ini sebenarnya akan sangat berkaitan dengan prinsip nomor 3 dan 4.

6.     Love is something worth waiting & fighting for
Cinta itu menuntut suatu penantian dan pengorbanan. Okey dalam artian penantian, kita perlu belajar untuk menunggu. Menunggu apa? Menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan, menunggu jawaban yang berasal dari Tuhan yang merupakan hasil pergumula. Lalu mengapa harus belajar untuk fighting for? Yup kita perlu belajar untuk memperjuangkan cinta. Artinya kita belajar untuk berkorban, belajar untuk mengutamakan pasangan kita, belajar untuk menyesuaikan diri dengan dia, dan terus belajar untuk mengerjakan bagian kita di dalam membangun suatu relasi.


Cinta itu seperti maut, demikianlah penulis Kidung Agung menuliskannya. Mengapa seperti maut? Karena cinta pasti akan datang. Manakala cinta itu datang, cinta itu tidak mungkin dapat ditolak. Tidak ada hal yang dapat menahan cinta. Sadarlah bahwa maut bagi orang Kristen adalah sesuatu yang menyenangkan. Lho? Itulah yang Paulus katakan bahwa ‘mati adalah keuntungan’, karena ia bertemu dengan Kristus. Nah pacaran di dalam Tuhan adalah sebuah cinta yang didasari di dalam cinta akan Kristus. Ketika cinta itu sudah didasari pada kasih Allah di dalam hidup kita, maka kita akan mendapatkan sebuah kebahagiaan sejati di dalam Dia. Pacaran di dalam kekudusanNya. Pacaran di dalam suatu kesadaran bahwa cinta itu berasal dari Dia dan akhirnya hubungan kita adalah untuk memuliakanNya.

Sunday, December 8, 2013

"You Are The Apple of My Eye" ~ God

Kata-kata yang begitu indah bukan waktu kita mendengar seseorang yang mengucapkan hal itu kepada kita? Ya tentu saja! Bayangkan seseorang yang menjadi sahabat kita kemudian datang dan memeluk kita kemudian berkata seperti itu! Bukankah hati kita akan langsung ‘melambung tinggi’? Ah sungguh indahnya manakala kita boleh mendengar kata-kata itu dari orang yang kita sayangi.

Persoalannya ternyata kita jarang mendapatkan kata-kata itu bukan? Boro-boro kita mendengar kata-kata itu, dalam hidup kita tidak jarang malah kita mendapatkan makian bahkan dari orang-orang terdekat kita. Bahkan kita juga mendapatkan omelan-omelan dari orang tua kita, kita mengeluh dan sampai akhirnya tidak jarang kita mengumpat kepada orang tua ataupun teman kita. Di sinilah natur kita sebagai manusia berdosa ternyata benar-benar diuji bukan?

Lebih jauh lagi kalau kita melihat hidup kita, sama juga ternyata di dalam hidup kita ada banyak sekali pergumulan dan tantangan di dalam hidup kita. Banyak kekecewaan yang terjadi dalam hidup kita yang membuat kita stress, yang pada akhirnya berakhir pada hal-hal yang jauh lebih mengerikan – minuman keras, game online, rokok, kopi, narkoba, dan sampai kepada bunuh diri. Ya, itulah kekosongan hidup.

Realitas ini membuat kita seharusnya menyadari bahwa kita butuh ‘sesuatu’ yang melebihi semuanya itu. Adakah? Ya tentu saja ada. Ada pribadi yang begitu mengasihi kita – sadar atau tidak sadar. Pribadi itu adalah pribadi yang dengan kedua tangan yang terbuka menyambut kita yang mau datang kepadaNya. Seperti dalam perumpamaan tentang anak yang hilang di Lukas 15, Sang Bapa menanti sang anak bungsu untuk kembali. Ia menunggu tanpa lelah dan ketika anak itu datang kembali kepadanya, sang bapa menyambut dia. Siapakah pribadi itu? Pribadi itu ialah Allah sendiri.

Mari membuka alkitab kita dan mulai membaca sebuah kitab yang menyatakan betapa besar kasih Allah kepada bangsa Israel, yakni kitab Hosea. Kitab Hosea menunjukkan dengan kita betapa luar biasanya kasih Allah di dalam kehidupan orang Israel. Orang Israel digambarkan sebagai Gomer, seorang pelacur, dan Allah memberikan ilustrasi kasihNya melalui Hosea. Seperti apa kasihNya? Hosea akhirnya mengawini Israel, dan kalau kita membaca selanjutnya, di Hosea 1:10-11 dan Hosea 2:17-22 itu janji Tuhan yang mana Israel akan dipulihkan.

Ini gambaran kasih Allah yang begitu besar bagi bangsa Israel. Tetapi bukan hanya itu. Selanjutnya kita bisa melihat Hosea menunjukkan benar-benar bagaimana kasih Allah. Gambaran kasih itu dapat dilihat di Hosea 3. Gomer yang sudah diambil menjadi seorang istri bagi Hosea, kemudian kembali kepada persundalan. Ini menggambarkan sebenarnya bagaimana hidup manusia yang masih dikuasai dosa. Tetapi apa yang dilakukan Hosea?

Hosea 3:2  Lalu aku membeli dia bagiku dengan bayaran lima belas syikal perak dan satu setengah homer jelai.

Tidak pernah kita bayangkan bukan? Ini suatu gambaran bahwa Allah selalu mengejar dan terus mengejar kita. Ia berlari kepada kita saat kita bahkan menjauh dari Dia. Pertanyaannya adalah maukah kita datang kepadaNya? Itu pertanyaan yang harus kita renungkan di dalam kehidupan kita. Kasih itulah yang dinyatakan Allah di dalam hidup kita, dan hanya ada satu kata yang menggambarkan kasih itu: “PENGAMPUNAN”. TIada pernah sedetikpun Allah membiarkan hidup kita. Kita hanya perlu belajar untuk memaknai kata-kata “You are the apple of My eye” dan itu dikatakan oleh Sang Pencipta kita.
Pernah membayangkan hal itu? Kita manusia yang sangat tidak sebanding dengan Allah namun disebut sebagai “biji mata Allah”? Pernahkah kita membayangkan bahwa saat kita menyakiti hati Allah, Dia tetap membuka kedua lenganNya? Kita sering bertanya seberapa besar kasih Allah bagi kita? Jawabannya ada di Salib. Ya, itulah kasih Allah. Kasih yang begitu besar. Allah yang selalu mengejar kita dan terus mengejar kita, hingga kita tertangkap oleh kasih itu.

Heran dengan kasih Allah itu? Saya heran, bahwa di tengah banyak orang yang seharusnya lebih baik dari pribadi saya, tapi Ia memilih saya untuk menjadi anakNya. Hati Allah yang tidak pernah berhenti untuk mencari jiwa yang terhilang. Hati yang tidak pernah tahan saat melihat kita terhilang, bukan karena Dia kehilangan sesuatu, tetapi karena kita kehilangan segalanya di dalam hidup kita – yakni pribadi Allah itu sendiri.

Refleksi ini mengingatkan kita untuk terus bersandar kepadaNya. Mengakui Dia sebagai juruselamat dan hidup. Menikmati anugrah yang sudah Ia berikan sambil terus mensyukuri hidup kita. Siapa kita sehingga kita dikasihi? Kita ini cuman ciptaan kok. Ciptaan yang super terbatas, ciptaan yang harusnya nggak layak untuk Ia kasihi, tetapi Ia mengambil kita! Ia memberikan hidup baru – melalui lahir baru kita. Ciptaan baru, itulah yang disebut oleh Paulus.

Mari belajar menikmati kasihNya, melalui ucapan syukur sambil terus mengingat “You are the apple of My eye”… itulah yang Tuhan katakan di dalam kasihNya… Itulah janji Tuhan bagi setiap kita.


Soli Deo Gloria

Tuesday, January 1, 2013

Unconditional Love - Relationship


Tidak dapat dipungkiri bahwa pacaran merupakan salah satu tema ataupun topic pembicaraan yang selalu menarik. Cinta adalah suatu topic yang selalu banyak diminati, apalagi oleh anak muda saat ini. Tidak jauh dari kata CINTA adalah PACARAN, dan lebih jauh lagi adalah PERNIKAHAN. Seperti apa kekristenan memandang cinta ini di dalam relasi?

1.    Dasar suatu relasi pacaran
Dasar suatu relasi kasih adalah karena Allah terlebih dahulu mengasihi manusia, karena itu sesuai dengan karakter Allah yaitu kasih, maka setiap manusia yang merupakan gambar dan rupa Allah dapat mengasihi satu sama lain. (1Yohanes 4:19). Sesuai dengan dasar itulah maka kita dituntut untuk dapat mengasihi orang lain / pasangan kita dengan kasih yang “unconditional”. Bukan karena dia melakukan sesuatu tetapi sekalipun ia melakukan sesuatu yang buruk. Itu juga yang sedang dikerjakan Allah di dalam kehidupan kita.

2.    Kriteria Pasangan Hidup
Beberapa tahun yang lalu ada suatu acara yaitu “Take Me Out” yang mana mencoba mengangkat tema tentang cinta. Laki-laki dan perempuan single berusaha untuk menarik hati orang yang mencari pasangan hidup. Pertemuan mereka mungkin hanya satu malam saja, dan akhirnya pulang ke rumah masing-masing dan mereka menikah. That’s it! Saya mengamati beberapa kriteria yang diajukan oleh calon, apa yang mereka cari tidak terlalu jauh dari kriteria fisik: tinggi, cantik, dan sebagainya.
Itulah yang diperlihatkan dunia saat ini. Saya pun juga memiliki seorang rekan yang mengatakan bahwa ia tidak percaya diri karena dia menganggap dirinya jelek. Bukankah ini sesuatu yang mengerikan ketika standar seseorang berubah, melihat luarnya saja tapi sama sekali tidak mengenal karakter seseorang?

3.    Kenapa kok Penting Mengenal Pasangan Kita?
Ini pertanyaan yang paling sering diajukan oleh orang-orang yang PRO akan kecantikan dan ketampanan seseorang. Bukankah pacaran itu hanya senang-senang, dan akan berakhir begitu saja?
Suatu hal yang cukup sering terjadi di dalam pernikahan adalah kalimat “Dulu aku mengenal dia, kok ndak seperti ini?” sama juga kalau pada saat kita PDKT dan kemudian sudah pacaran. Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang umum ditanyakan. Itulah sebenarnya pentingnya pengenalan pasangan kita. Pacaran bukanlah suatu usaha untuk kita menikmati kelebihan-kelebihan pasangan kita, tetapi juga kekurangannya. Jangan sampai kita hanya mau menerima kelebihan dari pasangan kita namun tidak mau menerima kekurangannya, itu berarti kita bukan benar-benar mencintai orang tersebut.

4.    What to do kalau Pengenalan itu penting?
Ya tentunya ada banyak cara. Ada banyak hal yang dapat dikerjakan bersama yang sebenarnya bertujuan untuk semakin mengenal pribadi satu dengan yang lain. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kita tidak akan dapat mengenal karakter seseorang secara utuh, namun bukan berarti kita tidak perlu mengenal calon pasangan kita. Ingat, kelemahan yang kita miliki dan kekurangan kita itu bukan alasan untuk kita jadi minder, tetapi justru kekurangan itu sebenarnya juga merupakan anugrah. Setiap kita adalah produk dari anugrah tersebut.

5.    Masa Berpacaran. Apa yang harus dilakukan?
Pemahaman yang perlu dipahami adalah pacaran itu merupakan proses menuju pernikahan. Melalui pemahaman ini, jelas bahwa relasi yang dibangun pada saat pacaran bukanlah hanya romantika melulu. Justru pacaran adalah momen tepat untuk saling sharing tentang hidup kita, tentang bagaimana kita menghadapi suatu masalah. Selain itu juga proses ini akan diperlengkapi bukan hanya melihat kelebihan pasangan namun juga kekurangannya. Apakah tidak perlu suasana romantis? Oh tentu saja tidak seperti itu. Perasaan dan komitmen perlu berjalan seiring dan inilah yang saat ini biasanya dilangkahi begitu saja. Akhirnya perasaan mendominasi, seseorang mau berpacaran karena merasa mendapatkan sesuatu. Tidak hanya itu sebenarnya. Cinta bicara tentang apa yang dapat kita berikan kepada pasangan kita – waktu kita, harta kita, sampai kepada hidup kita – itulah yang disebut sebagai komitmen.

6.    When troubles come
Karena pacaran dan pernikahan adalah proses saling belajar antar sepasang kekasih, maka proses tersebut tidak akan jauh dari masalah. Masalah disediakan Allah untuk melatih kehidupan. Sungguh merupakan anugrah apabila Tuhan menyediakan setiap masalah di dalam kehidupan kita dan kita belajar untuk dengan setia melewati permasalahan itu. (Yakobus 1:2)

7.    Being Single?
Sudah begitu banyak hal yang tertulis di atas tentang pacaran dan pernikahan. Nah, bagaimana kita mempersiapkan diri kita untuk menyambut momen tersebut – momen dimana Tuhan menyediakan dan mempersatukan dua orang yang belajar untuk mengasihiNya. Mari belajar untuk mempersiapkan diri kita sekomplit mungkin. Caranya? Ya kita belajar untuk mengasihi Tuhan, dengan menerima diri kita sebagaimana kita ada. Mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan di dalam kehidupan kita. Bentuk wajah kita, bentuk hidung, sampai kepada hal-hal yang menjadi kekurangan kita. Ingat bahwa itu adalah anugrah, bahwa kemuliaan Allah mau dinyatakan melalui hal-hal tersebut.
Being single isn’t so bad. Kalau kita belum siap memulai suatu relasi, maka hal yang dapat kita lakukan adalah mengembangkan karakter kita, mengembangkan kasih kita kepada orang lain sehingga kita menjadi orang yang siap untuk dapat berbagi masalah dengan orang lain sambil menerima kelebihan dan kekurangan orang tersebut.

Kehidupan ini adalah kehidupan yang terus berjalan, dan Allah sedang menuliskan kisah hidup setiap orang. SalibNya merupakan suatu bukti kasih yang paling besar di dalam sejarah. Salib itulah menandakan bagaimana Allah yang mahakudus mencintai pendosa-pendosa seperti kita. Kasih yang tidak menuntut, tetapi menutupi segala sesuatu (1Korintus 13). Teladan Yesus Kristus di kayu salib menunjukkan betapa krusialnya suatu relasi dapat terbangun atas dasar kasih. Kasih yang unconditional itu menunjukkan bahwa kita pun dituntut sebagai anak-anak Allah, sebagai saudara Yesus Kristus untuk dapat mengasihi orang-orang di sekitar kita dengan karakter kasih yang sudah diajarkan Allah. Mari belajar bahwa kita adalah manusia-manusia pendosa yang mana kita juga tidak pernah lepas dari kesalahan apapun, begitu pula pasangan kita. Justru melalui relasi kita itulah seharusnya kasih Allah tampak nyata di dalam kehidupan kita.

Selamat belajar mengasihi
Soli Deo Gloria

Sumber:
Katekismus Singkat Westminster
I Isaac Take Thee Rebekah 
Siaran Radio RMC Surabaya