Total Pageviews

Sunday, August 30, 2015

Menantikan Janji Tuhan

Percakapan ini adalah percakapan Jessica, keluar dari mulutnya manakala kami berdua bercakap-cakap sembari menanti keberangkatanku ke Jakarta hari ini.

“Nggak sedih kan ko, nggak sesedih biasanya kan?” tanya dia
“hmmm.. gimana ya… “ jawabku
“Ya kan pasti balik, pasti ketemu lagi…” kata Jessica.

Kami menjalani hubungan LDR ini selama 2 tahun – setidaknya semenjak aku mengajak dia untuk bergumul mengenai hubungan kami. Tetapi menarik bahwa ketika kami berdua bertemu, selalu ada hal yang “harus” kami pelajari, sekalipun itu berasal dari kalimat-kalimat yang kami ucapkan. Ataupun juga tindakan-tindakan yang kami berdua lakukan bersama.

Siang itu, kami berdua duduk di ruang tamu. Seperti biasa sepulang dari gereja sembari menanti jam keberangkatanku kembali ke Surabaya, kami berdua bercakap-cakap. Menarik untuk direnungkan saat ini adalah ada suatu keyakinan di dalam diri Jessica bahwa aku akan kembali lagi. Jadi dia menganggap bahwa sebenarnya kita berdua nggak perlu terlalu sedih, karena masing-masing kami tahu toh kami juga akan ketemu lagi suatu saat.

Awalnya aku merasa agak aneh juga sih. Tetapi ketika aku renungkan saat terbang, aku menemukan ada sesuatu yang unik di dalam pernyataan itu. Apakah itu? Bukankah itu juga yang dikatakan Tuhan di dalam kehidupan kita? Bahwa ada janji Tuhan manakala Ia akan datang kembali untuk kedua kalinya?

Tertegun juga sebenarnya. Dalam rangka merayakan wisuda kemarin, aku tidak pernah berharap bahwa akan belajar mengenai hal ini dari ucapannya. Menarik bahwa sama sekali tidak tersurat rasa sedih, ataupun rasa penantian manakala aku akan meninggalkannya. Justru yang ada adalah senyuman penuh sukacita dan memberi semangat, di dalam perkataan-perkataan yang kelihatannya memojokkan tetapi ternyata kalau direnungkan dari sisi yang lain sangat indah.

Allah akan datang kembali. Paling tidak itulah yang kita yakini sebagai janji Tuhan manakala Ia datang ke dunia ini, di dalam diri Yesus Kristus. Murid-murid pun bukanlah pribadi yang meyakinkan manakala mereka bersekutu bersama guru mereka sebelum perjamuan malam terakhir diadakan. Artinya bahwa mereka sangat jauh dari harapan. Lihat saja bahwa apa yang mereka lakukan adalah mereka mementingkan diri sendiri.

Begitu pula dengan kita bukan? Alih-alih kita inget untuk datang kepada Tuhan di dalam setiap tindak-tanduk kita sebagai orang percaya, kita justru “menikmati” hal-hal lain yang membuat kita makin jauh dengan Dia. Baru kita datang kepadaNya manakala ada berbagai masalah yang menimpa hidup kita, serasa tidak ada jawaban, dan akhirnya juga kita ngambek ketika Tuhan juga pada akhirnya tidak memberikan sebuah jawaban yang jelas.

Kerinduan kepada Tuhan, kerinduan untuk datang kepada Dia. Mengingat kembali karya salib yang sudah Ia kerjakan 2000 tahun yang lalu, seharusnya membuat kita terkagum-kagum atas kuasa kasihNya. Tetapi apa yang kita lakukan manakala berbagai masalah hidup menghimpit kehidupan kita? Seringkali kita mengeluh dan mengeluh, melupakan berbagai karya yang indah yang sudah Ia kerjakan. Seakan-akan ketika kita hidup, kita tidak pernah menerima berkat dariNya.

Ketika begitu banyak proses hidup yang kita alami menghimpit kita, itu merupakan sarana yang Tuhan gunakan agar kita semakin lama semakin belajar untuk tidak mengandalkan diri kita sendiri. Ia ingin kita rindu untuk terus-menerus menikmati Dia. Ia rindu untuk kita datang kepadaNya, sampai-sampai kita harus merendahkan diri kita di hadapanNya. Mengapa? Ya karena kita ini memang lemah kok. Kita ini bukanlah pribadi yang bisa berjalan sendiri.

Akhirnya ketika kita mengalami berbagai proses hidup, ada kalanya kita perlu punya kerinduan kepadaNya, sekaligus suatu keyakinan seperti Jessica yang merindukan seseorang yang ia sayangi untuk kembali. Ia yakin bahwa suatu saat aku akan kembali dan belajar lagi bersamanya, belajar hidup di step yang lebih lanjut. Bagaimana kita rindu untuk menghadap Tuhan? Bagaimana kita rindu untuk bertemu kembali dengan Kristus – berusaha untuk mewujudkan kerajaan Allah di dunia ini – di dalam anugrahNya yang sudah memampukan kita untuk melakukan kehendakNya?

Soli Deo Gloria J

Sunday, August 23, 2015

Kita Harus Membawa Berita

Apakah Allah Mengasihi?

Pertanyaan bodoh bukan? Kita tidak perlu mempertanyakan hal itu bukan?

Sangat mudah menjawab YA ketika kehidupan kita “baik-baik” saja di dalam perjalanannya, tetapi akan sangat sukar dan perlu perenungan yang begitu mendalam manakala ternyata begitu banyak hal yang kita kerjakan menemui berbagai hambatan. Ketika hidup di dalam segala kebaikan Tuhan, kita bisa saja berkata Tuhan itu baik. Tetapi ketika kita mendapati bahwa kehidupan itu sangat bertentangan dengan sifat Allah, apakah kita masih bisa memuji Dia?

Temuilah sahabat saya, seorang pria yang akan segera menikah di dalam usianya 26 tahun. Pasangan hidupnya juga merupakan seorang Kristen yang begitu taat. Mereka berdua melayani, 1 orang sebagai pemandu pujian, dan satu lagi sebagai seorang pianis gereja yang begitu menawan. Karier mereka pun begitu luar biasa, dimana sang pria ini adalah seorang manager di salah satu perusahaan swasta (bayangkan, di usia 26 tahun sudah menjadi manager!). Pasangannya? Dia adalah seorang wanita karier dengan karir yang begitu mengesankan. Bekerja di sebuah consulting company, dia meraih berbagai penghargaan di usianya yang ke-24 tahun.

Sepertinya kehidupan begitu tenang, dan menyenangkan bagi kedua pasangan ini. Persiapan pernikahan mereka pun dimulai di dalam waktu 1 tahun lebih. Mereka mempersiapkan segalanya. Mereka sudah memesan tempat, mereka sudah memesan catering. Bahkan cincin yang mereka gunakan nantinya sudah mereka pesan dari Jerman. Mereka berdua sungguh merupakan calon keluarga Kristen yang begitu indah.

Semuanya tampak begitu indah bagi kedua pasangan ini, sampai satu kali si pria mendapatkan suatu kabar yang membuat dia shock. Seminggu sebelum mereka menikah, sang wanita mengalami kecelakaan. Kecelakaan yang begitu hebat, yang membuat wanita ini koma. Kejadian ini membuat sang pria ini terpukul. Uang memang bisa dicari, tetapi momen berharga bersama kekasihnya? Wow itu sungguh merupakan malapetaka yang begitu mengguncang hatinya.

Setelah seminggu, bukannya membaik, ternyata kondisi sang wanita semakin parah. Ada pembekuan darah di otaknya, dan dokter memvonis bahwa waktu hidup sang wanita ini tidak lebih dari 10 hari…

Hancur hati, itulah perasaan sang pria. Dia pun mencoba untuk berusaha tabah. Tiap hari dia berdoa bagi calon istrinya ini, berharap bahwa Allah turut bekerja di dalam tubuh istrinya. Bahkan ia pun sampai memohon kalau boleh nyawanya saja yang dicabut, dan sang istri diselamatkan dari penyakitnya. Ironisnya hal tersebut tidak terjadi.

Dua hari menjelang waktu yang sudah ditetapkan oleh dokter, sang wanita terbangun dari komanya. Sang pria langsung bergegas ke rumah sakit saat itu, dan dokter mengijinkan sang wanita ini untuk pulang. Bukan karena dia mendapatkan kesembuhan, tetapi mengijinkan dua hari yang tersisa ini setidaknya menjadi hari terindah yang dimiliki oleh sepasang kekasih ini.

Tidak menyia-nyiakan waktu, mereka berdua pergi ke rumah mereka, dan kedua pasang kekasih ini kemudian berbagi kisah, dan mulai berbagi kisah hidup. Mereka berdua kemudian berdoa bersama, dengan sebuah pengharapan bahwa Tuhan akan menyembuhkan sang wanita. Tetapi hasilnya masih nihil. Sampai di hari terakhirnya pun doa itu tidak terjawab. Akhirnya sang wanita pun meninggal di pelukan sang pria, dengan sebuah surat yang ia tuliskan kepadanya “Tuhan itu baik…”

Sahabat, mari kita coba melihat kisah tersebut. Coba bayangkan anda berada di posisi sang pria. Apa yang akan anda lakukan setelah anda mendapatkan realitas seperti itu? Apakah anda masih bisa berkata bahwa Tuhan itu baik ketika segala hal yang Ia rencanakan ternyata sama sekali berbeda dengan apa yang kita bayangkan?

Sang pria pun menjalani kehidupannya selanjutnya dengan suatu kesedihan yang begitu mendalam. Terlarut dalam kesedihan itu, ia memutuskan untuk mencari ketenangan. Ia mengambil cuti yang cukup panjang untuk mencoba merenungkan kehidupannya selama ini. Ia ingin menenangkan dirinya, tetapi manakala ia mencoba melihat smartphone nya, ia kemudian membuka album foto dan ia melihat senyuman calon istri, tangisan langsung keluar dari matanya. Air mata itu menetes tanpa henti, dan ia hanya membayangkan bagaimana kalau ternyata pada saat itu, sang wanita tidak mengalami kecelakaan.

Pergumulan yang begitu dahsyat ditemui oleh pria ini. Kecewa, marah, dan merasa bahwa dirinya paling mengetahui segalanya pun akhirnya mencuat. Ia kemudian mencoba mengambil sebuah catatannya, sebuah buku harian, yang mana di sana ada tulisan

Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku.
Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.
Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah.

(Mazmur 62:6-8)

Benarkah? Keraguan mulai menyelimuti hatinya. Berhari-hari ia belum bisa melupakan sang wanita. Berhari-hari ia menutup diri. Ia hanyut di dalam kesedihannya. Ia tetap melayani di gereja dan kualitas suaranya pun tidak berubah. Ia tetaplah melayani Tuhan dan terus belajar untuk berkarya di tengah keraguannya. Ayat-ayat di dalam Mzm 62 itu terus membayangi dirinya. Di dalam hati kecilnya mulai mempertanyakan kebenaran dari ayat-ayat itu.

Kemudian di dalam sebuah persekutuan, setahun setelah kematian calon istrinya, ia diminta untuk menceritakan bagaimana perasaannya. Teman-teman sekitarnya menghibur dia. Mereka bersama pergi ke tempat pemakaman istrinya. Setidaknya ada 40 orang bersamanya, dan pemakaman itu menjadi begitu ramai. Sekali lagi ia membuka buku hariannya, dan mencoba membacakan ayat-ayat di Mazmur 62:6-8.

Saat itulah dia mulai menyadari betapa kemuliaan Allah ada di dalam kehidupannya. Ia kemudian mendapatkan suatu insight yang berbeda. Ia pun pulang ke rumah, mengambil alkitabnya dan mencoba membaca kitab Wahyu, tentang gambaran pernikahan Anak Domba. Saat itulah ia menyadari bahwa calon istrinya sudah sampai di tempat baru. Sebuah tempat yang begitu indah, tempat yang penuh dengan sukacita bersama Kristus.

Hal itu tidak akan terjadi padaku. Mungkin itulah yang rekan-rekan pikirkan manakala membaca kisah ini. Apakah begitu tragisnya kehidupan seseorang? Mungkinkah hal itu terjadi? Kisah yang lebih menyedihkan mungkin berada di sekitar kita, yang mana kita tidak pernah mengetahui bagaimana akhirnya. Tengok saja prostitusi anak-anak di Kamboja. Tengoklah orang-orang kelaparan di Ethiopia. Tengoklah sahabat-sahabat di NTT yang kekurangan air. Begitu banyak orang yang di dalam hidupnya mungkin bertanya-tanya, benarkah Tuhan itu ada? Kalau Dia ada, mengapa begitu banyak hal yang menyedihkan terjadi dalam kehidupan kita?

Seakan Tuhan tidak mahakuasa, ataukah ada alasan lain?

Mungkin itulah yang perlu kita renungkan bersama. Manakala gereja Tuhan, atau bisa dikatakan tubuh Kristus ada di dalam dunia ini, ada tanggung jawab yang kita emban sebagai bagian tubuh Kristus. Ketika Allah sudah mempercayakan begitu banyak hal di dalam kehidupan kita, maka kita dituntut untuk menghadirkan kuasa dan kasihNya di dunia ini.

Menarik untuk kita renungkan sebagai orang-orang yang aktif ataupun orang-orang Kristen, kita perlu menyadari bahwa kita punya peran di dalam hidup kita sebagai orang percaya. Kita perlu terus-menerus belajar memancarkan kasih Kristus di dunia ini. Bukannya nyaman di menara gading, tetapi kita perlu “kenosis”. Kita perlu belajar untuk “keluar”, belajar untuk melakukan karya nyata di dalam kehidupan keseharian kita. Bukan hanya nyaman berada di dalam tembok gereja, sementara gereja terus-menerus memperlebar gedung tetapi tidak memperlebar karya nyata di masyarakat.

Apakah itu berarti pelebaran gedung gereja, renovasi, dan sebagainya tidak penting? Bukan begitu juga. Tetapi sebagai jemaat Tuhan, sebagai gereja Tuhan mari kita lihat seberapa banyak di alkitab dimana Tuhan Yesus berada di sinagoga? Bandingkan dengan pelayanan yang Ia kerjakan. Alkitab mencatat bahwa Yesus mengerjakan pelayanan jauh lebih banyak daripada Ia berada di dalam gedung ibadah. Ia memperlihatkan sosok manusia yang lebih tertarik untuk mengerjakan segala sesuatu yang Allah kerjakan di dunia ini.

Kita mengaku bahwa kita adalah orang Kristen bukan? Kalau begitu kita kembali lagi, apa sih arti “Kristen”? Kekristenan berasal dari kata “Christ” dan “Ian”, dimana tanpa Kristus, kita bukanlah apa-apa.

Kalau dari kisah tadi kita melihat karya Allah, salah satunya adalah bagaimana cara Dia mengejar sang pria. Di tengah putusnya pengharapannya untuk meneruskan hidupnya tanpa sang kekasih, bukan kebetulan bahwa ia menemukan ayat di Mazmur 62. Bukan sebuah kebetulan bahwa dia punya keinginan untuk membuka alkitabnya, membuka kitab Wahyu. Bukan sebuah kebetulan bahkan, bahwa sang calon istri akhirnya meninggal sambil meninggalkan sebuah pesan “Tuhan itu baik”

Allah yang tidak pernah lelah mengejar “yang terhilang” menjadi sebuah gambaran Allah yang begitu menginginkan kita untuk menjadi umatNya. Ketika kita mengaku sebagai orang Kristen bahwa kita adalah murid Kristus, itu berarti kita perlu belajar untuk meneladani karyaNya. Apa itu? sama! Mengejar yang terhilang. Memberitakan kebaikan Tuhan, memberitakan kasihNya. Ketika kita berdoa “datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga” adalah suatu pernyataan iman dan pengharapan, sekaligus juga sebuah janji – sebuah komitmen bagi kita untuk kita dapat mengerjakan tanggung jawab penatalayanan kita bagi dunia ini.

Dunia ini membutuhkan orang-orang yang mau belajar merendahkan diri di hadapan salib, menyerahkan hidupnya di hadapan kebesaran namaNya. Dunia ini membutuhkan orang-orang yang mau mengerjakan yang terbaik bagi Allah untuk kemuliaanNya. Sebagaimana sang pria di dalam kisah itu menemukan sebuah catatan dari Mazmur 62, adakah pribadi kita menjadi orang-orang yang dapat menjadi sumber penghiburan bagi dunia ini? Tidak perlu muluk-muluk harus keluar negeri, harus menjadi misionaris, dan sebagainya. Mulai dari orang-orang sekitar kita, apakah mereka merasakan kehadiran Kristus melalui kehidupan kita? Apakah mereka merasakan kasih Kristus di dalam pribadi setiap kita?


Selamat berkarya, Soli Deo Gloria!

Saturday, August 8, 2015

Allah yang Tidak Pernah Meninggalkan Kita

Pernahkah saudara berpikir mengenai jalannya hidup ini? Sebagian besar dari kita berpikir mengenai hidup yang benar-benar ruwet. Di satu sisi ada begitu banyak hal baik terjadi atas kehidupan kita, tetapi tidak melulu hal baik bukan? Bahwasanya dalam menjalani hidup ini ternyata ada banyak hal yang buruk yang menimpa hidup kita sampai kita mungkin bertanya “mengapa hal ini terjadi di dalam kehidupanku?”

Cerita 1
Ada sebuah keluarga kecil, mereka adalah orang-orang yang begitu rajin di dalam melakukan suatu pelayanan bagi Tuhan. Keluarga ini dikaruniai oleh 3 orang anak, dan pada saat anak keempat akan lahir, sang ibu menderita penyakit di rahimnya. Diantara 2 pilihan, apakah anak keempat atau sang ibu yang selamat, ibu ini akhirnya pasrah terhadap nasibnya. Sedangkan sang ayah pun akhirnya give up. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyelamatkan si anak. Konsekuensinya adalah sang ibu akan meninggal. Tetapi cerita ini berakhir tidak seperti yang anda bayangkan.

Si ibu akhirnya menyelamatkan sang anak. Tetapi karena ada abnormalitas di dalam tubuh si anak, si anak diberikan lifetime oleh dokter selama 10 tahun. 10 tahun kemudian, kejadian itu benar-benar terjadi. Sang anak akhirnya meninggal.

Sang bapak dengan segala daya upayanya berusaha untuk menyelamatkan anak ini. Segala cara pengobatan dicoba, tetapi tidak berhasil. Sang ayah yang mulai kehabisan tabungannya mendapatkan pertanyaan dari ketiga anaknya yang masih hidup

“Ayah, selama ini ayah rajin pelayanan di gereja, tapi kenapa ya kok Tuhan mengijinkan mama dan si Jemmy meninggal?”

Cerita 2
Cerita kedua datang dari seorang wanita berusia 20 tahun yang berkuliah di Jakarta. Selama 20 tahun ia hidup, ia adalah orang yang begitu rajin. Ia memiliki 3 orang saudara pria yang berbeda agama dengan dia. Begitu pula ibunya juga berbeda agama dengan dia. Memasuki tahun akhirnya di perkuliahan, wanita ini (sebut saja namanya Mawar) mengalami penyakit yang menyerang tulang belakangnya. Ketakutan menaungi si Mawar dan akhirnya dokter memvonis kalau ia harus dioperasi.

Mawar di dalam kesehariannya berdoa dan berdoa, dan akhirnya doanya itu terkabul. Dia akhirnya sembuh dari penyakit itu. Ia menjadi seseorang Kristen yang begitu tangguh, orang Kristen yang begitu berapi-api di dalam pelayanannya. Ketika saudaranya melihat dia, 2 orang dari mereka memutuskan untuk bergabung. Akhirnya 1 orang mengikuti katekisasi, 1 orang lagi dibaptis dewasa.

Waktu berlalu sampai akhirnya seseorang dari 2 orang saudaranya ini memilih jalan lain. Sang adik pertama, yang mengikuti katekisasi, akhirnya memutuskan untuk memilih agama lain. Ia tidak tahan melihat sang ibu yang selalu berharap kepadanya untuk mengikuti ibunya. Berbeda lagi dengan kakaknya. Kakaknya yang sudah menjadi Kristen sejak lama, memutuskan untuk menikah dengan seorang yang berbeda agama dari dia.

Mawar pun terguncang. Ia merasa perlu belajar untuk menceritakan hal ini kepada Tuhan. Ia berharap bahwa ada hal-hal luar biasa yang terjadi tetapi ternyata semuanya berbeda daripada ia bayangkan. Ditengah pergumulan seperti inilah kemudian Mawar berpikir, sembari dengan jujur menghadap Tuhan sambil bertanya:

“Dimanakah Tuhan saat semua hal ini terjadi? Mengapa hal ini harus terjadi, Tuhan?”

Tiga Jenis Penderitaan
Mari kita coba simpulkan, dari dua kisah di atas ada beberapa jenis penderitaan yang dialami oleh manusia. Jenis pertama adalah penderitaan fisik, kedua adalah penderitaan emosi, dan yang ketiga adalah penderitaan spiritual.

Saya tidak memberikan contoh penderitaan fisik dari kisah di atas, tetapi saya akan coba berikan saat ini. Penderitaan fisik adalah penderitaan seperti sakit penyakit, mungkin dari kisah di atas adalah penderitaan sang ibu yang sakit saat melahirkan anak. Ia mengalami kesakitan yang begitu luar biasa.

Kedua adalah penderitaan emosi, adalah penderitaan yang terkait dengan emosi kita. Contohnya adalah ketika kita dipermalukan di depan publik mungkin karena kita salah bicara, atau kita dihina-hina.

Penderitaan jenis ketiga adalah penderitaan yang saya bisa sebut sebagai puncak dari keduanya. Penderitaan spiritual adalah sebuah momen dimana seseorang merasakan kesakitan yang begitu luar biasa sampai pada satu pertanyaan: “dimanakah Tuhan” dan “kalau ada Tuhan, mengapa semua ini bisa terjadi?”.

Charles Templeton mengalami penderitaan jenis ketiga ini ketika ia melihat di televisi mengenai kehidupan orang-orang Afrika yang hidup di dalam kemiskinan. Hal ini membuat Templeton menanyakan sebuah pertanyaan yang akhirnya membuat imannya rontok. Seorang partner dari Billy Graham di dalam penginjilan yang akhirnya meninggalkan imannya karena bergumul dalam memahami apa rencana Allah di balik penderitaan dan kemiskinan.

Allah Yang Solider Melalui Yesus Kristus
Mari kita melihat bagaimana ketiga penderitaan itu ternyata bukanlah suatu hal yang baru. 2000 tahun yang lalu di bukit Golgota, Allah merasakan ketiga penderitaan itu secara langsung di atas salib. Anda bisa menebak bukan?

Penderitaan fisik yang dialami oleh Yesus terjadi saat Ia harus dipaku di atas kayu salib. Lee Strobel di dalam bukunya Case for Christ menggambarkan bagaimana penderitaan yang dialami Yesus ini begitu mengerikan, dan bahwasanya tidak akan ada seorang pun yang akan tahan di dalam menghadapi siksaan salib. Bahkan untuk bernafas, karena sebelumnya punggungNya sudah sobek akibat dari penyesahan yang dialamiNya, maka ketika bernafas akan timbul rasa sakit yang begitu mendalam.

Penderitaan emosi dialami Yesus saat dengan telanjang, di depan banyak orang, Ia disalib dalam kondisi telanjang. Saya tidak bisa membayangkan apakah anda mau ditelanjangi di depan umum, dan kemudian orang-orang yang melihat anda menghina anda, mencerca anda, dan menusukkan luka hati yang begitu dalam di dalam hati anda. Apalagi seorang murid anda mengkhianati anda, secara riil, maupun secara perkataan menyangkal anda.

Penderitaan spiritual pun dialami Yesus, sampai ultimatnya dia berteriak “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Yesus mengutip dari Mazmur 22, dan menunjukkan bahwa inilah puncak pergumulanNya.

Ketiga penderitaan itu sudah dialami Yesus juga di kayu salib. Ia terlebih dahulu memberikan sebuah teladan bagi kita, sebuah kisah yang menunjukkan bahwa memang hidup kita sebagai orang Kristen (Christian – murid Kristus) bukanlah sebuah kehidupan yang mudah. Seluruh pergumulan yang kita alami dalam hidup adalah sesuatu yang natural, sesuatu yang terjadi karena memang dampak dari dosa awal yang begitu mengerikan itu.

Jadi kalau kita melihat, Allah kita bisa disebut sebagai Allah yang solider. Ketika kita saat ini mengalami ketiga jenis penderitaan itu maka kita dapat memakluminya. Mengapa? Ya karena Allah pun sudah merasakannya, dan di saat akhir itulah saat / momen puncak dimana Dia menjadi sempurna.

Masa Depan Yang Tak Pernah Kita Mengerti
Nah kalau kita melihat masa lalu kita, atau hal yang saat ini kita alami, kita perlu belajar memaknai sebenarnya apa yang dipersiapkan Allah di dalam kehidupan kita. Kita bisa saja terjebak di dalam pola pikir masa kini, bahwa hidupku susah dan tidak ada gunanya lagi aku percaya kepada Allah. Itu pilihan pertama. Nah tapi ada satu penawaran yang Tuhan berikan mengenai masa depan.

Ams 23:18
Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.

Yesaya 41:10
janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.

Ayat-ayat ini terasa begitu menyenangkan. Tetapi mengapa realitas hidup kita sama sekali tidak mencerminkan itu? Mungkin kita perlu mengevaluasi secara lebih jauh dan lebih mendalam lagi, sebenarnya bagaimana kita harus memandang hidup kita menurut kacamataNya. Nah inilah yang sebenarnya jauh lebih penting, jauh lebih esensial.

Masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang, demikian pesan yang dituliskan oleh penulis Amsal. Artinya apa? Kalau kita baca ayat-ayat sebelumnya, penulis ingin mengajak pembacanya bahwa segala kejadian yang terjadi dalam kehidupan kita ada di dalam grand design yang sedang Allah persiapkan. Boleh saja kita menjadi “sok bijak” dan mengatakan bahwa kita tahu yang terbaik dalam hidup kita, tetapi kita tidak akan pernah dapat menyelami apa yang mau Allah kerjakan di dalam kehidupan kita.

Demikian juga dengan tulisan nabi Yesaya. Yesaya di dalam keadaannya sebagai nabi yang melihat bagaimana kota-kota di Kerajaan Utara (Israel) masih bisa menuliskan janji Tuhan kepada bangsa itu. Ada satu pengharapan yang pasti di dalam Dia. Ada satu pengharapan mengenai bagaimana Allah akan menuntun kita.

Kita tidak pernah akan dapat mengerti masa depan kita seperti apa. Tetapi kalau kita belajar untuk memahami lebih jauh, maka kita menyadari bahwa kehidupan di dunia ini jauh lebih temporer dibandingkan dengan kehidupan kita nanti di surga. Kemuliaan surga perlu kita maknai sebagai sebuah janji, bahwa itulah yang seharusnya menjadi fokus hidup kita.

Memandang ke Arah Kekekalan
Kehidupan di dunia artinya hanya akan berlangsung dengan begitu singkat, dan justru kehidupan yang sebenarnya baru dimulai di dalam terang kekekalan Allah di surga mulia. Ketika kita menyadari bahwa fokus hidup kita ada di dalam kerangka kekekalan dan rencana Allah, kita akan dapat menjadi pribadi-pribadi yang berani berkata “Suka-SukaMu Tuhan”. Artinya apa? Kita berserah penuh kepada Allah yang sudah mengatur hidup kita.
Okey sekarang akan saya tampilkan jawaban dari si bapak dari cerita pertama:

“Dik, pasti kamu pernah dijelaskan bukan di sekolah minggu mengenai kemuliaan surga? Mamamu pergi kesana, begitu juga adikmu. Allah itu baik, mungkin itu yang bisa papa katakan buat kamu. Mungkin kamu nggak bisa sepenuhnya paham, dik. Tetapi kalau di sekolah minggu, kamu pernah diajarkan tentang bagaimana Yesus sudah memberikan jaminan itu, mengapa papa harus kecewa? Mengapa papa nggak mau belajar untuk terus menjalani hidup ini di dalam terang kasihNya?”

Dan hasil perenungan dari Mawar, wanita yang tangguh itu dari cerita kedua:

“Aku percaya bahwa Allah telah mempersiapkan segala sesuatunya. Mungkin inilah hal yang mau Tuhan ajarkan: bahwa aku belum mampu menjadi terang bagi orang di sekitarku. Itu berarti aku harus terus belajar untuk memahami segala hal yang Ia kerjakan. Tetapi semakin aku ingin tahu, aku semakin sadar bahwa aku harus menjadi semakin bodoh di hadapanNya, sehingga melalui kekuatan yang Ia berikan itulah aku dapat memaknai kemahakuasaanNya dan kasih setiaNya.”

Bagaimana kedua orang ini bisa memiliki pemahaman seperti itu? Tidak yakin tidak bukan karena mereka punya fokus yang berbeda. Mereka berdua punya keyakinan:

Roma 8:28
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Kesimpulan
Dunia menawarkan begitu banyak hal mengenai penderitaan, kematian, kepedihan, dan sebagainya. Namun sebagai seorang percaya yang memiliki paradigma kekekalan, kita diajak untuk belajar di dalam iman percaya kita. Kesulitan yang kita hadapi, problematika yang begitu luar biasa, semuanya disediakan Tuhan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Ia tidak pernah meninggalkan kita. Setiap langkah kita sudah dipersiapkan oleh Tuhan. Sebagai penutup, yuk bersama kita menyanyikan sebuah lagu, lagu yang menyatakan langkah iman kita bahwa setiap langkah hidup kita ada di dalam pimpinan dan penyertaan Tuhan.

Tiap Langkahku
By: W. Elmo Mercer

1.  Tiap langkahku diatur oleh Tuhan
dan tangan kasihNya memimpinku.
Di tengah badai dunia menakutkan,
hatiku tetap tenang teduh.

Reff:
Tiap langkahku ‘ku tahu yang Tuhan pimpin
ke tempat tinggi ‘ku dihantarnNya,
hingga sekali nanti aku tiba
di rumah Bapa sorga yang baka.

2.  Di waktu imanku mulai goyah
dan bila jalanku hampir sesat,
‘ku pandang Tuhanku, Penebus dosa,
‘ku teguh sebab Dia dekat.

Reff:
Tiap langkahku ‘ku tahu yang Tuhan pimpin
ke tempat tinggi ‘ku dihantarnNya,
hingga sekali nanti aku tiba
di rumah Bapa sorga yang baka.

3.  Di dalam Tuhan saja harapanku,
sebab di tanganNya sejahtera;
DibukaNya Yerusalem yang baru,
kota Allah suci mulia.

Reff:
Tiap langkahku ‘ku tahu yang Tuhan pimpin
ke tempat tinggi ‘ku dihantarnNya,
hingga sekali nanti aku tiba

di rumah Bapa sorga yang baka.

Tuesday, June 30, 2015

Indonesia Bagi KemuliaanMu – Sebuah Perenungan Tentang Toleransi dan Menjadi Berkat Bagi Bangsa

“Ah, sudahlah. Kalau ngomong tentang Indonesia, apalagi Jawa Barat, sudah hopeless. Jadi orang Kristen di Jawa Barat sama saja kamu bunuh diri. Banyak lho ormas-ormas yang mayoritas memiliki kuasa.” Kalimat ini begitu sering saya dengar dari teman-teman yang beragama Kristen. Hidup di tengah masyarakat yang serba majemuk dan menjadi kaum minoritas bukanlah perkara mudah.

Menjadi Berkat
Identitas orang Kristen adalah orang percaya yang sudah ditebus oleh Kristus. Ini adalah sesuatu yang paling mendasar manakala kita ingin menjadi orang yang punya dampak. Kalau kita mengingat kembali seperti apa kita harus berperan di tengah negeri yang mana kita menjadi golongan minoritas? Mari kita lihat dari kitab Perjanjian Lama, yakni kitab Yeremia 29:7

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.

Mari kita lihat kalimat ini. Kalimat ini dituliskan oleh nabi Yeremia manakala umat Israel, yang disebut sebagai umat kepunyaan Allah, umat perjanjian, umat yang paling disayangi Allah, dibuang ke dalam pengasingan di Babel. Kondisi ini adalah sebuah kondisi yang memprihatinkan. Bisa dibayangkan bahwa umat yang dikasihi Allah harus mengalami suatu kondisi yang begitu jauh dari masa kejayaan mereka ketika Daud menjadi raja mereka, atau ketika Salomo dengan segala kekayaannya memimpin mereka.

Ketika Tuhan berkata melalui perantaraan Yeremia “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang”, itu adalah suatu perintah yang begitu jelas. Israel diminta untuk mengusahakan kesejahteraan kota, setidaknya mengerjakan segala daya usaha mereka untuk dapat membangun kota tempat mereka menjadi budak. Artinya bahwa setiap kita yang ada di manapun kita berada, Allah memiliki suatu rencana besar bagi kita.

Gerejaku Adalah Yang Terbaik!
Beralih pada issue lain mengenai gereja. Orang Kristen tidak dapat dilepaskan dari peribadatan dan hubungan yang intim dengan Tuhan. Tetapi sadarkah bahwa ketika kita pergi ke gereja, kita melihat begitu banyak hal yang tidak Kristen. Ravi Zacharias pernah berkata bahwa orang-orang Kristen bersatu membentuk sebuah “brotherhood”, namun kenyataannya kita melihat banyak sekali “hood” daripada “brother”. Artinya apa? Artinya hubungan yang indah dan intim ini ternyata bukanlah sesuatu yang murni.

Seringkali sebagai orang Kristen kita membangga-banggakan gereja tempat kita beribadah. Kita menjadi begitu mengagungkan liturgi, menikmati lagu-lagu di dalam gereja, menikmati musik, menikmati pengkotbah gereja kita. Sah-sah saja sih sebenarnya, bahkan sangat baik manakala kita mengasihi atau menikmati peribadatan di gereja kita yang mana kita dapat mendekatkan diri kepada Allah.

Tetapi akan begitu berbahaya ketika akhirnya kita melupakan saudara seiman kita dari denominasi yang lain. Jemaat gereja karismatik yang menghina bahwa jemaat gereja presbyterian terlalu “kuno” atau kedaerahan, sedangkan jemaat gereja presbyterian menuduh jemaat gereja karismatik sebagai “sesat” dan tidak teratur. Akhirnya sesame orang Kristen malah saling berkelahi dan menuduh, melupakan suatu tujuan bersama bahwa Allah mengijinkan keberagaman gereja, berbagai denominasi, justru menjadi sebuah sarana kekayaan kekristenan. Bahwasanya denominasi yang ada menjadi ciri khas dan bentuk kontekstualisasi budaya.

Indahnya Interdenominasi
Bagaimana orang Kristen perlu menanggapi isu toleransi di Indonesia? Di tengah berbagai realita intoleransi di negeri ini, ada satu kesempatan bagi orang Kristen untuk dapat menjadi berkat. Sebelum melangkah keluar (dalam artian bekerja bersama membangun negeri ini, yakni “mengusahakan kesejahteraan kota”) maka kita perlu beres terlebih dahulu. Gereja perlu menjadi suatu institusi yang tidak eksklusif. Bukan berarti bahwa gereja tidak memiliki ciri khas, namun gereja perlu mengakui bahwa ada suatu kesamaam di dalam ibadah ataupun di dalam organisasi mereka, yakni semuanya adalah dari, bagi, dan oleh Allah, bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.

Bagaimana memulai hal ini? Tentu saja dengan belajar untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan. Mengakui bahwa ada suatu perbedaan yang justru menjadi kekuatan. Berkaca dari Indonesia, bahwa kemerdekaan di negeri ini pun bukan hanya berasal dari satu agama, satu bangsa, atau satu ras di Indonesia. Perjalanan perjuangan kemerdekaan negeri ini juga berasal dari kerjasama yang dilandasi oleh satu hal: cinta akan Indonesia.

Ketika berefleksi pada hal ini, maka kalau ada satu tujuan yang ingin dicapai oleh gereja-gereja saat ini, untuk kemuliaan Allah, maka seharusnya kita pun belajar untuk saling menghargai. Menariknya, bahwa kalau kemerdekaan Indonesia itu tak lepas dari peran pemuda (kalau kita baca sejarahnya, persatuan bangsa Indonesia dimulai dari momen SUMPAH PEMUDA).

Jadi gereja Kristen perlu belajar untuk bersatu padu di dalam menjadi garam dan terang bagi dunia ini. Bagi Indonesia, secara khusus, bukan dengan jalan saling bersaing dan menganggap diri paling benar, tapi belajar untuk saling menghargai secara interdenominasi. Memang benar ada perbedaan doktrin, perbedaan tata cara peribadatan, namun selama tujuannya sama yakni memuliakan Tuhan, isu-isu seperti baptis selam atau baptis percik, bukan merupakan suatu hal yang harus selalu diperdebatkan.

Step Out
Tembok gereja seringkali menjadi penghalang bagi jemaat untuk dapat berkarya mengembangkan kehidupan toleransi antar umat beragama. Mahatma Gandhi sendiri sampai-sampai tidak mau menjadi Kristen bukan karena pengajaran, tetapi karena melihat sikap hidup umat Kristen. Pertanyaannya adalah bagaimana dengan kondisi umat Kristen saat ini? Apakah kita sudah belajar untuk menjadi berkat bagi sesama kita?

Kita seringkali mengeluh bahwa tidak ada banyak hal yang dapat kita kerjakan manakala kita berada di negara ini sebagai mayoritas. Namun kita lupa bahwa sekalipun kita minoritas ataupun mayoritas, orang Kristen harus berdampak. Bahkan kalau kita lihat realitas saat ini, negara-negara asal Kekristenan seperti Jerman, Belanda, dan sekitarnya pun mengalami kemerosotan. Apa sebabnya? Kemungkinan karena umat Kristen menjadi malas untuk memperjuangkan kekristenan mereka karena mereka menjadi terang di tengah tempat yang begitu menyilaukan, dan mereka sudah menjadi “garam” di tengah laut. Artinya? Tidak ada dampaknya sama sekali.

Sebagai manusia kita perlu belajar untuk bersosialisasi. Gereja pun perlu belajar untuk bersosialisasi dengan dunia di sekitarnya.

Toleransi – Menggapai Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika
Toleransi menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa di dalam keragaman budaya yang begitu majemuk. Setelah gereja dapat bersatu (dalam artian bukan menjadi satu, tetapi bergerak bersama) di dalam keragaman mereka, dari situlah gereja dapat memiliki sebuah peran bersama mengembangkan karyanya di tengah Indonesia yang penuh keragaman.

Lalu sebagai agama minoritas, bukan berarti kemudian kita tidak berupaya apa-apa. Ketika Allah memerintahkan bangsa Israel untuk “usahakanlah kesejahteraan kota tempat ke mana kamu Aku buang”, itu bicara terkait dengan mengerjakan sesuatu bagi kota itu, bagi tempat itu, bagi dunia itu.

Bagaimana caranya? Tidak susah. Mulailah dengan sesuatu yang simple. Berbaurlah dengan jemaat gereja lain. Mengadakan acara bersama, tetapi semuanya perlu dimulai dari pribadi yang paling kecil – yakni diri sendiri. Ketika kita belajar sejak dini untuk dapat saling bercengkerama satu dengan yang lain, membicarakan visi kedepan bersama, sambil belajar untuk saling terbuka satu sama lain, saat itulah muncul benih kerukunan dan toleransi antar umat beragama.

Memulai dengan kesadaran bahwa ketika Allah menempatkan kita dimanapun kita berada, ada suatu tujuan yang Allah ingin kita capai. Kalau kita mulai menyadari hal tersebut, kita akan menjadi pribadi yang semakin mengasihi Allah – tetapi tidak berhenti sampai situ – kita juga akan mengasihi sesama kita manusia. Allah sendiri berkata siapa yang tidak mengasihi saudaranya yang kelihatan, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak kelihatan.

Mari belajar menghadirkan damai sejahtera di dalam bangsa ini. Terlepas dari kita menjadi minoritas, kita perlu belajar untuk melakukan yang terbaik sesuai dengan setiap talenta yang Tuhan percayakan di dalam kehidupan kita. Saat ini kita dipanggil untuk menjadi berkat – untuk terus belajar menikmati karya Allah sembari memuliakan Dia di dalam seluruh langkah kehidupan kita.

Sulit? Yes, tantangan pasti ada. Possible? Sangat!


Soli Deo Gloria!

Sunday, June 21, 2015

Menapaki Hari Bersama Kasih KaruniaNya

Pengantar

Syalom sobat. Lama juga nih nggak nulis lagi. Kali ini temanya adalah tentang sesuatu yang begitu klasik. Tentang kasih karunia. Memang sebuah tema yang sering banget ya kita denger, kita baca dan memang jadi hot issue di dalam perjalanan hidup kita.

Mudah banget untuk kita percaya secara ucapan. Gampang sekali bagi kita untuk kita dapat menangkap kata-kata “Kasih Karunia” secara harafiah. Tetapi ternyata kalau di dalam hidup kita kemudian kita mencoba untuk memaknainya, ternyata kasusnya tidak semudah itu. Ternyata memaknai kasih karunia itu bukan sekedar ketika kita menerima hal baik ataupun hal yang indah dari Tuhan. Hmm, apa maksudnya? Bukankah ketika kita mendapatkan kasih karunia berarti kita menjadi pribadi yang dapat menjalani hidup kita dengan santai? Segala perkara kita akan dimudahkan. Benarkah demikian?

Inti Kehidupan Manusia
Mari kita lihat kerangka kasih karunia dari sebuah sudut pandang seseorang di dalam keresahan hidupnya. Kita coba belajar dari Paulus, khususnya juga dari surat yang ia kirimkan kepada jemaatnya di Korintus. Mari kita baca nas ini dari kitab 2 Korintus 6:1-13.

Oh ya sebelumnya, jemaat Korintus sendiri itu seperti apa sih? Jemaat Korintus adalah jemaat yang berada di dalam sebuah tantangan yang begitu luar biasa. Seperti kita tahu dari buku-buku sejarah, Korintus di jaman itu adalah sebuah kota metropolitan. Kota dengan berbagai fasilitas yang begitu menyenangkan. Dimana-mana ada pelacuran bakti, ada berbagai kegiatan keagamaan yang unik disana.

Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.
(2Korintus 6:1)

Paulus mencoba membuka pasal ini dengan sebuah pemahaman bahwa jemaat Korintus perlu memaknai betul mengenai kasih karunia Allah yang sudah mereka terima.

Bandingkan coba dengan kehidupan keseharian kita. Ditengah kesibukan kita dengan berbagai hal yang menjadi problematika dalam hidup kita. Pernahkah kita merasa lelah ataupun galau atas segala hal yang terjadi atas kehidupan kita. Kita merasa bahwa ada begitu banyak hal yang harus kita kerjakan. Ada berbagai masalah manakala kita kemudian menjadi orang Kristen.

Kita melihat disini Paulus menyatakan bahwa inti/pusat kehidupan kita tidak lain tidak bukan adalah “Kasih Karunia”. Bahwa setiap hal yang terjadi di dalam kehidupan kita dalah kasih karunia. Tidak ada yang lain.

Kesesakan di dalam Kasih Karunia Allah

(2Kor 6:4)  Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa;

Ini adalah cerminan dari realitas hidup manusia manakala dia menerima kasih karunia di dalam kehidupannya. Realitanya bahwa ternyata ketika kita hidup, tidak semua hal kita dapati lancar-lancar saja. Menarik disini bahwa Paulus menyatakan identitas kita sebagai orang Kristen. Apa itu?

“Kami adalah Pelayan Allah” (2Kor 6:4a) dilanjutkan dengan berbagai hal yang mungkin membuat kita kaget manakala selama ini kita meyakini bahwa kasih karunia akan membuat hidup kita lebih mudah. Kita melihat bahwa ternyata kasih karunia itu pada akhirnya akan membuat kita: “menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan, dan kesukaran, dan seterusnya (ada banyak sekali)

Pernah membayangkan bahwa jadi orang Kristen maka hidup kita akan enak, hidup kita akan nyaman, dan sebagainya? Kita melihat bahwa ternyata Kekristenan begitu berbeda dengan apa yang dunia katakan. Makakala dunia berkata bahwa “hidup adalah bagi diri sendiri”, kekristenan meneriakkan bahwa “hidup adalah bagi Kristus”. Fokus hidupnya saja sudah berbeda, apalagi tindakannya. Wah pasti beda sekali.

Menanggapi Tantangan dengan Kasih Karunia

Oke, kita sudah tahu nih betapa dunia ini menawarkan begitu banyak hal menarik yang ternyata kalau kita lihat begitu berbeda dengan hal yang kita percayai. Nah apa yang harus kita kerjakan ketika ternyata hidup menawarkan hal yang begitu berbeda. Jawabannya sebenarnya hanya ada satu sih. Selamat menjalani hidup ini dengan percaya bahwa segala hal yang terjadi di dalam kehidupan kita adalah karena kasih karunia.

Suatu hari ada seseorang bertanya kepadaku: “kak, setelah jadi orang Kristen, aku bukannya tambah enak. Hidupku tambah riweuh. Aku merasa begitu banyak hal yang membuatku bergumul”. Aku menanyakan balik kepadanya: “Kalau dibandingkan dengan begitu banyak hal yang Tuhan berikan dalam hidupmu, kamu melihatnya seperti apa?”

Setiap kita akan dibayangi dengan pertanyaan itu. Tetapi kuncinya ini. Kita sering banget bertanya manakala kita mengalami sesuatu yang kita anggap buruk. Kita seringkali mengeluh terhadap begitu banyak hal yang membuat kita merasa tidak nyaman. Tetapi pernahkah di dalam keluhan kita, kita belajar untuk melihat jauh lebih dalam, mengenai apa yang Ia kerjakan di Kalvari? Pernahkah kita membayangkan bahwa setiap udara yang kita hirup secara gratis, dan kita hembuskan berkali-kali itu adalah ciptaanNya?

Sering tidak kita berkata kepada Allah bahwa kita bosan atas pemberian kasih karunia? Bosankah kita ikut Allah? Bahwasanya ketika Allah menjanjikan bahwa segala rancanganNya adalah rancangan damai sejahtera, ternyata sama sekali tidak ada hal yang membuat damai sejahtera atas hidup kita. Tetapi benarkah demikian? Benarkah bahwa tidak ada damai sejahtera dalam kehidupan kita ketika kita kembali melihat berbagai karya besar yang Allah kerjakan di dalam kehidupan kita?

Kesulitan Hidup Juga Adalah Kasih Karunia

Kita sampai pada bagian akhir dari perenungan ini. Kita sudah melihat bahwa:
1.       Inti hidup orang Kristen adalah kasih karunia
2.       Dalam ranah kasih karunia, ternyata ada begitu banyak hal yang membuat kita tertekan
3.       Bahwa ternyata di dalam hidup kita yang penuh masalah juga ada banyak hal yang dapat kita nikmati, simple tapi meaningful
Ijinkan saya menarik poin keempat, yakni: “segala hal yang terjadi atas hidup kita adalah hal yang dikerjakan Allah untuk kebaikan kita”.

Ada hal baik, ada hal buruk. Tetapi kalau kita belajar seperti Paulus untuk melihat segalanya melalui kacamata kasih karunia, kita akan berbalik dari mencela hidup kita menjadi orang yang begitu bersyukur atas setiap proses hidup yang Tuhan kerjakan atas kehidupan kita.

Seorang bayi tentu jatuh sebelum ia dapat berjalan dengan sempurna
Seorang pelari harus berlatih terlebih dahulu sebelum dia bisa berlari dengan begitu cepat
Seorang pebasket mengalami berbagai kegagalan dalam tembakannya untuk dia dapat memasukkan bola dengan sempurna

Yang mau aku katakana disini adalah seberat apapun ujian hidup yang kita alami, kasih karunia Tuhan itu tetap ada di dalam hidup kita. Terlepas dari begitu banyak hal buruk, yakinlah itu sebagai proses pendewasaan, proses pelatihan kita untuk menghadapi tantangan yang jauh lebih luar biasa.

Tidak pernah ada proses yang sia-sia ketika kita belajar melihat segalanya dari kacamata kasih karunia Allah. Kalau inti hidup kita adalah kasih karunia, mengapa kita berhenti di tengah tantangan kita? Mari melangkah dengan berani untuk menjalani hari-hari dalam hidup kita, untuk kita dapat mengalami kasih karunia itu. Kita belajar untuk terus maju, sekalipun sulit, sekalipun begitu banyak tantangan, tetapi yakinlah bahwa tantangan ada untuk kita dapat semakin hari semakin bergantung kepada Dia.


Soli Deo Gloria!

Monday, May 18, 2015

Menikmati Quality Time BersamaNya

Seketika aku merenungkan pada hari minggu, 17 April 2015 bagaimana cara kita bisa merasa puas terhadap perlakuan atas pasangan kita.

Sebentar, mungkin aku ceritakan kisah sebelumnya. Tanggal 14-16 Mei 2015 aku mengikuti Temu Raya Pemuda GKI 2015 di Surabaya. Event yang mempertemukan seluruh GKI se Indonesia. Banyak teman baru yang aku dapatkan disana.

Tentu saja di dalam event ini aku bertemu dengan sang kekasih hati. Ya, pacarku, Jessica, juga mengikuti event ini. Dengan berbagai kesibukannya di tugas akhir dan tanggung jawabnya sebagai ketua komisi pemuda GKI Kutisari Indah, tentu saja ada banyak sekali tanggung jawab di dalam TRP ini pun dia juga mengkoordinasikan banyak hal.

Kekecewaan sempat terlintas ketika di dalam jiwa ada satu perasaan kurang diperhatikan. Saat aku berusaha untuk mulai berkata-kata padanya, mulai membuka pembicaraan, tetapi akhirnya dia selalu memainkan smartphone-nya. Jadi banyak hal yang mungkin nggak sempat kami bicarakan. Aku merasa cemburu dan kurang diperhatikan saat itu. Sempat aku intip ternyata dia sedang berkoordinasi dengan teman-temannya di GKI Kutisari. Jadi sempat juga aku merasa agak kecewa. Sambutan apa yang telah ia siapkan ketika sang kekasihnya ini datang dari Bogor?

Seluruh rangkaian acara TRP berakhir, dan sampailah aku pada hari Sabtu malam. Aku hanya berharap kalau-kalau dia mulai belajar meletakkan smartphone nya dan menyediakan telinga serta hatinya untuk kami dapat bercerita satu dengan yang lain. Aku sempat berdoa kepada Tuhan di hari Sabtu sorenya, di tengah aku pusing juga karena harus mengatur transportasi untuk teman-teman dari GKI Pengadilan. Berdoa untuk apa? Yah setidaknya ia mencurahkan sedikit perhatiannya buat aku.

Titik balik mungkin aku merasakan ketika pada hari minggu kami bersama. Kami beribadah di GKI Kutisari, dan menyadari kalau waktu pertemuan kami nggak bakal lama. Selain ada berbagai kesibukan, kami pun sempat menyempatkan diri untuk makan. Diluar dugaan di tengah kesibukannya dia menyempatkan diri untuk menemaniku makan siang.

Kami pun berpamitan saat itu dan ketika aku di pesawat, aku mencoba mengevaluasi apa yang sebenarnya terjadi di dalam kehidupan kami selama 4 hari itu. Ternyata aku menemukan ada sesuatu yang begitu luar biasa dengan apa yang Tuhan kerjakan atas kehidupan kami.

Aku melihat bagaimana Allah bekerja melalui kehidupan Jessica. Alih-alih aku berharap untuk dia dapat menemani aku sepanjang hari (dan dia melakukan hal tersebut dengan caranya!) mengapa tidak bersyukur dengan caranya menemani aku? Mengapa aku begitu egois di dalam hubungan kami, tidak melihat bahwa di dalam berbagai kesibukan itu, dia masih sempat menemani aku. Ia selalu berada di sisiku dan aku tidak pernah membayangkannya, betapa sibuknya dia dan betapa dia belajar untuk mengasihi aku di tengah kesibukannya.

Sepanjang perjalanan di pesawat aku cukup terharu mengenai bagaimana Allah mengerjakan begitu banyak hal atas kehidupan kami. Sorenya aku mencoba untuk mengucapkan betapa bersyukurnya aku kepada Allah, karena dia sudah mempersiapkan segalanya dengan baik. Aku bersyukur buat pertemuan kita – dan terlebih bagaimana caranya memberikan waktunya, tenaganya, segala kesibukan untuk dapat bertemu dengan aku dan berbagi denganku di sela-sela waktu kosong saat TRP.

Ketika dia berkata bahwa dia takut kalau justru aku yang kecewa, aku benar-benar ngerasa bahwa aku adalah pribadi yang begitu egois. Ya donk, aku egois karena aku tidak tahu bagaimana dia bergumul dengan segala kesibukannya, dan aku sadar benar bahwa aku belum benar-benar bisa mencapai suatu tingkatan dimana aku bisa memberi yang terbaik. Aku masih harus belajar bahwa cinta itu bukan sekedar kamu bisa menerima segala hal yang baik, tetapi apakah kita bisa kasih yang terbaik buat pasangan kita.

Entah itu waktu kita, tenaga kita, perhatian kita, apa sih yang mau kita berikan buat pasangan kita? Ketika Yesus mencintai kita, Ia telah memberikan segalanya. Ia telah memberikan kita hidupnya. Tetapi menariknya ketika berbicara bagaimana hubungan pernikahan, ia menggambarkannya seperti hubungan Kristus dengan jemaat. Kristus yang memberikan segalanya, sama seperti seorang suami / istri yang memberikan segalanya.


Memang sih kami belum mencapai pada tahapan pernikahan, tetapi sebagai orang Kristen, yang sama-sama bertumbuh di dalam Tuhan, bukankah itu menjadi sebuah hal yang harus kita kerjakan bukan? Maukah kita mulai saat ini belajar mengasihi terlebih dahulu sebelum kita dikasihi? Maukah kita belajar untuk memberikan yang terbaik buat pasangan kita atau rekan kita, menyadari bahwa segalanya adalah dari Allah?

Friday, May 1, 2015

Hal Kekuatiran

Nas Bacaan: Matius 6:25-34

Kehidupan manusia pada umumnya tidak pernah lepas dari yang namanya kekuatiran. Kekuatiran adalah bagian yang integral di dalam kehidupan. Artinya bahwa setiap manusia di dunia ini pasti punya rasa kuatir di dalam kehidupannya. Terlepas dari berbagai hal yang membuat dirinya aman, selalu ada hal yang membuat dia kuatir.

Kenapa sih sebenarnya kita kuatir? Karena memang ada hal-hal yang nggak sesuai dengan ekspektasi kita. Kita sudah merencanakan misalnya akan menikah di usia 28 tahun, tetapi ternyata di usia ke-27 tahun kita belum mendapatkan seorang calon pendamping hidup. Misalkan lagi ketika kita memutuskan untuk keluar dari pekerjaan kita yang sekarang, kita kuatir akan susah mendapatkan pekerjaan lagi. Ketika kita tidur pun terkadang kita juga kuatir.

Bahkan kalau kita lihat kehidupan orang-orang yang ada di alkitabpun, ternyata tidak sedikit orang yang kuatir atas kehidupannya. Abraham, yang disebut sebagai “bapa orang beriman” pun sempat mengalami kekuatiran di dalam kehidupannya. Kuatir bahwa ia tidak akan memiliki keturunan, kemudian pada saat tanah tempat tinggalnya kering dan ia harus pergi ke Mesir, ia pun kuatir bahwa istrinya akan direbut orang. Beralih ke Perjanjian Baru, ternyata kisahnya pun tidak jauh berbeda dengan Abraham, yakni para rasul. Suatu kali Petrus bertanya kepada Yesus:

"Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" (Matius 19:27)

Bukankah ini adalah suatu pertanyaan yang begitu umum kita ajukan? Sangat mudah bagi kita untuk terjebak bahwa ternyata di dalam kita mengikut Tuhan pun, kita berharap akan imbalan yang akan kita terima.

Mengapa kita merasa seperti ini? Tuhan Yesus pun mengingatkan kepada kita sebelum nas ini.

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Mat 6:24)

Kita tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Maksudnya? Kita selalu punya pilihan untuk kehidupan kita. Kekuatiran pada dasarnya adalah karena kita sama sekali tidak berpegang kepada Allah. Kita berpegang pada sesuatu yang begitu liquid (uang adalah sesuatu yang liquid bukan?). Mamon sendiri berarti uang. Artinya apa? Kita hanya bisa memilih – apakah Allah yang akan kita sembah ataukah kita menjadi hamba dari sesuatu yang liquid?

Okey, kembali pada hal kekuatiran. Kalau kita menyadari bahwa hidup kita ternyata tidak dapat didasarkan pada uang dan harta itu berarti bahwa kehidupan kita harus didasarkan pada pilihan yang satunya.

Mari kita coba lihat Matius 6:26
Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? (Mat 6:26)

Pernahkah kita kemudian menjadi seseorang yang membayangkan: “Enak banget ya jadi seekor burung. Sehari-hari sudah dikasih makan terus sama Tuhan.” Itu sama halnya mungkin kita bayangkan: “Enak banget yak kalau kita nggak usah kuliah, nggak usah kerja, tapi kebutuhan sehari-hari kita terpenuhi semua.”

Pandangan seperti ini bisa menyesatkan kita. Memang benar bahwa burung sama sekali tidak menabur dan menuai tetapi bukan berarti mereka sama sekali tidak berusaha. Artinya bahwa di dunia ini Allah sudah memberikan potensi dimana kita dapat bekerja dan dapat memanfaatkan segala sumber daya. Allah meminta kita untuk berusaha melakukan eksplorasi terhadap dunia yang Ia ciptakan.

Pertanyaan Yesus selanjutnya adalah “Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” Jawabannya sekali lagi: “absolutely YES”. Artinya bahwa memang di dalam kehidupan kita, kita sudah diberikan anugrah yang terindah. Bukan masalah materi, bahkan terkadang kita perlu lihat lagi kehidupan kita, bagaimana kalau sampai saat ini kita masih hidup, kita masih bernafas, kita masih dapat pekerjaan, kita masih bisa kuliah – bukankah semuanya adalah anugrah Allah?

Burung-burung yang ada di udara itu ketika liat kita stress mungkin mereka kaget yah. Mengapa? Tuhan sudah janjikan bahwa kita adalah manusia yang begitu berharga. “Enak bener lho jadi manusia, bahwa mereka punya privilege untuk memanggil Allah itu dengan panggilan Bapa.”

Kita lanjutkan ke ayat-ayat selanjutnya. Matius 6:27 dengan keras Tuhan bertanya:

Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? (Mat 6:27)

Siapa? Tidak seorang pun. Sebentar. Bukankah itu berarti kita tidak boleh kuatir? Bukan. Bukan itu maksud Yesus. Yesus berkata bahwa boleh kita kuatir, tetapi jangan sampai kekuatiran itu akhirnya menguasai hidup kita. Bukankah ada suatu kekuatiran yang positif? Apakah tanpa kekuatiran kita berarti tidak boleh berjaga-jaga? Bukankah Yesus juga berkata bahwa kita harus berjaga-jaga? Betul sekali kalau kita harus berjaga-jaga, tetapi bukan berarti bahwa akhirnya kita menjadi begitu kuatir dan menjadi seseorang yang paranoid. Sepertinya bukan malah menambahkan jalan hidup, kekuatiran yang berlebihan justru akan menjadi sesuatu yang memperpendek usia kita. 

92% orang di Amerika berkata bahwa sebenarnya kekuatiran yang mereka rasakan adalah kekuatiran yang fiktif. Selain itu kalau memang kekuatiran yang kita alami itu terjadi, kita tidak akan bisa melakukan apa-apa bukan? Saya ingat betul pengalaman saya pertama kali menginjakkan kaki saya di pesawat untuk pergi ke Bandung, saya kuatir sekali. Kemudian saat saya akan pergi ke Bogor dari Bandung, saya naik taksi bandara tanpa kenal siapa-siapa dan di mobil itu saya sama sekali tidak bisa tidur. Sebenarnya saya saat itu sudah menjadi Kristen tetapi tanpa sadar ternyata kekuatiran begitu menguasai saya.

Saya membayangkan kalau misalnya pesawat tersebut jatuh, apa yang bisa saya perbuat? Tidak ada. Semua akan terjadi. Bagaimana jika seandainya ternyata sopir taksi itu menculik saya kemudian merampok saya? Apakah kekuatiran saya menyelamatkan saya? Tidak juga bukan?

Karena itulah kemudian ketika saya membaca kembali ayat-ayat ini saya sadar betul bahwa ternyata hidup kita ini dijaga oleh Tuhan. Bukan berarti bahwa ketika kita percaya kepada Tuhan, hidup kita akan menjadi berkelimpahan. Rumusnya tidak begitu. Apakah berarti dengan kita ikut Tuhan maka segala urusan lancar, semua masalah hilang? Tidak juga bukan? Tetapi apakah hidup kita selalu dijaga? Iya betul.

Mungkin ketika kekuatiran itu mulai muncul, kita perlu belajar untuk menyerahkan kekuatiran itu kepada Bapa. Setelah kejadian saya naik pesawat untuk pertama kalinya itu, kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya, di setiap saya naik pesawat, saya selalu tertidur selama perjalanan. Intinya apa? Berdoa dulu deh sebelum naik pesawat, “Tuhan hantarkan saya selamat sampai ke tujuan. Aku tahu bahwa Tuhan adalah Allah yang Mahakuasa dan Engkau yang berkuasa atas pesawat ini, atas pilot, atas cuaca, atas penerbangan ini. Tetapi BIARLAH KEHENDAK-MU YANG JADI DAN BUKAN KEHENDAKKU. Kalau memang Allah berencana bahwasanya ketika pesawat ini jatuh, maka aku tahu bahwa waktuku sudah habis, dan sudah saatnya aku kembali ke pangkuanMu.”

Doa tersebut membuat saya bisa tidur nyenyak ataupun dengan tenang membaca buku di pesawat. Itu semua karena ada satu perasaan tenang dan dijaga oleh Bapa. Bukankah itu keistimewaan kita sebagai orang Kristen, bahwa kita tidak perlu terlalu kuatir atas hidup kita? Bahwa segalanya sudah diatur oleh Bapa, bahwa segalanya sudah diberikan kepada orang yang mengasihiNya, yang terpanggil sesuai dengan rencanaNya? Bukankah itu artinya berserah?

Kalau kita sudah menyadari bahwa segenap kehidupan kita sudah ada yang memegang, kini apa tugas kita?
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33)

Sangat jelas bukan? Carilah dahulu Kerajaan Allah artinya bahwa kalau kita menyibukkan diri kita untuk berpikir tentang uang dan uang, maka kehidupan kita akan dipenuhi oleh kekuatiran. Mau berdiri di fondasi yang liquid atau kita mau bersandar kepada sesuatu dasar yang teguh? Yesus adalah dasar yang teguh itu. Allah menuntut kehidupan total yang dipersembahkan kepadaNya. Ia meminta kita untuk percaya dan terus menerus menyadari akan kebenaranNya. Ia ingin kita untuk percaya sepenuhnya kepadaNya.

Sekali lagi, semuanya itu bukan berarti bahwa hidup kita akan berkelimpahan harta. Allah tidak pernah meminta kita untuk terus menerus memikirkan harta. Perintah di ayat ini jelas bukan? Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka SEMUANYA itu akan ditambahkan kepadamu. Semuanya disini mencakup apa sih? Bahwa penyertaan Tuhan akan selalu menyertai kehidupan kita hari lepas hari. Bahwa segala hal yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita akan membuat kita cukup dan mampu untuk hidup untuk memuliakanNya.

Apakah itu berarti kehidupan kita tanpa pergumulan? Justru pergumulan akan semakin besar, tetapi di dalamnya ada rencana Tuhan, dan pergumulan itulah yang akhirnya membuat kita dewasa di dalam Dia hari lepas hari. Jadi pertanyaannya adalah, kepada siapa kita menyerahkan kehidupan kita? Apakah ada suatu hal yang membuat kita kuatir setelah begitu banyak hal yang sudah Allah kerjakan atas kehidupan kita? Ia telah menyerahkan hal yang paling berharga – AnakNya yang tunggal – untuk kita dapat menerima keselamatan. Ia telah menyediakan begitu banyak berkat atas kehidupan kita. Kasih, sukacita, damai sejahtera… kurang apalagi? Lepaskan pengaruh mamon itu dari dalam kehidupan kita – dan rasakan kasihNya yang diberikan atas hidup kita sampai selama-lamanya.


Soli Deo Gloria