Total Pageviews

Thursday, May 9, 2013

Hectic Christianity - Sebuah Refleksi tentang Gaya Hidup Kekristenan


Kehidupan orang Kristen seringkali di dalam suatu kondisi yang sangat hectic. Maksudnya adalah di dalam kehidupan yang begitu cepat bergulir, tanpa adanya suatu kesempatan untuk kita bisa duduk tenang dan terus bekerja bahkan di dalam pelayanan kita sekalipun, baik di gereja maupun di tempat kerja, dan dimanapun, kita bisa kehilangan ketenangan hati kita. Inilah bahayanya ketika kita mulai menjadi orang Kristen yang sudah mulai terlibat pelayanan ataupun kegiatan yang membuat kita tidak bisa lagi menikmati Tuhan di dalam kesendirian kita. Mengapa? Karena hampir tidak mungkin kita punya suatu relasi, suatu waktu yang benar-benar personal dengan Allah.

Inti kehidupan Kristen, yang menjiwainya sebenarnya adalah personal relationship with God. Itu berarti memang kehidupan Kristen adalah kehidupan yang luar biasa, yang mana Tuhan yang imanen, Tuhan yang dekat dengan kita, adalah Tuhan yang ingin bergaul dekat dengan kita. Inilah yang terkadang setiap kita lupa, bahwa di dalam kehidupan kita, suatu saat kita perlu duduk diam sambil merenungkan betapa besarnya karya Tuhan di dalam nafas kita, di dalam kehidupan kita, di dalam hati kita, di dalam setiap hal yang kita lakukan. Suatu waktu yang menjadi sangat indah pada saat kita belajar untuk duduk diam, sambil merefleksikan betapa agung karyaNya di dalam kehidupan kita.

Masa penantian merupakan suatu masa yang membosankan, yang mana kita bisa saja berputar-putar di dalam kita menantikan sesuatu, dan kalau kita tidak sabar, maka kehidupan ini bisa “memakan” kita. Maksudnya? Ya kehidupan akan terus menggerogoti kita dengan berbagai hal yang menarik, yang membuat kita melupakan tujuan utama kita diciptakan sebenarnya untuk apa dan untuk siapa? Apabila kita tidak punya suatu pegangan di dalam menjalani kehidupan ini kita bisa terperangkap.

Ini menjadi suatu peringatan bagi kita. Penantian adalah suatu proses seumur hidup yang mana kita tentu saja melewati berbagai fasa kehidupan di dalam penantian itu. Maka dari itu, apabila kita tidak berhati-hati di dalam proses itu, kita menjadi orang yang tidak sabaran, yang mana pada akhirnya kita menjadi terburu-buru, kita akan missing berbagai poin yang harus kita jalani, akhirnya kita memilih untuk segera menyelesaikannya dengan cara yang tidak benar. Akhirnya kehidupan ini menjadi kehidupan yang sangat melelahkan. Kehidupan menjadi suatu waktu dimana penuh dengan tuntutan dan kita tidak mampu untuk menerima tuntutan itu karena berbagai sebab.

Nah di sinilah kita perlu merenungkan perkataan Tuhan Yesus di dalam injil Matius, di Matius 11:28-30, berbunyi demikian:

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan
(Matius 11:28-30)

Lalu mengapa sebagai orang Kristen kita bisa lelah? Mengapa rasanya menjadi orang Kristen menjadi suatu kehidupan yang penuh tuntutan dan kita tidak bisa merasakan damai sejahtera dari Allah? Mengapa kita melakukan sesuatu namun kita tidak dapat hidup dengan tenang dan dipenuhi aturan-aturan yang mengikat kita? Sebagai orang Kristen, secara komplit alkitab memberikan berbagai aturan dan ketetapan yang sangat mengikat kita, namun juga membebaskan kita. Rasul Paulus menuliskannya di dalam suratnya kepada jemaat di Korintus:

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
(2Korintus 5:17)

Ciptaan baru, kehidupan baru yang diberikan oleh Kristus melalui pengorbananNya di kayu salib membuat kita sadar bahwa kehidupan kekristenan adalah kehidupan yang mengikat, dalam artian kehidupan sebelumnya pun kita juga diikat oleh dosa. Setelah kita percaya akan karya Kristus di kayu salib, itulah momen di mana kita dilepaskan dari kehidupan lama kita dan mengenakan status baru yaitu orang yang sudah ditebus oleh Allah. Dari hamba dosa, menjadi hamba kebenaran. Bukankah ini suatu janji di dalam kehidupan yang tentunya menguatkan kita? Sama-sama menjadi hamba, tapi yang satu adalah menjadi hamba atas feeling guilty kita, atas dosa-dosa kita, dan sebagainya. Setelah menjadi seorang Kristen, kita menjadi hamba kebenaran, yang mana kita mendapatkan suatu anugrah yang luar biasa di dalam kehidupan keseharian kita.

Menjadi seorang hamba tentu saja akan melelahkan, namun menjadi hamba kebenaran jauh lebih menyenangkan! Di dalam kesadaran bahwa Allah yang memegang kendali atas APAPUN yang kita kerjakan, maka sebenarnya kehidupan kita menjadi sesuatu yang menyenangkan. Kita selalu bisa bersyukur atas apapun yang kita alami, termasuk di dalam hal-hal di dalam kehidupan kita yang mana kita punya suatu kerinduan tertentu. Pasangan hidup misalnya, ataupun pekerjaan, berbagai hal lain yang kita nantikan. Kita bisa saja lelah di dalam penantian itu, sungguh! Karena kita berpikir bahwa “Tuhan, ini sudah waktunya! Saya sudah tidak sabar!” dan kita merasa bahwa kita siap mendapatkan sesuatu namun belum mendapatkan jawaban dari Tuhan, akhirnya kita lelah.

Itulah momen di mana kita perlu duduk diam dan tenang dan mulai merenungkan apa yang sudah dikerjakan Tuhan di dalam hidup kita. Tidak perlu jauh-jauh, kalau tidak ada satu hal pun yang terasa baik di dalam kehidupan kita, bukankah kita dapat bersyukur kalau hari ini kita masih bisa hidup? Bukankah kalau hari ini kita masih bisa bernafas dengan gratis, tidak seperti orang-orang yang harus mengenakan tabung oksigen untuk bernafas? Selalu ada ruang untuk kita bersyukur, yang perlu kita lakukan adalah duduk diam dan mulai merenungkan apa yang sudah Allah lakukan dalam kehidupan kita, sampai akhirnya kita bukan hanya bisa mengatakan bahwa Tuhan itu baik, tapi benar-benar menghidupi kalimat itu.

Saya menutup artikel ini dengan sebuah kalimat dari Dr. Ravi Zacharias, sebagai berikut:

"As we move along in our busy life as a businessperson, moving on a hectic pace, pausing to learn the true value of nothing, but moving on and on and on, will you take time enough today to pause and ask yourself, how much God loves you? That He cares for you. Of for those of you who live in insecurities and does not have much more to offer, isn’t it wonderful to know, that He’s given Himself for you. If God could say through Isaiah “what more have I done to you that I’m not already done”, how much more could He said after the cross, where He sends His son to lay down His life for you and for me. God’s love: undeserving, grows on relationship, desperately needed."

(Selama kita menjalani kehidupan kita sebagai seorang bisnisman, yang mana kita hidup di dalam kelelahan dan berhenti sejenak untuk mempelajari hal-hal yang sebenarnya tidak bernilai, dan kita terus bergerak, apakah hari ini kita sudah duduk diam sejenak dan bertanya kepada diri kita sendiri, seberapa besar Allah mengasihi kita dan bahwa Ia memperhatikan kita. Bagi setiap kita yang hidup di dalam ketidakmampuan dan tidak memiliki hal apapun yang kita dapat berikan, bukankah ada satu kabar baik bagi kita, bahwa Dia telah memberikan diriNya bagi kita. Apabila Tuhan dapat berkata melalui nabi Yesaya “Apatah lagi yang harus diperbuat  yang belum Kuperbuat kepadanya?” (kutipan dari Yesaya 5:4), maka seberapa besar yang dapat Ia berikan setelah Ia disalib, yang mana Dia mengirimkan PutraNya yang tunggal untuk menyerahkan nyawaNya bagi anda dan bagi saya. Kasih Allah: tidak layak untuk kita terima, bertumbuh di dalam relasi, dan sangat amat dibutuhkan.)

Semoga tulisan ini bisa mengingatkan kita bahwa di tengah kesesakan kita hidup di dunia ini sebagai orang Kristen, ada banyak hal yang dapat kita lakukan, namun jangan lupakan untuk kita tetap sediakan waktu untuk duduk sejenak saja dan merenungkan karya Tuhan dan apa mau Tuhan di dalam kehidupan kita.

Soli DEO Gloria!

Monday, April 29, 2013

Beauty of the Word of God (Indahnya Firman Allah)


Baru saja saya mendengar share dari seorang rekan di Surabaya dari salah satu kampus swasta yang berkata  di sana orang-orang Kristen sudah mulai bosan di dalam membaca alkitab. Ada pula yang merasa bahwa kebaktian di gerejanya tidak menarik karena miskin dengan puji-pujian. Ada juga yang berkata bahwa mereka merasa tidak puas dengan lagu-lagu yang mereka nyanyikan, kemudian kotbah yang membosankan, dan berbagai kebosanan yang mereka rasakan selama mereka menjadi orang Kristen.

Bukankah ini suatu fenomena yang patut dicermati? Di tengah budaya pragmatisme saat ini, ada banyak juga gereja yang menyajikan sesuatu yang sangat instan. Larut dengan dunia, dan kemudian mengadopsi cara-cara yang begitu instan dalam beribadah. Alkitab dibaca dan kemudian ditafsirkan melalui kotbah tanpa adanya pengajaran yang jelas, hanya menjelaskan sesuatu yang sangat praktis kemudian juga asal comot ayat, yang penting audiens atau jemaat (bahkan seorang teman saya mengatakan “NASABAH”) merasa senang, dan pulang dari gereja mereka merasa “penuh dengan Roh Kudus”. Inilah fenomena yang terjadi saat ini.

Lalu dimana sebenarnya salahnya? Apa salahnya kalau ke gereja kita mendapatkan ketenangan, kedamaian, dan sebagainya. Memangnya salah kalau kita sebagai orang Kristen menikmati model ibadah ataupun menikmati musik-musik di gereja? Bukankah itu sesuatu yang baik, yang mana kita “merasakan hadirat Tuhan” dan kemudian di gereja kita berdoa sampai menangis, sampai tersedu-sedu sampai akhirnya kita mendapatkan kelegaan yang luar biasa! Bukankah itu suatu anugrah yang diberikan Tuhan juga bagi kita?

Di tengah berbagai variasi ibadah ataupun berbagai denominasi yang ada di dunia saat ini, kita melihat bahwa kalau kita kritis setidaknya mengamati hal tersebut, semakin lama pola hidup orang Kristen semakin menyerupai dunia. Gereja akhirnya menjadi suatu tempat untuk “menghibur” diri sendiri. Hal ini membentuk suatu pola pikir yang mengerikan – yaitu kehidupan yang berpusat kepada diri sendiri. Yang penting saya puas, tidak peduli hal tersebut benar atau tidak, “pokoknya saya heppy, that’s all!”

Kondisi seperti ini seharusnya membuat kita menjadi prihatin atas kondisi kekristenan saat ini. Sekalipun secara jumlah tidak dapat dipungkiri bahwa orang Kristen merupakan agama yang cukup luas dan memiliki cukup banyak pengikut, namun apakah mereka adalah orang-orang yang menjadi sekedar fans, atau menjadi seorang yang benar-benar merupakan pengikut Tuhan Yesus? Itulah pertanyaan yang seharusnya setiap kita orang percaya perlu merenungkannya.

Bagaimana sikap kita menanggapi hal seperti ini? Tentu saja ada bermacam-macam cara. Tapi yang sebenarnya saya soroti adalah membaca alkitab sampai bosan, padahal itu adalah Firman Allah. Kalau disuruh pujian penyembahan kita sangat semangat, tapi waktu baca alkitab untuk membangun relasi yang lebih dekat dengan Tuhan, kita langsung mundur. Ini merupakan suatu hal yang mengerikan, karena sebenarnya relasi dengan Tuhan itulah yang menjadi dasar kehidupan kita. Sampai kita jenuh membaca alkitab, itu menunjukkan bahwa kita sedang dalam kondisi kerohanian yang tidak fit. Ketika kita rindu untuk bertemu secara pribadi dengan Tuhan, mau tidak mau kita belajar untuk mengerti dan memahami firmanNya.

Sama dengan relasi kita dengan calon pacar / pacar kita / istri kita / suami kita. Selama tidak adanya suatu komunikasi dan komitmen yang baik, maka tidak akan pernah kita mengerti tentang dia. Sama juga dengan pribadi Allah, selama kita tidak punya suatu kerinduan untuk menikmati Allah, maka kita tidak akan dapat mengerti tentang apa yang sebenarnya mau Allah kerjakan di dalam kehidupan kita. Itulah uniknya orang Kristen, yang mana kita diberikan suatu privilege untuk menikmati apa yang Allah berikan di dalam kehidupan kita. Allah kita adalah Allah yang jauh, tapi juga Allah yang imanen (dekat), dan melalui karyaNya di kayu salib kita dapat mengatasi kebosanan itu. Saya hanya membayangkan apa yang terjadi kalau Tuhan sudah bosan membuat kita hidup, tentunya kita juga tidak bisa apa-apa tanpa Dia.

Memaknai hal inilah kita dituntut sebagai umat Tuhan memiliki relasi yang unik dengan Tuhan. Ketika kita punya suatu relasi yang dekat dengan Tuhan, yang terjadi adalah kita memiliki pemahaman tentang bagaimana kita dapat menjadi garam dan terang bagi dunia ini. Bukan malah terlarut oleh dunia yang semakin lama semakin menawarkan suatu kehidupan yang self-centered. Apabila kita mulai bosan untuk mulai mengerti dan memahami Firman, sebaiknya kita belajar untuk membakar kembali semangat kita agar pada waktunya nanti kita dapat melakukan suatu hal yang besar bagi kehidupan kita juga kehidupan orang lain. Tak peduli seberapa baiknya dan talenta yang kita miliki, tanpa relasi dengan Tuhan, WE ARE NOTHING!

Kehidupan ini bukanlah suatu kehidupan yang membosankan. Kehidupan ini adalah suatu anugrah yang luar biasa yang sudah ditempatkan Allah di dalam keseharian kita. Tinggal bagaimana kita memaknainya. Sampai suatu kali kita bisa merasa seperti Agustinus bahwa dia dapat menikmati relasi dengan Tuhan lebih daripada berhubungan sex. Bukankah itu suatu relasi yang sangat intim dengan Tuhan? Bagaimana relasi kita dengan Tuhan? Apakah sudah mulai kering? Ataukah kita masih tetap dapat bersemangat menghadapi hari-hari bersamaNya? Siapkah kita untuk menjadi orang-orang yang tidak mudah bosan, dengan menikmati Firman itu di dalam kehidupan keseharian kita?

Soli Deo Gloria!

Monday, April 22, 2013

Toyota Production System – An Introduction


Toyota Production System (disingkat TPS) merupakan suatu sistem produksi yang dikembangkan pertama kali oleh perusahaan Toyota. Awalnya perusahaan ini merupakan perusahaan mesin tenun, yang kemudian berkembang menjadi perusahaan manufaktur mobil yang sampai saat ini mendunia. Filosofi dari TPS yang berkiblatkan sistem produksi dari Jepang mengedepankan pada suatu sistem produksi yang ramping, berbeda dengan sistem produksi Amerika yang mana membutuhkan lahan yang amat besar dan luas.

Seperti yang sama-sama kita ketahui, luas daratan di Jepang adalah 374.834 km2 berbeda sekali dengan negara Amerika Serikat yaitu 9,83 juta km2. Hal ini menuntut perusahaan-perusahaan di Jepang untuk mengembangkan perusahaan mereka berbasis kepada keterbatasan luasan area yang mereka miliki. Hal ini pula yang mendorong Toyota sebagai perusahaan manufaktur yang berbasis di Jepang kemudian menekankan sistem produksi yang ramping, yang mana menekankan pada lean production serta suatu filosofi just-in time, memproduksi sejumlah yang dibutuhkan sembari membatasi stok mereka seminimal mungkin.

Terbukti bahwa TPS memiliki suatu advantage. Tujuan dari TPS adalah meminimalkan biaya untuk dapat mencapai profit yang besar. Sekalipun tujuannya adalah meminimalkan biaya, tetapi tentu ada batasan-batasan yang dianut oleh TPS sendiri. Berikut ini adalah apa yang disebut sebagai House of TPS:




Hal yang mendasari Rumah TPS adalah eliminate waste, berarti dasar filosofinya adalah mengurangi waste di dalam proses produksi. Proses produksi yang dimaksud disini bukan hanya pada lantai produksi. Inilah yang menarik di TPS, bahwa Toyota berusaha untuk lebih mendalami filosofi “customer is the next process”, yang mana berarti Toyota juga berusaha untuk memperbaiki sistem di supplier mereka melalui supplier development program. Ada berbagai usaha yang dilakukan Toyota untuk melakukan ini, namun tetap saja tujuannya adalah cost reduction.

Berikut ini konsep dasar dari Lean Manufacturing yang mana berfokus pada pengurangan biaya.


Sebagai fondasi lain dari TPS adalah standardized work, yang juga di dalamnya terdapat apa yang disebut sebagai 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin). Dua pilar penopang TPS adalah Jidoka dan Just In Time. Jidoka didasarkan pada poka yoke (pencegah kesalahan) dan andon system (sistem alarm untuk menghentikan produksi saat terjadi barang cacat). Pilar yang lain adalah Just-in Time, yang didefinisikan sebagai memproduksi tepat waktu, tepat barang, dan tepat kuantitas. Pendukung dari JIT adalah sistem kanban dan one piece flow. One piece flow berarti di dalam proses produksi, barang mengalir per piece tanpa adanya batching sehingga memungkinkan minimalnya barang defect serta terdeteksinya kecacatan sesegera mungkin.

Pusat dari segala aktifitas tersebut adalah kaizen atau continuous improvement. Dalam usahanya untuk mencapai world-class car manufacturer, tentunya inovasi sangat dibutuhkan. Bukan hanya inovasi produk, namun juga inovasi proses. Usaha untuk mencapai tujuan perusahaan dilakukan dengan memfokuskan perusahaan pada cost reduction sehingga dihasilkan suatu profit maksimal.

Bagan di bawah ini menunjukkan tentang salah satu cost reduction yang dapat dilakukan di perusahaan yang menerapkan lean manufacturing secara umum atau TPS secara khusus.



Apabila kualitas barang terjamin maka sebenarnya kita dapat menggunakan stok di gudang seminimal mungkin, dan ada beberapa keuntungan dengan sedikitnya stok yaitu:
1.     Saving area yang digunakan di area pabrik
2.     Permasalahan dapat langsung terdeteksi
3.     Biaya inventori lebih kecil
4.     FIFO lebih terjamin
5.     Tempat kerja menjadi lebih ringkas

Tentu tidak mudah untuk melakukan improvement seperti pada gambar di atas. Namun di dalam perusahaan yang menerapkan lean manufacturing, perusahaan dituntut untuk kreatif dan inovatif untuk dapat mengembangkan bisnis mereka ke arah yang lebih baik. Intinya sebenarnya adalah supply chain management atau manajemen rantai pasok yang mana lebih menekankan pada konsep internal supplier, internal customer, external supplier dan external customer.

Akhirnya, dengan TPS, tujuan perusahaan sebenarnya adalah mendapatkan keuntungan dengan cara meningkatkan cost reduction mereka, dengan beberapa cara yaitu:
1.     Mengurangi jumlah produk cacat
2.     Meningkatkan produktivitas pekerja
3.     Menurunkan jumlah jam kerja namun dengan kecepatan produksi tetap
4.     Mendeteksi adanya masalah dan meminimalkan kondisi abnormal
5.     Mencegah terjadinya masalah
6.     Menciptakan suatu lingkungan kerja yang nyaman bagi operator
7.     Meminimalkan variasi produk sesuai dengan standar yang telah ditentukan
8.     Melakukan perbaikan secara terus-menerus (kaizen tanpa henti)
9.     Memproduksi sesuai dengan jumlah dan kebutuhan
10.  Dsb

Sunday, April 21, 2013

Who Are You God - Siapakah Engkau Allah?


The very basic question about faith. Ya, itulah pertanyaan yang seringkali dilontarkan pada saat pertama kali kita mengenakan label agama di dalam kehidupan kita. Pertanyaan itu pula yang sampai saat ini pun sering menjadi perdebatan dan memicu ketidaksetujuan dan perpecahan antar iman. Maraknya berbagai diskusi tentang hal ini pun juga menjadi salah satu bukti bahwa sebagai seorang Kristen, mau tidak mau, suka tidak suka, topik ini pun juga akan menjadi suatu pertanyaan bagi setiap kita orang-orang yang percaya.

Kita dapat memahami Allah sejauh di me-reveal hal itu. Revelation / wahyu itu Dia nyatakan di dalam alkitab, yaitu yang disebut sebagai special revelation serta providensia Allah di dalam dunia ini, serta dunia ini sendiri yang disebut sebagai general revelation atau wahyu umum. Berbicara tentang orang Kristen tidak lepas dari kedua hal tersebut. Pertanyaannya adalah, seberapa jauh kita sebagai orang Kristen memahami wahyu tersebut? Setelah kita memahaminya, lalu apa yang selanjutnya harus kita kerjakan?

Mudah sekali bagi kita untuk belajar ilmu tentang Allah, ataupun kita belajar filsafat-filsafat yang mana kita secara kognitif diisi dengan pemahaman-pemahaman yang benar tentang kebenaran firman. Di dalam gereja pun kita bisa belajar banyak hal: doktrin Allah, doktrin Tritunggal, doktrin Kristus, doktrin Roh Kudus, dan sebagainya. Permasalahannya adalah setelah kita belajar tentang doktrin-doktrin tersebut, lalu apa yang mau kita lakukan?

Kita tahu bahwa kita diselamatkan semata-mata karena anugrah, dan itu tertuang di special revelation yang mana sudah dinyatakan dalam alkitab itu sendiri. Namun seringkali hal ini membuat kita jadi lupa tentang wahyu itu sendiri serta lupa tentang Allah kita. Kita tahu bahwa kita memiliki Allah, tetapi kita lupa siapa Allah itu. Akhirnya hubungan yang dibangun antara kita dengan Allah adalah hubungan yang tidak jelas. Artinya kalau ada butuhnya ya kita menghubungi Allah. Kalau tidak ada butuhnya ya sudah, “emang gue pikirin?”

Inilah menariknya pada saat kita belajar mengenal Allah. Bisakah kita, bahkan kalau boleh ekstrim, melalui pembacaan firman DAN pengalaman hidup kita bisa mengenal Allah yang sejati? Banyak orang tahu bahwa Allah itu baik. Ada pula yang sampai menghapalkan beberapa ayat alkitab seperti Matius 6:33, Roma 8:28, Efesus 2:8-9, Yohanes 3:16, Yohanes 14:6, namun di dalam praktek kehidupannya sehari-hari, ia masih saja tidak dikuasai oleh firman yang dihafalkannya. Kenapa saya tuliskan “DAN”? karena biasanya orang Kristen pada umumnya menyukai salah satunya saja. Mereka hafal ayat alkitab namun mereka tidak tahu apa yang mereka baca dan tidak pernah mengaplikasikannya di dalam kehidupan mereka. Sedangkan ada ekstrim yang lain yakni mereka mengalami “seperti” perjumpaan pribadi dengan Allah, tetapi terjebak di dalam pengalamannya itu sehingga suatu saat kalau Allah merencanakan sesuatu yang tidak sesuai dengan rencananya, imannya bisa hancur lebur.

Tentu sebagai pemuda-pemuda Kristen kita tidak mau terjebak di dalam 2 ekstrim. Yang pertama, terlalu mengandalkan pengalaman kita untuk mengenal Allah, yang kedua, semuanya berdasarkan atas alkitab namun kita tidak pernah mengerti karena terlalu sibuk menghafalkannya. Di atas sudah saya paparkan akibatnya. Pertanyaan “WHO ARE YOU GOD” adalah pertanyaan yang benar-benar esensial, karena hal itu akan mempengaruhi seluruh sikap hidup kita. Kalau Allah kita adalah Allah yang benar, tentu sebagai ciptaanNya pun kita akan berlaku sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah kita.

Bagaimana kita bisa mengenal Allah kita? Seperti yang sudah disebutkan di atas, kita bisa terperangkap di dalam 2 ekstrim. Karena itu kita harus mengkombinasikan keduanya menjadi suatu metode belajar mengenal akan Allah, yaitu melalui suatu saat teduh dan pembacaan firman secara rutin serta didukung dengan suatu tindakan yang mencerminkan firman itu. Logika simple: ketika kita ingin mengenal seseorang tentu saja kita harus mulai berkomunikasi serta membuka suatu relasi dengan dia. Bayangkan saja kita pedekate dengan seseorang, tentu kita belajar untuk membagi hidup kita kepadanya.

YA! Salah satu cara kita belajar untuk mengenal Tuhan adalah dengan share tentang hidup kita kepada Tuhan, dan juga kita belajar mendengarkan apa yang Tuhan mau di dalam kehidupan kita. Caranya? Tentu saja dengan menjalani hidup sesuai dengan apa yang Tuhan mau di dalam firmanNya. Tidak ada cara lain untuk kita dapat mengenalNya.

Kedua: selain kita belajar firman, kita belajar melihat rancangan Tuhan di dalam kehidupan kita. Caranya? Cara paling mudah adalah dengan membuat sebuah timeline atau kisah hidup. Flashback tentang kehidupan kita di masa lalu, masa yang menyenangkan ataupun menyedihkan. Mencatat setiap momen yang sudah Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita untuk kita semakin mengerti apa yang sebenarnya sudah dirancangkan Tuhan dan apa yang kira-kira akan dikerjakan Tuhan melalui kehidupan kita.

Memang bukan hal yang mudah untuk mengerti hal tersebut. Proses itu perlu pergumulan seumur hidup. Sampai suatu saat nanti kita bisa berkata seperti Daud bahwa tidak ada seorangpun yang ia ingini selain daripada Allah sendiri. (Mazmur 73:25). Saking dekatnya relasi Tuhan dengan Daud membuatnya dapat mengatakan bahwa segala hal tidak dapat menggantikan Allah.

Jadi? Siapakah Allah itu? Siapakah Engkau Tuhan? Pertanyaan itu tentu perlu kita renungkan dan pergumulkan setiap saat. Mari belajar untuk terus menggumulkan hal itu sampai suatu hari kita dapat mengatakan siapa Allah itu, bukan kata doktrin, bukan hanya kata alkitab, tetapi di dalam kehidupan kita sekalipun kita memperkatakan bahwa “Allah Bapa, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus, itulah Allah. Ialah Allah yang hidup dan berkuasa atas kehidupanku, dan kepadaNya lah aku berkomitmen untuk setia sampai akhir hidupku”

Soli Deo Gloria

Sunday, March 31, 2013

Refleksi Paska - Kematian dan Kebangkitan Kristus dan Bagaimana Memaknainya


Paska identik dengan suatu perayaan mencari telur. Tradisi ini sangat umum apabila dilihat di negara-negara di Eropa. Satu film yaitu Rise of The Guardians menunjukkan betapa Paska merupakan suatu hari yang dinanti-nantikan oleh anak-anak. Lebih jauh lagi, Paska mengingatkan juga pada Easter Bunny, seekor kelinci yang melompat-lompat dan menyembunyikan telur yang diwarna-warni.

Nah bagi orang Kristen sendiri, Paska menjadi suatu peringatan yang luar biasa. Sang Juruselamat yaitu Yesus sendiri menyerahkan nyawaNya untuk menebus dosa umat manusia. Sola Gratia! Ya, semuanya itu adalah anugrah yang luar biasa. Karya keselamatan itu dimulai dari pelayanan Tuhan Yesus yang ‘mengganggu’ sistem agama saat itu, kemudian diwarnai dengan pemberontakan muridNya yaitu Yudas akibat kekecewaannya. Selain itu juga diwarnai dengan berbagai berita alkitab yang mana sudah dinubuatkan di Perjanjian Lama oleh Nabi Yesaya. Yesaya 53 memberitakan tentang Sang Juruselamat jauh sebelum Tuhan Yesus hadir di dunia sebagai 100% manusia dan 100% Allah.

Berita Paska menjadi suatu berita yang menarik, bagaimana tidak, karena karya keselamatan dilakukan Allah, dengan kematian Tuhan Yesus, murka Allah dipuaskan, dan dosa manusia dibasuh bersih oleh anugrah. Oleh Adam, seluruh manusia membawa natur dosa, dan oleh Kristus semua manusia dibersihkan. Sebagai orang Kristen kita boleh percaya bahwa sudah ada suatu tempat yang disediakan bagi kita.

Di dalam keselamatan karena karya Allah tersebut, pertanyaannya adalah, sudah sejauh apa kita memaknai arti Paska yang sebenarnya? Apabila kita mencoba mendalami karya keselamatan Allah, tidak bisa dilepaskan darinya adalah tanggung jawab manusia SETELAH kita diselamatkan oleh Allah sendiri. Maksudnya adalah, setelah kita menerima ANUGRAH dari Tuhan sendiri, apa yang harus kita lakukan?

Kekristenan tidak melulu bicara tentang surga dan neraka. Seorang percaya dapat menjadi percaya kepada Tuhan, bukan karena dia takut akan neraka, namun lebih jauh dari itu, dia telah dipilih oleh Allah, entah bagaimana caranya baik melalui orang lain ataupun segala karya Allah di dalam hidupnya. Jadi kekristenan yang sejati berawal dari inisiatif Allah sendiri. Seluruhnya adalah inisiatif dari Allah, dan manusia hanya dapat memaknai inisiatif tersebut dengan belajar mengenal dan memuliakan Allah sepanjang waktu. Kalau kekristenan kita hanya didasari dengan ketakutan kita akan masuk neraka, apakah benar kita mengasihi Tuhan seperti yang Yesus katakan: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37-39)

Kembali kepada Paska, yang mana merayakan kematian Tuhan Yesus dan kebangkitanNya mengatasi maut. Bukankah ini merupakan berita sentral di dalam Kekristenan? Ya, inilah berita sentral dari karya keselamatan yang dilakukan oleh Allah dengan merelakan AnakNya yang tunggal untuk menjadi buah sulung. (1 Korintus 15:23) Bagaimana sikap kita sebagai orang Kristen menanggapi panggilan ini? Berita sentral ini tentunya perlu kita tanggapi dengan penyerahan diri penuh kepada Tuhan. Ya, Paska menjadi suatu momen yang mengingatkan kita tentang pengorbanan Tuhan Yesus, namun lebih dari itu kita sebagai umatNya diajak untuk meneladani sikapNya.

Tentu bukan hal yang mudah di dalam meneladani sikap Kristus. Tetapi justru momen Paska juga mengingatkan kita untuk START OVER. Maksudnya? Paska merupakan suatu perayaan yang mana diambil dari pada saat umat Israel keluar dari Mesir, dipimpin oleh Musa. Bangsa itu mulai merayakan Passover. Nah pembebasan dari Mesir ini merupakan suatu gambaran yang luar biasa, bagaimana Allah melalui AnakNya sendiri melepaskan kita dari belenggu dosa. Mengutip lagu dari Les Miserables: “Come with me, where chains will never bind you, All your grief, at last at last behind you”. Inilah gambaran janji Allah di dalam Paska.

Setiap kejadian dalam hidup kita, itu merupakan campur tangan dan rencana Allah di dalam kehidupan kita. Allah yang bangkit, Allah yang melalui Yesus Kristus, menebus dosa manusia dan Allah itulah yang terus berkarya di dalam kehidupan umat manusia sampai saat ini. Dialah yang berkuasa atas kehidupan kita, Dialah yang berdaulat atas kehidupan kita. Tinggal saat ini bagaimana kita sebagai saudara Kristus menjadi rekan sekerjaNya. Memberitakan kabar baik ini, yang mana fokusnya adalah Kristus sendiri yang sudah menyelamatkan umat manusia dari jeratan maut. Ialah Allah yang menguasai seluruh kehidupan kita dan Ia yang akan menuntun kita sepanjang kehidupan kita (Mazmur 23). Ia adalah Allah yang setia, yang di dalam kedaulatanNya sudah merencanakan sesuatu yang baik (Roma 8:28) dan sekalipun kita kadang tidak memahamiNya karena rancanganNya yang begitu berbeda dengan kita (Yesaya 55:8).

Itulah peran yang secara aktif diberikan Allah bagi setiap kita yang percaya kepadaNya. Maukah kita ambil bagian di dalam blueprint Allah? Apakah kita mau menjawab panggilan itu, sebagai seorang hamba yang patuh kepada Tuannya. Sebagai seorang hamba yang kalau Tuannya memanggil, hamba itu tidak boleh tidak taat dan bersyukur kalau Tuannya masih mau memakai dia?

Selamat Paska. Selamat menikmati Karya Tuhan dan terus memuliakanNya

Soli Deo Gloria

Sunday, March 17, 2013

Berharap Kepada Allah


Indonesia, dengan segala permasalahannya dan segala kegalauannya dewasa ini tentunya membuat kita sebagai orang Kristen melihat dan berpikir: “Apa yang sebenarnya dilakukan oleh orang-orang ini?” Tidak hanya orang Kristen sih, tetapi sebagian besar rakyat Indonesia!

Ada sekitar 560 anggota DPR, ketika mereka berangkat studi banding ke luar negeri, kemudian tiba-tiba pesawat yang mereka naiki menabrak gunung dan pesawat itu jatuh dan hancur, sebuah pertanyaan: “Berapa orang yang selamat?” Suatu jawaban yang penuh dengan sinisme adalah “250 juta jiwa”. Lho kok bisa? Ya, 250 juta rakyat Indonesia akan selamat!

Jawaban ini sangat luar biasa! Dari jawaban tersebut dapat dilihat betapa Indonesia saat ini terlihat sebagai suatu bangsa yang terpuruk. “Bangsa ini sedang sakit!” demikianlah ungkap seorang tokoh di Indonesia. Selain itu, seorang dalang yang merupakan budayawan dari Indonesia berkata: “Negeri ini sudah gila, korupsi dari sapi hingga kitab suci” Ungkapan ini tentunya datang dari seseorang yang prihatin dengan keberadaan bangsa ini sebagai bangsa yang (dulunya dianggap) besar.

Apa yang dapat kita pelajari dari berbagai sinisme yang muncul di masyarakat saat ini? Orang-orang saat ini sedang berharap tentang adanya suatu perubahan yang radikal! Suatu perubahan yang mampu memberikan pengharapan bagi mereka yang bukan hanya tebar pesona. Bangsa ini sudah mulai lelah dengan berbagai kondisi yang ada, rakyat mulai tidak percaya lagi dengan pemimpin mereka saat ini di tengah badai polemik yang melanda bangsa ini.

Masih adakah pengharapan di tengah bangsa ini? Pertanyaan ini sejatinya juga mungkin ditanyakan orang-orang Israel pada masa mereka dibuang ke Babel. Allah yang berdaulat atas bangsa Israel, merupakan Allah yang memberikan pengharapan kepada orang-orang Israel. Nabi Yesaya menuliskannya, di dalam Yesaya 43-46 memperlihatkan janji Allah yang menyertai bangsa Israel. Itu pula sebenarnya yang sedang dilakukan Tuhan saat ini di tengah bangsa ini. Allah yang berdaulat adalah Allah yang tidak hanya memberikan janji tapi juga memang menguasai dunia ini!

Kepada apa sebenarnya kita menaruh pengharapan kita saat ini? Apabila kita membaca di injil menurut Yohanes 12:1-8 menunjukkan sebuah sikap menyerahkan hidup sepenuhnya di dalam Tuhan. Siapakah itu? Tentu saja Maria! Ya, di dalam perikop ini Maria menunjukkan sikap hidup menyerah sepenuhnya kepada Tuhan. Minyak Narwastu itu merupakan minyak yang sangat mahal! Yudas mencoba memberikan nilai minyak narwastu itu sebesar 300 dinar, yang mana 1 dinar setara dengan upah sehari orang-orang pada jaman itu. Jadi kalau dikonversi, sebenarnya itu adalah gaji kita satu tahun! Coba bayangkan apa sebenarnya yang sedang dilakukan oleh Maria pada saat itu.

Selain mencucurkan minyak narwastu itu di kaki Yesus, yang dilakukan oleh Maria berikutnya adalah menyekanya dengan rambutnya. Apa yang dapat dilihat dari sini? Kalau kita melihat bahwa rambut merupakan mahkota dari seorang perempuan, yang dilakukan oleh Maria ini berarti merupakan sikap yang benar-benar merendahkan diri di hadapan Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan Yesus adalah tempat dimana satu-satunya dimana ia dapat berharap. Ini tentu merupakan hal yang menarik, mengingat yang melakukan itu semua bukan 12 murid yang dipilih Yesus, melainkan seorang perempuan yang mana di jaman itu perempuan mendapatkan perlakuan yang sangat berbeda dengan laki-laki.

Sikap seperti ini mengingatkan kita, kepada siapa sebenarnya kita berharap. Paulus juga mencoba memberikan sebuah insight kepada kita mengenai pengharapan. Mari kita coba lihat di dalam Filipi 3. Paulus, yang dikenal sebagai seorang Yahudi yang taat, merupakan ahli taurat yang cukup “mengerikan” pada jaman itu. Sosok Saulus yang dikenal sebagai penganiaya jemaat, dan melaksanakan hukum taurat dengan sangat taat, mungkin bagi Saulus adalah suatu kebanggaan tersendiri. Ia tidak membutuhkan juru selamat karena ia adalah orang yang suci, itulah anggapannya. Tetapi di dalam suratnya kepada jemaat di Filipi ia menuliskan betapa sebenarnya hidupnya itu tidak ada artinya. Kehidupan lama yang ia bangga-banggakan tidak berharga dibandingkan dengan pengenalannya akan Kristus.

Apabila kita cermati juga di dalam kehidupan Paulus, di dalam surat-surat yang Ia tuliskan kepada jemaat, ada sesuatu yang menarik. Awalnya ia menganggap bahwa ia tidak lebih tinggi dari para rasul (1Korintus 15:9). Berikutnya ia menganggap bahwa ia adalah orang yang paling rendah diantara orang percaya , dan akhirnya ia mengakui bahwa dirinya adalah orang yang paling berdosa diantara semua orang (1Timotius 1:16). Itulah pengharapan Paulus, yaitu pada saat ia menggantungkan seluruh hidupnya kepada pengenalan akan Tuhan Yesus.

Kepada siapakah saat ini kita berharap? Pemazmur menuliskan di dalam Mazmur 121 dengan sangat indah. Inilah janji Tuhan yang luar biasa. Mazmur 126 juga menyatakan hal tentang pengharapan kita, bahwa Allah sedang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang luar biasa! Roma 8:28 menunjukkan bahwa segala hal di dunia ini dirancangkan untuk kebaikan kita yang mengasihi Allah, dan janji Tuhan di dalam Wahyu 21:4, Ia akan menghapuskan segala air mata!

Kiranya tulisan singkat ini dapat mengingatkan kita betapa besar Allah dan betapa kemuliaan Allah adalah satu-satunya tempat kita dapat berharap. Tuhan Yesus yang merelakan nyawanya menjadi tebusan bagi orang banyak, kiranya kehidupan kita pun mencerminkan apa yang Tuhan Yesus lakukan. Marilah kita memiliki kehidupan yang bergaul dengan Allah, melalui kebenaran Firman Tuhan dan juga tidak hanya memberikan warna di alkitab kita, hendaknya kehidupan kita pun juga diwarnai oleh kebenaran firman itu sendiri sehingga kita bisa memancarkan kemuliaan Allah di dalam kehidupan kita.

Soli Deo Gloria

Thursday, February 21, 2013

What Is Your Purpose of Life? - Apa Tujuan Hidup Kita?


Waktu kita mau bertamasya, salah satu pertanyaan yang harus dijawab terlebih dahulu adalah: “mau kemana tujuan tamasya kita?” Setelah kita menentukan tujuan itu baru kita benar-benar  dapat mempersiapkan berbagai hal terkait dengan tamasya kita. Begitu juga yang terjadi saat seseorang akan mulai masuk ke sekolah, ia tentu akan mempersiapkan mentalnya, buku-buku yang ia butuhkan, serta perlengkapan lain yang membuat dia dapat menikmati proses tersebut.

Sama juga dengan kehidupan kita sebagai seorang manusia. Apakah kita sebenarnya mengetahui tujuan dari kehidupan kita yang nantinya dapat membuat kita dapat merencanakan segala sesuatunya untuk mencapai tujuan tersebut. Itulah yang pada hari ini akan coba kita pergumulkan bersama-sama, tentang panggilan hidup orang percaya, yaitu orang-orang yang mengakui bahwa ada Allah yang berdaulat di atas segala hal yang Ia kerjakan.

Membahas tentang tujuan hidup tidak dapat dilepaskan dari apa yang alkitab tuliskan tentang berbagai tugas yang Allah berikan di dalam kehidupan kita. Dasarnya ada di kitab Kejadian 1:26-28, kemudian pada Mazmur 139 juga pemazmur memberikan penjelasan kepada kita betapa manusia diciptakan dengan suatu kerumitan yang luar biasa. Mengenai kehidupan kita, Allah memiliki rancangan damai sejahtera, yang dituliskan pada kitab Yeremia 29:11, dalam konteks Israel yang dibuang kemudian mendapatkan janji Allah yaitu penyertaan Tuhan yang membuat manusia menjadi sejahtera. Di perjanjian baru pun juga diberikan penjelasan, lihat saja bagaimana Paulus menuliskan kitab Roma, khususnya Roma 8 yang menuliskan bagaimana kehidupan orang percaya. Katekismus Singkat Westminster menuliskan tujuan hidup manusia adalah “Memuliakan Allah dan Menikmati Dia sepanjang waktu”

Allah merencanakan suatu masa depan yang begitu baik, begitu indah dan mulia. Karya Allah melalui Tuhan Yesus merupakan bukti betapa berharganya hidup kita. Problemnya adalah seringkali manusia lupa betapa penebusan itu memiliki arti yang luar biasa serta teladan dari Tuhan Yesus yang begitu mulia, yang mana menunjukkan kesetiaan terhadap tujuan hidup yang telah ditempatkan Allah di dalam kehidupanNya. Itu adalah proyek terbesar dan membuka jalan bagi setiap kita serta menuntut kita untuk tahu apa yang harus kita lakukan.

Tidak mudah bagi kita untuk dapat mengetahui apa yang merupakan tujuan hidup kita. Itu adalah pergumulan seumur hidup yang harus kita terus pergumulkan, kita pikirkan, dan kita rencanakan di dalam seumur hidup kita. Kalau perusahaan punya apa yang disebut visi, kira-kira itulah yang sebenarnya kita susun di dalam proyek ini. Pengenalan kita akan Tuhan akan semakin hari semakin membukakan pikiran kita dan semakin hari akan mempengaruhi kerinduan kita untuk di dalam kehidupan kita semakin memuliakan Allah.

Karya keselamatan itu sebenarnya merupakan sebuah gong-sebuah titik awal dimana seharusnya kita sebagai orang percaya sadar bahwa kita dilibatkan di dalam proyek Allah. Panggilan orang percaya sebenarnya adalah bagaimana orang itu dapat redeeming, sama seperti apa yang dilakukan Tuhan Yesus di kayu salib yaitu redeeming us. Intinya itu, tapi bagaimana aplikasinya? Tentu saja Allah memanggil kita di bidang yang berbeda-beda. Tidak semua dari kita dipanggil untuk jadi hamba Tuhan yang berkotbah di atas mimbar. Ada sebagian dari kita yang dipanggil menjadi seorang politisi, ada pula yang dipanggil menjadi seorang manajer di sebuah perusahaan, tetapi sebenarnya ada satu tujuan besar yaitu “menebus” hal-hal yang apa yang dipercayakan Allah di dalam kehidupan kita.

Melihat penjelasan di atas sebenarnya menjadi jelas bagi kita bahwa inti tujuan hidup kita adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia sepanjang waktu. Caranya adalah seperti apa yang sudah dikerjakan Allah – membereskan masalah utama di dunia yaitu dosa. Kita pun dipanggil untuk menebus tempat dimana Allah menempatkan kita. Pertanyaannya adalah apa yang menjadi kepercayaan Allah dan bagaimana kita dapat mengetahui tempat tersebut adalah tempat yang tepat?

Ada banyak cara yang sebenarnya disusun untuk mengetahui panggilan kita. Namun di dalam berbagai metode itu sebenarnya hal yang paling penting dalam diri setiap kita untuk kita dapat mengetahui tujuan hidup kita adalah bagaimana kita menjaga relasi kita dengan Tuhan? Salah satu caranya ya tentu saja kita belajar untuk punya relasi yang intim dengan Tuhan. Caranya? Saat teduh dan baca alkitab. Melalui relasi yang dekat dengan Tuhan kita akan semakin menyadari apa yang sebenarnya sudah Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita saat ini baik dari masa lalu hingga saat ini. Entah kejadian yang enak ataupun yang tidak enak, Allah sudah menyusun semuanya di dalam kedaulatanNya untuk kita dapat semakin menyadari bahwa ada karya Allah di dalam kehidupan kita. Hal itu seharusnya membuat kita sadar bahwa pengertian kita tentang tujuan hidup tidak dapat lepas dari relasi yang intim dengan Tuhan.

Kalau anda seorang arsitek, tampakkan desain-desain bangunan yang memuliakan nama Tuhan, seperti desain yang teratur dan rapi, yang menunjukkan keteraturan Tuhan. Kalau anda seorang musisi, tunjukkan suatu music yang indah, yang teratur dan tidak ngawur melalui nada-nada anda. Apapun profesi anda, mari belajar memuliakan Tuhan, dan di dalam memuliakan Tuhan itu kita belajar untuk menikmatiNya. Menikmati waktu yang intim bersama Tuhan lebih dari apapun, seperti pemazmur yang ada di dalam Mazmur 84, seperti Daud yang bermazmur di Mazmur 23, seperti Asaf di dalam kerinduannya ia menuliskan Mazmur 83.

Sangat menarik ketika kita belajar menemukan passion kita, dan kita mulai belajar melangkah hari-hari bersama Allah untuk kita dapat memuliakan Tuhan dan menikmati Dia sepanjang waktu. Itulah panggilan kita. Biarlah segala kemuliaan hanya bagi Allah

Soli Deo Gloria