Total Pageviews

Sunday, March 12, 2017

Berjalan dalam Kepastian



Begitu banyak persoalan di dalam hidup ini yang kalau kita perhatikan sebenarnya mengakar pada satu hal: TIADANYA KEPASTIAN. Saya baru saja menonton ulang film X-Men Apocalypse versi BluRay dan mendapatkan sebuah quote menarik di awal film ini:

Give them the power of prophecy, and they may live in fear of the future
“berikan mereka kemampuan untuk meramal, dan mereka akan hidup di dalam ketakutan akan masa depan”

Menarik! Manakala begitu banyak orang menginginkan untuk mereka bisa mendapatkan kepastian akan masa depan mereka, ternyata kalau dipikir benar juga. Ketika kita tahu ujung dari kehidupan kita maka kita akan dilanda pada ketakutan akan masa depan.

Tentu X-Men merupakan kisah fiksi yang begitu luar biasa. Tetapi bukankah sang penulis pun sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu dalam kisah ini? Bahwa ternyata sebagai manusia kita akan hidup dalam ketidak pastian.

Bukankah sepanjang hidup kita selalu hidup dalam ketidakpastian?
Buat teman-teman pemuda yang sedang dalam masa pencarian pasangan hidup tentu akan deg-degan tiap hari menantikan kepastian jawaban dari sang pasangan.
Bagi teman-teman remaja yang sedang dalam masa studi, tentu menghadapi berbagai pilihan untuk memilih perkuliahan.
Bagi teman-teman yang sudah lulus kuliah, akan berhadapan dengan begitu banyak lapangan pekerjaan dan kita harus memilih mana yang pas

Apabila sepanjang hidup kita ini penuh dengan ketidakpastian, maka hidup kita tidak akan pernah jauh dari apa yang disebut sebagai kekuatiran.

Bergantung Pada Hal Kuantitatif
Manusia saat ini berpikir bahwa ada kriteria tertentu yang dapat dicapai seseorang untuk kita dapat dikatakan sebagai pribadi yang sukses. Kita melihat begitu banyak hal ditawarkan oleh dunia ini. Kesempatan untuk mendapatkan uang yang lebih banyak, yah minimal ada kepastian finansial disana. Kemudian kalau masih kurang juga, ada begitu banyak penawaran mengenai kredit rumah, yah minimal ada tempat tinggal.

Kemudian kita melihat begitu banyak data kuantitatif mengenai kesehatan kita. Angka kolestrol, kemudian asam urat, dan sebagainya. Melihat hasil medical checkup membuat kita merefleksikan kembali apa arti kesehatan. Tetapi semuanya itu hanya angka bukan? Tidak ada yang bisa menduga bahwa kalau hasil dari seluruh medical checkup yang memuaskan belum tentu menentukan usia seseorang hidup.

Sama dengan hasil medical checkup, begitu pula kekayaan seseorang dan kesuksesan – bahkan pelayanan seseorang tidak menjamin bahwa hidup kita akan berumur panjang.

Lebih dari Data
Mau tidak mau fakta-fakta di atas membawa kita kepada sebuah  kesimpulan sementara: bahwa hidup manusia ini serba tidak dapat ditebak. Manusia boleh merencanakan begitu banyak hal di dalam hidupnya, tetapi mau tidak mau ada sebuah nasib yang suatu saat akan dialami.

Ya, manusia lebih daripada data-data kuantitatif yang bisa diukur. Jauh lebih dalam lagi dapat kita simpulkan bahwa hidup manusia itu LEBIH daripada hal-hal yang dapat diukur. Melalui data-data itu kita diminta untuk sampai pada suatu kesimpulan. Misalnya kalau angka-angka zat di dalam tubuh kita dalam range tertentu maka itu berarti kita sehat. Tetapi bukankah kesehatan ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh itu?

Kita perlu menyadari bahwa begitu banyak anomaly yang justru mengarahkan kita kepada suatu hal yang disebut IMAN. Artinya adalah bahwa ternyata ada banyak hal yang tidak masuk akal yang justru terjadi di dalam kehidupan kita, dan hal-hal itu diluar akal sehat kita.

Nikodemus
Yohanes 3:1-17 memberitakan tentang seorang Farisi, kaum elite Yahudi dengan segudang pengetahuan dan yang hidupnya merupakan cerminan orang yang berkenan di hadapan Allah. Mereka mencoba melakukan semua hukum taurat dan merupakan orang-orang yang begitu terpelajar.

Di tengah berbagai fakta bahwa mereka memiliki segala hal yang membuat mereka dapat berbangga pada diri sendiri, Nikodemus memandang Yesus sebagai pribadi yang biasa. Yohanes 3:2 menunjukkan bahwa Nikodemus “tahu” tentang Yesus. Dia mengetahui bahwa ia adalah seorang rabi, seorang guru, dan seorang yang dapat melakukan mujizat.

Dalam ketinggi hatiannya itulah Nikodemus gagal melihat siapakah Yesus sebenarnya. Ini yang disampaikan oleh Yesus di Yoh 3:3.

Percakapan itu dilanjutkan di dalam ayat-ayat selanjutnya, menunjukkan bahwa Nikodemus mencoba menggunakan segala akal sehatnya untuk dapat mengerti mengenai apa yang Yesus sampaikan kepadanya. Ia mencoba untuk mengerti dari sudut pandang bahwa apa yang dikatakan Yesus haruslah selalu masuk ke dalam logikanya. Bahkan di ayat yang ke-17 mungkin merupakan sebuah tamparan yang keras sekali bagi Nikodemus.

Bagaimana mungkin Allah – di dalam pribadi Yesus – harus menanggung dosa seluruh umat manusia? Mengapa manusia tidak menyelamatkan dirinya sendiri?

Sikap Orang Percaya
Begitu banyak Nikodemus masa kini di sekitar kita bukan? Kita sebagai orang Kristen mungkin mendapatkan begitu banyak pertanyaan. Kekristenan – tidak dapat dipungkiri – merupakan iman kepercayaan yang begitu rumit. Begitu banyak hal yang ada di luar nalar kita sebagai manusia.

Misalnya adalah pertanyaan mengenai Tritunggal, mengenai keselamatan yang melalui anugrah dalam Yesus Kristus, dan sebagainya. Hal ini membuat kita berusaha menjawab dengan berbagai analogi dan memperdalam pengetahuan apologetika kita, tetapi kita lupa bahwa di dalam emmpelajari dan menyampaikan Firman, perlu ada sebuah kehidupan doa yang mendalam.

Percayalah bahwa setiap kita diberikan sebuah kepastian di dalam kehidupan kita. Minimal kepastian yang kita dapatkan adalah: bahwa kita sudah diselamatkan oleh Tuhan, bahwa Tuhan akan menjawab doa-doa kita seturut kehendakNya, bahwa di dalam hidup kita selalu ada tantangan dan Tuhan akan membekali kita dengan kekuatan untuk terus bersandar kepadaNya, dan selalu ada tuntunan dan penyertaan Tuhan, serta selalu ada pengampunan di dalam kehidupan kita manakala kita menghadap dan berlutut kepadaNya.

Melalui iman dan keyakinan itulah kita sebenarnya punya misi untuk membuat orang-orang di sekitar kita juga memiliki sebuah kepastian hidup di dalam kehidupan mereka. Mungkin awalnya sukar untuk dipahami. Kita menyadari bahkan iman yang kita miliki pun merupakan anugrah dari Tuhan. Hal ini seharusnya membuat kita punya hasrat untuk membagikannya, terlepas orang yang kita share percaya atau tidak.

Kesimpulan
Memiliki iman identik dengan percaya atas hal-hal yang tidak masuk akal menurut ukuran dunia. Mari kita belajar meminta tuntunan dan penyertaan Tuhan di dalam kita dapat mengerti mengenai iman kepada Yesus Kristus. Kita belajar untuk memahami bahwa semua yang kita miliki adalah karena anugrah-Nya semata. Hal itu membuat kita belajar untuk hidup di dalam sebuah kepastian, bahwa segala hal yang kita hadapi merupakan rencana Tuhan dan semuanya itu akan berujung pada kemuliaan-Nya.

Kita tidak membutuhkan kemampuan meramal, karena di dalam Yesus, kepastian akan masa depan sudah kita dapatkan. Pertanyaannya adalah, bagaimana kita hidup di dalam Dia untuk mensyukuri kepastian itu?

Soli Deo Gloria!

Monday, January 30, 2017

Berbahagia Karena Allah



Berbahagialah!

Merenungkan kehidupan kita sebagai manusia, kita seringkali larut dalam lamunan, sebenarnya untuk apa kita hidup di dunia ini. Kita melihat begitu banyak orang terjebak di dalam putaran pekerjaan. Kesibukan yang semakin merajalela dalam kehidupan seseorang serasa memaksanya untuk tidak menikmati kehidupan ini. Bahkan tidak sedikit orang yang ingin sekali hidup berbahagia namun tidak pernah benar-benar menikmati kebahagiaan itu.

Kebahagiaan Adalah Tujuan Hidup

Ada seseorang mengatakan bahwa tujuan hidup kita adalah untuk berbahagia. Tidak sepenuhnya pendapat itu salah. Tetapi ada pula seseorang yang mengatakan bahwa “manakala kita mengejar kebahagiaan semata dalam hidup ini, maka kita akan semakin merasa tidak bahagia”. Jadi tujuan hidup seseorang dalam menempuh kebahagiaan itu sebenarnya merupakan sebuah paradox antara keinginan dengan realitas.

Menghalalkan Segala Cara
Ketika tujuan hidup seseorang hanya berhenti pada bagaimana dia dapat berbahagia, maka apapun langkah baik itu kotor maupun bersih akan ia lakukan untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Dia akan dihadapkan pada suatu realitas bahwa ternyata ketika kita memiliki segala sesuatu, justru dia akan tidak menjadi bahagia di dalam prosesnya.

Tidak sulit untuk kita melihat contoh orang-orang seperti ini. Kita melihat bagitu banyak konglomerat yang hanya berfokus pada kekayaan semata namun di dalam kehidupannya sama sekali tidak pernah menikmatinya.

Sumber Kebahagiaan
Sebagian orang menjawab bahwa manakala mereka memiliki begitu banyak uang, maka ia akan berbahagia. Sebagian orang lain menjawab bahwa kebahagiaan mereka adalah ketika mereka memiliki keluarga yang harmonis. Banyak juga yang menjawab bahwa menjadi seseorang yang tampan yang banyak ditaksir oleh lawan jenis juga merupakan kebahagiaan.

Begitu banyak sumber kebahagiaan di dunia ini. Tetapi mari kita telaah lebih lanjut bagaimana kebahagiaan ini diraih menurut konsep yang Tuhan Yesus ajarkan di dalam kehidupan setiap kita.

"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. (Matius 5:3)

Miskin Sebagai Sumber Kebahagiaan
Ayat di atas mengajarkan bahwa yang berbahagia adalah kita yang miskin. Banyak orang kemudian ngeles manakala ditunjukkan ayat ini. Apa arti kata miskin? Dari padanan kata di dalam bahasa Yunani, miskin disini artinya benar-benar miskin, mengarah pada TIDAK PUNYA APA-APA. Lho, jadi kalau kita menjadi kaya, atau bahkan sialnya lagi bahwa kita dilahirkan sudah dalam kondisi kaya, apakah kita tidak mendapatkan bagian dalam Kerajaan Sorga?

Sekali lagi kita perlu belajar menelaah lebih jauh di dalam kehidupan kita sebagai orang percaya. Kita yakin bahwa Firman Allah adalah YA dan AMIN, jadi ayat ini pun juga bukan merupakan kesalahan cetak.

Melepaskan Hak Milik Kita
Lukas 14:33 merupakan sebuah peringatan yang keras dari Yesus. Sebelum ayat ini, ada ayat 26 yang seringkali menjadi kontroversi dimana kita (orang Kristen) sering dituduh bahwa kita sama sekali tidak punya hormat – bahkan diajarkan untuk membenci ayah dan ibu kita.

Ini harus diartikan di dalam konteks pada ayat 33. Artinya bahwa manakala kita merasa bahwa kita memiliki ayah dan ibu kita, ataupun saudara-saudara, kekayaan, ide, pikiran kita, dan sebagainya, maka kita begitu merendahkan apa yang disediakan Allah dalam kehidupan kita.

Menyadari Segala Sesuatu adalah Milik Allah
Kesadaran bahwa segala sesuatu yang ada di sekitar kita adalah milik Allah membuat kita menjadi pribadi yang tangguh. Membuat kita menjadi pribadi yang dewasa dan mampu belajar untuk melihat kasih karunia Allah yang jauh lebih besar. Benar, kita sama sekali tidak memiliki sesuatu pun dalam dunia ini. Bahkan segala hal yang kita rasa milik kita semuanya adalah milik Allah. Kita sama sekali tidak memiliki hak apapun terhadap apa yang Tuhan percayakan di dalam kehidupan kita.

Manakala kita menganggap bahwa segala sesuatu yang kita miliki semata-mata adalah hasil usaha kita, maka dengan seenaknya pula kita akan memperlakukannya dengan semau kita. Waktu kita masih dalam masa pdkt kepada seseorang, maka kita akan merasa begitu spesial. Tapi tidak jarang bahwa setelah menikah kita menganggap bahwa istri / suami kita adalah milik kita, kecenderungan kita ternyata kita bisa saja menjadi tidak respek terhadap dia. Beda banget sebelum kita menganggapnya sebagai milik Allah.

Berbahagialah Orang Yang Miskin
Okey hal ini menjelaskan bahwa ternyata apa yang dikatakan di dalam injil Matius tadi merupakan sesuatu yang benar. Ternyata kita ini memang miskin kok. Segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Allah dan itu berarti bahwa segala hal itu dipercayakan kepada setiap kita untuk dapat dikelola dengan baik.

Perasaan Menginginkan dan Diinginkan
Nah kalau kita menyadari bahwa segala sesuatu bukan milik kita, tetapi milik Allah, maka pandangan yang sama dapat kita lihat di dalam Allah.

Satu-satunya hal yang kita miliki ialah Pribadi-Nya

Bayangkan bahwa cinta kasih-Nya merupakan satu-satunya alasan mengapa kita begitu dikasihi. Kita diinginkan oleh Allah. Ia menantikan kita untuk mau datang dengan kemiskinan kita, dengan perasaan bahwa satu-satunya hal yang kita inginkan adalah kerinduan Daud

Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.
(Mazmur 62:2-3)

Atau seperti apa yang dilakukan oleh Maria

Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya (Luk 10:39)

Semata-mata karena kita diinginkan oleh Allah. Apa bukti bahwa Ia menginginkan kita? Salib

Membagikan Kebahagiaan
Setelah kita menyadari bahwa kita adalah pribadi yang berbahagia karena Allah, maka sudah sepantasnya kita mengabarkan kebahagiaan itu kepada orang-orang yang ada di sekitar kita. Semata-mata karena kita menyadari bahwa ternyata hal yang membuat kita berbahagia itu merupakan hal yang layak kita renungkan bersama dan kita bagikan bagi orang lain.

Pemahaman bahwa tidak ada satu hal pun yang ada di dunia ini yang merupakan hak milik kita membuat kita menjadi pribadi yang bebas dari rasa kuatir. Rasa yang seringkali mengikat seseorang karena takut kehilangan sesuatu. Pemahaman ini seharusnya membuat kita tidak takut lagi manakala kita kehilangan, kita merasa down, dan sebagainya. Karena semuanya itu tidak akan lepas dari kuasa Allah atas kehidupan kita. Yakinlah bahwa ketika Allah membuat kita merasa takut, kuatir, merasa kehilangan, itu semua bermuara pada satu tujuan, bahwa Ia rindu untuk bersekutu dengan kita, dan kita pun seharusnya memiliki kerinduan yang sama dengan Dia.

Bukan hanya kita yang diinginkan Allah. Ia juga menginginkan orang-orang di sekitar kita untuk dapat menginginkan Dia. Adakah kita punya kerinduan itu?

Soli Deo Gloria!

Friday, January 6, 2017

Happy & Sad New Year 2017



Setiap tahun baru merupakan sebuah momen untuk melakukan 2 hal. Apakah itu? Kita merencanakan apa yang akan menjadi tujuan kita di tahun 2017 sembari melakukan evaluasi di tahun 2016. Masa evaluasi itu menjadi sesuatu yang terkadang lupa kita lakukan. Kita terlarut dalam euforia tahun baru, dengan kembang api, tiupan terompet yang saling menyambar satu sama lain, dan letusan petasan yang makin menambah kemeriahan tahun baru.

Duduk diam sejenak, kita perlu membuka kembali kisah hidup kita di tahun 2016. Aku sendiri menyadari bahwa bukan hal mudah untuk mengingat 2016 dengan segala hal buruk yang terjadi tetapi tidak lupa juga ada begitu banyak hal baik yang dapat kita renungkan. Hal buruk itu macam apa? Bahwa ternyata ada begitu banyak tangis di tahun 2016. Kehilangan seorang sahabat, harus melihat dengan sedih bahwa ada barang-barang yang rusak, berantem dengan pacar dan sebagainya. Hal baik? Wah jauh lebih banyak lagi. Promosi jabatan, mendapatkan apresiasi di tempat kerja, dapat melayani bersama di gereja, dan seterusnya.

Kalau hal-hal positif, tentu kita kepengen untuk hal-hal tersebut bisa berulang di tahun yang baru. Iya donk, masa sih gak mau naik jabatan lagi? Masa sih kita gak mau dapat prestasi yang bagus lagi? Masa sih kita gak mau punya pacar baru lagi? #eh #inigakbener #abaikanaja

Mari kita telaah bagaimana hidup kita selama beberapa tahun ke belakang. Lho, bukannya evaluasi itu cuman dilakukan setahun ke belakang aja? Eits, belum tentu loh. Kita seringkali melihat kedepan dengan begitu serakah. Maksudnya kita sampe buat perencanaan hidup kita sampai 5 atau 10 tahun ke depan, tetapi begitu kita diminta untuk melihat ke belakang selama 5-10 tahun kebelakang, kenapa kita rasanya keberatan?

Kita bisa memilih untuk menentukan sikap kita manakala kita flashback pengalaman hidup kita. Begitu pula kita bisa menentukan sikap juga saat kita membuat perencanaan hidup kita.

Kalau kita belajar memandang seperti bagaimana Tuhan memandang hidup kita, maka kita akan dipenuhi dengan ungkapan syukur, sekalipun ada begitu banyak hal yang menyakitkan yang terjadi di dalam kehidupan kita. Bukan hanya ungkapan syukur manakala kita melihat teman kita mengalami hal yang lebih buruk, tetapi ungkapan syukur bahwa ada kesempatan yang Tuhan berikan untuk kita dapat mengalami hal buruk tersebut.

Setiap hal yang sudah terjadi dalam hidup kita – kita sadar dan percaya bahwa di dalam hal itu ada campur tangan Allah. Kita belajar untuk menyadari bahwa ternyata – di tengah tangis kita – itupun terjadi atas campur tangan Allah. Kalau begitu sah banget manakala kita tidak hanya mengatakan “happy new year” tetapi “happy and sad new year”.

Semata-mata ucapan itu sebagai tanda iman kita bahwa terlepas kondisi kita seperti apapun, ada penyertaan Tuhan yang selalu memberikan damai sejahtera di dalam kehidupan kita. Kesedihan kita menjadi sebuah batu pijakan untuk semakin menyadari bahwa kita masih membutuhkan Allah di dalam kehidupan ini. Semata-mata kita merindukan kehadiran-Nya yang memerdekakan. Kita rindu akan kuasa-Nya sembari menyadari bahwa pengharapan kita satu-satunya ada di dalam Dia.

Sedangkan hal yang positif – yang menyenangkan – yang terjadi dalam kehidupan kita seharusnya semakin mengingatkan kita bahwa ada campur tangan Allah juga di dalamnya. Bahwa kalau kita bisa melakukan dan mendapatkan berbagai hal yang Tuhan sediakan, itupun adalah anugrah Allah. Jadi jangan sombong, tetap rendah hati dan memaknai hidup sebagai anugrah. Menyadari akan hal ini akan membuat kita menjadi pribadi yang mudah bersyukur dan berbagai akan setiap hal yang kita miliki kepada orang lain yang kita temui. Kita menjadi pribadi yang sadar betul bahwa segala sesuatu yang kita punya semata-mata adalah alat yang Tuhan berikan untuk kita terus menjadi berkat  bagi sesama kita.

So, di tahun yang baru ini, entah apapun resolusi yang kita mau jalankan, entah evaluasi apa yang sudah kita refleksikan, marilah memulai tahun ini dengan pengakuan bahwa pertolongan kita datangnya dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi, yang memelihara ciptaan-Nya dengan kasih setia-Nya sampai selama-lamanya, yang setia dan tidak akan pernah meninggalkan kita.

Soli Deo Gloria!

Sunday, December 4, 2016

Merayakan Anugrah



Merayakan Anugrah

Perayaan… Apa yang terbayang di dalam benak rekan-rekan manakala ada sebuah kata “perayaan”? Biasanya yang terbayang di dalam pemikiran kita di dalam kata tersebut adalah: “PESTA”. Sebuah pesta yang penuh dengan sukacita.

Memandang Hidup
Hidup itu seperti apa sih? Atau.. Hidup itu apa sih?
Begitu banyak orang memiliki view tentang hidup yang berbeda satu dengan yang lainnya. Ada yang berpandangan bahwa hidup adalah permainan, dimana hidup ini cuman masalah menang dan kalah. Ada waktunya kita menang, ada waktunya kita kalah, dan semuanya itu sesuatu yang biasa dan selalu bisa dinikmati.

Ada yang bilang hidup ini adalah peperangan, dimana mau tidak mau kita harus bisa survive di dalam hidup ini. Jadi harus menang, kalau kalah berarti kita “mati”. Begitu banyak orang memiliki paradigm hidup seperti ini karena ada begitu banyak yang ingin dicapai.

Sebagai orang Kristen, kehidupan kita selayaknya kita definisikan bahwa hidup ini adalah anugrah. Adalah anugrah semata manakala setiap kita satu demi satu ada dan hidup hingga saat ini. Adalah anugrah semata manakala kita masih bisa melakukan segala sesuatu.

Kelelahan Hidup
Terus kalau kita sudah paham bahwa hidup adalah anugrah, tidak semata-mata kita merasa baik-baik saja dalam menghadapi hidup. Realitanya menjalani hidup yang penuh dengan anugrah ini bukan berarti bahwa hidup ini tanpa tantangan. Tetap saja kok kita sebagai orang Kristen akan mengalami kegagalan. Kita akan tetap mengalami kesulitan. Mungkin sesekali kita akan merasakan difitnah, dimusuhi, dipandang rendah oleh orang lain.

Inikah hidup yang penuh anugrah? Anugrah macam apa yang Tuhan sediakan? Benarkah itu hidup di dalam anugrah? Tidak jarang kita menghadapi ujian-ujian berat selama kita hidup. Bahkan tidak jarang dari kita mengalami depresi berkepanjangan. Katanya hidup itu anugrah, tetapi begitu banyak hal yang justru membuat kita mengalami kepaitan di dalam kehidupan ini.

Perubahan Hidup dalam Anugrah
Yesaya menuliskan kepada umat pada waktu itu mengenai bagaimana hidup di dalam anugrah Allah. Yesaya 35:1-10 melukiskan bagaimana ada suatu perayaan yang ditandai dengan perubahan hidup umat. Janji itupun juga masih nyata bagi setiap kita yang mau belajar untuk menikmati anugrah Allah.

Yesaya 35:1-2
Padang gurun itu bisa dipandang seperti kehidupan kita yang begitu kering, yang kosong, dimana tidak ada suatu kehidupan. Tetapi di bagian B dari ayat 1 ini menunjukkan bagaimana kondisi ketika Allah menjamah kehidupan kita. Kondisi pesta itu dapat dilihat dan dirasakan manakala kita membaca ayat 2. Ayat 2 ini menunjukkan bagaimana kondisi umat yang mensyukuri anugrah yang sudah diterima oleh mereka.

Yesaya 35:3-4
Senada dengan ayat 1-2, ayat 3 ini berbicara mengenai kondisi bagaimana kehidupan kita manakala kita merayakan kehadiran Allah di dalam kehidupan kita. Ada tangan yang lemah lesu, dan ini kita temui di dalam kehidupan yang penuh dengan perjuangan. Ada lutut yang goyah, dimana itu dapat kita alami manakala ada berbagai rintangan di dalam perjalanan kehidupan kita. Yesaya tidak menuliskan bahwa hal tersebut akan lenyap, tetapi ia berkata “KUATKANLAH”.

Ayat 4 berbicara mengenai tawar hati, dimana kondisi ini sering sekali terjadi di dalam kehidupan kita. Rakyat Israel di dalam perjalanan hidup mereka tentu merasakan jatuh bangunnya kehidupan mereka. Ada waktu dimana mereka bersukacita di dalam euforia mereka digiring keluar dari Mesir, tetapi setiap kita tahu bukan bahwa bangsa ini lebih sering menjadi bangsa yang tidak taat kepada Allah.

Namun di tengah tawar hati yang dialami bangsa Israel, Allah menunjukkan kasih-Nya melalui nabi Yesaya, yakni melalui ayat 4 ini. Sama juga di dalam kehidupan kita. Ada kalanya kita tawar hati menghadapi hidup ini, tetapi percayalah bahwa kasih setia Tuhan tidak pernah lepas di dalam kehidupan kita.

Yesaya 35:5-10
Akan ada berbagai sesuatu yang terjadi atas hidup kita sebagai orang percaya. Setidaknya kalau tidak dalam waktu dekat, akan datang momen dimana setiap kita akan mengalami damai sejahtera dari Allah. Kita melihat di dalam ayat 5-10 ini adalah hal-hal yang hampir mustahil untuk dapat kita lihat. Ini adalah janji Tuhan manakala Ia akan datang.

Kalau Allah sudah berjanji demikian, bagaimana kita menanggapinya? Sama seperti bangsa Israel yang tegar tengkuk itu, yang sekalipun mereka melakukan hal-hal yang begitu jahat di mata Allah, mereka tetap dikasihi oleh Allah. Apakah kita akan menanggapi janji Tuhan itu dengan menjadi pribadi yang terus menerus mengeluh di dalam kehidupan ini, sembari tidak belajar memaknai hidup ini sebagai anugrah Allah?

Ataukah…

Kita belajar untuk melihat semua kesulitan kita sebagai suatu anugrah yang membuat kita semakin belajar untuk merasakan bahwa kita membutuhkan Yesus di dalam kehidupan ini. Yes, sikap ini akan ditunjukkan melalui kehidupan kita yang berubah. Kehidupan yang senantiasa mengucap syukur, karena kita tahu bahwa segala hal yang Tuhan persiapkan di dalam kehidupan kita tujuannya adalah rancangan damai sejahtera.

Closing
Hidup di dalam anugrah bukanlah hidup yang tanpa hambatan ataupun tantangan. Justru hidup dalam anugrah memampukan kita untuk melalui setiap pergumulan, hambatan dan tantangan itu dengan mata menatap kepada pengharapan yang tidak pernah mengecewakan. Pengharapan yang memampukan kita untuk melihat pribadi Allah, yang mana memampukan kita untuk menyatakan:

GOD IS GOOD ALL THE TIME, ALL THE TIME GOD IS GOOD

Apakah kita mau belajar merayakan anugrah itu? Mari belajar membagikan hidup penuh anugrah ini kepada orang lain.

Soli Deo Gloria!