Total Pageviews

Tuesday, March 29, 2016

Kebangkitan Kristus yang Mengubahkan Hidup

Setiap kali kita merayakan Paskah, apa yang kita rasakan? Betapa begitu banyak orang menjadi tersadar akan pengorbanan Kristus di kayu salib dan itu membuat mereka bersyukur. Menarik bahwa berita Paskah menjadi sesuatu yang begitu bermakna di dalam kehidupan umat Kristen. Bagaimana tidak kalau kita merenungkan bahwa keagungan kasih Allah kepada umatNya di dalam karya salib merupakan sebuah karya agung. Karya yang sama sekali tidak pernah terbayangkan, yang memberikan suatu jaminan bagi setiap orang untuk menikmati dan mengerjakan keselamatan itu.

Apa signifikansi Paskah di dalam kehidupan kita? Coba kita lihat 7 poin berikut:

1.      Mengingat kembali Kasih Kristus atas kehidupan kita
Sadarlah bahwa setiap kita adalah pribadi yang berharga di mata Tuhan. Keberhargaan itu Ia tunjukkan melalui karya penyelamatan Yesus Kristus di kayu salib. Salib merupakan lambang kehinaan, tetapi justru melalui salib itulah karya terbesar dikerjakan oleh Allah.

2.      Mengambil Rupa Seorang Hamba
Tidak dapat dilepaskan dari Paskah tentunya adalah bagaimana kita meneladani Kristus. Seorang hamba yang taat kepada tuannya, dan itulah yang Yesus tunjukkan melalui kehidupan Kristus. Yesus yang taat kepada perintah Bapa, begitu pula hidup kita pun perlu dimaknai sebagai ketaatan penuh sebagai seorang hamba, apapun pekerjaan dan profesi kita.

3.      Menjadi Buah
Bijih gandum harus jatuh ke tanah, mengorbankan dirinya supaya muncul kehidupan. Sama dengan kematian Kristus menjadi sebuah pengharapan akan hidup baru, hidup yang menghasilkan buah. Apa buah itu? Tentu saja itu adalah pemberitaan Firman kepada orang-orang yang belum mengenalNya.

4.      Mementingkan Kepentingan Orang Lain
Pemberitaan yang dikabarkan oleh Alkitab menunjukkan sikap dari Yesus, yang dalam hal ini sebagai seorang Tuan. Artinya begitu mengesankan bahwa justru di dalam posisi yang paling tertinggi, Ia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dianggap hina oleh dunia di sekitar kita.

5.      Perubahan Hidup
Sesuatu yang paling nyata di dalam kehidupan yang menerima Tuhan Yesus adalah perubahan hidup. Rasul Paulus mengalami hal ini manakala Ia “tertangkap” oleh kuasa kasihNya. Perubahan hidup yang signifikan dialami oleh Paulus, dan itupun seharusnya menjadi nyata atas kehidupan kita.

6.      Kehidupan Yang Bermakna
Kehidupan murid-murid setelah Yesus mati adalah kehidupan yang dirasakan fana. Serasa kehilangan tujuan hidup yang semula, mereka menjadi pribadi-pribadi yang ragu untuk meneruskan hidup. Tetapi kebangkitan Kristus menjadikan mereka dapat berkarya, memaknai hidup mereka yang dulunya hidup mereka flat menjadi hidup yang penuh proses.

7.      Janji Keselamatan
Kebangkitan Kristus merupakan sebuah janji akan adanya pengharapan di masa depan. Hal ini membuat kita menyadari bahwa kehidupan di dunia ini adalah kehidupan yang fana. Janji itu ialah janji yang nyata, dan kebangkitan Kristus menjadi bukti bahwa pada saatnya nanti kita akan merasakan kebangkitan itu

Demikianlah tujuh poin yang mana dapat kita pelajari dari peristiwa Paskah. Paskah menunjukkan kuasa dan kasih Kristus, dan itupun yang akan kita alami manakala kita belajar untuk menjadikan Dia sebagai juruselamat kita.


Soli Deo Gloria!

Saturday, March 5, 2016

Menggombali Allah

“Tuhan, aku mau menyerahkan hidupku sepenuhnya untuk-Mu”

Seringkah kita mendengarkan kalimat ini? Biasanya ini adalah kalimat saat kita ikut KKR ataupun kita ingin mengerjakan sesuatu yang jauh lebih susah dari apa yang kita lakukan sebelumnya. Kita menjadi pribadi yang sangat sentimental. Kita menjadi seseorang yang begitu suka untuk “merayu” Allah. Kita menjadi pribadi yang begitu senang untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang “gombal” kepada Allah.

Mengapa dikatakan gombal? Sebelumnya kita perlu melihat kembali kepada tingkah laku kehidupan kita. Ketika kita mengatakan bahwa kita ingin menyerahkan hidup kita sepenuhnya bagi Tuhan, apakah itu sesuatu basa-basi agar kita terlihat rohani, ataukah kita benar-benar mengatakan itu dari lubuk hati yang terdalam?

Segalanya adalah Bagi KemuliaanNya
Kekristenan tidak dapat dihidupi hanya dengan gombalan-gombalan kita kepada Allah. Apa makna dari “menyerahkan hidup” kita sepenuhnya kepada Allah? Paulus menuliskan kepada jemaat di Roma, makna dari menyerahkan hidup adalah sebagai berikut:

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12:1)

Kalimat ini begitu mantap. Tulisan Paulus ini menunjukkan bagaimana sikap hidup kita di dalam kita menyerahkan diri kita kepada Allah. Disini dituliskan untuk kita dapat mempersembahkan tubuhmu. Makna persembahan adalah dimana kita sama sekali tidak punya hak atas sesuatu barang ataupun hal yang kita persembahkan. Artinya ketika kita mempersembahkan sesuatu (misalkan uang) kepada gereja maka kita tidak punya hak lagi atas uang tersebut. Nah sama seperti analogi tersebut, mempersembahkan tubuh kepada Tuhan berarti kita sama sekali tidak memiliki kendali atau hak atas kehidupan kita.

Kemudian Paulus menuliskan selanjutnya adalah persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Persembahan yang hidup menunjukkan bahwa di dalam kita menyerahkan diri kita kepada Tuhan untuk Tuhan pakai, kita dituntut untuk menjadi sesuatu yang hidup. Ciri-ciri kehidupan adalah adanya pertumbuhan, dan kemudian setelah bertumbuh besar akan menghasilkan buah. Ciri khas dari seseorang yang menyerahkan dirinya kepada Tuhan adalah adanya pertumbuhan di dalam iman kepada Dia sehingga dapat menghasilkan buah pelayanan yang dapat dinikmati oleh banyak orang.

Yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, merujuk kepada sebuah sikap hidup yang harus menjadi ciri khas kita sebagai seorang Kristen. Kekudusan merupakan salah satu ciri utama orang Kristen. Kekudusan bukanlah suatu hal yang harus dikejar, namun merupakan sesuatu yang telah nyata manakala seseorang benar-benar menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Mengapa Paulus sampai menuliskan hal ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena di ayat sebelumnya yakni 11:36 mengatakan demikian

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36)
Bebas dari Rasa Kuatir

Menyerahkan segala sesuatu itu juga termasuk kekuatiran hidup kita. Seringkali kita mendengarkan kotbah mengenai kekuatiran dan bagaimana kita seharusnya tidak kuatir akan apapun juga. Memang benar bahwa seharusnya seorang Kristen jauh dari rasa kuatir. Hal itu dialami oleh karena Tuhan Yesus memberikan sebuah janji berikut:

Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? (Matius 6:26)

Artinya dari ayat ini adalah bahwasanya kita tidak perlu kuatir akan apapun juga yang akan kita hadapi. Kehidupan kita seharusnya bebas dari kekuatiran karena kuasa kebangkitan Allah menghancurkan segala hal yang membuat kita kuatir.

“Benar sih kak, aku sebenarnya nggak kuatir, toh aku sudah menyerahkan semuanya kepada Tuhan”

Benarkah ketika kita mengatakan kalimat di atas maka kita akan menyerahkan semuanya kepada Tuhan? Yakinkah bahwa segala problematika yang kita hadapi mau kita serahkan kepada Tuhan? Seringkali dengan cepat kita menjawab “MAU” tetapi pada realitasnya begitu berbeda. Apa yang kita lakukan sama sekali berbeda dengan apa yang kita ucapkan. Kita terus menerus menjalani hidup ini seakan tidak ada Allah.

Kita masih saja pusing terhadap hal remeh temeh yang seharusnya tidak perlu kita pikirkan. Kita justru memfokuskan pemikiran kita, energy kita kepada sesuatu yang sama sekali meaningless. Kita lupa bahwa fokus hidup kita adalah untuk kemuliaan Allah, namun justru hal-hal yang remeh itulah yang menjadi fokus hidup kita seolah Allah tidak ada!

Kebebasan kita dari kekuatiran adalah salah satu ciri dari seseorang yang mau menyerahkan segalanya. Penyerahan diri akan menghasilkan hidup yang menjadi berkat sekaligus tanpa sebuah beban. Kita bisa dengan bebas dan menikmati anugrah Tuhan, dan itulah yang Tuhan mau kita kerjakan.

Kesimpulan: Allah Yang Memegang Kendali
Kehidupan yang memuliakan Allah adalah kehidupan yang diserahkan kepada Allah. Hal itu meliputi segala aspek hidup: pekerjaan, pelayanan, pasangan hidup, dan sebagainya. Semua aspek hidup kita mau kita persembahkan kepada Raja di atas segala raja. Ketika kita menyerahkan hidup kita kepadaNya, damai sejahtera Kristus akan menaungi hidup kita sehingga kita dapat hidup dengan tenang dan tanpa rasa kuatir akan hari esok. Kesemuanya itu karena kita menyadari bahwa Allah yang memegang kendali.

Kalau kita kemudian kehilangan iman, cukup ingat bahwa manakala kita hidup sampai kita membaca tulisan ini, Allah telah menyertai perjalanan hidup kita. Kalau sedari lahir hingga saat ini Allah menyertai kita, bukankah penyertaan itu akan selalu ada sampai selama-lamanya, sampai saatnya kita bertemu muka dengan muka dengan Dia?


Soli Deo Gloria

Sunday, December 27, 2015

Christmas Reflection

Pendahuluan

Selamat Natal! Ucapan selamat itu menjadi sesuatu yang tidak asing lagi bagi telinga, khususnya ketika berkunjung ke sebuah gereja. Umat Kristiani merayakan Natal ini dengan penuh sukacita dan pengharapan akan kedatangan Juruselamat. Setidaknya Natal memiliki suatu makna yang begitu dalam yakni kelahiran Sang Juruselamat dalam rupa seorang hamba.

Ditengah hiruk pikuk persiapan Natal, setiap gereja mempersiapkan berbagai acara demi memaknai Natal ini dengan versi mereka. Ada yang berlomba-lomba untuk menampilkan acara yang keren, acara yang spektakuler dan megah dengan dana yang begitu besar, ada pula yang mencoba untuk menampilkan kesederhanaan dengan berbagai dekorasi dan acara yang difokuskan pada pihak lain di luar gereja.

Namun apa sebenarnya makna Natal sendiri bagi dunia ini?

Allah yang Mengambil Rupa Seorang Hamba

Berita Natal tidak dapat dipisahkan dari peristiwa kelahiran Yesus Kristus. Momen dimana Allah yang Mahakuasa merendahkan diriNya menjadi seorang manusia yang lemah – seorang bayi dan dilahirkan bukan dari keluarga raja, tetapi dari seorang tukang kayu dan seorang anak dara yang begitu muda. Pengharapan seperti apa yang ditawarkan dari Allah semacam ini?

Rupanya Allah ingin menunjukkan satu poin yang menjadi kunci selama Ia melayani di dunia ini: Kesederhanaan. Poin ini begitu mendarat di dalam diri Yesus. Kehidupan Yesus menunjukkan bahwa Ia adalah pribadi yang begitu sederhana. Ia tidak memilih untuk bergaul dengan kaum elite di dalam pelayananNya. Justru sebagian besar pelayanan Yesus adalah ditujukan bagi orang-orang yang tertindas.

Penebusan Bagi Dunia yang Rusak

Menarik untuk kita dapat pahami bersama bahwa Allah kita adalah Allah yang menebus keseluruhan hidup kita di dalam pribadi Yesus Kristus. Pesan Natal ini mengingatkan kita bahwa Yesus telah datang ke dunia ini dengan satu misi: penebusan bagi umat manusia yang percaya kepadaNya. Ini unik, karena hanya dalam Kekristenan (yang diberitakan melalui alkitab) Allah yang mengambil inisiatif penebusan dan jaminan keselamatan bagi kehidupan umat manusia.

Penebusan itu menjadi sebuah titik balik di dalam kehidupan manusia. Manusia berdosa yang pada awalnya bahkan tidak dapat menyadari bahwa dirinya berdosa, namun melalui penebusan itulah kehidupan seseorang diubahkan. Yang dulunya tidak pernah memaknai hidupnya, menjadi seseorang yang menyadari keberhargaan hidup yang diberikan Allah.

Berjaga-Jaga Menanti Kedatangan Sang Raja

Jam kehidupan, hanya diputar sekali. Demikianlah kehidupan manusia di dunia ini. Perlu disadari bahwa kehidupan manusia hanya sekali. Kesadaran bahwa kita hanya punya satu kesempatan untuk hidup dapat membawa kita ke dalam dua sikap: menyia-nyiakannya dengan bersenang-senang karena hidup cuman sekali, atau yang kedua adalah sikap dimana kita memanfaatkan setiap talenta dan anugrah yang Tuhan berikan.

Kesadaran bahwa setiap kesempatan, hari demi hari yang Tuhan sediakan, adalah kesempatan untuk memuliakan Tuhan adalah suatu sikap hidup yang bertanggung jawab. Fokus hidup untuk kita dapat mempersiapkan diri dalam rangka menyambut Sang Raja semesta alam adalah dengan belajar untuk setia atas kehendakNya di dalam hidup kita. Natal berarti kita mempersiapkan kedatangan Kristus yang kedua dengan memiliki kerinduan untuk memuliakan namaNya hari lepas hari.

Perubahan Besar

Perubahan besar di kehidupanku, sejak Yesus di hatiku… Demikianlah lirik sebuah lagu yang begitu sering kita dengar. Terlepas dimainkan saat momen Natal ataupun saat berbagai momen. Lirik lagu yang menuntut suatu komitmen dari kita untuk dapat berubah semenjak kita mengenal Tuhan Yesus sebagai Juruselamat.

Pengenalan akan Allah membuat kita menyadari bahwa pesan Natal tidak hanya berhenti pada sukacita ketika Allah sudah melaksanakan karya besarNya atas kehidupan kita. Justru makna Natal adalah manakala Allah yang turun ke dunia itu menjadi sebuah teladan bagi kita untuk merendahkan hati kita di hadapanNya. Menyadari bahwa setiap kesempatan, setiap hal yang ada di dalam diri kita tidaklah lebih dari karya Allah atas dunia ini. Kehidupan manusia sepenuhnya hanya bergantung pada anugrah itu.

Kesadaran Hati akan Pimpinan Allah

Apa yang mau dikejar manakala kita merayakan Natal di gereja dengan acara yang begitu spektakuler namun melupakan esensi Natal seperti yang disebutkan di atas? Acara yang penuh dengan ‘emptiness’ yang hanya menjadi ajang untuk show off kepada jemaat, sebagai bukti dari profesionalitas. Tetapi Allah juga mengijinkan acara-acara seperti itu mewarnai Natal di berbagai gereja.

Menyadari bahwa pelayanan sesungguhnya didasari atas sebuah kesadaran bahwa kita bukanlah orang-orang professional tetapi hamba akan membuat kita memiliki motivasi pelayanan yang jelas. Bukan berarti bahwa pelayanan kita tidak maksimal. Tetapi dengan kesadaran yang jelas akan hal tersebut maka kita bisa all out dan bebas mengekspresikan anugrah Allah dalam kehidupan kita. Tidak ada rasa malu ataupun takut salah, dengan kesadaran bahwa segala pujian yang mau kita sampaikan, semuanya akan kita kembalikan bagi kemuliaanNya.

Memaknai Natal seharusnya menjadi agenda kita setiap hari, dimana kita belajar untuk terus berjaga-jaga sembari menantikan kedatanganNya yang kedua, menyadari akan penebusan Allah yang mengubahkan kehidupan kita menjadi hidup yang bermakna.

Menikmati Hari-Hari BersamaNya

Akhir kata, Natal juga bicara mengenai bagaimana relasi kita dengan Kristus sendiri. Seberapa jauh kita menyadari akan penyertaan Allah atas hidup kita selama kita hidup? Kelahiran Kristus akan membuat kita memiliki komitmen untuk terus hidup seturut dengan kehendakNya, dengan kesadaran penuh bahwa kita ini adalah umat kepunyaanNya, dan Ia tidak akan pernah meninggalkan kita.

Sangat naïf ketika kita berkata bahwa “acara ini berhasil dan spektakuler karena saya”, karena kita ini hanya hamba yang tidak berguna – demikian kata Paulus. Mengakui bahwa kita adalah hamba-hamba yang tidak berguna membuat kita dapat bergantung sepenuhnya kepada Allah. Berjalan bersamaNya di dalam keseharian hidup kita, menikmati FirmanNya di dalam alkitab dan terus belajar untuk mengetahui rencanaNya atas kehidupan kita. Itulah kehidupan yang bermakna yang Tuhan janjikan bagi setiap kita yang mau belajar memuji dan memuliakan Dia.

Penutup

Natal berbicara mengenai penyerahan hidup. Pdt. Benny Solihin dengan begitu tegas memberikan sebuah kalimat yang begitu dalam: “Natal adalah pertukaran hadiah antara Allah dan manusia: Allah memberikan anakNya yang tunggal kepada kita; kita memberikan dosa kita kepadaNya.”

Kiranya refleksi ini terus mengingatkan kita bahwa kita yang sudah menerima anugrah terbesar itu di dalam hidup kita, sebagai hamba yang tidak berguna kita diminta untuk belajar memberikan yang terbaik sesuai dengan kemampuan yang sudah Allah berikan. Belajar untuk mengingat terus konsep anugrah Allah atas kehidupan kita. Kurang lebih 2000 tahun yang lalu Allah sudah melakukan karya itu, dan hari ini pun penyertaanNya akan selalu ada atas hidup kita. Pertanyaannya: maukah kita terus belajar hidup di dalam konteks anugrah itu, berjaga dan melakukan yang terbaik sampai kedatanganNya yang kedua sebagai Raja?


Soli Deo Gloria!

Monday, December 7, 2015

Pudarnya Kebenaran -- Sebuah Refleksi

Pendahuluan
Menarik untuk membaca headline akhir-akhir ini, dimana ada satu nama yang mencuat di permukaan publik. Seorang pribadi yang penuh kontroversi, dengan berbagai keunikan yang ada di dalam dirinya. Tak ayal media mulai mengejar dia, menjadikan dia sebagai pusat perhatian. Tak sedikit pula orang-orang disekitarnya mulai “panas”. Siapakah dia? Dia adalah Setya Novanto, ketua DPR Republik Indonesia.

Menarik kalau diperhatikan bahwa ditengah polemik dan kontroversi, muncul pula orang-orang yang mau berjuang mempertahankan kebenaran di negeri ini. Setidaknya saat ini kita bisa melihat perjuangan orang-orang yang anti korupsi, orang-orang yang mau belajar untuk hidup di dalam suatu integritas. Apakah berarti orang-orang tersebut sempurna? Ternyata tidak juga. Tetapi mereka menyadari bahwa kebenaran selalu menemukan jalannya, dan tak lupa pula: ada risiko yang harus diambil manakala sedang memperjuangkan kebenaran.

Siapakah orang-orang dari paragraf kedua ini? Sebut saja (sampai saat ini) Sudirman Said, menteri ESDM RI, kemudian kita bisa melihat orang-orang yang berani untuk menyuarakan kebenaran di tengah ancaman dan berbagai problematika yang membuat mereka bisa saja kehilangan nyawanya untuk membela kepentingan orang banyak. Ada pula orang-orang yang disebut “orang gila” seperti Basuki T.P yang lebih terkenal dengan nama Ahok, yang mau mengubah wajah Indonesia, khususnya Jakarta, menjadi sebuah kota yang jauh lebih baik. Tidak lupa pula ada walikota-walikota yang kita tahu seperti Tri Rismaharini, dan juga Ridwan Kamil yang menjadi orang-orang yang sedang naik daun karena mereka belajar untuk mempertahankan integritas mereka

Money Talks!
Tak bisa dipungkiri bahwa kondisi negeri yang sedang hancur ini (setidaknya menurut sebagian besar orang) membuat kita menjadi pribadi-pribadi yang berpikir praktis. Boro-boro kita berbuat sesuatu yang benar, yang penting aman lah. Pokoknya sudah dapat bagian ya sudah, diam saja. Daripada keamanan keluarga jadi taruhan, nyawa sendiri terancam, lebih baik tetap diam dan menutup mulut.

Kondisi ini pula yang dialami oleh banyak tokoh yang ada di dalam alkitab. Sebut saja nabi-nabi seperti Yeremia, Yesaya, Yohanes Pembaptis, mereka hidup di dalam kondisi seperti ini. Hidup diantara bangsa yang tegar tengkuk. Hidup di antara penguasa yang kuat, yang memiliki kuasa yang jauh lebih besar dibandingkan dengan mereka. Menariknya kabar yang mereka bawa adalah suatu kebenaran yang justru tidak nyaman untuk didengar.

Jaman ini dikuasai oleh segelintir penguasa. Siapa yang punya uang, ialah yang berkuasa. Uang menjadi suatu hal yang bahkan dapat membeli kebenaran itu sendiri. Pokoknya kalau ada duit, semua urusan beres! Akhirnya orang-orang berlomba-lomba untuk mencari kuasa itu.

Expensive Truth
Kebenaran menjadi sesuatu yang begitu mahal pada jaman ini. Kebenaran itu bisa diputarbalikkan dengan berbagai cara. Hari ini menjadi seorang tersangka, karena punya duit bisa saja besok sudah bebas. Begitu pula sebaliknya, yang tidak punya duit akan menjadi orang-orang yang menjadi bulan-bulanan penguasa.

Yohanes Pembaptis mengalami hal ini. Bermaksud baik untuk menasihati Herodes karena merebut istri saudaranya, eh dia harus membayarnya dengan kehilangan kepalanya di tangan Herodes. Kebenaran menjadi sesuatu yang begitu bernilai.

Inilah realitas yang kita hadapi. Hidup di jaman dimana segala sesuatunya bisa dibeli. Orangpun bisa dibeli untuk bersaksi dusta. Kita pun bisa terjebak di dalam satu kondisi dimana kita menjadi orang-orang yang pada akhirnya melakukan hal tersebut. Hal yang paling sederhana adalah kita ‘nembak SIM’, ataupun ketika di tengah jalan kita ditangkap dan menyuap polisi. Ada banyak sekali cara untuk kita dapat ‘menutupi’ kesalahan kita.

A Hope?
Kalau ditengah realitas seperti ini, apa yang harus kita perbuat? Masih relevankah tugas kenabian kita? Peran kita sebagai orang-orang yang takut akan Tuhan seperti apa? Akankah kita larut di dalam kondisi jaman seperti ini, ataukah kita belajar punya suatu pegangan lain?

Bukan suatu hal yang mudah ketika kita ada di dalam posisi Sudirman Said misalkan. Kita akan diperhadapkan pada berbagai tantangan dan ancaman yang akan mengancam keberlangsungan hidup kita. Mungkin bukan hanya kita, tetapi juga orang-orang di sekitar kita. Orang-orang yang kita sayangi, yang mengenal kita. Sangat sulit bagi kita untuk mengambil suatu pilihan yang nantinya akan sangat merugikan kita.

Tetapi menarik disini bahwa kita perlu yakin dan percaya atas kedaulatan dan kebenaran Allah. Ketika Allah memberikan anugrah atas kehidupan kita, tugas kita tidak lain tidak bukan adalah bersaksi.  Bersaksi dan bersaksi, bukan hal yang mudah di tengah realitas dunia seperti ini. Ketika dunia berteriak untuk menenggelamkan kebenaran, kita sebagai orang percaya diberikan tanggung jawab untuk mengungkapkan kebenaran itu.

Ada pengharapan, setidaknya kita bisa memulai dari hal yang terkecil, tanpa melupakan hal-hal besar yang Allah percayakan di dalam kehidupan kita. Tidak perlu menjadi Yohanes Pembaptis, ataupun menjadi seperti Sudirman Said. Cukup menjadi pribadi anda yang mau belajar untuk memuliakan Allah. Maka Allah akan memberikan kekuatan dan berbagai tantangan untuk kita hadapi, tetapi di dalam tantangan itu ada damai sejahtera kepada orang-orang yang mau bersandar teguh pada kasih setiaNya.

Mari belajar menjadi agen perubahan bagi dunia sekitar kita!

Soli Deo Gloria

Sunday, November 1, 2015

Menapaki Hari Bersama Kristus

Pendahuluan

Sebagai orang Kristen ada satu pertanyaan yang harus kita jawab manakala kita mengakui bahwa Kristus sudah menyelamatkan kita. Apakah itu? Pertanyaan itu adalah “so what?”. Maksudnya adalah ketika kita sudah mengakui bahwa Kristus adalah satu-satunya juruselamat, lalu apa? Hal ini menjadi terus relevan manakala kita melihat bahwa di tengah realitas dunia ini, kita tidak jarang untuk lost contact dengan Allah. Relasi kita dengan Allah menjadi sebuah relasi yang jauh, sama sekali tidak terkoneksi

Keagungan Karya Salib

Perenungan ini juga relevan ketika kita mencoba mencari jawaban atas pertanyaan “mengapa aku diselamatkan oleh darah Kristus”. Ada begitu banyak hal yang bisa menjadi jawaban atas pertanyaan ini. Misalkan: kita diselamatkan agar kita dapat melayani Allah. Benarkah? Kalau kita renungkan, siapa sih diri kita ketika kita berani mengatakan bahwa kita adalah pelayanNya? Bandingkan hidup kita dengan Paulus, Daud, Musa, Yeremia dan lain-lain. Refleksikan saja bagaimana hidup kita dibandingkan dengan hidup mereka. Masihkah kita berani menyatakan bahwa kita diselamatkan untuk melayani Dia?

Ada juga yang mengatakan agar kita bisa menjadi orang-orang yang terlibat penginjilan yang efektif. Kita punya tugas penginjilan. Tetapi kalau kita lihat realitasnya, kurang efektif apa sih Allah ketika Dia mengerjakan penginjilan? Bukankah lebih mudah bagi Allah untuk kemudian menampakkan diriNya di depan orang-orang yang tidak percaya dan kemudian mereka bertobat?

Kekristenan Adalah Relasi

Pemulihan relasi kita dengan Allah adalah satu-satunya alasan utama manakala kita menyadari bahwa hidup kita adalah hidup yang kotor. Kita perlu sadar bahwa tidak ada hal yang mungkin kita kerjakan tanpa keagungan karya salib atas kehidupan kita. Kita perlu sadar bahwa tanpa adanya pendamaian dengan Allah melalui Kristus, kita akan terjebak pada hidup keagamaan yang penuh dengan ritual-ritual.

Kalau kita lihat sepanjang kitab Imamat, kita bisa melihat betapa rumitnya saat seseorang ingin bertemu dengan Allah. Ada berbagai macam korban yang intinya satu: untuk menebus sesuatu. Ketika seseorang penuh dengan dosa, Ia tidak boleh / tidak memiliki akses untuk dapat datang berdoa dan memohon kepada Allah. Bukankah ini adalah satu hal yang begitu mengerikan? Ada banyak hal yang harus dilakukan untuk kita dapat punya akses kepadaNya.

Ironisnya hal ini membuat kita menjadi pribadi yang sama sekali berbeda dengan kemauan orang-orang jaman dahulu. Kalau kita bandingkan bagaimana niatan orang-orang jaman Perjanjian Lama, untuk mereka dapat datang ke Yerusalem pun adalah sesuatu yang begitu berat. Saat itu belum ada Go-Jek, belum ada taksi. Kalau seseorang cukup kaya, dia akan naik unta. Kalau tidak? Ya tentu saja dia harus berjalan kaki. Apalagi mereka harus membawa korban persembahan. Korban persembahan itupun juga tidak boleh cacat, artinya ini adalah suatu aturan yang sangat berat.

Menarik bahwa kalau kita melihat realitas jaman ini. Kalau acara di gereja tidak menarik ya tidak akan datang. “Eh, yang kotbah Pdt. X, pasti bikin ngantuk, kita ke gereja lain deh.” “kalau ke gereja itu ada makanannya lho!”,”nanti aja kalau mau nikah, aku akan rajin ke gereja”. Kalimat-kalimat inilah yang mewarnai kehidupan jaman ini. Jaman dimana anak-anak muda punya kehidupan yang jauh lebih mudah dibandingkan dengan masa lalu. Jaman dimana semua hal tersedia untuk kita dapat datang beribadah kepadaNya, tetapi ironisnya justru ada satu hal yang tidak dipunyai. Apa itu? Relasi yang intim dengan Allah.

Pemulihan relasi itulah yang dikerjakan oleh Kristus di atas kayu salib. Relasi dimana sebelum korban Kristus, manusia memiliki jarak yang begitu jauh dengan Allah, berbeda dengan ketika karya penebusan itu sudah dilakukan oleh Kristus. Kita tidak perlu lagi mempersiapkan korban pengganti bagi dosa-dosa kita. Kristus telah membayar segalanya.

Sikap Hidup Orang Percaya

Kesadaran kita akan keintiman relasi dengan Allah membuat kita menjadi pribadi yang berbeda. Analoginya adalah ketika kita memiliki seorang kekasih. Bisa dibayangkan ketika kita berjalan dengan kekasih kita, mungkin sikap kita akan begitu berbeda dibandingkan kita berjalan bersama anggota geng kita. Sikap kita akan menjadi pribadi yang lebih “manis”. Kalau kita menyadari bahwa Allah itu selalu ada bersama kita, dan kita adalah kekasih hatiNya, bukankah kita juga akan selalu memiliki perbedaan sikap dan pandangan?

Kesadaran inilah yang perlu dimiliki oleh orang percaya. Kesadaran bahwa kita tidak ditebus dengan darah yang murahan. Kesadaran bahwa kita sudah ditebus. Ini seharusnya menjadi suatu titik balik dimana kita akan punya sebuah kerinduan untuk dapat memiliki suatu relasi vertikal dan horizontal yang baik. Itulah yang dinyatakan Yesus manakala diberikan pertanyaan mengenai hukum terutama: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

Arti dari hukum ini begitu clear, bahwa perubahan yang paling nyata adalah masalah bagaimana kita bisa memaknai kehidupan yang sudah Allah berikan. Ayat ini mengajak kita untuk punya sebuah persekutuan yang erat dengan Allah sekaligus juga persekutuan dengan sesama kita.

Implikasinya adalah ketika kita akan ke gereja, motivasi utama kita apa sih? Apakah karena di gereja ada cowok yang cakep, atau cewek yang cantik? Ataukah kita punya sebuah kerinduan untuk datang kepada Kristus, mengakui dan mensyukuri setiap anugrahNya atas kehidupan kita? Perubahan hidup inilah yang seharusnya membuat kita menjadi seseorang yang tidak perlu dipaksa untuk kita bisa pergi ke gereja. Kita tidak perlu dipaksa untuk melayani, karena kita tahu bahwa segala yang kita punya adalah milik Allah.

Kesimpulan

Ketika Allah sudah memberikan segalanya atas kehidupan kita, pertanyaannya adalah bagaimana kita menyikapi pemberian Allah itu? Apakah kita punya satu kerinduan kepada Allah sama seperti kerinduanNya untuk kita dapat datang kepadaNya? Apakah kita sudah mencintai Allah sama seperti Allah sudah mencintai kita?

Biarlah kita belajar dari hari ke hari punya relasi yang semakin intim kepadaNya, sehingga kita tahu bahwa ada satu tujuan yang Tuhan ingin kita kerjakan untuk kemuliaanNya.


Soli Deo Gloria

Sunday, September 13, 2015

Kaya Dalam Kasih Karunia

Apa bayangan saudara ketika mendengar mengenai kekayaan? Seperti apa sih sebenarnya kaya itu? Apakah ketika kita bisa memiliki segalanya di dalam hidup ini? Kita punya banyak simpanan deposito, simpanan rumah, simpanan istri (uuppss), dan berbagai simpanan, begitukah yang disebut kaya? Ataukah mungkin bukan berlimpah harta, tapi berlimpah kedudukan. Misalkan kita menjadi presiden dari sebuah negara yang adikuasa, maka kita adalah orang yang kaya?

Redefinisi Kekayaan
Perenungan ini coba kita mulai dengan membaca surat dari Paulus kepada jemaat Korintus, di dalam 2 Korintus 8:1-9. Selagi kita membukanya, mari kita tahu dulu latar belakang jemaat Korintus. Korintus adalah sebuah kota metropolitan di jaman itu, dan kita bisa membayangkan betapa jemaat di dalamnya bukanlah jemaat yang bermasalah tentang keuangan.

Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.
(2Korintus 8:1-2)

Secara jelas Paulus mencoba memberitahu jemaat Korintus mengenai keadaan jemaat Makedonia pada saat itu. Jemaat Makedonia “dicobai dalam pelbagai penderitaan”. Artinya bahwa mereka bukanlah sebuah jemaat yang kaya secara dunia. Kalau menurut definisi di awal artikel ini, jelaslah bahwa jemaat Makedonia bukanlah jemaat yang seperti itu.

Tetapi menarik apa yang dikatakan Paulus kalau kita renungkan. Kita melihat Paulus berkata: “mereka kaya dalam kemurahan”. Apa maksudnya? Bahwasanya kekayaan yang disebutkan Paulus adalah kekayaan dimana justru di dalam kekurangan kita, kita bisa memberikan yang terbaik. Mereka memberi di dalam kemurahan mereka, dan itulah yang Tuhan kehendaki untuk kita kerjakan. Itulah mengapa ketika di dalam perumpamaan tentang janda miskin yang memberikan sepeser uang persembahan, itulah yang berkenan di hadapan Allah.

Bagaimana kita menanggapi hal ini? Kita kembali merenungkan seperti apa sikap kita ketika kita menghadapi berbagai pergumulan di dalam hidup kita. Bukan melulu masalah uang, tetapi ketika kita sedang galau, pertanda yang sering menjadi perhatian adalah kita menjadi orang yang berfokus pada diri sendiri. Sedangkan kita melihat jemaat Makedonia, kita bisa melihat apa yang menjadi fokus hidup mereka bukanlah diri mereka, tetapi kepada orang lain.

Beroleh Kasih Karunia dalam Pelayanan

Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.
(2Korintus 8:3-5)

Paulus melanjutkan suratnya dengan sebuah kesaksian yang begitu menarik. Dikatakan disini bahwa jemaat Makedonia meminta dan mendesak kami (Paulus dan rekan-rekannya) untuk jemaat tersebut dapat melibatkan diri di dalam pelayanan. Bayangkan ketika anda berniat meminta proposal kepada seseorang yang kaya, tetapi ditolak, dan kemudian anda melihat seorang yang biasa-biasa saja tiba-tiba menghampiri anda dan memberikan anda sejumlah uang untuk membantu anda. Demikianlah kehidupan jemaat Makedonia yang diberikan berkat. Mereka memaknai bahwa setiap hal yang sudah Allah sediakan bukanlah untuk mereka nikmati sendiri tetapi dapat menjadi suatu berkat bagi kemuliaanNya.

Manakala merenungkan hal ini, kita diajak untuk memaknai kembali berbagai berkat yang sudah Tuhan berikan di dalm kehidupan kita. Begini lho, rumusNya itu bukan hanya berhenti bahwa ketika kita diberikan sesuatu maka sesuatu itu akan menjadi milik kita. Eits tunggu dulu! Ketika Allah memberikan sesuatu berkat, Allah meminta kita untuk dapat melakukan yang terbaik dari pemberianNya itu.

Bukankah itu yang sering kita lupakan? Kita memohon dan berdoa agar kita diberikan banyak uang tetapi ternyata uang itu kita nikmati sendiri. Kita berdoa agar mendapatkan seorang pacar yang cantik tetapi jadi malas untuk melayani. Kita diberikan berbagai fasilitas oleh Allah di dalam gereja kita tetapi kita tidak mau belajar untuk memaksimalkan setiap pemberian itu. Bukankah hal itu sesuatu yang manusiawi? Benar sih manusiawi, tetapi bukankah itu menjadikan kita sama seperti dunia?

Jemaat Makedonia tahu betul bahwa mereka punya sebuah misi untuk mereka jalani. Disebutkan bahwa mereka “memberikan diri pertama kepada Allah, kemudian kepada kami (Paulus dan rombongannya)”. Dasar dari pelayanan mereka adalah “memberikan diri pertama kepada Allah”, artinya bahwa mereka menyadari bahwa inti dari pelayanan yang mereka kerjakan adalah agar nama Tuhan yang dimuliakan. Tidak berhenti sampai disitu, ada tindakan konkrit yang mereka kerjakan untuk memuliakan Tuhan.

Pelayanan Penuh

Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya. Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, --dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami--demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.
(2Korintus 8:6-7)

Kalau kita baca ayat ini, sebenarnya ini adalah penegasan kembali bagaimana peran jemaat di Makedonia. Kemudian juga disini Paulus menyebutkan bahwa kekayaan kasih itu berasal dari pelayanan yang dikerjakan oleh mereka. Apakah berhenti sampai janji semata? Ternyata tidak. Kita sering sekali membayangkan kalau kita punya banyak uang baru kita mau menyumbang. Kita menunggu punya pekerjaan yang mapan dulu baru kita akan mentraktir. Kita menunggu dapat rejeki dalam jumlah besar baru kita mau memberikan sesuatu.

Apakah itu yang dilakukan jemaat Makedonia? Kita perlu mengingat kembali bahwa kekayaan  itu bukanlah masalah berapa banyak yang kita dapatkan, melainkan kekayaan itu kita rasakan manakala kita merasa cukup atas segala hal yang kita miliki dan kita kerjakan. Tidak berhenti sampai disana. Ketika kita bisa memberikan segala sesuatu, dan kita mengusahakan segala sesuatu untuk memenuhi kebutuhan orang lain, disitulah kita menjadi seseorang yang benar-benar kaya.

Dasar Kekayaan Adalah Teladan Kristus

Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu. Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.
(2Korintus 8:8-9)

Salah satu hal yang paling menarik di dalam pemahaman iman Kristen adalah kita memiliki Allah yang memberikan segalanya sekaligus juga memberikan teladan atas kehidupan kita. Ia tidak sekedar memerintahkan kita melakukan segala sesuatu, tetapi Ia adalah Allah yang solider, yang merasakan juga bagaimana kehidupan sebagai seorang manusia melalui Yesus Kristus.

Menarik disebutkan Paulus disini bahwa jemaat bukan diminta untuk “tahu” mengenai Tuhan Yesus, tetapi kata yang digunakan disini adalah “MENGENAL”. Ilustrasinya seperti ini. Ketika anda memiliki seorang kekasih, anda bukan hanya tahu bahwa dia adalah seseorang yang cantik. Tentu saja anda harus mengenalnya bukan? Hal-hal apa yang ia suka, hal yang tidak ia suka, karakternya seperti apa, dan seterusnya.

Sama juga dengan iman Kristen. Kita tidak sekadar di indoktrinasi di dalam iman kita. Kita bukan hanya membaca alkitab dan tahu isi alkitab tetapi tidak melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Iman Kristen adalah iman yang hidup, yang seharusnya melalui teladan Yesus Kristus kita bisa melakukan tindakan kita sehari-hari seperti yang Ia kerjakan selama ada di dunia.

Ayat ini menyebutkan, bahwa Yesus yang kaya telah menjadi miskin. Paulus mengacu kepada pemahaman bahwa Allah yang mahabesar justru rela turun ke dunia untuk menjadi sama seperti manusia. Allah yang maha tinggi justru menjadi pribadi yang begitu hina sampai kematianNya pun merupakan salah satu penghinaan terbesar. Tetapi justru melalui kematian Kristus itulah keunikan iman Kristen dinyatakan. KebangkitanNya membawa suatu pengharapan, dan dari kehidupanNya selama 3 tahun pelayananNya kita boleh belajar banyak hal bahwa melayani Tuhan itu tidak berhenti di dalam pemahaman saja, tetapi pengenalan pribadi, keintiman pribadi denganNya.

Oleh karena kemiskinanNya, di dalam anugrah terbesar yang sudah Ia kerjakan di dalam kehidupan kita, kita menjadi pribadi yang mampu mengerjakan yang terbaik bagi orang di sekitar kita. Kasih Karunia Tuhan adalah sesuatu yang jauh lebih cukup yang menjadi dasar kita untuk melayani orang lain di sekitar kita. Ketika tindakan kita sehari-hari memaknai karya Kristus, maka orang lain akan merasakan sebuah dampak, sebuah perbedaan bahwa kita telah menjadi anggur yang tercurah bagi kemuliaanNya. Siapkah kita memancarkan manisnya kasih Kristus, anugrah yang tidak terbatas itu?


Soli Deo Gloria!

Sunday, September 6, 2015

Allah Yang Setia

Duduk diam dan merenungkan betapa indahnya kasih Allah merupakan satu hal yang begitu sulit aku lakukan saat aku berada di bangku SMA. Betapa tidak, ada begitu banyak alasan untuk aku mengeluh atas hidupku. Begitu banyak hal yang aku rasakan merupakan “penghukuman Allah” di tengah-tengah kehidupan ini. Sekalipun aku lahir di dalam keluarga Kristen, tetapi tetap saja ada perasaan dimana aku adalah pribadi yang “terbuang”.

Ketika aku mengingat masa-masa itu, aku menjadi sedih, sekaligus bersyukur atas setiap proses yang aku alami. Proses hidup itulah yang saat ini aku renungkan merupakan suatu proses yang penuh dengan pertanyaan sekaligus tuntunan Tuhan yang begitu luar biasa. Betapa tidak, kalau saat ini aku boleh ikut melayani Tuhan, aku boleh tergabung di dalam vocal group, aku boleh punya pekerjaan, aku bisa makan setiap hari, aku bisa mentraktir teman-temanku, bukankah itu merupakan anugrah yang harus syukuri di dalam hidup ini? Aku merenungkan itu merupakan hal yang begitu indah yang Tuhan berikan. Tetapi satu hal yang terutama! Apa itu? Melalui perjalanan hidupku aku memiliki satu kesimpulan yang jelas mengenai Allah.

“Allah itu adalah Allah yang setia”

Betapa ketika menyimpulkan kalimat itu untuk pertama kalinya, aku tercengang dan takjub betapa keindahan kasih karunia Allah dalam hidupku adalah hal terindah yang Tuhan berikan. Apakah itu? Pengenalanku akan pribadiNya. Bagaimana Ia menunjukkan kepadaku betapa besarnya kasihNya, betapa dalamnya anugrahNya, betapa indah jalan hidup yang Ia berikan, semuanya terangkai indah di dalam kehidupanku.

Kesetiaan Yang Teruji Kondisi
Kalau anda sudah punya seorang pacar atau kekasih, apalagi yang sedang LDR-an (seperti saya.. hehehe) pasti pernah merasakan betapa kita ingin bertemu sang kekasih, sekedar untuk menyapa, melihat wajahnya, bertatapan mata ke mata, merasakan dan menikmati kisah cinta setelah sekian lama tak jumpa. Bukannya curcol nih, tapi memang begitulah keadaan ketika kita sedang menjalani hubungan LDR.

Orang bilang ketika menjalani LDR, hubungan akan menjadi rawan sekali. Ada satu komitmen yang tegas dan jelas yang harus dipegang antara kedua belah pihak. Menariknya lagi ketika LDR, mau berapapun duit yang kita keluarkan untuk ketemu, kita selalu mengusahakannya. Kita selalu berusaha untuk bertemu dan saling bercengkerama, saling bercerita, saling berbagi, dan saling berkomunikasi.

Nah begitu pula ketika kita berhubungan dengan Allah kita. Hubungan dengan Allah nggak perlu duit, cuman punya lutut pun kita bisa bertemu. Uniknya lagi kalau pacar kita terkadang lagi nggak mood saat diajak bicara, dia bisa malah ngambek. Berbeda dengan Allah kita. Ketika kita banyak curcol, banyak protes, dan kita belajar untuk jujur terhadap perasaan kita kepada Allah, maka Ia akan dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan kita. Ia selalu siap sedia di dalam kondisi apapun.

Bener juga sih. Pertanyaan yang harus kita renungkan adalah: ketika Allah sudah setia di dalam Dia menyediakan begitu banyak tuntunan dan berkat di dalam kehidupan kita, bisa nggak kita belajar untuk menyediakan diri kita di hadapanNya? Maukah kita datang saat ini dengan sebuah ungkapan syukur bahwa Ia adalah pribadi yang begitu setia dan adil, pribadi yang menyambut kita dengan sabar, pribadi yang mendengarkan setiap keluhan kita, Dia tidak pernah bosan untuk itu.

Kesetiaan Yang Tak Pernah Lupa
“Janji yang manis, kau tak kulupakan, tak terombang ambing lagi jiwaku…” sebuah lagu hymn yang sering banget dinyanyikan, berjudul Janji Yang Manis. Saya merenungkan kalimat-kalimat di dalam lagu itu.

Pernahkah kita berhutang sesuatu kepada seseorang? Ketika kita berhutang, kita punya dua sikap, apakah kita akan bersikeras melunasinya, atau berharap bahwa orang tersebut akan melupakan bahwa kita pernah berhutang kepadanya. Itu kalau hutang, kalau kita yang ternyata memberikan pinjaman sesuatu kepada orang lain? Kita selalu berharap bahwa orang tersebut tanpa ditagihpun akhirnya akan mengembalikannya (apalagi kalau ada bunganya! J)

Contoh lain: buat teman-teman nih, kira-kira pasti ingat donk ulang tahun dari pacarnya. Bagaimana kalau kita sampai melupakan tanggal tersebut? Wah bahaya! Begitu juga kalau misalnya pacar kita melupakan tanggal ulang tahun kita. Kira-kira gimana perasaan temen-temen?

Kalau kekasih kita saja begitu punya hasrat dan ingatan untuk terus mengingat kita, bahkan sesuatu yang kadang kurang bermakna, bagaimana dengan Allah yang menciptakan kita, yang janjiNya sudah begitu teruji? Ia tidak pernah melupakan setiap detil yang kita kerjakan di dalam hidup kita. KesetiaanNya adalah kesetiaan yang kekal, yang tak pernah sekalipun Ia melupakan setiap hal yang kita kerjakan.

Menarik untuk kita renungkan, kapan terakhir kali kita mengingat Allah? Apakah itu saat kita mendapatkan begitu banyak berkat? Ataukah justru saat kita merasa begitu banyak hal yang tidak dapat kita tangani sendiri sebagai manusia barulah kita menghadap kepadaNya? Yuk kita jujur mengintrospeksi pribadi kita masing-masing, apakah dalam hidup kita justru kita lupa untuk bersyukur tetapi selalu ingat kalau kita protes kepadaNya? Seberapa tingkat syukur kita manakala kita masih diijinkan untuk datang kepadaNya secara langsung di dalam doa-doa kita?

KisahNya Atas Hidup Kita
Saat ini saya mengajak setiap kita untuk dapat merenungkan betapa Allah kita adalah Allah yang menyusun kisah hidup kita. Renungkan bahwasanya ketika sampai saat ini kita bisa hidup, bukankah semuanya itu hanyalah karena kemurahan kasih Allah?

Aku merenungkan di dalam kisah hidupku. Lahir di keluarga yang sederhana, dengan tingkat kedisiplinan orang tua yang begitu tinggi. Aku lahir dengan kondisi tidak sempurna di dalam kehidupanku. Aku punya kecacatan di tanganku yang membuat aku minder sampai aku SMA, bahkan sampai kuliahpun aku takut ketika aku harus bertemu dengan seorang wanita. Aku tidak punya prestasi yang begitu “wah”, dan aku bukanlah pribadi yang berani untuk ngomong di depan umum.

Sampai suatu kali aku diperkenalkan kepada Pribadi yang agung itu. Pribadi yang menebus dosaku, Pribadi yang tidak pernah meninggalkan aku, yang selalu menuntun aku dalam menjalani kehidupan ini. Pribadi itulah yang membuat aku sadar betapa kehidupan ini kalau aku jalani sendiri maka aku bisa kelelahan di dalam menjalaninya.

Kisah itu berlanjut dengan aku berhasil menyelesaikan studi S1ku dengan begitu banyak hal di dalamnya. Sahabat-sahabat yang baru, pelayanan di gereja, dan begitu banyak tanggung jawab yang Tuhan mulai berikan. Bagaimana dengan pasangan hidup? Oh Tuhan memberikan sepaket, dan itu yang Tuhan berikan ketika aku studi S2. Namanya adalah Jessica, seseorang yang Tuhan ijinkan untuk hadir di dalam kehidupanku, yang mana aku bergumul bersamanya tentang hubungan kami selama 14 bulan hingga akhirnya kami menjalani relasi LDR.
Apakah hanya sampai disitu?

Kalau selama aku hidup, ketika aku belum mengenal Dia, Ia sudah memberikan begitu banyak tuntunan, Ia begitu setia menantikan kehadiranku, bukankah Ia adalah Allah yang setia. Ia adalah Allah dari teman-teman juga. Allah yang juga menantikan teman-teman untuk mau belajar menyerahkan segalanya kepadaNya. Kekecewaan, beban hidup, pengalaman tersakiti, kekurangan, ataupun sebaliknya. Sukacita, damai sejahtera, itulah yang mau Tuhan sediakan di dalam kehidupan kita.

Kalau selama 25 tahun ini Tuhan sudah memberikan tuntunanNya, maka sampai kapanpun Ia akan menyusun dan menuliskan kisah itu. Andreas yang saat ini sedang bekerja di Bogor, yang sedang menjalani relasinya dengan Jessica, dan seterusnya. Ia terus menerus menuliskan kisah kesetiaanNya di dalam hidup kita. Kita mau tidak untuk melangkah bersamaNya? Ketenangan hidup yang Ia janjikan bukan hanya untuk 25 tahun. Sampai seterusnya mari kita belajar untuk tenang, menikmati kesetiaan kuasa kasihNya, dan terus belajar untuk berjalan di dalam trackNya.

Satu lagu untuk menutup perenungan ini. Sebuah lagu yang menyatakan betapa agungnya kasih Kristus, betapa Ia adalah pribadi yang setia, dan kita pun ingin belajar memaknainya atas hidup kita.

TENANGLAH KINI HATIKU

TENANGLAH KINI HATIKU
TUHAN MEMIMPIN LANGKAHKU
DI TIAP SAAT DAN KERJA
TETAP ‘KU RASA TANGAN-NYA

REFF:
TUHANLAH YANG MEMBIMBINGKU
TANGANKU DIPEGANG TEGUH
HATIKU BERSERAH PENUH
TANGANKU DIPEGANG TEGUH

TAK KUSESALKAN HIDUPKU
BETAPA JUGA NASIBKU
SEBAB ENGKAU TETAP DEKAT
TANGAN-MU ‘KU PEGANG ERAT

‘PABILA TAMAT TUGASKU
KAU B’RIKAN KEMENANGAN-MU
TAK KUTAKUTI MAUT SERAM
SEBAB TANGANKU KAU GENGGAM