Total Pageviews

Showing posts with label personal. Show all posts
Showing posts with label personal. Show all posts

Sunday, May 26, 2013

Sukses Adalah Mengerjakan Rencana Allah Dalam Kehidupan Kita


Pernahkah kita dengar slogan: “SUCCESS IS MY RIGHT”? Tentu saja setiap kita yang pernah bekerja ataupun mengikuti seminar-seminar motivasi sangat asyik sekali manakala pembicara mengajak kita untuk berteriak bersama-sama slogan tersebut. Bukan hanya di seminar motivasi, bahkan di gereja pun terkadang mengajarkan seminar semacam ini, tapi tetap saja sebenarnya pembicara yang diundang merupakan seorang motivator.

Sepintas anggapan tersebut memang sangat benar. Kesuksesan itu semulanya berawal dari diri sendiri juga. Menjadi seorang yang sukses adalah hak kita! Ya benar! Manakala kehidupan kita dipenuhi oleh harta dan tahta, tentu seseorang merasa bahwa dirinya sudah sukses. Orang menjadi puas dan kemudian dari pertanyaan “hari ini makan apa?” menjadi pertanyaan “hari ini makan SIAPA”.

Inilah realita hidup di dalam dunia yang jatuh di dalam dosa. Apabila kita belajar untuk mengamati bahwa kecenderungan perkembangan teknologi dan masyarakat saat ini mengarah kepada teknologi yang ‘personalized’, dan mengakibatkan perasaan bahwa manusia adalah center of attention. Lihat saja berbagai social media yang saat ini lebih digunakan untuk memamerkan sesuatu, seolah-olah seluruh dunia harus tahu apa yang sedang kita rasakan dan kita lakukan. Aktivitas sehari-hari menjadi suatu aktivitas yang harus dipublikasikan.

Realita ini menunjukkan bahwa ternyata hidup itu adalah tentang “aku” dan “diriku”. Kalau bisa ya juaranya AKU, dan akhirnya menimbulkan suatu budaya narsisistik. Budaya yang mana mengutamakan diri sendiri dan menganggap bahwa yang paling membanggakan bagi seseorang adalah manakala ia dipuji dan eksistensi dirinya diakui oleh orang lain, tanpa peduli apapun cara yang ia lakukan untuk mencapainya.

Namun apakah kehidupan ini hanya untuk diri sendiri saja? Saya rasa tidak. Mau tidak mau, kita selalu berinteraksi dengan orang lain di sekitar kita. Dulu saya ingat jaman saya sekolah ketika ditanya: “kalau besar, kamu mau jadi apa?” jawaban yang sangat umum kita dengar adalah “dokter”. Namun sekarang saya membayangkan, apabila semua orang berprofesi menjadi seorang dokter, dan dokter dianggap sebagai pekerjaan yang paling top, maka tidak akan ada produk-produk teknologi tinggi yang mulai marak saat ini.

Saya teringat suatu kisah dari rekan saya, yang mana ia adalah seorang yang sangat kaya dan punya posisi penting di dalam pekerjaannya. Selain itu dia adalah seorang yang sangat pandai dan cerdik, sehingga disukai semua orang disekitarnya. Suatu hari, dia sharing kepada saya tentang bagaimana ternyata hidupnya sangat berat dan dia hampir saja memutuskan untuk bunuh diri. Ironis bukan? Seorang kaya dan pintar, dia punya segalanya, namun hampir memutuskan untuk bunuh diri? Ternyata dia masih saja tidak puas dan tidak puas akan apapun yang ia miliki. Kesuksesannya adalah mengumpulkan sebanyak mungkin uang dan harta, namun satu poin yang ia tidak punya adalah bagaimana ia struggle untuk menghadapi masalah. Hal yang ia lakukan kemudian adalah ia mulai mencoba untuk ke gereja dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Saat itu pula ia sadar bahwa kita punya kepintaran dan kekayaan sebanyak apapun, ternyata di hadapan Tuhan, kita ini nggak lebih dari butiran debu.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa kalau tujuan kita di dunia ini hanya berjuang dan berjuang sambil terus mengagung-agungkan diri kita sebagai center of the world, sebagai pusat dunia, maka bisa-bisa kita “hilang”. Mengutip perkataan Max Lucado “Ketika Tuhan memandang kepada pusat alam semesta, Dia tidak memandang kamu”[1]. Bukankah ini menarik? Kita ini sebenarnya bukan siapa-siapa, namun kita sibuk mendapatkan pengakuan dari orang-orang di sekitar kita. Kita jadi iri hati kalau kita tidak diakui sedangkan orang lain diakui. Kita selalu ingin jadi orang yang nomor satu dalam segala hal, namun kita lupa betapa menjadi nomor satu itu sebenarnya bukan tujuan hidup kita!

Pola pikir itulah yang menjadi masalah: kita ingin selalu menjadi nomor satu, dan tidak heran tingginya angka stress dan kematian di Jepang menjadi akibatnya. Sebenarnya ketika kita sudah menjadi nomor satu, mau apa sih? Sistem ranking kemudian dibuat, dan pada akhirnya sistem tersebut malah menghancurkan mentalitas manusia. Sistem ini akhirnya membentuk suatu budaya “SEGALANYA BOLEH”.

Memang tidak salah untuk kita punya pola pikir bahwa kita ingin menjadi yang terbaik, tetapi di hadapan siapa kita ingin menjadi yang terbaik? Apakah di hadapan Tuhan? Ataukah di hadapan manusia? Kalau kehidupan kita sekadar menjadi yang terbaik di hadapan manusia, kita akan terjebak pada satu posisi dimana kita akan terus menerus tidak puas. Tetapi ketika kita belajar untuk berfokus dengan apa yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita, kita dapat melihat bahwa ternyata penyertaan kedaulatan Tuhan itu bukan hal yang omong kosong. Ketika Tuhan menyatakan diriNya dan kemudian melihat kita sebagai mutiara, maka sebenarnya yang terjadi adalah kita ini berharga. Mau sebrengsek apapun kehidupan kita, ketika kita mulai datang dan berlutut di hadapannya, mengakui bahwa Ia adalah Tuhan kita dan Juruselamat kita, maka Ia akan membebaskan kita. Bukankah alkitab juga menyatakan demikian?

Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
(1Yohanes 1:9)

Berfokus kepada Allah adalah suatu langkah iman, itu berarti bahwa dalam kesuksesan kita pun, kita percaya bahwa yang memberikan semuanya itu adalah Tuhan. Apabila kita sampai memiliki pemahaman bahwa segalanya adalah karena Tuhan, kita pada akhirnya akan dapat berkata seperti Ayub:

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"
(Ayub 1:21)

Apakah kita bisa mengatakan seperti itu manakala hidup kita mengalami hal-hal yang tidak nyaman? Kalau kita sukses, apakah kita masih bisa menyatakan bahwa Tuhan adalah Raja atas kehidupan kita? Bukankah ini suatu tantangan?

Kesuksesan bukanlah apa yang dapat kita capai sendiri. Kesuksesan itu bukan masalah hak kita. Allah yang mengaturnya dan kalau kita belajar melihat itu dari sudut pandang Allah, maka sukses adalah ketika kita bisa berjalan sesuai dengan track yang telah disediakan Allah di dalam kehidupan kita, menyadari providensi nya setiap waktu dan terus bergumul untuk memuliakan Dia sepanjang waktu kehidupan kita. Setiap orang punya jalan kehidupan yang sudah ditentukan oleh Tuhan, tetapi pertanyaannya adalah berapa banyak orang yang menyadari hal tersebut? Setiap kita punya peran, apapun itu, tetapi intinya sama, bahwa kita diciptakan untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia sepanjang waktu.

Soli Deo Gloria!




[1] Max Lucado di dalam bukunya It’s Not About Me (2012)

Thursday, May 9, 2013

Hectic Christianity - Sebuah Refleksi tentang Gaya Hidup Kekristenan


Kehidupan orang Kristen seringkali di dalam suatu kondisi yang sangat hectic. Maksudnya adalah di dalam kehidupan yang begitu cepat bergulir, tanpa adanya suatu kesempatan untuk kita bisa duduk tenang dan terus bekerja bahkan di dalam pelayanan kita sekalipun, baik di gereja maupun di tempat kerja, dan dimanapun, kita bisa kehilangan ketenangan hati kita. Inilah bahayanya ketika kita mulai menjadi orang Kristen yang sudah mulai terlibat pelayanan ataupun kegiatan yang membuat kita tidak bisa lagi menikmati Tuhan di dalam kesendirian kita. Mengapa? Karena hampir tidak mungkin kita punya suatu relasi, suatu waktu yang benar-benar personal dengan Allah.

Inti kehidupan Kristen, yang menjiwainya sebenarnya adalah personal relationship with God. Itu berarti memang kehidupan Kristen adalah kehidupan yang luar biasa, yang mana Tuhan yang imanen, Tuhan yang dekat dengan kita, adalah Tuhan yang ingin bergaul dekat dengan kita. Inilah yang terkadang setiap kita lupa, bahwa di dalam kehidupan kita, suatu saat kita perlu duduk diam sambil merenungkan betapa besarnya karya Tuhan di dalam nafas kita, di dalam kehidupan kita, di dalam hati kita, di dalam setiap hal yang kita lakukan. Suatu waktu yang menjadi sangat indah pada saat kita belajar untuk duduk diam, sambil merefleksikan betapa agung karyaNya di dalam kehidupan kita.

Masa penantian merupakan suatu masa yang membosankan, yang mana kita bisa saja berputar-putar di dalam kita menantikan sesuatu, dan kalau kita tidak sabar, maka kehidupan ini bisa “memakan” kita. Maksudnya? Ya kehidupan akan terus menggerogoti kita dengan berbagai hal yang menarik, yang membuat kita melupakan tujuan utama kita diciptakan sebenarnya untuk apa dan untuk siapa? Apabila kita tidak punya suatu pegangan di dalam menjalani kehidupan ini kita bisa terperangkap.

Ini menjadi suatu peringatan bagi kita. Penantian adalah suatu proses seumur hidup yang mana kita tentu saja melewati berbagai fasa kehidupan di dalam penantian itu. Maka dari itu, apabila kita tidak berhati-hati di dalam proses itu, kita menjadi orang yang tidak sabaran, yang mana pada akhirnya kita menjadi terburu-buru, kita akan missing berbagai poin yang harus kita jalani, akhirnya kita memilih untuk segera menyelesaikannya dengan cara yang tidak benar. Akhirnya kehidupan ini menjadi kehidupan yang sangat melelahkan. Kehidupan menjadi suatu waktu dimana penuh dengan tuntutan dan kita tidak mampu untuk menerima tuntutan itu karena berbagai sebab.

Nah di sinilah kita perlu merenungkan perkataan Tuhan Yesus di dalam injil Matius, di Matius 11:28-30, berbunyi demikian:

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan
(Matius 11:28-30)

Lalu mengapa sebagai orang Kristen kita bisa lelah? Mengapa rasanya menjadi orang Kristen menjadi suatu kehidupan yang penuh tuntutan dan kita tidak bisa merasakan damai sejahtera dari Allah? Mengapa kita melakukan sesuatu namun kita tidak dapat hidup dengan tenang dan dipenuhi aturan-aturan yang mengikat kita? Sebagai orang Kristen, secara komplit alkitab memberikan berbagai aturan dan ketetapan yang sangat mengikat kita, namun juga membebaskan kita. Rasul Paulus menuliskannya di dalam suratnya kepada jemaat di Korintus:

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
(2Korintus 5:17)

Ciptaan baru, kehidupan baru yang diberikan oleh Kristus melalui pengorbananNya di kayu salib membuat kita sadar bahwa kehidupan kekristenan adalah kehidupan yang mengikat, dalam artian kehidupan sebelumnya pun kita juga diikat oleh dosa. Setelah kita percaya akan karya Kristus di kayu salib, itulah momen di mana kita dilepaskan dari kehidupan lama kita dan mengenakan status baru yaitu orang yang sudah ditebus oleh Allah. Dari hamba dosa, menjadi hamba kebenaran. Bukankah ini suatu janji di dalam kehidupan yang tentunya menguatkan kita? Sama-sama menjadi hamba, tapi yang satu adalah menjadi hamba atas feeling guilty kita, atas dosa-dosa kita, dan sebagainya. Setelah menjadi seorang Kristen, kita menjadi hamba kebenaran, yang mana kita mendapatkan suatu anugrah yang luar biasa di dalam kehidupan keseharian kita.

Menjadi seorang hamba tentu saja akan melelahkan, namun menjadi hamba kebenaran jauh lebih menyenangkan! Di dalam kesadaran bahwa Allah yang memegang kendali atas APAPUN yang kita kerjakan, maka sebenarnya kehidupan kita menjadi sesuatu yang menyenangkan. Kita selalu bisa bersyukur atas apapun yang kita alami, termasuk di dalam hal-hal di dalam kehidupan kita yang mana kita punya suatu kerinduan tertentu. Pasangan hidup misalnya, ataupun pekerjaan, berbagai hal lain yang kita nantikan. Kita bisa saja lelah di dalam penantian itu, sungguh! Karena kita berpikir bahwa “Tuhan, ini sudah waktunya! Saya sudah tidak sabar!” dan kita merasa bahwa kita siap mendapatkan sesuatu namun belum mendapatkan jawaban dari Tuhan, akhirnya kita lelah.

Itulah momen di mana kita perlu duduk diam dan tenang dan mulai merenungkan apa yang sudah dikerjakan Tuhan di dalam hidup kita. Tidak perlu jauh-jauh, kalau tidak ada satu hal pun yang terasa baik di dalam kehidupan kita, bukankah kita dapat bersyukur kalau hari ini kita masih bisa hidup? Bukankah kalau hari ini kita masih bisa bernafas dengan gratis, tidak seperti orang-orang yang harus mengenakan tabung oksigen untuk bernafas? Selalu ada ruang untuk kita bersyukur, yang perlu kita lakukan adalah duduk diam dan mulai merenungkan apa yang sudah Allah lakukan dalam kehidupan kita, sampai akhirnya kita bukan hanya bisa mengatakan bahwa Tuhan itu baik, tapi benar-benar menghidupi kalimat itu.

Saya menutup artikel ini dengan sebuah kalimat dari Dr. Ravi Zacharias, sebagai berikut:

"As we move along in our busy life as a businessperson, moving on a hectic pace, pausing to learn the true value of nothing, but moving on and on and on, will you take time enough today to pause and ask yourself, how much God loves you? That He cares for you. Of for those of you who live in insecurities and does not have much more to offer, isn’t it wonderful to know, that He’s given Himself for you. If God could say through Isaiah “what more have I done to you that I’m not already done”, how much more could He said after the cross, where He sends His son to lay down His life for you and for me. God’s love: undeserving, grows on relationship, desperately needed."

(Selama kita menjalani kehidupan kita sebagai seorang bisnisman, yang mana kita hidup di dalam kelelahan dan berhenti sejenak untuk mempelajari hal-hal yang sebenarnya tidak bernilai, dan kita terus bergerak, apakah hari ini kita sudah duduk diam sejenak dan bertanya kepada diri kita sendiri, seberapa besar Allah mengasihi kita dan bahwa Ia memperhatikan kita. Bagi setiap kita yang hidup di dalam ketidakmampuan dan tidak memiliki hal apapun yang kita dapat berikan, bukankah ada satu kabar baik bagi kita, bahwa Dia telah memberikan diriNya bagi kita. Apabila Tuhan dapat berkata melalui nabi Yesaya “Apatah lagi yang harus diperbuat  yang belum Kuperbuat kepadanya?” (kutipan dari Yesaya 5:4), maka seberapa besar yang dapat Ia berikan setelah Ia disalib, yang mana Dia mengirimkan PutraNya yang tunggal untuk menyerahkan nyawaNya bagi anda dan bagi saya. Kasih Allah: tidak layak untuk kita terima, bertumbuh di dalam relasi, dan sangat amat dibutuhkan.)

Semoga tulisan ini bisa mengingatkan kita bahwa di tengah kesesakan kita hidup di dunia ini sebagai orang Kristen, ada banyak hal yang dapat kita lakukan, namun jangan lupakan untuk kita tetap sediakan waktu untuk duduk sejenak saja dan merenungkan karya Tuhan dan apa mau Tuhan di dalam kehidupan kita.

Soli DEO Gloria!

Sunday, April 21, 2013

Who Are You God - Siapakah Engkau Allah?


The very basic question about faith. Ya, itulah pertanyaan yang seringkali dilontarkan pada saat pertama kali kita mengenakan label agama di dalam kehidupan kita. Pertanyaan itu pula yang sampai saat ini pun sering menjadi perdebatan dan memicu ketidaksetujuan dan perpecahan antar iman. Maraknya berbagai diskusi tentang hal ini pun juga menjadi salah satu bukti bahwa sebagai seorang Kristen, mau tidak mau, suka tidak suka, topik ini pun juga akan menjadi suatu pertanyaan bagi setiap kita orang-orang yang percaya.

Kita dapat memahami Allah sejauh di me-reveal hal itu. Revelation / wahyu itu Dia nyatakan di dalam alkitab, yaitu yang disebut sebagai special revelation serta providensia Allah di dalam dunia ini, serta dunia ini sendiri yang disebut sebagai general revelation atau wahyu umum. Berbicara tentang orang Kristen tidak lepas dari kedua hal tersebut. Pertanyaannya adalah, seberapa jauh kita sebagai orang Kristen memahami wahyu tersebut? Setelah kita memahaminya, lalu apa yang selanjutnya harus kita kerjakan?

Mudah sekali bagi kita untuk belajar ilmu tentang Allah, ataupun kita belajar filsafat-filsafat yang mana kita secara kognitif diisi dengan pemahaman-pemahaman yang benar tentang kebenaran firman. Di dalam gereja pun kita bisa belajar banyak hal: doktrin Allah, doktrin Tritunggal, doktrin Kristus, doktrin Roh Kudus, dan sebagainya. Permasalahannya adalah setelah kita belajar tentang doktrin-doktrin tersebut, lalu apa yang mau kita lakukan?

Kita tahu bahwa kita diselamatkan semata-mata karena anugrah, dan itu tertuang di special revelation yang mana sudah dinyatakan dalam alkitab itu sendiri. Namun seringkali hal ini membuat kita jadi lupa tentang wahyu itu sendiri serta lupa tentang Allah kita. Kita tahu bahwa kita memiliki Allah, tetapi kita lupa siapa Allah itu. Akhirnya hubungan yang dibangun antara kita dengan Allah adalah hubungan yang tidak jelas. Artinya kalau ada butuhnya ya kita menghubungi Allah. Kalau tidak ada butuhnya ya sudah, “emang gue pikirin?”

Inilah menariknya pada saat kita belajar mengenal Allah. Bisakah kita, bahkan kalau boleh ekstrim, melalui pembacaan firman DAN pengalaman hidup kita bisa mengenal Allah yang sejati? Banyak orang tahu bahwa Allah itu baik. Ada pula yang sampai menghapalkan beberapa ayat alkitab seperti Matius 6:33, Roma 8:28, Efesus 2:8-9, Yohanes 3:16, Yohanes 14:6, namun di dalam praktek kehidupannya sehari-hari, ia masih saja tidak dikuasai oleh firman yang dihafalkannya. Kenapa saya tuliskan “DAN”? karena biasanya orang Kristen pada umumnya menyukai salah satunya saja. Mereka hafal ayat alkitab namun mereka tidak tahu apa yang mereka baca dan tidak pernah mengaplikasikannya di dalam kehidupan mereka. Sedangkan ada ekstrim yang lain yakni mereka mengalami “seperti” perjumpaan pribadi dengan Allah, tetapi terjebak di dalam pengalamannya itu sehingga suatu saat kalau Allah merencanakan sesuatu yang tidak sesuai dengan rencananya, imannya bisa hancur lebur.

Tentu sebagai pemuda-pemuda Kristen kita tidak mau terjebak di dalam 2 ekstrim. Yang pertama, terlalu mengandalkan pengalaman kita untuk mengenal Allah, yang kedua, semuanya berdasarkan atas alkitab namun kita tidak pernah mengerti karena terlalu sibuk menghafalkannya. Di atas sudah saya paparkan akibatnya. Pertanyaan “WHO ARE YOU GOD” adalah pertanyaan yang benar-benar esensial, karena hal itu akan mempengaruhi seluruh sikap hidup kita. Kalau Allah kita adalah Allah yang benar, tentu sebagai ciptaanNya pun kita akan berlaku sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah kita.

Bagaimana kita bisa mengenal Allah kita? Seperti yang sudah disebutkan di atas, kita bisa terperangkap di dalam 2 ekstrim. Karena itu kita harus mengkombinasikan keduanya menjadi suatu metode belajar mengenal akan Allah, yaitu melalui suatu saat teduh dan pembacaan firman secara rutin serta didukung dengan suatu tindakan yang mencerminkan firman itu. Logika simple: ketika kita ingin mengenal seseorang tentu saja kita harus mulai berkomunikasi serta membuka suatu relasi dengan dia. Bayangkan saja kita pedekate dengan seseorang, tentu kita belajar untuk membagi hidup kita kepadanya.

YA! Salah satu cara kita belajar untuk mengenal Tuhan adalah dengan share tentang hidup kita kepada Tuhan, dan juga kita belajar mendengarkan apa yang Tuhan mau di dalam kehidupan kita. Caranya? Tentu saja dengan menjalani hidup sesuai dengan apa yang Tuhan mau di dalam firmanNya. Tidak ada cara lain untuk kita dapat mengenalNya.

Kedua: selain kita belajar firman, kita belajar melihat rancangan Tuhan di dalam kehidupan kita. Caranya? Cara paling mudah adalah dengan membuat sebuah timeline atau kisah hidup. Flashback tentang kehidupan kita di masa lalu, masa yang menyenangkan ataupun menyedihkan. Mencatat setiap momen yang sudah Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita untuk kita semakin mengerti apa yang sebenarnya sudah dirancangkan Tuhan dan apa yang kira-kira akan dikerjakan Tuhan melalui kehidupan kita.

Memang bukan hal yang mudah untuk mengerti hal tersebut. Proses itu perlu pergumulan seumur hidup. Sampai suatu saat nanti kita bisa berkata seperti Daud bahwa tidak ada seorangpun yang ia ingini selain daripada Allah sendiri. (Mazmur 73:25). Saking dekatnya relasi Tuhan dengan Daud membuatnya dapat mengatakan bahwa segala hal tidak dapat menggantikan Allah.

Jadi? Siapakah Allah itu? Siapakah Engkau Tuhan? Pertanyaan itu tentu perlu kita renungkan dan pergumulkan setiap saat. Mari belajar untuk terus menggumulkan hal itu sampai suatu hari kita dapat mengatakan siapa Allah itu, bukan kata doktrin, bukan hanya kata alkitab, tetapi di dalam kehidupan kita sekalipun kita memperkatakan bahwa “Allah Bapa, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus, itulah Allah. Ialah Allah yang hidup dan berkuasa atas kehidupanku, dan kepadaNya lah aku berkomitmen untuk setia sampai akhir hidupku”

Soli Deo Gloria

Sunday, January 6, 2013

You Will Never Walk Alone


Bukan karena saya seorang Liverpudlian maka saya mengangkat tema ini. Satu perenungan di dalam kalimat ini mau saya masukkan di dalam pemahaman sebagai kita orang Kristen yang selalu memiliki Tuhan dan seharusnya hal itu membuat kita bersyukur selalu atas apa yang sudah berikan di dalam kehidupan kita. Kalimat ini menurutku memiliki makna yang cukup dalam, yang mana membuat kita sadar bahwa sebenarnya kita tidak pernah berjalan sendiri, namun selalu ada pertolongan Tuhan di dalam kehidupan kita.

Tidak ada seorangpun yang hidup sendiri – di dalam pengertian bahwa Allah akan selalu membimbing kehidupannya. Problematika yang terjadi di dalam kehidupan seseorang adalah pada saat dia sebenarnya didekati oleh Tuhan, tetapi dia berusaha “menjauh” dan melupakan tanggung jawabnya. Lupa bahwa sebenarnya di dalam setiap proses hidupnya, Tuhan sedang mengerjakan sesuatu di dalam hidupnya.

Tidak mudah bagi kita untuk menikmati Allah sepanjang kehidupan kita. Seringkali kita melupakan kebaikan Tuhan, karena suatu kondisi yang tidak menguntungkan kita. Kita lupa Roma 8:28, atau kita ingat tapi tidak mau mempedulikan hal itu. Segala sesuatu yang terjadi di dalam kehidupan orang percaya itu seturut dengan apa yang Tuhan mau di dalam hidupnya. Allah kita adalah Allah yang setia, Allah yang mengenal pribadi kita. Allah kita adalah Allah yang bahkan jauh lebih mengerti tentang jalan kehidupan kita daripada kita sendiri. Kok bisa begitu? Karena Allah yang merencanakan segala sesuatu.

Inilah yang saya maknai selama 23 tahun saya hidup. Tidak selamanya kebaikan Tuhan itu membuat kita tersenyum secara langsung. Tetapi saya dengan jujur mengatakan bahwa proses yang Tuhan berikan itu seringkali bukan proses yang mudah. Kehidupan seringkali membuat kita menjadi “galau” dan stress, serta membuat kita lupa tentang Allah. Tertangkap oleh kasih karunia Allah itulah yang seharusnya membuat kita mengingat bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sedikit pun di dalam kehidupan kita.

Seringkali juga kita stress menanti janji Tuhan di dalam kehidupan kita. Namun kita lupa bahwa di tengah stress itu sedang menanti sesuatu yang jauh lebih besar daripada apa yang kita bayangkan. Sekalipun hal itu tidak kunjung datang, dan kita harus ingat posisi perjanjian kita. Kita tidak sedang dalam posisi menawar. Kita sering minta-minta janji Tuhan, padahal Tuhan tidak pernah berjanji. Bukankah itu sama saja kita memaksa Allah, dan kalau kita memaksa Allah, siapa Allah di dalam hidup kita?

Tuhan selalu menyertai kita, itu pasti. Tuhan selalu memberikan yang baik bagi kita, itu juga sudah pasti. Pertanyaannya adalah: seberapa kita memaknai kebaikan Tuhan di dalam kehidupan kita? Apakah kita sadar bahwa apapun yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita, itu sebenarnya adalah untuk kebaikan kita? Masalah dan berbagai bencana ada, itu juga untuk melatih kita. Kita bukan diciptakan Tuhan untuk sesuatu yang main-main, jauh lebih berharga!

You’ll Never Walk Alone. Kamu tidak pernah berjalan sendiri, tidak akan pernah, karena Tuhan selalu beserta. Soli Deo Gloria

Wednesday, December 26, 2012

Christmas Reflection - Allah yang Mengambil Rupa Seorang Hamba


Meriahnya Natal di seluruh dunia, di Indonesia pun juga sangat meriah. Gereja-gereja juga mempersiapkan berbagai macam acara natal dan mengundang artis-artis untuk dapat mengisi acara mereka. Mall-mall penuh dengan lagu-lagu natal dan diskon, gereja menambah kapasitas mereka untuk menampung lebih banyak lagi jemaat, dan berbagai kemeriahan lain yang menunjukkan keseriusan di dalam merayakan kelahiran sang Juruselamat.

Sementara di sudut lain di Indonesia, orang-orang berusaha merayakan natal mereka masih bergelut dengan ijin gereja, bagaimana di dalam perayaan natal di daerah juga masih saja diteror oleh ketakutan. Bukan hanya terror, namun benar-benar dilakukan eksekusi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Sementara banyak orang yang merayakan natal secara luar biasa megah, ada juga orang-orang yang bahkan di dalam kesederhanaan mereka, mereka tetap belajar untuk merayakan sukacita kelahiran Tuhan Yesus.

Refleksi kali ini adalah mengajak setiap kita merenungkan berita kelahiran Tuhan Yesus, namun dari suatu sisi yang lain. Apabila diperhatikan mengenai kelahiran Tuhan Yesus, tidak dapat lepas dari realita bahwa Ia adalah Allah, yang mengambil rupa manusia, yang mana sebagai HAMBA (Filipi 2:1-11). The whole story – keseluruhan berita alkitab berfokus kepada Allah dan bagaimana peran Allah di dalam kehidupan manusia.

Berita lain di dalam alkitab kalau kita membaca di Yohanes 3:16, sangat jelas apa yang menjadi kerinduan hati Allah di dalam dunia ini. Bukan hanya ayat 16, bahkan sampai ayat 18 mempertegas kembali peran Tuhan Yesus. Pendamaian yang diberitakan di dalam alkitab – pemulihan relasi antara Allah dan manusia hanya dimungkinkan di dalam pengorbanan Sang Anak Domba Allah. Sang Raja itu mengambil rupa seorang HAMBA, dan inilah sesuatu yang menarik di dalam alkitab dan kekristenan. Allah yang almighty menjadi Allah yang menjadi slave.

Teladan itulah yang sebenarnya perlu untuk kita pelajari di dalam kehidupan kekristenan kita. Kemegahan natal bukan pada hadiah kepada kita – tetapi bagaimana perubahan hidup kita – evaluasi hidup kita akan apa yang Kristus kerjakan di dalam kehidupan kita. Apabila Allah yang mengambil rupa seorang hamba – sampai rela turun ke dalam dunia manusia yang berdosa dan bejat, kita pun sebenarnya dituntut untuk tidak berada di dalam posisi kita sebagai raja. Mengakui secara penuh bahwa kita ini juga adalah hamba-hamba Allah – yang sudah mendapatkan anugrah keselamatan itu. Hal ini akan terus mengingatkan kita bahwa kelahiran Tuhan Yesus itu merupakan sejarah terbesar umat manusia.

Sejarah kehidupan manusia – lahir tua sakit mati – dirombak oleh Kristus, tidak berakhir di dalam kematian, namun di dalam kebangkitan. Kristus yang menjadi anak sulung (Roma 8:29) dan kita akan menjadi saudara-saudaraNya. Bukankah natal adalah momen kelahiran Tuhan Yesus, sang pengubah sejarah kehidupan manusia? Ia membongkar siklus kehidupan manusia, mengubah siklus itu sampai kepada kehidupan kekal, dan bukankah ini yang harus diingat oleh umat manusia? Bahwa tanpa adanya kelahiran Tuhan Yesus di dunia ini, sejarah manusia berakhir kepada kematian saja, artinya bahwa kehidupan sama sekali tidak berarti apapun?

Yuk mengingat esensi natal yang sesungguhnya. Ia yang MAHA TINGGI menjadi HAMBA, menjadi yang PALING RENDAH! Bagaimana tanggapan kita? Apakah kita masih mengharapkan sebuah kado natal? Kado natal yang paling indah itu sudah DIA berikan melalui kelahiran Yesus Kristus. Tanpa Yesus Kristus, semuanya adalah kesia-siaan belaka. Seperti apakah natal yang kita rayakan? Apakah dengan sebuah acara yang megah demi kepuasan kita sendiri? Apakah dengan pohon natal mewah yang penuh dengan kado?

Natal adalah momentum yang Tuhan sediakan bagi kita untuk terus mengingat kembali apa yang Yesus kerjakan. Natal itu mengingatkan kita tentang banyak hal; KESETIAAN Maria dan Yusuf, PENYERAHAN DIRI Maria, IMAN dari Elisabeth, PENYEMBAHAN oleh orang-orang Majus dan para gembala, dan tidak boleh dilupakan juga adalah HAUS KUASA oleh Herodes. Kado apa yang sedang kita persiapkan untuk ulang tahun Tuhan kita? Natal adalah kesempatan bagi kita mengingat kembali – Allah yang MAHAKUDUS turun ke dunia untuk menyelamatkan manusia yang BERDOSA. Ia mengambil rupa seorang HAMBA, hidup di dalam suatu kondisi masyarakat yang menolak Dia, bahkan kematianNya disalib, yang merupakan penghinaan di jaman itu, namun tidak berhenti sampai disana. Kebangkitan Kristus di hari ketiga dan kenaikanNya ke sorga serta berbagai janji Tuhan tidak akan pernah berubah, dan itulah yang mengubah sejarah kehidupan manusia. Mari memaknai kehidupanNya.

Selamat Natal. Tuhan memberkati.

Friday, December 21, 2012

Kenosis – Sikap Hidup Orang Percaya


Sebuah perenungan dari Filipi 2:1-11

Sikap hidup orang yang percaya akan kekristenan memiliki suatu keunikan yang sangat khusus. Kehidupan orang percaya kepada Kristus seharusnya adalah semakin lama semakin serupa dengan Allah. Salah satu hal yang menarik di dalam sifat Allah, khususnya Yesus Kristus adalah sikap hidup “mengambil rupa seorang hamba”. Menyambut natal, tidak dapat dipungkiri bahwa seorang Raja Mulia rela mengambil rupa seorang hamba, menjadi serupa dengan manusia yang sama dengan kita. Sama-sama lapar, sama-sama bisa merasakan kesakitan, sama-sama bisa mati, dan yang paling penting yang tidak kita miliki adalah kebangkitan Kristus – sebagai yang sulung dari antara orang-orang yang percaya.

Salah satu sikap yang perlu direnungkan adalah bagaimana Kristus yang maha mulia bisa menjadi seorang hamba – yang kalau kita tahu pada konteks jaman itu, hamba adalah seseorang yang tidak memiliki arti sama sekali. Maksudnya bahwa hamba itu adalah orang-orang yang memiliki tingkat social yang sangat rendah. Hamba hanya boleh bicara kalau tuannya menyuruh dia bicara. Hamba adalah seorang yang harus melakukan apapun yang diperintahkan oleh tuannya. Hidup seorang hamba ditentukan oleh tuannya.

Apabila Yesus mengambil sikap hidup seperti itu, apa sebenarnya yang dapat kita pelajari?
1.    Ketaatan
Maksudnya adalah ketaatan Yesus di dalam kehidupannya sebagai seorang Imam, Raja, dan Nabi. Sebagai seorang imam, Tuhan Yesus memiliki sebuah keunikan. Imam di dalam Perjanjian Lama memiliki tugas untuk mempersembahkan korban-korban, seperti korban penebus dosa. Kristus sebagai imam besar menjadi menarik karena Ia tidak mengorbankan domba maupun kambing, tetapi di dalam peranNya sebagai imam, Ia memberikan diriNya sendiri sebagai korban penebus dosa manusia. Sikap ini menjadi sangat signifikan di dalam kekristenan. Tanpa penebusan Kristus yang adalah Imam Besar, tidak akan ada keselamatan.

2.    Melayani
Kalau kita melihat di Perjanjian Lama, fungsi raja adalah memimpin suatu negeri ataupun kelompok tertentu untuk dapat memuaskan keinginannya. Selain itu dari peran yang diambil Yesus sebagai seorang Raja, menunjukkan suatu hal – bahwa pemimpin yang baik ialah pemimpin yang mampu melayani orang-orang yang Ia pimpin. Kehidupan Kristus adalah kehidupan seorang Raja yang kalau kita lihat pada konteks jaman itu, sama sekali berbeda dengan bayangan yang dimiliki oleh orang-orang sekitarnya. Apalagi Kristus memproklamirkan diriNya sebagai mesias, yang kemudian para ahli taurat langsung menyebut Dia sesat.

3.    Pemberitaan Kabar
Peran Allah sebagai seorang nabi tidak dapat dilepaskan dari apa yang diberitakan oleh Yohanes. Pada mulanya adalah Firman (Yohanes 1:1) yang mana menunjukkan identitas Yesus sebagai firman itu sendiri. Di jaman Perjanjian Lama, nabi-nabi mengabarkan tentang kedatangan mesias dan merujuk kepada Mesias yang benar-benar kuat. Tuhan Yesus mengabarkan diriNya sendiri pada jaman Perjanjian Baru dengan menyebutkan bahwa Ia telah datang ke dalam dunia, mengambil rupa seorang hamba, yang mana pada akhirnya Ia harus mati di kayu salib. Bayangan mesias yang sama sekali tidak ideal.

Belajar dari ketiga sikap tersebut, sungguh sebenarnya peran-peran itu menunjukkan bahwa Kristus sudah menjalankan 3 fungsi itu dengan luar biasa. Bagaimana dengan kita sendiri? Adakah di dalam pelayanan kita, kita tidak taat kepada Allah, karena kita tidak percaya akan kuasa-Nya yang dapat menyertai kita? Di dalam kita melayani, adakah kita masih memikirkan apa yang kita dapatkan? Apakah jabatan yang kita emban berarti kita merasa bahwa kita memiliki suatu kuasa yang lebih? Apakah di dalam kita memberitakan injil kita malu menutup-nutupi kematian Kristus – suatu hal yang memalukan bagi manusia – dan lupa akan pengorbananNya dan kita melontarkan pernyataan bahwa Allah adalah Allah yang penuh kasih namun tanpa keadilan sama sekali?

Kalau kita punya sikap hidup seperti Tuhan Yesus seperti ini, sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memiliki sikap taat, karena kita dapat melihat ketaatan Tuhan Yesus sampai mati di kayu salib. Ketaatan itu menunjukkan bahwa tidak ada yang dapat menghentikan Karya Allah bagi kehidupan manusia. Adakah kita memiliki ketaatan seperti Allah, sudah tahu bahwa dalam melakukan sesuatu yang benar kita dimusuhi namun kita tetap mau belajar untuk taat? Tuhan tidak pernah menjanjikan kalau kita taat maka hidup kita akan aman-aman saja, sebaliknya Tuhan sendiri berkata bahwa mengikut Dia berarti : pikul salib dan sangkal diri, tidak punya tempat untuk meletakkan kepala kita, dan sebagainya (Matius 8:20, Matius 10:38). Tetapi satu hal yang membuat kita tetap yakin bahwa ada happy ending adalah penyertaan Tuhan yang selalu tepat menurut waktuNya (Wahyu 21:4).

Melayani adalah sesuatu yang sangat susah. Fokus pelayanan bisa berubah dengan sangat cepat, yang mana kita lupa tentang konsep pelayanan yang diberikan Kristus di dalam kehidupan kita. Apabila memaknai pelayanan seperti yang diajarkan oleh alkitab berarti kita belajar bahwa hidup kita adalah melayani dan memberikan nyawa kita menjadi tebusan bagi banyak orang (Markus 10:45). Jangankan menjadi tebusan bagi banyak orang, bahwasanya kita hidup saat ini pun saat jadi atasan kita masih memegang teguh jabatan tersebut. Kita jarang ingat bahwa kalau Tuhan mengijinkan kita untuk ada di dalam suatu jabatan tertentu, itupun sebenarnya karena rencana Allah di dalam kehidupan kita.

Terakhir namun tidak kalah penting adalah injil seperti apa yang sedang kita beritakan. Kalau memaknai kehidupan Yesus, dengan terang-terangan Ia memberitakan injil yang sama sekali tidak enak untuk didengar. Saya selalu membayangkan sekiranya saya ada di jaman Perjanjian Baru dan mendengar Kotbah di Bukit, kira-kira sikap saya seperti apa? Pada saat kita mengenal Kristus, hal yang paling umum terjadi adalah yang dulunya kita tidak pernah mengenal Allah yang sejati, akhirnya kita jadi berani untuk memberitakan Firman yang berdasarkan atas Alkitab itu sendiri. Berapa banyak sekarang gereja memiliki jemaat yang begitu banyak namun mengundang bahkan orang-orang yang non-Kristen yang bahkan dia sama sekali tidak pernah membuka alkitab untuk memberitakan Firman, dan undangan itu bertujuan untuk memuaskan telinga pendengarnya. Firman yang sejati itu tidak hanya memuaskan pendengarnya tetapi juga memberikan suatu teguran dan bahkan sampai kepada pertobatan yang sejati.

Mari kita memaknai kehidupan Tuhan Yesus. Ia yang mengambil rupa seorang hamba, yang setia untuk terus melakukan kehendak BapaNya melayani di dalam keberadaanNya sebagai hamba, dan memberitakan Firman yang benar karena Ia sendirilah Firman Tuhan itu.

Soli Deo Gloria

Monday, December 17, 2012

Life is Grace - Menghidupi Sola Gratia dan Sola Fide


Istilah Sola Gratia, dikenal oleh banyak sekali orang Kristen. Sola gratia – hanya oleh anugrah – merupakan doktrin yang sangat mendasar di dalam iman Kristen. Sola gratia tidak dapat dilepaskan dari sola fide dan sola scriptura. Beberapa orang mengatakan bahwa istilah sola fide sudah tidak ada lagi, artinya bahwa iman kita kepada Tuhan tidak cukup untuk menyelamatkan kita dan membawa kita masuk ke dalam keselamatan yang dijanjikan oleh Allah.

Sola gratia merupakan salah satu doktrin mendasar – yang mana doktrin ini mendasari kehidupan orang Kristen. Orang Kristen yang menanggapi doktrin ini seumur hidupnya akan merasa bahwa hidupnya saat ini hanyalah ditopang oleh kasih Allah semata-mata. Dalam pemahaman tersebut, apapun yang dilakukan oleh orang tersebut seharusnya didasarkan pada kasih Allah di dalam kehidupannya.

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri (Efesus 2:8-9).

Ayat ini mendasari bahwa kehidupan orang percaya didasarkan kepada kasih karunia semata. Akibatnya ada pada ayatnya yang ke-10 yaitu : Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:10) di dalam pemahaman inilah sebenarnya kehidupan manusia harus didasarkan di dalam pemahaman bahwa seluruh hidupnya sudah diatur oleh Allah. Allah sudah merencanakan sebelum dunia dijadikan pun bahwa seluruh umat pilihanNya melakukan pekerjaan baik.

Problematika yang dihadapi saat ini adalah bagaimana orang-orang mulai menganggap bahwa doktrin sola fide adalah sesuatu yang kuno. Keselamatan hanya oleh anugrah di dalam Kristus Yesus dirasa terlalu “mudah” karena semua orang hanya tinggal percaya dan kemudian semuanya akan baik-baik saja. Seseorang dengan mudah mengatakan bahwa pada saat ia sudah percaya, maka ia akan beroleh hidup kekal sementara orang tersebut lupa bahwa ketika sudah mengakui Yesus sebagai satu-satunya juruselamat maka tindak tanduknya pun seharusnya mencerminkan imannya kepada Yesus. Saat ini orang-orang lebih suka bahwa mereka dapat berbangga atas kebaikan dan kesucian pribadi mereka dan dengan itu mereka merasa bahwa mereka layak untuk masuk surga.

Bagaimana kita dapat memaknai hidup oleh anugrah Allah seperti ini? Paulus dengan sangat indah menuliskan doktrin ini di kitab Roma. Kitab Roma merupakan salah satu surat Paulus yang paling sistematis, karena mencakup seluruh realitas hidup manusia secara Christian Worldview. Surat Paulus kepada Jemaat di Roma mencakup seluruh doktrin mulai dari penciptaan, kejatuhan manusia di dalam dosa, ketidakmampuan manusia untuk menyelamatkan dirinya sendiri, karya penebusan oleh Yesus Kristus dan sampai akhirnya menghidupi keselamatan di dalam Kristus.

Nah, kalau sola fide tidak berlaku, maka sebenarnya sola gratia tidak pernah akan ada. Kita  dibenarkan karena iman kita kepada Tuhan, dan anugrah itu diberikan secara cuma-cuma (namanya saja anugrah). Sola fide dipahami di dalam konteks bahwa semua yang kita lakukan berdasarkan atas apa yang Allah kerjakan di dalam kehidupan kita yang memampukan kita untuk berbuat sesuatu yang benar. Tanpa ada penebusan Kristus di kayu salib, nonsense kalau kita dapat berbuat baik, karena standar untuk berbuat baik pun kita tidak pernah tahu. Sola fide bukan berarti kita hanya beriman dan ngomong tok, tetapi justru iman kita diwujudkan dengan perbuatan baik kita, bukan sebagai syarat untuk masuk surga, tetapi sebagai ucapan syukur karena kita sudah ditebus.

Seperti lagu:
Here is love, vast as the ocean,
Lovingkindness as the flood,
When the Prince of Life, our Ransom,
Shed for us His precious blood.
Who His love will not remember?
Who can cease to sing His praise?
He can never be forgotten,
Throughout Heav’n’s eternal days.

On the mount of crucifixion,
Fountains opened deep and wide;
Through the floodgates of God’s mercy
Flowed a vast and gracious tide.
Grace and love, like mighty rivers,
Poured incessant from above,
And Heav’n’s peace and perfect justice
Kissed a guilty world in love.

Let me all Thy love accepting,
Love Thee, ever all my days;
Let me seek Thy kingdom only
And my life be to Thy praise;
Thou alone shalt be my glory,
Nothing in the world I see.
Thou hast cleansed and sanctified me,
Thou Thyself hast set me free.

In Thy truth Thou dost direct me
By Thy Spirit through Thy Word;
And Thy grace my need is meeting,
As I trust in Thee, my Lord.
Of Thy fullness Thou art pouring
Thy great love and power on me,
Without measure, full and boundless,
Drawing out my heart to Thee.



Akhir kata, selamat memaknai sola fide dengan benar. Tanpa iman, kita tidak akan pernah selamat. Iman itupun sebenarnya telah ditetapkan oleh Allah di dalam diri seseorang. Itulah besar dan lebarnya kasih Allah di dalam kehidupan kita. Di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru, itulah makna keselamatan yang sesungguhnya. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2Korintus 5:17). Artinya kehidupan oleh iman adalah kehidupan yang memberikan buah pertobatan yang nyata di dalam kehidupan kita. Kita tidak pernah tahu bahwa kita ini sudah ditebus atau belum, tolok ukurnya adalah biasanya orang yang sudah ditebus akan menjadi resah apabila di sekitarnya masih ada orang-orang yang perlu kasih yang sesungguhnya.

Sunday, December 16, 2012

Karma - Does It Really Exist?



Seringkali orang Kristen terbiasa mengatakan tentang karma. Kalau dia disakiti oleh seseorang, langsung pasang status BBM, Facebook, dan Twitter serta social media lain “KARMA does exist.” Menarik untuk dicermati bahwa sebenarnya sebagai seorang Kristen, kita dituntut untuk kritis dan belajar melihat lebih dalam, suatu terminologi yang populer ternyata tidaklah sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.

Kalau diperhatikan dari asal-usulnya, istilah karma yang biasa dipakai oleh orang-orang pada umumnya dikaitkan dengan suatu pembalasan yang menimpa seseorang karena menyakiti seseorang. Misalkan si A adalah seorang yang menyayangi anaknya. Maka anak si A juga akan tumbuh sebagai seseorang yang menyayangi anaknya lagi, begitu pula seterusnya.

Apakah karma adalah sesuatu yang benar-benar ada? Bagaimana seharusnya orang Kristen memandang karma?

Alkitab memberikan penjelasan tentang penolakan karma, yang mana terdapat dalam injil Yohanes 9. Apabila diperhatikan pada ayat 3, penolakan Yesus terhadap reinkarnasi dan karma terlihat jelas disana. Bukan karena orang tuanya berdosa maka orang tersebut buta, namun karena itupun merupakan rencana Allah yang ada pada orang tersebut.

Orang Kristen yang benar memiliki konsep tabur-tuai. Maksudnya adalah kita menabur di dalam rencana Allah dan pada suatu hari nanti entah sempat atau tidak, hasil taburan itu akan dituai entah diri kita ataupun orang lain. Seluruh kejadian di dunia ini sebenarnya saling berkaitan satu dengan yang lain, konsep pilihan dan pengaruh memegang peranan penting di dalam sejarah kehidupan manusia, yang sudah dikontrol oleh Allah. Seluruh kehidupan kita dikontrol oleh Allah tanpa terkecuali satu titik dalam kehidupan kita pun.

Ketika percaya kepada keberadaan karma, kita sedang di dalam suatu bahaya:
1.  Kita jadi berbuat baik, bukan karena kesadaran bahwa kita sudah ditebus, namun karena kita ingin hal baik juga akan terjadi dalam kehidupan kita. Dasar kehidupan kita akhirnya adalah imbalan dan upah, dan kita menuntut adanya suatu improvement dalam kehidupan kita apabila kita berbuat baik. Kita lupa bahwa Allah sudah merancangkan yang terbaik di dalam kehidupan kita (Roma 8)
2.   Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Hukum terutama yang disampaikan Yesus ini didasari kepada mengasihi Tuhan dengan seluruh jiwa raga kita. Artinya bahwa sumber kasih kita dan perbuatan kita didasari oleh iman kita kepada Tuhan, bukan karena benefit / cost yang akan kita terima. Benefit dan cost sudah diatur oleh Tuhan dan merupakan otoritas dari Tuhan sendiri.
3.  Kritik terhadap karma: berarti orang yang bejat total di masa lalunya, ia akan tetap bejat di masa mendatang. Bagaimana mungkin orang yang jahat di masa lalunya akan menjadi seorang yang baik? Kekristenan memiliki jawabannya: kembali kepada Sang Juruselamat. Karma – yang akhirnya berkaitan dengan reinkarnasi akan memaksa orang untuk hidup dalam kesengsaraan, tidak dapat menikmati kehidupan yang sudah ditebus oleh sang Juruselamat.
4.   Secara tidak langsung, orang Kristen sering menghidupi view tentang karma ini. Apabila disakiti seseorang maka cenderung kita ingin agar suatu saat orang yang menyakiti kita akan disakiti. Hal ini sangat lumrah terjadi dan itulah sebenarnya natur manusia berdosa. Kita harus ingat bahwa penghukuman maupun rejeki, semuanya itu tidak tergantung dari orang yang melakukannya, tetapi karena Tuhan sudah merencanakan hal tersebut. Tuhan adalah pribadi yang tidak dapat disogok dengan perbuatan baik kita. Dosa selalu memiliki konsekuensi logis, namun penghukuman yang dilakukan Allah itu sudah genap di dalam Kristus

Jadi? Selamat berpikir kritis. Kita hidup di dunia yang penuh dengan terminologi populer tanpa tahu makna sesungguhnya dan implikasinya. Bagaimana sebagai orang Kristen kita belajar untuk berpikir kritis atas realita yang ada di sekitar kita? Satu-satunya cara ya mendekatkan diri kepada Tuhan dengan membaca dan merenungkan FirmanNya, karena itulah sumber hikmat dan kekuatan.

Soli Deo Gloria! 

Wednesday, December 12, 2012

Sikap Hidup Orang Percaya


Sikap orang Kristen di dalam menghidupi kekristenannya berbeda-beda. Fenomena ini ditunjukkan dengan berbagai hal yang dapat kita temui di sekitar kita, yang sangat menarik untuk diperhatikan. Sekalipun tidak kelihatan dengan jelas, namun ciri-ciri seperti ini akan Nampak pada saat kita melihat seseorang melakukan sesuatu dan kemudian menyikapi suatu masalah di dalam kehidupannya.

Ada beberapa tipikal orang Kristen menurut saya dalam mereka memandang Tuhan di dalam hidup mereka dan sikap hidup mereka mencerminkan hal itu. Berikut ini klasifikasinya:


  • Berlaku sebagai HAMBA, Tuhan dinilai sebagai TUAN YANG KEJAM

Ciri-ciri orang seperti ini adalah ia memiliki kerohanian yang sangat represif. Maksudnya adalah orang tersebut sebenarnya tidak pernah nyaman di dalam hidup bersama Tuhan. Artinya bahwa ia memang melakukan kehendak Tuhan, namun kerohaniannya itu didasari bukan karena ia mencintai Tuhan, namun lebih karena itu merupakan suatu kewajiban yang menekan dia. Orang tipikal seperti ini gagal untuk menikmati keberadaan Tuhan di dalam hidupnya. Ia memang memuliakan Tuhan (dalam artian sempit) namun tidak diiringi dengan menikmati Tuhan dan anugrah-Nya sepanjang waktu. Artinya bahwa sukacita orang tersebut bukanlah merupakan sukacita Tuhan, begitu pula sebaliknya.
Kerohanian ini mirip dengan kerohanian yang dijalani oleh ahli taurat pada jaman Yesus. Mereka percaya bahwa Mesias akan datang dan mereka mempersiapkan diri mereka dengan bertindak sangat suci, sangat represif. Akibatnya mereka terikat oleh ritual-ritual keagamaan-lupa tentang apa hal riil yang harus mereka kerjakan. Sampai pada saat Tuhan Yesus datang pun mereka gagal mengenali Tuhan Yesus sebagai Mesias. Padahal apa yang dikatakan Tuhan Yesus adalah kuk-Nya itu enak dan beban-Nya ringan (Matius 11:30)


  • Berlaku sebagai TUAN, Tuhan dinilai layaknya ANJING

Tipikal orang Kristen seperti ini adalah orang Kristen yang sangat ­self-centered. Maksudnya adalah ia sangat menikmati berkat Tuhan di dalam kehidupannya, tetapi tidak mau menerima hal-hal negatif yang menimpa dirinya ataupun orang-orang di sekitarnya. Ia lupa bahwa pada saat seseorang diberikan berkat, ada sesuatu yang akan mengikuti berkat tersebut, yaitu kepercayaan dari Allah. Dasar dari imannya adalah berkat Tuhan yang luar biasa. Orang-orang dengan tipikal seperti ini memiliki hati yang bersukacita apabila ia mendapatkan berkat, sampai akhirnya ia “menyogok” Tuhan untuk memberikan sesuatu bagi dirinya. Misalnya bisa saja ia rajin ke gereja supaya dia dapat nilai yang bagus pada waktu ujian. Motivasinya untuk menyembah Tuhan tidak lebih dari agar dia mendapatkan keuntungan pribadi yang tidak berfokus kepada kepentingan Tuhan di dalam kehidupannya.
Kerohanian seperti ini saat ini sebenarnya sangat banyak ditemukan. Berapa banyak orang Kristen saat ini yang datang ke gereja dengan harapan bahwa mereka hanya ingin menikmati berkat, datang ke kebaktian yang kotbahnya memuaskan otak mereka, atau ke kebaktian dengan musik yang indah untuk memuaskan mereka. Inti ibadah akhirnya berubah fokus, dari penyembahan kepada Tuhan, fokus kemuliaan adalah Tuhan, menjadi pemuasan diri dan sekadar pengalaman intelektual.


  • Berlaku sebagai SAHABAT, Tuhan adalah SAHABAT yang SEJATI

Tipikal orang Kristen seperti ini adalah orang yang sangat sadar bahwa dirinya sudah ditebus oleh anugrah. Ia hidup di dalam kesadaran penuh tentang anugrah. Mengerjakan keselamatan karena dia tahu bahwa itulah yang Tuhan mau di dalam kehidupannya. Present his/her body as a living sacrifices, itulah kunci dari kehidupan orang tipikal ketiga ini. Apabila menjalani kerohanian seperti ini, ia dapat bersyukur karena apa yang nikmat bagi Allah, itu pula nikmat bagi Dia. Sukacita Allah adalah sukacitanya. Artinya bahwa apa yang Tuhan mau di dalam kehidupannya, Ia juga sedang mengusahakan hal yang Tuhan mau, sehingga justru kenikmatan sejatinya adalah memuliakan Allah di dalam kehidupannya. Konsep blessed to bless menempel erat di dalam orang tipikal ketiga ini. Ia menyadari bahwa kalau ia diberikan sesuatu hal oleh Allah, ada sesuatu yang Allah akan kerjakan di dalam kehidupannya melalui sesuatu itu.
Orang Kristen seperti ini memiliki rasa haus dan lapar akan kebenaran Firman Tuhan. Ia memiliki perubahan hidup yang jelas karena ia tahu kepada siapa ia bekerja. Ia dengan jelas sadar siapa yang menjadi pusat kehidupannya dan ia tahu akhir hidupnya dengan jelas, dan fokus hidupnya saat ini adalah untuk mencapai kekekalan tersebut.
Seorang sahabat tahu kebutuhan sahabatnya itu. Tuhan mengenal kita satu per satu sampai kepada pribadi kita yang paling brengsek sekalipun Tuhan tahu. Tuhan ingin perubahan hati kita secara mendasar. Kalau menganggap Tuhan sebagai sahabat berarti kita jadi pribadi yang siap dikritik. Kita menjadi pribadi yang berani untuk mengakui kesalahan kita. Kita dituntut menjadi seorang yang mau mengerti apa yang dimaui oleh sahabat kita, bukan karena sahabat kita ingin dikenal, tetapi kita dengan rela hati dan kerinduan itu kita belajar mengenalNya.

Ketika menulis artikel ini pun, saya pribadi merefleksikan sebenarnya bagaimana saya sudah menganggap Tuhan dalam kehidupan saya?  Bagaimana saya memandang Tuhan di dalam kehidupan saya? Saya pun mengajak setiap pembaca untuk merefleksikan hubungan kita dengan Tuhan. Sampai sejauh mana Tuhan menguasai kehidupan kita? Masih adakah hal-hal yang mana kita tidak mau serahkan kepada Tuhan? Mungkin terlalu kotor, terlalu brengsek, terlalu jijik?


Matius 13:44. Ayat ini menunjukkan apa yang akan saudara lakukan kalau saudara menemukan kerajaan sorga itu. Menurut pembaca sekalian, harta itu siapa kalau dari sudut pandang Allah? Ya tentu saja itu adalah saudara dan saya. Oleh karena itu, mari miliki sikap hidup yang benar di dalam menyikapi berbagai peristiwa dan kejadian yang ada di dalam kehidupan kita.

Kalau selama ini kita memiliki kerohanian yang represif, mari belajar menikmati apa yang Tuhan mau, rencana Tuhan yang sedang Ia kerjakan di dalam kehidupan kita. Kalau kita selama ini menganggap Tuhan hanya sebagai anjing, mari belajar untuk menghormati Dia lebih daripada kita menghormati berkat-Nya.

Soli Deo Gloria