Total Pageviews

Showing posts with label pelayanan. Show all posts
Showing posts with label pelayanan. Show all posts

Tuesday, June 20, 2017

Siap Sedia dalam Tanggung Jawab Pengutusan



Pengantar
Setiap kali kita diminta untuk terlibat dalam sebuah pelayanan, ada alasan klasik yang kita sampaikan kepada orang yang menawarkan pelayanan itu. “ah, aku mah apa atuh?”, atau “sorry, aku gak mampu”, setidaknya itulah statement yang kita berikan untuk “menolak secara halus” pelayanan tersebut. Kita terjebak di dalam sebuah kondisi ‘merasa tidak mampu’ atau inferior complex. Seolah kita ini bukanlah siapa-siapa.

Melalui artikel ini, mari kita lihat sedikit dari orang-orang yang Tuhan percayakan untuk melayani Dia dalam pelayanan selama 3,5 tahun. Kita akan melihat beberapa ciri khas panggilan Tuhan, dan bagaimana tanggapan dari orang-orang yang ada di sekitar-Nya.

Sekumpulan Orang Biasa yang Signifikan
Kita percaya bahwa ketika alkitab dituliskan, setiap ayat yang dituliskan merupakan ilham dari Allah. Semuanya ada maksudnya. Semuanya signifikan untuk dapat kita baca dan kita renungkan, dan ini juga tertulis dalam 2 Tim 3:16

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. 

Berdasarkan ayat di atas mari kita baca dari kitab Matius

Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.
(Mat 10:2-4)

Mari kita lihat kisah hidup orang-orang yang mengikut Yesus. Petrus, kita tahu sendiri bahwa dia adalah seorang nelayan, bersama dengan saudaranya Andreas. Kita ingat pula keduanya punya karakter yang begitu berbeda. Petrus dengan emosi yang menggebu-gebu, sebaliknya Andreas merupakan seseorang yang cenderung rendah hati.

Yakobus dan Yohanes, kita bisa mengetahui kisah hidup mereka, motif mereka mengikut Yesus. Keduanya merupakan orang-orang yang mencari kekuasaan, dan ini diwujudkan di dalam ucapan ibu mereka yang meminta mereka duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus.

Filipus merupakan orang yang cukup kritis. Injil Yohanes menunjukkan keingintahuan Filipus mengenai pribadi Yesus dan pribadi Bapa. Tomas, kita tahu sendiri bahwa dia adalah seorang peragu. Simon orang Zelot dan Matius pemungut cukai, apa yang terjadi ketika Yesus tidak ada di samping mereka? Mungkin mereka akan saling bermusuhan. Kaum zelot merupakan kaum yang ingin memerdekakan Israel, sedangkan Matius merupakan pemungut cukai yang pro terhadap penjajah.

Yudas, kita tahu sendiri bahwa ia adalah seorang yang disebut “curang” di antara para rasul, dan sudah disebutkan bahwa ia akan mengkhianati Yesus.

Inisiatif Panggilan Berasal dari Allah
Tidak ada seseorang yang terlalu hina untuk mengerjakan pekerjaan Allah manakala Tuhan sudah memanggil orang itu untuk melayani Dia. Kalau kita baca semua bagian alkitab, kita melihat bahwa semua orang yang Tuhan pakai, inisiatif pekerjaan itu berasal dari Tuhan. Selalu ada momen di mana ada perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Ketika perjumpaan itu terjadi, ada momen dimana Allah memberikan sebuah “kepercayaan” yang boleh di bilang tidak pantas untuk kita dapatkan.

Tetapi kalau kita melihat lebih jauh lagi, di tengah ketidaklayakan itu toh Tuhan masih mau pakai kita yang serba tidak sempurna ini. Bukankah itu cukup? Bukankah panggilan Tuhan yang melayakkan kita itu cukup sebagai dasar untuk kita dapat melayani Tuhan dengan sepenuh hati kita, berusaha melayani Dia dengan cinta kasih yang juga berasal dari Dia?

Inferior Complex
Nah kalau kita lihat, mengapa sih kita menjadi pribadi yang minder? Apakah sebenarnya kita minder, atau kita sebenarnya malas untuk melayani Tuhan? Ketika kita beralasan bahwa kita tidak mampu untuk melayani di bidang A, atau bidang B, dan seterusnya, apakah betul kita benar-benar tidak dapat mengerjakannya?

Mari kita periksa jauh ke dalam diri kita, sebenarnya apa yang membuat kita menjadi inferior? Mengapa kita tidak yakin bahwa kita dapat menjadi seperti si X yang suaranya begitu merdu? Atau si Y yang pandai memainkan alat musik, atau si Z yang begitu pandai dalam mengorganisir suatu acara tertentu. Tunggu sebentar! Pertanyaannya adalah: mengapa kita membandingkan diri kita dengan orang lain manakala kita ingin melayani Tuhan? Itulah sebenarnya pertanyaan yang harus kita ajukan dulu kepada diri kita.

Coba bayangkan kalau Tuhan membandingkan antara Musa dan Elia. Antara Daud dengan Abraham. Antara Petrus dengan Filipus. Antara Paulus dengan Barnabas. Antara Salomo dengan … (coba tulis begitu banyak tokoh alkitab yang kita dapat perbandingkan) nah kalau kita berhenti pada perbandingan kita dengan orang lain [atau lebih tepatnya, panggilan Allah berpola demikian] maka sebenarnya tidak ada satupun orang yang layak untuk melayani Dia.

Diperlengkapi Untuk Sebuah Misi
Setiap kita punya peran yang Tuhan percayakan dalam hidup kita. Setiap manusia punya panggilan unik di dalam hidupnya untuk dapat dikerjakan semaksimal mungkin sesuai dengan talenta yang Tuhan berikan di dalam kehidupan manusia. Berkaitan dengan hal ini, selalu ada keunikan yang kita miliki satu dengan yang lain.

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.
(Mat 10:5-8)

Diperlengkapi untuk sebuah misi berarti kita menyadari bahwa segala hal yang Tuhan kerjakan di dalam diri setiap kita merupakan anugrah. Ayat di atas memperlihatkan bahwa Yesus tidak hanya mengutus kita, tetapi juga memperlengkapi kita dengan kuasa. Ini juga yang Tuhan deklarasikan di dalam amanat agung, yaitu pada Matius 28

Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
(Mat 28:16-20)

Ayat ini juga menunjukkan sebuah keraguan, bahkan setelah para murid ini melihat kebangkitan Yesus. Inilah orang-orang yang dipakai oleh Tuhan untuk menyebarkan injil ke seluruh dunia!

Penutup
Di tengah keraguan kita di dalam menjalani panggilan Allah, sepenuhnya kita perlu percaya bahwa ketika Allah sudah mengutus kita, maka hal itu tidak berhenti sampai dengan pengutusan, tetapi ada janji penyertaan. Oleh karena itu, apa yang membuat kita ragu di dalam melayani Tuhan? Marilah ketika Tuhan mengutus kita, siap sedialah kita menjawab “ini aku, utuslah Tuhan!”

Soli Deo Gloria

Sunday, July 24, 2016

Memaknai Kekekalan



Apa sih maksudnya “hidup kekal”? Suasana di surga itu seperti apa sih? Terus kalau kita masuk surga, kita itu ngapain? Kalau begitu kenapa aku harus jadi orang percaya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang begitu umum didapati kalau kita berhadapan dengan orang-orang diluar sana, ataupun orang yang sedang dalam usaha untuk mencari jati dirinya di dalam kehidupan. Bahkan tidak jarang begitu banyak orang Kristen mempertanyakan hal ini, baik orang tersebut sudah lahir baru ataupun belum. Atau bahkan orang tersebut juga mempertanyakan apa itu lahir baru?

Dimensi Kekekalan
1 Yohanes 5:11
Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya.

Mari kita perhatikan kalimat di dalam ayat ini. “Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal…” Telah berarti hal tersebut sudah terjadi. Ketika kita membaca ayat ini, ada satu hal yang dapat kita simpulkan secara langsung, bahwa ternyata hidup kekal itu ada di dalam dimensi kekinian. Maksudnya adalah kehidupan kekal itu sudah kita dapatkan di dalam keselamatan. Keselamatan itu sudah merupakan kepastian manakala kita percaya kepadaNya.

Kalau begitu mungkin ada pertanyaan lanjutannya. Kalau bener bahwa ternyata hidup kekal sudah kita dapatkan, dan kita yakin bahwa kita sudah diselamatkan tapi kok ternyata hidup kita nggak berubah sama sekali? Tetep aja kita bisa jatuh dalam dosa. Tetep aja kita bisa ngerasa nggak layak untuk melayani Tuhan. Tetep aja bahwa di dalam kehidupan kita ternyata kita punya relasi yang tidak baik dengan sesama. Kita tetep aja nggak punya keinginan buat saat teduh. Boro-boro saat teduh, doa makan aja mungkin kita gak lakukan sama sekali.

Kemudian kita sama sekali melihat bahwa orang-orang diluar kekristenan ternyata memiliki pola hidup yang lebih baik dari kita. Attitude mereka bahkan jauh lebih baik daripada kita. Saat ada bencana alam, mereka justru menjadi orang-orang di garis terdepan dalam memberikan sumbangan. Mereka bahkan punya kehidupan yang jauh lebih beres. Ingat, mereka sama sekali tidak mengenal kekristenan. Mungkin mereka bahkan tidak beragama sekalipun.

Padahal di satu sisi kita sudah percaya Tuhan loh. Tetapi kenapa sih hidup kita sama sekali tidak ada perubahan?

-----
Perubahan Hidup?
2 Korintus 5:17
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Perubahan itu sebenarnya berangkat dari sebuah pola pikir yang benar. Ketika Paulus menyebutkan bahwa kita adalah “ciptaan baru”, apa yang ia maksudkan? Ternyata perubahan sikap itu sama sekali tidak ada di dalam kehidupan kita. Ciptaan baru dari mana?

Mari kita telaah lebih dalam. Ketika kita menyebut diri sebagai orang Kristen, maka definisi Kristen ini berasal dari 2 kata, “Christ” dan “ian”. Hilangkan Kristus sebagai pusat kehidupan kita, maka kita hanya disebut sebagai “ian”, yang tidak ada maknanya. Nah bedanya hanya disana. Ketika kita memiliki fokus hidup adalah Allah sendiri, Allah Tritunggal yang kita kenal di dalam pribadi Allah Bapa, Yesus, dan Roh Kudus, maka kita barulah layak menyandang istilah Kristen.

Kalau dibalik, ketika kita nyatakan bahwa kita adalah anak Tuhan, maka sebenarnya kita pun meneladani sikap Tuhan. Kalau kita adalah pengikut Kristus, berarti konsekuensinya kita mengikut Dia secara full time. Bukan berarti kemudian kita semua harus jadi hamba Tuhan full time, tetapi apapun yang kita kerjakan semua fokusnya adalah Kristus.

Dampak dari menjadikan Kristus sebagai fokus hidup, mau tidak mau adalah MELAYANI. Mengapa? Karena kalau kita membaca di dalam seluruh injil, inti kehidupan Yesus adalah MELAYANI. Tetapi jauh lebih dalam dari itu, pelayanan itu dilakukan oleh penguasa alam semesta. Pencipta dari langit dan bumi, Allah dari segala allah. Raja di atas segala raja. Bayangkan saja misalkan hari ini Presiden Jokowi tiba-tiba datang ke rumah kita dan kemudian ia memberikan segala yang ia miliki kepada kita. Bagaimana sikap hidup kita?

-----
Konsekuensi Menjadi Kristen
Matius 5:20 
Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Hidup keagamaan seperti apa yang dimiliki orang Farisi dan Ahli Taurat? Apakah kekurangan mereka. Coba bayangkan, mereka beribadah dengan begitu rupa. Mereka hapal hokum Taurat. Mereka menjaga hidup mereka. Mereka hapal kitab hukum Musa.

Satu hal yang menjadi kelemahan mereka adalah mereka tidak melakukannya dari hati mereka. Mereka tidak menghidupi hukum-hukum itu. Mereka menyalahartikan mengenai apa yang diinginkan Allah. Mereka melakukan semua aturan itu karena ingin menjadi orang terpandang di dalam masyarakat Yahudi waktu itu.

Tetapi apa yang dikatakan Yesus kepada murid-muridNya? Ia dengan begitu tegas bahwa kehidupan keagamaan mereka harus lebih baik lagi. Bukan hanya berhenti pada hukum-hukum, tetapi bagaimana kita bisa mengasihi sesama kita sembari mengasihi Tuhan. Contoh praktisnya? Doakan musuhmu. Salah satu contoh praktis itulah yang Tuhan berikan.

Konsekuensi menjadi pengikut Kristus adalah bahwa kita tidak boleh terperangkap di dalam ke-AKU-an kita. Hidup kita bukan milik kita lagi, tetapi Kristus di dalam kita. Itulah yang dikatakan Paulus. Artinya apa? Artinya bahwa segala hal yang kita kerjakan, semuanya bukanlah untuk kepentingan kita sendiri, tetapi kepentingan Allah.

-----
Panggilan Tuhan yang Lembut
Hai mari datanglah, Kau yang lelah mari datanglah! Sungguh lembut Tuhan Yesus memanggil, Kau yang sesat marilah! –Softly and Tenderly—
Yeremia 29:11 
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Okey kita sudah mengetahui sekarang seperti apa sebenarnya dimensi kekekalan, lalu perubahan hidup, kemudian kita juga sudah tahu konsekuensi menjadi orang Kristen. Kalau sampai bagian ini kita kemudian menjadi merasa semakin tidak layak, mari kita coba buka dari kitab Yeremia di atas. Rancangan TUHAN adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan.

Rancangan damai sejahtera di dalam perikop ini dapat kita maknai sebagai sebuah realitas hidup di dalam dimensi kekekalan. Ada sebuah pertanyaan: “kak, bagaimana kalau ternyata aku sudah terlanjur jatuh dan aku merasa gak ada lagi panggilan Tuhan dalam hidupku? Bagaimana kalau ternyata aku memang dirancang untuk masuk ke dalam neraka?”

Ingat dan percayalah bahwa alkitab ini ya dan amin. Rancangan damai sejahtera… itulah yang Tuhan sedang kerjakan di dalam hidup kita. Sebuah grand design yang sama sekali tidak akan pernah kita bayangkan. Rancangan kehidupan yang damai sejahtera! Apa yang dimaksud damai sejahtera?

Mari kita buka alkitab kita
Matius 25:30 
Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."

Gambaran apakah ini? Ini adalah gambaran mengenai neraka. Keselamatan kalau kita maknai di dalam dimensi kekekalan adalah perjumpaan muka dengan muka dengan Tuhan. Itulah yang dirindukan oleh Fanny Crosby, seorang penulis hymn yang di dalam kebutaannya menuliskan lagu “My Savior First of All”. Tentu kalau kita baca ini bukanlah kondisi damai sejahtera.

Damai sejahtera yang dijanjikan Tuhan adalah sebuah kondisi dimana ada persekutuan yang intim dengan Allah. Kalau di dalam dimensi kekekalan nanti, adalah perjumpaan face to face, di dalam dimensi keterbatasan waktu saat ini adalah keintiman relasi kita dengan Allah.

Tetapi ada dari kita yang mungkin berkata: “Well, abis sudah! Aku sama sekali nggak memaknai hidupku seperti yang Tuhan mau. Aku udah menyia-nyiakan hidupku.” Rekan-rekan, melalui tulisan ini aku mau coba untuk meyakinkan setiap kita bahwa tidak pernah ada kata terlambat manakala kita mau berubah. Tidak ada kata terlambat untuk kita dapat berbalik kepada Dia.

Di dalam setiap detail peristiwa hidup kita, Ia memberikan begitu banyak kesempatan untuk kita dapat kembali kepadaNya. Ketika kita bangun pagi, ketika kita masih dapat menghirup udara segar, ketika terjadi berbagai peristiwa yang ada di dalam hidup kita, percayalah bahwa itu adalah setiap rancangan damai sejahtera yang Tuhan kerjakan.


Tidak pernah ada kata terlambat sebelum kita mengakhiri hidup kita.

Salah seorang penjahat yang disalib bersama Yesus, seumur hidupnya mungkin dihabiskan dengan merampok, membunuh, mencuri, dan sebagainya. Begitu banyak pelanggaran dan kejahatan yang ia kerjakan. Tetapi apa kata Yesus manakala ia merendahkan hati dan menjawab panggilan Yesus?

Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."

Ia sedang memanggil kita. Tanpa lelah Dia mengingatkan kita untuk kembali. Kembali kepada pelukan kasih karunia Allah. Ia merindukan kita datang kepadaNya, menyapa Dia, dan menghidupi kasih karunia yang udah Dia berikan. Salib merupakan bukti kasih terbesar yang sudah Ia kerjakan. Ada pengharapan, ada damai sejahtera, dan ada penyertaan yang tidak pernah dapat kita bayangkan, tetapi selalu kita rasakan.

Pertanyaannya adalah, maukah kita menerima panggilan itu? Maukah dengan rendah hati kita datang kepadaNya? Maukah kita berbalik dari cara hidup kita yang lama, dan menjadi manusia baru seperti yang dikatakan Paulus? Maukah kita memaknai salib dan menerima Dia, mengijinkan Dia untuk menjamah kehidupan kita? Maukah kita merendahkan hidup kita di bawah kaki salibNya?

Tuhan memberkati
Soli Deo Gloria.

Friday, May 1, 2015

Hal Kekuatiran

Nas Bacaan: Matius 6:25-34

Kehidupan manusia pada umumnya tidak pernah lepas dari yang namanya kekuatiran. Kekuatiran adalah bagian yang integral di dalam kehidupan. Artinya bahwa setiap manusia di dunia ini pasti punya rasa kuatir di dalam kehidupannya. Terlepas dari berbagai hal yang membuat dirinya aman, selalu ada hal yang membuat dia kuatir.

Kenapa sih sebenarnya kita kuatir? Karena memang ada hal-hal yang nggak sesuai dengan ekspektasi kita. Kita sudah merencanakan misalnya akan menikah di usia 28 tahun, tetapi ternyata di usia ke-27 tahun kita belum mendapatkan seorang calon pendamping hidup. Misalkan lagi ketika kita memutuskan untuk keluar dari pekerjaan kita yang sekarang, kita kuatir akan susah mendapatkan pekerjaan lagi. Ketika kita tidur pun terkadang kita juga kuatir.

Bahkan kalau kita lihat kehidupan orang-orang yang ada di alkitabpun, ternyata tidak sedikit orang yang kuatir atas kehidupannya. Abraham, yang disebut sebagai “bapa orang beriman” pun sempat mengalami kekuatiran di dalam kehidupannya. Kuatir bahwa ia tidak akan memiliki keturunan, kemudian pada saat tanah tempat tinggalnya kering dan ia harus pergi ke Mesir, ia pun kuatir bahwa istrinya akan direbut orang. Beralih ke Perjanjian Baru, ternyata kisahnya pun tidak jauh berbeda dengan Abraham, yakni para rasul. Suatu kali Petrus bertanya kepada Yesus:

"Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" (Matius 19:27)

Bukankah ini adalah suatu pertanyaan yang begitu umum kita ajukan? Sangat mudah bagi kita untuk terjebak bahwa ternyata di dalam kita mengikut Tuhan pun, kita berharap akan imbalan yang akan kita terima.

Mengapa kita merasa seperti ini? Tuhan Yesus pun mengingatkan kepada kita sebelum nas ini.

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Mat 6:24)

Kita tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Maksudnya? Kita selalu punya pilihan untuk kehidupan kita. Kekuatiran pada dasarnya adalah karena kita sama sekali tidak berpegang kepada Allah. Kita berpegang pada sesuatu yang begitu liquid (uang adalah sesuatu yang liquid bukan?). Mamon sendiri berarti uang. Artinya apa? Kita hanya bisa memilih – apakah Allah yang akan kita sembah ataukah kita menjadi hamba dari sesuatu yang liquid?

Okey, kembali pada hal kekuatiran. Kalau kita menyadari bahwa hidup kita ternyata tidak dapat didasarkan pada uang dan harta itu berarti bahwa kehidupan kita harus didasarkan pada pilihan yang satunya.

Mari kita coba lihat Matius 6:26
Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? (Mat 6:26)

Pernahkah kita kemudian menjadi seseorang yang membayangkan: “Enak banget ya jadi seekor burung. Sehari-hari sudah dikasih makan terus sama Tuhan.” Itu sama halnya mungkin kita bayangkan: “Enak banget yak kalau kita nggak usah kuliah, nggak usah kerja, tapi kebutuhan sehari-hari kita terpenuhi semua.”

Pandangan seperti ini bisa menyesatkan kita. Memang benar bahwa burung sama sekali tidak menabur dan menuai tetapi bukan berarti mereka sama sekali tidak berusaha. Artinya bahwa di dunia ini Allah sudah memberikan potensi dimana kita dapat bekerja dan dapat memanfaatkan segala sumber daya. Allah meminta kita untuk berusaha melakukan eksplorasi terhadap dunia yang Ia ciptakan.

Pertanyaan Yesus selanjutnya adalah “Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” Jawabannya sekali lagi: “absolutely YES”. Artinya bahwa memang di dalam kehidupan kita, kita sudah diberikan anugrah yang terindah. Bukan masalah materi, bahkan terkadang kita perlu lihat lagi kehidupan kita, bagaimana kalau sampai saat ini kita masih hidup, kita masih bernafas, kita masih dapat pekerjaan, kita masih bisa kuliah – bukankah semuanya adalah anugrah Allah?

Burung-burung yang ada di udara itu ketika liat kita stress mungkin mereka kaget yah. Mengapa? Tuhan sudah janjikan bahwa kita adalah manusia yang begitu berharga. “Enak bener lho jadi manusia, bahwa mereka punya privilege untuk memanggil Allah itu dengan panggilan Bapa.”

Kita lanjutkan ke ayat-ayat selanjutnya. Matius 6:27 dengan keras Tuhan bertanya:

Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? (Mat 6:27)

Siapa? Tidak seorang pun. Sebentar. Bukankah itu berarti kita tidak boleh kuatir? Bukan. Bukan itu maksud Yesus. Yesus berkata bahwa boleh kita kuatir, tetapi jangan sampai kekuatiran itu akhirnya menguasai hidup kita. Bukankah ada suatu kekuatiran yang positif? Apakah tanpa kekuatiran kita berarti tidak boleh berjaga-jaga? Bukankah Yesus juga berkata bahwa kita harus berjaga-jaga? Betul sekali kalau kita harus berjaga-jaga, tetapi bukan berarti bahwa akhirnya kita menjadi begitu kuatir dan menjadi seseorang yang paranoid. Sepertinya bukan malah menambahkan jalan hidup, kekuatiran yang berlebihan justru akan menjadi sesuatu yang memperpendek usia kita. 

92% orang di Amerika berkata bahwa sebenarnya kekuatiran yang mereka rasakan adalah kekuatiran yang fiktif. Selain itu kalau memang kekuatiran yang kita alami itu terjadi, kita tidak akan bisa melakukan apa-apa bukan? Saya ingat betul pengalaman saya pertama kali menginjakkan kaki saya di pesawat untuk pergi ke Bandung, saya kuatir sekali. Kemudian saat saya akan pergi ke Bogor dari Bandung, saya naik taksi bandara tanpa kenal siapa-siapa dan di mobil itu saya sama sekali tidak bisa tidur. Sebenarnya saya saat itu sudah menjadi Kristen tetapi tanpa sadar ternyata kekuatiran begitu menguasai saya.

Saya membayangkan kalau misalnya pesawat tersebut jatuh, apa yang bisa saya perbuat? Tidak ada. Semua akan terjadi. Bagaimana jika seandainya ternyata sopir taksi itu menculik saya kemudian merampok saya? Apakah kekuatiran saya menyelamatkan saya? Tidak juga bukan?

Karena itulah kemudian ketika saya membaca kembali ayat-ayat ini saya sadar betul bahwa ternyata hidup kita ini dijaga oleh Tuhan. Bukan berarti bahwa ketika kita percaya kepada Tuhan, hidup kita akan menjadi berkelimpahan. Rumusnya tidak begitu. Apakah berarti dengan kita ikut Tuhan maka segala urusan lancar, semua masalah hilang? Tidak juga bukan? Tetapi apakah hidup kita selalu dijaga? Iya betul.

Mungkin ketika kekuatiran itu mulai muncul, kita perlu belajar untuk menyerahkan kekuatiran itu kepada Bapa. Setelah kejadian saya naik pesawat untuk pertama kalinya itu, kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya, di setiap saya naik pesawat, saya selalu tertidur selama perjalanan. Intinya apa? Berdoa dulu deh sebelum naik pesawat, “Tuhan hantarkan saya selamat sampai ke tujuan. Aku tahu bahwa Tuhan adalah Allah yang Mahakuasa dan Engkau yang berkuasa atas pesawat ini, atas pilot, atas cuaca, atas penerbangan ini. Tetapi BIARLAH KEHENDAK-MU YANG JADI DAN BUKAN KEHENDAKKU. Kalau memang Allah berencana bahwasanya ketika pesawat ini jatuh, maka aku tahu bahwa waktuku sudah habis, dan sudah saatnya aku kembali ke pangkuanMu.”

Doa tersebut membuat saya bisa tidur nyenyak ataupun dengan tenang membaca buku di pesawat. Itu semua karena ada satu perasaan tenang dan dijaga oleh Bapa. Bukankah itu keistimewaan kita sebagai orang Kristen, bahwa kita tidak perlu terlalu kuatir atas hidup kita? Bahwa segalanya sudah diatur oleh Bapa, bahwa segalanya sudah diberikan kepada orang yang mengasihiNya, yang terpanggil sesuai dengan rencanaNya? Bukankah itu artinya berserah?

Kalau kita sudah menyadari bahwa segenap kehidupan kita sudah ada yang memegang, kini apa tugas kita?
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33)

Sangat jelas bukan? Carilah dahulu Kerajaan Allah artinya bahwa kalau kita menyibukkan diri kita untuk berpikir tentang uang dan uang, maka kehidupan kita akan dipenuhi oleh kekuatiran. Mau berdiri di fondasi yang liquid atau kita mau bersandar kepada sesuatu dasar yang teguh? Yesus adalah dasar yang teguh itu. Allah menuntut kehidupan total yang dipersembahkan kepadaNya. Ia meminta kita untuk percaya dan terus menerus menyadari akan kebenaranNya. Ia ingin kita untuk percaya sepenuhnya kepadaNya.

Sekali lagi, semuanya itu bukan berarti bahwa hidup kita akan berkelimpahan harta. Allah tidak pernah meminta kita untuk terus menerus memikirkan harta. Perintah di ayat ini jelas bukan? Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka SEMUANYA itu akan ditambahkan kepadamu. Semuanya disini mencakup apa sih? Bahwa penyertaan Tuhan akan selalu menyertai kehidupan kita hari lepas hari. Bahwa segala hal yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita akan membuat kita cukup dan mampu untuk hidup untuk memuliakanNya.

Apakah itu berarti kehidupan kita tanpa pergumulan? Justru pergumulan akan semakin besar, tetapi di dalamnya ada rencana Tuhan, dan pergumulan itulah yang akhirnya membuat kita dewasa di dalam Dia hari lepas hari. Jadi pertanyaannya adalah, kepada siapa kita menyerahkan kehidupan kita? Apakah ada suatu hal yang membuat kita kuatir setelah begitu banyak hal yang sudah Allah kerjakan atas kehidupan kita? Ia telah menyerahkan hal yang paling berharga – AnakNya yang tunggal – untuk kita dapat menerima keselamatan. Ia telah menyediakan begitu banyak berkat atas kehidupan kita. Kasih, sukacita, damai sejahtera… kurang apalagi? Lepaskan pengaruh mamon itu dari dalam kehidupan kita – dan rasakan kasihNya yang diberikan atas hidup kita sampai selama-lamanya.


Soli Deo Gloria