Total Pageviews

Monday, January 5, 2015

Lebih Dari Yang Dilihat Mata - Refleksi Dari Mazmur 90

Tahun 2014 sudah berakhir dan 2015 akan dimulai. Bagaimana kabar teman-teman? Apakah masih di dalam satu keyakinan bahwa ada penyertaan Tuhan yang luar biasa di dalam kehidupan? Ataukah masih bergelut dengan hal-hal yang membuat kita menjadi seseorang yang malas-malasan karena sepertinya ada banyak hal buruk yang kita alami di dalam kehidupan kita? Belum move on juga dari hal buruk yang kita alami? Nah artikel kali ini mencoba untuk mengajak teman-teman merenungkan kehidupan yang bermakna di dalam kerangka kita belajar memuliakan Tuhan, sekaligus menikmati Dia.

Mazmur 90 adalah suatu bagian di alkitab yang menuliskan mengenai doa dari Musa. Siapa sih yang tidak mengenal Musa? Dengan segala prestasinya yang begitu mentereng. Bayangkan saja, seorang pangeran Mesir hingga usia 40, dia merupakan seseorang dengan pendidikan yang tinggi. Kemudian di usia 40-80 tahun ia menjadi seorang gembala, dan pada usia 80 ia kembali ke Mesir untuk memimpin eksodus terbesar sepanjang sejarah manusia. Begitu besar peran yang ia jalani, tetapi di dalam doanya dia dengan rendah hati sekali menyatakan bahwa dia perlu belajar untuk ‘menghitung hari hingga beroleh hati yang bijaksana’ (ay. 12) setelah sebelumnya dia mengakui kedaulatan Tuhan atas kehidupannya.

Doa Musa ini mengajak kita untuk merenungkan bagaimana kehidupan orang Kristen ditengah dunia yang penuh dengan pergumulan dan kekacauan. Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari doa Musa ini. Mari kita bahas satu per satu:

1.     Ayat 1-2, merupakan sebuah votum, sebuah pengakuan bahwa kehidupan kita digantungkan hanya di dalam Dia. Musa menyatakan bahwa Allah adalah tempat perteduhan, yang berarti tempat untuk kita berteduh. Dia menyebut juga turun-temurun, dimana kalau kita melihat pemeliharaan Tuhan kepada Bangsa Israel, kita bisa melihat bagaimana karya Tuhan – mulai dari jaman Abraham hingga jaman Musa, sampai seterusnya. Ayat 2 juga ada sesuatu yang menarik: “dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah”. Tidak perlu banyak penjelasan bukan? Pengakuan Musa ini menunjukkan imannya yang begitu luar biasa. Sekalipun terkadang ada keraguan dalam diri Musa (dari awal dia diutus) hingga akhirnya dia menjadi seorang pembebas Mesir, tetapi pada akhirnya dia tetap percaya – sekalipun dia tidak melihat tanah perjanjian itu.

2.     Ayat 3-6, menunjukkan betapa singkatnya sebenarnya kehidupan itu dimata Tuhan. Hal ini menunjukkan pengakuan Musa yang menyadari betul bahwa sebenarnya hidupnya itu tidak ada apa-apanya di mata Tuhan. Orang mungkin memandang bahwa Musa adalah seorang pemimpin besar, tetapi ternyata dia tidak menganggap dirinya seperti itu. Dengan rendah hati ia berkata bahwa ternyata Tuhanlah satu-satunya yang empunya hidupnya. Dia tidak terbatas oleh waktu. Dia adalah Allah yang maha hadir di dalam kehidupan manusia. Di hadapan Allah, sehebat apapun prestasi kita, kemampuan kita, apapun yang kita kerjakan sebenarnya nothing. Kalau kita dipercaya melakukan sesuatu, semata-mata itu semua karena ANUGRAH.

3.     Ayat 7-12, Musa kembali mengakui kemahakuasaan Allah di dalam kehidupannya. Ia tahu benar seperti apa Allah itu, Allah yang kudus, Allah yang adil, Allah yang begitu mengasihi manusia. Mengasihi? Ya, Allah yang mengasihi belum tentu Allah yang tidak mendidik umatNya. Namun mengasihi di dalam hal ini adalah bagaimana Allah memberikan proses di dalam kehidupan manusia. Ayat 9 menunjukkan adanya suatu kondisi ‘berdukacita’. Kalau kita baca doa Musa ini, sepertinya dia memperlihatkan dirinya sebagai seseorang yang memiliki kehidupan yang begitu sengsara.. Tetapi pernyataan itu dibaliknya di ayat 10-12. Ayat 10-12 Musa mengakui bahwa seringkali manusia tidak memandang kehidupan dari sudut pandang Allah. Oleh karena itulah Ia meminta hikmat di ayat 12, Musa meminta pelajaran hikmat itu dari Tuhan, sehingga ia dapat menjadi seseorang yang bijaksana di dalam kehidupannya.

4.     Ayat 13-17, Musa menuliskan permohonannya kepada Allah. Setelah sebelumnya ia mengakui tentang kasih dan penyertaan Tuhan, ia memohon kali ini untuk dapat dikenyangkan dengan kasih setiaNya, artinya bahwa melalui hikmat yang diberikan Allah, kita dimungkinkan untuk dapat bersukacita atas segala hal yang terjadi di dalam kehidupan kita. Ia memohonkan bahwa setiap proses yang Allah sediakan seharusnya membuat bangsa Israel, setidaknya dia sendiri, untuk dapat memandang setiap proses yang sudah dialami dengan hati yang semakin mengenal Tuhan. Bukan dengan hikmat manusia, tetapi dengan hikmat yang dari Dia sendiri. Ia berdoa agar orang-orang dapat menikmati proses dari Tuhan itu dengan kacamata Tuhan, bukan dengan kacamata mereka sendiri.

Bisa nggak kita bayangkan kekecewaan Musa pada saat itu? Dia bisa saja lho ngambek atas hal yang Tuhan minta Ia kerjakan. Betapa tidak, kalau sepanjang hidupnya ia gunakan hanya untuk membawa bangsa Israel yang tegar tengkuk, bangsa Israel yang tukang mengeluh, tapi mereka adalah UMAT PERJANJIAN. Di akhir hidupnya mungkin kita membayangkan bahwa Musa akan sampai ke tanah perjanjian, tetapi rencana Tuhan ternyata bukan itu. Ternyata tanah perjanjian itu hanya dilihat oleh Musa, dia nggak sempat untuk menikmati tanah perjanjian itu.

Pembelajaran apa sih yang kita dapat? Poin 1 menunjukkan bahwa Ia adalah Allah yang layak dipercaya. Ia adalah Allah yang harus kita percaya sebagai Allah yang berdaulat atas kehidupan kita. Allah yang selalu memelihara kehidupan kita. Poin 2 mengajak kita untuk belajar merendahkan diri kita di hadapan Tuhan yang Maha tinggi. Poin 3 dan 4 intinya adalah kita belajar menerima didikan dari Tuhan. Kita belajar melihat bagaimana Tuhan bekerja, bukan melalui kacamata kita semata, bukan melalui hikmat kita semata, namun kembali bahwa semuanya adalah rancangan Tuhan. Apakah itu baik? YES and AMEN!! Rancangan Tuhan adalah rancangan yang terbaik di dalam kehidupan kita. Pertanyaannya, mau nggak kita belajar menyerahkan pemikiran dan logika kita di hadapan Tuhan, mengakui bahwa rancangan-Nya bukanlah rancangan kita, dan jalan-Nya bukanlah jalan kita?

Kehidupan kita sebagai hamba juga nggak jauh beda dengan kehidupan Musa. Musa sadar betul bahwa ketika dia sudah menjadi hamba, dia hanya bisa bilang “suka-sukaMu Tuhan”, dan itu berarti bahwa dia membutuhkan hikmat lebih yang dari Tuhan saja. Tetapi Tuhan menyediakan hikmat itu bukan? Tuhan menyediakan hikmat itu kepada Musa sehingga dia bisa menerima rencana Tuhan di dalam kehidupannya. Kaitannya apa sih dengan kehidupan kita? Nggak peduli mau sehancur apapun 2014 yang sudah dialami temen-temen, mau nggak belajar bahwa semuanya adalah bagian dari rencana Tuhan di dalam kehidupan ini untuk kita dapat menyongsong tahun 2015 yang penuh dengan pengharapan yang baru? Mungkin kehidupan kita seperti Musa, mengalami hal-hal yang tidak seharusnya kita alami di dalam masa hidup yang seharusnya kita nggak cocok untuk melakukan itu. Tetapi apakah teman-teman menyadari bahwa Allah sudah mempersiapkan hal yang jauh lebih baik dari hal itu?


Soli Deo Gloria

Thursday, January 1, 2015

Menyambut Tahun Baru Penuh Pengharapan

“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

-Markus 10:45-

Tahun baru merupakan satu momen yang indah untuk kita dapat memikirkan, kira-kira sepertii apa hidup kita di tahun yang akan datang. Sebenarnya setiap kesempatan yang Tuhan sediakan memiliki suatu maksud dan tujuan tertentu. Tetapi momen tahun baru menjadi satu momen yang tepat sekali untuk menanyakan di dalam kehidupan kita sendiri: apa yang mau kita kerjakan bagi Tuhan? Resolusi apa yang belum kita komplitkan tahun lalu dan apa yang mau kita kejar tahun ini?

Setiap tahun kita memiliki berbagai resolusi. Target-target apa yang akan kita kejar di tahun depan, dan kalau dalam konteks para jomblo: “siapa yang kita kejar”. Ah menarik sekali manakala di momen pergantian tahun ini, saya percaya bahwa Allah menyediakan momen ini untuk setidaknya kita merenungkan kembali, bagaimana kasih karunia Allah itu begitu luar biasa di dalam kehidupan kita. Tahun baru ini selalu menjadi masa yang begitu unik dan menarik.

Satu hal yang dapat menjadi satu perenungan yang mendalam di dalam kehidupan kita adalah mau menjadi seperti apa relasi kita dengan Tuhan di tahun kedepan? Hal ini mungkin seringkali terlewat dan dirasa menjadi suatu hal yang tidak penting. Tetapi timbul lagi satu pertanyaan mungkin di dalam kehidupan kita: “sebenarnya pentingkah kita menyertakan hal ini sebagai suatu resolusi?”.

Seorang karyawan mungkin akan memikirkan mengenai bagaimana impiannya kedepan untuk dapat bekerja lebih baik lagi sehingga ia dapat setidaknya naik sub-golongan. Buat para pedagang mungkin akan mengejar omzet sampai meningkat berapa. Banyak contoh lagi, tetapi hal itu terkadang membuat kita menjadi orang yang berfokus pada kehidupan pribadi kita tanpa sedikitpun mau memikirkan – apa yang menjadi rencana Tuhan di dalam kehidupan kita.

Sangat miris melihat realitas bahwa kita begitu mudah memikirkan visi dan misi hidup kita apabila hal itu dikaitkan dengan income kita, ataupun mengenai jabatan kita.  Hidup di dalam suatu dunia yang penuh dengan tantangan membuat kita menjadi seseorang yang melupakan Sang Pemberi Hidup, yang mana akhirnya kita tidak memiliki suatu tujuan yang jelas di dalam kehidupan kita. Kita melupakan esensi kehidupan manusia dan kita akhirnya melupakan bahwa kita ini diciptakan sebagai makhluk sosial. Alih-alih kita dapat mengasihi sesama kita, kita malah menjadi homo homini lupus.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa menyambut momen pergantian tahun baru, kita diajak mengingat kembali sebenarnya untuk apa kita hidup. Momen tahun baru menjadi satu momen yang baik untuk kita terus menerus mengingat Sang Pencipta kita. Konteks bacaan di Markus adalah Andreas dan Yakobus menanyakan, siapa yang terbesar di antara para murid. Sangat lazim lah sebenarnya ketika kita bertanya seperti itu bukan? Sama seperti kita yang menjadi seorang karyawan, sangat lazim kita bertanya kepada bos kita, siapa yang terbaik?

Konteks kerajaan Allah bukan dipandang dari prestasi. Artinya bahwa di dalam kita mengerjakan keselamatan yang telah Tuhan sediakan, hal yang penting bukan seberapa banyak kita sudah berkarya bagi Tuhan. Hal yang terpenting bukanlah berapa banyak jiwa yang sudah kita bawa untuk mengenal Tuhan. Ingat bahwa ketika kita bisa melayani Dia, ketika kita dipakai oleh Tuhan, itu pun sebenarnya juga sebuah bonus kok.

Maka dari itulah Yesus dengan begitu lembut menyebutkan bahwa yang akan menjadi yang terbesar ialah seseorang yang menjadi hamba atas saudara-saudaranya. Hal ini memperjelas kembali panggilan kita, bahwa ketika kita hidup di dunia ini ternyata memang bukan mengenai bagaimana kita dapat meninggikan diri kita. Hidup di dunia ini bukan berarti kita berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih tinggi dan lebih hebat daripada orang-orang yang lain. Hidup ini adalah tentang bagaimana melaksanakan rencana Allah – dan itu berarti bahwa kita melayani orang lain di dalam kehidupan kita.

Apakah berarti kita tidak boleh punya target pribadi di dalam kehidupan ini? Tentu saja boleh, akan tetapi kembali lagi pertanyaannya: apakah target itu hanya fokusnya pada kebesaran diri kita? Apakah target itu sesuai dengan panggilan yang sudah Allah tempatkan di dalam kehidupan kita? Ini adalah satu pertanyaan besar di dalam dunia ini yang perlu kita jawab. Ini adalah satu pertanyaan besar dimana kita perlu memikirkan kembali rencana yang Allah sudah tetapkan di dalam kehidupan kita. Punyakah kita kesadaran bahwa ketika Allah sudah memberikan banyak sekali hal dalam kehidupan kita, itu bukan hanya untuk kita keep sendiri. PrinsipNya begitu jelas kok, bahwa ketika kita diberikan sesuatu oleh Allah, maka kita akan dituntut lebih dan lebih lagi. Saat itu pula Dia akan menambahkan, dan kita terus memberi dan memberi.


Ketika sudah membaca hal ini, kira-kira apakah yang menjadi resolusi kita di tahun 2015? Siapkah kita menyongsong masa-masa penuh pengharapan di dalam Dia? Apakah kita masih saja tetap pada tujuan hidup kita sebelum kita mengenal Kristus, ataukah kita belajar untuk semakin hari semakin mengenal Dia di dalam Roh dan kebenaran? Allah kita adalah Allah yang memelihara kehidupan kita hari lepas hari. Apakah kita siap di dalam pelayanan kita untuk memuliakan Allah di dalam hidup kita – menjalani hari-hari penuh pengharapan di dalam Dia yang memberikan kita kekuatan untuk hidup memuliakanNya?

Tuesday, December 30, 2014

Gereja Yang Berkarya

Pernahkah kita melihat kehidupan orang-orang yang di dalam dirinya terlalu banyak kolestrol dan lemak-lemak di dalam tubuhnya? Atau kalau tidak tahu seperti apa bentuk orang semacam ini, lihatlah orang yang mengalami obesitas. Keadaan orang-orang yang mengalami overweight ataupun obesitas seringkali terjadi karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk me-manage kehidupannya sendiri. Mereka terlalu banyak mengkonsumsi jenis makanan tertentu dan terlalu memperhatikan kondisi di dalam diri mereka. Mereka jadi susah bergerak di dalam kehidupan mereka dan akhirnya mereka akan ‘inaktif’ di dalam kehidupan mereka.

Inilah sebenarnya refleksi kehidupan bergereja saat ini. Sebagai organisasi tentu saja gereja memiliki sebuah kebutuhan untuk dapat berkarya. Mereka perlu memperkuat organisasi mereka secara internal. Siapa sih yang nggak merindukan memiliki sebuah gedung gereja dengan peralatan yang lengkap, jumlah jemaat yang besar, dengan pelayan-pelayan kedalam yang aktif. Wah pasti setiap kita merindukan memiliki sebuah organisasi gereja yang seperti itu.

Sadar atau tidak, dua buah kisah di atas mungkin juga menunjukkan realitas gereja saat ini, dan ini terjadi di seluruh gereja. Gereja yang hanya menikmati kehidupan internal gerejanya tanpa mau mengutus anggota-anggotanya untuk melakukan suatu karya nyata bagi masyarakat. Apa yang terjadi? Gereja ini akhirnya tumbuh terus kedalam dan akhirnya penuh dengan konflik internal masalah kebijakan-kebijakan untuk mengembangkannya lagi.

Lalu masalahnya apa? Bukankah baik sekali kalau gereja itu tumbuh kedalam? Memang benar, tetapi ada hal yang jauh lebih penting lagi. Ketika gereja saat ini justru terus menerus menumbuhkan kehidupan kedalam mereka, tetapi mereka lupa mengenai tugas mereka untuk mewartakan kabar baik ke dunia. Sama seperti ketika ada seorang yang akan naik ke pesawat terbang. Pada saat akan masuk ke ruang boarding, ternyata topi dan sepatunya lepas, sedangkan tidak lama lagi pesawat akan segera berangkat. Saking sibuknya dia merapikan topi dan kemudian merapikan sepatunya, dia ternyata ketinggalan pesawat tersebut.

Gereja juga bisa saja mengalami hal yang sama. Mengurus hal-hal yang sebenarnya tidak esensi namun terus membicarakannya dan akhirnya melupakan tugas utama – membawa kabar baik dan membagikan kasih Kristus bagi orang-orang di sekitarnya. Yang diurusi hanyalah masalah kebaktian, memikirkan lagu, kemudian bagaimana caranya membuat liturgi yang ‘menyenangkan’. Tetapi apakah gereja hanya memiliki peran sebatas itu? Tidakkah kita menyadari bahwa ada hal yang jauh lebih besar yang sedang Allah persiapkan di dalam kehidupan gereja?

Mari belajar mengingat kembali apa sebenarnya yang menjadi realitas utama yang dihadapi sebagai gereja Tuhan. Saya tidak berkata bahwa pembangunan jemaat itu tidak penting. Sama sekali bukan. Justru ketika jemaat menjadi semakin dewasa, ia seharusnya menjadi agent of change yang jauh lebih efektif. Pertanyaannya adalah apakah hal yang selama ini dilakukan di dalam pembangunan jemaat sudah menyentuh kebutuhan-kebutuhan masyarakat? Apakah selama ini seminar ataupun persekutuan sudah sesuai dengan hal yang menjadi realitas itu? Ketika kita semakin belajar untuk hadir di tengah masyarakat, kita dapat lebih jeli menangkap realitas yang terjadi.

Nah apakah kita ingin menjadi gereja yang sehat? Gereja yang sehat sadar bahwa dia membutuhkan nutrisi. Tetapi juga tidak lupa dia berolahraga keluar dan membangun sesamanya. Artinya keduanya perlu berjalan beriringan. Menangkap realitas untuk tahu olahraga apa yang harus dikerjakan, sembari terus mengisi nutrisi dan berlatih sehingga bisa lebih maksimal. Akhirnya didapatkan sebuah gereja yang dapat aktif, tahu tujuan mengapa gereja itu berdiri, dan akhirnya semuanya adalah untuk kemuliaan Tuhan.

Kiranya ini menjadi sebuah pergumulan kita bersama sebagai gereja Tuhan, sebagai jemaat yang dipercayakan Tuhan menjadi penatalayan-Nya di dunia ini. Manakala Allah sudah memberkati kita, sudah memberikan yang terbaik di dalam kehidupan kita di dalam kehidupan berjemaat kita, tentu ada konsekuensinya, yakni kita juga dapat memberkati mereka. Menampilkan pelita itu di atas kaki dian, bukan hanya menyimpannya.


Soli Deo Gloria.

Sunday, November 2, 2014

Mengingat Kembali - Kekristenan Adalah Relasi


Seorang rekan bertemu denganku, dan ia adalah seorang Muslim. Ia bertanya: “apa sih yang menarik di dalam kekristenan?”. Ketika merenungkan pertanyaan itu, apa yang akan teman-teman jawab? Bukankah ini satu kesempatan penginjilan yang bagus bukan? Bukan kebetulan pastinya manakala kita diberikan sebuah pertanyaan yang membuat kita dapat menceritakan mengenai Kristus.

Balik lagi, apa yang akan teman-teman jawab? Mungkin sebagian dari kita akan menjawab Yohanes 3:16, atau Yohanes 14:6, kemudian Efesus 2:8-9, dan sebagainya. Tetapi ada satu hal yang kita tangkap di dalam alkitab kita, mulai dari awal hingga akhir. Apakah itu? Bahwa kekristenan ternyata bukanlah sekadar agama. Kekristenan adalah relasi, sebuah hubungan intim antara Tuhan Yesus yang turun sebagai manusia, memenuhi kehendak BapaNya untuk menebus dosa umat manusia. Ada sebuah kasih yang satu arah, dan itulah kasih yang sejati.

Mengapa kekristenan dapat dikatakan sebuah relasi? Karena di dalam kekristenan kita tidak punya ikatan apapun untuk menyembah Tuhan secara formal. Jangan salah sangka, bukan berarti bahwa ibadah yang kita lakukan setiap hari minggu menjadi sesuatu yang tidak penting. Salah besar, teman, karena justru itu adalah suatu kesempatan bersekutu dengan saudara seiman kita untuk sama-sama memuji dan memuliakan Tuhan.

Kembali lagi, bukan berarti bahwa ritual-ritual yang kita lakukan di gereja tidak penting. Tetap bahwa di dalam sebuah komunitas gereja kita perlu belajar untuk tidak hanya aktif tetapi bekerja tanpa arah dan tujuan yang jelas. Kembali kepada hal yang paling dasar bahwa kehidupan sebagai manusia memiliki tujuan untuk “memuliakan Tuhan dan menikmati Dia sepanjang waktu”. Bahwasanya dalam menikmati Dia itulah kita memuliakan Tuhan, dan juga sebaliknya.

Maknanya? Kita melihat ada banyak orang yang memiliki sebuah worship style yang indah, kita melihat banyak orang yang melayani tanpa lelah dan terus menerus konsisten. Kita mungkin bisa menyebutnya “Mr. / Ms. Everywhere”, yakni seseorang yang ada dimanapun dan kapanpun manakala kita berada di gereja. Beliau mungkin aktif di Paduan Suara, ataupun di pemusik. Dia juga punya kemampuan MC dan aktifis yang baik, tetapi bekerja tanpa satu dasar relasi yang intim dengan Tuhan. Dalam hal ini dia mungkin menganggap bahwa Tuhan senang manakala kita punya banyak aktivitas di gereja.

Tetapi kita melihat siapa sebenarnya di alkitab orang-orang seperti itu. Ya, mereka adalah orang-orang yang suka sekali menampilkan ketaatan mereka kepada Allah dengan tampil sebagai orang yang begitu rohani. Mereka adalah orang-orang Farisi, orang-orang yang memiliki “iman” yang begitu besar, mereka memiliki ketaatan rohani yang begitu hebat. Mereka terlihat seperti orang-orang yang begitu suci. Mereka adalah tipikal orang yang bisa menghakimi orang lain manakala orang lain tidak memiliki kualitas kerohanian yang sama dengan mereka.

Kerohanian farisi adalah kerohanian yang begitu mengerikan. Kerohanian ini memaksa seseorang untuk tampil perfect, menjadi seseorang yang munafik, dan menjadi orang-orang yang begitu memiliki idealisme tinggi tanpa adanya suatu kasih karunia. Artinya bahwa orang-orang seperti ini terkadang malah membenci kasih karunia yang Tuhan berikan di dalam hidupnya. Orang-orang ini bahkan melihat bahwa tidak ada orang yang lebih baik dari dirinya. Manakala ia melihat orang jahat tapi tiba-tiba mendapatkan sebuah kasih karunia, ia bisa saja protes kepada Tuhan.

Masih ingat kan dengan cerita “Perumpamaan Tentang Anak Yang Hilang”? Kita melihat ada 2 pribadi disana. Ada seorang sulung yang hidupnya tampil baik-baik saja, tetapi ada si bungsu yang kita bisa melihat adalah pribadi yang “menjijikkan”. Sang sulung secara tidak langsung menunjukkan sebuah kerohanian orang Farisi, yang menyangkal kasih Allah yang ada di dalam kehidupan setiap orang, termasuk orang yang brengsek sekalipun.

Kita melihat bukan dari kisah ini bahwa ternyata kekristenan bukan hanya tentang kita dapat melakukan sesuatu yang baik. Cornelius Van Til menyampaikan idenya di dalam buku Christian Theistic Ethics, bahwa di dalam etika kekristenan, kita perlu belajar mengenai 3 hal: motivasi, tujuan, dan cara. Semuanya harus sinkron dan itulah yang bisa disebut sebagai integritas. Ketika kita melakukan sesuatu yang benar namun motivasinya tidak dikembalikan untuk kemuliaan Allah, maka semuanya sia-sia.

Kita melihat bukan bahwa relasi dengan Tuhan menjadi begitu penting. Kehidupan keseharian kita menuntut kita menjadi pribadi yang memiliki relasi itu. Relasi yang sebenarnya harus menjadi hal yang terutama dibandingkan dengan relasi kita dengan hal lain. Itu seringkali hilang di dalam kehidupan modern kita. Cara paling mudah mengecek relasi kita dengan Tuhan adalah apa yang kita lakukan manakala kita memiliki waktu dimana kita cenderung “kosong”. Apakah kita punya satu keinginan kuat untuk duduk diam dan mendengar suaraNya, ataukah kita lebih menyukai bermain Hay Day atau Clash of Clans dari gadget kita?

Kembali lagi kita diingatkan bahwa relasi kita dengan Tuhan bukanlah sebuah relasi yang dapat kita mainkan dengan seenaknya. Relasi itu sebenarnya menjadi dasar kehidupan kita, dan kita perlu terus-menerus menjaga keintiman kita dengan Tuhan di dalam menjalani kehidupan ini. Kita perlu belajar dan terus bertanya “kalau aku masih hidup hingga saat ini, apa sih sebenarnya yang Tuhan mau kerjakan di dalam kehidupan kita?”.

Relasi itu sebenarnya adalah relasi kasih satu arah. Kasih yang sebenarnya nggak pernah layak untuk kita dapatkan, tetapi melalui salib di kalvari,  relasi itu dipulihkan. Salib itu akhirnya kembali mengembalikan hancurnya relasi manusia dengan Tuhan yang diakibatkan oleh dosa. Pertanyaan yang harus kita renungkan terus menerus adalah sudahkah kita memaknai relasi yang begitu indah ini? Relasi yang diberikan Allah di dalam kehidupan kita untuk kita dapat menikmati Dia. Dia selalu available 24 jam. Dia menginginkan kita untuk datang di hadapanNya, menikmati Dia sehingga kehidupan kita dapat memuliakan Dia.

Bagaimana relasi kita dengan Tuhan saat ini? Bagaimana kondisi kekristenan kita saat ini? Apakah kita hanya sekadar datang ke gereja dan menikmati kotbah, kemudian kita pulang? Apakah kita melayani Tuhan namun belum menyadari bahwa pelayanan itu sebenarnya adalah anugrah yang Tuhan berikan, bukan kuat gagah kita? Apakah kita memiliki suatu keterikatan tertentu terhadap sesuatu yang mana menghancurkan relasi kita denganNya? Dia adalah Allah yang setia di dalam hidup kita. Ia adalah Allah yang ingin kita datang seperti anak bungsu yang mau datang kembali. Implikasinya juga dapat kita lihat di kitab awal alkitab kita. Ia bertanya kepada Adam, “dimanakah engkau?”. Allah bukan tidak tahu Adam ada di mana. Ia ingin Adam datang kepadaNya dan mengakui bahwa tanpa Dia, Adam bukanlah apa-apa.

Sudahkah kita datang kepadaNya dan mengakui setiap kelemahan kita di dalam hidup ini? Sudahkah pusat hidup kita ialah Dia, yang membuat tindakan kita, perkataan kita, kehidupan kita adalah bagi Dia?

Soli Deo Gloria!
(ASW)

Tuesday, September 9, 2014

Kitab Daniel : Makna Teologis Tentang Penyertaan Allah di Dalam Kehidupan Manusia


Ketika kita membaca kitab Daniel, kisah apa yang paling sering kita dengar? Tidak diragukan lagi bahwa semenjak kita mengikuti sekolah minggu, ada dua kisah yang membuat kita terbengong-bengong sampai mungkin kita hanya dapat menangkap dua kisah ini tanpa membaca kembali kitab Daniel. Dua kisah yang dimaksud adalah: (1) Ketika Sadrakh, Mesakh, dan Abednego akan dilempar ke dalam perapian, tetapi ternyata mereka keluar dengan keadaan tidak terluka. (2) pada saat Daniel dilempar ke lubang singa, tetapi ia berhasil selamat tanpa kekurangan sesuatu apapun.

Kedua kisah ini sering kita dengar dan paling tidak sebagai orang Kristen kita menghafalkannya. Tetapi lebih jauh lagi, kalau kita baca secara teliti, ada hal yang juga menarik di dalam kitab Daniel. Kitab Daniel ini juga menunjukkan satu berita yang begitu menarik. Disini kita melihat mengenai karakter dan penyertaan Allah terhadap bangsa Israel sekalipun mereka berada di tanah pembuangan Babel. Bangsa Yehuda adalah bangsa yang besar, tetapi identitas mereka sebagai sebuah bangsa yang diberkati oleh Allah akhirnya dirasa hilang oleh orang Yehuda karena akhirnya mereka dibuang ke Babel.

Kita melihat di dalam kitab Daniel ada sebuah pola yang menarik, yakni Allah yang selalu akhirnya ditinggikan. Kita melihat kisah mengenai bagaimana raja Nebukadnezar mulai bermimpi dan di seluruh negeri, tidak ada seorang pun yang dapat menjelaskan arti mimpi itu kepada raja. Sampai akhirnya raja mengeluarkan suatu perintah untuk menghabisi orang-orang pintar di negeri itu sebelum akhirnya Daniel keluar sebagai seorang pahlawan. Daniel menjawab dengan tepat sampai akhirnya ia dikaruniai sebuah kedudukan di dalam istana. Kita melihat disini, seorang Nebukadnezar yang terlihat begitu besar dan akhirnya umat Tuhan mulai bergerak, akhirnya ada satu perubahan sikap yang dibalik 180 derajat.

Kisah ini berlanjut di dalam pasal berikutnya mengenai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, yang mana kalau kita baca detailnya, bahkan algojo yang akan memasukkan mereka bertiga ke dalam api pun juga terbakar. Tetapi disinilah ada hal yang dapat kita pelajari: justru di dalam situasi genting seperti inilah Tuhan mau memakai umatNya menjadi satu kemuliaan bagi namaNya. Manakala dunia melihat bahwa yang paling penting adalah kenyamanan di dalam ketidakjelasan akan makna hidup, justru kekristenan menawarkan sebuah kehidupan yang memuliakan Allah.

Berlanjut kepada cerita dimana Daniel dimasukkan ke dalam goa singa. Namun kita lagi-lagi melihat bahwa singa itulah yang menjadi media untuk sebuah doksologi yang dinyatakan oleh Raja Darius, seorang Kafir! Darius yang paling besar, kemudian akhirnya menjadi lemas, dan ada satu doksologi dari orang yang paling besar itu. Artinya bahwa ada perubahan fokus hidup.

Sampai disini biasanya kita sudah hafal kitab Daniel. Tetapi kalau kita melanjutkan di pasal 7, kita membaca ada frasa “Anak Manusia”. Saat ini Daniel-lah yang menjadi lemas, dan ia akhirnya mendapat kelegaan. Apa signifikansi “Anak Manusia”? Sebenarnya ini adalah sebuah gelar mesianik, karena kita dengan jelas dapat membaca seperti apa sih Anak Manusia ini? Kita membaca bahwa “Anak Manusia” ini diberi kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja (Daniel 7:14). Apa maknanya? Yesus juga berkata bahwa Ia adalah “Anak Manusia”, yang berarti bahwa Yesus sendiri menyatakan diriNya sendiri sebagai Allah.

Ya ternyata kita membaca sebuah kitab yang jauh lebih indah bukan? Daniel ini bukan hanya sekedar kita membaca mengenai kisah anak muda yang diberkati. Jauh lebih dalam lagi ada pemaknaan teologis yang cukup mendalam yang seharusnya membuat kita menyadari akan peran kita dan pembelajaran kita sebagai orang Kristen yang perlu terus menerus teguh di dalam kehidupan memperjuangkan kekristenan kita.

Soli Deo Gloria!

Sunday, June 15, 2014

Beauty of Christianity - The Trinity

Pembukaan
“Mana mungkin Allah bisa tiga tapi satu, atau satu tapi tiga?” Pertanyaan itu sering sekali dilontarkan kepada kita, orang-orang Kristen yang mempercayai doktrin Allah Tritunggal. Istilah “Tritunggal” sendiri tidak pernah dituliskan di dalam alkitab. Hal ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bahwa ternyata alkitab secara tersurat tidak pernah menyebutkan kata tersebut, tetapi di sepanjang alkitab, ada banyak kalimat yang tersirat yang menunjukkan bahwa Allah kita ialah Allah Tritunggal.

Sebelum masuk kedalam pembahasan lebih lanjut, kita mencoba untuk terlebih dahulu mengerti tentang siapa kita dan siapa Allah. Kitab Kejadian menuliskan mengenai siapa kita, yakni ciptaan. Allah ialah pencipta. Jadi ada satu gap  yang luar biasa antara kita dengan Allah. Allah sebagai pencipta ialah pribadi yang tidak terbatas, dan manusia sebagai ciptaan ialah pribadi yang sangat terbatas. Mengapa saya menuliskan hal ini di awal? Implikasi dari hal ini ialah bahwa kita tidak mungkin memahami 100% mengenai Allah. Ada bagian yang Allah ijinkan untuk kita dapat mengerti, dan ada pula hal yang unrevealed, yakni hal yang merupakan misteri.

Dasar pemikiran tersebut membuat kita sebagai ciptaan seharusnya tidak akan mampu menjelaskan secara komplit dan benar secara 100% mengenai Allah, namun bukan berarti bahwa kita tidak belajar untuk mengerti. Ada hal-hal yang ditunjukkan kepada kita sebagai manusia yang terbatas untuk kita pahami.

Analogi Yang Tidak Sempurna
Ada berbagai analogi mengenai Allah Tritunggal, dan kita perlu berangkat dari suatu pemikiran bahwa analogi tidak pernah menggambarkan secara 100% kondisi riil. Contoh analogi yang mungkin seringkali kita dengar tentang Allah Tritunggal adalah mengenai matahari, ada kalanya matahari memiliki sinar, panas, dan cahaya. Sama juga Allah kita memancarkan ketiga hal tersebut, tetapi hakikatnya, Ia adalah matahari. Ada pula sebuah contoh seperti misalkan saya dengan berbagai peran saya. Di rumah, saya menjadi seorang anak, di perusahaan sebagai seorang staff, dan di gereja saya berperan sebagai seorang jemaat.

Analogi-analogi tersebut berusaha untuk menjelaskan seperti apa Allah Tritunggal itu, tetapi tidak ada yang sanggup untuk menjelaskan mengenai terperinci mengenai Allah Tritunggal. Mengapa?
1.       Karena status kita sebagai ciptaan, sehingga kita tidak mungkin dapat mengenal 100% pencipta kita
2.       Penggunaan pendekatan Filsafat di dalam kita berusaha untuk mengerti pribadi Allah.

Sekalipun ada berbagai analogi, ternyata kalau kita melihat lagi bahwa ternyata analogi-analogi tersebut masih memiliki berbagai kelemahan. Tentu saja, karena analogi tidak pernah dapat 100% menjelaskan mengenai sebuah hal yang dianalogikannya. Apabila filsafat ternyata gagal untuk memahami siapa Allah yang sebenarnya, maka pendekatan apa yang dapat kita gunakan? Karena Allah Tritunggal ini ditunjukkan oleh alkitab, maka untuk mencoba memahaminya, kita perlu melakukan pendekatan dari alkitab juga.

Melihat Kitab Kejadian
Sejak kitab Kejadian, kita bisa melihat dengan begitu unik bagaimana ketritunggalan Allah. Kejadian 1:1 di dalam alkitab Bahasa Indonesia berbunyi demikian:

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

Dalam bahasa Ibrani, kata yang digunakan untuk padanan kata Allah digunakan untuk menunjukkan plural. Artinya bahwa Allah di sini lebih dari satu. Namun pada kata “menciptakan”, digunakan verb untuk subyek dalam bentuk singular. Kemudian masih di kitab Kejadian 1, pada ayatnya yang kedua.

Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

Kata “Roh Allah” disini juga menunjukkan bahwa Roh Kudus sudah ada saat peristiwa penciptaan. Ini merupakan sebuah penegasan mengenai Allah.

Kemudian juga kita melihat di Kejadian 1:26

Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."

Baiklah “KITA”, bukan saya, ataupun yang lain. Tetapi sama kasusnya seperti pada Kejadian 1:1, kata kerja yang mengikutinya adalah bentuk tunggal, bukan bentuk jamak.

Melalui beberapa contoh tersebut dapat kita lihat bahwa Alkitab dengan begitu jelas menunjukkan bahwa Allah bukanlah tauhid, tetapi ada sebuah keunikan. Kata kerja yang digunakan adalah bentuk tunggal, sedangkan kata Allah sendiri dalam bentuk jamak.

Yesus sebagai “Anak Allah”
Menjadi sebuah perdebatan yang begitu sengit pula ketika kita melihat di dalam Perjanjian Baru mengenai Yesus. Orang Kristen percaya bahwa Yesus ialah Anak Allah, namun juga Ia sendiri adalah Allah. Muncul sebuah pertanyaan yang begitu sering ditanyakan oleh orang, “Kapan Yesus menyebut dirinya sebagai Allah?” dan juga ada pertanyaan lain seperti ini: “Apakah Yesus sebagai Anak Allah, berarti Dia adalah anak biologis dari Allah?”

Mari kita coba melihat sebuah contoh yang begitu riil. Misalkan kita saat ini kuliah di universitas X. Saat kita bertemu dengan seorang teman kita yang berasal dari universitas lain, kita diberikan sebuah pertanyaan: “apakah kamu anak X?” jawaban kita tentu saja adalah  “Ya”. Contoh tersebut membuktikan bahwa istilah “ANAK” disini bukan sebagai anak dalam arti biologis, namun dalam arti yang lebih dalam yakni mengenai atribut. Ketika kita sudah lulus dari universitas X, tentu saat melamar pekerjaan kita akan mencantumkan universitas X tersebut di CV kita.

Sama juga dengan istilah “Anak Allah” disini, yang berarti bahwa ketika Yesus disebut sebagai Anak Allah, berarti Dia juga memiliki atribut Allah. Mari kita coba melihat di kitab Yohanes.

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

“Pada mulanya” pada ayat ini mengarah kepada satu kondisi di awal mula kehidupan, atau asal mula segala sesuatu. Segalanya dimulai dari Firman, dan ada kata “bersama-sama” dengan Allah, dan Firman itu ADALAH ALLAH. Bukankah ini adalah sebuah penegasan bahwa Yesus sendiri ialah Allah? Hal ini menjadi penting untuk kita perhatikan karena ayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa Yesus ada sejak semula bersama dengan Allah sendiri.

Tingkatan dalam Tritunggal, Adakah?
Mitologi Yunani sangat kaya akan dewa-dewa. Kita bisa melihat disana bahwa ada dewa yang tertinggi. Ada raja dewa, dan ada tingkatan dewa yang lebih rendah. Apakah tritunggal berarti bahwa ada tingkatan yang tertinggi di dalamnya? Dalam alkitab, selalu disebutkan sebagai urutan adalah Allah Bapa, Allah Anak, dan terakhir adalah Allah Roh Kudus. Apakah hal ini menunjukkan sesuatu?

Sekali lagi kita lihat bahwa tritunggal tetap berdiri teguh di tengah tantangan seperti ini. Kalau kita baca di dalam kitab Matius 28:19-20

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, (Mat 28:19 ITB)

Kata “nama” disini berbentuk tunggal, bukan jamak. Artinya pernyataan tersebut mengarah kepada satu pribadi, bukan tiga. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa tidak pernah ada suatu tingkatan di dalam tritunggal tersebut.

Implikasi Pemahaman Allah Tritunggal dalam Kehidupan Kita
Sebagai orang Kristen, salah satu doktrin / pengajaran yang seringkali menjadi sebuah perdebatan adalah mengenai Allah. Tetapi penekanan yang begitu indah di dalam pengajaran ini adalah pernyataan Tuhan Yesus di dalam Yohanes 14:17b

Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia

1.       Belajar untuk tunduk dan mengakui bahwa segala sesuatunya, pemahaman kita, hidup kita, dan segala detail di dalam kehidupan kita adalah karya Allah yang luar biasa yang telah Tuhan kerjakan
2.       Belajar mengenai Tritunggal / Trinitas tidak akan pernah dapat kita selesaikan secara tuntas. Ingat posisi kita sebagai ciptaan, yang tidak dapat memahami pencipta kita 100%
3.       Masalah iman bukanlah hal yang dapat dipaksakan. Ingat bahwa ketika kita percaya kepada Yesus sendiri, kita tidak pernah bisa dipaksakan. Hanya anugrah saja yang memampukan seseorang untuk dapat mengenal Kristus secara pribadi
4.       Tritunggal juga menampakkan sebuah kebenaran yang begitu luar biasa di dalam kehidupan orang percaya. Kalau kita melihat sumber dari konsep “unity in diversity” pun, Allah Tritunggal menampakkan konsep itu dengan begitu harmonis. Ada perbedaan di dalam kehidupan kita, satu sama lain. Ada perbedaan spesies-spesies, bahkan di dalam spesies itu sendiri juga ada berbagai perbedaan tetapi tetap saja ada sebuah kesatuan yang harmonis di dalamnya.

Mari belajar untuk terus mau belajar dan diperbarui selalu di dalam kuasa kasihNya. Saya menutup dengan sebuah tulisan dari Paulus:


Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian. (2Korintus 13:14)

Saturday, May 31, 2014

Pelayanan Yeremia

 Yeremia – sesosok nabi yang menarik. Mellow, merasa rendah, penuh dengan pergumulan dan ratapan, tetapi di balik itu dia adalah pribadi yang begitu jujur dan punya sebuah kerinduan bagi bangsanya, untuk mengembalikan bangsa kepunyaan Tuhan itu ke jalan yang benar.

Yeremia adalah pribadi yang menarik. Ia menerima langsung panggilan Allah, sekalipun di masa mudanya. Yeremia yang pada awalnya ketakutan luar biasa tetapi akhirnya berangkat juga. Di tengah pelayanan nabi ini, ada berbagai macam pergumulan yang secara jujur sekali ia ungkapkan. Kalau kita baca kitab Yeremia secara lengkap, bahkan ada satu poin dimana ia jujur di hadapan Allah sampai mengatakan bahwa Allah adalah “sungai yang curang[i]”. Sekali waktu di tengah pergumulannya, ia menyatakan iman yang luar biasa.

Tetapi apabila aku berpikir: "Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya", maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.
(Yeremia 20:9)

Yeremia mengajarkan beberapa prinsip pelayanan yang perlu kita pahami. Memang kalau kita membahas seluruh kitab Yeremia, kita akan melihat berbagai kisah, tetapi saat ini kita akan fokus pada bagaimana pelayanan Yeremia itu didasari hanya oleh kuasa Tuhan dan semuanya adalah bagi kemuliaan Tuhan.

1.   Yeremia taat dan setia
Ketaatan Yeremia nampak sejak awal Allah memanggil dia sebagai seorang nabi. Sekalipun pada awalnya ia rendah diri karena masih muda, tetapi setelah diberikan janji penyertaan Allah, ia pun berangkat.
Baca seluruh kitab nabi Yeremia dan kalau kita perhatikan di dalam beberapa kesempatan ia bergumul tetapi tetap ia taat atas panggilan yang Tuhan berikan di dalam kehidupannya. Yeremia 20:9 itu merupakan salah satu deklarasi bahwa di tengah pergumulan yang begitu berat, ia tetap belajar untuk setia melayani Tuhan.

2.   Kuasa Firman itu cukup untuk kita dapat melayani Dia
Saat aku masih bergereja di Surabaya, aku pernah diberikan suatu kepercayaan untuk melayani sebagai pemimpin kelompok cell group. Mulanya aku begitu takut, dan memang benar ketika awal aku memimpin aku sempat menangis di hadapan anak-anak yang aku bimbing, terkait dengan ulah mereka. Saat itu aku begitu malu dan segera mengakhiri pertemuan itu. Setelah itu aku menghadap mentorku dan satu hal yang aku sadari: aku mengandalkan kekuatanku sendiri di dalam pelayanan ini.
Yeremia tahu benar bahwa panggilan itu berasal dari Allah. Oleh karena keyakinan itulah ia melayani. Allah “menaruh perkataan-perkataan di dalam mulutnya[ii]”. Hal ini menjadi satu pembelajaran bagi kita, bahwa pelayanan itu sebenarnya bukan kita yang bekerja. Pelayanan adalah gawe-nya Tuhan, oleh karena itu semuanya adalah dari Dia, bagi Dia, dan oleh Dia[iii].

3.   Belajar jujur di hadapan Tuhan
Pergumulan yang dihadapi Yeremia adalah bagaimana ia ingin sekali bangsa itu kembali ke jalan yang benar. Karena itulah di dalam doa-doa yang dipanjatkan Yeremia, ia selalu berdoa bagi bangsa itu, terlepas juga ia sangat jujur di hadapan Allah mengenai kondisinya.
Ketika kita mengerti akan panggilan Allah di dalam kehidupan kita, seharusnya kita menyadari bahwa kita perlu jujur di hadapan Tuhan. Memang benar tidak ada yang tersembunyi di mata Tuhan, namun di dalam pelayanan, kita perlu belajar untuk curhat ke Tuhan, belajar jujur atas kekecewaan kita, kemarahan kita, pergumulan kita. Mencari jawaban dari Tuhan dan benar-benar mengandalkan Dia sebagai satu-satunya sumber jawaban.

4.   Process oriented
Apa sih yang salah di dalam pelayanan Yeremia? Dia sudah memberitakan injil dengan baik. Kita dibandingkan Yeremia tidak ada apa-apanya kan? Dia memberitakan Firman dan kalau kita lihat effort yang dilakukan Yeremia, bukankah Yeremia sudah begitu maksimal di dalam pelayanan?
Apa yang dia dapatkan? Tidak lain hanyalah pelayanan tanpa hasil. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada hal yang indah menurut pandangan manusia, tidak ada hal yang patut dibanggakan.
Tetapi sadarkah bahwa pelayanan Yesus pun juga berakhir seperti itu bukan? Selalu ada tantangan dan Yesus pun berakhir di kayu salib, yang merupakan lambang kehinaan terbesar jaman itu. Dampak pelayanan Yeremia apa? Kalau kita baca kitab Daniel, dialah yang menemukan gulungan kitab yang ditulis oleh Yeremia! Ia menemukan bahwa pembuangan ke Babel sudah dinubuatkan oleh Yeremia dan hal itu membuat Daniel menyadari dan semakin mengenal Allah.
Jangan pernah menilai sebuah pelayanan dari jumlah orang yang bertobat, atau bagaimana melalui perkataan kita seseorang bisa menerima Yesus. Pelayanan itu adalah perubahan diri sendiri menjadi orang yang semakin kenal Kristus, dan melalui kehidupan kita, tindakan kita, pemikiran kita, dan pemberitaan kitalah maka orang lain dapat tertarik dan Roh Kudus akan menggerakkan orang tersebut untuk dapat mengenal Kristus.

“Aku hidup di hadapan Sang Penonton Tunggal, di hadapan orang lain aku tidak perlu membuktikan apapun, tidak perlu meraih apapun, tidak perlu kehilangan apapun[iv]

Yeremia sudah memperlihatkan bahwa prinsip terutama pada pelayanan bukan pada prestasi, bukan pada skill, tetapi mengenai satu kesadaran akan panggilan Tuhan di dalam kehidupannya. Itulah yang membuat Yeremia mampu bertahan, dan dapat jujur di hadapan Tuhan, sambil terus berpegang penuh padaNya. Inilah kebenaran alkitab, yang mana kita perlu terus belajar untuk memurnikan motivasi kita, menajamkan visi kehidupan kita sambil terus menyerah kepada Tuhan.

Apa yang membuat anda takut melayani? Apa yang menjadi halangan bagi kita untuk melayani? Kalau kita sadar bahwa semuanya adalah karena Allah, dan bagi Allah, maka kita tidak perlu sungkan sebagai orang yang sudah menerima anugrah. AnugrahNya itulah yang akan mendorong kita untuk dapat melakukan hal yang terbaik. AnugrahNya itulah yang menjadi sumber pengharapan. AnugrahNya itulah yang membentuk suatu keinginan dan kerinduan bagi kita untuk terus hidup bagi kemuliaanNya.

Selamat merenungkan dan memuliakanNya
Soli Deo Gloria





[i] Yeremia 15:8
[ii] Yeremia 1:9
[iii] Roma 11:36
[iv] Charles Gordon, seperti dikutip dalam buku The Call karya Os Guinness