Total Pageviews

Tuesday, April 29, 2014

PA 1 Petrus 1:17-23

Petrus menulis dengan sangat keras disini. Ia mencoba meyakinkan umat untuk memaknai keselamatan yang sudah dikerjakan Allah di dalam kehidupan keseharian kita. Poin penting disini adalah kalimat “Allah tanpa memandang muka”, yang berarti bahwa ini menjadi satu kesadaran bagi kita untuk tidak menyombongkan diri atas apapun yang kita miliki. Allah empunya segalanya, dan karena itulah kita dituntut untuk hidup dalam ketakutan.

Petrus juga menuliskan kata “menumpang”, yang menunjukkan bahwa sebenarnya kita ini bukanlah ‘penduduk asli’ dari dunia ini. Artinya merujuk kepada ayat selanjutnya. Tetapi kata “menumpang” disini menjadi sesuatu yang sangat penting. Bayangkan ketika kita menumpang di rumah orang lain. Apakah kita akan dengan nyaman dan bebas untuk tinggal di dalamnya? Tentu saja tidak! Sama dengan kita, seharusnya kita memiliki sebuah kerinduan untuk kita dapat segera kembali, merindukan suasana rumah. Saat kita menumpang, selalu ada rasa kuatir dan takut akan hal-hal yang akan terjadi.

Implikasi dari hal ini adalah kita selayaknya menjaga kehidupan kita di hadapan Allah. Kita tahu bahwa di dalam kehidupan kita di dunia, segala hal di dalamnya bersifat fana. Suatu saat nanti… Ya! Suatu saat nanti kala kita diijinkan untuk pulang, kembali ke rumah kita yang sesungguhnya, yang sudah Dia sediakan, itulah momen yang paling indah di dalam kehidupan kita.

Petrus melanjutkan dengan kembali menegaskan penebusan sebagai karya Kristus. Segala hal yang ada di dunia ini tidak sebanding dengan darah Yesus. Darah yang tercurah di atas salib, yang membebaskan kita dari dosa. Kita membaca disini bahwa keselamatan itu sama sekali tidak ada campur tangan manusia. Inilah kunci sebenarnya dari kekristenan. Perbedaan antara kekristenan dengan agama / kepercayaan lain di dunia ini adalah penebusan Kristus. Allah yang turun ke dunia melalui Yesus Kristus, merendahkan diriNya sebagai hamba, dan membebaskan dosa manusia. Keselamatan sepenuhnya adalah campur tangan Allah, tidak ada usaha manusia sedikit pun di dalam kita mendapatkan keselamatan.

Petrus menegaskan bahwa tidak ada hal yang lebih indah sebenarnya daripada salib Kristus. Penebusan melalui salib adalah kesempurnaan dari karya keselamatan. Ayat selanjutnya menyatakan bahwa Allah sudah dipilih sejak dunia dijadikan, dan alasan mengapa Dia menyatakan diriNya adalah karena kamu (karena manusia). Ini adalah panggilan bagi setiap kita untuk menghidupi kehidupan yang kudus di dunia.

Ayat selanjutnya memberitakan tentang keselamatan yang satu-satunya berasal dari Allah. Dampak dari kita telah diselamatkan adalah kita dapat memiliki iman dan pengharapan yang tertuju kepada Allah. Artinya bahwa satu-satunya pengharapan di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen adalah karena Kristus sendiri. Ada pengharapan di dalam kehidupan baru yang diberikan oleh Kristus. Ada suatu janji yang harus kita maknai sebagai anugrah.

Dampak dari hidup di dalam anugrah adalah kita dapat melakukan hal-hal di dalam ketaatan kepada Allah. Ketaatan disini terkait dengan kebenaran yang akan Kristus nyatakan, dan ini berlangsung secara terus-menerus di dalam kehidupan kita. Kehidupan yang berpusat kepada Kristus akan membuat kita menjadi pribadi yang memiliki suatu kesungguhan untuk dapat mengasihi sesame kita manusia. Tentu saja hal yang mendasarinya adalah keselamatan, dan itu timbul dari kerinduan hati kita untuk terus menerus takluk kepada firman dan memaknai anugrah hari demi hari.


Kelahiran kembali hanya timbul berdasarkan Firman. Penegasan Petrus disini sangat jelas, bahwa ternyata perbuatan baik kita berasal dari benih, yang adalah Firman. Bagaimana kita bisa mengerti Firman? Allah yang bangkit, Allah yang berkuasa, Allah yang telah memilih kita sejak sebelum dunia dijadikan, Ia lah yang membukakan kepada kita rahasia itu. Iman yang berfokus kepada Allah. Memaknai hal ini seharusnya sebagai orang Kristen kita benar-benar penuh rasa syukur, atas setiap hal kecil apapun yang sudah Yesus kerjakan di dalam kehidupan kita. Ia mengaruniakan Roh Kudus untuk kita dapat hidup seturut dengan kehendak Allah, sekalipun di dunia kita masih tetap dapat memiliki suatu relasi yang intim dengan Allah, dan tidak dapat dipungkiri, semuanya adalah anugrahNya, dan apapun yang kita kerjakan, semuanya adalah untuk kemuliaanNya.

Monday, March 31, 2014

Eksposisi Yohanes 15:1-8

Yoh 15:1  "Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya.
Yoh 15:2  Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.
Yoh 15:3  Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.
Yoh 15:4  Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.
Yoh 15:5  Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
Yoh 15:6  Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.
Yoh 15:7  Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.
Yoh 15:8  Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."


Mari kita lihat bagaimana latar belakang kehidupan bangsa Israel. Di dalam kehidupan bangsa Israel, kebun anggur selalu memiliki seorang pengusaha. Nah di dalam ayat ini Yesus mencoba menjelaskan mengenai peran manusia di dunia ini. Yesus pertama kali menjelaskan mengenai pokok anggur, yakni Dia sendiri sebagai pokok anggur. Sebuah pokok anggur menandakan adanya suatu tanda kehidupan di dalam kehidupan Yesus. Hal ini sangat menarik manakala kita melihat perkataan Yesus selanjutnya adalah Dia adalah “pokok anggur yang benar”, artinya berarti ada pokok anggur yang salah / tidak benar. Ia juga mengatakan bahwa Bapa adalah pengusaha, yang mana Ia yang merawat pokok tersebut beserta ranting-rantingnya.

Kalau kita melihat ayat ini, satu hal yang dapat kita tangkap adalah bahwa satu-satunya kebenaran adalah di dalam Yesus, dan kebun anggur yang diurus Bapa pun berpusat pada Yesus. Artinya bahwa tidak ada kehidupan tanpa adanya Kristus di dalam kehidupan kita. Dialah pokok anggur itu, pokok anggur yang benar yang memberikan ranting-rantingnya supply makanan.

Ayat ke 2 ini mencoba menjelaskan bagaimana peran Bapa, yakni sang pengusaha dari kebun tersebut di dalam merawat kebun anggur. Kebun anggur biasanya di dalam konteks bangsa Israel diurus oleh seorang pengusaha, dan ada pula pekerja-pekerja kebun anggur tersebut yang diutus oleh pengusaha. Pekerja kebun anggur ini taat di dalam perintah pengusaha.

Perintah pengusaha kebun anggur ini jelas sekali, bahwa untuk menghasilkan buah anggur yang berkualitas maka harus dilakukan suatu pembersihan. Kalau melihat ayat ke 2 di bagian akhir, setiap ranting yang tidak berbuah akan ‘dipotong’. Sangat menarik bahwa ranting-ranting yang tidak berbuah ini mengganggu pertumbuhan ranting-ranting yang berbuah. Setiap ranting yang berbuah mendapatkan sebuah perlakuan yang spesial, yakni selalu dibersihkan.

Sama juga di dalam kehidupan kita bersama Allah. Ketika kita sudah diasupi ‘makanan’ rohani, seharusnya kita memiliki kehidupan baru bersama Allah. Kehidupan baru itu ditandai dengan tindakan yang bisa menghasilkan buah. Kalau di dalam kehidupan kita, kita menjadi seseorang yang anti dengan kritikan yang diarahkan kepada kita, itu berarti kita benar-benar menjadi pribadi yang tidak mau ‘dibersihkan’. Firman Tuhan itu seperti pedang bermata dua, saat kita belajar Firman, seharusnya hal yang kita pelajari memberikan sebuah perubahan di dalam kehidupan kita.

Menarik pula disini ada sebuah janji dari Tuhan. Ketika kita sudah mendapatkan asupan makanan yang benar, maka kita juga akan mendapatkan sebuah pertumbuhan yang lebih optimal. Artinya bahwa ketika kita belajar merendahkan diri di hadapan Tuhan dan menerima FirmanNya itu menunjukkan bahwa kita ingin mengenal pribadi Tuhan, dan Ia akan membuat kita menjadi pribadi-pribadi yang siap untuk ‘tercurah’. Ya, menjadi anggur yang tercurah bagi orang lain sehingga orang-orang bisa menikmati kasih Kristus.

Ayat ke-3 mengimplikasikan mengenai bagaimana kita sebagai ranting sudah dibersihkan, dan pembersihan itu adalah akibat dari Firman Tuhan sendiri. Wah ini sungguh menjadi sesuatu yang harus kita tanamkan di dalam kehidupan kita. Pernyataan dari Yesus ini seharusnya menjadi motivasi bagi kita untuk terus menerus ingin dibersihkan, dan itu berarti kita perlu terus belajar mengenai kebenaran yang ada di dalam firman itu. Apa sikap kita manakala kita sedang dibersihkan oleh Tuhan melalui Firman itu? Apakah kita bersikap defensif, ataukah kita menerima hal itu?

Ayat ke-4, Yesus mencoba menegaskan kembali bagaimana kehidupan kita sebagai ‘ranting’ tidak dapat terpisah dari pokok anggur. Ranting tidak dapat berbuah sendiri saat ia lepas dari pokok anggur, sama seperti kehidupan kita. Pembelajaran dari ayat ini adalah bagaimanapun, kita tetap diminta untuk ‘menempel’ dengan pokok anggur tersebut. Ketika kita tidak menempel di dalam Firman, kita tidak akan bisa berbuah di dalam kehidupan kita. Makna hidup kita ditemukan saat kita tetap menempel dengan kebenaran Firman Tuhan sendiri.

Ayat ke-5 mencoba menjelaskan kepada kita mengenai bagaimana kehidupan kita di dalam Kristus dan diluar Kristus, sang pokok anggur yang benar. Ketika kita berada di dalam Yesus, kita berbuah banyak, dan diluar DIa, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Yah, ini realitas yang seringkali kita tidak menyadarinya. Ketika kita hidup di tengah dunia ini dengan berbagai problematikanya, kita bisa benar-benar lupa kalau ada Tuhan di dalam kehidupan kita. Kita menjadi pribadi yang benar-benar kelihatannya hebat. Bagaimana tidak? Kita seringkali tidak melibatkan dan mengandalkan Tuhan di dalam setiap hal yang kita kerjakan.

Satu nasihat yang penting juga bagi orang-orang sibuk, dan itu juga berlaku di dalam pelayanan kita. Ketika kita mulai dipercaya untuk melayani Tuhan di gereja ataupun di kampus, bahkan di tempat kerja, kita mulai dipercayakan bidang-bidang pelayanan, itulah saat yang berbahaya. Bisa saja bahkan di dalam pelayanan kita, kita mengandalkan hikmat dunia dan kita sama sekali tidak mempedulikan bahkan meminta pertolongan hikmat dari Tuhan. Ini menjadi satu peringatan bagi kita untuk kita menyadari betul akan peran Allah sebagai penguasa kehidupan kita.

Contoh dimana kita cenderung untuk jatuh dalam dosa dan tidak mempedulikan Tuhan di dalam perasaan kita dapat hidup sendiri ada di dalam diri Salomo. Kita melihat di awal kehidupannya, Salomo tidak meminta kekayaan, dia meminta hikmat Tuhan. Awal yang sangat baik di dalam kehidupan Salomo. Namun seiring bertambahnya kekuasaan dan kekayaannya, serta bagaimana kehidupan poligami yang ia praktekkan, kita melihat akhirnya ia menuliskan kitab Pengkotbah. Bahwa ternyata kehidupan yang kita kejar, kekayaan, harta, ataupun tahta dan segala hal, ternyata sia-sia.

Kesia-siaan hidup tanpa Tuhan merupakan hal yang paling mengenaskan di dalam dunia ini. Mungkin kita juga saat ini perlu mengevaluasi kehidupan kita, seberapa jauh kita memandang relasi dengan Allah sebagai sesuatu yang penting – yang lebih penting daripada apapun? Kalau kita punya relasi dengan Allah yang intim, kita punya sebuah kepekaan di dalam kita hidup. Tetapi akhirnya semuanya kembali kepada satu tujuan yakni memuliakan Tuhan dan menikmati Dia sepanjang waktu. “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya”, itulah kata Yesus, dan lanjutannya adalah “dan semuanya akan ditambahkan kepadamu”. Oh, ini merupakan janji Tuhan yang sangat sangat indah! Semuanya yang ditambahkan mungkin bukan hal-hal yang kita mau, tetapi hal-hal yang membuat kita semakin sadar bahwa kita tidak dapat hidup tanpa Dia.

Ayat ke-6 menegaskan kembali kehidupan tanpa Allah. Kalau kita baca disini, justru Yesus sangat keras di dalam firman ini. Dia menjelaskan bahwa orang yang tidak ‘menempel’ kepada kebenaran Firman dan kepada Dia, maka akan dibuang dan dimasukkan ke api. Betapa sebagai orang Kristen seharusnya kita bersyukur. Disini kita juga bisa membayangkan bahwa kehidupan kita sebagai orang Kristen adalah menjadi berkat. Tuhan akan terus menerus membersihkan kehidupan kita dengan Firman, dan ia memotong hal-hal yang mana ingin kita tumbuhkan sendiri. Sebuah ranting yang ingin bercabang-cabang akan segera dimusnahkan saat tidak menghasilkan buah. Demikian juga di dalam kehidupan kita mungkin ada banyak cabang-cabang ranting itu yang membuat kita sama sekali tidak dapat berbuah. Ada banyak hal yang membuat kita tidak dapat berbuah, dan Allah akan memotong semuanya itu sampai kita benar-benar dapat menghasilkan buah anggur yang berkualitas tinggi, dan dapat tercurah bagi orang lain.

Ayat ke-7 merupakan sebuah jaminan yang disediakan Tuhan saat kita memiliki intimasi dengan Dia. Sebenarnya kita tidak meminta pun, Allah menyediakan. Ingat, ayat ini tidak boleh dibaca sepotong tanpa kita membaca ayat-ayat diatasnya. Kalau dibaca hanya ayat ini saja, kelihatannya kita bisa jadi penguasa kehidupan kita sendiri, menganggap Tuhan sebagai penyedia yang selalu mensuplai sesuatu yang kita inginkan. Kalau kita salah di dalam memahami ayat ini, kita bisa terperangkap dalam kehidupan yang berpusat pada diri sendiri.

Keseluruhan ayat 1-6 menjelaskan mengenai bagaimana kita tidak dapat hidup tanpa Tuhan. Kemudian juga sebelumnya dijelaskan bahwa Bapa adalah pengusaha dari pokok anggur dan ranting-rantingnya. Ranting selalu mendapatkan suplai makanan yang cukup, bahkan berlimpah hingga ranting tersebut dapat menghasilkan buah yang berkualitas. Kemudian juga ranting tidak dapat hidup dan berbuah tanpa adanya pokok anggur yang benar. Kalau begitu berarti sebenarnya tidak ada hal yang dapat kita minta diluar kehendak Allah. Bahwasanya segala hal yang dikerjakan Allah dan disediakanNya merupakan hal yang paling esensial di dalam kehidupan kita, dan permintaan kita adalah seturut dengan kehendak Allah. Ini berarti ada suatu relasi yang saling mengerti.

Sama seperti ketika kita berpacaran, kalau relasi kita dekat, satu dengan yang lain seharusnya bisa tahu apa yang diinginkan pasangannya. Kalau kita berpacaran kita berusaha mencari tahu apa yang pasangan kita mau, kenapa di dalam pengenalan kita pada Tuhan, kita tidak mau tahu akan apa yang Tuhan mau? Wow, tidak adil sekali bukan?

Implikasi dari hal ini berarti sebenarnya tidak ada hal yang perlu kita minta. Kita meminta hal yang seharusnya kita minta, yakni agar namaNya dipermuliakan melalui buah yang kita hasilkan di dalam kehidupan kita. Coba bayangkan saja ada banyak orang yang datang kepada Kristus melalui kehidupan kita, melalui contoh hidup kita, itulah buah yang paling manis yang bisa kita persembahkan kepada Allah. Inilah yang diinginkan Yesus, dan itulah yang Yohanes simpulkan di ayat ke-8.

Mari belajar bahwa kita perlu satu relasi yang terus menempel kepada pokok anggur itu. Dia yang sudah memberikan supply kepada kita, Dia yang sudah memenuhi kebutuhan kita, bahkan nafas kita pun, Dia yang menyediakan. Segala hal sudah diberikan kepada kita, dan sebagai ungkapan syukur, apa yang mau kita persembahkan kepada Tuhan di dalam peran kita sebagai ranting? Apakah kita menjadi ranting yang menghasilkan buah yang berkualitas tinggi? Anggur seperti apa yang kita hasilkan? Apakah kita mau belajar menerima pembersihan yang dilakukan para pekerja yang disediakan Bapa untuk semakin hari membuat anggur kita semakin berkualitas? Bagaimana relasi kita dengan sang pokok? Apakah kita sudah menempel terus kepadaNya sehingga suplai makanan yang diberikan sang pokok anggur itu dapat berbuah dan kita menghasilkan anggur yang dapat tercurah bagi semua orang? Mari kita merenungkannya!


Soli Deo Gloria!

Monday, March 10, 2014

Menikmati Persekutuan Dengan Allah

Seorang teman pernah tanya kepada saya: “bagaimana relasimu dengan Allah?” Saat itu saya belum seorang percaya dan saya menjawab “Hmmm aku kira aku baik-baik aja kok. No problem.” Saat kemudian aku bertobat dan merenungkan jawaban itu, benarkah aku baik-baik saja? Apakah dengan aku berdoa setiap hari (yang mana dulu saya sekolah di sekolah Katolik yang mulai dan selesai pelajaran selalu berdoa) itu berarti relasiku dengan Tuhan sudah menjadi relasi yang baik?

Semakin aku beranjak dewasa, semakin aku belajar untuk merenungkan hal-hal yang sepertinya dulu aku agak acuhkan. Memang pertanyaan itu bukanlah suatu pertanyaan yang hanya sekali ditanyakan kemudian it’s done. Pertanyaan mengenai bagaimana intimasi kita dengan Allah adalah sesuatu yang harus kita gumuli hari demi hari. Kita perlu belajar untuk memiliki keintiman yang begitu erat dengan Bapa, dan setiap harinya kita perlu mengevaluasi hal tersebut. Bukan hanya tiap hari, tetapi setiap saat hal tersebut menjadi sesuatu yang perlu kita gumulkan.

Keintiman dengan Allah dibangun dengan suatu disiplin rohani yang tidak mudah. Starting point dari keintiman dengan Allah adalah bagaimana kita menerima Kristus dengan iman. Ini adalah langkah awal yang tidak mungkin kita lewatkan. Step ini ialah step dimana kita mengijinkan Kristus mengubah kehidupan kita – memunculkan kerinduan kita melalui Roh Kudus untuk mulai mengenal pribadiNya. Pertanyaan yang pas bagi kita adalah “apakah engkau mengasihiKu?” seperti pertanyaan Yesus kepada Petrus. Ini adalah pertanyaan yang memulai segalanya tentang keintiman dengan Allah.

Poin kedua adalah membuka diri untuk menerima Firman Allah. Bagian ini meliputi suatu step dimana Allah membukakan diriNya yang kemudian kita bisa mulai memiliki kegemaran untuk membaca dan merenungkan Firman. Seperti yang sudah dijelaskan, bahwa kerinduan ini tidak akan bisa muncul tanpa adanya suatu pemahaman akan diri sendiri bahwa kita sudah ditebus melalui pengorbanan Kristus. Dampak dari pengorbanan Kristus seharusnya adalah hidup kita semakin diubahkan perlahan melalui Firman.

Perlahan tapi pasti, pemahaman akan Firman akan mulai mengubahkan kehidupan keseharian kita. Menikmati firman bukan hanya masalah kita membaca dan kemudian kita cepat-cepat membaca alkitab sampai kita punya target 1 tahun harus habis. Target tersebut memang baik, tetapi kita perlu ingat bahwa semua pemahaman tentang Kristus dalam kehidupan kita adalah sejauh mana Allah akan membukanya. Maka dari itu sebenarnya hal yang penting bukan masalah kuantitas, tetapi bagaimana kita dapat menikmati makanan rohani yakni Firman Tuhan yang berkualitas tinggi, sekaligus belajar mencernanya sehingga menjadi gizi yang baik bagi kehidupan keseharian kita.

Keintiman kita dengan Kristus akan membuat kita dapat berkata seperti Daud:

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal! (Mazmur 139:13-14)

Ataukah kerinduan Asaf seperti ada di mazmur berikut ini:

Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.  (Mazmur 73:24-25)

Setelah kita menikmati persekutuan dengan Allah melalui Firman, jangan lupa bahwa kita perlu mengakhiri waktu intim kita dengan Tuhan dengan suatu ucapan syukur. Pengucapan syukur bahwa Allah telah berkenan untuk berkata-kata melalui FirmanNya. Kemudian juga kita memohon kepada Tuhan untuk kita dapat melaksanakan dan meneladaniNya. Ini adalah bagian yang seringkali terlewatkan.

Hal yang paling menyenangkan bagi kita adalah ketika kita bisa belajar karakter Kristus. Banyak orang mengenal Tuhan hanya sebatas kognitif namun kehidupannya tidak mencerminkan pengenalannya kepada Allah. Kekristenan bukanlah hanya masalah pemahaman mengenai doktrin (bukan berarti bahwa doktrin bukan sesuatu yang penting!). Kekristenan berbicara mengenai gaya hidup. Hidup kekristenan seperti suatu koin yang punya dua sisi, sisi yang pertama adalah relasi dengan Tuhan dan sisi kedua adalah relasi dengan manusia. Ini juga merupakan gambaran salib. Vertikal – menunjukkan ada suatu relasi dengan Allah, dan horizontal – menunjukkan relasi kita dengan sesama kita. Keduanya diperdamaikan melalui Kristus.


Melalui pemahaman yang benar tentang Allah, kita akan semakin hari makin rindu untuk mengenal Tuhan dan menikmati relasi kita denganNya. Jika kita mulai ‘kering’, mintalah kepada Roh Kudus untuk menimbulkan suatu kerinduan kepada hati kita, sehingga seperti Daud, seperti Asaf, ataupun seperti Paulus yang semakin hari semakin rindu dan menyadari bahwa tanpa Allah kita tidak bisa apa-aoa. Memaknai bahwa tanpa Allah kita tidak dapat melakukan apapun akan membantu kita untuk terus menerus diperbarui dan kita semakin merendahkan di hadapanNya. Semakin kita merasa tidak mampu menghadapi hidup ini sendirian, semakin kita belajar berserah kepadaNya, semakin Allah akan bekerja dengan luar biasa.

Sunday, February 9, 2014

Eksposisi Kolose 1:15-23 - Keutamaan Kristus

Pembukaan surat ini melanjutkan dari sebelumnya, yakni mengenai keutamaan Kristus di dalam hidup orang percaya. Secara gamblang dan lugas Paulus mencoba menjelaskan di ayat 16 tentang siapakah Allah itu. Ia menuliskan bahwa Allah ialah Allah tidak kelihatan. Ini menjadi suatu pemikiran yang cukup abstrak bagi orang-orang yang mencoba untuk mengerti tentang Allah. Karena Allah ialah entitas yang tidak kelihatan bukan berarti bahwa Dia tidak ada. Paulus melanjutkan bahwa Allah lebih utama dari segala yang diciptakan. Ini menjadi suatu doktrin gereja yang sangat jelas. Melalui Yesus Kristus, Allah yang tidak kelihatan itu menjadikan diriNya terlihat oleh manusia. Tetapi sekalipun begitu, Allah tetap ialah yang lebih utama daripada segala sesuatu yang diciptakan, yang berarti bahwa Dia berdaulat penuh atas ciptaan.

Paulus menuliskan hal yang menarik di ayat 16, yakni segala sesuatu yang ada di dunia ini disebabkan oleh Allah (prime cause). Kalau kita lihat kembali ayat ini, bahkan dapat dilihat bahwa Allah mengatur segala hal baik yang besar maupun yang kecil. Tetapi menarik sekali di akhir ayat ini dituliskan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ini berarti bahwa tindakan apapun yang kita kerjakan sebenarnya sudah didaulat oleh Allah. Di dalam kedaulatanNya, Allah mengatur dunia ini sampai kepada level yang paling detail sekalipun.

Ayat-ayat selanjutnya mencoba untuk menjelaskan mengapa Kristus ialah yang terutama. Ayat 17 menjelaskan bahwa Kristus ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Paulus ingin menunjukkan bahwa Kristus ialah pencipta segala sesuatu, yang mana dipertegas dari ayat ini. Ketika sesuatu itu ‘ada’, maka harus ada sesuatu yang membuatnya ‘ada’ (hukum sebab akibat), dan Allah melampaui segala hukum itu. Ia tidak terikat atas hukum sebab akibat, karena Ia adalah yang paling utama (Yohanes 1:1 – Pada mulany adalah FIRMAN). Ia tidak membutuhkan penyebab.

Paulus melanjutkan suratnya dengan mencoba menjelaskan tentang hubungan Kristus dengan jemaat. Kristus ialah kepala tubuh, yang berarti bahwa Ia mengendalikan segala hal. Di kepala ada banyak organ tetapi yang paling signifikan disini ialah bahwa kepala memiliki otak. Kepala juga merupakan sumber kehidupan kita, dan kita disebut disini sebagai “tubuh”.

Jemaat Tuhan disebut Tubuh, yang berarti kita memiliki suatu peran yang harus dikerjakan di dunia ini. Allah yang mempimpin kita, seperti kepala dengan otak yang selalu membuat kita berpikir dan memampukan kita untuk melakukan sesuatu. Otak itu seharusnya menjadi hal yang utama karena melalui otak itulah kita dapat melakukan sesuatu.

Ia adalah yang sulung, yang pertama bangkit… ini menjadi salah satu status kita sebagai orang yang percaya. Ketika Paulus mencoba menuliskan hal ini melalui hikmat Roh Kudus, dengan penuh keyakinan ia berkata bahwa kita pun juga akan mengalami hal yang sama dengan Kristus, saat ia mati di kayu salib. Ada suatu janji kekekalan yang dituliskan disini.

Karena Kristus lebih dahulu mengalami semua hal yang dialami juga oleh manusia, kita boleh yakin dan percaya sebagai anak-anak Allah, kita juga akan mengalami kebangkitan tubuh (seperti yang disebutkan dalam Pengakuan Iman Rasuli). Ini juga membuatnya menjadi suatu entitas yang paling utama dalam segala sesuatu, dan kalau dikaitkan dengan kehidupan anak-anak Allah, yakni orang Kristen, ini berarti suatu pesan yang luar biasa bagi kita. Kita harus yakin bahwa ketika Allah bangkit dan naik ke sorga, kita pun juga akan mengalami hal yang sama.

Seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Kristus, yang mana ini ditunjukkan di dalam injil, dan juga di surat Paulus kepada jemaat di Filipi. Pembahasan tentang kenosis ada di sini, yakni saat Allah mengambil rupa seorang hamba, sampai taat dan mati. Kalau kita melihat juga di ayat 20, lanjutannya ialah bahwa Ia mendamaikan segala sesuatu dengan diriNya. Ini berbicara tentang pendamaian seluruh umat manusia yang percaya kepadaNya di dalam pengorbanan Kristus.

Semuanya sudah diselesaikan oleh pelayanan Kristus, yang mana berakhir di dalam kemegahan salib. Kemegahan sekaligus kehinaan (itulah pandangan manusia). Kemegahan salib itu membuat kehidupan kita dapat diperdamaikan dengan Allah. Ialah sang mediator itu. Ialah yang membuat kita dapat kembali berkomunikasi dengan Allah. Melalui pengorbanan Kristus itulah hidup kita diperbarui, ada suatu relasi yang dipulihkan oleh Kristus.

Kalau kita lihat dari ayat ini, melihat tema utama dari ayat-ayat sebelumnya, kita dapat memahami bahwa melalui surat ini Paulus ingin menunjukkan mengenai begitu besarnya dan utamanya Kristus di dalam setiap karyaNya. Ada beberapa alasan, yakni karena Ia memang Allah. Kedua adalah karena melalui salibNya itulah kita dapat beroleh keselamatan – melalui iman. Pendamaian itu hanya dimungkinkan melalui adanya mediasi, karena tanpa Kristus, kita tidak dapat mengenal siapa Allah.

Ayat 21 dengan sangat jelas memperlihatkan adanya perubahan pola pikir di dalam kita mengenal Allah. Ketika kita mengenal Allah, ada suatu perubahan mendasar, yakni adanya suatu perubahan dari apa yang dianggap oleh diri kita sendiri sebagai suatu kebobrokan, kini menjadi sesuatu yang mulia. Apa maksudnya? Ketika kita mulai mengenal Allah, seharusnya segala hal lain yang menjadi utama di dalam hidup kita sudah meaningless. Hidup yang bermakna ketika kita mengenal Kristus ialah hidup yang berpusat kepada kasih Allah – yang berarti bahwa seluruh hidup kita ialah milikNya.

Perubahan pola pikir tadi akan mempengaruhi tindakan kita terhadap apa yang akan kita perbuat terhadap Allah. Ketika ada perubahan pola pikir, hal yang terjadi ialah kita dimungkinkan untuk berbuat seturut dengan kehendak Allah. Tentunya sesuatu yang benar di hadapan Allah, sesuai dengan standarnya. Motivasi kita di dalam melakukan sesuatu akan mengalami perubahan – dari yang tadinya berpusat kepada kebanggaan diri, menjadi suatu persembahan yang kudus dan berkenan di hadapanNya.

Dampak dari pengorbanan Kristus di kayu salib dapat dilihat pada ayat selanjutnya. Paulus menuliskan bahwa ada suatu pendamaian melalui kematian Kristus. Mengapa Kristus mati? Karena ini konsisten dengan apa yang disebutkan bahwa upah dosa ialah maut. Melalui mediator kita – yakni Kristus, kita mendapatkan sebuah privilege. Melalui pengorbananNya kita dikuduskan di hadapan Allah. Pengudusan hidup melalui kasih Kristus ini menjadi suatu langkah awal dari kelahiran baru.

Paulus menuliskan ada suatu proses pengudusan yang sedang dikerjakan Tuhan atas kehidupan kita. Melalui salib, Paulus menyebutkan, bahwa kita tak bercela dan kudus, dan tak bercacat di hadapan Allah. Ini menjadi satu kabar baik bagi kita. Ya, itulah kekuatan dari salib. Itulah anugrah yang dipersiapkan Allah bagi kita bukan? Dosa yang membuat kita seharusnya menerima upah yakni maut, sekarang telah dihapuskan oleh darahNya yang kudus. Ialah korban sempurna, korban penebusan dosa yang Allah sudah sediakan. Pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah seberapa besar kita memaknai keselamatan yang dikerjakan Allah ini?

Sebagai konklusi dari tema utama Paulus tentang keutamaan Kristus, ia menuliskan bahwa setiap kita harus bertekun di dalam iman. Ada suatu pengharapan yang sedang dan akan digenapi oleh Allah. Pengharapan itu tidaklah sia-sia. Pengharapan ini berasal dari injil yang daripada Allah. Ada suatu janji di dalam kita mengenal dan mengerti tentang keutamaan Kristus. Ketika Kristus mengubahkan hidup kita, kita perlu sadar bahwa pengharapan itulah yang nantinya akan menjadi nyata.

Iman itu akan membawa kita menjadi orang yang tahu dan sadar bahwa anugrah itu bukan hanya untuk kita menjadi orang-orang yang take it for granted. Melalui pemahaman akan kasih Kristus, seharusnya kita bisa berkata seperti Paulus bahwa hidup kita bukan milik kita sendiri, namun hidup kita ialah milik Kristus. Ketika Allah memilih kita, tidak akan pernah Ia meninggalkan kita. Tidak akan pernah Ia menjadi Bapa yang akhirnya menghancurkan hidup kita. Keteguhan kita akan iman kita pun sebenarnya juga berasal dari Dia sendiri.


Apa yang saat ini menjadi hal yang terutama di dalam kehidupan kita? Apakah kita menyadari bahwa kita ialah milikNya dan Ia adalah Allah kita? Kristus ialah yang terutama, dan hanya melalui Dialah, ada suatu hidup baru. Ada suatu pengharapan yang terus membentuk kehidupan kita menjadi semakin serupa denganNya.

Friday, January 31, 2014

Being A Digital Missionary

Berbicara mengenai komunitas on-line, sekarang sangat marak. Perkembangan social networking mulai dari Friendster hingga sekarang Facebook dan Twitter benar-benar menggiurkan. Masyarakat online. Online Community ini kemudian akan mencetak Digital City, yang membentuk Digital Generation, dan membentuk Screenager.

Partisipasi kreatif dari situs seperti ini dapat dilihat, beberapa efek dari Facebook:
1.       Membentuk cara menjalani hidup dan mempengaruhi gaya hidup
Sadar atau tidak, online community membentuk suatu pola pikir yang baru. Kerinduan akan firman Tuhan serasa dihancurkan oleh laptop kita yang sangat ganas. Bersyukur bahwa ketika kita sadar akan hal itu, kita tidak diikat oleh komunitas online tersebut.

2.       Menyebabkan adanya Split Kepribadian
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam komunitas online kita bisa menjadi orang yang super baik. Orang tidak dapat melihat dan berinteraksi dengan kita secara langsung, hal ini tentunya berbahaya. Orang kemudian memiliki kepribadian ganda dan tidak menjadi dirinya sendiri.

3.       Komunitas maya yang ‘palsu’, integritas semakin dikaburkan
Hampir sama dengan nomor 2. Intinya disini adalah kita tidak menjadi kita yang sebenarnya. Celakanya, hal itu tidak diketahui oleh orang-orang disekitar kita.

4.       Ekspresi diri yang tanpa batas
Ini yang paling ngeri. Di facebook dapat kelihatan dengan sangat jelas bagaimana orang-orang menjadi sangat egois. Dia kelihatannya ingin menjadi pusat dunia dengan menuliskan status-status yang tidak jelas.
Arti dan definisi dari persahabatan menjadi hilang, bahkan seorang bisa menjadi kelihatan sangat dekat di facebook tetapi kenyataannya mereka tidak berhubungan apa-apa. Arti komunitas Kristen dalam perspektif alkitab pun juga serasa hilang.

5.       Pertukaran Worldview
Tidak dapat disangkali bahwa di komunitas online, batas-batas komunikasi semakin hilang, dan ini menyebabkan terjadinya pertukaran worldview. Ini dapat menjadi kesempatan sekaligus ancaman. Kesempatan yang baik untuk mengkabarkan injil melalui komunitas online.

6.       Social Community
Dapat terjadi komunitas yang semakin social. Apakah benar? Mungkin tidak. Seperti yang sudah dijelaskan pada nomor 4. Kita dapat terjebak dalam apa yang disebut sebagai social individualism. Sebenarnya apakah kita ingin mencari teman ataukah kita mau menjadi pusat dunia?
Dengan adanya komunitas yang baik, dapat menjadi suatu kontrol social yang baik juga. Jika mungkin ada kebijakan pemerintah yang mungkin tidak berkenan dihati rakyat dan sebagainya, dapat menjadi suatu kekuatan kontrol yang sangat besar.

7.       No communication barrier
Semakin lama, batasan komunikasi menjadi hilang. setiap orang dapat berteman satu dengan yang lain. Ini juga yang diteladankan Yesus ketika Dia berbincang dengan perempuan Samaria.

Tindakan kita:
Bagaimana tanggapan kita sebagai orang-orang yang percaya? Satu jawaban yang mewakili semua adalah menjadi Digital Missionary. Facebook merupakan suatu media yang sangat efektif dalam rangka pengkabaran dan penyebarluasan injil. Menjadi orang-orang yang dapat memanfaatkan teknologi sebagai suatu media yang efektif.

Apa yang kita lakukan dalam kita menggunakan jejaring sosial yang saat ini marak? Sudah efektifkah kita menjalani peran kita sebagai digital missionary? Apakah dengan posting kita, update status kita, kita sudah menunjukkan betapa kasih Allah begitu besar bagi kita? Mari belajar untuk menjadi seorang digital missionary. Ada tantangan jaman yang begitu besar, dan ini menjadi suatu kesempatan bagi kita untuk terus berkarya.


Soli Deo Gloria

Wednesday, January 1, 2014

“Happy” New Year


Ah betapa gegap gempita tahun baru 2014. Setelah melalui 2013 dengan berbagai peristiwa yang mungkin menyenangkan, menyakitkan, dan sebagainya. Bagaimana kita menyambut tahun baru 2014 ini? Sudah siapkah kita “menuliskan” halaman-halaman baru di tahun 2014?

Bagaimana kebenaran iman Kristen memandang tahun baru? Ah, apa sebenarnya yang menarik dari tahun baru? Kita sering dengar gereja-gereja sangat menggemari tahun baru sebagai suatu momen mereka membuat suatu jargon-jargon tertentu. Tahun kemenangan, tahun resolusi, tahun kejayaan, dan sebagainya. Sementara itu di daerah pinggiran di tempat yang lain, rasanya untuk merayakan tahun baru mereka hanya menikmati hidup mereka seadanya. Berharap atas bantuan orang lain dapat memberi mereka sesuatu untuk makan dan bertahan hidup.

Bagaimana seharusnya kita memaknai tahun baru ini? Di dalam segala kerendahan hati kita perlu merefleksikan ulang, kalau tahun baru ini sampai ada, bukankah itu semua karena Allah yang mengijinkannya? Nah kalau dari sudut pandang ini, ada berbagai hal yang dapat kita refleksikan di dalam setiap detik hidup kita, entah tahun baru ataupun tidak.

1.       Providensia Allah
Allah memberikan anugrah pada diri setiap manusia, entah itu baik ataupun jahat. Dalam kedaulatanNya, Ia memberikan sehari demi sehari kesempatan bagi kita untuk mengevaluasi diri dan mengucap syukur atas setiap hal yang Ia berikan di dalam kehidupan kita. Tahun baru menjadi suatu momen untuk mengingat kebaikan Allah dan janji penyertaanNya di dalam hidup kita

2.       Resolusi
Sudahkah kita membuat resolusi di tahun yang baru? Mungkin sebagian sudah. Tetapi pertanyaan selanjutnya adalah, apa fokus dari resolusi kita? Nah ini perlu kita cermati bersama. Di nomor 1 tadi kita sudah sepakat bahwa kalau tahun baru ini sudah ada, tentunya semuanya karena Allah memberikan anugrah bagi kita. Berarti kita perlu sadar bahwa hidup kita, setiap langkah kita, bukankah itu bukan tentang diri kita lagi? Kita sudah dikuasai oleh Allah. Kita sudah dibeli dan harganya sudah lunas dibayar, demikian kata Paulus.
Berarti yuk kita lihat kembali resolusi kita, kita cermati satu per satu. Apakah resolusi kita hanya memuaskan diri kita sendiri, ataukah resolusi kita kembali kepada kemuliaan Allah?

3.       Soli Deo Gloria
Apabila kita memaknai bahwa hidup ini sudah diatur oleh Tuhan, yuk kita coba flashback kembali apa yang telah dilakukan Allah di dalam kehidupan keseharian kita selama 2013 dan kita belajar untuk membawa di dalam doa, keseharian kita di tahun yang baru yakni 2014. Mungkin kita melihat 2013 dan kita menemukan ada banyak sekali hal-hal buruk yang terjadi di dalam hidup kita. Kita melihat bahwa ternyata Allah tampak seperti “tinggal diam”, dan kita kecewa karena itu. Bermodalkan itu kita menatap tahun baru dengan pesimistis. Ingat bahwa kita perlu yang namanya percaya diri (confidence), namun perlu diingat pula confidence berasal dari kata con dan fide, yakni con = menyesuaikan, fide = iman. Berarti confidence (kepercayaan diri) tidak dapat dilepaskan dari iman kita kepada Sang Pemilik Hidup kita.
Menyadari bahwa di tahun 2013 ada berbagai kegagalan dan kesalahan yang mungkin kita buat, percayalah bahwa semuanya itu ada untuk menajamkan kita sehingga kita menjadi orang-orang yang dapat memuliakan Allah

Mengingat ketiga hal itu, dirangkum dalam satu kerinduan kita di tahun yang baru untuk membuat resolusi-resolusi yang semakin hari semakin mendekatkan kita kepada Tuhan. Contohnya: kita belajar bangun pagi, konsisten saat teduh, mulai journaling, semakin menikmati pembacaan alkitab pribadi kita, belajar dengan giat, mulai belajar rutin untuk berdoa, dan sebagainya.

Kelihatannya sepele bukan? Tetapi coba kita lakukan itu secara konsisten. Kita mulai belajar untuk berpikir bukan hanya untuk kesenangan kita. Ingat bahwa kita bukanlah center of the universe. Mari belajar merayakan tahun baru dengan suatu pemahaman bukan sebuah pesta pora, tetapi satu momen sebenarnya yang disediakan Tuhan di dalam hidup kita untuk mengevaluasi diri kita dan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan semakin hari semakin berserah kepada anugrah. Menyadari bahwa kita perlu anugrah itulah yang membuat nama Tuhan semakin dipermuliakan di dalam tiap langkah hidup kita.

Maknailah setiap detik di tahun yang baru, sehingga hal sekecil apapun di dalam hidup kita, kita bisa belajar untuk Memuliakan Tuhan dan Menikmati Dia Sepanjang Waktu.

Soli Deo Gloria!


Sunday, December 8, 2013

"You Are The Apple of My Eye" ~ God

Kata-kata yang begitu indah bukan waktu kita mendengar seseorang yang mengucapkan hal itu kepada kita? Ya tentu saja! Bayangkan seseorang yang menjadi sahabat kita kemudian datang dan memeluk kita kemudian berkata seperti itu! Bukankah hati kita akan langsung ‘melambung tinggi’? Ah sungguh indahnya manakala kita boleh mendengar kata-kata itu dari orang yang kita sayangi.

Persoalannya ternyata kita jarang mendapatkan kata-kata itu bukan? Boro-boro kita mendengar kata-kata itu, dalam hidup kita tidak jarang malah kita mendapatkan makian bahkan dari orang-orang terdekat kita. Bahkan kita juga mendapatkan omelan-omelan dari orang tua kita, kita mengeluh dan sampai akhirnya tidak jarang kita mengumpat kepada orang tua ataupun teman kita. Di sinilah natur kita sebagai manusia berdosa ternyata benar-benar diuji bukan?

Lebih jauh lagi kalau kita melihat hidup kita, sama juga ternyata di dalam hidup kita ada banyak sekali pergumulan dan tantangan di dalam hidup kita. Banyak kekecewaan yang terjadi dalam hidup kita yang membuat kita stress, yang pada akhirnya berakhir pada hal-hal yang jauh lebih mengerikan – minuman keras, game online, rokok, kopi, narkoba, dan sampai kepada bunuh diri. Ya, itulah kekosongan hidup.

Realitas ini membuat kita seharusnya menyadari bahwa kita butuh ‘sesuatu’ yang melebihi semuanya itu. Adakah? Ya tentu saja ada. Ada pribadi yang begitu mengasihi kita – sadar atau tidak sadar. Pribadi itu adalah pribadi yang dengan kedua tangan yang terbuka menyambut kita yang mau datang kepadaNya. Seperti dalam perumpamaan tentang anak yang hilang di Lukas 15, Sang Bapa menanti sang anak bungsu untuk kembali. Ia menunggu tanpa lelah dan ketika anak itu datang kembali kepadanya, sang bapa menyambut dia. Siapakah pribadi itu? Pribadi itu ialah Allah sendiri.

Mari membuka alkitab kita dan mulai membaca sebuah kitab yang menyatakan betapa besar kasih Allah kepada bangsa Israel, yakni kitab Hosea. Kitab Hosea menunjukkan dengan kita betapa luar biasanya kasih Allah di dalam kehidupan orang Israel. Orang Israel digambarkan sebagai Gomer, seorang pelacur, dan Allah memberikan ilustrasi kasihNya melalui Hosea. Seperti apa kasihNya? Hosea akhirnya mengawini Israel, dan kalau kita membaca selanjutnya, di Hosea 1:10-11 dan Hosea 2:17-22 itu janji Tuhan yang mana Israel akan dipulihkan.

Ini gambaran kasih Allah yang begitu besar bagi bangsa Israel. Tetapi bukan hanya itu. Selanjutnya kita bisa melihat Hosea menunjukkan benar-benar bagaimana kasih Allah. Gambaran kasih itu dapat dilihat di Hosea 3. Gomer yang sudah diambil menjadi seorang istri bagi Hosea, kemudian kembali kepada persundalan. Ini menggambarkan sebenarnya bagaimana hidup manusia yang masih dikuasai dosa. Tetapi apa yang dilakukan Hosea?

Hosea 3:2  Lalu aku membeli dia bagiku dengan bayaran lima belas syikal perak dan satu setengah homer jelai.

Tidak pernah kita bayangkan bukan? Ini suatu gambaran bahwa Allah selalu mengejar dan terus mengejar kita. Ia berlari kepada kita saat kita bahkan menjauh dari Dia. Pertanyaannya adalah maukah kita datang kepadaNya? Itu pertanyaan yang harus kita renungkan di dalam kehidupan kita. Kasih itulah yang dinyatakan Allah di dalam hidup kita, dan hanya ada satu kata yang menggambarkan kasih itu: “PENGAMPUNAN”. TIada pernah sedetikpun Allah membiarkan hidup kita. Kita hanya perlu belajar untuk memaknai kata-kata “You are the apple of My eye” dan itu dikatakan oleh Sang Pencipta kita.
Pernah membayangkan hal itu? Kita manusia yang sangat tidak sebanding dengan Allah namun disebut sebagai “biji mata Allah”? Pernahkah kita membayangkan bahwa saat kita menyakiti hati Allah, Dia tetap membuka kedua lenganNya? Kita sering bertanya seberapa besar kasih Allah bagi kita? Jawabannya ada di Salib. Ya, itulah kasih Allah. Kasih yang begitu besar. Allah yang selalu mengejar kita dan terus mengejar kita, hingga kita tertangkap oleh kasih itu.

Heran dengan kasih Allah itu? Saya heran, bahwa di tengah banyak orang yang seharusnya lebih baik dari pribadi saya, tapi Ia memilih saya untuk menjadi anakNya. Hati Allah yang tidak pernah berhenti untuk mencari jiwa yang terhilang. Hati yang tidak pernah tahan saat melihat kita terhilang, bukan karena Dia kehilangan sesuatu, tetapi karena kita kehilangan segalanya di dalam hidup kita – yakni pribadi Allah itu sendiri.

Refleksi ini mengingatkan kita untuk terus bersandar kepadaNya. Mengakui Dia sebagai juruselamat dan hidup. Menikmati anugrah yang sudah Ia berikan sambil terus mensyukuri hidup kita. Siapa kita sehingga kita dikasihi? Kita ini cuman ciptaan kok. Ciptaan yang super terbatas, ciptaan yang harusnya nggak layak untuk Ia kasihi, tetapi Ia mengambil kita! Ia memberikan hidup baru – melalui lahir baru kita. Ciptaan baru, itulah yang disebut oleh Paulus.

Mari belajar menikmati kasihNya, melalui ucapan syukur sambil terus mengingat “You are the apple of My eye”… itulah yang Tuhan katakan di dalam kasihNya… Itulah janji Tuhan bagi setiap kita.


Soli Deo Gloria