Total Pageviews

Showing posts with label apologetika. Show all posts
Showing posts with label apologetika. Show all posts

Friday, July 1, 2016

Saya Adalah Thomas si Peragu! - Terjemahan dari Artikel Michael Licona, Ph.D



Salah satu ciri khas yang aku miliki adalah bahwasanya aku merupakan seseorang yang terus menerus memiliki pertanyaan dalam hidup. Rasanya aku memiliki pertanyaan-pertanyaan mengenai apapun. Aku tidak mau membuat sebuah keputusan yang salah, bahkan di dalam hal-hal yang remeh temeh sekalipun. Jadi sangatlah wajar jika aku memiliki berbagai pertanyaan dan keraguan yang mendalam di dalam hal-hal yang penting. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang aku sengaja, bahkan terkadang membuat aku frustasi. Tetapi begitulah aku apa adanya.

Hal ini menyebabkan aku acap kali meragukan iman Kristianiku; terkadang bahkan aku hampir meninggalkan iman Kristen. Aku bertanya kepada diriku sendiri, “Apakah aku sedang dicuci otak? Apakah aku tidak dapat berpikir secara objektif karena aku diajarkan untuk percaya? Bagaimana kalau ternyata aku salah?” Aku memiliki damai sejahtera yang dijelaskan oleh Paulus sebagai sebuah penjelasan mengenai Roh Allah yang berarti aku adalah milik Kristus (Roma 8:16); setidaknya untuk sementara waktu. Tetapi orang-orang Mormon juga memiliki klaim bahwa mereka memiliki kedamaian dari Allah, begitupula pengikut agama-agama lain. Tentu saja keseluruhan klaim itu tidak mungkin benar seluruhnya jika Kekristenan benar, karena banyak agama lain berkontradiksi terhadap kepercayaan mereka sendiri. Jadi bagaimana aku dapat mengenali bahwa kedamaian yang aku miliki adalah berasal dari Allah? Itu adalah sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Dan sejujurnya, aku masih belum mengetahui jawabannya

Tetapi ketika aku mengalami keraguan di tahun 1980-an, seorang profesor filsafat mengerti seperti apa kondisiku karena dia juga memiliki kecenderungan untuk bergumul dengan keraguan-keraguan. Aku tidak diajar oleh Gary Habermas, karena dia mengajar di departemen filsafat, dan aku ditempatkan di Pelajaran Perjanjian Baru. Tetapi Habermas membantu aku untuk mengerti keraguanku dan bagaimana aku dapat meyakininya. Dalam tulisan berikut ini, aku mencoba untuk menggabungkan pemikiran Habermas dengan pemikiranku. Aku memiliki kabar baik bagi anda yang bergumul dengan berbagai keraguan dalam hidup anda: Anda dapat menghadapinya dengan melakukan empat hal berikut:

Tindakan #1: Pahamilah bahwa keraguan adalah sesuatu yang wajar. Abraham bertemu dengan Allah yang memberitahukan dia bahwa dia akan memiliki keturunan yang mana darinya akan lahir bangsa yang besar. Namun ketika nyawa Abraham berada di dalam bahaya, dia berbohong untuk menyelamatkan dirinya sendiri, sekalipun dia menyadari bahwa janji Tuhan kepadanya mengenai anak tersebut belum dipenuhi (Kejadian 12). Seseorang bisa berpikir bahwa dia seharusnya percaya kepada Allah untuk menyelamatkan dia. Namun kenyataannya dia berbohong, dan Tuhan campur tangan untuk menyelamatkan istrinya Sarah kepadanya, yang dibawa karena kebohongannya. Kemudian kita meloncat ke 8 pasal berikutnya. Abraham dihadapkan pada situasi yang serupa. Namun kali ini dia tahu dia dapat mempercayai Allah untuk dapat melindunginya tanpa dia harus berbohong. Emm, tetapi ternyata tidak begitu. Abraham sekali lagi meragukan janji Allah dan mengulang kesalahannya. Dia berbohong kepada Firaun yang menjadikan Sarah sebagai gundiknya, dan sekali lagi Allah harus campur tangan.

Sekalipun kita melihat kisah hidupnya, Abraham tercatat dalam daftar orang-orang yang memiliki teladan iman dan dicatat dalam hall of fame mengenai iman (Ibrani 11). Faktanya apabila kita mencari Most Valuable Player (MVP) dalam daftar tersebut, itulah Abraham.
Yohanes Pembaptis adalah sepupu Yesus. Keduanya lahir dalam karya mujizat Allah. Yohanes kemudian akan membaptis Yesus, melihat Roh Kudus turun atas Dia, dan mendengarkan suara dari sorga yang mendeklarasikan ke-Allah-an-Nya. Yohanes kemudian dipenjara, dan terkadang saat dia dipenjara, dia mengirimkan murid-muridnya untuk mencari tahu apakah Yesus benar-benar Mesias atau mereka harus menunggu orang lain. Bagaimana mungkin Yohanes menanyakan hal tersebut, setelah dia mendengar sendiri keajaiban dari kelahirannya dan kelahiran Yesus; dan mengalami sendiri mujizat pembaptisan Yesus? Perasaan Yohanes manakala dia dipenjara membawa dia kepada keraguan emosional. Dia telah mengetahui buktinya. Tetapi kehidupan tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Faktanya, hidupnya begitu tidak nyaman saat itu. Yesus mengetahui hal tersebut. Dia meminta murid-murid Yohanes untuk kembali kepada Yohanes dan memberitakan mujizat yang Yesus lakukan, mujizat yang merupakan tanda dari kehadiran Mesias (lihat Dead Sea Scroll 4Q521, Yesaya 51:1-2; Lukas 4:16-21). Setelah murid-murid meninggalkan dia, Yesus mengalihkan perhatiannya pada orang banyak di sekitarnya. Semua mata tertuju pada-Nya. Apa yang Yesus katakan kepada mereka yang mana baru saja menyadari bahwa “orang dalam-Nya” mengalami keraguan dalam hidupnya?

Setelah murid-murid Yohanes pergi, mulailah Yesus berbicara kepada orang banyak itu tentang Yohanes: "Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian halus itu tempatnya di istana raja. Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi. Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.
(Mat 11:7-11)

Perhatikan bahwa Yesus tidak menyalahkan Yohanes karena dia ragu-ragu. Sebaliknya, Ia menyediakan bukti, menguatkan dia, dan memuji dia, berkata bahwa tidak ada yang lebih besar daripada Yohanes. Menariknya bahwa Ia mengatakan ini manakala Ia sadar betul Yohanes sedang bergumul dalam keraguannya.

Melihat contoh Abraham dan Yohanes  yang mana mereka dapat jatuh dalam keraguan mereka saat menikmati berkat Tuhan, Allah mengenal bagaimana kehidupan kita dan Ia adalah pribadi yang Maha Pengasih. Banyak orang Kristen tidak pernah mengalami keraguan. Namun bagi mereka yang pernah, ada sukacita bahwa ternyata kita memiliki rekan-rekan yang senasib dengan kita layaknya Abraham dan Yohanes Pembaptis. Orang-orang yang ragu atas iman mereka bukanlah warga kelas dua dalam kerajaan Allah.

“Tunggu sebentar, hal itu mungkin dapat berhasil bagi orang-orang yang mendengar dari Allah secara langsung dan melihat mujizat yang dilakukan Yesus. Tetapi sepertinya hal tersebut tidak akan banyak mengubahkan aku, karena aku tidak pernah melihat mujizat yang Ia kerjakan.” Aku memahami hal tersebut. Semua yang aku tuliskan hingga poin ini barulah langkah awal untuk menghadapi keraguan hidup: bahwa keraguan itu merupakan suatu hal yang wajar.

Tindakan #2: Ingatlah bahwa ada pembuktian yang komprehensif di yang mendasari kebenaran Kekristenan. Sekalipun kita tidak dapat masuk ke dalam mesin waktu, kembali ke masa lalu dan menyaksikan mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus, kita memiliki bukti historis yang begitu kuat mengenai mujizat terbesar yang pernah terjadi: KebangkitanNya. Gary Habermas memiliki pengetahuan yang begitu komprehensif dibandingkan orang lain. Seseorang dapat berkata, “diantara wanita-wanita yang pernah lahir, tidak pernah ada orang lain yang memiliki pengetahuan yang lebih lengkap mengenai kebangkitan Yesus dibandingkan dengan Gary Habermas”

Apabila Yesus bangkit dari kematian, Kekristenan pasti benar. “Namun,” anda dapat berpikir, “kebangkitanNya dicatat di dalam alkitab. Bagaimana saya dapat mengetahui bahwa alkitab itu sesuatu yang benar? Apakah aku harus menerima kenyataan itu hanya berdasarkan iman?” Selama pertemuan pertama dengan Profesor Habermas untuk berdiskusi mengenai keraguan saya, ia memberikan penjelasan singkat mengenai kebangkitan Yesus secara historis. Aku begitu tenang saat mengetahui bahwa ada bukti yang begitu nyata. Tetapi sejujurnya, penjelasan itu bukan berarti akhirnya aku tidak mempertanyakan bukti itu kembali. Bukti-bukti itu tidak 100% membuat saya yakin. Hal ini sama sekali tidak mengganggu Habermas. Ilmu pengetahuan pun juga tidak dapat menyediakan bukti yang begitu meyakinkan mengenai hal-hal yang mereka selidiki. Investigasi ilmiah dan historis tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap iman kita. Kita perlu melihat penjelasan terbaik dari data yang sudah ada dan mengambil satu titik yang cukup untuk kita dapat mempercayai suatu hal, sama seperti ketika kita akan mengambil keputusan-keputusan dalam kehidupan kita. Sisanya adalah iman dan hal ini berlaku bagi wawasan dunia apapun, apakah anda orang Kristen, Yahudi, Muslim, Hindu, Buddha, atau ateis. Namun keangkitan Yesus dapat dikatakan begitu unik jika melihat bukti yang begitu kuat untuk meyakinkan kita.

Tindakan #3: Ingatlah bahwa kepastian yang absolut adalah suatu ekspektasi yang tidak masuk akal. Beberapa orang hidup di dalam iman tanpa pernah merasakan keraguan. Ya, itu hal yang bagus. Tetapi beberapa dari kita suka menghubungkan segala sesuatunya dan kita tidak dapat merasakan damai sejahtera seperti itu. Beberapa tahun yang lalu, aku mendapatkan sebuah momen yang merupakan momen perubahan hidup. Aku menyadari bahwa imanku hanyalah salah satu hal yang aku pertanyakan dalam hidupku. Aku menyadari bahwa aku telah menyesali berbagai keputusan yang aku ambil jauuuuuhhhh setelah aku membuat keputusan tersebut. Ini adalah sebuah keunikan yang aku miliki sejak dalam masa kecilku dan aku membenci keunikan itu. Kita tidak hanya berbicara mengenai keputusan-keputusan yang pentingm seperti pemilihan pasangan hidup. Terkadang aku melihat diriku dan terus menimbang, menimbang, dan menimbang hal-hal yang sekiranya tidak esensial, seperti barang-barang yang aku akan beli: jam tangan, mobil, parfum… Kesadaran inilah yang membantu aku mengerti mengapa aku mengalami keraguan: yakni sikap menghubung-hubungkan dan kekuatiranku terhadap sesuatu. Bagiku, kepastian yang absolut adalah suatu ekspektasi yang tidak masuk akal. Jadi aku belajar untuk hidup dalam damai sejahtera dengan kepastian yang masuk akal.

Tindakan #4: Sadarilah bahwa iman lebih dari sebuah perasaan atau keadaan tanpa keraguan. Iman adalah sebuah komitmen. Seseorang datang kepada Yesus dan meminta Dia untuk menyembuhkan anaknya yang kerasukan. Dia memiliki iman di dalam Yesus (intinya, ia datang kepada Yesus untuk meminta tolong) tetapi ia meminta Yesus untuk membantu dia mengatasi ketidakpercayaannya. (Markus 9:24). Dia bergantung pada Yesus untuk menyembuhkan putranya, sekalipun imannya sama sekali tidak sempurna. Petrus berjalan di atas air dan mulai tenggelam ketika ia menjadi takut karena badai dan akhirnya ia mengalami keraguan (Matius 14:28-31). Namun Petruslah yang berada di luar, yang berani untuk keluar manakala murid-murid yang lain melihat dari dalam perahu. Bagi pengikut Kristus, iman adalah mempercayakan dirinya hanya kepada Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat. Tidak ada gunanya ketika kita mendua hati dengan menjadi seorang Kristen sembari menjadi seorang Muslim atau Hindu. Menjadi pengikut Kristus berarti bahwa ketika aku berhhadapan dengan keputusan-keputusan moral di dalam kehidupan kita, aku memilih jalan yang sudah diajarkan oleh Yesus. Aku tahu bahwa aku dapat mengambil jalur lain kalau Kristus tidak bangkit. Tetapi aku memilih untuk taat kepada Yesus karena aku percaya kepadaNya. Aku mungkin masih memiliki beberapa keraguan yang mengganggu hidupku. Tetapi iman membuatku menang dan menentukan tindakan-tindakan yang aku ambil. Seperti yang dikatakan oleh saudara Yesus, "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." (Yakobus 2:18b)

Sebagai kesimpulan, ada empat tindakan yang dapat kita lakukan ketika berhadapan dengan keraguan:
Tindakan #1: Pahamilah bahwa keraguan adalah sesuatu yang wajar.
Tindakan #2: Ingatlah bahwa ada pembuktian yang komprehensif di yang mendasari kebenaran Kekristenan
Tindakan #3: Ingatlah bahwa kepastian yang absolut adalah suatu ekspektasi yang tidak masuk akal.
Tindakan #4: Sadarilah bahwa iman lebih dari sebuah perasaan atau keadaan tanpa keraguan. Iman adalah sebuah komitmen

Sunday, June 15, 2014

Beauty of Christianity - The Trinity

Pembukaan
“Mana mungkin Allah bisa tiga tapi satu, atau satu tapi tiga?” Pertanyaan itu sering sekali dilontarkan kepada kita, orang-orang Kristen yang mempercayai doktrin Allah Tritunggal. Istilah “Tritunggal” sendiri tidak pernah dituliskan di dalam alkitab. Hal ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bahwa ternyata alkitab secara tersurat tidak pernah menyebutkan kata tersebut, tetapi di sepanjang alkitab, ada banyak kalimat yang tersirat yang menunjukkan bahwa Allah kita ialah Allah Tritunggal.

Sebelum masuk kedalam pembahasan lebih lanjut, kita mencoba untuk terlebih dahulu mengerti tentang siapa kita dan siapa Allah. Kitab Kejadian menuliskan mengenai siapa kita, yakni ciptaan. Allah ialah pencipta. Jadi ada satu gap  yang luar biasa antara kita dengan Allah. Allah sebagai pencipta ialah pribadi yang tidak terbatas, dan manusia sebagai ciptaan ialah pribadi yang sangat terbatas. Mengapa saya menuliskan hal ini di awal? Implikasi dari hal ini ialah bahwa kita tidak mungkin memahami 100% mengenai Allah. Ada bagian yang Allah ijinkan untuk kita dapat mengerti, dan ada pula hal yang unrevealed, yakni hal yang merupakan misteri.

Dasar pemikiran tersebut membuat kita sebagai ciptaan seharusnya tidak akan mampu menjelaskan secara komplit dan benar secara 100% mengenai Allah, namun bukan berarti bahwa kita tidak belajar untuk mengerti. Ada hal-hal yang ditunjukkan kepada kita sebagai manusia yang terbatas untuk kita pahami.

Analogi Yang Tidak Sempurna
Ada berbagai analogi mengenai Allah Tritunggal, dan kita perlu berangkat dari suatu pemikiran bahwa analogi tidak pernah menggambarkan secara 100% kondisi riil. Contoh analogi yang mungkin seringkali kita dengar tentang Allah Tritunggal adalah mengenai matahari, ada kalanya matahari memiliki sinar, panas, dan cahaya. Sama juga Allah kita memancarkan ketiga hal tersebut, tetapi hakikatnya, Ia adalah matahari. Ada pula sebuah contoh seperti misalkan saya dengan berbagai peran saya. Di rumah, saya menjadi seorang anak, di perusahaan sebagai seorang staff, dan di gereja saya berperan sebagai seorang jemaat.

Analogi-analogi tersebut berusaha untuk menjelaskan seperti apa Allah Tritunggal itu, tetapi tidak ada yang sanggup untuk menjelaskan mengenai terperinci mengenai Allah Tritunggal. Mengapa?
1.       Karena status kita sebagai ciptaan, sehingga kita tidak mungkin dapat mengenal 100% pencipta kita
2.       Penggunaan pendekatan Filsafat di dalam kita berusaha untuk mengerti pribadi Allah.

Sekalipun ada berbagai analogi, ternyata kalau kita melihat lagi bahwa ternyata analogi-analogi tersebut masih memiliki berbagai kelemahan. Tentu saja, karena analogi tidak pernah dapat 100% menjelaskan mengenai sebuah hal yang dianalogikannya. Apabila filsafat ternyata gagal untuk memahami siapa Allah yang sebenarnya, maka pendekatan apa yang dapat kita gunakan? Karena Allah Tritunggal ini ditunjukkan oleh alkitab, maka untuk mencoba memahaminya, kita perlu melakukan pendekatan dari alkitab juga.

Melihat Kitab Kejadian
Sejak kitab Kejadian, kita bisa melihat dengan begitu unik bagaimana ketritunggalan Allah. Kejadian 1:1 di dalam alkitab Bahasa Indonesia berbunyi demikian:

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

Dalam bahasa Ibrani, kata yang digunakan untuk padanan kata Allah digunakan untuk menunjukkan plural. Artinya bahwa Allah di sini lebih dari satu. Namun pada kata “menciptakan”, digunakan verb untuk subyek dalam bentuk singular. Kemudian masih di kitab Kejadian 1, pada ayatnya yang kedua.

Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

Kata “Roh Allah” disini juga menunjukkan bahwa Roh Kudus sudah ada saat peristiwa penciptaan. Ini merupakan sebuah penegasan mengenai Allah.

Kemudian juga kita melihat di Kejadian 1:26

Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."

Baiklah “KITA”, bukan saya, ataupun yang lain. Tetapi sama kasusnya seperti pada Kejadian 1:1, kata kerja yang mengikutinya adalah bentuk tunggal, bukan bentuk jamak.

Melalui beberapa contoh tersebut dapat kita lihat bahwa Alkitab dengan begitu jelas menunjukkan bahwa Allah bukanlah tauhid, tetapi ada sebuah keunikan. Kata kerja yang digunakan adalah bentuk tunggal, sedangkan kata Allah sendiri dalam bentuk jamak.

Yesus sebagai “Anak Allah”
Menjadi sebuah perdebatan yang begitu sengit pula ketika kita melihat di dalam Perjanjian Baru mengenai Yesus. Orang Kristen percaya bahwa Yesus ialah Anak Allah, namun juga Ia sendiri adalah Allah. Muncul sebuah pertanyaan yang begitu sering ditanyakan oleh orang, “Kapan Yesus menyebut dirinya sebagai Allah?” dan juga ada pertanyaan lain seperti ini: “Apakah Yesus sebagai Anak Allah, berarti Dia adalah anak biologis dari Allah?”

Mari kita coba melihat sebuah contoh yang begitu riil. Misalkan kita saat ini kuliah di universitas X. Saat kita bertemu dengan seorang teman kita yang berasal dari universitas lain, kita diberikan sebuah pertanyaan: “apakah kamu anak X?” jawaban kita tentu saja adalah  “Ya”. Contoh tersebut membuktikan bahwa istilah “ANAK” disini bukan sebagai anak dalam arti biologis, namun dalam arti yang lebih dalam yakni mengenai atribut. Ketika kita sudah lulus dari universitas X, tentu saat melamar pekerjaan kita akan mencantumkan universitas X tersebut di CV kita.

Sama juga dengan istilah “Anak Allah” disini, yang berarti bahwa ketika Yesus disebut sebagai Anak Allah, berarti Dia juga memiliki atribut Allah. Mari kita coba melihat di kitab Yohanes.

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

“Pada mulanya” pada ayat ini mengarah kepada satu kondisi di awal mula kehidupan, atau asal mula segala sesuatu. Segalanya dimulai dari Firman, dan ada kata “bersama-sama” dengan Allah, dan Firman itu ADALAH ALLAH. Bukankah ini adalah sebuah penegasan bahwa Yesus sendiri ialah Allah? Hal ini menjadi penting untuk kita perhatikan karena ayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa Yesus ada sejak semula bersama dengan Allah sendiri.

Tingkatan dalam Tritunggal, Adakah?
Mitologi Yunani sangat kaya akan dewa-dewa. Kita bisa melihat disana bahwa ada dewa yang tertinggi. Ada raja dewa, dan ada tingkatan dewa yang lebih rendah. Apakah tritunggal berarti bahwa ada tingkatan yang tertinggi di dalamnya? Dalam alkitab, selalu disebutkan sebagai urutan adalah Allah Bapa, Allah Anak, dan terakhir adalah Allah Roh Kudus. Apakah hal ini menunjukkan sesuatu?

Sekali lagi kita lihat bahwa tritunggal tetap berdiri teguh di tengah tantangan seperti ini. Kalau kita baca di dalam kitab Matius 28:19-20

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, (Mat 28:19 ITB)

Kata “nama” disini berbentuk tunggal, bukan jamak. Artinya pernyataan tersebut mengarah kepada satu pribadi, bukan tiga. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa tidak pernah ada suatu tingkatan di dalam tritunggal tersebut.

Implikasi Pemahaman Allah Tritunggal dalam Kehidupan Kita
Sebagai orang Kristen, salah satu doktrin / pengajaran yang seringkali menjadi sebuah perdebatan adalah mengenai Allah. Tetapi penekanan yang begitu indah di dalam pengajaran ini adalah pernyataan Tuhan Yesus di dalam Yohanes 14:17b

Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia

1.       Belajar untuk tunduk dan mengakui bahwa segala sesuatunya, pemahaman kita, hidup kita, dan segala detail di dalam kehidupan kita adalah karya Allah yang luar biasa yang telah Tuhan kerjakan
2.       Belajar mengenai Tritunggal / Trinitas tidak akan pernah dapat kita selesaikan secara tuntas. Ingat posisi kita sebagai ciptaan, yang tidak dapat memahami pencipta kita 100%
3.       Masalah iman bukanlah hal yang dapat dipaksakan. Ingat bahwa ketika kita percaya kepada Yesus sendiri, kita tidak pernah bisa dipaksakan. Hanya anugrah saja yang memampukan seseorang untuk dapat mengenal Kristus secara pribadi
4.       Tritunggal juga menampakkan sebuah kebenaran yang begitu luar biasa di dalam kehidupan orang percaya. Kalau kita melihat sumber dari konsep “unity in diversity” pun, Allah Tritunggal menampakkan konsep itu dengan begitu harmonis. Ada perbedaan di dalam kehidupan kita, satu sama lain. Ada perbedaan spesies-spesies, bahkan di dalam spesies itu sendiri juga ada berbagai perbedaan tetapi tetap saja ada sebuah kesatuan yang harmonis di dalamnya.

Mari belajar untuk terus mau belajar dan diperbarui selalu di dalam kuasa kasihNya. Saya menutup dengan sebuah tulisan dari Paulus:


Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian. (2Korintus 13:14)

Friday, January 25, 2013

Kenapa Kristen?


Pertanyaan yang sangat mendasar dalam kehidupan kita, salah satunya adalah pertanyaan mengapa kita memilih suatu agama / kepercayaan tertentu. Mengapa hal itu penting? Karena sebenarnya itulah yang merupakan dasar kita melakukan sesuatu. Nah, menarik sekali kalau kita bahas tentang keunikan kekristenan. Mengapa saya memilih Kristen sebagai agama saya? Apa yang menarik dari Kekristenan?

Saya adalah seorang pendosa, sama juga semua orang. Bahkan itu belum pernah saya sadari di dalam kehidupan saya sebelum saya mengenal Allah. Proses yang begitu panjang sampai bisa mengenal Allah, dan pengenalan akan Allah itu dimulai dengan ayat yang sangat simple dan singkat, diambil dari Efesus 2:8-10. Sekalipun tidak mudah dan tidak sesederhana itu.

Kedaulatan Allah melampaui segala akal kita, itulah ide awal dari kekristenan. Ketika Allah menciptakan kita, bahkan sebelum dunia dijadikan sekalipun, kita adalah orang-orang yang sudah mendapatkan anugrah. Ini dituliskan di dalam kitab Roma oleh Paulus. Tentu saja kalau kita ingat Paulus adalah orang yang awalnya adalah penganiaya jemaat, tetapi itulah karya Allah! Allah benar-benar serius di dalam karya keselamatan yang Ia kerjakan dalam kehidupan setiap orang pilihanNya.

Kenapa kita bisa sampai memilih Kristen? Jawabannya adalah sebenarnya bukan kita yang memilih, tetapi dari semula Allah sudah menentukan kita untuk menjadi seorang Kristen. Allah semesta langit, Dialah yang berdaulat untuk menentukan semuanya dalam dunia ini (Roma 8:28-29). Jadi kalau ada seorang Kristen sampai mengaku bahwa menjadi orang Kristen adalah hasil dari pilihannya sendiri, itu sangat mengerikan.

Kalau kita menyadari bahwa kita sudah dipilih Allah, lalu bagaimana sikap kita sebagai orang Kristen? Apakah kita akan tetap hidup di dalam kehidupan lama kita? Ataukah kita belajar untuk menikmati anugrah Allah dengan memiliki kerohanian yang benar dan tindakan yang benar? Sekalipun keselamatan itu gratis, tapi bukan berarti kita sia-siakan. Memang itulah sifat dasar manusia, kalau diberikan sesuatu yang gratis biasanya langsung membuang-buang. Namun apabila sesuatu itu didapatkan dengan sangat susah, maka akan sangat dijaga dengan baik.

Sama juga dengan sikap kita. Apakah kita menganggap darah Yesus itu hanya sekedar gratis? Tidak! Ia menebus kita dengan darah yang mahal, bahkan sampai rela menyerahkan apapun. Masih ingatkah kita tentang perumpamaan mutiara yang berharga (Matius 13:45-46)? Ketika Allah melihat kita sebagai mutiara, Ia rela melakukan apapun untuk kita. Bagaimana sikap kita setelah kita ditebus? Apakah kita berani untuk belajar melakukan apapun untuk Allah?

Pilihan Yesus atas hidup kita tidak pernah salah. Ketika kita menjadi seorang Kristen, apabila kita memaknainya benar-benar, maka hidup kita akan memancarkan kemuliaan Allah di dalam hidup kita. Bukan berarti kita jadi orang yang sombong. Tidak! Tetapi justru kita memancarkan kemuliaan Allah, berarti melalui kehidupan kita Allah yang dipermuliakan, bukan kita!

Soli Deo Gloria

Thursday, January 3, 2013

Yesus Diantara Ilah-Ilah Lain


Ada suatu anggapan bahwa semua agama adalah benar. Sebelum melangkah lebih jauh bagaimana kekristenan menjelaskan eksklusifitas Yesus, perlu dimengerti dulu mengenai hukum non-kontradiksi. Hukum non-kontradiksi menyatakan bahwa pernyataan A tidak akan sama dengan negative A pada saat yang sama. Contohnya seperti ini: Andi berkata: Surabaya ada di Jawa Timur. Bima berkata : Surabaya tidak ada di Jawa Timur. Mereka berdua tidak mungkin sama-sama benar.

Apa implikasinya terhadap klaim kekristenan? Tidak akan mungkin kedua statement yang saling berlawanan itu sama. Banyak sekali agama dan kepercayaan yang saling bertentangan. Jadi ini dapat menjadi dasar bahwa semua agama tidak mungkin sama karena klaim yang mereka berikan saling bertentangan satu dengan yang lain.

Islam percaya bahwa Yesus tidak mati di kayu salib, sedangkan Kristen percaya bahwa Yesus mati di kayu salib dan Ia bangkit pada hari ketiga. Buddhism muncul ketika Buddha melihat penderitaan, kematian, orang yang lebih tua, ia menolak Hinduism. Semua agama ini tidak dapat semua benar, karena seluruh agama secara fundamental berbeda, meskipun tampaknya semua mengajarkan kebaikan. Prinsip dalam hidup kita secara tidak sadar juga akan mempengaruhi hal ini. Secara tidak sadar kita juga menolak untuk pindah agama, kalau semua agama sama, berarti tidak masalah seharusnya kita pindah agama hanya karena masalah selera. Tetapi realitanya adalah: Selera itu relative, tetapi kebenaran itu mutlak!

Kenapa Yesus Kristus unik dan berbeda dari yang lain?
1.        Kekristenan menjawab mengenai dosa asal yang ada dalam manusia. Alkitab menyatakan bahwa kita benar-benar helpless. Ketika Tuhan memberikan hukum moral, ada 4 tindakan yang dapat kita lakukan: ada yang membencinya, ada yang merasakan kebutuhan akan hal itu, ada yang secara salah mengklaim prinsip tersebut, dan ada yang menyukai hukum moral tersebut.
Paulus menyatakan bahwa ia menyukai hukum-hukum moral. Dia berkata bahwa ia adalah orang yang sangat menjunjung tinggi hukum taurat. Tetapi dia mengakui bahwa semua yang dia lakukan itu bukan kehendaknya karena dia tidak bisa berbuat hal yang benar. Coba baca Roma 7: 13-26
Buddha memberikan aturan-aturan untuk dapat mencapai nibbana, tetapi apa yang dapat kita lakukan untuk melakukannya? Karena ternyata apapun yang kita lakukan tanpa darah Kristus, semuanya tidak ada yang benar!
Hidup dalam kerangka moral seperti ini berarti hidup dalam dunia yang penuh pencobaan. Ketika kita melayani pun, kita dicobai ketika kita merasa tidak mau untuk melakukan pelayanan. Ketika kita merasa kita mampu, kita akan dicobai dengan dosa kesombongan. Paulus menuliskan semua adalah untuk kemuliaan Allah. Menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan yang sudah menyelamatkan kita. Point utama dalam kekristenan adalah ketika kita menyadari bahwa Yesus telah datang dan mati untuk kita, dan Ia telah memberikan Roh Kudus untuk kita dapat mengerti mengenai firmanNya.

2.        Kekristenan dapat menjawab mengenai keselamatan oleh Yesus Kristus sendiri.
 Seluruh agama selain Kristen memaksa para penganutnya untuk meminta keselamatan selama berabad-abad. Tidak ada satu orang pun yang tidak membutuhkan pengampunan. Apa yang dilakukan Yesus adalah sesuatu hal yang benar-benar mengenaskan. Semua hal yang Dia lakukan adalah untuk menyediakan jalan untuk setiap kita yang mau percaya.
Tidak ada sistem religius yang mana memiliki keselamatan dan salib seperti yang dilakukan Yesus. Buddha mengambil jalan penderitaan dan menyangkal Hinduism, namun ia sendiri juga menyangkal dirinya, karena dia tidak mengenal realita.

3.        Kekristenan menjawab asal-usul realita yang ada.
 Konsep Islam mengenai Allah adalah monotheis murni. Pertanyaannya adalah: Jika Allah adalah maha pengasih dan ternyata konsep Islam itu benar, Jika Allah adalah tidak terbatas, tentunya kasihNya juga tidak terbatas. Jika Allah adalah monad[i] seperti yang dikatakan oleh orang-orang Islam, siapa yang dikasihi Allah sebelum manusia diciptakan? Anda akan memiliki Tuhan yang membutuhkan manusia untuk dapat dikasihi. Itu menunjukkan keterbatasan Allah.
Melihat worldview yang lain seperti evolusi, naturalism, Islam theism, ada suatu hal yang harus dijawab. Kita melihat unity in diversity  dalam realita. Suatu hari Socrates dan Plato mendapat sebuah pertanyaan bahwa ada 4 kesatuan unsur yaitu bumi, air, udara, dan api. Orang-orang beranggapan bahwa kesemuanya itu berbeda. Jadi pasti ada unsur kelima yaitu unsur yang menyatukan keempatnya. Dari mana kesemuanya itu ada?
Dalam kekristenan : unity in diversity and community in the Trinity. Tuhan tidak membutuhkan manusia untuk memiliki kesatuan, dan ada perbedaan, dan juga dalam Tritunggal ada kesatuan dan komunitas.
Ketika kita lihat diri kita, ada perbedaan dalam desain setiap kita. Ada perbedaan rasa, ada perbedaan bentuk tubuh, ekspresi kita juga berbeda-beda, dan ada banyak sekali perbedaan. Didalam setiap diri manusia, ada keinginan, ada rasa syukur dalam diri kita. Ketika kita mendapat makanan, kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan karena kita mendapatkannya dan bersyukur atas rasanya yang enak. Ketika pencipta kita dalam kapasitasnya yang tidak terbatas, Tuhan memberikan kebenaran yang luar biasa mengenai pikiran, rasa, perasaan, dan dalam keseluruhan ciptaanNya. Dalam perjamuanNya, kita bersama dengan Tuhan memuji dan benar-benar memaknai karyaNya dalam hidup kita.

Yesus adalah pribadi yang sangat menarik. Yesaya menyatakan bahwa Dia adalah Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Petrus menyebut Dia Anak Allah. Thomas menyatakan Ya Tuhanku dan Allahku. Ketika ditanya Pilatus “Engkaukah Raja orang Yahudi?” dan Ia menjawab “Engkau sendiri mengatakannya.” Pada Yohanes 14, sangat jelas dan pada Yohanes 14:6  Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Pada saat membangkitkan Lazarus, Yesus hanya berkata “Lazarus, bangkitlah!”

Harapan kita, tujuan kita adalah sampai akhirnya kita didapati tetap setia, our goal is not the union[ii], our goal is communion[iii] with HIM.

Sebuah kata-kata dari Malcolm Muggeridge
“Behind the debris of these self-styled, sullen supermen and imperial diplomatists, there stands the gigantic figure of one person, because of whom, by whom, in whom, and through whom alone mankind might still have hope. The person of Jesus Christ.”
Dibelakang setiap penguasa dunia, seperti Hitler, Mussolini, Julius Caesar, Salomo, Daud, Abraham, Joseph Stalin, dan lain-lain, berdiri pribadi yang dalam kisah-Nya mencoba menjelaskan semuanya itu. Di belakang setiap kisah itu, ada suatu kisah mengenai kehidupan. Dibelakang semua itu ada seorang pribadi yang mana karena Dia, oleh Dia, didalam Dia, dan melalui Dia umat manusia masih memiliki harapan. Pribadi Yesus Kristus.

Saatnya berlutut dihadapan Tuhan Yesus, dan ketika kita melakukannya, kita menemukan segalanya di dalam Dia.



[i] Monad adalah suatu satuan yang tidak dapat dibagi dan dihancurkan yang merupakan unsure dasar dari realitas.
[ii] Union adalah aksi untuk menggabungkan dua pribadi atau dua benda menjadi satu pribadi.
[iii] Communion adalah suatu kedekatan emosional dan spiritual