Total Pageviews

Friday, May 1, 2015

Keberhargaan Hidup Manusia

“Aku mah apa atuh?” kata-kata ini seringkali menjadi sebuah ungkapan manakala seseorang merasa nggak pede atas hal yang ia perbuat. Ataupun kata-kata ini seringkali terlontar oleh seorang bawahan yang merasa bahwa dia tidak punya kuasa sebesar bosnya. Hummm…

Tunggu sebentar, kalimat itupun ternyata juga menjadi sebuah kalimat dimana seseorang tidak yakin bahwa dia berharga. Contohnya saja seorang pengemis (bukan pengemis cinta yah…) yang merasa pasrah atas kehidupannya. Ia bertanya kepada dirinya sendiri sebenarnya siapa dia di hadapan orang-orang sekitarnya yang mungkin lebih kaya atau lebih mampu dari dia.

Jauh sebelum kalimat ini terlontar, lebih dari 2000 tahun lalu kalimat ini juga diucapkan oleh beberapa orang. Bahkan yang mengucapkan kalimat ini adalah seorang pemimpin yang membawa bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan Mesir. Ya, dia adalah Musa. Allah memanggil Musa untuk membebaskan Israel, dan di hadapan Allah, Musa bertanya kalimat berikut:

Keluaran 3:10
Tetapi Musa berkata kepada Allah: "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?"

Siapakah aku ini, adalah sebuah pertanyaan Musa kepada Allah manakala ia tidak siap untuk menerima sebuah tugas yang begitu besar. Ketidakyakinan Musa kemudian diubahkan Allah sampai akhirnya ia mau diutus dan kemudian akhirnya ia berhasil membebaskan bangsa Israel dari Mesir. Sekalipun pada akhirnya ia tidak sampai pada tanah perjanjian, tetapi ia membawa bangsa yang tegar tengkuk itu ke dalam tanah perjanjian Allah.

Ada satu lagi orang yang menanyakan hal yang sama di hadapan Allah. Kali ini menanyakan hal tersebut karena suatu janji yang begitu indah yang sudah dijanjikan oleh Allah. Dia adalah raja Israel, yaitu Daud.

2Samuel 7:18
Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN sambil berkata: "Siapakah aku ini, ya Tuhan ALLAH, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?

Nada yang diutarakan Daud jauh lebih positif, di dalam konteks bahwa melalui Daud maka kerajaan Israel akan berdiri kokoh. Sekalipun kita akan mengingat terus peristiwa perselingkuhannya dengan Betsyeba, tetapi kita melihat tangan penyertaan Allah menaungi keluarga Daud dan kerajaan Israel, sampai kepada karya Yesus di kayu salib yang kalau kita lihat, Yesus pun berasal dari garis keturunan Daud.

Pernyataan “Siapakah aku ini” sebenarnya mengandung makna yang begitu mendalam. Pernyataan ini merupakan suatu pernyataan bahwa ketika kita berbicara dengan orang / pihak di hadapan kita, kita tidak mampu ataupun sebenarnya kita tidak layak untuk berbicara atau menerima sesuatu dari pihak / orang tersebut. Realitasnya? Ya memang sebenarnya kalau kita berdiri di hadapan Tuhan yang maha besar kita tidak akan punya kekuatan tersebut. Di hadapan Allah semesta langit itu adalah sebuah pernyataan yang begitu jujur.

Tetapi segalanya berubah saat ini. Kita menjadi pribadi yang minder manakala kita tidak memiliki sesuatu yang menurut ukuran dunia merupakan suatu hal yang wajib dimiliki. Ketika orang lain punya gadget terbaru, maka kitapun ingin memilikinya. Kalau tidak maka kita merasa lebih tidak berharga dibandingkan dia. Kalau orang lain sudah punya pacar yang cantik dan kita belum punya, maka kita bisa merasa lebih jelek dibandingkan dia. Sampai mungkin kita sampai pada suatu kesimpulan: betapa tidak adilnya Tuhan ketika menciptakan kita menjadi pribadi yang kurang ganteng.

Namun ketidakberhargaan manusia ternyata bukanlah sebuah alasan untuk Allah berhenti berkarya melalui kehidupan kita. Buktinya adalah salib, dimana seluruh ketidakbermaknaan kehidupan kita dihancurkan. Dignity kita mulai dibangun melalui karyaNya. Status kita sebagai manusia akhirnya dikembalikan menjadi ciptaan baru melalui salib itu. Saat kita menyadari karya Yesus di kayu salib seharusnya kalimat “Siapakah aku ini?” menjadi sebuah kalimat yang wajib kita tanyakan.

Ketika Allah memandang kita dengan begitu berharga, mengapa akhirnya kita menyia-nyiakan hidup kita dengan memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang kita? Mengapa akhirnya kita mencari nama baik namun mengabaikan karya Yesus di dalam kehidupan kita? Kita lebih senang bermain aman agar status kita tidak terancam, namun lupa bahwa sebagai orang Kristen tidak ada yang namanya main aman. Semuanya didasarkan pada anugrahNya dan anugrah itulah seharusnya yang memampukan kita melihat diri kita sebagaimana kita ada.

Kalau begitu, keberhargaan hidup kita sebenarnya bukan ditentukan melalui hal-hal yang fana. Tiada yang baka di dalam dunia, semua yang indah pun akan lenyap – demikian bunyi sebuah lagu hymn. Artinya bahwa keberhargaan hidup kita ditentukan bukan oleh hal-hal yang kita miliki di dunia ini. Keberhargaan hidup adalah mengenai relasi dan kesadaran akan anugrah Tuhan atas kehidupan kita. Menyadari hal ini membuat kita menjadi pribadi yang percaya diri, dan membawa kita kepada satu kesadaran akan iman kita kepada Dia.

Adakah kita merasa bahwa hidup kita dipenuhi oleh kesia-siaan? Adakah kita merasa bahwa kita tidak berharga karena kita nggak punya banyak hal yang dapat kita banggakan? Adakah kita bertanya “siapakah aku ini?” padahal status kita sudah diubahkan olehNya?

Karena Kristuslah kita berharga. Karena anugrahNya yang begitu besar atas kehidupan kitalah maka kita dapat memberikan yang terbaik untuk kemuliaanNya. Karena anugrah itulah kita sadar bahwa kita manusia lemah, namun Ia menjadikan kita berharga untuk kemuliaanNya


Soli Deo Gloria 

Monday, April 20, 2015

Padaku Ada Sesuatu

Kalimat yang aneh. Rasanya pasif sekali. Ucapan “Padaku Ada Sesuatu” bukankah juga bisa dikatakan sebagai “Aku Punya Sesuatu”? Tunggu dulu, sobat. Ada berbagai perbedaan yang begitu mendalam antara kedua kalimat ini. Sekalipun kita bukan ahli linguistik, tapi yuk kita mencoba telaah lebih dalam lagi. Saya akan coba uraikan melalui artikel ini.

Ketika seseorang berkata “Padaku Ada Sesuatu”, ia menyadari betul kalau “sesuatu” itu bukanlah miliknya. Loh? Iya betul, sesuatu itu ada pada dirinya, tetapi ia sama sekali tidak punya hak milik atas sesuatu itu. Contohnya begini: ketika saya tiba-tiba dititipkan sebuah mobil oleh orang tua saya, maka mobil itu bukan resmi milik saya, tetapi milik orang tua saya. Mobil itu ada dalam kendali saya, tetapi sewaktu-waktu orang tua berhak banget untuk mengambilnya kembali.

Sedangkan ketika kita berkata bahwa “Aku Punya Sesuatu” maka implikasinya adalah kita memiliki sendiri sesuatu itu. Kita memperjuangkan segala sesuatunya untuk mendapatkannya. Jadi kita punya hak penuh atas sesuatu itu.

Bagaimana dengan kehidupan keseharian kita? Kalimat mana yang kita pahami untuk menjalani hidup keseharian kita? Bentar… Sejauh itukah? Iya, sobat. Sampai sejauh itulah sebenarnya implikasi dari kedua kalimat ini. Khususnya tentang segala sesuatu yang ada di dalam kehidupan kita. Ketika kita melihat kembali kehidupan kita, kalimat mana yang kita pegang?

Seseorang yang menggunakan prinsip hidup “Padaku Ada Sesuatu”, maka ia sadar betul bahwa segala hal yang terjadi di dalam kehidupannya adalah bukan miliknya. Semuanya adalah sesuatu yang sudah dianugrahkan di dalam kehidupannya. Kalau demikian setiap tindakan yang ia kerjakan akan begitu berbeda dengan orang-orang disekitarnya yang menganggap bahwa segala sesuatu adalah miliknya. Cara pandang hidup ini bisa juga dikatakan sebagai cara pandang hidup adalah anugrah.

Ketika memaknai cara hidup seperti ini, orang tersebut akan menikmati sekali hidupnya. Ia akan begitu bertanggung jawab atas kehidupan yang dianugrahkan kepadanya. Ia akan begitu menyadari bahwa ketika dia punya suatu bakat, semuanya itu adalah anugrah. Lebih jauh lagi, keseluruhan hidupnya adalah untuk kemuliaan Sang Empunya Hidup. SIapa? Ya Tuhan sendiri. Sampai segitunya? Iya donk. Artinya ia sadar betul bahwa segala karya yang akan ia kerjakan adalah bagi kemuliaanNya, dan segala hal yang terjadi di dalam hidupnya dapat ia nikmati. Entah ada kejadian yang buruk, ataukah kejadian yang begitu baik, semuanya terjadi karena ANUGRAH. Poin nya disitu.

Bagaimana dengan cara pandang “Aku punya sesuatu”? Berkebalikan sekali dengan cara pandang yang pertama. Ketika cara pandang kita adalah “Aku Punya Sesuatu”, itu berarti bahwa segala hal yang kita dapatkan adalah milik kita sendiri. Kita ngga akan mau membaginya, tetapi justru mengumpulkan lebih banyak dan lebih banyak lagi. Semuanya adalah tentang aku. Hidup ini pusatnya adalah aku, dan segalanya kalau bisa aku kuasai semua.

Memaknai kehidupan seperti ini membentuk kita menjadi seorang pribadi yang begitu egoistis. Alih-alih kita perhatikan orang lain, buat diri sendiri saja, kita tidak akan pernah merasa cukup. Kehilangan satu sen saja rasanya akan menjadi suatu kerugian yang begitu besar karena kita menganggap bahwa segalanya adalah milik kita.

Cara pandang hidup yang pertama akan membawa kita kepada kehidupan yang penuh kemenangan di dalam Tuhan. Pembentukan karakter untuk dapat berbagi dan menjadi berkat bagi orang lain – menjadi pribadi yang altruis dan mampu menjadi pribadi yang solider dan memahami kebutuhan orang lain. Fokus hidup kita adalah kepada Tuhan yang memberikan anugrah. Menyadari bahwa segalanya boleh terjadi, boleh kita miliki, adalah karena Allah. Semuanya adalah karena anugrahNya. Manis sekali kehidupan semacam ini. Menjadi roti yang terpecah dan anggur yang tercurah. Hidup adalah tentang Tuhan, everything is about His Glory!

Memang bukan jaminan bahwa kita akan hidup senang, tanpa masalah, tetapi hidup yang kita jalani di dalam anugrah adalah ketika Tuhan memberikan suatu paradigma baru. Ketika masalah datang, semuanya adalah proses dari Tuhan. Ketika ada hal yang diberikan Tuhan, semuanya adalah untuk kita bagikan kepada orang lain. Ketika kita punya sebuah talenta khusus, itu adalah anugrah yang Tuhan berikan untuk kita dapat memperkenalkan Allah yang bekerja atas kehidupan kita.

Jadi bagaimana kita mau menjalani hidup ini? Pilihan ada di tangan setiap kita.


Soli Deo Gloria

Sunday, April 5, 2015

Why Jesus Died - Mengapa Yesus Mati - Sebuah Terjemahan dari Buku Why Suffering

Mengapa kematian Yesus dianggap sebagai sesuatu yang sempurna? Mengapa Dia mati dengan sebuah tekat yang begitu kuat? Karena dari semula untuk itulah Dia datang. Tidak ada sebuah pemikiran dimana Yesus dipaksa untuk datang dan mati. Sebagai Allah, Yesus memilih untuk datang dan hidup di tengah manusia, dan Dia memilih bentuk kematian sebagai seorang manusia. Yesus berkata, “Tidak seorangpun mengambilnya (hidupKu) dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri.” (Yohanes 10:18)

Bahkan saat disalib, Yesus berkata: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46; Markus 15:34), Yesus bukan hanya mengekspresikan betapa dalamnya penderitaan yang Ia alami, tetapi juga mengutip Mazmur 22 ayat pertama – yang sedikit banyak, akan membuat kita membacanya. Pada saat kita membacanya, kita menemukan bahwa penderitaanNya di salib pun akan mengingatkan kita bahwa kematianNya sudah Ia ketahui dan memiliki suatu tujuan. Dia mengacu kepada sebuah teks yang ditulis ratusan tahun sebelumnya yang menjelaskan dengan begitu detail mengenai cara kematianNya. Yesus juga mengingatkan kita bahwa ditengah pengalamanNya tentang keterpisahan dan keterasinganNya dari Bapa, Dia tetap menjaga kepercayaanNya bahwa Bapa “Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya” (Mazmur 22:24)

Tetapi mengapa? Bagaimana Yesus mati memang mengesankan, tetapi mengapa Yesus memilih untuk datang, dan menderita, dan menyerahkan nyawaNya? Saya akan mencoba untuk menggambarkan 3 alasan.

… Untuk Penderitaan Kita


Pertama, Yesus datang untuk mengerjakan sebuah hal yang dapat membuat perbedaankepada seseorang di tengah penderitaan mereka: untuk bergabung bersama mereka di dalam penderitaan dan kesakitan mereka.

Beberapa waktu lalu saya melihat ke halaman Facebook mengenai “Boating and Water Safety” dan sama seperti yang akan anda lakukan, dan saya menemukan sebuah artikal yang berkata bahwa ketika sebuah kapal tenggelam, wanita cenderung untuk meninggal dibandingkan dengan pria. Di dalamnya terdapat sebuah diskusi online yang panjang mengapa hal tersebut dapat terjadi, tetapi apa yang membuat saya berhenti dan berpikir adalah sebuah komentar dari seorang wanita bernama Kristin, yang berkata demikian: “aku tidak terkejut. Seorang wanita yang sudah punya anak memiliki kemungkinan yang paling kecil untuk dapat bertahan hidup. Saya sendiri akan memilih untuk mati dengan anak saya dibandingkan dengan meninggalkan anak saya untuk mati apabila saya dapat menyelamatkan diri saya sendiri.”

Bayangkan di dalam sebuah kapal karam, dan seorang anak terjebak di dalam sebuah ruangan yang perlahan terisi penuh oleh air. Ketika anda dapat melihat hal tersebut dari tempat anda, anda melihat bahwa tidak ada jalan keluar dari ruangan itu. Anak tersebut akan mati perlahan disana. Dan anak tersebut mengalami kebimbangan, ketakutan, dan penderitaan.

Bayangkan seorang orang tua yang kemudian masuk ke dalam ruangan itu, tahu bahwa hal tersebut akan emmbuat dia meninggal juga, namun dia turut hadir di dalam penderitaan anaknya – untuk menenangkan dia dan untuk memastikan bahwa dia tidak akan mati sendirian.

Aku akan memilih untuk mati bersama dengan anak saua dibandingkan meninggalkan anak saya mati sekalipun saya dapat menyelamatkan diri saya sendiri.

Bukankah hal itu seperti sebuah hal yang “gila” untuk kita lakukan? Tidak jika anda memiliki seorang anak. Istri saya dan saya memiliki anak-anak Tuhan yang begitu hebat: Sophia, Aiden, Mia dan Carys. Dan ketika kami melihat mereka dan memegang mereka, kami mengerti. Kami sadar bahwa mungkin bodoh untuk berbuat pengorbanan seperti yang saya sampaikan di atas, tetapi tidak untuk orang-orang yang paling kita kasihi.

Apa yang dapat kita tangkap, mengenai siapa kita seharusnya di hadapan Allah-di hadapan Allah yang mana memilih untuk menderita bersama kita dibandingkan dengan tidak menderita tanpa kita? John Stott mencoba menjelaskan kasih yang ditunjukkan Tuhan sebagai berikut:

Saya tidak pernah percaya kepada Allah, jika tidak karena salib. Satu-satunya Allah yang kupercaya adallah Allah yang dihina oleh Nietzche sebagai “Allah yang disalib.” Di dalam dunia yang penuh penderitaan, bagaimana seseorang dapat menyembah Allah yang kebal terhadap penderitaan itu?

Saya telah masuk ke banyak kuil-kuil orang Buddha di berbagai Negara di Asia dan berdiri dengan hormat di hadapan patung Buddha, yang mana kakinya menyilang, tangannya dilipat, dengan matanya ditutup, senyum yang ada di wajahnya, pandangan yang kosong di wahahnya, jauuh dari penderitaan dan kesakitan yang ada di dunia.

Tetapi setiap saya melihat ke arah yang lain, saya mencoba membayangkan sesuatu hal yang lain. Saya kemudian melihat dalam imajinasi saya, tubuh yang tergantung di salib, paku yang menembus tangan dan kakinya, punggung yang tersobek, anggota tubuhnya hancur, kening yang berdarah dari mahkota duri, mulut yang kering dan haus yang tidak tertahankan, tenggelam dan terabaikan di dalam kegelapan Allah.

Itulah Allah bagi saya! Dia mengesampingkan kekebalannya atas kesakitan. Dia memasuki dunia kita di dalam darah dan daging, air mata dan kematian. Dia menderita untuk kita.

Penderitaan kita menjadi lebih dapat dipahami di dalam terang kasihNya. Masih ada tanda tanya mengenai penderitaan manusia, tetapi di atas semua itu kita dengan berani meyakini tanda lain, salib yang melambangkan penderitaan yang ilahi.

Yesus dipermalukan pada saat Dia berada di salib: “"Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri!” (Lukas 23:35).

Dan di dalam hati seorang orang tua, Yesus merespon dengan memilih untuk mati dengan anak-anakNya dibandngkan dengan Dia harus meninggalkan anak-anakNya untuk mati dan menyelamatkan diriNya sendiri.

Itu adalah salah satu alasan mengapa Yesus mati, dan mengapa kematianNya adalah sebuah cerminan kasih yang begitu mulia.

… Untuk Dosa Kita


Tetapi alas an utama Yesus untuk penderitaan dan kematianNya di kayu salib adalah untuk menyelamatkan manusia dari dosa, untuk mengambil alih penghukuman yang seharusnya kita terima, sehingga kita bisa bebas.

Kita terkadang berusaha keras untuk menghindari kenyataan bahwa kita berdosa. Saya diingatkan kembali mengenai hal ini beberapa tahun yang lalu ketika saya akan membuat visa untuk bekerja di Inggris. Pada formulirnya yang disediakan, agar tidak dideportasi saya harus menjawab TIDAK untuk pertanyaan ini: “Apakah anda atau siapapun yang berkaitan dengan anda pernah melakukan hal-hal atau aktivitas yang mengindikasikan bahwa anda bukanlah seorang yang baik secara karakter?”

Saya hanya tertawa ketika saya membacanya. Hal itu seperti kita membaca “apakah anda pernah melakukan sesuatu yang salah?”

Jika anda ingin bukti bahwa kita penuh dengan dosa, hal yang paling mudah adalah “menyalakan lampu”. Dosa adalah sesuatu yang kita lakukan di dalam kegelapan, ketika tidak ada orang yang melihat.

Sama seperi ketika anda pergi ke bioskop, dan anda membawa satu kaleng popcorn. Anda berjalan ke dalam bioskop sebagai seorang manusia normal, dan ketika cahaya lampu mulai padam, anda akan menjadi seorang pemalas.

Pertama anda akan mengambil posisi sebagai seorang yang malas – abda duduk santai di kursi, kemudian meletakkan popcorn itu di atas perut anda, dan mulai memasukkan popcorn sebanyak-banyaknya ke dalam mulut anda, tanpa peduli apakah popcorn itu akan jatuh atau tidak. Atau anda akan terus menerus memasukkan popcorn itu ke dalam mulut anda sekalipun anda belum selesai mengunyahnya. Hal tersebut menyebabkan ada banyak sekali popcorn yang jatuh ke lantai.

Kemudian setelah tidak ada lagi popcorn yang tersisa di kemasannya, anda kemudian mulai popcorn yang jatuh ke baju dan celana jeans anda. Setelah filmnya selesai, anda akan mulai berdiri dan membersihkan baju anda dari popcorn yang tersisa, menjatuhkannya kembali ke lantai. Kita hanya meninggalkan sisa-sisa dari tindakan kemalasan kita untuk dibersihkan oleh orang lain.

Banyak hal luar biasa yang dapat kita lakukan manakala tidak ada orang yang melihat hal yang kita lakukan. Namun anda tidak akan melakukan hal itu kalau lampunya tidak dipadamkan. Anda tidak akan melakukan hal itu ketika anda pergi untuk berkencan dengan pacar anda. Anda tidak akan bertanya kepada pasangan anda “Bolehkah saya mencoba makanan itu?” dan kemudian anda langsung mengambilnya dengan kecepatan cahaya, sampai tiba-tiba makanan itu tumpah dan mengotori baju anda.

Inilah realitanya: bahwa “terang dunia” (Yohanes 8:12; 9:5) Yesus, melihat kita bahkan di dalam kegelapan. Dia tidak hanya melihat popcorn yang tidak kita makan, tetapi bagaimana kita berpikir terhadap orang lain, apa yang kita kerjakan ketika mereka tidak ada, hal yang kita lihat, bagaimana kita membelanjakan uang kita.

Ada seorang anak bernama Eric, yang mana saya sering bertengkar dengannya saat saya masih remaja. Dia bukanlah seorang anak yang baik, dan saya selalu menantikan kesempatan untuk mengalahkan dia. Beberapa tahun yang lalu, saya mendengar bahwa Eric bunuh diri.

“Sebab upah dosa ialah maut” (Roma 6:23). Tidak pernah kata-kata itu tmenjadi begitu nyata dalam hidup saya dibandingkan pada saat saya mendengar berita ini. Apakah dia akan bunuh diri jika saya menjadi seorang yang baik bagi dia? Jika saya membantu dia?

Saya tidak tahu

Terkadang ketika saya mencoba untuk menjelaskan dosa kepada orang-orang, mereka selalu berkata bahwa saya terlalu berlebihan, bahwa saya sangat baik – bahwa saya tidak pernah “membunuh” siapapun.

Ya saya pernah. Dan bagaimana jika ternyata Allah menerangi sinarNya bukan hanya pada Eric namun juga pada kata-kata saya yang menyakiti hatinya selama bertahun-tahun, dan semua hal yang saya miliki yang ternyata bukan saya berikan kepada orang yang membutuhkan tetapi saya justru menikmatinya sendiri? Saya tidak ragu – bahwa saya butuh seorang Juruselamat.

Saya dapat mengingat hal-hal yang dulu saya lakukan – seperti bagaimana saya memperlakukan Eric – yang mana saat itu saya merasa biasa saja, tetapi saat ini saya menyadari bahwa itu adalah hal yang buruk. Sekarang ketika Allah memimpin hidup saya, saya dapat melihat dengan begitu jelas bahwa itu adalah hal yang begitu buruk.

Bayangkan bagaimana jauh jalan yang sudah disediakan Allah. Saya mengambil setiap langkah perlahan namun pasti. Allah akan memiliki cara pandang terbaik. Cara pandangnya adalah yang paling benar, dan tidak ada satu pun dari kita yang dapat terlihat begitu kudus dari cara pandang itu. Faktanya Yesus berkaa pada kita mengenai bagaimana cara pandang Allah terhadap dosa: mengingini pasangan orang lain seperti berzinah, kebencian seperti pembunuhan.

Terkadang sulit bagi kita untuk menghargai kebenaran tentang dosa kita sampai kita bertemu dengan orang yang lebih suci dibandingkan kita. Istri saya suatu kali menuliskan sebuah daftar untuk saya mengenai 40 hal yang tidak diketahui siapapun tentang dia yang mana dia ingin saya tahu sebelum akhirnya kami bertunangan. Jo ingin memastikan bahwa saya akan memasuki kehidupan pernikahan sebagaimana dia ada, dan bukan hanya hal-hal yang terlihat di depan mata saja. Hal itu adalah hal yang begitu indah untuk dilakukan. Menegangkan, tetapi begitu indah!

Kemudian Jo berbicara pada saya melalui daftar itu. Dan ketika kami sampai pada #19 dari daftar tersebut, Jo berkata, “ini adalah hal yang paling memalukan bagi saya. Saya merasa bahwa saya mengkhianati kepercayaanmu dan hal ini mungkin adalah hal terburuk yang pernah saya lakukan kepadamu.”

Pada titik ini saya mencoba untuk tetap tenang, tetapi akhirnya saya gagal. Anda dapat membayangkan hal-hal yang melewati kepala saya: Dia pernah menipu saya. Dia adalah seorang mata-mata dan ia harus membunuh saya karena saya tahu terlalu banyak. Dia secara diam-diam adalah fans dari klub Red Sox.

Kemudian Jo menjelaskan bahwa suatu hari ketika kami bersama melihat foto-foto di komputer kami, dan kemudian ketika saya meninggalkan dia sendirian untuk membuka pintu, dia terus melihat pada file di komputer saya untuk melihat foto-foto lama saya. Saya hanya berpikir demikian, Kamu pasti bercanda! Itukah hal yang paling buruk yang pernah kamu lakukan pada saya?! Saya berada dalam masalah besar!

Dosa kita selalu ditunjukkan dengan kebaikan orang yang hadir di sekitar kita. Itulah mengapa ketika penjahat yang ada di sebelah Yesus melihat kekudusan Yesus ketika Dia mati, dia menyadari bahwa ia memang layak dihukum. Itulah mengapa orang Kristen percaya bahwa ketika kita berdiri di hadapan Allah, setiap kita dapat menyadari kebutuhan kita akan Juruselamat.

Hal yang mencengangkan dari pesan iman Kristen adalah Allah begitu mengasihi kita untuk kita dapat mnanggung penghukuman yang harus kita terima akibat dosa kita. Tetapi bagaimana secara pastinya bahwa kematian Yesus dapat menyelesaikan hal itu? Seharusnya pelaku dosalah yang harus bertanggungjawab atas dosa mereka. Jika Yesus yang ternyata menderita konsekuensi itu, bagaimana hal itu dapat disebut sebagai keadilan.

Saya coba membayangkan masa lalu saya dan ketika saya berkelahi dengan anda, tiba-tiba saya berkata pada anda bahwa yang bersalah adalah orang lain. Orang lain itu yang memukul anda (padahal anda tahu bahwa saya yang memukul anda) dan kemudian dia ditangkap dan dimasukkan ke penjara akibat dari tindakan saya. Sangat sulit untuk melihat bagaimana ilustrasi itu dapat menunjukkan kasih, atau keadilan. Seperti itulah terkadang kekristenan dipandang.

Tetapi mari kita ubah skenarionya. Bagaimana jika ketika saya memukul anda, kemudian ketika saya akan memukul anda lagi, istri saya, Jo, berdiri diantara saya dan anda, dan kemudian pukulan saya mengenai dia, dan dia terlempar ke tembok yang mana kepalanya terbentur disana. Akhirnya dia mati. Ketika saya melihat konsekuensi dari tindakan saya kepada seseorang yang begitu saya cintai, saya jatuh dalam kesedihan di depan anda, dan mulai memohon untuk pengampunan.

Apakah anda masih merasa bahwa keadilan belum terpenuhi akibat dosa saya kepada anda? Saya rasa tidak. Mengapa? Karena apa yang lebih buruk dibandingkan kehilangan seseorang yang paling saya cintai di tangan saya sendiri? Tidak ada hal yang lebih buruk. Meminta lebih atas hal itu berarti tidak berperasaan dan begitu kejam.

Pada kayu salib, Allah menempatkan diriNya antara kita dengan orang-orang yang pernah kita sakiti. Di dalam kasih yang begitu melimpah, Dia mengambil seluruh akibat dari dosa kita. Dia menderita penghukuman yang kita terima.

Tetapi hal itu tidak berarti bahwa tidak ada konsekuensi dosa yang kita terima. Kita menghadapi konsekuensi dosa yakni kematian Pencipta kita dan Seseorang yang begitu mengasihi kita. Ketika memahami hal inilah kita berlutut di dalam pengakuan dosa dan memohon pengampunan. Karena Yesus bangkit, dan karena kematian tidak dapat menahan Dia (Kisah Para Rasul 2:24), pengampunan dosa atas kita bukan mengarah kepada rasa bersalah akibat kematian Seseorang yang kita kasihi, tetapi menjadi sebuah sukacita karena menerima Seseorang itu bangkit dari kematianNya.

Keberatan bahwa kematian Yesus karena dosa kita adalah sesuatu yang tidak masuk akal berdasarkan pada asumsi bahwa kematian Yesus tidak berhubungan dengan kita, tidak relevan pada dosa kita, hanya seorang yang tidak kita kenal yang akhirnya dihukum karena kita. Tetapi hal itu benar hanya apabila Yesus secara fakta adalah seorang asing bagi kita. Jika kita tidak peduli kepada Yesus, jika kita tidak tertarik untuk mengikuti Dia, maka kematianNya adalah kematian dari seorang asing, seseorang ang tidak kita tahu ternyata dihukum karena tindakan kita. Kemudian keadilan harus dijalankan di dalam kehidupan selanjutnya.

Tetapi ketika kita mencintai Yesus, ketika kita menempatkan iman kita kepadaNya dan memilih untuk mengikut Dia, maka kita berdiri di bawah kaki salibNya dan melihat kematian dari seseorang yang paling kita cintai akibat dari dosa kita, dan konsekuensi harus tetap dijalankan. Salib adalah segalanya tetapi; dan hal itu relevan atas kehidupan kita. Keadilan Allah terpuaskan.

Yesus mengambil konsekuensi yang membawa kita kepada kematian sehingga kita dapat mengambil konsekuensi yang memimpin kita kepada pertobatan, dan kepada kebebasan dan hidup yang kekal.

Itu hanyalah sebagian analogi yang tidak sempurna mengenai apa yang Yesus kerjakan di kayu salib. Tidak ada analogi yang mampu untuk menggambarkannya secara sempurna. Tetapi saya melihat analogi ini dapat membantu kita untuk memperlihatkan apa yang sebenarnya terjadi pada pernyataan bahwa salib menghancurkan keadilan Allah, yang mana ternyata faktanya adalah kebalikannya.

Salib adalah tempat dimana Allah protes bahwa bukan sesuatu yang baik manakala kita melihat orang-orang disiksa, kecanduan, dan diperbudak, bahwa selalu ada konsekuensi serius dari dosa yang mereka perbuat. Tetapi salib juga merupakan tempat dimana Allah berkata bahwa Dia tidak dapat lagi melihat segala yang Ia bawa ke dunia ini kehilangan nyawanya untuk menerima konsekuensinya. Maka Dia kehilangan nyawanya dan dengan melakukan itu memberikan kepada setiap orang kehidupan yang tidak akan pernah lenyap.

Allah melihat dari sorga hidup kita sebagai seorang orang tua dan melihat anak-anakNya berkelahi satu sama lain – membunuh satu dengan yang lain. Dan Dia melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang tua. Dia mengorbankan diriNya sendiri di antara mereka. Dia menerima pukulan, dan Dia menderita kematian, agar mereka dapat hidup.

Lebih menakjubkan lagi adalah fakta bahwa Allah merespon dengan cara demikian sekalipun kita bukan hanya bertengkar satu sama lain, kita bertengkar dengan Allah sendiri. Setiap kali kita melemparkan pukulan-baik secara nyata atau dengan kata-kata-kita melawan Allah juga, karena ketika kita memukul seseorang yang Ia kasihi. Pertengkaran kita juga melawan Allah secara langsung, karena seringkali kita memilih untuk menjadi Allah atas diri kita sendiri-ketika kita tahu apa yang Tuhan mau, ketika kita tahu bahwa Dia tahu yang terbaik, dan kita menyangkalNya. Pengkhianantan yang terdalam adalah dosa melawan Pribadi yang begitu mangasihi anda. Sekalipun berkali kali kita menyangkalNya, pada salib itu DIa memilih kita. Itu adalah bentuk kasihNya yang paling sempurna.

Keadilan menuntut keputusan. Kasih menuntut pengampunan. Hanya pada salib Yesus kita menemukan keduanya. Hanya pada salib kita menemukan kasih dan keadilan yang sempurna di dalam titik temu yang sempurna. Itulah mengapa Yesus datang. Itulah mengapa Yesus siap untuk mati.



… Untuk Rasa Malu Kita


Yesus mati untuk penderitaan kita; Dia mati untuk dosa kita; dan akhirnya; Dia mati untuk rasa malu kita.

Ketika saya merasa bahwa saya sudah melewati urutan terburuk dari daftar “40 Hal yang Tidak Kamu Ketahui Tentang Jo”, dia kembali mencengangkan saya dengan #37. Hanya ada 4 kata, tetapi 4 kata yang tidak akan anda ingin dengarkan dari seseorang yang begitu penting bagi anda:

“Saya adalah fans Star-Trek”

Benar, Jo menyukai Star Trek.

DIa begitu hebat di dalam menyembunyikan fakta yang memalukan ini dari saya di dalam masa berpacaran kami, dan saya masih berpikir bahwa satu-satunya alasan dia berkata kepada saya adalah karena film Star Trek yang baru baru saja dirilis dan dia harus mengatakan hal itu agar saya mengajak dia.

Jadi Jo membacakan #37 kepada saya, dan saya dapat membayangkan bahwa ketika dia mengatakan hal itu, saya akan kurang memperhatikannya. Orang lain menghina dia ketika dia masih muda, karena itulah dia berpikir dia punya alasan untuk malu.

Kami berjanj untuk bertemu di bioskop, dan ketika Jo sampai disana, saya berdiri di luar dan dengan bangga saya menggunakan T-shirt bergambar wajah Mr. Spock yang berkata “Live long and prosper.” Dan saya memegang sebuah poster Star Trek yang besar yang mana dapat dibaca oleh orang-orang sekitar “To Boldly Go Where No Man Has Gone Before”

Saat Jo menghampiri saya dia mulai meneteskan air mata, dan dia melingkarkan tangannya pada tubuh saya untuk memberikan saya sebuah pelukan. Saat itulah saya mulai memahami bahwa ketika saya memakai atribut yang membuat Jo malu, hal itu membebaskan dia dari rasa malu itu. Kemudian saya berkata kepadanya: “Saya tidak akan pernah merasa malu atas dirimu, jadi jangan pernah kamu merasa malu tentang dirimu sendiri”

Allah memakai sebuah t-shirt yang lucu dan poster yang bodoh untuk mengajar saya dan Jo sesuatu yang begitu signifikan tentang Dia. Yesus mati bukan hanya untuk dosa kita; Dia juga mati untuk rasa malu kita.

Saya tidak tahu bagaimana dengan anda, tetapi saya tahu bahwa bagi saya dan Jo, beberapa kenangan kami yang menyakitkan membuat kami menjadi malu atas kehidupan kami. Mungkin ada satu waktu di dalam kehidupan kami dimana kami dihina, tidak dipedulikan, atau diperlakukan seperti sebuah benda, bukan manusia. Terkadang hanya beberapa kata, dan hal itu dapat mempengaruhi kita selama bertahun-tahun – kata-kata seperti “kamu jelek”, “kamu kurang baik,” “kamu tidak layak untuk menghabiskan waktuku.”

Telanjang di salib, Yesus mengambil kepada diriNya sendiri setiap hinaan yang kita terima, setiap kita diludahi, setiap kali kita gagal. Dia turut hadir manakala kita menerima umpatan, kita ditelanangi, kita tidak dipedulikan, kita diremehkan. Ketika Dia berada di dalam pribadiNya sebagai manusia, Yesus secara literal memakai semua itu di dalam diriNya.  

Beberapa orang menolak pendapat mengenai seorang yang kudus akhirnya mati di dalam kematian yang memalukan. Mereka benar. Kematian itu penuh dengan hal-hal memalukan milik kita. Yesus memakai hal yang memalukan milik kita, sehingga seperti yang tertulis di dalam alkitab: "Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan." (Roma 10:11; Mazmur 25:3). Dan lagi:

“Janganlah takut, sebab engkau tidak akan mendapat malu, dan janganlah merasa malu, sebab engkau tidak akan tersipu-sipu. Sebab engkau akan melupakan malu keremajaanmu… Sebagai ganti bahwa kamu mendapat malu dua kali lipat, dan sebagai ganti noda dan ludah yang menjadi bagianmu, kamu akan mendapat warisan dua kali lipat di negerimu dan sukacita abadi akan menjadi kepunyaanmu.”
(Yesaya 54:4; 61:7)

Di salib itulah Yesus menyatakan bahwa ketika anda percaya kepadaNya, anda tidak perlu malu mengenai segala hal yang telah anda lewati, karena Ia sudah pernah menghadapinya juga. Dia tergantung lemah dan ditolak di dalam sebuah cara yang begitu memalukan sehingga kita tidak perlu lagi hidup di dalam rasa malu itu.

Salib adalah proklamasi publik Allah kepada seluruh dunia yang mau mengatakan bahwa anda dikasihi dan selamanya diinginkan – seperti Paulus menyatakannya, diciptakan untuk menjadi poiema Allah, puisi kepunyaan Allah, masterpiece Allah. Eleonore Stumps menyimpulkannya demikian:

Tidak peduli dengan standar apa seseorang dipermalukan, standar itu dikuasai oleh standar yang ditegakkan dengan relasi kasih dengan Allah… Ketika kita diingini oleh pribadi yang maha agung dan maha baik yang ada, seorang manusia diinginkan oleh standar yang paling sempurna. Dengan standar inilah seluruh rasa malu harus tunduk.


Setiap standar itu harus tunduk karena standar Allah – standar yang paling sempurna – mempermalukan seluruh standar yang ada di dunia yang mengancam untuk mempermalukan kita. Melalui ukuran standar Allah – standar yang dimenangkan Yesus di kayu salib, Allah melepas rasa malu kita, dan Dia memakaikan kepada kita rasa penerimaan, percaya diri, kehormatan, dan menjadikan kita seorang ahli waris. 

Friday, April 3, 2015

Titik Jenuh Pelayanan Kristen

Setiap orang selalu dapat mengalami apa yang disebut sebagai kejenuhan. Tak terkecuali orang-orang Kristen, apalagi yang sudah terlibat di dalam sebuah pelayanan yang sudah cukup lama. Terlebih lagi kalau ternyata pelayanan yang dikerjakan itu hasilnya “nihil”, dalam arti ternyata pelayanan yang kita kerjakan tidak berhasil (tentu saja tidak berhasil disini dalam arti duniawi). Kita berusaha untuk menyanyi dengan lebih baik, tetapi ternyata suara kita masih di bawah standar. Kita mencoba untuk menginjili orang di sekitar kita, ternyata nggak ada satu pun orang yang akhirnya percaya. Kita berusaha membuat sebuah acara yang menarik, tetapi ternyata acara itupun hanya dihadiri oleh segelintir orang.

Selalu banyak alasan bagi kita untuk akhirnya kita memutuskan “resign” atau “quit” dari pelayanan kita, alasannya adalah karena ternyata pelayanan kita sama sekali tidak memberikan sebuah berkat bagi orang yang kita layani. Konsep pelayanan kita akhirnya tergantikan dengan suatu anggapan bahwa ternyata pelayanan kita nggak jauh beda dengan pekerjaan-pekerjaan kita di dunia. Kita beranggapan dan kita berasumsi bahwa ternyata pelayanan kita gagal manakala tidak ada tepuk tangan, tidak ada pujian dari orang lain, kita jadi terus menerus melayani namun hanya sebagai “pemain cadangan”, dan begitu banyak anggapan lain.

Ketika kita mulai merasa berada pada titik jenuh, kita perlu kembali memandang pelayanan sebagai suatu kesempatan. Cukup belajar memandang kembali apa yang dikerjakan Allah atas kehidupan kita. Ketika rasa jenuh itu tiba, kita perlu belajar untuk introspeksi diri kita. Kita perlu belajar untuk meninjau kembali, sebenarnya apa makna pelayanan kita. Kita perlu belajar mendefinisikan kembali sebenarnya apa arti pelayanan bagi kita, dan apa manfaatnya.

Seorang teman saya adalah seseorang yang pernah bergelut di dalam dunia pelayanan mahasiswa selama lebih dari 10 tahun. Ia adalah seseorang yang bisa dinilai tekun di dalam pelayanan yang ia kerjakan. Bahkan sampai sekarang, badai silih berganti mengancam pelayanan itu sampai akhirnya saat ini pelayanan yang ia kerjakan diacak-acak oleh pihak yang lebih berkuasa. Namun di tengah dia menjalaninya, rasa jenuh yang ia alami terhapus dengan melihat kembali tujuan pelayanannya. Ia belajar untuk bertahan karena tahu bahwa pelayanan yang ia bentuk (di dalam anugrah Tuhan tentunya) mendatangkan satu sukacita tersendiri. Dia banyak berubah karena dia belajar untuk setia melayani di tempat itu.

Ketika aku menanyakan sebenarnya apa yang membuat dia dapat terus melaju, jawabannya selalu sama: bahwa ketika kita mengerjakan sesuatu buat Tuhan, sebenarnya bukan pribadi orang lain yang kita ubah, namun pribadi kita mendapatkan benefit yang jauh lebih besar. Loh? Kok bisa? Ya karena kita tahu bahwa ternyata kita sedang dpercaya untuk mengerjakan rencana besar Allah melalui kehidupan pelayanan kita.

Kejenuhan itu suatu saat – mau tidak mau – akan datang dengan sendirinya. Sadar atau tidak kita akan sampai pada titik jenuh di dalam kita melayani. Bidang apapun pelayanan kita entah acara kecil atau besar, selalu akan menyampaikan kita kepada sebuah kejenuhan. Sampai pada titik jenuh itulah kita dituntut untuk memilih : mau lanjut atau mau berhenti? Kalau mau lanjut pun pilihannya ada dua, apakah kita mau (1) mengerjakannya dengan semaksimal mungkin sesuai tugas panggilan Allah atas kehidupan kita, atau (2) mengerjakannya dengan asal-asalan?

Kita mengingat kembali apa sebenarnya yang dikerjakan Allah manakala Ia datang ke dunia. Bukankah tugasnya adalah untuk melayani dan memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang?[i] Oke kalau kita menyadari hal ini, masih berhakkah sebenarnya kita untuk jenuh? Kristus pun mungkin dalam pandangan saya juga jenuh. Bapa juga jenuh. Kalau kita membaca di sepanjang perjanjian lama dan perjanjian baru, ada satu kesamaan disana: Umat Israel adalah bangsa yang begitu bebal, bangsa yang begitu tegar tengkuk. Berkali-kali Allah memperingatkan mereka untuk menjadi sebuah bangsa yang taat, tetapi hasilnya? Tetap saja Israel tetap menjadi sebuah bangsa yang mengkhianati Allah.

Kita sering geleng-geleng saat kita melihat tingkah bangsa Israel. Sama juga mungkin kalau kita melihat orang-orang yang kita layani. Itu membuat kita jenuh dan akhirnya kita meninggalkan pelayanan. Tetapi sepanjang alkitab kita bisa melihat bagaimana penyertaan Tuhan atas bangsa Israel dengan kasih setiaNya. Kristus di dalam pelayananNya di dunia, Ia tahu betul sebenarnya apa yang harus Ia kerjakan. Hal inilah yang akhirnya menguatkan Dia untuk menjadi seorang pribadi yang penuh dengan kesetiaan di tengah ketidak setiaan bangsa Israel.

Inti dari pelayanan bukanlah tentang hasil dari pelayanan yang kita kerjakan. Allah nggak pernah menilai keberhasilan sebuah pelayanan dengan mengukur hasilnya. Ia melihat bagaimana perubahan hati dan sikap seseorang di dalam karya layanan yang ia kerjakan. Perlu kedewasaan rohani dari dalam diri kita untuk dapat memahami karyaNya itu. Nah sekarang pertanyaan yang diajukan bagi setiap kita adalah sudahkah Allah mengubahkan hati kita di dalam pelayanan yang kita kerjakan? Sudahkah kita belajar untuk melihat bahwa ketika Allah mau mengerjakan karyaNya di dunia ini, Ia tidak sembarangan memilih saudara dan saya?

Pelayanan itu telah ditentukan sebelumnya oleh Allah. Ketika kita jenuh mari: (1) ingat kembali akan karyaNya yang terbesar di kayu salib, (2) mengingat bahwa ada rencana besar Allah yang mau dinyatakan Allah melalui kehidupan pelayanan kita, dan (3) belajar untuk punya relasi yang intim dengan Allah. Kalau ketiga hal ini kita terus ingat, ketika kita jenuh, Allah sedang ingin menunjukkan keada kita bahwa pelayanan ini bukan tentang kita. Pelayanan ini bukan karena kuat dan gagah kita. Pelayanan ini adalah tentang Dia, yang telah memberikan nyawaNya bagi kita, yang telah mengubahkan kita, dan yang telah menyediakan kepada kita setiap pekerjaan baik yang harus kita kerjakan selama kita berada di dunia ini.

Soli Deo Gloria





[i] Markus 10:45

Sunday, March 29, 2015

Indahnya Kerendahan Hati - Perenungan Mengenai Salib dan Maknanya dalam Hidup

Minggu Palmarum, sebuah momen dimana Yesus dimuliakan di Yerusalem. Disambut dengan daun palma dengan naik keledai, untuk akhirnya menjalani momen minggu sengsara. Saat ini kita mengingat kembali bagaimana Allah yang menjadi manusia, pada akhirnya harus menyerahkan diriNya untuk menjadi penebus umat manusia. Cukup unik, dan ini hanya ada di Kekristenan. Bagaimana mungkin Allah mati, bahkan mati dengan cara yang paling hina yang diketahui manusia pada jaman itu?

Saya tidak akan berbicara banyak mengenai minggu palmarum. Saya mencoba untuk melihat apa yang dikerjakan Yesus melalui salib. Mengingat momen paskah, berarti kita mengingat kembali salib. Inti dari kekristenan itu ada di dalam pribadi Yesus, dan salib merupakan suatu klimaks, sampai nantinya ada kebangkitan. Di dalam salib itulah seluruh dosa manusia ditebusNya. Salib itulah yang membuat saudara dan saya menjadi seorang pribadi yang baru – pribadi yang ingin belajar untuk memuliakan Tuhan Yesus melalui setiap langkah kehidupan kita.

Implikasi dari kehidupan Yesus yang begitu nyata adalah kehidupan yang merendahkan diriNya (kenosis). Mengosongkan diri adalah salah satu bukti bahwa Allah adalah pribadi yang SOLIDER. Ia turut merasakan penderitaan manusia, bahkan mungkin penderitaan saudara dan saya sama sekali nggak sebanding dengan apa yang Dia kerjakan di dalam salibNya.

Analoginya seperti ini:
Bayangkan anda adalah seorang bos besar dari sebuah perusahaan ternama secara internasional. Tiba-tiba ada seorang pengemis di depan anda, dan pengemis itu mengotori baju anda. Namun dengan sabar anda tiba-tiba memungut pengemis itu, anda memberikannya baju yang terbaik, anda membawa dia ke rumah anda. Sekalipun di rumah itu anda sudah menyediakan segalanya, ternyata dia masih saja ‘nakal’. Dia menghabiskan harta anda di rumah itu, kemudian dengan santainya dia meminta maaf kepada anda. Tetapi sekali lagi, anda kemudian membelikannya rumah baru, dan tingkah lakunya sama sekali tidak berubah. Anda marah kepadanya, tetapi akhirnya dia memutuskan untuk pergi keluar.

Setelah lama tinggal di luar rumah itu, sang pengemis ini kembali kepada anda untuk meminta ampun, sambil dia berjanji untuk berubah. Dengan tangan yang terbuka anda kemudian menyambut dia dengan sukacita. Namun lagi-lagi, dia mengecewakan anda dengan minum-minum dan pesta narkoba di tempat anda. Dia kembali ditangkap, dan kali ini dia harus dihukum mati. Kemudian anda merasa bertanggung jawab atas pribadi pengemis itu, anda akhirnya datang ke pengadilan, kemudian anda menyerahkan diri anda untuk menggantikan hukuman yang harus diterima oleh sang pengemis.

Kisah ini mungkin terlihat sedikit aneh. Mungkin dari kita berpikir : “hebat juga bos besar itu, kalau saja aku jadi dia, aku gak bakal mau melakukannya. Di awal saja dia sudah membuatku muak!” Secara manusia sebagian besar dari kita akan berkata seperti itu.

Saya pun belajar bahwa ketika diperhadapkan dengan situasi seperti itu, sebenarnya kita tidak pernah mengambil peran sebagai bos besar itu. Justru sebenarnya kalau kita menyadari bahwa kita orang Kristen, kita adalah sang pengemis itu. Kita tidak punya apapun yang dapat kita banggakan, tetapi hal yang terjadi adalah ternyata ada Tuhan, yang melalui Yesus Kristus membebaskan kita dari setiap dosa yang kita perbuat. Alih-alih menghukum kita, Ia menyerahkan diriNya menjadi tebusan dosa bagi banyak orang.

Ada suatu saat dimana kita diperhadapkan kepada suatu peristiwa untuk kita dapat mengampuni atau berhadapan dengan orang-orang yang begitu menyebalkan di dalam kehidupan kita. Sadarlah bahwa setiap kita pada saatnya nanti akan menjadi seorang atasan ataupun seorang pimpinan. Kita akan berhadapan dengan orang-orang yang mungkin menjadi orang yang paling menyebalkan di dalam kehidpan kita. Nah pertanyaannya sekarang adalah bagaimana sikap hidup kita di dalam menghadapi kondisi seperti itu?

Ketika Tuhan Yesus sudah menentukan sikapnya di dalam hidup kita, Ia menunjukkan satu teladan yang sempurna. Teladan yang mana kita boleh belajar bahwa apapun yang dilakukan oleh manusia sama sekali tidak mengubah tujuan hidupNya untuk memuliakan Allah. Ia sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan dimana Dia harus menghadapi berbagai tekanan hidup. Ingat, di dalam natur manusiaNya, Ia juga merasakan sakit hati. Ia juga merasakan dikhianati. Ia merasakan berbagai emosi yang membuat Dia sampai menitikkan air mata dan darah di Getsemani. Semuanya adalah karena Ia taat kepada Bapa.

Sementara itu di Timur Tengah saat ini sedang bergejolak problematika masalah ISIS. Kita melihat bagaimana umat Kristen diminta untuk memilih apakah ikut Tuhan, ataukah menyangkalNya. Ikut Tuhan berarti mati, menyangkalNya berarti hidup. Mungkin tidak seekstrim itu kita diperhadapkan pada problematika seperti itu, tetapi justru di dalam kehidupan keseharian kita pun kita dituntut untuk membuat pilihan-pilihan, yang tidak kita sadari, mau ikut Tuhan ataukah ikut dunia.

Kita belajar bahwa ketika Allah telah menyerahkan nyawaNya di dalam kehidupan kita, maka kita pun dituntut untuk memiliki satu komitmen mengikut DIa. Mengikut Dia dan memikul salib, sekalipun berat, namun kita belajar untuk mengikuti teladan yang Tuhan berikan. Dia adalah Allah yang solider, Allah yang turun ke dunia untuk membebaskan dosa manusia. Masuk akal? Sepertinya tidak, tetapi realitasnya seperti itu. Kita tidak akan bisa menghapus dosa kita sendiri, dan karena itulah kita masih membutuhkan kurban itu. Allah telah menjadi kurban yang sempurna untuk dosa-dosa kita. Pertanyaannya adalah apakah kita sudah siap hidup sebagai kurban? Hidup yang belajar untuk memaknai panggilan Allah atas kehidupan kita?

Soli Deo Gloria


Sunday, March 15, 2015

Menikmati Anugrah Allah

Pernahkah membayangkan bahwa ternyata seluruh hidup kita adalah tentang Allah? Ketika kita makan, ketika kita tidur, ketika kita mengerjakan aktivitas kita, ternyata Allah turut bekerja.

Manusia di tengah berbagai kecanggihan teknologi terkini mulai kehilangan kemanusiaannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebanggaan seseorang saat ini adalah ketika dia punya gadget terbaru. Akhirnya fokus hidupnya hanyalah untuk mengejar hal tersebut.

Berbagai hal dan penemuan baru membuat kita semakin excited dan mungkin akhirnya kita melupakan berkat-berkat kecil ataupun besar yang Tuhan sediakan atas kehidupan kita. Kita menjadi pribadi-pribadi yang cepat sekali mengeluh manakala tidak mendapatkan hal yang kita inginkan. Kita akhirnya menjadi pribadi-pribadi yang begitu apatis, kita jadi pribadi yang egois, kita selalu ingin lebih dan lebih.

Menikmati anugrah Allah di dalam kehidupan bukan berarti bahwa Allah harus selalu memberikan segala hal yang kita minta. Itu sih namanya rakus. Oke kita melihat kembali bahwa ternyata sifat rakus yang dimiliki manusia ternyata sudah ada dari dulu. Kita melihat dihancurkannya menara Babel. Tetapi yang paling dapat kita pelajari dari Perjanjian Lama sendiri adalah bagaimana kisah perjalanan bangsa Israel sekeluar mereka dari tanah Mesir.

Pernah membayangkan berjalan selama 40 tahun? 40 tahun yang dirasakan bangsa Israel dengan begitu lama dan akhirnya dari generasi selama 40 tahun itu, hanya 2 orang dari generasi eksodus itu yang masuk ke tanah perjanjian. Siapa mereka? Kaleb bin Yefune, dari suku Yehuda, dan Yosua bin Nun, yang dipercaya sebagai suksesor dari Musa.

Selama 40 tahun perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir, kita melihat bagaimana pergumulan bangsa itu dengan luar biasa. Tetapi di tengah pergumulan itu ada berkat dan kasih Allah Yehova yang begitu besar di dalam kehidupan mereka. Sekeluar mereka dari Mesir, mereka diberikan tiang awan dan tiang api. Kemudian ketika kelaparan, mereka mendapatkan manna. Ketika mereka haus, Allah menyediakan air. Mereka bosan makan manna, mereka diberikan akanan makanan lain yakni burung.

Kurang apa sih Allah di dalam kehidupan Israel? Kelihatannya Allah ialah Allah yang begitu kejam, sampai memutar-mutar bangsa itu hingga 40 tahun. Tetapi selama 40 tahun itulah ternyata semakin kelihatan seperti apa sikap bangsa Israel terhadap penyertaan Tuhan. Mereka tetap menjadi bangsa yang tegar tengkuk. Mereka tetap ingin kembali ke Mesir. Mereka terngiang oleh memori lama mereka. Mereka gagal melihat bagaimana karya Allah di dalam kehidupan mereka.

Hal ini tidak jauh berbeda dengan masa kini. Memaknai hidup yang berasal dari Allah ternyata merupakan hal yang begitu sulit kita lakukan sebagai seorang Kristen. Bersyukur menjadi suatu hal yang hampir tidak mungkin karena ternyata rasa syukur kita dinilai dari materi. Ketika gadget kita kalah canggih dengan orang lain, kita menggerutu. Ketika kita makan di restoran mahal yang harganya mahal, kita protes. Ketika kita mendapatkan gaji bulanan yang sudah cukup besar, kita masih saja mengeluh karena gaji itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kita.

Mulai terlihat kan persamaan antara kita dengan bangsa Israel? Alih-alih kita bersyukur atas segala hal yang sudah Dia sediakan di dalam kehidupan kita, ternyata kita jauh lebih banyak mengeluh atas kondisi yang kita hadapi. Kita selalu tidak puas dan akhirnya hal itu membuat kita tidak bisa “merayakan” anugrah yang Tuhan berikan atas kehidupan kita. Padahal anugrah yang paling sederhana pun yang dapat kita rasakan: ketika kita masih bisa bernafas; itupun jarang kita syukuri.

Ketika kita mengetahui dan memaknai anugrah Allah, kita dapat menikmatinya dengan suatu sukacita surgawi. Berkat Tuhan itu selalu “more than meets the eye”, yang berarti kita tidak pernah bisa melihat kalau kita tidak belajar untuk hening sejenak, diam dan memaknai betapa besar kasih Allah di dalam kehidupan kita. Kebermaknaan hidup didapatkan ketika kita belajar untuk melihat karya Allah yang bahkan tidak dapat kita lihat secara fisik. Ketika kita tidak dapat melihat berbagai karyaNya, kita perlu belajar untuk meminta dan memaknai anugrah – bahkan sekecil apapun anugrah itu.

Sama seperti kita memaknai lagu, kita bisa belajar dari memaknai anugrah Allah di dalam kehidupan kita. Maksudnya seperti apa? Teman-teman, kalau kita lihat dari lagu-lagu hymn yang ada di buku lagu NKB, PKJ, dan KJ, kesan apa yang teman-teman dapatkan? Jadul? Ya itu jawaban yang paling sering dinyatakan. Tetapi kalau teman-teman melihat ada banyak lagu yang ternyata justru maknanya begitu dalam, begitu indah, begitu menyentuh hati kalau kita memaknainya. Bayangkan contohnya lagu “Bila Kulihat Bintang Gemerlapan”, yang mengungkapkan keagungan karya Allah dan ketakjuban penulis. Pernyataan iman atas keindahan ciptaan yang menggambarkan karya Allah, itulah yang dimaknai penulis lagu ini.

Ungkapan syukur itu akan selalu menghasilkan sesuatu yang positif dalam kehidupan kita. Anugrah itu tersedia atas kehidupan kita. Berbagai proses baik itu menyenangkan ataupun menyakitkan, semuanya sudah dirancang oleh Allah untuk menjadikan kita pribadi-pribadi yang mampu melihat “lebih dari yang dilihat mata”. Artinya kita belajar bukan hanya melihat, tetapi mengapresiasi karya Allah. Mengapresiasi kehidupan yang sudah Ia anugrahkan dan akhirnya kita menyatakan rasa syukur itu melalui kehidupan kita.

Akhirnya ungkapan syukur itu akan menjadi sesuatu yang dapat memberkati banyak orang. Seseorang yang menyadari akan anugrah Allah akan begitu menikmati kehidupan dekat denganNya. Ia akan menikmati momen-momen dimana Kristus ada di dalam kehidupannya, menuntun dia dan terus membuat dia menjadi seseorang yang selalu mengucap syukur.

Saya menutup perenungan ini dengan sebuah kisah dari Joni Earackson Tada. Dia adalah seorang wanita yang begitu cantik. Dia pintar, punya begitu banyak bakat, dan masa depannya terasa begitu cemerlang. Suatu hari, Joni pergi untuk berolahraga di laut. Musibah terjadi di dalam kehidupannya. Joni yang punya begitu banyak cita-cita ternyata tidak sengaja menabrak sebuah karang. Hal ini membuat seluruh badannya dari leher ke bawah mengalami lumpuh.

Dokter pun sudah mengkonfirmasi mengenai kehidupannya. Ia akan mengalami kelumpuhan seumur hidup. Respons Joni? Ia marah pada awalnya, tetapi ia belajar untuk menenangkan diri. Ia akhirnya belajar untuk melihat lebih dari yang dilihat manusia. Ia melihat Allah memanggil Dia untuk berkarya bagi kerajaanNya. Apa itu? Ia akhirnya menjadi seorang penulis buku, di tengah berbagai keterbatasannya. Ia menjadi seorang pengkotbah dan ia mulai belajar menggunakan mulutnya, matanya, seluruh hal yang masih dapat ia gunakan untuk berkarya di dalam kehidupan yang Tuhan percayakan dalam kehidupannya.


Kalau kehidupan kita ternyata masih belum ada di titik yang terendah, atau mungkin teman-teman sedang mengalami hal-hal yang membuat teman-teman gagal untuk melihat karya Tuhan, sekarang saatnya kita belajar untuk melihat lebih dari yang dilihat mata. Ketika Tuhan memberikan berbagai proses hidup, semuanya adalah untuk kebaikan kita. Semuanya adalah untuk membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yang kuat untuk menghadapi berbagai proses kedepan untuk kita dapat hidup. Pertanyaannya, maukah teman-teman belajar memaknainya?

Sunday, March 1, 2015

Are You Ready for A Date?


Ini adalah sebuah percakapan pada saat aku berada di dunia kampus.

“Sabtu ini kamu kemana, yas?”
“Oh, aku ke gereja. Ada persekutuan di gereja. Kalau kamu kemana?”
“Ehm aku mau ke Galaxy Mall, yas, ama cowokku.”

Well, asyik juga ya sepertinya kalau udah punya pacar, dan kemudian bisa keluar bareng, makan bareng, nonton bareng, segalanya bareng. Serasa dunia milik berdua. Yap, pacaran menjadi sebuah proses yang begitu menyenangkan. Itu mungkin yang mendasari ada lagu “Jatuh Cinta Berjuta Rasanya” dan menjadi sebuah lagu yang nge-hits. Percakapan di atas terjadi saat aku belum punya pacar. J

Hmmm lalu apa yang dilakukan sebenarnya saat pacaran? Apakah pacaran itu identik ama seneng-senengnya aja? Tunggu teman-teman. Hidup itu nggak seindah di FTV, tetapi aku bisa katakan JAUH LEBIH INDAH dari FTV. Manakala FTV memperlihatkan begitu mudahnya perjuangan seorang cowok mendapatkan cinta seorang cewek, kita sudah tahu kok endingnya. Tetapi ketika hal itu dibawa ke dunia nyata, it’s totally different.

Tetapi kalau kita merenungkan kembali nih, kenapa kok aku bisa bilang bahwa hidup ini jauh lebih indah dari FTV? Karena ternyata memang ending dari cerita cinta kita tidak jelas dari sudut pandang manusia. Ketika kita mulai pedekate dengan seseorang yang kita suka, ada kalanya kita mendapatkan respon yang positif, tetapi nggak jarang juga kita nggak direspons (Sakitnya tu disini, prens… percaya deh). Tetapi dibalik duka yang bertubi-tubi itu, ada sukacita yang begitu besar yang sudah Tuhan persiapkan. Percayalah bahwa Ia sedang menyusun sebuah lagu yang begitu indah, dalam sebuah simfoni kisah cinta antara dua insan yang mau belajar untuk hidup di dalam Dia.

Okey aku akan coba berikan beberapa prinsip berpacaran. Artikel ini merupakan sharing aja. Artinya ini bukan sebuah hal yang ‘saklek’ harus kita jalankan. Tetapi harapannya ada sisi positif yang teman-teman bisa ambil.

1.     Fokus Pada Allah
Aku rasa ini adalah prinsip pertama dari segala hal yang kita lakukan. Yep, first of all, kalau mau memulai sebuah hubungan kita perlu mulai dengan mencintai Allah di dalam hidup kita. Okey, mungkin sebagian gak setuju dengan prinsip ini, karena kayaknya terlalu rohani banget. Tetapi begini, teman, dengan kita belajar untuk menikmati hubungan kita dengan Allah, kita menjadi pribadi yang gak banyak menuntut pasangan kita untuk melakukan sesuatu. Dasar dari prinsip lain ini adalah kita belajar meletakkan Allah sebagai pengendali hubungan pacaran kita.

2.     Prinsip Kenosis
Kenosis berarti ‘merendahkan diri serendah-rendahnya’. Nah ini terkadang muncul manakala ada satu pihak yang lebih superior disbanding pihak lain di dalam suatu hubungan. Ada pihak yang merasa harus mengalah karena memang dia minder kepada pasangannya. Kalau berdasarkan pengalamanku juga, hal ini kadang perlu kita latih terus menerus. Kita perlu belajar untuk merendahkan diri kita. Contohnya adalah kita belajar untuk masuk ke dunianya. Artinya bahwa setiap pihak perlu belajar untuk salingf mengalah dan nggak ngotot. Nggak merasa superior atas hal-hal yang ia lakukan. Kenosis ini paling jelas ditunjukkan oleh Tuhan Yesus. Prinsip ini menjadi salah satu prinsip di dalam melayani pasangan kita.

3.     Jujur di Hadapan Pasangan
Napa kok aku bilang kita perlu prinsip nomor 1? Sebenarnya adalah ini. Waktu kita pacaran, ada kalanya kita belajar untuk menampilkan sesuatu yang baik di hadapan pacaran kita. Dulu aku berpikir bahwa aku akan memperbaiki kelakuanku setelah aku jadian. Tetapi ternyata hal itu merupakan gombalan dan kebohongan terbesar dari kaum pria. Nah prinsip nomor 1 membawa kita untuk belajar jujur terlebih dahulu di hadapan Tuhan. Mengakui bahwa pribadi kita ini lemah, sehingga kalau di hadapan kita Tuhan sudah menyediakan seseorang, itu semuanya anugrah! Itu adalah momen dimana kita belajar untuk saling belajar jujur dan terbuka di hadapan pasangan kita, sehingga nggak ada shock theraphy yang terlalu berlebihan saat nanti kita sudah menikah. Banyak orang yang menikah tanpa mengenal pasangannya terlebih dulu. Banyak yang langgeng juga karena mereka belajar menerima satu dengan yang lain. Alangkah baiknya kalau proses ini dapat kita lakukan saat kita pacaran.

4.     Bertumbuh di Dalam Tuhan
Kalau di dalam hubungan pacaran kita ternyata kita menjadi orang yang makin menyebalkan, segera deh evaluasi relasi kita. Hal ini tentu berawal dari PDKT. Ketika kita sedang dalam proses PDKT ternyata kita menjadi pribadi yang makin egois dan posesif, kita perlu mengevaluasi sebenarnya kita mencintai atau menafsui. Ketika kita memasuki relasi pacaran seharusnya masing-masing semakin bertumbuh di dalam Tuhan. Cara bertumbuhnya gimana? Hmm ada banyak sih. Salah satu contohnya adalah melakukan aktivitas bareng, kemudian melayani bersama. Ada banyak aktivitas positif yang bisa kita lakukan sebagai pasangan.

5.     Open Your Eyes!
Orang bilang ‘cinta itu buta’. Ya, saya melihat ada banyak orang yang akhirnya terperangkap di dalam suatu hubungan yang sebenarnya tidak mereka inginkan namun akhirnya mereka memaksakan diri untuk masuk ke hubungan itu. Ketika kita mulai proses PDKT kita perlu membuka mata kita dan juga telinga kita lebar-lebar. Jangan pernah mengkompromikan hal-hal yang kita nggak sukai dari calon pasangan kita. Belajar untuk melihat kekurangan dan belajar terbuka dengan calon pasangan ketika dia melakukan hal yang nggak bener. Hal ini sebenarnya akan sangat berkaitan dengan prinsip nomor 3 dan 4.

6.     Love is something worth waiting & fighting for
Cinta itu menuntut suatu penantian dan pengorbanan. Okey dalam artian penantian, kita perlu belajar untuk menunggu. Menunggu apa? Menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan, menunggu jawaban yang berasal dari Tuhan yang merupakan hasil pergumula. Lalu mengapa harus belajar untuk fighting for? Yup kita perlu belajar untuk memperjuangkan cinta. Artinya kita belajar untuk berkorban, belajar untuk mengutamakan pasangan kita, belajar untuk menyesuaikan diri dengan dia, dan terus belajar untuk mengerjakan bagian kita di dalam membangun suatu relasi.


Cinta itu seperti maut, demikianlah penulis Kidung Agung menuliskannya. Mengapa seperti maut? Karena cinta pasti akan datang. Manakala cinta itu datang, cinta itu tidak mungkin dapat ditolak. Tidak ada hal yang dapat menahan cinta. Sadarlah bahwa maut bagi orang Kristen adalah sesuatu yang menyenangkan. Lho? Itulah yang Paulus katakan bahwa ‘mati adalah keuntungan’, karena ia bertemu dengan Kristus. Nah pacaran di dalam Tuhan adalah sebuah cinta yang didasari di dalam cinta akan Kristus. Ketika cinta itu sudah didasari pada kasih Allah di dalam hidup kita, maka kita akan mendapatkan sebuah kebahagiaan sejati di dalam Dia. Pacaran di dalam kekudusanNya. Pacaran di dalam suatu kesadaran bahwa cinta itu berasal dari Dia dan akhirnya hubungan kita adalah untuk memuliakanNya.