Total Pageviews

Sunday, June 15, 2014

Beauty of Christianity - The Trinity

Pembukaan
“Mana mungkin Allah bisa tiga tapi satu, atau satu tapi tiga?” Pertanyaan itu sering sekali dilontarkan kepada kita, orang-orang Kristen yang mempercayai doktrin Allah Tritunggal. Istilah “Tritunggal” sendiri tidak pernah dituliskan di dalam alkitab. Hal ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bahwa ternyata alkitab secara tersurat tidak pernah menyebutkan kata tersebut, tetapi di sepanjang alkitab, ada banyak kalimat yang tersirat yang menunjukkan bahwa Allah kita ialah Allah Tritunggal.

Sebelum masuk kedalam pembahasan lebih lanjut, kita mencoba untuk terlebih dahulu mengerti tentang siapa kita dan siapa Allah. Kitab Kejadian menuliskan mengenai siapa kita, yakni ciptaan. Allah ialah pencipta. Jadi ada satu gap  yang luar biasa antara kita dengan Allah. Allah sebagai pencipta ialah pribadi yang tidak terbatas, dan manusia sebagai ciptaan ialah pribadi yang sangat terbatas. Mengapa saya menuliskan hal ini di awal? Implikasi dari hal ini ialah bahwa kita tidak mungkin memahami 100% mengenai Allah. Ada bagian yang Allah ijinkan untuk kita dapat mengerti, dan ada pula hal yang unrevealed, yakni hal yang merupakan misteri.

Dasar pemikiran tersebut membuat kita sebagai ciptaan seharusnya tidak akan mampu menjelaskan secara komplit dan benar secara 100% mengenai Allah, namun bukan berarti bahwa kita tidak belajar untuk mengerti. Ada hal-hal yang ditunjukkan kepada kita sebagai manusia yang terbatas untuk kita pahami.

Analogi Yang Tidak Sempurna
Ada berbagai analogi mengenai Allah Tritunggal, dan kita perlu berangkat dari suatu pemikiran bahwa analogi tidak pernah menggambarkan secara 100% kondisi riil. Contoh analogi yang mungkin seringkali kita dengar tentang Allah Tritunggal adalah mengenai matahari, ada kalanya matahari memiliki sinar, panas, dan cahaya. Sama juga Allah kita memancarkan ketiga hal tersebut, tetapi hakikatnya, Ia adalah matahari. Ada pula sebuah contoh seperti misalkan saya dengan berbagai peran saya. Di rumah, saya menjadi seorang anak, di perusahaan sebagai seorang staff, dan di gereja saya berperan sebagai seorang jemaat.

Analogi-analogi tersebut berusaha untuk menjelaskan seperti apa Allah Tritunggal itu, tetapi tidak ada yang sanggup untuk menjelaskan mengenai terperinci mengenai Allah Tritunggal. Mengapa?
1.       Karena status kita sebagai ciptaan, sehingga kita tidak mungkin dapat mengenal 100% pencipta kita
2.       Penggunaan pendekatan Filsafat di dalam kita berusaha untuk mengerti pribadi Allah.

Sekalipun ada berbagai analogi, ternyata kalau kita melihat lagi bahwa ternyata analogi-analogi tersebut masih memiliki berbagai kelemahan. Tentu saja, karena analogi tidak pernah dapat 100% menjelaskan mengenai sebuah hal yang dianalogikannya. Apabila filsafat ternyata gagal untuk memahami siapa Allah yang sebenarnya, maka pendekatan apa yang dapat kita gunakan? Karena Allah Tritunggal ini ditunjukkan oleh alkitab, maka untuk mencoba memahaminya, kita perlu melakukan pendekatan dari alkitab juga.

Melihat Kitab Kejadian
Sejak kitab Kejadian, kita bisa melihat dengan begitu unik bagaimana ketritunggalan Allah. Kejadian 1:1 di dalam alkitab Bahasa Indonesia berbunyi demikian:

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

Dalam bahasa Ibrani, kata yang digunakan untuk padanan kata Allah digunakan untuk menunjukkan plural. Artinya bahwa Allah di sini lebih dari satu. Namun pada kata “menciptakan”, digunakan verb untuk subyek dalam bentuk singular. Kemudian masih di kitab Kejadian 1, pada ayatnya yang kedua.

Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

Kata “Roh Allah” disini juga menunjukkan bahwa Roh Kudus sudah ada saat peristiwa penciptaan. Ini merupakan sebuah penegasan mengenai Allah.

Kemudian juga kita melihat di Kejadian 1:26

Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."

Baiklah “KITA”, bukan saya, ataupun yang lain. Tetapi sama kasusnya seperti pada Kejadian 1:1, kata kerja yang mengikutinya adalah bentuk tunggal, bukan bentuk jamak.

Melalui beberapa contoh tersebut dapat kita lihat bahwa Alkitab dengan begitu jelas menunjukkan bahwa Allah bukanlah tauhid, tetapi ada sebuah keunikan. Kata kerja yang digunakan adalah bentuk tunggal, sedangkan kata Allah sendiri dalam bentuk jamak.

Yesus sebagai “Anak Allah”
Menjadi sebuah perdebatan yang begitu sengit pula ketika kita melihat di dalam Perjanjian Baru mengenai Yesus. Orang Kristen percaya bahwa Yesus ialah Anak Allah, namun juga Ia sendiri adalah Allah. Muncul sebuah pertanyaan yang begitu sering ditanyakan oleh orang, “Kapan Yesus menyebut dirinya sebagai Allah?” dan juga ada pertanyaan lain seperti ini: “Apakah Yesus sebagai Anak Allah, berarti Dia adalah anak biologis dari Allah?”

Mari kita coba melihat sebuah contoh yang begitu riil. Misalkan kita saat ini kuliah di universitas X. Saat kita bertemu dengan seorang teman kita yang berasal dari universitas lain, kita diberikan sebuah pertanyaan: “apakah kamu anak X?” jawaban kita tentu saja adalah  “Ya”. Contoh tersebut membuktikan bahwa istilah “ANAK” disini bukan sebagai anak dalam arti biologis, namun dalam arti yang lebih dalam yakni mengenai atribut. Ketika kita sudah lulus dari universitas X, tentu saat melamar pekerjaan kita akan mencantumkan universitas X tersebut di CV kita.

Sama juga dengan istilah “Anak Allah” disini, yang berarti bahwa ketika Yesus disebut sebagai Anak Allah, berarti Dia juga memiliki atribut Allah. Mari kita coba melihat di kitab Yohanes.

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

“Pada mulanya” pada ayat ini mengarah kepada satu kondisi di awal mula kehidupan, atau asal mula segala sesuatu. Segalanya dimulai dari Firman, dan ada kata “bersama-sama” dengan Allah, dan Firman itu ADALAH ALLAH. Bukankah ini adalah sebuah penegasan bahwa Yesus sendiri ialah Allah? Hal ini menjadi penting untuk kita perhatikan karena ayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa Yesus ada sejak semula bersama dengan Allah sendiri.

Tingkatan dalam Tritunggal, Adakah?
Mitologi Yunani sangat kaya akan dewa-dewa. Kita bisa melihat disana bahwa ada dewa yang tertinggi. Ada raja dewa, dan ada tingkatan dewa yang lebih rendah. Apakah tritunggal berarti bahwa ada tingkatan yang tertinggi di dalamnya? Dalam alkitab, selalu disebutkan sebagai urutan adalah Allah Bapa, Allah Anak, dan terakhir adalah Allah Roh Kudus. Apakah hal ini menunjukkan sesuatu?

Sekali lagi kita lihat bahwa tritunggal tetap berdiri teguh di tengah tantangan seperti ini. Kalau kita baca di dalam kitab Matius 28:19-20

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, (Mat 28:19 ITB)

Kata “nama” disini berbentuk tunggal, bukan jamak. Artinya pernyataan tersebut mengarah kepada satu pribadi, bukan tiga. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa tidak pernah ada suatu tingkatan di dalam tritunggal tersebut.

Implikasi Pemahaman Allah Tritunggal dalam Kehidupan Kita
Sebagai orang Kristen, salah satu doktrin / pengajaran yang seringkali menjadi sebuah perdebatan adalah mengenai Allah. Tetapi penekanan yang begitu indah di dalam pengajaran ini adalah pernyataan Tuhan Yesus di dalam Yohanes 14:17b

Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia

1.       Belajar untuk tunduk dan mengakui bahwa segala sesuatunya, pemahaman kita, hidup kita, dan segala detail di dalam kehidupan kita adalah karya Allah yang luar biasa yang telah Tuhan kerjakan
2.       Belajar mengenai Tritunggal / Trinitas tidak akan pernah dapat kita selesaikan secara tuntas. Ingat posisi kita sebagai ciptaan, yang tidak dapat memahami pencipta kita 100%
3.       Masalah iman bukanlah hal yang dapat dipaksakan. Ingat bahwa ketika kita percaya kepada Yesus sendiri, kita tidak pernah bisa dipaksakan. Hanya anugrah saja yang memampukan seseorang untuk dapat mengenal Kristus secara pribadi
4.       Tritunggal juga menampakkan sebuah kebenaran yang begitu luar biasa di dalam kehidupan orang percaya. Kalau kita melihat sumber dari konsep “unity in diversity” pun, Allah Tritunggal menampakkan konsep itu dengan begitu harmonis. Ada perbedaan di dalam kehidupan kita, satu sama lain. Ada perbedaan spesies-spesies, bahkan di dalam spesies itu sendiri juga ada berbagai perbedaan tetapi tetap saja ada sebuah kesatuan yang harmonis di dalamnya.

Mari belajar untuk terus mau belajar dan diperbarui selalu di dalam kuasa kasihNya. Saya menutup dengan sebuah tulisan dari Paulus:


Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian. (2Korintus 13:14)

Saturday, May 31, 2014

Pelayanan Yeremia

 Yeremia – sesosok nabi yang menarik. Mellow, merasa rendah, penuh dengan pergumulan dan ratapan, tetapi di balik itu dia adalah pribadi yang begitu jujur dan punya sebuah kerinduan bagi bangsanya, untuk mengembalikan bangsa kepunyaan Tuhan itu ke jalan yang benar.

Yeremia adalah pribadi yang menarik. Ia menerima langsung panggilan Allah, sekalipun di masa mudanya. Yeremia yang pada awalnya ketakutan luar biasa tetapi akhirnya berangkat juga. Di tengah pelayanan nabi ini, ada berbagai macam pergumulan yang secara jujur sekali ia ungkapkan. Kalau kita baca kitab Yeremia secara lengkap, bahkan ada satu poin dimana ia jujur di hadapan Allah sampai mengatakan bahwa Allah adalah “sungai yang curang[i]”. Sekali waktu di tengah pergumulannya, ia menyatakan iman yang luar biasa.

Tetapi apabila aku berpikir: "Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya", maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.
(Yeremia 20:9)

Yeremia mengajarkan beberapa prinsip pelayanan yang perlu kita pahami. Memang kalau kita membahas seluruh kitab Yeremia, kita akan melihat berbagai kisah, tetapi saat ini kita akan fokus pada bagaimana pelayanan Yeremia itu didasari hanya oleh kuasa Tuhan dan semuanya adalah bagi kemuliaan Tuhan.

1.   Yeremia taat dan setia
Ketaatan Yeremia nampak sejak awal Allah memanggil dia sebagai seorang nabi. Sekalipun pada awalnya ia rendah diri karena masih muda, tetapi setelah diberikan janji penyertaan Allah, ia pun berangkat.
Baca seluruh kitab nabi Yeremia dan kalau kita perhatikan di dalam beberapa kesempatan ia bergumul tetapi tetap ia taat atas panggilan yang Tuhan berikan di dalam kehidupannya. Yeremia 20:9 itu merupakan salah satu deklarasi bahwa di tengah pergumulan yang begitu berat, ia tetap belajar untuk setia melayani Tuhan.

2.   Kuasa Firman itu cukup untuk kita dapat melayani Dia
Saat aku masih bergereja di Surabaya, aku pernah diberikan suatu kepercayaan untuk melayani sebagai pemimpin kelompok cell group. Mulanya aku begitu takut, dan memang benar ketika awal aku memimpin aku sempat menangis di hadapan anak-anak yang aku bimbing, terkait dengan ulah mereka. Saat itu aku begitu malu dan segera mengakhiri pertemuan itu. Setelah itu aku menghadap mentorku dan satu hal yang aku sadari: aku mengandalkan kekuatanku sendiri di dalam pelayanan ini.
Yeremia tahu benar bahwa panggilan itu berasal dari Allah. Oleh karena keyakinan itulah ia melayani. Allah “menaruh perkataan-perkataan di dalam mulutnya[ii]”. Hal ini menjadi satu pembelajaran bagi kita, bahwa pelayanan itu sebenarnya bukan kita yang bekerja. Pelayanan adalah gawe-nya Tuhan, oleh karena itu semuanya adalah dari Dia, bagi Dia, dan oleh Dia[iii].

3.   Belajar jujur di hadapan Tuhan
Pergumulan yang dihadapi Yeremia adalah bagaimana ia ingin sekali bangsa itu kembali ke jalan yang benar. Karena itulah di dalam doa-doa yang dipanjatkan Yeremia, ia selalu berdoa bagi bangsa itu, terlepas juga ia sangat jujur di hadapan Allah mengenai kondisinya.
Ketika kita mengerti akan panggilan Allah di dalam kehidupan kita, seharusnya kita menyadari bahwa kita perlu jujur di hadapan Tuhan. Memang benar tidak ada yang tersembunyi di mata Tuhan, namun di dalam pelayanan, kita perlu belajar untuk curhat ke Tuhan, belajar jujur atas kekecewaan kita, kemarahan kita, pergumulan kita. Mencari jawaban dari Tuhan dan benar-benar mengandalkan Dia sebagai satu-satunya sumber jawaban.

4.   Process oriented
Apa sih yang salah di dalam pelayanan Yeremia? Dia sudah memberitakan injil dengan baik. Kita dibandingkan Yeremia tidak ada apa-apanya kan? Dia memberitakan Firman dan kalau kita lihat effort yang dilakukan Yeremia, bukankah Yeremia sudah begitu maksimal di dalam pelayanan?
Apa yang dia dapatkan? Tidak lain hanyalah pelayanan tanpa hasil. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada hal yang indah menurut pandangan manusia, tidak ada hal yang patut dibanggakan.
Tetapi sadarkah bahwa pelayanan Yesus pun juga berakhir seperti itu bukan? Selalu ada tantangan dan Yesus pun berakhir di kayu salib, yang merupakan lambang kehinaan terbesar jaman itu. Dampak pelayanan Yeremia apa? Kalau kita baca kitab Daniel, dialah yang menemukan gulungan kitab yang ditulis oleh Yeremia! Ia menemukan bahwa pembuangan ke Babel sudah dinubuatkan oleh Yeremia dan hal itu membuat Daniel menyadari dan semakin mengenal Allah.
Jangan pernah menilai sebuah pelayanan dari jumlah orang yang bertobat, atau bagaimana melalui perkataan kita seseorang bisa menerima Yesus. Pelayanan itu adalah perubahan diri sendiri menjadi orang yang semakin kenal Kristus, dan melalui kehidupan kita, tindakan kita, pemikiran kita, dan pemberitaan kitalah maka orang lain dapat tertarik dan Roh Kudus akan menggerakkan orang tersebut untuk dapat mengenal Kristus.

“Aku hidup di hadapan Sang Penonton Tunggal, di hadapan orang lain aku tidak perlu membuktikan apapun, tidak perlu meraih apapun, tidak perlu kehilangan apapun[iv]

Yeremia sudah memperlihatkan bahwa prinsip terutama pada pelayanan bukan pada prestasi, bukan pada skill, tetapi mengenai satu kesadaran akan panggilan Tuhan di dalam kehidupannya. Itulah yang membuat Yeremia mampu bertahan, dan dapat jujur di hadapan Tuhan, sambil terus berpegang penuh padaNya. Inilah kebenaran alkitab, yang mana kita perlu terus belajar untuk memurnikan motivasi kita, menajamkan visi kehidupan kita sambil terus menyerah kepada Tuhan.

Apa yang membuat anda takut melayani? Apa yang menjadi halangan bagi kita untuk melayani? Kalau kita sadar bahwa semuanya adalah karena Allah, dan bagi Allah, maka kita tidak perlu sungkan sebagai orang yang sudah menerima anugrah. AnugrahNya itulah yang akan mendorong kita untuk dapat melakukan hal yang terbaik. AnugrahNya itulah yang menjadi sumber pengharapan. AnugrahNya itulah yang membentuk suatu keinginan dan kerinduan bagi kita untuk terus hidup bagi kemuliaanNya.

Selamat merenungkan dan memuliakanNya
Soli Deo Gloria





[i] Yeremia 15:8
[ii] Yeremia 1:9
[iii] Roma 11:36
[iv] Charles Gordon, seperti dikutip dalam buku The Call karya Os Guinness

Tuesday, April 29, 2014

PA 1 Petrus 1:17-23

Petrus menulis dengan sangat keras disini. Ia mencoba meyakinkan umat untuk memaknai keselamatan yang sudah dikerjakan Allah di dalam kehidupan keseharian kita. Poin penting disini adalah kalimat “Allah tanpa memandang muka”, yang berarti bahwa ini menjadi satu kesadaran bagi kita untuk tidak menyombongkan diri atas apapun yang kita miliki. Allah empunya segalanya, dan karena itulah kita dituntut untuk hidup dalam ketakutan.

Petrus juga menuliskan kata “menumpang”, yang menunjukkan bahwa sebenarnya kita ini bukanlah ‘penduduk asli’ dari dunia ini. Artinya merujuk kepada ayat selanjutnya. Tetapi kata “menumpang” disini menjadi sesuatu yang sangat penting. Bayangkan ketika kita menumpang di rumah orang lain. Apakah kita akan dengan nyaman dan bebas untuk tinggal di dalamnya? Tentu saja tidak! Sama dengan kita, seharusnya kita memiliki sebuah kerinduan untuk kita dapat segera kembali, merindukan suasana rumah. Saat kita menumpang, selalu ada rasa kuatir dan takut akan hal-hal yang akan terjadi.

Implikasi dari hal ini adalah kita selayaknya menjaga kehidupan kita di hadapan Allah. Kita tahu bahwa di dalam kehidupan kita di dunia, segala hal di dalamnya bersifat fana. Suatu saat nanti… Ya! Suatu saat nanti kala kita diijinkan untuk pulang, kembali ke rumah kita yang sesungguhnya, yang sudah Dia sediakan, itulah momen yang paling indah di dalam kehidupan kita.

Petrus melanjutkan dengan kembali menegaskan penebusan sebagai karya Kristus. Segala hal yang ada di dunia ini tidak sebanding dengan darah Yesus. Darah yang tercurah di atas salib, yang membebaskan kita dari dosa. Kita membaca disini bahwa keselamatan itu sama sekali tidak ada campur tangan manusia. Inilah kunci sebenarnya dari kekristenan. Perbedaan antara kekristenan dengan agama / kepercayaan lain di dunia ini adalah penebusan Kristus. Allah yang turun ke dunia melalui Yesus Kristus, merendahkan diriNya sebagai hamba, dan membebaskan dosa manusia. Keselamatan sepenuhnya adalah campur tangan Allah, tidak ada usaha manusia sedikit pun di dalam kita mendapatkan keselamatan.

Petrus menegaskan bahwa tidak ada hal yang lebih indah sebenarnya daripada salib Kristus. Penebusan melalui salib adalah kesempurnaan dari karya keselamatan. Ayat selanjutnya menyatakan bahwa Allah sudah dipilih sejak dunia dijadikan, dan alasan mengapa Dia menyatakan diriNya adalah karena kamu (karena manusia). Ini adalah panggilan bagi setiap kita untuk menghidupi kehidupan yang kudus di dunia.

Ayat selanjutnya memberitakan tentang keselamatan yang satu-satunya berasal dari Allah. Dampak dari kita telah diselamatkan adalah kita dapat memiliki iman dan pengharapan yang tertuju kepada Allah. Artinya bahwa satu-satunya pengharapan di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen adalah karena Kristus sendiri. Ada pengharapan di dalam kehidupan baru yang diberikan oleh Kristus. Ada suatu janji yang harus kita maknai sebagai anugrah.

Dampak dari hidup di dalam anugrah adalah kita dapat melakukan hal-hal di dalam ketaatan kepada Allah. Ketaatan disini terkait dengan kebenaran yang akan Kristus nyatakan, dan ini berlangsung secara terus-menerus di dalam kehidupan kita. Kehidupan yang berpusat kepada Kristus akan membuat kita menjadi pribadi yang memiliki suatu kesungguhan untuk dapat mengasihi sesame kita manusia. Tentu saja hal yang mendasarinya adalah keselamatan, dan itu timbul dari kerinduan hati kita untuk terus menerus takluk kepada firman dan memaknai anugrah hari demi hari.


Kelahiran kembali hanya timbul berdasarkan Firman. Penegasan Petrus disini sangat jelas, bahwa ternyata perbuatan baik kita berasal dari benih, yang adalah Firman. Bagaimana kita bisa mengerti Firman? Allah yang bangkit, Allah yang berkuasa, Allah yang telah memilih kita sejak sebelum dunia dijadikan, Ia lah yang membukakan kepada kita rahasia itu. Iman yang berfokus kepada Allah. Memaknai hal ini seharusnya sebagai orang Kristen kita benar-benar penuh rasa syukur, atas setiap hal kecil apapun yang sudah Yesus kerjakan di dalam kehidupan kita. Ia mengaruniakan Roh Kudus untuk kita dapat hidup seturut dengan kehendak Allah, sekalipun di dunia kita masih tetap dapat memiliki suatu relasi yang intim dengan Allah, dan tidak dapat dipungkiri, semuanya adalah anugrahNya, dan apapun yang kita kerjakan, semuanya adalah untuk kemuliaanNya.

Monday, March 31, 2014

Eksposisi Yohanes 15:1-8

Yoh 15:1  "Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya.
Yoh 15:2  Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.
Yoh 15:3  Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.
Yoh 15:4  Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.
Yoh 15:5  Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
Yoh 15:6  Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.
Yoh 15:7  Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.
Yoh 15:8  Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."


Mari kita lihat bagaimana latar belakang kehidupan bangsa Israel. Di dalam kehidupan bangsa Israel, kebun anggur selalu memiliki seorang pengusaha. Nah di dalam ayat ini Yesus mencoba menjelaskan mengenai peran manusia di dunia ini. Yesus pertama kali menjelaskan mengenai pokok anggur, yakni Dia sendiri sebagai pokok anggur. Sebuah pokok anggur menandakan adanya suatu tanda kehidupan di dalam kehidupan Yesus. Hal ini sangat menarik manakala kita melihat perkataan Yesus selanjutnya adalah Dia adalah “pokok anggur yang benar”, artinya berarti ada pokok anggur yang salah / tidak benar. Ia juga mengatakan bahwa Bapa adalah pengusaha, yang mana Ia yang merawat pokok tersebut beserta ranting-rantingnya.

Kalau kita melihat ayat ini, satu hal yang dapat kita tangkap adalah bahwa satu-satunya kebenaran adalah di dalam Yesus, dan kebun anggur yang diurus Bapa pun berpusat pada Yesus. Artinya bahwa tidak ada kehidupan tanpa adanya Kristus di dalam kehidupan kita. Dialah pokok anggur itu, pokok anggur yang benar yang memberikan ranting-rantingnya supply makanan.

Ayat ke 2 ini mencoba menjelaskan bagaimana peran Bapa, yakni sang pengusaha dari kebun tersebut di dalam merawat kebun anggur. Kebun anggur biasanya di dalam konteks bangsa Israel diurus oleh seorang pengusaha, dan ada pula pekerja-pekerja kebun anggur tersebut yang diutus oleh pengusaha. Pekerja kebun anggur ini taat di dalam perintah pengusaha.

Perintah pengusaha kebun anggur ini jelas sekali, bahwa untuk menghasilkan buah anggur yang berkualitas maka harus dilakukan suatu pembersihan. Kalau melihat ayat ke 2 di bagian akhir, setiap ranting yang tidak berbuah akan ‘dipotong’. Sangat menarik bahwa ranting-ranting yang tidak berbuah ini mengganggu pertumbuhan ranting-ranting yang berbuah. Setiap ranting yang berbuah mendapatkan sebuah perlakuan yang spesial, yakni selalu dibersihkan.

Sama juga di dalam kehidupan kita bersama Allah. Ketika kita sudah diasupi ‘makanan’ rohani, seharusnya kita memiliki kehidupan baru bersama Allah. Kehidupan baru itu ditandai dengan tindakan yang bisa menghasilkan buah. Kalau di dalam kehidupan kita, kita menjadi seseorang yang anti dengan kritikan yang diarahkan kepada kita, itu berarti kita benar-benar menjadi pribadi yang tidak mau ‘dibersihkan’. Firman Tuhan itu seperti pedang bermata dua, saat kita belajar Firman, seharusnya hal yang kita pelajari memberikan sebuah perubahan di dalam kehidupan kita.

Menarik pula disini ada sebuah janji dari Tuhan. Ketika kita sudah mendapatkan asupan makanan yang benar, maka kita juga akan mendapatkan sebuah pertumbuhan yang lebih optimal. Artinya bahwa ketika kita belajar merendahkan diri di hadapan Tuhan dan menerima FirmanNya itu menunjukkan bahwa kita ingin mengenal pribadi Tuhan, dan Ia akan membuat kita menjadi pribadi-pribadi yang siap untuk ‘tercurah’. Ya, menjadi anggur yang tercurah bagi orang lain sehingga orang-orang bisa menikmati kasih Kristus.

Ayat ke-3 mengimplikasikan mengenai bagaimana kita sebagai ranting sudah dibersihkan, dan pembersihan itu adalah akibat dari Firman Tuhan sendiri. Wah ini sungguh menjadi sesuatu yang harus kita tanamkan di dalam kehidupan kita. Pernyataan dari Yesus ini seharusnya menjadi motivasi bagi kita untuk terus menerus ingin dibersihkan, dan itu berarti kita perlu terus belajar mengenai kebenaran yang ada di dalam firman itu. Apa sikap kita manakala kita sedang dibersihkan oleh Tuhan melalui Firman itu? Apakah kita bersikap defensif, ataukah kita menerima hal itu?

Ayat ke-4, Yesus mencoba menegaskan kembali bagaimana kehidupan kita sebagai ‘ranting’ tidak dapat terpisah dari pokok anggur. Ranting tidak dapat berbuah sendiri saat ia lepas dari pokok anggur, sama seperti kehidupan kita. Pembelajaran dari ayat ini adalah bagaimanapun, kita tetap diminta untuk ‘menempel’ dengan pokok anggur tersebut. Ketika kita tidak menempel di dalam Firman, kita tidak akan bisa berbuah di dalam kehidupan kita. Makna hidup kita ditemukan saat kita tetap menempel dengan kebenaran Firman Tuhan sendiri.

Ayat ke-5 mencoba menjelaskan kepada kita mengenai bagaimana kehidupan kita di dalam Kristus dan diluar Kristus, sang pokok anggur yang benar. Ketika kita berada di dalam Yesus, kita berbuah banyak, dan diluar DIa, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Yah, ini realitas yang seringkali kita tidak menyadarinya. Ketika kita hidup di tengah dunia ini dengan berbagai problematikanya, kita bisa benar-benar lupa kalau ada Tuhan di dalam kehidupan kita. Kita menjadi pribadi yang benar-benar kelihatannya hebat. Bagaimana tidak? Kita seringkali tidak melibatkan dan mengandalkan Tuhan di dalam setiap hal yang kita kerjakan.

Satu nasihat yang penting juga bagi orang-orang sibuk, dan itu juga berlaku di dalam pelayanan kita. Ketika kita mulai dipercaya untuk melayani Tuhan di gereja ataupun di kampus, bahkan di tempat kerja, kita mulai dipercayakan bidang-bidang pelayanan, itulah saat yang berbahaya. Bisa saja bahkan di dalam pelayanan kita, kita mengandalkan hikmat dunia dan kita sama sekali tidak mempedulikan bahkan meminta pertolongan hikmat dari Tuhan. Ini menjadi satu peringatan bagi kita untuk kita menyadari betul akan peran Allah sebagai penguasa kehidupan kita.

Contoh dimana kita cenderung untuk jatuh dalam dosa dan tidak mempedulikan Tuhan di dalam perasaan kita dapat hidup sendiri ada di dalam diri Salomo. Kita melihat di awal kehidupannya, Salomo tidak meminta kekayaan, dia meminta hikmat Tuhan. Awal yang sangat baik di dalam kehidupan Salomo. Namun seiring bertambahnya kekuasaan dan kekayaannya, serta bagaimana kehidupan poligami yang ia praktekkan, kita melihat akhirnya ia menuliskan kitab Pengkotbah. Bahwa ternyata kehidupan yang kita kejar, kekayaan, harta, ataupun tahta dan segala hal, ternyata sia-sia.

Kesia-siaan hidup tanpa Tuhan merupakan hal yang paling mengenaskan di dalam dunia ini. Mungkin kita juga saat ini perlu mengevaluasi kehidupan kita, seberapa jauh kita memandang relasi dengan Allah sebagai sesuatu yang penting – yang lebih penting daripada apapun? Kalau kita punya relasi dengan Allah yang intim, kita punya sebuah kepekaan di dalam kita hidup. Tetapi akhirnya semuanya kembali kepada satu tujuan yakni memuliakan Tuhan dan menikmati Dia sepanjang waktu. “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya”, itulah kata Yesus, dan lanjutannya adalah “dan semuanya akan ditambahkan kepadamu”. Oh, ini merupakan janji Tuhan yang sangat sangat indah! Semuanya yang ditambahkan mungkin bukan hal-hal yang kita mau, tetapi hal-hal yang membuat kita semakin sadar bahwa kita tidak dapat hidup tanpa Dia.

Ayat ke-6 menegaskan kembali kehidupan tanpa Allah. Kalau kita baca disini, justru Yesus sangat keras di dalam firman ini. Dia menjelaskan bahwa orang yang tidak ‘menempel’ kepada kebenaran Firman dan kepada Dia, maka akan dibuang dan dimasukkan ke api. Betapa sebagai orang Kristen seharusnya kita bersyukur. Disini kita juga bisa membayangkan bahwa kehidupan kita sebagai orang Kristen adalah menjadi berkat. Tuhan akan terus menerus membersihkan kehidupan kita dengan Firman, dan ia memotong hal-hal yang mana ingin kita tumbuhkan sendiri. Sebuah ranting yang ingin bercabang-cabang akan segera dimusnahkan saat tidak menghasilkan buah. Demikian juga di dalam kehidupan kita mungkin ada banyak cabang-cabang ranting itu yang membuat kita sama sekali tidak dapat berbuah. Ada banyak hal yang membuat kita tidak dapat berbuah, dan Allah akan memotong semuanya itu sampai kita benar-benar dapat menghasilkan buah anggur yang berkualitas tinggi, dan dapat tercurah bagi orang lain.

Ayat ke-7 merupakan sebuah jaminan yang disediakan Tuhan saat kita memiliki intimasi dengan Dia. Sebenarnya kita tidak meminta pun, Allah menyediakan. Ingat, ayat ini tidak boleh dibaca sepotong tanpa kita membaca ayat-ayat diatasnya. Kalau dibaca hanya ayat ini saja, kelihatannya kita bisa jadi penguasa kehidupan kita sendiri, menganggap Tuhan sebagai penyedia yang selalu mensuplai sesuatu yang kita inginkan. Kalau kita salah di dalam memahami ayat ini, kita bisa terperangkap dalam kehidupan yang berpusat pada diri sendiri.

Keseluruhan ayat 1-6 menjelaskan mengenai bagaimana kita tidak dapat hidup tanpa Tuhan. Kemudian juga sebelumnya dijelaskan bahwa Bapa adalah pengusaha dari pokok anggur dan ranting-rantingnya. Ranting selalu mendapatkan suplai makanan yang cukup, bahkan berlimpah hingga ranting tersebut dapat menghasilkan buah yang berkualitas. Kemudian juga ranting tidak dapat hidup dan berbuah tanpa adanya pokok anggur yang benar. Kalau begitu berarti sebenarnya tidak ada hal yang dapat kita minta diluar kehendak Allah. Bahwasanya segala hal yang dikerjakan Allah dan disediakanNya merupakan hal yang paling esensial di dalam kehidupan kita, dan permintaan kita adalah seturut dengan kehendak Allah. Ini berarti ada suatu relasi yang saling mengerti.

Sama seperti ketika kita berpacaran, kalau relasi kita dekat, satu dengan yang lain seharusnya bisa tahu apa yang diinginkan pasangannya. Kalau kita berpacaran kita berusaha mencari tahu apa yang pasangan kita mau, kenapa di dalam pengenalan kita pada Tuhan, kita tidak mau tahu akan apa yang Tuhan mau? Wow, tidak adil sekali bukan?

Implikasi dari hal ini berarti sebenarnya tidak ada hal yang perlu kita minta. Kita meminta hal yang seharusnya kita minta, yakni agar namaNya dipermuliakan melalui buah yang kita hasilkan di dalam kehidupan kita. Coba bayangkan saja ada banyak orang yang datang kepada Kristus melalui kehidupan kita, melalui contoh hidup kita, itulah buah yang paling manis yang bisa kita persembahkan kepada Allah. Inilah yang diinginkan Yesus, dan itulah yang Yohanes simpulkan di ayat ke-8.

Mari belajar bahwa kita perlu satu relasi yang terus menempel kepada pokok anggur itu. Dia yang sudah memberikan supply kepada kita, Dia yang sudah memenuhi kebutuhan kita, bahkan nafas kita pun, Dia yang menyediakan. Segala hal sudah diberikan kepada kita, dan sebagai ungkapan syukur, apa yang mau kita persembahkan kepada Tuhan di dalam peran kita sebagai ranting? Apakah kita menjadi ranting yang menghasilkan buah yang berkualitas tinggi? Anggur seperti apa yang kita hasilkan? Apakah kita mau belajar menerima pembersihan yang dilakukan para pekerja yang disediakan Bapa untuk semakin hari membuat anggur kita semakin berkualitas? Bagaimana relasi kita dengan sang pokok? Apakah kita sudah menempel terus kepadaNya sehingga suplai makanan yang diberikan sang pokok anggur itu dapat berbuah dan kita menghasilkan anggur yang dapat tercurah bagi semua orang? Mari kita merenungkannya!


Soli Deo Gloria!

Monday, March 10, 2014

Menikmati Persekutuan Dengan Allah

Seorang teman pernah tanya kepada saya: “bagaimana relasimu dengan Allah?” Saat itu saya belum seorang percaya dan saya menjawab “Hmmm aku kira aku baik-baik aja kok. No problem.” Saat kemudian aku bertobat dan merenungkan jawaban itu, benarkah aku baik-baik saja? Apakah dengan aku berdoa setiap hari (yang mana dulu saya sekolah di sekolah Katolik yang mulai dan selesai pelajaran selalu berdoa) itu berarti relasiku dengan Tuhan sudah menjadi relasi yang baik?

Semakin aku beranjak dewasa, semakin aku belajar untuk merenungkan hal-hal yang sepertinya dulu aku agak acuhkan. Memang pertanyaan itu bukanlah suatu pertanyaan yang hanya sekali ditanyakan kemudian it’s done. Pertanyaan mengenai bagaimana intimasi kita dengan Allah adalah sesuatu yang harus kita gumuli hari demi hari. Kita perlu belajar untuk memiliki keintiman yang begitu erat dengan Bapa, dan setiap harinya kita perlu mengevaluasi hal tersebut. Bukan hanya tiap hari, tetapi setiap saat hal tersebut menjadi sesuatu yang perlu kita gumulkan.

Keintiman dengan Allah dibangun dengan suatu disiplin rohani yang tidak mudah. Starting point dari keintiman dengan Allah adalah bagaimana kita menerima Kristus dengan iman. Ini adalah langkah awal yang tidak mungkin kita lewatkan. Step ini ialah step dimana kita mengijinkan Kristus mengubah kehidupan kita – memunculkan kerinduan kita melalui Roh Kudus untuk mulai mengenal pribadiNya. Pertanyaan yang pas bagi kita adalah “apakah engkau mengasihiKu?” seperti pertanyaan Yesus kepada Petrus. Ini adalah pertanyaan yang memulai segalanya tentang keintiman dengan Allah.

Poin kedua adalah membuka diri untuk menerima Firman Allah. Bagian ini meliputi suatu step dimana Allah membukakan diriNya yang kemudian kita bisa mulai memiliki kegemaran untuk membaca dan merenungkan Firman. Seperti yang sudah dijelaskan, bahwa kerinduan ini tidak akan bisa muncul tanpa adanya suatu pemahaman akan diri sendiri bahwa kita sudah ditebus melalui pengorbanan Kristus. Dampak dari pengorbanan Kristus seharusnya adalah hidup kita semakin diubahkan perlahan melalui Firman.

Perlahan tapi pasti, pemahaman akan Firman akan mulai mengubahkan kehidupan keseharian kita. Menikmati firman bukan hanya masalah kita membaca dan kemudian kita cepat-cepat membaca alkitab sampai kita punya target 1 tahun harus habis. Target tersebut memang baik, tetapi kita perlu ingat bahwa semua pemahaman tentang Kristus dalam kehidupan kita adalah sejauh mana Allah akan membukanya. Maka dari itu sebenarnya hal yang penting bukan masalah kuantitas, tetapi bagaimana kita dapat menikmati makanan rohani yakni Firman Tuhan yang berkualitas tinggi, sekaligus belajar mencernanya sehingga menjadi gizi yang baik bagi kehidupan keseharian kita.

Keintiman kita dengan Kristus akan membuat kita dapat berkata seperti Daud:

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal! (Mazmur 139:13-14)

Ataukah kerinduan Asaf seperti ada di mazmur berikut ini:

Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.  (Mazmur 73:24-25)

Setelah kita menikmati persekutuan dengan Allah melalui Firman, jangan lupa bahwa kita perlu mengakhiri waktu intim kita dengan Tuhan dengan suatu ucapan syukur. Pengucapan syukur bahwa Allah telah berkenan untuk berkata-kata melalui FirmanNya. Kemudian juga kita memohon kepada Tuhan untuk kita dapat melaksanakan dan meneladaniNya. Ini adalah bagian yang seringkali terlewatkan.

Hal yang paling menyenangkan bagi kita adalah ketika kita bisa belajar karakter Kristus. Banyak orang mengenal Tuhan hanya sebatas kognitif namun kehidupannya tidak mencerminkan pengenalannya kepada Allah. Kekristenan bukanlah hanya masalah pemahaman mengenai doktrin (bukan berarti bahwa doktrin bukan sesuatu yang penting!). Kekristenan berbicara mengenai gaya hidup. Hidup kekristenan seperti suatu koin yang punya dua sisi, sisi yang pertama adalah relasi dengan Tuhan dan sisi kedua adalah relasi dengan manusia. Ini juga merupakan gambaran salib. Vertikal – menunjukkan ada suatu relasi dengan Allah, dan horizontal – menunjukkan relasi kita dengan sesama kita. Keduanya diperdamaikan melalui Kristus.


Melalui pemahaman yang benar tentang Allah, kita akan semakin hari makin rindu untuk mengenal Tuhan dan menikmati relasi kita denganNya. Jika kita mulai ‘kering’, mintalah kepada Roh Kudus untuk menimbulkan suatu kerinduan kepada hati kita, sehingga seperti Daud, seperti Asaf, ataupun seperti Paulus yang semakin hari semakin rindu dan menyadari bahwa tanpa Allah kita tidak bisa apa-aoa. Memaknai bahwa tanpa Allah kita tidak dapat melakukan apapun akan membantu kita untuk terus menerus diperbarui dan kita semakin merendahkan di hadapanNya. Semakin kita merasa tidak mampu menghadapi hidup ini sendirian, semakin kita belajar berserah kepadaNya, semakin Allah akan bekerja dengan luar biasa.

Sunday, February 9, 2014

Eksposisi Kolose 1:15-23 - Keutamaan Kristus

Pembukaan surat ini melanjutkan dari sebelumnya, yakni mengenai keutamaan Kristus di dalam hidup orang percaya. Secara gamblang dan lugas Paulus mencoba menjelaskan di ayat 16 tentang siapakah Allah itu. Ia menuliskan bahwa Allah ialah Allah tidak kelihatan. Ini menjadi suatu pemikiran yang cukup abstrak bagi orang-orang yang mencoba untuk mengerti tentang Allah. Karena Allah ialah entitas yang tidak kelihatan bukan berarti bahwa Dia tidak ada. Paulus melanjutkan bahwa Allah lebih utama dari segala yang diciptakan. Ini menjadi suatu doktrin gereja yang sangat jelas. Melalui Yesus Kristus, Allah yang tidak kelihatan itu menjadikan diriNya terlihat oleh manusia. Tetapi sekalipun begitu, Allah tetap ialah yang lebih utama daripada segala sesuatu yang diciptakan, yang berarti bahwa Dia berdaulat penuh atas ciptaan.

Paulus menuliskan hal yang menarik di ayat 16, yakni segala sesuatu yang ada di dunia ini disebabkan oleh Allah (prime cause). Kalau kita lihat kembali ayat ini, bahkan dapat dilihat bahwa Allah mengatur segala hal baik yang besar maupun yang kecil. Tetapi menarik sekali di akhir ayat ini dituliskan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ini berarti bahwa tindakan apapun yang kita kerjakan sebenarnya sudah didaulat oleh Allah. Di dalam kedaulatanNya, Allah mengatur dunia ini sampai kepada level yang paling detail sekalipun.

Ayat-ayat selanjutnya mencoba untuk menjelaskan mengapa Kristus ialah yang terutama. Ayat 17 menjelaskan bahwa Kristus ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Paulus ingin menunjukkan bahwa Kristus ialah pencipta segala sesuatu, yang mana dipertegas dari ayat ini. Ketika sesuatu itu ‘ada’, maka harus ada sesuatu yang membuatnya ‘ada’ (hukum sebab akibat), dan Allah melampaui segala hukum itu. Ia tidak terikat atas hukum sebab akibat, karena Ia adalah yang paling utama (Yohanes 1:1 – Pada mulany adalah FIRMAN). Ia tidak membutuhkan penyebab.

Paulus melanjutkan suratnya dengan mencoba menjelaskan tentang hubungan Kristus dengan jemaat. Kristus ialah kepala tubuh, yang berarti bahwa Ia mengendalikan segala hal. Di kepala ada banyak organ tetapi yang paling signifikan disini ialah bahwa kepala memiliki otak. Kepala juga merupakan sumber kehidupan kita, dan kita disebut disini sebagai “tubuh”.

Jemaat Tuhan disebut Tubuh, yang berarti kita memiliki suatu peran yang harus dikerjakan di dunia ini. Allah yang mempimpin kita, seperti kepala dengan otak yang selalu membuat kita berpikir dan memampukan kita untuk melakukan sesuatu. Otak itu seharusnya menjadi hal yang utama karena melalui otak itulah kita dapat melakukan sesuatu.

Ia adalah yang sulung, yang pertama bangkit… ini menjadi salah satu status kita sebagai orang yang percaya. Ketika Paulus mencoba menuliskan hal ini melalui hikmat Roh Kudus, dengan penuh keyakinan ia berkata bahwa kita pun juga akan mengalami hal yang sama dengan Kristus, saat ia mati di kayu salib. Ada suatu janji kekekalan yang dituliskan disini.

Karena Kristus lebih dahulu mengalami semua hal yang dialami juga oleh manusia, kita boleh yakin dan percaya sebagai anak-anak Allah, kita juga akan mengalami kebangkitan tubuh (seperti yang disebutkan dalam Pengakuan Iman Rasuli). Ini juga membuatnya menjadi suatu entitas yang paling utama dalam segala sesuatu, dan kalau dikaitkan dengan kehidupan anak-anak Allah, yakni orang Kristen, ini berarti suatu pesan yang luar biasa bagi kita. Kita harus yakin bahwa ketika Allah bangkit dan naik ke sorga, kita pun juga akan mengalami hal yang sama.

Seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Kristus, yang mana ini ditunjukkan di dalam injil, dan juga di surat Paulus kepada jemaat di Filipi. Pembahasan tentang kenosis ada di sini, yakni saat Allah mengambil rupa seorang hamba, sampai taat dan mati. Kalau kita melihat juga di ayat 20, lanjutannya ialah bahwa Ia mendamaikan segala sesuatu dengan diriNya. Ini berbicara tentang pendamaian seluruh umat manusia yang percaya kepadaNya di dalam pengorbanan Kristus.

Semuanya sudah diselesaikan oleh pelayanan Kristus, yang mana berakhir di dalam kemegahan salib. Kemegahan sekaligus kehinaan (itulah pandangan manusia). Kemegahan salib itu membuat kehidupan kita dapat diperdamaikan dengan Allah. Ialah sang mediator itu. Ialah yang membuat kita dapat kembali berkomunikasi dengan Allah. Melalui pengorbanan Kristus itulah hidup kita diperbarui, ada suatu relasi yang dipulihkan oleh Kristus.

Kalau kita lihat dari ayat ini, melihat tema utama dari ayat-ayat sebelumnya, kita dapat memahami bahwa melalui surat ini Paulus ingin menunjukkan mengenai begitu besarnya dan utamanya Kristus di dalam setiap karyaNya. Ada beberapa alasan, yakni karena Ia memang Allah. Kedua adalah karena melalui salibNya itulah kita dapat beroleh keselamatan – melalui iman. Pendamaian itu hanya dimungkinkan melalui adanya mediasi, karena tanpa Kristus, kita tidak dapat mengenal siapa Allah.

Ayat 21 dengan sangat jelas memperlihatkan adanya perubahan pola pikir di dalam kita mengenal Allah. Ketika kita mengenal Allah, ada suatu perubahan mendasar, yakni adanya suatu perubahan dari apa yang dianggap oleh diri kita sendiri sebagai suatu kebobrokan, kini menjadi sesuatu yang mulia. Apa maksudnya? Ketika kita mulai mengenal Allah, seharusnya segala hal lain yang menjadi utama di dalam hidup kita sudah meaningless. Hidup yang bermakna ketika kita mengenal Kristus ialah hidup yang berpusat kepada kasih Allah – yang berarti bahwa seluruh hidup kita ialah milikNya.

Perubahan pola pikir tadi akan mempengaruhi tindakan kita terhadap apa yang akan kita perbuat terhadap Allah. Ketika ada perubahan pola pikir, hal yang terjadi ialah kita dimungkinkan untuk berbuat seturut dengan kehendak Allah. Tentunya sesuatu yang benar di hadapan Allah, sesuai dengan standarnya. Motivasi kita di dalam melakukan sesuatu akan mengalami perubahan – dari yang tadinya berpusat kepada kebanggaan diri, menjadi suatu persembahan yang kudus dan berkenan di hadapanNya.

Dampak dari pengorbanan Kristus di kayu salib dapat dilihat pada ayat selanjutnya. Paulus menuliskan bahwa ada suatu pendamaian melalui kematian Kristus. Mengapa Kristus mati? Karena ini konsisten dengan apa yang disebutkan bahwa upah dosa ialah maut. Melalui mediator kita – yakni Kristus, kita mendapatkan sebuah privilege. Melalui pengorbananNya kita dikuduskan di hadapan Allah. Pengudusan hidup melalui kasih Kristus ini menjadi suatu langkah awal dari kelahiran baru.

Paulus menuliskan ada suatu proses pengudusan yang sedang dikerjakan Tuhan atas kehidupan kita. Melalui salib, Paulus menyebutkan, bahwa kita tak bercela dan kudus, dan tak bercacat di hadapan Allah. Ini menjadi satu kabar baik bagi kita. Ya, itulah kekuatan dari salib. Itulah anugrah yang dipersiapkan Allah bagi kita bukan? Dosa yang membuat kita seharusnya menerima upah yakni maut, sekarang telah dihapuskan oleh darahNya yang kudus. Ialah korban sempurna, korban penebusan dosa yang Allah sudah sediakan. Pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah seberapa besar kita memaknai keselamatan yang dikerjakan Allah ini?

Sebagai konklusi dari tema utama Paulus tentang keutamaan Kristus, ia menuliskan bahwa setiap kita harus bertekun di dalam iman. Ada suatu pengharapan yang sedang dan akan digenapi oleh Allah. Pengharapan itu tidaklah sia-sia. Pengharapan ini berasal dari injil yang daripada Allah. Ada suatu janji di dalam kita mengenal dan mengerti tentang keutamaan Kristus. Ketika Kristus mengubahkan hidup kita, kita perlu sadar bahwa pengharapan itulah yang nantinya akan menjadi nyata.

Iman itu akan membawa kita menjadi orang yang tahu dan sadar bahwa anugrah itu bukan hanya untuk kita menjadi orang-orang yang take it for granted. Melalui pemahaman akan kasih Kristus, seharusnya kita bisa berkata seperti Paulus bahwa hidup kita bukan milik kita sendiri, namun hidup kita ialah milik Kristus. Ketika Allah memilih kita, tidak akan pernah Ia meninggalkan kita. Tidak akan pernah Ia menjadi Bapa yang akhirnya menghancurkan hidup kita. Keteguhan kita akan iman kita pun sebenarnya juga berasal dari Dia sendiri.


Apa yang saat ini menjadi hal yang terutama di dalam kehidupan kita? Apakah kita menyadari bahwa kita ialah milikNya dan Ia adalah Allah kita? Kristus ialah yang terutama, dan hanya melalui Dialah, ada suatu hidup baru. Ada suatu pengharapan yang terus membentuk kehidupan kita menjadi semakin serupa denganNya.

Friday, January 31, 2014

Being A Digital Missionary

Berbicara mengenai komunitas on-line, sekarang sangat marak. Perkembangan social networking mulai dari Friendster hingga sekarang Facebook dan Twitter benar-benar menggiurkan. Masyarakat online. Online Community ini kemudian akan mencetak Digital City, yang membentuk Digital Generation, dan membentuk Screenager.

Partisipasi kreatif dari situs seperti ini dapat dilihat, beberapa efek dari Facebook:
1.       Membentuk cara menjalani hidup dan mempengaruhi gaya hidup
Sadar atau tidak, online community membentuk suatu pola pikir yang baru. Kerinduan akan firman Tuhan serasa dihancurkan oleh laptop kita yang sangat ganas. Bersyukur bahwa ketika kita sadar akan hal itu, kita tidak diikat oleh komunitas online tersebut.

2.       Menyebabkan adanya Split Kepribadian
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam komunitas online kita bisa menjadi orang yang super baik. Orang tidak dapat melihat dan berinteraksi dengan kita secara langsung, hal ini tentunya berbahaya. Orang kemudian memiliki kepribadian ganda dan tidak menjadi dirinya sendiri.

3.       Komunitas maya yang ‘palsu’, integritas semakin dikaburkan
Hampir sama dengan nomor 2. Intinya disini adalah kita tidak menjadi kita yang sebenarnya. Celakanya, hal itu tidak diketahui oleh orang-orang disekitar kita.

4.       Ekspresi diri yang tanpa batas
Ini yang paling ngeri. Di facebook dapat kelihatan dengan sangat jelas bagaimana orang-orang menjadi sangat egois. Dia kelihatannya ingin menjadi pusat dunia dengan menuliskan status-status yang tidak jelas.
Arti dan definisi dari persahabatan menjadi hilang, bahkan seorang bisa menjadi kelihatan sangat dekat di facebook tetapi kenyataannya mereka tidak berhubungan apa-apa. Arti komunitas Kristen dalam perspektif alkitab pun juga serasa hilang.

5.       Pertukaran Worldview
Tidak dapat disangkali bahwa di komunitas online, batas-batas komunikasi semakin hilang, dan ini menyebabkan terjadinya pertukaran worldview. Ini dapat menjadi kesempatan sekaligus ancaman. Kesempatan yang baik untuk mengkabarkan injil melalui komunitas online.

6.       Social Community
Dapat terjadi komunitas yang semakin social. Apakah benar? Mungkin tidak. Seperti yang sudah dijelaskan pada nomor 4. Kita dapat terjebak dalam apa yang disebut sebagai social individualism. Sebenarnya apakah kita ingin mencari teman ataukah kita mau menjadi pusat dunia?
Dengan adanya komunitas yang baik, dapat menjadi suatu kontrol social yang baik juga. Jika mungkin ada kebijakan pemerintah yang mungkin tidak berkenan dihati rakyat dan sebagainya, dapat menjadi suatu kekuatan kontrol yang sangat besar.

7.       No communication barrier
Semakin lama, batasan komunikasi menjadi hilang. setiap orang dapat berteman satu dengan yang lain. Ini juga yang diteladankan Yesus ketika Dia berbincang dengan perempuan Samaria.

Tindakan kita:
Bagaimana tanggapan kita sebagai orang-orang yang percaya? Satu jawaban yang mewakili semua adalah menjadi Digital Missionary. Facebook merupakan suatu media yang sangat efektif dalam rangka pengkabaran dan penyebarluasan injil. Menjadi orang-orang yang dapat memanfaatkan teknologi sebagai suatu media yang efektif.

Apa yang kita lakukan dalam kita menggunakan jejaring sosial yang saat ini marak? Sudah efektifkah kita menjalani peran kita sebagai digital missionary? Apakah dengan posting kita, update status kita, kita sudah menunjukkan betapa kasih Allah begitu besar bagi kita? Mari belajar untuk menjadi seorang digital missionary. Ada tantangan jaman yang begitu besar, dan ini menjadi suatu kesempatan bagi kita untuk terus berkarya.


Soli Deo Gloria