Total Pageviews

Monday, October 28, 2013

Esensi dari “Memuliakan Tuhan dan Menikmati Dia Sepanjang Waktu”

Sangat sering kita mendengar tentang kalimat di atas, yakni tujuan hidup manusia adalah Memuliakan Tuhan dan menikmati Dia sepanjang waktu. Tepat sekali, kalimat itu adalah pertanyaan pertama serta jawabannya dari Katekismus Singkat Westminster. Sebelum saya mengetahui kalimat ini, saya mengetahui bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah. Artinya bahwa Allah sangat gembira melihat kita menjadi pribadi yang sengsara.

Mungkin itulah yang dirasakan oleh sahabat-sahabat kita dari keyakinan seberang. Menyiksa diri demi memuaskan Allah dan tidak pernah yakin akan nasib mereka di hari depan. Manakala ditanya, kemana tujuan mereka setelah mereka mati, jawabannya adalah “SEMOGA”. Bukankah kita sebagai orang Kristen perlu menangis ketika melihat realitas ini? Apakah kita sebagai orang Kristen – yang sudah mendapatkan jaminan keselamatan – tidak memiliki kerinduan tertentu terhadap sahabat-sahabat kita ini?

Bahwasanya ketika memuliakan Tuhan, kita juga menikmati Dia. Poin “menikmati Dia” mungkin merupakan salah satu hal yang sering kita sangsikan. Hal ini tak lain disebabkan karena terkadang kita berpikiran bahwa ketika ada hal buruk menimpa kita, dan Allah berdaulat, bagaimana mungkin kita bisa menikmati Dia? Seperti apa sih sebenarnya menikmati Dia? Justru di dalam banyak hal, kita seringkali gagal menikmati Allah – apalagi kalau kondisinya adalah kita mengalami hal-hal buruk. Kita gagal layaknya Ayub ketika ia menyatakan bahwa ketika hal buruk terjadi dalam hidupnya, ia justru menunjukkan imannya – dengan mengatakan bahwa setiap kita harus mau menerima hal yang buruk dalam relasi kita dengan Allah.

Memuliakan Tuhan – apa yang kita bayangkan pertama kali saat mendengar frase ini? Memuliakan Tuhan bisa saja kita artikan bahwa kita melayani Tuhan melalui talenta yang kita miliki. Contoh: ketika kita bisa menyanyi, kita menyanyi di gereja. Ketika kita bisa memainkan alat musik, kita menunjukkan kebolehan kita. Apakah sesempit itu? Tentu tidak. Bahkan kalau kita membaca di Roma 12:1 maka sebenarnya seluruh aspek kehidupan kita seharusnya akan mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan. Jadi waktu kita tidur pun, kita memuliakan Tuhan. Waktu kita makan, kita memuliakan Tuhan.

Menikmati Dia – bahkan dalam rangka kita memuliakan Tuhan kita bisa menikmati Dia sepanjang waktu. Artinya? Kita benar-benar menikmati anugrah Allah. Melalui apa? Melalui segalanya yang sudah Tuhan sediakan bagi kita. Apabila kita berbicara “SEGALANYA” berarti bahkan sesuatu hal buruk pun, kita harus belajar untuk menikmati itu dalam kehidupan kita. Susah ya? Iya kelihatannya. Di dalam pemaknaan kita sebagai seorang manusia, maka sangat susah. Tetapi ketika kita kembali lagi bahwa kehidupan kita sebenarnya adalah di tanganNya, maka sebenarnya tidak ada hal detail sekecil apapun yang terlewat dari Allah. Ia mengatur segala hal termasuk rencana hidup kita, apa yang kita makan, Tuhan sudah mengetahuinya sejak kekekalan.

Kedua sisi ini harus kita maksimalkan. Ada kalanya kita hanya ingin memuliakan Tuhan – membiarkan diri kita disiksa. Artinya bahwa kita sama sekali tidak menikmati pelayanan ataupun hidup yang sudah Tuhan berikan. Kita cenderung memiliki kerohanian yang terus menerus tertekan. Kita menganggap bahwa apa yang kita lakukan, Tuhan tidak menyukainya. Kesenangan kita berbeda dengan kesenangan Tuhan. Apa yang membuat kita bersukacita, Tuhan pasti tidak bersukacita. Seringkali kita terjebak di dalam anggapan seperti itu. Hal itu terjadi saat kita belum mengerti bahwa kita adalah orang-orang yang sudah diberikan sebuah privilege untuk membenci dosa. Ia sudah membeli kita menjadi hambaNya, bukan lagi hamba dosa. Oleh karena itu kita perlu terus menerus bersyukur dan kita perlu sadar bahwa dosa sama sekali tidak memiliki kuasa atas kehidupan kita. (1 Korintus 7:22-23)

Di satu sisi lain, kita terjebak di dalam ekstrim yang satunya, yakni menikmati anugrah Tuhan saja tanpa mau memuliakan Dia. Kita menjadi sebuah pribadi yang egois dan meninggikan diri kita. Bahasanya adalah “aji mumpung”. Mumpung saya memiliki kemampuan yang luar biasa, maka saya pastilah Tuhan berkenan atas apapun yang saya lakukan. Itulah bahasanya. Nah ekstrim ini juga berbahaya, karena akan menjadikan kita seorang pribadi yang meninggikan diri sendiri. Motivasi utama kita saat kita pelayanan akhirnya bukanlah demi kemuliaan Tuhan, tetapi bagaimana kita bisa memamerkan kehebatan kita yang sebenarnya itu semua berasal dari Allah.

Kedua sisi ini perlu untuk kita jagai sepenuhnya. Sebagai gambar dan rupa Allah, kita memiliki tanggung jawab untuk menampilkan kemuliaanNya dan sebagai orang-orang yang sudah menerima anugrah keselamatan, kita perlu sadar bahwa kita perlu menikmati suatu relasi yang intim dengan Dia. Melalui apa? Tentu saja melalui saat teduh dan doa-doa kita kepadaNya. Bukan hanya itu, bahkan di dalam keseharian kita pun – dalam setiap detail yang kita lakukan, kita perlu melihat bahwa ada anugrah yang sudah Tuhan berikan di dalam kehidupan kita. Tujuan hidup kita, cita-cita kita, segala detailnya, semuanya sebenarnya adalah anugrah, dan kita sebagai orang percaya perlu untuk terus bergumul. Pergumulan dimana kita perlu untuk merenungkan apa yang Tuhan mau untuk kita lakukan – yang mana namaNya semakin dimuliakan – sembari kita menikmati proses yang daripada Tuhan.

Soli Deo Gloria

Sunday, September 15, 2013

Belajar Dari Yeremia: Panggilan Nabi Yeremia

Di dalam alkitab, ada banyak pribadi yang menarik dan perlu untuk kita pelajari, dan salah satunya adalah seorang nabi yang dikenal sebagai nabi yang melankolis yakni Yeremia. kalau kita baca dari kitab Yeremia, Ia adalah seorang yang sangat melankolis dan ekspresif. Selain itu ada banyak hal yang menarik kalau kita membaca kitab ini dari awal hingga akhir. Kali ini saya mencoba untuk melihat sedikit momen saat Ia dipanggil untuk pelayanan. Kita jugaakan melihat seperti apa implikasinya.

Yeremia dipanggil langsung oleh Allah di dalam masa mudanya. Di masa mudanya Ia mendapatkan panggilan Tuhan secara langsung dan ini bisa kita lihat di Yeremia 1:4-5

Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa." 

Mungkin tak seorang pun dari kita mendapatkan privilege seperti yg didapatkan Yeremia dari panggilan itu. Tapi poin yang menarik adalah apa yang Allah katakan kepada Yeremia bahwa semenjak di kandungan pun Allah telah memilih Yeremia. Saya sendiri yakin bahwa bukan hanya Yeremia sebenarnya yang Ia pilih, tetapi juga setiap kita. Allah memanggil kita untuk memiliki suatu relasi di dalam Dia. Ia telah menguduskan kita. Menguduskan dalam hal ini merujuk kepada "dipisahkan" dari yang lain.

Kita perlu belajar menerima hal ini sebagai suatu realitas hidup. Allah memanggil kita dan kita mendapatkan suatu privilege luar biasa. Kalau kita melihat sekitar kita dan juga diri kita sendiri, kita pun sebenarnya juga perlu untuk evaluasi diri kita. Apakah selama ini kita sudah memaknai panggilan tersebut di dalam hidup kita? Kita dipanggil bukan hanya untuk menikmati berkat dari Tuhan. Kita dipanggil juga untuk melayani Dia dengan tidak gentar.

Yeremia 1:6 Maka aku menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda."

Inilah yang juga menjadi suatu alasan bagi kebanyakan orang. Hal ini juga saya pribadi alami di gereja tempat saya beribadah. Ada banyak orang muda enggan untuk memulai suatu pelayanan. Ada yang merasa tidak mampu untuk melayani, ada yang merasa minder, ada pula yang memang telah mengalami kepaitan. Yeremia juga pernah mengalami kepaitan, tetapi hal itu akan kita bahas nanti di tulisan berikutnya.

Kita mengakui bahwa hidup kita adalah milik Tuhan, bukankah begitu? Anehnya ketika kita diminta untuk pelayanan buat Tuhan, kenapa sih kita merasa tidak mampu? Sama sih, semua juga sebenarnya tidak ada yang mampu, karena memang semuanya dari Tuhan. Kalau hari ini pun saya bisa mempublish tulisan ini, bukankah itu juga dialaskan pada ketidakmampuan saya, tetapi bagaimana Tuhan bekerja melalui talenta saya, melalui bakat saya, dan kemampuan saya.

Jadi mengapa kita merasa minder atas setiap hal yang Ia percayakan atas kehidupan kita? Layakkah kita minder dan kita merasa tidak mampu? Ketika kita minder dan kita merasa bahwa kita tidak bisa melakukan suatu hal yang Allah percayakan, maka kita sebenarnya juga secara tidak langsung tidak memiliki pemahaman yang benar tentang Allah. Sikap kebalikannya pun juga tidak benar. Waspadalah terhadap overconfidence - suatu sikap dimana kita merasa diri kita mampu melakukan apapun tanopa melibatkan Allah di dalam setiap hidup kita. Saya pernah merasakan ini dan percayalah rekan2, hal ini sangat tidak nyaman. Ketika kita mampu melakukan apapun dan melupakan Allah, kita perlu segera berbalik kepadaNya, mohon ampun atas kelancangan kita.

Yeremia 1:7-8 Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN." 

Jaminan penyertaan Tuhan itu nyata! Ayat ini menunjukkan pada kita bahwa kita hanya perlu percaya kepadaNya. Panggilan Allah atas hidup kita itu mutlak. Mau tidak mau kita harus melakukannya. Ayat ke 8 menyatakan hal tersebut. Jadi sebenarnya ketika kita akan memulai suatu pelayanan apapun, apa yang kita takutkan? Terkait dengan skill, Tuhan yang akan menyediakannya.

Kita hanya perlu terus belajar sambil memaksimalkan kehidupan kita di dalam Dia. Apa yang menjadi ketakutan kita di dalam kita akan memulai suatu pelayanan? Masuk akalkah ketakutan kita? Mari belajar dalam hidup ini untuk kita melihat bahwa Ia yang memimpin setiap aspek hidup kita. Ia yang menyertai setiap langkah kehidupan kita. Ia yang akan menuntun kita untuk setia sampai akhir. Yang perlu kita lakukan adalah menjaga intimasi denganNya.

Soli Deo Gloria

Friday, August 23, 2013

Pergumulan yang Christ-Centered

Tidak pernah terbayangkan bahwa suatu pergumulan itu adalah sesuatu yang berat. Apalagi ditambah dengan suatu kondisi dimana kita terpisah jauh dengan partner pergumulan kita. Sungguh suatu hal yang makin buat “nyesek ati” kalau orang bilang. Selain itu ditambah dengan kesibukan masing-masing, membuat hati semakin tak tenang. Tetapi benarkah bahwa ketika kita dipisahkan jarak oleh orang yang kita pergumulkan, maka hidup akan menjadi sesuatu yang berat? Seberat itukah hidup jauh dari rekan kita, sahabat kita, seorang yang nantinya akan mengikat janji pernikahan dengan kita sampai “sehidup semati”?

Jawabannya YA, dan AMIN. Memang berat ketika kita harus meninggalkan seseorang yang kita cintai, seseorang yang mungkin kita perlu untuk sharing hidup dengan dia. Selain itu juga kita bisa saling mengenal satu dengan yang lain saat kita dekat. Pasti tak mudah pada awalnya. Tetapi ketika kembali kepada esensi tentang relasi dan pernikahan, tentu kita kenal bahwa relasi tersebut dibangun bukan hanya dengan kita memiliki suatu pengalaman romantis. Pergumulan bukanlah suatu masalah kita harus “kopi darat” (Sekalipun ketika kita langsung kopi darat, kita pasti dapat dengan lebih efektif dalam menjalani relasi kita)

Makna pergumulan itu sebenarnya apa sih? Pergumulan untuk menikah atau tidak, tentang tujuan hidup, apapun itu, selalu membuat kita berpikir keras sambil terus berdoa dan berdoa. Kita jadi lebih giat untuk berdoa, saat teduh, mengucap syukur atas hal yang Tuhan berikan, dan sebagainya. Pergumulan tentang Pasangan Hidup pun apabila dilakukan dalam Long Distance, perlu suatu pergumulan juga untuk memulainya.

Pada saat saya mulai mengatakan bahwa “aku ingin mempergumulkan kamu sebagai seorang pasangan hidupku nanti” itu bukan hal yang mudah apalagi kita tahu bahwa pergumulan itu akan dilakukan secara long distance. Jarak yang terpisah jauh tentu jadi hambatan utama, kemudian komunikasi yang tak lancar, ditambah dengan kesibukan masing-masing. Tetapi apakah memang seperti itu? Apakah lantas ketika kita ambil keputusan seperti itu kita mengeluh dan kita akhirnya mohon-mohon agar Tuhan cepat menjawab pergumulan kita berdua? Actually, itu aneh!

Ketika Tuhan memberikan suatu waktu untuk kita bergumul apalagi secara long distance, saya percaya bahwa itu adalah suatu cara Tuhan untuk kita dapat semakin dapat menajamkan diri satu dengan yang lain. Saya rasa juga ini yang saya alami selama ini. Maybe kita bisa benar-benar merindukannya, tapi waktu Allah balik bertanya: “seberapa kamu merindukan Aku?” kepada kita, apa jawab kita? Apakah posisi kita bergumul itu akhirnya membuat kita melupakan Allah, menganggap Dia tidak ada, dan akhirnya kita menjadi acuh tak acuh terhadap Allah?

Fasa pergumulan long distance memang menuntut suatu komitmen yang lebih dan keseriusan di dalam diri masing-masing pasangan. Coba bayangkan saja kalau suatu saat memang saat menikah kita masing-masing punya tugas jauh (siapa tahu salah satu dari kita dipanggil Tuhan untuk misi ke daerah terpencil) Allah sedang mencoba untuk menguji kita, apakah hati kita masih setia kepada Allah dan kepada pasangan kita, atau justru kita beralih kepada hal-hal yang tidak seharusnya?

Kita berdua (saya dan seorang yang saya pergumulkan) pun merasa bahwa justru di dalam pergumulan kita yang long distance ini kita makin dekat dengan Tuhan. Kita berdua semakin hari semakin bertumbuh dan dibukakan banyak hal, tentang visi, pelayanan, kehidupan Kristen, tentang banyak sekali hal baru yang selama ini belum pernah kami pikirkan. Pertemuan kita setelah sekitar 5 bulan tak jumpa pun, ditebus dengan 2 jam ngobrol, dan itu pun saya pribadi merupakan suatu kesempatan dimana kami bisa share tentang kehidupan kami masing-masing, dengan cerita seru kami masing-masing, dan merupakan suatu quality time yang harus diakui merupakan momen yang paling kami rindukan. Itulah kesempatan di mana kami bisa melepas kangen sambil terus mengingat komitmen kami.

Indahnya suatu relasi di dalam Kristus adalah bahwa kita dapat menjadi orang-orang yang semakin hari semakin dewasa di dalam Dia, memiliki suatu keserupaan dengan Kristus dan kita berdua, sekalipun jauh, belajar untuk menjadi “serupa dengan Dia”. Saya cukup senang dengan suatu proses di mana kami berdua juga semakin hari semakin dewasa satu sama lain. Sekalipun jarang bertemu, namun ketika ada suatu waktu yang berkualitas, kami belajar untuk memanfaatkan itu sebaik-baiknya. Sharing visi, sharing tentang kehidupan, sharing tentang banyak hal di dalam kehidupan, bukankah itu yang sebenarnya penting bagi satu sama lain untuk saling mengenal satu dengan yang lain?

Ada banyak pasangan yang sekalipun mereka dekat, mereka hanya tidak jelas pacaran di dalam konteks romantis belaka, tanpa adanya suatu kerinduan untuk saling bertumbuh satu dengan yang lain. Paling tidak kami tidak mau menjadi pasangan seperti itu. Kami ingin belajar untuk mengembangkan diri satu sama lain di dalam Kristus, mendasari relasi kami berdua dengan suatu komitmen bahwa kami ingin belajar untuk menghormati komitmen satu dengan yang lain.

Percayalah, kami ini bukan orang-orang yang sempurna. Bahkan di dalam pergumulan kami pun terkadang muncul suatu konflik, rasa kangen, dan sebagainya. Emosi-emosi seperti itu kadang membuat kami sadar bahwa kami ini manusia yang lemah. Bahkan ketika sebuah kalimat “aku bersedia” itu masih aku nantikan, tapi ketika bahkan belum ada suatu jawaban yang pasti, aku tetap belajar untuk menghargai janjiku di awal, bahwa aku akan menghormati dia dan waktunya, aku akan menghormati setiap keputusan yang kami ambil.

Ada banyak hal yang perlu dipikirkan ketika kita mengambil keputusan untuk mulai berpacaran. Ditambah lagi jarak kami berdua jauh, dan itu kadang membuat kami sadar bahwa relasi kami ini mungkin tidak dapat dilanjutkan. Ya satu satunya jalan yaitu maintain komunikasi kami berdua. Semakin banyak komunikasi, semakin banyak potensi konflik, dan saya sendiri sadar kadang-kadang dari suatu pembicaraan, kami berdua sudah banyak berubah. Pembicaraan yang saling mengasah dan saling menajamkan satu dengan yang lain, serta kami belajar untuk jujur di hadapan satu dengan yang lain, dan saling berbagi beban dan mendukung di dalam doa.

Relasi yang berdasarkan atas kasih Kristus adalah suatu relasi yang mana kita belajar menikmati anugrah yang Allah berikan di dalam hidup kita. Pergumulan merupakan suatu proses, suatu anugrah yang Allah juga berikan di dalam hidup kita, tinggal bagaimana sekarang kita mencoba untuk menanggapi apa maunya Tuhan. Siap sedia terhadap setiap jawaban, dan terus belajar di dalam relasi kita mengutamakan Tuhan. Itu adalah suatu momen di mana kita belajar untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Dia sepanjang waktu.

Sebuah lagu yang menarik yaitu soundtrack dari film Fireproof: “While I’m Waiting”. Dengar saja lagunya dan perhatikan setiap kata dalam lagu itu, itulah cinta yang sejati, yaitu cinta kita kepada Kristus dan cinta Kristus kepada kita, menunjukkan suatu komitmen penuh kepada Kristus dan semuanya adalah untuk kemuliaanNya.

Pergumulan memang butuh suatu penantian, tetapi justru di tengah penantian itulah kita perlu belajar untuk fokus penuh kepada Kristus dan belajar untuk melihat bahwa apapun keputusan yang kita ambil, semuanya melibatkan Tangan Tuhan yang menuntun untuk mengabdi dan memuliakanNya.


Selamat bergumul J SOLI DEO GLORIA! 

Monday, August 5, 2013

Yerusalem! Let’s Go There! Sebuah Perenungan Tentang Visi dan Tujuan Hidup

Seringkali orang bertanya: apa sih tujuan hidupmu? Ini suatu pertanyaan yang mungkin sangat susah dijawab. Bagi orang Kristen, jawabannya sangat sederhana: “Memuliakan Tuhan dan menikmati Dia sepanjang waktu” seperti yang tertulis di Katekismus Singkat Westminster pertanyaan pertama. Sesederhana itu? Ternyata tidak juga. Sangat global bahkan. Memuliakan Tuhan? Seperti apa sih memuliakan Tuhan itu? Menikmati Tuhan?

Satu hal yang perlu kita pegang adalah: Mau atau tidak mau, suka atau nggak suka, Allah sudah merencanakan sesuatu di dalam hidup kita. Setiap detailnya sudah Tuhan atur sedemikian rupa. Ingat, Ia adalah Allah dengan kedaulatan yang penuh.

Sebuah refleksi dari Lukas 18:31 dan 34

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu berkata kepada mereka: "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi.
(Luk 18:31)

Akan tetapi mereka sama sekali tidak mengerti semuanya itu; arti perkataan itu tersembunyi bagi mereka dan mereka tidak tahu apa yang dimaksudkan.
(Luk 18:34)

Di dalam konteks visi dan tujuan hidup, ada beberapa prinsip yang kita bisa dapatkan dari ayat ini. Saya mencoba merefleksikannya:
1.       “Yesus memanggil kedua belas murid-Nya” lihat siapa yang Yesus ambil sebagai murid. Apakah mereka adalah orang-orang yang hebat? Secara manusiawi, mereka bukanlah orang-orang yang terpelajar. Mereka bukan orang-orang yang punya skill tinggi. Barangkali kalau diumpamakan sekarang, mereka bukanlah orang-orang seperti Bill Gates yang jenius, ataupun seperti Steve Jobs. Mereka bukan orang-orang yang bisa diandalkan. Bahkan mereka adalah orang-orang yang sebenarnya tidak memiliki apa-apa (dalam pengertian tertentu).
Namun orang-orang seperti inilah yang dipilih Tuhan menjadi orang-orang yang paling dekat dengan Dia. Orang-orang seperti Petrus yang sangat ceplas-ceplos, Thomas sang peragu, Matius yang merupakan pemungut cukai – apa hebatnya?
Tetapi nyatanya orang-orang seperti ini yang dipakai Tuhan bukan? Petrus yang berkotbah hingga menghasilkan 3000 orang bertobat. Thomas yang pada akhirnya mati martir di India. Ada banyak kisah, namun prinsip di sini adalah:

“Allah tidak memilih orang yang mampu melayani Dia dengan kekuatannya sendiri, tetapi Ia memilih orang-orang yang sadar betul bahwa tanpa Dia, ia tak bisa hidup dan ia bukanlah apa-apa”

2.       “Sekarang kita pergi ke Yerusalem…” Panggilan Allah itu terjadi secara real time di dalam hidup kita. Itu berarti bahwa di dalam kita menjalani hidup kita, panggilan Allah itu selalu nyata. Pertanyaannya adalah: kita peka atau tidak terhadap panggilan itu? Yerusalem adalah tempat di mana Tuhan Yesus akan menjalani rencana Allah yang ada di dalam diriNya. Itu adalah visi yang ditetapkan Allah dan Ia pergi ke sana untuk menjalaninya. Seutuhnya Dia patuh atas kehendak Bapa, sekalipun Ia tahu bahwa pada saat itu pula Ia akan dihujat, dicela, dan pada akhirnya disalib.
Bagaimana dengan hidup kita? Apakah kita sudah belajar untuk mengarah ke Yerusalem kita? Suatu tempat yang mana Allah memerintahkan kita untuk taat kepada panggilanNya. Tidak enak memang, apalagi kita tahu bahwa mungkin Yerusalem itu adalah tempat yang sangat jauh dari zona nyaman kita, tetapi Allah mengutus kita kesana. Bukankah itu suatu privilege yang luar biasa yang sudah disediakan Allah? Inilah prinsip berikutnya:

“Mau tidak mau, suka tidak suka, Allah sedang menuntun kita ke Yerusalem. Perlahan namun pasti Ia akan membawa kita menuju ke sana, dan Ia tidak main-main atas panggilan itu”

3.       “..dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi”. Tuhan Yesus tahu dengan segala resiko yang akan Ia alami saat Ia taat kepada Bapa, dan Ia taat! Di sinilah terlihat bagaimana kehendak Bapa ada di atas kehendak kita. Suka atau tidak, kita pasti akan mengalaminya juga. Tinggal tunggu waktu kapan Allah menggerakkan hati kita untuk melakukan sesuatu dalam hidup kita. Ia sedang melakukan sesuatu dan itu berarti kita tidak bisa menolaknya. Mungkin ada kalanya kita melihat bahwa rencana Allah itu merupakan suatu kegagalan di dalam hidup kita. Salib pada zaman itu identik dengan suatu kegagalan yang luar biasa. Salib adalah lambang kehinaan pada waktu itu. Namun demi menjalankan rencana Bapa, Tuhan Yesus melihat itu sebagai suatu keberhasilan.

“Apa yang dipandang orang sebagai suatu kegagalan, itu merupakan suatu keberhasilan di hadapan Tuhan. Kesuksesan kita sebagai orang beriman diukur dari rencana Tuhan apa yang sudah kita lakukan untuk kemuliaanNya.”

4.       “.. mereka sama sekali tidak mengerti..” Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Tuhan Yesus, bukan? Ya. Mereka yang dimaksud di sini adalah para rasul, orang-orang yang mendampingi Tuhan Yesus kemanapun Ia pergi. Bahkan orang-orang terdekatnya pun tidak mengerti apa yang Yesus maksud saat itu.
Sama juga mungkin dengan hidup kita. Kita merasa kehidupan kerohanian kita sudah dekat dengan Tuhan, tetapi sebenarnya kita tidak tahu apa yang Tuhan mau di dalam hidup kita. Bukankah ini sesuatu yang mengerikan? Ya betul! Kita terlalu sibuk untuk pelayanan mungkin, tetapi di dalam pelayanan itu, kita lupa menjaga relasi kita dengan Tuhan. Akhirnya pelayanan itu bukan merupakan sarana untuk memuliakan Tuhan, namun sebagai suatu sarana lain.
Prinsip yang berikutnya yang penting adalah:

“Hal yang paling indah dalam hidup kita adalah mengetahui apa yang Tuhan mau di dalam hidup kita, sehingga apapun yang kita kerjakan adalah untuk kemuliaan Tuhan. Semuanya itu dimulai dari relasi yang semakin dekat dengan Dia”

Jadi, siapkah kita melangkah menuju Yerusalem? Apakah kita mau mulai merenungkan kembali apa yang jadi tujuan hidup kita sebenarnya? Mungkin panggilan kita adalah peran yang kita lakukan saat ini di tempat kerja kita. Mungkin kita dipanggil ke daerah terpencil dan mengabarkan injil di sana. Mungkin pula kita diutus ke ranah politik. Apapun itu, mari kita belajar untuk terus menikmati proses yang dari Tuhan.


Soli Deo Gloria

Sunday, July 21, 2013

Bulan Penuh Kemenangan

Memasuki bulan Juli, saudara-saudara sebangsa dan setanah air memasuki bulan suci menyambut bulan ramadhan. Ya, bulan Juli hingga awal Agustus nanti, rekan-rekan dari agama Islam akan menikmati indahnya ibadah puasa. Indonesia, sebagai salah satu negara Islam terbesar di dunia, tentu juga menikmati ibadah puasa pula. Kaum muslim di Indonesia tentu perlu bersyukur bahwa di Indonesia, rasa toleransi masih sangat terjaga.

Ada beberapa realita yang unik, dan menarik di Indonesia menyambut bulan ramadhan dan masa puasa. Tulisan ini bertujuan untuk setidaknya “rethinking” tentang sebenarnya apa makna puasa itu?

1.       Setiap pagi sekitar pukul 2.30, ada beberapa orang, mulai berteriak-teriak di kompleks rumah saya. Teriakan itu sungguh merdu dan penuh berkah. Ya, apalagi kalau bukan “bangun! Bangun, waktunya sahur!” Entahlah apakah sebenarnya teriakan-teriakan itu perlu? Mari berpikir ulang, bahwa kalau kita perlu dan kita ingin benar-benar “submit to God”, yang menjadi arti dari Islam sendiri, apakah untuk mendekat kepada Allah kita perlu dibangunkan? Apakah arti ibadah itu manakala kita bangun pagi dengan terpaksa? Kalau kita memang belajar untuk mengasihi Allah, bukankah kita akan mempersiapkan segala cara untuk kita dapat bangun pagi? Diantaranya adalah kita pasang alarm, memberitahu keluarga kita, dan sebagainya. Artinya ritual membangunkan ini justru bisa jadi bagi rekan-rekan yang non-muslim menjadi sesuatu yang “ganjil”. Mengapa? Akhirnya Islam dipandang sebagai agama yang penuh dengan keterpaksaan untuk bangun pagi dan hanya mbelani untuk makan.

2.       Di sekitar kompleks rumah saya, ada banyak sekali warung tegal yang biasanya buka dari jam 07:00 hingga 21:00. Bisa dibayangkan betapa ramainya warung tersebut dan begitu berkembang. Namun di tengah bulan puasa, semuanya menutup diri. Semuanya akhirnya buka mulai jam 17:00, menghidangkan menu-menu lezat bagi rekan-rekan beragama Muslim untuk mulai berbuka puasa. Wah nikmatnya! Namun kalau kita amati lagi lebih jauh, sebenarnya pentingkah bagi warung-warung itu untuk menutup diri? Apakah perlu warung-warung itu akhirnya menutup seluruh warungnya dengan kain-kain agar makanan itu menjadi tidak nampak dari luar? Saya hanya membayangkan, “Wah enak sekali kita sangat didukung di dalam puasa!”. Apakah benar? Bukankah inti dari puasa adalah menahan godaan dari luar untuk kita menahan nafsu makan kita, agar kita tidak marah-marah, dan seterusnya. Apakah dengan seluruh makanan tertutup seperti itu, lalu nafsu apa yang harus kita tahan?

3.       Tempat-tempat hiburan tutup pada bulan puasa. Karaoke, pijat plus-plus, diskotik, dan sebagainya ternyata tidak boleh buka. Ada satu berita pula kalau setiap hari selama bulan puasa, aparat rajin melakukan razia terkait dengan tempat-tempat seperti itu. Wow! Apabila saya sebagai orang non-muslim hanya bertanya: “Kalau begitu, apakah selama bukan hari puasa, apabila saya seorang muslim, saya boleh melakukan hal-hal tersebut?” ah sungguh menarik bukan? Pertanyaan yang sama sebenarnya dengan nomor dua tadi, jadi sebenarnya apakah hanya saat bulan puasa saja tempat seperti itu harus ditutup? Ada inkonsistensi disini apabila orang-orang muslim mengatakan bahwa mereka adalah agama yang cinta damai dan toleransi. Apabila seorang muslim mengatakan bahwa mereka adalah agama yang toleran, maka sebenarnya tempat-tempat maksiat seperti itu tidak perlu ditutup. Ingat, ada banyak orang yang memang menjadi penikmat tempat itu, namun sebagai orang Islam yang taat, bukankah kita akan menjadi punya dorongan yang kuat untuk menahan godaan itu? Konsisten melakukan sholat dan dzikir, maka sebenarnya bisa kok hal-hal tersebut dilalui. Jadi bukan hanya pada saat puasa, lalu setelah puasa kita jadi salah satu dari penikmat-penikmat tempat-tempat seperti itu, bukankah itu tidak konsisten? Ayo belajar pelihara konsistensi kita. Bukankah internal hati kita itu jauh lebih penting daripada kondisi di sekitar kita?
Saya percaya bahwa puasa memang tidak dapat menghalangi kita untuk melakukan hal-hal yang buruk, tetapi bayangkan saja, kita bisa jadi orang-orang yang justru membohongi diri kita sendiri dengan inkonsistensi dalam tindakan kita. Kita bilang bahwa kita puasa, tapi realitanya mungkin kita sedih juga kalau tidak bisa karaoke, dan sebagainya.

Saat ini cukup saya memaparkan 3 realita tersebut, dan saya mencoba mengkaji kembali, apa sebenarnya arti toleransi? Toleransi itu seperti semboyan negara kita yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”, yaitu justru di dalam suatu perbedaan suku, agama, dan ras, kita boleh semakin hari makin bertumbuh di dalam kecintaan kita terhadap tanah air. Artinya apa? Sebagai bangsa Indonesia, kita sering dengar istilah “Hormatilah orang yang berpuasa”, dan saya mau menawarkan kepada rekan-rekan sebangsa dan setanah air, bagaimana jika semboyan itu menjadi “Hormatilah orang yang tidak berpuasa”? bagaimana menurut rekan-rekan? Menurut saya itu jauh lebih menunjukkan indahnya Islam, sebagai sebuah agama yang memiliki toleransi.


Saya hidup di Bogor, dan saya tak tahu apa yang dialami di daerah-daerah sekitar Indonesia. Saya sedih melihat realita bangsa yang “bhinneka tunggal ika” ini saat ini ingin dihancurkan oleh beberapa oknum yang menamakan dirinya “Islam”, namun sama sekali tidak mencerminkan sifat-sifat atau atribut yang dimiliki seorang Islam. Saya percaya bahwa realita ini tentu perlu dikaji ulang, serta kita sebagai bangsa perlu berpikir tentang hal-hal seperti ini, bahwa ternyata realita bangsa Indonesia adalah bangsa yang penuh dengan diversity. Jangan sampai diversity menjadi sesuatu yang menghancurkan, namun justru jadi satu kesempatan untuk belajar saling menopang sebagai orang-orang Indonesia. Warga negara Indonesia! Salam!

Sunday, May 26, 2013

Sukses Adalah Mengerjakan Rencana Allah Dalam Kehidupan Kita


Pernahkah kita dengar slogan: “SUCCESS IS MY RIGHT”? Tentu saja setiap kita yang pernah bekerja ataupun mengikuti seminar-seminar motivasi sangat asyik sekali manakala pembicara mengajak kita untuk berteriak bersama-sama slogan tersebut. Bukan hanya di seminar motivasi, bahkan di gereja pun terkadang mengajarkan seminar semacam ini, tapi tetap saja sebenarnya pembicara yang diundang merupakan seorang motivator.

Sepintas anggapan tersebut memang sangat benar. Kesuksesan itu semulanya berawal dari diri sendiri juga. Menjadi seorang yang sukses adalah hak kita! Ya benar! Manakala kehidupan kita dipenuhi oleh harta dan tahta, tentu seseorang merasa bahwa dirinya sudah sukses. Orang menjadi puas dan kemudian dari pertanyaan “hari ini makan apa?” menjadi pertanyaan “hari ini makan SIAPA”.

Inilah realita hidup di dalam dunia yang jatuh di dalam dosa. Apabila kita belajar untuk mengamati bahwa kecenderungan perkembangan teknologi dan masyarakat saat ini mengarah kepada teknologi yang ‘personalized’, dan mengakibatkan perasaan bahwa manusia adalah center of attention. Lihat saja berbagai social media yang saat ini lebih digunakan untuk memamerkan sesuatu, seolah-olah seluruh dunia harus tahu apa yang sedang kita rasakan dan kita lakukan. Aktivitas sehari-hari menjadi suatu aktivitas yang harus dipublikasikan.

Realita ini menunjukkan bahwa ternyata hidup itu adalah tentang “aku” dan “diriku”. Kalau bisa ya juaranya AKU, dan akhirnya menimbulkan suatu budaya narsisistik. Budaya yang mana mengutamakan diri sendiri dan menganggap bahwa yang paling membanggakan bagi seseorang adalah manakala ia dipuji dan eksistensi dirinya diakui oleh orang lain, tanpa peduli apapun cara yang ia lakukan untuk mencapainya.

Namun apakah kehidupan ini hanya untuk diri sendiri saja? Saya rasa tidak. Mau tidak mau, kita selalu berinteraksi dengan orang lain di sekitar kita. Dulu saya ingat jaman saya sekolah ketika ditanya: “kalau besar, kamu mau jadi apa?” jawaban yang sangat umum kita dengar adalah “dokter”. Namun sekarang saya membayangkan, apabila semua orang berprofesi menjadi seorang dokter, dan dokter dianggap sebagai pekerjaan yang paling top, maka tidak akan ada produk-produk teknologi tinggi yang mulai marak saat ini.

Saya teringat suatu kisah dari rekan saya, yang mana ia adalah seorang yang sangat kaya dan punya posisi penting di dalam pekerjaannya. Selain itu dia adalah seorang yang sangat pandai dan cerdik, sehingga disukai semua orang disekitarnya. Suatu hari, dia sharing kepada saya tentang bagaimana ternyata hidupnya sangat berat dan dia hampir saja memutuskan untuk bunuh diri. Ironis bukan? Seorang kaya dan pintar, dia punya segalanya, namun hampir memutuskan untuk bunuh diri? Ternyata dia masih saja tidak puas dan tidak puas akan apapun yang ia miliki. Kesuksesannya adalah mengumpulkan sebanyak mungkin uang dan harta, namun satu poin yang ia tidak punya adalah bagaimana ia struggle untuk menghadapi masalah. Hal yang ia lakukan kemudian adalah ia mulai mencoba untuk ke gereja dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Saat itu pula ia sadar bahwa kita punya kepintaran dan kekayaan sebanyak apapun, ternyata di hadapan Tuhan, kita ini nggak lebih dari butiran debu.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa kalau tujuan kita di dunia ini hanya berjuang dan berjuang sambil terus mengagung-agungkan diri kita sebagai center of the world, sebagai pusat dunia, maka bisa-bisa kita “hilang”. Mengutip perkataan Max Lucado “Ketika Tuhan memandang kepada pusat alam semesta, Dia tidak memandang kamu”[1]. Bukankah ini menarik? Kita ini sebenarnya bukan siapa-siapa, namun kita sibuk mendapatkan pengakuan dari orang-orang di sekitar kita. Kita jadi iri hati kalau kita tidak diakui sedangkan orang lain diakui. Kita selalu ingin jadi orang yang nomor satu dalam segala hal, namun kita lupa betapa menjadi nomor satu itu sebenarnya bukan tujuan hidup kita!

Pola pikir itulah yang menjadi masalah: kita ingin selalu menjadi nomor satu, dan tidak heran tingginya angka stress dan kematian di Jepang menjadi akibatnya. Sebenarnya ketika kita sudah menjadi nomor satu, mau apa sih? Sistem ranking kemudian dibuat, dan pada akhirnya sistem tersebut malah menghancurkan mentalitas manusia. Sistem ini akhirnya membentuk suatu budaya “SEGALANYA BOLEH”.

Memang tidak salah untuk kita punya pola pikir bahwa kita ingin menjadi yang terbaik, tetapi di hadapan siapa kita ingin menjadi yang terbaik? Apakah di hadapan Tuhan? Ataukah di hadapan manusia? Kalau kehidupan kita sekadar menjadi yang terbaik di hadapan manusia, kita akan terjebak pada satu posisi dimana kita akan terus menerus tidak puas. Tetapi ketika kita belajar untuk berfokus dengan apa yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita, kita dapat melihat bahwa ternyata penyertaan kedaulatan Tuhan itu bukan hal yang omong kosong. Ketika Tuhan menyatakan diriNya dan kemudian melihat kita sebagai mutiara, maka sebenarnya yang terjadi adalah kita ini berharga. Mau sebrengsek apapun kehidupan kita, ketika kita mulai datang dan berlutut di hadapannya, mengakui bahwa Ia adalah Tuhan kita dan Juruselamat kita, maka Ia akan membebaskan kita. Bukankah alkitab juga menyatakan demikian?

Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
(1Yohanes 1:9)

Berfokus kepada Allah adalah suatu langkah iman, itu berarti bahwa dalam kesuksesan kita pun, kita percaya bahwa yang memberikan semuanya itu adalah Tuhan. Apabila kita sampai memiliki pemahaman bahwa segalanya adalah karena Tuhan, kita pada akhirnya akan dapat berkata seperti Ayub:

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"
(Ayub 1:21)

Apakah kita bisa mengatakan seperti itu manakala hidup kita mengalami hal-hal yang tidak nyaman? Kalau kita sukses, apakah kita masih bisa menyatakan bahwa Tuhan adalah Raja atas kehidupan kita? Bukankah ini suatu tantangan?

Kesuksesan bukanlah apa yang dapat kita capai sendiri. Kesuksesan itu bukan masalah hak kita. Allah yang mengaturnya dan kalau kita belajar melihat itu dari sudut pandang Allah, maka sukses adalah ketika kita bisa berjalan sesuai dengan track yang telah disediakan Allah di dalam kehidupan kita, menyadari providensi nya setiap waktu dan terus bergumul untuk memuliakan Dia sepanjang waktu kehidupan kita. Setiap orang punya jalan kehidupan yang sudah ditentukan oleh Tuhan, tetapi pertanyaannya adalah berapa banyak orang yang menyadari hal tersebut? Setiap kita punya peran, apapun itu, tetapi intinya sama, bahwa kita diciptakan untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia sepanjang waktu.

Soli Deo Gloria!




[1] Max Lucado di dalam bukunya It’s Not About Me (2012)

Thursday, May 9, 2013

Hectic Christianity - Sebuah Refleksi tentang Gaya Hidup Kekristenan


Kehidupan orang Kristen seringkali di dalam suatu kondisi yang sangat hectic. Maksudnya adalah di dalam kehidupan yang begitu cepat bergulir, tanpa adanya suatu kesempatan untuk kita bisa duduk tenang dan terus bekerja bahkan di dalam pelayanan kita sekalipun, baik di gereja maupun di tempat kerja, dan dimanapun, kita bisa kehilangan ketenangan hati kita. Inilah bahayanya ketika kita mulai menjadi orang Kristen yang sudah mulai terlibat pelayanan ataupun kegiatan yang membuat kita tidak bisa lagi menikmati Tuhan di dalam kesendirian kita. Mengapa? Karena hampir tidak mungkin kita punya suatu relasi, suatu waktu yang benar-benar personal dengan Allah.

Inti kehidupan Kristen, yang menjiwainya sebenarnya adalah personal relationship with God. Itu berarti memang kehidupan Kristen adalah kehidupan yang luar biasa, yang mana Tuhan yang imanen, Tuhan yang dekat dengan kita, adalah Tuhan yang ingin bergaul dekat dengan kita. Inilah yang terkadang setiap kita lupa, bahwa di dalam kehidupan kita, suatu saat kita perlu duduk diam sambil merenungkan betapa besarnya karya Tuhan di dalam nafas kita, di dalam kehidupan kita, di dalam hati kita, di dalam setiap hal yang kita lakukan. Suatu waktu yang menjadi sangat indah pada saat kita belajar untuk duduk diam, sambil merefleksikan betapa agung karyaNya di dalam kehidupan kita.

Masa penantian merupakan suatu masa yang membosankan, yang mana kita bisa saja berputar-putar di dalam kita menantikan sesuatu, dan kalau kita tidak sabar, maka kehidupan ini bisa “memakan” kita. Maksudnya? Ya kehidupan akan terus menggerogoti kita dengan berbagai hal yang menarik, yang membuat kita melupakan tujuan utama kita diciptakan sebenarnya untuk apa dan untuk siapa? Apabila kita tidak punya suatu pegangan di dalam menjalani kehidupan ini kita bisa terperangkap.

Ini menjadi suatu peringatan bagi kita. Penantian adalah suatu proses seumur hidup yang mana kita tentu saja melewati berbagai fasa kehidupan di dalam penantian itu. Maka dari itu, apabila kita tidak berhati-hati di dalam proses itu, kita menjadi orang yang tidak sabaran, yang mana pada akhirnya kita menjadi terburu-buru, kita akan missing berbagai poin yang harus kita jalani, akhirnya kita memilih untuk segera menyelesaikannya dengan cara yang tidak benar. Akhirnya kehidupan ini menjadi kehidupan yang sangat melelahkan. Kehidupan menjadi suatu waktu dimana penuh dengan tuntutan dan kita tidak mampu untuk menerima tuntutan itu karena berbagai sebab.

Nah di sinilah kita perlu merenungkan perkataan Tuhan Yesus di dalam injil Matius, di Matius 11:28-30, berbunyi demikian:

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan
(Matius 11:28-30)

Lalu mengapa sebagai orang Kristen kita bisa lelah? Mengapa rasanya menjadi orang Kristen menjadi suatu kehidupan yang penuh tuntutan dan kita tidak bisa merasakan damai sejahtera dari Allah? Mengapa kita melakukan sesuatu namun kita tidak dapat hidup dengan tenang dan dipenuhi aturan-aturan yang mengikat kita? Sebagai orang Kristen, secara komplit alkitab memberikan berbagai aturan dan ketetapan yang sangat mengikat kita, namun juga membebaskan kita. Rasul Paulus menuliskannya di dalam suratnya kepada jemaat di Korintus:

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
(2Korintus 5:17)

Ciptaan baru, kehidupan baru yang diberikan oleh Kristus melalui pengorbananNya di kayu salib membuat kita sadar bahwa kehidupan kekristenan adalah kehidupan yang mengikat, dalam artian kehidupan sebelumnya pun kita juga diikat oleh dosa. Setelah kita percaya akan karya Kristus di kayu salib, itulah momen di mana kita dilepaskan dari kehidupan lama kita dan mengenakan status baru yaitu orang yang sudah ditebus oleh Allah. Dari hamba dosa, menjadi hamba kebenaran. Bukankah ini suatu janji di dalam kehidupan yang tentunya menguatkan kita? Sama-sama menjadi hamba, tapi yang satu adalah menjadi hamba atas feeling guilty kita, atas dosa-dosa kita, dan sebagainya. Setelah menjadi seorang Kristen, kita menjadi hamba kebenaran, yang mana kita mendapatkan suatu anugrah yang luar biasa di dalam kehidupan keseharian kita.

Menjadi seorang hamba tentu saja akan melelahkan, namun menjadi hamba kebenaran jauh lebih menyenangkan! Di dalam kesadaran bahwa Allah yang memegang kendali atas APAPUN yang kita kerjakan, maka sebenarnya kehidupan kita menjadi sesuatu yang menyenangkan. Kita selalu bisa bersyukur atas apapun yang kita alami, termasuk di dalam hal-hal di dalam kehidupan kita yang mana kita punya suatu kerinduan tertentu. Pasangan hidup misalnya, ataupun pekerjaan, berbagai hal lain yang kita nantikan. Kita bisa saja lelah di dalam penantian itu, sungguh! Karena kita berpikir bahwa “Tuhan, ini sudah waktunya! Saya sudah tidak sabar!” dan kita merasa bahwa kita siap mendapatkan sesuatu namun belum mendapatkan jawaban dari Tuhan, akhirnya kita lelah.

Itulah momen di mana kita perlu duduk diam dan tenang dan mulai merenungkan apa yang sudah dikerjakan Tuhan di dalam hidup kita. Tidak perlu jauh-jauh, kalau tidak ada satu hal pun yang terasa baik di dalam kehidupan kita, bukankah kita dapat bersyukur kalau hari ini kita masih bisa hidup? Bukankah kalau hari ini kita masih bisa bernafas dengan gratis, tidak seperti orang-orang yang harus mengenakan tabung oksigen untuk bernafas? Selalu ada ruang untuk kita bersyukur, yang perlu kita lakukan adalah duduk diam dan mulai merenungkan apa yang sudah Allah lakukan dalam kehidupan kita, sampai akhirnya kita bukan hanya bisa mengatakan bahwa Tuhan itu baik, tapi benar-benar menghidupi kalimat itu.

Saya menutup artikel ini dengan sebuah kalimat dari Dr. Ravi Zacharias, sebagai berikut:

"As we move along in our busy life as a businessperson, moving on a hectic pace, pausing to learn the true value of nothing, but moving on and on and on, will you take time enough today to pause and ask yourself, how much God loves you? That He cares for you. Of for those of you who live in insecurities and does not have much more to offer, isn’t it wonderful to know, that He’s given Himself for you. If God could say through Isaiah “what more have I done to you that I’m not already done”, how much more could He said after the cross, where He sends His son to lay down His life for you and for me. God’s love: undeserving, grows on relationship, desperately needed."

(Selama kita menjalani kehidupan kita sebagai seorang bisnisman, yang mana kita hidup di dalam kelelahan dan berhenti sejenak untuk mempelajari hal-hal yang sebenarnya tidak bernilai, dan kita terus bergerak, apakah hari ini kita sudah duduk diam sejenak dan bertanya kepada diri kita sendiri, seberapa besar Allah mengasihi kita dan bahwa Ia memperhatikan kita. Bagi setiap kita yang hidup di dalam ketidakmampuan dan tidak memiliki hal apapun yang kita dapat berikan, bukankah ada satu kabar baik bagi kita, bahwa Dia telah memberikan diriNya bagi kita. Apabila Tuhan dapat berkata melalui nabi Yesaya “Apatah lagi yang harus diperbuat  yang belum Kuperbuat kepadanya?” (kutipan dari Yesaya 5:4), maka seberapa besar yang dapat Ia berikan setelah Ia disalib, yang mana Dia mengirimkan PutraNya yang tunggal untuk menyerahkan nyawaNya bagi anda dan bagi saya. Kasih Allah: tidak layak untuk kita terima, bertumbuh di dalam relasi, dan sangat amat dibutuhkan.)

Semoga tulisan ini bisa mengingatkan kita bahwa di tengah kesesakan kita hidup di dunia ini sebagai orang Kristen, ada banyak hal yang dapat kita lakukan, namun jangan lupakan untuk kita tetap sediakan waktu untuk duduk sejenak saja dan merenungkan karya Tuhan dan apa mau Tuhan di dalam kehidupan kita.

Soli DEO Gloria!