Total Pageviews

Friday, April 3, 2015

Titik Jenuh Pelayanan Kristen

Setiap orang selalu dapat mengalami apa yang disebut sebagai kejenuhan. Tak terkecuali orang-orang Kristen, apalagi yang sudah terlibat di dalam sebuah pelayanan yang sudah cukup lama. Terlebih lagi kalau ternyata pelayanan yang dikerjakan itu hasilnya “nihil”, dalam arti ternyata pelayanan yang kita kerjakan tidak berhasil (tentu saja tidak berhasil disini dalam arti duniawi). Kita berusaha untuk menyanyi dengan lebih baik, tetapi ternyata suara kita masih di bawah standar. Kita mencoba untuk menginjili orang di sekitar kita, ternyata nggak ada satu pun orang yang akhirnya percaya. Kita berusaha membuat sebuah acara yang menarik, tetapi ternyata acara itupun hanya dihadiri oleh segelintir orang.

Selalu banyak alasan bagi kita untuk akhirnya kita memutuskan “resign” atau “quit” dari pelayanan kita, alasannya adalah karena ternyata pelayanan kita sama sekali tidak memberikan sebuah berkat bagi orang yang kita layani. Konsep pelayanan kita akhirnya tergantikan dengan suatu anggapan bahwa ternyata pelayanan kita nggak jauh beda dengan pekerjaan-pekerjaan kita di dunia. Kita beranggapan dan kita berasumsi bahwa ternyata pelayanan kita gagal manakala tidak ada tepuk tangan, tidak ada pujian dari orang lain, kita jadi terus menerus melayani namun hanya sebagai “pemain cadangan”, dan begitu banyak anggapan lain.

Ketika kita mulai merasa berada pada titik jenuh, kita perlu kembali memandang pelayanan sebagai suatu kesempatan. Cukup belajar memandang kembali apa yang dikerjakan Allah atas kehidupan kita. Ketika rasa jenuh itu tiba, kita perlu belajar untuk introspeksi diri kita. Kita perlu belajar untuk meninjau kembali, sebenarnya apa makna pelayanan kita. Kita perlu belajar mendefinisikan kembali sebenarnya apa arti pelayanan bagi kita, dan apa manfaatnya.

Seorang teman saya adalah seseorang yang pernah bergelut di dalam dunia pelayanan mahasiswa selama lebih dari 10 tahun. Ia adalah seseorang yang bisa dinilai tekun di dalam pelayanan yang ia kerjakan. Bahkan sampai sekarang, badai silih berganti mengancam pelayanan itu sampai akhirnya saat ini pelayanan yang ia kerjakan diacak-acak oleh pihak yang lebih berkuasa. Namun di tengah dia menjalaninya, rasa jenuh yang ia alami terhapus dengan melihat kembali tujuan pelayanannya. Ia belajar untuk bertahan karena tahu bahwa pelayanan yang ia bentuk (di dalam anugrah Tuhan tentunya) mendatangkan satu sukacita tersendiri. Dia banyak berubah karena dia belajar untuk setia melayani di tempat itu.

Ketika aku menanyakan sebenarnya apa yang membuat dia dapat terus melaju, jawabannya selalu sama: bahwa ketika kita mengerjakan sesuatu buat Tuhan, sebenarnya bukan pribadi orang lain yang kita ubah, namun pribadi kita mendapatkan benefit yang jauh lebih besar. Loh? Kok bisa? Ya karena kita tahu bahwa ternyata kita sedang dpercaya untuk mengerjakan rencana besar Allah melalui kehidupan pelayanan kita.

Kejenuhan itu suatu saat – mau tidak mau – akan datang dengan sendirinya. Sadar atau tidak kita akan sampai pada titik jenuh di dalam kita melayani. Bidang apapun pelayanan kita entah acara kecil atau besar, selalu akan menyampaikan kita kepada sebuah kejenuhan. Sampai pada titik jenuh itulah kita dituntut untuk memilih : mau lanjut atau mau berhenti? Kalau mau lanjut pun pilihannya ada dua, apakah kita mau (1) mengerjakannya dengan semaksimal mungkin sesuai tugas panggilan Allah atas kehidupan kita, atau (2) mengerjakannya dengan asal-asalan?

Kita mengingat kembali apa sebenarnya yang dikerjakan Allah manakala Ia datang ke dunia. Bukankah tugasnya adalah untuk melayani dan memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang?[i] Oke kalau kita menyadari hal ini, masih berhakkah sebenarnya kita untuk jenuh? Kristus pun mungkin dalam pandangan saya juga jenuh. Bapa juga jenuh. Kalau kita membaca di sepanjang perjanjian lama dan perjanjian baru, ada satu kesamaan disana: Umat Israel adalah bangsa yang begitu bebal, bangsa yang begitu tegar tengkuk. Berkali-kali Allah memperingatkan mereka untuk menjadi sebuah bangsa yang taat, tetapi hasilnya? Tetap saja Israel tetap menjadi sebuah bangsa yang mengkhianati Allah.

Kita sering geleng-geleng saat kita melihat tingkah bangsa Israel. Sama juga mungkin kalau kita melihat orang-orang yang kita layani. Itu membuat kita jenuh dan akhirnya kita meninggalkan pelayanan. Tetapi sepanjang alkitab kita bisa melihat bagaimana penyertaan Tuhan atas bangsa Israel dengan kasih setiaNya. Kristus di dalam pelayananNya di dunia, Ia tahu betul sebenarnya apa yang harus Ia kerjakan. Hal inilah yang akhirnya menguatkan Dia untuk menjadi seorang pribadi yang penuh dengan kesetiaan di tengah ketidak setiaan bangsa Israel.

Inti dari pelayanan bukanlah tentang hasil dari pelayanan yang kita kerjakan. Allah nggak pernah menilai keberhasilan sebuah pelayanan dengan mengukur hasilnya. Ia melihat bagaimana perubahan hati dan sikap seseorang di dalam karya layanan yang ia kerjakan. Perlu kedewasaan rohani dari dalam diri kita untuk dapat memahami karyaNya itu. Nah sekarang pertanyaan yang diajukan bagi setiap kita adalah sudahkah Allah mengubahkan hati kita di dalam pelayanan yang kita kerjakan? Sudahkah kita belajar untuk melihat bahwa ketika Allah mau mengerjakan karyaNya di dunia ini, Ia tidak sembarangan memilih saudara dan saya?

Pelayanan itu telah ditentukan sebelumnya oleh Allah. Ketika kita jenuh mari: (1) ingat kembali akan karyaNya yang terbesar di kayu salib, (2) mengingat bahwa ada rencana besar Allah yang mau dinyatakan Allah melalui kehidupan pelayanan kita, dan (3) belajar untuk punya relasi yang intim dengan Allah. Kalau ketiga hal ini kita terus ingat, ketika kita jenuh, Allah sedang ingin menunjukkan keada kita bahwa pelayanan ini bukan tentang kita. Pelayanan ini bukan karena kuat dan gagah kita. Pelayanan ini adalah tentang Dia, yang telah memberikan nyawaNya bagi kita, yang telah mengubahkan kita, dan yang telah menyediakan kepada kita setiap pekerjaan baik yang harus kita kerjakan selama kita berada di dunia ini.

Soli Deo Gloria





[i] Markus 10:45

Sunday, March 29, 2015

Indahnya Kerendahan Hati - Perenungan Mengenai Salib dan Maknanya dalam Hidup

Minggu Palmarum, sebuah momen dimana Yesus dimuliakan di Yerusalem. Disambut dengan daun palma dengan naik keledai, untuk akhirnya menjalani momen minggu sengsara. Saat ini kita mengingat kembali bagaimana Allah yang menjadi manusia, pada akhirnya harus menyerahkan diriNya untuk menjadi penebus umat manusia. Cukup unik, dan ini hanya ada di Kekristenan. Bagaimana mungkin Allah mati, bahkan mati dengan cara yang paling hina yang diketahui manusia pada jaman itu?

Saya tidak akan berbicara banyak mengenai minggu palmarum. Saya mencoba untuk melihat apa yang dikerjakan Yesus melalui salib. Mengingat momen paskah, berarti kita mengingat kembali salib. Inti dari kekristenan itu ada di dalam pribadi Yesus, dan salib merupakan suatu klimaks, sampai nantinya ada kebangkitan. Di dalam salib itulah seluruh dosa manusia ditebusNya. Salib itulah yang membuat saudara dan saya menjadi seorang pribadi yang baru – pribadi yang ingin belajar untuk memuliakan Tuhan Yesus melalui setiap langkah kehidupan kita.

Implikasi dari kehidupan Yesus yang begitu nyata adalah kehidupan yang merendahkan diriNya (kenosis). Mengosongkan diri adalah salah satu bukti bahwa Allah adalah pribadi yang SOLIDER. Ia turut merasakan penderitaan manusia, bahkan mungkin penderitaan saudara dan saya sama sekali nggak sebanding dengan apa yang Dia kerjakan di dalam salibNya.

Analoginya seperti ini:
Bayangkan anda adalah seorang bos besar dari sebuah perusahaan ternama secara internasional. Tiba-tiba ada seorang pengemis di depan anda, dan pengemis itu mengotori baju anda. Namun dengan sabar anda tiba-tiba memungut pengemis itu, anda memberikannya baju yang terbaik, anda membawa dia ke rumah anda. Sekalipun di rumah itu anda sudah menyediakan segalanya, ternyata dia masih saja ‘nakal’. Dia menghabiskan harta anda di rumah itu, kemudian dengan santainya dia meminta maaf kepada anda. Tetapi sekali lagi, anda kemudian membelikannya rumah baru, dan tingkah lakunya sama sekali tidak berubah. Anda marah kepadanya, tetapi akhirnya dia memutuskan untuk pergi keluar.

Setelah lama tinggal di luar rumah itu, sang pengemis ini kembali kepada anda untuk meminta ampun, sambil dia berjanji untuk berubah. Dengan tangan yang terbuka anda kemudian menyambut dia dengan sukacita. Namun lagi-lagi, dia mengecewakan anda dengan minum-minum dan pesta narkoba di tempat anda. Dia kembali ditangkap, dan kali ini dia harus dihukum mati. Kemudian anda merasa bertanggung jawab atas pribadi pengemis itu, anda akhirnya datang ke pengadilan, kemudian anda menyerahkan diri anda untuk menggantikan hukuman yang harus diterima oleh sang pengemis.

Kisah ini mungkin terlihat sedikit aneh. Mungkin dari kita berpikir : “hebat juga bos besar itu, kalau saja aku jadi dia, aku gak bakal mau melakukannya. Di awal saja dia sudah membuatku muak!” Secara manusia sebagian besar dari kita akan berkata seperti itu.

Saya pun belajar bahwa ketika diperhadapkan dengan situasi seperti itu, sebenarnya kita tidak pernah mengambil peran sebagai bos besar itu. Justru sebenarnya kalau kita menyadari bahwa kita orang Kristen, kita adalah sang pengemis itu. Kita tidak punya apapun yang dapat kita banggakan, tetapi hal yang terjadi adalah ternyata ada Tuhan, yang melalui Yesus Kristus membebaskan kita dari setiap dosa yang kita perbuat. Alih-alih menghukum kita, Ia menyerahkan diriNya menjadi tebusan dosa bagi banyak orang.

Ada suatu saat dimana kita diperhadapkan kepada suatu peristiwa untuk kita dapat mengampuni atau berhadapan dengan orang-orang yang begitu menyebalkan di dalam kehidupan kita. Sadarlah bahwa setiap kita pada saatnya nanti akan menjadi seorang atasan ataupun seorang pimpinan. Kita akan berhadapan dengan orang-orang yang mungkin menjadi orang yang paling menyebalkan di dalam kehidpan kita. Nah pertanyaannya sekarang adalah bagaimana sikap hidup kita di dalam menghadapi kondisi seperti itu?

Ketika Tuhan Yesus sudah menentukan sikapnya di dalam hidup kita, Ia menunjukkan satu teladan yang sempurna. Teladan yang mana kita boleh belajar bahwa apapun yang dilakukan oleh manusia sama sekali tidak mengubah tujuan hidupNya untuk memuliakan Allah. Ia sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan dimana Dia harus menghadapi berbagai tekanan hidup. Ingat, di dalam natur manusiaNya, Ia juga merasakan sakit hati. Ia juga merasakan dikhianati. Ia merasakan berbagai emosi yang membuat Dia sampai menitikkan air mata dan darah di Getsemani. Semuanya adalah karena Ia taat kepada Bapa.

Sementara itu di Timur Tengah saat ini sedang bergejolak problematika masalah ISIS. Kita melihat bagaimana umat Kristen diminta untuk memilih apakah ikut Tuhan, ataukah menyangkalNya. Ikut Tuhan berarti mati, menyangkalNya berarti hidup. Mungkin tidak seekstrim itu kita diperhadapkan pada problematika seperti itu, tetapi justru di dalam kehidupan keseharian kita pun kita dituntut untuk membuat pilihan-pilihan, yang tidak kita sadari, mau ikut Tuhan ataukah ikut dunia.

Kita belajar bahwa ketika Allah telah menyerahkan nyawaNya di dalam kehidupan kita, maka kita pun dituntut untuk memiliki satu komitmen mengikut DIa. Mengikut Dia dan memikul salib, sekalipun berat, namun kita belajar untuk mengikuti teladan yang Tuhan berikan. Dia adalah Allah yang solider, Allah yang turun ke dunia untuk membebaskan dosa manusia. Masuk akal? Sepertinya tidak, tetapi realitasnya seperti itu. Kita tidak akan bisa menghapus dosa kita sendiri, dan karena itulah kita masih membutuhkan kurban itu. Allah telah menjadi kurban yang sempurna untuk dosa-dosa kita. Pertanyaannya adalah apakah kita sudah siap hidup sebagai kurban? Hidup yang belajar untuk memaknai panggilan Allah atas kehidupan kita?

Soli Deo Gloria


Sunday, March 15, 2015

Menikmati Anugrah Allah

Pernahkah membayangkan bahwa ternyata seluruh hidup kita adalah tentang Allah? Ketika kita makan, ketika kita tidur, ketika kita mengerjakan aktivitas kita, ternyata Allah turut bekerja.

Manusia di tengah berbagai kecanggihan teknologi terkini mulai kehilangan kemanusiaannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebanggaan seseorang saat ini adalah ketika dia punya gadget terbaru. Akhirnya fokus hidupnya hanyalah untuk mengejar hal tersebut.

Berbagai hal dan penemuan baru membuat kita semakin excited dan mungkin akhirnya kita melupakan berkat-berkat kecil ataupun besar yang Tuhan sediakan atas kehidupan kita. Kita menjadi pribadi-pribadi yang cepat sekali mengeluh manakala tidak mendapatkan hal yang kita inginkan. Kita akhirnya menjadi pribadi-pribadi yang begitu apatis, kita jadi pribadi yang egois, kita selalu ingin lebih dan lebih.

Menikmati anugrah Allah di dalam kehidupan bukan berarti bahwa Allah harus selalu memberikan segala hal yang kita minta. Itu sih namanya rakus. Oke kita melihat kembali bahwa ternyata sifat rakus yang dimiliki manusia ternyata sudah ada dari dulu. Kita melihat dihancurkannya menara Babel. Tetapi yang paling dapat kita pelajari dari Perjanjian Lama sendiri adalah bagaimana kisah perjalanan bangsa Israel sekeluar mereka dari tanah Mesir.

Pernah membayangkan berjalan selama 40 tahun? 40 tahun yang dirasakan bangsa Israel dengan begitu lama dan akhirnya dari generasi selama 40 tahun itu, hanya 2 orang dari generasi eksodus itu yang masuk ke tanah perjanjian. Siapa mereka? Kaleb bin Yefune, dari suku Yehuda, dan Yosua bin Nun, yang dipercaya sebagai suksesor dari Musa.

Selama 40 tahun perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir, kita melihat bagaimana pergumulan bangsa itu dengan luar biasa. Tetapi di tengah pergumulan itu ada berkat dan kasih Allah Yehova yang begitu besar di dalam kehidupan mereka. Sekeluar mereka dari Mesir, mereka diberikan tiang awan dan tiang api. Kemudian ketika kelaparan, mereka mendapatkan manna. Ketika mereka haus, Allah menyediakan air. Mereka bosan makan manna, mereka diberikan akanan makanan lain yakni burung.

Kurang apa sih Allah di dalam kehidupan Israel? Kelihatannya Allah ialah Allah yang begitu kejam, sampai memutar-mutar bangsa itu hingga 40 tahun. Tetapi selama 40 tahun itulah ternyata semakin kelihatan seperti apa sikap bangsa Israel terhadap penyertaan Tuhan. Mereka tetap menjadi bangsa yang tegar tengkuk. Mereka tetap ingin kembali ke Mesir. Mereka terngiang oleh memori lama mereka. Mereka gagal melihat bagaimana karya Allah di dalam kehidupan mereka.

Hal ini tidak jauh berbeda dengan masa kini. Memaknai hidup yang berasal dari Allah ternyata merupakan hal yang begitu sulit kita lakukan sebagai seorang Kristen. Bersyukur menjadi suatu hal yang hampir tidak mungkin karena ternyata rasa syukur kita dinilai dari materi. Ketika gadget kita kalah canggih dengan orang lain, kita menggerutu. Ketika kita makan di restoran mahal yang harganya mahal, kita protes. Ketika kita mendapatkan gaji bulanan yang sudah cukup besar, kita masih saja mengeluh karena gaji itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kita.

Mulai terlihat kan persamaan antara kita dengan bangsa Israel? Alih-alih kita bersyukur atas segala hal yang sudah Dia sediakan di dalam kehidupan kita, ternyata kita jauh lebih banyak mengeluh atas kondisi yang kita hadapi. Kita selalu tidak puas dan akhirnya hal itu membuat kita tidak bisa “merayakan” anugrah yang Tuhan berikan atas kehidupan kita. Padahal anugrah yang paling sederhana pun yang dapat kita rasakan: ketika kita masih bisa bernafas; itupun jarang kita syukuri.

Ketika kita mengetahui dan memaknai anugrah Allah, kita dapat menikmatinya dengan suatu sukacita surgawi. Berkat Tuhan itu selalu “more than meets the eye”, yang berarti kita tidak pernah bisa melihat kalau kita tidak belajar untuk hening sejenak, diam dan memaknai betapa besar kasih Allah di dalam kehidupan kita. Kebermaknaan hidup didapatkan ketika kita belajar untuk melihat karya Allah yang bahkan tidak dapat kita lihat secara fisik. Ketika kita tidak dapat melihat berbagai karyaNya, kita perlu belajar untuk meminta dan memaknai anugrah – bahkan sekecil apapun anugrah itu.

Sama seperti kita memaknai lagu, kita bisa belajar dari memaknai anugrah Allah di dalam kehidupan kita. Maksudnya seperti apa? Teman-teman, kalau kita lihat dari lagu-lagu hymn yang ada di buku lagu NKB, PKJ, dan KJ, kesan apa yang teman-teman dapatkan? Jadul? Ya itu jawaban yang paling sering dinyatakan. Tetapi kalau teman-teman melihat ada banyak lagu yang ternyata justru maknanya begitu dalam, begitu indah, begitu menyentuh hati kalau kita memaknainya. Bayangkan contohnya lagu “Bila Kulihat Bintang Gemerlapan”, yang mengungkapkan keagungan karya Allah dan ketakjuban penulis. Pernyataan iman atas keindahan ciptaan yang menggambarkan karya Allah, itulah yang dimaknai penulis lagu ini.

Ungkapan syukur itu akan selalu menghasilkan sesuatu yang positif dalam kehidupan kita. Anugrah itu tersedia atas kehidupan kita. Berbagai proses baik itu menyenangkan ataupun menyakitkan, semuanya sudah dirancang oleh Allah untuk menjadikan kita pribadi-pribadi yang mampu melihat “lebih dari yang dilihat mata”. Artinya kita belajar bukan hanya melihat, tetapi mengapresiasi karya Allah. Mengapresiasi kehidupan yang sudah Ia anugrahkan dan akhirnya kita menyatakan rasa syukur itu melalui kehidupan kita.

Akhirnya ungkapan syukur itu akan menjadi sesuatu yang dapat memberkati banyak orang. Seseorang yang menyadari akan anugrah Allah akan begitu menikmati kehidupan dekat denganNya. Ia akan menikmati momen-momen dimana Kristus ada di dalam kehidupannya, menuntun dia dan terus membuat dia menjadi seseorang yang selalu mengucap syukur.

Saya menutup perenungan ini dengan sebuah kisah dari Joni Earackson Tada. Dia adalah seorang wanita yang begitu cantik. Dia pintar, punya begitu banyak bakat, dan masa depannya terasa begitu cemerlang. Suatu hari, Joni pergi untuk berolahraga di laut. Musibah terjadi di dalam kehidupannya. Joni yang punya begitu banyak cita-cita ternyata tidak sengaja menabrak sebuah karang. Hal ini membuat seluruh badannya dari leher ke bawah mengalami lumpuh.

Dokter pun sudah mengkonfirmasi mengenai kehidupannya. Ia akan mengalami kelumpuhan seumur hidup. Respons Joni? Ia marah pada awalnya, tetapi ia belajar untuk menenangkan diri. Ia akhirnya belajar untuk melihat lebih dari yang dilihat manusia. Ia melihat Allah memanggil Dia untuk berkarya bagi kerajaanNya. Apa itu? Ia akhirnya menjadi seorang penulis buku, di tengah berbagai keterbatasannya. Ia menjadi seorang pengkotbah dan ia mulai belajar menggunakan mulutnya, matanya, seluruh hal yang masih dapat ia gunakan untuk berkarya di dalam kehidupan yang Tuhan percayakan dalam kehidupannya.


Kalau kehidupan kita ternyata masih belum ada di titik yang terendah, atau mungkin teman-teman sedang mengalami hal-hal yang membuat teman-teman gagal untuk melihat karya Tuhan, sekarang saatnya kita belajar untuk melihat lebih dari yang dilihat mata. Ketika Tuhan memberikan berbagai proses hidup, semuanya adalah untuk kebaikan kita. Semuanya adalah untuk membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yang kuat untuk menghadapi berbagai proses kedepan untuk kita dapat hidup. Pertanyaannya, maukah teman-teman belajar memaknainya?

Sunday, March 1, 2015

Are You Ready for A Date?


Ini adalah sebuah percakapan pada saat aku berada di dunia kampus.

“Sabtu ini kamu kemana, yas?”
“Oh, aku ke gereja. Ada persekutuan di gereja. Kalau kamu kemana?”
“Ehm aku mau ke Galaxy Mall, yas, ama cowokku.”

Well, asyik juga ya sepertinya kalau udah punya pacar, dan kemudian bisa keluar bareng, makan bareng, nonton bareng, segalanya bareng. Serasa dunia milik berdua. Yap, pacaran menjadi sebuah proses yang begitu menyenangkan. Itu mungkin yang mendasari ada lagu “Jatuh Cinta Berjuta Rasanya” dan menjadi sebuah lagu yang nge-hits. Percakapan di atas terjadi saat aku belum punya pacar. J

Hmmm lalu apa yang dilakukan sebenarnya saat pacaran? Apakah pacaran itu identik ama seneng-senengnya aja? Tunggu teman-teman. Hidup itu nggak seindah di FTV, tetapi aku bisa katakan JAUH LEBIH INDAH dari FTV. Manakala FTV memperlihatkan begitu mudahnya perjuangan seorang cowok mendapatkan cinta seorang cewek, kita sudah tahu kok endingnya. Tetapi ketika hal itu dibawa ke dunia nyata, it’s totally different.

Tetapi kalau kita merenungkan kembali nih, kenapa kok aku bisa bilang bahwa hidup ini jauh lebih indah dari FTV? Karena ternyata memang ending dari cerita cinta kita tidak jelas dari sudut pandang manusia. Ketika kita mulai pedekate dengan seseorang yang kita suka, ada kalanya kita mendapatkan respon yang positif, tetapi nggak jarang juga kita nggak direspons (Sakitnya tu disini, prens… percaya deh). Tetapi dibalik duka yang bertubi-tubi itu, ada sukacita yang begitu besar yang sudah Tuhan persiapkan. Percayalah bahwa Ia sedang menyusun sebuah lagu yang begitu indah, dalam sebuah simfoni kisah cinta antara dua insan yang mau belajar untuk hidup di dalam Dia.

Okey aku akan coba berikan beberapa prinsip berpacaran. Artikel ini merupakan sharing aja. Artinya ini bukan sebuah hal yang ‘saklek’ harus kita jalankan. Tetapi harapannya ada sisi positif yang teman-teman bisa ambil.

1.     Fokus Pada Allah
Aku rasa ini adalah prinsip pertama dari segala hal yang kita lakukan. Yep, first of all, kalau mau memulai sebuah hubungan kita perlu mulai dengan mencintai Allah di dalam hidup kita. Okey, mungkin sebagian gak setuju dengan prinsip ini, karena kayaknya terlalu rohani banget. Tetapi begini, teman, dengan kita belajar untuk menikmati hubungan kita dengan Allah, kita menjadi pribadi yang gak banyak menuntut pasangan kita untuk melakukan sesuatu. Dasar dari prinsip lain ini adalah kita belajar meletakkan Allah sebagai pengendali hubungan pacaran kita.

2.     Prinsip Kenosis
Kenosis berarti ‘merendahkan diri serendah-rendahnya’. Nah ini terkadang muncul manakala ada satu pihak yang lebih superior disbanding pihak lain di dalam suatu hubungan. Ada pihak yang merasa harus mengalah karena memang dia minder kepada pasangannya. Kalau berdasarkan pengalamanku juga, hal ini kadang perlu kita latih terus menerus. Kita perlu belajar untuk merendahkan diri kita. Contohnya adalah kita belajar untuk masuk ke dunianya. Artinya bahwa setiap pihak perlu belajar untuk salingf mengalah dan nggak ngotot. Nggak merasa superior atas hal-hal yang ia lakukan. Kenosis ini paling jelas ditunjukkan oleh Tuhan Yesus. Prinsip ini menjadi salah satu prinsip di dalam melayani pasangan kita.

3.     Jujur di Hadapan Pasangan
Napa kok aku bilang kita perlu prinsip nomor 1? Sebenarnya adalah ini. Waktu kita pacaran, ada kalanya kita belajar untuk menampilkan sesuatu yang baik di hadapan pacaran kita. Dulu aku berpikir bahwa aku akan memperbaiki kelakuanku setelah aku jadian. Tetapi ternyata hal itu merupakan gombalan dan kebohongan terbesar dari kaum pria. Nah prinsip nomor 1 membawa kita untuk belajar jujur terlebih dahulu di hadapan Tuhan. Mengakui bahwa pribadi kita ini lemah, sehingga kalau di hadapan kita Tuhan sudah menyediakan seseorang, itu semuanya anugrah! Itu adalah momen dimana kita belajar untuk saling belajar jujur dan terbuka di hadapan pasangan kita, sehingga nggak ada shock theraphy yang terlalu berlebihan saat nanti kita sudah menikah. Banyak orang yang menikah tanpa mengenal pasangannya terlebih dulu. Banyak yang langgeng juga karena mereka belajar menerima satu dengan yang lain. Alangkah baiknya kalau proses ini dapat kita lakukan saat kita pacaran.

4.     Bertumbuh di Dalam Tuhan
Kalau di dalam hubungan pacaran kita ternyata kita menjadi orang yang makin menyebalkan, segera deh evaluasi relasi kita. Hal ini tentu berawal dari PDKT. Ketika kita sedang dalam proses PDKT ternyata kita menjadi pribadi yang makin egois dan posesif, kita perlu mengevaluasi sebenarnya kita mencintai atau menafsui. Ketika kita memasuki relasi pacaran seharusnya masing-masing semakin bertumbuh di dalam Tuhan. Cara bertumbuhnya gimana? Hmm ada banyak sih. Salah satu contohnya adalah melakukan aktivitas bareng, kemudian melayani bersama. Ada banyak aktivitas positif yang bisa kita lakukan sebagai pasangan.

5.     Open Your Eyes!
Orang bilang ‘cinta itu buta’. Ya, saya melihat ada banyak orang yang akhirnya terperangkap di dalam suatu hubungan yang sebenarnya tidak mereka inginkan namun akhirnya mereka memaksakan diri untuk masuk ke hubungan itu. Ketika kita mulai proses PDKT kita perlu membuka mata kita dan juga telinga kita lebar-lebar. Jangan pernah mengkompromikan hal-hal yang kita nggak sukai dari calon pasangan kita. Belajar untuk melihat kekurangan dan belajar terbuka dengan calon pasangan ketika dia melakukan hal yang nggak bener. Hal ini sebenarnya akan sangat berkaitan dengan prinsip nomor 3 dan 4.

6.     Love is something worth waiting & fighting for
Cinta itu menuntut suatu penantian dan pengorbanan. Okey dalam artian penantian, kita perlu belajar untuk menunggu. Menunggu apa? Menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan, menunggu jawaban yang berasal dari Tuhan yang merupakan hasil pergumula. Lalu mengapa harus belajar untuk fighting for? Yup kita perlu belajar untuk memperjuangkan cinta. Artinya kita belajar untuk berkorban, belajar untuk mengutamakan pasangan kita, belajar untuk menyesuaikan diri dengan dia, dan terus belajar untuk mengerjakan bagian kita di dalam membangun suatu relasi.


Cinta itu seperti maut, demikianlah penulis Kidung Agung menuliskannya. Mengapa seperti maut? Karena cinta pasti akan datang. Manakala cinta itu datang, cinta itu tidak mungkin dapat ditolak. Tidak ada hal yang dapat menahan cinta. Sadarlah bahwa maut bagi orang Kristen adalah sesuatu yang menyenangkan. Lho? Itulah yang Paulus katakan bahwa ‘mati adalah keuntungan’, karena ia bertemu dengan Kristus. Nah pacaran di dalam Tuhan adalah sebuah cinta yang didasari di dalam cinta akan Kristus. Ketika cinta itu sudah didasari pada kasih Allah di dalam hidup kita, maka kita akan mendapatkan sebuah kebahagiaan sejati di dalam Dia. Pacaran di dalam kekudusanNya. Pacaran di dalam suatu kesadaran bahwa cinta itu berasal dari Dia dan akhirnya hubungan kita adalah untuk memuliakanNya.

Tuesday, February 24, 2015

Sweet Reminder

Malam itu menunjukkan pukul 20:00, saat aku akan tidur di rumah kakakku. Kebetulan keponakanku yang berumur 2 tahun saat itu masih sedang bermain di kamarnya. Akupun menemaninya bermain di kamar itu. 

Setelah lama bermain, aku hanya berpikir mengenai kondisi rumah ini. Mengingat kakakku bukanlah seorang percaya yang sampai sebegitunya. Yah tahu lah maksudnya. Jarang ke gereja, berdoa, apalagi saat teduh. Anaknya pun juga karena aku jarang ke rumahnya, aku jadi agak sinis juga. Tapi yah namanya keluarga, aku selalu mengingatkan dia untuk berdoa dan lebih menghargai Tuhan di hidupnya.

Jam menunjukkan 21:00, saat itu kakakku berkata kepada anaknya.

"hei, yuk tidur. Udah jam 9 malem" ujar kakakku
"iya pa, lio tidur..." jawab Lio

Okey sejenak aku pun akhirnya membantu dia membereskan permainan lego nya. Saat itu Lio membuat sebuah robot dengan lego itu (si Lio ini anak yang begitu cerdas dalam hal imajinasi). Kemudian waktu menunjukkan 21:15 dan sambil mengantuk dia membereskan mainannya.

Waktu hampir tidur, aku pun berdoa sembari dia membereskan mainannya. Kemudian setelah dia membereskan mainannya, aku pun berkata padanya.

"Lio, kamu mbuat robot-robotan buat njagain Lio waktu tidur ya?" tanyaku
"Ndak, suk (dia manggil aku suksuk, yang artinya adik dari papanya), kan ada Tuhan Yesus yang selalu njagain Lio." jawabnya.

Deg... hatiku langsung kaget dan nggak karuan. Anak sekecil Lio sudah ngerti, bahkan jauh lebih menyadari hadirat Tuhan dibandingkan denganku. Aku nggak pernah membayangkan si Lio ternyata punya sense bahwa dia punya Tuhan Yesus yang selalu menjaganya.

Malam itu pun aku berdoa dan berdoa. Aku bersyukur bahwa keponakanku mengerti siapa Tuhannya, yang akan selalu menjaganya. Aku berharap bahwa melalui Lio, keluarga kakakku dapat lebih kenal dan lebih menikmati keberadaan Tuhan di dalam kehidupan mereka.

Oke, refleksi dari kisah itu... Sadar nggak temen-temen, mungkin itulah yang Tuhan katakan ketika kita harus berpikir seperti anak kecil. Lio di dalam segala keterbatasan pengetahuannya tentang Tuhan, dia simple saja berpikir bahwa Tuhan Yesus selalu menjaganya. Well, semakin kita dewasa kita semakin menuntut lebih dari apa yang Tuhan sediakan. Kita berpikir begitu rumit bahwa ketika kita sudah dewasa kita harus melakukan sesuatu agar Tuhan semakin dapat kita kendalikan. Well, faktanya nggak seperti itu teman-teman. Ia adalah Tuhan yang setia. Ia adalah Tuhan yang selalu membuat kita terpesona manakala kita berpikir secara sederhana. 

Yuk kita belajar untuk berpikir simple bahwa kehidupan kita pun selalu Ia jagai dengan kasih setiaNya yang tidak pernah berkesudahan atas kehidupan kita.

God Bless :) 

Monday, January 5, 2015

Lebih Dari Yang Dilihat Mata - Refleksi Dari Mazmur 90

Tahun 2014 sudah berakhir dan 2015 akan dimulai. Bagaimana kabar teman-teman? Apakah masih di dalam satu keyakinan bahwa ada penyertaan Tuhan yang luar biasa di dalam kehidupan? Ataukah masih bergelut dengan hal-hal yang membuat kita menjadi seseorang yang malas-malasan karena sepertinya ada banyak hal buruk yang kita alami di dalam kehidupan kita? Belum move on juga dari hal buruk yang kita alami? Nah artikel kali ini mencoba untuk mengajak teman-teman merenungkan kehidupan yang bermakna di dalam kerangka kita belajar memuliakan Tuhan, sekaligus menikmati Dia.

Mazmur 90 adalah suatu bagian di alkitab yang menuliskan mengenai doa dari Musa. Siapa sih yang tidak mengenal Musa? Dengan segala prestasinya yang begitu mentereng. Bayangkan saja, seorang pangeran Mesir hingga usia 40, dia merupakan seseorang dengan pendidikan yang tinggi. Kemudian di usia 40-80 tahun ia menjadi seorang gembala, dan pada usia 80 ia kembali ke Mesir untuk memimpin eksodus terbesar sepanjang sejarah manusia. Begitu besar peran yang ia jalani, tetapi di dalam doanya dia dengan rendah hati sekali menyatakan bahwa dia perlu belajar untuk ‘menghitung hari hingga beroleh hati yang bijaksana’ (ay. 12) setelah sebelumnya dia mengakui kedaulatan Tuhan atas kehidupannya.

Doa Musa ini mengajak kita untuk merenungkan bagaimana kehidupan orang Kristen ditengah dunia yang penuh dengan pergumulan dan kekacauan. Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari doa Musa ini. Mari kita bahas satu per satu:

1.     Ayat 1-2, merupakan sebuah votum, sebuah pengakuan bahwa kehidupan kita digantungkan hanya di dalam Dia. Musa menyatakan bahwa Allah adalah tempat perteduhan, yang berarti tempat untuk kita berteduh. Dia menyebut juga turun-temurun, dimana kalau kita melihat pemeliharaan Tuhan kepada Bangsa Israel, kita bisa melihat bagaimana karya Tuhan – mulai dari jaman Abraham hingga jaman Musa, sampai seterusnya. Ayat 2 juga ada sesuatu yang menarik: “dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah”. Tidak perlu banyak penjelasan bukan? Pengakuan Musa ini menunjukkan imannya yang begitu luar biasa. Sekalipun terkadang ada keraguan dalam diri Musa (dari awal dia diutus) hingga akhirnya dia menjadi seorang pembebas Mesir, tetapi pada akhirnya dia tetap percaya – sekalipun dia tidak melihat tanah perjanjian itu.

2.     Ayat 3-6, menunjukkan betapa singkatnya sebenarnya kehidupan itu dimata Tuhan. Hal ini menunjukkan pengakuan Musa yang menyadari betul bahwa sebenarnya hidupnya itu tidak ada apa-apanya di mata Tuhan. Orang mungkin memandang bahwa Musa adalah seorang pemimpin besar, tetapi ternyata dia tidak menganggap dirinya seperti itu. Dengan rendah hati ia berkata bahwa ternyata Tuhanlah satu-satunya yang empunya hidupnya. Dia tidak terbatas oleh waktu. Dia adalah Allah yang maha hadir di dalam kehidupan manusia. Di hadapan Allah, sehebat apapun prestasi kita, kemampuan kita, apapun yang kita kerjakan sebenarnya nothing. Kalau kita dipercaya melakukan sesuatu, semata-mata itu semua karena ANUGRAH.

3.     Ayat 7-12, Musa kembali mengakui kemahakuasaan Allah di dalam kehidupannya. Ia tahu benar seperti apa Allah itu, Allah yang kudus, Allah yang adil, Allah yang begitu mengasihi manusia. Mengasihi? Ya, Allah yang mengasihi belum tentu Allah yang tidak mendidik umatNya. Namun mengasihi di dalam hal ini adalah bagaimana Allah memberikan proses di dalam kehidupan manusia. Ayat 9 menunjukkan adanya suatu kondisi ‘berdukacita’. Kalau kita baca doa Musa ini, sepertinya dia memperlihatkan dirinya sebagai seseorang yang memiliki kehidupan yang begitu sengsara.. Tetapi pernyataan itu dibaliknya di ayat 10-12. Ayat 10-12 Musa mengakui bahwa seringkali manusia tidak memandang kehidupan dari sudut pandang Allah. Oleh karena itulah Ia meminta hikmat di ayat 12, Musa meminta pelajaran hikmat itu dari Tuhan, sehingga ia dapat menjadi seseorang yang bijaksana di dalam kehidupannya.

4.     Ayat 13-17, Musa menuliskan permohonannya kepada Allah. Setelah sebelumnya ia mengakui tentang kasih dan penyertaan Tuhan, ia memohon kali ini untuk dapat dikenyangkan dengan kasih setiaNya, artinya bahwa melalui hikmat yang diberikan Allah, kita dimungkinkan untuk dapat bersukacita atas segala hal yang terjadi di dalam kehidupan kita. Ia memohonkan bahwa setiap proses yang Allah sediakan seharusnya membuat bangsa Israel, setidaknya dia sendiri, untuk dapat memandang setiap proses yang sudah dialami dengan hati yang semakin mengenal Tuhan. Bukan dengan hikmat manusia, tetapi dengan hikmat yang dari Dia sendiri. Ia berdoa agar orang-orang dapat menikmati proses dari Tuhan itu dengan kacamata Tuhan, bukan dengan kacamata mereka sendiri.

Bisa nggak kita bayangkan kekecewaan Musa pada saat itu? Dia bisa saja lho ngambek atas hal yang Tuhan minta Ia kerjakan. Betapa tidak, kalau sepanjang hidupnya ia gunakan hanya untuk membawa bangsa Israel yang tegar tengkuk, bangsa Israel yang tukang mengeluh, tapi mereka adalah UMAT PERJANJIAN. Di akhir hidupnya mungkin kita membayangkan bahwa Musa akan sampai ke tanah perjanjian, tetapi rencana Tuhan ternyata bukan itu. Ternyata tanah perjanjian itu hanya dilihat oleh Musa, dia nggak sempat untuk menikmati tanah perjanjian itu.

Pembelajaran apa sih yang kita dapat? Poin 1 menunjukkan bahwa Ia adalah Allah yang layak dipercaya. Ia adalah Allah yang harus kita percaya sebagai Allah yang berdaulat atas kehidupan kita. Allah yang selalu memelihara kehidupan kita. Poin 2 mengajak kita untuk belajar merendahkan diri kita di hadapan Tuhan yang Maha tinggi. Poin 3 dan 4 intinya adalah kita belajar menerima didikan dari Tuhan. Kita belajar melihat bagaimana Tuhan bekerja, bukan melalui kacamata kita semata, bukan melalui hikmat kita semata, namun kembali bahwa semuanya adalah rancangan Tuhan. Apakah itu baik? YES and AMEN!! Rancangan Tuhan adalah rancangan yang terbaik di dalam kehidupan kita. Pertanyaannya, mau nggak kita belajar menyerahkan pemikiran dan logika kita di hadapan Tuhan, mengakui bahwa rancangan-Nya bukanlah rancangan kita, dan jalan-Nya bukanlah jalan kita?

Kehidupan kita sebagai hamba juga nggak jauh beda dengan kehidupan Musa. Musa sadar betul bahwa ketika dia sudah menjadi hamba, dia hanya bisa bilang “suka-sukaMu Tuhan”, dan itu berarti bahwa dia membutuhkan hikmat lebih yang dari Tuhan saja. Tetapi Tuhan menyediakan hikmat itu bukan? Tuhan menyediakan hikmat itu kepada Musa sehingga dia bisa menerima rencana Tuhan di dalam kehidupannya. Kaitannya apa sih dengan kehidupan kita? Nggak peduli mau sehancur apapun 2014 yang sudah dialami temen-temen, mau nggak belajar bahwa semuanya adalah bagian dari rencana Tuhan di dalam kehidupan ini untuk kita dapat menyongsong tahun 2015 yang penuh dengan pengharapan yang baru? Mungkin kehidupan kita seperti Musa, mengalami hal-hal yang tidak seharusnya kita alami di dalam masa hidup yang seharusnya kita nggak cocok untuk melakukan itu. Tetapi apakah teman-teman menyadari bahwa Allah sudah mempersiapkan hal yang jauh lebih baik dari hal itu?


Soli Deo Gloria

Thursday, January 1, 2015

Menyambut Tahun Baru Penuh Pengharapan

“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

-Markus 10:45-

Tahun baru merupakan satu momen yang indah untuk kita dapat memikirkan, kira-kira sepertii apa hidup kita di tahun yang akan datang. Sebenarnya setiap kesempatan yang Tuhan sediakan memiliki suatu maksud dan tujuan tertentu. Tetapi momen tahun baru menjadi satu momen yang tepat sekali untuk menanyakan di dalam kehidupan kita sendiri: apa yang mau kita kerjakan bagi Tuhan? Resolusi apa yang belum kita komplitkan tahun lalu dan apa yang mau kita kejar tahun ini?

Setiap tahun kita memiliki berbagai resolusi. Target-target apa yang akan kita kejar di tahun depan, dan kalau dalam konteks para jomblo: “siapa yang kita kejar”. Ah menarik sekali manakala di momen pergantian tahun ini, saya percaya bahwa Allah menyediakan momen ini untuk setidaknya kita merenungkan kembali, bagaimana kasih karunia Allah itu begitu luar biasa di dalam kehidupan kita. Tahun baru ini selalu menjadi masa yang begitu unik dan menarik.

Satu hal yang dapat menjadi satu perenungan yang mendalam di dalam kehidupan kita adalah mau menjadi seperti apa relasi kita dengan Tuhan di tahun kedepan? Hal ini mungkin seringkali terlewat dan dirasa menjadi suatu hal yang tidak penting. Tetapi timbul lagi satu pertanyaan mungkin di dalam kehidupan kita: “sebenarnya pentingkah kita menyertakan hal ini sebagai suatu resolusi?”.

Seorang karyawan mungkin akan memikirkan mengenai bagaimana impiannya kedepan untuk dapat bekerja lebih baik lagi sehingga ia dapat setidaknya naik sub-golongan. Buat para pedagang mungkin akan mengejar omzet sampai meningkat berapa. Banyak contoh lagi, tetapi hal itu terkadang membuat kita menjadi orang yang berfokus pada kehidupan pribadi kita tanpa sedikitpun mau memikirkan – apa yang menjadi rencana Tuhan di dalam kehidupan kita.

Sangat miris melihat realitas bahwa kita begitu mudah memikirkan visi dan misi hidup kita apabila hal itu dikaitkan dengan income kita, ataupun mengenai jabatan kita.  Hidup di dalam suatu dunia yang penuh dengan tantangan membuat kita menjadi seseorang yang melupakan Sang Pemberi Hidup, yang mana akhirnya kita tidak memiliki suatu tujuan yang jelas di dalam kehidupan kita. Kita melupakan esensi kehidupan manusia dan kita akhirnya melupakan bahwa kita ini diciptakan sebagai makhluk sosial. Alih-alih kita dapat mengasihi sesama kita, kita malah menjadi homo homini lupus.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa menyambut momen pergantian tahun baru, kita diajak mengingat kembali sebenarnya untuk apa kita hidup. Momen tahun baru menjadi satu momen yang baik untuk kita terus menerus mengingat Sang Pencipta kita. Konteks bacaan di Markus adalah Andreas dan Yakobus menanyakan, siapa yang terbesar di antara para murid. Sangat lazim lah sebenarnya ketika kita bertanya seperti itu bukan? Sama seperti kita yang menjadi seorang karyawan, sangat lazim kita bertanya kepada bos kita, siapa yang terbaik?

Konteks kerajaan Allah bukan dipandang dari prestasi. Artinya bahwa di dalam kita mengerjakan keselamatan yang telah Tuhan sediakan, hal yang penting bukan seberapa banyak kita sudah berkarya bagi Tuhan. Hal yang terpenting bukanlah berapa banyak jiwa yang sudah kita bawa untuk mengenal Tuhan. Ingat bahwa ketika kita bisa melayani Dia, ketika kita dipakai oleh Tuhan, itu pun sebenarnya juga sebuah bonus kok.

Maka dari itulah Yesus dengan begitu lembut menyebutkan bahwa yang akan menjadi yang terbesar ialah seseorang yang menjadi hamba atas saudara-saudaranya. Hal ini memperjelas kembali panggilan kita, bahwa ketika kita hidup di dunia ini ternyata memang bukan mengenai bagaimana kita dapat meninggikan diri kita. Hidup di dunia ini bukan berarti kita berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih tinggi dan lebih hebat daripada orang-orang yang lain. Hidup ini adalah tentang bagaimana melaksanakan rencana Allah – dan itu berarti bahwa kita melayani orang lain di dalam kehidupan kita.

Apakah berarti kita tidak boleh punya target pribadi di dalam kehidupan ini? Tentu saja boleh, akan tetapi kembali lagi pertanyaannya: apakah target itu hanya fokusnya pada kebesaran diri kita? Apakah target itu sesuai dengan panggilan yang sudah Allah tempatkan di dalam kehidupan kita? Ini adalah satu pertanyaan besar di dalam dunia ini yang perlu kita jawab. Ini adalah satu pertanyaan besar dimana kita perlu memikirkan kembali rencana yang Allah sudah tetapkan di dalam kehidupan kita. Punyakah kita kesadaran bahwa ketika Allah sudah memberikan banyak sekali hal dalam kehidupan kita, itu bukan hanya untuk kita keep sendiri. PrinsipNya begitu jelas kok, bahwa ketika kita diberikan sesuatu oleh Allah, maka kita akan dituntut lebih dan lebih lagi. Saat itu pula Dia akan menambahkan, dan kita terus memberi dan memberi.


Ketika sudah membaca hal ini, kira-kira apakah yang menjadi resolusi kita di tahun 2015? Siapkah kita menyongsong masa-masa penuh pengharapan di dalam Dia? Apakah kita masih saja tetap pada tujuan hidup kita sebelum kita mengenal Kristus, ataukah kita belajar untuk semakin hari semakin mengenal Dia di dalam Roh dan kebenaran? Allah kita adalah Allah yang memelihara kehidupan kita hari lepas hari. Apakah kita siap di dalam pelayanan kita untuk memuliakan Allah di dalam hidup kita – menjalani hari-hari penuh pengharapan di dalam Dia yang memberikan kita kekuatan untuk hidup memuliakanNya?