Total Pageviews

Sunday, April 1, 2018

Refleksi Paskah - Berkarya Bagi Kristus yang Bangkit


Tepat hari ini, 1 April 2018 umat Kristen di seluruh dunia merayakan Paskah. Sebuah peristiwa paling penting didalam perjalanan kehidupan Yesus. Kebangkitan Yesus pada hari ketiga merupakan sebuah cerita sekolah minggu yang sering sekali kita dengar. Setiap tahun dalam kehidupan kita mungkin kita akan merayakan paskah, dengan berbagai acara yang diadakan. Tetapi yang menarik adalah ketika kita melihat seperti apa hal yang terjadi ketika Paskah itu berlangsung.

Titik Nol
Betapa murid-murid kehilangan seorang guru yang menjadi panutan mereka. Mereka yang punya pengharapan bahwa akan ada suatu pembebasan – seperti yang disampaikan oleh para nabi PL, ternyata Sang Mesias yang mereka harapkan ada di dalam diri Yesus Kristus tidaklah seperti yang diharapkan. Hal ini membuat murid-murid mengalami suatu keadaan yang begitu menyedihkan. Mereka kehilangan tujuan hidup mereka. Mereka kehilangan junjungan satu-satunya yang telah memilih mereka.

Inilah yang terjadi setelah Yesus mati di kayu salib, dan titik nol itu terjadi ketika Yesus bangkit dan menampakkan diri. Kebangkitan Yesus menjadi suatu peristiwa yang begitu berarti bagi para murid. Mereka yang semula kembali melakukan kegiatan-kegiatan mereka, mendapatkan suatu semangat baru di dalam kehidupan mereka.

Providentia Dei
Penyertaan Tuhan adalah sesuatu yang utuh di dalam kehidupan manusia hari lepas hari. Penyertaan itulah yang menunjukkan bahwa Ia adalah Allah yang setia, dan itupun yang dirasakan oleh para murid-murid di momen Paskah. Petrus yang diubahkan setelah menyangkal dia, Saulus yang memutuskan untuk mengubah haluan hidupnya dan mengubah namanya menjadi Paulus, dan murid-murid lain yang akhirnya melanjutkan karyaNya di dunia ini.

Ini juga yang harus kita maknai bersama. Penyertaan Tuhan yang sebenarnya senantiasa ada di dalam kehidupan orang percaya. Pertanyaannya adalah: apakah kita peka terhadap penyertaan Tuhan? Kerasa nggak kalau ternyata waktu kita masih bisa melihat, menghirup nafas, membaca artikel ini, bukankah itu adalah bukti dimana penyertaan Tuhan itu senantiasa ada di dalam kehidupan kita?

Jadi jelaslah sekarang, apa yang membedakan kita dengan Paulus, Petrus, ataupun murid-murid yang lain. Bukan penyertaan Tuhan yang membeda-bedakan, tetapi sikap atau respons kita terhadap penyertaan Tuhan. Memang bener setiap orang punya pengalaman sendiri bersama Tuhan, dan selama ini saya kok yakin dan percaya banget bahwa di tengah setiap pergumulan dan pengalaman hidup yang Tuhan sediakan, selalu ada hal yang dimana Tuhan hadir dan mau ikut campur dalam kehidupan manusia.

Dia Mengikuti Kita
Ada sebuah puisi berjudul “Anjing Pemburu dari Sorga” yang dituliskan oleh Francis Thompson, yang mana puisi ini aku ketahui dari kotbah Dr. Ravi Zacharias. Isinya sangatlah menarik, menunjukkan bagaimana Tuhan senantiasa mengejar kita sampai mendapatkan kita. Kalau kita lihat perumpamaan tentang anak yang hilang di injil Lukas pun, bukankah dijelaskan hal yang sama, tentang Bapa yang senantiasa menyambut anaknya yang terhilang dengan tangan yang terbuka?

Tuhan ingin tahu tentang hidupmu. Tuhan ingin tahu tentang setiap hal yang kamu lakukan. Eh, tunggu! Dia tahu sih, tapi seperti seorang pacar, Dia mungkin akan kepo terhadap semua tindakan yang kamu lakukan. Siapa sih pacar yang gak mau denger cerita dari pasangannya? Nah kalau kita bisa begitu mesra dan cerita panjang lebar kepada pasangan kita, kenapa kalau sama Tuhan kok kita susah banget ya cerita? Padahal Dia pengen denger sendiri lho cerita kita kepadaNya.

Stalker vs Follower … atau … BLOCK?
Kalau kita pengen kepo terhadap seseorang, kita bisa stalking ke akun sosmed nya, tetapi gak jadi friend atau follower-nya. Alhasil ya kita kepo aja sih, kita cuman pengen tahu sekilas tentang hidupnya orang tersebut. Tapi kalau kita jadi follower seseorang, kita bisa senantiasa update tentang hal-hal yang di-posting, pendapat dia, pola pikirnya, dan sebagainya.

Oke, sampai disini kita perlu menyadari bahwa Tuhan Yesus sudah follow setiap kita. Eh tunggu bentar! Kok seenaknya aja Dia follow? Memangnya kita gak pakai confirmation dulu? Hehe, maaf ya, tapi Dia akan senantiasa follow kita, gak butuh approval dari Dia.

Sebaliknya, apakah kita mau follow Tuhan Yesus? Atau selama ini kita cuman jadi fans gelap atau secret admirer-Nya aja? Apakah kita senang dengan ajaran Yesus tetapi gak senang untuk melakukannya? Apakah kita sekedar stalking, kepo-nya cuman sesaat-sesaat aja ataukah kita mau benar-benar mengikut Dia? Atau lebih parah lagi, apakah kita memutuskan untuk BLOCK Dia?

Involvement
Berapa sering kita berkata bahwa kita nggak mau Tuhan campur tangan dalam hidup kita? Hal ini terutama terjadi manakala berbagai hal buruk terjadi dalam kehidupan kita. Menolak campur tangan Tuhan manakala ada begitu banyak kehilangan yang kita alami. Menolak Dia ketika ada berbagai hal yang nggak sesuai ama kehendak kita.

Tetapi pernah kebayang ketika kita menolak Dia, itu berarti juga kita harus konsisten lho. Artinya kalau kita protes terhadap begitu banyak hal buruk yang terjadi dalam hidup kita, tapi kita gak pernah menolak hal baik. Kita berharap Tuhan ignorant sekaligus involve. Di satu sisi kita pengen Block, tapi satu sisi juga kita ingin follow.

Melihat dan Meneruskan Karya Allah
Yuk lihat lagi dalam hidup kita, sekali lagi mengevaluasi apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita. Ketika Tuhan sudah memberikan segalanya buat mengasihi kita, memberikan hidup yang baru, dan melayani hidup kita, kita mau nggak follow Dia? Menjadi seorang follower sejati, yang tidak hanya kagum, tapi juga mau mengikut Dia.

Paulus memilih buat mengikut Dia, meninggalkan hidupnya yang lama. Bukan suatu hal yang mudah bagi Paulus yang bisa dibilang Dia punya segalanya selama masa hidupnya sebagai Saulus. Tetapi di dalam hati setiap orang ada kekosongan, dan lubang itu hanya bisa diisi oleh sosok yang paling mengerti dan memahami kehidupan kita – Allah sendiri. Hal itulah yang mendasari kehidupan Paulus menjadi seorang yang mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan. Menjadi saksi kebangkitan-Nya, menyaksikan-Nya bagi orang lain sehingga orang lain dapat pula menyadari bahwa kekosongan hatinya hanya dapat diisi oleh pribadi Kristus sendiri.

Makna Paskah
Kehidupan baru yang Tuhan tawarkan bukanlah hidup yang gampang. Kebangkitan Kristus kiranya senantiasa mengingatkan kita bahwa senantiasa ada pengharapan – dan ketika Tuhan sudah memberikan pengharapan itu, maukah kita membagikan-Nya bagi orang lain? Ketika Tuhan merindukan kita sedemikian rupa, apakah kita rindu kepadaNya?

Beda dengan sosmed yang terbatas oleh kuota, jalur komunikasi yang Tuhan sediakan itu bebas. Kapanpun kita mau datang kepadaNya, selalu ada akses. Yuk kita mau open communication itu semata-mata karena Tuhan sudah mengasihi kita – dan Ia sudah bangkit – dan kita pun mau memberitakan kasihNya itu bagi orang lain melalui perkataan maupun tindakan kita.

Thursday, January 18, 2018

The Greatest Showman : 7 Hal Yang Dapat Kamu Pelajari dari Film Ini



Akhir tahun ini aku dapat kesempatan untuk menonton film “The Greatest Showman”, dan karena aku memang suka drama musikal, aku putuskan untuk menonton film tersebut. Ternyata film ini menarik banget lho. Jauh lebih bagus dari ekspektasi awal. Memang kalau aku nilai ceritanya tidak sedalam dan sebermakna Les Miserables yang juga diperankan oleh Hugh Jackman, tetapi film ini punya makna yang begitu dalam tentang bagaimana lika-liku kehidupan manusia.

1        Masa Lalumu Tidak Menentukan Masa Depanmu

Tokoh utama film ini diceritakan lahir dari keluarga miskin. Tetapi kita melihat bahwa di dalam menghadapi hidup yang begitu keras, ia berjuang dan akhirnya ia dapat meraih impiannya. Lagu yang indah untuk menggambarkan hal ini adalah “A Million Dreams”, yang juga menjadi salah satu soundtrack film ini. Jutaan impian dapat membuat kita tetap terjaga dan dapat diraih dengan imajinasi, serta usaha keras dan berani ambil resiko

2        Kita Tidak Dapat Membuat Semua Orang Bahagia

Kita bisa terjebak di dalam sebuah kondisi dimana kita ingin membuat semua orang senang. Padahal hal itu merupakan sesuatu yang tidak mungkin kita lakukan. Diceritakan di film ini ada seorang kritikus yang begitu tajam bagi Barnum. Namun ditengah kritikan itulah Barnum terus bertahan, tapi akhirnya goyah pada saat ia menghadirkan pertunjukan lain yang sama sekali berbeda dengan sirkus yang ia bentuk.

3        Dia yang Benar Mencintaimu takkan Meninggalkan Kamu

Hubungan Barnum dan Charity dipisahkan jarak selama bertahun-tahun. Tetapi janji untuk tetap bersama selalu ada dalam hati mereka. Hal inilah yang membuat pada akhirnya ia tetap setia dalam penantian. Begitu pula ketika Barnum berangkat menjalani konsernya bersama Jenny Lind, ia tetap dengan setia menanti kedatangannya. Kemudian lagu “Tightrope” menunjukkan betapa cinta itu berarti berani mengambil langkah iman untuk berani berjalan bersama dengan si dia. Jalanilah suka maupun duka dengan rasa syukur, pegang komitmen karena itulah dasar untuk menjalani dan merajut kisah bersama

4        Ketika Cinta Menghancurkan Tembok Pemisah

Kisah cinta antara Philip Carlyle dan Anne Wheeler adalah sesuatu yang menarik. Perbedaan ras, tingkat ekonomi, dan hobi mereka dipersatukan di sebuah pertemuan sederhana. Tatapan mata dan hasrat untuk mencinta itu cukup menjadi alasan untuk menyatu. Sampai pada akhirnya mereka berdua menjadi pasangan yang mungkin menjadi inspirasi bagi yang menonton film ini. Meskipun lagu “Rewrite The Stars” dinyanyikan dengan nada optimis dan realistis, pada akhirnya menjadi sesuatu yang positif di akhirnya.

5        Keberhargaan Hidup Tidak Ditentukan oleh Orang Lain

Salah satu lagu yang menjadi anthem dalam film ini adalah lagu “This Is Me”, dimana dikisahkan lagu ini dinyanyikan oleh sekumpulan orang aneh yang dikumpulkan oleh Barnum. Ya, setiap hal yang dianggap sebagai keanehan yang membuat kita dijauhi, jangan sampai menjadi penghalang bagi kita untuk menjadi diri kita sendiri apa adanya. Ketika kita mengerjakan segala sesuatunya dengan maksimal, maka kita akan menjadi pribadi yang berharga.

6        Sesuatu yang Mengisi Hati Kita

Jenny Lind, di film ini digambarkan sebagai seorang yang kesepian, dan dalam mengejar impiannya ia begitu struggle. Sampai akhirnya pertemuannya dengan Barnum membuka kesempatan untuk ia dapat mengejar impiannya. Namun ia menyadari ada kekosongan dalam hatinya yang ternyata gak bisa diisi harta maupun hal lain, kecuali cinta. Hal ini membuat Jenny melakukan berbagai hal yang nekat dan di luar dugaan. Ada sebuah kekosongan dalam hidup kita, dan biarlah ada Pribadi yang akan mengisinya dengan damai sejahtera untuk kita dapat menjalani hidup keseharian kita.

7        Tiada Tempat Untuk Kata “Menyerah”

Ada kalanya kita dibutakan oleh harta dan tahta, ketenaran dan uang mengaburkan impian kita. Hal-hal itu mungkin juga yang menjadi awal kehancuran hidup kita. Barnum menyadari hal itu dan menyanyikan lagu “From Now On”, menunjukkan bahwa selalu ada harapan bagi mereka yang mau fokus terhadap visi dan tujuan hidupnya. Ada kesempatan untuk kembali kepada visi hidup kita ketika kita mau melepaskan ikatan kita yang lama, memandang kepada masa depan yang cerah.

Yup! Itulah 7 hal yang bisa disampaikan. Sebenernya sih banyak banget nilai yang bisa diambil dari film ini. Tapi 7 hal itulah yang paling menancap di hati.

Thursday, January 4, 2018

Menyongsong Tahun Baru Penuh Pengharapan



Pendahuluan
Berkat… eh itulah yang selalu kita cari di dalam kehidupan kita. Ketika kita berkuliah, kemudian bekerja, semuanya adalah semata-mata untuk menikmati berkat yang Tuhan sediakan bukan? Ada banyak banget berkat Tuhan dalam hidup kita. Item berkat itu buanyak banget, yang mungkin bisa kita sebut satu per satu. Apalagi kalau kita belajar lihat selama setahun yang lalu. Entah itu kenaikan jabatan, kenaikan kelas, uang dalam jumlah tertentu, kenaikan gaji, bonus akhir tahun, dan sebagainya.

Memaknai Berkat
Berkat itu apa sih sebenernya? Kalau berdasarkan pendahuluan di atas berkat itu kok sepertinya berkaitan banget sama kemakmuran kita yah? Pokoknya sesuatu yang membuat kita happy. Mari kita lihat lebih jauh bahwa ternyata berkat itu jauh lebih besar dan lebih tidak terlihat daripada hal-hal itu. Di setiap momen pengutusan di akhir ibadah, biasanya akan dibacakan ucapan berkat seperti demikian:

Bilangan 6:24-26
(24) TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;
(25) TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
(26) TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.

Kalau kita lihat dari ayat di atas, tidak ada kalimat Tuhan memberkati engkau dengan banyak uang, atau Tuhan memberkati engkau dengan pasangan hidup. Bukan itu! Tuhan menjanjikan bahwa Ia akan menghadapkan wajah-Nya dan memberi damai sejahtera.

Lebih Dari Yang Dilihat Mata
Yes, berkat yang dirasakan oleh bangsa Israel pada masa itu adalah penyertaan Tuhan yang luar biasa. Sekalipun kalau kita baca kitab Keluaran sampai dengan Ulangan, kita akan melihat betapa tidak bersyukurnya bangsa Israel atas keluarnya mereka dari tanah Mesir. Mereka gagal paham akan rencana Tuhan dalam hidup mereka, mereka terus mengeluh dan sangat mudah untuk tidak bersyukur. Padahal Tuhan hadir dalam kehidupan mereka lho. Tuhan yang menuntun di dalam kehidupan mereka mulai dari awal sampai dengan akhir. Seakan mereka lupa akan begitu besarnya karya Allah mulai dari peristiwa Laut Merah, penyertaan TUHAN melalui tiang awan dan tiang api, roti manna yang turun dari sorga, dan sebagainya.

Kalau kita melihat dari peristiwa eksodus bangsa Israel dari Mesir, kita akan melihat bahwa bangsa Israel diperlengkapi dengan begitu banyak berkat yang Tuhan berikan. Tetapi di dalam kecukupan berkat Tuhan itu ternyata mereka gagal untuk memaknainya. Mereka malah ingin kembali ke tanah Mesir, mereka terus menerus meminta lebih dan lebih lagi.

Refleksi inilah yang perlu kita jalani di awal tahun 2018 ini. Layaknya perjalanan hidup bangsa Israel, kita pun hidup di tengah padang gurun. Sebuah tempat yang tidak menentu, sama seperti kehidupan di bumi yang sifatnya hanya sementara ini.

Melihat ke Belakang
Sebelum kita maju kedepan menjalani hari di tahun 2018, mari kita melihat kehidupan kita di tahun 2017 yang lalu. Tentu di tahun 2017 ada banyak peristiwa yang kita alami, dan kita melihat setidaknya bisa diklasifikasikan menjadi 2 peristiwa: peristiwa yang baik dan peristiwa yang buruk. Hal ini senantiasa menjadi sebuah kesempatan buat kita merenungkan berbagai hal yang sudah terjadi. Kita melihat bahwa bahkan kehidupan kita sebagai orang percaya pun tidak lepas dari hal-hal buruk yang senantiasa menimpa kita. Mungkin kematian, kehilangan pekerjaan, berpisah dengan orang tua, harus meninggalkan hal-hal yang membuat kita nyaman, dan sebagainya.

Hal ini membuat kita menyadari bahwa ternyata sebagai orang percaya pun kita mengalami hal-hal yang buruk. Hal ini mungkin akan membawa pertanyaan berikutnya: mana berkat yang Tuhan janjikan untuk senantiasa kita alami itu? Benarkah Tuhan memberikan berkat di dalam setiap pergumulan yang kita hadapi?

Penyertaan-Nya Sempurna
Ketika Tuhan menyertai setiap kita, ada kalanya kita gagal paham terhadap penyertaan-Nya itu. Ketika Tuhan justru memberikan berbagai pergumulan dalam hidup, dan kita merasa bahwa jawaban-Nya berbeda dengan apa yang kita bayangkan.

Kita melihat kisah hidup Nabi Elia, setelah melakukan pembantaian terhadap nabi-nabi Baal, dia dikejar oleh Izebel, dia kabur dan pada akhirnya ia diberikan roti bakar oleh Tuhan. Bukan suatu hal yang mungkin ia bayangkan sebelumnya.

Kita tentu memahami berita alkitab tentang Daud. Ia adalah raja terpilih Israel, yang diurapi. Tetapi kenyataan apa yang ia dapatkan? Ia dikejar-kejar sebelum menjadi raja. Dimanakah penyertaan Tuhan dalam kehidupan Daud?

Itulah sebagian contoh kisah hidup orang-orang yang diberitakan oleh alkitab. Kita melihat bahwa ternyata berjalan bersama Tuhan itu bukan berarti bahwa hidup kita akan berjalan mulus. Tetapi ketika Tuhan telah memilih kita, satu hal yang Ia janjikan adalah damai sejahtera. Itu saja cukup!

Damai sejahtera itu apa sih? Damai sejahtera harus kita maknai sebagai kondisi hati dan pikiran kita. Damai sejahtera itu adalah ketika kita belajar buat melihat karya Allah di dalam seluruh langkah kehidupan kita. Entah itu suka maupun duka, penyertaan Tuhan merupakan sesuatu yang cukup.

Sebuah lagu memiliki lirik sebagai berikut:

Kristus adalah hadiah terbesar bagiku
Dia adalah segalanya yang kupuja
Sekarang tiada hal yang ada di dunia ini
yang dapat memuaskan aku

Melalui setiap pergumulan dalam hidup
Jiwaku akan memujikan
Tak akan aku berbalik karena
Aku sudah bebas dari ikatan dosa

Kristus cukup bagiku
Kristus cukup bagiku
Segalanya yang aku butuhkan
ada di dalam-Mu

Kristus adalah segalanya bagiku
Sukacita di dalam keselamatan yang aku terima
Dan pengharapan ini tidak akan pernah hilang:
Surga adalah rumahku

Di dalam setiap badai hidupku
Jiwaku akan memujikan
Yesus ada di sini
Kemuliaan adalah bagi Allah

Segala yang kita butuhkan ada di dalam Allah! Ya. Segalanya! Pertanyaannya adalah, sudahkah kita menyadari bahwa satu-satunya berkat adalah ketika kita mengenal Kristus dan menyadari akan kehadiran-Nya dalam hidup kita? Itu bukan hal yang mudah, tetapi adalah hal yang membuat kita sadar bahwa Kristus adalah raja atas kehidupan kita.

Menghadapi Tahun 2018
Tantangan baru menunggu di 2018. Berkat Tuhan pun sudah siap pula untuk senantiasa menaungi. Sebuah lagu dari Fanny Crosby mengingatkan kita untuk senantiasa melangkah di dalam kebaikan dan kesetiaan Tuhan

“SUKA DUKA DIPAKAI-NYA UNTUK KEBAIKANKU”

Yes, potongan lirik dari lagu “Di Jalanku Ku Diiring” ini semoga dapat menjadi hal yang mengingatkan kita untuk menghadapi tahun baru 2018 ini dengan senantiasa berserah penuh kepadaNya. Semata-mata karena semua hal yang terjadi dalam kehidupan kita dipakai oleh Tuhan untuk menjadi kemuliaan bagi namaNya.

Soli Deo Gloria!

Friday, October 27, 2017

Mempertahankan Identitas Hidup

“What are you? The god of hammer?” demikianlah pertanyaan Odin kepada Thor manakala ia merasa kesulitan untuk menang melawan Hela di dalam film Thor: Ragnarok. Pertanyaan ini membuat Thor sadar bahwa sumber kekuatannya bukanlah dari sebuah palu, yang hancur, tetapi dari semulanya ia adalah seorang dewa petir (god of thunder). Menarik sekali hal ini untuk kita renungkan karena kita sebagai orang Kristen pun lupa akan identitas kita sebagai warga sorga. Kita seakan-akan kehilangan identitas kita di dalam berbagai rutinitas hidup yang menarik kita dari kasih Bapa dalam hidup kita.

Memegang Teguh Keselamatan
2 Korintus 5:15
Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. 

Berbicara mengenai keselamatan tidak dapat dilepaskan dari bagaimana karya Kristus di dalam kehidupan orang percaya. Kesadaran bahwa keselamatan merupakan anugrah akan mengingatkan diri kita, siapakah sebenarnya kita. Ketika Tuhan telah menyelamatkan kita, kita yang adalah hamba dosa, statusnya diubah menjadi hamba kebenaran (Roma 6:20-23). Hamba kebenaran identik dengan kita menjadi hamba dari kasih karunia.

Hamba kasih karunia berarti kita belajar untuk senantiasa berpegang teguh pada kasih karunia. Kita taat terhadap kasih karunia yang Tuhan berikan – sama seperti ketika seorang hamba takluk terhadap tuannya. Seorang hamba sama sekali tidak punya hak atas hidupnya sendiri. Seorang hamba seumur hidupnya hanyalah menjadi suruhan, yang tidak punya hak apapun kecuali tuannya memberikan hak tersebut.

Itulah mengapa Paulus menuliskan dalam suratnya untuk kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. Kristus yang memberikan kehidupan bagi kita, maka selayaknyalah hidup kita pun dipersembahkan kepada Dia yang empunya kehidupan kita.

Respons Terhadap Kasih Karunia
2 Korintus 5:17
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. 

Menjadi ciptaan baru berarti benar-benar menjadi pribadi yang baru. Kita yang percaya kepada karya keselamatan sudah diberikan sebuah tujuan hidup yang baru. Senantiasa karena kita pun menjadi manusia baru. Paulus mengatakan : “yang lama sudah berlalu”, artinya segala sesuatu yang ada di dalam kehidupan lama kita adalah sesuatu yang harus kita tinggalkan dan tanggalkan di dalam kita menjalani hidup kita sebagai manusia baru.

Menjalani hidup sebagai milikNya berarti kita menjalankan hal-hal yang Tuhan mau kita kerjakan. Ketika hidup kita bukan milik kita sendiri, itu berarti bahwa kita perlu senantiasa belajar untuk memahami kehendak Allah dalam hidup – sembari kita belajar melakukannya. Semata-mata sebagai sebuah ungkapan syukur bahwa Tuhan sudah memberikan segalanya bagi hidup kita. Segalanya? Yes. Segalanya! Tuhan sudah memberikan bahkan hidup-Nya melalui karya Kristus. Selayaknyalah kita belajar juga memberikan segenap hidup kita kepada Dia.

Yang baru sudah datang! Demikianlah kita perlu belajar mengingat identitas baru kita di dalam kita hidup di dunia ini. Identitas yang melekat ini tidak akan dipengaruhi oleh hal lain selain iman percaya kita.

Aplikasi
Ketika Tuhan sudah menjadikan kita manusia baru di dalam Kristus, identitas kita tidak ditentukan dari atribut yang kita gunakan. Seperti di awal, Thor mendefinisikan status dewanya (kalau kita lihat di film-film sebelumnya, hidupnya ditentukan benar-benar oleh Mjolnir, palu yang diberikan Odin kepadanya), dan itu tidak jauh berbeda dengan hidup kita. Kita seringkali diikat oleh atribut-atribut yang ada di dalam kehidupan kita bukan? Entah itu kecerdasan kita, harga diri kita, dan sebagainya.

Ketika sadar bahwa kita ciptaan baru, maka sudah selayaknya kita belajar buat bersyukur atas identitas yang Tuhan karuniakan dalam hidup kita. Melalui identitas itulah kita tidak perlu takut dan ragu dalam menjalani hidup ini. Senantiasa kita belajar untuk bersukacita di dalam Tuhan. Senantiasa kita belajar untuk bersyukur dan tidak kuatir dalam menjalani kehidupan ini.

Hidup kita tidak ditentukan dari setiap atribut yang kita punya. Kita belajar buat percaya bahwa segala hal yang kita punya adalah milik Tuhan, yang sewaktu-waktu dapat diambil. Tetapi status kita sebagai anak-anak Allah merupakan hal yang paling penting. Keselamatan yang Tuhan berikan – itu cukup bagi setiap kita – seperti Paulus yang senantiasa dapat bersyukur atas setiap kelemahan yang ia miliki, sehingga ia dapat memahami perkataan Allah “cukuplah kasih karuniaku”.

Ketika sumber kekuatan kita – entah itu kekayaan kita, keberhasilan kita, jabatan kita, dan setiap hal di dunia ini lenyap, marilah kita senantiasa belajar bahwa satu-satunya sumber kekuatan kita adalah Kristus – yang dinyatakan melalui kehidupan keseharian kita. Kasih karunia Allah itu lebih dari cukup dalam kita dapat menjalani kehidupan ini. Seperti Thor yang kehilangan palunya tetapi dia tetap mengingat identitasnya, marilah kita sebagai anak-anak Allah juga belajar untuk memegang teguh kasih karunia yang sudah Tuhan anugrahkan dalam hidup kita untuk menjalani kehidupan yang penuh tantangan ini

Soli Deo Gloria!