Total Pageviews

Showing posts with label praktika. Show all posts
Showing posts with label praktika. Show all posts

Sunday, June 4, 2017

Memaksimalkan Hidup dalam Roh Kudus




Pendahuluan
“bagaimana hidupmu hari ini?” adalah sebuah pertanyaan yang tidak sering kita dengarkan di dalam kehidupan keseharian kita. Setidaknya hal yang paling sering ditanyakan adalah sebatas “bagaimana kabarmu”, tetapi hidupmu jauh lebih dari sekadar kabar bukan?

Atau secara lebih simple, pertanyaannya mungkin diubah menjadi: “apakah kamu sudah memaksimalkan hidupmu sedemikian rupa sehingga kamu puas dengan apa yang kamu jalani?” Sebuah pertanyaan yang cenderung jawabannya lebih pasti: “belum maksimal”. Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah “mengapa?”

Memainkan Peran Kita
Sebagai manusia kita menyadari bahwa setiap kita memiliki suatu tujuan di dalam hidup ini. Ataukah mungkin kita merasa bahwa setiap hal yang kita lakukan adalah sia-sia? Contohnya, ketika kita bekerja di suatu tempat yang nggak sesuai dengan passion kita, kemudian kita merasa bahwa tidak ada hal positif yang kita dapatkan di dalam pekerjaan kita. Setiap langkah hidup yang kita ambil serasa tidak ada ujungnya, dan kita tiba pada suatu kondisi FRUSTASI untuk meneruskan kehidupan ini.

Kalau kita tidak menyadari akan peran kita maka kita akan berhenti kepada kekecewaan di dalam kekalahan berbagai persaingan di dunia ini. Akhirnya standar kita untuk berhasil adalah menurut ukuran dunia. Tentu kita perlu mengerjakan segala hal yang Tuhan percayakan secara ekselen, tetapi ekselen menurut ukuran Tuhan berbeda dengan ekselen ukuran dunia.

Berpegang pada Standar Tunggal
Ketika Tuhan meminta kita untuk melakukan sesuatu dalam hidup kita, yang dituntut bukanlah sebuah hasil yang bombastis. Kalau yang dituntut Allah adalah sesuatu yang bombastis, maka sebenarnya Yesus adalah seorang yang gagal, Daud adalah seorang pecundang, dan semua murid merupakan orang-orang yang hidupnya sia-sia.

Nah inilah yang perlu kita sadari betul sebagai pribadi yang mau belajar untuk melakukan rencana Allah di dalam kehidupan kita. Momen Pentakosta ini sekaligus mengingatkan kita bahwa di dalam Roh Kudus, kita diberikan sebuah kesempatan untuk dapat bertumbuh di dalam setiap proses yang sudah Tuhan sediakan. Kita diberikan kemampuan, karunia dan setiap proses hidup merupakan proses pendewasaan dari Allah.

Pengakuan kepada Kuasa Yesus
Pemahaman kita akan setiap karunia yang kita miliki dimulai dengan pemahaman kita tentang pribadi yang menciptakan kita. Ya, untuk kita mengenal diri kita tentu dimulai dengan bertanya kepada pribadi yang menciptakan kita, dan niscaya Ia akan menunjukkan kepada kita jalan hidup yang indah yang akan Ia kerjakan di dalam kehidupan kita.

Menariknya adalah selain Ia mengetahui segalanya yang ada dalam hidup kita, Ia memperlengkapi kita dengan setiap karunia yang perlu di explore, dan semua dimulai dari bagaimana kita memandang pribadi Allah. Apakah kita sudah memandang Dia sebagai Allah? Menempatkan Dia sebagai satu-satunya sumber hidup (baca: berserah penuh) akan membuat kita menjadi pribadi yang makin dewasa di dalam Dia, makin mengenal setiap hal yang Tuhan percayakan, sehingga kita dapat menjadi pribadi yang lebih efektif lagi di dalam melayani dan berkarya

Menemukan Karunia Kita
Bayangkan kita punya sebuah alat baru yang belum pernah ada di pasaran sebelumnya, dan kita belum pernah memakainya sebelumnya. Tentu saja untuk kita dapat memahami cara kerja dari alat tersebut adalah kita bisa mencoba langsung, atau kita bisa Tanya kepada yang menciptakan alat tersebut, atau biasanya pabrik pembuatnya telah menyediakan buku petunjuk penggunaan alat tersebut.

Pernahkah kita terjebak pada sebuah kondisi dimana kita bingung di dalam melangkah untuk kita meneruskan kehidupan kita? Kita demikian panik akan hal-hal yang mau kita kerjakan, sampai pada satu titik kita jenuh akan langkah kehidupan kita. Kita kemudian mulai “menghilang” dari peredaran, memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa, atau melakukan apa-apa penuh keterpaksaan. Ketika orang lain bertanya pada kita, kita mengeraskan hati kita, kita ngeyel dan tidak menerima masukan dari orang tersebut, bahkan sekalipun itu adalah orang yang merupakan inner circle kita, atau pacar kita sekalipun.

Menemukan karunia dalam hidup itu layaknya seni. Kita tidak bisa tahu 100% apa yang menjadi karunia kita, tetapi yang dapat kita pahami adalah ketika Tuhan sudah mengutus kita untuk melakukan sesuatu, maka Ia akan memperlengkapi diri kita dengan berbagai kemampuan untuk menunjang pelayanan ataupun proses kehidupan yang akan kita jalani. Dia mau supaya kita melakukannya dengan setia, bukan sebuah hasil yang Ia tuntut, tetapi proses kesetiaan kita dalam menjalani hal tersebut.

Start with God
Memulai pencarian akan karunia kita pastinya akan begitu berat. Proses ini bukanlah proses sehari kemudian jadi, tetapi proses ini bisa berlangsung seumur hidup kita. Ada orang-orang yang baru menemukan hidupnya di usia 30, 40 dan seterusnya. Yakinlah bahwa mau cepat atau lambat, tuntunan Tuhan itu selalu tersedia bagi kehidupan kita – orang yang mau belajar buat percaya kepadaNya apapun konsekuensinya.

So, ketika kita ingin memaksimalkan hidup kita dengan segala karunia yang sudah Tuhan sediakan, kuncinya ada di dalam keintiman relasi dengan Dia. Ketika kita punya relasi yang intim dengan Tuhan, ijinkan Dia untuk masuk ke dalam kehidupan kita – melalui proses hidup kita. Caranya? Dengan bersyukur senantiasa atas pelayanan yang Ia percayakan untuk kita kerjakan dalam kehidupan kita. Setiap peran yang Tuhan percayakan akan semakin memperlengkapi kehidupan kita untuk kita menjadi semakin hari semakin memaknai hubungan dengan Tuhan.

Soli Deo Gloria

Sunday, March 12, 2017

Berjalan dalam Kepastian



Begitu banyak persoalan di dalam hidup ini yang kalau kita perhatikan sebenarnya mengakar pada satu hal: TIADANYA KEPASTIAN. Saya baru saja menonton ulang film X-Men Apocalypse versi BluRay dan mendapatkan sebuah quote menarik di awal film ini:

Give them the power of prophecy, and they may live in fear of the future
“berikan mereka kemampuan untuk meramal, dan mereka akan hidup di dalam ketakutan akan masa depan”

Menarik! Manakala begitu banyak orang menginginkan untuk mereka bisa mendapatkan kepastian akan masa depan mereka, ternyata kalau dipikir benar juga. Ketika kita tahu ujung dari kehidupan kita maka kita akan dilanda pada ketakutan akan masa depan.

Tentu X-Men merupakan kisah fiksi yang begitu luar biasa. Tetapi bukankah sang penulis pun sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu dalam kisah ini? Bahwa ternyata sebagai manusia kita akan hidup dalam ketidak pastian.

Bukankah sepanjang hidup kita selalu hidup dalam ketidakpastian?
Buat teman-teman pemuda yang sedang dalam masa pencarian pasangan hidup tentu akan deg-degan tiap hari menantikan kepastian jawaban dari sang pasangan.
Bagi teman-teman remaja yang sedang dalam masa studi, tentu menghadapi berbagai pilihan untuk memilih perkuliahan.
Bagi teman-teman yang sudah lulus kuliah, akan berhadapan dengan begitu banyak lapangan pekerjaan dan kita harus memilih mana yang pas

Apabila sepanjang hidup kita ini penuh dengan ketidakpastian, maka hidup kita tidak akan pernah jauh dari apa yang disebut sebagai kekuatiran.

Bergantung Pada Hal Kuantitatif
Manusia saat ini berpikir bahwa ada kriteria tertentu yang dapat dicapai seseorang untuk kita dapat dikatakan sebagai pribadi yang sukses. Kita melihat begitu banyak hal ditawarkan oleh dunia ini. Kesempatan untuk mendapatkan uang yang lebih banyak, yah minimal ada kepastian finansial disana. Kemudian kalau masih kurang juga, ada begitu banyak penawaran mengenai kredit rumah, yah minimal ada tempat tinggal.

Kemudian kita melihat begitu banyak data kuantitatif mengenai kesehatan kita. Angka kolestrol, kemudian asam urat, dan sebagainya. Melihat hasil medical checkup membuat kita merefleksikan kembali apa arti kesehatan. Tetapi semuanya itu hanya angka bukan? Tidak ada yang bisa menduga bahwa kalau hasil dari seluruh medical checkup yang memuaskan belum tentu menentukan usia seseorang hidup.

Sama dengan hasil medical checkup, begitu pula kekayaan seseorang dan kesuksesan – bahkan pelayanan seseorang tidak menjamin bahwa hidup kita akan berumur panjang.

Lebih dari Data
Mau tidak mau fakta-fakta di atas membawa kita kepada sebuah  kesimpulan sementara: bahwa hidup manusia ini serba tidak dapat ditebak. Manusia boleh merencanakan begitu banyak hal di dalam hidupnya, tetapi mau tidak mau ada sebuah nasib yang suatu saat akan dialami.

Ya, manusia lebih daripada data-data kuantitatif yang bisa diukur. Jauh lebih dalam lagi dapat kita simpulkan bahwa hidup manusia itu LEBIH daripada hal-hal yang dapat diukur. Melalui data-data itu kita diminta untuk sampai pada suatu kesimpulan. Misalnya kalau angka-angka zat di dalam tubuh kita dalam range tertentu maka itu berarti kita sehat. Tetapi bukankah kesehatan ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh itu?

Kita perlu menyadari bahwa begitu banyak anomaly yang justru mengarahkan kita kepada suatu hal yang disebut IMAN. Artinya adalah bahwa ternyata ada banyak hal yang tidak masuk akal yang justru terjadi di dalam kehidupan kita, dan hal-hal itu diluar akal sehat kita.

Nikodemus
Yohanes 3:1-17 memberitakan tentang seorang Farisi, kaum elite Yahudi dengan segudang pengetahuan dan yang hidupnya merupakan cerminan orang yang berkenan di hadapan Allah. Mereka mencoba melakukan semua hukum taurat dan merupakan orang-orang yang begitu terpelajar.

Di tengah berbagai fakta bahwa mereka memiliki segala hal yang membuat mereka dapat berbangga pada diri sendiri, Nikodemus memandang Yesus sebagai pribadi yang biasa. Yohanes 3:2 menunjukkan bahwa Nikodemus “tahu” tentang Yesus. Dia mengetahui bahwa ia adalah seorang rabi, seorang guru, dan seorang yang dapat melakukan mujizat.

Dalam ketinggi hatiannya itulah Nikodemus gagal melihat siapakah Yesus sebenarnya. Ini yang disampaikan oleh Yesus di Yoh 3:3.

Percakapan itu dilanjutkan di dalam ayat-ayat selanjutnya, menunjukkan bahwa Nikodemus mencoba menggunakan segala akal sehatnya untuk dapat mengerti mengenai apa yang Yesus sampaikan kepadanya. Ia mencoba untuk mengerti dari sudut pandang bahwa apa yang dikatakan Yesus haruslah selalu masuk ke dalam logikanya. Bahkan di ayat yang ke-17 mungkin merupakan sebuah tamparan yang keras sekali bagi Nikodemus.

Bagaimana mungkin Allah – di dalam pribadi Yesus – harus menanggung dosa seluruh umat manusia? Mengapa manusia tidak menyelamatkan dirinya sendiri?

Sikap Orang Percaya
Begitu banyak Nikodemus masa kini di sekitar kita bukan? Kita sebagai orang Kristen mungkin mendapatkan begitu banyak pertanyaan. Kekristenan – tidak dapat dipungkiri – merupakan iman kepercayaan yang begitu rumit. Begitu banyak hal yang ada di luar nalar kita sebagai manusia.

Misalnya adalah pertanyaan mengenai Tritunggal, mengenai keselamatan yang melalui anugrah dalam Yesus Kristus, dan sebagainya. Hal ini membuat kita berusaha menjawab dengan berbagai analogi dan memperdalam pengetahuan apologetika kita, tetapi kita lupa bahwa di dalam emmpelajari dan menyampaikan Firman, perlu ada sebuah kehidupan doa yang mendalam.

Percayalah bahwa setiap kita diberikan sebuah kepastian di dalam kehidupan kita. Minimal kepastian yang kita dapatkan adalah: bahwa kita sudah diselamatkan oleh Tuhan, bahwa Tuhan akan menjawab doa-doa kita seturut kehendakNya, bahwa di dalam hidup kita selalu ada tantangan dan Tuhan akan membekali kita dengan kekuatan untuk terus bersandar kepadaNya, dan selalu ada tuntunan dan penyertaan Tuhan, serta selalu ada pengampunan di dalam kehidupan kita manakala kita menghadap dan berlutut kepadaNya.

Melalui iman dan keyakinan itulah kita sebenarnya punya misi untuk membuat orang-orang di sekitar kita juga memiliki sebuah kepastian hidup di dalam kehidupan mereka. Mungkin awalnya sukar untuk dipahami. Kita menyadari bahkan iman yang kita miliki pun merupakan anugrah dari Tuhan. Hal ini seharusnya membuat kita punya hasrat untuk membagikannya, terlepas orang yang kita share percaya atau tidak.

Kesimpulan
Memiliki iman identik dengan percaya atas hal-hal yang tidak masuk akal menurut ukuran dunia. Mari kita belajar meminta tuntunan dan penyertaan Tuhan di dalam kita dapat mengerti mengenai iman kepada Yesus Kristus. Kita belajar untuk memahami bahwa semua yang kita miliki adalah karena anugrah-Nya semata. Hal itu membuat kita belajar untuk hidup di dalam sebuah kepastian, bahwa segala hal yang kita hadapi merupakan rencana Tuhan dan semuanya itu akan berujung pada kemuliaan-Nya.

Kita tidak membutuhkan kemampuan meramal, karena di dalam Yesus, kepastian akan masa depan sudah kita dapatkan. Pertanyaannya adalah, bagaimana kita hidup di dalam Dia untuk mensyukuri kepastian itu?

Soli Deo Gloria!

Sunday, November 1, 2015

Menapaki Hari Bersama Kristus

Pendahuluan

Sebagai orang Kristen ada satu pertanyaan yang harus kita jawab manakala kita mengakui bahwa Kristus sudah menyelamatkan kita. Apakah itu? Pertanyaan itu adalah “so what?”. Maksudnya adalah ketika kita sudah mengakui bahwa Kristus adalah satu-satunya juruselamat, lalu apa? Hal ini menjadi terus relevan manakala kita melihat bahwa di tengah realitas dunia ini, kita tidak jarang untuk lost contact dengan Allah. Relasi kita dengan Allah menjadi sebuah relasi yang jauh, sama sekali tidak terkoneksi

Keagungan Karya Salib

Perenungan ini juga relevan ketika kita mencoba mencari jawaban atas pertanyaan “mengapa aku diselamatkan oleh darah Kristus”. Ada begitu banyak hal yang bisa menjadi jawaban atas pertanyaan ini. Misalkan: kita diselamatkan agar kita dapat melayani Allah. Benarkah? Kalau kita renungkan, siapa sih diri kita ketika kita berani mengatakan bahwa kita adalah pelayanNya? Bandingkan hidup kita dengan Paulus, Daud, Musa, Yeremia dan lain-lain. Refleksikan saja bagaimana hidup kita dibandingkan dengan hidup mereka. Masihkah kita berani menyatakan bahwa kita diselamatkan untuk melayani Dia?

Ada juga yang mengatakan agar kita bisa menjadi orang-orang yang terlibat penginjilan yang efektif. Kita punya tugas penginjilan. Tetapi kalau kita lihat realitasnya, kurang efektif apa sih Allah ketika Dia mengerjakan penginjilan? Bukankah lebih mudah bagi Allah untuk kemudian menampakkan diriNya di depan orang-orang yang tidak percaya dan kemudian mereka bertobat?

Kekristenan Adalah Relasi

Pemulihan relasi kita dengan Allah adalah satu-satunya alasan utama manakala kita menyadari bahwa hidup kita adalah hidup yang kotor. Kita perlu sadar bahwa tidak ada hal yang mungkin kita kerjakan tanpa keagungan karya salib atas kehidupan kita. Kita perlu sadar bahwa tanpa adanya pendamaian dengan Allah melalui Kristus, kita akan terjebak pada hidup keagamaan yang penuh dengan ritual-ritual.

Kalau kita lihat sepanjang kitab Imamat, kita bisa melihat betapa rumitnya saat seseorang ingin bertemu dengan Allah. Ada berbagai macam korban yang intinya satu: untuk menebus sesuatu. Ketika seseorang penuh dengan dosa, Ia tidak boleh / tidak memiliki akses untuk dapat datang berdoa dan memohon kepada Allah. Bukankah ini adalah satu hal yang begitu mengerikan? Ada banyak hal yang harus dilakukan untuk kita dapat punya akses kepadaNya.

Ironisnya hal ini membuat kita menjadi pribadi yang sama sekali berbeda dengan kemauan orang-orang jaman dahulu. Kalau kita bandingkan bagaimana niatan orang-orang jaman Perjanjian Lama, untuk mereka dapat datang ke Yerusalem pun adalah sesuatu yang begitu berat. Saat itu belum ada Go-Jek, belum ada taksi. Kalau seseorang cukup kaya, dia akan naik unta. Kalau tidak? Ya tentu saja dia harus berjalan kaki. Apalagi mereka harus membawa korban persembahan. Korban persembahan itupun juga tidak boleh cacat, artinya ini adalah suatu aturan yang sangat berat.

Menarik bahwa kalau kita melihat realitas jaman ini. Kalau acara di gereja tidak menarik ya tidak akan datang. “Eh, yang kotbah Pdt. X, pasti bikin ngantuk, kita ke gereja lain deh.” “kalau ke gereja itu ada makanannya lho!”,”nanti aja kalau mau nikah, aku akan rajin ke gereja”. Kalimat-kalimat inilah yang mewarnai kehidupan jaman ini. Jaman dimana anak-anak muda punya kehidupan yang jauh lebih mudah dibandingkan dengan masa lalu. Jaman dimana semua hal tersedia untuk kita dapat datang beribadah kepadaNya, tetapi ironisnya justru ada satu hal yang tidak dipunyai. Apa itu? Relasi yang intim dengan Allah.

Pemulihan relasi itulah yang dikerjakan oleh Kristus di atas kayu salib. Relasi dimana sebelum korban Kristus, manusia memiliki jarak yang begitu jauh dengan Allah, berbeda dengan ketika karya penebusan itu sudah dilakukan oleh Kristus. Kita tidak perlu lagi mempersiapkan korban pengganti bagi dosa-dosa kita. Kristus telah membayar segalanya.

Sikap Hidup Orang Percaya

Kesadaran kita akan keintiman relasi dengan Allah membuat kita menjadi pribadi yang berbeda. Analoginya adalah ketika kita memiliki seorang kekasih. Bisa dibayangkan ketika kita berjalan dengan kekasih kita, mungkin sikap kita akan begitu berbeda dibandingkan kita berjalan bersama anggota geng kita. Sikap kita akan menjadi pribadi yang lebih “manis”. Kalau kita menyadari bahwa Allah itu selalu ada bersama kita, dan kita adalah kekasih hatiNya, bukankah kita juga akan selalu memiliki perbedaan sikap dan pandangan?

Kesadaran inilah yang perlu dimiliki oleh orang percaya. Kesadaran bahwa kita tidak ditebus dengan darah yang murahan. Kesadaran bahwa kita sudah ditebus. Ini seharusnya menjadi suatu titik balik dimana kita akan punya sebuah kerinduan untuk dapat memiliki suatu relasi vertikal dan horizontal yang baik. Itulah yang dinyatakan Yesus manakala diberikan pertanyaan mengenai hukum terutama: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

Arti dari hukum ini begitu clear, bahwa perubahan yang paling nyata adalah masalah bagaimana kita bisa memaknai kehidupan yang sudah Allah berikan. Ayat ini mengajak kita untuk punya sebuah persekutuan yang erat dengan Allah sekaligus juga persekutuan dengan sesama kita.

Implikasinya adalah ketika kita akan ke gereja, motivasi utama kita apa sih? Apakah karena di gereja ada cowok yang cakep, atau cewek yang cantik? Ataukah kita punya sebuah kerinduan untuk datang kepada Kristus, mengakui dan mensyukuri setiap anugrahNya atas kehidupan kita? Perubahan hidup inilah yang seharusnya membuat kita menjadi seseorang yang tidak perlu dipaksa untuk kita bisa pergi ke gereja. Kita tidak perlu dipaksa untuk melayani, karena kita tahu bahwa segala yang kita punya adalah milik Allah.

Kesimpulan

Ketika Allah sudah memberikan segalanya atas kehidupan kita, pertanyaannya adalah bagaimana kita menyikapi pemberian Allah itu? Apakah kita punya satu kerinduan kepada Allah sama seperti kerinduanNya untuk kita dapat datang kepadaNya? Apakah kita sudah mencintai Allah sama seperti Allah sudah mencintai kita?

Biarlah kita belajar dari hari ke hari punya relasi yang semakin intim kepadaNya, sehingga kita tahu bahwa ada satu tujuan yang Tuhan ingin kita kerjakan untuk kemuliaanNya.


Soli Deo Gloria

Friday, May 1, 2015

Keberhargaan Hidup Manusia

“Aku mah apa atuh?” kata-kata ini seringkali menjadi sebuah ungkapan manakala seseorang merasa nggak pede atas hal yang ia perbuat. Ataupun kata-kata ini seringkali terlontar oleh seorang bawahan yang merasa bahwa dia tidak punya kuasa sebesar bosnya. Hummm…

Tunggu sebentar, kalimat itupun ternyata juga menjadi sebuah kalimat dimana seseorang tidak yakin bahwa dia berharga. Contohnya saja seorang pengemis (bukan pengemis cinta yah…) yang merasa pasrah atas kehidupannya. Ia bertanya kepada dirinya sendiri sebenarnya siapa dia di hadapan orang-orang sekitarnya yang mungkin lebih kaya atau lebih mampu dari dia.

Jauh sebelum kalimat ini terlontar, lebih dari 2000 tahun lalu kalimat ini juga diucapkan oleh beberapa orang. Bahkan yang mengucapkan kalimat ini adalah seorang pemimpin yang membawa bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan Mesir. Ya, dia adalah Musa. Allah memanggil Musa untuk membebaskan Israel, dan di hadapan Allah, Musa bertanya kalimat berikut:

Keluaran 3:10
Tetapi Musa berkata kepada Allah: "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?"

Siapakah aku ini, adalah sebuah pertanyaan Musa kepada Allah manakala ia tidak siap untuk menerima sebuah tugas yang begitu besar. Ketidakyakinan Musa kemudian diubahkan Allah sampai akhirnya ia mau diutus dan kemudian akhirnya ia berhasil membebaskan bangsa Israel dari Mesir. Sekalipun pada akhirnya ia tidak sampai pada tanah perjanjian, tetapi ia membawa bangsa yang tegar tengkuk itu ke dalam tanah perjanjian Allah.

Ada satu lagi orang yang menanyakan hal yang sama di hadapan Allah. Kali ini menanyakan hal tersebut karena suatu janji yang begitu indah yang sudah dijanjikan oleh Allah. Dia adalah raja Israel, yaitu Daud.

2Samuel 7:18
Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN sambil berkata: "Siapakah aku ini, ya Tuhan ALLAH, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?

Nada yang diutarakan Daud jauh lebih positif, di dalam konteks bahwa melalui Daud maka kerajaan Israel akan berdiri kokoh. Sekalipun kita akan mengingat terus peristiwa perselingkuhannya dengan Betsyeba, tetapi kita melihat tangan penyertaan Allah menaungi keluarga Daud dan kerajaan Israel, sampai kepada karya Yesus di kayu salib yang kalau kita lihat, Yesus pun berasal dari garis keturunan Daud.

Pernyataan “Siapakah aku ini” sebenarnya mengandung makna yang begitu mendalam. Pernyataan ini merupakan suatu pernyataan bahwa ketika kita berbicara dengan orang / pihak di hadapan kita, kita tidak mampu ataupun sebenarnya kita tidak layak untuk berbicara atau menerima sesuatu dari pihak / orang tersebut. Realitasnya? Ya memang sebenarnya kalau kita berdiri di hadapan Tuhan yang maha besar kita tidak akan punya kekuatan tersebut. Di hadapan Allah semesta langit itu adalah sebuah pernyataan yang begitu jujur.

Tetapi segalanya berubah saat ini. Kita menjadi pribadi yang minder manakala kita tidak memiliki sesuatu yang menurut ukuran dunia merupakan suatu hal yang wajib dimiliki. Ketika orang lain punya gadget terbaru, maka kitapun ingin memilikinya. Kalau tidak maka kita merasa lebih tidak berharga dibandingkan dia. Kalau orang lain sudah punya pacar yang cantik dan kita belum punya, maka kita bisa merasa lebih jelek dibandingkan dia. Sampai mungkin kita sampai pada suatu kesimpulan: betapa tidak adilnya Tuhan ketika menciptakan kita menjadi pribadi yang kurang ganteng.

Namun ketidakberhargaan manusia ternyata bukanlah sebuah alasan untuk Allah berhenti berkarya melalui kehidupan kita. Buktinya adalah salib, dimana seluruh ketidakbermaknaan kehidupan kita dihancurkan. Dignity kita mulai dibangun melalui karyaNya. Status kita sebagai manusia akhirnya dikembalikan menjadi ciptaan baru melalui salib itu. Saat kita menyadari karya Yesus di kayu salib seharusnya kalimat “Siapakah aku ini?” menjadi sebuah kalimat yang wajib kita tanyakan.

Ketika Allah memandang kita dengan begitu berharga, mengapa akhirnya kita menyia-nyiakan hidup kita dengan memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang kita? Mengapa akhirnya kita mencari nama baik namun mengabaikan karya Yesus di dalam kehidupan kita? Kita lebih senang bermain aman agar status kita tidak terancam, namun lupa bahwa sebagai orang Kristen tidak ada yang namanya main aman. Semuanya didasarkan pada anugrahNya dan anugrah itulah seharusnya yang memampukan kita melihat diri kita sebagaimana kita ada.

Kalau begitu, keberhargaan hidup kita sebenarnya bukan ditentukan melalui hal-hal yang fana. Tiada yang baka di dalam dunia, semua yang indah pun akan lenyap – demikian bunyi sebuah lagu hymn. Artinya bahwa keberhargaan hidup kita ditentukan bukan oleh hal-hal yang kita miliki di dunia ini. Keberhargaan hidup adalah mengenai relasi dan kesadaran akan anugrah Tuhan atas kehidupan kita. Menyadari hal ini membuat kita menjadi pribadi yang percaya diri, dan membawa kita kepada satu kesadaran akan iman kita kepada Dia.

Adakah kita merasa bahwa hidup kita dipenuhi oleh kesia-siaan? Adakah kita merasa bahwa kita tidak berharga karena kita nggak punya banyak hal yang dapat kita banggakan? Adakah kita bertanya “siapakah aku ini?” padahal status kita sudah diubahkan olehNya?

Karena Kristuslah kita berharga. Karena anugrahNya yang begitu besar atas kehidupan kitalah maka kita dapat memberikan yang terbaik untuk kemuliaanNya. Karena anugrah itulah kita sadar bahwa kita manusia lemah, namun Ia menjadikan kita berharga untuk kemuliaanNya


Soli Deo Gloria 

Sunday, March 15, 2015

Menikmati Anugrah Allah

Pernahkah membayangkan bahwa ternyata seluruh hidup kita adalah tentang Allah? Ketika kita makan, ketika kita tidur, ketika kita mengerjakan aktivitas kita, ternyata Allah turut bekerja.

Manusia di tengah berbagai kecanggihan teknologi terkini mulai kehilangan kemanusiaannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebanggaan seseorang saat ini adalah ketika dia punya gadget terbaru. Akhirnya fokus hidupnya hanyalah untuk mengejar hal tersebut.

Berbagai hal dan penemuan baru membuat kita semakin excited dan mungkin akhirnya kita melupakan berkat-berkat kecil ataupun besar yang Tuhan sediakan atas kehidupan kita. Kita menjadi pribadi-pribadi yang cepat sekali mengeluh manakala tidak mendapatkan hal yang kita inginkan. Kita akhirnya menjadi pribadi-pribadi yang begitu apatis, kita jadi pribadi yang egois, kita selalu ingin lebih dan lebih.

Menikmati anugrah Allah di dalam kehidupan bukan berarti bahwa Allah harus selalu memberikan segala hal yang kita minta. Itu sih namanya rakus. Oke kita melihat kembali bahwa ternyata sifat rakus yang dimiliki manusia ternyata sudah ada dari dulu. Kita melihat dihancurkannya menara Babel. Tetapi yang paling dapat kita pelajari dari Perjanjian Lama sendiri adalah bagaimana kisah perjalanan bangsa Israel sekeluar mereka dari tanah Mesir.

Pernah membayangkan berjalan selama 40 tahun? 40 tahun yang dirasakan bangsa Israel dengan begitu lama dan akhirnya dari generasi selama 40 tahun itu, hanya 2 orang dari generasi eksodus itu yang masuk ke tanah perjanjian. Siapa mereka? Kaleb bin Yefune, dari suku Yehuda, dan Yosua bin Nun, yang dipercaya sebagai suksesor dari Musa.

Selama 40 tahun perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir, kita melihat bagaimana pergumulan bangsa itu dengan luar biasa. Tetapi di tengah pergumulan itu ada berkat dan kasih Allah Yehova yang begitu besar di dalam kehidupan mereka. Sekeluar mereka dari Mesir, mereka diberikan tiang awan dan tiang api. Kemudian ketika kelaparan, mereka mendapatkan manna. Ketika mereka haus, Allah menyediakan air. Mereka bosan makan manna, mereka diberikan akanan makanan lain yakni burung.

Kurang apa sih Allah di dalam kehidupan Israel? Kelihatannya Allah ialah Allah yang begitu kejam, sampai memutar-mutar bangsa itu hingga 40 tahun. Tetapi selama 40 tahun itulah ternyata semakin kelihatan seperti apa sikap bangsa Israel terhadap penyertaan Tuhan. Mereka tetap menjadi bangsa yang tegar tengkuk. Mereka tetap ingin kembali ke Mesir. Mereka terngiang oleh memori lama mereka. Mereka gagal melihat bagaimana karya Allah di dalam kehidupan mereka.

Hal ini tidak jauh berbeda dengan masa kini. Memaknai hidup yang berasal dari Allah ternyata merupakan hal yang begitu sulit kita lakukan sebagai seorang Kristen. Bersyukur menjadi suatu hal yang hampir tidak mungkin karena ternyata rasa syukur kita dinilai dari materi. Ketika gadget kita kalah canggih dengan orang lain, kita menggerutu. Ketika kita makan di restoran mahal yang harganya mahal, kita protes. Ketika kita mendapatkan gaji bulanan yang sudah cukup besar, kita masih saja mengeluh karena gaji itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kita.

Mulai terlihat kan persamaan antara kita dengan bangsa Israel? Alih-alih kita bersyukur atas segala hal yang sudah Dia sediakan di dalam kehidupan kita, ternyata kita jauh lebih banyak mengeluh atas kondisi yang kita hadapi. Kita selalu tidak puas dan akhirnya hal itu membuat kita tidak bisa “merayakan” anugrah yang Tuhan berikan atas kehidupan kita. Padahal anugrah yang paling sederhana pun yang dapat kita rasakan: ketika kita masih bisa bernafas; itupun jarang kita syukuri.

Ketika kita mengetahui dan memaknai anugrah Allah, kita dapat menikmatinya dengan suatu sukacita surgawi. Berkat Tuhan itu selalu “more than meets the eye”, yang berarti kita tidak pernah bisa melihat kalau kita tidak belajar untuk hening sejenak, diam dan memaknai betapa besar kasih Allah di dalam kehidupan kita. Kebermaknaan hidup didapatkan ketika kita belajar untuk melihat karya Allah yang bahkan tidak dapat kita lihat secara fisik. Ketika kita tidak dapat melihat berbagai karyaNya, kita perlu belajar untuk meminta dan memaknai anugrah – bahkan sekecil apapun anugrah itu.

Sama seperti kita memaknai lagu, kita bisa belajar dari memaknai anugrah Allah di dalam kehidupan kita. Maksudnya seperti apa? Teman-teman, kalau kita lihat dari lagu-lagu hymn yang ada di buku lagu NKB, PKJ, dan KJ, kesan apa yang teman-teman dapatkan? Jadul? Ya itu jawaban yang paling sering dinyatakan. Tetapi kalau teman-teman melihat ada banyak lagu yang ternyata justru maknanya begitu dalam, begitu indah, begitu menyentuh hati kalau kita memaknainya. Bayangkan contohnya lagu “Bila Kulihat Bintang Gemerlapan”, yang mengungkapkan keagungan karya Allah dan ketakjuban penulis. Pernyataan iman atas keindahan ciptaan yang menggambarkan karya Allah, itulah yang dimaknai penulis lagu ini.

Ungkapan syukur itu akan selalu menghasilkan sesuatu yang positif dalam kehidupan kita. Anugrah itu tersedia atas kehidupan kita. Berbagai proses baik itu menyenangkan ataupun menyakitkan, semuanya sudah dirancang oleh Allah untuk menjadikan kita pribadi-pribadi yang mampu melihat “lebih dari yang dilihat mata”. Artinya kita belajar bukan hanya melihat, tetapi mengapresiasi karya Allah. Mengapresiasi kehidupan yang sudah Ia anugrahkan dan akhirnya kita menyatakan rasa syukur itu melalui kehidupan kita.

Akhirnya ungkapan syukur itu akan menjadi sesuatu yang dapat memberkati banyak orang. Seseorang yang menyadari akan anugrah Allah akan begitu menikmati kehidupan dekat denganNya. Ia akan menikmati momen-momen dimana Kristus ada di dalam kehidupannya, menuntun dia dan terus membuat dia menjadi seseorang yang selalu mengucap syukur.

Saya menutup perenungan ini dengan sebuah kisah dari Joni Earackson Tada. Dia adalah seorang wanita yang begitu cantik. Dia pintar, punya begitu banyak bakat, dan masa depannya terasa begitu cemerlang. Suatu hari, Joni pergi untuk berolahraga di laut. Musibah terjadi di dalam kehidupannya. Joni yang punya begitu banyak cita-cita ternyata tidak sengaja menabrak sebuah karang. Hal ini membuat seluruh badannya dari leher ke bawah mengalami lumpuh.

Dokter pun sudah mengkonfirmasi mengenai kehidupannya. Ia akan mengalami kelumpuhan seumur hidup. Respons Joni? Ia marah pada awalnya, tetapi ia belajar untuk menenangkan diri. Ia akhirnya belajar untuk melihat lebih dari yang dilihat manusia. Ia melihat Allah memanggil Dia untuk berkarya bagi kerajaanNya. Apa itu? Ia akhirnya menjadi seorang penulis buku, di tengah berbagai keterbatasannya. Ia menjadi seorang pengkotbah dan ia mulai belajar menggunakan mulutnya, matanya, seluruh hal yang masih dapat ia gunakan untuk berkarya di dalam kehidupan yang Tuhan percayakan dalam kehidupannya.


Kalau kehidupan kita ternyata masih belum ada di titik yang terendah, atau mungkin teman-teman sedang mengalami hal-hal yang membuat teman-teman gagal untuk melihat karya Tuhan, sekarang saatnya kita belajar untuk melihat lebih dari yang dilihat mata. Ketika Tuhan memberikan berbagai proses hidup, semuanya adalah untuk kebaikan kita. Semuanya adalah untuk membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yang kuat untuk menghadapi berbagai proses kedepan untuk kita dapat hidup. Pertanyaannya, maukah teman-teman belajar memaknainya?