Total Pageviews

Friday, July 1, 2016

Saya Adalah Thomas si Peragu! - Terjemahan dari Artikel Michael Licona, Ph.D



Salah satu ciri khas yang aku miliki adalah bahwasanya aku merupakan seseorang yang terus menerus memiliki pertanyaan dalam hidup. Rasanya aku memiliki pertanyaan-pertanyaan mengenai apapun. Aku tidak mau membuat sebuah keputusan yang salah, bahkan di dalam hal-hal yang remeh temeh sekalipun. Jadi sangatlah wajar jika aku memiliki berbagai pertanyaan dan keraguan yang mendalam di dalam hal-hal yang penting. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang aku sengaja, bahkan terkadang membuat aku frustasi. Tetapi begitulah aku apa adanya.

Hal ini menyebabkan aku acap kali meragukan iman Kristianiku; terkadang bahkan aku hampir meninggalkan iman Kristen. Aku bertanya kepada diriku sendiri, “Apakah aku sedang dicuci otak? Apakah aku tidak dapat berpikir secara objektif karena aku diajarkan untuk percaya? Bagaimana kalau ternyata aku salah?” Aku memiliki damai sejahtera yang dijelaskan oleh Paulus sebagai sebuah penjelasan mengenai Roh Allah yang berarti aku adalah milik Kristus (Roma 8:16); setidaknya untuk sementara waktu. Tetapi orang-orang Mormon juga memiliki klaim bahwa mereka memiliki kedamaian dari Allah, begitupula pengikut agama-agama lain. Tentu saja keseluruhan klaim itu tidak mungkin benar seluruhnya jika Kekristenan benar, karena banyak agama lain berkontradiksi terhadap kepercayaan mereka sendiri. Jadi bagaimana aku dapat mengenali bahwa kedamaian yang aku miliki adalah berasal dari Allah? Itu adalah sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Dan sejujurnya, aku masih belum mengetahui jawabannya

Tetapi ketika aku mengalami keraguan di tahun 1980-an, seorang profesor filsafat mengerti seperti apa kondisiku karena dia juga memiliki kecenderungan untuk bergumul dengan keraguan-keraguan. Aku tidak diajar oleh Gary Habermas, karena dia mengajar di departemen filsafat, dan aku ditempatkan di Pelajaran Perjanjian Baru. Tetapi Habermas membantu aku untuk mengerti keraguanku dan bagaimana aku dapat meyakininya. Dalam tulisan berikut ini, aku mencoba untuk menggabungkan pemikiran Habermas dengan pemikiranku. Aku memiliki kabar baik bagi anda yang bergumul dengan berbagai keraguan dalam hidup anda: Anda dapat menghadapinya dengan melakukan empat hal berikut:

Tindakan #1: Pahamilah bahwa keraguan adalah sesuatu yang wajar. Abraham bertemu dengan Allah yang memberitahukan dia bahwa dia akan memiliki keturunan yang mana darinya akan lahir bangsa yang besar. Namun ketika nyawa Abraham berada di dalam bahaya, dia berbohong untuk menyelamatkan dirinya sendiri, sekalipun dia menyadari bahwa janji Tuhan kepadanya mengenai anak tersebut belum dipenuhi (Kejadian 12). Seseorang bisa berpikir bahwa dia seharusnya percaya kepada Allah untuk menyelamatkan dia. Namun kenyataannya dia berbohong, dan Tuhan campur tangan untuk menyelamatkan istrinya Sarah kepadanya, yang dibawa karena kebohongannya. Kemudian kita meloncat ke 8 pasal berikutnya. Abraham dihadapkan pada situasi yang serupa. Namun kali ini dia tahu dia dapat mempercayai Allah untuk dapat melindunginya tanpa dia harus berbohong. Emm, tetapi ternyata tidak begitu. Abraham sekali lagi meragukan janji Allah dan mengulang kesalahannya. Dia berbohong kepada Firaun yang menjadikan Sarah sebagai gundiknya, dan sekali lagi Allah harus campur tangan.

Sekalipun kita melihat kisah hidupnya, Abraham tercatat dalam daftar orang-orang yang memiliki teladan iman dan dicatat dalam hall of fame mengenai iman (Ibrani 11). Faktanya apabila kita mencari Most Valuable Player (MVP) dalam daftar tersebut, itulah Abraham.
Yohanes Pembaptis adalah sepupu Yesus. Keduanya lahir dalam karya mujizat Allah. Yohanes kemudian akan membaptis Yesus, melihat Roh Kudus turun atas Dia, dan mendengarkan suara dari sorga yang mendeklarasikan ke-Allah-an-Nya. Yohanes kemudian dipenjara, dan terkadang saat dia dipenjara, dia mengirimkan murid-muridnya untuk mencari tahu apakah Yesus benar-benar Mesias atau mereka harus menunggu orang lain. Bagaimana mungkin Yohanes menanyakan hal tersebut, setelah dia mendengar sendiri keajaiban dari kelahirannya dan kelahiran Yesus; dan mengalami sendiri mujizat pembaptisan Yesus? Perasaan Yohanes manakala dia dipenjara membawa dia kepada keraguan emosional. Dia telah mengetahui buktinya. Tetapi kehidupan tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Faktanya, hidupnya begitu tidak nyaman saat itu. Yesus mengetahui hal tersebut. Dia meminta murid-murid Yohanes untuk kembali kepada Yohanes dan memberitakan mujizat yang Yesus lakukan, mujizat yang merupakan tanda dari kehadiran Mesias (lihat Dead Sea Scroll 4Q521, Yesaya 51:1-2; Lukas 4:16-21). Setelah murid-murid meninggalkan dia, Yesus mengalihkan perhatiannya pada orang banyak di sekitarnya. Semua mata tertuju pada-Nya. Apa yang Yesus katakan kepada mereka yang mana baru saja menyadari bahwa “orang dalam-Nya” mengalami keraguan dalam hidupnya?

Setelah murid-murid Yohanes pergi, mulailah Yesus berbicara kepada orang banyak itu tentang Yohanes: "Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian halus itu tempatnya di istana raja. Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi. Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.
(Mat 11:7-11)

Perhatikan bahwa Yesus tidak menyalahkan Yohanes karena dia ragu-ragu. Sebaliknya, Ia menyediakan bukti, menguatkan dia, dan memuji dia, berkata bahwa tidak ada yang lebih besar daripada Yohanes. Menariknya bahwa Ia mengatakan ini manakala Ia sadar betul Yohanes sedang bergumul dalam keraguannya.

Melihat contoh Abraham dan Yohanes  yang mana mereka dapat jatuh dalam keraguan mereka saat menikmati berkat Tuhan, Allah mengenal bagaimana kehidupan kita dan Ia adalah pribadi yang Maha Pengasih. Banyak orang Kristen tidak pernah mengalami keraguan. Namun bagi mereka yang pernah, ada sukacita bahwa ternyata kita memiliki rekan-rekan yang senasib dengan kita layaknya Abraham dan Yohanes Pembaptis. Orang-orang yang ragu atas iman mereka bukanlah warga kelas dua dalam kerajaan Allah.

“Tunggu sebentar, hal itu mungkin dapat berhasil bagi orang-orang yang mendengar dari Allah secara langsung dan melihat mujizat yang dilakukan Yesus. Tetapi sepertinya hal tersebut tidak akan banyak mengubahkan aku, karena aku tidak pernah melihat mujizat yang Ia kerjakan.” Aku memahami hal tersebut. Semua yang aku tuliskan hingga poin ini barulah langkah awal untuk menghadapi keraguan hidup: bahwa keraguan itu merupakan suatu hal yang wajar.

Tindakan #2: Ingatlah bahwa ada pembuktian yang komprehensif di yang mendasari kebenaran Kekristenan. Sekalipun kita tidak dapat masuk ke dalam mesin waktu, kembali ke masa lalu dan menyaksikan mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus, kita memiliki bukti historis yang begitu kuat mengenai mujizat terbesar yang pernah terjadi: KebangkitanNya. Gary Habermas memiliki pengetahuan yang begitu komprehensif dibandingkan orang lain. Seseorang dapat berkata, “diantara wanita-wanita yang pernah lahir, tidak pernah ada orang lain yang memiliki pengetahuan yang lebih lengkap mengenai kebangkitan Yesus dibandingkan dengan Gary Habermas”

Apabila Yesus bangkit dari kematian, Kekristenan pasti benar. “Namun,” anda dapat berpikir, “kebangkitanNya dicatat di dalam alkitab. Bagaimana saya dapat mengetahui bahwa alkitab itu sesuatu yang benar? Apakah aku harus menerima kenyataan itu hanya berdasarkan iman?” Selama pertemuan pertama dengan Profesor Habermas untuk berdiskusi mengenai keraguan saya, ia memberikan penjelasan singkat mengenai kebangkitan Yesus secara historis. Aku begitu tenang saat mengetahui bahwa ada bukti yang begitu nyata. Tetapi sejujurnya, penjelasan itu bukan berarti akhirnya aku tidak mempertanyakan bukti itu kembali. Bukti-bukti itu tidak 100% membuat saya yakin. Hal ini sama sekali tidak mengganggu Habermas. Ilmu pengetahuan pun juga tidak dapat menyediakan bukti yang begitu meyakinkan mengenai hal-hal yang mereka selidiki. Investigasi ilmiah dan historis tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap iman kita. Kita perlu melihat penjelasan terbaik dari data yang sudah ada dan mengambil satu titik yang cukup untuk kita dapat mempercayai suatu hal, sama seperti ketika kita akan mengambil keputusan-keputusan dalam kehidupan kita. Sisanya adalah iman dan hal ini berlaku bagi wawasan dunia apapun, apakah anda orang Kristen, Yahudi, Muslim, Hindu, Buddha, atau ateis. Namun keangkitan Yesus dapat dikatakan begitu unik jika melihat bukti yang begitu kuat untuk meyakinkan kita.

Tindakan #3: Ingatlah bahwa kepastian yang absolut adalah suatu ekspektasi yang tidak masuk akal. Beberapa orang hidup di dalam iman tanpa pernah merasakan keraguan. Ya, itu hal yang bagus. Tetapi beberapa dari kita suka menghubungkan segala sesuatunya dan kita tidak dapat merasakan damai sejahtera seperti itu. Beberapa tahun yang lalu, aku mendapatkan sebuah momen yang merupakan momen perubahan hidup. Aku menyadari bahwa imanku hanyalah salah satu hal yang aku pertanyakan dalam hidupku. Aku menyadari bahwa aku telah menyesali berbagai keputusan yang aku ambil jauuuuuhhhh setelah aku membuat keputusan tersebut. Ini adalah sebuah keunikan yang aku miliki sejak dalam masa kecilku dan aku membenci keunikan itu. Kita tidak hanya berbicara mengenai keputusan-keputusan yang pentingm seperti pemilihan pasangan hidup. Terkadang aku melihat diriku dan terus menimbang, menimbang, dan menimbang hal-hal yang sekiranya tidak esensial, seperti barang-barang yang aku akan beli: jam tangan, mobil, parfum… Kesadaran inilah yang membantu aku mengerti mengapa aku mengalami keraguan: yakni sikap menghubung-hubungkan dan kekuatiranku terhadap sesuatu. Bagiku, kepastian yang absolut adalah suatu ekspektasi yang tidak masuk akal. Jadi aku belajar untuk hidup dalam damai sejahtera dengan kepastian yang masuk akal.

Tindakan #4: Sadarilah bahwa iman lebih dari sebuah perasaan atau keadaan tanpa keraguan. Iman adalah sebuah komitmen. Seseorang datang kepada Yesus dan meminta Dia untuk menyembuhkan anaknya yang kerasukan. Dia memiliki iman di dalam Yesus (intinya, ia datang kepada Yesus untuk meminta tolong) tetapi ia meminta Yesus untuk membantu dia mengatasi ketidakpercayaannya. (Markus 9:24). Dia bergantung pada Yesus untuk menyembuhkan putranya, sekalipun imannya sama sekali tidak sempurna. Petrus berjalan di atas air dan mulai tenggelam ketika ia menjadi takut karena badai dan akhirnya ia mengalami keraguan (Matius 14:28-31). Namun Petruslah yang berada di luar, yang berani untuk keluar manakala murid-murid yang lain melihat dari dalam perahu. Bagi pengikut Kristus, iman adalah mempercayakan dirinya hanya kepada Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat. Tidak ada gunanya ketika kita mendua hati dengan menjadi seorang Kristen sembari menjadi seorang Muslim atau Hindu. Menjadi pengikut Kristus berarti bahwa ketika aku berhhadapan dengan keputusan-keputusan moral di dalam kehidupan kita, aku memilih jalan yang sudah diajarkan oleh Yesus. Aku tahu bahwa aku dapat mengambil jalur lain kalau Kristus tidak bangkit. Tetapi aku memilih untuk taat kepada Yesus karena aku percaya kepadaNya. Aku mungkin masih memiliki beberapa keraguan yang mengganggu hidupku. Tetapi iman membuatku menang dan menentukan tindakan-tindakan yang aku ambil. Seperti yang dikatakan oleh saudara Yesus, "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." (Yakobus 2:18b)

Sebagai kesimpulan, ada empat tindakan yang dapat kita lakukan ketika berhadapan dengan keraguan:
Tindakan #1: Pahamilah bahwa keraguan adalah sesuatu yang wajar.
Tindakan #2: Ingatlah bahwa ada pembuktian yang komprehensif di yang mendasari kebenaran Kekristenan
Tindakan #3: Ingatlah bahwa kepastian yang absolut adalah suatu ekspektasi yang tidak masuk akal.
Tindakan #4: Sadarilah bahwa iman lebih dari sebuah perasaan atau keadaan tanpa keraguan. Iman adalah sebuah komitmen

Tuesday, May 10, 2016

Menjalani Hidup Offroad BersamaNya


Kehidupan itu terus bergulir, dan selalu ada titik dimana seharusnya setiap kita menyadari bagaimana penyertaan Allah di dalam kehidupan kita. Kali ini aku mencoba melihat dari sebuah sisi yang agak berbeda karena memang tanggal 6 Mei kemarin, aku berkesempatan untuk mengikuti sebuah sesi OFF ROAD yang diselenggarakan di Cikole.

Menarik kalau kita maknai off road ini di dalam korelasinya mengenai kehidupan kita. Kita harus sepakat dulu bahwa di dalam pembelajaran sekecil apapun, apapun peristiwanya, ada penyertaan Tuhan dan ada pembelajaran yang dapat kita ambil. Bahkan dari percakapan sesederhana apapun, kalau kita maknai dengan benar akan menjadi sebuah pembelajaran yang begitu indah.

Di dalam Off Road ini, kami serombongan berangkat ber 23 orang dengan menggunakan 4 buah mobil Land Rover. Mobil yang dikenal sebagai mobil yang begitu kuat, yang memang memiliki identitas sebagai mobil off roader.

Apa saja sih pembelajaran yang didapatkan dari Off Road ini?
1.      Ketahuilah Identitas dan Panggilanmu
Percakapan dengan seorang anak kecil peserta off road ini, ada yang menanyakan: “Apakah semua mobil bisa melewati jalur off road ini?” dengan polos anak ini menjawab “Ngga bisa om, harus mobil 4 x 4 (double gardan)”. Hanya mobil 4 x 4, dan kita perlu menyadari bahwa hidup kita yang diciptakan Tuhan jauh lebih canggih, jauh lebih spesial dan jauh lebih indah dibandingkan dengan mobil 4 x 4. Syaratnya adalah kita perlu tahu panggilan kita, kehendak Roh Kudus atas kehidupan kita. Kita perlu merenungkan bagaimana tujuan hidup kita di hadapan Sang Khalik sehingga kita dapat memanfaatkan setiap talenta, setiap kemampuan yang Allah anugrahkan dalam kehidupan kita.

Saya membayangkan ketika melewati jalur off road itu dengan menggunakan city car, tentu saja mobil tersebut akan rusak. Ataupun ketika mobil Land Rover itu sama sekali tidak digunakan di dalam medan yang ekstrim, maka kita melihat bahwa suatu benda tidak mencapai potensi maksimalnya. Ketika kita belajar mengenal Allah, kita akan semakin bertumbuh, mengetahui tujuan hidup kita sehingga keseluruhan kehidupan kita adalah untuk kemuliaanNya

2.      Hidup itu Naik Turun
Perjalanan off road ini dimulai dengan sebuah medan yang cukup bersahabat, melewati jalan dengan batu-batu kecil tetapi cenderung datar. Kemudian dilanjutkan dengan sebuah medan yang naik, dan penuh tantangan. Sesampainya di puncak, kami menikmati pemandangan dari atas gunung Putri, dan kemudian dilanjutkan dengan perjalanan Downhill yang jauh lebih extrim

Hidup tidak pernah datar, dan di dalam kehidupan ini selalu ada sebuah fase dimana kita mempersiapkan segala hal yang harus kita persiapkan. Sekalipun persiapan itu sudah begitu matang, tetapi ada kalanya bahwa tetap saja hal yang kita harapkan tidak sesuai dengan rencana yang kita kerjakan. Ada satu momen dimana kita mengalami rintangan dan mara bahaya. Ada satu momen dimana kita kembali merenungkan betapa indahnya kasih Tuhan atas kehidupan kita. Ada satu momen pula ada begitu banyak hal yang membuat kita lelah dan kita bersyukur bahwa di dalam setiap momen itu, semuanya telah diatur sedemikian rupa oleh Allah.

3.       Never Leave Your Partner
Ada satu momen di dalam off road dimana mobil yang kami naiki ternyata terjebak dalam lumpur yang cukup dalam, sehingga membuat kami tidak dapat melanjutkan perjalanan kami sementara. Saat itulah mobil lain membantu, dan karena saling membantu inilah akhirnya setiap kami sampai di tujuan dengan selamat

Ada orang-orang yang Tuhan sediakan di dalam kehidupan kita untuk dapat saling menolong satu dengan yang lain. Ada kalanya juga kita menjadi seseorang yang harus peduli kepada orang lain untuk kita dapat mencapai sebuah tujuan yang jelas dan sama. Itulah yang dikatakan oleh Paulus bahwa setiap kita punya peran, dengan segenap talenta yang kita miliki yang berasal dari Allah. Setiap kita punya peran yang berbeda-beda, tetapi uniknya bahwa semuanya ada untuk kemuliaanNya.

4.      Beautiful Summit
Pemandangan di puncak Gunung Putri itu begitu indah, membuat kita menyadari bahwa kita ini begitu kecil dibandingkan dengan kebesaran ciptaan Allah. Sekalipun kami menyadari hal ini, seringkali hal yang kami kerjakan begitu berbeda dengan hal yang kita yakini.

Seluruh langit dan bumi diciptakan untuk kemuliaan Allah. Begitu pula manusia di dalam keberadaannya yang unik, yang memiliki tanggung jawab. Puncak merupakan suatu kondisi yang begitu nyaman, dimana kita benar-benar dapat menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan. Hal sama yang dirasakan oleh Petrus, Yakobus dan Yohanes ketika peristiwa transfigurasi. Tetapi pengalaman di puncak itu seharusnya mengingatkan kita bahwa kita punya tugas untuk kembali turun, melaksanakan tugas dan tanggung jawab kita sebagai umat pilihan Allah yang memiliki tanggung jawab khusus untuk memuliakan Tuhan.

Setidaknya itulah 4 hal yang dapat dipelajari melalui catatan perjalanan selama 3 hari 2 malam berada di Cikole. Aku merasa begitu diberkati melalui perenungan pribadi ini, yang membuatku mengingat kembali tugas dan tanggung jawabku untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Dia sepanjang waktu.

Soli Deo Gloria

Tuesday, April 19, 2016

Manusia Baru – Keadilan & Kasih Allah

Roma 3:25

Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya.  Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.

Background
Iman, perbuatan, kebajikan, pengorbanan, perbuatan baik, semua itu terasa menjadi sebuah syarat yang mutlak di dalam syarat kita untuk mencapai surga. Seberapa baikkah diriku, seberapa indahkah kehidupanku jika dinilai oleh Dia? Sempat terbesit pertanyaan yang menjadi sebuah pergumulan, bahkan ketika sudah percaya kepada Tuhan Yesus. Sempat muncul keraguan, ketakutan, tanpa adanya suatu kepastian akan keselamatan yang Tuhan beri.

Muncul pula pertanyaan, ketika kita sudah Lahir Baru, mengapa hidup kita sama sekali tidak ada perubahan? Bahwa ternyata setelah kita hidup baru, tidak ada sesuatu yang radikal yang terjadi atas kehidupan kita. Bukankah hal ini menjadi begitu unik? Tetap saja setelah kita dibaptis atau lahir baru, kita sama sekali bukan menjadi manusia baru. Beberapa sharing dari teman-teman saya malah menyebutkan bahwa setelah lahir baru, kehidupan mereka semakin hancur.

Pengamatan tersebut membawa saya (waktu itu) pada suatu kesimpulan, bahwa keselamatan menjadi sesuatu yang take it for granted. Benar sekali, keselamatan itu gratis. Artinya ketika kita sudah menerima Yesus, ya sudah itu sudah cukup.

Sebuah Kenangan Masa Lalu
Memandang ke arah jendela kamar, menikmati dinginnya hujan waktu itu membuat aku hanyut di dalam sebuah kenangan saat aku pertama kali mulai kenal Tuhan Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang memegahkan diri. Begitulah kalimat dari Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, menurut Efesus 2:8-9

Tetapi tidak berhenti sampai disana. Ayat berikutnya jauh lebih mengerikan kalau kita resapi. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan baik yang telah ditentukan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:10) dan ini merupakan sebuah pernyataan Paulus yang seharusnya menjadi tolok ukur setiap tindakan, perkataan, dan perbuatan kita.

Tentu saja ayat-ayat ini membuat kita bersukacita sebagai orang Kristen, tetapi di sisi lain kita juga perlu memahami bahwa ayat-ayat ini mengandung sebuah tanggung jawab besar atas kehidupan kita. Ketika Paulus menyatakan bahwa kita diciptakan dalam Kristus Yesus, itu berarti bahwa di dalam kehidupan kita ada hal-hal yang dipercayakan, dan kita dipanggil untuk melakukan perbuatan baik dan celakanya, itu sudah dipersiapkan Allah.

Sejenak kenangan itu mencuat, dan kembali aku mencoba melihat kembali, benarkah selama hidupku aku menjalani kehidupan yang telah dipercayakan Tuhan melalui setiap tindakanku? Bagaimana kehidupanku ketika aku sendirian di kamar? Bagaimana kehidupanku ketika aku di gereja? Bagaimana, bagaimana, dan bagaimana?

Allah yang Memegang Kendali
Saya yakin dan percaya bahwa kendali atas hidup kita telah dipegang oleh Allah. Itu berarti di dalam hidup kita, kita tidak perlu menjadi kuatir atas apapun. Termasuk juga dosa... tunggu! Apa maksudnya? Apakah benar kita tidak perlu takut akan dosa?

Siapa yang tidak takut atas dosa? Wow, tentu kita takut akan dosa. Ketika kita sedikit saja kompromi terhadap cobaan yang kita hadapi, ternyata dosa itu bisa langsung menguasai kehidupan kita. Kita diminta untuk selalu waspada atas kehidupan kita. Tetapi ini pun menjadi pergumulan yang utama bukan? Bahwa ternyata dalam kehidupan baru yang Tuhan berikan pun kita masih juga terus bergumul atas dosa-dosa kita. Kita ingin mengatasi kuasa dosa itu, tetapi ternyata dalam realitasnya kita dikuasai.

Ketika Paulus berkata bahwa kita ini adalah manusia yang merdeka atas kuasa dosa, saya jadi bertanya apa sebenarnya yang dimaksud Paulus? Buktinya dosa itu masih terus menerus mengintai dan siap menerkam kehidupan kita. Lalu bagaimana?

Akhirnya sampai pada satu kesimpulan, apakah benar Allah memegang kendali atas kehidupan kita? Benarkah bahwa kuasa dosa telah dihancurkan dan Allah telah membebaskan kita dari dosa itu? Atau jangan-jangan betapa kita tidak punya hati nurani maka manakala kita berbuat dosa, kita sama sekali tidak peka, tidak ada penyesalan, justru malah ada sukacita?

Konsep Keadilan – Kasih Melalui Karya Penebusan
Salib menjadi sebuah bukti kasih sekaligus keadilan Allah atas kehidupan manusia. Melalui salib sebenarnya kehidupan kita menjadi kehidupan baru, kehidupan yang berkemenangan. Kehidupan yang dibangkitkan melalui kematian Kristus dan kebangkitanNya. Keadilan Allah ditunjukkan melalui tercurahnya darah Kristus, darah Tuhan yang menyucikan segala dosa kita. Kasih Allah ditunjukkan melalui anugrah melalui kematian Kristus. Ada pihak yang harus menjadi korban, sehingga dosa kita bisa dibebaskan. Ada kehidupan baru yang ditawarkan Kristus.

Balik lagi ke pembahasan kita tentang dosa. Salib menjadi suatu titik tolak perubahan kehidupan kita. Manusia lama menjadi manusia baru hanya bisa dicapai melalui karya salib. Itulah seharusnya yang mengingatkan kita betapa besarnya kuasa dan kasih Allah atas kehidupan kita. Perubahan hidup menjadi nyata manakala kita memandang kepada salib Kristus. Salib yang mana merupakan karya Allah, keadilan dan kasih yang dipertemukan di dalam Kristus Yesus.

Berubah dan Berbuah
Perubahan hidup melalui karya penyelamatan Kristus bukanlah sesuatu yang instan. Kita perlu menyadari bahwa perubahan hidup merupakan proses seumur hidup yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita. Ada kalanya di dalam proses itu kita jatuh, lelah, dan mungkin sampai hampir menyerah atas segala pergumulan yang terjadi di dalam kehidupan kita.

Jadi tidak perlu heran kalau setelah menerima Kristus, maka kita tiba-tiba bertobat secara drastis. Memang ada kasus sedemikian, tetapi selalu ada proses yang kita akan jalani di dalam penyucian kita, yang mana mempersiapkan kita untuk memuliakan Dia seumur hidup kita. Kita perlu menyadari bahwa di dalam Kristus, seperti yang dikatakan Paulus, kita adalah ciptaan baru.

Kuasa dosa sama sekali tidak berkuasa atas kehidupan kita. Kuasa dosa yang menghantarkan kita kepada kematian abadi, telah dihancurkan. Hal itu akan membuat kita menjadi orang-orang yang menyadari bahwa kita manusia berdosa yang membutuhkan kasih karunia Allah. Hal itulah sebenarnya yang membuat kita semakin hari semakin ingin bertumbuh di dalam kasih karunia. Kita punya kepekaan terhadap dosa yang menimpa hidup kita. Kita menjadi pribadi yang sadar betul bahwa kita butuh kasih karunia Allah
Kesadaran itu pula yang akan membuat kita terus bertumbuh dan berbuah di dalam Dia. Pertumbuhan rohani yang kemudian akan menjadikan kita semakin hari semakin indah, sehingga buah pelayanan kita pun dapat dinikmati oleh banyak orang, juga menjadi kemuliaan bagi Tuhan.

Bagaimana dengan kecenderungan dosa kita? Roh Kudus akan membimbing kita, membuat kita menjadi pribadi yang peka dan kuatir atas dosa yang akan kita kerjakan. Kita perlu menyadari akan hal ini sehingga kita memiliki komitmen untuk lari dari pencobaan yang menghadang kita. Saat kita berdosa, jangan pernah untuk sungkan, takut, cemas, untuk datang kepada Bapa. Ia adalah setia dan adil, demikianlah yang dituliskan oleh Yohanes.

Karya Keselamatan dan Perubahan Hidup
Menjadi poin penting bahwa ketika Tuhan sudah menyelamatkan kita, bukan berarti bahwa kita bebas bertindak semau kita. Mungkin kita berpikir: “ah kalau sudah selamat dan pasti masuk surga ya sudah, kita enjoy aja hidup ini”. Apakah begitu?

Kita perlu memikirkan kembali mengenai perubahan hidup. Ketika kita menjadi seorang Kristen, kita menjadi orang yang merdeka. Kemerdekaan atas dosa, tetapi juga kehidupan yang mana Kristus berperan sebagai raja atas kehidupan kita. Bagaimana impelementasinya? Tentu saja kalau kita menyadari bahwa Yesus adalah raja, itu berarti kita menuruti apapun yang Tuhan kerjakan.

Itulah kemerdekaan Kristen yang sejati, kemerdekaan yang berfokus kepada Allah Tritunggal sebagai penguasa hidup kita. Kiranya melalui perenungan singkat ini kita dapat memaknai kembali arti dari hidup baru yang diberikan Kristus, menjadi pribadi yang semakin hari semakin rindu untuk memuji dan memuliakan Dia.


Soli Deo Gloria!

Tuesday, March 29, 2016

Kebangkitan Kristus yang Mengubahkan Hidup

Setiap kali kita merayakan Paskah, apa yang kita rasakan? Betapa begitu banyak orang menjadi tersadar akan pengorbanan Kristus di kayu salib dan itu membuat mereka bersyukur. Menarik bahwa berita Paskah menjadi sesuatu yang begitu bermakna di dalam kehidupan umat Kristen. Bagaimana tidak kalau kita merenungkan bahwa keagungan kasih Allah kepada umatNya di dalam karya salib merupakan sebuah karya agung. Karya yang sama sekali tidak pernah terbayangkan, yang memberikan suatu jaminan bagi setiap orang untuk menikmati dan mengerjakan keselamatan itu.

Apa signifikansi Paskah di dalam kehidupan kita? Coba kita lihat 7 poin berikut:

1.      Mengingat kembali Kasih Kristus atas kehidupan kita
Sadarlah bahwa setiap kita adalah pribadi yang berharga di mata Tuhan. Keberhargaan itu Ia tunjukkan melalui karya penyelamatan Yesus Kristus di kayu salib. Salib merupakan lambang kehinaan, tetapi justru melalui salib itulah karya terbesar dikerjakan oleh Allah.

2.      Mengambil Rupa Seorang Hamba
Tidak dapat dilepaskan dari Paskah tentunya adalah bagaimana kita meneladani Kristus. Seorang hamba yang taat kepada tuannya, dan itulah yang Yesus tunjukkan melalui kehidupan Kristus. Yesus yang taat kepada perintah Bapa, begitu pula hidup kita pun perlu dimaknai sebagai ketaatan penuh sebagai seorang hamba, apapun pekerjaan dan profesi kita.

3.      Menjadi Buah
Bijih gandum harus jatuh ke tanah, mengorbankan dirinya supaya muncul kehidupan. Sama dengan kematian Kristus menjadi sebuah pengharapan akan hidup baru, hidup yang menghasilkan buah. Apa buah itu? Tentu saja itu adalah pemberitaan Firman kepada orang-orang yang belum mengenalNya.

4.      Mementingkan Kepentingan Orang Lain
Pemberitaan yang dikabarkan oleh Alkitab menunjukkan sikap dari Yesus, yang dalam hal ini sebagai seorang Tuan. Artinya begitu mengesankan bahwa justru di dalam posisi yang paling tertinggi, Ia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dianggap hina oleh dunia di sekitar kita.

5.      Perubahan Hidup
Sesuatu yang paling nyata di dalam kehidupan yang menerima Tuhan Yesus adalah perubahan hidup. Rasul Paulus mengalami hal ini manakala Ia “tertangkap” oleh kuasa kasihNya. Perubahan hidup yang signifikan dialami oleh Paulus, dan itupun seharusnya menjadi nyata atas kehidupan kita.

6.      Kehidupan Yang Bermakna
Kehidupan murid-murid setelah Yesus mati adalah kehidupan yang dirasakan fana. Serasa kehilangan tujuan hidup yang semula, mereka menjadi pribadi-pribadi yang ragu untuk meneruskan hidup. Tetapi kebangkitan Kristus menjadikan mereka dapat berkarya, memaknai hidup mereka yang dulunya hidup mereka flat menjadi hidup yang penuh proses.

7.      Janji Keselamatan
Kebangkitan Kristus merupakan sebuah janji akan adanya pengharapan di masa depan. Hal ini membuat kita menyadari bahwa kehidupan di dunia ini adalah kehidupan yang fana. Janji itu ialah janji yang nyata, dan kebangkitan Kristus menjadi bukti bahwa pada saatnya nanti kita akan merasakan kebangkitan itu

Demikianlah tujuh poin yang mana dapat kita pelajari dari peristiwa Paskah. Paskah menunjukkan kuasa dan kasih Kristus, dan itupun yang akan kita alami manakala kita belajar untuk menjadikan Dia sebagai juruselamat kita.


Soli Deo Gloria!

Saturday, March 5, 2016

Menggombali Allah

“Tuhan, aku mau menyerahkan hidupku sepenuhnya untuk-Mu”

Seringkah kita mendengarkan kalimat ini? Biasanya ini adalah kalimat saat kita ikut KKR ataupun kita ingin mengerjakan sesuatu yang jauh lebih susah dari apa yang kita lakukan sebelumnya. Kita menjadi pribadi yang sangat sentimental. Kita menjadi seseorang yang begitu suka untuk “merayu” Allah. Kita menjadi pribadi yang begitu senang untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang “gombal” kepada Allah.

Mengapa dikatakan gombal? Sebelumnya kita perlu melihat kembali kepada tingkah laku kehidupan kita. Ketika kita mengatakan bahwa kita ingin menyerahkan hidup kita sepenuhnya bagi Tuhan, apakah itu sesuatu basa-basi agar kita terlihat rohani, ataukah kita benar-benar mengatakan itu dari lubuk hati yang terdalam?

Segalanya adalah Bagi KemuliaanNya
Kekristenan tidak dapat dihidupi hanya dengan gombalan-gombalan kita kepada Allah. Apa makna dari “menyerahkan hidup” kita sepenuhnya kepada Allah? Paulus menuliskan kepada jemaat di Roma, makna dari menyerahkan hidup adalah sebagai berikut:

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12:1)

Kalimat ini begitu mantap. Tulisan Paulus ini menunjukkan bagaimana sikap hidup kita di dalam kita menyerahkan diri kita kepada Allah. Disini dituliskan untuk kita dapat mempersembahkan tubuhmu. Makna persembahan adalah dimana kita sama sekali tidak punya hak atas sesuatu barang ataupun hal yang kita persembahkan. Artinya ketika kita mempersembahkan sesuatu (misalkan uang) kepada gereja maka kita tidak punya hak lagi atas uang tersebut. Nah sama seperti analogi tersebut, mempersembahkan tubuh kepada Tuhan berarti kita sama sekali tidak memiliki kendali atau hak atas kehidupan kita.

Kemudian Paulus menuliskan selanjutnya adalah persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Persembahan yang hidup menunjukkan bahwa di dalam kita menyerahkan diri kita kepada Tuhan untuk Tuhan pakai, kita dituntut untuk menjadi sesuatu yang hidup. Ciri-ciri kehidupan adalah adanya pertumbuhan, dan kemudian setelah bertumbuh besar akan menghasilkan buah. Ciri khas dari seseorang yang menyerahkan dirinya kepada Tuhan adalah adanya pertumbuhan di dalam iman kepada Dia sehingga dapat menghasilkan buah pelayanan yang dapat dinikmati oleh banyak orang.

Yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, merujuk kepada sebuah sikap hidup yang harus menjadi ciri khas kita sebagai seorang Kristen. Kekudusan merupakan salah satu ciri utama orang Kristen. Kekudusan bukanlah suatu hal yang harus dikejar, namun merupakan sesuatu yang telah nyata manakala seseorang benar-benar menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Mengapa Paulus sampai menuliskan hal ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena di ayat sebelumnya yakni 11:36 mengatakan demikian

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36)
Bebas dari Rasa Kuatir

Menyerahkan segala sesuatu itu juga termasuk kekuatiran hidup kita. Seringkali kita mendengarkan kotbah mengenai kekuatiran dan bagaimana kita seharusnya tidak kuatir akan apapun juga. Memang benar bahwa seharusnya seorang Kristen jauh dari rasa kuatir. Hal itu dialami oleh karena Tuhan Yesus memberikan sebuah janji berikut:

Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? (Matius 6:26)

Artinya dari ayat ini adalah bahwasanya kita tidak perlu kuatir akan apapun juga yang akan kita hadapi. Kehidupan kita seharusnya bebas dari kekuatiran karena kuasa kebangkitan Allah menghancurkan segala hal yang membuat kita kuatir.

“Benar sih kak, aku sebenarnya nggak kuatir, toh aku sudah menyerahkan semuanya kepada Tuhan”

Benarkah ketika kita mengatakan kalimat di atas maka kita akan menyerahkan semuanya kepada Tuhan? Yakinkah bahwa segala problematika yang kita hadapi mau kita serahkan kepada Tuhan? Seringkali dengan cepat kita menjawab “MAU” tetapi pada realitasnya begitu berbeda. Apa yang kita lakukan sama sekali berbeda dengan apa yang kita ucapkan. Kita terus menerus menjalani hidup ini seakan tidak ada Allah.

Kita masih saja pusing terhadap hal remeh temeh yang seharusnya tidak perlu kita pikirkan. Kita justru memfokuskan pemikiran kita, energy kita kepada sesuatu yang sama sekali meaningless. Kita lupa bahwa fokus hidup kita adalah untuk kemuliaan Allah, namun justru hal-hal yang remeh itulah yang menjadi fokus hidup kita seolah Allah tidak ada!

Kebebasan kita dari kekuatiran adalah salah satu ciri dari seseorang yang mau menyerahkan segalanya. Penyerahan diri akan menghasilkan hidup yang menjadi berkat sekaligus tanpa sebuah beban. Kita bisa dengan bebas dan menikmati anugrah Tuhan, dan itulah yang Tuhan mau kita kerjakan.

Kesimpulan: Allah Yang Memegang Kendali
Kehidupan yang memuliakan Allah adalah kehidupan yang diserahkan kepada Allah. Hal itu meliputi segala aspek hidup: pekerjaan, pelayanan, pasangan hidup, dan sebagainya. Semua aspek hidup kita mau kita persembahkan kepada Raja di atas segala raja. Ketika kita menyerahkan hidup kita kepadaNya, damai sejahtera Kristus akan menaungi hidup kita sehingga kita dapat hidup dengan tenang dan tanpa rasa kuatir akan hari esok. Kesemuanya itu karena kita menyadari bahwa Allah yang memegang kendali.

Kalau kita kemudian kehilangan iman, cukup ingat bahwa manakala kita hidup sampai kita membaca tulisan ini, Allah telah menyertai perjalanan hidup kita. Kalau sedari lahir hingga saat ini Allah menyertai kita, bukankah penyertaan itu akan selalu ada sampai selama-lamanya, sampai saatnya kita bertemu muka dengan muka dengan Dia?


Soli Deo Gloria

Sunday, December 27, 2015

Christmas Reflection

Pendahuluan

Selamat Natal! Ucapan selamat itu menjadi sesuatu yang tidak asing lagi bagi telinga, khususnya ketika berkunjung ke sebuah gereja. Umat Kristiani merayakan Natal ini dengan penuh sukacita dan pengharapan akan kedatangan Juruselamat. Setidaknya Natal memiliki suatu makna yang begitu dalam yakni kelahiran Sang Juruselamat dalam rupa seorang hamba.

Ditengah hiruk pikuk persiapan Natal, setiap gereja mempersiapkan berbagai acara demi memaknai Natal ini dengan versi mereka. Ada yang berlomba-lomba untuk menampilkan acara yang keren, acara yang spektakuler dan megah dengan dana yang begitu besar, ada pula yang mencoba untuk menampilkan kesederhanaan dengan berbagai dekorasi dan acara yang difokuskan pada pihak lain di luar gereja.

Namun apa sebenarnya makna Natal sendiri bagi dunia ini?

Allah yang Mengambil Rupa Seorang Hamba

Berita Natal tidak dapat dipisahkan dari peristiwa kelahiran Yesus Kristus. Momen dimana Allah yang Mahakuasa merendahkan diriNya menjadi seorang manusia yang lemah – seorang bayi dan dilahirkan bukan dari keluarga raja, tetapi dari seorang tukang kayu dan seorang anak dara yang begitu muda. Pengharapan seperti apa yang ditawarkan dari Allah semacam ini?

Rupanya Allah ingin menunjukkan satu poin yang menjadi kunci selama Ia melayani di dunia ini: Kesederhanaan. Poin ini begitu mendarat di dalam diri Yesus. Kehidupan Yesus menunjukkan bahwa Ia adalah pribadi yang begitu sederhana. Ia tidak memilih untuk bergaul dengan kaum elite di dalam pelayananNya. Justru sebagian besar pelayanan Yesus adalah ditujukan bagi orang-orang yang tertindas.

Penebusan Bagi Dunia yang Rusak

Menarik untuk kita dapat pahami bersama bahwa Allah kita adalah Allah yang menebus keseluruhan hidup kita di dalam pribadi Yesus Kristus. Pesan Natal ini mengingatkan kita bahwa Yesus telah datang ke dunia ini dengan satu misi: penebusan bagi umat manusia yang percaya kepadaNya. Ini unik, karena hanya dalam Kekristenan (yang diberitakan melalui alkitab) Allah yang mengambil inisiatif penebusan dan jaminan keselamatan bagi kehidupan umat manusia.

Penebusan itu menjadi sebuah titik balik di dalam kehidupan manusia. Manusia berdosa yang pada awalnya bahkan tidak dapat menyadari bahwa dirinya berdosa, namun melalui penebusan itulah kehidupan seseorang diubahkan. Yang dulunya tidak pernah memaknai hidupnya, menjadi seseorang yang menyadari keberhargaan hidup yang diberikan Allah.

Berjaga-Jaga Menanti Kedatangan Sang Raja

Jam kehidupan, hanya diputar sekali. Demikianlah kehidupan manusia di dunia ini. Perlu disadari bahwa kehidupan manusia hanya sekali. Kesadaran bahwa kita hanya punya satu kesempatan untuk hidup dapat membawa kita ke dalam dua sikap: menyia-nyiakannya dengan bersenang-senang karena hidup cuman sekali, atau yang kedua adalah sikap dimana kita memanfaatkan setiap talenta dan anugrah yang Tuhan berikan.

Kesadaran bahwa setiap kesempatan, hari demi hari yang Tuhan sediakan, adalah kesempatan untuk memuliakan Tuhan adalah suatu sikap hidup yang bertanggung jawab. Fokus hidup untuk kita dapat mempersiapkan diri dalam rangka menyambut Sang Raja semesta alam adalah dengan belajar untuk setia atas kehendakNya di dalam hidup kita. Natal berarti kita mempersiapkan kedatangan Kristus yang kedua dengan memiliki kerinduan untuk memuliakan namaNya hari lepas hari.

Perubahan Besar

Perubahan besar di kehidupanku, sejak Yesus di hatiku… Demikianlah lirik sebuah lagu yang begitu sering kita dengar. Terlepas dimainkan saat momen Natal ataupun saat berbagai momen. Lirik lagu yang menuntut suatu komitmen dari kita untuk dapat berubah semenjak kita mengenal Tuhan Yesus sebagai Juruselamat.

Pengenalan akan Allah membuat kita menyadari bahwa pesan Natal tidak hanya berhenti pada sukacita ketika Allah sudah melaksanakan karya besarNya atas kehidupan kita. Justru makna Natal adalah manakala Allah yang turun ke dunia itu menjadi sebuah teladan bagi kita untuk merendahkan hati kita di hadapanNya. Menyadari bahwa setiap kesempatan, setiap hal yang ada di dalam diri kita tidaklah lebih dari karya Allah atas dunia ini. Kehidupan manusia sepenuhnya hanya bergantung pada anugrah itu.

Kesadaran Hati akan Pimpinan Allah

Apa yang mau dikejar manakala kita merayakan Natal di gereja dengan acara yang begitu spektakuler namun melupakan esensi Natal seperti yang disebutkan di atas? Acara yang penuh dengan ‘emptiness’ yang hanya menjadi ajang untuk show off kepada jemaat, sebagai bukti dari profesionalitas. Tetapi Allah juga mengijinkan acara-acara seperti itu mewarnai Natal di berbagai gereja.

Menyadari bahwa pelayanan sesungguhnya didasari atas sebuah kesadaran bahwa kita bukanlah orang-orang professional tetapi hamba akan membuat kita memiliki motivasi pelayanan yang jelas. Bukan berarti bahwa pelayanan kita tidak maksimal. Tetapi dengan kesadaran yang jelas akan hal tersebut maka kita bisa all out dan bebas mengekspresikan anugrah Allah dalam kehidupan kita. Tidak ada rasa malu ataupun takut salah, dengan kesadaran bahwa segala pujian yang mau kita sampaikan, semuanya akan kita kembalikan bagi kemuliaanNya.

Memaknai Natal seharusnya menjadi agenda kita setiap hari, dimana kita belajar untuk terus berjaga-jaga sembari menantikan kedatanganNya yang kedua, menyadari akan penebusan Allah yang mengubahkan kehidupan kita menjadi hidup yang bermakna.

Menikmati Hari-Hari BersamaNya

Akhir kata, Natal juga bicara mengenai bagaimana relasi kita dengan Kristus sendiri. Seberapa jauh kita menyadari akan penyertaan Allah atas hidup kita selama kita hidup? Kelahiran Kristus akan membuat kita memiliki komitmen untuk terus hidup seturut dengan kehendakNya, dengan kesadaran penuh bahwa kita ini adalah umat kepunyaanNya, dan Ia tidak akan pernah meninggalkan kita.

Sangat naïf ketika kita berkata bahwa “acara ini berhasil dan spektakuler karena saya”, karena kita ini hanya hamba yang tidak berguna – demikian kata Paulus. Mengakui bahwa kita adalah hamba-hamba yang tidak berguna membuat kita dapat bergantung sepenuhnya kepada Allah. Berjalan bersamaNya di dalam keseharian hidup kita, menikmati FirmanNya di dalam alkitab dan terus belajar untuk mengetahui rencanaNya atas kehidupan kita. Itulah kehidupan yang bermakna yang Tuhan janjikan bagi setiap kita yang mau belajar memuji dan memuliakan Dia.

Penutup

Natal berbicara mengenai penyerahan hidup. Pdt. Benny Solihin dengan begitu tegas memberikan sebuah kalimat yang begitu dalam: “Natal adalah pertukaran hadiah antara Allah dan manusia: Allah memberikan anakNya yang tunggal kepada kita; kita memberikan dosa kita kepadaNya.”

Kiranya refleksi ini terus mengingatkan kita bahwa kita yang sudah menerima anugrah terbesar itu di dalam hidup kita, sebagai hamba yang tidak berguna kita diminta untuk belajar memberikan yang terbaik sesuai dengan kemampuan yang sudah Allah berikan. Belajar untuk mengingat terus konsep anugrah Allah atas kehidupan kita. Kurang lebih 2000 tahun yang lalu Allah sudah melakukan karya itu, dan hari ini pun penyertaanNya akan selalu ada atas hidup kita. Pertanyaannya: maukah kita terus belajar hidup di dalam konteks anugrah itu, berjaga dan melakukan yang terbaik sampai kedatanganNya yang kedua sebagai Raja?


Soli Deo Gloria!

Monday, December 7, 2015

Pudarnya Kebenaran -- Sebuah Refleksi

Pendahuluan
Menarik untuk membaca headline akhir-akhir ini, dimana ada satu nama yang mencuat di permukaan publik. Seorang pribadi yang penuh kontroversi, dengan berbagai keunikan yang ada di dalam dirinya. Tak ayal media mulai mengejar dia, menjadikan dia sebagai pusat perhatian. Tak sedikit pula orang-orang disekitarnya mulai “panas”. Siapakah dia? Dia adalah Setya Novanto, ketua DPR Republik Indonesia.

Menarik kalau diperhatikan bahwa ditengah polemik dan kontroversi, muncul pula orang-orang yang mau berjuang mempertahankan kebenaran di negeri ini. Setidaknya saat ini kita bisa melihat perjuangan orang-orang yang anti korupsi, orang-orang yang mau belajar untuk hidup di dalam suatu integritas. Apakah berarti orang-orang tersebut sempurna? Ternyata tidak juga. Tetapi mereka menyadari bahwa kebenaran selalu menemukan jalannya, dan tak lupa pula: ada risiko yang harus diambil manakala sedang memperjuangkan kebenaran.

Siapakah orang-orang dari paragraf kedua ini? Sebut saja (sampai saat ini) Sudirman Said, menteri ESDM RI, kemudian kita bisa melihat orang-orang yang berani untuk menyuarakan kebenaran di tengah ancaman dan berbagai problematika yang membuat mereka bisa saja kehilangan nyawanya untuk membela kepentingan orang banyak. Ada pula orang-orang yang disebut “orang gila” seperti Basuki T.P yang lebih terkenal dengan nama Ahok, yang mau mengubah wajah Indonesia, khususnya Jakarta, menjadi sebuah kota yang jauh lebih baik. Tidak lupa pula ada walikota-walikota yang kita tahu seperti Tri Rismaharini, dan juga Ridwan Kamil yang menjadi orang-orang yang sedang naik daun karena mereka belajar untuk mempertahankan integritas mereka

Money Talks!
Tak bisa dipungkiri bahwa kondisi negeri yang sedang hancur ini (setidaknya menurut sebagian besar orang) membuat kita menjadi pribadi-pribadi yang berpikir praktis. Boro-boro kita berbuat sesuatu yang benar, yang penting aman lah. Pokoknya sudah dapat bagian ya sudah, diam saja. Daripada keamanan keluarga jadi taruhan, nyawa sendiri terancam, lebih baik tetap diam dan menutup mulut.

Kondisi ini pula yang dialami oleh banyak tokoh yang ada di dalam alkitab. Sebut saja nabi-nabi seperti Yeremia, Yesaya, Yohanes Pembaptis, mereka hidup di dalam kondisi seperti ini. Hidup diantara bangsa yang tegar tengkuk. Hidup di antara penguasa yang kuat, yang memiliki kuasa yang jauh lebih besar dibandingkan dengan mereka. Menariknya kabar yang mereka bawa adalah suatu kebenaran yang justru tidak nyaman untuk didengar.

Jaman ini dikuasai oleh segelintir penguasa. Siapa yang punya uang, ialah yang berkuasa. Uang menjadi suatu hal yang bahkan dapat membeli kebenaran itu sendiri. Pokoknya kalau ada duit, semua urusan beres! Akhirnya orang-orang berlomba-lomba untuk mencari kuasa itu.

Expensive Truth
Kebenaran menjadi sesuatu yang begitu mahal pada jaman ini. Kebenaran itu bisa diputarbalikkan dengan berbagai cara. Hari ini menjadi seorang tersangka, karena punya duit bisa saja besok sudah bebas. Begitu pula sebaliknya, yang tidak punya duit akan menjadi orang-orang yang menjadi bulan-bulanan penguasa.

Yohanes Pembaptis mengalami hal ini. Bermaksud baik untuk menasihati Herodes karena merebut istri saudaranya, eh dia harus membayarnya dengan kehilangan kepalanya di tangan Herodes. Kebenaran menjadi sesuatu yang begitu bernilai.

Inilah realitas yang kita hadapi. Hidup di jaman dimana segala sesuatunya bisa dibeli. Orangpun bisa dibeli untuk bersaksi dusta. Kita pun bisa terjebak di dalam satu kondisi dimana kita menjadi orang-orang yang pada akhirnya melakukan hal tersebut. Hal yang paling sederhana adalah kita ‘nembak SIM’, ataupun ketika di tengah jalan kita ditangkap dan menyuap polisi. Ada banyak sekali cara untuk kita dapat ‘menutupi’ kesalahan kita.

A Hope?
Kalau ditengah realitas seperti ini, apa yang harus kita perbuat? Masih relevankah tugas kenabian kita? Peran kita sebagai orang-orang yang takut akan Tuhan seperti apa? Akankah kita larut di dalam kondisi jaman seperti ini, ataukah kita belajar punya suatu pegangan lain?

Bukan suatu hal yang mudah ketika kita ada di dalam posisi Sudirman Said misalkan. Kita akan diperhadapkan pada berbagai tantangan dan ancaman yang akan mengancam keberlangsungan hidup kita. Mungkin bukan hanya kita, tetapi juga orang-orang di sekitar kita. Orang-orang yang kita sayangi, yang mengenal kita. Sangat sulit bagi kita untuk mengambil suatu pilihan yang nantinya akan sangat merugikan kita.

Tetapi menarik disini bahwa kita perlu yakin dan percaya atas kedaulatan dan kebenaran Allah. Ketika Allah memberikan anugrah atas kehidupan kita, tugas kita tidak lain tidak bukan adalah bersaksi.  Bersaksi dan bersaksi, bukan hal yang mudah di tengah realitas dunia seperti ini. Ketika dunia berteriak untuk menenggelamkan kebenaran, kita sebagai orang percaya diberikan tanggung jawab untuk mengungkapkan kebenaran itu.

Ada pengharapan, setidaknya kita bisa memulai dari hal yang terkecil, tanpa melupakan hal-hal besar yang Allah percayakan di dalam kehidupan kita. Tidak perlu menjadi Yohanes Pembaptis, ataupun menjadi seperti Sudirman Said. Cukup menjadi pribadi anda yang mau belajar untuk memuliakan Allah. Maka Allah akan memberikan kekuatan dan berbagai tantangan untuk kita hadapi, tetapi di dalam tantangan itu ada damai sejahtera kepada orang-orang yang mau bersandar teguh pada kasih setiaNya.

Mari belajar menjadi agen perubahan bagi dunia sekitar kita!

Soli Deo Gloria